www.bacaan-indo.blogspot.com LAPORAN KOMANDAN REGU TEMBAK
”Tak kami temukan kesalahan apa pun pada Kartosoewirjo.
Apakah kita akan tetap membunuhnya?”
Tak kudengar jawaban oditur. Tak kudengar desau angin
dan daun-daun gugur.
83
www.bacaan-indo.blogspot.com HIKAYAT ODITUR
Sesungguhnya tak pernah benar-benar ada perang,
pemberontak bodoh, letusan salvo untuk para syuhada,
dan karena itu oditur tak perlu ada.
Tetapi dia harus ada karena untuk Nabi Muhammad
pun Allah menciptakan Perang Uhud, Perang Badar,
dan perang-perang kecil untuk kita.
Sesungguhnya tak pernah benar-benar ada parang-parang
yang diacung-acungkan ke langit, rumah-rumah penduduk
yang dibakar, sungai yang diracun, dan karena itu oditur
tak perlu ada.
Tetapi dia harus ada karena untuk Nabi Musa pun
Allah menciptakan Firaun, bala tentara dahsyat, laut
yang membelah, dan berhala sapi rubuh sebelum senja.
Sesungguhnya tak pernah benar-benar ada sabotase
di kereta, kibar bendera di beranda masjid, telegram
84
www.bacaan-indo.blogspot.com pembunuhan palsu, dan karena itu oditur tak perlu ada.
Tak perlu ada jika hanya akan menjadi penerima laporan
kematianku.
Tapi dia selalu ada.
85
www.bacaan-indo.blogspot.com IA BILANG, “LAKSANAKAN SEKARANG!”
Ia mendengar amarah angin, bisik-bisik ketam, protes
pasir, nasihat 12 senapan agar siapa pun membatalkan
pembunuhan kepadaku. Tetapi oditur itu tetap saja bilang,
“Laksanakan!”
Ia tahu gerimis berjanji akan menunda gugur, gempa
berhenti membelah laut jika regu tembak membatalkan
pembunuhan kepadaku. Tetapi oditur itu tetap saja bilang,
“Laksanakan!”
Lalu kudengar ia memberi pengarahan-pengarahan kacau
dan berusaha melupakan apa pun yang telah dikatakan.
Apakah hujan akan segera turun? Apakah gelombang laut
masih akan bergulung-gulung?
Tak ada jawaban.
Tapi segera dalam samar kudengar ia berteriak, “Tak ada
waktu lagi. Laksanakan sekarang!”
86
www.bacaan-indo.blogspot.com KEMATIAN LEMBUT
Kurasa begitu peluru menembus jantungku, aku akan
merasakan kematian yang lembut. Kematian tanpa rasa
sakit. Kematian tanpa peluru. Gusti, aku telah tunduk.
Semoga Kau tak meninggalkan aku.
Aku sudah mengalah. Sangat mengalah. Tak kubakar
lumbung-lumbung padi. Tak kubayonet para serdadu
yang takut bertempur. Aku tak berperang untuk
kemenanganku sendiri. Gusti, aku telah berusaha beriman.
Semoga Kau tak meninggalkan aku.
Sudah lama aku berpuasa kata. Tak mengutuk para kafir yang
ingin membangun bangsa. Tak menghujat burung-burung yang
hanya berkicau di jalanan kacau. Tak meledek para penghafal
ayat yang takut mengacung-acungkan pedang ke angkasa.
Gusti, aku telah berikhtiar menyentuh cahaya-Mu. Semoga Kau tak
meninggalkan aku.
Aku tak lagi tertarik mengatur taktik di atas peta. Aku tak
mengajak siapa pun menyusup ke hutan berlagak menjadi
tentara. Aku tak lagi berani mengajari siapa pun melawan
87
www.bacaan-indo.blogspot.com musuh abadi atau nafsu yang senantiasa mengancam.
Gusti, aku telah mencoba belajar menjadi hamba-Mu. Semoga
Kau tak meninggalkan aku.
Aku tak ingin lagi mimpi jadi pilot yang menembak secara
sembarangan ke jalan-jalan penuh pendosa. Aku tak
ingin lagi mimpi jadi penakluk tank yang menghancurkan
desa-desa sepanjang masa. Aku tak ingin lagi mimpi jadi
nakhoda yang merindukan bebangkai busuk mengapung
di laut tanpa damar tanpa pelita. Gusti, aku terus bermimpi
jadi warga surga. Semoga Kau tak meninggalkan aku.
Apakah ada yang kusembunyikan? Tidak lagi. Aku tak
menyembunyikan ketakutanku pada apa pun yang selalu
kausebut sebagai neraka. Aku tak menyembunyikan
kegentaranku pada apa pun yang kausebut sebagai maut
yang tertunda. Gusti, aku berkali-kali tersungkur menjaga
kebaikan hati. Semoga Kau tak meninggalkanku.
Kini percayalah, begitu peluru menembus jantungku, aku
akan merasakan kematian yang lembut. Kematian tanpa
88
www.bacaan-indo.blogspot.com rasa sakit. Kematian tanpa peluru. Gusti, aku menyesali diri.
Kini jiwaku telah tenang. Jiwaku hanya berzikir untuk-Mu.
Semoga Kau akan mencintaiku.
89
www.bacaan-indo.blogspot.com SUARA ITU
Suara itu berbisik kepadaku, “Kau telah membeli karcis.
Nikmati pengembaraanmu dan jangan bertanya kapan
kapal berhenti kapan kapal berlabuh.”
Aku tak mendengar kicau burung atau cericit kelelawar
setelah itu. Aku hanya mendengar suara cinta-Mu, Gusti.
90
www.bacaan-indo.blogspot.com AKU TAK MENDENGAR LETUSAN ITU
Aku tak mendengar letusan itu. Aku bahkan tak merasa ada
12 penembak jitu mengacungkan senapan tepat ke jantungku.
Sebagaimana Abu Bakar, aku justru mendengar pidato
Nabi di mimbar. Kata Nabi, “Ada seorang di antara hamba
Allah yang diberi pilihan antara dunia ini dan pertemuan
dengan-Nya, dan hamba tersebut memilih berjumpa
dengan Tuhannya.”
Aku memilih bertemu dengan-Mu, ya Allah.
Aku tak mendengar letusan itu. Aku juga tak mendengar
aba-aba komandan regu tembak untuk melesatkan peluru
pembunuh itu. Aku justru mendengar Nabi berbicara
kepada Aisyah. Kata Nabi,”Tidak ada seorang nabi pun
yang dicabut nyawanya sebelum ia ditunjukkan tempatnya
di surga dan diberikan pilihan hidup atau mati.”
Aku memilih mati, ya Allah.
Aku tak mendengar letusan itu. Aku juga tak mendengar
oditur, dua perwira, dan seorang dokter meratapi
91
www.bacaan-indo.blogspot.com kematian kecilku. Aku justru mendengar Nabi memberi
nasihat kepada para sahabat. Kata Nabi, “Aku akan pergi
dan menjadi saksi bagi kalian. Kutunggu di surga Allah.”
Ampunilah, hamba-Mu, ya Allah. Aku memilih mendapatkan
Kunci Kasih Sayang-Mu. Kunci Surga-Mu.
92
www.bacaan-indo.blogspot.com SOWAN
Ke kemurahan surga
ke sungai pengasihan
ke gunung raja
ke angsa suci
ke pedang keselamatan
ke kuda tepercaya
ke pemelihara ombak
ke tabib perkasa
ke majikan rembulan
ke penenung suwung
ke pencipta gurun
ke pengembus badai
ke ruang kesedihan
ke pembenci matahari
ke api suci
ke pemberi cahaya
ke rezeki mawar
ke pintu kalbu
ke taji ilmu
ke pengendali musim
ke padang lapang
ke pohon terendah
93
www.bacaan-indo.blogspot.com ke langit tertinggi
ke kursi terhormat
ke palung kehinaan
ke telinga zaman
ke mata angkasa
ke hakim utama
ke rumah adil
ke sayap lembut
ke kabar liur
ke penyantun kebahagiaan
ke genderang agung
ke mihrab ampunan
ke sujud syukur
ke bintang belang
ke bejana besar
ke tukang jaga
ke embun penting
ke mesin hitung
ke roh luhur
ke hutan mulia
ke pengawas kehancuran
94
www.bacaan-indo.blogspot.com ke pengabul permintaan
ke lorong luas
ke musuh bijaksana
ke cinta buta
ke kemuliaan hujan
ke pembangkit kematian
ke saksi sunyi
ke jagat kebenaran
ke penghidup kincir
ke pembangun tembok
ke senja sempurna
ke pelindung semut
ke hukum terpuji
ke angka keramat
ke awal aksara
ke hakikat pulang
ke penghayat waktu
ke pengusung keranda
ke pembenih ketakutan
ke batu karang
ke penemu kabut
95
www.bacaan-indo.blogspot.com ke sembilan jalan
ke labirin tunggal
ke ahad rahmat
ke riuh guruh
ke juragan sabun
ke penguasa jurang
ke pendahulu kalam
ke akhir buih
ke pembuka syair
ke penutup gua
ke alam nyata
ke batin awan
ke perintah guru
ke bukit jiwa
ke pawang dermawan
ke penerima tobat
ke siksa neraka
ke samudra terdalam
ke tamparan kasar
ke mahkota kerajaan
ke pasak impian
96
www.bacaan-indo.blogspot.com ke musyawarah hakim
ke pengumpul bebijian
ke danau emas
ke roti abadi
ke obat mujarab
ke derita ketam
ke marwah ababil
ke lampu terasing
ke menara bahasa
ke garba keabadian
ke cermin kekal
ke pewaris malam
ke ahli tuli
ke penunggu kuburan
Semoga sampai
pada-Mu
97
www.bacaan-indo.blogspot.com GUSTI, APAKAH KAU JUGA KESEPIAN
Ya, aku telah kembali kepada-Mu, Gusti. Aku membuka
pintu maut pelan-pelan. Menyusup ke ruang pesta paling
dalam. Minum anggur. Mabuk dan mengajak-Mu menari
semalaman.
Apakah bagi-Mu aku burung yang mematuk-matuk
cermin? Apakah aku hewan ringkih bermata bulat atau
raja satwa berparuh yang bentangan sayapnya memenuhi
semesta?
Apakah aku samudra
dan Kau hanyalah sungai kecil
apakah aku tak terhingga
dan Kau hanyalah ketiadaan
apakah aku hukum dan Kau hanya hakim
di luar peradilan
apakah aku jawaban
dan Kau hanya pertanyaan sepele
sebelum ujian
apakah aku cahaya
dan Kau hanya gelap
98
www.bacaan-indo.blogspot.com setelah hujan?
Kau memang tetap tak terusik. Kau tetap batu.
Saat aku merasakan kebahagiaan, Kau tetap hanya gema
kesedihan.
Kau hanyalah air mataku. Aku tangis terakhir-Mu
di keheningan bulan
Lalu segalanya seperti sulapan
kembali ke api pembakaran
kembali ke kehilangan
Gusti, apakah Kau juga kesepian?
99
www.bacaan-indo.blogspot.com
100
www.bacaan-indo.blogspot.com
AKHIR
101
www.bacaan-indo.blogspot.com
102
www.bacaan-indo.blogspot.com KESAKSIAN
Komandan Regu Tembak: Segalanya telah selesai. Tak
perlu mempersoalkan apakah lelaki ini pemberontak atau
pahlawan.
Pemeriksa Jenazah: Aku bersaksi mayat itu begitu harum.
Para Pengubur: Tugu kembalilah pada Tugu. Senja
kembalilah pada Senja. Batu kembalilah pada Batu.
Bianglala kembalilah pada Bianglala.
Pemandi Jenazah: Mula-mula mayat itu menyala seperti
pelita. Lalu ia jadi kaca berkilau. Kilau kaca itu, kau tahu,
seperti dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang
juga berkilau. Apakah kau juga melihat mayat itu telah
berubah menjadi cahaya? Cahaya yang akan melesat ke
Sang Mahacahaya.
Para Pengubur: Yang buruk telah belajar menjadi baik.
Yang baik telah belajar menjadi takwa. Yang takwa telah
belajar menjadi raja. Yang raja telah belajar menjadi
hamba.
103
www.bacaan-indo.blogspot.com Perawat Jenazah: Tentu saja dia bukan Drupadi. Tetapi
kami telah mengafani mayat yang terus memanjang itu
dengan kain kafan yang berlapis-lapis.
Imam Tentara: Aku salatkan dia sebagaimana aku salatkan
jenazah-jenazah lain. Aku tak pernah mengistimewakan
siapa-siapa.
Pengusung Jenazah: Mayat itu begitu ringan. Mayat itu
seakan-akan hendak terbang. Terbang ke langit ketujuh.
Terbang ke surga.
Para Pendoa: Gusti, dia hanya orang biasa. Kembalikanlah
menjadi orang biasa. Gusti, ini hanya kematian kecil
manusia kecil. Kembalikanlah dia menjadi manusia kecil.
Para Pengubur: Jadikanlah ia sebagai ranting yang tak
pernah patah. Jadikanlah ia sebagai tukang kebun yang
sabar. Jadikanlah ia embun yang terus-menerus menetes
di padang gersang. Jadikanlah ia penjaga gua.
104
www.bacaan-indo.blogspot.com Oditur: Apakah kita bersalah telah membunuh manusia
utama? Jangan menyesali apa pun yang telah kita lakukan
kepadanya. Segeralah pulang. Segeralah membasuh wajah
kita yang lelah. Segeralah mengatakan kepada diri sendiri,
“Tak ada yang sia-sia.”
Imam Tentara: Tetapi camkan, aku berharap setelah kita
bunuh dan kubur lelaki yang begitu karib dengan harum
Senja, kita tidak gampang melupakan kesakitan
dan kesunyian
yang dirasakannya.
Aku berharap kita akan selalu bisa menziarahi dia
sebagaimana senantiasa kita ziarahi
orang-orang suci
sepanjang masa.
Sepanjang masa. Sepanjang masa…
105
www.bacaan-indo.blogspot.com
106
www.bacaan-indo.blogspot.com
CATATAN
107
www.bacaan-indo.blogspot.com
108
www.bacaan-indo.blogspot.com TENTANG KARTOSOEWIRJO
MENURUT KELUARGA
Aku memang tidak salah pilih. Di sinilah, aku
mulai belajar tentang sifat suamiku. Ia ternyata seorang
laki-laki yang penuh tanggung jawab pada keluarga dan
menyayangiku. Ia tak segan-segan memperkenalkanku,
istrinya yang dari kampung, dengan kawan-kawannya
yang terpelajar dan terhormat. Bahkan dua bulan
setelah kami di Jakarta, mungkin atas prakarsa teman-
temannya, perkawinan kami dirayakan di rumah Pak
Tjokroaminoto. Aku ingat benar pesta yang sederhana
tapi amat mengesankan itu berlangsung pada 12
Dzulhijjah. Bapak waktu itu menjadi redaktur Fadjar
Asia. Tetapi yang paling banyak menyita waktu adalah
kedudukan di Lajnah Tanfidziyah Sarekat Islam. Begitu
aktif beliau di organisasi itu sampai mencari nafkah
hanyalah sekadarnya.
Akibatnya kami tidak mempunyai rumah tetap,
pindah dari rumah sewa ke rumah yang lain. Walaupun
begitu, aku tidak mengeluh. Sebagai istri yang mendapat
pendidikan agama cukup lekat dari orang tua, kuterima
segalanya dengan rasa syukur. Oleh karena itulah,
109
www.bacaan-indo.blogspot.com boleh jadi, kehidupan kami berjalan tenang, kalau tidak
dikatakan bahagia.1
(Dewi Siti Kalsum, istri Imam DI/TII Kartosoewirjo)
Kuburmu dicari
Jejakmu diselusuri
Ajaranmu dikaji
Mujahid tidak pernah mati2
(Sardjono, putra Kartosoewirjo)
Menakutkan...saya masih kecil, tak tahu mengapa
intel menguntitnya...3
(Nuk Mudarti, keponakan Kartosoewirjo)
1 Dipetik dan diedit dari wawancara jurnalis Tatang Sumarsono di buku Kahar
Muzakar & Kartosoewirjo, Pahlawan atau Pemberontak karya Prof Dr Suwelo
Hadiwijoyo.
2 Puisi “Kematian adalah Sebuah Misteri” yang dibacakan oleh Sardjono di
Pulau Onrust. Teks ini termaktub dalam Kartosoewirjo, Mimpi Negara Islam,
Seri Buku Tempo, Kepustakaan Populer Gramedia, 2011.
3 Cerita Nuk pada jurnalis Tempo.
110
www.bacaan-indo.blogspot.com TENTANG KARTOSOEWIRJO
MENURUT KHALAYAK
Kartosoewirjo adalah representasi dari salah
satu keragamaman ideologi yang tumbuh dalam
taman kebangsaan Indonesia. Dibesarkan oleh
Tjokroaminoto bersama-sama Sukarno. Namun dia
berpisah di pengujung jalan perjuangan dengan rekan
satu indekosnya itu. Matahari memang tak mungkin
pernah ada kembarnya. Kartosoewirjo sempat melawan,
mendirikan keyakinannya. Tapi mungkin tak demikian
kehendak jalannya sejarah. (Bonnie Triyana, Pemimpin
Redaksi Majalah Historia)
Ia adalah pemberontak yang sial. (Anton Kurnia,
cerpenis dan penerjemah)
Dari karya-karya ilmiah…dapat ditarik satu
kesimpulan bahwa “angan-angan”…mendirikan Negara
Islam di Kepulauan Indonesia sudah dimiliki Kartosoewirjo
sejak ia masih menjadi pengurus Partai Sarekat Islam
Indonesia (PSII) di akhir dekade 1930-an…Kartoesowirjo
memerintahkan melakukan pembasmian rakyat-pengkhianat
secara massal…Tindakan menghalalkan segala cara ini…
111
www.bacaan-indo.blogspot.com ditentang oleh para ulama dan kiai…(Mohammad Iskandar,
penulis esai “Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Penghujung
Perjalanan”)
Ia adalah bayonet yang berkarat di lambung republik.
(Gunawan Tri Atmodjo, cerpenis)
Kartosoewirjo tak pelak merupakan pengusung cita-
cita besar, pemilik rasa cinta terhadap Tanah Air, tapi salah
memilih strategi. (Ichwan Prasetyo, jurnalis)
Mengapa Kartosoewiryo berkehendak untuk
mendirikan Darul Islam? Mungkin karena ia tidak sabar
dengan manusia konkret, manusia yang dengan daging
dan keringatnya seringkali kerdil, mementingkan diri
sendiri, dan munafik. Singkat kata, mengecewakan. Karena
itu, Kartosoewirjo berusaha mengatasi kekecewaan itu
dengan solusi yang (dibayangkan) sempurna dan jauh dari
kekerdilan manusia konkret. Tapi di sinilah paradoksnya: ia
ingin membangun “surga” di bumi. Padahal bumi manusia,
sebagaimana yang dia alami sendiri, justru mengecewakan,
112
www.bacaan-indo.blogspot.com sama sekali bukan surga, Ini berbeda, misalnya, dengan
sikap tokoh-tokoh Islam lain pada zamannya yang tak
menempuh jalan “pemberontakan”. Tokoh-tokoh ini, saya
kira, mengakui bahwa manusia dan dunianya yang konkret
bisa jadi mengecewakan. Namun dari kenyataan yang
bopeng itulah mereka mencoba menegakkan tatanan yang
sebisa mungkin sejalan dengan aturan Tuhan. Caranya
tidak dengan membangun suatu utopia tentang “kerajaan
Tuhan” yang sempurna di bumi manusia yang tak sempurna,
melainkan mencoba mentransformasikan bumi manusia
sebagai “kerajaan Tuhan.” itu sendiri. Intinya Kartosoewirjo
tergoda untuk “membentuk kembali hidup.” Namun, kata
Boris Pasternak dalam Dr Zhivago, “Orang yang bisa bicara
begitu tak pernah merasakan apa itu hidup, detaknya,
jantungnya.” (Akhmad Sahal, Wakil Ketua Pengurus Cabang
Istimewa NU (PCINU) Amerika-Kanada)
113
www.bacaan-indo.blogspot.com
114
www.bacaan-indo.blogspot.com
TERIMA KASIH
115
www.bacaan-indo.blogspot.com
116
www.bacaan-indo.blogspot.com Terima Kasih Pertama
Saya berterima kasih pada Allah untuk “sastra yang
melembutkan”, Nabi Muhammad untuk “segala inspirasi”,
dan Alquran untuk cahaya hati.
Terima Kasih Kedua
Saya berterima kasih kepada Fadli Zon yang foto-fotonya
dalam Hari Terakhir Kartosoewirjo turut membantu saya
menghadirkan peristiwa eksekusi Kartosoewirjo di tiang
penembakan Pulau Ubi. Saya juga berutang kepada
Prof Dr Suwelo Hadiwijoyo untuk buku Kahar Muzakar
& Kartosowirjo, Pahlawan atau Pemberontak?, Nugroho
Dewanto-Redaksi KPG untuk Seri Buku Tempo:
Kartosoewirjo, Mimpi Negara Islam, Cindy Adams untuk
Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat (terutama bagian
penolakan grasi terhadap Kartosoewirjo) dan Martin Lings
untuk Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber
Klasik. Tulisan-tulisan itu telah menjadi sumber tak kering-
kering untuk menulis sajak-sajak dalam antologi ini.
117
www.bacaan-indo.blogspot.com Terima Kasih Ketiga
Saya berterima kasih pada siapa pun yang pernah
menceritakan secara lisan kisah-kisah Kartosoewirjo dan
mitos-mitos yang mengitari.
Terima Kasih Keempat
Saya berterima kasih kepada Laksmi Shitaresmi (pelukis
sampul) Mirna Yulistianti (editor), Putut Wahyu Widodo
(pendesain sampul), Amir Machmud NS (teman diskusi
tentang Kartosoewirjo), Rukardi Achmad (pustaka hidup
yang mengayakan pemahaman) dan Moch Buhono HR
(penata halaman).
118
www.bacaan-indo.blogspot.com
119
www.bacaan-indo.blogspot.com
www.bacaan-indo.blogspot.com
APRESIASI
121
www.bacaan-indo.blogspot.com
122
www.bacaan-indo.blogspot.com APRESIASI UNTUK
PERTEMPURAN RAHASIA
Dalam buku ini, Triyanto tidak hanya menghidupkan
Mahabharata dalam puisi, tetapi juga Ramayana...Buku puisi
ini adalah upaya sang sang dalang untuk untuk masuk ke
dalam pikiran tokoh-tokohnya, atau menitipkan tafsirnya
atas tokoh-tokoh, sehingga yang muncul ke hadapan kita
bukanlah terutama sosok tetapi renungan...Kualitas inilah
yang membedakan Triyanto dari dalang wayang purwa; ia
tidak sekadar mendeskripsikan tetapi menganalisis. (Prof
Dr Sapardi Djoko Damono, Kata Pengantar Pertempuran
Rahasia)
Ketekunan dan gairah untuk menggeluti estetika dan
imajinasi wayang kentara dalam puisi-puisi Triyanto
Triwikromo. Fragmen-fragmen dari epos Ramayana dan
Mahabharata mendapati narasi liris dan tafsiran-tafsiran
impresif. (Bandung Mawardi, Suara Merdeka)
Aku memang tidak bisa menilai bagaimana puisi itu bagus
dengan aneka teori. Tetapi buku puisi Triyanto ini sangat
bagus. Banyak sekali diksi baru yang kudapatkan. (Teguh
Affandi, Goodreads)
123
www.bacaan-indo.blogspot.com
124
www.bacaan-indo.blogspot.com
TENTANG PENYAIR
125
www.bacaan-indo.blogspot.com
126
www.bacaan-indo.blogspot.com TRIYANTO TRIWIKROMO pada 2010 menerbitkan
buku kumpulan puisi Pertempuran Rahasia, (Gramedia
Pustaka Utama). Pada 2012-2013 dia terlibat dalam
penggarapan program citybooks yang diproduksi oleh
deBuren (rumah produksi dari Belgia). Proyek ini
memungkinkan 10 puisi panjangnya tentang Semarang
diterjemahkan dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis.
Sebelumnya pada 2008 “puisi panjang”-nya tentang tragedi
Lumpur Lapindo terbit dwibahasa di Australia dalam Mud
Purgatory.
Di bidang prosa, pengarang ini memperoleh Penghargaan
Sastra 2009 Pusat Bahasa untuk buku kumpulan cerpen
Ular di Mangkuk Nabi. Sepuluh cerpennya yang masuk
Cerpen Pilihan Kompas sepanjang 2003-2012 dibukukan
dalam Celeng Satu Celeng Semua (Gramedia Pustaka
Utama, 2013). Cerpennya “Cahaya Sunyi Ibu” termuat
dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 Anugerah Sastra
Pena Kencana. Cerpennya “Lembah Kematian Ibu” juga
masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2009 Anugerah Sastra
Pena Kencana.
Pria kelahiran Salatiga, 15 September 1964 ini lulus
Magister Ilmu Susastra Universitas Diponegoro, Semarang.
127
www.bacaan-indo.blogspot.com Ia bekerja sebagai dosen Penulisan Kreatif di almamater
dan Redaktur Pelaksana Harian Suara Merdeka.
Dia juga menulis kumpulan cerita pendek Rezim Seks
(Aini, 2002), Ragaula (Aini, 2002), Sayap Anjing (Penerbit
Buku Kompas, 2003), Anak-anak Mengasah Pisau (Children
Sharpening the Knives) (Masscom Media, 2003), dan Malam
Sepasang Lampion (Penerbit Buku Kompas, 2004).
Pada 2005 dan 2007 mengikuti Utan Kayu International
Literary Bienale. Setelah itu, 2005, ia menjadi peserta
Wordstorm: Northern Territory Writer Festival di Darwin
dan Januari-Februari 2008 menjadi peserta Gang Festival
dan residensi sastra di Sydney, Australia. Pada tahun
sama ia juga menjadi pembicara dalam Ubud Writers and
Readers Festival di Ubud, Bali. Bersama Budi Darma, Eka
Kurniawan, Nugroho Suksmanto, dan Chavchay Saifullah,
ia menulis L.A. Underlover (Katakita, 2008), kumpulan
cerpen tentang persentuhan orang-orang Indonesia dengan
manusia-manusia Los Angeles.
Teks terbarunya Surga Sungsang (buku cerita Gramedia
Pustaka Utama) terbit pada 2014 masuk Lima Besar
Kusala Sastra Khatulistiwa 2014. Cerpen-cerpennya juga
diterjemahkan dalam bahasa Swedia dan Inggris.
128
www.bacaan-indo.blogspot.com
www.bacaan-indo.blogspot.com FIKSI/PUISI
Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building
Blok I, Lt. 5
Jl. Palmerah Barat 29–37
Jakarta 10270
www.gramediapustakautama.com