The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by payungkertas416, 2021-07-10 12:17:54

e-modul teori belajar

e-modul teori belajar

Keywords: pendidikan

Modul Teori Belajar dan Pembelajaran

Aulia Septiani
2015150006

Judul: Modul Teori Belajar dan Pembelajaran

Penulis : Aulia Septiani

Pemeriksa Aksara : Ibu Adisty Ratnapuri, M.Pd

Tata Letak

Desain Sampul : Aulia Septiani

Jakarta, 10 Juli 2021

74 halaman

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
All right reserved
Isi diluar tanggung jawab penulis

KATA PENGANTAR

Puja-puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas membuat e-modul yang
berjudul :Modul Teori Belajar dan Pembelajaran. Tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari pembuatan e-modul ini adalah untuk memenuhi tugas Ujian
Akhir Semester (UAS) dari Ibu Adisty Ratnapuri, M.Pd yang mengajar pada mata
kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran. Selain itu, e-modul ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan tentang ilmu teori belajar dan pembelajaran bagi para pembaca
dan juga bagi penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Adisty Ratnapuri, M.Pd, selaku
dosen mata kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran yang telah memberikan tugas ini
sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan saya sesuai dengan bidang
studi yang saya tekuni.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membagi sebagian pengetahuan sehingga saya dapat menyelesaikan e-modul ini.
Saya menyadari,e-modul yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan
e-modul ini.

Jakarta, Juli 2021
Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
Bab 1 Hakika Belajar dan Pembelajaran…………………………………………………1
Bab 2 Makna dan Minat Belajar Peserta Didik…………………………………… …….7
Bab 3 Teori-teori Belajar………………………………...…………………………………13

A. Teori Behavioristik………..…..……………………………………………………13
B. Teori Kognitif…………………..……………………………………………………17
C. Teori Konstruktivisme………..…………………………………………………….20
D. Teori Humanistik……………..…………………………………………………….25
Bab 4 Faktor-faktor dan Motivasi yang Berpengaruh Terhadap Proses Belajar dan
Hasil Belajar………………………………………………………………………………..33
Bab 5 Komponen-Komponen dalam Belajar dan Pembelajaran……………………..42
Bab 6 Jenis-Jenis Pendekatan dalam Pembelajaran………………………………….47
Bab 7 Metode Belajar………………………………………………………………………52
Bab 8 Model-Model Belajar………………………………………………………………..61
Bab 9 Evaluasi……………………………………………………………………………..71

DAFTAR PUSTAKA

Bab 1

Hakikat Belajar dan Pembelajaran

Defini belajar

Manusia mengalami proses belajar sejak dia lahir yang artinya manusia sudah
sangat akrab dengan aktivitas belajar. Defini belajar banyak di kemukakan oleh para
ahli pendidikan, pelajaran dan psikologi. Karena itu definisi belajar pun berbeda satu
sama lain sesuai dengan sudut pandang masing-masing.

Menurut Hamalik (2007) belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan
melalui pengalaman (learning is defined as the modfication or strengthening of
behavior trouh experiencing). Menurut pengetian ini, belajar adalah suatu proses,
suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat,
akan tetapi lebih luas daripada itu, yaitu mengalami. Hasil belajar bukan suatu
penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakukan (perilaku atau tingkah
laku).

Dahar (2001) mengartikan belajar sebagai suatu proses di mana suatu
organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Pengertian belajar ini
menurut Dahar lebih sederhana tetapi lebih bermakna dan berarti.

Suprihatiningrum (2013) mengutarakan definisi belajar yang lebih luas. Ia
mendefinisikan belajar dengan menggabungkan pendapat tiga tokoh besar, yaitu
Hilgart & Bower (penulis Theories of Learning,1966), Klein (penulis Learning
Principleas and Applications, 1996) dan Wingkel (penulis Psikologi Pengajaran,2007).
Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu secara sadar untuk
memperoleh perubahan tingkah laku tertentu, baik yang dapat diamati secara
langsung sebagai pengalaman (latihan) dalam interaksinya dengan lingkungan.
Belajar merupakan suatu aktivitas mental dan psikis yang berlangsung dalam interaksi
aktif dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan dalam pengetahuan dan
pemahaman, keterampilan serta nilai-nilai, dan sikap.

1

Pengertian belajar tersebut jelas berbeda dengan dua pendapat para ahli
sebelumnya namun dalam tujuan masih sama. Pengertian belajar ini menujukan
bahwa latihan-latihan yang ditekankan sebagai proses pembentukan kebiasaan dan
interaksi antara individu dengan lingkungan sebagai tumpuan. Pengalaman belajar
terjadi saat ada interaksi antara individu dengan lingkungan. Pengertian ini tentu
sejalan dengan pendapat Burton (1962) bahwa a good learning situation consist of a
rich and varied series of learning experiences unified around a vigorous purpose, and
carried on in interaction with a rich, varied, and provocative envitonment.

Jika ingin mengkaji pengertian belajar lebih lanjut, kita akan menemukan
banyak defini belajar para ahli yang berbeda-beda. Ini wajar saja, karena pengaruh
teoritis seseorang berpengaruh pada pengertian belajar sehingga pengertian belajar
bisa sangat luas dan kompleks. Seperti teori belajar behavioristik memiliki pengertian
sendiri, sama halnya dengan teori belajar kognitif, konstruktif,humanitik, dan lain-lain.
Yang akan kita bahas di bab 3. Perbedaan pengertian inilah yang menjadi daya tarik
dari pemahaman tentang belajar.

Hasil belajar

Proses perubahan bergerak dari belum mampu ke arah sudah mampu
merupakan gambaran yang dapat kita peroleh dari pengertian belajar. Selama jangka
waktu tertentu terjadi proses perubahan. Semakin banyak kemampuan yang dimiliki
oleh seorang pribadi maka ia akan mengalami banyak perubahan. Kemampuan-
kemampuan itu dikelompokan menjadi kemampuan kognitif yang berisikan
pengetahuan dan pemahaman, kemampuan sensorik-psikomotorik yang meliputi
keterampilan melakukan rangkaian gerak-gerik dalam urutan tertentu, dan
memampuan dinamik-afektif yang meliputi sikap dan nilai yang meresapi perilaku dan
tindakan.

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima
pengalaman belajarnya (Sudjana, 1995). Kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa sebagai akibat dari perbuatan belajar dapat di amati melalui pemapuan siswa
atau leaner’s pefomance (Gagne & Briggs,1979). Hasil belajar sebagai sesuatu yang

2

diperoleh, didapatkan atau dikuasai setelah proses belajar biasanya ditunjukan
dengan nilai atau skor (Salim,2002). Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian
nilai yang di capai oleh siswa dalam kriteria tertentu berdasarkan hasil-hasil
belajarnya. Hal ini menujukan bahwa objek yang dinilai adalah hasil belajar.

Menurut Surya (1997) hasil belajar akan tampak dalam berbagai hal, yaitu:

a. Kebiasaan. Misalnya siswa belajar bahasa berkali-kali menghindari
kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya
ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.

b. Keterampilan. Misalnya, menulis dan berolaharaga yang meskipun sifatnya
motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti
dan kesadaran yang tinggi.

c. Pengamatan. Proses menerima, menafsirkan, dan memberikan arti
rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara objektif sehingga siswa
mampu mencapai pengertian yang benar.

d. Berfikir asosiati. Berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya
dengan menggunakan daya ingat.

e. Befikir rasional dan kritis. Menggunakan prinsip-prinsip dan sadar-dasar
pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan
“mengapa” (why).

f. Sikap. Kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik
atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan
dan keyakinan.

g. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir)
h. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu).
i. Perilaku afektif. Perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah,

sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was, dan sebagainya.

Hasil belajar pada hakekatnya adalah proses belajar yang menghasilnya
perubahan tingkah laku. Proses belajar bisa terjadi di dalam sekolah maupuan di luar
sekolah. Ada 3 pembentukan kemampuan yang dikenal sebagai Taksonomi Bloom
yaitu kemampuan kognitif (pengetahuan), afektif( sikap), dan psikomotorik(
keterampilan) (Sunarto & Hartono,2002).

3

SOAL LATIHAN
1. Jelaskan hasil belajar menurut Surya (1997)!
2. Jelaskan pengertian belajar menurut Dahar (2001)!
3. Sebut dan jelaskan indikator munculnya hasil belajar menurut Surya (1997)!
4. Apa hakekat dari hasil belajar?
5. Sebutkan 3 pembentukan kemampuan yang dikenal sebagai Taksonomi
Bloom!

4

KUNCI JAWABAN

1. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima
pengalaman belajarnya (Sudjana, 1995).

2. Dahar (2001) mengartikan belajar sebagai suatu proses di mana suatu
organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.

3. Menurut Surya (1997) hasil belajar akan tampak dalam berbagai hal, yaitu:
a. Kebiasaan. Misalnya siswa belajar bahasa berkali-kali menghindari

kecenderungan penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya
ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar.
b. Keterampilan. Misalnya, menulis dan berolaharaga yang meskipun sifatnya
motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti
dan kesadaran yang tinggi.
c. Pengamatan. Proses menerima, menafsirkan, dan memberikan arti
rangsangan yang masuk melalui indera-indera secara objektif sehingga siswa
mampu mencapai pengertian yang benar.
d. Berfikir asosiati. Berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya
dengan menggunakan daya ingat.
e. Befikir rasional dan kritis. Menggunakan prinsip-prinsip dan sadar-dasar
pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti “bagaimana” (how) dan
“mengapa” (why).
f. Sikap. Kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik
atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan
dan keyakinan.
g. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir)
h. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu).
i. Perilaku afektif. Perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah,
sedih, gembira, kecewa, senang, benci, was-was, dan sebagainya.
4. Hasil belajar pada hakekatnya adalah proses belajar yang menghasilnya
perubahan tingkah laku.

5

5. Ada 3 pembentukan kemampuan yang dikenal sebagai Taksonomi Bloom yaitu
kemampuan kognitif (pengetahuan), afektif( sikap), dan psikomotorik(
keterampilan) (Sunarto & Hartono,2002).

6

Bab 2

Makna dan Minat Belajar Peserta Didik

Macam-macam ciri minat belajar peserta didik

Di bab sebelumnya telah dijelaskan berbagai definisi tentang belajar yang
membawa kita pada batasan mengenai belajar dan sesuatu yang menjadi ciri-ciri
belajar. Belajar tidak sama dengan kematangan. Perubahan fisik dan mental juga
tidak sama dengan belajar. Perubahan tingkah laku dan hasil yang menetaplah yang
berhubungan dengan belajar. Kita dapat menguraikan ciri-ciri belajar sebagai berikut.

a. Belajar tidak sama dengan kematangan.

Pertumbuhan tingkah laku di sebabkan oleh pertumbuhan. Perubahan tingkah laku
terjadi secara wajar tanpa dipengaruhi oleh latihan, maka dikatakan bahwa itu adalah
kematangan bukan karena belajar. Faktor yang mempengaruhi perubahan tingkah
laku adalah pertumbuhan dan perkembangan organisme-organisme secara fisiologis.
Sifat-sifat, fisik yang berubah misalnya tinggi dan berat badan tidak termasuk dalam
belajar. Daripada belajar kemampuan berjalan dan berbicara pada manusia lebih
banyak disebabkan oleh kematangan.

b. Belajar berbeda dengan perubahan fisik dan mental.

Perubahan fisik dan mental juga dapat menyebabkan terjadinya perubahan
tingkah laku. Kondisi kelelahan mental, stress, konsentrasi menurun, jenuh, dan galau
dapat menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku
tersebut tidak termasuk dalam belajar karena bukan merupakan suatu hasil dari
latihan dan pengalaman. Batasan tentang pengalaman dan latihan inilah yang penting
untuk dipahami sehingga kita bisa melihat perubahan tingkah laku manakah yang
sebenarnya merupakan akibat dari belajar.

c. Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku dan hasilnya relatif
menetap.

Belajar akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang relatif menetap
(mantap) dan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Tingkah laku itu berupa

7

performance yang nyata dan dapat diamati. Tentu saja, perubahan akibat belajar itu
membutuhkan waktu. Apabila kita ingin melihat perubahan tingkah laku tersebut maka
kita dapat membandingkan cara seseorang bertingkah laku pada waktu A dengan
caranya bertingkah laku pada waktu B tetapi dalam suasana yang sama. Apabila
tingkah laku seseorang dalam suasana yang serupa itu berbeda, maka dapat
dikatakan telah terjadi "belajar".

Berdasarkan tiga ciri belajar yang di atas mengarahkan kita pada kata kunci
dari belajar, yaitu perubahan tingkah laku (perilaku). Sehubung dengan itu, Surya
(1997) dan Slameto (2010) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu:

a. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).

Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari
individu yang bersangkutan, begitu juga dengan hasil-hasilnya. Individu yang
bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya
pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat,
dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Adapun contohnya adalah
seorang mahasiswa sedang belajar tentang “kompetensi guru” pada mata kuliah
pengantar pendidikan. Dia sadar bahwa dia sedang belajar tentang “kompetensi
guru”. Setelah belajar “kompetensi guru” dia menyadari bahwa dalam dirinya telah
terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang berhubungan dengan “kompetensi guru”.

b. Perubahan yang berkesimabungan (kontinyu).

Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya
merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperolah
sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap, dan keterampilan berikutnya. Adapun
contohnya adalah seorang mahasiswa telah belajar tentang “kopetensi guru”. ketika
dia mengikuti perkuliahan “profesi keguruan” ataupun “belajar dan pembelajaran”,
maka pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang “kompetensi guru” akan
dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “profesi guru”
ataupun “ belajar dan pembelajaran”.

c. Perubahan yang fungsional.

8

Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun
masa mendapatng. Adapun contohnya adalah seorang bahasiswa belajar tentang
“kompetensi guru”, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam hal “kompetensi
guru” dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya
sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para siswanya kelak
ketika dia menjadi guru, kepal sekolah, wakil kepala sekolah ataupun menjadi dosen.

d. Perubahan yang bersifat positif.

Perubahan perilaku bersifat normatif dan menuju ke arah kemajuan. Adapun
contohnya adalah seorang mahasiswa sebelum belajar tentang “kompetensi guru”
menganggap bahwa menjadi guru adalah profesi biasa yang tidak perlu
memperhatikan berbagai kemampuan atau kompetensi, namun setelah mengikuti
pembelajaran pengantar pendidikan yang di dalamnya menguraikan tentang
“kompetensi guru”, dia memahami dan bertekad menjadi guru yang benar-benar
memiliki kompetensi tersebut.

e. Perubahan yang bersifat aktif.

Perilaku baru diperoleh individu yang aktif berupaya melakukan perubahan.
Adapun contohnya adalah mahasiswa ingin memperolah pengetahuan baru yang
berkaitan dengan “kompetensi guru”, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan
kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku atau jurnal-jurnal bertema pendidikan
keguruan. Dia aktif membaca majalah atau koran-koran berkaitan pendidikan atau
aktif berdikusi dengan teman. Dosen, dan guru-guru terkait dengan “kompetensi guru”.

f. Perubahan yang bersifat permanen.

Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan
menjadi bagian melekat. Adapun contohnya adalah mahasiswa belajar menggunakan
multimedia ketika presentasi, maka penguasaan keterampilan menggunakan
multimedia tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.

g. Perubahan yang bertujuan dan terarah.

Individu melakukan kegiatan belajar pasti memiliki tujuan yang ingiin dicapai, baik
jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Contohnya adalah

9

seorang mahasiswa belajar “kompetensi guru”, tujuan yang ingin dicapai dalam
panjang pendek mungkin ingin memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan
tentang “kompetensi guru” yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan
memperolah nilai A. Tujuan jangka panjang ingin menjadi guru profesional dan
kompeten. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahakn untuk mencapai tujuan-tujuan
tersebut.

h. Perubahan perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan
semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan
keterampilannya. Adapun contohnya adalah mahasiswa belajar tentang “kompetensi
guru”, di samping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “kompetensi
guru”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai
“kompetensi guru”. begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan
“kompetensi guru”.

Pendapat Surya (1997) ini senada pula dengan Djamarah (2003) meskipun
dengan pembagian/pengelompokan dan uraian yang berbeda. Secara lebih jelas,
Djamarah menegaskan bahwa perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi
perubahan keseluruhan tingkah laku jika seseorang belajar sesuatu sebagai hasil ia
akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan,
keterampilan, dan pengetahuan.

Sejalan dengan itu, makmum (2003) menjelaskan bahwa dengan merujuk pada
gagne perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk:

a. Informasi verbal.

Informasi verbal merupakan penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik
secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu
benda, definis, dan sebagainya.

b. Kecakapan intelektual.

Kecakapan intelektual merupakan keterampilan individu dalam melakukan
interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya
penggunaan simbol kimia, fisika, dan matematika. Termasuk dalam keterampilan

10

intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimiation), memahami konsep
konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Keterampilan ini sangat dibutuhkan dalam
menghadapi pemecahan masalah.

c. Startegi kognitif.
Strategi kognitif merupakan kecakapan individu untuk melakukan pengedalian dan
pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi
kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara-cara berfikir agar terjadi
aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran,
sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada proses pemikiran.
d. Sikap.
Sikap merupakan hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk
memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain, sikap adalah
keadaan dalam diri inidvidu.

SOAL LATIHAN
1. Sebutkan ciri-ciri perubahan perilaku yang dikemukakan oleh Surya (1997) dan
Slameto (2010)!
2. Sebutkan ciri-ciri belajar!
3. Jelaskan pengertian kecakapan intelektual dalam hasil belajar!
4. Jelaskan pengertian strategi kognitif dalam hasil belajar!
5. Jelaskan pengertian sikap dalam hasil belajar!

11

KUNCI JAWABAN

1.Surya (1997) dan Slameto (2010) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku,
yaitu:

a. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).
b. Perubahan yang berkesimabungan (kontinyu).
c. Perubahan yang fungsional.
d. Perubahan yang bersifat positif.
e. Perubahan yang bersifat aktif.
f. Perubahan yang bertujuan dan terarah.
g. Perubahan perilaku secara keseluruhan.
h. Perubahan yang bersifat permanen.
2. ciri-ciri belajar sebagai berikut.
a. Belajar tidak sama dengan kematangan.
b. Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku dan hasilnya relatif

menetap.
c. Belajar berbeda dengan perubahan fisik dan mental.
3. Kecakapan intelektual merupakan keterampilan individu dalam melakukan interaksi
dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya penggunaan
simbol kimia, fisika, dan matematika.
4. Strategi kognitif merupakan kecakapan individu untuk melakukan pengedalian dan
pengelolaan keseluruhan aktivitasnya.
5.Sikap merupakan hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk
memilih macam tindakan yang akan dilakukan.

12

Bab 3

Teori-teori Belajar

A. Teori behavioristik
Teori behavioristik adalah teori yang mempelajari perilaku manusia. Perpektif

behavioral berfokus pada peran dari belajar dalam menjelaskan tingkah laku manusia
dan terjadi melalui ransangan berdasarkan (stimulus) yang menimbulkan hubungan
perilaku rekatif (respon) hukum-hukum mekanistik. Asumsi atran dasar mengenai
tingkah laku menurut teori ini adalah bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh
aturan, bisa diramalkan, dan bisa ditentukan. Menurut teori ini, seseorang terlibat
dalam tingkah laku tertentu karena mereka telah mempelajarinya, melalui
pengalaman-pengalaman terdahulu, menghubungkan tingkah laku tersebut dengan
hadiah. Seseorang menghentikan suatu tingkah laku, mungkin karena tingkah laku
tersebut belum diberi hadiah atau telah mendapat hukuman. Karena semua tingkah
laku yang baik bermanfaat atau pun yang merusak, merupakan tingkah laku yang
dipelajari.1
Tokoh-tokoh yang terkenal dalam teori behavioristik diantaranya:
1. Thorndike.

Thorndike merupakan salah satu seorang pendiri aliran tingkah laku, ia
berpendapat teori behavioristik dikaitkan dengan belajar adalah proses interaksi
antara stimulus (pikiran, perasaan, gerakkan) dan respon( pikiran, perasaan,
gerakkan). Lebih jelasnya thorndike mengungkapkan bahwa perubahan tingkah laku
boleh berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati) atau yang non-konkret (tidak
bisa diamati).

Dalam pendapatnya Thordike tidak menjelaskan bagaimana cara mengukur
berbagai tingkah laku yang non-konkret namun teori Thorndike membuat pakar lain

1 Eni Fariatul Fahyuni, Istikoamh. Psikologi Belajar & Mengajar. Sidoarjo. Nizamia Learning Center. 2016.hlm:26-27.

13

sesudahnya terinspirasi. Aliran koneksionisme (connectionism) adalah sebutan dari
teori thorndike.

Prosedur eksperimennya adalah membuat setiap binatang lepas dari
kurungannya sampai ketempat makanan. Dalam hal ini apapbila binatang terkurung
maka binatang itu sering melakukan bermacam-macam kelakuan, seperti mengigit,
menggosokkan badannya ke sisi-sisi kotak, dan cepat atau labat binatang itu
tersandung pada palang sehingga kotak terbuka dan binatang itu akan lepas ke
tempat makanan.2

2. Ivan Petrovich Pavlov

Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses
yang ditemukan pavlov melalui percobaannya terhadap hewan anjing, di mana
perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-
ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Dari contoh tentang percobaan
dengan hewan anjing bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov, ternyata individu
dapat dikendalikan melalui cara dengan mengganti stimulus alami dengan stimulus
yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, semnetara
individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar
dirinya.3

3. Jonh B. Watson.

Berbeda dengan thorndike, watson yang merupakan pelopor setelah thorndike
berpendapat bahwa stimulus dan respon tersebut harus berbentuk tingkah laku yang
bisa diamati (observable). Oleh karena itu, watson menganggap perubahan mental
yang mungkin terjadi dalam belajar sebagai faktor yang tidak perlu diketahui. Semua
perubahan termasuk perubahan mental dalam belajar itu penting. Namun, proses
belajar tidak bisa diindentifikasi oleh faktor-faktor tersebut. Dengan asumsi demikian,
watson berpendapat, dapat diramalkan perubahan apa yang bakal terjadi pada siswa.
Hanya dengan demikian pula psikologi dan ilmu bekajar sangat berorientasi pada

2Budi Haryanto. Psikologi Pendidikan dan Pengenalan Teori-Teori Belajar. Sisdoarjo. Universitas Mohammadyah Sidoarjo.
2004.hlm: 63-65.

3 Yudrik Jahja. Psikologi Perkembangan. Jakarta. 2013. Kencana Prenamadia Group.hlm:100-1002.

14

pengalaman empiris. Berdasarkan penjelasan ini penganut aliran tingkah laku tetap
mengakui bahwa tidak memikirkan hal-hal yang tidak dapay diukur dan masih
mengakui hal tersebut adalah penting.
4. Burrhus Frederic Skinner

Skinner berpendapat bahwa deskripsi antara stimulus dan respon untuk
menjelaskan perubahan tingkah laku (dalam hubungannya dengan lingkungan)
menurut versi watson bisa disebut dengan deskripsi tidak lengkap. Tidaklah
sederhana respon yang diberikan oleh siswa, sebab pada dasarnya ada interaksi lain
di setiap stimulus yang diberikan, dan interaksi ini akhirnya memperngaruhi respon
yang dihasilkan. Sedangkan tingkah laku siswa akhirnya akan dipengaruhi olej
konsekuensi dari hasil respon yang diberikan.

Oleh karena itu, untuk memahami tingkah laku siswa secara tuntas, diperlukan
pemahaman terhada respon itu sendiri, dan berbagai konsekuensi yang diakibatkan
oleh respon tersebut (Bel-Gredler, 1986). Skiner juga memperjelas tingkah laku hanya
akan membuat segala sesuatunya menjadi bertambah rumit, sebab alat itu akhirnya
juga harus dijelaskan lagi. Misalnya, apabila dikatakan bahwa seorang siswa
berprestasi buruk sebab siswa ini mengalami frustasi akan menuntut perlu dijelaskan
apa itu frustasi. Penjelasan tentang frustasi ini besar kemungkinan akan memerlukan
penjelasan lain. Begitu seterusnya.4

Tahap-tahap Perkembangan Behavioristik
Dasar perkembangan adalah kritis, pembentukan sikap, kebiasaan, dan pola

perilaku yang ditumbuhkan di tahun pertama, menetukan seberapa jauh individu
berhasil dalam menyesuaikan diri di kehidupan mereka selanjutnya. Menurut erikso(
hurlock, 1980:6) berpendapat bahwa masa bayi merupakan masa individu belajar
sikap percaya atau tidak percaya, bergantung pada bagaiamana orang tua
memuaskan kebutuhan anaknya akan makanan, perhatian, dan kasih sayang. Pola-

4Budi Haryanto. Psikologi Pendidikan dan pengenalan Teori-teori Belajar.hlm:67-70

15

pola perkembangan di tahun pertama cenderung tetap tetapi bukan berati tidak dapat
berubah. Ada tiga kondisi yang memungkinkan perubahan, yaitu:

a. Perubahan terjadi apabila individu memperoleh bantuan atau bimbingan untuk
membuat perubahan.

b. Perubahan cenderung terjadi apabila orang-orang yang dihargai
memperlakukan individu dengan cara yang baru atau berbeda ( kreatif dan
tidak monoton)

c. Apabila ada motivasi yang kuat dari pihak individu sendiri untuk membuat
perubahan.

Orang tua diharapkan dapat meramalkan perkembangan anak dimasa yang akan
datang berdasarkan dasar-dasar permulaan perkembangan cenderung menetap.
Lingkungan yang optimal mengakibatkan ekspresi faktor keturunan yang maksimal
menjadi keyakinan bagi penganut aliran behavioristik.

Tahap-tahap proses perkembangan, diantaranya:

a. Bahwa perubahan yang terjadi bersifat maju meningkat atau mendalam atau
meluas secara kualitatsif maupun kuantitatif.

b. Bahwa perubahan yang terjadi antar bagian dan atau fungsi organisme itu
terdapat interpedensi sebagai kesatuan integral yang harmonis.

c. Bahwa perubahan pada bagian atau dfungsi organisme itu berlangsung secara
beraturan dan tidak kebetulan dan meloncat-loncat.

Aplikasi teori behavioristik

a. Mementingkan pengaruh lingkungan
b. Mementingkan bagian-bagian
c. Mementingkan peranan reaksi
d. Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajat melalui prosedur

stimulus respons
e. Mementingkan peranan kemampuan yang telah terbentuk sebelumnya
f. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
g. Hasil belajar yang dicapai ialah menuculnya perilaku yang diinginkan

16

Ciri -ciri teori behavioristik

Pertama, aliran ini memperlajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya,
melainkan mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan.
Pengalaman-pengalaman batin di kesampingkan serta gerak-gerak pada badan yang
dipelajari. Oleh sebab itu, behavioristik adalah ilmu jiwa tammpa jiwa. Kedua segala
perbuatan dikembalukan kepada refleks. Behavioristik mencari-cari unsur-unsur yang
paling sederhana yakni perbuatan-perbuatan bukan kesadaran yang dinamakan
refleks. Refleks adalah reaksi yang tidak disadari terhadap suatu pengarang. Manusia
dianggap seseuatu yang kompleks refleks atau suatu mesin. Menurut behavioristik
pendidikan adalah maha kuasa, manusia hanya makhluk yang berkembang karena
kebiasaan-kebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi refleks keinginan hati.5

B. Teori Belajar Kognitif

Istilah cognitive berasal dari kata cognotion, yang berarti knowing atau
mengetahui, yang dalam arti luas berati perolehan, penataan, dan penggunaan
pengetahuan.6 secara sederhana, kemampuan kognitif adalah kemampuan penalaran
dan pemecahan masalah yang dimiki anak dan untuk berfikir lebih kompleks. Dalam
ranah psikologi istilah kognitif mulai populer meliputi perilaku mental yang
berhubungan dengan pemahaman, pengelolaan, pengolahan informasi, pemecahan
masalah dan keyakinan. Berikut adalah beberapa kutipan pendapat para ahli untuk
bisa memberikan pemahaman yang lebih utuh.

Menurut chaplin dalam karyanya yang berjudul Dictionary of psycologhy,
kognisi adalah konsep umum yang mencangkup seluruh bentuk pengenalan,
termasuk didalamnya mengamati, menilai, memerhatikan, menyangka,
membayangkan, menduga, dan menilai. Sedangkan menurut mayers, kognisi
merupakan kemampuan membayangkan dan menggambarkan benda atau peristiwa

5 Novi Irwan Nahar. Penerapan teori belajar behavioristik dalam proses pembelajaran. 2016. Jurnal ilmu pengetahuan sosial
vol.1. hlm:4-5
6 Syah, muhibbidin. Psikologi pendidikan dengan pendekatan batu. Bandung:pt. remaja rosda karya. 2011. Hlm;65

17

dalam ingatan dan bertindak berdasarkan penggambaran ini.7 Dari dua pengertian di
atas dapat dipahami bahwa kognisi adalah istilah untuk menjelaskan semua aktivitas
mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan
informasi yang digunakan oleh para ahli psikologi yang memungkinkan seseorang
untuk memperoleh pegetahuan.

Jean pieget adalah seorang pakar terkemuka dalam disiplin sikologi kognitif dan
psikologi anak mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap,
antara lain:

a. Tahap sensory motor (berkisar antara usia sejak lahir sampai dua tahun).
Gambarannya, bayi bergerak dari pergerakan refleks instinktif pada saat lahir
sampai permulaan pemikiran simbolis.

b. Tahap pre-operational (berkisar antara 2-7 tahun). Gambarannya, anak mulai
mempresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. Kata dan
gambar menunjukan adanya peningkatan pemikiran simbolis.

c. Tahap concrete operatinal (berkisar antara 7-11 tahun). Gambarannya, anak
dapat berpikir sacara logis mengenai hal yang konkret dan mengkalsifikasikan
benda ke dalam bentuk yang berbeda.

d. Tahap formal operational (berkisar antara 11-15 tahun). Gambarannya, remaja
berfikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan idealis.

Faktor – faktor Penunjang Perkembangan Kognitif Berdasarkan hasil studi Piaget,
terdapat lima faktor yang mempengaruhi seseorang pindah tahap perkembangan
intelektualnya. Kelima faktor itu adalah: kematangan (maturation), pengalaman fisik
(physical experience), pengalaman logika matematika (logico-methematical
experience), transmisi sosial (social transmission), dan ekuilibrasi (equilibration).

1) Kematangan yaitu proses perubahan fisiologis dan anatomis, proses
pertumbuhan tubuh, sel-sel otak, sistem saraf dan manifestasi lainnya
yang mempengaruhi perkembangan kognitif. Kematangan mempunyai
peran yang penting dalam perkembangan intelektual. Hal ini ditunjukkan
oleh hasil beberapa penelitian yang membuktikan adanya perbedaan

7Desnita. Psikologi perkembangan peserta didik.hlm 98.

18

ratarata usia anak pada tahap perkembangan yang sama pada satu
masyarakat dengan masyarakat lain yang berbeda.
2) Pengalaman fisik yaitu pengalaman yang melibatkan seseorang untuk
berinteraksi dengan lingkungan fisik, memanipulasi obyek-obyek di
sekitarnya dan membuat abstraksi dari obyek tersebut. Melalui
pengalaman fisik akan terbentuk pengetahuan fisik dalam diri individu,
karena pengetahuan fisik merupakan pengetahuan tentang benda-
benda yang ada "di luar" dan dapat diamati dalam kenyataan eksternal.
Salah satu perkembangan fisik yang mempengaruhi perkembangan
kognitif adalah perkembangan otak Otak berkembang paling pesat pada
masa bayi. Pada masa kanak-kanak otak tidak bertumbuh dan
berkembang sepesat masa bayi. Pada masa awal kanak-kanak,
perkembangan otak dan sistem syaraf berkelanjutan. Otak dan kepala
bertumbuh lebih pesat daripada bagian tubuh lainnya. Bertambah
matangnya otak, dikombinasikan dengan kesempatan untuk mengalami
suatu pengalaman melalui rangsangan dari lingkungan menjadi
sumbangan terbesar bagi lahirnya kemampuan-kemampuan kognitif
pada anak. Artinya, perkembangan kognitif menjadi optimal jika ada
kematangan dalam pertumbuhan otak serta ada rangsangan dari
lingkungannya.
3) Pengalaman logika matematika yaitu pengalaman membangun
hubunganhubungan atau membuat abstraksi yang didapat dari hasil
interaksi terhadap obyek. Dengan pengalaman logika matematika akan
terbentuk pengetahuan logika matematika dalam diri individu.
Pengetahuan logika matematika merupakan hubungan-hubungan yang
diciptakan subyek dan diperlakukan pada obyek-obyek.
4) Transmisi sosial yaitu proses interaksi sosial dalam menyerap unsur-
unsur budaya yang berfungsi mengembangkan struktur kognitif. Hal ini
dapat terjadi melalui informasi yang datang dari orang tua, guru, teman,
media cetak dan media elektronik. Dengan adanya transmisi sosial akan
terbentuk pengetahuan sosial dalam diri individu. Pengetahuan sosial
merupakan pengetahuan yang didasarkan pada perjanjian sosial, suatu
perjanjian atau kebiasaan yang dibuat oleh manusia. Pengetahuan
sosial dan pengetahuan fisik merupakan pengetahuan tentang isi yang

19

bersumber dari kenyataan yang ada "di luar", sementara pengetahuan
logika matematik mengkonstruksi keadaan nyata tersebut melalui
pikiran.
5) Ekuilibrasi yaitu kemampuan untuk mencapai kembali keseimbangan
selama periode ketidak seimbangan. Ekuilibrasi merupakan suatu
proses untuk mencapai tingkat kognitif yang lebih tinggi melalui asimilasi
dan akomodasi. Pada proses ini mengintegrasikan faktor-faktor
kematangan, pengalaman fisik, pengalaman logika matematika, dan
transmisi sosial.

c. Teori Konstruktivisme

Konstrukvisisme menurut Piaget (1971) adalah sistem penjelasan tentang
bagaimana siswa sebagai individu eradaptasi dan memperbaiki pengetahuan.
Pergeseran paradigma dari behaviorisme ke teori kognitif disebut dengan
konstruktivisme.

Teori belajar konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan
terhadao manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan
menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan fasilitas orang lain,
sehingga teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan
sendiri kompetensi, pengetahuan, atau teknologi dan hal lain yang diperlukan guna
mengembangkan dirinya sendiri (Rangkuti, 2014).

Menurut Driscoll (2000), teori pembelajaran konstrutivisme adalah filasafat yang
meningkatkan pertumbuhan logis dan konseptual siswa. Peran yang mengalami atau
koneksi dengan bermain suasana yang berdekatan dalam pendidikan siswa adalah
konsep yang mendasari dalam teori pembelajaran konstruktivisme. Teori
pembelajaran konstruktivisme berpendapat bahwa pengalaman akan membentuk
orang untuk menghasilkan pengetahuan dan membentuk makna. Akomodasi dan
asimilasi adalah dua konsep kunci dalam teori pembelajaran konstruktivisme yang
menciptakan konstruksi pengetahuan baru individu.

Dampak dari asimilasi adalah seseorang akan memasukkan pengalaman baru ke
dalam pengalaman lama. Hal ini menyebabkan terjadi perkembangan individu pada

20

pandangan baru, memikirkan kembali apa yang pernah disalahpahami, disisi lain,
membingkai ulang apa yang penting, pada akhirnya persepsi mereka akan berubah.
Akomodasi, disisi lain, menata ulang dunia dan pengalaman baru ke dalam kapasitas
mental yang sudah ada. Mode tertentu disusun individu dimana dunia beroperasi.
Mereka harus mengakomodasikan dan menata ulang harapan dengan hasil ketika
hal-hal tidak beroperasi dalam konteks itu.

Menurut Widodo (2004) ada tiga garis besar pandangan kosntruktivisme dalam
pembelajaran, yaitu:

a. Pengetahuan merupakan hasil konstruksi manusia dan bukan sepenuhnya
representasi suatu fenomena atau benda. Fenomena atau obyek memang
bersifat obyektif, namun observasi dan interpretasi terhadap suatu fenomena
atau obyek terpengaruh oleh subyektivitas pengamat.

b. Pengetahuan merupakan hasil konstruksi sosial. Pengetahuan terbentuk
dalam suatu konteks sosial tertentu. Oleh karena itu, pengetahuan
terpengaruhi kekuatan sosial (ideologi, agaman, pilotik, kepentingan suatu
kelompok, dsb) dimana pengetahuan itu terbentuk.

c. Pengetahuan bersifat tentatif. Sebagai konstruksi manusia, kebenaran
pengetahuan tidaklah mutlak tetapi bersifat tentatif dan senantiasa berubah.
Sejarah telah membuktikan bahwa suatu yang diyakini “benar” pada suatu
masa ternyata “salah” dimasa selanjutnya.

Konsekuensi dari tiga pandangan yang dikemukkan diatas (widodo, 2004)
menidentifikasi lima hal penting dalam proses pembelajaran, yaitu:8

a. Pengetahuan awal telah dimiliki oleh pelajar. Semua pembelajar tidak ada yang
otaknya benar-benar kosong. Ketika pembelajar belajar tentang seseuatu hal
yang kaitannya dengan apa yang telah dia ketahui, maka pengetahuan awal ini
memiliki peran yang penting.

b. Belajar adalah proses mengkontruksi pengetahuan dari pengetahuan
sebelumnya. Pengetahuan dikonstruksi sendiri oleh pembelajar dengan artian
bahwa pengetahuan tidak dapat ditranfer dari satu sumber ke sumber yang
lain.

8 Sugrah, Nurfatimah. 2019. Implementasi Toeri Belajar Konstruktivisme dalam Pembelajaran Sains. 19 (2),
hlm: 127.

21

c. Perubahan konsepsi pelajar adalah hasil dari belajar. Agar pengtahuan awal
siswa bisa berkembang menjadi suatu konstruk pengetahuan yang lebih besar,
maka belajar adalah proses mengubah pengetahuan awal siswa sehingga
sesuai konsep.

d. Dalam konteks sosial tertentu, proses pengkonstruksian pengetahuan
berlangsung. Sosial memainkan peran penting dalam proses pembelajaran
sebab individu tidak terpisah dari individu lainnya, sekalipun proses
pengkontruksian pengetahuan berlangsung dalam otak masing-masing
individu.

e. Pembelajar bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Guru atau
siapapun tidak dapat memaksa siswa untuk belajar sebab kondisi yang
memungkinkan siswa belajar, namun apakah siswa benar-benar belajar
tergantung sepenuhnya pada diri pembelajar itu sendiri.

Konstruktivisme mengaris bawahi bahwa pengetahuan tidak mungkin ada diluar
pikiran kita, faktanya tidak mutlak dan pengetahuan tidak ditemykan tetapi dibangun
oleh individu berdasarkan pengalaman. Asumsi dasar dan prinsip-prinsip pandangan
konstruktivis belajar adalah:9

a. Belajar adalah proses yang aktif.
b. Belajar adalah kegiatan yang adaptif.
c. Pembelajar terletak dalam konteks di mana hal itu terjadi.
d. Semua pengetahuan adalah pribadi dan perbedaan. istilah ini memberitahu

bahwa informasi tersebut dikinstruk oleh siswa (Josi & Patankar, 2016).

Twomey Fosnot (1989) dalam (Amineh & Dafartgari, 2015) berdasarkan empat
prinsip untuk mendefinisikan konstruktivisme:

a. Belajar terngantung pada apa yang sudah diketahui individu.
b. Ide-ide baru terjadi ketika individu beradaptasi dan mengubah ide-ide lama

mereka.
c. Belajar melibatkan penemuan ide daripada secara mekanis mengumpulkan

serangkaian fakta.

9 Sugrah, Nurfatimah. 2019. Implementasi Teori Belajar Konstruktivisme dalam Pembelajaran Sains. 19 (2),
hlm: 128.

22

d. Pembelajaran yang bermakna terjadi melalui memikirkan kembali ide-ide lama
dan sampai pada kesimpulan baru tentang ide-ide baru yang bertentangan
dengan ide-ide lama kita.

Proses yang aktif merupakan inti dan prinsip konstruktivisme. Pemahaman berasal
dari dalam berbeda dengan informasi yang dapat diberlakukan. Guru sebagai
fasilisator sangat penting dalam konstruktivisme karena fungsi utamanya adalah
membantu siswa menjadi peserta aktif dalam pembelajaran mereka dan membuat
hubungan yang bermakna antara pengetahuan sebelumnya, pengetahuan baru, dan
proses yang terlibat dalam pembelajaran. Brooks dan Brooks (1993) dalam Amineh &
Dafatgari (2015) merangkum segmen besar literatur tentang deskripsi ‘guru
konstruktivis’. Mereka menganggap guru konstruktivis sebagai seseorang yang akan:

a. Mendorong dan menerima onotomi inisatif siswa.
b. Menggunakan berbagai macam bahan, termasuk data mentah, sumber primer,

dan bahan interaktif dan mendorong siswa untuk menggunakannya.
c. Menanyakan tentang pemahaman konsep siswa sebelum membagikan

pemahamannya sendiri tentang konsep-konsep tersebut.
d. Mendorong siswa untuk terlibat dalam dialog dengan guru dan satu sama lain.
e. Mendorong pertanyaan siswa dengan mengajukan pertanyaan yang berpikiran

terbuka dan mendorong siswa untuk saling bertanya dan mencari penjabaran
dari tanggapan awal siswa.
f. Melibatkan siswa dalam pengalaman yang menunjukan kontrakdiksi dengan
pemahaman awal dan kemudian mendorong diskusi,
g. Menyediakan waktu bagi siswa untuk membangun hubungan dan membuat
metafora.
h. Nilai pemahaman siswa melalui aplikaso dan konerja tugas terstruktur terbuka.

Carpenter dan Fennema (1992) dalam Instruksi Cognitive Guided (CGI) program
matematika mereka menyatakan bahwa guru sekolah dasar diberikan pelatihan
ekstensi dalam metode konstruktivis seperti masalah yang kompleks, pemodelan,
kelompok pemecahan masalah, dan pengajaran strategi metakognitif dan guru-guru
ini telah meningkat dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi serta prestasi yang solid
dalam keterampilan komputasi tradisional. Neale, Smith, dan Johnson (1990),

23

keberhasilan yang sama telah dilaporkan dalam membaca (Duffy & Roehler,1986) dan
secara tertulis (Bereiter & Scardamalia, 1987).

Menutur (Wing, W., & Mui, S, 2002), istilah ‘konstruktivisme’ mencangkup berbagai
posisi teoritis dan terutama diterapkan pada teori pembelajaran, dengan fokus pada
pembelajaran sebagai perubahan konseptual dan untuk pengembangan dan
pengajaran kurikulum, terutama dalam sains. Startegi pengajaran yang membantu
siswa dalam rekonstruksi konseptual, seperti:10

a. Mengidentifikasi pandangan dan gagasan siswa.
b. Menciptakan peluang bagi siswa untuk mengeksplorasi ide-ide mereka dan

untuk menguji kekuatan mereka dalam menjelaskan fenomena, menghitung
peristiwa dan membuat prediksi.
c. Memberikan ransangan bagi siswa untuk mengembangkan, memodifikasi dan
jika perlu, mengubah ide dan pandangan mereka.
d. Mendukung uoaya mereka untuk berpikir ulang dan merekonstruksi gagasan
dan padangan mereka.

Pemecahan masalah ilmiah atau proses inquity dijadikan penekanan pada
pembelajaran sains yang mengahruskan siswa untuk aktif terlibat dalam proses
pembelajaran sehingga membutuhkan pendekatan pembelajaran yang bisa
mengarahkan siswa ke arah tersebut. Pendekatan konstruktif memungkinkan efektif
dalam pembelajaran dengan menekankan siswa membangun pengetahuannya dari
pengalaman yang didapatkan. Bagaimana memanfaatkan prinsip-prinsip dari
konstruktivisme agar bisa menjadi salah sati alternative dalam pembelajaran sains
adalah tugas dari guru disini.

Dasar filosofi, epistemologi, dan onotologi konstruktivisme mengindikasikan
bahwa memberikan mandat yang lebih luas kepada individu (anak) untuk
mengembangkan potensi melaui curiosity dan inquiry merupakan prinsip-prinsip dari
konstruktivisme. Hal itu semua mungkin bisa tercapai dengan baik kalau di dalam
proses pembelajaran dibimbing, difasilitasi dan didampingi oleh guru yang mempunyai
antusias, kecerdasan, dan apresiasi (Berlia,2009).

10 Sugrah, Nurfatimah. 2019. Implementasi Toeri Belajar Konstruktivisme dalam Pembelajaran Sains. 19 (2),
hlm: 134.

24

Minat siswa, keterampilan belajar siswam dan kebutuhan siswa dalam proses
pembelajaran dijadikan fokus disini. Memberikan siswa pengetahuan sains
sedemikian rupa sehingga mereka tidak hanya memahami konsep dan prinsip sains
daripada memperlajari definisi dan formula tetapi juga memahami di mana cara
pengetahuan sains penting bagi kehidupan mereka dan tidak untuk kehidupan
manusia pada umumnya merupakan tujuan dari pengajaran sains dari prespektif
kontruktivisme. Fokus pembelajaran sains semacam itu sebagai pengantar siswa
kedalam warisan budaya yang disediakan pengetahuan sains tidak semata-mata
pentingnya domain konten tertentu dalam sains, tetapi juga signifikasi sains bagi
individu dan masyarkat pada umumnya. Karena itu, konstruktivisme telah menjadi
bagian dari gerakan luas dalam pendidikan sains menuju “sains untuk semua”
(Krahenbuhl, 2016).

D. Teori Belajar Humanistik
Kata “humanistik” merupakan suatu istilah yang menurut konteksnya

mempunyai banyak makna. Misalnya, humanistik dalam wacana keagamaan berarti
tidak percaya adanya unsur supranarural atau nilai transendental serta keyakinan
manusia tentang kemajuan melalui ilmu dan penalaran. 1 Minat terhadap nilai-nilai
kemanusiaan yang tidak bersifat ketuhanan merupakan arti dari sisi lain humanistik.
Sedangkan humanistik dalam tataran akademik tertuju pada pengetahuan tentang
budaya manusia, seperti studi-studi klasik mengenai kebudayaan Yunani dan Roma
(Roberts, 1975).

Pendidikan yang menjadikan humanisme sebagai pendekatan adalah maksud
dari pendidikan humanistik sebagai sebuah nama pemikiran/teori pendidikan. Dalam
istilah/nama pendidikan humanistik, kata “humanistik” pada hakikatnya adalah kata
sifat yang merupakan sebuah pendekatan dalam pendidikan (Mulkhan, 2002).

Pada tahun 1970-an teori pendidikan humanistik muncul bertolak dari tiga teori
filsafat, yaitu: pragmatisme, progresivisme dan eksistensisalisme. Ide utama
pragmantisme dalam pendidikan adalah memelihara keberlangsungan pengetahuan
dengan aktivitas yang dengan sengaja mengubah lingkungan (Dewy,1966).

25

Kebebasan aktualitas diri supaya kreatif menjadi hal yangg ditekankan dalam
progresivisme sehingga menuntut lingkungan belajar yang demokratid dalam
menentukan kebijakannya. Perjuangan dari kalangan progresivisme adalah untuk
terwujudnya pendidikan yang lebih bermakna bagi kelompok sosial. Kebutuhan dan
kepentingan anak menjadi hal yang ditekankan progresivisme. Pengalaman
kehidupan anak harus aktif. Pengalaman kehidupan juga termasuk dalam belajar,
belajar tidak hanya dari buku dan guru.

Individualisme adalah pilar utama dari eksistensialisme yang merupakan
pengaruh terakhir munculnya pendidikan humanistik. Sistem pendidikan yang ada
dipandang oleh kaum eksistensialisme membahayakan karena tidak
mengembangkan individualitas dan kreativitas anak. Sistem pendidikan tersebut
mengantarkan mereka menjadi penggerak mesin produksi, dan biorikrat modern atau
kata lain bersikap konsumenristik. Kebebasan manusia merupakan tekanan para
eksistensialisme (Noddings,1998). Individu yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
sehingga muncul keinginan belajar merupakan pandangan anak dari pemikiran
pendidikan ini. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa eksistensialisme adalah
suatu humanisme (Scruton,1984).

Teori humanistik berasumsi bahwa teori belajar apapun baik dan dapar
dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu pencapaian
aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang belajar secara optimal
(Assegaf, 2011). Keinginan untuk mewujudkan lingkungan belajar yang menjadikan
peserta didik terbebas dari kompetisi yang hebat, kedisplinan yang tinggi, dan
ketakutan gagal merupakan hal mendasar dalam pendidikan humanistik. Freire
mengatakan;” Tidak ada dimensi humanistik dalam penindasan, juga tidak ada proses
humanisas dalam liberalisme yang kaku” (Freire,2002).

Prinsip-prinsip pendidik humanistik, yaitu:11

11 Abd. Qodir. 2017. TEORI BELAJAR HUMANISTIK DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA.
04(02),hlm: 192

26

a. Siswa harus dapat memilih apa yang mereka ingin pelajari. Guru humanistik
percaya bahwa siswa akan termotivasi untuk mengkaji materi bahan ajar jika
terkait dengan kebutuhan dan keinginannya.

b. Tujuan pendidikan harus mendorong keinginan siswa untuk belajar dan
mengajar mereka tentang cara belajar. Siswa harus termotivasi dan
merangsang diri pribadi untuk belajar sendiri.

c. Pendidik humanistik percaya bahwa nilai tidak relevan dan hanya evaluasi
belajar diri yang bermakna.

d. Pendidik humanistik percaya bahwa, baik perasaan maupun pengetahuan,
sangat penting dalam sebuah proses belajar dan tidak memisahkan domain
kognitif dan afektif.

e. Pendidik humanistik menekankan pentingnya siswa terhindar dari tekanan
lingkungan, sehingga mereka akan merasa aman untuk belajar. Dengan
merasa aman, akan lebih mudah dan bermakna proses belajar yang dilalui.

Menurut pandangan pembelajaran humanistik siswaa sebagai subjek yang bebas
untuk menetukan arah hidupnya. Mengarahan siswa untuk dapat bertanggungjawab
penuh atas hidupnya sendiri dan juga atas hidup orang lain. Pendekatan yang dapat
dicoba dalam mentode ini adalah pendekatan dialogis, reflektif, dan ekspresif.
Mengajak siswa untuk berpikir bersama secara kritis dan kreatif adalah pendekatan
pendekatan dialogis. Guru tidak bertindak sebagai guru yang hanya memberikan
asupan materi yang dibutuhkan siswa secara keseluruhan, namun guru hanya
berperasn sbagai fasilisator dan partner dialog (Arbayah,2013).

Tujuan belajar menurut teori humanistik adalah untuk memanusiakan manusia.
Jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri proses belajar dianggap
berhasil. Untuk mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya siswa dalam proses
belajarnya harus berusaha langkah demi langkah untuk mencapainya.

Pelopor aliran psikologi humanistik adalah Abraham Maslow. Manusia tergerak
untuk memahami dan menerima dirinya sendiri sebisa mungkin, inilah yang percayai
oleh Maslow. Teori tantang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan) merupakan teori
yang sangat terkenal sampai sekarang. Lima macam kebuhtuhan yang dimiliki
manusia yaitu Physiological needs (kebutuhan fisiologis), safety and security needs
(kebutuhan akan rasa aman). Love and belonging needs ( kebutuhan akan rasa kasih

27

sayang dan rasa memiliki), esteem needs (kebutuhan akan harga diri), dan self-
actualization (kebutuhan akan aktualisasi diri. Sehingga pendidikan humanistik
haruslah pendidikan yang mencangkup lima kebutuhan tersebut (Arbayah,2013).

Model pembelajaran humanistik: 12

a. Humanizing of the classroom, model ini bertumpu pada tiga hal, yakni
menyadari diri sebagai suatu proses pertumbuhan yang sedang dan akan terus
berubah, mengenali konsep dan identitas diri, dan menyatupadukan kesadaran
hati dan pikiran.

b. Active learning, merupakan strategi pembelajaran yang lebih banyak
melibatkan peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan
pengetahuan untuk di bahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas,
sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat
meningkatkan kompetensinya. Selain itu, belajar aktif juga memungkinkan
peserta didik dapat mengembangkan kemampuan analisis dan sinteisis serta
mampu merumuskan nilai-nilai baru yang diambil dari hasil analisis mereka
sendiri (Baharun,2015).

c. Quantum learning, merupakan cara pengubahan bermacam-macam interaksi,
hubungan dan inspirasi yang ada di dalam dan disekitar momen belajar. Dalam
prakteknya, quantum learning mengasumsikan bahwa jiwa siswa mampu
menggunakan potensi nalar dan emosinya secara baik, maka mereka akan
mampu membuat loncatan prestasi yang tidak bisa terduga sebelumnya
dengan hasil mendapatkan prestasi bagus.

d. The accelerated learning, merupakan pembelajaran yang berlangsung secara
cepat, menyenangkan, dan memuaskan. Dalam model ini, guru diharapkan
mampu mengelola kelas menggunakan pendekatan Somatic, Auditory, Visual,
dan Intellectual (SAVI) (Arbayah,2013).

Menurut Mangunwijaya konsep utama dari pemikiran pendidikan humanistik
adalah menghormati harkat dan martabat manusia (Mangunwijaya,2001). Senada
dengan padangan Mazhab Kritis bahwa pendidikan dimaknai lebih dari sekedar

12 Abd. Qodir. 2017. TEORI BELAJAR HUMANISTIK DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA.
04(02),hlm: 194

28

persoalan penguasaan teknik-teknik dasar yang diperlukan dalam masyarakat industi
tetapi juga diorientasikan untuk lebih menaruh perhatian pada isu-isu fundamental dan
esensial, seperti meningkatkan harkat dan martabat manusia, menyiapkan manusia
untuk hidupp di dan bersama dunia, dan mengubah sistem sosial dengan berpihak
kepada kaum marjinal (Nuryatno,2008).

29

SOAL LATIHAN
1. Jelaskan pengertian teori behavioristik!
2. Jelaskan tiga kondisi yang memungkinkan terjadi perubahan pada teori
behavioristik!
3. Jelaskan perkembangan kognitif anak menurut Jean Pieget!
4. Jelaskan 4 prisip penjelasan teori konstruktivisme berdasarkan Twomey
Fosnot!
5. Jelaskan prisip-prinsip pendidik yang humanistik!

30

KUNCI JAWABAN

1. Teori behavioristik adalah teori yang mempelajari perilaku manusia.

2. Ada tiga kondisi yang memungkinkan perubahan, yaitu:
• Perubahan terjadi apabila individu memperoleh bantuan atau bimbingan untuk

membuat perubahan.
• Perubahan cenderung terjadi apabila orang-orang yang dihargai

memperlakukan individu dengan cara yang baru atau berbeda ( kreatif dan
tidak monoton)
• Apabila ada motivasi yang kuat dari pihak individu sendiri untuk membuat
perubahan.

3. Jean pieget adalah seorang pakar terkemuka dalam disiplin sikologi kognitif
dan psikologi anak mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi
empat tahap, antara lain:
• Tahap sensory motor (berkisar antara usia sejak lahir sampai dua tahun).
Gambarannya, bayi bergerak dari pergerakan refleks instinktif pada saat
lahir sampai permulaan pemikiran simbolis.
• Tahap pre-operational (berkisar antara 2-7 tahun). Gambarannya, anak
mulai mempresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar.
Kata dan gambar menunjukan adanya peningkatan pemikiran simbolis.
• Tahap concrete operatinal (berkisar antara 7-11 tahun). Gambarannya,
anak dapat berpikir sacara logis mengenai hal yang konkret dan
mengkalsifikasikan benda ke dalam bentuk yang berbeda.
• Tahap formal operational (berkisar antara 11-15 tahun). Gambarannya,
remaja berfikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan idealis.

4. Twomey Fosnot (1989) dalam (Amineh & Dafartgari, 2015) berdasarkan empat
prinsip untuk mendefinisikan konstruktivisme:

• Belajar terngantung pada apa yang sudah diketahui individu.
• Ide-ide baru terjadi ketika individu beradaptasi dan mengubah ide-ide lama

mereka.

31

• Belajar melibatkan penemuan ide daripada secara mekanis mengumpulkan
serangkaian fakta.

• Pembelajaran yang bermakna terjadi melalui memikirkan kembali ide-ide lama
dan sampai pada kesimpulan baru tentang ide-ide baru yang bertentangan
dengan ide-ide lama kita.

5. Prinsip-prinsip pendidik humanistik, yaitu:
• Siswa harus dapat memilih apa yang mereka ingin pelajari. Guru humanistik

percaya bahwa siswa akan termotivasi untuk mengkaji materi bahan ajar jika
terkait dengan kebutuhan dan keinginannya.
• Tujuan pendidikan harus mendorong keinginan siswa untuk belajar dan
mengajar mereka tentang cara belajar. Siswa harus termotivasi dan
merangsang diri pribadi untuk belajar sendiri.
• Pendidik humanistik percaya bahwa nilai tidak relevan dan hanya evaluasi
belajar diri yang bermakna.
• Pendidik humanistik percaya bahwa, baik perasaan maupun pengetahuan,
sangat penting dalam sebuah proses belajar dan tidak memisahkan domain
kognitif dan afektif.
• Pendidik humanistik menekankan pentingnya siswa terhindar dari tekanan
lingkungan, sehingga mereka akan merasa aman untuk belajar. Dengan
merasa aman, akan lebih mudah dan bermakna proses belajar yang dilalui.

32

Bab 4

Faktor-faktor dan Motivasi yang Berpengaruh

Terhadap Proses Belajar dan Hasil Belajar

Di bab sebelumnya kita sudah mempelajari tentang teori-teori belajar. Pada
bab ini kita akan belajar apa saja faktor-faktor dan motivasi belajar yang berpengaruh
terhadap proses dan hasil belajar

Menurut Hamalik (2004) belajar yang efektif sangat dipengaruhi oleh faktor-
faktor kondisional yang ada. Faktor-faktor kondisional tersebut adalah sebagai berikut.

a. Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan.

Siswa yang belajar melakukan banyak kegiatan baik kegiatan neural system
(melihat, mendengar, merasakan, berpikir, dan sebagainya) maupun kegiatan-
kegiatan lainnya yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan, sikap, kebiasaan,
dan minat. Apa yang telah dipelajari perlu digunakan secara praktis dan diadakan
ulangan secara kontinyu dalam kondisi serasi, sehingga penguasaan hasil belajar
menjadi lebih mantap.

b. Faktor latihan dan keberhasilan.

Belajar memerlukan latihan, dengan jalan re-learning (memperlajari kembali), re-
calling(memangging/megingat kembali), dan reviewing (mereview kembali) agar
pelajaran yang terlupakan dapat dikuasai kembali dan pelajaran yang belum dikuasai
akan dapat lebih mudah dipahami. Belajar siswa akan lebih mudah berhasil jika siswa
merasa berhasil dan mendapat kepuasannya. Belajar hendaknya dilakukan dalam
suasana yang menyenangkan. Siswa yang belajar perlu mengetahui apakah ia
berhasil atau gagal dalam belajarnya. Keberhasilan akan menimbulkan kepuasan dan
mendorong belajar lebih baik, sedangkan kegagalan akan menimbulkan frustasi.

c. Faktor asosiasi

Faktor asosiasi (gabungan pengalaman) memiliki manfaat besar dalam belajar.
Semua pengalaman belajar anatara yang baru dengan yang lama secara berurutan
diasosiasikan, sehingga menjadi satu kesatuan pengalaman. Pengalaman masa

33

lampau (bahan apersepsi) dan pengertian-pengertian yang telah dimiliki oleh siswa,
besar perannya dalam proses belajar. Pengalaman dan pengertian itu, menjadi dasar
untuk menerima pengalaman-pengalaman baru dan pengertian-pengertian baru.

d. Faktor kesiapan belajar.
Siswa yang telah siap belajar akan dapat melakukan kegiatan beajar lebih mudah
dan lebih berhasil. Faktor kesiapan ini erat hubungannya dengan masalah
kematangan, minat, kebutuhan, dan tugas-tugas perkembangan.
e. Faktor minat dan usaha.
Belajar dengan minat akan mendorong siswa belajar lebih baik daripada belajar
tanpa minat. Minat ini timbul apapbila siswa tertarik akan sesuatu karena sesuai
dengan kebutuhannya atau merasa bahwa sesuatu yang akan dipelajari dirasakan
bermakna bagi dirinya. Namun demikian, minat tanpa adanya usaha yang baik maka
belajar juga sulit untuk berhasil.
f. Faktor-faktor fisiologis.
Kondisi badan siswa yang belajar sangat berpengaruh dalam proses belajar dan
berhasil tidaknya siswa belajar. Bdan yang lemah, lelah, dan letih akan menyebabkan
kegiatan belajar tidak akan sempurna.
g. Faktor intelegensi.
Siswa cerdas akan lebih berhasil dalam kegiatan belajar, karena ia lebih mudah
menangkap dan memahami pelajaran dan lebih mudah mengingat-ingat. Siswa
cerdas akan lebih mudah berpikir kreatif dan lebih cepat mengambil keputusan. Hal
ini berbeda dengan siswa kurang cerdas, mereka akan cenderung lebih lamban.

Motivasi belajar
Kekuatan mental dapat mendorong siswa untuk melakukan kegiatan belajar.

Kekuatan mental sendiri terdiri atas keinginana, perhatian, kemamuan, atau pun cita-
cita. Rendah atau tingginya kekuatan mental pada siswa dalam belajar itulah yang kita
kenal dengan motivasi. Menurut Djiwandono (2008) motivasi berasal dari bahasa latin,

34

yaitu motivum, berarti alasan sesuatu terjadi, alasan tentang sesuatu hal itu bergerak
atau berpindah. Kata motivum diartikan dalam bahasa inggris, yaitu motivation.

Menurut Dimyati & Mudjino (2002) motivasi dipandang sebagai dorongan
mental yang menggerakan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku
belajar. Ada tiga komponen utama dalam motivasi belajar yaitu kebutuhan, dorongan,
dan tujuan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan anata apa
yang ia miliki dan ia harapkan. Dorongan merupakan kekuatan mental untuk
melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan. Tujuan adalah hal yang ingin
dicapai oleh seorang individu. Tujuan tersebut mengarahkan perilaku dalam hal ini
perilaku belajar.

Mulyasa (2003) mengatakan bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau
penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Siswa
akan belajar sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi tinggi. Dalam kaitan ini guru
dituntut memiliki kemampuan membangkitkan motivasi belajar siswa sehingga dapat
mencapai tujuan belajar.

Sardiman (2001) membedakan motivasi belajar di sekolah atas dua bentuk,
yaitu:

1) motivasi intrinsik, motivasi yang tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri
setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu dengan kata lain
motivasi yang berasal dari dalam diri siswa.

2) Motivasi ekstrinsik, motivasi yang muncul karena adanya dorongan dari luar atau
ransangan dari luar dengan kata lain motivasi yang berasal dari luar diri siswa.

Sejalan dengan itu pula, Suyabrata (2007) juga membagi motivasi menjadi
2,yaitu:

1) Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi karena adanya ransangan dari
luar

2) Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi meskipun tidak mendapat
ransangan dari luar.

Prinsip motivasi Keller

35

Keller (1984) dan Keller (1987) menyusun prinsip-prinsip motivasi yang harus
diperhatikan oleh pendidik diantaranya sebagai berikut.

a. Perhatian (Attention)

Perhatian siswa muncul didorong rasa ingin tahu. Oleh sebab itu, rasa ingin tahu
perlu mendapat ransangan sehingga siswa akan memberikan perhatian, dan
perhatian tersebut terpelihara selama berlangsungnya pembelajaran, bahkan lebih
lama lagi.

b. Keterkaitan (relevance)

Menunjukan adanya hubungan materi perkuliahan dengan kebutuhan dan kondisi
siswa. Motivasi siswa akan terpelihara apabila mereka menganggap bahwa apa yang
dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi, atau bermanfaat, dan sesuai dengan nilai
yang dipegang.

c. Kepercayaan diri (confidence)

Merasa diri kompeten atau mampu, merupakan potensi untuk dapat berinteraksi
secara positif dengan lingkungan. konsep tersebut berhubungan dengan keyakinan
pribadi bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan suatu tugas yang
menjadi syarat keberhasilan. Prinsip yang berlaku dalam hal ini adalah bahwa
motivasi akan meningkat sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil.

d. Kepuasan (satisfaction)

Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan, dan
siswa akan termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan serupa. Untuk
meningkatkan dan memelihara motivasi siswa, pendidik dapat menggunakan
pemberian penguatan (reinforcement) berupa pujian, pemberian kesempatan , dan
sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas memberikan kita suatu fakta bahwa motivasi memiliki
peran dan fungsi penting bagis siswa dalam belajar. Unsur-unsur yang harus di
perhatikan dalam motivasi belajar siswa, yaitu:

a. Cita-cita atau aspirasi siswa
b. Kemampuan siswa
c. Kondisi siswa

36

d. Kondisi lingkunga siswa
e. Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
f. Upaya guru dalam membelajarkan siswa.

Oleh karena itu, karena pada kenyataannya tidak semua siswa memiliki motivasi
belajar yang tinggi, seorang guru diharapkan dapat membangkitkan motivasi belajar
yang tinggi pada siswanya. Meskipun, dari enam unsur di atas ada lima unsur yang
diluar dari peran guru.

Cara meningkatkan motivasi versi Stiek dan Hunter

Terkait penjelasan motivasi belajar sebelumnya, bahwa bila faktor-faktor lain yang
mempengaruhi hasil belajar adalah sama, maka motivasi yang tinggi dapat
menyebakan individu memiliki pencapaian hasil belajar yang lebih tinggi. Kita harus
berpegang pada asumsi tersebut. Oleh karena itu, Stiek dan Hunter (dalam
susanto,1999) memberikan cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi
belajar siswa.

a. Menjadikan tugas menantang

Tugas menantang adalah tugas yang diperkirakan dapat dikerjakan siswa sesuai
dengan kemampuannya. Tugas itu tidak terlalu mudah atau terlalu sukar.

b. Mengurangi penekanan belajar pada tes penilaian

Pemberian tes ternyata tidak menantang siswa untuk belajar. Siswa merasa
kurang gembira jika harus mengerjakan soal-soal tes. Pemberitahuan yang terlalu
sering bahwa akan diberi tes tidak meningkatkan motivasi belajar, gantinya mereka
hanya menginginkan dapat nilai baik.

c. Memberi bantuan tetapi tidak over aktif

Siswa sering meminta bantuan pendidik untuk menyelesaikan tugasnya. Bantuan
kepada siswa perlu diberikan sebatas yang diperlukan.

d. Mengubah motivasi ekstrinsik menjadi intrinsik

Pemberian motivasi ekstrinsik (misalnya hadiah dan pujian) memang dapat
meningkatkan jumlah waktu untuk belajar, tetapi ketika motivasi itu tidak lagi diberikan

37

maka siswa menjadi kehilangan minta belajar. Guru sebaiknya mendorong siswa agar
meningkatkan motivasi intrinsik, misalnya memberitahukan manfaat tugas yang
dikerjakan bagi mereka. Motivasi intrinsik penting bagi siswa secara perseorangan,
sedangkan motivasi ekstrinsik bermanfaat meningkatkan motivasi kerja kelompok.

e. Memberi hadiah

Hadiah (motivasi ekstrinsik) cocok diberikan untuk usaha dan penampilan hasil
kerja istimewa, misalnya juara kelas, juara sekolah, juara olahraga, dan juara seni.

f. Menaruh harapan tinggi pada semua siswa

Pernyataan-pernyataan guru tentang kemampuan belajar siswa mempunyai
dampak pada kepercayaan akan kemampuan dirinya. Guru harus memberi harapan
bahwa semua siswa mampu berusaha dan berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya.
Harapan itu akan mendorong motivasi siswa.

g. Memberitahukan hasil belajar

Siswa akan termotivasi untuk belajar lebih baik jika mereka sering diberi tahu
tentang seberapa tinggi penampilannya pada hal-hal yang baru dikerjakan.

h. Mempromosikan keberhasilan untuk semua anggota kelas

Guru harus merencanakan pembelajaran yang mendorong semua siswa berhasil
atau berusaha agar semua siswa dapat menyelsaikan tugasnya dengan sukses.

i. Meningkatkan persepsi siswa sebagai kontrol

Minat siswa meningkat jika gur melepaskan sebagian kontrolnya dan memberikan
kesempatan untuk ikut mengambil keputusan.

j. Mengubah struktur tujuan penghargaan kelas.

Ada tiga tipe struktur tujuan penghargaan kelas. Pertama, tipe belajar kompettitif
menekankan perbuatan perbandingan antara siswa dan menciptakan siatuasi
menang-kalah pada diri siswa. Kedua, tipe belajar kooperatif menekankan pada saling
ketergantungan dan menjadikan usaha individual sebagai tujuan lebih utama dari
belajar daripada kemampuan individual. Tipe belajar ketiga adalah orientasi
individualistik dimana tugas-tugas belajar diberikan kepada siswa secara individual
dan tiap siswa bekerja dengan kecepatan masing-masing.

38

SOAL LATIHAN
1. Jelaskan pengertian motivasi belajar menurut Djiwandono (2008)!
2. Jelaskan tiga tipe struktur tujuan penghargaan kelas!
3. Sebutkan unsur-unsur yang harus di perhatikan dalam motivasi belajar siswa!
4. Jelaskan apa yang di maksud dengan Faktor intelegensi dalam faktor-faktor
kondisional menurut Hamalik!
5. Sebutkan cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar
siswa!

39

KUNCI JAWABAN

1. Menurut Djiwandono (2008) motivasi berasal dari bahasa latin, yaitu motivum,
berarti alasan sesuatu terjadi, alasan tentang sesuatu hal itu bergerak atau berpindah.
Kata motivum diartikan dalam bahasa inggris, yaitu motivation.

2. Ada tiga tipe struktur tujuan penghargaan kelas. Pertama, tipe belajar kompettitif
menekankan perbuatan perbandingan antara siswa dan menciptakan siatuasi
menang-kalah pada diri siswa. Kedua, tipe belajar kooperatif menekankan pada saling
ketergantungan dan menjadikan usaha individual sebagai tujuan lebih utama dari
belajar daripada kemampuan individuaI.

3. Unsur-unsur yang harus di perhatikan dalam motivasi belajar siswa, yaitu:

a. Cita-cita atau aspirasi siswa
b. Kemampuan siswa
c. Kondisi siswa
d. Kondisi lingkunga siswa
e. Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran
f. Upaya guru dalam membelajarkan siswa.

4.Siswa cerdas akan lebih berhasil dalam kegiatan belajar, karena ia lebih mudah
menangkap dan memahami pelajaran dan lebih mudah mengingat-ingat. Siswa
cerdas akan lebih mudah berpikir kreatif dan lebih cepat mengambil keputusan. Hal
ini berbeda dengan siswa kurang cerdas, mereka akan cenderung lebih lamban.

5. cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

a. Menjadikan tugas menantang
b. Mengurangi penekanan belajar pada tes penilaian
c. Memberi bantuan tetapi tidak over aktif
d. Mengubah motivasi ekstrinsik menjadi intrinsik
e. Memberi hadiah
f. Menaruh harapan tinggi pada semua siswa
g. Memberitahukan hasil belajar
h. Memberitahukan hasil belajar

40

i. Meningkatkan persepsi siswa sebagai kontrol
j. Mengubah struktur tujuan penghargaan kelas.

41

Bab 5

Komponen-Komponen dalam Belajar dan Pembelajaran

Bisa dikatakan bahwa pembelajaran sebagai suatu sistem, karena
pembelajaran perupakan tujuan dari suatu kegiatan, yaitu membelajarkan siswa.
Sebagai suatu sistem, komponen termasuk dalam kegiatan belajar mengajar. Proses
pembelajaran merupakan interaski dari serangkaian kegiatan yang lemibatkan
berbagai komponen yang satu dengan yang lain, dimana untuk mencapai tujuan yang
direncanakan guru harus memanfaatkan komponen tersebut.

Komponen-komponen dalam pembelajaran sebagai berikut:

a. Guru dan siswa.

Di jelaskan di dalam UU.RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan
nasional, pada Bab IV Pasal 29 ayat 1: pendidik merupakan tenaga profesional yang
bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, memiliki hasil
pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat, tertama pada pendidik di Perguruan Tinggi.

Pelaku utama yang merencanakan, mengarahkan, dan melaksanakan kegiatan
pembelajaran adalah tugas dari guru yang terdapat dalam upaya memberikan
sejumlah ilmu pengetahuan pekapada peserta didik disekolah. Sebagai seorang guru,
wajib memiliki kemampuan dalam mengajar, membimbing dan membina peserta
didiknya dalam kegiatan pembelajaran.

b. Tujuan pembelajaran.

Faktor yang sangat penting dalam proses pembelajaran adalah tujuan
pembelajaran. Tujuan berfungsi untuk guru bisa mecapai sasaran dalam kegiatan
belajar kerena dari tujuan guru memiliki pedoman.

Komponenn pengajaran seperti bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar,
pemilihan metode, alatm sumber dan alat evaluasi dapat dipengaruhi oleh adanya
tujuan. Oleh karena itu, apabila hendak memprogramkan pengajarannya, seorang
guru tidak dapat mengabaikan masalah perumusan tujuan pembelajaran.

42

c. Materi pembelajaran.

Substansi yang akan disampaikan dalam proses balajar mengajar disebut dengan
materi pembelajaran. porses belajar mengajar tidak akan berjalan tanpa adanya
materi pembelajaran. oleh karena itu, memiliki dan menguasai materi pembelajaran
yang akan disampaikan kepada siswa seorang guru pasti sudah mempersiapkannya
dengan semaksimal mungkin. Salah satu sumber belajar bagi siswa adalah materi
pelajaran. Menurut Sharsimi Arikunto, materi pelajaran merupakan unsur inti yang ada
di dalam kegiatan belajar mengajarm karena bahan pelajaran itulah yang diupayakan
untuk dikuasai oleh siswa.

Jika materi pelajaran yang diberikan oleh guru tidak menarik perhatian, pada
umumnya aktivitas siswa juga akan berkurang. Hal ini disebabkan oleh guru yang
mengabaikan prinsip-prinsip mengajara pada saat mengajar di kelas. Siswa akan
mengalami kegagalan dalam menerima pelajaran jika seorang guru merasa telah
mengusasi materi pelajaran dengan menggunakan bahasa yang tidak sesuai dengan
perkembangan bahkan jiwa, sehingga guru gagal dalam menyampaikan materi.

d. Metode pembelajaran.

Menurut J.R dalam Teaching Strategies for College Class Room yang Abdul Majid
kutip, mengatakan bahwa pengertian metode belajar adalah cara untuk mencapai
sesuatu. Seoerangkan metode pengajaran tertentu digunakan untuk melaksanakan
suatu trategi. Sehingga, metode pembelajaran termasuk ke unsur dalam strategi
belajar mengajar. Seorang guru menggunakan metode pembelajaran untuk
menciptakan lingkungan belajar dan mengkhususkan aktivitas guru dan siswa terlibat
selama proses pembelajaran.

Pengertian dari metode belajar adalah sebagai cara yang digunakan guru dalam
menjalankan fungsinya dan sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dua
hal yang berbeda pada metode pembelajaran, yaitu metode pembelajaran yang lebih
bersifat prosedural adalah metode pembelajaran yang berisi tahapan-tahapan
tertentu. Sedangkan metode pembelajaran yang bersifat teknik adalah cara yang
digunakan dan bersifat implementatip.

e. Alat pembelajaran.

43

Media yang berfungsi sebagai alat bantu untuk memperlancar penyelenggaraan
pembelajaran agar lebih efisien dan efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran
disebut dengan alat pembelajaran. orang, makhluk hidup, benda-benda, dan segara
sesuatu yang digunakan guru merupakan alat pemebelajaran sebagai perantara
untuk menyajikan bahan pelajaran.

Alat pembelajaran pada dasarnya memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh
karena itu perlu adanya pertimbangan dalam menggunakan alat pembelajaran
sebagai berikut:

• Dalam mencapai tujuan pembelajaran tertentu alat pendidikan harus cocok dan
sesuai.

• Sebagai pendidik harus memahami dengan baik dan memanfaatkan alat
pembelajaran sesuai dengan kegunaannya dengan bahan /materi pelajaran
serta tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

• Sesuai dengan kondisi dalan latar belang usianya, dan bakat-bakat diharapkan
peserta didik dapat menerima dengan baik penggunaan alat pembelajaran.

• Dampak dari alat pembelajaran haruslah baik serta tidak menimbulkan dampak
negatif terhadap perkembangan akhlak agama, maupun perkembangan fisik
dan psikologis peserta didik.

Jenis-jensi alat pembelajaran menurut Roestiyah sebagai berikut:

• Manusia
• Buku
• Media massa (majalah, surat kabar, radio, TV, dan lain-lain)
• Lingkungan
• Alat pengajaran (buku pengajaran, peta gambar, kaset, tape, papan tulis,

kapur, spidol. Dan sebagainya)
• Museum (penyimpanan benda kuno)
f. Evaluasi.

Komponen terakhir dalam sistem pembelajaran adalah evaluasi. Fungsi dari
evaluasi adalah untuk melihat keberhasilan siswa dalam pembelajaran, dan juga
sebagai umpan balik guru terhadap kinerjanya dalam proses pembelajaran.

44

kekurangan dalam pemanfaatan komponen pembelajaran dapat diketahui melalui
evaluasi.
Fungsi evaluasi menurut Dja’far Siddik sebagai berikut:

• Intensif untuk meningkatkan peserta didik dalam belajar.
• Umpan balik bagi peserta didik.
• Umpan balik bagi pendidik.
• Informasi bagi orang tua/wali.
• Informasi untuk negara.
Guru akan mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami materi yang
disampaikan melalui evaluasi, guru, siswa, orang tua/wali serta lembaga, tidak akan
mengetahui hasil yang diperoleh dari pembelajaran jika evaluasi tidak diadakan. Oleh
karena itu dalam proses belajar mengajar evaluasi sangatlah penting.

Soal latihan:
1. Apa yang dimaksud dengan proses pembelajaran?
2. Jelaskan apa tugas dari guru!
3. Apa fungsi dari tujuan pembelajaran?
4. Sebutkan jenis alat-alat pembelajaran menurut Roestiyah!
5. Sebutkan fungsi evalusi menurut Dja’far Siddik!

45


Click to View FlipBook Version