5 Sistem Koordinat, Proyeksi Peta, dan Aturan Kuadran 138
Gambar 108. Sistem koordinat geografis
Beberapa ketentuan yang berhubungan x Bujur (longitude - j), bujur barat (0° -
dengan pemodelan bumi sebagai spheroid 180° BB) dan bujur timur (0° - 180° BT).
adalah: x Lintang ( latitude - l ), lintang utara (0° -
x Meridian dan meridian utama. 90° LU) dan lintang selatan (0° – 90°
x Paralel dan paralel NOL atau ekuator. LS).
Gambar 109. Bumi sebagai spheroid
5 Sistem Koordinat, Proyeksi Peta, dan Aturan Kuadran 139
Pengukuran tempat titik – titik Ilmu Ukur Sudut dari kanan ke kiri dan pada
x Menggunakan garis lurus Ilmu Geodesi dari kiri ke kanan tapi daerah
Apabila titik – titik tersebut terdapat
pada satu garis lurus, dengan titik dasar kuadran pada dua ilmu itu menyatakan
0 dimana sebelah kanan dari titik nol
bertanda positif dan sebelah kiri dari titik daerah yang sama ialah:
nol bertanda negatif.
Kuadran I : 00 – 900
x Menggunakan sumbu koordinat Kuadran II : 900 – 1800
Apabila terdapat dua titik tidak pada Kuadran III : 1800 – 2700
satu garis lurus, dengan titik O sebagai Kuadran IV : 2700 – 3600
pusat dari perpotongan garis mendatar
X (Absis) dan garis tegak lurus Y Segala suatu yang telah dipelajari pada Ilmu
(Ordinat). Dimana pada sumbu X Ukur Sudut mengenai Sinus, Cosinus, dan
kesebelah kanan dari titik O bertanda Tangen berfungsi dengan penuh pada Ilmu
positif dan sebelah kiri dari titik O Geodesi.
bertanda negatif. Pada sumbu Y kearah
utara dari titik O bertanda positif dan Tabel 8. Aturan kuadran trigonometris
kearah selatan dari titik O bertanda
negatif. Kuadran I II III IV
Untuk menentukan jarak dab dapat
menggunakan Teorema Phytagoras: Trigonometris
Sin D
dab = ( X b X a ) 2 (Y b Ya ) 2
Cos D
5.4. Menentukan Sudut Jurusan
Tan D
Seperti telah dijelaskan sebelumnya sudut
jurusan adalah sudut yang dibentuk dari Untuk menentukan besarnya atau lebih
arah utara geografis kemudian diputar tepat di kuadran manakah sudut jurusan Į di
searah jarum jam dan berhenti pada garis letakkan, digunakan rumus:
yang telah ditentukan.
Meskipun membagi kuadran pada ilmu ukur tgD a b Xb Xa
sudut dan pada ilmu geodesi, yaitu pada Yb Ya
Dasar–dasar perhitungan ini adalah
geometri analitik yaitu goniometri-
trigonometri adalah sebagai berikut :
Sin D x ; Cos D y ; Tgn D x
rr y
TgDab Xb Xa
Yb Ya
5 Sistem Koordinat, Proyeksi Peta, dan Aturan Kuadran 140
d ab B (X b,Y b)
C
D ab
A (X a,Y a)
Gambar 110. Sudut jurusan
Dari gambar di atas dapat dicari jarak d ab
menggunakan aturan sinus dan cosinus :
cosD ab Y Yb Ya
r d ab
d ab Yb Ya
cosD ab
sin D ab X Xb Xa
r d ab
d ab Xb Xa Gambar 111. Aturan kuadran geometris
sin D ab
Untuk menentukan luas pengukuran dengan
menggunakan sistem koordinat : “Metode
Sarus”
Metode Sarus
Apabila terdapat beberapa variabel X dan Y. Gambar 112. Aturan kuadran trigonometris
Misalnya X1, X2, X3,..., Xn dan Y1, Y2, Y3,...,
Yn. Maka kedua variabel tersebut dikali
silang kemudian dibagi 2.
(X1 Y2 X2 Y3 X3 Y1 ) (Y1 X2 Y2 X3 Y3 X1)
2
5 Sistem Koordinat, Proyeksi Peta, dan Aturan Kuadran 141
Model Diagram AMliroIdlmeluDUiakguraTmanAalhirPertemuan ke-05
SSisistetemmkKoooordrdininaatt,,PPrrooyyeekkssi pPeta dan AAttuurraannKKuuaaddrarann
Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT
Sistem Koordinat Permukaan Bumi
(dalam Degree / Derajat)
(Koordinat Geodetik : Longitude dan Latitude)
(Bujur dan Lintang)
Lingkaran-Lingkaran yang melalui Lingkaran-Lingkaran yang tegak lurus
Kutub Utara dan Selatan Garis Bujur/Meridian/Longitude
(Garis Lintang/Paralel/Latitude)
(Garis Bujur/Meridian/Longitude)
Nol Derajat Paralel di Garis
Nol Derajat Meridian di Kota Equator/Khatulistiwa
Greenwich Inggris
Bujur Barat Bujur Timur Lintang Utara Lintang Selatan
0 - 180 0 - 180 0 - 90 0 - 90
Distorsi Bidang Bola / Ellipsoida Proyeksi Peta : Proses
(Perubahan Bentuk) memindahkan informasi
Informasi jarak, sudut Bidang dari bidang lengkung ke
Perantara bidang datar melalui bidang
dan luas)
perantara
Silinder/ Datar/ Kerucut/
Cylindrical Zenithal Conical
Posisi Sumbu Putar Bumi terhadap
Garis Normal Bidang Perantara
Transversal/ Normal/Berhimpit/ Oblique/Miring
Tegak Lurus Sejajar
Sudut (Conform)
Jarak Informasi Geometris Navigasi
(Equidistance) yang dipertahankan
Bina Marga / Luas (Equivalent)
Bidang Datar BPN
Jasa Marga
Gambar 113. Diagram alir sistem koordinat, proyeksi peta dan aturan kuadran
5 Sistem Koordinat, Proyeksi Peta, dan Aturan Kuadran 142
Rangkuman
Berdasarkan uraian materi bab 5 mengenai sistem koordinat, proyeksi peta, dan
aturan kuadran, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Proyeksi peta adalah teknik-teknik yang digunakan untuk menggambarkan sebagian
atau keseluruhan permukaan tiga dimensi yang secara kasaran berbentuk bola ke
permukaan datar dua dimensi dengan distorsi sesedikit mungkin.
2. Sistem proyeksi peta dibuat untuk mereduksi sekecil mungkin distorsi. Tujuan Sistem
Proyeksi Peta dibuat dan dipilih untuk menyatakan dan menyajikan secara grafis posisi
titik-titik pada permukaan bumi ke dalam sistem koordinat bidang datar.
3. Cara proyeksi peta dapat dilakukan dengan cara proyeksi langsung (direct projection)
dan proyeksi tidak langsung (double projection). Secara garis besar sistem proyeksi peta
bisa dikelompokkan berdasarkan pertimbangan ekstrinsik dan intrinsik.
4. Bidang datum adalah bidang yang akan digunakan untuk memproyeksikan titik-titik yang
diketahui koordinatnya (j ,l ). Sedangkan bidang proyeksi adalah bidang yang akan
digunakan untuk memproyeksikan titik-titik yang diketahui koordinatnya (X,Y).
5. UTM merupakan sistem proyeksi silinder, konform, secant, transversal.
6. Sistem proyeksi peta TM-3° adalah sistem proyeksi Universal Tranverse Mercator
dengan ketentuan faktor skala di meridian sentral = 0,9999 dan lebar zone = 3°.
7. Sudut jurusan adalah sudut yang dimulai dari arah utara geografis, maka arah utara
diambil sebagai suatu salib sumbu.
8. Meskipun membagi kuadran pada ilmu ukur sudut dan pada ilmu geodesi berjalan
berlawanan, ialah pada Ilmu Ukur Sudut dari kanan ke kiri dan pada Ilmu Geodesi dari
kiri ke kanan tapi daerah kuadran pada dua ilmu itu menyatakan daerah yang sama.
Oleh karena itu, alat-alat Ilmu Ukur Tanah arahnya dari utara dan searah jarum jam.
9. Untuk menentukan luas pengukuran dengan menggunakan sistem koordinat dapat
menggunakan metode Sarus. Metode Sarus dapat digunakan apabila terdapat beberapa
variabel X dan Y. Misalnya X1, X2, X3,..., Xn dan Y1, Y2, Y3,..., Yn. Maka kedua variabel
tersebut dikali silang kemudian dibagi 2.
5 Sistem Koordinat, Proyeksi Peta, dan Aturan Kuadran 143
Soal Latihan
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!
1. Jelaskan pengertian dan tujuan proyeksi peta ?
2. Apa yang dimaksud dengan bidang datum dan bidang proyeksi ?
3. Keuntungan dan kerugian apa saja pada sistem proyeksi polyeder ?
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan sistem proyeksi peta TM-3q, serta ketentuan-
ketentuannya ?
5. Jelaskan mengapa aturan kuadran Ilmu Ukur Tanah searah jarum jam ?
6. Sebutkan ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan permodelan bumi sebagai
spheroid ?
7. Apa yang dimaksud dengan sudut jurusan ?
Lampiran : A
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (1983). Ukur Tanah 2. Jurusan Hasanudin, M. dan kawan-kawan. 2004.
Teknik Sipil PEDC. Bandung Survai dengan GPS. Pradnya Paramita.
Jakarta.
Barus, B dan U.S. Wiradisastra. 2000.
Sistem Informasi dan Geografis. Hendriatiningsih, S. 1990. Engineering
Bogor. Survey. Teknik geodesi FPTS ITB.
Bandung.
Budiono, M. dan kawan-kawan. 1999. Ilmu
Ukur Tanah. Angkasa. Bandung. Hayati, S. 2003. Aplikasi Geographical
Information System untuk Zonasi
Darmaji, A. 2006. Aplikasi Pemetaan Digital Kesesuaian Lahan Perumahan di
dan Rekayasa Teknik Sipil dengan Kabupaten Bandung. Lembaga
Autocad Development. ITB. Bandung. Penelitian UPI. Bandung.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan.
1999. Kurikulum Sekolah Menengah 2005. Struktur Kurikulum Program Studi
Kejuruan. Depdikbud. Jakarta. Pendidikan Teknik Sipil FPTK UPI.
Jurusan Diktekbang FPTK UPI.
Departemen Pendidikan Nasional RI. 2003. Bandung.
Standar Kompetensi Nasional Bidang
SURVEYING. Bagian Proyek Sistem Kusminingrum, N. dan G. Gunawan. 2003.
Pengembangan. Jakarta. Evaluasi dan Strategi Pengendalian
Pencemaran Udara di Kota-Kota Besar
Gayo, Yusuf., dan kawan-kawan. 2005. di Indonesia. Jurnal Litbang Jalan
Pengukuran Topografi dan Teknik Volume 20 No.1 Departemen Pekerjaan
Pemetaan. PT. Pradjna Paramita. Umum. Bandung.
Jakarta.
Lanalyawati. 2004. Pengkajian Pengelolaan
Gumilar, I. 2003. Penggunaan Computer Lingkungan Jalan di Kawasan Hutan
Aided Design (CAD) pada Biro Arsitek. Lindung (Bedugul Bali). Jurnal Litbang
Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan Jalan Volume 21 No.2 Juli. Departemen
FPTK UPI. Bandung. Pekerjaan Umum. Bandung.
Gunarta, I.G.W.S. dan A.B. Sailendra. 2003. Marina, R. 2002. Aplikasi Geographical
Penanganan Masalah Jalan Tembus Information System untuk Evaluasi
Hutan secara Terintegrasi : Kajian Kemampuan Lahan di Kabupaten
terhadap Kebutuhan Kelembagaan Sumedang.
Stakeholders. Jurnal Litbang Jalan
Volume 20 No.3 Oktober. Departemen Masri, RM. 2007. Kajian Perubahan
Pekerjaan Umum. Bandung. Lingkungan Zona Buruk untuk
Perumahan. SPS IPB. Bogor.
Gunarso, P. dan kawan-kawan. 2004. Modul
Pelatihan SIG. Pemkab Malinau Mira, S. 1988. Poligon. Teknik Geodesi
FTSP ITB. Bandung.
A-1
Lampiran : A
Mira, S. R.M. 1988. Ukuran Tinggi Teliti. Bandung Jawa Barat). Sekolah
Teknik Geodesi FTSP ITB. Bandung. Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Purworaharjo,U. 1986. Ilmu Ukur Tanah Seri
Melani, D. 2004. Aplikasi Geographical A Pengukuran Tinggi. Teknik Geodesi
Information System untuk Zonasi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Kesesuaian Lahan Perumahan di Institut Teknologi Bandung.
Kabupaten Sumedang. Jurusan
Pendidikan Teknik Bangunan FPTK Purworaharjo,U. 1986. Ilmu Ukur Tanah Seri
UPI. Bandung. B Pengukuran Horisontal. Teknik
Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan
Mulyani, S.Y.R dan Lanalyawati. 2004. Perencanaan Institut Teknologi
Kajian Kebijakan dalam Pengelolaan Bandung.
Lingkungan Jalan di Kawasan Sensitif.
Jurnal Litbang Jalan Volume 21 No.1 Purworaharjo,U. 1986. Ilmu Ukur Tanah Seri
Maret. Departemen Pekerjaan Umum. C Pemetaan Topografi. Teknik Geodesi
Bandung. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Bandung.
Parhasta, E. 2002. Tutorial Arcview SIG
Informatika. Bandung. Purworaharjo,U. 1982. Hitung proyeksi
Geodesi (Proyeksi Peta). Teknik
Purwaamijaya, I.M. 2006. Ilmu Ukur Tanah Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan
untuk Teknik Sipil. FPTK UPI. Bandung. Perencanaan Institut Teknologi
Bandung.
Purwaamijaya, I.M. 2005a. Analisis
Kemampuan Lahan di Kecamatan- Staf Ukur Tanah. 1982. Petunjuk
Kecamatan yang Dilalui Jalan Penggunaan Planimeter. Pusat
Soekarno-Hatta di Kota Bandung Jawa Pengembangan Penataran Guru
Barat. Jurnal Permukiman ISSN : 0215- Teknologi. Bandung.
0778 Volume 21 No.3 Desember 2005.
Departemen Pekerjaan Umum. Badan Supratman, A.. 2002. Geometrik Jalan
Penelitian dan Pengembangan. Raya. FPTK IKIP. Bandung.
Bandung.
Supratman, A.,dan I.M Purwaamijaya. 1992.
Purwaamijaya, I.M. 2005b. Analisis Pengukuran Horizontal. Bandung.:
Kemampuan Lahan sebagai Acuan FPTK IKIP.
Penyimpangan Gejala Konversi Lahan
Sawah Beririgasi Menjadi Lahan Supratman, A.,dan I.M Purwaamijaya.
Perumahan di Koridor Jalan Soekarno- (1992). Modul Ilmu Ukur Tanah. FPTK
Hatta Kota Bandung. Jurnal Informasi IKIP. Bandung.
Teknik ISSN : 0215-1928 No.28 – 2005.
Departemen Pekerjaan Umum. Badan Susanto dan kawan-kawan. (1994). Modul :
Penelitian dan Pengembangan. Pemindahan Tanah Mekanis. FPTK
Penelitian dan Pengembangan IKIP. Bandung.
Sumberdaya Air. Balai Irigasi. Bekasi.
Wongsotjitro. 1980. Ilmu Ukur Tanah.
Purwaamijaya, I.M. 2005c. Pola Perubahan Kanisius .Yogyakarta.
Lingkungan yang Disebabkan oleh
Prasarana dan Sarana Jalan (Studi Yulianto, W. 2004. Aplikasi AUTOCAD 2002
Kasus : Jalan Soekarno-Hatta di Kota untuk Pemetaan dan SIG. Gramedia.
Jakarta.
A-2
Lampiran : B
GLOSARIUM
Absis : Posisi titik yang diproyeksikan terhadap sumbu X yang arahnya
horizontal pada bidang datar.
Analog : Sistem penyajian peta secara manual.
Astronomis : Ilmu yang mempelajari posisi relatif benda-benda langit terhadap
benda-benda langit lainnya.
Automatic level : Sipat datar optis yang mirip dengan tipe kekar tetapi dilengkapi
dengan alat kompensator untuk membuat garis bidik mendatar
dengan sendirinya.
Azimuth : Sudut yang dibentuk dari garis arah utara terhadap garis arah
suatu titik yang besarnya diukur searah jarum jam.
Barometri : Alat atau metode untuk mengukur tekanan udara yang
diaplikasikan untuk menghitung beda tinggi antara beberapa
titik di atas permukaan bumi yang berkategori gunung (slope >
40 %).
Benchmark : Titik ikat di lapangan yang ditandai oleh patok yang dibuat dari
beton dan besi dan telah diketahui koordinatnya hasil
pengukuran sebelumnya.
Bowditch : Metode koreksi absis dan ordinat pada pengukuran polygon yang
bobotnya adalah perbandingan antara jarak resultante terhadap
total jarak resultante.
BPN : Badan Pertanahan Nasional (Kantor Agraria / Pertanahan).
CAD : Computer Aided Design. Penyajian gambar secara digital
menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak komputer.
Cassini : Metode pengikatan ke belakang (alat berdiri di atas titik yang
ingin diketahui koordinatnya) yang menggunakan bantuan 2 titik
penolong dan dua buah lingkaran.
Collins : Metode pengikatan ke belakang (alat berdiri di atas titik yang
ingin diketahui koordinatnya) yang menggunakan bantuan 1 titik
penolong dan satu buah lingkaran.
Coordinate Set : Pengaturan koordinat peta analog agar sesuai dengan koordinat
pada sistem koordinat peta digital yang titik-titik ikat acuannya
adalah titik-titik di peta analog yang memiliki nilai-nilai
koordinat.
Cosinus : Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi datar
terhadap sisi miring.
Cross hair : Benang silang diafragma yang tampak pada lensa objektif
teropong sebagai acuan untuk membaca ketinggian garis bidik
pada rambu ukur.
Cross Section : Profil melintang. Penampang pada arah lebar yang
menggambarkan turun naiknya permukaan suatu bentuk objek.
Datum : Titik perpotongan antara ellipsoid referensi dengan geoid (datum
relatif). Pusat ellipsoid referensi berimpit dengan pusat bumi
(datum absolut).
Digital : Sistem penyajian informasi (grafis atau teks) secara biner
elektronis.
B-1
Lampiran : B
Digitizer : Alat yang digunakan untuk mengubah peta-peta analog menjadi
peta-peta digital dengan menelusuri detail-detail peta satu
Distorsi persatu.
DGN : Perubahan bentuk atau perubahan informasi geometrik yang
Dumpy level disajikan pada bidang lengkung (bola/ellipsoidal) terhadap
Ellipsoid bentuk atau informasi geometrik yang disajikan pada bidang
datar.
Equator
Flattening : Datum Geodesi Nasional, datum sistem koordinat nasional.
: Sipat datar optis tipe kekar, sumbu tegak menjadi satu dengan
Fokus
Fotogrametri teropong.
: Bentuk 3 dimensi dari ellips yang diputar pada sumbu pendeknya
Geodesi
dan merupakan bentuk matematis bumi. Spheroid persamaan
Geodesic kata ellipsoid.
Geoid : Garis khatulistiwa yaitu garis yang membagi bumi bagian utara
Geometri dan bumi bagian selatan sama besar.
Gradien : Kegepengan. Nilai yang diperoleh dari pembagian selisih radius
Grafis terpendek dengan radius terpanjang ellipsoida terhadap radius
Greenwich terpendek.
Grid : Ketajaman penampakan objek pada teropong dan dapat diatur
dengan tombol fokus.
Hexagesimal : Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempelajari mengenai
Higragirum geometris foto-foto udara yang diperoleh dari pemotretan
Horisontal menggunakan pesawat terbang.
Indeks : Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempelajari dan
menyajikan informasi bentuk permukaan bumi dengan
memperhatikan kelengkungan bumi.
: Kurva terpendek yang menghubungkan dua titik pada permukaan
ellipsoida.
: Bentuk tidak beraturan yang mewakili permukaan air laut di
bumi dan memiliki energi potensial yang sama.
: Ilmu yang mempelajari bentuk matematis di atas permukaan
bumi.
: Besarnya nilai perbandingan sisi muka terhadap sisi samping
yang membentuk sudut tegak lurus (90o)
: Penyajian hasil pengukuran dengan gambar.
: Kota di Inggris yang dilewati oleh garis meridian
(longitude/bujur) 0o.
: Bentuk empat persegi panjang yang merupakan referensi posisi
absis dan ordinat yang diletakkan di muka peta yang panjang dan
lebarnya bergantung pada unit posisi X dan Y yang ditetapkan oleh
pembuat peta berdasarkan kaidah kartografi (pemetaan).
: Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut dengan sebutan
derajat, menit, second. Satu putaran = 360o. 1o=60’. 1’=60”.
: Hg, air raksa yang dipakai sebagai cairan penunjuk nilai tekanan
udara pada alat barometer.
: Garis atau bidang yang tegak lurus terhadap garis atau bidang
yang menjauhi pusat bumi.
: Garis kontur yang penyajiannya lebih tebal atau lebih ditonjolkan
dibandingkan garis-garis kontur lain setiap selang ketinggian
tertentu.
B-2
Lampiran : B
Interpolasi : Metode perhitungan ketinggian suatu titik di antara dua titik
Intersection yang dihubungkan oleh garis lurus.
Galat : Nama lain dari pengikatan ke muka, yaitu pengukuran titik
GIS tunggal dari dua buah titik yang telah diketahui koordinatnya
dengan menempatkan alat theodolite di atas titik-titik yang telah
GPS diketahui koordinatnya.
Gravitasi
GRS-1980 : Selisih antara nilai pengamatan dengan nilai sesungguhnya.
: Geographical Information System. Suatu sistem informasi yang
Hardcopy
Hardware mampu mengaitkan database grafis dengan data base tekstualnya
Informasi yang sesuai.
Inklinasi : Global Positioning System. Sistem penentuan posisi global
Interpolasi menggunakan satelit buatan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Jalon : Gaya tarik bumi yang mengarah ke pusat bumi dengan nilai +
Jurusan 9,8 m2/detik.
Kalibrasi : GeodeticReference System tahun 1984, adalah ellipsoid terbaik
yang memiliki penyimpangan terkecil terhadap geoid (lihat
Kartesian istilah geoid).
Kompas : Dokumentasi peta-peta digital dalam bentuk lembaran-lembaran
Kontrol peta yang dicetak dengan printer atau plotter.
: Perangkat keras computer yang terdiri CPU (Central Processing
Kontur Unit), keyboard (papan ketik), printer, mouse.
: Sesuatu yang memiliki makna atau manfaat.
Konvergensi : Sudut vertical yang dibentuk dari garis bidik (dinamakan juga
Konversi sudut miring).
Koordinat : Suatu rumusan untuk mencari ketinggian suatu titik yang diapit
oleh dua titik lain dengan konsep segitiga sebangun.
: Batang besi seperti lembing berwarna merah dan putih dengan
panjang + 1,5 meter sebagai target bidikan arah horizontal.
: Sudut yang dihitung dari selisih absis dan ordinat dengan acuan
sudut nolnya arah sumbu Y positif searah jarum jam.
: Suatu prosedur untuk mengeliminasi kesalahan sistematis pada
peralatan pengukuran dengan menyetel ulang komponen-
komponen dalam peralatan.
: Sistem koordinar siku-siku.
: Alat yang digunakan untuk menunjukkan arah suatu garis
terhadap utara magnet yang dipengaruhi magnet bumi.
: Upaya mengendalikan data hasil pengukuran di lapangan agar
Memenuhi syarat geometrik tertentu sehingga kesalahan hasil
pengukuran di lapangan dapat memenuhi syarat yang ditetapkan
dan kesalahan-kesalahan acaknya telah dikoreksi.
: Garis khayal di permukaan bumi yang menghubungkan titik-titik
dengan ketinggian yang sama dari permukaan air laut rata-rata
(MSL). Garis di atas peta yang menghubungkan titik-titik dengan
ketinggian yang sama dari permukaan air laut rata-rata dan
kerapatannya bergantung pada ukuran lembar penyajian (skala
peta).
: Serangkaian garis searah yang menuju suatu titik pertemuan.
: Proses mengubah suatu besaran (sudut/jarak) dari suatu sistem
menjadi sistem yang lain.
: Posisi titik yang dihitung dari posisi nol sumbu X dan posisi nol
sumbu Y.
B-3
Lampiran : B
Koreksi : Nilai yang dijumlahkan terhadap nilai pengamatan sehingga
Kuadran diperoleh nilai yang dianggap benar. Nilai koreksi = - kesalahan.
Kuadrilateral
Latitude : Ruang-ruang yang membagi sudut satu putaran menjadi 4
ruang yang pusat pembagiannya adalah titik 0.
Leveling head
Logaritma : Bentuk segiempat dan diagonalnya yang diukur sudut-sudut dan
Longitude jarak-jaraknya untuk menentukan koordinat titik di lapangan.
Long Section : Nama lain garis parallel. Garis-garis khayal yang tegak lurus
Loxodrome garis meridian dan melingkari bumi. Paralel nol berada di
Mapinfo equator atau garis khatulistiwa.
MSL : Bagian yang terdiri dari tribach dan trivet, disebut juga kiap.
: Nilai yang diperoleh dari kebalikan fungsi pangkat.
Mistar : Nama lain garis meridian. Garis-garis khayal di permukaan bumi
Meridian yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan bumi.
Meridian nol berada di Kota Greenwich, Inggris.
Nivo : Profil memanjang. Penampang pada arah memanjang yang
menggambarkan turun naiknya permukaan suatu bentuk objek.
Normal : Nama lain adalah Rhumbline. Garis (kurva) yang
Oblique menghubungkan titik-titik dengan azimuth yang tetap.
: Desktop Mapping Software. Perangkat lunak yang digunakan
Offset untuk pembuatan peta digital berinformasi yang dibuat dengan
Ordinat spesifikasi teknis perangkat keras untuk pemakai tunggal dan
Orientasi dibuat oleh perusahaan Mapinfo Corporation yang berdomisili di
Orthodrome Kota New York Amerika Serikat.
Overlay : Mean Sea Level (permukaan air laut rata-rata yang diamati
selama periode tertentu di pinggir pantai). Sebagai acuan titik nol
pengukuran tinggi di darat.
: Papan penggaris berukuran 3 meter yang dapat dilipat dua
sebagai target pembacaan diafragma teropong untuk mengukur
tinggi garis bidik (benang atas, benang tengah, benang bawah).
: Garis-garis khayal di permukaan bumi yang menghubungkan
kutub utara dan kutub selatan bumi. Meridian nol berada di Kota
Greenwich, Inggris.
: Gelembung udara dan cairan yang berada pada tempat berbentuk
bola atau silinder sebagai penunjuk bahwa teropong sipat datar
atau theodolite telah sejajar dengan bidang yang memiliki energi
potensial yang sama.
: Proyeksi peta yang sumbu putar buminya berimpit dengan garis
normal bidang perantara (datar, kerucut, silinder).
: Proyeksi peta yang sumbu putar buminya membentuk sudut
tajam (< 90o) dengan garis normal bidang perantara (datar,
kerucut, silinder).
: Metode pengukuran menggunakan alat-alat sederhana (prisma,
pita ukur, jalon).
: Posisi titik yang diproyeksikan terhadap sumbu Y yang arahnya
vertical pada bidang datar.
: Pengukuran untuk mengetahui posisi absolute dan posisi relative
Objek-objek di atas permukaan bumi.
: Proyeksi garis geodesic pada bidang proyeksi.
: Suatu fungsi pada analisis pemetaan digital dan GIS yang
Menumpangtindihkan tema-tema dengan jenis pengelompokkan
yang berbeda.
B-4
Lampiran : B
Pantograph : Alat yang digunakan untuk memperbesar atau memperkecil
Paralel : objek gambar.
Garis-garis khayal yang tegak lurus garis meridian dan
Pegas : melingkari bumi. Paralel nol berada di equator atau garis
khatulistiwa.
Pesawat : Gulungan kawat berbentuk spiral yang dapat memanjang dan
Phytagoras : memendek karena gaya tekan atau tarik yang digunakan pada
alat sipat datar.
Planimeter : Istilah untuk alat ukur optis waterpass atau theodolite.
Planimetris : Ilmuwan yang menemukan rumusan kuadrat garis terpanjang di
Point Set : suatu segitiga dengan salah satu sudutnya 90o adalah sama
dengan perjumlahan kuadrat 2 sisi yang lain.
Polar : Alat untuk menghitung koordinat secara konvensional.
Polyeder : Bidang datar (2 dimensi) yang dinyatakan dalam sumbu X dan Y
Pengaturan koordinat peta analog agar sesuai dengan koordinat
Polygon : pada sistem koordinat peta digital yang titik-titik ikat acuannya
adalah titik-titik di peta analog yang identik dengan titik-titik di
Profil : peta digital yang telah ada.
Proyeksi peta : Sistem koordinat kutub (sudut dan jarak).
Sistem proyeksi dengan bidang perantara kerucut, sumbu putar
Radian : bumi berimpit dengan garis normal kerucut, informasi geometric
RAM : yang dipertahankan sama adalah sudut (conform) dan tangent.
Serangkaian garis-garis yang membentuk kurva terbuka atau
Raster : Tertutup untuk menentukan koordinat titik-titik di atas
permukaan bumi.
Remote Sensing : Potongan gambaran turun dan naiknya permukaan tanah baik
memanjang atau melintang.
Resiprocal : Proses memindahkan informasi geometrik dari bidang lengkung
(bola/ellipsoidal) ke bidang datar melalui bidang perantara
Reversible level : (bidang datar, kerucut, silinder).
Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut satu putaran =
Rotasi : 2 ʌ rҏ adian. ʌ = 22/7 = 3,14……
Random Acces Memory. Bagian dalam komputer yang
digunakan sebagai tempat menyimpan dan memroses fungsi-
fungsi matematis untuk sementara waktu.
Penyajian peta atau gambar secara digital menggunakan unit-unit
terkecil berbentuk bujur sangkar. Ketelitian unit-unit terkecil
dinamakan dengan resolusi.
Penginderaan jauh. Pemetaan bentuk permukaan bumi
menggunakan satelit buatan dengan ketinggian tertentu yang
direkam secara digital dengan ukuran-ukuran kotak tertentu yang
dinamakan pixel.
Salah satu metode pengukuran beda tinggi dengan menggunakan
2 alat sipat datar dan rambunya yang dipisahkan oleh halangan
alam berupa sungai atau lembah dan dilakukan bolak-balik untuk
meningkatkan ketelitian hasil pengukuran.
Sipat datar optis tipe reversi yang teropongnya dapat diputar
pada sumbu mekanis dan disangga oleh bagian tengah yang
mempunyai sumbu tegak.
Perubahan posisi suatu objek karena diputar pada suatu sumbu
putar tertentu.
B-5
Lampiran : B
Sarrus : Orang yang menemukan rumusan perhitungan luas dengan nilai-
Scanner nilai koordinat batas kurva.
Sentisimal : Alat yang mengubah gambar-gambar atau peta-peta analog
Simetris Menjadi gambar-gambar/peta-peta digital dengan cara
Sinus mengkilas.
Skala
Softcopy : Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut dengan sebutan grid,
Software centigrid, centicentigrid. Satu putaran = 400g, 1g=100c, 1c=100cc.
Stadia
Statif : Bagian yang dibagi sama besar oleh suatu garis diagonal.
Tachymetri : Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi muka terhadap
Tangen sisi miring.
Tilting level : Nilai perbandingan besaran jarak atau luas di atas kertas terhadap
TM-3
Topografi jarak dan luas di lapangan.
: Dokumentasi peta-peta digital dalam bentuk file-file digital.
Total Station : Perangkat lunak computer untuk berbagai macam kepentingan.
: Benang tipis berwarna hitam yang tampak di dalam teropong
Trace
Transit alat.
: Kaki tiga untuk menyangga alat waterpass atau theodolite optis.
Transversal : Metode pengukuran titik-titik detail menggunakan alat theodolite
Triangulasi yang diikatkan pada pengukuran kerangka dasar vertikal dan
Triangulaterasi horisontal.
Tribach : Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi muka terhadap
Trigonometri sisi miring.
: Sipat datar optis tipe jungkit yang sumbu tegak dan teropong
Trilaterasi Dihubungkan dengan engsel dan sekrup pengungkit.
: Sistem proyeksi Universal Transverse Mercator dengan faktor
Skala di meridian sentral adalah 0,9999 dan lebar zone = 3o.
: Peta yang menyajikan informasi di atas permukaan bumi baik
unsur alam maupun unsur buatan manusia dengan skala sedang
dan kecil.
: Alat ukur theodolite yang dilengkapi dengan perangkat elekronis
untuk menentukan koordinat dan ketinggian titik detail secara
otomatis digital menggunakan gelombang elektromagnetis.
: Serangkaian garis yang merupakan garis tengah suatu bangunan
(jalan, saluran, jalur lintasan).
: Metode koreksi absis dan ordinat pada pengukuran polygon yang
bobotnya adalah perbandingan antara jarak proyeksi pada sumbu
X atau Y terhadap total jarak proyeksi pada sumbu X atau Y.
: Proyeksi peta yang sumbu putar buminya tegak lurus
(membentuk sudut 90o) dengan garis normal bidang perantara
(datar, kerucut, silinder).
: Serangkaian segitiga yang diukur sudut-sudutnya untuk
Menentukan koordinat titik-titik di lapangan.
: Serangkaian segitiga yang diukur sudut-sudut dan jarak-jaraknya di
lapangan untuk menentukan koordinat titik-titik di lapangan.
: Penyangga sumbu kesatu dan teropong.
: Bagian dari ilmu matematika yang diaplikasikan untuk
Menghitung beda tinggi antara beberapa titik di atas permukaan
bumi yang berkategori bermedan bukit (8%< slope < 40 %).
: Serangkaian segitiga yang diukur jarak-jaraknya untuk
Menentukan koordinat titik-titik di lapangan.
B-6
Lampiran : B
Trivet : Bagian terbawah dari alat sipat datar dan theodolite yang dapat
Unting-unting dikuncikan pada
UTM statif.
Vektor : Bentuk silinder-kerucut terbuat dari kuningan yang digantung di
Vertikal bawah alat waterpass atau theodolite sebagai penunjuk arah titik
Visual nadir atau pusat bumi yang mewakili titik patok.
Waterpass
WGS-84 : Universal Transverse Mercator. Sistem proyeksi peta global yang
Zenith memiliki lebar zona 6o sehingga jumlah zona UTM seluruh dunia
Zone adalah 60 zona. Bidang perantara yang digunakan adalah silinder
dengan posisi transversal (sumbu putar bumi tegak lurus
terhadap garis normal silinder), informasi geometrik yang
dipertahankan sama adalah sudut (konform) dan secant.
: Penyajian peta atau gambar secara digital menggunakan garis,
titik dan kurva. Ketelitian unit-unit terkecil dinamakan dengan
resolusi.
: Garis atau bidang yang menjauhi pusat bumi.
: Penglihatan kasat mata.
: Alat atau metode yang digunakan untuk mengukur tinggi
garis bidik di atas permukaan bumi yang berkategori bermedan
datar (slope < 8 %).
: World Geodetic System tahun 1984, adalah ellipsoid terbaik yang
Memiliki penyimpangan terkecil terhadap geoid (lihat istilah
geoid).
: Titik atau garis yang menjauhi pusat bumi dari permukaan bumi.
: Kurva yang dibatasi oleh batas-batas dengan kriteria tertentu.
B-7
Lampiran : C
DAFTAR TABEL
No Teks Hal No Teks Hal
366
1 Ketelitian posisi horizontal (x,y) 14 30 Formulir pengukuran titik detail 367
titik triangulasi 31 Formulir pengukuran titik detail 368
60 369
2 Tingkat Ketelitian Pengukuran posisi 1 370
Sipat Datar 95 32 Formulir pengukuran titik detail 371
372
3 Tingkat Ketelitian Pengukuran 107 posisi 2 373
Sipat Datar 33 Formulir pengukuran titik detail 374
114 382
4 Ukuran kertas untuk posisi 3 422
penggambaran hasil 115 34 Formulir pengukuran titik detail
pengukuran dan pemetaan 122 424
139 posisi 4
5 Formulir pengukuran sipat 35 Formulir pengukuran titik detail 425
datar 147
148 posisi 5 435
6 Formulir pengukuran sipat 36 Formulir pengukuran titik detail 458
datar 149 458
150 posisi 6
7 Kelas proyeksi peta 37 Formulir pengukuran titik detail 470
8 Aturan kuadran trigonometris 151 486
9 Cara Sentisimal ke cara posisi 7 497
183 38 Formulir pengukuran titik detail 499
seksagesimal
10 Cara Sentisimal ke cara radian 183 posisi 8
11 Cara seksagesimal ke cara 39 Bentuk muka tanah dan
184
radian 184 interval kontur.
12 Cara radian ke cara sentisimal 200 40 Tabel perhitungan galian dan
13 Cara seksagesimal ke cara
204 timbunan
radian 225 41 Daftar load factor dan
14 Buku lapangan untuk 276
280 procentage swell dan berat dari
pengukuran sudut dengan 280 berbagai bahan
repitisi. 296 42 Daftar load factor dan
15 Metode perhitungan perbedaan 297 procentage swell dan berat dari
sudut ganda dan perbedaan 298 berbagai bahan
observasi 43 Keunggulan dan kekurangan
16 Arti dari perbedaan sudut 312 pemetaan digital dengan
ganda dan perbedaan 319 konvensional
observasi. 319 44 Contoh keterangan warna
17 Buku lapangan sudut vertikal. gambar
18 Daftar Logaritma 45 Keterangan koordinat
19 Hitungan dengan cara 46 Kelebihan dan kekurangan
logaritma pekerjaan GIS dengan
20 Hitungan cara logaritma manual/pemetaan Digital
21 Ukuran Kertas Seri A 47 Pendigitasian Konvensional di
22 Bacaan sudut banding pendigitasian GPS
23 Jarak 48 Beberapa fungsi tetangga
24 Formulir pengukuran poligon 1 sederhana
25 Formulir pengukuran poligon 2 49 Perbandingan Bentuk Data
26 Formulir pengukuran poligon 3 Raster dan Vektor
27 Contoh perhitungan garis bujur
ganda
28 format daftar planimeter tipe 1
29 format daftar planimeter tipe 2
C-1
Lampiran : D
DAFTAR GAMBAR No Teks Hal
37 Kesalahan Skala Nol Rambu 42
No Teks Hal 38 Bukan rambu standar 43
1 Anggapan bumi 39 Sipat Datar di Suatu Slag 47
2 40 Rambu miring 54
2 Ellipsoidal bumi 3 41 Kelengkungan bumi 55
3 Aplikasi pekerjaan 42 Kelengkungan bumi 55
pemetaan pada 43 Refraksi atmosfir 56
bidang teknik sipil 6 44 Model diagram alir teori
4 Staking out 6 kesalahan 57
5 Pengukuran sipat datar optis 7 45 Pengukuran sipat datar optis 61
6 Alat sipat datar 9 46 Keterangan pengukuran sipat
7 Pita ukur 9 datar 63
8 Rambu ukur 9 47 Cara tinggi garis bidik 63
9 Statif 9 48 Cara kedua pesawat di tengah-
10 Barometris 10 tengah 65
11 Pengukuran Trigonometris 10 49 Keterangan cara ketiga 65
12 Pengukuran poligon 12 50 Cotoh pengukuran resiprokal 67
13 Jaring-jaring segitiga 15 51 Sipat datar tipe jungkit 67
14 Pengukuran pengikatan ke 52 Contoh pengukuran resiprokal 68
muka 16 53 Dumpy level 72
15 Pengukuran collins 17 54 Tipe reversi 73
16 Pengukuran cassini 18 55 Dua macam tilting level 74
17 Macam – macam sextant 18 56 Bagian-bagian dari tilting level 75
18 Alat pembuat sudut siku cermin 19 57 Instrumen sipat datar otomatis 76
19 Prisma bauernfiend 19 58 Bagian-bagian dari sipat datar
20 Jalon 19 otomatis 76
21 Pita ukur 19 59 Rambu ukur 78
22 Pengukuran titik detail 60 Contoh pengukuran
tachymetri 21 trigonometris 79
23 Diagram alir pengantar survei 61 Gambar koreksi trigonometris 80
dan pemetaan 22 62 Bagian-bagian barometer 81
24 Kesalahan pembacaan rambu 26 63 Barometer 82
25 Pengukuran sipat datar 27 64 Pengukuran tunggal 84
26 Prosedur Pemindahan Rambu 27 65 Pengukuran simultan 85
27 Kesalahan Kemiringan Rambu 28 66 Model diagram alir pengukuran
28 Pengaruh kelengkungan bumi 29 kerangka dasar vertikal 87
29 Kesalahan kasar sipat datar 30 67 Proses pengukuran 91
30 Kesalahan Sumbu Vertikal 31 68 Arah pengukuran 91
31 Pengaruh kesalahan kompas 69 Alat sipat datar 92
theodolite 36 70 Rambu ukur 92
32 Sket perjalanan 37 71 Cara menggunakan rambu
33 Gambar Kesalahan Hasil ukur di lapangan 93
Survei 37 72 Statif 93
34 Kesalahan karena penurunan 73 Unting-unting 93
alat 39 74 Patok kayu dan beton/ besi 94
35 Pembacaan pada rambu I 40 75 Pita ukur 94
36 Pembacaan pada rambu II 41 76 Payung 94
D-1
Lampiran : D
No Teks Hal No Teks Hal
77 Cat dan kuas 95 104 Peta statistik 134
105 Peta sungai 134
78 Pengukuran sipat datar 98 106 Peta jaringan 135
107 Peta dunia 135
79 Pengukuran sipat datar rambu 108 Sistem koordinat geografis 138
109 Bumi sebagai spheroid. 138
ganda 99 110 Sudut jurusan 140
111 Aturan kuadran geometris 140
80 Pengukuran sipat datar di luar 112 Aturan kuadran trigonometris 140
113 Model diagram alir sistem
slag rambu 100 141
koordinat proyeksi peta dan 155
81 Pengukuran sipat datar dua aturan kuadran 155
114 Pembacan derajat 155
rambu 101 115 Pembacaan grade 155
116 Pembacaan menit 156
82 Pengukuran sipat datar 117 Pembacaan centigrade 156
118 Sudut jurusan
menurun 101 119 Sudut miring 156
120 Cara pembacaan sudut
83 Pengukuran sipat datar menaik 102 mendatar dan sudut miring 157
121 Arah sudut zenith (sudut 158
84 Pengukuran sipat datar tinggi miring). 159
122 Theodolite T0 Wild
bangunan 102 123 Theodolite 160
124 Metode untuk menentukan
85 Pembagian kertas seri A 107 arah titik A. 160
125 Metode untuk menentukan 162
86 Pengukuran kerangka dasar arah titik A dan titik B.
126 Theodolite (tipe sumbu ganda) 162
vertikal 116 127 Theodolite (tipe sumbu 162
tunggal) 164
87 Diagram alir pengukuran sipat 128 Sistem lensa teleskop 164
129 Penyimpangan kromatik 164
datar kerangka dasar vertikal 117 130 Penyimpangan speris 164
131 Diafragma (benang silang) 165
88 Jenis bidang proyeksi dan 132 Tipe benang silang 165
133 Pembidik Ramsden 166
kedudukannya terhadap 134 Teleskop pengfokus dalam 166
135 Niveau tabung batangan
bidang datum 123 136 Niveau tabung bundar. 167
137 Hubungan antara gerakan
89 Geometri elipsoid. 124 gelembung dan inklinasi. 168
138 Berbagai macam lingkaran 168
90 Rhumbline atau loxodrome graduasi. 168
139 Vernir langsung.
menghubungkan titik-titik 124 140 Pembacaan vernir langsung 168
141 Pembacaan vernir mundur
91 Oorthodrome dan loxodrome 20,7.
pada proyeksi gnomonis dan
proyeksi mercator. 124
92 Proyeksi kerucut: bidang datum
dan bidang proyeksi. 125
93 Proyeksi polyeder: bidang
datum dan bidang proyeksi. 125
94 Lembar proyeksi peta polyeder
di bagian lintang utara dan
lintang selatan 126
95 Konvergensi meridian pada
proyeksi polyeder. 126
96 Kedudukan bidang proyeksi
silinder terhadap bola bumi
pada proyeksi UTM 128
97 Proyeksi dari bidang datum ke
bidang proyeksi. 129
98 Pembagian zone global pada
proyeksi UTM. 129
99 Konvergensi meridian pada
proyeksi UTM 130
100 Sistem koordinat proyeksi peta
UTM. 131
101 Grafik faktor skala proyeksi
peta UTM 131
102 Peta kota Bandung 133
103 Peta Geologi 133
D-2
Lampiran : D
No Teks Hal No Teks Hal
142 Pembacaan berbagai macam 176 Pengikatan ke muka 202
vernir. 169 177 Pengikatan ke muka 203
143 Sistem optis theodolite untuk 178 Model Diagram Alir Jarak,
mikrometer skala. 169 Azimuth dan Pengikatan Ke
144 Pembacaan mikrometer skala 169 Muka 205
145 Sistem optis mikrometer tipe 179 Kondisi alam yang dapat
berhimpit. 170 dilakukan cara pengikatan
146 Contoh pembacaan mikrometer ke muka 208
tipe berhimpit. 170 180 Kondisi alam yang dapat
147 Sistem optis theodolite dengan dilakukan cara pengikatan ke
pembacaan tipe berhimpit 170 belakang 208
148 Alat penyipat datar speris. 171 181 Pengikatan ke muka 209
149 Alat penyipat datar dengan 182 Pengikatan ke belakang 209
sentral bulat. 171 183 Tampak atas permukaan bumi 210
150 Unting-unting 172 184 Pengukuran yang terpisah
151 Alat penegak optis 172 sungai 210
152 Kesalahan sumbu kolimasi. 172 185 Alat Theodolite 211
153 Kesalahan sumbu horizontal 174 186 Rambu ukur 212
154 Kesalahan sumbu vertikal. 174 187 Statif 212
155 Kesalahan eksentris. 175 188 Unting-unting 212
156 Kesalahan luar. 175 189 Contoh lokasi pengukuran 212
157 Penyetelan sekrup-sekrup 190 Penentuan titik A,B,C dan P 213
penyipat datar 176 191 Pemasangan Theodolite di titik
158 Penyetelan benang silang P 213
(Inklinasi). 177 192 Penentuan sudut mendatar 213
159 Penyetelan benang silang 193 Pemasangan statif 214
(Penyetelan garis longitudinal). 177 194 Pengaturan pembidikan
160 Penyetelan sumbu horizontal. 178 theodolite 214
161 Pengukuran sudut tunggal. 179 195 Penentuan titik penolong
162 Metode arah 182 Collins 215
163 Metode sudut. 183 196 Besar sudut Į dan ȕ 216
164 Koreksi otomatis untuk sudut 197 Garis bantu metode Collins 217
elevasi 183 198 Penentuan koordinat H dari titik
165 Metode pengukuran sudut A 217
vertikal (1). 185 199 Menentukan sudut Įah 217
166 Metode observasi sudut 200 Menentukan rumus dah 218
vertikal (2). 185 201 Penentuan koordinat H dari titik
167 Metode observasi sudut B 218
vertikal (3). 185 202 Menentukan sudut D bh 218
168 Diagram alir macam sistem 203 Menentukan rumus dbh
besaran sudut 186 219
169 Pengukuran Jarak 189 204 Penentuan koordinat P dari titik
170 Lokasi Patok 190 A 219
171 Spedometer 191 205 Menentukan sudut Įap 219
172 Pembagian kuadran azimuth 193 206 Menentukan sudut Ȗ 219
173 Azimuth Matahari 196 207 Menentukan rumus dap 220
174 Pengikatan Kemuka 198 208 Penentuan koordinat P dari titik
175 Pengikatan ke muka 199 B 220
D-3
Lampiran : D
No Teks Hal No Teks Hal
209 Menentukan sudut Įbp 220 240 Penentuan titik P 248
241 Model diagram alir cara
210 Menentukan rumus dbp 220 249
pengikatan ke belakang 255
211 Cara Pengikatan ke belakang metode cassini 255
242 Poligon terbuka 255
metode Collins 222 243 Poligon tertutup 256
244 Poligon bercabang 256
212 Menentukan besar sudut Į dan 245 Poligon kombinasi
246 Poligon terbuka tanpa ikatan 257
ȕ 228 247 Poligon Terbuka Salah Satu
Ujung terikat Azimuth 257
213 Menentukan koordinat titik 248 Poligon Terbuka Salah Satu
Ujung Terikat Koordinat 258
penolong Collins 228 249 Poligon Terbuka Salah Satu
UjungTerikat Azimuth dan 259
214 Menentukan titik P 228 Koordinat
250 Poligon Terbuka Kedua Ujung 259
215 Menentukan koordinat titik A,B Terikat Azimuth
251 Poligon terbuka, salah satu 260
dan C pada kertas grafik 229 ujung terikat azimuth
sedangkan sudut lainnya 261
216 Garis yang dibentuk sudut Į terikat koordinat
252 Poligon Terbuka Kedua Ujung 262
dan ȕ 229 Terikat Koordinat
253 Poligon Terbuka Salah Satu 263
217 Pemasangan transparansi Ujung Terikat Koordinat dan 263
Azimutk Sedangkan Yang Lain 265
pada kertas grafik 229 Hanya Terikat Azimuth 265
254 Poligon Terbuka Salah Satu 266
218 Model diagram alir cara Ujung Terikat Azimuth dan 266
Koordinat Sedangkan Ujung 267
pengikatan ke belakang Lain Hanya Terikat Koordinat 267
255 Poligon Terbuka Kedua Ujung 267
metode collins 230 Terikat Azimuth dan Koordinat 268
256 Poligon Tertutup 268
219 Pengukuran di daerah tebing 233 257 Topcon Total Station-233N 269
258 Statif 269
220 Pengukuran di daerah jurang 233 259 Unting-Unting 269
260 Patok Beton atau Besi
221 Pengukuran terpisah jurang 234 261 Rambu Ukur 271
262 Payung
222 Pengikatan ke belakang 263 Pita Ukur
264 Formulir dan alat tulis
metode Collins 235 265 Benang
266 Nivo Kotak
223 Pengikatan ke belakang 267 Nivo tabung
268 Nivo tabung
metode Cassini 235 269 Jalon Di Atas Patok
224 Theodolite 236
225 Rambu ukur 236
226 Statif 236
227 Unting-unting 237
228 Pengukuran sudut Į dan ȕ di
lapangan. 238
229 Lingkaran yang
menghubungkan titik A, B, R
dan P. 238
230 Lingkaran yang
menghubungkan titik B, C, S
dan P. 239
231 Cara pengikatan ke belakang
metode Cassini 239
232 Menentukan dar 240
233 Menentukan Įar 240
234 Menentukan das 241
235 Menentukan Įas 241
236 Penentuan koordinat titik A, B
dan C. 248
237 Menentukan sudut 900 – Į dan 248
900 - ȕ
238 Penentuan titik R dan S 248
239 Penarikan garis dari titik R ke S 248
D-4
Lampiran : D
No Teks Hal No Teks Hal
270 Penempatan Rambu Ukur 271 301 Pembagian luas yang sama 327
271 Penempatan Unting-Unting 272 dengan garis lurus sejajar
272 Pembagian Kertas Seri A 276 salah satu segitiga 328
273 Skala Grafis 277
274 Situasi titik-titik KDH poligon 302 Pembagian luas yang sama 328
299 dengan garis lurus melalui
tertutup metode transit sudut puncak segitiga 328
275 Situasi titik-titik KDH poligon 300
301 303 Pembagian dengan 328
tertutup metode bowdith perbandingan a : b : c 329
276 Situasi lapangan metode transit 302 330
277 Situasi lapangan metode 304 Pembagian dengan
303 perbandingan m : n oleh suatu 330
Bowditch garis lurus melalui salah satu
278 Model Diagram Alir kerangka 307 sudut segiempat 330
308
dasar horizontal metode 305 Pembagian dengan garis lurus 331
poligon 309 sejajar dengan trapesium
279 Metode diagonal dan tegak 309 331
lurus 309 306 Pembagian suatu poligon 331
280 Metode trapesium 310 307 Penentuan garis batas
281 Offset dengan interval tidak 308 Perubahan segi empat menjadi 331
tetap 311 332
282 Offset sentral 312 trapesium 332
283 Metoda simpson 313 309 Pengurangan jumlah sisi 332
284 Metoda 3/8 simpson 313
285 Garis bujur ganda pada poligon 314 polygon tanpa merubah luas 332
metode koordinat tegak lurus 310 Perubahan garis batas yang
286 Metode koordinat tegak lurus 315 333
287 Metode kisi-kisi berliku-liku menjadi garis lurus
288 Metode lajur 316 311 Perubahan garis batas 333
289 Planimeter fixed index model 334
290 Sliding bar mode dengan skrup 317 lengkung menjadi garis lurus 339
penghalus 318 312 Posisi start yang harus di klik 341
291 Sliding bar mode tanpa skrup 321 313 Start – all Program – autocad 350
penghalus 321 350
292 Pembacaan noneus model 1 2000 353
dan 2 322 314 Worksheet autocad 2000 353
293 Bacaan roda pengukur 323 315 Open file 353
294 Penempatan planimeter 324 316 Open file 354
295 Gambar kerja 317 Gambar penampang yang 354
296 Gambar pengukuran peta 325 354
dengan planimeter liding bar akan dihitung Luasnya 354
model yang tidak dilengkapi 327 318 Klik poin untuk menghitung 354
zero setting (pole weight/diluar
kutub) luas
297 Hasil bacaan positif 319 Klik poin untuik menghitung
298 Hasil bacaan negatif
299 Pengukuran luas peta pole luas
weight (pemberat kutup) di 320 Diagram alir perhitungan luas
dalam peta 321 Prinsip tachymetri
300 Pengukuran luas peta pole 322 Sipat datar optis luas
weight dalam peta 323 Pengukuran sipat datar luas
324 Tripod pengukuran vertikal
325 Theodolite Topcon
326 Statif
327 Unting-unting
328 Jalon di atas patok
329 Pita ukur
330 Rambu ukur
331 Payung
332 Formulir Ukur
D-5
Lampiran : D
No Teks Hal No Teks Hal
333 Cat dan Kuas 355 359 Letak garis pantai dan garis
334 Benang 355 kontur 1m 389
335 Segitiga O BT O’ 358 360 Perubahan garis pantai dan
336 Pengukuran titik detail garis kontur sesudah kenaikan
tachymetri 359 muka air laut. 389
337 Theodolit T0 wild 361 361 Garis kontur lembah,
338 Siteplan pengukuran titik detail punggungan dan perbukitan
tachymetri 362 yang memanjang. 390
339 Kontur tempat pengukuran titik 362 Plateau 391
detail tachymetri 363 363 Saddle 391
340 Pengukuran titik detail 364 Pass 391
tachymetri dengan garis kontur 365 Menggambar penampang 393
1 364 366 Kotak dialog persiapan Surfer 394
341 Pengukuran titik detail 367 Peta tiga dimensi 395
tachymetri dengan garis kontur 368 Peta kontur dalam bentuk dua
2 365 dimensi. 395
342 Diagram alir Pengukuran titik- 369 Lembar worksheet. 396
titik detail metode tachymetri 375 370 Data XYZ dalam koordinat
343 Pembentukan garis kontur kartesian 396
dengan membuat proyeksi 371 Data XYZ dalam koordinat
tegak garis perpotongan decimal degrees. 397
bidang mendatar dengan 372 Jendela editor menampilkan
permukaan bumi. 378 hasil perhitungan volume. 397
344 Penggambaran kontur 379 373 Jendela GS scripter 398
345 Kerapatan garis kontur pada 374 Simbolisasi pada peta kontur
daerah curam dan daerah dalam surfer. 399
landai 380 375 Peta kontur dengan kontur
346 Garis kontur pada daerah interval I. 399
sangat curam. 380 376 Peta kontur dengan interval 3 400
347 Garis kontur pada curah dan
punggung bukit. 381 377 Gambar peta kontur dan model
348 Garis kontur pada bukit dan 3D. 401
cekungan 381 378 Overlay peta kontur dengan
349 Kemiringan tanah dan kontur model 3D 401
gradient 382 379 Base map foto udara. 402
350 Potongan memanjang dari 380 Alur garis besar pekerjaan
potongan garis kontur 383 pada surfer. 402
351 Bentuk, luas dan volume 381 Lembar plot surfer. 403
daerah genangan berdasarkan 382 Obyek melalui digitasi. 404
garis kontur. 383 383 Model diagram alir garis kontur,
352 Rute dengan kelandaian sifat dan interpolasinya 405
tertentu. 383 384 Sipat datar melintang
353 Titik ketinggian sama 410
berdasarkan garis kontur 384 385 Tongkat sounding 410
354 Garis kontur dan titik ketinggian 384 387 Potongan tipikal jalan 411
355 Pengukuran kontur pola spot 388 Contoh penampang galian dan
level dan pola grid. 385 timbunan 412
356 Pengukuran kontur pola radial. 385 389 Meteran gulung 413
357 Pengukuran kontur cara 390 Pesawat theodolit 413
langsung 386 391 Jalon 413
358 Interpolasi kontur cara taksiran 387
D-6
Lampiran : D
No Teks Hal No Teks Hal
392 Rambu ukur 413 421 Hasil Foto Udara yang
393 Stake out pada bidang datar 413 dilakukan di daerah Nangroe
394 Stake out pada bidang yang Aceh Darussalam yang
berbeda ketinggian 414 dilakukan pasca Tsunami,
395 Stake out beberapa titik untuk keperluan Infrastruktur
sekaligus 414 Rehabilitasi dan Konstruksi 445
396 Volume cara potongan 422 Contoh Hasil pemetaan Digital
melintang rata-rata 415 Menggunakan AutoCAD 453
397 Volume cara jarak rata-rata 415 423 Contoh : Hasil pemetaan
398 Volume cara prisma 416 Digital Menggunakan AutoCAD 453
399 Volume cara piramida kotak 416 424 Hasil pemetaan Digital
400 Volume cara dasar sama bujur Menggunakan AutoCAD 454
sangkar 416 425 Hasil pemetaan Digital
401 Volume cara dasar sama – Menggunakan AutoCAD 454
segitiga 416 426 Tampilan auto cad 455
402 volume cara kontur 417 427 Current pointing device 456
403 Penampang melintang jalan 428 Grid untuk pengujian digitizer 457
ragam 1 421 429 Grid untuk peta skala 1:25.000. 459
404 Penampang melintang jalan 430 Bingkai peta dan grid UTM per
ragam 2 421 1000 m 460
405 Penampang melintang jalan 431 Digitasi jalan arteri dan jalan
ragam 3 422 lokal, (a) peta asli, (b) hasil
406 Penampang trapesium 425 digitasi jalan, kotak kecil adalah
407 Penampang timbunan 426 vertex (tampil saat objek
408 Koordinat luas penampang 426 terpilih). 461
409 Volume trapesium 427 432 Perbesaran dan perkecilan 462
410 Penampang galian 433 Model Digram Alir Pemetaan
428 Digital 466
411 Penampang timbunan 429 434 Contoh : Penggunaan
412 Penampang galian dan Komputer dalam Pembuatan
timbunan 430 Peta 470
413 Penampang melintang galian 435 Contoh : Penggunaan
dan timbunan 431 Komputer dalam Pembuatan
414 Diagram alir perhitungan galian Peta 470
dan timbunan 432 436 Komputer sebagai fasilitas
415 Perangkat keras 436 pembuat peta 471
416 Perangkat keras Scanner 436 437 Foto udara suatu kawasan 471
417 Peta lokasi 441 438 Contoh : Peta udara Daerah
418 Beberapa hasil pemetaan Propinsi Aceh 471
digital, yang dilakukan oleh 439 Data grafis mempunyai tiga
Bakosurtanal 442 elemen : titik (node), garis (arc)
419 Salah satu alat yang dipakai dan luasan (poligon) 472
dalam GPS type NJ 13 443 440 Peta pemuktahiran pasca
420 Hasil Foto Udara yang bencana tsunami 472
dilakukan di daerah Nangroe 441 Komponen utama SIG 474
Aceh Darussalam yang 442 Perangkat keras 474
dilakukan pasca Tsunami, 443 Perangkat keras keyboard 475
untuk keperluan Infrastruktur 444 Perangkat keras CPU 475
Rehabilitasi dan Konstruksi 444 445 Perangkat keras Scanner 475
D-7
Lampiran : D
No Teks Hal No Teks Hal
446 Perangkat keras monitor 475 466 Peta Vegetasi Indonesia 492
447 Perangkat keras mouse 475 (Tahun 2004)
448 Peta arahan pengembangan 467 Peta perubahan penutupan
komoditas pertanian kabupaten lahan pulau Kalimantan 492
Ketapang, Kalimantan Barat 478 468 Peta infrastruktur di daerah
449 Peta Citra radar Tanjung Nangreo Aceh Darussalam 494
Perak, Surabaya 478 469 Garis interpolasi hasil program
450 Peta hasil foto udara daerah Surfer 505
Nangroe Aceh Darussalam 470 Garis kontur hasil interpolasi 505
Pasca Tsunami 479 471 Interpolasi Kontur cara taksiran 506
451 NPS360 for robotic Total 472 Mapinfo GIS 507
Station 479 473 Model Diagram Alir Sistem
452 NK10 Set Holder dan Prisma Informasi Geografis 508
Canister 479
453 NK12 Set Holder dan Prisma 479
454 NK19 Set 479
455 GPS type NL 10 480
456 GPS type NL 14 fixed adapter 480
457 GPS type NJ 10 with optical
plummet 480
458 GPS type NK 12 Croth single
prism Holder Offset : 0 mm 480
459 GPS type CPH 1 A Leica
Single Prism Holder Offset : 0
mm 480
460 Peta digitasi kota Bandung
tentang perkiraan daerah
rawan banjir 481
461 Peta hasil analisa SPM
(Suspended Particular Matter) 481
462 Peta prakiraan awal musim
kemarau tahun 2007 di daerah
Jawa 481
463 Peta kedalaman tanah efektif di
daerah jawa barat Bandung 490
464 Peta Curah hujan di daerah
Jawa Barat-Bandung 490
465 Peta Pemisahan Data vertikal
dipakai untuk penunjukan
kawasan hutan dan perairan
Indonesia 491
D-8
Diunduh dari BSE.Mahoni.com