The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by payungkertas416, 2021-07-10 12:17:54

e-modul teori belajar

e-modul teori belajar

Keywords: pendidikan

KUNCI JAWABAN

1. Proses pembelajaran merupakan interaski dari serangkaian kegiatan yang
lemibatkan berbagai komponen yang satu dengan yang lain, dimana untuk
mencapai tujuan yang direncanakan guru harus memanfaatkan komponen
tersebut.

2. Pelaku utama yang merencanakan, mengarahkan, dan melaksanakan
kegiatan pembelajaran adalah tugas dari guru yang terdapat dalam upaya
memberikan sejumlah ilmu pengetahuan pekapada peserta didik disekolah.

3. Tujuan berfungsi untuk guru bisa mecapai sasaran dalam kegiatan belajar
kerena dari tujuan guru memiliki pedoman.

4. Jenis-jensi alat pembelajaran menurut Roestiyah sebagai berikut:
• Manusia
• Buku
• Media massa (majalah, surat kabar, radio, TV, dan lain-lain)
• Lingkungan
• Alat pengajaran (buku pengajaran, peta gambar, kaset, tape, papan tulis,

kapur, spidol. Dan sebagainya)
• Museum (penyimpanan benda kuno)

5. Fungsi evaluasi menurut Dja’far Siddik sebagai berikut:
• Intensif untuk meningkatkan peserta didik dalam belajar.
• Umpan balik bagi peserta didik.
• Umpan balik bagi pendidik.
• Informasi bagi orang tua/wali.

46

Bab 6

Jenis-Jenis Pendekatan dalam Pembelajaran

A. pengertian pendekatan pembelajaran
Kumpulan metode dan cara yang digunakan oleh tenaga pendidik dalam
melakukan pembelajaran disebut dengan pendekatan pembelajaran.
B. macam-macam pendekatan pembelajaran
Tuntutan perkembanga dunia pendidikan menjadi alasan dikembangkannya
pendekatan pembelajaran. sistem dinamika pendidikan di setiap negara yang
berubah, perkembangan psikologis peserta didik, serta dinamika sosial menjadi
iringannya. Macam-macam pendekatan pembelajaran sebagai berikut:

1. Pendekatan kontekstual.
Latar belakang dari pendekatan kobtekstual adalah bahwa peserta didik belajar
lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan
alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. Penguasaan
materi sudah tidak menjadi orientasi utama dalam pembelajaran, yang akan gagal
dalam membekali peserta didik untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya.
Dengan demikian hasil belajar tidak lagi diutamakan dan yang lebih diutamakan
adalah proses pembelajaran, sehingga merencanakan strategi pembelajaran yang
variatif menjadi tuntutan bagi para pendidik dengan prinsip memberlajarkan,
memberdayakan peserta didik, bukan mengajar peserta didik.
Menurut Borko dan Putnam, pembelajaran kontekstual, cara tenaga pendidik
memilik konteks pembelajaran yang tepat bagi peserta didik adalah dengan cara
mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan lingkungan di mana anak
hidup dan berada serta dengan budaya yang berlaku dalam masyarakatnya.
Pemahaman, penyajian ilmu pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang ada
dalam materi dikaitkan dengan apa yang dipelajari dalam kelas dan dengan kehidupan
sehari-hari (Dirjen DIikdasmen, 2001).

47

Tugas tenaga pendidik dalam kelas kontekstual adalah membantu peserta
didik dalam mencapai tujuannya. Mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja
bersama untuk merumuskan, menemukan sesuatu yang baru bagi kelas yang dapat
berupa pengetahuan, keterampilan dari haris menemukan sendiri bukan dari apa kata
tenaga pendidik merupakan tugas dari tenaga pendidik dalam pendekatan kontekstual
ini.

Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi tidak hanya untuk
mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetai juga untuk
mengembangkan sikap, nilai, serta kreativitas peserta didik dalam memecahkan
masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari melalui interaksi dengan
sesama teman, misalnya melalui pembelajaran kooperatif, sehingga juga
mengembangkan keterampilan sosial (social skills) (Dirjen Dikmenum, 2002:6).

2. Pendekatan konstruktivisme.

Pendekatan konstruktivisme adalah bahwa pendekatan dibangun oleh
manusia sedikit demi sedikit yabg hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas
dan tidak dengan tiba-tiba (Suwarna,2005).

Caprio (1994), McBrien Brandt (1997), dan Nik Aziz (199) berpendapat tentang
kelebihan dari teori kontruktivisme adalah pelajar berpeluang membina pengetahuan
secara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan
pembelajaran yang baru.

Berdasarkan teori konstruktivisme, apabia mendapat mengetahuan atau
pengalaman baru konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seseorang akan
berkembang dan berubah. Seseorang akan dapat membina konsep dalam struktur
kognitifnya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang
sedia ada padanya dan proses ini dikenali dengan accretion (Rumelhart dan Norman,
1978). Selainitu pengalaman baru yang dialami oleh seseorang akan selaras dengan
perubahan pada konsep-konsep dalam diri orang itu, dan ini dikenali sebagai
penalaran atau tuning. Konsep baru juga boleh dibina dengan menggabungkan
konsep-konsep yang sedia ada pada seseorang dan ini dikenali sebagai parcing
(Gagne, Yekovich, 1993).

3. Pendekatan dedukti dan induktif.

48

a. Pendekatan deduktif.

Pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran
merupakan tanda dari pendekatan deduktif. Pedndekatan deduktif dilandasi oleh
suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung baik bila peserta didik
telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep dasarnya (Suwarna, 2005).

b. Pendekatan induktif.

Pendekatan induktif memiliki ciri utama dalam pengolahan informasi dengan
menggunakan data untuk membangun konsep atau memperoleh pengertian.
Data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi di
lingkunag bisa kemungkinan digunakan dalam data pendekatan induktif.

Dalam pembelajaran dengan pendekatan deduktif, menurut Major (2006), dimulai
dengan menyajikan generalisasi atau konsep. Lalu dikembangkan memalalui
kekuatan argumen logika. Contohnya:

• Definisi disampaikan.
• Memberi contoh dan beberapa tugas mirip contoh dikerjakan peserta

duduk dengan maksud untuk menguji pemahaman peserta didik tentang
definisi yang disampaikan.
4. Pendekatan konsep dan proses
a. Pendekatan konsep.

Pendekatan konsep adalah pembelajaran yang berarti melalui pemahaman
konsep dalam suatu bahasan, peserta dibimbing untuk bisa memahaminya.

b. Pendekatan proses.

Tujuan utama dalam pendekatan proses adalah mengembangkan kemampuan
peserta didik dalam keterampilan proses, seperti mengamati, membuat hipotesis,
merencarankan, menafsirkan dan mengkomunikasikan/menjelaskannya. Sejak
kurikulum 1984, pendekatan keterampilan proses sudah digunakan dan
dikembangkan.

5. Pendekatan Sains, Tekhnologi dan Masyarakat.

National Science Teachers Association (NSTA) (1990:1), memandang STM
sebagai the teaching and learning in the context of human experience. Atau dalam

49

bahasa indonesianya adalah pendekatan STM sebagai proses pembelajaran yang
senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. Peserta didik dalam
pembelajaran ini dalam kehidupan sehari-hari diajak untuk meningkatkan kreavitias,
sikap ilmiah, menggunakan konsep dan proses sains.

Definisi lain tentang pendekatan STM oleh PENN STATE (2006:1) : an
iterdixciplinary approach which reflects the widespread relalix=zation that in order to
meet the increasingdemands of a technical society, education must integrate
acrossdisciplines. Dalam arti bahasa indoensianya adalah pembelajaran dengan
pendekatan STM haruslah diselenggarakan dengan cara mengintegrasikan berbagai
disiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai hubungan yang terjadi di antara
sains, teknologi dan masyaralat. Hal ini mengartikan bahwa bagian penting dalam
pengembangan pembelajaran di era sekarang ini adalah pemahaman kita terhadap
hungan antara sistem politik, tradisi masyaralat dan bagaimana pengaruh sains dan
teknologi terhadap hubungan-hubungan tersebut.

Soall latihan:
1. Apa yangdimaksud dengan pendekatan pembelajaran?
2. Apa latar belakang dari pendekatan kontektual?
3. Apa yang dimaksud dengan pendekatan konstruktivisme?
4. Jelaskan apa perbedaan dari pendekatan dedukti dan induktif!
5. Jelaskan pengertian pendekatan sains teknologi dan masyarakat menurut
National Science Teachers Association (NSTA) (1990:1)

50

KUNCI JAWABAN

1. Pendekatan pembelajaran adalah kumpulan metode dan cara yang digunakan
oleh tenaga pendidik dalam melakukan pembelajaran.

2. Latar belakang dari pendekatan kobtekstual adalah bahwa peserta didik belajar
lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan
alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami.

3. Pendekatan konstruktivisme adalah bahwa pendekatan dibangun oleh
manusia sedikit demi sedikit yabg hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas dan tidak dengan tiba-tiba.

4. Pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran
merupakan tanda dari pendekatan deduktif. Pedndekatan deduktif dilandasi
oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung baik bila
peserta didik telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep dasarnya
(Suwarna, 2005). Pendekatan induktif memiliki ciri utama dalam pengolahan
informasi dengan menggunakan data untuk membangun konsep atau
memperoleh pengertian. Data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus
nyata yang terjadi di lingkunag bisa kemungkinan digunakan dalam data
pendekatan induktif.

5. pendekatan STM sebagai proses pembelajaran yang senantiasa sesuai
dengan konteks pengalaman manusia.

51

Bab 7

Metode Belajar

A. Pengertian Metode Pembelajaran

Menurut Djamarah, SB (2006:46),metode pembelajaran adalah suatu cara

yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode diperlukan

oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan setelah pengajaran

berakhir. Yang membedakan metode pembelajar dengan model pembelajaran yaitu

model pembelajaran adalah intaksi antara peserta didik dan pendidik yang

menggunakan cara atau tahapan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah

ditetapkan sesuai dengan materi dan mekanisme metode pembelajaran.

B. Macam-Macam Metode Pembelajaran

1. Metode karya wisata (Out Door)

Pembelajaran Outdoor hampir identik dengan pembelajaran karya wisata artinya
aktivitas belajar siswa dibawa ke luar kelas. Dalam pembelajaran ini harus di
rencanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematik dan sistemik. Siswa
menjadi kurang merasakan manfaat dari pembelajaran ini karena siswa tidak memiliki
panduan belajar. Pembelajaran outdoor selain untuk peningkatan kemampuan namun
juga untuk meningkatkan rasa senang dan rasa kebersamaan yang merupakan
aspek-aspek psikolog siswa yang selanjutnya berdampak terhadap peningkatan
motivasi belajar siswa.

Anitah (2008:5.29), karakteristik dari pembelajaran outdoor yaitu menemukan
sumber bahan pelajaran sesuai dengan perkembangan masyrakat, dilaksanakan di
luar kelas/sekolahan, memiliki perencanaan, aktivitas siswa lebih muncul dari pada
guru, aspek pembelajaran merupakan salah satu implementasi dari pembelajaran
berbasis konstekstual.

Keuntungan-keuntungan dari belajar di luar kelas menurut Sudjana (2007:208)
sebagai berikut:

a. Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di
kelas berjam-jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi.

b. Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan
situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat ilmiah.

c. Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga
keberadaannya lebih akurat.

d. Kegiatan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat
dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau
wawancara, membuktikan atau mendemosntrasikan, menguji fakta-fakta
dan lain-lain.

52

e. Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat pelajari
bisa beraneka ragam seperti lingkungan sosial, lingkungan alam,
lingkungan buatan, dan lain-lain.

f. Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada
di lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing
dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan.

Kelemahan-kelemahan dari belajar di luar kelas menurut Sudjana (2007:209)
sebagai berikut:

a. Kegiatan belajar kurang dipersiapkan sebelumnya yang menyebabkan
pada waktu siswa dibawa ketujuan tidak melakukan kegiatan belajar yang
diharapkan sehingga ada kesan main-main. Kelemahan ini bisa diatasi
dengan persiapan yang matang sebelum kegiatan itu dilaksanakan.
Misalnya, menetukan tujuan belajar yang diharapkan dimiliki siswa,
menentukan cara bagaimana siswa memelajarinya, menentukan apa yang
harus dipelajarinya, berapa lama dipelajari, cara memperoleh informasi,
mencatat hasil yang diperoleh, dan lain-lain.

b. Ada kesan dari guru dan siswa bahkan kegiatan mempelajari lingkungan
memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga menghabiskan waktu untuk
belajar di kela.

c. Sempitnya pendangan guru bahwa kegiatan belajat hanya terjadi di dalam
kelas. Guru lupa bahwa tugas belajar siswa dapat dilakukan di luar jam
kelas atau pelajaran baik secara individual maupun kelompok dan satu
diantaranya dapat dilakukan dengan memperlajari keadaan lingkungan
disekitar.

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menggunakan lingkungan sebagai
media dan sumber belajat menurut Sudjana (2007:215) sebagai berikut:

a. Langkah persiapan.
• Guru dan siswa menentukan tujuan belajar yang diharapkan
diperoleh para siswa berkaitan dengan penggunaan lingkungan
sebagai media dan sumber belajar.
• Menentukan objek yang harus dipelajari dan di kunjungi.
• Menentukan cara belajar siswa pada saat kunjungan dilakukan.
Misalnya mencatat apa yang terjadi, mengamati suatu proses,
bertanya atau wawan cara. Siswa dibagi menjadi beberapa
kelompok dan setiap kelompok diberi LKS dalam pembelajaran.
• Guru dan siswa mempersiapkan perijinan jika diperlukan.
• Persiapan teknis diperlukan untuk kegiatan belajar seperti tata tertib
di perjalanan, ditempat tujuan, perlengkapan belajar yang harus
dibawa dan menyusun pertanyaan yang akan di ajukan.

b. Langkah pelaksanaan. Pada langkah ini melakukan kegiatan belajar di
tempat tujuan sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan yaitu:
• Kegiatan belajar diawali dengan penjelasan guru mengenai objek
yang di kunjungi.

53

• Siswa haruus bisa mengajukan beberapa pertanyaan melalui
kelompok masing-masing.

• Siswa mencatat semua informasi yang diperoleh dari penjelasan
guru.

• Guru memberikan LKS pada setiap kelompok.
• Selanjutnya siswa dalam kelompoknya mendiskusikan hasil-hasil

belajarnya untuk lebih melengkap dan memahami materi yang
dipelajarai.
c. Tindak lanjut.
• Tindak lanjut dari kegiatan di atas adalah kegiatan belajar di kelas
untuk membahas dan mendiskusikan hasil belajar dari lingkungan.
• Setia kelompok melaporkan hasil-hasil belajarnya untuk dibahas
bersama.
• Guru meminta kesan-kesan yang diperoleh siswa dari kegiatan
belajar tersebut, disamping menyimpulkan materi yang diperoleh dan
dihubungkan dengan bahan pengajaran bidang studinya.
• Guru membagikan lembar evaluasi kepada siswa dan dikerjakan
secara individu.
• Guru melakukan penilaian terhadap kegiatan belajar siswa dan hasil-
hasil yang telah di capai.

2. Metode Talking Stick.

Metode Talking Stick merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Dorongan untuk peserta didik mengemukakan
pendapat merupakan bentuk metode Talking Stick. Takling stick di awali oleh guru
yang menjelaskan materi pokok yang akan dipelajari. Peserta didik diberi kesempatan
dari materi tersebut untuk di baca dan di pelajari. Untuk aktivitas ini berikan waktu
yang cukup. Pertanyaan guru wajib di jawab oleh peserta didik yang menerima tongkat
dan begitu seterusnya. Iringan musik akan di putar ketika stick bergulir dari peserta
didik ke peserta didik lainnya. langkah terakhir dari talking stick adalah peserta didik
diberikan kesempatan ooleh guru untuk melakukan refleksi terhadap materi yang telah
dipelajarinya. Guru memberikan ulasan terhadap seluruh jawaban yang diberikan
peserta didik, selanjutnya bersama-sama peserta didik merumuskan kesimpulan
(Suprijono. A,2010:109-110).

Kelebihan-kelebihan daro metode talking stcik sebagai berikut:

a. Kesiapan siswa diuji.
b. Membaca dan memahami cepat akan dilatih.
c. Suapaya lebih giat belajar.

Kakurangan-kekurangan dari metode talking stick:

a. Membuat siswa kadang panik.
b. Karena belum terbiasa membuat siswa menjadi minder.

54

Langkah-langkah metode pembelajaran talking stick menurut suyatno
(2009:124) sebagai berikut:

a. Guru menyiapkan sebuha tongkat yang panjangnya 20 cm.
b. Guru menyiapkan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian

memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan memperlajari
materi pelajaran.
c. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya, guru mempersilahkan
siswa untuk menutup bukunya.
d. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru
memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus
menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa
mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
e. Guru memberikan kesimpulan.
f. Evaluasi.
g. Penutup.

3. Metode simulasi

Simulasi adalah tiruan atau perbuatan yang hanya pura-pura saja (dari kata
simulate yang artinya pura-pura atau berbuat seolah-olah; dan simulation artinya
tiruan atau perbuatan yang pura-pura saja) Hasibuan dan Moedjiono (2008:27).
Sedangkan menurut Hamalik dana Taniredja, dkk (2011:40) simulasi adalah suatu
teknik yang digunakan dalam semua sistem pengajaran, terutama dalam desain
intruksional yang berorientasi pada tujuan-tujuan tingkah laku. Berlatih melaksanakan
tugas-tugas yang akan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari merupakan dasar dari
latihan-latihan simulasi.

Langkah-langkah dalam penggunaan metode simulasi menurut Hasibuan dan
Moedjiono (2008:27-28) sebagai berikut:

a. Penentuan topik dan tujuan simulasi.
b. Guru memberikan gambaran secara garis besar situasi yang akan

disimulasikan.
c. Guru memimpin pengorganisasian kelompok, peranan-peranan yang akan

dimainkan, pengaturan ruangan, pengaturan lata, dan sebagainya.
d. Pemilihan pemegang peranan.
e. Guru memberikan keterangan tentang peranan yang akan dilakukan.
f. Guru memberikan kesempatan untuk mempersiapkan diri kepada kelompok

dan pemegang peranan.
g. Menetapkan lokasi dan waktu pelaksanaan simulasi.
h. Pelaksanaan simulasi.
i. Evaluasi dan pemberian balikan.
j. Latihan ulang.

Kelebihan-kelebihan dari metode simulasi menurut Hasibuan dan Moedjiono
sebagai berikut:

a. Menyenangkan. Sehingga siswa secara wajar terdorong untuk berpartisipasi.

55

b. Menggalakkan guru untuk mengembangkan aktivitas simulasi.
c. Memungkinkan eksperimen berlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang

sebenarnya.
d. Memvisualisasikan hal-hal yang abstrak.
e. Tidak memerlukan keterampilan komunikasi yang pelik.
f. Memungkinkan terjadinya interaksi antarsiswa.
g. Menimbulkan respon yang positif dari siswa yang lamban, kurang cakap dan

kurang motivasi.
h. Melatiih berfikir kritis karena siswa terlibat dalam analisa proses, kemajua

simulasi.

Kelemahan-kelemahan metode simulasi menurut Hasibuan dan Moedjioni
(2008:28) sebagai berikut:

a. Efektifitasnya dalam memajukan belajar belum dapat dilaporkan oleh riset.
b. Validitas simulasi masih banyak diragukan orang.
c. Menuntut imajinasi dari guru dan siswa.

4. Metode Discovery Learning

Discovery Learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri (Djamarah,
2008:22). Dalam sistem belajar mengajar anak didik diberi peluang untuk mencari dan
menemukan sendiri dari bahan ajar yang guru sajikan secara tidak final dengan
menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Intinya prosedur dari metode
dicovery learning ini adalah sebagai berikut:

a. Simulation. Guru akan menyuruh peserta didik untuk membaca atau
mendengarkan uraian yang memuat permasalahan atau guru akan
bertanya kepada peserta didik dengan mengajukan persoalan.

b. Problem statement. Kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk
mengidentifikasikan berbagai permasalahan.

c. Data collection. Anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan
berbagai informasi yang relevan untuk menjawab pertanyaan atau
membuktikan benar atau tidaknya sebuah hipotesis.

d. Data processing. Semua informasi dari wawancara, observasi, dan
sebagainya, akan diolah, diacak, diklasifikasikan ditabulasi, bahkan bila
perlu akan di hitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat
kepercayaan tertentu.

e. Verification atau pembuktian. Hipotesis yang telah dirumuskan dari
pengolaan dan pembuktian kemudian di cek.

f. Generation. Anak didik menarik kesimpulan dari hasil verifikasi tadi.

Kelebihan-kelebihan dari metode discovery learning sebagai berikut:13

a. Dianggap membanti siswa mengembangkan atau memperbanyak
persediaan dan penguasaan keterampilan dan porses kognitif siswa,
andaikata siswa itu dilibatkan terus dalam penemuan terpimpim. Kekuatan

13-2 Afandi Muhamad, S.Pd., M.Pd. Chamalah Evi, S.Pd.,M.Pd. Oktarina Puspita Wardani,S.Pd.,M.Pd. MODEL
DAN METODE PEMBELAJARAN DI SEKOLAH. UNISSULA PRESS, Semarang. Hal:101-102.

56

dari penemuan datang dari usaha untuk menemukan; jadi seseorang
belajar sebagaimana belajar itu.
b. Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan
meungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh; dalam arti
pendalaman dari pengertian;retensi,dan transfer.
c. Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya soswa
merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan
kadang-kadang kegagalan.
d. Metode ini memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai
dengan kemampuannya sendiri.
e. Metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya,
sehingga ia lebih merasa terlibat dan termotifasi sendiri untuk belajar, paling
sedikit dapat suatu proyek penemuan khusus.

Kelemahan-kelemahan metode discovery learning:2

a. Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini.
Misalnya, siswa yang lamban mungkin bingung dalam usahanya
mengembangkan pikirannya jika berhadapan dalam suatu subjek, atau
dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis.
Siswa yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan dan akan
menimbulkan frustasi pada siswa yang lain.

b. Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya sebagian
besar waktu dapat hilang karena membantu seorang siswa menemukan
teori-teori, atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata
tertentu.

c. Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan guru
dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara
tradisional.

d. Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang terlalu
mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan
diperolehnya sikap dan keterampilan. Sedangkan sikap dan keterampilan
diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai perkembangan
emosional sosial secara keseluruhan.

e. Dalam beberapa ilmu (misalnya IPA) fasilitas yang dibutuhkan untuk
mencoba ide-ide mungkin tidak ada.

5. Metode diskusi

Menurut Suryosubroto (2009:167), diskusi adalah percakapan ilmiah oleh
beberapa orang yang bergabung dalam satu kelompok untuk saling bertukar
pendapat tentang suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan
mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah. Diskusi menurut Wahab
(2008:100) adalah suatu tugas yang benar-benar memerlukan keahlian.

Langkah-langkah dalam pelaksanaan metode pembelajaran diskusi menurut Zain
(2010:86) sebagai berikut:

57

a. Merumuskan masalah secara jelas.
b. Dengan pimpinan guru para siswa membentuk kelompok-kelompok

diskusi memilih pimpinan diskusi (ketua, sekretaris, pelapor), mengatur
tempat duduk, ruangan, sarana, dan sebagainya sesuai dengan tujuan
diskusi.
c. Siswa diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru dalam melakukan
diskusi.
d. Guru memberikan dorongan sehingga anak mau bekerja.
e. Materi diskusi harus dikerjakan oleh seluruh anggota kelompok, tidak
salah salah satu siswa untuk mengerjakannya.
f. Seluruh siswa mencatat hasil diskusi dengan baik dan sistematik dan
menyampaikan di depan kelas.

Keuntungan metode diskusi menurut Suryosubroto (2009:172) sebagai berikut:

a. Metode diskusi melibatkan semua siswa secara langsung dalam proses
belajar.

b. Setiap siswa dapat menguji tingkat pengetahuan dan penguasaan bahan
pelajarannya masing-masing.

c. Metode diskusi dapat menumbuhkandan mengembangkan cara berfikir dan
sikap ilmiah.

d. Dengan mengajukan dan mempertahankan pendapatnya dalam diskusi
diharapkan para siswa akan dapat memperoleh kepercayaan akan
kemampuan diri sendiri.

e. Metode diskusi dapat menunjang usaha-usaha pengembangan sikap sosial
dan sikap demokratis.

Kelemahan-kelemahan dari metode diskusi sebagai berikut:

a. Diskusi membutuh banyak waktu. Kadang-kadang kateran terlalu larut
dalam diskusi menyebabkan pelajaran lain mejadi terganggu.

b. Peserta didik memiliki kecenderungan tidak sanggup berdiskusi karena
peserta didik tidak dilatih untuk melakukan diskusi dan menggunakan waktu
diskusi dengan baik.

c. Guru yang tidak memahami cara-cara melaksanakan diskudi maka
cenderung menyebabkan metode diskusi menjadi tanya jawab.

Soal latihan:

1. Apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran?
2. Jelaskan karakteristik dari metode pembelajaran Outdoor menurut Anitah

(2008)!
3. Jelaskan langkah-langkah dari metode pembelajaran Talking Stick!
4. Jelaskan kelebihan dari metode pembelajaran Discovery Learning!
5. Jelaskan kekurangan dari metode pembelajaran diskusi!

58

KUNCI JAWABAN

1. Menurut Djamarah, SB (2006:46),metode pembelajaran adalah suatu cara
yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2. Anitah (2008:5.29), karakteristik dari pembelajaran outdoor yaitu menemukan
sumber bahan pelajaran sesuai dengan perkembangan masyrakat,
dilaksanakan di luar kelas/sekolahan, memiliki perencanaan, aktivitas siswa
lebih muncul dari pada guru, aspek pembelajaran merupakan salah satu
implementasi dari pembelajaran berbasis konstekstual.

3. Langkah-langkah metode pembelajaran talking stick menurut suyatno
(2009:124) sebagai berikut:
a. Guru menyiapkan sebuha tongkat yang panjangnya 20 cm.
b. Guru menyiapkan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian
memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan memperlajari
materi pelajaran.
c. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya, guru mempersilahkan
siswa untuk menutup bukunya.
d. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru
memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus
menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa
mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
e. Guru memberikan kesimpulan.
f. Evaluasi.
g. Penutup.

4. Kelebihan-kelebihan dari metode discovery learning sebagai berikut:
a. Dianggap membanti siswa mengembangkan atau memperbanyak
persediaan dan penguasaan keterampilan dan porses kognitif siswa,
andaikata siswa itu dilibatkan terus dalam penemuan terpimpim. Kekuatan
dari penemuan datang dari usaha untuk menemukan; jadi seseorang
belajar sebagaimana belajar itu.
f. Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan
meungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh; dalam arti
pendalaman dari pengertian;retensi,dan transfer.
g. Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya soswa
merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan
kadang-kadang kegagalan.
h. Metode ini memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai
dengan kemampuannya sendiri.

59

i. Metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya,
sehingga ia lebih merasa terlibat dan termotifasi sendiri untuk belajar, paling
sedikit dapat suatu proyek penemuan khusus.

5. Kelemahan-kelemahan dari metode diskusi sebagai berikut:
a. Diskusi membutuh banyak waktu. Kadang-kadang kateran terlalu larut dalam

diskusi menyebabkan pelajaran lain mejadi terganggu.
b. Peserta didik memiliki kecenderungan tidak sanggup berdiskusi karena peserta

didik tidak dilatih untuk melakukan diskusi dan menggunakan waktu diskusi
dengan baik.
c. Guru yang tidak memahami cara-cara melaksanakan diskudi maka cenderung
menyebabkan metode diskusi menjadi tanya jawab.

60

Bab 8

Model-Model Belajar

A. Pengertian Model Pembelajaran

Trianto (2010:51), konsep model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau
pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas
atau pembelajaran tutorial. Pendekatan apa yang digunakan menjadi acuan dari
model pembelajaran, termasuk juga tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan
pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.

B. Macam-Macam Model Pembelajaran

1. Model pembelajaran langsung

Model pembelajaran langsung adalah di mana guru mentarnformasikan informasi
atau keterampilan secara langsung kepada peserta didik, tujuan dan struktur oleh guru
menjadi orientasinya. Pembelajaran langsung merujuk pada berbagai teknik
pembelajaran ekspositori (pemindahan pegetahuan dari guru kepada murid secara
langsung, misalnya melalui ceramah, demonstrasi, dan tanya jawab) yang melibatkan
seluruh kelas (Killen depdiknas,2010:23). Guru menjadi pusat pada model
pembelajaran ini, dalam hal ini guru bertugas untuk menyampaikan materi pelajaran
dengan terstruktur, mengarahkan kegiatan peserta didik, dan mempertahankan fokus
pada pencapaiakn akademik.

Tujuan dari model pembelajaran langsung menurut Depdiknak(2010:23) adalah
untuk memaksimalkan penggunaan waktu belajar peserta didik. Model pembelajaran
langsung dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang terstruktur dan
mengarah pada pencapaian akademik. Peran guru adalah untuk menyampaikan
informasi dan dapat menggunakan berbagai media pembelajaran. dari strategi direktif
informasi yang dapat disampaikan adalah pengetahuan prosedural ( pengetahuan
tentang bagaimana melaksanakan sesuatu) atau pengetahuan deklaratif 9
pengetahuan tentang sesuatu seperti fakta, konsep, prinsip, dan generalisasi).

Karakteristik dari model pembelajaran langsung merunurt Depdiknas (2010:24),
sebagai berikut:

61

a. Transformasi dan keterampilan secara langsung.
b. Pembelajaran berorientasi pada tujuan tertentu.
c. Materi pembelajaran yang telah terstruktur.
d. Lingkungan belajar yang telah terstruktur.
e. Distruktur oleh guru.

Tahapan-tahapan dalam model pembelajaran langsung menurut Bruce dan Weil
dalam Depdiknas (2010:25) sebagai berikut:

a. Orientasi. Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, akan sangat
menolong jika guru memberikan kerangka pembelajaran dan orientasi
terhadap materi yang akan disampaikan.

b. Presentasi. Pada fase ini guru dapat menyajikan materi pembelajaran baik
berupa konsep-konsep maupun keterampilan.

c. Latihan terstruktur. Pada fase ini guru memandu peserta didik untuk
melakukan latihan-latihan. Peran guru sangat penting dalam fase ini karena
memberikan umpan balik terhadap respon peserta didik dan memberikan
penguatan terhadap respon peserta didik yang benar dan mengoreksi
tanggapan peserta didik yang salah.

d. Latihan terbimbing. Pada fase ini guru memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk berlatih konsep atau keterampilan. Latihan terbimbing
ini baik juga digunakan oleh guru untuk menilai kemampuan peserta didik
untuk melakukan tugasnya. Pada fase peran guru adalahmemonitor dan
memberikan bimbingan jika diperlukan.

e. Latihan mandiri. Pada fase ini peserta didik melakukan kegiatan latihan
secara mandiri. Fase ini dapat dilalui peserta didik jika telah menguasai
tahap-tahap pengerjaan tugas.

Kelebihan-kelebihan dari model pembelajaran langsung menurut Depdiknas
dalam Sudrajat (2011) sebagai berikut:

a. Dengan model pembelajaran langsung, guru mengendalikan isi materi dan
urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga dapat mempertahankan
fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa.

b. Dapat diterapkan secara efektif dalam kelas besar maupun kecil.

62

c. Dapat digunakan untuk menekankan poin-poin penting atau kesulitan-
kesulitan yang mungkin dihadapi siswa sehingga hal-hal tersebut dapat
diungkapkan.

d. Dapat menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan informasi dan
pengetahuan faktual yang sangat terstruktur.

e. Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan
keterampilan-keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang berprestasi
rendah.

Kelemahan-kelemahan dalam model pembelajaran langsung menurut Depdiknas
(Sudrajat,2011) sebagai berikut:

a. Model pembelajaran langsung bersandar pada kemampuan siswa untuk
mengasimilasikan informasi melalui kegiatan mendengarkan, mengamati,
dan mencatat. Karena tidak semua siswa memiliki keterampilan dalam hal-
hal tersebut, guru masih harus mengajarkan kepada siswa.

b. Dalam model pembelajaran langsung, sulit untuk mengatasi perbedaan
dalam hal kemampuan, pengetahuan awal, tingkat pembelajaran dan
pemahaman, gaya belajar, atau ketertarikan siswa.

c. Karena siswa hanya memiliki sedikit kesempatan untuk terlibat secara aktif,
sulit bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan
interpersonal mereka.

d. Karena guru memainkan peran utama dalam model ini, kesuksesan strategi
pembelajaran ini bergantung pada image guru. jika guru tidak tampak siap,
berpengatahuan, percara diri, antusias, dan terstruktur, siswa dapat
menjadi bosan, teralihkan perhatiannya, dan pembelajaran mereka akan
terhambat.

2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)

Sejak zaman Jonh Dewey istilah model pengajaran berdasarkan masalah sudah
dikenal. Model pembelajaran ini mulai diangkat sebab ditinjau secara umum
pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi
masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada
mereka untuk melakukan penyelidikan dan Inquiri (Trianto, 2010:91).

63

Untuk pengajaran berfikir tingkat tinggi pengajaran berdasarkan masalah
merupakan pendekatan yang efektif. Siswa akan dibantu dengan pembelajaran ini
dalam memproses informasi yang sudah jadi didalam benaknya dan menyusun
pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini
cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks (Ratumanan
dalam Trianto, 2010:92).

Kelebihan-kelebihan model PBM menurut Trianto (2010: 96-97)sebagai berikut;

a. Realistik dengan kehidupan siswa.
b. Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa.
c. Memupuk sifat inquiry siswa.
d. Retensi konsep jadi kuat.
e. Memupuk kemampuan dalam menyelesaikan masalah.

Kekurangan-kekurangan model PBM menurut Trianto (2010: 96-97):

a. Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks.
b. Sulitnya mencari masalah yang relevan.
c. Sering terjadi miss-konsepsi.
d. Konsumsi waktu, dimana model ini memerlukan waktu yang cukup dalam

penyelidikan.

Langkah-langkah model PBM menurut Trianto (2010:98) sebagai berikut:

a. Orientasi siswa kepada masalah: guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau
demonatrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa
untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.

b. Mengoganisasikan siswa untuk belajar: guru membantu siswa untuk
medefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan
dengan masalah tersebut.

c. Membimbing penyelidikan individual maupuan kelompok: guru mendorong
siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan
eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

64

d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya: guru membantu siswa dalam
merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video,
dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

e. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah: guru
membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

3. Model Pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)

PMRI adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang mengungkapkan
pengalaman dan kejadian yang dekat dengan siswa sebagai sarana untuk
memahamkan persoalan matematika (Depdiknas,2010:7). Menurut Anwar (2010),
PMRI adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang mencoba
menggunakan pengalaman dan lingkungan siswa sebagai alat bantu mengajar
primer.

Supinah (2008: 15-16) menyatakan bahwa PMRI adalah “suatu teori pembelajaran
yang telah dikembangkan khusus untuk matematika. Konsep matematika realistik ini
sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pendidikan matematika di Indonesia
yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang
matematika dan mengembangkan daya nalar”

Sedangkan menurut Supinah (2008:15-16), PMRI adalah suatu teori pembelajaran
yang telah dikembangkan khusus untuk matematika. Konsep matematika realistik ini
sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaikan pendidikan matematika di Indonesia
yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang
matematika dan mengembangkan saya nalar.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Pendekatan PMRI adalah
suatu pendekatan yang sarana pembelajarannya pembelajaran matematika yang
dekat dengan kehidupan nyata siswa untuk meningkatkan pemahaman dan daya
nalar.

Langkah-langkah PMRI adalah sebagai berikut:

65

a. Persiapan. Guru harus memiliki berbagai macam strategi dan benar-benar
memahami masalah yang mungkin akan ditempuh siswa dalam
menyelesaikannya.

b. Pembukaan. Guru memperkenalkan sebuah masalah dan strategi
pembelajaran yang dipakai untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Kemudian masalah tersebut harus diselesaikan oleh siswa dengan cara
mereka sendiri.

c. Proses pembelajaran. Dalam menyelesaikan masalah, siswa dapat
melakukannya secara perorangan atau dengan kelompok. Siswa juga akan
mencoba berbagai strategi untuk menyelesaikan masalah yang sesuai
dengan pengalamannya. Guru berperan untuk mengamati jalannya diskusi
kelas sambil mengarahkan, memberikan tanggapan kepada siswa atau
kelompok penyaji.

d. Penutup. Siswa diajak menarik kesimpulan setelah mencapai kesepakan
tentang strategi terbaik melalui diskusi kelas. Pada akhir pembelajaran
siswa harus mengerjakan soal evaluasi dalam bentuk matematika (Zulkardi
dalam Hartono, 2008:20).

Kelebihan-kelebihan dari PMRI menurut Suwarsono dalam Nalole(2008:140)
sebagai berikut:

a. PMRI memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa
tentang keterkaitan antar matematika dengan kehidupan sehari-hari
(kehidupan dunia nyata) dan tentang kegunaan matematika pada umumnya
bagi manusia.

b. PMRI memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa
bahwa matematika suatu bidang kajian yang dikonstruksi dan
dikembangkan sendiri oleh siswa, tidak hanya oleh mereka yang disebut
pakar dalam bidang tersebut.

c. PMRI memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa
bahwa cara penyelsaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal, dan
tidak harus sama anatara orang yang satu dengan orang yang lain.

d. PMRI memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa
bahwa dalam memperlajari matematika. Menjalani proses itu dan berusaha

66

untuk menemukan sendiri konsep-konsep matematika dengan bantuan
pihak lain yang lebih tahu (misalnya guru).

Kelemahan-kelemahan dari PMRI menurut Sarwono dalam Nalole (2008:140-
141) sebagai berikut:

a. Upaya mengimplementasikan PMRI membutuhkan perubahan
pandangan yang sangat mendasar mengenai berbagai hal yang tidak
mudah dipraktikan, misalnya mengenai padangan siswa, guru, dan
peranan soal kontekstual.

b. Mengkonstruksi soal-soal kontekstual yang memenuhi syarat-syarat
yang dituntut PMRI tidak selalu mudah untuk setiap topik matematika
yang perlu dipelajari siswa, apalagi jika soal-soal tersebut harus dapat
diselesaikan dengan bermacam-macam cara.

c. Upaya untuk mendorong siswa agar dapat menemukan berbagai cara
untuk menyelesaikan soal juga merupakan hal yang tidak mudah bagi
guru.

4. Model Pembelajaran Index Card Match (mencari pasangan).

Model pembelajaran Index Card Match (mencari pasangan adalah model
pembelajaran yang cukup menyenangkan, digunakan untuk mengulang materi yang
telah diberikan sebelumnya (Zaini, 2008:67). Peserta didik diberi tugas untuk
mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu sebelum guru mengajarkan
materi baru. Sehingga peserta didik sudah memiliki bekal pengetahuan ketika masuk
ruangan kelas.

Menurut Zaini (2008:67), langkah-langkah dalam model pembelajaran Index Card
Match (mencari pasangan) sebagai berikut:

a. Guru membuat potongan kerta (kartu) sebanyak jumlah peserta didik yang
ada dikelas.

b. Kertas tersebut dibagi menjadi sua bagian yang sama.
c. Pada separuh kertas, ditulis pertanyaan tentang materi yang akan

diajarkan.
d. Setiap kertas berisi satu pertanyaan.

67

e. Pada separuh kertas yang lain, di tulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan
yang sudah dibuat.

f. Sebelum dibagikan kartu dikocok terlebih dahulu sehingga akan tercampur
antara soal dan jawaban.

Kelebihan-kelebihan daripembelajaran Index Card Match sebagai berikut:
a. Dalam proses belajar menumbuhkan kegembiraan.
b. Perhatian peserta didik lebih terlihat karena materu pembelajaran yang
disampaikan dapat lebih menarik.
c. Suasana belajar yang aktif dan menyenangkan dapat diciptakan.
d. Peserta didik mampu ditingkatkan prestasi belajarnya dalam taraf
ketuntasan belajar.
e. Pengamatan/observasi dan permainan (peserta didik) dapat dilakukan
penilaian.

Kelemahan-kelemahan dari pembelajaran Index Card Match sebagai berikut:
a. Dalam menyelesaikan tugas dan presentasi peserta didik membutuhkan
waktu yang lama.
b. Perisapan yang matang membutuhkan waktu yang lama bagi guru.
c. Dalam menyelesaikan masalah peserta didik dituntut untuk bekerja sama.
d. Kelas lain dapat terganggu karena suasana kelas yang ramai.
e. Jika peserta didiknya banyak (gemuk) menjadi kurang efektif.

Soal latihan.
1. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran menurut Trianto?
2. Apa karakteristik dari model pembelajaran langsung menurut Depdiknas?
3. Jelaskan langkah-langkah dalam pembelajaran PMRI!
4. Sebutkan kelebihan-kelebihan dari pembelajaran bermasis masalah (PBM)!
5. Sebutkan kelemahan-kelemahan dari pembelajaran Index Card Match!

68

KUNCI JAWABAN

1. Trianto (2010:51), konsep model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau
pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di
kelas atau pembelajaran tutorial. Pendekatan apa yang digunakan menjadi
acuan dari model pembelajaran, termasuk juga tujuan pengajaran, tahap-tahap
dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan
kelas.

2. Karakteristik dari model pembelajaran langsung merunurt Depdiknas
(2010:24), sebagai berikut:
a. Transformasi dan keterampilan secara langsung.
b. Pembelajaran berorientasi pada tujuan tertentu.
c. Materi pembelajaran yang telah terstruktur.
d. Lingkungan belajar yang telah terstruktur.
e. Distruktur oleh guru.

3. Langkah-langkah PMRI adalah sebagai berikut:
a. Persiapan. Guru harus memiliki berbagai macam strategi dan benar-benar
memahami masalah yang mungkin akan ditempuh siswa dalam
menyelesaikannya.
b. Pembukaan. Guru memperkenalkan sebuah masalah dan strategi
pembelajaran yang dipakai untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Kemudian masalah tersebut harus diselesaikan oleh siswa dengan cara
mereka sendiri.
c. Proses pembelajaran. Dalam menyelesaikan masalah, siswa dapat
melakukannya secara perorangan atau dengan kelompok. Siswa juga akan
mencoba berbagai strategi untuk menyelesaikan masalah yang sesuai

69

dengan pengalamannya. Guru berperan untuk mengamati jalannya diskusi
kelas sambil mengarahkan, memberikan tanggapan kepada siswa atau
kelompok penyaji.
d. Penutup. Siswa diajak menarik kesimpulan setelah mencapai kesepakan
tentang strategi terbaik melalui diskusi kelas. Pada akhir pembelajaran
siswa harus mengerjakan soal evaluasi dalam bentuk matematika (Zulkardi
dalam Hartono, 2008:20).
4. Kekurangan-kekurangan model PBM menurut Trianto (2010: 96-97):
a. Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks.
b. Sulitnya mencari masalah yang relevan.
c. Sering terjadi miss-konsepsi.
d. Konsumsi waktu, dimana model ini memerlukan waktu yang cukup dalam
penyelidikan.

5. Kelemahan-kelemahan dari pembelajaran Index Card Match sebagai berikut:
a. Dalam menyelesaikan tugas dan presentasi peserta didik membutuhkan
waktu yang lama.
b. Perisapan yang matang membutuhkan waktu yang lama bagi guru.
c. Dalam menyelesaikan masalah peserta didik dituntut untuk bekerja sama.
d. Kelas lain dapat terganggu karena suasana kelas yang ramai.
e. Jika peserta didiknya banyak (gemuk) menjadi kurang efektif.

70

Bab 9

Evaluasi

Evaluasi merupakan proses yang sangat penting dalam kegiatan pendidikan
formal. Bagi guru, evaluasi dapat menentukan efektifitas kinerjanya saat
ini;sedangkan bagi pengembang kurikulum evaluasi dapat memberikan informasi
untuk perbaikan kurikulum yang sedang berjalan. Menurut Tyler dalam Sukiman,
memberikan pengertian evaluasi berfokus pada upaya yntuk menentukan tingkat
perubahan yang terjadi pada hasil belajar (bahvior).14

Bagi siswa evaluasi sering dianggap sebagai salah satu hal yang menakutkan,
karena nasib siswa dalam proses pembelajaran ditentukan oleh kegiatan evaluasi.
Sebagai suatu bagian integral dari suatu proses kegiatan pembelajaran seharusnya
evaluasi bisa dipandang sebagai sesuatu yang wajar.

Sebagai kegiatan akhri daru suatu proses belajar, sevaluasi yang menjadi alat
untuk melihat keberhasilan dapat dikelompokkan dalam dua jenis yaitu tes dan non-
tes.15

a. Tes. Harus memiliki dua kriteria, yaitu kriteria validitas dan reabilitas. Jenis-
jenis tes terdiri atas hasil belajar yang dapat dibedakan menjadi tes kelompok
dan tes individu.

b. Non-tes. Alat evaluasi yang digunakan untuk menilai aspek tingkah laku
termasuk sikap, minat, dan motivasi. Ada beberapa jenis non-tes sebagai alat
evaluasi, diantaranya wawancara,observasi, study kasus, dan skala penilaian.

Teknik penilaian dengan cara mengamati tingkah laku pada situasi tertentu disebut
dengan observasi. Observasi ada dua jenis, yaitu observasi partisipan dan observasi
non-partisipan. Komunikasi langsung antara diwawancarai dan yang mewawancarai
disebut dengan wawancara. Wawancara ada dua jenis yaitu, wawancara langsung

14 Sukmawati, Henni. 2021. KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM DALAM SISTEM PEMBELAJARAN. 7 (1),
hal:68.
15 Hamdani,Hamid. Pengembangan Kurikulum Pendidikan. Pustaka Setia, Bandung. Hal:44-45

71

dan wawancara tidak langsung. Pelaksanaan studi kasus untuk memperlajari periode
tertentu secara kontinu.

Berdasarkan pendelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, evaluasi merupakan
komponen terakhir dalam sistem pembelajaran yang fungsinya bukan hanya untuk
melohat keberhasilan siswa dalam proses belajar melainkan juga untuk umpan balik
bagi guru atas kinerjanya dalam melaksanakan pembelajaran. kita dapat melihat
kekuarangan dalam pemanfaatan berbagai komponen dari sistem pembelajaran
melalui evaluasi.
Soal latihan:

1. Apa yang dimaksud dengan evaluasi?
2. Jelaskan 2 jenis evaluasi!
3. Apa yang dimaksud dengan observasi?
4. Apa yang dimaksud dengan wawancara?
5. Jelaskan fungsi evaluasi!

72

KUNCI JAWABAN

1. Evaluasi merupakan proses yang sangat penting dalam kegiatan pendidikan
formal. Bagi guru, evaluasi dapat menentukan efektifitas kinerjanya saat
ini;sedangkan bagi pengembang kurikulum evaluasi dapat memberikan
informasi untuk perbaikan kurikulum yang sedang berjalan.

2. Dua jenis evaluasi:
a. Tes. Harus memiliki dua kriteria, yaitu kriteria validitas dan reabilitas. Jenis-
jenis tes terdiri atas hasil belajar yang dapat dibedakan menjadi tes
kelompok dan tes individu.
b. Non-tes. Alat evaluasi yang digunakan untuk menilai aspek tingkah laku
termasuk sikap, minat, dan motivasi. Ada beberapa jenis non-tes sebagai
alat evaluasi, diantaranya wawancara,observasi, study kasus, dan skala
penilaian.

3. Observasi adalah Teknik penilaian dengan cara mengamati tingkah laku pada
situasi tertentu

4. Wawancara adalah Komunikasi langsung antara diwawancarai dan yang
mewawancarai

5. Fungsi evaluasi adalah untuk melihat keberhasilan siswa dalam proses belajar
dan sebagai umpan balik bagi guru atas kinerjanya dalam melaksanakan
pembelajaran.

73

DAFTAR PUSTAKA
Abd. Qodir. 2017. TEORI BELAJAR HUMANISTIK DALAM MENINGKATKAN

PRESTASI BELAJAR SISWA. 04(02),hlm: 188-202.
Afandi Muhamad, S.Pd., M.Pd. Chamalah Evi, S.Pd.,M.Pd. Oktarina Puspita

Wardani,S.Pd.,M.Pd. MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN DI
SEKOLAH. UNISSULA PRESS, Semarang.
DR.HM.Musfiqon,M.Pd. Nurdyansyah,S.Pd., M.Pd. 2015. PENDEKATAN
PEMBELAJARAN SANTIFIK. Nizamia Learning Center, Sidoarjo.
Husamah, Pantiwati, Yuni,Restian, Arina,dan Sumarsono, Puji. 2016. Belajar &
Pembelajaran. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Mashudi Alamsyah, M.Pd. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas
Indraprasta PGRI.
Pane, Aprida. 2017. BELAJAR DAN PEMBELAJARAN. 3(2), hal:340-350.
Rizka Amalia. A, Ahmad Nur Fadholi. Toeri Behavioristik. Sidoarjo. Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo.
Sugrah, Nurfatimah. 2019. Implementasi Toeri Belajar Konstruktivisme dalam
Pembelajaran Sains. 19 (2), hlm: 121-138.
Sukmawati, Henni. 2021. KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM DALAM SISTEM
PEMBELAJARAN. 7(1), hal: 68-69.

74


Click to View FlipBook Version