www.bacaan-indo.blogspot.com Pada 1927, aku dikeluarkan dari Nederlands Indische Artsen
School. Tetapi Mas Marco Kartodikromo, pamanku, bilang,
“Jadilah dokter jiwa untuk masyarakat yang kehilangan
jiwa. Jadilah dokter hati untuk masyarakat yang kehilangan
hati.”
Lalu aku pun belajar pada Raja Jawa Tanpa Mahkota, aku
belajar pada Tjokroaminoto. Aku belajar pada keheningan
cinta. Aku belajar pada kesucian angin. (Aku tahu Sukarno
pun belajar hakikat keindahan setititik embun di padang
gersang pada laki-laki harum kopi, pemimpin Sarekat Islam
Hindia Timur ini).
Baiklah kupertegas ceritaku: bagiku Tjokroaminoto terus
saja menjadi Durna. Bagai Bambang Ekalaya, aku belajar
padanya apa pun tanpa dia tahu aku telah mengeruk seluruh
ilmunya.
Dan Sukarno? Sukarno tetap saja menjadi Arjuna.
Tjokroaminoto begitu cinta padanya, sehingga banyak
pengetahuan rahasia yang dia susupkan kepada murid yang
dianggap tiada cela.
33
www.bacaan-indo.blogspot.com Aku tahu pada akhirnya Sukarno jadi Putra Sang Fajar.
Tapi kau juga tahu akulah yang sesungguhnya jadi
Fadjar Asia. Mengerjakan koran ini aku selalu berteriak,
“Kau boleh terus menjadi hujan di sepetak sawah, tetapi
aku akan menjadi kemarau sepanjang waktu di sehampar
pulau.”
Pada 14 Agustus 1945, pada masa pendudukan Jepang,
seharusnyalah aku yang menjadi raja saat kuproklamasikan
Negara Islam Indonesia. Tapi Sukarno, Arjuna yang
selalu beruntung, telah mengumandangkan, “Kami bangsa
Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia...”.
Di kepalaku tak ada lagi sehampar pulau saat itu...
“Apakah ada yang kaulupakan saat Perjanjian Renville
ditandatangani pada 1949, Kartosoewirjo?”
Tak ada yang kulupakan. Tak ada senja bagi negara yang
kuinginkan. Tak ada kematian bangsa saat Sukarno-Hatta
keok dan ditahan oleh Belanda sialan. Bahkan embun
34
www.bacaan-indo.blogspot.com pun harus berjuang untuk menegakkan Islam. Bahkan
bintang pun harus berjihad untukku. Bukan untukmu.
“Tapi pada akhirnya kau takluk, bukan?”
Ragaku yang takluk. Jiwaku tetap merdeka. Aku tak
terpisah dari Kakbah. Aku tak terpisah dari Madinah. Aku
tak terpisah dari Allah.
“Sekarang aku ingin bertanya kepadamu: mengapa kau
ingin membunuh Sukarno?”
Aku tak pernah ingin membunuh Sang Arjuna, kawan
lamaku. Aku hanya ingin menyatakan padanya tanpa Islam
negeri ini akan lemah.
“Saat Sukarno menandatangani hukuman mati untukmu,
apakah kau menganggap dia telah membunuhmu?”
Kalau aku jadi Arjuna, akan kubunuh Bambang Ekalaya.
Tetapi sekarang aku tak bisa membunuh siapa pun.
Di mobil tahanan aku ingin menghirup angin laut
35
www.bacaan-indo.blogspot.com aku ingin memandang mercusuar aku ingin mencecap
kopi panas aku ingin meraba wajah istriku aku ingin
mengucapkan, “Allah, Allah yang indah, apakah Kau tak
hendak membebaskan aku?”
36
www.bacaan-indo.blogspot.com NAKHODA
Aku tak tahu siapa nakhoda kapal yang akan membawaku
ke Pulau Kematian. Nuh juga tak tahu makhluk apa saja
yang bersamanya di bahtera. Sepasang kelinci sepasang
rusa, sepasang anyelir, sepasang ganggang, sepasang....
Tak semua harus dikenal dan diberi nama.
Mungkin Nuh memang tak harus mengenal warna
sayap gelatik, lenguh lembu pucat, atau bunga-bunga
bebercak ungu karena ia tak akan terbunuh di buritan
malam itu. Di puncak gunung —setelah air bah reda,
mayat-mayat menyangkut di pepohonan—ia akan bisa
leluasa memanggil aneka satwa dan bunga-bunga dengan
sebutan apa saja.
Tetapi aku? Waktu hampir habis. Aku harus bergegas
mengenal warna senapan dan topi tentara. Juga mungkin
semburat senja dan tipis gerimis di jendela.
“Sebaiknya kau mengenal bias lampu kapal di geladak
sebelum langit gelap. Sebelum kau tak bisa menatap
apa pun yang dulu kausebut sebagai Dunia Senyap.”
37
www.bacaan-indo.blogspot.com Tidak. Tidak akan kukenal apa pun selain Ajal. Selain
apa pun yang datang menyerupai kabut. Menyerupai raut
yang luput dimaknai sebagai bulan. Sebagai kebahagiaan.
Tetapi sungguh aku sedih. Aku tak tahu siapa nakhoda
yang akan membawaku ke Pulau Kematian. Pulau di tepi
surga yang dijanjikan.
38
www.bacaan-indo.blogspot.com INTEROGASI
Pulau. Kapal. Laut. Kaki. Mata. Telinga. Ganggang
kuning. Kuburan di atas bukit. Dermaga biru di atas
gunung. Neraka pertama. Ding ding ding. Dung dung dung
dung. Apa yang menghubungkan semua itu denganmu,
Kartosoewirjo?
Tak ada. Mula-mula sebagaimana Ibrahim, aku hanya
memandang langit dan bintang-bintang dan kukatakan kepada
diri sendiri, “Pada usiaku yang ke-2098 anak-anakku akan
menjadi raja di kekhalifahan penuh angin.”
Lalu sumur. Lalu benteng. Lalu unta. Lembah tanpa
pemujaan. Tangan yang terus mengacung ke langit. Surga
sebelum senja. Senja pertama. Kau mengenal semua itu,
Kartosoewirjo?
Tak kenal. Tapi saat itu aku mulai belajar menjadi air
zamzam. Tak berhenti mengibarkan bendera Nabi. Tak berhenti
menegakkan Rumah Allah di atas lumpur. Aku mengalir. Aku
menggelagak. Aku sumur tak kering. Aku laut tak surut. Aku
danau tak mati.
39
www.bacaan-indo.blogspot.com Surau. Kambing. Ismail. Jagal penakut. Pisau besar. Iman.
Imam. Siapa yang menyembelih? Siapa menyediakan
sepuluh ekor unta? Siapa yang akan melesatkan anak panah
kepada musuh? Gajah-gajah siapakah yang berlutut? Tak
adakah yang kaupahami dari ayat-ayat yang berjumpalitan
di aneka kitab itu, Kartosoewirjo?
Semua kupahami. Aku paham mengapa ababil melemparkan
batu-batu dan menembus baju perang tentara Abrahah
yang ingin menghancurkan Kakbah pada Tahun Gajah,
aku paham mengapa ingin kuludahi wajah serdadu yang
menggantung para petani di atas bukit berbatu. Aku paham
ludahku ludah api. Mereka akan terbakar. Tubuh membusuk
sebelum mati.
Baskom emas. Dada yang dibelah. Jantung yang dicuci.
Salju. Setan yang menyentuh setiap anak Adam. Maryam.
Ruh Allah. Apa yang kaupelajari tentang mereka,
Kartosoewirjo?
Ibuku memandikanku di baskom kemuliaan yang penuh salju.
40
www.bacaan-indo.blogspot.com Ibuku membelah dadaku hingga terlihat jantung putih. Surga
penuh cahaya. Ibuku pun berkata, “Kelak kau akan jadi angin.
Angin penuh cahaya. Kelak kau akan jadi bunga. Bunga penuh
cahaya.”
Sekarang, apa yang kau ketahui tentang panah?
Panah adalah mata para nabi. Mata adalah panah para nabi. Aku
juga punya mata: Keris Ki Dongkol dan Pedang Ki Rompang.
Mereka bilang aku Ratu Adil. Aku yang akan menguasai seribu
bedil. Bukan Sukarno. Bukan orang-orang yang batil.
Apakah kau punya perjanjian kehormatan?
Aku punya perjanjian dengan langit. Langit memberiku mandat
mengubah kuburan menjadi taman, mengubah taman menjadi
titian ke surga, mengubah pulau menjadi negara. Cepu tak jadi
cupu. Blora tak jadi dara. Sukarno tak jadi Tjokroaminoto. Aku
tak jadi Kartosoewirjo. Aku Heru Tjokro. Aku sungai jernih.
Aku laut tak berkabut.
41
www.bacaan-indo.blogspot.com Apakah Kakbah dipugar untuk mempersiapkan
kepemimpinanmu?
Aku hanya tahu serbasedikit tentang Kakbah. Aku tahu ada
seeokor ular besar yang setiap hari keluar dari lubang bawah
tanah. Aku tahu ada elang raksasa yang menerkam ular itu
dan membunuhnya di gunung tertinggi. Aku tahu gempa
mengguncang saat fondasi Ibrahim hendak mereka cungkil. Allah
menciptakan Kakbah untukku, bukan untuk kepemimpinanku.
Kakbah tak melahirkan Kartosoewirjo. Kartosoewirjo tak
melahirkan Kakbah. Tapi, ketahuilah, aku selalu menegakkan
panji-panji perang para nabi.
Pasukanmu terdiri atas malaikat juga?
Aku bukan tentara. Aku tak punya pasukan. Di hutan aku
ditemani tujuh malaikat suci. Di jalan-jalan aku ditemani tujuh
malaikat suci. Dalam tidur dan terjaga aku ditemani tujuh
malaikat suci yang dulu pernah menjaga Kakbah untuk Allah.
Mengapa kau melawan Sukarno?
42
www.bacaan-indo.blogspot.com Aku tak melawan Sukarno. Aku melawan iblis. Perintah itu
datang padaku pada malam ketujuh aku menyusup ke hutan.
Kata sosok yang kuanggap imam besar itu, “Bangunlah dari
tidur-tidur yang tak perlu. Bunuh seluruh iblis dan segera dirikan
negara dari laut yang keruh dari pulau penuh desau.”
Tapi Sukarno-lah yang ditemani ribuan malaikat. Kau
hanya tujuh. Kau hanya...
Menurutmu aku hanya pecundang? Menurutmu aku sudah
kalah? Menurutmu kapal ini akan membawaku ke neraka?
Menurutmu aku akan ditembak di atas bukit?
Tentu saja kau hanya pecundang. Kau cuma pulau
yang kesepian...
Pulau. Kapal. Laut. Kaki. Mata. Telinga. Ganggang kuning.
Kuburan di atas bukit. Dermaga biru di atas gunung. Neraka
pertama. Ding ding ding. Dung dung dung dung. Tak ada
yang menghubungkan semua itu denganku. Aku bukan
Kartosoewirjo. Kartosoewirjo masih berperang di hutan-hutan
43
www.bacaan-indo.blogspot.com yang jauh. Kartosoewirjo bukan pecundang. Bukan pulau yang
kesepian.
44
www.bacaan-indo.blogspot.com TIDUR
Tiga iblis hendak membunuhku. Tiga malaikat mengenakan
sayap lembut ke bahuku agar aku segera terbang. Tiga jasad
mengapung-apung di dermaga. Tiga hiu bersayap biru
memintaku berbaring di ketiga punggung lembut bagai beludru.
Tiga iblis memintaku tinggal di neraka. Tiga malaikat
memintaku hijrah ke surga.
Tiga ganggang mengapung-apungkan aku agar dicium
rembulan. Tiga ombak melemparkan aku ke pantai tanpa
perahu agar aku kesepian.
Lalu sisa cahaya menghardikku, “Pulanglah ke rumah
asal, Kartosoewirjo, pulanglah lorong mimpi penghabisan.
Pulanglah ke tepi sunyi yang meneduhkan.”
45
www.bacaan-indo.blogspot.com HIJRAH
Ia mulai mendengarkan kicau aneka burung di Madinah
pada 27 September 622 Masehi setelah tiga hari tinggal
dan membangun Masjid Quba. Ia salat Jumat pertama
di Lembah Ranuna yang mulai saat itu menjadi bagian
dari tanah air bagi ayat-ayat yang diwahyukan Allah
untuknya. Ia belum akan ke kota. Kota masih sepi. Kota
masih sunyi.
Aku, Kartosoewirjo, masih tidur. Aku tak enggan menyeberang
dari satu kapal ke kapal lain. Dari kemungkinan kematian satu
ke kemungkinan kematian lain.
Setelah salat, ia menunggang Qashwa, unta patriot itu,
dan mendengarkan orang-orang –perempuan dan laki-laki,
orang tua dan anak-anak, “Selamat datang wahai Nabi
Allah! Selamat datang wahai Nabi Allah!”
Tak ada yang menyambut kedatanganku. Tanganku tetap
diborgol. Tak ada harum kebun. Tak ada harum kurma.
Ia tak hendak mampir ke rumah siapa pun. Ia tak hendak
46
www.bacaan-indo.blogspot.com memberi minum unta di beranda siapa pun. Ia hanya
bilang, “Biarkan unta ini berjalan, karena ia di bawah
perintah Allah.”
Tak ada yang memerintahku membaca ayat, “Perangilah
musuhmu!” Pada sebuah subuh aku tiba-tiba bangun
dan kukatakan kepada selimut, “Kelak aku akan tidur lagi
setelah bisa berbantal kurma.”
Unta itu membawa ia ke reruntuk gedung di dekat
makam. Unta itu lalu berlutut dan seakan-akan bilang,
“Allah memberimu segala yang belum dimiliki oleh para
nabi terdahulu di tanah ini. Dirikanlah rumah. Temuilah
anak-anak yatim terindah, Sahl dan Suhyl, belilah tanah
ini untuk kerajaanmu.”
Kerajaan? Aku tak punya tanah aku tak punya lahan. Tapi
ketahuilah seluruh padang pasir penuh kurma seluruh laut lepas
penuh kurma seluruh langit hitam penuh kurma akan segera
kugenggam.
Ia kemudian bersekutu dengan Alif-Lam-Mim. Ia bersekutu
47
www.bacaan-indo.blogspot.com dengan angin gaib dan kitab yang selalu melayang-layang
di langit. Ia bersekutu dengan maklumat akhirat. Ia
menghindari olok-olok.
Aku tak lahir dari olok-olok. Aku lahir dari sumpah saudagar.
Aku tak mau kautertawakan.
Ia tak pernah menertawakan musuh saat mereka terjatuh
dari unta. Ia tak pernah mengajak berperang. “Apakah kau
masih mencintai berhala-berhalamu? Mencintai zaman
jahiliahmu?”
Aku juga tak suka berperang. Aku selalu meniru dia bersujud
sebagaimana ia meniru batu bersujud. Aku selalu meniru dia
menangis sebagaimana dia meniru gerimis menangis.
Ia lalu membuat perjanjian persaudaraan antara kaum
Anshar dan Muhajirin. Anshar bersaudara dengan
Muhajirin melebihi Anshar dengan Anshar. Muhajirin
bersaudara dengan Anshar melebihi Muhajirin dengan
Muhajirin.
48
www.bacaan-indo.blogspot.com Tidakkah kau mengerti aku juga bersaudara dengan Ali?
Tidakkah kau mengerti aku juga bersaudara dengan Sukarno
dengan Tjokroaminoto? Aku tidak bersaudara dengan kepalsuan.
Aku tidak bersaudara dengan kebohongan.
Saat itu Yatsrib bersujud. Jamilah bersujud. Matahari
bersujud. Bulan bersujud.
Baiklah, sesungguhnya aku hanya ingin hijrah. Dari pengkhinatan
ke pertobatan. Dari suara bising ke kesunyian.
Aku juga bersujud. Sujud bunga kepada embun. Sujud batu
kepada danau. Aku juga bersujud. Sujud sungai kepada ngarai.
Sujud bukit kepada lembah.
Saat itu Yatsrib berzikir. Jamilah berzikir. Matahari
berzikir. Bulan berzikir. Allah! Allah! Allah! Allah! Allah!
Allah! Allah! Allah! Allah!
Aku juga berzikir. Zikir sunyi kepada Mahasunyi. Zikir laut
kepada Mahapalung. Zikir bukit kepada Mahagunung. Zikir
49
www.bacaan-indo.blogspot.com danau kepada Mahabatu. Zihir kabut kepada Mahahujan.
Aku jadi zarah. Zarah tanpa jubah.
50
www.bacaan-indo.blogspot.com JIHAD
Tetapi tak mereka biarkan aku menjadi rusa hijau. Mereka
paksa aku jadi anjing merah.
Kapal oleng. Senapan telah dikokang.
Tak mereka biarkan aku mengikuti nasib yang sudah
diguratkan di dinding-dinding masjid. Mereka paksa aku
menyentuh kesedihan di pohon-pohon purba di kegelapan
hutan.
Mungkin tujuh peluru sudah mengancam. Mungkin bayonet
sudah hendak dihunuskan.
Tak mereka biarkan aku mempercakapkan kemungkinan
untuk pulang ke dusun penuh embun, ke Malangbong.
Ke hutan penuh hujan, ke Gunung Galunggung. Mereka
paksa aku menghuni pulau sunyi sendirian.
Imam berdoa. Imam takut membunuh juru selamat para kepiting
dan batu karang.
51
www.bacaan-indo.blogspot.com Tak mereka biarkan aku menjadi jawaban. Mereka paksa
aku menjadi persoalan.
Lalu angin jadi kian amis. Hujan kian bengis.
Baiklah, karena itu, mari kita mulai berperang. Perang
setelah pasukan menerima wahyu. Perang membela
kehendak Allah. Bukan perang membela Allah.
Aku butuh 200 tentara langit yang telah dianiaya. Aku
butuh 2.500 kuda yang tak pernah diberi makan. Aku
butuh orang-orang yang terhina.
Aku butuh 1.000 orang berdosa. Aku butuh siapa pun
yang ingin membunuh mereka yang tak membiarkan aku
menjadi rusa hijau. Mereka yang memaksa aku jadi anjing
merah.
52
www.bacaan-indo.blogspot.com PEMBURU KABAR
Kabar itu begitu kabur seperti bendera-bendera perang
dipandang dari kota-kota yang jauh dari Badar. Kabar itu
hanya berupa kias: 12 unta mati, 12 sumur tanpa air, 12
masjid dibakar, 12 malaikat ketakutan, 12 laba-laba buta
melindungi 12 kuda tuli.
Aku telah mengutus sepasang mataku melihat kota penuh
kabut itu dari dekat dan mereka mengatakan kepadaku,
“Tak terlihat apa-apa di jalan-jalan. Rumah-rumah
ditinggalkan. Beranda-beranda kehilangan pepohonan.
Semua orang jadi pengembara buta.”
Aku telah mengutus sepasang telingaku mendengarkan
apa pun yang terjadi di kota penuh mayat itu dan
mereka mengatakan kepadaku, “Tak terdengar apa-apa
di sungai-sungai. Tak terdengar nelayan bergurau di perahu.
Semua orang menjadi guru yang tuli.”
Aku telah mengutus tanganku untuk meraba hari mati
meraba di surga neraka mana aku akan tinggal. Tetapi
tangan tak punya mata dan telinga untuk sekadar tahu
53
www.bacaan-indo.blogspot.com di mana 12 unta mati, 12 sumur tanpa air, 12 masjid
dibakar, 12 malaikat ketakutan, 12 laba-laba buta
melindungi 12 kuda tuli dikuburkan.
54
www.bacaan-indo.blogspot.com PANGLIMA BUTA
Kau boleh saja terus mengolok-olok aku sebagai panglima
buta. Kau boleh saja meledek aku hanya layak duduk
di bangku taman sebagai Destrarata yang tak bisa lagi
melihat kecantikan Gendari, kilau sepasang pedang,
kibasan sayap burung hantu, dan bulan dengan segores
cahaya.
Tapi kau tak tahu aku sedang menyiapkan Perang Badar
yang lain untukmu. Jibril akan turut perang bersamaku.
Elang-elang melayang-layang dan segera mematuk bangkai
para serdadu tengik yang kaukirim untuk membunuhku.
Lihatlah, aku berperang tanpa baju besi, tanpa bedil,
tanpa kuda. Aku hanya akan melemparkan kerikil-kerikil
Allah pada para tentara penuh marwah. Aku hanya
akan menggunakan kayu untuk membunuh para musuh
yang tak paham ayat-ayat perang yang diguratkan Allah
di sembarang pepohonan.
Kau pasti tidak tahu bersama 1.000 malaikat aku akan
mengepungmu dari berbagai penjuru. Kau juga tidak tahu
55
www.bacaan-indo.blogspot.com Jibril mengenakan surban kuning akan memancung kepala
para serdadumu.
“Tetapi bukankah sekarang, para serdadu yang kauanggap
satwa busuk itu masih belum melepas borgolmu,
Kartosoewirjo?”
Mereka memang memborgol tanganku. Tapi mereka tak
tahu sebentar lagi Jibril akan memberi sayap dan Pedang
Allah padaku. Tidakkah kau cemas melawan para tentara
dari surga yang diturunkan untuk meringkusmu?
56
www.bacaan-indo.blogspot.com PESAN DOKTER
“Tak perlu kauminum obat apa pun. Kau tidak sakit. Kau
hanya perlu bercakap-cakap dengan malaikat atau siapa
pun yang akan memberimu sayap. Kau hanya perlu malih
rupa jadi kunang-kunang. Terbang menembus malam.
Apakah kau pernah membaca Sirah Nabi? Kau hanya perlu
membayangkan menjadi Jibril yang tak pernah berurusan
dengan ajal.”
Ya. Aku tak akan berurusan dengan ajal.
“Kadar gula darahmu baik-baik saja. Jantungmu cukup
kuat. Karena itu kau tak perlu takut pada sesuatu
yang kauanggap bakal mencekikmu tiba-tiba. Sebaiknya
kau mendengarkan azan terakhir atau suara apa pun
yang belum pernah kaukenal. Apakah kau pernah minum
anggur? Apakah kau pernah membayangkan menari-nari
sendiri seperti Rumi? Apakah kau takut mati?”
Aku tak takut mati.
“Jika kau pusing, jika kau melihat apa pun tiba-tiba
57
www.bacaan-indo.blogspot.com berubah menjadi bayang-bayang, pejamkanlah matamu.
Pejamkanlah matamu saat semut-semut berjalan
pelan-pelan di atas balok es. Pejamkanlah matamu saat
orang-orang berdosa berjalan di atas Siratal Mustaqim.
Apakah kematian itu begitu menggelisahkanmu?”
Aku tak gelisah.
“Apakah aku boleh menyuntikmu? Ini hanya semacam
patirasa agar kau tak merasakan sakit saat para serdadu
menembakmu. Apakah kau pernah merasakan candu?”
Kau tak boleh menyuntikku. Kau tak boleh memberiku
candu.
Pergilah. Temuilah calon mayat lain.
58
www.bacaan-indo.blogspot.com GANTI BAJU
Kupu-kupu tak berganti sayap sebelum dilumat sepatu
lars para serdadu. Kuda-kuda tak berganti ladam sebelum
terbunuh dalam peperangan di hutan keramatmu.
“Tapi kau akan mati, Kartosoewirjo. Kenakanlah baju
serbaputih. Bukankah Pohon Hayat juga mengenakan
baju ular sebelum rubuh?”
Apakah pelayat perlu baju baru untuk bergegas
ke makam? Apakah kau perlu baju baru untuk menjemput
kematianmu?
59
www.bacaan-indo.blogspot.com TUKANG TENUNG
Aku melihat tukang tenung melahap kuburan sebagaimana
burung-burung mematuk bebijian. Begitu rakus. Begitu
cekatan.
Aku melihat kuburan di langit menganga. Menyedot laut.
Menyedot kapal. Menyedot doa. Semua sekejap sirna.
Tanpa sisa.
Aku terus berjalan di dasar laut menuju pulau yang telah
dibungkus kain kafan. Dibungkus oleh para pelayat
yang hanya mahir berzikir dan selawatan.
Aku tak tahu apakah para tentara musuh mengejarku.
Aku hanya mendengar dengus ribuan sapi berpunuk besar
berkejaran beberapa meter dari punggungku.
Aku pun terus berlari. Aku harus segera sampai
ke bukit. Ke bukit yang di setiap pohonnya tergurat
firman. Firman tentang anak-anak yang diselamatkan
dari penyembelihan.
60
www.bacaan-indo.blogspot.com Apakah sebentar lagi tukang tenung itu akan
menyembelihku?
61
www.bacaan-indo.blogspot.com DI KAIN PENUTUP MATA
Di kain putih penutup mata yang melingkar di kepalaku
itu sebenarnya tertulis perintah agung, “Bacalah!”
Aku pun membaca. Membaca dalam gelap.
Dalam gelap ayat-ayat itu membentuk kisah rahasia.
Rahasia tabib yang akan dibunuh sebelum malam tiba.
“Bagaimana cara mereka membunuh?”
Karena bukan burung mereka tak mencabuti beberapa
lembar bulu yang rapuh.
Karena bukan singa mereka tidak mencungkil kedua mata
yang masih menyala.
Tabib itu, bukan serdadu bukan tentara, akan diikat
di tiang penembakan lalu dibunuh sebelum malam tiba.
“Hanya seorang tabib?”
Ya, hanya seorang tabib. Dan semua itu tertulis di kain
penutup mata yang melingkar di kepalaku.
Mereka melarang aku membaca isyarat. Isyarat
yang hanya bisa ditafsirkan dalam gelap.
62
www.bacaan-indo.blogspot.com KE PULAU TERPENCIL
Jangan bersedih. Kita anggap setiap perjalanan, ke mana
pun, sebagai piknik masa kanak-kanak. Piknik ke laut
penuh kepak burung, percakapan karang, teriakan ketam,
riuh angin, dan mungkin sedih senja sebelum hujan.
Jika kau menumpang kapal penuh tikus, anggaplah
kau telah bersama Nuh mengajak sepasang maut
mempercakapkan kehijauan pasir, mempercakapkan
rintik gerimis yang menghiasi sehelai kartu pos.
Jika ada yang akan membuangmu ke pulau terpencil,
anggaplah kau segera bertemu dengen Hawa. Bertemu
dengan kekasih dan Pohon Kehidupan. Bertemu dengan
taman, hujan, dan kebahagiaan.
Aku baru saja meninggalkan kapal penuh hantu. Aku baru
saja meninggalkan ketakutanku.
63
www.bacaan-indo.blogspot.com KAPAL HANTU
Apa saja yang ada di kapal hantu? Dunia yang gaduh.
Godaan iblis. Sujud para malaikat. Mereka yang dikutuk
menjadi kafir. Allah yang disembunyikan para pembual.
Bendera yang tak kuinginkan.
Ada juga hal-hal sepele di buritan. Kebohongan para serdadu.
Polisi zalim yang bertakwa pada angin. Kucing-kucing yang
ketakutan. Lampu-lampu yang tahu kapan harus berzikir
kapan harus bertakbir. Bangsa yang tak kuinginkan.
Tentu saja ada sekoci penyelamat untukmu. Wahyu-wahyu
yang belum sempat ditulis di kitab-kitab. Adam yang lupa
pada nama-nama tumbuhan. Iblis yang celaka. Pohon
Keabadian yang begitu gampang ditebang. Bahasa yang tak
kuinginkan.
64
www.bacaan-indo.blogspot.com MEREKA TAK INGIN MENEMBAKKU
Sepuluh serdadu, mungkin 9 atau 11, terus menyeretku
ke tiang penembakan itu. Salah satu dari mereka masih
tak percaya akan membunuhku. Membunuh matahari
dari Cepu.
“Apakah kau benar-benar Kartosoewirjo?”
Aku menjawab, aku Sun Yat Sen.
“Alamat?”
Kau boleh menyebut di mana saja.
“Agama?”
Aku tak punya agama.
“Pekerjaan?”
Tabib.
“Kau akan segera ditembak. Mengapa kau tak punya
pembela yang kuat?”
Aku tak menjawab, aku akan membela diriku sendiri.
Sepuluh serdadu, mungkin 13 mungkin 12, gemerenggeng
saat menyeretku ke tiang penembakan itu. Salah satu dari
mereka ingin berbalik ke kapal. Dia tak ingin menembakku.
“Aku tahu siapa pun tak seharusnya membunuhmu.
Bukankah begitu?”
65
www.bacaan-indo.blogspot.com Aku menjawab, aku memang tidak layak kaubunuh.
“Tapi banyak orang bilang kau tak punya perasaan saat
membunuh para serdadu Sukarno?”
Aku tak mengharapkan kematian siapa pun.
“Tetapi banyak orang mati dan kau tidak kecewa.”
Aku kecewa, tetapi tak seorang pun tahu kekecewaanku.
“Jadi, kau memang membunuh banyak serdadu?”
Aku tak tahu. Kalaupun aku tahu, aku tak akan memberi
tahu orang-orang yang akan membunuhku.
Sepuluh serdadu, mungkin 15 mungkin 16, kian cepat
bergegas ke tiang penembakan itu. Seseorang dengan
gemetar berbisik kepadaku, “Mintalah ampun sekali lagi
pada Sukarno. Kau sebenarnya tak ingin mati konyol
bukan?”
Aku menjawab, aku tak takut mati, tetapi aku tak ingin
mati konyol.
“Kalau begitu tunggu apa lagi? Teriakkan saja nama
Sukarno berulang-ulang.”
Tak akan kusebut nama Sukarno. Tak akan kusebut nama
siapa pun.
66
www.bacaan-indo.blogspot.com Tetapi seminggu setelah penembakan itu, aku yakin,
sepuluh serdadu, mungkin 9 atau 11, tak akan pernah
menceritakan kepada siapa pun segala peristiwa yang
terjadi di pulau terasing itu.
Tak akan pernah.
67
www.bacaan-indo.blogspot.com TAK PUNYA TUHAN
Belum sampai juga kami di tiang penembakan itu. Seorang
serdadu, berbisik kepadaku, “Kalau kau yang diminta
menembak aku, apa yang akan kaulakukan saat ini?”
Aku tak akan memikirkan apa-apa. Aku akan menekankan
tanganku pada senapan. Aku akan menembak lima sampai
empat kali serdadu itu, memastikan apakah dia masih hidup
atau hanya pura-pura mati, menipuku.
“Kau seperti tak memiliki Tuhan? Kau tak punya belas
kasihan?”
68
www.bacaan-indo.blogspot.com KENANGAN
Akhirnya mereka mengikatku di tiang penembakan itu.
“Kini kau tak mungkin bebas lagi,” kata seorang serdadu,
“Kau tahu makna kebebasan ketimbang agama bukan?”
Aku tak menjawab pertanyaan itu. Aku hanya ingin
merokok. Tentu saja tak ada rokok dan kebebasan. Aku
mual. Aku tak bisa merapal apa pun untuk menggantikan
kebosanan. Kebosanan menunggu mereka menembakku.
“Hukum tak pernah basa-basi,” kata imam tentara,
“Hukum tak pernah pura-pura malih rupa jadi bunga
hanya karena tak ingin tampak sebagai duri.”
Aku biarkan pernyataan konyol itu. Aku tak peduli pada
apa pun yang bakal terjadi. Aku tak membayangkan
senapan yang diacungkan ke arahku.
Aku tak membayangkan kematianku. Ini hanya soal
membunuh waktu.
“Membunuh waktu?” kata imam tentara lagi, “Kau tak
bisa membunuh waktu jika kau tak mahir berdoa.”
Aku mahir berdoa. Tapi aku akan lebih memilih mengenang
apa pun untuk melupakan senapan yang telah dikokang.
69
www.bacaan-indo.blogspot.com Aku memilih mengenang warna kamarku saat belajar
di rumah Tjokroaminoto. Aku memilih mengenang panci,
ember, sabun, sungai, matahari, dan embun yang gugur
perlahan dari dedaunan. Aku memilih mengenang warna
bendera semua bangsa, moncong-moncong tank, dan apa
pun tak bisa diingat oleh para serdadu pembunuh.
“Apakah kau akan menghitung dosa-dosamu,
Kartosoewirjo?”
Aku akan menghitung pohon kurma di kepalaku. Aku
akan menghitung tiang-tiang listrik yang dipukul para
peronda. Aku akan menghitung bulu-bulu burung gelatik
di pepohonan. Aku akan menghitung rambutku menjelang
mereka menembakku.
“Jika bisa tidur, pejamkanlah matamu!”
Aku tak akan tidur. Jika di langit masjid ada ayat tentang
sungai susu, akan aku baca keras-keras. Dan saat terjaga,
aku tak akan sekali-kali membunuh waktu.
Mengenang apa pun pada masa lalu, kau tahu, aku
70
www.bacaan-indo.blogspot.com dijauhkan dari hantu.
Hantu kematian yang mengharu biru.
71
www.bacaan-indo.blogspot.com PERTANYAAN BESAR IMAM TENTARA
“Sebenarnya akulah pengadilmu,” kata entah malaikat
entah imam tentara, “aku bisa membebaskanmu.”
Bau ketam atau kepiting busuk kian menusuk saat itu.
Ombak terasa menggelagak. Mungkin dua tiga perahu
melintas. Mungkin gempa datang. Mungkin langit akan
terbelah.
“Kami tak perlu menggali makam, makammu yang
luas dan panjang, jika kau tahu bagaimana cara
menyembunyikan kematian Sukarno.”
Kematian Sukarno? Sukarno belum mati. Siapa pun tak
berani membunuh Sukarno. Tak juga kami. Tak juga NII.
“Kau tak perlu bicara keras-keras. Ada banyak wartawan di
sini. Hanya kematianmu yang akan ditulis besar-besar dan
bukan tempat kematian Sukarno yang akan dirahasiakan.”
Angin amis seperti tak berembus. Satwa-satwa laut
menyingkir. Bau mesiu di senapan mengeras.
72
www.bacaan-indo.blogspot.com “Kami bisa membuat kematianmu hanya sebagai
sandiwara,” kata entah malaikat entah imam tentara
lagi, “tetapi kami tak bisa menghindarkan Sukarno
dari pembunuhan.”
Sukarno melebihi Kresna, aku memprotes, Sukarno belum
akan mati. Akulah yang akan lebih dulu mati.
“Tetapi kematianmu tak terlalu penting. Hanya koran
yang menganggap kematian pemberontak punya makna.
Jadi, ayolah bocorkan di mana Sukarno akan dibunuh?
Di Cikini? Siapa yang akan membunuh?”
Kuputuskan tak menjawab pertanyaan imam tentara.
Kuputuskan aku hanya akan menggumamkan kenangan
atas kerbau-kerbau berkubang di lumpur dan jerami-jerami
yang terbakar pada musim dingin. Kuputuskan aku akan
mengenang ibuku yang menjahit bajuku dengan air mata
berlinang.
73
www.bacaan-indo.blogspot.com DOA
“Aku telah berdoa untukmu, Kartosoewirjo. Aku doakan
agar di langit, juga langit ketujuh, tak ada lagi kamp-kamp
gosong yang akan memenjaramu lagi.”
Amin.
“Aku telah berdoa untukmu. Aku doakan agar hujan,
juga hujan ketujuh, tak menghapus amal-amalmu. Tak
menghapus ketakwaanmu.”
Amin.
“Aku telah berdoa untukmu. Aku doakan agar tidak ada
tentara, juga tentara ketujuh, yang akan menembakmu
lagi setelah kau pergi dari sisiku.”
Amin.
“Aku telah berdoa untukmu. Aku doakan agar hutan, juga
hutan ketujuh, tak menyesatkan rohmu ke gua-gua hijau.
Ke gua-gua persembunyianmu yang dulu.”
74
www.bacaan-indo.blogspot.com Amin.
“Aku telah berdoa untukmu. Aku doakan agar tak turun lagi
firman, juga firman ketujuh, yang akan menyembelihmu.
Menyembelihmu di pantai tanpa karang tanpa ikan-ikan
bersisik biru.”
Amin.
“Aku telah berdoa untukmu. Aku doakan agar hanya
cahaya, juga cahaya ketujuh, yang menerangi perjalanan
ke Siratal Mustaqim. Siratal Mustaqimmu.”
Amin.
“Aku telah berdoa untukmu. Aku doakan agar beranda
Tuhan, juga beranda ketujuh, akan segera menyambutmu.
Menyambut kebahagiaanmu.”
Amin.
75
www.bacaan-indo.blogspot.com “Aku telah berdoa untukmu, Kartosoewirjo. Aku doakan
agar doaku, juga doa ketujuh, menjadi doa paling mustajab
untukmu. Untuk hatimu yang memberontak selalu.
Amin.
76
www.bacaan-indo.blogspot.com MENONTON PEMBUNUHAN
Aku tahu kalian akan menonton kisah penembakan
terhadapku yang konyol itu dengan getir sebagaimana siapa
pun getir menatap serdadu bengis menusuk lambung Isa.
Lambung penuh darah. Lambung penuh nanah. Lambung
yang tetap menganga saat langit gelap dan gempa membelah
kota.
“Kami hanya saksi mata. Jadikanlah kami penonton
buta.”
Aku tahu kalian datang ke pulau ini hanya dipaksa
menonton pembantaian terhadapku yang lucu itu dengan
kecewa sebagaimana siapa saja kecewa menyaksikan
Ibrahim hendak memenggal leher Ismail. Leher berkulit
halus. Leher yang belum pernah dikecup kekasih paling
jelita.
“Kami hanya saksi mata. Jadikanlah kami penonton
buta.”
Aku tahu kalian tak akan bisa menghentikan regu tembak
77
www.bacaan-indo.blogspot.com itu memuntahkan peluru yang bakal menghajar dada
ringkihku sebagaimana siapa saja tak bisa menghentikan
Wahsyi menancapkan tombak di celah baju baja Hamzah
dan Hindun merogoh dan mengunyah hati Sang Singa
Padang Pasir itu.
“Kami hanya saksi mata. Jadikanlah kami penonton
buta.”
78
www.bacaan-indo.blogspot.com KAPAK ENTAH SIAPA
Dalam hening masih kudengar juga percakapan oditur,
dokter, dan dua perwira. Mengapa mereka bicara tentang
gerak kapak yang tak terbaca?
”Kapak siapa yang akan diayunkan dari jarak sepuluh
meter ke dada Kartosowirjo?”
”Kapak dari luar angkasa. Kapak Nabi Ibrahim dari surga.
Kapak yang tak terlihat. Kapak yang tak teraba.”
”Bukan kapak sembarang kapak.
Kapak muslihat. Kapak entah siapa.”
79
www.bacaan-indo.blogspot.com REGU TEMBAK
Kelak tak seorang pun akan merasa menjadi pembunuhku.
Kelak kau akan mendengar suara hati para serdadu setia
itu setelah kau paham makna alif ba ta setelah kau paham
makna lam alif hamzah ya.
”Semoga bukan peluruku yang akan menembus jantung
sang syuhada pemikat embun. Aku tak ingin menjadi
malaikat pencabut nyawa,” kata penembak pertama.
”Semoga bukan peluruku yang akan menembus jantung
pria lembut pemuja rakyat jelata. Aku tak ingin jadi
malaikat pencabut nyawa,” kata penembak kedua.
”Semoga bukan peluruku yang akan menembus jantung
pengawal langit pemikat burung. Aku tak ingin jadi
malaikat pencabut nyawa,” kata penembak ketiga.
”Semoga bukan peluruku yang akan menembus jantung
pecinta hujan pemikat mendung. Aku tak ingin jadi
pencabut nyawa,” kata penembak keempat.
80
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Semoga bukan peluruku yang akan menembus jantung
penghina iblis peledek setan. Aku tak ingin jadi malaikat
pencabut nyawa,” kata penembak kelima.
”Semoga bukan peluruku yang akan menembus jantung
pembaca tanda pendengar denting ayat berjatuhan.
Aku tak ingin jadi malaikat pencabut nyawa,” kata
penembak keenam.
”Semoga bukan peluruku yang akan menembus jantung
pengawal pengakhir pemberontakan. Aku tak ingin jadi
malaikat pencabut nyawa,” kata penembak ketujuh.
”Semoga bukan peluruku yang akan menembus jantung
penafsir pemakna kepedihan. Aku tak ingin jadi pencabut
nyawa,” kata penembak kedelapan.
”Semoga bukan peluruku yang akan menembus jantung
pewaris laut pewaris maut. Aku tak ingin jadi pencabut
nyawa,” kata penembak kesembilan.
81
www.bacaan-indo.blogspot.com ”Semoga bukan peluruku yang akan menembus jantung
penghancur gelombang penakluk badai. Aku tak ingin jadi
pencabut nyawa,” kata penembak kesepuluh.
”Semoga bukan peluruku yang akan menembus jantung
penghujat kesedihan. Aku tak ingin menjadi pencabut
nyawa,” kata penembak kesebelas.
”Semoga bukan peluru yang akan menembus jantung
lembutmu, Kangmas Kartosoewirjo. Aku bukan pencabut
nyawamu,” kata penembak keduabelas.
82