The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Penulis menyadari bahwa buku ini bukanlah semata-mata Karena hasil usaha sendiri, melainkan juga hasil dari berbagai bantuan pihak lain. Buku ini adalah hasil kajian berbagai referensi, literature buku, sumber on-line sumbangan pikiran, dan masukan yang berharga dari berbagai pihak.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by PERPUSTAKAAN CV. CAHAYA BINTANG CEMERLANG, 2023-11-21 22:40:05

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

Penulis menyadari bahwa buku ini bukanlah semata-mata Karena hasil usaha sendiri, melainkan juga hasil dari berbagai bantuan pihak lain. Buku ini adalah hasil kajian berbagai referensi, literature buku, sumber on-line sumbangan pikiran, dan masukan yang berharga dari berbagai pihak.

Keywords: Konsep dasar keperawatan

41 Konsep Dasar Keperawatan j. Profesi mengenali hubungan profesinya dengan bidang-bidang lain. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS Pasal 39 (ayat 2) jabatan guru dinyatakan sebagai jabatan professional. Teks lengkapnya sebagai berikut: “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”. D. Urgensi Profesionalisme dalam Kehidupan Pada dasarnya profesionalisme dan sikap professional itu merupakan motivasi intrinsik yang ada pada diri seseorang sebagai pendorong untuk mengembangkan dirinya menjadi tenaga profesional. Motivasi intrinsik tersebut akan berdampak pada munculnya etos kerja yang unggul (exellence) yang ditunjukkan dalam lima bentuk kerja sebagai berikut: a. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal. Berdasarkan kriteria ini, jelas bahwa guru yang memiliki profesional tinggi akan


42 selalu berusaha mewujudkan dirinya sesuai dengan standar ideal akan mengidentifikasikan dirinya kepada figur yang dipandang memiliki standar ideal. b. Meningkatkan dan memelihara citra profesi. Profesionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara citra profesi melalui perwujudan perilaku profesional. Perwujudan dilakukan melalui berbagai cara, penampilan, cara bicara, penggunaan bahasa, postur, sikap hidup sehari-hari, hubungan antar pribadi, dan sebagainya. c. Memanfaatkan setiap kesempatan pengembangan profesional. Berdasarkan kriteria ini, para guru diharapkan selalu berusaha mencari dan memanfaatkan kesempatan yang dapat mengembangkan profesinya. Berbagai kesempatan yang dapat dimanfaatkan antara lain: (a) mengikuti kegiatan ilmiah seperti lokakarya, seminar, dan sebagainya, (b) mengikuti penataran atau pendidikan lanjutan, (c) melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat, (d) menelaah kepustakaan, membuat karya ilmiah, serta, serta (e) memasuki organisasi profesi.


43 Konsep Dasar Keperawatan d. Mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi. e. Memiliki kebanggaan terhadap profesinya. Profesionalisme ditandai dengan kualitas derajat kebanggaan akan profesi yang dipegangnya. Dalam kaitan ini, diharapkan agar para guru memiliki rasa bangga dan percaya diri akan profesinya. Rasa bangga ini ditunjukkan dengan penghargaan akan pengalamannya di masa lalu, berdedikasi tinggi terhadap tugas-tugasnya sekarang, dan meyakini akan potensi dirinya bagi perkembangan di masa depan. UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menempatkan kedudukan guru sebagai tenaga profesional sangat urgen karena berfungsi untuk meningkatkan martabat guru sendiri dan meningkatkan mutu pendidikan nasional. Ini tertera pada pasal 4: “Kedudukan guru sebagai tenaga professional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional”.


44 BAB IV KEPERAWATAN SEBAGAI PROFESI A. Arti dan Makna Keperawatan sebagai Suatu Profesi. Keperawatan yang semula belum jelas ruang lingkupnya dan batasannya, secara bertahap mulai berkembang. Pengertian perawat dan keperawatan itu sendiri diartikan oleh pakar keperawatan dengan berbagai cara dalam berbagai bentuk rumusan, seperti oleh Florence Nightingale, Goodrich, Imogene King, Virginia Henderson, dan sebagainya. Masih banyak di kalangan masyarakat kita bahwa profesi perawat bila di rumah sakit adalah ‘pembantu dokter’. Seorang perawat banyak diartikan serta dipersepsikan sebagai seseorang yang hanya menuruti kata dokter dan bisa di suruh-suruh seenaknya. dokter adalah dalam hal medisnya sedangkan perawat dengan profesi perawat tentunya bertugas dan berperan di bidang keperawatan itu sendiri. Kita sedikit mengulas kembali bahwasannya pengertian keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan,


45 Konsep Dasar Keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif, ditujukan pada individu, keluarga, dan masyarakat, baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Berdasarkan penggunaan asuhan keperawatan dalam praktek keperawatan ini, maka keperawatan dan juga profesi perawat dapat dikatakan sebagai profesi yang sejajar dengan profesi dokter, apoteker, dokter gigi, radiologi, dan lain-lain. Maka untuk itulah dikatakan bahwa perawat adalah sebuah profesi. Keperawatan bisa dikatakan sebagai sebagai sebuah profesi karena memiliki beberapa hal. Beberapa hal yang menjadikan keperawatan sebagai profesi adalah sebagai berikut : 1. Landasan ilmu pengetahuan yang jelas (Scientific Nursing). Landasan ilmu pengetahuan keperawatan yang dimaksud itu adalah diantaranya cabang ilmu keperawatan klinik, ilmu keperawatan dasar, cabang ilmu keperawatan komunitas, cabang ilmu penunjang. 2. Mempunyai kode etik profesi. Satu hal bahwa keperawatan adalah profesi salah satunya mempunyai kode etik keperawatan. Kode etik keperawatan pada tiap negara berbeda-beda akan tetapi pada prinsipnya adalah


46 sama yaitu berlandaskan etika keperawatan yang dimilikinya, dan di negara Indonesia memiliki kode etik keperawatan yang telah ditetapkan pada musyawarah nasional dengan nama kode etik keperawatan Indonesia. 3. Pendidikan berbasis keahlian pada jenjang pendidikan tinggi. Perawat sebagai profesi karena Di Indonesia berbagai jenjang pendidikan keperawatan telah dikembangkan dengan mempunyai standar kompetensi yang berbeda-beda mulai dari jenjang D III Keperawatan sampai dengan S3 akan dikembangkan. 4. Memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik dalam bidang profesi. Keperawatan dikembangkan sebagai bagian integral dari Sistem Kesehatan Nasional. Oleh karena itu sistem pemberian asuhan keperawatan (askep) dikembangkan sebagai bagian integral dari sistem pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang terdapat di setiap tatanan pelayanan kesehatan. Pelayanan / askep yang dikembangkan bersifat humanistik/ menyeluruh didasarkan pada kebutuhan klien, berpedoman pada standar asuhan keperawatan dan etika keperawatan. 5. Mempunyai perhimpunan Organisasi Profesi. Perawat dikatakan sebagai profesi karena keperawatan memiliki


47 Konsep Dasar Keperawatan organisasi profesi sendiri yaitu PPNI. Profesi perawat diakui karena memang keperawatan harus memiliki organisasi profesi yakni yang disebut dengan PPNI. organisasi profesi ini sangat menentukan keberhasilan dalam upaya pengembangan citra keperawatan sebagai profesi serta mampu berperan aktif dalam upaya membangun keperawatan profesional dan berada di garda depan dalam inovasi keperawatan di Indonesia. 6. Pemberlakuan Kode etik keperawatan. Profesi perawat dikatakan sebagai sebuah profesi karena dalam pelaksanaan asuhan keperawatan, perawat profesional selalu menunjukkan sikap dan tingkah laku profesional keperawatan sesuai kode etik keperawatan. 7. Keperawatan memiliki kemandirian, wewenang, dan tanggung jawab untuk mengatur kehidupan profesi, mencakup otonomi dalam memberikan askep dan menetapkan standar asuhan keperawatan melalui proses keperawatan, penyelenggaraan pendidikan, riset keperawatan dan praktik keperawatan dalam bentuk legislasi keperawatan (KepMenKes No.1239 Tahun 2001).


48 B. Profesi Profesionalisasi Keperawatan. Proses profesionalisasi keperawatan bertujuan untuk memperoleh hasil asuhan keperawatan yang bermutu, efektif, dan efisien sesuai dengan kebutuhan pelaksanaannya yang dilakukan secara sistematis, dinamis, dan berkelanjutan. 1. Fungsi Proses Profwsionalisasi keperawatan Proses profesionalisasi keperawatan berfungsi sebagai berikut: a. Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi tenaga keperawatan dalam memecahkan masalah klien melalui asuhan keperawatan. b. Memberikan ciri profesionalisasi asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah dan pendekatan komunikasi yang efektif dan efisien. c. Memberi kebebasan pada klien untuk mendapat pelayanan yang optimal sesuai dengan kebutuhannya dalam kemandiriannya di bidang 2. Azas-azas profesionalisasi keperawatan a. Keterbukaan, kebersamaan, dan kemitraan.


49 Konsep Dasar Keperawatan b. Manfaat, semua kebutuhan /tindakan yang harus diambil harus bermanfaat bagi kepentingan pasie, tenaga keperawatandan institusi. c. Interdeperdensi, tersapat saling bertegantungan antara tenaga keperawatan dalam merawat pasien. d. Saling menguntungkan, masing-masing pihak yang terlibat dalam hal ini perawat, klien dan institusi memperoleh kepuasan. C. Manfaat Penggunaan Proses Profesionalisasi Keperawatan. 1. Manfaat Untuk Tenaga Keperawatan a. Kemampuan intelektual dan teknis tenaga keperawatan dapat berkembang sehingga kemampuan perawat baik dalam berpikir kritisanalitis maupun keterampilan teknis juga meningkat. b. Meningkatkan kemandirian tenaga keperawatan. c. Kepuasan yang dirasakan pasien akan semakin meningkat citra perawat di mata masyarakat 2. Manfaat Untuk Institusi (Rumah Sakit) a. Banyak pengunjung (masuk/keluar pasien) sehingga keuntungan yang di peroleh akan meningkat.


50 b. Citra Rumah Sakit akan bertambah baik di mata masyarakat. c. Manfaat bagi masyarakat d. Masyarakat mendapat layanan yang berkualitas. 3. Manfaat Untuk Pasien a. Mendapatkan pelayanan keperawatan yang bermutu efektif dan efisien. b. Pasien bebas mengemukakan pendapat/ kebutuhannya demi mempercepat kesembuhan. c. Melalui proses sistimatik, proses kesembuhan dapat dipercaya dan pasien mendapat kepuasan dari pelayanan yang diberikan D. Langkah Penting Dalam Proses Profesionalisme Proses profesionalisme pada dasarnya adalah proses pengakuan, yaitu pengakuan terhadap sesuatu yang dirasakan, dinilai dan diterima secara spontan oleh masyarakat (Nursalam, 2001). Langkah-langkah menuju profesionalisasi keperawatan telah dilakukan sejak adanya lokakarya keperawatan nasional pada bulan Januari 1983, bahwa pelayanan keperawatan adalah pelayanan


51 Konsep Dasar Keperawatan professional yang merupakan bagian integral pelayanan kesehatan. Pelaksanaan perawatan pasien di dasarkan pada penerapan keterampilan prosedural dalam melaksanakan tindakan-tindakan yang merupakan kelanjutan tindakan medik. Berdasarkan hal ini di rumah sakit hanya terdapat catatan atau rekam medik (medical record) dan tidak dikenal adanya catatan/ rekam keperawatan (nursing record). Tidak ada tindakan mandiri seorang perawat serta tindakan-tindakan perawat yang lebih bersifat pekerjaan penugasan dari dokter menimbulkan sikap dan pandangan tentang lingkup tugas dan tanggung jawab seorang perawat sebagai “pembantu dokter”. Langkah yang paling awal dan penting dilakukan dalam proses profesionalisme keperawatan di Indonesia adalah menata pendidikan keperawatan sebagai pendidikan professional, sehingga peserta didik mendapat pendidkan dan pengalaman belajar sesuai dengan yang dituntut profesi keperawatan. Seperti kata Miller (1985) “gaining a body of knowladge in a University setting and a science orientation at the graduate level in nursing”.


52 Pendidikan keperawatan sebagai institusi yang mengembangkan dan menciptakan tenaga keperawatan memiliki peran yang sangat besar dalam proses profesionalisasi keperawatan, Karena pendidikan keperawatan mampu memberikan bentuk dan corak tenaga keperawatan dari lulusannya, tingkat kemampuan dan sekaligus mampu untuk memfasilitasi pembentukan komonitas keperawatan dalam memberikan suara dan sumbangsih bagi profesi dan dan masyarakat (Ma’arif, 1999). System Pendidikan Tinggi Keperawatan yang dikembangkan saat ini ditujukan untuk menjawab tuntutan dan kebutuhan masyarakat dan pembangunan kesehatan di masa depan, khususnya terwujudnya keperawatan sebagai suatu profesi dalam segala aspeknya. Pendidikan tinggi keperawatan harus dapat menghasilkan lulusan sesuai dengan fungsi pokoknya yaitu fungsi pendidikan, fungsi riset ilmiah, dan fungsi pengabdian kepada masyarakat dalam bidang keperawatan. Salah satu upaya penataan pendidikan keperawatan diarahkan kepada mengembangan lahan praktik keperawatan disertai pembinaan masyarakat professional keperawatan (professional community) dengan cara


53 Konsep Dasar Keperawatan pelaksanaan pengalaman belajar klinik (PBK) dan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) yang berbasis kompetensi bukan penunjang pelayanan medik. E. Peran Perawat Peran adalah pola sikap, perilaku nilai dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya dimasyarakat (Keliat,1992). Merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai dengan kedudukan dalam system, di mana dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari profesi perawat maupun dariluar profesi keperawatan yang bersipat konstan. Peran perawat menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 terdiri dari : 1. Pemberi Asuhan Keperawatan Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa


54 direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks. 2. Advokat Klien Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain khusunya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menntukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian. 3. Edukator Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bhkan tindakan yang diberikankan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.


55 Konsep Dasar Keperawatan 4. Koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuan klien. 5. Kolaborator Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapis, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya. 6. Konsultan Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan. 7. Peneliti / Pembaharu Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.


56 BAB V ORGANISASI PROFESI KEPERAWATAN INDONESIA DAN DUNIA A. Pengertian Organisasi Profesi Keperawatan Organisasi profesi merupakan organisasi yang anggotanya adalah para praktisi yang menetapkan diri mereka sebagai profesi dan bergabung bersama untuk melaksanakan fungsi-fungsi sosial yang tidak dapat mereka laksanakan dalam kapasitas mereka sebagai individu. Organisasi profesi keperawatan di Indonesia bernama Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yang didirikan pada tanggal 17 Maret 1974 dan merupakan gabungan dari berbagai organisasi keperawatan yang ada saat itu. June 3, 2008 by Mirzal Tawi ,Organisasi profesi merupakan organisasi yang anggotanya adalah para praktisi yang menetapkan diri mereka sebagai profesi dan bergabung bersama untuk melaksanakan fungsi-fungsi sosial yang tidak dapat mereka laksanakan dalam kapasitas mereka seagai individu. Konsep organisasi Profesi, adalah wadah bagi para pekerja profesi Indonesia, guna mengembangkan lebih


57 Konsep Dasar Keperawatan dalam tentang bidang keprofesian mereka dalam bidang yang mereka geluti. Jadi, seperti apa pengertian dan jenis yang ada pada setiap bidangnya? Veronika – Organisasi.co.id B. Ciri Organisasi Profesi Keperawatan 1. Mempunyai body of knowledge - Tubuh pengetahuan yang dimiliki keperawatan adalah ilmu keperawatan (nursing science) yang mencakup ilmu-ilmu dasar (alam, sosial, perilaku), ilmu biomedik, ilmu kesehatan masyarakat, ilmu keperawatan dasar, ilmu keperawatan klinis dan ilmu keperawatan komunitas. 2. Pendidikan berbasis keahlian pada jenjang pendidikan tinggi - Di Indonesia berbagai jenjang pendidikan telah dikembangkan dengan mempunyai standar kompetensi yang berbeda-beda mulai D III Keperawatan sampai dengan S3 sudah dikembangkan. 3. Memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik dalam bidang profesi keperawatan dikembangkan sebagai bagian integral dari sistem kesehatan nasional - Oleh karena itu sistem pemberian askep dikembangkan sebagai bagian integral dari sistem pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang


58 terdapat di setiap tatanan pelayanan kesehatan. Pelayanan/askep yang dikembangkan bersifat humanistik/ menyeluruh didasarkan pada kebutuhan pasien, berpedoman pada standar asuhan keperawatan dan etika keperawatan. 4. Memiliki perhimpunan/organisasi profesi - Keperawatan memiliki organisasi profesi, yaitu PPNI, organisasi profesi ini sangat menentukan keberhasilan dalam upaya pengembangan citra keperawatan sebagai profesi serta mampu berperan aktif dalam upaya membangun keperawatan profesional dan berada di garda depan dalam inovasi keperawatan di Indonesia. 5. Pemberlakuan kode etik keperawatan - Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan, perawat profesional selalu menunjukkan sikap dan tingkah laku profesional keperawatan sesuai kode etik keperawatan. 6. Otonomi - Keperawatan memiliki kemandirian, wewenang, dan tanggung jawab untuk mengatur kehidupan profesi, mencakup otonomi dalam memberikan askep dan menetapkan standar asuhan keperawatan melalui proses keperawatan, penyelenggaraan pendidikan, riset keperawatan dan


59 Konsep Dasar Keperawatan praktik keperawatan dalam bentuk legislasi keperawatan (UU No.38 tahun 2014 tentang Keperawatan). 7. Motivasi bersifat altruistik - Masyarakat profesional keperawatan Indonesia bertanggung jawab membina dan mendudukkan peran dan fungsi keperawatan sebagai pelayanan profesional dalam pembangunan kesehatan serta tetap berpegang pada sifat dan hakikat keperawatan sebagai profesi serta selalu berorientasi kepada kepentingan masyarakat. C. Manfaat Organisasi Profesi Keperawatan Menurut Breckon (1989) manfaat organisasi profesi mencakup 4 hal yaitu: a. Mengembangkan dan memajukan profesi b. Menertibkan dan memperluas ruang gerak profesi c. Menghimpun dan menyatukan pendapat warga profesi d. Memberikan kesempatan pada semua anggota untuk berkarya dan berperan aktif dalam mengembangkan dan memajukan profesi. D. Peran dan Fungsi Organisai Profesi Peran PPNI dalam kegiatan profesi adalah sebagai pembinaan, pengembangan dan pengawasan terhadap mutu pendidikan keperawatan, pelayanan keperawatan, ilmu


60 pengetahuan dan teknologi keperawatan, dan kehidupan profesi. Fungsi organisasi profesi ada empat bidang yaitu: Kehidupan profesi, yang meliputi membina, mengawasi organisasi profesi, membina kerjasama dengan pemerintah, masyarakat, profesi lain dan antar anggota, membina kerjasama dengan organisasi profesi sejenis dengan negara lain, membina, mengupayakan dan mengawasi kesejahteraan anggota. a. Pelayanan keperawatan meliputi memberikan izin praktik, memberikan registrasi tenaga keperawatan, dan menyusun dan memberlakukan kode etik keperawatan. b. IPTEK meliputi merencanakan, melaksanakan dan mengawasi riset keperawatan, merencanakan, melaksanakan dan mengawasi perkembangan IPTEK dalam keperawatan. c. Kehidupan profesi meliputi membina, mengawasi organisasi profesi, membina kerjasama dengan pemerintah, masyarakat, profesi lain dan antar anggota, membina kerjasama dengan organisasi profesi sejenis dengan negara lain, dan membina, mengupayakan dan mengawasi kesejahteraan anggota.


61 Konsep Dasar Keperawatan PPNI mempunyai tujuan sebagai berikut: a. Membina dan mengembangkan organisasi profesi keperawatan antara lain: persatuan dan kesatuan, kerja sama dengan pihak lain dan pembinaan manajemen organisasi. b. Membina, mengembangkan dan mengawasi mutu pendidikan keperawatan di Indonesia. c. Membina, mengembangkan dan mengawasi mutu pelayanan keperawatan di Indonesia. d. Membina dan mengembangkan IPTEK keperawatan di Indonesia. e. Membina dan mengupayakan kesejahteraan anggota Struktur Organisasi PPNI Jenjang Organisasi Jenjang organisasi terdiri dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPNI, Dewan Pimpinan Daerah Tingkat I (DPD I) PPNI, Dewan Pimpinan Daerah Tingkat II (DPP II) PPNI, dan Komisariat PPNI (pengurus pada institusi dengan jumlah anggota 25 orang)


62 Struktur Organisasi a. Ketua - Ketua terdiri dari ketua umum, ketua Pembinaan Organisasi, ketua Pembinaan pendidikan dan latihan, ketua Pembinaan pelayanan, Pembinaan IPTEK, dan ketua Pembinaan kesejahteraan. b. Sekretaris Jendral - Sekretaris berjumlah 5 orang yang dibagi sesuai dengan pembidangan ketua-ketua dan Departemen, yaitu: Departemen organisasi, keanggotaan dan kaderisasi; Departemen pendidikan; Departemen pelatihan; Departemen pelayanan di RS; Departemen pelayanan di Puskesmas; Departemen penelitian; Departemen hubungan luar negeri; Departemen kesejahteraan anggota; Departemen pembinaan yayasan. Lama kepengurusan adalah 5 tahun dan dipilih dalam Musyawarah Nasional atau Musyawarah Daerah yang juga diselenggarakan untuk: Menyempurnakan AD/ART, Perumusan program kerja, dan Pemilihan Pengurus. PPNI juga menyelenggarakan rapat pimpinan (rapim) dan rapat pimpinan daerah (rapimda) setiap 2 tahun sekali dalam rangka evaluasi dan penyempurnaan program kerja berikutnya. Selain itu, PPNI juga mengadakan rapat


63 Konsep Dasar Keperawatan bulanan atau harian sesuai dengan kebutuhan. Keanggotaan PPNI biasanya terdiri dari tenaga perawat. Program Kerja Utama PPNI Program kerja utama PPNI ada sembilan, yang akan dijabarkan sebagai berikut: a. Pembinaan organisasi dan keanggotaan b. Pengembangan dan pembinaan pendidikan c. Pengembangan dan pembinaan serta pendidikan dan latihan keperawatan d. Pengembangan dan pembinaan pelayanan keperawatan di rumah sakit e. Pengembangan dan pembinaan pelayanan keperawatan di Puskesmas f. Pembinaan dan Pengembangan IPTEK g. Pembinaan dan Pengembangan kerja sama dengan profesi lain dan organisasi keperawatan internasional h. Pembinaan dan Pengembangan sumber daya/yayasan i. Pembinaan dan Pengembangan kesejahteraan anggota E. Organisasi Profesi Internasional Organisasi profesi perawat Internasional adalah International Council of Nurses (ICN) didirikan 1 Juli 1899. Perawat dari Negara United States dan Kanada bergabung


64 menjadi anggotanya. Setiap tahun ICN mempublikasikan dan mendiseminasikan seperangkat media untuk dipergunakan dalam peringatan Hari Perawat Sedunia (The International Nurses' Day Kit) yang dilaksanakan secara serentak di berbagai belahan dunia setiap tanggal 12 Mei. Keanggotaan ICN sampai sekarang sekitar 132 negara. Tujuan ICN Tujuan didirikan ICN adalah memperkokoh silaturrahmi perawat di seluruh dunia, memberi kesempatan bertemu bagi perawat di seluruh dunia untuk membicarakan berbagai masalah tentang keperawatan, menjunjung tinggi peraturan dalam ICN agar dapat mencapai kemajuan dalam pelayanan, pendidikan keperawatan berdasarkan dan kode etik profesi keperawatan Nilai yang dianut ICN Visionary Leadership - Memajukan dan mempertahankan profesi keperawatan dan kontribusinya terhadap kesehatan masyarakat dan kebijakan publik. Inclusiveness-Transformasional, progresif, berdasarkan eviden base dan terfokus pada solusi yang dihadapi.


65 Konsep Dasar Keperawatan Solidarity - Bekerja untuk menempatkan perawat dan keperawatan sebagai kontributor kunci dan mitra penting dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan publik , desain dan sistem pelayanan. Accountability - Menjamin terbukaan, inklusif , pengambilan keputusan yang transparan dan informative dan pelaporan yang jelas. Social Justice - Mencapai ekuitas dan kesetaraan bagi masyarakat dan profesi . Organisasi Profesi Perawat Lain American Nurse Asociation (ANA), Canadian Nurses Association (CNA), National League for Nursing (NLN)


66 BAB VI MODEL KONSEP DAN TEORI KEPERAWATAN A. Latar belakang Perawat adalah salah satu tenaga profesional dalam bidang kesehatan. Perawat melakukan pelayanan kesehatan melalui pendekatan asuhan keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Sebagai tenaga profesional yang mempunyai peran independen, tentu saja tidak hanya sebatas predikat tanpa alasan mendasar, namun sebagai tenaga profesional dalam menjalankan peran, fungsi dan tugasnya berdasarkan body of knowledge dan body of theory yang jelas, yang merupakan ruh keperawatan, salah satunya adalah model konsep dan teori keperawatan. Model konsep dan teori keperawatan tersebut ditetapkan berdasarkan kondisi dan kebutuhan pasien agar pasien mendapatkan pelayanan asuhan keperawatan yang berkualitas. Ironinya, model konsep dan teori keperawatan masih belum membudaya diterapkan di tatanan pelayanan kesehatan, dikarenakan masih minimnya sumbersumber yang mendukung, serta masih belum banyak tenaga keperawatan yang memahami model konsep dan teori keperawatan tersebut. Kondisi ini semakin membuat


67 Konsep Dasar Keperawatan sentuhan Caring semakin jauh dirasakan oleh provider. Namun demikian, sebagai tenaga keperawatan yang mempunyai komitmen tinggi terhadap kemajuan profesionalitas keperawatan, tentunya tidak berhenti begitu saja, tidak putus asa untuk terus berupaya mensiarkan layanan keperawatan profesional dengan menggunakan model konsep dan teori keperawatan. Pengaplikasian model konsep dan teori keperawatan telah terbukti dapat memuaskan pasien dan keluarganya. Berdasarkan pertimbangan itulah maka buku ini disajikan dalam upaya memperkaya wawasan keperawatan, dan bila mungkin diharapkan dapat menjadi salah satu motivator bagi tenaga keperawatan khususnya untuk senantiasa menerapkan keilmuannya sebagai bentuk tanggung jawab dan tanggung gugat dalam memberikan layanan profesional B. Teori Model Konsep Need For Help Wiedenbach ”Need for help” adalah suatu kegiatan dari seorang tenaga profesional bidang keperawatan maternitas yang mempunyai potensi dalam memberikan bantuan kepada individu atau klien agar merasa nyaman (comfortable) dan mampu (capable) sehingga mempunyai kekuatan melakukan koping dalam mengatasi masalah kesehatannya


68 (for maintenance or stability in a situation), (Tomey, 2006). Teori yang dikemukakan oleh Wiedenbach tersebut adalah teori yang menjelaskan bagaimana seorang perawat maternitas membuat suatu ukuran atau kegiatan tertentu yang diinginkan seseorang yang memiliki potensi untuk mengurangi atau memperbaiki kemampuan dalam mengatasi suatu masalah (George, 1995). Dalam teori ini dijelaskan bahwa individu adalah penerima bantuan dari tenaga keperawatan, berupa pengetahuan, perawatan dan nasihat. Konsep penting teori ini adalah memberikan pengetahuan keterampilan sehingga klien mampu melakukan suatu keputusan terkait dengan masalahnya. Fokus teori ini berupa interaksi perawat-klien dan memandang klien secara holistik, di mana dalam interaksi ini ada suatu inti dalam melakukan stimuli, prekonsepsi, interpretasi dan aksi reaksi, sehingga terjalin interaksi perawat-klien yang dapat menghasilkan koordinasi, validasi untuk kepentingan pelaporan, konsultasi dan rujukan. Wiedenbach berpendapat bahwa perawat adalah seseorang yang menghormati martabat ibu, menghargai otonomi, ciri khas dan nilai yang diyakini ibu akan selalu melakukan tindakan dengan persetujuan ibu dengan melakukan validasi. Perawat tidak hanya bertindak tetapi juga berpikir


69 Konsep Dasar Keperawatan dan merasakan apakah sesuatu yang terjadi pada ibu merupakan sesuatu yang baik, sejahtera atau sesuatu yang bermasalah dan memerlukan tindakan bantuan. Perawat dalam setiap tindakannya, perkataannya, tulisan dalam komunikasinya, gerakan tubuhnya, langsung akan menggambarkan sesuatu yang spesifik yang berguna untuk membantu ibu dan pikiran serta perasaannya mempunyai peran untuk meningkatkan disiplin bagi kebaikan ibunya (George,1995). Wiedenbach dalam George (1995), menyebutkan langkah-langkah pemecahan masalah melalui empat tahap yaitu: (1) Identifikasi kondisi dan persepsi klien tentang kebutuhan, seperti: pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi, pemenuhan kesejahteraan ibu dan janin, pemantauan kemajuan persalinan dan pemantauan terjadinya perdarahan post partum. (2) Seleksi (ministrasi) kebutuhan yang tepat untuk dibantu, yaitu pemilihan tindakan yang tepat seperti: memberikan cairan melalui infus, teknik non farmakologis, pemantauan DJJ, manajemen aktif kala III dan pemantauan kala IV. (3) Validasi kemungkinan masalah dapat diatasi dengan bantuan yang diberikan, yaitu melakukan evaluasi terhadap setiap tindakan yang diberikan. (4) Koordinasi yang


70 meliputi laporan, konsultasi yang selanjutnya diinterpretasikan dan dilakukan tindakan bantuan (Tomey dan Alliogood, 2006). C. Model Konsep dan Teori Self Care Menurut Doro Thea Orem. Model konsep self care Orem memandang bahwa setiap individu mempunyai kemampuan dan potensi untuk merawat dirinya sendiri dan mencapai kesejahteraan. Keperawatan diberikan bila berkurang kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan self care sesuai dengan self care demand-nya (Orem, 2001). Perawat berperan membantu meningkatkan kemandirian ibu dalam memenuhi kebutuhan self care-nya melalui suatu proses belajar/latihan dalam bentuk perawatan diri, menciptakan lingkungan yang memfasilitasi tercapainya kemandirian, sehingga perawat dari memberikan total care bergeser ke bantuan supportive educative. Teori ini menekankan bahwa individu adalah agent self care bagi dirinya sendiri (Orem, 2001). Penerapan konsep self care Orem akan lebih efektif apabila dilengkapi dengan teori-teori yang lain sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kasehatannya, misalnya dengan teori transkultural Leininger, teori social support, dan sebagainya. Sebagai contoh pada penggabungan


71 Konsep Dasar Keperawatan dengan teori Transkultural Leininger diterapkan pada kasus yang selain bertujuan untuk memandirikan pasien juga untuk melihat praktikpraktik budaya hidup sehat atau tidak sehat (membahayakan kesehatan) yang ikut berpengaruh terhadap perkembangan status kesehatan seseorang, seperti peristiwa kehamilan, persalinan (kelahiran), perawatan ibu dan bayi, termasuk keadaan proses penyembuhan luka. Masyarakat Indonesia mayoritas terdiri dari keluarga besar (extended family) sehingga berbagai mitos ataupun budaya yang masih diyakini oleh orang tua dahulu dapat diturunkan kepada generasi berikutnya. Sebagai contoh, makanan merupakan kategori budaya yang penting. Bentuk, fungsi berpantang, dan keharusan untuk mengkonsumsi jenis makanan tertentu atau melakukan perbuatan tertentu menunjukkan persamaan atau perbedaan di berbagai tempat di Indonesia, termasuk berbagai pantangan makanan yang ditujukan bagi ibu. Model dan teori keperawatan Self Care Orem dalam asuhan keperawatan menggunakan pendekatan proses keperawatan dapat dilihat pada uraian berikut: 1. Konsep Self Care Dorothea E. Orem Orem mengembangkan teori self care deficit dalam keperawatan yang disusun oleh tiga teori, yaitu teori self care, self care deficit, dan nursing system. Self


72 care adalah penampilan atau aktivitas individu yang dilakukan untuk memelihara kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan hidup (Orem, 2001). Self care yang efektif dapat membantu untuk mempertahankan integritas struktur dan fungsi tubuh serta berkontribusi dalam perkembangan individu, misalnya pada kasus infeksi luka post SC paska pemulangan. Klien post SC menurut konsep model self care Orem dipandang sebagai individu yang mempunyai kemampuan atau potensi untuk merawat dirinya sendiri dan mencapai hidup sejahtera. Teori ini juga menekankan bahwa individu, dalam hal ini klien post SC yang mengalami luka infeksi pasca pemulangan adalah agent self care bagi dirinya sendiri (Orem, 2001). Self care agency adalah kemampuan seseorang, dalam hal ini klien dengan infeksi luka post SC paska pemulangan untuk merawat diri sendiri atau melakukan self care. Kemampuan yang dimiliki oleh klien post SC dengan luka infeksi untuk merawat dirinya sendiri dipengaruhi oleh conditioning factor. Faktor kondisi ini terdiri dari faktor internal maupun eksternal. Faktor internal seperti usia, tinggi badan, berat badan, budaya, suku, status perkawinan,


73 Konsep Dasar Keperawatan status paritas, tahap perkembangan, status kesehatan secara umum, agama, pendidikan dan pekerjaan serta riwayat persalinan sebelumnya. Sebagai contoh dari faktor usia, jika usia klien termasuk kategori kelompok rawan (misalnya pada klien yang berusia lebih dari 35 tahun), hal ini dapat mempengaruhi kekuatan (stamina) atau keadaan umum klien, termasuk dalam proses penyembuhan luka infeksinya. Kondisi ini umumnya akan berbeda dengan klien yang usianya antara 20 sampai 35 tahun. Pada rentang usia tersebut, umumnya klien mempunyai stamina yang lebih baik sehingga klien lebih mampu melakukan self care-nya sekalipun klien dengan kondisi infeksi luka post SC paska pemulangan. Status nutrisi menggambarkan keadaan kesehatan seseorang dan mempengaruhi kemampuan klien untuk memenuhi kebutuhan self care. Pada klien dengan infeksi luka post SC paska pemulangan, keadaan nutrisi erat kaitannya dengan proses penyembuhan luka infeksi. Klien yang mengalami kekurangan energi, protein, umumnya akan merasa Model Konsep Dan Teori Self Care Menurut Dorothea Orem 11 lemas dan berisiko terhadap proses penyembuhan luka yang lama. Protein, vitamin C dan


74 D sangat penting untuk pembentukan sel baru pada area luka operasi. Keadaan tubuh yang lemas dan adanya proses penyembuhan luka infeksi yang lama, berdampak pada kemampuan klien dalam melakukan aktivitas self care. Klien akan mempunyai berbagai keterbatasan secara fisik sehingga klien mengalami deficit self care. Faktor eksternal meliputi keadaan sosial-ekonomi-kultural, dukungan pasangan dan keluarga, gaya hidup, sistem pelayanan kesehatan, proses persalinan yang lama dan faktor lingkungan sekitar tempat tinggal klien. Salah satu contoh faktor eksternal berasal dari dukungan yang diberikan pasangan atau keluarga terhadap klien dengan infeksi luka post SC paska pemulangan. Jika pemberian dukungan adekuat, umumnya klien dapat mengurangi kecemasan, ketakutan dan ketegangan yang dialaminya akibat infeksi luka post SC paska pemulangan. Dampak lebih lanjut dari kondisi psikologis tersebut akan mempengaruhi pula kondisi fisik klien sehingga klien memiliki motivasi untuk melakukan aktivitas self care-nya.


75 Konsep Dasar Keperawatan 2. Universal Self Care Requisites Merupakan serangkaian kebutuhan yang secara umum dimiliki oleh setiap individu, meliputi kebutuhan oksigenisasi, makan dan minum, aktivitas dan istirahat, eliminasi, terbebas dari nyeri, terbebas dari infeksi dan ketidaknyamanan, kebutuhan interaksi sosial dan peran. Sebagai contoh, klien post SC dengan luka infeksi paska pemulangan umumnya akan mengalami kesakitan atau morbiditas yaitu nyeri dan ketidaknyamanan akibat infeksi luka. Keadaan infeksi dapat ditandai dengan adanya peningkatan suhu tubuh, keadaan luka terjadi pemisahan tepi luka (dehiscence), kelembutan (tenderness), keluaran pus atau cairan serous (discharge), kemerahan sepanjang luka insisi, pembengkakan (swelling) yang terlokalisasi dan bau (odour) pada area luka operasi serta dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemui adanya peningkatan kadar leukosit dan kultur pus positif. Dampak infeksi luka terhadap pemenuhan kebutuhan aktivitas, tampak dari keterbatasan klien dalam melakukan aktivitas terutama ketika klien merasakan nyeri dan ketidaknyamanan. Klien juga mengalami kurang


76 istirahat akibat nyeri yang dirasakannya, atau karena kecemasan terhadap kondisi dan prognosis luka infeksi. Hal ini menimbulkan perubahan pada keadaan umum dan tanda-tanda vital klien. 3. Developmental Self Care Requistes Kebutuhan self care sesuai dengan proses perkembangan dan kematangan individu menuju fungsi yang optimal. Pada klien post SC dengan luka infeksi paska pemulangan 12 Model Konsep Dan Teori Keperawatan akan mengalami perubahan fungsi perkembangan yang berkaitan dengan fungsi perannya sebagai ibu terutama bila klien harus menjalani perawatan ulang di rumah sakit. Klien akan terpisah dengan keluarganya dan klien umumnya mengalami diskontinuitas pemberian ASI. 4. Health Deviation Self Care Requisites Kebutuhan yang berkaitan dengan penyimpangan status kesehatan, misalnya keadaan nyeri akibat infeksi luka post SC paska pemulangan yang dapat menurunkan kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan self care-nya. Kebutuhan ini meliputi:


77 Konsep Dasar Keperawatan a. mencari pengobatan yang tepat dan aman, hal ini dilakukan klien dengan kembali memeriksakan diri ke rumah sakit; b. menyadari dampak dan patologi penyakit; c. memilih prosedur diagnostik, terapi dan rehabilitasi yang tepat dan efektif; d. memahami dan menyadari dampak tidak nyaman dari program pengobatan; e. memodifikasi konsep diri untuk dapat menerima status kesehatannya; f. belajar hidup dengan keterbatasan sebagai dampak kondisi patologi. Perubahan yang terjadi pada klien dengan infeksi luka post SC paska pemulangan menurut teori self care akan menyebabkan self care agency (kemampuan) klien dalam memenuhi kebutuhan self care demand-nya (kebutuhan yang harus dipenuhi). Kondisi ini disebut self care defisit, yaitu keadaan yang menggambarkan terjadinya ketimpangan antara self care demand dan self care agency atau keterbatasan klien untuk memenuhi kebutuhan self care. Keperawatan dibutuhkan oleh klien dengan infeksi luka karena adanya


78 penurunan kemampuan klien untuk melakukan self carenya. D. Konsep Model Dan Teori “Adaptasi” Ro Y Pendekatan dinamis yang dilakukan perawat dalam asuhan keperawatan dapat memfasilitasi potensi klien untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, baik secara fisik maupun psikologis dalam mempertahankan kesejahteraan ibu dan janin (George, 1995; Pillitteri, 1999). Penerapan caring dalam asuhan keperawatan bertujuan untuk memberikan pelayanan keperawatan secara holistik, bermutu, dan berkualitas. Teori adaptasi merupakan suatu pendekatan yang dinamis, di mana peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan adalah dengan memfasilitasi potensi klien untuk melakukan adaptasi dalam menghadapi perubahan. Roy mengembangkan model adaptasi dalam keperawatan, dengan asumsi dasar: 1. Pertama, manusia dipandang sebagai sistem adaptif yang mempunyai kemampuan berespons terhadap stimulus apa pun, baik yang berasal dari lingkungan eksternal maupun internal untuk mencapai kondisi sehat yang optimal.


79 Konsep Dasar Keperawatan 2. Kedua, individu selalu berada pada rentang sehat-sakit yang berhubungan dengan keefektifan yang dilakukan untuk memelihara kemampuan beradaptasi (Roy,1991; Tomey, 2002). Menurut Roy (1991), elemen proses keperawatan meliputi pengkajian tingkat pertama dan kedua, diagnosa keperawatan, penentuan tujuan, intervensi dan evaluasi. Fokus dari model ini adalah adaptasi dan tujuan pengkajian adalah mengidentifikasi tingkah laku yang aktual maupun potensial dan memutuskan klien adaptif atau maladaptif. Termasuk kebutuhan dasar manusia apakah dapat dipengaruhi oleh kekurangan atau kelebihan. Misalnya pemenuhan kebutuhan oksigen terganggu akibat penumpukan sekret, kecemasan, dan ketakutan akan keselamatan janin akibat penyakit kronis yang diderita. Perawat menggunakan wawancara, mengobservasi dan pengukuran untuk mengkaji perilaku klien sekarang pada setiap model. Berikut merupakan langkah penerapan konsep model adaptasi Roy yang dicontohkan pada kasus ibu hamil dengan asma bronchiale. 1. Pengkajian Perilaku Tahap pengkajian perilaku bertujuan mengumpulkan data dan memutuskan klien adaptif


80 atau maladaptif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi secara drastis. Pengkajian tersebut meliputi: perubahan-perubahan fisiologis seperti terjadi sesak, kesulitan bernapas, batuk, wheezing, tachicardi pada janin, aktivitas terbatas. Adaptasi konsep diri meliputi pandangan klien terhadap kondisinya saat ini, harapan klien terhadap janin dan kehamilan, kecemasan akan keselamatan diri dan janin, perasaan tidak berdaya, tidak mampu menjalani proses kehamilan dengan normal, kehilangan kemampuan menjadi wanita yang sempurna yang mampu melahirkan bayi dengan selamat. Adaptasi fungsi peran berhubungan dengan peran yang terganggu saat ini karena ibu hamil yang menderita asma harus banyak istirahat, perubahan sebagai seorang istri yang harus hamil dan melahirkan anak yang sehat dan selamat, mengurus anak dan melaksanakan kegiatan rumah tangga, dan kesiapan menghadapi peran baru. Adaptasi interdependensi seperti ketergantungan dan keterkaitan klien dengan orang terdekat seperti suami, keluarga atau lingkungan sosial selama dirawat.


81 Konsep Dasar Keperawatan 2. Pengkajian Faktor-faktor yang Berpengaruh Pengkajian tahap kedua, merupakan pengkajian yang berusaha mengenali penyebab perilaku dengan mengidentifikasi stimulus yang menyebabkan gangguan adaptasi. Tahap ini sangat penting karena memberi arah pemberian tindakan keperawatan berdasarkan informasi yang dikumpulkan. Stimulus yang mempengaruhi perilaku klien yaitu stimulus fokal, kontekstual, dan residual. a. Identitas Stimulus Fokal Stimulus fokal merupakan perubahan perilaku yang dapat diobservasi. Perawat dapat melakukan pengkajian dengan menggunakan keterampilan melakukan observasi, melakukan pengukuran dan wawancara, misalnya stimulus fokal pada ibu hamil dengan ketuban pecah dini meliputi keluhan keluarnya air-air dari kemaluan dan tidak dapat dihentikan, perut terasa kencang, kecemasan atau ketakutan yang diungkapkan klien. b. Identitas Stimulus Konsekstual Stimulasi kontekstual dapat diidentifikasi oleh perawat melalui observasi, pengukuran, wawancara dan validasi. Perawat juga perlu memahami faktor


82 kontekstual yang mempengaruhi mode adaptif adalah genetik, seks, tahap perkembangan, obat, alkohol, tembakau, konsep diri, peran fungsi, interdependensi, pola interaksi sosial, koping mekanisme, stress emosi dan fisik religi, dan lingkungan fisik (Martinez, 1976 dalam Roy 1989). Pada stimulus kontekstual digali penyebab dari keluhan utama seperti adanya keputihan saat hamil, perasaan sakit yang dirasakan seperti demam, kebiasaan selama hamil seperti kebiasaan mengkonsumsi obat-obatan, kelelahan yang dialami selama hamil, dan ekspresi kecemasan atau kegelisahan yang dapat diobservasi. c. Identitas Stimulus Residual Pada tahap ini yang mempengaruhi adalah pengalaman masa lalu. Helson dalam Roy (1989) menjelaskan bahwa beberapa faktor dari pengalaman lalu dapat mengidentifikasi stimuli residual. Tetapi sikap, kepercayaan, karakter adalah faktor residual yang sulit diukur dan dapat memberikan efek pada situasi sekarang. 18 Model Konsep Dan Teori Keperawatan


83 Konsep Dasar Keperawatan E. Diagnosa Keperawatan Merupakan proses penyesuaian terhadap masalah yang muncul dengan merujuk pada status adaptasi klien. Dalam menetapkan diagnosa keperawatan, Roy (1991) menyampaikan tiga alternatif yang digunakan, yaitu pertama, menggunakan tipologi diagnosa yang berhubungan dengan empat model adaptasi; kedua, mengobservasi tingkah laku yang berhubungan dengan stimuli; dan ketiga, sebagai kesimpulan satu atau lebih model adaptasi yang berhubungan dengan stimuli. Contoh, diagnosa keperawatan pada ibu hamil dengan asma yaitu: 1) Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkospasme, peningkatan produksi sekret; 2) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya suplai O2, dekstruksi alveoli, kompliance paru tidak maksimal; 3) Risiko tinggi kegawatan pada janin seperti tachycardia, kelahiran premature, pertumbuhan janin terhambat berhubungan dengan suplai O2 yang tidak maksimal, terjadinya eksaserbasi dan serangan asma yang berulang;


84 4) Cemas berhubungan dengan perubahan terhadap status kesehatan; 5) Antisipasi kehilangan janin, proses berduka berhubungan dengan risiko atau aktual kehilangan janin atau cacat kongenital; 6) Potensial peningkatan kemampuan beradaptasi klien, pasangan dan keluarga terhadap kondisi ibu hamil dengan penyakit pernapasan kronis/asma bronchiale (Smeltzer dan Bare, 2002; Nanda, 2005)


85 Konsep Dasar Keperawatan DAFTAR PUSTAKA Asmadi.2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta:EGC Hidayat,A,Aziz Alimul.2007. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan,ed.2.Jakarta:Salemba Medika Keputusan Musyawarah Nasional IX Nomor: 06/MUNAS IX/PPNI/2015 tentang Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Keputusan DPP PPNI Nomor: 065/DPP.PPNI/SK/K.S/XII/2017 tentang Penyelesaian Sengketa Etik Keperawatan DPP PPNI Periode 2015-2020. Kode Etik Keperawatan Indonesia. Diambil dari laman website PPNI di https://ppni-inna.org/doc/ADART/ KODE ETIK_KEPERAWATAN_INDONESIA.pdf tanggal 21 April 2021. Sumijatun. 2010. Konsep Dasar Menuju Keperawatan Profesional. Jakarta: Trans Info Media Pro-Health. 2009. Keperawatan Sebagai Suatu Profes Achadi, E.L. (2005). “Ibu sehat, anak sehat setiap saat”. Warta Kesehatan Ibu: 4. Alligood, M.R. & Tomey, A. (2002). Nursing theory: Utilization & aplication. St. Louis: Mosby. Anonim. (2008). “Ectopic pregnancy”. http://www.patient.co.uk/showdoc/40000050/, diperoleh tanggal 2008. Auvenshine, M.A., & Enriquez, M.G. (1990). Maternity nursing: Perinatal and women’s health. Boston: Jones amd Bartlett Publishers. Azrul, A. (2005). ¶ 1, http//www.depkes.go.id, diperoleh tanggal 20 Januari 2008. Bobak, I.M. & Jensen, M.D. (1984). Essentials of maternity ursing. St. Louis: C.V. Mosby Company.


86 Bobak, I.M., Lowdermilk, D.L., Jensen, M.D., & Perry, S.E. (1995). Maternity nursing. Philadelphia: WB Saunders Company. Bobak, I.M., & Jensen, M.D. (2000). Maternity and ginecology nursing care. Philadelphia: W.B. Saunders Company. Bobak, Lowdermilk dan Jensen. (2006). Maternity nursing. (Wijayarini, MA & Anugrah, P.I. Penerjemah). California: Mosby. (sumber asli diterbitkan 1995). Babinszki, et al. (1999). Grand multiparity is it a perinatal risk?. Department of Obstetrics and Gynecology: Clin Perinatol. 25(9): 529-38. Bugg, G.J, Atwal, G.S & Maresh, M. (2002). “Grandemultiparae in a modern setting”. British Journal of Obstetrics and Gynecology. 109 (3): 249- 53. Bulgaho, A, et al. (2001). “Misoprostol for prevention of postpartum haemorrhage”. British Journal of Obstetrics and Gynecology. 29 (5): 149-50. Penerapan Model Konsep dan Teori Keperawatan pada Kasus Obstetri Ginekologi 168 Barasila A. (2000). “Penatalaksanaan asma pada kehamilan”. Medicinal Obstetri dan Ginekologi. 3 (2). 42-47. Breslin. E.T., & Lucas, V. A. (2003). Wommen’s health nursing: Toward evidence-based practice. Philadelphia: St. Louis. Boushey HA (2000). Asthma. textbook of respiratory medicine. (3nd Ed). California: WB Saunders Company. Bennett, V.R., & Brown, L.K. (1999). Myles textbook for midwives. (13th ed). Toronto: Churchill Livingstone. Carpenito,L.J. (1995). Nursing diagnosis: Application to clinical practice. Philadelphi: Lippincott. Chalik, T.M.A. (1998). Hemoragi utama obstetri & ginekologi. Jakarta: Widya Medika.


87 Konsep Dasar Keperawatan Chin, P.L. & Jacobs, M.K. (1983). Theory and nursing: A systematic approach. USA: Mosby Company. Clark, Ann L, Alfonso, Dyane D. & Harris, Thomas R. (1979). Childbearing: A nursing perspective. Philadelphia: F.A. davis Company. Cunningham, F.G., et.al. (1995). Text book william obstetric. (19th Ed.). London: Appleton Lange. Cunningham, F.G., MacDonal, P.C., & Gant, N.F. (2001). Text book: William obstetric, 21th ed. London: McGrawHill Companies, Inc. Cunningham, F.G., et.al. (2006). Obstetrics Williams. (Hartono, Andry. dkk. Penerjemah). New York: McGraw-Hill. (Sumber asli diterbitkan 2001). Dep.Kes.RI. 2004. Setiap Jam 2 orang Ibu bersalin meninggal. www.depkes.go.id/ index.php? option=news&task=viewarticle&sid=448&Itemid=2, diperoleh tanggal 27 Pebruari 2007. Depkes. (2005). Kebijakan dan strategi nasional kesehatan reproduksi di Indonesia. Jakarta. Djauzi. (2005). “Asma dan faktor genetik garis ibu”. http://kompas.com/kesehatan/news/ 0501/23/100937.htm, diperoleh tanggal 10 Februari 2008. Doengoes, M., & Moorhouse, M. (1994). Rencana keperawatan maternal dan bayi. Edisi 2. Jakarta: EGC.


88 BIODATA PENULIS Ns. Asmiana Saputri Ilyas, S.Kep., M.Kes, Lahir di Lamasi Tanggal 14 Juni 1988 merupakan ibu dari 2 anak telah menyelesaikan studi Program S1 Keperawatan dan Ners selesai Tahun 2011 dan melanjutkan studi S2 Magister Kesehatan Jurusan Promosi Kesehatan selesai Tahun 2014 di Universitas Indonesia Timur. Tahun 2012 sampai Tahun 2016 mengajar di Universitas Indonesia Timur program S1 Keperawatan dan menjadi Preseptor Institusi program Profesi Ners. Tahun 2017 sampai sekarang menjadi Dosen Tetap Stikes Amanah Makassar pada Program Studi Pendidikan Profesi Ners dan sejak saat itu mendalami dan mengajar Departemen Anak dan Home Care. Tahun 2021 sampai sekarang menjabat sebagai Wakil Rektor I (Bidang Akademik) di Institut Teknologi dan Kesehatan Tri Tunas Nasional.


89 Konsep Dasar Keperawatan BIODATA PENULIS Nofita Tudang Rombeallo, S.Kep, Ns, M.Kep, Lahir di Buakayu, 20 September 1988. Bisa dijumpai di rumahnya di Jalan Starda Baru, Kelurahan Pantan, Kecamatan Makale Kabupaten Tana Toraja. Juga melalui HP/WA: 082394475603 dan Email. [email protected]. RIWAYAT PENDIDIKAN 1. SD Negeri Inp.302 Tombangkalua, Bonggakaradeng Tana Toraja 2001 2. SMP Negeri 1 Bonggakaradeng Tahun 2004 3. SMA Negeri 1 Bonggakaradeng Tahun 2007 4. S1. Sarjana Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Lakipadada Tahun 2014. 5. Profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Lakipadada Tahun 2015. 6. S2 Magister Imu Keperawatan Universitas Hasanuddin Makassar Tahun 2022


90 RIWAYAT PEKERJAAN 1. 2013-2023 : Guru di SMK Lakipadada Tana Toraja. 2. 2016-2017 : Sekertaris Program Studi S1 Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Lakipadada. 3. 2018-2020 : Wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Lakipadada. 4. 2020-Sekarang : Ketua Program Studi DIII Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Lakipadada. RIWAYAT ORGANISASI 1. 2022-sekarang : Bendahara PPNI Komisariat 8 Kabupaten Tana Toraja. 2. 2022-sekarang : Anggota Komite Daerah Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (KOMDA PGPKT).. 2021- sekarang : Pembina BEM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Lakipadada.


Click to View FlipBook Version