1
i KONSEP DASAR KEPERAWATAN Penulis Asmiana Saputri Ilyas, S.Kep., Ns.,M.Kes. Sitti Herliyanti Rambu, S.Kep., Ns., M.Kes Nurafriani, S.Kep.,M.Kes. Nofita Tudang Rombeallo, S.Kep, Ns, M.Kep. Adi Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes. Rachmat Ramli, S.Kep., Ns., M.Kes. Betriani Disik, S.Kep. Ns, M.Kep. ISBN 978-623-6032-98-5 Editor : Erlina HB, S.KM.,M.Kes Penyunting: Usti Syah Putri, S.KM.,M.KM Desain Sampul dan Tata Letak Muh Yunus Nabbi Penerbit: CV. CAHAYA BINTANG CEMERLANG Redaksi : Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo BTN Indira Residence Blok E No. 10 Sungguminasa Kab. Gowa No. HP: 085256649684 Email : [email protected] Distributor Tunggal
ii CV. CAHAYA BINTANG CEMERLANG Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo BTN Indira Residence Blok E No. 10 Sungguminasa Kab. Gowa No. HP: 081937538693/ WA: 085290480054 http//cahayabintangcemerlang.com Anggota UMKM Nomor : 04933-0615-20 Anggota IKAPI Nomor : 027/SSL/2020 Cetakan Pertama, 15 Oktober 2023 Hak cipta dilindungi Undang-undang Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara Apapun tanpa ijin tertulis dari Penerbit.
iii SAMBUTAN PENERBIT Tugas utama Penerbit CV. CAHAYA BINTANG CEMERLANG untuk menerbitkan buku-buku referensi dari berbagai bidang studi yang ditulis oleh Guru dan Dosen atau Masyarakat. Buku dengan judul “Konsep Dasar Keperawatan” ini adalah karya Asmiana Saputri Ilyas, S.Kep., Ns.,M.Kes., Sitti Herliyanti Rambu, S.Kep., Ns., M.Kes, Nurafriani, S.Kep.,M.Kes., Nofita Tudang Rombeallo, S.Kep, Ns, M.Kep., Adi Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., Rachmat Ramli, S.Kep., Ns., M.Kes. Betriani Disik, S.Kep. Ns, M.Kep.. Staf pengajar di salah satu Perguruan Tinggi yang memang berkompeten dalam bidang Kesehatan, termasuk Mata kuliah Konsep Dasar Keperawatan. Mudah-mudahan kehadiran buku ini dapat memberikan motivasi kepada guru dan dosen pengajar yang lain untuk menulis referensi yang dapat digunakan dalam proses belajarmengajar, maupun sebagai referensi dalam pelaksanaan kuliah yang relevan. Semoga Allah Swt., memberikan kemudahan untuk kita semua. Makassar, 10 Oktober 2023 Penerbit CV. CAHAYA BINTANG CEMERLANG
iv KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim. Alahamdulillahirrabbil Aalmiin. Puji syuku penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt., yang telah memberikan rahmat, hidayah dan limpahan sebagian dari ilmu-Nya, sehingga buku ini dapat diselesaikan. Penulis menyadari bahwa buku ini bukanlah sematamata Karena hasil usaha sendiri, melainkan juga hasil dari berbagai bantuan pihak lain. Buku ini adalah hasil kajian berbagai referensi, literature buku, sumber on-line sumbangan pikiran, dan masukan yang berharga dari berbagai pihak. HarapanTim penulis, semoga buku ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan pembaca, khususnya mahasiswa yang memprogramkan mata kuliah KONSEP DASAR KEPERAWATAN. Akhirnya Tim penyusun mengharapkan saran, sumbangan pemikiran dan kritik membangun melengkapi buku ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat untuk kepentingan umum dan juga dapat bernilai ibadah, serta mendapatkan ridho dari Allah Swt. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.. Makaassar, 15 Oktober 2023 Penyusun,
v DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL..............................................................i HALAMAN REDAKSI PENERBIT.......................................ii SAMBUTAN PENERBIT ........................................................iii KATA PENGANTAR...............................................................iv DAFTAR ISI..............................................................................v BAB I TEORI DAN KONSEP DASAR KEPERAWATAN.1 A. Pengertian Teori dan Konsep Keperawatan ................1 B. Tujuan Teori dan Konsep Keperawatan .......................2 C. Karakter Teori Keperawatan dan Faktor Yang Mempengaruhi Teori Keperawatan ...................3 D. Pandangan Beberapa Ahli Tentang Teori dan Model Konsep Keperawatan ....................................................4 E. Pandangan Beberapa Ahli Tentang Teori dan Model Konsep Keperawatan ....................................................7 BAB II KEPERAWATAN SEBAGAI PROFESI DAN PROSES KEPERAWATAN.....................................................................22 A. Karakteristik dan Syarat Profesi .....................................22 B. Perawat dan Klien ........................................................... 30 C. Perawat dan Praktik ........................................................30 D. Perawat dan Teman Sejawat ...........................................31 E. Perawat dan Masyarakat .................................................32 F. Perawat dan Profesi.........................................................32
vi BAB III KONSEP DASAR PROFESI....................................34 A. Pengertian Profesi ........................................................... 34 B. Beberapa Istilah yang berkaitan dengan profesi .............36 C. Syarat-Syarat Profesi.......................................................39 D. Urgensi Profesionalisme dalam kehidupan.....................41 BAB IV KEPERAWATAN SEBAGAI PROFESI.................44 A. Arti dan Makna Keperawatan sebagai Suatu Profesi......44 B. Profesi Profesionalisasi Keperawatan............................. 48 C. Manfaat Penggunaan Proses Profesionalisasi Keperawatan....................................................................49 D. Langkah Penting Dalam Proses Profesionalisme............50 E. Peran Perawat..................................................................53 BAB V ORGANISASI PROFESI KEPERAWATAN INDONESIA DAN DUNIA ......................................................56 A. Pengertian Organisasi Profesi Keperawatan..................56 B. Ciri Organisasi Profesi Keperawatan............................. 57 C. Manfaat Organisasi Profesi Keperawatan......................59 D. Peran dan Fungsi Organisai Profesi............................... 59 E. Organisasi Profesi Internasional ....................................63 BAB VI MODEL KONSEP DAN TEORI KEPERAWATAN.....................................................................66 A. Latar belakang.................................................................66 B. Teori Model Konsep Need For Help Wiedenbach..........67 C. Model Konsep dan Teori Self Care Menurut Doro Thea Orem................................................................................70 D. Konsep Model Dan Teori “Adaptasi” Ro Y ...................78
vii E. Diagnosa Keperawatan ...................................................83 DAFTAR PUSTAKA................................................................ 85 BIODATA PENULIS................................................................ 88
1 Konsep Dasar Keperawatan BAB I TEORI DAN KONSEP DASAR KEPERAWATAN A. Pengertian Teori dan Konsep Keperawatan Teori adalah hubungan beberapa konsep atau suatu kerangka konsep, atau definisiyang memberikan suatu pandangan sistematis terhadap gejala-gejala atau fenomenafenomenadengan menentukan hubungan spesifik antara konsep-konsep tersebut dengan maksud untukmenguraikan, menerangkan, meramalkan dan atau mengendalikan suatu fenomena. Teoridapat diuji, diubah atau digunakan sebagai suatu pedoman dalam penelitian. Teori keperawatan didefinisikan oleh Steven (1984) sebagai usaha untuk menguraikan dan menjelaskan berbagai fenomena dalam keperawatan. Teori keperawatan berperan dalam membedakan keperawatan dengan disiplin ilmu lain dan bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, memperkirakan dan mengontrol hasil asuhan atau pelayanan keperawatan yang dilakukan. Teori keperawatan menurut Barnum 1990 merupakan usaha-usaha untuk menguraikan atau menjelaskan fenomena mengenai keperawatan. Menurut Newman (1979), ada tiga cara pendekatan dalam pengembangan dan
2 pembentukan teori keperawatan, yaitu meminjam teori-teori dari disiplin ilmu lain yang relevan dengan tujuan untuk mengintegrasikan teori-teori ini kedalam ilmu keperawatan, menganalisa situasi praktik keperawatan dalam rangka mencari konsep yang berkaitan dengan praktik keperawatan serta menciptakan suatu kerangka konsep yang memungkinkan pengembangan teori keperawatan. Tujuan pengembangan teori keperawatan adalah menumbuh kembangkan pengetahuan yangdi harapkan dapat membantu dan mengembangkan praktek keperawatan dan pendidikankeperawatan B. Tujuan Teori dan Konsep Keperawatan Teori keperawatan sebagai salah satu bagin kunci perkembangan ilmu keperawatan dan pengembangan profesi keperawatan memiliki tujuan yang ingin dicapai, diantaranya: 1. Adanya teori keperawatan diharapkan dapat memberikan alasan-alasan tentang kenyataan-kenyataan yang dihadapi dalam pelayanan keperawatan, baik untuk tindakanatau bentuk model praktek keperawatan sehingga berbagai permasalahan dapat teratasi.
3 Konsep Dasar Keperawatan 2. Adanya teori keperawatan membantu para anggota profesi perawat untuk memahami berbagai pengetahuan dalam pemberian asuhan keperawatan kemudian dapat memberikan dasar dalam penyelesaian berbagai masalah keperawatan. 3. Adanya teori keperawatan membantu proses penyelesaian masalah dalam keperawatan dengan memberikan arah yang jelas bagi tujuan tindakan keperawatan sehingga segala bentuk dan tindakan dapat dipertimbangkan. 4. Adanya teori keperawatan juga dapat memberikan dasar dari asumsi dan filosofi keperawatan sehingga pengetahuan dan pemahaman dalam tindakan keperawatan dapat terus bertambah dan berkembang. C. Karakteristik Teori Keperawatan dan Faktor Yang Mempengaruhi Teori Keperawatan. Menurut Torres (1985) dan Chinn-Jacob (1983) ada lima karakteristik dasar teori dan konsep keperawatan, yaitu: a) Teori keperawatan mengidentifikasi dan didefinisikan sebagai hubungan yang spesifik dari konsep keperawatan seperti hubungan antara konsep manusia,
4 konsep sehat-sakit, keperawatan dan konsep lingkungan. b) Teori keperawatan harus bersifat alamiah. Artinya, teori keperawatan digunakan dengan alasan atau rasional yang jelas dan dikembangkan dengan menggunakan cara berpikir yang logis. c) Teori keperawatan bersifat sederhana dan umum. Artinya, teori keperawatan dapat digunakan pada masalah yang sederhana maupun masalah kesehatan yang kompleks sesuai dengan situasi praktek keperawatan. d) Teori keperawatan berperan dalam memperkaya body of knowledge keperawatan yang dilakukan melalui penelitian. e) Teori keperawatan menjadi pedoman dan berperan dalam memperbaiki kualitas praktek keperawatan D. Pandangan Beberapa Ahli Tentang Teori dan Model Konsep Keperawatan. 1. Pengembangan Ilmu Keperawatan Pengembangan ilmu keperawatan ditandai dengan adanya pengelompokan ilmu keperawatan dasar menjadi ilmu keperawatan klinik dan ilmu
5 Konsep Dasar Keperawatan keperawatan komunitas yang merupakan cabang ilmu keperawatan yang terus berkembang dan tidak menutup kemungkinan pada tahun-tahun yang akan datang akan selalu ada cabang ilmu keperawatan yang khusus atau sub spesialisasi yang diakui sebagai bagian ilmu keperawatan sehingga teori-teori keperawatan dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan atau lingkup bidang ilmu keperawatan. 2. Sistem Pendidikan Pada sistem pendidikan telah terjadi perubahan besar dalam perkembangan teori keperawatan. Dahulu pendidikan keperawatan belum mempunyai sistem dan kurikulum keperawatan yang jelas, akan tetapi sekarang keperawatan telah memiliki sistem pendidikan keperawatan yang terarah sesuai dengan kebutuhan rumah sakit sehingga teori-teori keperawatan juga berkembang dengan orientasi pada pelayanan keperawatan. 3. Kebudayaan Kebudayaan juga mempunyai pengaruh dalam perkembangan teori-teori keperawatan diantaranya dengan adanya pandangan bahwa dalam memberikan
6 pelayanan keperawatan akan lebih baik dilakukan oleh wanita karena wanita mempunyai jiwa yang sesuai dengan kebutuhan perawat, akan tetapi perubahan identitas dalam proses telah berubah seiring dengan perkembangan keperawatan sebagai profesi yang mandiri, demikian juga yang dahulu budaya perawat dibawah pengawasan langsung dokter, dengan berjalannya dan diakuinya keperawatan sebagai profesi mandiri, maka hak dan otonomi keperawatan telah ada sehingga peran perawatdan dokter bukan di bawah pengawasan langsung akan tetapi sebagai mitra kerja yangsejajar dalam menjalankan tugas sebagai tim kesehatan. 4. Filosofi Florence Nigtingale Florence merupakan salah satu pendiri yang meletakkan dasar-dasar teori keperawatan yang melalui filosofi keperawatan yaitu dengan mengidentifikasi peran perawat dalam menemukan kebutuhan dasar ma nusia pada klien serta pentingnya pengaruh lingkungan di dalam perawatan orang yang sakit yang dikenal dengan teori lingkungannya. Selain Florence juga membuat standar pada pendidikan keperawatanserta standar pelaksanaan asuhan
7 Konsep Dasar Keperawatan keperawatan yang efesien. Beliau juga membedakan praktek keperawatan dengan kedokteran dan perbedaan perawatan pada orang yangsakit dengan yang sehat. E. Pandangan Beberapa Ahli tentang Teori dan Model Konsep Keperawatan. 1) Teori Nightingale (1860) Teori Nicghtingale ini memposisikan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan, dan perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit modelkonsep ini dalam upaya memisahkan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Orientasi pemberian asuhan keperawatan atau tindakan keperawatan lebih ketenangan, dan nutrisi yang adequate, dengan dimulai dari pengumpulan data dibandingkan dengan tindakan pengobatan semata, upaya teori tersebut dalam rangka perawat mampu menjalankan praktek keperawatan mandiri tanpa tergantung dengan profesilain. 2) Teori Peplau Teori Peplau merupakan teori yang unik di mana hubungan kolaborasi perawat dan klien membentuk suatu “kekuatan mendewasakan” melalui hubungan Interpersonal yang efektif dalam membantu
8 pemenuhan kebutuhan klien (Beeber, Anderson dan Sills,1990). Hubungan interpersonal perawat-klien digambarkan sebagaifase-fase yang saling tumpang tindih seperti berikut ini: Orientasi, identifikasi, penjelasan, dan resolusi (Chinn dan Jacobs, 1995) 3) Teori Henderson Teori keperawatan Virginia Henderson (Harmer dan Henderson, 1955) mencakup seluruh kebutuhan dasar seorang manusia. Henderson (964) mendefinisikan keperawatan. Kebutuhan berikut ini, sering kali disebut 14 kebutuhan dasar Henderson, memberikan kerangka kerja dalam melakukan asuhan keperawatan (Henderson, 1966): a. Bernafas secara normal. b. Makan dan minum cukup. c. Eliminasi. d. Bergerak dan mempertahankan posisi yang dikehendaki. e. Istirahat dan tidur. f. Memilih cara berpakaian; berpakaian dan melepaskan pakaian.
9 Konsep Dasar Keperawatan g. Mempertahankan temperatur tubuh dalam rentang normal. h. Menjaga tubuh tetap bersih dan rapi. i. Menghindari bahaya dari lingkungan. j. Berkomunikasi dengan orang lain. k. Beribadah menurut keyakinan. l. Bekerja yang menjanjikan prestasi. m. Bermain dan berpartisipasi dalam berbagai bentuk rekreasi. n. Belajar, menggali atau memuaskan rasa keingin tahuan yang mengacu pada perkembangan dan kesehatan normal 4) Teori Abdellah. Teori keperawatan yang di kembangkan oleh Faye Abdellah et al. (1960) meliputi pemberihan asuhan keperawatan bagi seluruh manusia untuk memenuhi kebutuhan fisik, emosi, intelektual, sosial, dan spiritual baik klien maupun keluarga. Dalam teori Abdellah mengidentifikasi kebutuhan klien secara spesifik, yang sering dikenal sebagai 21 masalah keperawatan abdellah:
10 1. Mempertahankan kebersihan dan kenyamanan fisik yang baik. 2. Mempertahankan aktifitas, istirahat dan tidur yang optimal. 3. Mencegah terjadinya kecelakaan, cederah, atau trauma lain dan mencegah meluasnya infeksi. 4. Menpertahankan mekanika tubuh yang baik serta mencagah dan memberbaiki defermitas. 5. Memfasilitasi masukan oksigen ke seluruh sel tubuh. 6. Mempertahankan nutrisi untuk seluruh sel tubuh. 7. Mempertahankan eliminasi. 8. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. 9. Mengenali respons- respons fisiologos tubuh terhadap kondisi penyakit- patologis, fisiologis dan kompensasi. 10. Mempertahankan mekanisme dan fungsi regulasi. 11. Mempertahankan fungsi sensorik. 12. Mengidentifikasi dan menerima ekspresi,prasaan dan reaksi potif dannegatif. 13. Mengidentifikasi dan menerima adanya hubungan timbal balik antaraemosi dan penyakit organic.
11 Konsep Dasar Keperawatan 14. Mempertahankan komunikasi verbal dan non verbal. 15. Memfasilitasi perkembangan hubungan interpersonal yang produktif. 16. Memfasilitasi pencapaian tujuan spiritual personal yang progresif. 17. Menghasikan dan /atau mempertahankan lingkungan yang terapeutik. 18. Memfasillitasi kesadaran akan diri sendiri sebagai individu yang memiliki kebutuhan fisik, emosi dan perkembangan yang berbeda. 19. Menerima tujuan oktimal yang dapat dicapai sehubungan dengan keterbatasan fisik dan emosional. 20. Menggunakan sumber-sumber di komunitas sebagai sumber bantuan dalam mengatasi masalah yang muncul akibat dari penyakit. 21. Memahami peran dari masalah sosial sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi dalam munculnya suatu penyakit
12 5) Teori Orlando Bagi Ida Orlando (1961), klien adalah individu dengan suatu kebutuhan, dimana bila kebutuhan tersebut di penuhi maka stress akan berkurang, meningkatkan kepuasan atau mendorong pencapaian kesehatan optimal (Chinn dan Jacobs,1995). Teori Jean Orlando mengandung konsep kerangka kerja untuk perawat professional yang mengandung 3 elemen yaitu : perilaku klien, reaksi dan tindakan keperawatan ,mengubah situasi perawat setelah perawat memperkirakan kebutuhan klien , perawatmengetahui penyebab yang mempengaruhi derajat kesehatan , lalu bertindak secaraspontan atau berkolaborasi untuk memberikan pelayanan kesehatan. 6) Teori Levina Keperawatan adalah bagian budaya yang direfleksikan dengan ide-ide dannilai-nilai, dimana perawat memandang manusia itu sama, merupakan suaturangkaian disiplin dalam menguasai organisasi atau kumpulan yang dimiliki individu dalam menjalin hubungan manusia sekitarnya. Intisari dari keperawatan adalah manusia. Asumsinya bahwa
13 Konsep Dasar Keperawatan definisi teori tersebut adalah sebagai berikut : Kondisiklien memasuki sistem pelayanan kesehatan dalam bagian penyakit atau perubahan kesehatan. Responsibilitas tanggung jawab perawat bertanggung jawab dalam mengenal respon (perubahan tingkah laku atau tingkat fungsi tubuh) sebagai adaptasiklien atau usaha untuk Rasa, Stress, Inflamasi beradaptasi terhadap lingkungan. 4 Sensorio respon antara lain : Fungsi perawat memasukkan intervensi takut untuk meningkatkan adaptasi terhadap penyakit dan evaluasi intervensi sebagai support (dorongan) atau terapeutik koping. Intervensi membantu mempertahankan status kesehatan dan mencegah penyakit lebih lanjut. Intervensi terapeutik meningkatkan penyembuhan dan pemulihan kesehatan. 4 prinsip perlindungan yang mendorong tujuan perawatan untuk seseorang ke status mempertahankan atau memulihkan Perlindungan terhadap energy keseimbangan intake dan output energi untuk mencegah kesehatan : kelelahan Perlindungan terhadap integritas struktura Mempertahankan atau struktur tubuh (penyembuhan) pemulihan Perlindungan terhadap integritas personal. Mempertahankan atau pemulihan rasa identitas dan harga diri Perlindunga
14 (mengenali kualitas diri) terhadap integritas social Memperkenalkan klien sebagai suatu makhluk sosial khususnya dengan orang lain. Teori Levine berfokus pada satu orang klien, teori ini mempunyai implikasi utama dalam pengaturan perawatan akut, dimana intervensi dapat bersifat mendorong atau terapeutik. 7) Teori Johnson Teori Dorothy Johnson tentang keperawatan (1968) berfokus pada bagaimana klien beradaptasi terhadap kondosi sakitnya dan bagai mana stres aktual atau torensial dapat mempengaruhi kemampuan beradaptasi. Tujuannya adalah menurunkan stress sehingga klien dapat bergerak lebih mudah melewati masa penyembuhannya (Johnson, 1968). Teori Johnson berfokus pada kebutuhan dasar yang mengacu pada pengelompokan perilaku berikut: 1. Perilaku mencari keamanan. 2. Perilaku mencari perawatan. 3. Menguasahi diri sendiri dan lingkungan sesuai dengan standar internalisasi prestasi. 4. Mengakomodasi diet dengan cara yang di terima secara sosial dan kultural.
15 Konsep Dasar Keperawatan 5. Mengeluarkan sampah tubuh dengan cara diterima secara sosial dan kultural. 6. Perilaku seksual dan identitas peran 7. Perilaku melindungi diri sendiri 8) Teori Rogers Keperawatan adalah pengetahuan yang ditujukan untuk mengurangi kecemasan terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, perawatan rehabilitasi penderita sakit serta penyandang cacat. Teori Rogers berfokus pada proses kehidupan manusia. Menurutnya kehidupan seseorang dipengaruhi alam sebagai lingkungan hidup manusia dan pola pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Asumsi dasar teori rogers tentang manusia, Manusia adalah kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yanglain. Kehidupan setiap manusia adalah sesuatu yang unik. tidak ada dua haldidalam kehidupan ini yang dapat diulang dengan cara yang sama dibawah keadaan yang sama . jalan hidup seseorang berbeda dengan yang lain. Perkembangan manusia dapat dinilai dari tingkah lakunya. Manusia diciptakan dengan karakteristik dan keunikan tersendiri misalnya dalam hal sifat dan emosi. Pada intinya
16 Rogers memandang keperawatan sebagai ilmu dan mendukung adanya penelitian keperawatan. Oleh sebab itu keperawatan menggembangkan pengetahuan dari ilmu-ilmu dasar dan fisiologi, begitu juga dengan ilmu keperawatan itu sendiri Ilmu keperawatan bertujuan untuk mengembangkan penelitian ilmiah dan analisis logis dan kemampuan menerapkanya dalam praktik keperawatan. Inti pengetahuan ilmiah keperawatan merupakan hasil penemuan terbaru keperawatan. 9) Teori Orem Dorothea Orem (1971) Keperawatan adalah sebuah pertolongan atas pelayanan yang diberikan untuk menolong orang secara keseluruhan ketika mereka atau orangyang bertanggung jawab atas perawatan mereka tidak mampu memberikan perawatan kepada mereka. Keperawatan merupakan salah satu daya atau usaha manusia untuk membantu manusia lain dengan melakukan atau memberikan pelayanan yang professional dan tindakan untuk membawa manusia pada situasi yang saling menyayangi antara manusia dengan bentuk pelayanan
17 Konsep Dasar Keperawatan yang berfokus kepada manusia seutuhnya yang tidak terlepas dari lingkungannya. Menurut OREM asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang memperlajari kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan. Teori ini dikenal denganPerawatan Diri Orang dewasa dapat merawat diri mereka sendiri, sedangkan bayi, lansia dan orang sakit membutuhkan bantuan untuk memenuhi aktivitas self caremereka. Orem mengklasifikasikan self care dalam 3 syarat : Syarat universal : fisiologidan psikososial termasuk kebutuhan udara, air, makanan, eliminasi, aktivitas dan istirahat, sosial, pencegahan bahaya. Syarat pengembangan : untuk meningkatkan proses perkembangan sepanjang siklus hidup. Penyimpangan kesehatan berhubungan dengan kerusakan atau penyimpangan cara, struktur norma dan integritas yang dapatmengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan self care. Asuhan keperawatan mandiri dilakukan dengan memperhatikan tingkat ketergantungan atau kebutuhan pasien dan kemampuan pasien. Oleh karena itu ada tiga tingkatan dalam asuhan
18 keperawatan mandiri. Perawat memberi keperawatan total ketika pertama kali asuhan keperawatan dilakukan karena tingkat ketergantungan pasien yang tinggi (system pengganti keseluruhan). Perawat dan pasien saling berkolaborasi dalam tindakan keperawatan (system pengganti sebagian) Pasien merawat diri sendiri dengan bimbingan perawat (system dukungan /pendidikan). 10) Teori King Tujuan yang ingin dicapai dari teori Imogene King (1971, 1981, 1987) berfokus pad interaksi tiga sistem: sistem personal, sistem interpersonal, dan sistem sosial. Ketiganya membektuk hubungan personal antara perawat dan klien. Hubungan perawat dan klien merupakan sarana dalam pemberian asuhan keperawatan, dimana proses interpersonal dinamis yang ditampilkan oleh perawat dan klien dipengaruhi oleh perilaku satu dengan yang lain, demikian juga oleh sistem asuhan kesehatan yang berlaku (king, 1971, 1981). Tujuan perawat adalah memanfaatkan komunikasi untuk membantu klien dalam menciptakan
19 Konsep Dasar Keperawatan dan mempertahankan adaptasi positif terhadap lingkungan. 11) Teori Neuman Betty Neuman (1972), Keperawatan adalah suatu profesi yang unik dengan memperhatikan seluruh factor-faktor yang mempengaruhi respon individu terhadap penyebab stress, tekanan intra, inter dan ekstra personal. Perawatan berfokus kepada mencegah serangan stress dalam melindungi klien untuk mendapatkan atau meningkatkan derajat kesehatan yang paling baik. Perawatan menolong pasien untuk menempatkan primary, secondary dan tertiary. Metode pencegahan untuk mencegah stress yang disebabkan factor lingkungan dan meningkatkan system pertahanan pasien. Menurut Newman, asuhan keperawatan dilakukan untuk mencegah atau mengurangi reaksi tubuh akibat adanya stressor. penyakit yang terdiri dari pencegahan. Peran ini disebut pencegahan primer, sekunder dan tertier. Primer = meliputi tindakan keperawatan stressor, mencegah terjadinya reaksi untuk mengidentifikasi adanya tubuh karena adanya stressor.
20 Sekunder tindakan keperawatan untuk gejala penyakit atau reaksi tubuh lainnya mengurangi atau menghilangkan karena adanya stressor. Tersier meliputi pengobatan rutin dan teratur serta pencegahan kerusakan lebih lanjut atau komplikasi dari suatu penyakit 12) Teori Roy Keperawatan adalah sebagai ilmu pengetahuan melalui proses analisa dan tindakan yang berhubungan untuk merawat klien yang sakit atau yang kurang sehat.Sebagai ilmu pengetahuan keperawatan Metode yang digunakan adalah terapeutik, scientik dan knowledge dalam memberikan pelayanan yang esensial untuk meningkatkan dan mempengaruhi derajat kesehatan. Roy menggambarkan metode adaptasi dalam keperawatan. Individu adalah makhluk biospikososial sebagai satu kesatuan yang utuh. Seseorang dikatakan sehat jika mampu berfungsi untuk memenuhi kebutuhan biologis, psikologis dan sosial.seluruh individu harus beradaptasi terhadap kebutuhan berikut: 1. Pemenuhan kebutuhan fisiologis dasar 2.
21 Konsep Dasar Keperawatan Pengembangan konsep diri positif 3. Penampilan peran sosial 4. Pencapaian keseimbangan antara kemandirian dan ketergantungan 13) Teori Watson Jean Watson dalam memahami konsep keperawatan terkenal dengan teori pengetahuan manusia dan merawat manusia.Tolak ukur pandangan Watson ini didasari pada unsur teori kemanusiaan. Pandangan teori Jean Watson ini memahami bahwa manusia memiliki empat cabang kebutuhan manusia yang saling berhubungan diantaranya kebutuhan dasar biofisikal (kebutuhan untuk hidup) yang meliputi kebutuhan makanan dan cairan, kebutuhan eliminasi dan kebutuhan ventilasi, kebutuhan psikofisikal (kebutuhan fungsional) yang meliputi kebutuhan aktifitas dan istirahat, kebutuhan seksual, kebutuhan psikososial, (kebutuhan untuk integrasi) yang meliputi kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan organisasi, dan kebutuhan intra dan interpersonal (kebutuhan untuk pengembangan) yaitu kebutuhan aktualisasi diri.
22 BAB II KEPERAWATAN SEBAGAI PROFESI DAN PROSES KEPERAWATAN A. Karakteristik dan Syarat Profesi 1. Karakteristik Profesi 1) Lieberman (1956), mengemukakan bahwa karakteristik profesi kalau dicermati secara seksama ternyata terdapat titik-titik persamaannya. Di antara pokok-pokok persamaannya itu ialah sebagai berikut: A unique, definite, and essential service Profesi itu merupakan suatu jenis pelayanan atau pekerjaan yang unik (khas), dalam arti berbeda dari jenis pekerjaan atau pelayanan apapun yang lainnya. Di samping itu, profesi juga bersifat definitif dalam arti jelas batas-batas kawasan cakupan bidang garapannya (meskipun mungkin sampai batas dan derajat tertentu ada kontigensinya dengan bidang lainnya). Selanjutnya, profesi juga merupakan suatu pekerjaan atau pelayanan yang amat penting, dalam arti hal itu amat dibutuhkan oleh pihak penerima jasanya sementara pihaknya sendiri tidak
23 Konsep Dasar Keperawatan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan untuk melakukannya sendiri. 2) An emphasis upon intellectual technique in performing its service Pelayanan itu amat menuntut kemampuan kinerja intelektual, yang berlainan dengan keterampilan atau pekerjaan manual semata-mata. Benar, pelayanan profesi juga terkadang mempergunakan peralatan manual dalam praktek pelayanannya, seperti seorang dokter bedah misalnya menggunakan pisau operasi, namun proses penggunaannya dibimbing oleh suatu teori dan wawasan intelektual. 3) A long period of specialized training Untuk memperoleh penguasaan dan kemampuan intelektual (wawasan atau visi dan kemampuan atau kompetensi serta kemahiran atau skills) serta sikap profesional tersebut di atas, seseorang akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai kualifikasi keprofesian sempurna lazimnya tidak kurang dari lima tahun lamanya; ditambah dengan pengalaman praktek terbimbing hingga tercapainya suatu tingkat kemandirian secara penuh dalam menjalankan profesinya.
24 Pendidikan keprofesian termaksud lazimnya diselenggarakan pada jenjang pendidikan tinggi, dengan proses pemagangannya sampai batas waktu tertentu dalam bimbingan para seniornya. 4) A broad range of autonomy for both the individual practitioners and the occupational group as a whole Kinerja pelayanan itu demikian cermat secara teknis sehingga kelompok (asosiasi) profesi yang bersangkutan sudah memberikan jaminan bahwa anggotanya dipandang mampu untuk melakukannya sendiri tugas pelayanan tersebut, apa yang seyogianya dilakukan dan bagaimana menjalankannya, siapa yang seyogianya memberikan izin dan lisensi untuk melaksanakan kinerja itu. Individu-individu dalam kerangka kelompok asosiasinya pada dasarnya relatif bebas dari pengawasan, dan secara langsung mereka menangani prakteknya. Dalam hal menjumpai sesuatu kasus yang berada di luar kemampuannya, mereka membuat rujukan (referral) kepada orang lain dipandang lebih berwenang, atau membawanya ke dalam suatu panel atau konferensi kasus (case conference).
25 Konsep Dasar Keperawatan 5) An acceptance by the practitioners of broad personal responsibility for judgments made and acts performed within the scope of professional autonomy Konsekuensi dari otonomi yang dilimpahkan kepada seorang tenaga praktisi profesional itu, maka berarti pula ia memikul tanggung jawab pribadinya harus secara penuh. Apapun yang terjadi, seperti dokter keliru melakukan diagnosis atau memberikan perlakuan terhadap pasiennya atau seorang guru yang keliru menangani permasalah siswanya, maka kesemuanya itu harus dipertanggungjawabkannya, serta tidak selayaknya menudingkan atau melemparkan kekeliruannya kepada pihak lain. 6) An emphasis upon the service to be rendered, rather than the economic gain to the practitioners, as the basis for the organization and performance of the social service delegated to the occupational group Mengingat pelayanan profesional itu merupakan hal yang amat esensial (dipandang dari pihak masyarakat yang memerlukannya) maka hendaknya kinerja pelayanan tersebut lebih mengutamakan kepentingan pelayanan
26 pemenuhan kebutuhan tersebut, ketimbang untuk kepentingan perolehan imbalan ekonomis yang akan diterimanya. Hal itu bukan berarti pelayanan profesional tidak boleh memperoleh imbalan yang selayaknya. Bahkan seandainya kondisi dan situasi menuntut atau memanggilnya, seorang profesional itu hendaknya bersedia memberikan pelayanan tanpa imbalan sekalipun. 7) A comprehensive self-gouverning organization of practitioners Mengingat pelayanan itu sangat teknis sifatnya, maka masyarakat menyadari bahwa pelayanan semacam itu hanya mungkin dilakukan penanganannya oleh mereka yang kompeten saja. Karena masyarakat awam di luar yang kompeten yang bersangkutan, maka kelompok (asosiasi) para praktisi itu sendiri satusatunya institusi yang seyogianya menjalankan peranan yang ekstra, dalam arti menjadi polisi atau dirinya sendiri, ialah mengadakan pengendalian atas anggotanya mulai saat penerimaannya dan memberikan sanksinya bilamana diperlukan terhadap mereka yang melakukan pelanggaran terhadap kode etikanya.
27 Konsep Dasar Keperawatan 8) A code of ethics which has been clarified and interpreted at ambiguous and doubtful points by concrete cases Otonomi yang dinikmati dan dimiliki oleh organisasi profesi dengan para anggotanya seyogianya disertai kesadaran dan i’tikad yang tulus baik pada organisasi maupun pada individual anggotanya untuk memonitor prilakunya sendiri. Mengingat organisasi dan sekaligus juga anggotanya harus menjadi polisi atas dirinya sendiri maka hendaknya mereka bertindak sesuai dengan kewajiban dan tuntunan moralnya baik terhadap klien maupun masyarakatnya. Atas dasar itu, adanya suatu perangkat kode etika yang telah disepakati bersama oleh yang bersangkutan seyogianya membimbing hati nuraninya dan mempedomani segala tingkah lakunya. 2. Syarat-Syarat Profesi Menurut Robert W. Richey (Sutarsih, 2012) mengemukakan ciri-ciri dan syarat-syarat profesi sebagai berikut:
28 1) Lebih mementingkan pelayanan kemanusiaan yang ideal dibandingkan dengan kepentingan pribadi. 2) Seorang pekerja profesional, secara aktif memerlukan waktu yang panjang untuk mempelajari konsep-konsep serta prinsip-prinsip pengetahuan khusus yang mendukung keahliannya. 3) Memiliki kualifikasi tertentu untuk memasuki profesi tersebut serta mampu mengikuti perkembangan dalam pertumbuhan jabatan. 4) Memiliki kode etik yang mengatur keanggotaan, tingkah laku, sikap dan cara kerja. 5) Membutuhkan suatu kegiatan intelektual yang tinggi. 6) Adanya organisasi yang dapat meningkatkan standar pelayanan, disiplin diri dalam profesi, serta kesejahteraan anggotanya. 7) Memberikan kesempatan untuk kemajuan, spesialisasi, dan kemandirian. 8) Memandang profesi suatu karier hidup (alive career) dan menjadi seorang anggota yang permanen. Ciri-ciri dan syarat-syarat di atas dapat digunakan sebagai kriteria atau tolok ukur
29 Konsep Dasar Keperawatan keprofesionalan guru. Selanjutnya kriteria ini akan berfungsi ganda, yaitu: 1) Untuk mengukur sejauh mana guru-guru di Indonesia telah memenuhi kriteria profesionalisasi. 2) Untuk dijadikan titik tujuan yang akan mengarahkan segala upaya menuju profesionalisasi guru. Khusus untuk jabatan guru, sebenarnya juga sudah ada yang mencoba menyusun kriterianya. Misalnya National Education Association (NEA) yang menyarankan kriteria berikut: 1) Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual 2) Jabatan yang menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus. 3) Jabatan yang memerlukan persiapan profesional yang lama (bandingkan dengan pekerjaan yang memerlukan latihan umum belaka). 4) Jabatan yang memerlukan ’latihan dalam jabatan’ yang berkesinambungan. 5) Jabatan yang menjanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen. 6) Jabatan yang menentukan baku (standar) sendiri. 7) Jabatan yang lebih mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.
30 8) Jabatan yang mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat. B. Perawat dan Klien 1. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan martabat manusia, keunikan klien, dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, dan agama yang dianut serta kedudukan sosial. 2. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari klien. 3. Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan asuhan keperawatan. 4. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. C. Perawat dan Praktik 1. Perawat memelihara dan meningkatkan kompetisi dibidang keperawatan melalui belajar terus menerus.
31 Konsep Dasar Keperawatan 2. Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran professional yang menerapkan pengetahuan serta keterampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien. 3. Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang akurat dan mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang lain. 4. Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan selalu menunjukkan perilaku profesional. D. Perawat dan Teman Sejawat 1. Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun dengan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh 2. Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan ilegal.
32 E. Perawat dan Masyarakat Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai dan mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan dan kesehatan masyarakat. F. Perawat dan Profesi 1. Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan pelayanan keperawatan serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan 2. Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi keperawatan 3. Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan memelihara kondisi kerja yang kondusif demi terwujudnya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi. Kode etik keperawatan Indonesia diatur dalam Keputusan Musyawarah Nasional IX Nomor: 06/MUNAS IX/PPNI/2015 tentang Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
33 Konsep Dasar Keperawatan Dalam keputusan munas tersebut diatur bahwa salah satu syarat seseorang yang ingin menjadi anggota PPNI adalah wajib mengisi dan menandatangani formulir kesediaan mentaati Kode Etik Perawat Indonesia.
34 BAB III KONSEP DASAR PROFESI A. Pengertian Profesi Secara etimologi profesi dari kata profession yang berarti pekerjaan. Professional artinya orang yang ahli atau tenaga ahli. Professionalism artinya sifat professional (Engkol, 1990). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah profesionalisasi ditemukan sebagai berikut: Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan dan sebagainya) tertentu. Profesional adalah: 1. Bersangkutan dengan profesi, 2. Memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya dan, 3. Mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya. Profesionalisasi adalah proses membuat suatu badan organisasi agar menjadi professional (Depdiknas, 2005). Secara istilah profesi biasa diartikan sebagai suatu bidang pekerjaan yang didasarkan pada keahlian tertentu. Hanya saja tidak semua orang yang mempunyai kapasitas dan keahlian tertentu sebagai buah pendidikan yang
35 Konsep Dasar Keperawatan ditenpuhnya menempuh kehidupannya dengan keahlian tersebut, maka ada yang mensyaratkan adanya suatu sikap bahwa pemilik keahlian tersebut akan mengabdikan dirinya pada jabatan tersebut. Pada umumnya masyarakat awam mengartikan kata profesionalisme bukan hanya digunakan untuk pekerjaan yang telah diakui sebagai suatu profesi, melainkan pada hamper setiap pekerjaan. Muncul ungkapan misalnya penjahat professional, sopir professional, hingga tukang ojek professional. Dalam bahasa awam pula, seseorang disebut professional jika cara kerjanya baik, cekatan, dan hasilnya memuaskan. Dengan hasil kerjanya itu, seorang mendapatkan uang atau bentuk imbalan lainnya. Vollmer dengan menggunakan pendekatan kajian sosiologik sebagaimana yang dikutip Udin (Udin, 2009) mempersepsikan bahwa profesi itu sesungguhnya hanyalah merupakan suatu jenis model atau tipe pekerjaan ideal saja, karena dalam realitasnya bukanlah merupakan hal mustahil pula untuk mencapainya asalkan ada upaya yang sungguhsungguh kepada pencapaiannya. Proses usaha menuju kearah terpenuhinya persyaratan suatu jenis model pekerjaan ideal itulah yang dimaksudkan dengan profesionalisasi.
36 Pernyataan di atas itu mengimplikasikan bahwa sebenarnya seluruh pekerjaan apapun memungkinkan untuk berkembang menuju kepada suatu jenis model profesi tertentu. Dengan mempergunakan perangkat persyaratannya sebagai acuan, maka kita dapat menandai sejauh mana sesuatu pekerjaan itu telah menunjukkan cirri-ciri atau sifatsifat tertentu yang dapat dipertanggungjawab kan secara professional. B. Beberapa Istilah yang Berkaitan dengan Profesi. Beberapa istilah yang muncul terkait dengan kata profesi adalah profesi, profesional, profesionalisme, profesionalisasi, dan profesionalitas. Menurut Sanusi (Sanusi, 1991) menguraikan kelima konsep tersebut, yaitu : a. Profesi, profesi adalah jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para anggotanya. Maksudnya, ia tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang yang tidak dilatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Keahlian diperoleh melalui apa yang disebut profesionalisasi, yang dilakukan baik sebelum seseorang menjalani profesi itu maupun setelah menjalani suatu profesi (in service training) maupun setelah menjalani suatu profesi. Selain
37 Konsep Dasar Keperawatan pengertian ini, ada beberapa ciri profesi khususnya yang berkaitan dengan profesi kependidikan. Dengan demikian, kata profesi menunjuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab dan kesetiaan terhadap profesi. Suatu profesi secara teori tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak dilatih atau disiapkan untuk itu. b. Profesional, kata profesional menunjuk pada dua hal. Pertama, orang yang menyandang suatu profesi, misalnya ” Dia seorang profesional”. Kedua, penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaannya yang sesuai dengan profesinya. Pengertian kedua ini, profesional dikontraskan denngan ” non-profesional” atau ”amatir”.Suatu pekerjaan profesional memerlukan persyaratan khusus, yaitu menuntut adanya ketrampilan berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam; menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya; menuntut adanya tingkat pendidikan yang memadai; adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya; dan memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan (Moh. Ali, 1985).
38 c. Profesionalisme, kata profesionalisme menunjuk kepada komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terusmenerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Profesionalisme juga menunjuk pada derajat penampilan seseorang sebagai profesional atau penampilan suatu pekerjaan sebagai profesi, ada yang profesionalismenya tinggi, sedang, dan rendah. Selain itu profesionalisme juga mengacu kepada sikap dan komitmen anggota profesi untuk bekerja berdasarkan pada standar yang tinggi dan kode etik profesinya. d. Profesionalitas, Profesionalitas adalah suatu sebutan terhadap kualitas sikap para anggota suatu profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk dapat melakukan tugas-tugasnya. Dengan demikian, profesionalitas guru PAI adalah suatu “keadaan” derajat keprofesian seorang guru PAI dalam sikap, pengetahuan, dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pendidikan dan pembelajaran agama Islam. Dalam hal ini, guru PAI diharapkan memiliki profesionalitas
39 Konsep Dasar Keperawatan keguruan yang memadai sehingga mampu melaksanakan tugasnya secara efektif. Sedangkan Ahmad Tafsir (Tafsir, 1992) memberikan pengertian profesionalisme sebagai paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang professional. e. Profesionalisasi, kata profesionalisasi menunjuk pada proses peningkatan kualifikasi maupun kemampuan para anggoya profesi dalam mencapai kriteria yang standar dalam penampilannya sebagai anggota suatu profesi. Profesionalisasi pada dasarnya merupakan serangkaian proses pengembangan profesional baik dilakukan melalui pendidikan ”pra-jabatan” maupun ”dalam jabatan”. Oleh karena itu, profesionalisasi merupakan proses yang panjang. C. Syarat-Syarat Profesi Suatu pekerjaan yang disebut profesi harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Menurut Syafrudin Nurdin (Syafrudin, 2005) syarat-syarat yang harus dipenui oleh suatu pekerjaan agar dapat disebut sebagai profesi, yaitu : a. Panggilan hidup yang sepenuh waktu .
40 b. Pengetahuan dan kecakapan atau keahlian. c. Kebakuan yang universal d. Pengabdian. e. Kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikatif f. Otonomi. g. Kode etik. h. Klien. i. Berperilaku pamong j. Bertanggung jawab, dan lain sebagainya. Ahmad Tafsir (Tafsir, 1992) berpendapat bahwa pekerjaan dapat disebut sebagai profesi harus memenuhi syarat, yaitu: a. Profesi harus memiliki suatu keahlian yang khusus. b. Profesi harus diambil sebagai pemenuhan panggilan hidup. c. Profesi memiliki teori-teori yang baku secara universal. d. Profesi adalah diperuntukkan bagi masyarakat. e. Profesi harus dilengkapi dengan kecakapan diagnostic dan kompetensi aplikatif. f. Pemegang profesi memegang otonomi dalam melakukan profesinya. g. Profesi memiliki kode etik. h. Profesi miliki klien yang jelas. i. Profesi memiliki organisasi profesi.