Infografis Peninggalan Sejarah Kabupaten Batang 46
47 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang
Infografis Peninggalan Sejarah Kabupaten Batang 48
? Uji Kompetensi BAB III
A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a,b,c,d atau e di depan jawaban yang benar !
1. Dibawah ini yang termasuk peninggalan cagar budaya masa Hindu-Buddha di Kabupaten
Batang adalah….
a Prasasti Sojomerto, Prasasti Bendosari, Prasasti Wutit, Prasasti Mantyasih
b Arca Ganesha, Arca Watu Gajah, Prasasti Mantyasih, Prasasti Canggal
c Arca siwa, Arca Durga, Lapik kura-kura,Watu lumpang
d Prasasti Kepokoh, Prasasti Sojomerto, Arca Ganesha, Arca Watu Gajah
e Prasasti Kepokoh, Lapik kura-kura, Prasasti Canggal, Prasasti bendosari
2. Berikut yang termasuk kriteria pasal 5 Menurut Undang-Undang Cagar Budaya No 11
Tahun 2010 adalah….
a Berusia 50 (lima puluh tahun atau lebih), mewakili masa gaya paling singkat berusia 50
(lima puluh tahun), memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan,
agama, dan/atau kebudayaan; dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian
bangsa.
b Berusia 40 (empat puluh tahun atau lebih), mewakili masa gaya paling singkat berusia
40 (empat puluh tahun), memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan,
pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan memiliki nilai budaya bagi penguatan
kepribadian bangsa.
c Berusia 50 (lima puluh tahun atau lebih), mewakili masa gaya paling singkat berusia 50
(lima puluh tahun), tidak memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan,
pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan tidak memiliki nilai budaya bagi
penguatan kepribadian bangsa.
d Berusia 50 (lima puluh tahun atau lebih), mewakili masa gaya paling lebih berusia 50
(lima puluh tahun), tidak memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan,
pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan dan tidak memiliki nilai budaya bagi
penguatan kepribadian bangsa.
e Berusia 70 (tujuh puluh tahun atau lebih), mewakili masa gaya paling lebih berusia 70
(tujuh puluh tahun), tidak memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan,
pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan dan tidak memiliki nilai budaya bagi
penguatan kepribadian bangsa.
49 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang
3. Gambar di atas merupakan salah satu peninggalan cagar budaya di Kabupaten Batang, nama
peninggalan cagar budaya tersebut adalah ….
a Arca Ganesha d Arca Watu Gajah
b Arca Siwa e Arca Sri Wasudharra
c Arca Agastya
4. Perhatikan keterangan berikut ini!
1. Arca Ganesha
2. Arca Watu Gajah
3. Arca Nandi
4. Lingga
5. Batu berrelief kalacakra
6. Lumpang Batu Besar
Peninggalan cagar budaya Situs Pejaten ditunjukan oleh nomor….
a (1), (2), (3), (4)
b (1), (3), (5), (6)
c (2), (3), (5), (6)
d (5), (4), (3), (2)
e (4), (3), (6), (2)
5. Prasasti yang menyebutkan tentang penetapan sima (Tanah Perdikan) terhadap desa Wutit
adalah….
a Prasasti Sojomerto
b Prasasti Kepokoh
c Prasasti Wutit
d Prasasti Bendosari
e Prasasti Indrokilo
BAB III - Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang 50
6. Penemuan Cagar Budaya Kabupaten Batang diperkirakan peninggalan sejarah pada masa
Kerajaan Mataram Kuno. Abad berapa penemuan peninggalan cagar budaya tersebut….
a Sebelum abad 5 M - 10 M d Abad 7 M – 9 M
b Sesudah abad 5 M – 8 M e Abad 10 M
c Abad 6 M-10 M
7. Perhatikan Pernyataan berikut
1. Tanpa Kepala
2. Seorang sedang duduk bersila
3. Kedua tangannya diletakkan diatas pangkuan
4. Mengenakan selendang di bahu dan melilit tubuhnya
5. Bagian kaki patah hanya terdapat badan
6. Seorang sedang duduk berlutut
Dari pertanyaan di atas yang merupakan corak ciri-ciri dari Arca Sywa adalah….
a 1, 2, 3, 5
b 1, 2, 4, 5
c 1, 3, 4, 5
d 2, 3, 4, 5
e 1, 2, 3, 4
8. Perhatikan ISI dari Prasasti Kepokoh !
1. hyad-dana
2. yaj-unmaga ( yajnanam-aga)
3. ...
4. abhyawidadi ( widana )
5. wiwuata simanadjina ( siwindidina )
6. (...) nada (..) la
(Di kutip dari : Suhadi-Sukarto, 1986: 3)
Lengkapi isi dari Prasasti Kepokoh no 3 adalah….
a ..-ryayon cri sata ....
b penetapan Sima (tanah perdikan)
c ta (...) ya dwa
d Janmaccheda
e Tanah Perdikan
9. Punden berundak yang ditemukan di Dukuh Batur,
Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten
Batang merupakan peninggalan megalitik sebelum
abad 5M, tergolong jenis akulturasi budaya
Hindu-Buddha dalam bidang arsitektur atau bangu-
nan, Peninggalan tersebut terpengaruh budaya dari….
51 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang
a Arab d India
b Romawi e Rusia
c Buddha
10. Berapakah Jumlah penemuan peninggalan cagar budaya yang berupa benda di Kabupaten
Batang adalah….
a 210 d 150
b 200 e 100
c 189
B. Kerjakan soal-soal berikut!
1. Jelaskan ISI dari peninggalan cagar budaya Prasasti Sojomerto?
2. Deskripsikan peran peserta didik dalam pelestarian cagar budaya yang berada di Kabupaten
Batang,serta berikan solusi terbaik dalam memajukan periwisata kebudayaan dalam bidang
cagar budaya?
3. Jelaskan apa yang di maksud dengan Arca Ganesha Silurah?
4. Mengamati gambar peninggalan cagar budaya Arca Watu Gajah, peserta didik diharapkan
mendeskripsikan corak dari gambar Arca Watu Gajah tersebut?
5. Jelaskan perbedaan peninggalan cagar budaya Yoni Plumbon 1, Yoni Plumbon 2 dan Yoni
Plumbon 3 berdasarkan jenis peninggalan, corak benda peninggalan, ukuran benda
peninggalan, kondisi peninggalan (awal)?
NB: Jawaban berbentuk tabel
BAB III - Peninggalan Sejarah Masa Hindu-Buddha di Batang 52
BAB 4
TRADISI KEBUDAYAAN
HINDU-BUDDHA
DENGAN JAWA DI BATANG
Nyadran Gunung Silurah
Tradisi Legenanan
54 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang
Nyadran Gunung Silurah 46
56 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang
Asal usul Tradisi Legenanan 57
Rangkuman Materi BAB IV
Tradisi Nyadran Gunung Silurah memiliki arti sebagai wujud syukur masyarakat telah
diberikan hasil alam yang melimpah dan memohon perlindungan terhindar dari segala
macam bencana. Hiburan masyarakat berupa seni pertunjukan Wayang Kulit.
Tradisi Legenanan memiliki arti sebagai wujud syukur masyarakat telah diberikan hasil
alam yang melimpah dan memohon perlindungan terhindar dari segala macam
bencana. Hiburan masyarakat berupa seni pertunjukan Wayang Golek.
58 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang
Glosarium
Ardhacandrakapala : bulan sabit yang berada dibawah tengkorak yang terdapat pada
mahkota Arca Ganesha.
Arkeologi : ilmu yang mempelajari tentang benda-benda purbakala.
Artefak : sumber sejarah berupa peninggalan benda-benda, antara lain:
fosil, peralatan hidup, perhiasan, prasasti, candi, stupa, foto,
patung dan bangunan.
Arca Ganesha : Arca Antropomorsis yang mengambarkan manusia setengah
binatang.
Aksamala : tanda kesucian.
Akulturasi : percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu
dan saling mempengaruhi.
Antefik : ragam hias berbentuk segitiga yang terletak disudut candi.
Animisme : kepercayaan terhadap roh-roh yang mendiami benda tertentu
seperti pohon, batu, sungai atau gunung.
Bahasa Sanskerta : bahasa kuno Asia Selatan yang merupakan cabang Indo-Arya
dari rumpun bahasa Indo-Eropa.
Banaspati : roh jahat yang memiliki wujud seperti api.
Biksu : laki-laki yang menjadi rohaniawan Buddha.
Candrasengkala : angka huruf berupa susunan kalimat atau gambaran kata.
Cagar budaya : warisan budaya bersifat kebendaan di darat dan air.
Dinamisme : kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau
kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan
usaha manusia.
Dinasti : keturunan raja-raja yang berasal dari satu keluarga.
Epigrafi : ilmu yang mempelajari tentang tulisan-tulisan kuno.
Ekskavasi : Penggalian dalam arkeologi adalah pembongkaran, pemprosesan
dan pencatatan sisa-sisa arkeologis.
Huruf Pallawa : Huruf aksara berasal dari India bagian selatan dengan bahasa
sanskerta.
Ikonografi : ilmu yang mempelajari tentang patung (arca) dan relief.
Kalamakara : hiasan dinding pintu candi yang memiliki fungsi sebagai pengu-
sir roh-roh jahat.
Kasta : pembagian tingkat golongan masyarakat dalam agama Hindu.
Kebudayaan : hasil kegiatan dan perciptaan dari akal budi manusia.
Lingga : benda yang menyerupai alat kelamin pria yang merupakan lam-
bang kesuburan
BAB IV - Tradisi Kebudayaan Hindu-Buddha di Batang 59
Mitologi : cerita-cerita tentang para dewa.
Paleografi : ilmu yang meneliti perkembangan bentuk tulisan atau tulisan
Prasasti kuno.
Pripih : piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan
tahan lama.
Pendeta
Tripitaka : benda-benda tertentu yang ditempatkan dalam wadah tertentu
Weda (biasannya kotak dari batu, wadah gerabah atau perunggu) untuk
Yoni ditanam dibeberapa tempat dalam bangunan candi.
: pemimpin agama atau rohaniawan Hindu.
: kitab suci agama Buddha
: kitab suci agama Hindu
: benda yang menyerupai alat kelamin wanita yang merupakan
lambang kesuburan.
60 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang
Kunci Jawaban
Uji Kompetensi BAB II
Uji Kompetensi BAB II 6. D
7. C
1. A 8. C
2. C 9. B
3. C 10. E
4. A
5. B
Uraian BAB II
1. Teori Sudra dikemukakan oleh Von Van Feber
Golongan berkasta sudra sering dianggap orang buangan. Oleh karena itu, mereka
meninggalkan daerahnya pergi ke daerah lain bahkan keluar dari India hingga ada yang
sampai di Indonesia agar mendapat kedudukan lebih baik dan lebih dihargai. Golongan
berkasta sudra tidak menguasai ajaran agama Hindu sebab mereka tidak menguasai
bahasa Sanskerta yang digunakan dalam kitab Suwi Weda.
2. Cara masuknya pengaru Hindu-Buddha di Kepulauan Indonesia
Jadi yang melatarbelakangi munculnya pengaruh Hindu-Buddha di Kepulauan Indonesia
karena adanya jalur pelayaran - jalur perdagangan terbagi menjadi dua rute jalur yaitu
jalur darat dan jalur laut dari hal ini menjadi faktor para pedagang asing melalukan pela-
yaran hingga ke Indonesia melalui selat malaka. Adanya kegiatan perdagangan yang
mempertemukan berbagai kalang dari mancanegara dan warga lokal menimbulkan inter-
aksi sosial dengan hal ini mereka melakukan penyebaran agama Hindu-Buddha dan
kebudayaan ke pribumi.
3. Dua jalur perniagaan internasional yang dilakukan oleh para pedagang, yaitu Jalur
perniagaan melalui darat atau lebih dikenal dengan “Jalur Sutra” (silkroad) yang dimu-
lai dari daratan Tiongkok (Cina) melalui Asia Tengah, Turkistan hingga ke Laut Tengah,
jalur perniagaan melalui laut dimulai dari Cina melalui Laut Cina kemudian Selat
Malaka, Calicut (India), lalu ke Teluk Persia melalui syam (Syuria) sampai ke Laut
Tengah atau melalui Laut Merah sampai ke Mesir lalu menunju Laut Tengah.
3. Teori Arus Balik yang dikemukakan oleh F.D.K Bosch:
Teori ini menjelaskan bahwa penyebaran Hindu Buddha di Indonesia terjadi karena peran
aktif masyarakat Indonesia di masa silam. Menurut Bosch, pengenalan Hindu Buddha
pertama kali memang dibawa oleh orang-orang India kepada orang Indonesia, yang
kemudian orang-orang tersebut tertarik untuk mempelajari kedua agama ini secara
BAB IV - Tradisi Kebudayaan Hindu-Buddha di Batang 61
langsung dari negeri asalnya, India. Mereka berangkat dan menimba ilmu di sana dan
ketika kembali mereka kemudian mengajarkan apa yang diperolehnya pada masyarakat.
Bukti dari teori Arus Balik adalah adanya Prasasti Nalanda ditemukan oleh Hirananda
Shastri pada tahun1921, ISI dari Prasasti Nalanda menyebutkan bahwa Balaputradewa
(raja sriwijaya) telah meminta kepada raja di India untuk membangunWihara di Nalanda
sebagai tempat untuk menimba ilmu para tokoh dan sriwijaya. Permintaan raja sriwijaya
itu ternyata dikabulkan dengan demikian, setelah para tokoh atau pelajar itu menurut ilmu
di sana, mereka balik ke Indonesia. Merekalah yang selanjutnya menyebarkan pengaruh
Hindu-Buddha di Indonesia.
5. Seni pertunjukan :
- Nyadran Gunung Silurah
- Tradisi Legenanan
Uji Kompetensi BAB III
Uji Kompetensi BAB III 6. A
7. E
1. D 8. C
2. A 9. D
3. D 10. A
4. B
5. C
Uraian BAB III Terjemahan
1. Isi Prasasti Sojomerto
1. .................................................................
Isi Prasasti Sojomerto 2. .................................................................
3. Hormat kepada dewa syiwa
1. ..-ryayon cri sata…. 4. Bhatara Parameswa
2. ..._a koti 5. ra dan semua dewa yang kuhormat. Hiyang
3. ...namah ccivaya 6. - - mih adalah ...........................
4. bhatara paramecva 7. dari yang terhormat Dapunta Selendra santanu
5. ra sarvva daiva ku samvah hiya 8. adalah nama ayahnya. Bhadrawati
6. –mih inan –is-anda dapu 9. adalah nama ibunya Sampula
7. nta selendra namah santanu 10. adalah nama istri dari yang terhormat Selendra
8. namanda bapanda bhadravati 11. ...................................................................
9. namanda ayanda sampula
10. namada vininda selendra namah
11. mamagappasar lempewangih
62 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang
2. Peran peserta didik dalam pelestarian cagar budaya:
- Merawat dengan tidak mencoret/merusak peninggalan cagar budaya
- Melakukan kegiatan edukasi yang mendidik seperti lewatan sejarah ke berbagai tempat
peninggalan cagar budaya
- Para generasi daerah terutama para pelajar sebaiknya mengenal dan mengetahui sejarah
lokal daerahnya seperti peninggalan sejarah, tradisi daerah, keunikan produk daerah.
Solusi untuk memajukan pariwisata sejarah khusus cagar budaya:
- Membuat video yang menarik dan kreatif terkait peninggalan sejarah lalu di posting ke
berbagai media social, seperti: tiktok, youtube, instagram, dsbnya.
- Melakukan kunjung berupa karyawisata ke tempat peninggalan sejarah
- Melakukan ajang event tahunan seperti yang telah berlangsung setiap tahunnya yang
berada di Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang yaitu Nyadran
gunung silurah, seminar kesejarahan cagar budaya, pertunjukan wayang kulit, potensi
alam, hasil produk kerajinan.
- Mengadakan ajang lomba fotografer, lomba essay bertema peninggalan sejarah, lomba
karya tulis ilmiah jenjang SMP, SMA.
3. Arca Ganesha merupakan penjelmaan dewa wisnu yang menggambarkan dewa ilmu
pengetahuan.
4. Arca Watu Gajah memiliki ciri-ciri khusus dalam bentuk benda cagar budaya tersebut:
- Bagian atas dari belalainya telah hilang
- Bagian sisi kiri Arca Watu Gajah berlainan dengan isi kanannya
- Bagian sisi kiri terdiri dari kepala, kaki depan dan kaki belakang gajah diantaranya
kedua kaki tersebut terdapat kaki pengendara yang tidak memakai perhiasan, makhluk
yang berkaki dan berekor dengan seutas tali melintang di badanya.
- Bagian sisi kanan terdiri dari kaki belakang gajah terpahat berukuran lebih besar, kepala
dan badan gajah terpahatkan dalam ukuran lebih kecil, terdapat sayap di lengan kelat
bahu dan memiliki gelang, serta memegang laksana atau sekuntum bunga dan kaki
pengendara memakai gelang kaki.
5. Tabel Perbedaan Yoni Plumbon 1, 2, 3
Nama Corak Benda Ukuran Benda Kondisi Awal
Peninggalan Peninggalan Peninggalan Benda Peninggalan
Yoni Plumbon 1 - Memiliki cerat yang telah Panjang 53 cm, lebar Ditemukan dihalaman
patah. 53 cm dan rumah, kondisi kurang
tinggi/tebal 45 cm terawat, ditumbuhi
- bagian tengah dipahatkan jamur/lumut kerak, Yoni
bentuk geometris (bujur setengah tertimbun tanah
sangkar) dengan dan ujung sudut bagian
penggambaran pelipit atas telah pecah.
sebagai pembatas bagian.
BAB IV - Tradisi Kebudayaan Hindu-Buddha di Batang 63
Nama Corak Benda Ukuran Benda Kondisi Awal
Peninggalan Peninggalan Peninggalan Benda Peninggalan
Yoni Plumbon 2 - Memiliki cerat yang patah. Panjang 39 cm, lebar Ditemukan dihalaman
- penggambaran pelipit (lis 39 cm dan rumah, kondisi kurang
menonjol) sebagai pembatas tinggi/tebal 26 cm terawat, ditumbuhi
bagian. jamur/lumut kerak,
Yoni setengah tertimbun
tanah dan ujung sudut
bagian atas telah pecah.
Yoni Plumbon 3 - tidak memiliki cerat Panjang 28 cm, lebar Ditemukan dihalaman
- penggambaran bagian 28 cm dan rumah, kondisi kurang
bawah dan bagian atas tinggi/tebal 30 cm terawat, ditumbuhi
berbentuk sisi ganta dan jamur/lumut kerak,
digambarkan dalam posisi Bagian atas pecah
terbalik. sehingga bagian lingkaran
hampir tidak nampak.
64 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang
Indeks Gambar
BAB 2 19 gambar 2.22 Relief Tingkatan Kasta
pada Candi Borobudur
05 gambar 2.1 Jalur Perdagangan, gambar 2.23 Relief Mata Pencaharian
Penyebaran Agama dan kebudayaan di Candi Borobudur
Hindu-Buddha di Indonesia gambar 2.24 Relief Sita Diculik pada
Candi Prambanan
06 gambar 2.2 Rute jalur pelayaran Hindu
20 gambar 2.25 Candi Arjuna
07 gambar 2.3 Rute jalur penyebaran
Buddha 21 gambar 2.26 Candi Mendut
gambar 2.4 Arca Bukit Siguntang
Sumatra Selatan BAB 3
gambar 2.5 Arca Buddha Perunggu
Sikedeng, Sulawesi Barat 28 gambar 3.1 Peta Kabupaten Batang
09 gambar 2.6 J.C. Van Leur 29 gambar 3.2 Arca Ganesha
gambar 2.7 Teori Brahmana
30 gambar 3.3 Arca Ganesha Tampak
10 gambar 2.8 F.D.K Bosch Depan, Samping, dan Belakang
gambar 2.9 Teori Ksatria gambar 3.4 Yoni dan Batuan Candi
gambar 2.10 NJ Krom (Situs Silurah)
gambar 3.5 Arca Sywa
11 gambar 2.11 Teori Sudra
gambar 2.12 Teori Arus Balik 31 gambar 3.6 Arca Watu Gajah
12 gambar 2.13 Prasasti Nalanda 32 gambar 3.7 Tampak Kiri Arca Watu
Gajah
14 gambar 2.14 Arsitektur Bangunan pada gambar 3.8 Tampak Kanan Arca Watu
dinding Candi Borobudur Gajah
gambar 2.15 Kitab Lubdaka gambar 3.9 Tampak Depan Arca Watu
Gajah
15 gambar 2.16 Sistem Pendidikan gambar 3.10 Tampak Belakang Arca
Hindu-Buddha Pendidikan Budi Pekerti Watu Gajah
gambar 2.17 Sistem Kalender Hin- gambar 3.11 Arca Dwarapala
du-Buddha tanpa kepala
gambar 3.12 Yoni yang sudah sebagian
17 gambar 2.18 Relief Pertunjukan Tarian rusak
Jawa Kuno di Candi Borobudur
gambar 2.19 Relief Seni Pertunjukan 33 gambar 3.13 Sketsa Punden
Ramayana pada Candi Prambanan Berundak 1
gambar 3.14 Halaman Utama Punden
18 gambar 2.20 Arca Durga Mahisasura- Berundak 1
mardini
gambar 2.21 Arca Dhyani Buddha
BAB IV - Tradisi Kebudayaan Hindu-Buddha di Batang 65
Indeks Gambar
34 gambar 3.15 Halaman teras tampak 38 gambar 3.28 Prasasti Wutit
samping memperlihatkan anak tangga
gambar 3.16 Halam teras kedua 39 gambar 3.29 Tampak Depan dan Samp-
berbentuk persegi panjang ing Prasasti Sojomerto
gambar 3.17 Anak Tangga
gambar 3.18 Susunan Boulder 40 gambar 3.30 Yoni Plumbon 1
gambar 3.19 Sketsa Punden Berundak 2 gambar 3.31 Yoni Plumbon 2
35 gambar 3.20 Prasasti Bendosari 41 gambar 3.32 Yoni Plumbon 3
gambar 3.21 Prasasti Bendosari saat ini
36 gambar 3.22 Tampak Belakang, Depan,
dan Samping Prasasti Kepokoh
37 gambar 3.23 Yoni
gambar 3.24 Bentuk Cekat Yoni
gambar 3.25 Tampak Atas Yoni
gambar 3.25 Tampak Belakang Yoni
gambar 3.27 Yoni dan Prasasti Kepokoh
66 E-Modul - Sejarah Hindu Buddha di Batang
Daftar Pustaka
Amin, S. (2011). Sejarah Kebudayaan Indonesia. Semarang : Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Semarang.
Indradjaja, A. (2020). Awal Pengaruh Hindu-Buddha di Pantai Utara Jawa Tengah.
Jurnal Penelitian pengembangan Arkeologi, 9, 79-94.
Marwati Djoened Poesponegoro, d. (2010). Sejarah Nasional Indonesia II Zaman
Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.
Noerwidi, S. (2007). Melacak Jejak Awal Indianisasi di Pantai Utara Jawa Tengah.
Jurnal Berkala Arekologi, 27, 40-65.
Nurrochim. (2020). Melacak dan Melestarikan Tuju Prasasti di Kabupaten Batang
Pembuka Peradaban Mataram Kuno. Jurnal Riset,Inovasi dan Teknologi
Kabupaten Batang, 5, 21-34.
Restu Gunawan, d. (2017). Sejarah Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
Riyanto, S. (2014). Dinamika Kebudayaan Dan Peradabaan Batang Kuno:Gambaran
Awal Berdasarkan Hasil Eksplorasi Arkeologis.
Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta.
Saraswati, U. (2019). Nyadran Gunung Silurah :Peran Gunung Bagi Kehidupan
Religius Masyarakat Batang Kuno Abad VII-IX Masehi di Jawa Tengah.
Jurnal Atlantis Press, 313, 111-116.
Sejarah Indonesia Mata Pelajaran Wajib untuk SMA, S. K. (2014). Wahjudi Djaja,dkk.
Klaten Jawa Tengah: PT Intan Pariwara.
Soejatmi Satari, d. (1977). Berita Penelitian Arkeologi No.9 Survai di Kabupaten
Pekalongan, Batang dan Kendal. Jakarta: Proyek Pengembangan Media
Kebudayaan.
BAB IV - Tradisi Kebudayaan Hindu-Buddha di Batang 67
Kian TuMKaSa,eeAniirnKulaidsnmiiagaah,nbakdeniairyrSnkaaemlimkurpipbanaaansanpd,pgainetdKirynalagaiakghzeaananlnmkaDanangniajnaga
Atau teSmepSSmaeeatojakklraiinathahtkedtrieitalamashphaiairdatkuskapinintagt,abbdnepaesrlaaapmsrije,ajkbadreananahtkumbuh
PaDAdMaappehaamakLtlPakelihadBhauhaanPkdurttpedlaarenaiahraskghayksBia,krtaaaaniushbstjnadteueei-uja-tamamapnyprpiptmearkauaanaihekmrtgsnbi,a,aadejanaasllimnilitdkrmuityeaaiptaklpnkeseakearasknmpnshstateyaiaaemndrarrmluuipakbhbablanaeiaehu,ngnrrailstattebauapnukmkiysudkiaaanatanpjoyay?a??a
BBSKaeatjaataanmrngaug,h,mmdmeuimundngailgklikakiniminptmateaknukibnkbagiaangnnyaylataaeknrkkoboirkerairasnhn,gaghrtaigtlahaahunug
SedMiBkMeialteutlwaaennsagtgka,ktruabimknoauljnee,hdyskaaea,dnhimgkaiehtkmaurmialmsapaheirmebhmiunidlptaaaanytigamu
Zulfa Shofiana
Terima Kasih
Zulfa Shofiana
TENTANG PENULIS
Zulfa Shofiana, lahir di Batang, Jawa Tengah 22 November 1997.
Pendidikan Sekolah dasar diselesaikan di SDN Proyonanggan 03
Batang pada tahun 2011. Selanjutnya di SMPN 8 Batang lulus tahun
2014 dan SMAN 2 Batang lulus tahun 2017. Sekarang sedang mene-
mpuh pendidikan S1 di Universitas Negeri Semarang Prodi Pendi-
dikan Sejarah. Prestasi yang pernah di raih juara harapan 3 dalam
lomba Kader Remaja Tingkat Kabupaten Batang tahun 2013.
E-Modul Peninggalan Sejarah Hindu-Buddha di Kabupaten Batang
Jawa Tengah. E-Modul ini menjelaskan mengenai Perkembangan
dan Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia, bukti Peninggalan Sejar-
ah Hindu-Buddha di Kabupaten Batang Jawa Tengah, dan Tradisi
Kebudayaan Hindu-Buddha dengan Jawa yang masih ada hingga
saat ini di daerah Batang Jawa Tengah diantaranya Tradisi Nyadran
Gunung Silurah dan Tradisi Legenanan. E-Modul ini difungsikan
sebagai sublemen pembelajaran sejarah khususnya Sejarah Lokal,
Diharapkan E-Modul ini dapat mengdeskripsikan Sejarah Lokal yang
berada di Daerah Batang Jawa Tenggah khususnya materi Perkem-
bangan dan Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia, mata pelajaran
Sejarah Indonesia Kelas X Semester 2 Kurikulum 2013.
E-Modul
Peninggalan Sejarah Hindu-Buddha
di Kabupaten Batang Jawa Tengah