PERMAINAN TRADISIONAL ULAR NAGA
A. Sejarah Permainan Ular Naga
Tidak ada sejarah yang pasti mengenai kapan permainan ini dimulai dan siapa
yang menciptakan. Penamaan ular naga juga dikarenakan permainan ini melibatkan
sekelompok anak yang berbaris memanjang yang mirip dengan naga. Biasanya
permainan ini dimainkan saat malam hari saat bulan purnama. Semakin banyak anak
yang memainkannya maka akan semakin seru.
Permainan ini memiliki banyak nama lain di berbagai daerah di Indonesia. Di
Sulawesi Utara, permainan ini dinamakan dengan Slepdur. Anak-anak Betawi
mengenal permainan Ular naga dengan nama Wak Wak Kung dan memiliki lirik lagu
yang berbeda untuk dinyanyikan serta dimainkan sejak zaman penjajahan Belanda. Di
Jawa Tengah, permainan ini dikenal dengan nama Ancak-ancak Alis dengan lirik lagu
yang berbeda pula. Di Jawa Timur bernama Sledor, di Bali bernama Curik-Curik, di
Madura bernama dor-Sledor, di Palopo, Sulawesi Selatan bernama toko-toko dian dan
anak-anak Sunda mengenalnya dengan nama Oray-orayan.
B. Pengertian Ular Naga
Ular naga adalah salah satu jenis permainan tradisional yang bersifat turun-
temurun. Tidak diketahui kapan tepatnya permainan tradisional ular naga ini terbentuk.
Berdasarkan buku yang berjudul Folklor Betawi, permainan ular naga berasal dari
Jakarta karena daerah asal permainan ini adalah dari provinsi tempat bernaungnya
keturunan Betawi. Permainan tradisional ini memiliki nama yang berbeda-beda di
setiap daerah.
C. Cara Bermain Ular Naga
1. Media Permainan Ular Naga
a. Pemain berjumlah 5-10 orang
b. Lagu untuk mengiringi permainan. Untuk lagu dalam permainan ular naga
biasanya menyanyikan lagu ular naga. Namun, lagu tersebut dapat dirubah
sesuai dengan keinginan dari para pemain tersebut. berikut adalah lirik dari
lagu ular naga :
Versi 1 :
“Ular naga panjangnya bukan kepalang Menjalar-jalar selalu kian kemari
Umpan yang lezat itulah yang dicari Ini dianya yang terbelakang”.
Versi 2 :
”Ular naga panjangnya bukan kepalang Berjalan-jalan selalu riang kemari
Umpam lezat inilah yang dicari Itu dianya yang dibelakang”.
2. Cara Bermain Permainan Ular Naga
Pada awal mula anak-anak berkumpul menjadi satu barisan, diantara barisan
tersebut dipilih tiga anak yang bertubuh besar. Dua dari mereka akan menjadi
gerbang dengan saling berpegangan tangan ke atas seperti membuat terowongan,
dan satunya akan menjadi induk bagi barisan anak-anak lainnya. Yang menarik dari
permainan ular naga adalah ketika anak-anak berbaris melewati gerbang, mereka
menyanyikan lagu ular naga.
Setiap lagu selesai akan ada satu anak yang tertangkap, tidak harus yang paling
belakang barisan, asalkan lagu selesai di bagian anak yang tepat di bawah gerbang.
Setelah tertangkap, kedua penjaga gerbang akan menanyakan kepada anak yang
tertangkap. Jika dia menjawab salah maka sudah diputuskan dia harus berdiri di
belakang gerbang yang kanan atau kiri. Begitu seterusnya sampai sang induk
kehabisan barisan dan permainan selesai. Dan kemudian permainan akan diulangi
membentuk ular naga baru.
D. Manfaat Bermain Ular Naga
Banyak sekali manfaat yang di dapatkan dari permainan ular naga. Berikut
adalah beberapa manfaat positif yang dapat kita ambil khususnya bagi anak-anak yaitu:
1. Dalam permainan ular naga selain terdapat kegembiraan bersama
2. Permainan ini juga mengajarkan untuk bersosialisasi dan kekompakan,
3. Saling membantu agar tidak terlepas gerak meliuk sang ular naga.
4. Saat berbaris menyerupai naga, anak-anak diajarkan untuk disiplin dalam antrian.
Tidak perlu berdesakkan karena mereka akan mendapat gilirannya.
5. Melatih anak disiplin dan tahu aturan hukum, sehingga jika bersalah harus bisa
menerima konsekuensi dari kesalahannya.
E. Aspek Yang Dikembangkan Dalam Permainan Ular Naga
Saat menyanyikan lagu ular naga, dapat membantu melatih kemampuan dasar
anak dan meningkatkan kemampuan mereka dalam memahami dan mengikuti arah.
Lagu anak mempercepat kesadaran fonetik, yaitu ilmu yang mempelajari bunyi bahasa
yang diproduksi oleh manusia sebagai pembeda makna dalam suatu bahasa yang
meningkatkan pemahaman anak terhadap kata, membaca, dan kemampuan menulis.
Terdapat nilai yang terkandung dalam permainan tradisional ular naga, yaitu
kita diajarkan untuk menghargai apa yang kita miliki dan orang lain, menjadi pemimpin
yang baik bagi diri sendiri dan orang lain untuk mencapai kehidupan yang harmonis.
F. Eksistensi Permainan Ular Naga
Saat ini permainan tradisional sudah sangat jarang dimainkan oleh anak-anak,
bahkan sudah mulai ditinggalkan dan dilupakan. Pada zaman sekarang, terjadinya
kesenjangan sosial antara masyarakat ekonomi menengah ke bawah dengan menengah
ke atas berdampak pada anggapan bahwa permainan tradisional hanya untuk kalangan
menengah ke bawah. Hal ini membuat permainan tradisional kurang disegani oleh
anak-anak daerah perkotaan.
Anak-anak cenderung lebih memilih permainan modern seperti yang ada di
ponsel. Padahal, dalam permainan tradisional tersimpan makna untuk menumbuhkan
kebersamaan dengan anak di lingkungan sekitar. Dan di dalam permaian tradisonal
tertentu terdapat nilai sejarah yang dapat memberi pengetahuan kepada anak.
DAFTAR PUSTAKA
Rahman, Silvi Afrita. Desember 2017 "Permainan Tradisional Ular Naga" Periksa nilai
|url= (bantuan). Belajarcerita.com. Diakses tanggal 14 Oktober 2022.
Kumparan (26 Agustus 2021). "Permainan Ular Naga dan 2 Permainan Jadul Indonesia
yang Seru untuk Dimainkan". Kumparan.com. Diakses tanggal 14 Oktober
2022.
Buol, Ronny Adolof (5 Mei 2016). "Ini 9 Permainan Tradisional Anak di Sulawesi
Utara". Kompas.com. Diakses tanggal 14 Oktober 2022.
Naibaho, Yeni (7 Juli 2018). "Permainan Wak Wak Kung". BudayaIndonesia.org.
Diakses tanggal 14 Oktober 2022.
Chaca, Tata (25 Oktober 2018). "7 Olahraga dan Permainan Tradisional Jawa Tengah
Serta Cara Bermainnya". Silontong.com. Diakses tanggal 14 Oktober 2022.
PERMAINAN TRADISIONAL
CUBLAK-CUBLAK SUWENG
A. Sejarah dan Pengertian Cublak-Cublak Suweng
Cublak-cublak Suweng merupakan suatu lagu atau tembang anak yang
dinyanyikan dalam permainan atau dolanan Cublak-cublak suweng dan biasanya
dimainkan oleh anak-anak khusunya di pulau Jawa (Machfauzia, 2019). Tembang
Dolanan cublak-cublak suweng dulunya digunakan R. Ainul Yaqin atau yang lebih
dikenal sebagai Sunan Giri (Susiliarni, 2018). Sunan Giri adalah nama salah seorang
Wali Sanga penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-16 dan pendiri kerajaan
Giri Kedaton, yang berkedudukan di Jawa Timur. Sunan Giri memiliki beberapa nama
panggilan, yaitu Raden Paku, Raden Muhammmad Ainul Yaqin, dan Jaka Samudra.
Sampai saat ini eksistensi cublak-cublak suweng masih terjaga di tengah derasnya arus
globalisasi dan maraknya permainan online. Dalam penyebaran agama Islam Sunan
Giri dikenal dengan kedekatan dakwahnya dengan anak-anak. Metode dakwah Sunan
Giri anak-anak dididik dan dikenalkan agama Islam dengan menggunakan permainan-
permainan yang lekat dengan nilai pedagogi dan nilai agama (Susiliarni, 2018).
Menurut Ki Hadisukato dalam (Machfauzia, 2019) permainan tradisional dapat
diklasifikasikan menjadi 5, dan cublak cublak suweng termasuk ke permainan yang
mengandalkan/meatih kemampuan musikal anak. Dengan adanya tembang dolanan
tersebut para pemain dapat belajar sekaligus bermain, sehingga memudahkan proses
penyebaran ajaran Islam kepada masyarakat pada saat itu khususnya untuk anak- anak.
Secara etimologi Cublak memiliki arti sebuah wadah atau tempat dan Suweng
sendiri memiliki arti perhiasan subang/anting-anting yang dikenakan di telinga oleh
wanita Jawa. Maka dapat diartikan Cublak suweng merupakan tempat harta berharga
wadah anting-anting serta perhiasan-perhiasan lain. Pada masanya suweng atau
perhiasan emas umunya hanya mampu dimiliki oleh kaum wanita bangsawan Jawa.
Emas sering dianggap sebagai simbol kekayaan dan kebahagiaan batin, ini merupakan
fenomena yang materialistis dan dapat membawa manusia memiliki sifat hedonisme.
Melalui tembang dolanan Cublak-cublak suweng persepsi mengenai kekayaan dan
kebahagian batin diubah secara perlahan melalui pemahaman akan kebahagiaan yang
sesungguhnya memiliki berbagai macam bentuk dan dapat dengan mudah dapat
ditemui di sekitar kehidupan tidak hanya dalam bentuk materi. Untuk lebih jelas arti
lirik dan kandungan nilai filosofis yang terdapat dalam tembang dolanan Cublak-cublak
Suweng akan dibahas pada sub bab selanjutnya.
Lirik dan nilai-nilai filosofis
Tembang dolanan Cublak-cublak Suweng merupakan salah satu permainan
anak-anak Jawa untuk bermain sekaligus bersenang-senang dalam mengisi waktu luang
serta sarana anak-anak untuk berkomunikasi dengan teman sebayanya. Tembang
dolanan anak adalah media bermain yang di sesuaikan dengan perkembangan pribadi
anak yang masih lekat dengan dunia permainan. Namun bukan berarti permainan
tradisional hanya memiliki satu fungsi saja seperti mengisi waktu luang dan bersenang-
senang, lebih dari itu Tembang dolanan Cublak-cublak Suweng memiliki makna
religiusitas dan nilai filosofis dibalik setiap syair-syair lagunya. Berikut ini adalah lirik
sekaligus terjemahan lirik ke dalam bahasa Indonesia.
Cublak-cublak suweng Tempat tempat anting
Suwenge ting gelenter Antingnya ada dimana-mana
Mambu ketundung gudel Baunya diincar anak kerbau
Pak Empong lera-lere Orang tua ompong cengar cengir
Sapa guyu ndele ake Siapa yang tertawa menyembunyikannya
Sir-sir pong dele kopong Cangkang kedelai kosong
Dari terjemahan lirik dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia secara
harafiah mungkin akan sulit untuk memahami nilai dan makna yang terkandung dalam
syair -syair tersebut. Oleh karena itu diperlukan interpretasi tiap-tiap lirik baik dari segi
metafor dan penelaahan secara filosofis.
Cublak-cublak suweng (tempat-tempat anting) perhiasan anting-anting
merupakan salah satu wujud benda berharga yang poada masanya mampu
menggambarkan status sosial seseorang baik dari kekayaan, jabatan, dan pangkat dan
pada masa itu emas dalam kaitan ini perhiasan anting anting bahkan mampu
menggambarkan tingkat kebahagiaan seseorang. Sedangkan cublak sebagai tempat
perhiasan dalam konteks ini tempat dapat diartikan sebagai wadah harta yang
sesungguhnya adalah bagaimana cara orang menyikapi hal-hal yang ada disekitarnya
menjadi suatu kebahagiiaan tanpa memaksakan mendapatkan keinginan yang berasal
dari dalam diri manusia, dalam pemahaman masyarakat Jawa harta yang sesungguhnya
bukanlah hal-hal keduniawian melainkan hal-hal yang bersifat batin seperti ketenangan
hidup, keluarga, dan yang lebih jauh lagi adalah kebahagiaan menjalin hubungan
dengan Tuhan Yang Maha Esa. Jadi dalam lirik. Cublak-cublak suweng anak anak
dididik untuk memahami dirinya sebagai tempat yang hakikatnya tubuh sebagai wadah
yang menampung kekayaaan dan kebahagiaan batin.
Suwenge ting gelenter (Antingnya ada dimana-mana) dapat diinterpretasikan
subang sebagai simbol harta yang diinginkan oleh manusia sebenarnya sudah ada dan
berserakan disekitar kehidupan manusia tersebut. Harta yang berharga tersebut telah
ada sedari lahir dan mengelilingi kehidupan manusia, harta yang dimaksud disini bukan
hanya perhiasan namun lebih ke hal yang bersifat sosial, batin, dan religiusitas. Dapat
dimaknai bahwa pada intinya manusia telah terlahir memiliki kekayaan namun hawa
dan nafsu membuat manusia lupa bahwa letak kebahagiaan itu berada disekitar manusia
seperti cinta, keluarga, sahabat, dsb. Tujuan lirik Suwenge ting gelenter agar anak-anak
lebih peka dan pandfai bersyukur menerima kekayaan yang ada sehingga dari rasa
nrimo yang diagunngkan oleh orang Jawa dapat terimplementasi kedalam jiwa anak
sedari dan sedini mungkin.
Mambu ketundung gudel (Baunya diincar anak kerbau) pada pemahaman
masyarakayt Jawa gudel atau anak kerbau adalah hewan yang tidak pandai atau secara
negatif diartikan sebagai hewan yang bodoh. Karena hidup kerbau ketika hidungnya
telah dicucuk oleh tali maka kemanapun pemilik membawanya kerbau tersebut hanya
akan mengikuti tanpa tau arah dan tujuan sebenarnya. Dapat diinterpretasikan bahwa
seorang manusia hendaknya menjadi seseorang yang terpelajar agar terhindar dari sifat-
sifat negatif yang dimiliki oleh hewan pada konteks ini adalah anak kerbau. Kini
manusia lebih sering mencari harta yang bersifat keduniawian daripada harta sejati.
Manusia mencari harta dengan penih nafsu yang tidak terkontrol layaknya hewan, ego,
keserakahan hanya untuk mencari kekayaan finansial dan berharap mendapat
kebahagiaan. Dari lirik ini anak-anak diharapkan untuk tidak terlalu bernafsu dalam
mencari harta dan dapat melihat esensi dari harta sejatri yang akan mengantarkan ke
ketenangan dunia maupun akhirat.
Pak Empong lera-lere (Orang tua ompong cengar cengir) dapat
diinterpretasikan bahwa orang bodoh diibaratkan orang tua ompong yang kebingungan
walaupun memiliki kekayaan yang berlimpah namun masih saja merasa kurang dengan
apa yang telah diperoleh. Orang tua ompong tersebeut kini dapat dilihat dari orang-
orang yang meliliki harta yang melimpah namun miskin dalam kebahagiaan batin
karena harta yang diperoleh melalui cara cara yang tidak sesuai dengan norma-norma
seperti korupsi, menipu, dsb. Dari lirtik ini Anak-anak diharapkan dapat memahami
bahwa harta yang sejati dan kebahagiaan sejati tidak akan bisa didaptkan dengan nafsu,
dan keserakahan. Tujuannya agar ketika anak-anak kelak dewasa dapat memperoleh
kekayaan dengan cara yang sesuai norma dan tidak melupakan esensi kekayaan yang
sejati.
Sapa guyu ndele ake (Siapa yang tertawa menyembunyikannya) lirk ini dapat
diinterpretasikan bahwa seseorang yang berbahagia adalah orang yang memiliki dalam
konteks ini menyembunyikan harta sejati miliknya. Di lirik ini setiap orang diajak untuk
berbahagia bagaimanapun kondisi hidupnya dan tidak memamerkan kekayaan yang
dimiliknya. Dalam pemahaman masyarakat Jaawa pamer atau umuk hanya akan
menjadikan diri ora umum atau membawa seseorang untuk hidup yang berlebih-
lebihan. Kekayaan sejati hendaknya disimpan dalah wadah atau cublak sehingga
seseorang dapat memaknai apa yang telah dimiliknya dan mengalihkan hawa nafsu
serta rasa serakah.
Sir-sir pong dele kopong (Cangkang kedelai kosong) lirik ini dapat
diinterpretasikan harta yang sejati terletak didalam batin dan kelembutan sir/hati nurani
yakni rasa bahagia, kerendahan hati, dan kekayaan ilmu yang bermanfaat. Kedelai
kopong menggambarkan dalam wadah yang kosong dari angkara maka kebagfiaan akan
menempati wadah tersebut. Mereka yang meiliki kekayaan sejati dihimbau untuk
bernempilan seperti kedelai yang sederhana namun mempunyai kegunaan bagi hidup
orang lain. Pada lirik ini anak-anak diajarkan untuk mrngosongkan diri dari segala
angkara yang ada di dunia den senatiasa mengasah sir atau hati nurani dengan tujuan
meiliki sifat yang tidak dipengaruhi nafsu.
B. Cara Bermain Cublak-Cublak Suweng
Permainan cublak-cublak suweng dimainkan oleh 5-6 anak yang membentuk
melingkar mengelilingi anak yang tengkurap. Sebelum permainan dimulai harus
hompimpah terlebih dahulu karena pemain yang kalah ketika suit (hompimpah) adalah
menjadi pemain yang dadi atau harus duduk tengkurap (seperti posisi sujud dalam
sholat) atau disebut dengan Pak Empo. Pemain yang lain mengelilinginya dengan satu
tangan menengadah di atas punggung Pak Empo dan menyanyikan lagu cublak-cublak
suweng.
Orang yang memimpin permainan menggenggam batu kecil (subang) sambil
mengitari tangan pemain yang menengadah dan sesekali berhenti sejenak di tangan
salah satu pemain (untuk mengelabui pemain dadi atau Pak Empo) pada saat berputar,
batu kecil (subang) tersebut dipindahtangankan dengan gerakan yang sangat halus dari
salah satu tangan pemain ke pemain yang lain. Batu kecil (subang) tersebut mengitari
tangan pemain sampai lagu cublak-cublak suweng selesai dinyanyikan. Pada bait
terakhir yaitu “sir-sir pong dele kopong” Pak Empo bangun dan menebak yang
membawa batu kecil (subang). Pemain yang terakhir memperoleh batu kecil akan
menyembunyikan di genggaman tangan dengan erat. Semua pemain juga pura-pura
memegang batu kecil (subang) di tangan kanan dan kirinya dengan tertutup rapat seperti
sedang menggegam sesuatu, perilaku tersebut dimaksudkan untuk mengecoh Pak Empo
yang sedang mencari batu kecil (subang). Setiap pemain mengacungkan jari
telunjuknya dan menggesek-gesekkan telunjuk kanan dan telunjuk kiri seperti sedang
mengiris. Semua pemain menyanyinyakan “sir-sir pong dele kopong” secara berulang-
ulang sampai Pak Empo menunjuk salah seorang yang menyembunyikan batu kecil
(subang).
Ketika Pak Empo menebak batu kecil (subang) yang disembunyikan, jika
tebakan Pak Empo salah maka dimulai dari awal lagi. Pak Empo akan menjadi pemain
yang tengkurap lagi dan permainan diulangi kembali. Sedangkan jika tebakan Pak
Empo benar, maka pemain yang tertebak akan bergantian menjadi Pak Empo.
Permainan akan berakhir ketika mereka sepakat menyelesaikannya.
C. Aturan Permainan Cublak-Cublak Suweng
1. Permainan ini harus melibatkan banyak anak (6-8 anak).
2. Memainkannya harus tengkurap diatas lantai.
3. Orang yang menjadi dadiatau tengkurap harus memejamkan mata saat bermain dan
sujud. Tidak boleh membuka mata saat permainan.
4. Ketika permainan selesai pemain yang lain wajib untuk mengikuti instruksi dari
pemain yang dad.
D. Manfaat Permainan Cublak-Cublak Suweng
1. Membentuk Nilai-nilai Karakter
Marwanti dkk (2018: 252) Pembentukan karakter seseorang dapat juga
dibangun melalui seni musik. Hal ini dibuktikan dari beberapa lagu seperti
Gundhul-gundhul pacul, Jamuran, Cublak-cublak suweng mampu membangun
kerukunan masyarakat.
2. Pemilihan Ketua Kelompok (Metode Pembelajaran Kelompok)
Ketua kelompok memiliki peran penting dalam mengatur dan menggerakkan
anggota di dalam kelompok, ketua kelompok juga memiliki peran penting dalam
memotivasi anggotanya, oleh sebab itu banyak anak-anak, bahkan orang dewasa
yang malu, tidak yakin, atau takut menjadi ketua kelompok, oleh sebab itu sebagai
guru kita harus mencari alternatif lain agar siswa mau menjadi ketua kelompok,
salah satunya dengan cara memainkan permainan sublak-sublak suweng yang mana
salah satu yang tertebak benar memegang batu maka Ia akan menjadi ketua
kelompok.
3. Melatih Konsentrasi, Kejujuran, dan Kebersamaan
Seorang yang menjadi pak Empong yang tengkurap tidak hanya terdiam
melamun, tetapi harus berkonsentrasi agar dapat merasakan gerakan tangan di atas
punggunggnya yang menandakan keberadaan suweng, selain itu pak Empong juga
harus cerdas dalam melihat gerak gerik serta mimik wajah temannya agar Ia dapat
mudah menebak teman yang menyimpan suweng. Selain itu teman yang tidak
menjadi pak Empong juga diajarkan untuk jujur, dan sportif untuk mengakui
dimana keberadaan suweng yang diedarkan tadi.
4. Mengaktifkan Antusias Siswa
Siswa khususnya siswa SD sangat tidak menyukai pembelajaran yang terlalu
pasif, sehingga mereka membutuhkan suatu alat atau rangsangan agar mereka
menjadi semangat. Dalam implementasinya dalam kegiatan awal, guru dapat
mengajak siswa bermain dahulu sebelum masuk kedalam pembelajaran agar siswa
diawal pembelajaran sudah memiliki semangat dan motivasi. Dalam proses
pembelajaran, siswa terkadang, bahkan sering merasa bosan, dan selalu
menyalurkan energinya kedalam kegiatan atau perilaku yang negatif, misalnya
mengganggu teman, dan jalan-jalan di kelas tanpa arah dan tujuan yang jelas,
sehingga mengganggu proses pembelajaran, oleh sebab itu guru harus mencari cara
agar siswa dapat menyalurkan energinya tersebut kedalam kegiatan yang positif dan
dapat memotivasi mereka juga, salah satunya dengan memainkan permainan
Sublak-sublak Suweng
E. Aspek Yang Dikembangkan Dalam Permainan Cublak-Cublak Suweng
Aspek yang dikembangkan dalam permainan ini meliputi aspek kognitif, motoric,
sosial-emosional.
1. Aspek kognitif
Seorang pak yang jasi (Pak Empo) yang tengkurap tidak hanya terdiam melamun,
tetapi harus berkonsentrasi agar dapat merasakan gerakan tangan di atas
punggungnya yang menandakan keberadaan subang, selain itu Pak Empo juga
harus memperhatikan gerak-gerik serta mimic wajah temannya agar ia dapat mudah
menebak teman yang menyimpan subang..
2. Aspek motorik
Permainan ini mengembangkan ketarampian motorik halus saat anak
memindahtangankan subang (batu kecil) dengan gerakan yang sangat halus dari
saru pemain ke pemain lain.
3. Aspek sosial-emosional
Anak diajarkan untuk bersabar ketika menjadi (Pak Empo) saat tebakannya
salah.selain itu teman yang tidak menjadi Pak Empo juga diajarkan untuk jujur,
sportif, untuk mengakui dimana keberadaan subang yang diedarkan
F. Ekistensi Permainan Cublak-Cublak Suweng
Permainan cublak – cublak suweng merupakan suatu lagu atau tembang dolanan
anak. Permainan ini biasanya dilakukan oleh anak laki – laki dan perempuan.
Permainan ini dahulu bisanya dimainkan pada sore hari terlebih atau saat bulan
purnama. Unntuk saat ini permainan cublak – cublak suweng sudah jarang dimainkan
oleh anak – anak dikarenakan adanya perkembangan perubahan zaman. Dikarenakan
adanya perkembangan dunia internet semakin canggih dan maju, permainan ini agak
tersingkirkan
DAFTAR PUSTAKA
Machfauzia, A. N. (2019). Songs of Dolanan Anak As Improvement of 21st Century Skills.
WOL2SED, 1-9.
Marwanti, Endah dkk. 2018. Implementasi Penanaman Karakter Anak Dalam Syair Lagu Dolanan
Anak “Cublak-Cublak Suweng”. Jurnal Taman Cendekia, 2 (2), 252
Sujarno, dkk. 2013. Pemanfaatan Permainan Tradisional dalam Pembentukan Karakter Anak.
Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya
Susilarini. 2018. Mengenal Wali Sanga. Surakarta: CV Seti Aji.
PERMAINAN TRADISIONAL DAKON
A. Sejarah dan Pengertian Permainan Dakon
1. Sejarah permainan Dakon
Dakon dikenal sebagai alat permainan tradisional yang umumnya dimainkan
oleh anak perempuan, dengan menggunakan papan dakon dan biji dakon. Menurut
Hapidin (2016) bahwa permainan tradisional merupakan bentuk ekspresi dan
apresiasi dari tradisi masyarakat dalam menciptakan situasi serta kegiatan yang
gembira dan menyenangkan. Dakon dalam bentuk dan desain berbahan material
batu, fungsi dakon pun berubah menjadi sesuatu yang sifatnya sakral dan keagaman.
Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah sebuah benda atau wadah digunakan untuk
penyajian sesajen oleh kepercayaan Hindu dalam upacara ritual keagaman.
Berdasarkan penelusuran, diketahui bahwa di beberapa kawasan Indonesia
seperti daerah sekitar Bogor (Jawa Barat), ditemukan sebuah dakon dengan bahan
material dari batu. Penggunaan nama dakon pada batu tersebut dijelaskan oleh
masyarakat setempat sebagai sarana adat dan kehidupan melalui kegiatan upacara
ritual keagaman.
Menjadi sesuatu yang menarik bahwa hal ini tidak saja ditemukan di sekitar
daerah Bogor namun ditemukan juga di daerah Sulawesi dan dikenal dakon sebagai
alat dalam kegiatan sakral atau keagamaan. Permainan papan merupakan miniatur
dari waktu dan tempat (Binsbergen,1996). Semenjak jaman Neolithikum setelah
manusia melewati masa berburu menjadi bercocok tanam dan mulai mempunyai
pembagian daerah yang berbatas, permainan papan menjadi sebuah piranti yang
pemaknaan antara manusia dengan lingkungan fisiknya maupun lingkungan
sosialnya. Sebagian masyarakat mengenal fungsi dakon sebelum dakon dikenal
sebagai alat permainan di abad ke19, Hindu mempengaruhi budaya Jawa. Adanya
keterkaitan bentuk dan desain yang mempunyai arti simbolik atau penandaan,
antara lain ketika dakon digunakan sebagai simbol ritual keagamaan. Dalam
kaitannya, berdasarkan estetika ketika batu dakon menjadi sebuah benda ritual
keagamaan dengan berbahan dasar batu tanpa dilengkapi corak dan warna dalam
desain dakon, maka masyarakat memberi pemahaman bahwa benda dakon tersebut
menjadi salah satu artefak atau benda arkeologi yang dapat dijadikan sejarah
peninggalan abad Masehi yang dibudidayakan oleh Pemerintahan Indonesia.
Adanya dugaan bahwa dakon adalah alat-alat yang dibuat sesuai dengan
maksud dan tujuan upacara, sehingga gambar-gambar yang ditorehkan pada benda-
benda tersebut memiliki makna kosmologis. Makna kosmologis yang dimaksud
adalah peralatan yang tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dalam hal ini
benda yang terbuat dari batu atau kayu tersebut dengan membentuk adanya
lubanglubang kecil berjumlah lebih kurang delapan buah dengan diameter 6 cm
hingga 7 cm mengelilingi bidang batu dakon (dikenal dengan sebutan watu dakon).
Hal ini menjadikan penggunaan watu dakon berlangsung sepanjang kehidupan
masyarakat yang ditandai oleh tiga peristiwa antara lain arkeologi (yang mana watu
dakon dibudidayakan pemerintah Indonesia menjadi benda artefak) peninggalan
sejarah, permainan dan benda dekorasi ruangan. Berdasarkan pendekatan geografis,
dakon kemudian menyebar keseluruh Negara. Salah satunya Negara Afrika, dikenal
sebagai alat penghitung dalam kegiatan berdagang melalui proses pemakaian
dengan menghitung dan mengambil batu kecil yang diletakkan pada setiap lubang
dakon. Beberapa kelompok masyarakat menduga bahwa permainan dakon berasal
dari Timur Tengah yang kemudian tersebar ke beberapa Negara di Afrika.
Kemudian, dakon menyebar ke Negara Asia melalui pedagangan Arab dan
kedatangan Karibia sekitar tahun 1640 melalui perdagangan Afrika. Dakon yang
paling umum adalah dengan sebutan namaMancala. Diduga beberapa negara Afrika
Barat mengenal dakon dengan sebutan Warri atau Awari, yang artinya adalah
rumah. Di negara Asia, masyarakat Malaysia mengenal dakon dengan sebutan
congklak.
2. Pengertian Permainan Dakon
Permainan tradisional adalah bentuk ekspresi dan apresiasi dari tradisi
masyarakat setempat dan sesuai dengan adat disuatu tempat dengan tujuan
menciptakan kegiatan yang menyenangkan dan menggembirakan. Permainan
tradisional ini dapat memberikan nilai yang positif bagi masyarakat, dengan melalui
permainan tradisional setiap anggota masyarakat dapat berkumpul, berinteraksi dan
berekspresi, baik secara fisik, mental serta emosi. Hal tersebut dapat menimbulkan
efek positif bagi membangun karakter anak. Permainan tradisional memiliki
berbagai jenis macamnya, contohnya: congklak/dakon.
Permainan tradisional dikenal juga sebagai permainan rakyat, dimana
kegiatan ini memiliki banyak tujuan seperti memelihara keharmonisan,
kekeluargaan, dan juga kerukunan, bukan hanya srbagai penghibur diri semata.
Permainan tradisional ini juga ikut andil dalam membentuk karakter anak, karena
dalam permainan tradisional ini anak harus dapat berfikir dengan baik, berinteraksi
dengan sesama, dan juga masih banyak lagi. Dalam kenyataannya permainan
tradisional dapat mendorong anak agar berinteraksi dengan sosial. Melalui
permainan tradisional anak dapat meningkatkan kepercayaan dan menjalin
kerjasama antar teman. Anak juga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan agar
dapat beradaptasi serta menjalin komunikasi dengan orang lain. Permainan
tradisioanl dapat memberikan dampak positif bagi anak karena melatih sikap dan
perilaku peserta didik dalam meningkatkan karakter anak MI/SD. (Pratiwi &
Fuadah Z, 2020) .
Permainan dakon merupakan permainan papan tradisional yang cukup
populer pada zaman dulu yang dimainkan di Indonesia dan di negara-negara lain.
Dakon dimainkan dua orang dengan menggunakan sebuah papan dakon dan biji-
bijian untuk dipindahkan ke lubang-lubang pada papan dakon. Tanpa disadari
permainan dakon mempunyai nilai positif pada anak karena dapat mengasah pikir
anak, cekatan dan mengasah kecerdasan anak dalam menghitung. Dalam
memainkan dolanan dakon anak memerlukan strategi agar bisa menang. Anak harus
bisa pandai dalam menanamkan kebaikan, menabung dan mengatur
strategi.(Andayani, 2020).
Permainan dakon ini memiliki nilai positif. Misalnya anak menjadi banyak
bergerak sehingga terhindar dari masalah obesitas anak. Di Indonesia sendiri
permainan dakon mempunyai berbagai macam jenis penyebutan, misalnya:
masyarakat Jawa lebih mengenal permainan ini dengan sebutan, dakon, dhakonan
atau congklak. Di beberapa daerah yang ada di Sumatera yang mempunyai budaya
Melayu, lebih mengenal permainan ini dengan sebutan congkak. Di daerah
Sulawesi permainan dakon ini lebih dikenal dengan beberapa nama yaitu,
Maggaleceng, Mokaotan, Nogarata dan Aggalacang, sedangkan di Lampung
permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban. Permainan dakon ini
hanya boleh dimainkan 2 orang saja. Ada 2 bahan yang digunakan dalam permainan
ini yang pertama yaitu papan dakon yang memiliki 16 lubang sebagai wadah dan
terdapat 7 lubang masing-masing sisi dan 1 lubang dikedua ujung papan. Yang
kedua menggunakan sebanyak 98 biji-bijian.(Lacksana, 2017, pp. 110–111).
B. Alat Yang Digunakan
Alat yang digunakan untuk bermain dakon awalnya terbuat dari kayu
dengan panjang 50 cm, lebar 20 cm dan tebalnya 10 cm. Bagian atas kayu diberi
lubang kurang lebih 5 cm dan untuk diameternya adalah 3 cm. Namun seiring
berjalannya waktu papan Dakon yang digunakan saat ini kebanyakan menggunakan
plastik. Jumlah lubang yang ada dalam papan Dakon sebanyak 12 buah. Permainan
ini juga dilengkapi dengan biji sawo kecil, jumlah biji dakon yang ada bisa
disesuaikan dengan ketentuan masing-masing pemain. Setiap pemain mempunyai
lubang atau dikenal dengan istilah lumbung untuk mengumpulkan biji sawo
tersebut yang berada pada sisi kiri mereka.
C. Cara Bermain Dakon
Cara Main Dakon :
1. Taruh 7 biji pada masing-masing lubang, dan biarkan lubang besar disebelah
kanan dan kiri tetap kosong karena itu adalah rumah para pemain
2. Dua pemain berhadapan dan melakukan suit, pemain yang memenangkan suit
dapat memilih satu lubang yang sudah diisi biji pada sisi bagiannya
3. Pemain berarah searah jarum jam mengelilingi papan dakon dan menaruh 1 biji
pada masing-masing lubang yang dilewati, saat biji terakhir jatuh pada:
lubang yang ada bijinya, maka ambil semua biji dan lanjutkan permainan
dengan cara yang sama
lubang yang tidak ada bijinya, maka ambil biji pada lubang lawan sisi dan
letakkan dalam rumah (lubang besar kanan atau kiri) yang sudah disepakati
sebelumnya. Namun pemain “mati” dan giliran lawannya bermain
rumahnya sendiri maka pemain dapat melanjutkan permainan dengan memilih
salah satu lubang yang berisi biji dakon secara acak.
4. Permainan selesai jika semua lubang kecil sudah kosong
5. Permainan dimenangkan oleh pemain yang biji didalam rumahnya memiliki
jumlah lebih banyak. Permainan dakon berlangsung cukup lama dan memakan
waktu untuk itu dirasa efektif karena dilakukan dalam satu waktu namun
berulang-ulang.(Silfiyah, 2017, pp. 88–899).
D. Aturan Permainan Dakon
1. Anak-anak mempersiapkan dakon dengan cara menyimpan biji/batu di setiap
lekukan sebanyak 7 buah.
2. Setelah semuanya siap anak sesuai dengan jumlah batu yang dimiliki
3. Pemain yang pertama kali berhenti, maka dia akan dikatakan berhenti dan dia
harus menghentikan permainannya dan menunggu giliran pemain lain bermain
dakon.
4. Permainan ini dilanjutkan secara terus menerus dengan memindahkan satu batu
ke batu lainnya. setiap lekukan lubang dakon hanya diperbolehkan diisi satu
batu.
5. Permainan akan berhenti apabila biji dakon yang ada di arena l telah habis
disimpan di gunung/ibu lubang dakon. Gunung tersebut merupakan tempat
menyimpan biji dakon dari peserta.
E. Manfaat Permainan Dakon
Pada dasarnya setiap permainan tradisional memiliki manfaat terhadap
perkembangan diri anak, manfaat itu didapat anak setelah mereka melakukan
permainan tradisional. Berikut manfaat dari permainan dakon bagi anak anak:
1. Anak mampu memecahkan masalah sederhana
Dalam permainan dakon seorang anak memiliki permasalahan saat
permainan harus dimulai, dimana permasalahanya adalah anak harus
menghabiskan biji-biji dakon yang terdapat dalam lubang. Permasalahan akan
selesai ketika anak menyelesaikan permainan sampai biji-biji dakon yang di
lubang kecil papan dakon sudah habis dan tidak tersisa lagi. Anak juga
melakukan perhitungan biji dakon pada akhir permainan agar diketahui pemain
yang menang dan kalah.
2. Melatih kemampuan berhitung anak
Dalam permainan dakon anak diajak bermain sambal berhitung. Saat
melakukan permainan dakon anak secara tidak langsung melatih kemampuan
berhitungnya dengan menggunakan biji dakon. Hal ini terlihat pada saat anak
menyebar biji dakon sambil berhitung ke seluruh lubang, kecuali rumah lawan.
3. Anak dapat memahami benda sesuai dengan fungsinya
Melalui permainan dakon, anak dapat belajar memahami fungsi lubang
dan biji pada papan dakon. Dimana anak-anak dapat memahami bahwa lubang
pada papan dakon adalah tempat peletakan biji-biji permainan dakon.
4. Anak mampu membedakan benda besar dan kecil
Dalam permainan dakon anak diajak membedakan ukuran besar dan
kecil pada lubang dakon. Ketika anak bermain mereka diajak untuk dapat
menunjukkan lubang dakon yang kecil pada 7 lubang setiap sisi pemain dan 1
lubang besar yang dinamakan lumbung atau rumah pemilik masing-masing
pemain tersebut. Dengan dapat membedakan benda besar dan kecil menurut
fungsinya masing-masing.
F. Aspek Yang Dikembangkan
1. Kesadaran personal
Permainan yang kreatif memungkinkan perkembangan kesadaran
personal. Bermain mendukung anak untuk tumbuh secara mandiri dan
memiliki kontrol atas lingkungannya. Melalui bermain dakon, anak dapat
menemukan hal yang baru, bereksplorasi, meniru, dan mempraktikkan
kehidupan sehari-hari sebagai sebuah langkah dalam membangun
keterampilan menolong dirinya sendiri, keterampilan ini membuat anak
merasa kompeten.
2. Pengembangan Emosi
Melalui bermain dakon, anak dapat belajar menerima, berekspresi
dan mengatasi masalah dengan cara yang positif. Bermain juga memberikan
kesempatan pada anak untuk mengenal diri mereka sendiri dan untuk
mengembangkan pola perilaku yang memuaskan dalam hidup.
3. Membangun Sosialisasi
Bermain memberikan jalan bagi perkembangan sosial anak ketika
berbagi dengan anak lain. Bermain adalah sarana yang paling utama bagi
pengembangan kemampuan bersosialisasi dan memperluas empati terhadap
orang lain serta mengurangi sikap egosentrisme. Bermain dapat
menumbuhkan dan meningkatkan rasa sosialisasi anak. Melalui bermain
anak dapat belajar perilaku prososial seperti sabar menunggu giliran untuk
bermain.
4. Pengembangan Komunikasi
Bermain merupakan alat yang paling kuat untuk membelajarkan
kemampuan berbahasa anak. Melalui komunikasi inilah anak dapat
memperluas kosa kata dan mengembangkan daya penerimaan serta
pengekpresian kemampuan berbahasa mereka melalui interaksi dengan anak-
anak lain dan orang dewasa pada situasi bermain spontan.
5. Pengembangan Kognitif
Bermain dapat memenuhi kebutuhan anak untuk secara aktif terlibat
dengan lingkungan, untuk bermain dan bekerja dalam menghasilkan suatu
karya, serta untuk memenuhi tugas-tugas perkembangan kognitif lainnya.
Selama bermain, anak menerima pengalaman baru, memanipulasi bahan dan
alat, berinteraksi dengan orang lain dan mulai merasakan dunia mereka.
Bermain menyediakan kerangka kerja pada anak untuk mengembangkan
pemahaman tentang diri mereka sendiri, orang lain dan lingkungan.
6. Perkembangan Kemampuan Motorik
Bermain memberikan kesempatan yang luas untuk bergerak pada
anak, pengalaman belajar untuk menemukan, , aktivitas sensori motor,
yang meliputi penggunaan otot-otot besar dan kecil memungkinkan anak
untuk memenuhi perkembangan perseptual motorik.
DAFTAR PUSTAKA
Devi puspita, S. H. (2021, Januari). PERMAINAN DAKON DALAM
MENGEMBANGKAN KOGNITIF ANAK USIA 5-6 TAHUN. Jurnal kajian
pendidikan dan keguruan, 1, 49-70.
Hasanah, U. (2016). Pengembangan Kemampuan Fisik Motorik Melalui Permainan
Tradisional Bagi Anak Usia DiniJJ. Jurnal Pendidikan Anak, 2, 118-119.
Ratih Pertiwi, P. a. (2019, Februari). VISUALISASI PERMAINAN TRADISIONAL
DAKON ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0. 2, 279-287.
Rekanita Dyah Ayu Kinesti, N. T. (2021). MELESTARIKAN KESENIAN TRADISIONAL
MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL DAKON UNTUK MENINGKATKAN
KARAKTER ANAK MI /SD. Nusantara : Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, 3(3),
292-294.
Yenti, L. S. (2015). PEMBUATAN PERMAINAN DAKON VIRTUAL. Calyptra: Jurnal
Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, 4(1), 2.
PERMAINAN GOBAK SODOR
A. Pengertian dan Sejarah Permainan Gobak Sodor
1. Pengertian permainan Gobak Sodor
Menurut Ariyanti (2014) Gobag Sodor merupakan permainan yang dilakukan
dalam sebuah arena bujur sangkar yang dibatasi dengan garis kapur, terdiri dua team
dengan masing-masing tiga orang penjaga, satu team bermain sebagai penjaga dan
team lawan bermain sebagai pemain, secara bergantian setiap anggota team pemain
akan berusaha mencapai garis belakang arena (“the door”) dan anggota team
penjaga akan mencegahnya. Jika pemain tersentuh penjaga, maka kedua team
bergantian sebagai pemain dan penjaga.
Gobak artinya bergerak bebas (seperti berlari, berjalan, berputar) dan sodor
artinya watang (tombak yang memiliki mata tombak yang sangat tajam). Permainan
gobak sodor dapat bergerak bebas berlari, berjalan atau berputar agar tidak
tersentuh oleh pemain juga.
Gobak sodor merupakan permainan olahraga beregu yang membutuhkan
kerjasama tim dalam sebuah regu. Selain membutuhkan keterlibatan kerjasama
antar individu dalam sebuah tim, permainan gobak sodor juga merupakan cabang
olahraga yang memiliki unsur gerak yang kompleks. Dalam pelaksanaannya pada
permainan gobak sodor terlibat beberapa unsur penguasaan keterampilan
diantaranya penguasaan teknik, keterampilan taktik, keterampilan disik, serta
mental (Ekayati, Ifa A.S, 2015: 4).
Jadi dapat disimpulkan bahwa gobak sodor atau biasanya disebut galah asin
adalah sebuah permainan tim yang terdiri dari dua tim dalam satu permainan,
dimana masing-masing tim terdiri dari 3-5 orang. Inti permainannya adalah
menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara
bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota tim harus secara
lengkap melakukan proses bolak-balk dalam area lapangan yang telah ditentukan.
Permainan ini sangat menarik, menyenangkan, sekaligus sangat sulit karena setiap
orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin untuk meraik kemenangan.
2. Sejarah permainan Gobak Sodor
Sejarah permainan gobak sodor dikenal pula dengan nama galasin atau galah
asin. Ada beberapa dugaan terkait dengan nama permainan ini. Ada yang menduga
bahwa permainan ini berasal dari Yogyakarta. Dahulu, para prajurit mempunyai
permainan yang bernama sodoran sebagai latihan keterampilan dalam berperang.
Sodor ialah tombak dengan panjang kira-kira 2 meter, tanpa mata tombak yang
tajam pada ujungnya.
Ada dua pendapat tentang asal usul permainan gobag sodor. Pertama,
mengatakan bahwa permainan gobag sodor dari luar negeri yaitu berasal dari bahasa
asing go back to door. Dikarenakan lidah orang Jawa sulit mengucapkan, maka agar
lebih mudah diingat dan diucapkan akhirnya menjadi gobag sodor. Sedangkan
pendapat kedua, mengatakan bahwa permainan tersebut berasal dari dalam negeri
yang terdiri dari dua kata yaitu gobag dan sodor. Gobag berarti bergerak dengan
bebas kemudian menjadi nggobag yang berarti berjalan memutar, sedang sodor
berarti watang yaitu semacam tombak yang memiliki mata tombak yang tajam.
Namun dalam permainan ini sodor adalah penjaga garis sumbu atau garis sodor
yang berada ditengah membelah arena permainan. Garis tersebut digunakan lalu
lintas si odor untuk mempersempit ruang gerak lawan sehingga mudah dimatikan
Awal mula permainan tradisional gobak sodor muncul karena diilhami oleh
pelatihan prajurit kraton yang sedang melakukan perang-perangan yang biasanya
dilakukan di laun-alun. Permainan gobak sodor atau sodoran ini dilakukan di alun-
alun dengan masing-masing pemain, kejar mengejar dengan lawannya dan dengan
sodoran itu berusaha untuk menjatuhkan lawannya.
B. Cara Bermain Gobak Sodor
Pemain dalam kelompok perlu disiapkan sebagai berikut:
a. Penjaga penentu, yang bertugas menjaga lini permainan pada arah melintang dan
membujur. Penjaga penentu inilah yang akan mengatur awal permainan.
b. Garis pertama, bertugas menjaga garis awal melintang.
c. Penjaga garis kedua dan seterusnya mempunyai peranan yang sama.
Berikut adala gambar denah permainan gobak sodor:
Keterangan: Biru = pemain kelompok I, Hitam = pemain kelompok II
Cara bermain gobak sodor
1. Sebelum bermain perlu membuat garis-garis penjagaan dengan kapur atau dengan
alat lain agar terlihat garis-garis penjagaannya, kemudian dibagi menjadi enam
bagian dan diberi garis tengah yang memotong garis-garis tersebut.
2. Membagi para peserta menjadi dua kelompok, satu kelompok terdiri atas 3-5 atau
dapat disesuaikan dengan jumlah peserta. Satu kelompok akan menjadi kelompok
jaga dan kelompok lain menjadi lawan. Penentuan
3. Kelompok yang mendapat giliran jaga akan menjaga lapangan, cara yang dijaga
garis horizontal dan ada yang menjaga garis batas vertikal. Penjaga garis horizontal
tugasnya adalah berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha
untuk melewati garis batas yang sudh ditentukan. Permainan yang menjaga garis
horizontal, sepanjang garis horizontal yang dijaga bisa bergerak ke kanan dan ke
kiri. Bagi yang bertugas untuk menjaga garis vertikal, maka tugasnya adalah
menjaga keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan.
4. Sedangkan tim yang menjadi lawan, haus berusaha melewati baris ke baris hingga
baris paling belakang, kemudian kembali lagi melewati penjagaan lawan hingga
sampai ke baris awal tanpa tersentuh oleh tim jaga.
C. Aturan Permainan Gobak Sodor
1. Hal pertama yang dilakukan adalah membentuk dua kelompok yang terdiri dari 4-
5 orang dalam tiap kelompok. Setiap kelompok memilih satu orang untuk menjadi
kapten tim. Kedua kapten tim kemudian melakukan ping suit, yakni adu jari
menggunakan jari telunjuk, ibu jari, atau kelingking. Tim yang menang yang akan
bermain terlebih dahulu dan tim yang kalah bertugas sebagai penjaga garis.
Sebelum permainan dimulai,buatlah garis membentuk kotak atau persegi. Bagi
kotak tersebut menjadi dua bagian dengan garis vertikal dan bagi lagi dengan garis
horizontal. Jumlah garis horizontal disesuaikan dengan jumlah anggota tim.
2. Menentukan aturan putaran permainan
Permainan ketangkasan gobak sodor ini didasarkan kesepakatan berasama
kawan-kawan dengan menentukan aturan putaran permainan. Satu putaran
permainan ialah satu permainan. Permainan pertama diselesaikan oleh dua
kelompok secara bergantian. Sebagai contoh, kelompok I dikatakan berhasil
berman jika seluruh pesertanya telah melampaui batas penjaga 3 tanpa melakukan
kesalahan, sedangkan yang dimaksudkan kesalahan pemain kelompok I adalh jika
salah seorang diantara anak tubuhnya tersentuh oleh kelompok II. Jika kelompok I
berhasil menyelesaikan permainan dianggap setengah permainan. Permainan dapat
dilanjutkan dengan kelomopok II sebagai pemain, maka untuk menghitung
keberhasilan dapat dilakukan dengan hitungan jam atau menit.
3. Tugas penjagaan
Tugas penjagaan sebagau berikut:
a. Penjaga penentu dapat bergerak leluasa berdasarkan jalur ke atas atau maju dan
mundur, serta dapat membantu penjaga 1.
b. Penajaga 2 dan seterusnya bertugas menjaga sesuai dengan garis melintang.
c. Tugas masing-masing penjaga adalah menyentuh pemain sesuai dengan garis
denah tersebut.
d. Jika pemain pada kelompok I tersentuh dinyatakan gagal sehingga kelompok I
berugas menjadi penjaga. Demikian seterusnya, pemain berganti jadi penjaga
jika terdapat kesalahan.
Aturan secara umum permainan Gobak Sodor:
a. Penjaga boleh bergerak kesana kemari, tetapi tidak boleh melewati garis
melintang/ membujur yang dijaganya.
b. Kaki si penjaga tidak boleh keluar dari garis.
c. Penjaga hanya boleh menyentuh pemain lawan dengan tangan dan tidak boleh
menyakiti.
d. Pemain yang sudah masuk tidak boleh keluar lagi.
e. Garis tengah arena (garis sodor) hanya dilewati oleh sodor.
f. Pemain jika akan masuk harus melewati garis jaga, kalau dilanggar maka
dianggap mati dan terjadilah pergantian pemain.
g. Pemain jika tersentuh penjaga dianggap mati.
h. Kalau pemain dapat melewati penjaga sampai garis belakang, harus kembali ke
depan melewati garis penjagaan.
i. Jika ada pemain yang dapat berhasil kembali ke tempat semula, kelompoknya
dianggap menang dan mendapat sawah atau skor satu.
j. Apabila ada salah satu pemain yang melanggar aturan kelompoknya dianggap
mati dan berganti posisi dengan penjaga.
k. Permainan selesai jika semua pemain sepakat untuk menyelesaikan permainan.
D. Manfaat Permainan Gobak Sodor
Manfaat Permainan Gobak Sodor Achroni (2012:58) (dalam Dwiani, R., &
Rusmaladewi, 2021; 9) Gobak sodor merupakan permainan yang sangat
menyenangkan untuk anak-anak. Hal ini karena gobak sodor dimainkan secara
berkelompok sehingga permainan menjadi sangat seru.
Manfaat gobak sodor antara lain sebagai berikut :
a. Memberikan kegembiraan pada anak
b. Melatih kerjasama anak dalam tim
c. Mengasah kemampuan otak
d. Mengasah kemampuan mencari strategi yang tepat, dan meningkatkan kekuatan dan
ketangkasan.
e. Pada permainan gobak sodor, anggota tim yang kalah harus menerima konsekuensi,
berupa menggendong anggota tim yang menang dengan jarak yang sudah ditentukan.
Hal ini bermanfaat untuk melatih tanggung jawab dan membangun sportivitas anak.
f. Melatih semangat juang anak untuk meraih kemenangan dalam permainan (semangat
pantang menyerah).
E. Aspek Yang dikembangkan Dalam Permainan Gobak Sodor.
a. Aspek Emosional
Dalam hal tersebut permainan gobag sodor dapat memupuk sikap empati pada
anak. Empati adalah kemampuan untuk memahami atau menghargai perasaan
dengan melibatkan aspek-aspek emosi, moral, kognitif dan perilaku. Empati juga
dapat diartikan bagaimana kita bisa menempatkan perasaan pada posisi orang lain
sehingga kita dapat berhati-hati dan tidak mudah menghakimi perilaku atau perasaan
orang lain. Dimana permainan gobag sodor menciptakan interaksi sosial antar teman
sebaya sehingga mampu mengembangkan sikap empati pada anak. Dan permainan
ini menerapkan beberapa aturan seperti saling membantu dan bekerjasama dalam
tim. Dengan hal itulah dapat menambah pengetahuan anak untuk saling menghargai
dan saling membantu dengan teman sesama tim.
b. Aspek perkembangan sosial
Dalam hal tersebut aspek yang dikembangkan yakni kerjasama antar teman satu
tim. Kerjasama adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh anak dalam
kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama prinsipnya
adalah bahwa anak dapat saling bertukar pikiran dan saling membantu dalam
kegiatan bermain, artinya dalam suatu kegiatan masing-masing anak lebih
ditekankan untuk saling bekerja sama antar satu dengan yang lain.
Permainan yang dilakukan secara berkelompok atau bersama-sama dapat
mengembangkan kemampuan kerjasama anak, karena melalui permainan gobak
sodor tersebut anak akan belajar tentang kerjasama kelompok dalam meraih
kemenangan, menumbuhkan sikap toleransi, dan mampu menghargai pendapat
orang lain. Kemampuan kerjasama anak sangat penting dikembangkan, melalui
permainan gobak sodor memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak
serta akan terjadi perkembangan dari pada diri anak terutama pada kemampuan
kerjasama. Permainan gobak sodor ini sangat penting karena bisa melatih anak
bekerjasama dalam bermaian dan bersikap sportif. Melalui kegiatan yang dilakukan
dapat mengembangkan kemampuan kerjasama anak.
c. Aspek Motorik
Permainan gobag sodor membentuk aspek motorik kasar pada anak. Aspek
motorik kasar terbentuk saat anak mulai memiliki koordinasi dan keseimbangan
yang hampir seperti orang dewasa. Motorik kasar adalah kemampuan yang
membutuhkan koordinasi sebagian besar bagian tubuh anak. Untuk merangsang
motorik kasar anak dapat dilakukan dengan melatih anak untuk meloncat, memanjat,
berlari, berjinjit, berjalan dan sebagainya. Dalam permaianan gobag sodor anak
dilatih secara fisik untuk bergerak, berlari atapun berjalan. Dengan hal tersebut pula
permainan gobag sodor dapat menumbuhkan kreativitas dan imajinasi anak, dan
gerakan- gerakan yang di lakukan akan bermanfaat untuk membuat fungsi belahan
otak kanan dan otak kiri menjadi seimbang.
F. Eksistensi Permainan Gobak Sodor.
Dalam perkembangan jaman saat ini, ilmu teknologi sudah sepatutnya
diapresiasi akan tetapi perkembangan ilmu teknologi jangan sampai menghilangkan
kebudayaan lokal masyarakat itu sendiri, terlebih dalam dolanan anak. Kendati
permainan yang satu itu terkenal di kalangan anak-anak khusunya di Yogyakarta,
namun didaerah lain juga ada, tetapi dengan nama yang berbeda. Permainan tersebut
dimainkan untuk mengisi waktu luang, baik sepulang sekolah atau di hari libur. Namun
dengan seiring berjalannya waktu, permainan gobag sodor saat ini sudah jarang sekali
dimainkan oleh kalangan anak-anak, karena kebanyakan dari anak-anak sudah mulai
asik bermain dengan dunianya sendiri seperti memainkan game online di handphone.
Ini menyebabkan anak menjadi malas untuk keluar rumah dengan teman-temannya
memainkan permainan tradisional gobag sodor tersebut. Hal ini mengakibatkan
permainan gobag sodor jarang dimainkan bahkan anak-anak tidak mengetahui tentang
permainan gobag sodor.
Oleh karena itu eksistensi yang dapat dilakukan untuk memperkenalkan dan
melestarikan permainan tradisional gobag sodor pada kalangan anak-anak yaitu dengan
memberikan pembelajaran tentang permainan gobag sodor. Misalnya, dalam kurikulum
2013 guru dapat memasukkan permainan gobag sodor tersebut ke dalam berbagai mata
pelajaran, seperti PJOK dan Matematika. Pada pembelajaran PJOK guru dapat
memberikan permainan gobag sodor sebagai salah satu kegiatan olahraga, hal ini
dikarenakan permainan tersebut melatih kelincahan dan kecepatan bergerak, berlari,
dan melompat. Sedangkan pada pembelajaran Matematika guru dapat mengajarkan
tentang suatu bangun datar seperti persegi dan persegi panjang, serta membedakan garis
horizontal dan vertikal. Dengan berbagai cara tersebut permainan tradisional gobag
sodor diharapkan dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran dan permainan tetap
dikenal dan dilestarikan terutama oleh kalangan anak
DAFTAR PUSTAKA
Dwiani, R., & Rusmaladewi, S. O. B. PENGARUH PERMAINAN GOBAK SODOR
TERHADAP KERJASAMA ANAK KELOMPOK B TK INTAN SARI PALANGKA
RAYA TAHUN AJARAN 2019/2020.
Ekayati, I. A. S. (2015). Pengaruh permainan tradisional “gobag sodor” terhadap kecerdasan
intrapersonal dan interpersonal pada anak usia dini. Didaktika, 13(3), 1-10.
Iswantiningtyas, V., & Wijaya, I. P. (2015). Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Anak
Usia Dini Melalui Permainan Tradisional Gobak Sodor. PINUS: Jurnal Penelitian
Inovasi Pembelajaran, 1(2).
37
PERMAINANA TRADISIONAL SAMBUNG KAKI
38
PERMAINANA TRADISIONAL SAMBUNG KAKI
A. Pengertian Permainan Sambung Kaki (Egrang)
Egrang merupakan salah satu dari sekian banyak permainan tradisional
Indonesia yang perlu dilestarikan dan dipertahankan keberadaannya. Egrang dapat
dijumpai di berbagai daerah dengan nama yang berbeda-beda, egrang sendiri berasal
dari bahasa Lampung yang berarti terompah pancung yang terbuat dari bambu bulat
panjang. Dalam permainan tradisional egrang terkandung nilai budaya yaitu kerja
keras, keuletan, dan sportivitas.
Egrang adalah sebuah permainan tradisional yang menggunakan sepasang
bambu untuk berjalan. Bambu dibentuk seperti tongkat yang memiliki tumpuan kaki
yang terbuat dari kayu. Bentuknya berupa galah atau tongkat bambu berjumlah dua
buah dengan tinggi sekitar 2-3 meter. Egrang biasanya diperlombakan sebagai olehraga
permainan untuk bersenang-senang di daerah tertentu.
Egrang menurut Achronin (Siahaan 2012, hlm. 4) “ merupakan salah satu
permainan tradisional yang sangat populer, permainan ini dikenal di berbagai wilayah
nusantara. Selain menggunakan bambu, eggrang dapat pula dibuat menggunakan batok
kelapa...”. Saat bermain egrang batok, anak harus berjalan diatas batok kelapa yang
memiliki luas permukaan dengan diameter sekitar kurang lebih 10 cm, sehingga
keseimbangan sangat dibutuhkan untuk bermain permainan ini.
Dahulunya permainan egrang ini sangat diminati oleh anak-anak, karena
permainan ini sangat seru untuk dimainkan. Permainan ini biasanya dimainkan
dihalaman yang luas, karena dapat berjalan dengan mudah dan leluasa. Dalam
memainkan egrang, kita butuh keseimbangan yang baik, agar tidak terjatuh.
B. Alat Permainan Yang Di Gunakan
pada permainan sambung kaki ini, ada beberapa alat yang dapat digunakan
untuk membuat permainan sambung kaki tersebut. Permainan sambung kaki, dapat
dibuat menggunakan 3 bahan. Yang pertama, menggunakan dua bilah bambu ataupun
kayu, yang dipotong dengan ukuran sama Panjang. Kemudian, diberikan penyanggah
dan tempat meletakan kaki. Yang kedua, permainan sambung kaki juga dapat
menggunakan dua buah kaleng bekas dengan ukuran sedang. Dengan memberikan tali
pada bagian tengah kaleng yang berfungsi sebagai tempat kaki. Dan yang terakhir,
39
dapat menggunakan tempurung kelapa atau batok kelapa. yang cara pembuatannya
sama dengan menggunakan kaleng.
Pada egrang bambu atau kayu tinggi egrang memiliki ketentuan yaitu seperti gambar
dibawah ini
C. Cara bermain sambung kaki
Gerakan dasar Egrang adalah melangkah maju. Namun, untuk melangkah maju
pemain Egrang harus membuat gerakan tangan dan kaki yang seirama. Gerakan ini pun
yang melatih kekuatan tubuh khususnya tangan dan kaki. Saat melangkah maju tangan
harus mengangkat Egrang maju dan ada juga beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam bermain egrang batok kelapa antara lain:
1. peserta Egrang minimal terdiri dari tiga orang,
2. sebelum mulai permainan, peserta harus tidak memegang atau berada di posisi
siap di atas Egrang,
3. berjalan pada lintasannya masing-masing,
4. sebelum pergantian pemain, pemain sebelumnya harus melewati garis
pergantian beserta dengan Egrang nya,
5. Pemain selanjutnya berada di luar garis pergantian,
6. Tim yang menang adalah tim yang ketiga anggotanya berhasil melewati garis
finish.
Cara permainan tersebut, berlaku untuk semua jenis sambung kaki yang digunakan
saat bermain.
40
D. Aturan Permainan Sambung Kaki
Dalam setiap permainan tentunya memiliki sebuah aturan main. Tidak lain juga
pada permainan tradisional sambung kaki, aturan permainan yang ada pada sambung
kaki ini yaitu.
1. Sebelum perlombaan dimulai,para peserta diteliti usianya untuk menentukan
kelompokumur masing masing.
2. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok masing masing 5 regu sesuai dengan
jumlah lintasan.
3. Selanjutnya diadakan undian untuk menentukan pemberangkatan lomba
4. Perlombaan ini menggunakan sistim seri .setiap regu berjumlah 3 orang dengan
cara estafet 50 meter x 3.
5. Sebelum perlombaan dimulai , seluruh anggota regu,dikumpulkan dalam start.
Tentukan pemain 1 s/d 3.dan jelaskan aturan lomba.
6. Sebelum aba aba dimulai,pemain ke 2 diminta untuk berada di belakang garis
finish. Sedangkan pemain ke 3 berada di belakang pemain 1, atau yang
memegang egrang.
7. Aba aba di tentukan oleh wasit/juri adalah: bersedia….siap…. Ya . (bersedia=
salah satu kaki berada dipijakan egrang, siap…ya= kaki satunya langsung naik
dan berlari.
8. Pemain 1 harus menaiki egrangnya sampai di belakang garis finish dan
menyerahkan egrangnya pada pemain ke 2 dan langsung menaeki egerngnya
sampai di belakang garis start.kemudian menyerahkan ke pemain ke 3 pemain
ke 3 menaeki egrang nya sampai di belakang garis finish.
9. Pada perlombaan regu dinyatakan gugur apabila : salah satu pemain:
a. Menginjak garis lintasan.
b. Kaki jatuh dari egrangnya.
c. Dengan sengaja mengganggu pemain lain
10. Pemain yang terganggu jalannya oleh pemain lain, maka boleh melanjutkan
larinya.
11. Dari keseluruhan seri akan diambil waktu terbaik, bila pesertanya banyak. Bila
pesertanya sedikit diambil kedatangan yang pertama dari setiap seri.
12. Regu pemenang atau juara ditentukan berdasarkan hasil waktu terbaik dari
keseluruhan seri.( bila peserta banyak). Bila tidak diambil kedatangan kemudian
di finalkan.
41
Aturan permainan tersebut berlaku jika dilakukan saat adanya perlombaan, jika
hanya bermain biasa, dapat menggunakan egrang seperti biasa tanpa harus
meyesuaikan peraturan.
E. Manfaat Permainan Tradisional “sambung kaki” (Engrang)
Permainan tradisional kaki panjang memiliki beraneka macam manfaat bagi
para pemainnya. Dalam diri anak akan tertanam nilai karakter kerja keras, keuletan, dan
sportivitas. Selain itu bermain kaki panjang juga dapat memupuk keberanian anak.
Bermain kaki panjang juga mampu melatih kekuatan tangan dan kaki serta mengolah
kemampuan keseimbangan tubuh.
Anak juga dapat melatih koordinasi Antara tangan dan kakinya dikarena
bermain kaki panjang tanggan dan kaki harus sinkron jika tidak maka pemain akan
terjatuh. Dengan bermain sambung kaki anak dapat melatih kelincahan dan ketepatan.
Bermain sambung kaki juga mengajarkan kesabaran serta ketekunan dalam berusaha
menyeimbangkan kaki diatas kaki panjang. Dalam bermain kaki panjang anak juga
dituntut untuk berani berjalan sambil menyeimbangkan kakinya diatas enggrang
bambo.
Selain manfaat-manfaat tersebut, didalam permaian kaki panjang juga terdapat
beraneka macam nilai karakter yang baik bagi perkembangan anak-anak. Nilai karekter
yang terdapat dalam permainan sambung kaki ini anatara lain kerja keras, keuletan,
kemandirian, saling menghargai, tanggung jawab, dan nilai kejujuran. Nilai kerja keras
bisa dilihat dari semangat anak-anak yang terus berusaha agar bisa mengalahkan teman-
temannya.
Lalu nilai keuletan tercermin pada keterampilan anak dalam menggunakan
sambung kaki untuk berjalan karena memerlukan keuletan dan ketekunan agar tetap
seimbang dan dapat berjalan dengan benar. Sedangkan nilai kemandirian terlihat dari
semngat anak-anak untuk mandiri belajar berjalan dengan sambung kaki.
Nilai saling menghargai terlihat dari perlombaan yang dilakukan dan anak akan
belajar menghargai teman-temannya yang menang maupun kalah. Nilai tanggung
jawab tercermin dalam kegiatan anak yang sudah main sambung kaki agar
42
menyelesaikan permainan sampai tuntas. Nilai kejujuran tercermin dari kegiatan anak
yang sudah melaksanakan permaian baik menang atau kalah dengan tidak berbuat
curang saat bermain, dan saat kalah anak dapat menerima kekalahannya dengan lapang
dada.
43
DAFTAR PUSTAKA
A. Faisol, B. S., Mahmud, Y., & Rias, G. K. (2019). Pengaruh Permainan Tradisional
(Egrang Bambu) terhadap Peningkatan Keseimbangan pada Anak Kelas 5 SD. Sport
Science and Health, 1(3), 243-250.
Afifah, N., Ade , S. N., Dyan, A. F., & Venny, I. P. (2022). JURNAL DHARMA
PENDIDIKAN DAN KEOLAHRAGAAN, 2(1), 21-27.
Afrinel, O., & Siska, P. S. (2019). EKSISTENSI PERMAINAN TRADISIONAL EGRANG
ADA MASYARAKAT MONGGAK KECAMATAN GALANG KOTA BATAM.
Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, 4(1), 119-33.
Indra Lutfi Andrian, E. (2017). EGRANG BATOK UNTUK MELATIH KETRAMPILAN
MOTORIK KASAR SISWA TUNANETRA. JURNAL JASSI_anakku, vol 18(2), 30.
44
45
PERMAIANAN TRADISONAL PATOK LELE
A. Pengertian Permainan Tradisional Patok Lele
Permainana tradisional Patok Lele atau Patil Lele adalah permainan tradisional
asli nusantara yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Patok lele umumnya
dimainkan oleh masyarakat di daerah pedesaan. Bisa dilakukan oleh anak-anak, remaja
hingga dewasa. Permainan ini juga umum dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan.
Permainan biasanya dimainkan di arena yang lapang. Biasanya dilakukan di halaman
rumah atau tanah lapang. Karena, pada permainan ini dibutuhkan ruang yang cukup
luang untuk melempar dan memukul potongan kayu patok lele ke depan. untuk
memainkan permainan patok lele ini terbilang sangat sederhana. Peralatan yang
dibutuhkan mudah sekali untuk didapatkan. Sebab, untuk bermain patok lele hanya
memerlukan dua buah kayu.
B. Sejarah dan Eksitensi Permainan Tradisional Patok Lele
Patok Lele kerap kali disebut dengan baseball nusantara. Umumnya bermain
patok lele memang seperti baseball, yaitu tim yang kalah menjaga dan mencari ancang-
ancang pukulan kayu anak dari tim yang memukul. Dari mana Patok Lele berasal belum
diketahui dengan pasti. Namun, ditilik cara memainkannya, permainan ini agak mirip
dengan permainan Benthik yang juga sangat popular di kalangan msayarakat di Jawa,
terutama di Jawa Tengah. Di daerah-daerah lain, permainan seperti ini juga dikenal,
kendati dengan nama lain seperti Gatrik atau Pathil Lele di Jawab Barat, Benthing atau
Bethink di Jawa Timur, Tok Lele di Riau, Tak Tek di Bangka Belitung, Patok Lele di
Sumatera Barat. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki permainan tradisional
yang sama dengan patok lele tetapi dengan nama yang berbeda.
Seiring perkembangan teknologi yang berkembang dan meluasnya
perkenbangan internet, permainan tradisional termasuk patok lele sudah jarang
dimainkan oleh anak-anak. hampir sebagian besar anak lebih menyukai permainan
game online, ipad, playstation bahkan mereka mahir dalam memainkannya. Adanya
permainan modern yang bersifat indivisulis menyebabkan berkurangnya waktu
bermain dan berinteraksi antar sesama. Permainan patok lele yang mengutamakan
kerjasama antar tim memberikan suatu nilai yang positif dimana interaksi sesama anak
46
akan terlihat disbanding permainan modern yang kebanyakan permainannya dilakukan
individu.
C. Fungsi Permainan Tradisional Patok Lele
Fungsi dari Permainan Tradisional Patok Lele diantaranya :
1. Melatih Ketangkasan Dalam Memukul
Pada saat bermain patok lele, pemain harus bisa memukul kayu dengan
tangkas. Jika tidak memiliki ketangkasaan, maka potongan kayu yang menjadi anak
patok lele tidak akan mengubah dengan tepat, bahkan bisa meleset.
Maka dari itu, anak yang sering memainkan permainan ini bisa menjadi lebih efektif
untuk memukul benda yang akan dipantulkan dari arah bawah.
2. Melatih Kemampuan Berhitung
Dalam permainan patok lele, para pemain harus bisa mengukur serta menghitung
poin yang telah diperolehnya sendiri. Untuk cara mengetahui poinnya anda bisa
mengukur jarak pukulan anak patok lele menggunakan panjang tongkat yang
digunakan untuk pemukul anak patok lele.
3. Sarana Belajar
Permainan patok lele selain tak hanya dijadikan sebagai permainan untuk anak
saja. Akan tetapi permainan ini juga bisa dijadikan sebagai sarana belajar, terutama
untuk belajar matematika. Karena sang anak bisa belajar menghitung poin yang
telah didapatkannya. Dengan bermain patok lele ini, sang anak juga bisa
membandingkan ukuran panjang dan paham dengan arah gerak secara horizontal
atau vertikal. Tak hanya bisa belajar matematika, melakukan permainan ini juga
bisa mengajak anak untuk mengatur strategi. Entah itu kapan anak melempar atau
menangkap kayu permainan hingga memenangkan permainan.
4. Menciptakan Perasaan Senang
Anak-anak yang melakukan permainan terkejut akan merasa ceria dan
bermanfaat. Tak bermain dengan permainan tradisional patok lele ini. Setiap
pemainnya akan merasa senang jika pukulan patok lelenya berhasil. Jika pukulan
yang semakin jauh, maka para pemain yang dihasilkan akan merasa sangat senang
dan bersemangat. Sebab, berapa jarak pukulan yang dibuat itu termasuk ukuran
jumlah poin yang akan didapatkan nanti.
47
Patok lele termasuk permainan tradisional yang patut kita kenal lagi pada generasi
sekarang yang lebih mengenal permainan modern. Jangan sampai permainan
tradisional ini punah seiring berjalannya waktu.
D. Deskripsi Permainan Tradisional Patok Lele
Dalam permainan tradisional patok lele terdapat deskripsi atau tata cara
bermain. deskripsi atau tata cara bermain permainan tradisional patok lele adalah
sebagai berikut. Pada awal permainan, perwakilan kelompok suit untuk menentukan
siapa yang mendapat giliran bermain terlebih dahulu. Anak patok lele diletakkan
melintang pada lubang kemudian diangkat dan dilemparkan atau didorong ke arah
pemain lawan yang menjaga di depan. Jika ditangkap oleh lawan, maka permainan
digantikan oleh lawan. jika tidak tertangkap, maka induk patok lele diletakkan pada
lubang kemudian anak patok lele yang tidak tertangkap oleh lawan akan dilemparkan
pada induk yang ada pada lubang. Jika kena, maka permainan diganti oleh lawan, jika
tidak maka si pemain melanjutkan permainannya.
Gambar 1. Pemain melempar anak patok lele
Anak patok lele dilemparkan ke atas lalu dipukul kuat-kuat ke depan, lawan yang
menjaga akan menangkapnya. Jika tertangkap lawan, maka permainan digantikan oleh
lawan. jika tidak, anak patok lele dilemparkan kea rah lubang. Jika mencapai lubang
atau si pemain dapat menangkis anak patok lele tersebut, maka dia tetap aman.
Anak patok lele diletakkan pada satu lubang dan separuh kayu ada di dalam dan
separuh lagi ada di permukaan tanah dengan posisi membentuk 45 derajat. Ujung kayu
yang ada di permukaan dipukul hingga melenting ke atas kemudian dipukul beberapa
kali sesuai kemampuan kemudian dipukul secara horizontal ke depan maka pihak lawan
akan menjaga agar anak patok lele dapat ditangkap. Jika tertangkap, maka pihak lawan
48
akan menjaga agar anak patok lele dapat ditangkap. Maka pihak lawan akan
mendapatkan nilai. Jika tidak, maka akan diukur dari pinggir lubang ke tempat jatuhnya
anak patok lele. Jumlahnya merupakan poin bagi si pemain. Jika si pemain dapat
melakukan pukulan lebih dari satu kali sebelum ke depan, maka akan diukur dengan
anak patok lele dikalikan dengan jumlah pukulan. Sebelum permainan dimulai, kedua
kelompok akan menentukan berapa nilai yang harus diraih bagi pemenangnya. Bisanya
yang kalah akan menggendong yang menang dengan jarak yang ditentukan.
Gambar 2. Pemaian memukul anak lele
49
DAFTAR PUSTAKA
Bangsawan, I. P. (2019). DIREKTORI PERMAINAN TRADISIONAL. Banyuasin: Penerbit
Dinas Pendidikan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Banyuasin.
Mariana, S. (3013). PENERAPAN PERMAINAN TRADISIONAL PATOK LELE UNTUK
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR ANAK USIA 5-6
TAHUN DI PAUD MUTIARA HATI TAHUN PELAJARAN 2012/2013.
Universitas Mataram. Mataram.
Pratama, N. Z. (2020). NILAI-NILAI PERMAINAN TRADISIONAL DI SEKOLAH
DASAR NEGERI 09 SUNGAI PANGKUR. Jurnal Olahraga Indragiri (JOI), 7(2).
Riansyah, W., & Nasution, N. A. (2021). Eksitensi Permainan Tradisisonal Di Era Modern
Dan Kaitannya Dengan Perkembangan Motorik Kasar Anak. JURNAL MASTER
PENJAS & OLAHRAGA, 2(2), 113-144.
Makalah Permainan Tradisional Patok Lele (Raja Fadhil Asa, 2020)
50