The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Vans Nip, 2025-03-11 05:17:29

E-BOOK AKIDAH AKHLAK KELAS VII MTS

produk ebook

Keywords: AKIDAH AKHLAK

Fitri Zakiah Hutabarat


i | Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah swt yang senantiasa selalu melimpkahkan kesehatan dan kesempatan serta rahmat-Nya sehingga penulis sanggup menyelesaikan penulisan e-book ini. begitu juga salawat dan salam keharibaan baginda Rasulullah saw yang menjadi suri tauladan dulu sampai akhir hayat, semoga diberi syafaat pada hari kelak nanti. Penulisan e-book mata pelajaran akidah akhlak ini diselesaikan dengan waktu yang cukup panjang dan revisi berkali-kali oleh penulis. Namun, penulis tetap menyadari betapa masih diperlukannya saran dan kritikan dari berbagai pihak untuk kelayakan e-book ini sehingga pada akhirnya e-book ini dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan semoga kelak menjadi amal jariyah bagi penulis. Padangsidimpuan, November 2024 Fitri Zakiah Hutabarat


ii | Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 DAFTAR ISI Kata pengantar i Daftar Isi ii Pembahasan I 1 Sifat-Sifat Allah swt 2 A. Pengertian Sifat Wajib, Mustahil, Jaiz bagi Allah swt 3 B. Nama-Nama Sifat Allah swt 6 C. Dalil Kebenaran Sifat-Sifat Allah swt 10 D. Ciri-Ciri Orang yang Beriman terhadap Allah swt 15 Pembahasan II 17 A. Taat 20 1. Pengertian Taat 20 2. Dasar-Dasar Ketaatan Dalam Islam 20 3. Hikmah Dari Ketaatan 22 4. Ciri-Ciri Muslim Yang Taat 22 B. Taubat 23 1. Pengertian Taubat 23 2. Syarat-Syarat Taubat 24 3. Dalil Tentang Taubat 24 4. Perilaku Membiasakan Diri Bertaubat 26 C. Istiqamah 26 1. Pengertian Istiqamah 26 2. Dalil Tentang Istiqamah 27 3. Cara Agar Selalu Istiqamah 28 D. Ikhlas 29 1. Pengertian Ikhlas 29 2. Dalil Tentang Ikhlas 29 3. Tingkatan Ikhlas 30 4. Manfaat Ikhlas 30 Pembahasan III 33 A. Riya 36 1. Pengertian Riya 36 2. Dalil Tentang Riya 37 3. Macam-Macam Riya 37 4. Contoh Perbuatan Riya 38


iii | Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 5. Dampak Negatif Pembuatan Riya 38 B. Nifaq 40 1. Pengertian Nifaq 40 2. Macam-Macam Nifaq 41 3. Bentuk Dan Contoh Perbuatan Nifaq 41 4. Dalil Tentang Nifaq 42 C. Hasad 43 1. Pengertian Hasad 43 2. Dalil tentang Hasad 43 3. Ciri-Ciri Perilaku Hasad 45 4. Upaya Terhindar dari Perbuatan Hasad 46 D. Namimah 47 1. Pengertian Namimah 47 2. Dalil Tentang Namimah 47 3. Dampak Buruk Perbuatan Namimah 48 4. Cara menghindari Perbuatan Namimah 48 Asesmen Kognitif 51 Daftar Pustaka 56 Lampiran


1 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 PEMBAHASAN I SIFAT-SIFAT ALLAH SWT ➢ Pengertian Sifat Wajib, Mustahil dan Jaiz bagi Allah SWT ➢ Nama-Nama Sifat Allah SWT ➢ Dalil Kebenaran Sifat-Sifat Allah SWT ➢ Ciri-Ciri Orang yang Beriman terhadap Allah SWT


2 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 Sumber : https://blog.tripcetera.com/id/pemandangan-alam-indonesia/ Indahnya pemandangan pada gambar tersebut tidak terlepas dari kuasa-Nya sang Maha pencipta alam semesta Allah swt. Artinya Allah swt memiliki sifat wajib, mustahil dan jauiz yang membedakan dengan makhluk. Kita tentu meyakini bahwa keindahan yang kita lihat hanya bisa diciptakan oleh Allah yang Maha Esa dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Agar hidup selalu berada dalam lindungan-Nya, sebagai seorang yang beriman, maka memohon dan memintalah kepada Allah swt. MARI SAKSIKAN VIDEO BERIKUT! https://youtu.be/qSc-9pqr_Q4?si=suhxKY9PnS6YRGMQ


3 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 Dalam memahami sifat-sifat Allah SWT, terdapat tiga kategori utama yang perlu diketahui: sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat jaiz. Masing-masing kategori ini menggambarkan karakteristik dan keagungan Allah sebagai Pencipta. Pengertian: Sifat wajib adalah sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh Allah SWT dan tidak mungkin dihilangkan dari-Nya. Sifat ini menegaskan kesempurnaan dan keagungan Allah. Dalam Islam, terdapat 20 sifat wajib yang harus diyakini oleh setiap Muslim, antara lain: Sifat Wajib : PENGERTIAN SIFAT WAJIB, MUSTAHIL DAN JAIZ BAGI ALLAH SWT MARI KEMBANGKAN WAWASAN! Capaian Pembelajaran : Peserta didik mampu menganalisis sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah Swt dan rasul-Nya (Aqaid Khamsin) yang benar sesuai pemahaman ulama ahl sunnah wa al-jama’ah sebagai landasan dan motivasi beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari, sehingga semua yang dilakukan bernilai ibadah dan berdimensi ukhrawi.


4 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 Sumber : https://www.piss-ktb.com/2012/10/seluruh-orangmukallaf-wajib-mengetahui.html#google_vignette 1. Wujud (Ada) 2. Qidam (Terdahulu) 3. Baqa' (Kekal) 4. Mukhalafatu Lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk) 5. Qiyamuhu Binafsihi (Mandiri) 6. Wahdaniyah (Esa) 7. Qudrat (Maha Kuasa) 8. Iradah (Maha Berkehendak) 9. Ilmu (Maha Mengetahui) 10. Hayat (Maha Hidup) 11. Sama' (Maha Mendengar) 12. Basar (Maha Melihat) 13. Kalam (Maha Berbicara) Setiap sifat ini menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Sempurna dan tidak ada yang setara dengan-Nya.


5 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 Pengertian: Sifat mustahil adalah sifat-sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh Allah SWT. Sifat ini menegaskan bahwa Allah tidak memiliki kekurangan atau sifatsifat yang bertentangan dengan kesempurnaan-Nya. Contoh sifat mustahil antara lain: 1. Adam (Tidak Ada) 2. Bida' (Baru) 3. Mumasalatu Lil Hawaditsi (Menyerupai makhluk) 4. Ihtiyaj (Butuh kepada sesuatu) 5. Fana (binasa) 6. Ta'addud (Berbilang) 7. Ajz (Lemah) 8. Kaunuhu Mayyitan (Dzat yang Mati) 9. Kaunuhu Asham (Dzat yang Tuli) 10. Kaunuhu A'ma (Dzat yang Buta) Sifat-sifat ini harus dipahami sebagai penegasan bahwa Allah SWT tidak memiliki sifat-sifat yang merendahkan kemuliaan-Nya. Pengertian: Sifat jaiz adalah sifat yang menunjukkan kebebasan Allah untuk berbuat sesuai kehendak-Nya, baik untuk melakukan sesuatu maupun tidak melakukan sesuatu. Ini mencerminkan hak prerogatif Allah sebagai Tuhan semesta alam, di mana segala keputusan-Nya bersifat mutlak dan tidak terikat oleh apapun.Contoh dari sifat jaiz adalah kemampuan Allah untuk menciptakan atau tidak menciptakan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Sifat Mustahil : Sifat Jaiz :


6 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 Sifat wajib Allah SWT terbagi menjadi empat kategori utama, yaitu: 1. Sifat Nafsiyah Sifat yang berkaitan langsung dengan zat Allah. 2. Sifat Salbiyah Sifat yang menolak segala sifat yang tidak layak bagi Allah, menunjukkan kesempurnaan-Nya. 3. Sifat Ma’ani Sifat yang dapat dipahami oleh akal dan dapat dibuktikan dengan panca indra. 4. Sifat Ma’nawiyah Sifat yang selalu melekat pada zat Allah dan tidak mungkin hilang. Untuk lebih detailnya dapat dilihat pada tabel berikut ini : SIFAT WAJIB ARTI MAKNA NAFSIYAH Wujud Ada Menunjukkan bahwa Allah pasti ada dan tidak bergantung pada makhluk lain. SALBIYAH Qidam Terdahulu Allah ada sebelum segala sesuatu. Baqa' Kekal Allah tidak akan pernah binasa. Mukhalafatu lil Hawaditsi Berbeda dengan makhluk Allah tidak menyerupai makhluk-Nya. NAMA-NAMA SIFAT-SIFAT ALLAH SWT


7 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 Qiyamuhu binafsihi Mandiri Allah berdiri sendiri tanpa bergantung pada yang lain. Wahdaniyah Esa Allah adalah satu-satunya Tuhan. MA'ANI Qudrat Maha Kuasa Allah SWT memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu. Iradah Maha Berkehendak Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini terjadi sesuai dengan kehendak Allah SWT. Ilmu Maha Mengetahui Allah SWT mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Hayat Maha Hidup Allah SWT memiliki kehidupan yang sempurna dan kekal, tidak tergantung pada makhluk lain.


8 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 Sama' Maha Mendengar Allah SWT mendengar segala suara dan doa, baik yang diucapkan maupun yang tersembunyi di dalam hati. Basar Maha Melihat Allah SWT melihat segala sesuatu, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi dari pandangan makhluk-Nya. Kalam Maha Berbicara Allah SWT berbicara kepada para rasul-Nya melalui wahyu-Nya. MA'NAWIY AH Qadiran Maha Kuasa Menegaskan bahwa Allah SWT memiliki kemampuan untuk melakukan segala sesuatu tanpa batasan. Muridan Maha Berkehendak Menunjukkan bahwa Allah SWT berkehendak atas segala sesuatu yang diciptakanNya.


9 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 Aliman Maha Mengetahui Menggambar kan pengetahuan Allah yang mencakup semua hal, baik yang sudah terjadi maupun yang akan datang. Hayyan Maha Hidup Menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang hidup dan tidak akan pernah mati. Sami'an Maha Mendengar Menunjukkan kemampuan Allah untuk mendengar semua suara dan ucapan makhluk-Nya. Basiran Maha Melihat Menegaskan bahwa Allah melihat segala sesuatu, termasuk halhal yang tersembunyi dari pandangan manusia. Mutakalliman Maha Berbicara Menunjukkan bahwa Allah berbicara dan menyampaik an wahyu kepada para nabi dan rasul-Nya.


10 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 Sifat-sifat Allah Swt. dapat dibuktikan dengan dua cara, yaitu dalil Aqli (dalil yang didasarkan akal) dan dalil Naqli (dibuktikan dengan dasar Al Qur’an dan Hadis Nabi Saw.) Sifat-sifat wajib dan mustahil Allah adalah sebagai berikut: 1. Wujud (Ada) Makna: Allah SWT pasti ada dan tidak bergantung pada makhluk. Dalil: ُ م ح ُّ و َقي ي الح ُّ َ ا حْل َ ُو اَل ه ِ ا َ ه ه ل ِ ََلٓ ا ُ ه َ ّٰلل ا “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi Maha Mengurus (makhluk-Nya) secara terus-menerus..” (QS. Ali-Imran : 3) 2. Qidam (Terdahulu) Makna: Allah SWT sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan. Dalil: حم ي ِ ل َ ع ٍ ء ح َشي ِ ٰ ُكل ِ ب َ ُو ه َ و ُۚ ُ ن اطِ َ الحب َ و ُ ر ِ اه ا الظ َ و ُ ر خِ احَله َ وُل و احَلَا َ ُو ه “Dialah Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahazahir, dan Mahabatin. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu..” (QS. Al-Hadid: 3). 3. Baqa' (Kekal) Makna: Allah SWT tidak akan pernah binasa. Dalil: َ ه ه ل ِ ََلٓ ا َۘ َ َخر ا ه ا ً ه ٰل ِ ا هِ ّٰلل ا َ َع َ حدعُ م ََل ت َ و ه َ حه َج اَل و ِ ك ا ِ ال َ ه ٍ ء ح ُك ُّل َشي َ ُو اَل ه ِ ا ُ لَه ُ حكم ُ ا حْل ِ ه ح لَي ِ ا َ و َن ح ُو ع َ حج ُر ت ࣖ DALIL-DALIL KEBENARAN SIFAT-SIFAT ALLAH SWT


11 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 “Jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain (selain Allah). Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan..” (QS. Al-Qasas: 88) 4. Mukhalafatu Lil Hawaditsi (Berbeda dengan Makhluk) Makna: Allah SWT berbeda dari makhluk-Nya dan tidak ada yang menyerupai-Nya. Dalil: امِ َ حع احَلَن َ ن ِ وم ا ا ً اج َ َحزو ا ح ِس ُكم حُف َن ا ح ن ِ ٰ م ح لَ ُكم َ َل ع َ ج ِض ح احَلَر َ و ِت و ه م اس ه ال ُ ر فَاطِ ه ِ حل ث َكمِ َ حس لَي ِ ه ح ي ِ ف ح ُؤُكم َ حذر َ ي ُۚ ا ً اج َ َحزو ا ُۚ ء ح َشي َ و َ ُو ه ال ُ حع ي اسمِ ُ ِصحي َ الحب “(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagimu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri dan (menjadikan pula) dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan(-nya). Dia menjadikanmu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat..” (QS. Asy-Syura: 11) 5. Qiyamuhu Binafsihi (Mandiri) Makna: Allah SWT tidak membutuhkan makhluk lain untuk eksistensinya. ح ُد :Dalil ي َمِ ا حْل ِِنُّ َ الحغ َ ُو ُ ه ه ّٰلل ا َ و ُۚ هِ ّٰلل ََل ا ِ ا ُ ء ۤ ا َ ُفَقر الح ُ ُم حت َن ُس ا اا ا الن َ ُّ ه َي هٰٓي “Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, dan Allah Dialah Yang Mahakaya.” (QS. Fatir: 15) 6. Wahdaniyah (Esa) Makna: Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan tanpa sekutu. Dalil:


12 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 َن ح ِصُفو َ ما ي َ ا ِش ع ح ر َ الحع َ ٰبِ ر هِ ّٰلل ا َ حن ه ح ب ُ فَس ُۚ َ َدَت َ لََفس ُ ه ّٰلل اَل ا ِ ة ا َ ِ اٰل آ ه َ ِهم ح ي ِ َن ف َكا ح لَو “Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu saja keduanya telah binasa.” (QS. Al-Anbiya: 22) 7. Qudrat (Maha Kuasa) Makna: Allah SWT memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu. Dalil: َكا َ ي ح لَو َ و ا ح و ُ قَام ح ِهم ح لَي َ ع َ َظحلَم ذَآ ا ِ ا َ و ِۙ ِ ه ح ي ِ ا ف ح َشو م ا ح ُم َٰل َ ء ۤ َ َضا آ ا َ م ا ُكل ح ُم ه َ ح َصار َب ُف ا َحَب ُق ََيحطَ الح ُ د حر ي قَدِ ٍ ء ح َشي ِ ٰ ى ُكل ه ل َ َ ع ه ّٰلل ن ا ا ِ ا ح م ِ ح َصاِره َب ا َ و ح ِهم ِ ع ح م َ ِس َ َب ب لَ َذه ُ ه ّٰلل ا َ ء ۤ َشا ࣖ “Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu. Apabila gelap menerpa mereka, mereka berdiri (tidak bergerak). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu..” (QS. AlBaqarah: 20) 8. Iradah (Maha Berkehendak) Makna: Segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya. Dalil: ح ُد ِري ُ ا ي َ ٰم ِ اا ل ل فَ ع “Maha Kuasa berbuat apa yang Ia kehendaki.” (QS. Al-Buruj: 16)


13 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 9. Ilmu (Maha Mengetahui) Makna: Pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu, baik yang tampak/terlihat maupun yang tidak tampak/ tersembunyi. Dalil: حم ي ِ ل َ ع ٍ ء ح َشي ِ ٰ ُكل ِ ب ُ ه ّٰلل ا َ و ࣖ “Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa': 176) 10. Hayat (Maha Hidup) Makna: Kehidupan Allah sempurna dan kekal, tidak bergantung padamakhluk. Dalil: لَه َ ع َ ا فَج ً َ َشر ب ِ ء ۤ ا َ الحم َ ن ِ َق م ح َخلَ ذِي ا ال َ ُو ه َ ً و ب َ َس ن ا ً حر ي َك قَدِ ُّ ب َ َن ر َكا َ و ا ً حر و ِصه ا ا “Dan berpasrahlah kepada Zat yang hidup tidak mati.” (QS. AlFurqan: 58) 11. Sama' (Maha Mendengar) Makna: Allah SWT mendengar segala suara dan doa makhluk-Nya. Dalil: َ َ حْل ا ِ ء ۤ ا َ دع ال ُّ ُ حع ي مِ َ لَس ح َّٰب ِ ن ر ا ِ ا ح َق ه ح س ِ ا َ و َ حل ي ِ ع حْسه ِ ََبِ ا لَى الحكِ َ ع ح َ َب ِِل ه َ و ح ذِي ا ال هِ ح ُد ِّللٰ م “Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar.” (QS. Ibrahim: 39)


14 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 12. Basar (Maha Melihat) Makna: Allah SWT melihat segala hal, baik yang tampak maupun tersembunyi. Dalil: لَه ح ذِي ا ال ُ ُك م و ِت حل ه م اس ه ال ِض ح احَلَر َ ُ و ه ّٰلل ا َ لى ه َ و ع ِ ٰ ُكل ٍ ء ح َشي ح د َشِهي “Dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Buruuj: 9) 13. Kalam (Maha Berbicara) Makna: Allah SWT berbicara kepada para rasul-Nya melalui wahyu-Nya. Dalil: ُ م ُ ه ّٰلل ا َ م ا َكل َ و ُۚ ا ً حم ي ِ َ حكل سى ت ه ح و “Allah telah benar-benar berbicara kepada Musa (secara langsung).” (QS. An-Nisa : 165) Terdapat banyak ayat dalam Al-Qur'an yang menunjukkan wahyu-Nya kepada para rasul 14-20 Sifat Lainnya Sifat-sifat lainnya termasuk Qadir (Maha Kuasa), Hayyan (Maha Hidup), Qayyum (Maha Mandiri), Alim (Maha Mengetahui), Bashar (Maha Melihat), Kalam (Maha Berbicara), serta sifat-sifat lain yang menjelaskan eksistensi dan keagungan Allah SWT.Setiap sifat ini menegaskan bahwa Allah SWT adalah Dzat yang Maha Esa, Maha Sempurna, dan tidak ada yang dapat menandingi-Nya dalam kekuasaan dan pengetahuan-Nya.


15 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 1. Percaya dan yakin akan adanya Allah serta menjauhkan diri dari pahampaham yang anti tuhan (meniadakan Tuhan) 2. Mempercayai bahwa Allah Maha Pencipta alam dan segala isinnya adalah maha azali yaitu sudah ada sebelum adanya sesuatu apapun selain diri Dia sendiri. 3. Meyakini bahwa segala sesuatu yang bernama makhluk pasti binasa, rusak, mati dan musnah kecuali Dzat Allah yang kekal, tidak mengalami perubahan. 4. Percaya bahwa Allah swt sebagai maha pencipta pasti berbeda dengan semua makhluk yang diciptakannya. 5. Senantiasa hidup bergantung pada kekuasaan dan kehendak Allah swt. 6. Tidak berbuat kemusyrikan (menyekutukan Allah dengan Tuhan yang lain) DISKUSI KELOMPOK a) Berkelompoklah 5-6 orang dengan tertib! b) Diskusikan hal-hal berikut dengan saling menghargai pendapat teman! CIRI-CIRI ORANG YANG BERIMAN TERHADAP ALLAH SWT MARI BERLATIH Coba diskusikan bukti-bukti kekuasaan Allah swt sesuai dengan sifat-sifat Allah swt dan presentasikan di depan temantemanmu!


16 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 KUIS ONLINE Silahkan kerjakan soal pada link berikut! https://forms.gle/VMyKpBMkdcpMv3vA7 1. sifat wajib allah swt adalah sifat-sifat yang pasti dimiliki allah swt yang sesuai dengan keagungan-Nya sebagai pencipta alam semesta. 2. Sifat mustahil allah swt adalah kebalikan dari sifat wajib allah swt yaitu sifat yang tidak mungkin dan tidak layak disandarkan pada Dzat-nya sebagai pencipta alam semesta. 3. Sifat jaiz allah swt berarti kebebasan allah swt yakni kebebasan yang dimiliki-Nya sebagai tuhan alam semesta. 4. Sifat wajib dan mustahil allah swt terdapat 20 sifat yang dibagi menjadi 4 bagian yaitu nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan ma’nawiyah. 5. Sebagai hamba allah swt maka kita wajib mengenal allah swt dengan cara mengenal sifat-sifat-Nya. “Selagi di dalam hatimu masih ada sebesar semut yang selain Allah, maka kamu tidak melihat dekatnya Allah di sisimu, dan tidak bangkit kejinakan dan ketenangan kepada-Nya.” (Syekh Abdul Qadir jaelani) RANGKUMAN MATERI


17 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 PEMBAHASAN II AKHLAK TERPUJI ➢ Taat ➢ Taubat ➢ Istiqamah ➢ Ikhlas


18 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 KISAH NABI YUNUS AS Yunus termasuk salah satu Nabi yang kisahnya diceritakan berkalikali dalam Al-Qur’an. Bahkan, namanya diabadikan menjadi salah satu surah. Allah menceritakan kisah Nabi Yunus sebanyak empat kali dalam kitab-Nya tersebut. Pertama, kisah Yunus alaihissalam disebutkan Allah dalam Surah Yunus (10) ayat 98: “Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus) itu beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu.” Kemudian Allah menyebutkannya pada Surah Al-Anbiya’ (21) ayat 87—88: “Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orangorang yang zalim’. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” Kisah Nabi Yunus juga dapat kita temukan pada Surah As-Saffat (37) ayat 139—148: “Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang Rasul, (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian). Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.


19 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 MARI SAKSIKAN VIEDO PENDEK BERIKUT! https://youtu.be/BRxASRf1KaM?si=jV4_7GWB0GdOOnhM Setelah menonton video di atas, silakan buat kesimpulan tentang apa yang kamu pahami mengenai sifat terpuji taubat.


20 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 A. Pengertian Taat Taat dalam konteks agama, khususnya Islam, berarti patuh atau tunduk kepada perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Taat merupakan kewajiban setiap Muslim sebagai bentuk penghambaan dan pengakuan terhadap kekuasaan Tuhan. Dalam Al-Qur'an, Allah memerintahkan umat-Nya untuk taat kepada-Nya, Rasul-Nya, dan ulil amri (pemimpin) selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. B. Dasar-Dasar Ketaatan dalam Islam 1. Al-Qur'an: Ketaatan kepada Allah tercantum dalam banyak ayat AlQur'an. Salah satu ayat yang sering dikutip adalah: TAAT MARI KEMBANGKAN WAWASAN! Capaian Pembelajaran : Peserta didik mampu memahami dan membiasakan Ahlak terpuji taat, taubat, istqamah, ikhlas, ikhtiar, tawakal, qana’ah, sabar, syukur, husnuzhan, tawadlu’, tasamuh, ta’awun, berilmu, kerja keras, kreatif, produktif, dan inovatif sebagai manifestasi akhlak yang merupakan buah dari ilmu sehingga terbentuk kesalehan individu dan sosial, untuk mewujudkan pribadi yang unggul dan mampu bersaing di era global.


21 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 حن ِ فَا ُۚ ح ح ُكم ن ِ ِر م ح ُوَِل احَلَم ا َ َل و ح و ُ رس ا ُوا ال ع ح ي َطِ ا َ َ و ه ّٰلل ُوا ا ع ح ي َطِ ٓا ا ح ُو ن َ ام ه َ حن ي ذِ ا ا ال َ ُّ ه هٰٓيَي ِ م ح َو الحي َ و هِ َن ِِب ّٰلل ح ُو ن ِ ُحؤم ت ح ُم ت ح حن ُكن ِ ِل ا ح و ُ رس ا ال َ و هِ ّٰلل ََل ا ِ ا ُ ه ح دو ُّ ُ فَ ر ٍ ء ح َشي ح ِِف ح ُم َ حعت از َ ن َ ت خِ احَله ِ ذل ه ًل ِر ح ح ِوي َ َت ُ ن َ حس َح وا ا َك َخحي ࣖ “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat).” (QS. An-Nisa : 59) Penjelasan Ayat Ada 3 bentuk ketaatan yang termuat dalam ayat di atas, berikut penjelasan terkait hal tersebut : 1) Taat kepada Allah swt Sebagai seorang muslim, taat kepada Allah adalah yang paling pertama dan utama. Sebagaimana ayat di atas, kalimat perintah untuk taat yang pertama adalah kepada Allah Swt. Ketaatan kepada Allah ini sifatnya mutlak,tanpa ada keraguan,dan tidak ada tawar menawar dalam segala aspek kehidupan. 2) Taat kepada Rasul Ketaatan yang kedua adalah ketaatan kepada nabi Muhammad Saw. Ketaatan inipun mutlak, sebagaimana ketaatan kepada Allah Swt. ini berarti, taat kepada rasul berarti taat kepada Allah. Demikian juga sebaliknya,tidak taat kepada rasul, berarti tidak taat kepada Allah. Karena ayat di atas jelas bahwa perintah kepada rosul adalah wajib. Hal ini terbukti dari redaksi ayat yang mengulang kata ”taatilah” pada perintah taat yang kedua.


22 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 3) Taat kepada Ulil Amri Ulil amri merujuk pada pemimpin atau orang-orang yang memiliki otoritas dalam masyarakat. Ketaatan kepada mereka diwajibkan selama perintah mereka tidak bertentangan dengan syariat Islam. Ini menunjukkan pentingnya struktur sosial dan kepemimpinan dalam Islam 2. Hadis "Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian." (HR. Bukhari dan Muslim) C. Hikmah dari Ketaatan Taat kepada Allah SWT membawa banyak manfaat bagi kehidupan seorang Muslim: 1. Mendapatkan Ridha Allah: Ketaatan adalah jalan untuk mendapatkan keridhaan dan kasih sayang Allah. 2. Keberkahan Hidup: Kehidupan yang penuh berkah dan ketenangan jiwa. 3. Menjadi Teladan: Menjadi contoh baik bagi orang lain dalam menjalani kehidupan sehari-hari. 4. Janji Surga: Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa orang-orang yang taat akan bersama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, seperti para nabi dan orang-orang saleh. D. Ciri-Ciri Muslim yang Taat Seorang Muslim yang taat biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Melaksanakan Perintah Allah: Secara konsisten mengerjakan ibadah dan perintah yang ditetapkan dalam syariat.


23 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 2. Menjauhi Larangan: Berusaha untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. 3. Menghormati Pemimpin: Taat kepada ulil amri selama perintah mereka tidak bertentangan dengan syariat. 4. Mencari Ilmu: Berusaha untuk memahami ajaran Islam dengan baik agar dapat melaksanakan ketaatan secara benar. 5. Berdoa dan Beribadah: Memperbanyak doa dan ibadah sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. A. Pengertian Taubat Taubat dalam Islam berasal dari kata Arab tawaba (ب َوَ yang), تَ berarti "kembali" atau "bertobat". Secara umum, taubat adalah tindakan menyesal dan memohon ampun kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Taubat bukan hanya sekadar berhenti dari perbuatan dosa, tetapi juga melibatkan perubahan hati, pikiran, dan perilaku untuk kembali kepada Allah dengan kesungguhan. Sebagai manusia biasa,bukan malaikat ataupun nabi yang memilki sifat ma’shum (terjaga dari perbuatan dosa), secara langsung atau tidak langsung, sengaja atau tidak sengaja, kerap kali akan bersinggungan dengan yang namanya kesalahan atau dosa. Baik kesalahannya sebagai makhluk individu yang berhubungan langsung dengan Allah,maupun sebagai makhluk sosial yang berhubungan dengan anak Adam yang lain. TAUBAT


24 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 Untungnya, sebagai seorang muslim diberi jalan selebar-lebarnya oleh Allah untuk memperbaiki kesalahan itu melaui sebuah pintu yang disebut dengan taubat. B. Syarat-Syarat Taubat Taubat yang diterima oleh Allah SWT harus memenuhi beberapa syarat, antara lain: 1. Menyesali Dosa: Seseorang harus merasakan penyesalan yang tulus atas dosa yang telah dilakukan. 2. Berhenti dari Dosa: Segera meninggalkan perbuatan dosa tersebut. 3. Bertekad untuk Tidak Mengulangi: Memiliki niat kuat untuk tidak mengulangi dosa yang sama di masa depan. 4. Memperbaiki Hubungan: Jika dosa tersebut melibatkan hak orang lain, maka harus memperbaiki hubungan tersebut, misalnya dengan mengembalikan barang atau menyelesaikan hutang. 5. Ikhlas karena Allah: Taubat harus dilakukan dengan niat yang tulus hanya karena Allah SWT. C. Dalil tentang Taubat Allah dzat yang maha menerima taubat, jika taubat betul-betul dilakukan dengan taubat nasuha yaitu taubat yang jujur , yang didasari dengan tekad yang kuat. Hal ini Allah Swt. telah memproklamirkan dalam surat An-Nashr (110) ayat 3. َ ت ح اس َ َك و ِ ٰ ب َ ر حدِ َم ح ِبِ ِح ٰ ب َ فَس ً واِب َا َن ت ه َكا ا ن ِ ا ُ ه ح ر ِ غحف ࣖ ”Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.” Ayat di atas menginstruksikan umat untuk bertasbih dan memuji Allah serta memohon ampunan-Nya setelah menerima pertolongan. Ini


25 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 menunjukkan pentingnya bersyukur atas nikmat yang diberikan dan mengingatkan akan perlunya bertaubat. Pada ayat lain juga dijelaskan tentang keutamaan bertaubat kepada Allah swt. ِ ٰ ي َ ح س ح ُكم ن َ ع َ ر ِ ُّ َكٰف َ حن ي ا ح ُّ ُكم ب َ َ هسى ر ع ا ً حح ُصو ا ةً ن َ ب ح َو ت هِ ّٰلل ََل ا ِ ٓا ا ح و ُ ب ح ُو ا ت ح ُو ن َ ام ه َ حن ي ذِ ا ا ال َ ُّ ه هٰٓيَي ح ُكم ِ ت ه ا َ ا م ح ُو ن َ ام ه َ حن ي ذِ ا ال َ ا و اِِب الن ُ ه ّٰلل ِزى ا ََل َُيح َ م ح و َ ي ِۙ ُ ر ا احَلَحْنه َ ه ِ ت ََتح ح ن ِ م ح ِري ه ٍت ََتح ٰ ن َ ح ج لَ ُكم ُحدخِ ي َ َ و ه ع ح ُم ه ُ ر ح عى ُو ن ه ح َس َحَي ي ب ح ِهم ح ي حدِ َي ا ح م اْنِِ َ ِِبَحْي َ و َن ح لُو ح ُقو َ ي آ َ ا ن ب َ ر ح م َحْتِ ا ا َ لَن َ ن َ ر ح ُو ن ح ر ِ ا حغف َ و ُۚ ا َ َك لَن ا ن ا ى ِ ه ل َ ع ِ ٰ ُكل ٍ ء ح َشي حر ي قَدِ “Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya. Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanannya. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. AtTahrim : 8) Wahai orang-orang yang beriman! bertobatlah kepada Allah dari dosa besar maupun dosa kecil dengan tobat yang semurni-Murninya yang melahirkan perubahan sikap dan perbuatan; mudah-Mudahan tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu yang sudah ditinggalkan secata total dan memasukkan kamu dengan izin-Nya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai tanda kenikmatan yang sempurna, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan nabi dan orangorang yang beriman bersama dengannya, ketika dibangkitkan menuju mahsyar; sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, yang bersumber dari iman dan amal saleh mereka, sambil mereka berkata, memohon kepada Allah, 'ya tuhan kami, sempurnakanlah


26 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 untuk kami cahaya kami dengan cahaya keridaan-Mu, dan ampunilah, semua kesalahan kami di dunia; sungguh, engkau mahakuasa atas segala sesuatu, termasuk mengampuni dan menyelamatkan kami dari api neraka. D. Perilaku Membiasakan Diri Bertaubat Perilaku membiasakan diri bertobat, antara lain dengan sikap berikut ini : 1. Tidak memandang remeh terhadap perbuatan dosa sekecil apa pun, 2. Berusaha menutup perbuatan dosanya dengan perbuatan baik sesuai kemampuan yang dimiliki, 3. Merasa tidak senang apabila melihat orang lain berbuat dosa, 4. Memperbanyak bergaul dengan orang-orang saleh, dan 5. Bersikap hati-hati dalam bergaul Kelima perbuatan diatas yang akan menuntun manusia serta menjadikannya pribadi yang lebih baik dan menghindari perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. A. Pengertian Istiqamah Istiqamah secara bahasa berasal dari kata qama yang berarti berdiri atau tegak. Dalam istilah Islam, istiqamah merujuk pada sikap teguh pendirian dan konsisten dalam menjalankan perintah Allah SWT serta menjauhi larangan-Nya. Istiqamah mencakup semua aspek kehidupan seorang Muslim, baik dalam ibadah, akhlak, maupun interaksi sosial. Istiqamah dalam beribadah dapat diartikan sebagai suatu sikap untuk senantiasa menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. sebagai suatu ibadah. ISTIQAMAH


27 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 B. Dalil Tentang istiqamah ه ا ن ِ ا ا ح َو َطحغ ََل ت َ َ َك و ع َ َ َب م ح َت َن م َ ح َت و ر ِ ُم آ ا َ َكم ح م ِ ق َ ت ح َن ِِبَ فَاس ا ح لُو َ حم َع ت ِصحي َ ب “Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” Setelah diuraikan tentang keberadaan umat terdahulu yang ragu dan berselisih terhadap ajaran nabinya, maka pada ayat ini Allah memperingatkan kepada nabi dan umatnya agar konsisten terhadap ajaran yang benar. Maka tetaplah engkau wahai nabi Muhammad, tetap teguh dan konsisten dalam melaksanakan perintah Allah dan menyeru ke jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan juga orang yang bertobat bersamamu dari perbuatan syirik dan dosa, dan janganlah kamu melampaui batas terhadap perintah dan larangan-Nya. Sungguh, dia maha melihat apa yang kamu kerjakan kemudian akan memberikan balasan atas perbuatan yang kamu kerjakan. Dan selain itu, janganlah kamu menjadi lemah semangat, sehingga cenderung tunduk atau loyal kepada orang yang zalim yang tingkah laku mereka melampaui batas, merampas hak orang lain, atau menghalalkan segala macam cara yang dilarang oleh agama. Jika kamu loyal atau mengikuti tingkah laku orang-orang zalim tersebut, maka perbuatan itu akan menyebabkan kamu ditimpa api neraka bersama dengan mereka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu tidak akan diberi pertolongan untuk menghindar dari azab itu. Tidak ada yang kuasa mendatangkan manfaat selain Allah, dan tidak ada yang bisa menolak kemudaratan selain Allah.


28 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 Selaras dengan ayat di atas perihal penjelasan istiqamah, dalam hadis Rasulullah saw terdapat penjelasan tentang hijrah dalam artian berubah ke arah yang lebi baik sesuai tuntunan ajaran islam. “Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niatniatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”. (HR. Bukhary-Muslim dari ‘Umar bin Khoththob radhiallahu ‘anhu) C. Cara Agar Selalu Istiqamah 1. Luruskan Niat dan Tujuan: Pastikan setiap amal dilakukan dengan niat yang ikhlas hanya karena Allah SWT. 2. Membaca dan Memahami Al-Qur'an: Al-Qur'an adalah petunjuk hidup; memahami isinya akan memperkuat komitmen untuk istiqamah. 3. Berkumpul dengan Orang Saleh: Bergaul dengan orang-orang yang memiliki komitmen kuat terhadap agama dapat memberikan dukungan moral. 4. Berdoa kepada Allah: Memohon kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk tetap istiqamah dalam setiap langkah.


29 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 A. Pengertian Ikhlas Ikhlas adalah sikap tulus hati dalam melakukan segala sesuatu, terutama dalam beribadah kepada Allah SWT, tanpa mengharapkan imbalan atau pujian dari makhluk. Dalam bahasa Arab, ikhlas berasal dari kata khalasa yang berarti bersih atau murni. Dalam konteks agama, ikhlas berarti membersihkan niat agar semua amal perbuatan hanya ditujukan kepada Allah semata.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ikhlas diartikan sebagai "hati yang bersih" atau "tulus hati". Dalam Islam, ikhlas merupakan syarat utama dalam setiap amal ibadah, di mana seorang Muslim harus menjaga niat agar tetap murni dan tidak terpengaruh oleh motivasi lain seperti mencari pujian atau keuntungan duniawi. B. Dalil tentang Ikhlas ز ٱلا ۟ ُوا ُحؤت ي َ وةَ و صلَه ٱل ا ۟ وا ُ يم ِ ق ُ ي َ و َ َ َفآء ن ُ َ ح ين ٰدِ ٱل ُ ِ ِص َي لَه ُُمحل ٱ اّللَ ۟ ُ ُدوا ب ح ع َ ي ِ ِاَل ل إ ۟ ٓا و ُ ر ِ آ أُم َ م َ وةَُۚ و َكه ُ ين َك دِ ِ ل ه ذَ َ و ِ ة َ ِم ٰ َقي ٱلح “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5) Mereka terpecah belah seperti itu padahal mereka dalam kitab-kitab mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaatiNya semata-mata karena menjalankan agama, dan juga diperintah agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus dan benar agama islam. Keikhlasan dalam beribadah IKHLAS


30 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 dengan memurnikan niat demi mencari rida Allah dan menjauhkan diri dari kemusyrikan adalah salah satu syarat diterimanya ibadah. Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang yang musyrik akan masuk ke neraka jahanam dengan bermacam siksa pedih di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Tidak ada kesempatan bagi mereka untuk keluar, bahkan untuk sekadar sejenak lepas dari siksa. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk. Allah telah mem-beri mereka peringatan, tetapi mereka enggan mengindahkannya. Dia tidak akan menyiksa seseorang kecuali setelah memberinya peringatan. C. Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, terdapat tiga tingkatan ikhlas dalam beribadah: 1. Ikhlas karena Allah SWT: Ini adalah tingkatan tertinggi di mana seseorang beribadah semata-mata untuk mencari ridha Allah tanpa mengharapkan pahala atau imbalan lainnya. 2. Ikhlas karena Akhirat: Pada tingkatan ini, seseorang beribadah dengan harapan mendapatkan pahala di akhirat dan menghindari siksa neraka. 3. Ikhlas karena Dunia: Ini adalah tingkatan terendah, di mana seseorang melakukan ibadah dengan motivasi untuk mendapatkan keuntungan duniawi, seperti kekayaan atau reputasi. D. Manfaat Ikhlas Menerapkan sikap ikhlas dalam kehidupan sehari-hari membawa banyak manfaat, antara lain:


31 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 1. Ketenangan Jiwa: Orang yang ikhlas akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan karena tidak terbebani oleh harapan imbalan dari manusia. 2. Mendapatkan Ridha Allah: Amal yang dilakukan dengan ikhlas akan diterima oleh Allah SWT dan mendatangkan pahala. 3. Meningkatkan Kualitas Ibadah: Dengan niat yang tulus, kualitas ibadah akan meningkat karena dilakukan dengan penuh kesadaran dan penghayatan. 4. Menjadi Teladan: Sikap ikhlas dapat menjadikan seseorang teladan bagi orang lain dalam berbuat baik dan menjalani kehidupan seharihari. DISKUSI KELOMPOK a. Berkelompoklah 5-6 orang dengan tertib! b. Diskusikan hal-hal berikut dengan saling menghargai pendapat teman! MARI BERLATIH 1. Menurut kalian, mengapa masih banyak terjadi kasus korupsi yang dilakukan oleh orang-orang muslim? Selanjutnya, hubungkan dengan sikap terpuji taubat, taat, istiqamah dan ikhlas. 2. Menurut kalian, apa sajakah ciri-ciri orang yang taubat, taat, istiqamah dan ikhlas? Dan jelaskan argumen kalian!


32 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 MARI BERLATIH Silahkan jawab kuis berikut dengan baik dan benar! https://forms.gle/UJVpM864HGmC1wmo7 RANGKUMAN MATERI 1. Taubat berarti kembali ke jalan yang benar dengan didasari keinginan yang kuat dalam hati untuk tidak kembali melakukan dosa-dosa yang diperbuat sebelumnya. 2. Taat dalam Islam merupakan sikap patuh kepada Allah swt terhadap segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Allah swt dan rasul-Nya melalui Al-Qur’an dan Hadis-Hadis Nabi. 3. Istiqamah merupakan suatu perbuatan dan sifat yang senantiasa mengikuti jalan yang lurus yaitu jalan yang diridhai Allah swt. 4. Ikhlas adalah niat mengharapkan ridha Allah swt semata dalam beramal sebagai wujud menjalankan ketaatan kepada Allah swt dalam kehidupan dalam semua aspek. “Jadikan taubat bukan hanya untuk dosa-dosa yang telah kamu lakukan, tapi juga untuk kewajiban yang belum kamu tunaikan .” (Ibnu taimiyyah)


33 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 PEMBAHASAN III AKHLAK TERCELA ➢ Riya ➢ Nifaq ➢ Hasad ➢ Nanimah


34 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 KISAH QABIL DAN HABIL Qabil dan Habil adalah dua putra Nabi Adam dan Siti Hawa. Keduanya dilahirkan bersamaan dengan pasangan kembar perempuan, di mana Qabil memiliki kembaran perempuan yang cantik, sementara Habil memiliki kembaran yang kurang menarik. Nabi Adam kemudian memutuskan untuk menikahkan mereka secara silang, yang menyebabkan ketegangan antara kedua saudara ini. Ketika dewasa, Allah memerintahkan kedua putra Adam untuk mempersembahkan kurban. Habil, seorang penggembala, memilih kambing terbaik sebagai kurbannya. Sementara itu, Qabil, seorang petani, mempersembahkan hasil pertanian yang buruk. Allah menerima kurban Habil dengan menurunkan api untuk membakar kurbannya, sedangkan kurban Qabil tidak diterima. Kekecewaan dan kemarahan Qabil meningkat ketika ia melihat kurbannya ditolak. Ia mengancam Habil dengan mengatakan bahwa ia akan membunuhnya, namun Habil menjawab dengan bijak bahwa Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa. Dalam keadaan marah dan terdesak oleh hawa nafsunya, Qabil akhirnya membunuh Habil. Setelah perbuatan kejam itu, Qabil merasa bingung dan tidak tahu bagaimana harus menguburkan jenazah saudaranya. Ia bahkan membawa jasad Habil berkeliling selama waktu yang lama. Kisah Qabil dan Habil memberikan banyak pelajaran moral tentang bahaya hasad (dengki) dan konsekuensi dari tindakan kejam. Ini juga menunjukkan pentingnya ketakwaan dalam beribadah kepada Allah serta bagaimana sifat sombong dapat menjerumuskan seseorang ke dalam tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Sumber:https://www.researchgate.net/publication/335626606_Kisah_Q abil_Dan_Habil_Dalam_Al-Qur'an_Telaah_Hermeneutis


35 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 https://youtu.be/r0IF0UxjuqI?si=YfMenFABR0cEnedX Setelah menonton video di atas, silakan diskusikan dengan teman kelompokmu tentang pelajaran apa yang bisa diambil dari video tersebut!


36 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 A. Pengertian Riya Riya’ dalam bahasa Arab artinya memperlihatkan atau memamerkan, secara istilah riya’yaitu memperlihatkan sesuatu kepada orang lain, baik barang maupun perbuatan baik yang dilakukan, dengan maksud agar orang lain dapat melihatnya dan akhirnya memujinya. Hal yang sepadan dengan riya’ adalah sum’ah yaitu berbuat kebaikan agar kebaikan itu didengar orang lain dan dipujinya, walaupun kebaikan itu berupa amal ibadah kepada Allah Swt. Orang yang sum’ah dengan perbuatan baiknya, berarti ingin mendengar pujian orang lain terhadap kebaikan yang ia lakukan. Dengan adanya pujian tersebut, akhirnya masyhurlah nama baiknya di lingkungan masyarakat. RIYA MARI KEMBANGKAN WAWASAN! Capaian Pembelajaran : Peserta didik mampu memahami dan menghindari akhlak tercela akhlak tercela ria’, nifaq, hasad, sebagai manifestasi akhlak yang merupakan buah dari ilmu sehingga terbentuk kesalehan individu dan dan sosial, untuk mewujudkan pribadi yang unggul dan mampu bersaing di era global.


37 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 B. Dalil Tentang Riya Dalam Al-Qur'an, terdapat beberapa ayat yang menyinggung tentang riya dan perbuatan yang tidak ikhlas. Berikut adalah beberapa dalil yang berkaitan dengan riya: ٱحْلَذَ َ ِ و ٰ َن ٱلحم ِ ُكم ب ِ ت ه َصَدقَ ۟ لُوا حطِ ب ُ ََل ت ۟ ُوا ن َ ام َ ء َ ين ذِ ا ا ٱل َ ُّ ه هَٓي َ ُ َي ۥ الَه َ ُق م ِ نف ُ ذِى ي ا هى َكٱل ب ا َ ُر ت ِ ه ح لَي َ ع انٍ َ َصحفو ِل َ ث َ َكم ۥ ُ لُه َ ث َ ِرۖ فَم اخِ َ ٱ حلء ِ م ح َو ٱلحي َ و ٱ اّللِ ِ ب ُ ن ِ ُحؤم ََل ي َ اا ِس و ٱلن َ ََئٓء ِر َ ََل ي ٱ اّللُ َ و ۟ ُوا ب َ ا َكس ا ِ ّٰم ٍ ء ح ى َشى ه لَ َ وَن ع ُ ر حقدِ َ اَل ي ًداۖ َصحل ۥ ُ َكه َ ََت فَ ِل اب َ ۥ و ُ ه َ فَأَ ى َصاب حدِ ه َ ِرين ِ ف ه ٱلح َك َ م ح َقو ٱلح “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. AL-Baqarah : 264) Ayat ini menegaskan bahwa amal yang dilakukan dengan niat riya tidak akan mendapatkan pahala dan dianggap sia-sia. وَن ُ آء َ ر ُ ي ح ُم ه َ ين ذِ ا ٱل “Orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un : 6) Yakni mereka memamerkan shalat mereka kepada orang lain jika mereka shalat, atau memamerka segala amal kebaikan yang mereka kerjakan agar mendapat pujian. C. Macam-Macam Riya 1. Riya’ Jali, yaitu ibadah atau kebaikan yang sengaja dilakukan di depan orang lain dengan tujuan tidak untuk mengagungkan Allah Swt,


38 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 melainkan demi mencari pujian orang lain, untuk kebanggaan , atau tujuan selain Allah Swt. 2. Riya’ Khafi, yaitu melakukan ibadah atau kebaikan secara tidak terang-terangan , tapi dengan maksud agar ia dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat. Riya’ Khafi merupakan penyakit hati yang sangat halus dan samar, yang ujungnya sama dengan riya’ jali, yaitu mengharap pujian dan sanjungan dari orang lain. D. Contoh Perbuatan Riya Riya adalah perilaku yang dilarang dalam Islam, di mana seseorang melakukan amal ibadah dengan niat untuk dipuji oleh orang lain, bukan semata-mata untuk Allah SWT. Berikut adalah lima contoh perbuatan riya yang perlu dihindari: 1. Membayar Zakat karena Takut Dicemooh Seseorang membayar zakat hanya untuk menghindari celaan dari orang lain, tanpa keinginan untuk mendapatkan pahala dari Allah. Ketika sendirian, ia enggan untuk melakukannya. 2. Melakukan Ibadah untuk Mendapatkan Pujian Melaksanakan ibadah seperti salat atau membaca Al-Qur'an dengan tujuan agar orang lain melihat dan memuji, bukan karena keikhlasan kepada Allah. 3. Bersedekah dengan Niat Dipuji Memberikan sedekah atau sumbangan dengan harapan mendapatkan pujian dari orang lain, misalnya menyumbangkan uang untuk proyek di tempat kerja agar dilihat sebagai sosok dermawan. 4. Riya Badan dan Penampilan Memperlihatkan fisik atau penampilan yang tampak saleh, seperti berpakaian khusus atau menunjukkan wajah bercahaya setelah beribadah, hanya untuk mendapatkan perhatian dan pujian dari orang lain.


39 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 5. Menceritakan Amal Kebaikan Mengungkapkan amal baik yang telah dilakukan kepada orang lain dengan tujuan agar mereka memuji atau menghormati pelaku amal tersebut, seperti menceritakan tentang bantuan yang diberikan kepada orang miskin. Perilaku-perilaku ini dapat merusak niat dan keikhlasan dalam beribadah, sehingga penting bagi setiap Muslim untuk menjaga niatnya agar tetap tulus hanya untuk Allah SWT. E. Dampak Negatif Perbuatan Riya Perbuatan riya memiliki berbagai dampak negatif yang signifikan. Pertama, riya dapat menghapus amal baik yang telah dilakukan, sehingga seseorang tidak mendapatkan pahala dari ibadahnya. Selain itu, riya juga dapat menumbuhkan sifat sombong dan munafik dalam diri seseorang , yang dapat merusak hubungan sosial dan spiritual, Individu yang berbuat riya cenderung tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan, karena fokusnya lebih kepada pujian manusia, Riya dapat menumbuhkan sifat munafik, di mana seseorang berpura-pura baik di hadapan orang lain tetapi tidak tulus dalam hatinya. A. Pengertian Nifaq Secara bahasa nifaq berasal dari kata nafiqa yang artinya salah satu lubang tempat keluarnya yarbu( hewan sejenis tikus )dari sarangnya.Nifaq juga berasal dari kata Nafaq, yaitu lubang tempat bersembunyi.Nifaq juga berarti bermuka dua, pura-pura pada agamanya, Lubang tikus di padang pasir yang susah di tebak tembusannya. Menurut istilah , nifaq yaitu sikap yang tidak menentu, tidak sesuai antara ucapan NIFAQ


40 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 dengan perbuatannya. Perilaku seperti ini pada hakikatnya adalah ketidaksesuaian antara keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Atau dengan kata lain, tindakan yang selalu dilakukan adalah kebohongan, baik terhadap hati nuraninya, terhadap Allah Swt maupun sesama manusia. Orang yang melakukan perbuatan nifaq di sebut munafik. Nifaq adalah perbuatan menyembunyikan kekafiran dalam hatinya dan menampakkan keimanannya dengan ucapan dan tindakan. Perilaku seperti ini pada hakikatnya adalah ketidaksesuaian antara keyakinan, perkataan, dan perbuatan. B. Macam-Macam Nifaq Nifaq terdiri dari dua macam yaitu : Nifaq i’tiqadi dan Nifaq ‘amali. adalah suatu bentuk perbuatan yang menyatakan dirinya beriman kepada AllahSwt, sedangkan dalam hatinya tidak ada keimanan sama sekali. Dia shalat, bersedekah. Dan beramal shaleh lainnya, namun tindakannya itu tanpa didasari keimanan dalam hatinya. Nifaq ‘amali adalah kemunafikan berupa pengingkaran atas kebenaran dalam bentuk perbuatan. C. Bentuk dan Contoh Perbuatan Nifaq 1. Hanya berfikir jangka pendek yaitu kekayaan duniawi semata 2. Tidak mampu ber-amar ma’ruf nahyi munkar. 3. Sering kali dalam pembicaraannya menyindir dan menyakiti Nabi atau Islam. 4. Ragu terhadap kebenaran Islam. 5. Enggan melakukan shalat, kalaupun ia melakukan shalat pasti karena paksaan orang lain. 6. Tidak punya kepastian dalam berpikir dan bertindak. 7. Terbiasa dengan kebohongan, ingkar janji, dan khianat. 8. Suka membual mengenai keindahan duniawi dan melupakan kehidupan akhirat.


41 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 D. Dalil Tentang Nifaq ح ُكم َ ع َ ان م ِ إ ۟ ٓا قَالُو ح ِهم ِ ين هطِ َ ََله َشي ِ إ ۟ ا ح َخلَو ِذَا إ َ اا و ن َ ام َ ء ۟ ٓا قَالُو ۟ ُوا ن َ ام َ ء َ ين ذِ ا ٱل ۟ ِذَا لَُقوا إ َ و ُ َّنَا ََنحن ِا إ وَن ُ ِزء ح َه ت ح ُس م “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". Ayat di atas menjelaskan bahwa Orang-orang munafik tersebut apabila bertemu dengan kaum Mukminin mereka berkata: “kami membenarkan agama Islam seperti kalian”. akan tetapi jika mereka berpaling dan Pergi mendatangi para pemuka mereka yang kafir lagi membangkang terhadap Allah, mereka menegaskan di hadapan para tokoh itu bahwa mereka Tetaplah di atas kekafiran yang dulu dan tidak meninggalkannya, sesungguhnya mereka sekedar mengolok-olok kaum mukminin dan mengejek mereka. ن ِ ا وَن إ ُ آء َ ر ُ ي اََله َ ُكس ۟ وا ُ قَام ِ وة صلَه ََل ٱل ا ِ إ ۟ ٓا و ُ ِذَا قَام إ َ و ح ُم ُه ع دِ ه َ َخ ُو ه َ ُوَن ٱ اّللَ و ع دِ ه َي َُيَ ِ ق ِ ف ه َ ن ُ ٱلحم يًل ِ ِاَل قَل إ وَن ٱ اّللَ ُ حذُكر َ ََل ي َ َس و اا ٱلن “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” Sesungguhnya dengan sikap dan perbuatan yang mereka lakukan seperti yang digambarkan pada ayat-ayat di atas, orang-orang munafik itu berusaha hendak menipu Allah, tetapi usaha-usaha mereka menjadi sia-sia, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya bahwa Allah-lah yang menipu mereka dengan membiarkan mereka tetap dalam kesesatan dan penipuan mereka. Apabila mereka melaksanakan salat, baik salat-salat wajib maupun


42 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 salat sunah, mereka lakukan dengan malas, yaitu mereka tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh, tidak bersemangat, merasa sangat berat, bahkan tidak senang, karena mereka tidak merasakan nikmatnya. Kalaupun mereka melakukannya, mereka hanya bermaksud ria, ingin dilihat dan dipuji di hadapan manusia, tidak karena mengharap rida Allah dan takut akan siksaan-Nya. Dan mereka tidak mengingat Allah, yaitu salat dan zikir, kecuali di hadapan orang dan sedikit sekali, baik dari segi waktunya maupun jumlah yang dilakukannya mereka adalah orang-orang yang senantiasa dalam keadaan ragu dan bingung antara yang demikian, yaitu iman atau kafir. Mereka tidak termasuk kepada golongan ini, yaitu golongan orang-orang beriman, dan tidak pula kepada golongan itu, yaitu orang-orang kafir. Keraguan mereka disebabkan karena mereka tidak mengikuti petunjuk Allah dan memilih kesesatan. Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka kamu, wahai Muhammad, sekali-kali tidak akan mendapatkan jalan untuk memberi petunjuk baginya. Hadis nabi Muhammad saw menjelaskan perihal perilaku nifaq atau sifat orang munafik dengan disebutkannya tiga ciri-ciri orang munafik. أَِّب ح َن ح ع َن م َع ب ح : "أَر َ م ا ل َ َس و ِ ه ح لَي َ ى ا اّللُع ا َصل وُل ا اّللِ ُ َس قَا َل: قَا َل ر ُ حه ن َ ا اّللُ ع َ ِضي َ ةَ ر َ حر ي َ ُر ه َخ حصلَ ِ يه ِ َ حت ف ن َكان ُ ا حه ن ِ َخ حصلَة م ِ يه ِ َ حت ف َكان ح َن م َ ًصا، و ِ َخال ًقا ِ اف َ ن ُ َن م َكا ِ يه ِ َ حت ف َكان َ ن ِ ة م ِذَا ا: إ َ َه ََدع َّت ي ا َ ِق ح َفا ِ ٰ َن الن َ َخا ن ِذَا اؤُْتِ إ َ َف، و حخلَ َ َد أَ ع َ ِذَا و إ َ َب، و َف َك َذ لَ َ حخت ." أَ “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu apabila berkata selalu berdusta, apabila berjanji selalu tidak ditepati, dan apabila dipercaya selalu mengkhianati .” (HR. Bukhari Muslim)


43 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 A. Pengertian Hasad Hasad adalah sifat tercela yang merujuk pada perasaan tidak senang atau iri terhadap nikmat yang diterima oleh orang lain, serta menginginkan agar nikmat tersebut hilang dari orang yang memilikinya. Dalam bahasa Arab, hasad berasal dari kata "ḥasad" yang berarti menginginkan hilangnya nikmat orang lain. Dalam konteks Islam, hasad dianggap sebagai penyakit hati yang harus dihindari karena dapat merusak hubungan antarsesama dan menghapuskan amal kebaikan. B. Dalil Tentang Hasad ۖ ۟ ُوا ب َ َس ا ٱ حكت ا ِ ب ّٰم ِصي َ ِل ن ا َ ِج ٰ لر ِ ٍضُۚ لٰ ح ع َ ى ب ه لَ َ ع ح ح َض ُكم ع َ ۦ ب ِ ه ِ ب ٱ اّللُ َ ضل ا فَ ا َ م ۟ ا ح ا و ن َ َم ت َ ََل ت َ و ً يم ِ ل َ ع ٍ ء ح َشى ِ ٰ ُكل ِ َن ب َكا ن ٱ اّللَ ِ ا ٓۦ إ ِ ه ِ ن فَ حضل ِ م ٱ اّللَ ۟ َلُوا ح َس َ حَْبُۚ و َس ا ٱ حكت ا ِ ب ّٰم ِصي َ ن ِ آء َ ِس ٰ لن ِ ل َ و ا “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS. An-Nisa : 32) Ayat ini berpesan agar menghindari kebiasaan berangan-angan yang menimbulkan sifat iri dan dengki kepada sesama. Dan janganlah kamu berangan-angan yang membuat kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan oleh Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain, baik karunia itu berupa kecerdasan, kemuliaan, nama baik, pangkat, dan jabatan, maupun dalam bentuk harta benda serta kekayaan yang berlimpah. Karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan yang sesuai dengan ketentuan Allah dan sesuai pula dengan apa yang mereka usahakan, HASAD


44 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 dan begitu pula bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan sesuai petunjuk Allah dan apa yang mereka usahakan. Oleh sebab itu, janganlah berangan-angan yang menyebabkan iri hati. Mohonlah kepada Allah dengan tulus agar kamu dianugerahi-Nya sebagian dari karunia-Nya yang berlimpah ruah itu. Sungguh, Allah maha mengetahui segala sesuatu termasuk angan-angan dan iri serta kedengkian yang tersembunyi dalam hati kamu usai melarang manusia berangan-angan yang akan mendorongnya iri dan dengki atas kelebihan orang lain, termasuk dalam hal warisan, ayat ini lalu mengingatkan bahwa harta warisan itu sudah ditentukan pembagiannya oleh Allah. Dan ketahuilah bahwa untuk setiap harta peninggalan, dari apa yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan juga yang ditinggalkan oleh karib kerabat, kami jadikan pewarispewarisnya, dan juga bagi orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka sebagai suami istri, maka berikanlah kepada mereka bagiannya sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Sungguh, Allah maha menyaksikan segala sesuatu. “ Jauhilah olehmu sifat dengki, sesungguhnya dengki itu akan memakan kebajikan sebagaimana api memakan kayu bakar “ (HR. Abu Daud) Hadis di atas berupa peringatan kepada kita agar menghindari sifat hasad/dengki karena sifat tersebut merupakan sifat yang diwarisi oleh Iblis. Sifat hasad akan menghilangkan kebaikan-kebaikan yang dilakukan laksana api yang membakar dan menghabiskan kayu bakar.


45 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 C. Ciri-Ciri Perilaku Hasad Hasad ini memiliki beragam ciri-ciri. Maka penting bagi kita semua untuk mengetahuinya, agar penyakit satu ini tidak berkelanjutan dan tidak menjadi akut, di antaranya: 1. Senang dengan kesalahan saudaranya. Salah satu ciri-ciri hasad adalah seseorang senang dengan kesalahan saudaranya. Dia akan menganggap kealpaan kawannya sebagai celaan besar. Karena, menurut dia saudaranya merupakan saingan dalam hal popularitas. Sehingga ketika dia melakukan kesalahan, itu adalah sesuatu yang dapat mengangkat dirinya lebih tinggi dari saudaranya tadi. 2. Senang jika saudaranya tidak hadir dalam suatu permasalahan ketika mereka berselisih. Dia menganggap saudaranya sebagai rival baginya, maka ketika temannya absen dalam suatu permasalahan diskusi, tak ada yang membantah ucapannya. Dia merasa bahwa hal ini dapat mengangkat posisinya dari temannya. 3. Senang dan lega jiwanya, jika saudaranya dicela atau dibicarakan aibnya. Dia bahkan tidak melarang orang-orang untuk menghibahinya dan juga tidak membelanya. Maka tak dipungkiri lagi, ini adalah suatu keharaman. 4. Melecehkan saudaranya, jika ada yang bertanya tentangnya. Ketika ada yang bertanya tentang keadaan saudaranya, seakan-akan ini adalah kesempatan emas baginya untuk melejitkan pamor dari


46 |Akidah Akhlak Kelas VII Tahun Ajaran 2024-2025 temannya tersebut. Ia akhirnya menjatuhkan dan merendahkan temannya. 5. Merasa sempit ada yang bertanya kepada saudaranya tentang suatu perkara. Ketika mereka berada di satu majelis, lalu temannya ditanya tentang sesuatu, niscaya bara hasad yang menyala pada dirinya akan menebarkan rasa sempit pada jiwanya, kemudian dia menampakkan ketidakterimaan atas hal itu dan menganggapnya sebagai musibah terbesar bagi dirinya. D. Upaya Menghindari Perilaku Hasad Sifat hasad dapat dihindari dengan cara membiasakan sikap atau perilaku berikut ini: 1. Menanamkan kesadaran bahwa sifat dengki akan membuat seseorang menderita batin; 2. Menumbuhkan kesadaran bahwa akibat dari dengki itu adalah permusuhan dan permusuhan akan membawa petaka; 3. Kita saling mengingatkan dan saling menasehati; 4. Bersikap realistis melihat kenyataan ; 5. Mempunyai pendirian dan tidak mudah terprovokasi; 6. Senantiasa ingat pada Allah dan meminta perlindungan kepada-Nya agar terhindar dari bisikan syetan.


Click to View FlipBook Version