The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by bambangsupriyanto111, 2022-10-24 20:31:48

Buku Mbak Ana Revisi Akhir

Buku Mbak Ana Revisi Akhir

Ana Hidayati Setyaningsih

Cerita Rakyat Jepara
dalam Matematika

Materi Waktu, Jarak, dan Kecepatan

CV. Lentera Kata, 2020

Cerita Rakyat Jepara dalam Matematika
Copyright © CV. Lentera Kata, 2020

Penulis:
Ana Hidayati Setyaningsih
ISBN: 978-623-94555-2-1

Editor: Yulita Ayu Suryani
Penata Letak: Yulita Ayu Suryani
Ilustrator: Wahyu Satriawan
Desain Sampul: Ginanjar Satrio

Penerbit:
CV. Lentera Kata
Semarang - Jawa Tengah

Cetakan Pertama, Agustus 2020
81 halaman; 14 x 20 cm

Hak Cipta Dilindungi UU No. 28 Tahun 2014
Dilarang memperbanyak maupun mengedarkan
buku dalam bentuk dan dengan cara apa pun tanpa izin
tertulis dari penerbit maupun penulis.

3

Prakata

Syukur alhamdulillah, penulis panjatkan kepada Allah
SWT yang telah mencurahkan rahmat tak terbendung
sehingga terbitlah buku “Cerita Rakyat Jepara dalam
Matematika”.

Buku “Cerita Rakyat Jepara dalam Matematika”
merupakan bahan ajar matematika berbasis cerita rakyat
Jepara untuk kelas V sekolah dasar. Berisi beberapa cerita
rakyat Jepara yang dipadukan dengan materi matematika
tentang waktu, jarak, dan kecepatan.

Matematika selalu dianggap momok bagi siswa.
Dengan menghadirkan cerita rakyat di dalamnya,
diharapkan matematika akan lebih menarik untuk
dipelajari. Selain itu, cerita rakyat merupakan salah satu
warisan budaya yang harus kita lestarikan keberadaannya.
Dengan demikian, nilai-nilai sosial dan budaya dapat
sampai kepada siswa dengan mudah.

Beberapa cerita rakyat yang ada di buku ini mungkin
pernah disajikan oleh penulis lain dengan gaya yang
berbeda. Penulis sangat menyadari itu. Semoga hadirnya
buku ini tidak mengurangi makna dan manfaat bagi
pembacanya.

4

Hadirnya buku ini merupakan sebuah produk tesis
penulis di Universitas Muria Kudus. Untuk itu, penulis
ucapakan terima kasih kepada Ibu Dr. Sri Utaminingsih,
M.Pd. dan Bapak Dr. Slamet Utomo, M.Pd. selaku dosen
pembimbing. Kepada Bapak Dr. Irfai Fathurrohman, M.Pd.,
Bapak Sumaji, S.Pd., M.Pd., dan Bapak Dr. Drs.
Mohammad Kanzunnudin, M.Pd. selaku validator dari
buku ini, terima kasih atas semua saran masukannya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penerbitan buku ini.

Jepara, Agustus 2020.
Ana Hidayati Setyaningsih

5

Daftar Isi

Halaman Judul ............................................................................................. 2
Prakata ............................................................................................................ 4
Daftar Isi......................................................................................................... 6
Petunjuk Penggunaan Bahan Ajar...................................................... 7
Kompetensi Inti........................................................................................... 9
Kompetensi Dasar...................................................................................... 9
Indikator...................................................................................................... 10
Tujuan Pembelajaran ............................................................................ 10
Desa Singorojo.......................................................................................... 12
Satuan Waktu............................................................................................ 18
Perang Obor............................................................................................... 24
Satuan Panjang......................................................................................... 31
Desa Teluk Awur ..................................................................................... 38
Hubungan Jarak, Waktu, dan Kecepatan...................................... 45
Menghitung Kecepatan......................................................................... 45
Luweng Mandalika ................................................................................. 51
Menghitung Jarak Tempuh ................................................................. 58
Legenda Sura Gotho............................................................................... 63
Menghitung Waktu Tempuh .............................................................. 75
Rangkuman ................................................................................................ 79
Rujukan ........................................................................................................ 80
Profil Penulis ............................................................................................. 81

6

Petunjuk Penggunaan Bahan Ajar

Buku ajar ini dapat digunakan oleh guru dan siswa
dalam pelajaran matematika materi waktu, jarak, dan
kecepatan. Adapun penggunaan buku ajar ini adalah sebagai
berikut:
1. Untuk memulai pembelajaran dalam setiap pembahasan,

sebagai kegiatan literasi, siswa diminta untuk membaca
cerita rakyat yang ada di buku ini.
2. Mempelajari konsep matematika tentang waktu, jarak,
dan kecepatan di konten “Aku Tahu”.
3. Mendiskusikan hubungan antara waktu, jarak, dan
kecepatan dengan menggunakan masalah‐masalah yang
ada.
4. Mendiskusikan masalah waktu, jarak, dan kecepatan
dengan menggunakan rumus yang sudah ditemukan.
5. Mendiskusikan permasalahan waktu, jarak, dan
kecepatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari‐hari
serta alternatif pemecahannya.
6. Mengerjakan latihan soal di konten “Aku Coba”.
7. Tanya jawab tentang materi waktu, jarak, dan kecepatan.
8. Menarik kesimpulan bersama.
9. Mengerjakan soal evaluasi di konten “Aku Bisa”.

7

Dalam buku ajar ini, penulis menggunakan simbol w
untuk waktu, j untuk jarak, dan k untuk kecepatan.
Penggunaan simbol tersebut untuk memudahkan siswa
dalam mengingat.
Selamat Belajar!

8

Kompetensi Inti

1. Menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama
yang dianutnya.

2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,
santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi
dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya.

3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara
mengamati (mendengar, melihat, membaca dan
menanya) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu
tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan
kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di
rumah, sekolah, dan tempat bermain.

4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang
jelas, sistematis, dan logis, dalam karya yang estetis,
dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan
dalam tindakan yang mencerminkan peri-laku anak
beriman dan berakhlak mulia.

Kompetensi Dasar

3.3 Menjelaskan perbandingan dua besaran yang
berbeda (kecepatan sebagai perbandingan jarak
dengan waktu, debit sebagai perbandingan volume
dan waktu)

4.3 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan
perbandingan dua besaran yang berbeda (kecepatan
dan debit)

9

Indikator

3.3.1 Menjelaskan satuan waktu
3.3.2 Menjelaskan satuan panjang
3.3.3 Menjelaskan satuan kecepatan
3.3.4 Menjelaskan kecepatan sebagai perbandingan jarak
dengan waktu
4.3.1 Menyelesaikan masalah satuan waktu
4.3.2 Menyelesaikan masalah satuan panjang
4.3.3 Menyelesaikan masalah satuan kecepatan
4.3.4 Menyelesaikan masalah kecepatan sebagai
perbandingan jarak dengan waktu

Tujuan Pembelajaran

1. Siswa dapat menjelaskan satuan waktu, jarak, dan
kecepatan

2. Siswa dapat menjelaskan kecepatan sebagai
perbandingan jarak dengan waktu

3. Siswa dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan
dengan satuan waktu, jarak, dan kecepatan

4. Siswa dapat menyelesaikan masalah kecepatan sebagai
perbandingan jarak dengan waktu

10

Ayo Membaca!

Sebelum belajar matematika tentang satuan waktu,
mari terlebih dahulu kita membaca cerita rakyat
yang berjudul “Desa Singorojo”.
Ini adalah cerita rakyat dari Jepara. Cerita rakyat
ini mempunyai nilai moral yang dapat kita petik.
Selamat membaca!

Sumber: https://pendidikan.id/

11

Desa Singorojo

Singorojo merupakan salah satu desa di Kecamatan
Mayong Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Ada seorang tokoh
melegenda di Desa Singorojo yang hingga sekarang dikenal
dari cerita turun temurun masyarakat setempat.

Pada tahun sekitar 1600, di Singaraja Bali
terdapat Kerajaan Singaraja. Rajanya bernama Ida
Gusnanda. Ida Gusnanda mempunyai dua orang anak. Anak
pertama diberi nama Ida Gurnadi dan anak kedua bernama
Ida Gusnanti. Ketika itu Kerajaan Singaraja masih memeluk
agama Hindu.

12

Suatu ketika terjadilah perselisihan antara Ida
Gurnadi dengan ayahnya, Ida Gusnanda. Mereka berselisih
paham tentang orang yang telah meninggal. Hal ini
ditentang oleh Ida Gurnadi. Hingga akhirnya Ida Gurnadi
diusir dari Kerajaan Singaraja. Ida Gurnadi pergi bersama
adiknya, Ida Gusnanti dan temannya yang bernama Rogas.
Mereka mengendarai gentong besar yang berisikan biji aren
dan biji jati.

Setelah beberapa hari terkatung-katung di laut, Ida
Gurnadi melihat ada segerombolan tumbuh-tumbuhan.
Kemudian gentong yang mereka kendarai pun diarahkan ke
tempat itu. Ternyata segerombolan tumbuh-tumbuhan
tersebut adalah pohon asam. Pohon asam itu terlihat dari
jauh lamat-lamat (samar-samar). Lalu, tempat itu kalau
menjadi desa akan diberi nama Desa Semat (uwet asem
lamat-lamat).

Setelah beberapa hari di Desa Semat, Ida Gurnadi dan
kedua temannya mendengar berita kalau di Demak ada
seorang wali yang tersohor, bernama Sunan Kalijaga. Lalu,
Ida Gurnadi bergegas menuju Demak untuk berguru dengan
Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga pun mewariskan beberapa ilmunya
kepada Ida Gurnadi. Ida Gurnadi juga diberi mandat untuk

13

menyebarkan agama Islam dari Demak ke utara bersama
dengan adik dan temannya. Ida Gurnadi juga dipasrahi
untuk merawat dan mengajari anak Sunan Kalijaga yang
bernama Suwut dan Sujud.

Dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam, Ida
Gurnadi beristirahat di sebuah hutan yang masih sangat
lebat. Di tengah hutan tersebut ada kerajaan jin yang
rajanya bernama Rajasa. Hutan tersebut terkenal sangat
gawat dan angker. Orang-orang sekitar menyebut hutan itu
janmo moro janmo mati, artinya siapa pun yang masuk
hutan tersebut tidak akan bisa keluar lagi, alias mati karena
serangan para jin.

Pada waktu Ida Gurnadi dan teman-temannya
beristirahat di hutan tersebut, semua jin yang ada di hutan
merasa kepanasan. Badan mereka seperti terbakar api yang
sangat panas. Akhirnya mereka pun menampakkan dirinya
keluar. Rajasa sangat marah dan menantang Ida Gurnadi
untuk perang.

Perang pun berlangsung selama beberapa hari.
Namun tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah
karena mereka berdua sama-sama kuat dan sakti. Akhirnya,
Ida Gurnadi dan Rajasa membuat kesepakatan untuk

14

mengadakan perang junjung. Siapa yang kuat mengangkat
tubuh lawannya akan dinyatakan menang.

Dalam perang junjung tersebut, Rajasa tidak mampu
mengangkat Ida Gurnadi. Merasa tidak kuat untuk
mengangkat Ida Gurnadi, Rajasa menyuruh Ida Gurnadi
untuk bergantian mengangkatnya. Akhirnya Ida Gurnadi
mampu mengangkat Rajasa dan hampir membantingnya.
Pada saat Ida Gurnadi mau membanting, Rajasa meminta
ampun supaya jangan dibanting.

Akhirnya Rajasa ingin menjadi murid dari Ida
Gurnadi. Pada malam Jumat Wage, hutan itu dibabat habis
oleh Ida Gurnadi dan 4 orang temannya dengan dibantu
para jin. Berdasarkan kesepakatan, mereka memberi nama
hutan tersebut Desa Singorojo. Nama itu diambil karena Ida
Gurnadi berasal dari Singaraja. Kini hutan yang terkenal
angker telah menjadi sebuah desa.

Di Desa Singorojo tersebut, kemudian Ida Gurnadi
mendirikan pesantren. Pesantrennya tersohor sampai ke
kerajaan Mataram.

Sutowijoyo, raja Mataram mempunyai salah satu istri
bernama Ibu Kanjeng Mas Semangkin. Bertahun-tahun
menikah mereka tidak dikaruniai seorang anak. Mendengar
di Singorojo ada Kiai tersohor, Sutowijoyo membawa

15

istrinya ke tempat Ida Gurnadi untuk dimintakan supaya
istrinya bisa hamil.

Setelah berbulan-bulan tinggal di pesantren, akhirnya
Ibu Kanjeng Mas Semangkin hamil. Mendengar Bumas
hamil, Sutowijoyo memberi gelar kepada Ida Gurnadi
dengan sebutan Datuk.

Lama-kelamaan Sutowijoyo curiga. Mengapa istrinya
bisa hamil padahal beberapa bulan Sutowijoyo tidak pernah
bersamanya. Bu Mas akhirnya diusir dari kerjaan Mataram.
Setelah pergi dari kerajaan Mataram, Bu Mas menetap di
Singorojo. Setelah 9 bulan 10 hari, Ibu Mas akhirnya
melahirkan 2 anak kembar yang diberi nama Syarip dan
Srokol. Mbah Datuk Gurnadi mengangkat Syarip dan Srokol
sebagai anak angkatnya.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya Mbah Datuk
Gurnadi meninggal dan dimakamkan di Desa Singorojo. Di
makam Mbah Datuk Gurnadi, setiap tahun pada bulan
Muharam diadakan tradisi “Buka Luwur” yang ada hingga
sekarang.

Hikmah cerita:
“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari ilmu, maka

kau akan berhasil.”

16

Ayo Belajar!

Setelah kita mambaca cerita rakyat di atas,
sekarang waktunya belajar matematika tentang

satuan waktu.
Selamat belajar!

Sumber: https://www.latisprivat.com/

17

Aku Tahu!

Satuan Waktu

Satuan waktu dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Satuan waktu tak baku

Contoh: Ketukan monoton
Hitungan monoton 1, 2, 3, ……

2. Satuan waktu baku
Contoh: detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, triwulan,
caturwulan, semester, tahun, lustrum, windu, dasawarsa,
abad, dan milenium.

Sekarang kalian sudah mengenal satuan waktu. Seperti
detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, triwulan, caturwulan,
semester, tahun, lustrum, windu, dasawarsa, abad, dan
milenium.

18

Berikut ini adalah konversi beberapa satuan waktu.

1 menit = 60 detik 1 tahun = 12 bulan
1 jam = 60 menit 1 tahun = 2 semester
1 jam = 3.600 detik 1 triwulan = 3 bulan
1 hari = 24 jam 1 caturwulan = 4 bulan
1 minggu = 7 hari 1 tahun = 3 caturwulan
1 bulan = 4 minggu 1 tahun = 4 triwulan
1 bulan = 30 hari 1 tahun = 52 minggu
1 lustrum = 5 tahun
1 windu = 8 tahun
1 abad = 100 tahun
1 milenium = 1.000 tahun

Sumber: https://azkadina.com/

19

Konversi Waktu

Contoh
1. 2 jam = … menit
2. 1 jam 20 menit = … detik
Jawab
1. 2 jam = 2 x 60 menit = 120 menit
2. 1 jam 20 menit = 60 menit + 20 menit

= 80 menit
= 80 x 60 detik
= 4.800 detik

Sumber: http://imgos-belajarlinux.blogspot.com/

20

Aku Coba!

Konversikan ke satuan waktu yang ditentukan!
1. 25 menit = … detik
2. 25 jam = … detik
3. 120 menit = … jam
4. 27 menit + 480 detik = ... menit
5. 18 jam – 7200 detik = … menit

Aku Bisa!

Contoh

Ida Gurnadi berangkat dari Demak pukul 10.27.
Setelah 2,5 jam perjalan, Ia beristirahat di sebuah
hutan. Pukul berapa Ida Gurnadi sampai di hutan?

Penyelesaian

2,5 jam = 2 jam 30 menit 10.27

02.30 +

12.57

Jadi, Ida Gurnadi sampai di hutan pukul 12.57

21

Selesaikanlah soal berikut!
1. Saat ini pukul 16.45. Pukul berapakah 3,5 jam

sebelumnya?
2. Pukul berapakah 100 menit setelah pukul 08.50?
3. Dalam perjalannnya menyebarkan agama Islam, Ida

Gurnadi berjalan selama 6 jam 45 menit, sedangkan
adiknya, Ida Gusnanti mengikutinya dengan berjalan
selama 11 jam. Berapa selisih lama perjalanan Ida
Gurnadi dan Ida Gusnanti?
4. Dalam perang junjung, Rajasa melakukan percobaan
berkali-kali untuk mengangkat Ida Gurnadi dimulai
pukul 08.00 dan selesai pukul 14.15 hingga akhirnya
menyerah. Berapa jam dan berapa menit lama percobaan
yang dilakukan Rajasa untuk mengangkat tubuh Ida
Gurnadi?
5. Ida Gurnadi, temannya, dan para jin membabat habis
hutan tempat tinggal Rajasa. Mereka selesai membabat
hutan pada pukul 13.30. Apabila mereka beristirahat
selama 30 menit dan lama pembabatan hutan selama 4
jam 30 menit, pukul berapa mereka mulai membabat
hutan tersebut?

22

Ayo Membaca!

Sebelum belajar matematika tentang satuan
panjang, mari terlebih dahulu kita membaca cerita

rakyat yang berjudul “Perang Obor”.
Ini adalah cerita rakyat dari Jepara. Cerita rakyat
ini mempunyai nilai moral yang dapat kita petik.

Selamat membaca!

Sumber: https://pendidikan.id/

23

Perang Obor

Perang obor merupakan salah satu upacara
tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Jepara
khususnya Desa Tegalsambi Kecamatan Tahunan
Kabupaten Jepara. Obor yang digunakan tidak seperti obor
biasa melainkan terbuat dari dua atau tiga buah gulungan
pelepah kelapa kering dan bagian dalamnya diisi dengan
daun pisang kering atau dalam bahasa Jawa disebut klaras.

Obor tersebut dimainkan dengan cara menyerang
pemain satu dengan pemain lainnya sehingga terjadilah
percikkan-percikkan api yang banyak dari obor tadi
sehingga masyarakat sekitar menyebutnya dengan perang
obor.

24

Permainan ini dilakukan oleh pemain yang sudah
ditugaskan di desa itu dan tidak sembarang orang bisa
memainkannya karena sangat berbahaya.

Konon pada kisaran abad XVI Masehi, di Desa
Tegalsambi ada seorang petani yang sangat kaya raya
dengan sebutan Mbah Kiai Babadan. Ia mempunyai banyak
binatang peliharaan terutama kerbau dan sapi. Untuk
menggembalakannya, Mbah Kiai Babadan mencari
pengembala yang disebut Ki Gemblong. Ki Gemblong sangat
tekun dan rajin memelihara binatang-binatang tersebut.

Setiap pagi dan sore Ki Gemblong selalu memandikan
kerbau dan sapi yang digembala di sungai. Maka, wajar saja
jika kerbau dan sapi yang digembalakan tampak sehat dan
gemuk. Melihat kerbau dan sapinya gemuk-gemuk dan
sehat semua, maka Kiai Babadan merasa senang terhadap
cara kerja Ki Gemblong. Bahkan tidak segan Kiai Babadan
memuji Ki Gemblong yang pandai memelihara kerbau dan
sapi.

Suatu ketika Ki Gemblong mengembala di tepi sungai
Kembangan. Saat mengembala tersebut, Ki Gemblong justru
asyik melihat-lihat ikan yang ada di sungai Kembangan.
Akhirnya Ki Gemblong terjun ke sungai untuk menangkap
berbagai ikan termasuk ikan jenis udang. Setelah

25

mendapatkan berbagai jenis ikan termasuk udang
kemudian dibakar di kandang kerbau dan sapi. Setelah
masak terus dimakan dan dinikmatinya.

Merasakan nikmatnya makan ikan bakaran, Ki
Gemblong menjadi ketagihan. Oleh karena itu setiap hari Ki
Gemblong pergi ke sungai Kembangan untuk menangkap
ikan dan udang. Dengan demikian Ki Gemblong lupa
terhadap tugas utamanya yaitu mengembalakan kerbau dan
sapi. Sehingga kerbau dan sapi milik Mbah Kiai Babadan
menjadi kurus-kurus karena tidak terawat dan kurang
makan. Kerbau dan sapi milik Mbah Kiai Babadan banyak
yang sakit-sakitan. Bahkan ada kerbau dan sapi yang mati
kelaparan.

Melihat kenyataan bahwa kerbau kerbau dan sapi-
sapinya banyak sakit-sakitan dan bahkan ada yang mati,
Mbah Kiai Babadan menjadi sedih dan bingung. Mbah Kiai
Babadan bahkan berusaha sekuat tenaga untuk mengobati
kerbau dan sapinya yang sakit-sakitan karena tidak terawat
dan kurang makan. Namun tindakan Mbah Kiai Babadan
tersebut tidak membuahkan hasil karena kerbau dan
sapinya tidak sembuh seperti sedia kala.

Lantas Kiai Babadan bertanya-tanya mengapa kerbau
dan sapinya bisa kurus dan sakit-sakitan dan bahkan ada

26

yang mati. Akhirnya Mbah Kiai Babadan menemukan
penyebabnya. Penyebabnya tak lain adalah Ki Gemblong.

Ki Gemblong sudah tidak memelihara dan
mengembala kerbau dan sapi-sapi lagi. Ia lupa dengan tugas
utamanya. Ki Gemblong setiap hari kerjaannya justru pergi
ke sungai untuk menangkap ikan. Ia tidak lagi menjadi
pengembala yang baik.

Mengetahui hal itu maka Mbah Kiai Babadan sangat
marah terhadap Ki Gemblong. Amarah Mbah Kiai Babadan
sudah tidak tertahan. Ia menghajar Ki Gemblong dengan
menggunakan obor dari pelepah kelapa sebanyak 2 buah.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan, maka Ki
Gemblong tidak tinggal diam. Ia dengan cepat mengambil
obor yang sama bahan dan bentuknya dengan yang
digunakan Kiai Babadan untuk menahan hajaran Mbah Kiai
Babadan.

Maka terjadilah perang obor antara Mbah Kiai
Babadan dengan Ki gemblong. Dalam perang obor tersebut
apinya berserakan ke mana-mana dan percikan api obor
tersebut membakar tumpukan jerami yang ada di sebelah
kandang.

Akibat percikan api perang obor yang membakar
tumpukan jerami tersebut, maka api berkobar kobar

27

sehingga menyebabkan kerbau-kerbau dan sapi-sapi milik
Kiai Babadan yang berada di kandang lari tunggang
langgang. Akan tetapi justru terjadi keanehan. Kerbau-
kerbau dan sapi-sapi yang tadinya sakit seketika sembuh.

Kerbau dan sapi yang tadi sakit dapat berdiri lagi
dengan kuat dan mampu berlari ke ladang kemudian
dengan lahapnya mereka makan rumput-rumput di ladang.

Kejadian yang aneh dan tidak terduga tersebut oleh
masyarakat Tegalsambi diterima sebagai sesuatu yang
penuh mujizat. Dengan adanya perang obor yang tidak
terduga dan dramatis tersebut dapat menyembuhkan segala
penyakit. Oleh sebab itu masyarakat percaya bahwa adanya
perang obor dapat mengusir berbagai bentuk penyakit yang
ada di Desa Tegalsambi.

Perang obor antara Mbah Kiai Babadan dengan Ki
Gemblong sekarang dikembangkan menjadi tradisi rutin
oleh masyarakat Tegalsambi Jepara. Tadisi tersebut rutin
digelar setiap tahun pada Senin Pahing malam Selasa Pon di
bulan Dzulhijjah dalam kalender Jawa atau Arab.

Tradisi perang obor bagi masyarakat Desa Tegalsambi
Jepara merupakan sarana sedekah bumi sebagai ungkapan
rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan

28

rahmat hidayah serta taufiq-Nya yang telah dicurahkan
kepada warga Desa Tegalsambi.

Perkembangan pelaksanaan tradisi perang obor dari
tahun ke tahun mengalami kemajuan dan dikenal oleh
masyarakat secara luas. Hal ini ditandai dengan banyaknya
antusias dari masyarakat untuk melihat secara langsung
perang obor tersebut. Sebelum puncak tradisi perang obor,
masyarakat setempat mengadakan kirab budaya, tontonan
wayang kulit, serta pasar malam.

Tradisi perang obor dikelola dan dilestarikan oleh
pemerintah Desa Tegalsambi bersama masyarakat.

Hikmah cerita:
“Jagalah amanah yang diberikan dengan penuh

tanggung jawab.”

29

Ayo Belajar!

Setelah kita mambaca cerita rakyat di atas,
sekarang waktunya belajar matematika tentang

satuan panjang.
Selamat belajar!

Sumber: https://www.latisprivat.com/

30

Aku Tahu!

Satuan Panjang

Satuan panjang dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Satuan panjang tak baku

Contoh: langkah kaki, jengkal, ubin, buku petak.
2. Satuan panjang baku

Contoh: km, hm, dam, m, dm, cm, mm.
Sekarang kalian sudah mengenal satuan panjang. Satuan
panjang terdiri atas km, hm, dam, m, dm, cm, mm.
Berikut konversi beberapa satuan panjang.

1 km = 1000 m
1 km = 100 dam
1 dm = 10 cm

1
1 mm = 10 cm

1
1 mm = 100 dm

1
1 m = 1000 km

31

Konversi Satuan Panjang

Contoh
5 km = … dam
4.000 dm = … hm

Jawab
5 km = 5 x 100 = 500 dam
4.000 dm = 4.000 x 1 = 4 hm

1000

Satuan panjang biasa digunakan untuk mengukur jarak
tempuh sebuah perjalanan.

32

Aku Coba!

Lengkapilah nilai satuan panjang pada soal berikut!

1. 8 hm = … dm

2. 12 km =…m

3. 150 dm = … mm

4. 1,5 dam = … dm

5. 0,25 km = … m

6. 75 dm = … dam

7. 3,7 mm = … cm

8. 58 km = … cm

9. 2.500 dm = … hm

10. 4800 mm = … dm

33

Aku Bisa!

Selesaikanlah soal cerita berikut!
1. Jarak rumah Kiai Babadan dan tempat Ki Gemblong

mengembalakan ternak adalah 5 km lebih 20 dam.
Berapa meter jarak rumah Kiai Babadan ke tempat Ki
Gemblong menggembalakan ternak?
2. Sapi yang digembalakan Ki Gemlong berjalan sejauh
4.500 dm dan kerbaunya berjalan sejauh 25 dam.
Manakah yang berjalan lebih jauh? Berapa meter
selisihnya?
3. Ki Gemblong meninggalkan ternak gembalaannya untuk
pergi memancing ke sungai Kembangan. Jarak tempat Ki
Gemblong meninggalkan ternaknya dengan sungai
Kembangan 2 km. Ia sudah berjalan sejauh 135 dam.
Berapa meter lagi Ki Gemblong sampai di sungai
Kembangan?
4. Anak-anak SD Ngandong akan menyaksikan tradisi
perang obor di Desa Tegalsambi. Jarak Desa Ngandong
dengan pusat kota Jepara adalah 50 km, jarak pusat kota
Jepara ke Desa Tegalsambi adalah 85 hm. Anak-anak SD
Ngandong berangkat dari Desa Ngandong menuju Desa

34

Tegalsambi melalui pusat kota Jepara. Jarak yang
ditempuh anak-anak SD Ngandong adalah … m.
5. Ternak-ternak Kiai Babadan yang mulanya sakit seketika
sembuh terkena percikan perang obor. Rombongan
ternak berlari sejauh 180 km. Kerbau berlari di depan
sapi sejauh 58 km, sapi menyusul berlari sejauh 47,5 km
di belakang kerbau, dan kambing berada paling belakang.
Berapa km jarak antara kambing dan sapi?

35

Ayo Bekerjasama!

1. Buatlah kelompok, setiap kelompok 3 orang siswa.

2. Setiap kelompok mengukur perbandingan panjang (jarak)

dan waktu tempuh ketika berjalan dan berlari.

3. Lakukan kegiatan ini di halaman atau lapangan sekolahmu.

4. Siswa pertama berjalan dari garis start ke garis finish .

5. Siswa kedua berlari dari garis start ke garis finish .

6. Siswa ketiga sebagai pengukur waktu dengan stopwatch dan

mencatatnya.

7. Buatlah tabel dari hasil praktik kelompokmu.

No. Nama Lari/Jalan Jarak Waktu

1

2

3

8. Setiap kelompok mendiskusikan hasil praktiknya.

9. Setiap kelompok mendiskusikan pertanyaanpertanyaan

berikut.

- Siapa yang memiliki perbandingan jarak dan waktu lebih

besar?

- Mengapa berlari lebih cepat?

- Apa hubungannya dengan waktu yang kamu hitung?

10. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi

kelompoknya.

36

Ayo Membaca!

Sebelum belajar matematika tentang menghitung
kecepatan, mari terlebih dahulu kita membaca
cerita rakyat yang berjudul “Desa Teluk Awur”.

Ini adalah cerita rakyat dari Jepara. Cerita rakyat

11.in\i mempunyai nilai moral yang dapat kita petik.

Selamat membaca!

Sumber: https://pendidikan.id/

37

Desa Teluk Awur

Teluk Awur merupakan salah satu desa di
Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara Jawa Tengah. Ada
kisah menarik dibalik nama Teluk Awur itu sendiri.

Zaman dahulu, di suatu desa ada sepasang suami
istri yang hidup bahagia. Mereka saling mencintai satu
dengan yang lainnya. Sang suami bernama Syeikh Abdul
Aziz dan istrinya bernama Den Ayu Roro Kuning.

Istrinya adalah murid dari Sunan Muria, yang
mempunyai paras cantik sempurna bagai bidadari dari
khayangan. Sementara itu suaminya adalah pria dari negeri

38

timur yang ditugaskan oleh ayahnya untuk menyebarkan
agama Islam di Jawa.

Selain bersyiar agama, Syeikh Abdul Aziz dalam
kesehariannya bekerja di ladang. Setiap kali ke lading dan
belum usai pekerjaannya, dia selalu pulang. Hal ini ia
lakukan sekadar untuk melihat istrinya yang cantik dan
teramat sangat dia cintai. Seakan dia tak mau sedetik pun
terlewatkan untuk tidak melihat paras sang istri tercinta.

Hal ini berulang-ulang dilakukan Syeikh Abdul Aziz,
sehingga timbul ide dari istrinya, kalau hal tersebut
dibiarkan terus menerus maka pekerjaan di ladang akan
terbengkalai. Akhirnya disuruhlah sang suami menggambar
paras cantiknya untuk dibawa setiap kali ke ladang. Karena
cintanya, sang suami pun menyetujui ide dari sang istri.

Setelah lukisan jadi, Syeikh Abdul Aziz selalu
membawanya, sehingga tidak perlu pulang sebelum semua
pekerjaannya selesai.

Suatu pagi yang cerah Syeikh Abdul Aziz melakukan
kegiatan seperti biasa yaitu pergi ke ladang dan tak lupa dia
membawa lukisan sang istri tercinta. Sesampainya di lading,
diletakkanlah lukisan sang istri di atas keranjang yang biasa
Syeikh Abdul Aziz bawa. Tanpa firasat apa pun, tiba-tiba
angin datang dengan teramat kencangnya, sehingga

39

mengakibatkan lukisan sang istri Syeikh Abdul Aziz terbang
jauh yang akhirnya jatuh di depan halaman kerajaan yang
rajanya bernama Joko Wongso.

Lukisan itu pun sampai ke tangan sang raja. Betapa
kagetnya sang raja setelah melihat lukisan tersebut. Ia
sangat terkejut melihat wanita di lukisan yang begitu cantik
dan memesona.

Kemudian tanpa pikir panjang, raja Joko Wongso
memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk mencari wanita
yang ada dalam lukisan. Setelah dicari akhirnya ketemu dan
dibawalah istri Syeikh Abdul Aziz ini ke kerajaannya Joko
Wongso.

Sesampainya di kerajaan tersebut, Den Ayu Roro
Kuning selalu sedih, murung, dan gelisah memikirkan
suaminya yang pasti akan mencari dirinya.

Benar saja saat ingin membawa lukisan istrinya,
Syeikh Abdul Aziz mencari-cari lukisan tersebut, karena
tidak ketemu, suami Den Ayu Roro Kuning ini memutuskan
untuk pulang ke rumah dan betapa terkejutnya dia
mendapati istrinya tidak ada di rumah.

Suatu ketika, dia mendengar kabar kalau istrinya
dibawa oleh Raja Joko Wongso untuk dijadikan sebagai
permaisurinya. Mendengar ini, Syeikh Abdul Aziz kemudian

40

pergi ke kerajaan Joko Wongso dengan cara
mengamen/bermain kentrung.

Sesampainya di halaman kerajaan, suami Den Ayu
Roro Kuning ini menyanyi sambil memainkan kentrungnya.
Dari dalam kabupaten, sayup-sayup suara lagu dan musik
ini pun terdengar sampai ke telinga Den Ayu Roro Kuning.
Setelah jelas terdengar dia tak ragu lagi bahwa itu adalah
suara dari suaminya tercinta. Maka dia menyuruh abdinya
untuk memanggil pengamen tersebut yaitu Syeikh Abdul
Aziz tercinta.

Pertemuan ini pun menggembirakan bagi keduanya,
sehingga mereka sepakat menyusun rencana bagaimana
caranya agar Den Ayu Roro Kuning tidak bisa dijadikan istri
Joko Wongso.

Rencana dirancang yakni, Den Ayu Roro Kuning
mengajukan syarat pada sang raja. Den Ayu Roro Kuning
menghadap sang raja. Istri Syeikh Abdil Aziz ini berkata,
“Baginda, hamba siap dijadikan permaisuri, tetapi dengan
syarat, carikan kerang (kijing) yang menari dan raja harus
berpakaian ala nelayan lengkap dengan kepisnya.” (kepis:
tempat ikan dalam bahasa jawa)

Karena hasrat untuk memperistri Den Ayu Roro
Kuning yang sangat kuat, maka Joko Wongso setuju tanpa

41

rasa curiga sedikit pun atas syarat yang diajukan oleh istri
Syeikh Abdul Aziz ini.

Berangkatlah sang Raja ke laut dengan harapan
dapat memiliki Den Ayu Roro Kuning dengan meninggalkan
pakaian kerajaannya. Sementara itu dalam kerajaannya,
pasangan suami istri ini melaksanakan strategi yang sudah
diatur. Syeikh Abdul Aziz berganti pakaian memakai baju
kerajaan raja Joko Wongso dan berpura-pura jadi raja Joko
Wongso. Kemudian dia memerintahkan pada prajurit dan
rakyat kerajaan Joko Wongso untuk menyisir pantai karena
ada mata-mata yang akan menghancurkan kerajaan. Mata-
mata tersebut berpakaian nelayan lengkap dengan kepis
nya.

Dalam perintahnya itu ada sebagian rakyatnya yang
ragu (tidak percaya), tetapi karena yang memerintahkan
raja, maka mereka berangkat untuk mencari mata-mata
yang sebenarnya adalah rajanya sendiri.

Pencarian membuahkan hasil. Tanpa ditanya dulu,
prajurit dan rakyat ini mengeroyok sang nelayan. Dalam
keadaan ini nelayan bilang, “Teluk… teluk… (takluk).” Tetapi
prajurit dan rakyat tidak mau tahu, sehingga membuat sang
nelayan mati. Sebelum ajalnya tiba, sang nelayan sempat

42

bicara, ”AKU RAJAMU, AKU SUDAH BILANG TELUK, TELUK
TAPI KALIAN TETAP NGAWUR.”

Ucapan inilah yang sekarang dijadikan nama tempat
di mana Raja Joko Wongso dulunya didholimi dan dianiaya
yaitu ”TELUK AWUR”. Jasad Joko Wongso dimakamkan
berdekatan dengan makam dan Den Ayu Roro Kuning.
Makam tersebut ada di desa Teluk Awur. Sedangkan Syeikh
Abdul Azis dimakamkan di Desa Jondang yang kemudian
Syeikh Abdul Azis dikenal dengan sebutan nama “Syeikh
Jondang”.

Hikmah cerita:
“Untuk membuat diri kita berhasil, tidak perlu dengan

mencelakai orang lain.”

43

Ayo Belajar!

Setelah kita mambaca cerita rakyat di atas,
sekarang waktunya belajar matematika tentang

menghitung kecepatan.
Selamat belajar!

Sumber: https://www.latisprivat.com/

44

Aku Tahu!
Hubungan Jarak, Waktu, dan Kecepatan
Menghitung Kecepatan

Perbandingan antara jarak dengan waktu dinamakan
kecepatan. Kecepatan dari suatu tempat menuju tempat
tertentu dinamakan kecepatan rata-rata.

jarak
Kecepatan rata − rata = waktu

Untuk memudahkan dalam mengingat, akan digunakan
simbol J untuk jarak tempuh, K untuk kecepatan rata-rata,
dan W untuk waktu. Sehingga dari hubungan jarak dan
waktu diperoleh sebuah rumus sebagai berikut.


=

45

Aku Coba!

Contoh 1
30 km/jam = … m/menit
Jawab
30 km/jam = 30 x 1000 m/60 menit

= 500 m/menit
Contoh 2
Pak Ali mengendarai sepeda motor selama 2 jam
menuju Desa Teluk Awur dan menempuh jarak 90
km. Tentukan kecepatan sepeda motor Pak Ali!
Penyelesaian
Diketahui w = 2 jam

j = 90 km
Ditanya k = … km/jam
Jawab k= j/w

k= 90 km/2jam
= 45 km/jam

46

Lengkapilah tabel kecepatan berikut ini!

No. Jarak tempuh Waktu tempuh Kecepatan
(km/jam)
(km/hm/dam/m) (jam atau menit) … km/jam
… km/jam
1 120 km 3 jam … km/jam
… km/jam
2 212 km 4 jam

3 300 hm 120 menit

4 5000 m 30 menit

5 4500 dam 90 menit … km/jam

47

Aku Bisa!

Selesaikanlah soal berikut!
Tuliskan cara dan hasilnya di buku tulismu!
1. Syeh Abdul Azis bergegas pulang dari ladang untuk

menemui istrinya, Den Ayu Roro Kuning. Ia mampu
berlari sejauh 100 m dalam 10 detik. Kecepatan lari Syeh
Abdul Azis adalah … m/detik.
2. Dalam sehari berulang kali Syeh Abdul Azis pulang pergi
dari ladang ke rumahnya hanya untuk menemui istrinya
yang cantic. Kali ini ia berlari dalam 10 menit dapat
menempuh jarak 2000 m. Kecepatan berlari Syeh Abdul
Azis tersebut adalah … m/menit.
3. Lukisan Den Ayu Roro Kuning terbang dibawa angina
menembus jarak 40 km dalam waktu 20 menit.
Kecepatan angina yang membawa terbang lukisan
tersebut adalah … km/jam.
4. Prajurit-prajurit Raja Joko Wongso pergi mencari wanita
yang ada dalam lukisan dengan mengendarai kuda. Kuda
berlari dalam waktu 15 menit dapat menempuh jarak
12,5 km. Kecepatan lari kuda tersebut adalah …
km/jam.

48

5. Setelah diberikan syarat oleh Den Ayu Roro Kuning
untuk mencari kerang dengan berpakaian nelayan,
seketika Raja Joko Wongso melesat menuju pantai. Ia
berlari secepat kilat dengan kecepatan 60 km/jam.
Kemudian para prajurit diperintahkan Syeh Abdul Azis
untuk mengejar nelayan di pantai yang tak lain adalah
Raja Joko Wongso. Para prajurit melaju dengan
kecepatan 20 m/detik. Manakah yang melaju lebih cepat
antara Raja Joko Wongso dengan para prajurit?

49

Ayo Membaca!

Sebelum belajar matematika tentang menghitung
jarak tempuh, mari terlebih dahulu kita membaca
cerita rakyat yang berjudul “Luweng Mandalika”.
Ini adalah cerita rakyat dari Jepara. Cerita rakyat
ini mempunyai nilai moral yang dapat kita petik.

Selamat membaca!

Sumber: https://pendidikan.id/

50


Click to View FlipBook Version