The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by bambangsupriyanto111, 2022-10-24 20:31:48

Buku Mbak Ana Revisi Akhir

Buku Mbak Ana Revisi Akhir

Luweng Mandalika

Konon menurut cerita tutur di dasar laut antara
pulau Mandalika dengan benteng Portugis terdapat
kerajaan siluman bajul putih atau buaya putih.

Peristiwa itu konon ditandai dengan kehadiran
seorang pemuda yang tampan gagah dan bibirnya selalu
tersenyum berada di tengah-tengah nelayan. Dapat
dipastikan kehadiran pemuda itu akan membawa korban
Pada malam harinya.

Kejadian yang terus berulang-ulang itu membuat
para nelayan ketakutan. Pada akhirnya mereka menemui Ki
Bandar murid Ong Cum Leng yang sepeninggal gurunya
menggantikan memimpin padepokan pencak silat. Mereka

51


meminta tolong agar menangkap pemuda yang tiba-tiba
muncul pada saat para nelayan melakukan sedekah laut.

Dengan bantuan Ki Bandar, para nelayan
mengeroyok pemuda itu. Namun tiba-tiba saja pemuda itu
menghilang.

Pada malam harinya ketika nelayan sedang
beristirahat mereka dikejutkan dengan suara gaduh dari
arah pantai. Setelah dilihat ternyata ada ratusan buaya
sudah menghancurkan perahu mereka. Tentu saja mereka
ketakutan dan segera melaporkan peristiwa tersebut
kepada Ki Bandar.

Karena yang dihadapi adalah kiriman dari kerajaan
bajul putih, maka Ki Bandar bersama dengan dua orang
nelayan menemui gurunya Ong Cum Leng yang telah
menjadi siluman dan bertempat tinggal di Gua Tritip.

Namun dalam semedinya, Ki Bandar mendapatkan
jawaban bahwa Ong Cum Leng tidak bisa membantu karena
sudah terikat perjanjian tidak akan saling mengganggu.

Ki Bandar hanya mendapatkan petunjuk dari
gurunya untuk menemui seorang sakti bernama Eyang
Kepel yang bertapa di Gua Tratak di Gunung Genuk. Gua
tratak ini bentuknya sama dengan Gua Tritip.

52


Setelah bertemu, Ki Bandar menceritakan persoalan
yang dihadapi oleh nelayan di Metawar. Namun karena
siluman bajul putih hanya dapat dikalahkan oleh dua orang
yang dapat menembus alam siluman, mereka diminta oleh
Eyang Kepel untuk menemui Ki Leseh yang bertapa di
Lembah Donorojo. Ia adalah bekas prajurit Ratu Kalinyamat.

Singkat cerita Ki Bandar kemudian mencari Ki Leseh
yang bertapa di Donorojo bersama istrinya. Setelah bertemu
dan menyampaikan maksudnya, Ki Leseh bersedia
membantu karena itu merupakan kewajibannya.

Mereka segera menuju ke pantai Metawar. Namun
tampaknya Eyang Kepel telah datang terlebih dahulu. Ia
menunggu dengan membuat rumah di antara dua pohon
besar di atas bukit yang berada di Mandalika tempat di
mana kerajaan siluman bajul putih berada.

Sedangkan Ki Leseh memilih membuat rumah di
pinggir pantai. Namun mereka sering bertemu untuk
membicarakan cara untuk dapat mengalahkan siluman bajul
putih.

Pada saat mereka bertemu di rumah Ki Leseh,
datanglah pemuda tampan yang selalu tersenyum. Mereka
tahu bahwa pemuda itu adalah siluman bajul putih. Karena
itu mereka minta siluman itu agar tidak mengganggu

53


nelayan. Namun justru permintaan itu ditolak. Ki Leseh dan
Eyang Kepel justru diminta untuk meninggalkan tempat itu.

Akhirnya terjadilah perkelahian yang dahsyat.
Merasa akan kalah, siluman bajul putih mengeluarkan
senjatanya tongkat kayu Nangka Celeng. Sedangkan Ki
Leseh mengeluarkan senjatanya Welah Ruyung dan Eyang
Kepel menggunakan senjata andalannya Kenthes Galih
Asam.

Dikeroyok 2 orang sakti, pemuda itu kewalahan dan
melarikan diri masuk ke laut. Tiba-tiba dari dalam laut
muncul ratusan buaya yang dipimpin oleh buaya putih
menyerang Ki Leseh dan Eyang Kepel. Keduanya langsung
menggunakan senjata saktinya hingga pasukan buaya itu
dapat dikalahkan dan masuk kembali ke dalam laut.

Ki Keseh dan Eyang Kepel langsung mengejar.
Masuk ke laut menuju kerajaan siluman buaya putih.
Terjadilah peperangan dahsyat hingga membuat ombak
setinggi bukit. Bahkan ombak itu menerjang perumahan
nelayan.

Akhirnya setelah sehari penuh bertempur, raja
siluman buaya putih dan pasukannya dapat dikalahkan.
Setelah dikalahkan, mereka diminta untuk berjanji tidak lagi
mengganggu nelayan Metawar dan siapa pun yang melewati

54


luweng siluman. Tidak ada pilihan lain, pasukan siluman
buaya putih yang telah kalah perang langsung menyetujui.
Sebab mereka takut Ki Leseh dan Eyang Kepel akan marah
dan menghancurkan mereka. Apalagi saat itu, baik Ki Leseh
maupun Eyang Kepel masih memegang senjatanya yang
sangat ampuh.

Namun Raja siluman bajul putih dengan hati-hati
mengajukan satu permohonan. Bila ada yang lewat tepat di
atas luweng siluman dan berkulit putih seperti bajul putih
atau buaya putih maka akan ditarik masuk ke dalam
kerajaan siluman melalui luweng siluman. Setelah
dipertimbangkan secara mendalam akhirnya permintaan
tersebut disetujui. Sebab kedua tokoh sakti itu menganggap
tidak ada penduduk Metawar dan sekitarnya yang berkulit
putih seperti bajul putih.

Setelah tugas selesai, kedua orang sakti ini kembali
ke pertapaannya masing-masing. Namun pusaka mereka
ditinggal agar siluman buaya putih tidak mengganggu lagi
nelayan Metawar. Pusaka Eyang Kepel berupa Kenthes Galih
Asem dimasukkan ke rongga pohon asam yang berada di
atas bukit. Sedangkan pusaka Ki Leseh berupa Welah
Ruyung dikebumikan di bawah pohon besar di tepi pantai.

55


Sejak saat itu nelayan di Metawar dapat hidup dengan
tentram dan damai.

Hikmah cerita:
“Setiap permasalahan bisa diselesaikan dengan
kekeluargaan tanpa harus dengan kekerasan.”

56


Ayo Belajar!

Setelah kita mambaca cerita rakyat di atas,
sekarang waktunya belajar matematika tentang

menghitung jarak tempuh.
Selamat belajar!

Sumber: https://www.latisprivat.com/

57


Aku Tahu!
Menghitung Jarak Tempuh

Jarak adalah ukuran panjang dari satu tempat ke tempat
lain. Jarak tempuh, kecepatan, dan waktu memiliki
hubungan sebagai berikut.

j=kxw

Sumber: https://www.pngegg.com/id

58


Aku Coba!

Contoh
Sebuah kapal melaju dari pulau Mandalika menuju
Benteng Portugis selama 2 jam. Kapal tersebut
melaju dengan kecepatan 60 kilometer per jam.
Berapa kilometer jarak antara pulau Mandalika
dengan Benteng Portugis?

Penyelesaian
Diketahui:
Kecepatan (k) = 60 km/jam
Waktu (w) = 2 jam
Ditanyakan:
Jarak = … ?
Jawab:
j =kxw

= 60 km/jam x 2 jam
= 120 km

Jadi, jarak Pulau Mandalika ke Benteng Portugis
adalah 120 km.

59


Lengkapilah tabel berikut ini!

No. Kecepatan Waktu tempuh Jarak tempuh
(km)
(km/jam atau m/menit) (jam,menit,detik)
… km
1 55 km/jam 3 jam … km
… km
2 60 km/jam 4 jam … km
… km
3 70 km/jam 180 menit

4 300 m/menit 30 menit

5 500 m/menit 300 detik

Aku Bisa!

Selesaikanlah soal berikut!
Tuliskan cara dan hasilnya di buku tulismu!
1. Ki Bandar pergi menemui Eyang Kepel dari Gua Tritip

menuju Gua Tratak menggunakan kapal selama 2 jam
dengan kecepatan 55 km/jam. Tentukan jarak yang
antara Gua Tritip dan Gua Tratak!
2. Sesuai perintah Eyang Kepel, Ki Bandar melanjutkan
perjalanan menuju Lembah Donorojo untuk menemui Ki
Leseh. Kapal yang dikendarai Ki Bandar melaju dengan
kecepatan 80 km/jam selama 3 jam. Tentukan jarak yang
ditempuh kapal yang dikendarai Ki Bandar!
3. Akhirnya Ki Leseh bersedia membantu Ki Bandar untuk
mengalahkan Siluman Bajul Putih. Dari Lembah

60


Donorojo, mereka menuju pantai Metawar. Kapal yang
dikendarai berkecepatan 70 km/jam berjalan selama 2,5
jam. Berapa km jarak antara Lembah Donorojo dengan
pantai Metawar?
4. Setelah mengalahkan Siluman Bajul Putih, Ki Bandar
kembali mengemudikan kapalnya menuju Gua Tritip dari
pantai Metawar dengan kecepatan 60 km/jam. Kapal
berangkat pukul 09.00 dan tiba pukul 11.30. Berapa km
jarak antara pantai Metawar dan Gua Tritip?

61


Ayo Membaca!

Sebelum belajar matematika tentang menghitung
waktu tempuh, mari terlebih dahulu kita membaca
cerita rakyat yang berjudul “Legenda Sura Gotho”.
Ini adalah cerita rakyat dari Jepara. Cerita rakyat
ini mempunyai nilai moral yang dapat kita petik.

Selamat membaca!

Sumber: https://pendidikan.id/

62


Legenda Sura Gotho

Sura Gotho adalah seorang yang hidup di masa
kasunanan dan berkembang di sekitar Bangsri dan Mlonggo.
Ia diceritakan sebagai orang yang memiliki kesaktian dan
ambisinya untuk mempersunting wanita yang disukai
berani mengorbankan apa saja. Ceritanya kemudian
dihubungkan dengan pemberian nama desa tertentu dan
binatang yang dinamai Yuyu Gotho serta dikaitkan dengan
Ula Lempe.

Dahulu kala ketika agama Islam mulai disiarkan oleh
para Wali Sanga, dan dilanjutkan oleh para santrinya,
tersebarlah Islam sampai ke wilayah utara Pulau Jawa,
termasuk di wilayah Jepara.

63


Sunan Muria punya banyak santri yang mumpuni
dan andal. Tidak hanya mumpuni dalam hal-hal keagamaan
saja, bahkan sampai olah kanuragan dan kekebalan tubuh
pun mereka punya. Termasuk Ki Gede Bangsri, Ki Banjar, Ki
Jenggot dan juga Ki Sura Gotho yang berasal dari wilayah
Jepara sebelah utara. Mereka hidup rukun saling
mengunjungi, tolong menolong dan bekerja sama dalam
berdakwah agama.

Seperti yang lain, Sura Gotho juga bersilaturrahmi
ke rumah saudaranya Ki Gede Bangsri. Namun hari itu sial
karena Ki Gedhe Bangsri sedang tidak ada di rumah,
agaknya sedang bepergian dengan istrinya. Yang ada di
rumah hanyalah anak putrinya yang sudah beranjak dewasa
dan juga sangat cantik bernama Dewi Wiji.

Sebagai anak yang dididik taat beragama, Dewi Wiji
menaruh hormat kepada Ki Sura Gotho, sebagai tamu
ayahnya. Disuguh minuman, makanan seadanya dengan
penuh sopan santun, dan muka yang ramah. Namun
perlakuan seperti itu ditanggapi lain oleh Ki Sura Gotho. Dia
terkesima melihat kecantikan dan kelembutan tingkah laku
Dewi Wiji. Mata dan hatinya sudah mulai dirasuki nafsu
setan. Dia tidak mengira kalau Ki Gede Bangsri punya anak
secantik Dewi Wiji.

64


Sifat dan perangai Sura Gotho memang banyak yang
berlawanan dengan santri-santri Sunan Muria yang lain. Dia
sering melanggar aturan-aturan yang berlaku di pesantren.
Sifat dan kebiasaan itu masih terbawa sampai dia keluar
dari pesantren Muria.

Kali ini dia dihadapkan dengan kecantikan Dewi Wiji
yang sangat menggoda hati lelakinya. Maka dengan tanpa
basa-basi, dia meminta kesediaan Dewi Wiji untuk
dipersunting menjadi istrinya.

Betapa takut dan risau hati Dewi Wiji setelah
mendengar permintaan Ki Sura Gotho, yang dianggap
sebagai pamannya sendiri itu. Dia menolak dengan kalimat
yang halus. Namun Ki Sura Gotho tetap memaksa kesediaan
Dewi Wiji untuk mengabulkan permintaan itu. Semakin dia
tolak, semakin keras Ki Sura Gotho memaksakan
kehendaknya.

Bujuk rayu dan iming-iming berupa harta dan
perhiasan tidak bisa meluluhkan hati Dewi Wiji. Untuk
meredakan suasana yang gawat itu, Dewi Wiji minta izin
pura-pura ke dapur untuk mengambilkan minuman. Namun
sebenarnya dengan sembunyi-sembunyi dia menyelinap
kabur dari rumah, lari ke arah timur melalui pekarangan
dan semak belukar.

65


Kala itu memang rumah penduduk masih jarang,
sehingga agak jauh ia berlari baru menemukan sebuah
rumah. Rumah itu milik tukang celup pakaian. Kebanyakan
orang menyebut tukang wedel. Karena tidak ada tempat
perlindungan lain, maka Dewi Wiji minta izin untuk
bersembunyi di situ untuk beberapa saat dari kejaran Ki
Sura Gotho.

Bukan Ki Sura Gotho kalau mudah ditipu seperti itu.
Dia sudah melihat gelagat dari raut muka Dewi Wiji yang
akan melarikan diri. Dengan tenang dia amati ke mana arah
larinya Dewi Wiji. Dia berpikir semakin jauh dari rumahnya,
maka kehendaknya semakin mudah terlaksana. Karena dia
yakin pasti bisa menangkapnya, seberapa jauh larinya
seorang perempuan.

Setelah sampai di rumah tukang wedel, Sura Gotho
mendobrak pintunya. Sekali saja ambrol dan keluarlah si
tuan rumah dengan marah-marah. Sebagai seorang yang
dimintai perlindungan maka tukang wedel tidak mengaku
kalau menyembunyikan Dewi Wiji di rumahnya.

Perang mulut pun terjadi dan akhirnya
berkelanjutan perang yang sesungguhnya. Perang yang
tidak seimbang. Tukang wedel gugur membela kebenaran.
Sampai sekarang desa itu disebut Desa Wedelan.

66


Ketika Ki Sura Gotho sedang berselisih dengan
tukang wedel, yang menurut Dewi Wiji, tukang wedel tidak
mampu memberikan perlindungan, maka dia melarikan diri
ke arah timur.

Sampailah dia di rumah Ki Banjar, dan Dewi Wiji
meminta perlindungan kepada Ki Banjar. Sementara Ki Sura
Gotho masih terus mengejar Dewi Wiji.

Ki Sura Gotho pun sampai ke rumah Ki Banjar.
Karena Ki Banjar ingin melindungi anak dari kakak
seperguruannya, maka terjadilah perkelahian hebat antara
Ki Banjar dan Ki Sura Gotho. Ki Banjar pun mengalami
kekalahan, sehingga daerah sekitar tinggal Ki Banjar
diberinama Desa Banjaran.

Ketika perselisihan terjadi, Dewi Wiji sudah tidak
ada harapan lagi untuk selamat. Tetapi manusia beragama
tidak boleh putus asa. Dewi Wiji terus berlari dan terus
berlari.

Melalui sawah menyeberang sungai, hutan rimba,
dan semak yang berduri. Akhirnya bertemu dengan
perempuan setengah baya penjual kembang kanthil. Dia
menceritakan pelariannya dari kejaran Ki Sura Gotho. Maka
secepatnya Dewi Wiji disembunyikan di sebuah tempat
yang aman. Sementara Dewi Wiji merasa tenang. Namun

67


apa dikata, penjual kembang adalah seorang perempuan
biasa. Sekuat dan seteguh apa pun kekuatan seorang wanita
pasti tidak kuat siksaan dan penganiayaan Ki Sura Gotho.

Akhirnya terpaksa menunjukkan tempat
persembunyian Dewi Wiji. Dasar Ki Sura Gotho yang sudah
mata gelap membabi buta, penjual kembang yang sudah
mau menunjukkan tempat persembunyian Dewi Wiji pun
dibunuh dengan sadisnya. Penjual kembang gugur sebagai
pembela kebenaran. Sampai sekarang desa tempat
terjadinya peristiwa itu disebut desa Kembang yang
sekarang menjadi sebuah Kecamatan.

Dewi Wiji memang wanita yang gigih memegang
pendirian. Dia wanita yang tidah mudah putus asa. Ketika Ki
Sura Gotho mencium jejak persembunyiannya, dia sudah
melarikan diri. Setelah melalui beberapa rintangan dan
hambatan sampailah dia di rumah seseorang yang dituju
yaitu Ki Ageng Jenggot. Tokoh ini masih kerabat dan juga
saudara seperguruan dengan ayahnya, Ki Gede Bangsri.
Artinya juga saudara seperguruan dengan Ki Sura Gotho.
Kepada orang inilah Dewi Wiji yakin dan percaya pasti bisa
mengalahkan dan menyadarkan Ki Sura Gotho dari
kemungkarannya.

68


Dewi Wiji bisa bernapas lega. Dia dipersilakan
istirahat di pesanggrahan belakang, biarlah nanti ki Ageng
Jenggot yang menghadapi segala permasalahan.

Tidak lama dari kedatangan Dewi Wiji, Sura Gotho
pun datang. Ki Ageng Jenggot tidak berbasa-basi lagi. Dia
katakan terus terang bahwa Dewi Wiji keponakannya ada di
sini. Dia meminta Ki Sura Gotho untuk mengurungkan
niatnya. Karena hal itu tabu dan tidak pantas dilakukan.
Masih banyak pesan dan nasihat Ki Ageng Jenggot kepada Ki
Sura Gotho. Layaknya seorang kakak menasihati adiknya.

Namun bagaimana tanggapan Ki Sura Gotho? Hati
dan pikirannya sudah tertutup rapat dengan segala nasihat.
Tanpa punya rasa segan dan malu kepada saudara tuanya,
dia tetap nekat ingin memperistri Dewi Wiji. Boleh atau
tidak, Dewi Wiji akan diminta. Maka terjadilah perdebatan
sengit dan selanjutnya bisa ditebak yaitu adu kekuatan.

Dengan senyum pahit, terpaksa Ki Ageng Jenggot
melayani tantangan Sura Gotho. Setelah berlangsung
beberapa jurus, Sura Gotho terdesak dan dapat dirobohkan
oleh Ki Ageng Jenggot. Memang ilmu kanuragan yang
dipunyai, setingkat di atas kemampuan Ki Sura Gotho. Sura
Gotho menyerah.

69


Menyerahnya Sura Gotho ternyata hanya tipu daya
seorang pecundang yang penuh dengan kelicikan. Ketika
dilepas dari cengkeraman tangan Ki Ageng Jenggot dia
mengambil sebuah benda dari balik ikat pinggangnya.
Setelah ditunjukkan, terkejutlah Ki Ageng Jenggot. Ternyata
yang ditunjukkan adalah benda sejenis gada kuningan. Itu
adalah pusaka andalan kasunanan Muria yang disebut
Guling Muria. Ampuhnya luar biasa. Dan tanpa membuang
kesempatan, dipukulkanlah senjata itu tepat di tengah
kepala Ki Ageng Jenggot. Seketika itu juga Ki Ageng Jenggot
gugur membela kebenaran. Sampai sekarang desa tempat
kejadian tersebut terkenal dengan nama desa Jenggotan.

Dengan gugurnya Ki Ageng Jenggot, maka sudah
tidak ada rintangan lagi. Dengan paksa Dewi Wiji
digelandang dibawa lari oleh Ki Sura Gotho ke tempat
tinggalnya Mandalika. Berita tentang diculiknya Dewi Wiji
telah terdengar oleh Ki Gedhe Bangsri, yang ternyata sedang
sowan di kasunanan Muria.

Kanjeng Sunan Muria yang waktu itu sedang
menerima tamu istimewa dari negeri Tiongkok merasa
prihatin atas musibah itu. Ternyata hilangnya Pusaka
Kasunanan yang disebut Guling Muria dicuri oleh Ki Sura
Gotho si angkara murka.

70


Tamu istimewa dari Tiongkok itu adalah Sam Pho
Kong yang terkenal dalam sejarah. Dia mau berguru tentang
Islam kepada Sunan Muria. Untuk imbalannya, Sam Pho
Kong bisa memberikan jalan keluar untuk mengatasi Sura
Gotho. Sura Gotho harus mati karena sangat membahayakan
bagi ketenteraman orang lain dengan pusaka ampuh di
tangannya.

Kepada Ki Gede Bangsri diberikanlah sebotol kecil
serbuk racun yang sangat mujarab. Entah bagaimana
caranya, serbuk racun itu harus bisa terminum oleh Ki Sura
Gotho. Maka tidak menunggu waktu, Ki Gede Bangsri
secepatnya minta pamit.

Setelah Dewi Wiji ada di bawah cengkeramannya,
Sura Gotho tidak segera pulang ke Mandalika. Dia
merayakan kemenangannya dengan bersenang-senang
bersama kawan-kawanya di pantai Metawar. Karena
teriknya panas, maka Ki Sura Gotho kehausan. Dia membeli
dawet. Kebetulan di sekitar pantai ada penjual dawet.

Setelah puas meminum dawet, sekujur tubuhnya
terasa panas. Ternyata racun Sam Pho Kong telah berhasil
diselundupkan melalui telik sandi yang ditugaskan
membawanya. Karena tidak tahan menahan panasnya racun

71


yang merasuk ke tubuhnya, Sura Gotho berguling-guling
kian kemari lalu menceburkan diri ke laut.

Dan terjadilah keajaiban. Tubuh Ki Sura Gotho
seketika berubah menjadi Yuyu Gotho yaitu kepiting
raksasa yang berbulu lebat. Ia bersumpah kalau Dewi Wiji
tidak dikorbankan, maka rakyat Bangsri akan dihancurkan.

Ki Ageng Bangsri meminta pertimbangan kepada
Sunan Muria. Setelah itu Sunan Muria menyarankan putri Ki
Ageng Bangsri, Dewi Wiji dikorbankan. Mendengar
ancaman mengerikan itu, Dewi Wiji yang sudah hancur
luluh hatinya merelakan tubuhnya sebagai tumbal
keangkaramurkaan Ki Sura Gotho. Dia ikhlas berkorban
demi keselamatan rakyat Bangsri yang tidak berdosa.

72


Tanpa ragu-ragu, Dewi Wiji menceburkan diri ke
laut. Keajaiban pun terjadi. Seketika itu tubuh Dewi Wiji
berubah menjadi Ula Lempe.

Sampai sekarang terdapat cerita rakyat jika ada
orang digigit ula lempe, obatnya yuyu gotho ditumbuk
lembut dan dioleskan. Sebaliknya, jika digigit yuyu gotho
maka obatnya darah ula lempe.

Hikmah cerita:
“Untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan,

tidak perlu dengan cara-cara yang licik.”

73


Ayo Belajar!

Setelah kita mambaca cerita rakyat di atas,
sekarang waktunya belajar matematika tentang

menghitung waktu tempuh.
Selamat belajar!

Sumber: https://www.latisprivat.com/

74


Aku Tahu!
Menghitung Waktu Tempuh

Waktu tempuh atau lama perjalanan adalah lama waktu
yang terpakai dalam perjalanan untuk menempuh suatu
jarak tertentu. Waktu tempuh dapat dihitung dengan
menggunakan rumus berikut.

W =



Sumber: https://pngtree.com/

75


Aku Coba!

Contoh 1
Rumah Fara di Desa Mlonggo. Fara berangkat ke sekolah dari
Desa Mlonggo dengan sepeda berkecepatan 20 km/jam. Jarak
rumah Fara ke sekolah 5 km. Berapa lama Fara sampai
sekolah?
Penyelesaian
Diketahui: jarak (j) = 5 km, kecepatan (k) = 20 km/jam
Ditanyakan: lama waktu tempuh (w) = ...
Jawab: w = j/k w= 5 km : 20 km/jam = 1/4 jam = 15 menit

Contoh 2
Paman Husin mengendarai mobil melaju dari Pekalongan ke
Jepara menempuh jarak 120 km. Kecepatan mobil 60 km/jam.
Berangkat dari Pekalongan pukul 07.00.
a. Berapa jam waktu tempuh perjalanan Paman Husin?
b. Pukul berapakah Paman Husin tiba di Jepara?
Penyelesaian
Diketahui: Jarak (j) = 120 km, kecepatan (k) = 60 km/jam
Ditanyakan: a. lama waktu tempuh (w) = ….

b. waktu tiba di tujuan…
Jawab
a. w = j/k = 12 : 60 = 2 jam. Lama perjalanan adalah 2 jam.
b. Waktu tiba adalah waktu berangkat ditambah lama waktu
tempuh. Pukul 07.00 ditambah 2 jam sama dengan pukul
09.00.
Jadi, waktu tiba di Jepara adalah pukul 09.00 dengan lama
perjalanan 2 jam.

76


Lengkapilah tabel berikut ini!

No. Kecepatan Jarak tempuh Waktu tempuh
(jam atau menit)
(km/jam atau m/menit) (km) … jam
… jam
1 45 km/jam 90 km … jam
… menit
2 60 km/jam 180 km … menit

3 80 km/jam 200 km

4 200 m/menit 5 km

5 500 m/menit 6 km

Aku Bisa!

Selesaikanlah soal berikut!
Tuliskan cara dan hasilnya di buku tulismu!
1. Dewi Wiji terus dikejar Ki Sura Gotho. Ia sudah berlari

menempuh jarak 9 km dalam waktu 1 jam. Berapa jam
waktu yang diperlukan Dewi Wiji menuju rumah tukang
wedel dengan jarak 27 km?
2. Dewi Wiji berlari dari kejaran Ki Sura Gotho dari rumah
tukang wedel menuju rumah Ki Banjar. Jarak rumah
tukang wedel ke Ki Banjar 4 km. Dewi Wiji berlari dengan
kecepatan 250 m/menit. Berapa menit Dewi Wiji sampai
di rumah Ki Banjar?
3. Dengan gugurnya Ki Ageng Jenggot, maka sudah tidak
ada rintangan lagi. Dengan paksa Dewi Wiji digelandang
dibawa lari oleh Ki Sura Gotho ke tempat tinggalnya
Mandalika yang berjarak 3 km. Mereka berangkat pada
pukul 06.00. Kecepatan lari Ki Sura Gotho dengan

77


menggendong Dewi Wiji adalah 15 km/jam. Pukul
berapa Ki Sura Gotho dan Dewi Wiji tiba di Mandalika?
4. Untuk menuju ke Mandalika, Ki Sura Gotho dapat
menempuh jarak 60 km dalam waktu 45 menit. Ia baru
berlari sejauh 20 km untuk bersenang-senang dulu di
pantai Metawar. Berapa menit waktu yang diperlukan Ki
Sura Gotho untuk melanjutkan perjalanannya menuju
Mandalika?

78


Rangkuman

1. Satuan waktu terdiri atas detik, menit, jam, hari, minggu,
bulan, triwulan, caturwulan, semester, tahun, lustrum,
windu, dasawarsa, abad, dan milenium.

2. Waktu tempuh atau lama perjalanan adalah lama waktu
yang terpakai dalam perjalanan untuk menempuh suatu
jarak tertentu.

3. Satuan panjang terdiri atas km, hm, dam, m, dm, cm, mm.
4. Jarak adalah ukuran panjang dari satu tempat ke tempat

lain.
5. Kecepatan adalah perbandingan antara jarak tempuh

dengan waktu tempuh.
6. Kecepatan dari suatu tempat menuju tempat tertentu

dinamakan kecepatan rata-rata.
7. Dari hubungan antara jarak, waktu, dan kecepatan

diperoleh rumus sebagai berikut.

K = W =


J=KxW

79


Rujukan

Purnomosidi, dkk. 2018. Senang Belajar Matematika Kelas V SD.
Jakarta: Kemendikbud

Pujiyati. 2008. Permasalahan Pembelajaran Jarak, Waktu dan
Kecepatan serta Alternatif Pemecahannya di SD. Yogyakarta:
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan
Tenaga Kependidikan Matematika

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/jarak, diakses pada 15 Juni
2020
https://pngtree.com, diakses pada 15 Juni 2020
https://www.pngegg.com/id, diakses pada 15 Juni 2020
https://www.bimbelbrilian.com, diakses pada 15 Juni 2020
http://imgos-belajarlinux.blogspot.com, diakses pada 15 Juni
2020
https://azkadina.com, diakses pada 15 Juni 2020
https://www.latisprivat.com, diakses pada 15 Juni 2020
https://pendidikan.id, diakses pada 15 Juni 2020

80


Profil Penulis

Ana Hidayati Setyaningsih, lahir
29 Agustus 1976. Mengajar di tengah hutan
karet, tepatnya di SDN 2 Ngandong, Jepara.
Seorang ibu dari empat anak yang sehat dan
cerdas (Tezar, Hilal, Zahra dan Fina).
Didampingi suami yang sayang penuh motivasi (Bambang
Supriyanto).
Saat ini sedang menyelesaikan tugas akhir sebagai
mahasiswa pascasarjana, Magister Pendidikan Dasar di
Universitas Muria Kudus.

81


Click to View FlipBook Version