The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Modul ini berisi tentang Sejarah penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia dan sejarah Peniggalan Hindu-Buddha di Kabupaten Batang, Jawa Tengah Indonesia.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by galericvid, 2021-09-23 00:06:04

E-Modul Sejarah Peniggalan Hindu-Buddha di Kabupaten Batang

E-Modul ini berisi tentang Sejarah penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia dan sejarah Peniggalan Hindu-Buddha di Kabupaten Batang, Jawa Tengah Indonesia.

Keywords: Sejarah,Hindu,Buddha,Batang,Kabupaten Batang

E-MODUL

PENINGGALAN
SEJARAH HINDU-BUDDHA

DI KABUPATEN BATANG JAWA TENGAH

Zulfa Shofiana KELAS

X

SMA/MA/SMK/MAK



“Kata Pengantar

Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat Nya penulis dapat
menyelesaikan E- Modul pembelajaran Sejarah Indonesia Kelas X IPS SMA/MA Sederajat
tentang Perkembangan dan Pengaruh Masa Hindu-Buddha di Indonesia. E- Modul ini dibuat
berdasarkan substansinya sebagai pembelajaran berbasis sejarah lokal. Tentang Pening-
galan-Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang menjadi pokok bahasan dalam
E-Modul pembelajaran ini. Dalam penyusunan E-Modul ini, penulis melakukan beberapa kali
penelitian terkait Peninggalan-Peni`nggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang Jawa
Tengah terlebih tentang Awal Pengaruh Hindu-Buddha di Pantai Utara Jawa Tengah, Tradisi
Kebudayaan masa Hindu-Buddha yang masih di lestarikan hingga saat ini di Batang Jawa
Tengah. Selama penyusunan E-Modul, Penulis menyadari bahwa sumber terkait fakta sejarah
Masa Hindu-Buddha di Kabupaten Batang sangatlah minim. Bahkan diantaranya didasarkan
atas mitos - mitos yang berkembang di masyarakat dan sumber sejarah terkait benda pening-
galan sejarah masa Hindu-Buddha di Batang kurang lengkap. Oleh karena itu, penulis men-
yadari kekurangan yang terdapat di dalam E-modul ini.

Besar harapan penulis, E-Modul ini dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran sejar-
ah lokal dan acuan dari penelitian - penelitian yang akan dilakukan mendatang.

Zulfa Shofiana

Kata Pengantar i

DAFTA

i Kata Pengantar

ii Daftar Isi

01 BAB I

PENDAHULUAN
a) Deskripsi Singkat.............................................................................................. 01
b) Peta E-Modul.................................................................................................... 01
c) Peta Konsep...................................................................................................... 02
d) Petunjuk Penggunaan E-Modul........................................................................ 03
e) Manfaat E-Modul..............................................................................................04
f) Tujuan Pembelajaran......................................................................................... 04

05 BAB II

PERKEMBANGAN DAN PENGARUH HINDU-BUDDHA
a) Penyebaran Kebudayan Hindu di Indonesia..................................................... 06
b) Masuknya Agama Buddha di Indonesia........................................................... 07
c) Jalur Kedatangan Hindu-Buddha di Indonesia................................................. 08
d) Teori Masuknya Agama Hindu-Buddha di Indonesia.......................................09
e) Akulturasi kebudayan Hindu-Buddha di Indonesia.......................................... 12
Rangkuman Materi.................................................................................................21
Kompetensi BAB II................................................................................................23

26 BAB III

PENINGGALAN SEJARAH MASA HINDU-BUDDHA DI BATANG
a) Awal pengaruh Hindu-Buddha di Pantai Utara Jawa Tengah........................... 27
b) Arca Ganesha.................................................................................................... 29
c) Arca Watu Gajah............................................................................................... 31

ii E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

AR ISI

d) Punden Batur 1 dan Punden Batur 2.................................................................33
e) Prasasti Bendosari.............................................................................................35
f) Prasasti Kepokoh...............................................................................................36
g) Prasasti Wutit....................................................................................................38
h) Prasasti Sojomerto............................................................................................ 38
i) Yoni Plumbon 1,2,3........................................................................................... 40
Rangkuman Materi................................................................................................ 43
Infografis Peninggalan Sejarah Batang..................................................................45
Kompetensi BAB III..............................................................................................49

53 BAB IV

TRADISI KEBUDAYAAN HINDU-BUDDHA DENGAN JAWA
DI BATANG
a) Nyadran Gunung Silurah.................................................................................. 2
b) Tradisi Legenanan............................................................................................ 3
Rangkuman Materi................................................................................................ 4

59 Glosarium

61 Kunci Jawaban

65 Indeks Gambar

67 Daftar Pustaka

Daftar Isi iii

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Deskripsi Singkat

E-Modul ini akan memberikan pengetahuan tentang:

1. Proses masuknya agama Hindu-Buddha di Indonesia
2. Perkembangan dan pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia
3. Jalur Kedatangan Hindu-Buddha di Indonesia
4. Akulturasi Kebudayaan Nusantara dan Hindu-Buddha
5. Awal pengaruh Hindu-Buddha di Pantai Utara Jawa Tengah
6. Bukti peninggalan sejarah Hindu-Buddha di Batang Jawa Tengah
7.Tradisi Kebudayaan Hindu-Buddha dengan Jawa di Batang

B. Peta E-Modul

Sebelum peserta didik mempelajari E-Modul ini, perhatikan dahulu rangkaian
pembelajaran pada mata pelajaran Sejarah Indonesia (wajib) Kelas X kurikulum 2013,
yaitu pada materi Perkembangan dan pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia, dimana dalam
E-Modul ini khususnya pada materi Sejarah Lokal di Batang Jawa Tengah, yakni
Peninggalan Sejarah Hndu-Buddha yang terdapat di Batang Jawa Tengah. E-Modul
Sejarah ini sangat cocok digunakan sebagai sublemen dalam mencapai tujuan pembelaja-
ran.

Rincian materi yang akan peserta didik pelajaritercantum sebagai berikut ini :

Kompetensi 3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan factual,
Inti konseptual, procedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budya dan humoniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan kejadian, serta menerap-
kan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatanya untuk memecahkan masalah.

01 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

Kompetensi 3.5 Menganalisis berbagai teori tentang proses masuk dan berkembangnya
Dasar agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia.

3.6 Menganalisis karakteristik kehidupan masyarakat, pemerintahan, dan kebu-
dayaan pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia serta
menunjukkan contoh bukti-bukti yang masih berlaku pada kehidupan
masyarakat Indonesia masa kini.

E-Modul • Peninggalan Sejarah Hindu-Buddha di Batang Jawa Tengah

Kegiatan • Perkembangan dan pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia
Pembelajaran • Bukti peninggalan sejarah Hindu-Buddha yang terdapat di Batang Jawa

Tengah

C. Peta Konsep

Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang Jawa Tengah

KB 1: KB 2: KB 3:
Perkembangan dan Peninggalan Sejarah masa Tradisi Kebudayaan Hindu-
Pengaruh Hindu-Buddha Hindu-Buddha di Batang
Buddha dengan Jawa di
di Indonesia Jawa Tengah Indonesia Batang Jawa Tengah

Proses Melalui Awal Pengaruh Hindu-Buddha
di Pantai Utara Jawa Tengah
Teori Masuknya Agama
Hindu-Buddha di Indonesia Bukti Peninggalan

Membentuk a) Arca Ganesha Tradisi Tradisi
Kebudayaan b) Arca Watu Gajah Nyadran Legenanan
c) Punden Berundak 1&2 Gunung Desa
Baru d) Prasasti Sojomerto Silurah Kluwih
e) Prasasti Kepokoh
Akulturasi Budaya f) Prasasti Wutit
Hindu-Buddha di Indonesia g) Prasasti Bendosari
h) Yoni Plumbon 1, 2, 3

BAB 1 - Pendahuluan 02

D. Petunjuk Penggunaan Modul

Untuk mengoptimalkan penggunaan Modul ini ,ada beberapa strategi belajar dan
membaca yang perlu kamu lakukan :

1 Pastikan kalian memiliki Link Anyflip untuk membuka E-Modul Peninggalan Seja-

rah Hindu-Buddha di Kabupaten Batang.

Sebelum kamu mempelajari Modul ini, bacalah bagian pendahuluan untuk memahami

2 konsep utuh Peninggalan-Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Kabupaten
Batang, serta memahami Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dalam kerangka kuri-

kulum 2013.

3 Sebelum membaca materi dengan seksama, ada baiknya kamu melihat peta konsep
yang memetakan secara global materi yang harus dipahami.

4 Kamu bisa menambahkan catatan pinggiran untuk menandai konsep-konsep penting
untuk dipahami dan didiskusikan.

5 Silahkan kamu kerjakan setiap latihan yang dianjurkan dalam materi ini.

6 Untuk mengetahui seberapa jauh kamu memahami dan menguasai materi, kerjakan tes
formatif yang dibuat pada akhir setiap kegiatan pembelajaran.

Semoga kamu bisa memahami materi ini dengan baik dengan seksama sehingga
menambah wawasan pengetahuan sejarah lokal tentang Peninggalan Sejarah Masa Hindu-
Buddha Di Daerah Batang Jawa Tengah dengan ini peserta didik dapat meningkatkan kesada-
ran sejarah di daerah lingkunganya.

BSSeeSulleaakljmaasleruas&t Salam
Jasmerah

03 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

E. Manfaat E-Modul

1 Bagi Siswa

E-Modul ini diharapkan dapat membantu siswa untuk menguraikan perkembangan dan
pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia. Kemudian, E-Modul ini juga diharapkan dapat
menambah wawasan dan pengetahuan siswa terhadap peninggalan-peninggalan sejarah
lokal Hindu-Buddha di Batang Jawa Tengah.

2 Bagi Guru

Modul ini diharapkan dapat melengkapi kebutuhan bahan ajar guru sehingga dapat
menunjang proses pembelajaran sejarah.

F. Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran BAB II
Setelah mempelajari bab ini, peserta didik diharapkan mampu :

• Menjelaskan tenteng teori masuk agama Hindu-Buddha di Indonesia
• Menganalisis Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia
• Menganalisis Akulturasi Kebudayaan Nusantara dan Hindu-Buddha

Tujuan Pembelajaran BAB III
Setelah mempelajari bab ini, peserta didik diharapkan mampu :

• Menganalisis awal pengaruh Hindu-Buddha di Pantai Utara Jawa Tengah.
• Menyebutkan bukti-bukti peninggalan sejarah Hindu-Buddha di Batang Jawa Tengah.
• Menjelaskan sejarah dan makna bukti-bukti peninggalan sejarah Hindu-Buddha di Batang Jawa

Tengah.
• Menghargai dan melestarikan berbagai bukti-bukti peninggalan sejarah Hindu-Buddha di Batang

Jawa Tengah.

Tujuan Pembelajaran BAB IV
Setelah mempelajari bab ini, peserta didik diharapkan mampu :

• Menganalisis sejarah asal-usul tradisi kebudayaan Hindu-Buddha dengan Jawa di Batang.
• Menyebutkan tradisi kebudayaan Hindu-Buddha dengan Jawa di Batang yang masih ada hingga

sekarang.
• Melestarikan berbagai tradisi kebudayaan Hindu-Buddha dengan Jawa di Batang.

BAB 1 - Pendahuluan 04

BAB 2

PERKEMBANGAN
DAN PENGARUH MASA
HINDU-BUDDHA DI INDONESIA

gambar 2.1 Jalur Perdagangan, Penyebaran Agama dan
kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia

Agama dan Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia masuk ke Indonesia melalui kontak
perdagangan. Kontak ini terjadi akibat dari perdagangan yang dilakukan antara orang-orang
India dan Cina dengan orang-orang yang ada di Nusantara, terutama di daerah Nusantara
merupakan jalur perdagangan strategis yang menghubungkan antara India dan Cina.
Hubungan jalur perdagangan yang semakin intensif menimbulkan terjadinya proses
akulturasi antara ke Cina dengan India dengan kebudayaan Nusantara. Hubungan ini
diperkuat dengan ditemukannya berbagai Prasasti, Arca, Patung dan Bangunan yang serupa
dengan ciri peninggalan sejarah di India.

05 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

A. Penyebaran Kebudayaan Hindu Di Indonesia

gambar 2.2 Rute jalur pelayaran Hindu

Pada permulaan tarikh masehi, sejak abad ke-2 M di Benua Asia terdapat dua negeri
besar yang tingkat peradabannya dianggap sudah tinggi yaitu India dan Cina. Kedua Negara ini
menjalani hubungan ekonomi dan perdagangan yang baik. Arus lalu lintas perdagangan dan
pelayaran berlangsung melalui darat dan laut. Salah satu jalur lalu lintas laut yang dilewati
India-Cina adalah Selat Malaka. Indonesia yang terletak di jalur posisi silang dua benua dan
dua samudera, serta berada didekat Selat Malaka memiliki keuntungan yaitu sering dikunjungi
bangsa-bangsa asing seperti India, Cina, Arab, dan Persia. Kesempatan melakukan hubungan
perdagangan internasional terbuka lebar, pergaulan dengan bangsa-bangsa lain semakin luas,
pengaruh asing masuk ke Indonesia seperti Hindu-Buddha. Keterlibatan bangsa Indonesia
dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran internasional menyebabkan timbulnya akulturasi
budaya. India merupakan negara pertama yang memberikan pengaruh kepada Indonesia yaitu
dalam bentuk Agama dan Kebudayaan Hindu.

Pada saat itu menggunakan dua jalur perniagaan internasional yang dilakukan oleh para
pedagang, yaitu Jalur perniagaan melalui darat atau lebih dikenal dengan “Jalur Sutra”
(silkroad) yang dimulai dari daratan Tiongkok (Cina) melalui Asia Tengah, Turkistan hingga ke
Laut Tengah, jalur perniagaan melalui laut dimulai dari Cina melalui Laut Cina kemudian Selat
Malaka, Calicut (India), lalu ke Teluk Persia melalui syam (Syuria) sampai ke Laut Tengah atau
melalui Laut Merah sampai ke Mesir lalu menunju Laut Tengah.

BAB 2 - Perkembangan dan Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia 06

B. Masuknya Agama Buddha di Indonesia

gambar 2.3 Rute jalur penyebaran Buddha

Agama Buddha pertama kali masuk ke Nuasantara sekitar abad ke II Masehi. Penyeba-
ran agama Buddha dilakukan melalui misi khusus, yaitu misi Dharmaduta. Menurut para ahli
misi Dharmaduta di Indonesia dilakukan pada abad II Mesehi. Adanya misi tersebut dibuktikan
dengan penemuan patung Buddha dari perunggu di Sempaga (Sulawesi Selatan), Jember (Jawa
Timur) dan Bukit Siguntang (Sumatra Selatan). Arca-Arca tersebut termasuk dalam aliran
Amarawati yang berasal dari India Selatan.

gambar 2.4 gambar 2.5
Arca Bukit Siguntang Arca Buddha Perunggu
Sumatra Selatan Sikedeng, Sulawesi Barat

Untuk menjalankan misinya, para pendeta Buddha menggunakan jalur pelayaran dan
perdagangan menuju Indonesia. Sebaliknya di Indonesia, mereka kemudian menemui raja/
penguasa lokal setempat guna meminta izin menyebarkan agama Buddha. Selanjutnya, mereka

07 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

mereka mulai mengajarkan dan menyebarkan agama Buddha. Penguasa lokal tertarik dan
memutuskan menganut agama Buddha akan memperlancar perkembangan agama Buddha di
daerah tersebut. Jika raja tidak tertarik menganut agama Buddha, tetapi memberi izin kepada
para pendeta tersebut untuk menyebarkan agama Buddha, mereka akan mendirikan perkumpu-
lan umat Buddha disebut Sangga. Sangga merupakan kelompok masyarakat pengikut Buddha.
Kelompok ini dipimpin seorang Biksu dan memiliki ikatan langsung dengan India sebagai
tanah suci agama Buddha. Sangga terbagi dalam dua kelompok sebagai berikut: Upasaka atau
Upasika artinya masyarakat yang ingin belajar agama Buddha, Bisku dan Biksuni artinya
pengikut yang ingin meninggalkan kehidupan duniawi, tinggal di biara, mencukur rambut, dan
memakai jubbah berwarna kuning.

Kerajaan Buddha pertama kali yang berkembang di Nusantara adalah kerajaan Sriwi-
jaya yang berdiri pada abad ke-7 sampai ke tahun 1377. Kerajaan Sriwijaya pernah menjadi
salah satu pusat perkembangan agama Buddha di Asia Tenggara. Hal ini terlihat pada catatan
seorang sarjana dari China bernama I-Tsing yang melakukan perjalanan ke India dan Nusantara
serta mencatat perkembangan agama Buddha disana. Pada tahun 1987 ada Tuju aliran keag-
amaan Buddha yang berkembang di Indonesia diantaranya : Theravada, Buddhayana, Mahaya-
na, Tridharma, Kasogatan, Maitreya dan Nichiren.

C. Jalur Kedatangan Hindu-Buddha di Indonesia

Agama Buddha diduga masuk lebih dahulu di Indonesia dari pada agama Hindu. Agama
Buddha masuk di Indonesia pada abad II Masehi, sedangkan agama Hindu masuk pada abad
III-IV Masehi. Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia dibawa oleh pedagang dan pendeta dari
India atau Cina. Pengaruh tersebut masuk melalui dua jalur sebagai berikut:

1 Jalur Darat

Penyebaran pengaruh Hindu-Buddha melalui jalur darat mengikuti para pedagang
melalui Jalur Sutra. Ruter Jalur Sutra terbagai menjadi dua bagian sebagai berikut :

a Rute Jalur Sutra Utara membentang dari India ke Tibet terus ke utara sampai Cina,
Korea, dan Jepang.

b Rute Jalur Sutra Selatan membentang dari India Utara menuju Bangladesh, Myanmar,
Thailand, Semenanjung Malaya, kemudian berlayar menuju wilayah Indonesia.

2 Jalur Laut

Penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia dilakukan dengan mengikuti rombon-
gan kapal pedagang yang biasa beraktivitas pada jalur India-Cina. Rute perjalanan dimulai dari
India menuju Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaya, dan berakhir di Indonesia.

BAB 2 - Perkembangan dan Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia 08

D. Teori Tentang Masuk dan Berkembangnya
Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia

Teori masuknya Hindu Buddha ke Indonesia yang dikemukakan para ahli sejarah
umumnya terbagi menjadi 2 pendapat. Pendapat pertama menyebutkan bahwa dalam proses
masuknya kedua agama ini, Bangsa Indonesia hanya berperan pasif dan dianggap hanya
sekedar menerima budaya dan agama dari India. Ada 3 teori yang menyokong pendapat ini
yaitu Teori Brahmana, Teori Waisya dan Teori Ksatria. Pendapat kedua menyebutkan bahwa
Bangsa Indonesia juga bersifat aktif dalam proses penerimaan agama dan kebudayaan Hindu
Buddha. Dua teori yang menyokong pendapat ini adalah Teori Arus Balik dan Teori Sudra.

1 Teori Brahmana oleh J.C. Van Leur

Menurut Van Leur mengemukakan bahwa ketika
menobatkan seorang raja, Kaum Brahmana pasti membawa
Kitab Weda ke Indonesia. Sebelum kembali ke India, tidak
jarang para Brahmana meninggalkan Kitab Weda-nya sebagai
hadiah bagi raja. Kitab tersebut selanjutnya dipelajari oleh
sang raja dan digunakan untuk menyebarkan Agama Hindu di
Indonesia.

Kekuatan gambar 2.6 J.C. Van Leur

Berdasarkan pada pegamatanya terhadap sisa-sisa
peninggalan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha
di Indonesia, terutama pada prasasti-prasasti yang menggu-
nakan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa, maka sangat jelas
itu adalah pengaruh Brahmana.

Kelemahan

Bagaimana mungkin para Brahmana bisa sampai ke gambar 2.7 Teori Brahmana
Indonesia yang terpisahkan dengan India oleh lautan. Dalam
tradisi agama Hindu terdapat pantangan bagi Kaum Brahmana
untuk menyeberangi lautan, sehingga hal ini menjadi kelema-
han hipotesis ini.

2 Teori Kesatria oleh F.D.K Bosch

Berperan penting dalam proses penyebaran kebudayaan dan agama Hindu-Buddha ke
Indonesia adalah para petualang yang sebagaian besar berasal dari golongan Kesatria. Mereka
mengadakan ekspansi yang kemudian menaklukan pribumi, melakukan perkawinan dan
mendirikan kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara.

09 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

gambar 2.8 F.D.K Bosch gambar 2.9 Teori Ksatria

Kekuatan

Kekuatan Kesatria umunya dimiliki oleh para kesatria (Keluarga kerajaan) hal ini para
kesatria memiliki jiwa semangat berpetualang.

Kelemahan

Kelemahan golongan kesatria tidak menguasai Bahasa Sanskerta dan Huruf Pallawa
yang terdapat pada Kitab Weda, tidak terdapat bukti peninggalan berupa prasasti yang berada
di India maupun Indonesia yang membuktikan bahwa Indonesia pernah menjadi daerah taklu-
kan Kerajaan India.

3 Teori Waisya oleh NJ. Krom

Teori Waisya menurut N.J.Krom menyatakan bahwa ada gambar 2.10 NJ Krom
dua kemungkinan agama Hindu disebarkan oleh golongan Waisya.

Para pedagang India melakukan perdagangan dan akhirnya
sampai di Indonesia untuk berdagang. Melalui interaksi
perdagangan itu, agama Hindu disebarkan pada masyarakat
Indonesia.
Paara pedagang dari India yang singgah di Indonesia selanjutn-
ya mendirikan permukiman sambil menunggu angin musim
yabng baik untuk membawa mereka kembali ke India. Mereka
pun berinteraksi dengan penduduk sekitar dan menyebarkan
agaama dan kebudayaan Hindu-Buddha kepada penduduk
lokal Indonesia.

Kekuatan

Banyaknya sumber daya alam di Indonesia membuat para Waisya tertarik untuk
bertransaksi jual beli di Indonesia. Pada saat itu kebanyakan pedagang yang datang berasal dari

BAB 2 - Perkembangan dan Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia 10

India yang merupakan pusat agama Hindu, sehingga ketika mereka berdagang juga menyebar-
kan ajaran agama Hindu-Buddha.

Kelemahan

Para pedagang yang termasuk dalam Kasta Waisya tidak menguasai Bahasa Sanskerta
dan Huruf Pallawa yang umumnya hanya dikuasai oleh Kasta Brahmana.

4 Teori Sudra oleh Von Van Faber gambar 2.11 Teori Sudra

Dalam teori ini, penyebaran agama dan kebudayaan
Hindu-Buddha di Indonesia diawali oleh para kaum Sudra
atau budak yang bermigrasi ke wilayah Nusantara. Mereka
menetap dan menyebarkan ajaran agama mereka pada mas-
yarakat pribumi hingga terjadilah perkembangan yang
signifikan terhadap arah kepercayaan mereka yang awalnya
animisme dan dinamisme menjadi percaya pada ajaran
Hindu dan Buddha. Von Van Feber mengungkapkan
pendapat tentang teori ini ialah Golongan berkasta sudra
sering dianggap orang buangan. Oleh karena itu, mereka
meninggalkan daerahnya pergi ke daerah lain, bahkan ke
luar dari India hingga ada yang sampai di Indonesia agar
mendapat kedudukan lebih baik dan lebih dihargai.

Kekuatan

Kasta Sudra merupakan kalangan tersisih di negara India sehingga mereka mengingink-
an kehidupan yang lebih baik dengan cara pergi ke daerah lain seperti di Indonesia.

Kelemahan

Golongan Sudra merupakan kaum yang tidak memiliki ilmu pengetahuan/pendidikan.
Kaum Sudra juga tidak menguasai Bahasa Sanskerta sebagai Bahasa Kitab Suci Weda dan tidak
sembarang orang dapat menyentuh, membaca dan mengetahui isinya.

5 Teori Arus Balik oleh F.D.K Bosch gambar 2.12 Teori Arus Balik

Teori ini menjelaskan bahwa penyebaran Hindu
Buddha di Indonesia terjadi karena peran aktif masyarakat
Indonesia di masa silam. Menurut Bosch ialah pengenalan
Hindu-Buddha pertama kali memang dibawa oleh orang-orang
India kepada orang Indonesia yang kemudian orang-orang
tersebut tertarik untuk mempelajari kedua agama ini secara
langsung dari negeri asalnya India. Mereka berangkat dan

11 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

menimba ilmu di sana dan ketika kembali mereka kemudian mengajarkan apa yang diperolehn-
ya pada masyarakat. Bukti dari teori Arus Balik adalah adanya Prasasti Nalanda.

Sebaiknya anda tahu

Bukti dari teori arus balik adalah prasasti
nalanda

gambar 2.13 Prasasti Nalanda Prasasti nalanda menyebutkan bahwa Balaputradewa
(raja Sriwijaya) telah meminta kepada raja di India
untuk membangun wihara di Nalanda sebagai tempat
untuk menimba ilmu para tokoh dari Sriwijaya.
Permintaan raja Sriwijaya itu ternyata dikabulkan.
Dengan demikian, setelah para tokoh atau pelajar itu
menuntut ilmu di sana, mereka kembali ke Indonesia.
Merekalah yang selanjutnya menyebarkan pengaruh
Hindu-Buddha di Indonesia.

Kekuatan

Ditemukannya Prasasti Nalanda yang menyebutkan bahwa Raja Balaputradewa dari
Sriwijaya meminta kepada raja di India untuk membangun wihara di Nalanda sebagai tempat
untuk menimba ilmu para tokoh dari Sriwijaya. Permintaan tersebut dikabulkan oleh penguasa
di India. Banyak tokoh dari Indonesia menuntut ilmu di India. Setelah kembali dari India,
mereka menyebarkan agama Hindu-Buddha di Indonesia.

Kelemahan

Kemungkinan orang Indonesia belajar agama Hindu-Buddha ke India sulit, karena pada
masa itu orang Indonesia masih bersifat pasif.

E. Akulturasi Kebudayaan Hindu-Buddha

Masuknya budaya Hindu-Buddha di Indonesia menyebabkan munculnya Akulturasi.
Akulturasi merupakan perpaduan dua budaya dimana kedua unsur kebudayaan bertemu dapat
hidup berdampingan dan saling mengisi serta tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua
kebudayaan tersebut. Kebudayaan Hindu-Buddha yang masuk di Indonesia tidak diterima
begitu saja melainkan melalui proses pengolahan dan penyesuaian dengan kondisi kehidupan
masyarakat Indonesia tanpa menghilangkan unsur-unsur asli. Hal ini disebabkan karena:

BAB 2 - Perkembangan dan Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia 12

1 Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi

sehingga masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah perbendaharaan
kebudayaan Indonesia.

2 Kecakapan istimewa yang dimiliki bangsa Indonesia atau lokal genius merupakan

kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan
mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

3 Pengaruh kebudayaan Hindu hanya bersifat melengkapi kebudayaan yang telah

ada di Indonesia.
Pengaruh Hindu-Buddha terhadap kehidupan masyarakat Indonesia dalam bidang
kebudayaan, berbarengan dengan datangnya pengaruh dalam bidang agama itu sendiri.
Pengaruh tersebut dapat berwujud fisik dan nonfisik. Hasil kebudayaan pada masa Hindu-Bud-
dha di Indonesia yang berwujud fisik diantarnya arca, candi, prasasti, patung, barang-barang
logam, tugu yupa, stupa dsbnya. Adapun peninggalan kebudayaan yang bersifat nonfisik dian-
taranya seni ukir dan seni rupa, senin bangunan, seni pertunjukan, seni sastra dan aksara, kasu-
satraan, sistem pemerintahan, bidang pendidikan, kepercayaan, bidang arsitektur, sistem kalen-
der. Perpaduan budaya Hindu-Buddha melahirkan akulturasi yang masih terpelihara sampai
sekarang. Akulturasi tersebut merupakan hasil dari proses pengolahan kebudayaan asing sesuai
dengan kebudayaan Indonesia. Hasil akulturasi tersebut tampak pada.

1 Hasil Akulturasi di Bidang Non Fisik

Hasil Akulturasi kebudayaan pada masa Hindu-Buddha di Indonesia yang berwujud
Non Fisik sebagai berikut:

a Bidang Kepercayaan

Semula masyarakat Indonesia menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, namun
karena masuknya ajaran Hindu dan Buddha yang dibawa oleh para pedagang dan pendeta,
kepercayaan animisme dan dinamisme yang dianut oleh masyarakat Nusantara tempo dulu
kemudian melebur dan berakulturasi dengan ajaran Agama Hindu-Buddha. Kebudayaan baru
dalam hal beragama yang berasal dari akulturasi ini contohnya adalah upacara pemujaan, tata
krama tertentu, dan bentuk tempat peribadatan.

b Bidang Politik dan Pemerintahan

Sistem politik dan pemerintahan yang diperkenalkan oleh orang-orang India dan
membuat masyarakat yang awalnya hidup dalam kelompok-kelompok kecil menjadi bersatu
dan membentuk sebuah kekuasaan yang lebih besar dengan pemimpin tunggal yang berupa
seorang raja. Karena pengaruh inilah, beberapa kerajaan Hindu-Buddha seperti Kerajaan
Matam Kuno, Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Tarumanegara, dan Kutai, bisa muncul di
Nusantara.

13 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

c Bidang Arsitektur

Tradisi megalitikum peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang berupa punden
berundak juga diyakini telah berakulturasi dengan ilmu arsitektur yang berasal dari India
karena terdapat perpaduan dalam gaya arsitektur pembangunan candi di Nusantara. Contohnya
bisa dilihat dari arsitektur Candi Borobudur yang berbentuk limas dan berundak-undak.

gambar 2.14 Arsitektur Bangunan pada dinding Candi Borobudur

d Bidang Bahasa dan Aksara

Huruf Pallawa dan Bahasa Sanskerta yang ada dalam sejumlah prasasti
kerajaan-kerajaan Nusantara menunjukkan bahwa pengaruh budaya India di Indonesia juga
bersinggungan dengan aspek bahasa dan aksara. Selanjutnya penggunaan Aksara Pallawa tidak
populer lagi, namun penggunaan Bahasa Sanskerta justru berlanjut dengan sangat pesat. Ini
dibuktikan dengan adanya beberapa kata atau frase Bahasa Indonesia yang sebetulnya berasal
dari bahasa itu, misalnya Pancasila, Kartika Eka Paksi, Parasamya Purnakarya Nugraha, dan
lain sebagainya.

e Bidang Kesusastraan

Dalam bidang ini, pengaruhi Hindu-Buddha di Indonesia gambar 2.15 Kitab Lubdaka
tampak dalam karya sastra yang dikenal di Indonesia seperti
Kitab Ramayana dan Mahabarata yang telah memperkaya
khasanah epos dalam pewayangan Indonesia. Adanya kedua
kitab itu juga memacu beberapa pujangga Nusantara untuk
menghasilkan karyanya sendiri, seperti Empu Dharmaja dari
kerajaan Kediri yang menyusun Kitab Smaradhahana, Empu
Sedah dan Empu Panuluh dari kerajaan Kediri yang menelurkan
karya Kitab Bharatayuda, Empu Tanakung yang membuat Kitab
Lubdaka, Empu Kanwa yang memiliki karya Kitab Arjunawiwa-

BAB 2 - Perkembangan dan Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia 14

Arjunawiwaha, Empu Triguna dengan Kitab Kresnayana-nya, Empu Panuluh yang menulis
Kitab Gatotkacasraya, Empu Tantular yang membuat Kitab Kitab Sotasoma, dan Empu Prapan-
ca yang masyhur dengan magnum opusnya yang berjudul Kitab Negarakertagama.

f Bidang Pendidikan

Masuknya Hindu-Buddha juga mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia dalam
bidang pendidikan. Bukti pengaruh dalam pendidikan di Indonesia diantaranya:

Digunakannya Bahasa Sanskerta dan Huruf Pallawa dalam kehidupan masyarakat kalan-
gan pendeta dan bangsawan kerajaan di Indonesia.
Didirikan sekolah khusus untuk mempelajari Agama Hindu-Buddha. Sistem pendidikan
kemudian diadaptasi dan dikembangkan diberbagai kerajaan di Indonesia.
Karya sastra merupakan interpretasi kisah-kisah dalam budaya Hindu-Buddha.
Pengaruh Hindu-Buddha berkembangnya ajaran budi pekerti berlandaskan ajaran Agama
Hindu-Buddha.
Contoh budi pekerti pada relief candi Borobudur yaitu relief Jataka dan Avadana.

gambar 2.16 Sistem Pendidikan Hindu-Buddha
Pendidikan Budi Pekerti

g Sistem Kalender

Sebelum pengaruh Hindu-Buddha datang, masyarakat gambar 2.17 Sistem Kalender
Indonesia sudah mengenal astronomi (ilmu perbintangan). Ilmu Hindu-Buddha
tersebut sangat diperlukaan untuk menentukan arah yang sangat
penting bagi kegiataan pelayaran dan untuk menentukan waktu
yang tepat untuk kegiatan pertanian. Setelah pengaruh
Hindu-Buddha masuk, pengetahuan masyarakat Nusantara
bertambah dengan mengenal perhitungan kalender yang disebut
dengan Kalender Saka yang memiliki selisih 78 tahun dengan
Kalender Masehi (tahun Maseh = tahun Saka + 78 tahun). Di
samping itu juga ditemukan candrasengkala, yaitu angka huruf
berupa susunan kalimat atau gambaran kata. Setiap kata dalam
kalimat tersebut dapat diartikan dengan angka. Apabila dibaca
dari belakang maka akan terbaca angka tahun Saka.

15 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

h Seni Bangunan

Seni bangunan tampak pada bangunan candi sebagai wujud percampuran antara seni
asli bangsa Indonesia dengan seni Hindu-Buddha. Candi merupakan hasil bangunan zaman
megalitikum yaitu bangunan punden berundak-undak yang mendapat pengaruh Hindu-Buddha.
Contohnya Candi Borobudur. Pada candi disertai pula berbagai macam benda yang ikut
dikubur yang disebut bekal kubur sehingga candi juga berfungsi sebagai makam bukan sema-
ta-mata sebagai rumah dewa. Candi Buddha, hanya jadi tempat pemujaan dewa tidak terdapat
peti pripih. Namun kadangkala di dalam candi bercorak Buddha di simpan abu jenazah ditanam
disekitar candi dalam bangunan stupa candi. Sedangkan candi Hindu contohnya Candi Pramba-
nan diperuntukan sebagai makam dari orang-orang yang terkemuka pada saat itu atau makam
raja yang wafat, Namun hal yang perlu diingat bahwa sebenarnya yang dikuburkan bukanlah
mayat raja atau abu jenazah, melainkan benda-benda semacam potongan-potongan berbagai
jenis logam dan batu akik yang disertai sesaji. Benda-benda tersebut dinamakan pripih.

i Seni Rupa

Seni rupa tampak berupa patung dan relief. Patung dapat kita lihat pada penemuan
patung Buddha berlanggam Gandara di Bangun Kutai. Serta patung Buddha berlanggam Amar-
awati di Sikending (Sulawesi Selatan). Selain patung terdapat pula relief-relief pada dinding
candi seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan ditemukan relief cerita sang Buddha serta
suasana lama Indonesia dan relief Ramayanan dan Krishnayana.

j Seni Ukir

Seni ukir adalah gambar hiasan dengan bagian cekung dan cembung yang disusun men-
jadi satu gambar yang sangat indah. Hasil dari seni pahat biasanya ditemukan di dinding-dind-
ing bangunan candi identik dengan mengambar pola hiasan ialah makhluk makhluk ajaib dan
tumbuh-tumbuhan, sesuai dengan suasana Gunung Mahameru. Diantarnya makhluk-makhluk
ajaib itu yang selalu terpancang pada ambang atas pintu atau relung adalah Kepala Kala, yang
juga disebut Banaspati (roh jahat). Pada candi-candi di Jawa Tengah Banaspati ini dirangkai
dengan makara. Makara menghiasi yang mulutnya ternganga, sendangkan bibir atasnya
melingkar ke atas seperti belalai gajah yang diangkat. Namun makhluk-makhluk ajaib telah
disamar menjadi hiasan daun-daunan. Daun-daunan menjadi pola utama dalam ukiran dan
biasanya dirangkai oleh sulur-sulur melingkar meliku menjadi sulur gelung. Disamping
daun-daunan dan sulur-sulur banyak pula di pakai bunga teratai sebagai pola pada berbagai
candi, terutama di Jawa Tengah.

k Seni Pertunjukan

Berdasarkan relief-relief yang terdapat pada candi-candi, terutama Candi Borobudur
dan Candi Prambanan memperlihatkan adanya bentuk tari-tarian yang berkembang sampai

BAB 2 - Perkembangan dan Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia 16

sekarang. Bentuk-bentuk tarian yang digambarkan dalam relief memperlihatkan jenis tarian
seperti tarian perang, tuwung, bungkuk, ganding, matapukan (tari topeng). Tari-tarian tersebut
tampaknya di iringi dengan gamelan yang terlihat dari relief. Adapun seni pertunjukan lainnya
ialah wayang kulit dan wayang golek dari hal ini terlihat adanya perpaduan budaya India dan
Indonesia, seperti isi cerita yang diambil dari Kitab Mahabarata dan Ramayana. Meskipun
demikian, tampaknya cerita yang dikembangkan dalam seni pertunjukan wayang tidak
seluruhnya merupakan budaya atau cerita dari India. Unsur-unsur budaya bangsa Indonesia asli
memberikan ciri tersendiri dalam Seni Wayang. Hal ini terlihat dari tokoh-tokoh Punakawan.

gambar 2.18 Relief Pertunjukan Tarian
Jawa Kuno di Candi Borobudur

gambar 2.19 Relief Seni Pertunjukan
Ramayana pada Candi Prambanan

17 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

2 Hasil Akulturasi di Bidang Fisik

Hasil Akulturasi kebudayaan pada masa Hindu-Buddha di Indonesia yang berwujud
Fisik sebagai berikut:

a Prasasti

Semula masyarakat Indonesia menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, namun
karena masuknya ajaran Hindu dan Buddha yang dibawa oleh para pedagang dan pendeta,
kepercayaan animisme dan dinamisme yang dianut oleh masyarakat Nusantara tempo dulu
kemudian melebur dan berakulturasi dengan ajaran Agama Hindu-Buddha. Kebudayaan baru
dalam hal beragama yang berasal dari akulturasi ini contohnya adalah upacara pemujaan, tata
krama tertentu, dan bentuk tempat peribadatan.

b Arca dan Patung

Pengertian arca dan patung sebenarnya berbeda. Patung adalah tiruan bentuk orang atau
hewan yang dibuat dengan bahan batu, kayu dan lain-lain. Adapun arca adalah patung yang
dibuat dari batu. Peninggalan Hindu-Buddha umumnya terbuat dari batu yang berkaitan dengan
benda-benda yang dibuat mirip orang atau binatang sehingga lebih baik disebut arca. Biasanya
arca disimpan dalam candi sebagai penghormatan terhadap dewa dan raja yang disembah.
Adapun perbedaan keduanya arca dan patung pada masa Hindu-Buddha dapat dibedakan
berdasarkan corak Hindu-corak Buddha:

a Arca Bercorak Hindu b Arca Bercorak Buddha

Arca Hindu wujudnya dewa-dewi, raja Arca Buddha wujudnya Sang Buddha

dan makhluk mistik seperti makara dalam berbagai posisi, meskipun ada

contohnya: Arca Dwarapala, Arca juga sejumlah Arca Bodhisattva. Arca

Durga dan Arca Trimurti. Sang Buddha tampil dalam berbagai

posisi dengan sikap tangan (mudra)

menghadap arah mata angina tertentu.

gambar 2.20 Arca Durga Mahisasuramardini gambar 2.21 Arca Dhyani Buddha

BAB 2 - Perkembangan dan Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia 18

c Relief

Relief merupakan seni ukir yang dipahatkan pada dinding candi. Relief di Indonesia,
diantaranya melukiskan cerita Mahabarata, Ramayana dan riwayat kehidupan Sang Buddha.
Pada Candi Borobudur memiliki relief berikut ini:

1 Cerita Karmawibhangga pada dinding terbawah (Kamadhatu) dari Candi Borobudur.
2 Cerita lalitawistara pada dinding tengah (Rupadhatu) dari Candi Borobudur.
3 Cerita Jatakamala-Awadana terdapat pada dinding Candi Borobudur.
4 Cerita Gandawyuha-Bhadracari terdapat pada dinding lorong kedua sampai keempat

Candi Borobudur.
5 Riwayat hidup Sang Buddha pada dinding Candi Borobudur.

gambar 2.22 Relief Tingkatan gambar 2.23 Relief Mata Pencaharian
Kasta pada Candi Borobudur di Candi Borobudur

Sementara itu, pada Candi Prambanan terdapat relief cerita Ramayana pada dinding
Candi Siwa dan diteruskan pada pagar langkan Candi Brahmana. Pada Candi Prambanan juga
terdapat cerita Kresnayana pada dinding Candi Wisnu.

gambar 2.24 Relief Sita Diculik pada
Candi Prambanan

19 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

d Candi

Akulturasi dalam bidang arsitektur atau seni bangunan dapat kita lihat dengan jelas pada
candi-candi yang ada di Indonesia, Kata “candi” berasal dari kata “candikagrha”, nama tempat
tinggal Candika, yaitu dewi kematian yang sekaligus merupakan permaisuri Dewa Siwa. Oleh
karena itu, candi selalu dihubungkan dengan kematian.

Bentuk candi-candi di Indonesia pada hakikatnya adalah punden berundak yang mer-
upakan unsur asli Indonesia. Adapun bagian candi dan stupa merupakan pengaruh dari India.
Hal ini menunjukkan bahwa bangunan candi merupakan salah satu wujud akulturasi budaya
asli Indonesia dan budaya India. Antara candi Hindu dan candi Buddha sebenarnya mempunyai
perbedaan pokok terutama pada fungsi/tujuan dibangunanya candi.

1 Candi Bercorak Hindu

gambar 2.25 Candi Arjuna

Candi yang dibangun pada masa pengaruh Hindu kebanyakan diperuntukan sebagai
makam dari orang-orang yang terkemuka pada saat itu atau makam raja yang wafat, Namun ,hal
yang perlu diingat bahwa sebenarnya yang dikuburkan bukanlah mayat raja atau abu jenazah,
melainkan benda-benda semacam potongan-potongan berbagai jenis logam dan batu akik yang
disertai sesaji. Benda-benda tersebut dinamakan pripih. Berdasarkan bagan struktur candi
bercorak Hindu memiliki tiga tingkatan dalam bangunan candi, diantaranya sebagai berikut:

a Bhurloka, yaitu kaki candi yang mewakili dunia manusia.
b Bhurvarloka, yaitu badan candi yang mewakili dunia untuk yang disucikan.
c Svarloka, yaitu atap candi yang mewakili dunia dewa-dewa.

BAB 2 - Perkembangan dan Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia 20

2 Candi Bercorak Buddha
Dalam agama Buddha candi berfungsi sebagai pemujaan dewa tidak terdapat peti

pripih. Namun kadangkala di dalam candi bercorak Buddha di simpan abu jenazah ditanam
disekitar candi dalam bangunan stupa candi. Berdasarkan bagan struktur candi bercorak
Buddha memiliki tiga tingkatan dalam bangunan candi, diantaranya sebagai berikut:

a Kamadhatu, manusia dikuasi oleh nafsu.
b Rupadhatu, manusia telah terbebas dari nafsu.
c Arupadhatu,manusia telah sempurna dan memasuki alam tiada.

gambar 2.26 Candi Mendut

Rangkuman Materi BAB II

Letak georafis wilayah Indonesia yang sangat strategis merupakan salah satu faktor
penting yang menyebabkan terjadinya interaksi bangsa Indonesia dengan bangsa
asing. Salah satu interaksi yang terjadi yaitu datangnya bangsa India ke Indonesia.
Dampak interaksi dengan bangsa India adalah masuknya pengaruh kebudayaan dan
agama Hindu-Buddha di Indonesia. Terdapat berbagai pendapat tentang masuknya
agama Hindu-Buddha di Indonesia yaitu Teori Brahmana, Waisya, Ksatria, Sudra dan
Arus Balik.
Masuknya agama Hindu-Buddha di Indonesia menyebabkan banyak rakyat Indonesia
yang menganut agama Hindu-Buddha.

21 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

Disamping masuknya agama Hindu-Buddha ke Indonesia, masuk pula bentuk-bentuk
kebudayaanya. Bentuk-bentuk kebudayaan tersebut terbagi menjadi dua kategori non
fisik dan fisik. Contoh dari Hasil kebudayaan pada masa Hindu-Buddha di Indonesia
yang berwujud fisik diantarnya arca, candi, prasasti, patung, barang-barang logam,
tugu yupa, stupa dsbnya. Adapun peninggalan kebudayaan yang bersifat nonfisik
diantaranya seni ukir dan seni rupa, senin bangunan, seni pertunjukan, seni sastra dan
aksara, kasusatraan, sistem pemerintahan, bidang pendidikan, kepercayaan, bidang
arsitektur, sistem kalender. Perpaduan budaya Hindu-Buddha melahirkan akulturasi
yang masih terpelihara sampai sekarang.

Analisis

Kamu telah menyelesaikan Kegiatan Belajar 1 dengan pembahasan Perkembangan
dan Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia. Selanjutnya,kerjakan aktivitas kelompok
di bawah ini sesuai perintahnya!
1 Buatlah kelompok yang terdiri 4 sampai 5 orang!

2 Analisislah manakah yang terlebih dahulu masuk ke Indonesia dalam Perkembangan
agama dan kebudayaan Hindu-Buddha? Apakah Hindu atau Buddha! Deskripsikan
menurut pendapat mu manakah yang terlebih dahulu masuk dan kemudian sertakan
contoh bukti peninggalan yang menyertai awal masuknya agama dan kebudayaannya?

3 Kerjakan di kertas folio dan kumpulkan di meja guru!

Kegiatan Mandiri

Kamu telah mengkerjakan dan menyelesaikan aktivitas kelompok. Sekarang, kerja-
kan aktivitas individu dibawah ini sesuai perintahnya!

1 Kerjakanlah teka-teki silang materi Perkembangan dan Pengaruh hindu-buddha di
Indonesia, melalui aplikasi Educandy! Link Educandy dapat diakses di Table of Content

2 Peserta didik terlebih dahulu memahami panduan pengkerjaan soal teka-teki silang
diantaranya:
Peserta didik telah mendapatkan Link educandy.
Kemudian peserta didik mengklik link yang tertera di bagian Kegiatan Mandiri
sebelum mengkerjakan soal teka-teki silang di aplikasi Educandy.
Waktu mengkerjakan 15 menit, setelah selesai peserta didik mendapatkan nilai,
kemudian nilai tersebut di Screenshots laporkan hasil nilaimu kepada guru mapel.

BAB 2 - Perkembangan dan Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia 22

? Uji Kompetensi BAB II

A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a,b,c,d atau e di depan jawaban yang benar !

1. Berikut ini merupakan aspek kebudayaan yang mempengaruhi kebudayaan Hindu-Buddha
di Kepulauan Nusantara (khususnya di pulau jawa) adalah….
a Religi, politik dan bahasa sansekerta
b No religi, politik dan budaya
c Religi, bahasa sansekerta dan sistem pemerintahan
d Kesusastraan, budaya dan sistem kepercayaan
e Religi, politik dan seni bangunan

2. Pernyataan di bawah ini yang terkait dengan pendapat N.J.Krom adalah….
a Kaum sudra merupakan golongan pembawa agama Hindu
b Agama Hindu-Buddha di Indonesia di bawa oleh Ksatria pengelana dari India
c Perdagang merupakan saluran penting dalam penyebaran pengaruh Hindu-Buddha di
Indonesia
d Kekacauan politik yang terjadi di India mendorong Kaum Brahmana sampai Indonesia
e Pengaruh Hindu-Buddha menyebar di Indonesia melalui kegiatan kolonisasi

3. Sebutkan bukti tertua masuknya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia adalah….
a Ditemukannya Arca Kota Bangun yang berlanggam Gandhara.
b Berdasarkan keterangan dari Prasasti berupa Yupa di Muarakaman.
c Penemuan Arca Buddha dari perunggu berlanggam Amarawati di Sempaga.
d Kronik Cina yang ditulis oleh Fa-Hsien.
e Penemuan Prasasti Yupa ditemukan di daerah Kalimantan Timur

4. Berikut ini termasuk dalam kategori Akulturasi Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia
adalah….
a Seni bangunan, seni pertunjukan, sistem pemerintahan, sistem kepercayaan dan seni
rupa dan ukir, seni sastra dan aksara, sistem kalender
b Seni kaligrafi, seni pertunjukan, sitem pemerintahan, sistem kepercayaan dan seni rupa
dan ukir, seni sastra dan aksara, arsitektur
c Arsitektur, seni bangunan, seni rupa tiga dimensi, sistem kepercayaan dan seni rupa
dan ukir, seni sastra dan aksara, religi
d Seni pertunjukan, religi, sistem pemerintahan, arsitektur, seni bangunan, seni kaligrafi
dan seni sastra dan aksara
e Seni rupa dua dimensi, seni kaligrafi, seni bangunan, arsitektur dan seni pertunjukan,
seni sastra dan aksara, seni ukir

23 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

Benda peninggalan yang bernama KALA ini termasuk
peninggalan dalam bidang ….

a Seni bangunan dan arsitektur
b Seni ukir dan seni rupa
c Seni sastra dan aksara
d Seni ukir dan seni sastra
e Seni rupa dan seni pertunjukan

6. Perhatikan pernyataan dibawah ini !

1. Merupakan bantahan dari teori Waisya dan Kesatria
2. Masyarakat Indonesia memiliki peran dalam penyebaran agama Hindu-Buddha
3. Pembentukan sangga sebagai tempat pendidikan agama Buddha
4. Dibuktikan dengan Prasasti Nalanda
5. Penyebaran agama Hindu-Buddha dilakukan oleh kaum terdidik

Pernyataan-pernyataan tersebut merupakan karakteristik dari teori ….

a Kesatria d Arus Balik
b Waisya e Brahmana
c Sudra

7. Terdapat beberapa teori mengenai proses kedatangan agama Hindu-Buddha di Indonesia.
Faktor yang menjadi penyebab munculnya berbagai teori tersebut adalah….

a Agama Hindu-Buddha masuk di Indonesia melalui jalur laut dan jalur datar
b Agama Hindu-Buddha masuk dan berkembang melalui jalur yang berada di Indonesia
c Setiap ahli memiliki bukti-bukti akurat dalam melandasi teori yang dicetuskannya
d Tidak ada bukti yang menjelaskan tentang proses masuknya Hindu-Buddha di

Indonesia
e Penelitian tentang proses masuknya Hindu-Buddha di Indonesia dilandasi tujuan

tertentu

8. Perhatikan alur perjalanan di daerah-daerah Jalur Sutra Selatan

India Utara X Myanmar

Thailand Y Indonesia

BAB 2 - Perkembangan dan Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia 24

Lengkapi kotak kosong X dan Y untuk menjawab daerah Jalur Sutra Selatan di atas
adalah….

a Cina dan Korea
b Yunani dan Italia
c Bangladesh dan Semananjung Malaya
d Indonesia dan Bangladesh
e Semananjung Malaya dan Yunani

9. Berikut ini yang bukan merupakan bentuk akulturasi budaya India dan Indonesia adalah….
a Relief pada candi yang digambarkan dengan suasana kehidupan asli keadaan alam
ataupun masyarakat Indonesia
b Ketrampilan memahat yang dimiliki bangsa Indonesia
c Bentuk candi yang Punden Berundak
d Adanya seni pertunjukan wayang dengan epos Ramayana dan Mahabarata
e Karya sastra Jawa Kuno

10. Perhatikan gambar berikut ini !
Gambar di samping merupakan salah satu bukti peninggalan
akulturasi budaya India dan Indonesia dalam bidang Seni
Patung, Peninggalan ini terdapat di Candi Prambanan,
sebutkan nama peninggalan cagar budaya tersebut adalah ….

a Arca Sidharta Gautama
b Arca Buddha dari perunggu di Sempaga (Sulawesi

Selatan)
c Arca Buddha di bukit Siguntang (Sumatra Selatan)
d Arca Prajnaparamita
e Arca Durga Mahisasuramardini

B. Kerjakan soal-soal berikut!

1. Jelaskan Teori Sudra yang dikemukakan oleh Von Van Feber?
2. Bagaimana cara masuknya pengaruh Hindu-Buddha di Kepulauan Indonesia?
3. Sebutkan dan jelaskan dua rute jalur internasional yang dilakukan oleh para pedagang ?
4. Menganalisis Teori Arus Balik yang dikemukakan oleh F.D.K Bosch dan sertakan bukti

peninggalan yang menyatakan para muda Indonesia ingin belajar agama Hindu-Buddha di
negara aslinya dan jelaskan ISI Prasasti tersebut ?
5. Sebutkan 2 contoh seni pertunjukaan di daerah mu yang masih dilestarikan hingga saat ini,
yang memiliki keterkaitan unsur kebudayaan Hindu-Buddha dengan budaya jawa ?

25 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

BAB 3

PENINGGALAN SEJARAH MASA
HINDU-BUDDHA DI BATANG

A. Awal Pengaruh Hindu-Buddha di Pulau Utara
Jawa Tengah

Menurut Sumber Cina yang menyatakan bahwa di Jawa berdiri Kerajaan She-po sekitar
abad ke-5 M dan Ho-ling pada tahun 640 M. Utusan dari Kerajaan Ho-ling tercatat pernah
mengunjungi Cina sekitar tahun 649, 666, 767, 768 M, dan terakhir tahun 813 M (Meulen,
1988). Menurut berita Cina, Ho-ling berada pada titik kordinat 6˚8’LS yang artinya berada di
daerah Pantai Utara Jawa (Poesponegoro & Notosusanto, 1984). Sebagian sejarawan menduga
Ho-ling merupakan pusat pemerintahan di Pantai Utara Jawa Tengah yang lokasinya antara
Pekalongan dan (Plawangan) Semarang (Munoz, 2009). Pendapat lain disampaikan oleh
Meuleun yang menduga lokasi Ho-ling terletak di sekitar wilayah Pegunungan Dieng, tempat
kesenangan raja memandang lautan di daerah Lang-pi ya yang diidentikkan dengan nama Kali
Lampir yang hulunya di lereng utara Gunung Prahu sedangkan muaranya di utara Kota Weleri
(Meulen, 1988). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ho-ling adalah kerajaan yang berdiri
sebelum Mataram Kuno yang tentu sudah berinteraksi dengan kaum pendatang (India). Oleh
karena itu, daerah seperti Tegal, Batang, Pekalongan, Semarang, Kendal sampai Rembang
adalah kawasan yang perlu dieksplorasi untuk mengetahui adanya kontak budaya para
pendatang yang membawa pengaruh Hindu-Buddha ke dalam masyarakat lokal.

Terjadinya awal pengaruh Hindu-Buddha di Jawa Tengah termasuk hal yang masih
belum banyak diungkap. Sementara itu, data prasasti yang dapat dianggap cukup tua dengan
masa awal kemunculan Mataram kuno, yaitu sekitar awal abad ke-8 M lebih banyak ditemukan
di bagian utara Jawa Tengah. Beberapa di antaranya yang ditemukan adalah Prasasti Sojomerto
dan Prasasti Balekambang di Batang serta prasasti Tungtang di Semarang (Indradjaja et al.,
2014). Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Pantai Utara Jawa Tengah sebenarnya memainkan
peran penting dalam tahap kedatangan pengaruh Hindu-Buddha di Jawa Tengah. Letaknya
yang berhadapan dengan Laut Jawa di sebelah utaranya, merupakan tempat yang sangat
strategis bagi persinggahan jalur pelayaran-perdagangan yang sangat sibuk setiap tahunnya,
baik pada musim Angin Barat yang membawa para pelaut-pedagang menuju ke Kepulauan
Indonesia Timur maupun pada musim Angin Timur yang membawa mereka kembali menuju
Sumatera dan Semenjung Melayu.

Salah satu wilayah di kawasan pantai utara Jawa Tengah yang cukup strategis dari sudut
pandang geografis adalah Kabupaten Batang. Kawasan ini terletak pada 6º 51’ 46” sampai 7º
11’ 47”Lintang Selatan dan antara 109º 40’ 19” sampai 110º 03’ 06” Bujur Timur dengan luas
daerah 78.864,16 Ha. Batas-batas wilayahnya adalah; sebelah utara Laut Jawa, sebelah timur
Kabupaten Kendal, sebelah selatan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara,
sedangkan sebelah barat Kota dan Kabupaten Pekalongan (www.batangkab.go.id). Wilayah
pantai utara Kabupaten Batang merupakan sebuah teluk besar yang sangat landai dan dialiri
oleh tiga buah sungai besar yang mengalir dan bermuara di Laut Jawa, yaitu Sungai Kuto di

27 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

gambar 3.1 Peta Kabupaten Batang

sebelah timur dan Sungai Sambong di sebelah barat, sedangkan di bagian tengahnya
mengalir Sungai Gede. Ketiga sungai tersebut (khususnya Sungai Kuto), berhulu tepat di
Gunung Prahu sebelah utara bagian dari dataran tinggi Dieng yang sampai saat ini masih diper-
caya sebagai tempat awal kemunculan monumen Hindu-Buddha tertua di Jawa Tengah (abad
VI-VII M). Kondisi wilayah yang merupakan kombinasi antara daerah pantai, dataran rendah
dan pegunungan ini menjadikan Kabupaten Batang memiliki potensi yang amat strategis untuk
menguak jejak awal proses Indianisasi di pantai utara Jawa Tengah.

Penelitian arkeologi di kabupaten Batang pernah beberapa kali di lakukan seperti misal-
nya; survey oleh Pus. P3N Jakarta pada tahun 1975, yang kemudian ditindaklanjuti oleh
ekskavasi Candi Silembu oleh LPPN Cabang I Prambanan. Pada tahun 1980, Pus. P3N Jakarta
juga melakukan penelitian epigrafi di wilayah Jawa Tengah yang obyek cakupannya mencapai
beberapa prasasti di Kabupaten Batang. Penelitian terakhir dilakukan oleh Balai Arkeologi
Yogyakarta pada tahun 1997 dengan tema “Budaya Marjinal pada Masa Klasik di Jawa Tengah
Bagian Barat Laut”. Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa di
Kabupaten Batang telah banyak ditemukan bukti arkeologis dari masa Klasik. Jumlah pene-
muan peninggalan benda cagar budaya di Kabupaten Batang kurang lebih ada sekitar 210
benda cagar budaya. Berbagai temuan tersebut antara lain adalah; beberapa sisa reruntuhan
Candi, Petirthaan, Kemuncuk, Kalamakara, Umpak dan Talang Air Lingga, Lingga semu, Yoni,
Arca Siwa, Arca Ganesha, Arca Agastya, Arca Nandiswara, Arca Nandi, Arca Wisnu (diapit
oleh Sri dan Laksmi), Arca Sri Wasudharra, Arca Hamsa, Arca Dwarapala, Arca Perwujudan,
Arca “Selaraja”, Batu dengan relief Gajah, Uppapitha (tempat sesaji), Prasasti Balekambang (±
600 M), Prasasti Sajamerta (aksara campuran Jawa Kuno dan Palawa, bahasa Melayu Kuno, ±
Awal abad VII M), Prasasti Banjaran (aksara Jawa Kuno), Prasasti Kepokoh (aksara Jawa
Kuno, bahasa Sansekerta, ± 700 M) Prasasti Indrakila dan Prasasti Wutit (Nitihaminito, dkk.,
1977; Satari, dkk., 1977; Suhadi dan Kartoatmodjo, 1986; Tjahjono, 1997).

BAB III - Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang 28

B. Arca Ganesha

Arca Ganesha yang terdapat di Desa Silurah

diperkirakan abad ke-8 atau 9 M. Shamudra,

(2017:40). Arca tersebut terbuat dari batu andesit dan

memiliki dimensi ukuran ± panjang 97 cm, lebar 50

dan tinggi 177 cm. Kondisi pada waktu Arca Ganesha

diambil dalam keadaan tertidur masih mulus dan

belalainya sedikit patah, kurang terawat, ditumbuhi

jamur dan lumut kerak. Tahun 1942 ditemukan oleh

Mbah Sarlan bapak dari Pak Kasim ditemukan di

hutan belantara dekat Desa Silurah (Wawancara juru

kunci bapak Kasim, tanggal 17 Mei 2021). gambar 3.2 Arca Ganesha
Arca Ganesha merupakan salah satu Arca Ant-

opomorsis yang mengambarkan manusia setengah binatang. Ciri khususnya dari Arca Ganesha

mengambarkan sebagai manusia berkepala (setengah gajah) yang sedang duduk dan perut

buncit. Ciri lain dari Arca Ganesha memiliki rambut yang disanggul ke atas menyerupai mah-

kota. Mahkotanya berbentuk bulan sabit dan diatas bulan sabit ada tengkoraknya yang disebut

Ardhacandrakapala, sebagai petanda bahwa ada anak Dewa Siwa. Trinetra dimiliki oleh Siwa

dan Ganesha, telingga dan belalainya selalu menuju ke kiri menghisap madu yang ada di

mangkuk pada tangan sebelah kirinya melambangkan ganesha ialah seorang anak. Mangkuk

tersebut digambarkan sebagai batok kelapa yang berbentuk batok kepala yang terbelah. Simbol

yang menggambarkan ganesha sedang menyerap otak (Kepala). Ganesha disebut dewa ilmu

pengetahuan karena ganesha digambarkan sedang menyerap otak, dikarenakan otak sebagai

sumber akal manusia yang merupakan sumber ilmu pengetahuan. Akan tetapi Arca Ganesha

yang terdapat di Silurah belalainya sedikit patah dan tidak terlihat lagi jika menghisap madu

yang berada dimangkuk pada tangan kirinya. Arca Ganesha memiliki 4 tangan atau yang dise-

but juga catur biuja, pada masing-masing terdapat atribut berupa: aksamala/tasbih (tangan

kanan belakang), kapak (tangan kiri belakang), mangkuk (tangan kiri depan), dan gading atau

taring yang diproyeksikan berada pada (tangan kanan depan) (keadaan rusak). Digambarkan

dalam posisi duduk bersila di atas lapik berbentuk persegi dengan hiasan bunga teratai dan

bunga Padma. Adapun atribut lain yang dipakai oleh Arca Ganesha diantaranya memiliki tali

kasta atau upawita ular, selain itu juga dilengkapi dengan kalung, kelat bahu, gelang tangan dan

gelang kaki.

Kondisi Arca Ganesha sekarang bagian ukiran dari relief sedikit telah memudar

termakan oleh waktu akan tetapi kondisi masih bisa terlihat jelas maksud dari ukiran relief

tersebut. Keadaan terawat dengan baik. Tempat cagar budaya Arca Ganesha sedang melakukan

tahap renovasi. Tidak hanya peninggalan Arca Ganesha saja dalam satu lokasi tersebut juga

terdapat benda peninggalan lainya yaitu Yoni dan Arca Sywa.

29 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

gambar 3.3 Arca Ganesha Tampak Depan, Samping, dan Belakang

Yoni gambar 3.4 Yoni dan Batuan
Candi (Situs Silurah)
Yoni adalah sebuah benda menyerupai alat kelamin
wanita yang merupakan lambang kesuburan. Pada masa gambar 3.5 Arca Sywa
perkembangan Hindu Yoni merupakan symbol dari Dewi
Parwati istri Dewa Sywa. Yoni terbuat dari batu andesit dan
memiliki dimensi ukuran ≠ panjang 74 cm, lebar 74 cm dan
tinggi 44 cm diameter lubang tengah 10 x 10 cm. Letak Yoni
berada disebelah kanan Arca Ganesha. Selain itu disebelah
Yoni terdapat bebatuan yang diduga sebagai bebatuan
runtuhan candi yang termasuk ke dalam Situs Silurah.

Arca Sywa

Sywa dalam mitologi hindu dikenal sebagai dewa
tertinggi dan banyak pemujannya. Dewa Sywa memiliki
nama lain diantarnya: Jagatpati, Nilakantha, Parameswara
Trinetra serta nama lainnya yang dikenal dengan 108 nama
Dewa Sywa. Dalam tradisi Indonesia kadangkala Sywa
disebut Batara Guru atau Hyang Guru. Arca Sywa pene-
muan benda peninggalan tersebut berada di Desa Silurah,
Arca Sywa terletak di sebelah kiri Arca Ganesha. Kondisi
arca yang memiliki dimensi ukuran ± panjang 73 cm, lebar
41 cm dan tinggi 110 cm ini tanpa kepala. Walaupun tanpa
kepala, arca ini terlihat cukup sempurna dari segi pahatann-
ya. Arca Sywa mengambarkan seorang yang sedang duduk
bersila dengan kedua tangannya diletakkan di atas pangkuan
dan mengenakan selendang di bahu dan melilit tubuhnya.

BAB III - Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang 30

C. Arca Watu Gajah

gambar 3.6 Arca Watu Gajah
Arca Watu Gajah di temukan di Dukuh Brokoh, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten
Batang. Lokasi berada di area persawahan dan berada di perkebunan milik warga sekitar.
Bentuk Arca Watu Gajah berupa arca gajah berelief di punggungnya terdapat saluran yang
mungkin merupakan tempat pasak dari bagian lain diatasnya. Bagian atas dari belalainya telah
hilang, bagian sisi kiri Watu Gajah berlainan dengan sisi kanannya, bagian sisi kiri terdiri dari
kepala, kaki depan dan kaki belakang gajah, di antara kedua kaki tersebut terdapat kaki
pengendara yang tidak memakai perhiasan. Makhluk yang berkaki dan berekor dengan seutas
tali melintang di badannya. Bagian sisi kanan terdiri dari kaki belakang gajah terpahat beruku-
ran lebih besar, kepala dan badan gajah terpahatkan dalam ukuran lebih kecil, terdapat sayap di
lengan kelat bahu dan memiliki gelang, serta memegang laksana atau sekuntum bunga, dan
kaki pengendara memakai gelang kaki Soejatmi Satari, dkk (1997:7). Arca Watu Gajah terbuat
dari batu andesit yang berukuran 78 x 64,5 x 30 cm. Benda cagar budaya tersebut terlihat masih
mempertahankan penampilan tradisi megalitik. Secara ikonografi arca gajah dan penunggangn-
ya mengingatkan pada mitologi Hindu yang dikisahkan sebagaimana cerita di Bhagawata
Purana, yaitu Gajendra raja gajah sebagai penjelmaan Dewa Visnu (Ufi Saraswati, 2019:7).
Kondisi Arca Watu Gajah sekarang bagian ukiran dari relief sedikit telah memudar
termakan oleh waktu akan tetapi kondisi masih bisa terlihat jelas maksud dari ukiran relief
tersebut. Keadaan terawat dengan baik. Tidak hanya peninggalan Arca Watu Gajah saja dalam
satu lokasi tersebut juga terdapat benda peninggalan lainya yaitu Yoni dan Arca Dwarapala.
Kondisi dari Yoni telah rusak/patah menjadi 2 bagian dan wujudnya tidak sempurna seperti
Yoni pada asilnya, keadaan bagian atas Yoni telah pecah kemudian kondisi dari Arca Dwarapala
kepala telah patah dan hilang, bagian kaki patah hanya terdapat badan. Bentuk dari Arca
Dwarapala terdapat selendang yang tersampir di badanya secara menyamping dengan keadaan
posisi sedang duduk berlutut, bagian tangan kiri dan gadanya telah hilang. Ukuran dari Arca
Dwarapala ialah tinggi tanpa kepala 82½ cm; lebar antara kedua lutut 40 cm; tebal 37 cm (Soe-
jatmi Satari, dkk.,1997:7).

31 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

gambar 3.7 Tampak Kiri Arca Watu Gajah gambar 3.8 Tampak Kanan Arca Watu Gajah

gambar 3.9 Tampak Depan Arca gambar 3.10 Tampak Belakang Arca
Watu Gajah Watu Gajah

gambar 3.11 Arca Dwarapala gambar 3.12 Yoni yang sudah
tanpa kepala sebagian rusak

BAB III - Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang 32

D. Punden Batur 1 dan Punden Batur 2

Punden Batur 1

gambar 3.13 Sketsa Punden gambar 3.14 Halaman Utama Punden
Berundak 1 Berundak 1

Punden Batur 1 ditemukan di Dukuh Batur, Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal,
Kabupaten Batang. Lokasi bangunan peninggalan tersebut berada di belakang rumah warga.
Punden Batur 1 memiliki fungsi sebagai sarana ritual. Bentuk komponen Punden Batur
mengingatkan kepada kompleks dasar bangunan candi, dengan pintu masuk terletak di sebelah
Barat. Teras yang paling tinggi tempat susunan boulder yang berbentuk bujur sangkar
diasumsikan sebagai ruang utama tempat untuk melakukan ritual keagamaan. Punden Batur 1
berorientasi Timur-Barat berbentuk persegi panjang. Punden Batur 1 berbentuk teras dan semua
komponen dari bangunan tersebut dari boulder (batu bulat) di mulai dari teras halaman paling
dasar/bawah sampai teras halaman paling atas, masing-masing dari teras tersebut dihubungkan
dengan tangga undakan. Antara halaman pertama yang terletak di bagian sisi Barat dan teras ke
dua dihubungkan dengan enam anak tangga. Halaman teras ke dua terdapat ruangan yang di
bentuk dari tatanan boulder membentuk persegi panjang. Halaman utama terdapat ruang yang
dibentuk dari susunan bolder dan lempeng batu hingga membentuk bujur sangkar. Kemudian
bagian sisi Utara dari halaman ke dua ke halaman tiga dihubungkan dengan tangga. Melihat
posisi tangga, terlihat berorientasi menghadap ke puncak Gunung Prahu (Ufi
Saraswati,2019:8).

Kondisi Punden Batur 1 susunan boulder dan lempeng batu keadaanya sekarang batu
telah berubah dari posisi awal bangunan Punden Batur 1 dan telah bergeser dikarena faktor
pengkikisan tanah hal tersebut bisa terjadi karena faktor iklim, cuaca, dan intensitas curah hujan
yang berada di lokasi tersebut. Dari waktu ke waktu dan kelembaban tanah yang menimbulkan
lumut kerak tertedapat di tanah dan batu. Bagian anak tangga terlihat bawah susunan boulder
sebagian telah hilang bahkan bagian anak tangga terakhir tidak terlihat telah sama rata tanah
dan ditumbuhi oleh kebun kopi dan pohon jati di sekelilingnya. Halaman teras paling atas

33 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

terlihat berantakan susuan boulder undakan anak tangga yang akan membentuk ruangan bujur
sangkar.

gambar 3.15 Halaman teras tampak gambar 3.16 Halaman teras kedua
samping memperlihatkan anak tangga berbentuk persegi panjang

gambar 3.17 Anak Tangga gambar 3.18 Susunan Boulder

Punden Batur 2 Punden Batur 2 ditemukan di Desa Silurah, Kecamatan
Wonotunggal, Kabupaten Batang. Lokasinya berada di
gambar 3.19 Sketsa Punden tengah hutan dekat dengan peninggalan Arca Ganesha.
Berundak 2 Punden Batur 2 difungsikan sebagai tempat ritual
keagamaan dan bangunan komplek punden batur 2
disusun dari boulder (batu bulat) andesit, berbentuk
teras empat persegi yang terdiri dari empat susunan
undakan. Hal ini juga diperkuat dengan adanya temuan
arkeologis di sisi Timur Laut Punden Batur 2 berupa
Yoni dan Arca tanpa kepala. Daerah lokasi disekitar
Punden Batur 2 juga terdapat tinggalan arkeologis
berupa batu candi, diantaranya ada yang berpelipat dan
bermotif antefix (Ufi Saraswati,2019:10).

BAB III - Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang 34

E. Prasasti Bendosari

Prasasti Bendosari Lokasinya terdapat di desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing, Kabu-
paten Batang. Terletak di tepi pantai pada sebelah mata air (Situs Balekambang), tidak jauh dari
muara sungai Kuto di Gringsing. Prasasti diperkirakan berasal dari awal abad ke-8 M dan berisi
pujian terhadap mata air. Saat ini Prasasti Bendosari disimpan di Museum Jawa Tengah Ronggo
Warsito. Menurut Nurrochim dalam penelitian yang berjudul “Melacak dan Melestarikan Tujuh
Prasasti di Kabupaten Batang Pembuka Peradaban Mataram Kuno” Ia mengemukakan bahwa:
Terjemahan isi dari prasasti Bendosari, menurut Arlo Griffiths: kehidupan (di bumi) kekal atas
pria dengan kekuatan dewa yang tak tertandingi, yang telah mempersembahkan air yang jernih,
dengan namanya (Griffiths, 2012: 474-477). Tulisan isi dari Prasasti Bendosari menggunakan
huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Terdiri dari 5 baris huruf yang digoreskan sangat tipis,
tetapi rapi, dengan ukuran prasasti Bendosari ialah Tinggi 85 cm, lebar 42 cm, dan tebal 34 cm.

gambar 3.20 Prasasti Bendosari gambar 3.21 Prasasti Bendosari saat ini

Link Video dapat diakses di Table of Content

35 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

F. Prasasti Kepokoh

Prasasti Kepokoh lokasinya terdapat di Dukuh Kepokoh, Kecamatan Blado, Kabupaten
Batang. Prasasti ini ditulis dengan Huruf Pasca Pallawa dan Bahasa Sanskerta, sisi belakang
terdapat goresan yang menggambar Bulan Sabit. Prasasti Kepokoh di perkirakan abad ke-7 M.
Prasasti ini ditemukan di tanah milik Bapak Sayid, tepatnya berada di dekat pohon besar di
tengah-tengah sawah yang tidak jauh dari prasasti Kepokoh sekarang berada. Prasasti Kepokoh
ditulis menggunakan Aksara Kuno dan Bahasa Sanskerta sebanyak enam baris dan terdapat
gambar Bulan Sabit yang dipahat pada bagian sisi belakang, bentuk prasasti ini balok agak
pipih, warna coklat alami dan menggunakan batu andesit dengan ukuran panjang 35 cm, lebar
19 cm, tinggi 63 cm, dan tebal 21 cm adanya pahatan Bulan Sabit tersebut menimbulkan
dugaan bahwa prasasti tersebut dibuat pada awal tanggal 1 sampai 15, hal ini dikarenakan
Bulan Sabit selalu muncul pada awal bulan tanggal 1 sampai 15, sehingga dugaan itu dapat
muncul. Namun, prasasti ini tidak menyebutkan angka tahun pembuatan.

Terdapat Ukiran
Bulan Sabit

gambar 3.22 Tampak Belakang, Depan, dan Samping Prasasti Kepokoh

Isi prasasti ini belum dapat diketahui secara pasti, namun ada dugaan yang mengung-
kapkan bahwa isi dari prasasti kepokoh ini adalah berisi mengenai hadiah pembebasan tanah
pada masa itu ada pula dugaan bahwa isi dari prasasti tersebut berhubungan dengan dana atau
pemberian hadiah. Dugaan lain yang muncul, diungkapkan oleh Suhadi dan M.M. Sukarto,
1986 dalam tulisan yang berjudul “Laporan penelitian Epigrafi Jawa Tengah” yang mengung-
kapkan bahwa dua prasasti penting berkenaan dengan Syailendra di Batang. Disebutkan bahwa
dari segi historis Prasasti Kepokoh sangat penting karena berkaitan dengan nama dinasti
Syailendra yang diduga berasal dari luar Jawa.
Isi Prasasti Kepokoh sebagai berikut :

1 hyad-dana
2 yaj-unmaga ( yajnanam-aga)
3 ta (...) ya dwa

BAB III - Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang 36

4 abhyawidadi ( widana )
5 wiwuata simanadjina ( siwindidina )
6 (...) nada (..) la

(Di kutip dari : Suhadi-Sukarto, 1986: 3) Dalam bahasa Indonesia berarti :Sedekah ( persemba-

han ) yang diberikan seorang Raja kepada suatu daerah atau Bangunan suci.

Kondisi Prasasti Kepokoh keadaannya sekarang telah terawat dengan baik, namum isi

dari Prasasti Kepokoh tulisan yang terdapat di batu telah sedikit budar dan tidak terlihat jelas

jika batu tersebut kondisinya kering harus dibasahi terlebih dahulu menggunakan air baru

tulisan tersebut akan terlihat jelas dan tidak terdapat kerusakan pada benda peninggalan

tersebut, kondisinya masih sama dengan awal penemuan

peninggalan. Tidak hanya Prasasti Kepokoh dalam satu

lokasi ada peninggalan lainnya di sebelah Prasasti Kepokoh

yaitu Yoni terbuat dari batu andesit berwarna abu-abu,

berbentuk kubus dan memiliki tiga bagian, yaitu: bagian

alas, bagian tengah dan bagian atas. Bagian alas berbentuk

kubus dengan keempat sisi ganda. Yoni ini memiliki cerat

yang masih utuh, bagian atas yoni terdapat lubang dan di

sekeliling bagian atas dipahat lis. Bagian tengah dipahat

dalam bentuk geometris (bujur sangkar) dengan penggam-

baran pelipit sebagai pembatas bagian. Secara umum yoni

dipahat dengan teknik sederhana. Kondisi Yoni keadaanya

sekarang telah terawat dengan baik, wujud dari benda gambar 3.23 Yoni
peninggalan tersebut masih utuh saat awal penemuanya.

gambar 3.24 Bentuk Cekat Yoni gambar 3.25 Tampak Atas Yoni

gambar 3.26 Tampak Belakang Yoni gambar 3.27 Yoni dan Prasasti Kepokoh

37 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

G. Prasasti Wutit

Menurut Nurrochim dalam penelitian yang

berjudul “Melacak Dan Melestarikan Tujuh Prasasti Di

Kabupaten Batang Pembuka Peradaban Mataram Kuno”

Ia mengemukakan bahwa:Sebagian isi Prasasti Wutit

masih bisa dibaca 10 persen. Sehingga hanya sedikit

informasi yang didapat mengenai isi Prasasti yaitu men-

genai penetapan Sima (tanah perdikan) terhadap desa

Wutit kemungkinan besar Desa Wutit berubah menjadi

Desa Buntit. Sebagian itu diperkirakan bahwa, dalam

prasasti tersebut juga disebut-sebut mengenai bangunan

suci agama Buddha (wihara). Namun bangunan suci

yang sisa-sisanya ditemukan adalah bangunan candi

yang bersifat Hinduistis. Kemungkinan temuan-temuan gambar 3.28 Prasasti Wutit
ini (sisa-sisa bangunan candi Hinduistis) sudah tidak

insitu. Dalam prasasti disebut pula nama-nama orang, diantaranya yang masih terbaca adalah Si

Sata (atau Si Sita) ayahnya Gana. Kata sandang si menunjukkan bahwa pemilik nama tersebut

merupakan rakyat kecil, bukan golongan bangsawan.

Dalam upacara penetapan Sima terdapat saksi-saksi. Para saksi ini nantinya diberi

pasek-pasek (semacam uang saksi) yang berupa uang atau barang. Diperkirakan bahwa Si Sata

(atau Si Sita) merupakan salah satu di antara saksi (Muhamad Hidayat, 1994 : 8). Menurut

M.M. Sukarto Karto Atmodjo Prasasti Wutit yang ditemukan di Dusun Tumbrep ditulis dengan

huruf dan bahasa Jawa Kuno. Berdasarkan bentuk/gaya hurufnya (paleografi), terutama huruf

ma diperkirakan bahwa prasasti tersebur ditulis pada abad IX-X M. Bentuk prasati ini seperti

lingga, nama yang benar adalah lingga semu dengan ukuran 48 cm, lebar 24 cm, dan tebal 20

cm.

H. Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto adalah sebuah tulisan sejarah peninggalan budaya klasik yang
ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, tepatnya prasasti ini
ditemukan di kebun kopi milik bapak Salman (alm), oleh masyarakat, sekitar tahun 1940-an.
Prasasti Sojomerto berbahan batu andesit, memiliki ukuran panjang 48 cm, tebal 7 cm, dan
tinggi 78 cm. Berisikan sebelas baris dengan menggunakan huruf Pasca Pallawa dan Prasasti
Sojomerto dapat memperkuat dugaan Prof. Dr. R. M. Ng. Poerbatjaraka yang mengungkapkan
bahwa di Jawa Tengah hanya ada satu dinasti yaitu Dinasti Syailendra, yang pada mulanya
dinasti ini beragama Siwa, kemudian meninggalkan kepercayaan nenek moyangnya dan
memeluk agama Buddha (Rakai Pikatan).

BAB III - Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang 38

Tulisan pada Prasasti Sojomerto menyebutkan ada seorang tokoh yang bernama Daputa
Syailendra. Para ahli menyebutkan bahwa tokoh tersebut merupakan cikal bakal Dinasti
Syailendra yang merupakan satu-satunya dinasti yang berada di Jawa, dugaan tersebut diung-
kapkan oleh Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka, Prasasti Sojomerto ditulis menggunakan huruf
aksara Pasca Pallawa dengan bahasa Melayu kuno, berdasarkan hurufnya prasasti ini diperkira-
kan berasal dari abad VII Masehi. Selain itu prasasti Sojomerto dapat dijadikan bukti eksistensi
kerajaan Mataram kuno atau Mataram Hindu di Jawa Tengah (Boechari, 2012:353).

Isi dari prasasti Sojomerto menurut Prof. Dr. Boechari:

Isi Prasasti Sojomerto Terjemahan

1. ..-ryayon cri sata…. 1. .................................................................
2. ..._a koti 2. .................................................................
3. ...namah ccivaya 3. Hormat kepada dewa syiwa
4. bhatara paramecva 4. Bhatara Parameswa
5. ra sarvva daiva ku samvah hiya 5. ra dan semua dewa yang kuhormat. Hiyang
6. –mih inan –is-anda dapu 6. - - mih adalah ...........................
7. nta selendra namah santanu 7. dari yang terhormat Dapunta Selendra santanu
8. namanda bapanda bhadravati 8. adalah nama ayahnya. Bhadrawati
9. namanda ayanda sampula 9. adalah nama ibunya Sampula
10. namada vininda selendra namah 10. adalah nama istri dari yang terhormat Selendra
11. mamagappasar lempewangih 11. ...................................................................

gambar 3.29 Tampak Depan dan Samping Prasasti Sojomerto

39 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

I. Yoni Plumbon 1

Yoni Plumbon 1 ditemukan di Desa Plumbon,

Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Yoni Plumbon

1 terbuat dari batu andesit berwarna abu-abu,berbentuk

kubus dan memiliki dimensi ukuran panjang 53 cm,

lebar 53 cm dan tinggi/tebal 45 cm, Yoni ini terbagai

dalam 3 bagian yaitu: bagian alas, bagian tengah dan

bagian atas. Bagian alas berbentuk kubus dengan keem-

pat sisi berbentuk sisi ganta. Yoni ini memiliki cerat

yang telah patah. Bagian atas memiliki dimensi ukuran

panjang 49 cm, lebar 49 cm terdapat lubang dengan

dimensi ukuran panjang 18 cm x lebar 18 cm dan keda-

laman lubang 20 cm, disekeliling pinggiran bagian atas

dipahat lis dengan ukuran lebar 8 cm. Secara umum

Yoni di pahat dengan teknik sederhana, kemudian pada gambar 3.30 Yoni Plumbon 1
bagian tengah dipahatkan bentuk geometris (bujur sang-

kar) dengan penggambaran pelipit sebagai pembatas

bagian. Kondisi pada waktu Yoni ini diambil dalam keadaan kurang terawat dan ditumbuhi

jamur dan lumut kerak. Yoni ini hanya diletakkan di halaman rumah dan setengah tertimbun

tanah, ujung sudut bagian atas telah pecah (Data diambil di Dinas pendidikan Kebudayaan

Batang, 2021). Untuk kondisi Yoni Plumbon 1 keadaanya sekarang lebih terawat dan kondisin-

ya baik tidak ada kerusakan atau lecet pada bagian benda peninggalan tersebut.

Yoni Plumbon 2 gambar 3.31 Yoni Plumbon 2

Yoni Plumbon 2 dtemukan di Desa Plumbon,
Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Yoni Plumbon
2 terbuat dari batu andesit berwarna abu-abu, berbentuk
kubus dan memiliki dimensi ukuran panjang 39 cm,
lebar 39 cm dan tinggi/tebal 26 cm. Yoni ini terbagi
dalam 3 bagian yaitu: bagian alas, bagian tengah, dan
bagian atas. Bagian alas berbentuk kubus dengan keem-
pat sisi berbentuk sisi ganta. Yoni ini memiliki cerat
yang telah patah. Bagian atas memiliki dimensi ukuran
panjang 39 cm, lebar 39 cm terdapat lubang dengan
dimensi ukuran panjang 14 cm x lebar 14 cm dan keda-
laman lubang 15 cm disekeliling pinggiran bagian atas

BAB III - Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang 40

dipahatkan lis dengan ukuran lebar 6 cm. Secara umum Yoni dipahat dengan teknik sederhana.
Penggambaran pelipit (lis menonjol) sebagai pembatas bagian. Kondisi pada waktu yoni ini
diambil dalam keadaan kurang terawat dan ditumbuhi jamur dan lumut kerak. Yoni ini hanya
diletakkan di halaman rumah dan setengah tertimbun tanah, ujung sudut bagian atas telah pecah
(Data diambil di Dinas pendidikan Kebudayaan Batang, 2021). Untuk kondisi Yoni Plumbon 2
keadaanya sekarang lebih terawat dan kondisinya baik tidak ada kerusakan atau lecet pada
bagian benda peninggalan tersebut

Yoni Plumbon 3

Yoni Plumbon 3 ditemukan di Desa Plumbon,

Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Yoni

Plumbon 3 terbuat dari batu andesit berwarna abu-abu,

berbentuk kubus dan memiliki dimensi ukuran panjang

28 cm, lebar 28 cm dan tinggi/tebal 30 cm. Yoni ini

terbagi dalam 3 bagian yaitu: bagian alas, bagian

tengah dan bagian atas. Bagian alas berbentuk kubus

dengan keempat sisi berbentuk sisi ganta. Yoni ini tidak

memiliki cerat. Bagian atas memiliki dimensi ukuran

panjang 26 cm, lebar 26 cm, terdapat lubang dengan

dimensi ukuran diameter 19 cm. Secara umum yoni

dipahat dengan teknik sederhana. Penggambaran

bagian bawah dan bagian atas berbentuk sisi ganta dan

di gambarkan dalam posisi terkebalik. Kondisi pada gambar 3.32 Yoni Plumbon 3
waktu Yoni di ambil dalam keadaan kurang terawat dan

ditumbuhi jambur dan lumut kerak.Yoni ini hanya diletakkan di halaman rumah dan setengah

tertimbun tanah, bagian atas telah pecah sehingga bagian lingkaran hampir tidak Nampak (Data

diambil di Dinas pendidikan Kebudayaan Batang, 2021). Untuk kondisi Yoni Plumbon 3

keadaanya sekarang lebih terawat dan kondisinya baik tidak ada kerusakan atau lecet pada

bagian benda peninggalan tersebut.

41 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

Sebaiknya anda tahu

Dalam UU No. 11 Tahun 2010, Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat
kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar
Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang
perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu
pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Pasal 5 dalam Undang-Undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010 berbunyi
sebagai berikut: Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar
Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi
kriteria :

Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;

Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun;
Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau
kebudayaan; dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Sumber : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbgorontalo/undang-undang-no-11-
tahun-2010-tentang-cagar-budaya

Selamat Belajar

BAB III - Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang 42

Rangkuman Materi BAB III

Arca Ganesha merupakan penjelamaan dari dewa visnu yang mempunyai arti dewa ilmu
pengetahuan, dewa kemakmuran, dewa penyelamat dan dewa penghancur segela
macam rintangan.

Arca Watu Gajah berupa arca gajah yang berrelief dan di punggungnya terdapat
saluran yang mungkin merupakan tempat pasak dari bagian lain diatasnya. Bagian
atas belalainya telah hilang dan bagian sisi kiri Arca Watu Gajah berlainan dengan sisi
kanannya.

Punden Batur 1 berfungsi sebagai sarana ritual dengan memiliki bentuk komponen
punden batur yang mengingatkan kepada komplek bangunan candi, dengan pintu
masuk terletak di sebelah barat dan halaman teras yang paling tinggi berbentuk bujur
sangkar yang diasumsikan sebagai ruang utama tempat melakukan ritual keagamaan
masing-masing dihubungkan dengan tangga undakan. Sedangkan Punden Batur 2
berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan yang disusun dari batu bulat andesit yang
berbentuk empat persegi yang terdiri dari empat undakan susunan batu bulat.

Prasasti Bendosari abad ke- 8 M dan dalam tulisanya ber isi mengenai pujian terhadap
mata air.

Prasasti Sojomerto abad ke-7 M dalam tulisanya yang menyebutkan ada seorang tokoh
yang bernama Dapunta Syailendra.

Prasasti Kepokoh abad ke-7 M dalam tulisanya yang ber isi mengenai hadiah
pembebasan tanah, berhubungan dengan dana atau pemberian hadiah.

Prasasti Wutit dalam tulisannya yang ber isi mengenai penetapan Sima (tanah
perdikan) terhadap Desa Wutit kemungkinan besar Desa Wutit berubah menjadi Desa
Buntit

Yoni Plumbon 1 merupakan benda yang menyerupai alat kelamin wanita yang
merupakan lambang kesuburan. Memiliki ciri cerat yang telah patah.

Yoni Plumbon 2 merupakan benda yang menyerupai alat kelamin wanita yang
merupakan lambang kesuburan. Memiliki ciri cerat yang telah patah.

Yoni Plumbon 3 merupakan benda yang menyerupai alat kelamin wanita yang
merupakan lambang kesuburan. Tidak memiliki cerat.

43 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang

Analisis

Kamu telah menyelesaikan Kegiatan Belajar 2 dengan pembahasan Peninggalan Seja-
rah Hindu-Buddha di Kabupaten Batang Jawa Tengah. Selanjutnya,kerjakan aktivi-
tas kelompok di bawah ini sesuai perintahnya!
1 Arca Ganesha yang terdapat di Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten

Batang diperkirakan berasal dari abad ke-8 atau 9 M, Arca Ganesha merupakan
salah satu media pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu yang sangat di Puja oleh
masyarakat Hindu. Siapa yang dimaksud dengan dewa penjelamaan dari Arca
Ganesha?, Abad ke berapakah Arca Ganesha muncul sebagai dewa pemujaan?,Apa
makna dari bentuk Arca Ganesha?
2 Kerjakan di buku tulis mapel Sejarah Indonesia
3 Kumpulkan di Meja Guru!

Kegiatan Mandiri

Kamu telah mengkerjakan dan menyelesaikan aktivitas kelompok. Sekarang, kerja-
kan aktivitas individu dibawah ini sesuai perintahnya!

1 Buatlah kelompok yang terdiri 7 sampai 8 orang!

2 Setelah mendapatkan anggota kelompok, Peserta didik mulai menentukan ketua
kelompok, kemudian salah satu ketua kelompok maju kedepan untuk mendapatkan
undian yang bertuliskan tempat kunjung peninggalan sejarah Hindu-Buddha yang
akan dikunjungi dari anggota kelompok!

3 Peserta didik melalukan kunjungan langsung ke tempat peninggalan untuk
memperoleh informasi terkait peninggalan sejarah Hindu-Buddha kepada juru
pelirah.

BAB III - Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang 44

45 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang


Click to View FlipBook Version