Kedua,Waktu Fajar
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Kami tidak
mengetahui adanya perselisihan di kalangan para
ulama dalam masalah disunnahkannya membaca surat
setelah al Fatihah dalam dua rakaat pertama dalam
setiap shalat.”1
Ketika rukuk, disunnahkan beberapa hal berikut
1. Disunnahkan meletakkan kedua tangan pada kedua
lutut, seperti menggengamnya dan membuka jari-
jarinya. Hal ini berdasarkan hadis Abu Humaid
radhiyallahu ‘anhu, “Aku adalah orang yang paling
hapal shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
aku melihat jika beliau bertakbir, beliau mengangkat
keduanya sejajar dengan kedua bahunya, jika beliau
rukuk, beliau meletakkan kedua tangannya dengan
kuat pada kedua lututnya, kemudian meluruskan
punggungnya.”2 Dan hadis Abu Mas’ud, “Beliau
membuka jari-jarinya di atas lututnya..”3
2. Disunnahkan bagi orang yang rukuk meluruskan
punggungnya. Hal ini sebagaimana hadis Abu Humaid
as-Sa’idy radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, jika beliau rukuk, beliau meletakkan
kedua tangannya dengan kuat pada lututnya, kemudian
meluruskan punggungnya..”4
Begitupun disunnahkan untuk menjadikan kepalanya
sejajar dengan punggungnya, tidak mengangkatnya
15 Al Mughni: 1/568.
25 HR Bukhari: 828.
35 HR Ahmad: 17081, Abu Dawud: 863, An Nasa`i: 1038 dengan sanad hasan,
hadis ini juga memilik syahid dari hadis Wail bin Hujr dalam riwayat Ibnu Khu-
zaimah: 594.
45 HR Bukhari: 828.
95
Kedua,Waktu Fajar
dan tidak menundukkannya. Hal ini sebagaimana
hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam shahih Muslim, ia
berkata menginformasikan rukuk Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, “Jika beliau rukuk, beliau tidak mengangkat
dan menundukkan kepalanya, akan tetapi antara itu.”1
3. Disunnahkan bagi orang yang shalat ketika rukuk
merenggangkan kedua lengannya dari kedua sisi
tubuhnya. Hal ini berdasarkan hadis Abu Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu yang telah lalu, disebutkan padanya,
“Kemudian beliau rukuk, merenggangkan kedua
tangannya, meletakkan keduanya di atas kedua lututnya
dan membuka jari-jarinya.” Ia berkata, “Begitu aku
melihat Rasulullah shalat.”2
Mujaafaat: yaitu merenggangkan kedua tangan
disunnahkan jika tidak mengganggu orang yang ada
di sampingnya. Tidak seharusnya orang yang shalat
mengerjakan yang sunnah namun mengganggu orang
lain yang juga sedang shalat.
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Aku tidak
mengetahui adanya perselisihan dari seorang ulama
pun dalam hal kesunnahan mujaafaat. At-Tirmidzi
menukilkan dari para ulama tentang kesunnahannya
dalam rukuk dan sujud secara mutlak.”3
4. Disunnahkan membaca dzikir-dzikir rukuk. Disunnahkan
bagi orang yang rukuk membaca dzikir-dzikir yang lain
selain, “Subhaana rabbiyal ‘adziim.” (Mahasuci Rabbku
yang Mahaagung) Diantaranya:
15 HR Muslim: 498.
25 HR Ahmad: 17081, Abu dawud: 863, An Nasa`i: 1038.
35 Lihat: al Majmu’: 3/410.
96
Kedua,Waktu Fajar
A- “Subhaanakallaahumma rabbanaa wa bihamdika,Allahummagh-
fir lii.”1
(Mahasuci Engkau ya Allah, Tuhan kami dan dengan
pujian kepada-Mu, ya Allah, ampunilah untukku)
B- “Subbuuhun qudduusun rabbul malaa`ikati war-ruuh.”2
(Mahasuci dan Quddus Tuhan para malaikat dan ruh)
C- “Allahumma laka raka’tu, wa bika aamantu, wa laka aslamtu,
khasya’a laka sam’ii wa basharii wa mukhkhii wa ‘adzmii wa
‘ashabii.”3
(Ya Allah, hanya untuk-Mu aku ruku, kepada-Mu aku
beriman, untuk-Mu aku berserah diri, tunduk kepada-
Mu pendengaraku, penglihatanku, otakku, tulangku
dan sahabat-sahabatku)
D- “Subhaana dzil jabaruui wal walakuuti wal kibriyaa`I wal
‘adzamati.”4
(MahasuciAllah pemilik kebesaran, kerajaan, kesombongan
dan keagungan)
Disunnahkan untuk membaca dzikir-dzikir ini ketika
rukuk sesuai kemampuan. Disunnahkan untuk menga-
gungkan Allah ta’ala dalam rukuknya. Sebagaimana sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis Ibnu Abbas
radhiyallahu ‘anhu dalam shahih Muslim, “Adapun
rukuk, maka agungkanlah padanya Rabb azza wa jalla.”5
15 HR Bukhari: 794, Muslim: 484 dari hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha.
25 HR Muslim: 487 dari hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha.
35 HR Muslim: 771 dari hadis Ali radhiyallahu ‘anhu.
45 HR Ahmad: 23411, Abu Dawud: 873, An Nasa`i: 1050 dari hadis Auf bin Malik,
dinilai shahih oleh al Albani (Shahih Abu Dawud: 4/27)
55 HR Muslim: 479.
97
Kedua,Waktu Fajar
Yang lebih utama adalah membaca lafadz-lafadz yang
datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah
disebutkan.
Bangkit dari rukuk, disunnahkan hal-hal berikut
1. Memanjangkan rukun ini. Hal ini sebagaimana hadis
Tsabit al Bunani dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
“Sesungguhnya aku akan shalat bersama kalian
sebagaimana aku melihat Rasulullah shalat bersama
kami.” Ia berkata, “Anas selalu melakukan sesuatu
yang aku tidak pernah melihat kalian melakukannya.
Jika ia bangkit dari rukuk, ia tegak berdiri, hingga
orang mengatakan, ‘ia lupa’ dan jika beliau bangkit dari
sujud beliau diam hingga orang mengatakan, ‘ia lupa’.”1
2. Memvariasikan bacaan “rabbanaa wa lakal hamdu”
(Rabb kami, dan hanya milik-Mu pujian) dengan:
A- »«ال َلّ ُه َّم َر َّبنَا َولَ َك ا ْلَ ْم ُد
Allahumma rabbanaa wa lakal hamdu.2
(Ya Allah, Rabb kami, dan hanya milik-Mu pujian)
B- »«ال ّلَ ُه َّم َر َّب َنا لَ َك ا ْلَ ْم ُد
Allahumma rabbanaa lakal hamdu.3
(Ya Allah, Rabb kami, milikmu pujian)
C- »« َر َّبنَا َولَ َك ا ْلَ ْم ُد
Rabbanaa wa lakal hamdu.4
(Rabb kami, dan hanya milik-Mu pujian)
15 HR Bukhari: 821, Muslim: 372.
25 HR Bukhari: 795 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
35 HR Bukhari: 796, Muslim: 404 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
45 HR Bukhari: 799, Muslim: 411 dari hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha.
98
Kedua,Waktu Fajar
D- »« َر َّبنَا لَ َك ا ْلَ ْمد
Rabbanaa lakal hamdu.1
(Rabb kami, hanya milik-Mu pujian)
3. Disunnahkan membaca dzikir-dzikir bangkit dari
rukuk. Diantara yang disyariatkan untuk dibaca setelah
bangkit dari rukuk adalah:
E- م اْنللَّ َُه َّمْش ٍَءل،ِ ِم َوْ ُلكُّ ُءنَا َملَا َ ِكشئْ َع َبْت ٌد، ُد َو،َّْسأَ َماَح َوُّاق ِ َتما َوقَاال ََأل ْرا ِلْ َعضب،َوِمالْْلَم ُء ْجالِد ،ا ْلَ ْم ُد لَ َك « َر َّبنَا
الثَّنَا ِء أَ ْه ُل ،َب ْع ُد
» َو َل َينْ َف ُع َذا ا ْلَ ِّد ِمنْ َك ا ْلَ ُد، َو َل ُم ْع ِط َي لِ َما َم َن ْع َت،َمانِ َع لِ َما أَ ْع َطيْ َت
Rabbanaa lakal hamdu, mil`as-samaawaati wal ardhi, wa
mil`a maasyi`ta min syai`in ba’du, ahluts-tsanaa`i wal
majdi, ahaqqu maa qaalal ‘abdu, wa kullunaa laka ‘abdun,
Allahumma laa maani’a limaa a’thaita wa laa mu’thiya limaa
mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.2
(Rabb kami, milik-Mu segala pujian, sepenuh langi-
langit dan bumi, dan sepenuh apapun yang Engkau
kehendaki setelahnya, wahai Yang memiliki pujian
dan kedudukan, yang paling layak dikatakan oleh
hamba dan setiap kami adalah hamba-Mu. Ya Allah,
tidak ada yang mampu menghalangi siapa pun yang
Engkau beri dan tidak ada yang mampu memberi
siapapun yang Engkau cega, dan tidak bermanfaat
pemilik kedudukan dari-Mu kedudukan)
Hadisnya diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id
radhiyallahu ‘anhu.
F- »«ا ْلَ ْم ُد لل ِه َحْ ًدا َك ِثي ًرا َط ِّي ًبا ُمبَا َر ًك ِفي ِه
15 HR Bukhari: 722 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
25 HR Muslim: 377
99
Kedua,Waktu Fajar
Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi.
(Segala puji hanya milik Allah, pujian yang banyak, baik
dan diberkahi)
Nabi bersabda tentang bacaan ini, “Sungguh aku melihat
12 para malaikat berebut untuk mengangkatnya.”1
Hadisnya diriwayatkan oleh Muslim dari Anas dan
diriwayatkan dari Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu ‘anhuma.
G- س ِاخل»لَّ ُه َّم َط ِّه ْر ِن ِم َن ال ُّذنُو ِب،َ «َواال َّل ْلَُه َ َّطمايَ َاط ِّه َك ْر َمِان ُيبِنَاَّلثَّقلْا ِلجثَّ ْو َواُلْب َاَبلِد َأ ْب َوَيالْ ُ َماض ِء ِما َ ْن َلاالِْرَود
Allahumma thahhirnii bits-tsalji wal baradi wal maa`il baaridi,
Allahumma thahhirnii minadz-dzunuubi wal khathaayaa
kamaa yunaqqats-tsaubul abyadhu minal wasakh.2
(Ya Allah, sucikanlah diriku dengan air es, embun dan
air dingin. Ya Allah, sucikanlah diriku dari dosa dan
kesalahan, sebagaimana pakaian putih yang dibersihkan
dari kotoran)
Tambahan ini datang dalam hadis Abdullah bin Abi
Aufaa radhiyallahu ‘anhu dalam shahih Muslim.
Jika seorang muslim membaca dzikir-dzikir ini, ia
dapat memperpanjang rukun shalat ini.
Sujud, disunnahkan hal-hal berikut
1. Disunnahkan untuk merenggangkan kedua lengan
dari kedua sisi tubuh, dan merenggangkan perutnya
dari kedua pahanya.
Hal ini sebagaimana hadis Abdullah bin Buhainah
radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
jika beliau shalat beliau merenggangkan kedua tangannya,
15 HR Muslim: 600, Bukhari: 799.
25 HR Muslim: 476.
100