The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kitab Omong Kosong (Seno Gumira Ajidarma) (

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-08-17 17:56:56

Kitab Omong Kosong

Kitab Omong Kosong (Seno Gumira Ajidarma) (

http://pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.com

Kitab
Omong Kosong

http://pustaka-indo.blogspot.com

Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian
atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

http://pustaka-indo.blogspot.com Kitab
Omong Kosong

Seno Gumira Ajidarma

http://pustaka-indo.blogspot.com KITAB OMONG KOSONG

Karya Seno Gumira Ajidarma

Pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Koran Tempo pada Senin, 2 April 2001
hingga Rabu, 10 Oktober 2001, dengan judul Rama-Sinta.

Cetakan Pertama Edisi I, Juli 2004
Cetakan Pertama Edisi II, Maret 2006
Cetakan Pertama Edisi III, Mei 2013

Perancang sampul: Danarto
Ilustrasi: Danarto
Pemeriksa aksara: Tim Bentang
Penata aksara: Adfina Fahd

Diterbitkan oleh Penerbit Bentang
(PT Bentang Pustaka)
Anggota Ikapi
Jln. Kalimantan G-9A, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta 55204
Telp./Faks. (0274) 886010
Email: [email protected]
http://bentang.mizan.com

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Seno Gumira Ajidarma

Kitab Omong Kosong/Seno Gumira Ajidarma.—Ed. 3, cet. 1.—Yogyakarta: Bentang,
2013.

x + 446 hlm.; 23,5 cm.

ISBN 978-602-7888-33-3

I. Judul.

813

Didistribusikan oleh:
Mizan Media Utama
Jln. Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146
Ujungberung, Bandung 40294
Telp. (022) 7815500 – Faks. (022) 7834244
Email: [email protected]

Perwakilan:  Jakarta: Jln. Jagakarsa No. 40, Jakarta Selatan, Telp.: 021-7874455, Faks.: 021-7864272
 Surabaya: Jln. Karah Agung 3–5, Surabaya, Telp.: 031-8281857, 031-60050079, Faks.: 031-8289318 
Pekanbaru: Jln. Dahlia No. 49, Sukajadi, Pekanbaru, Telp.: 0761-20716, 0761-29811, Faks.: 0761-20716
 Medan: Jln. Amaliun No. 45, Medan, Telp./Faks.: 061-7360841  Makassar: Jln. Beruang No. 70,
Makassar, Telp./Faks.: 0411-873655  Yogyakarta: Jln. Kaliurang Km. 6,3 No. 58, Yogyakarta, Telp.: 0274-
885485, Faks.: 0274-885527  Banjarmasin: Jln. Gatot Subroto Jalur 11, RT 26, No. 48, Banjarmasin,
Telp./Faks.: 0511-3252178

Toko:  Mizan Bookstore: D’Mall Lt. 2, Jln. Margonda Raya Kav. 88, Depok  Mizan Online Bookstore:
www.mizan.com

http://pustaka-indo.blogspot.com Burung-burung berkicau
seperti para ahli

berdebat mencari kebenaran

Mpu Tanakung
dalam Siwaratrikalpa

(1466/1478)

http://pustaka-indo.blogspot.com

vi — Kitab Omong Kosong

http://pustaka-indo.blogspot.com Daftar Isi

I Persembahan KuDa ....................................... 1

1: Kuda yang Berlari • 5
2: Perempuan Mengandung yang Tersaruk-saruk • 14
3: Gelembung Rahwana • 23
4: Tulisan Walmiki • 32
5: Seperti Laron Mendekati Api • 45

6: Lawa dan Kusa Menembangkan Ramayana • 56
7: Moksa • 65

II PerJaLanan maneKa ..................................... 73

8: Rajah Pembawa Petaka • 75
9: Para Pengungsi • 89
10: Jataka-Mala • 98
11: Jejak Walmiki • 106
12: Siwaratrikalpa • 115
13: Malaikat Berebut Sukma • 123
14: Menempuh Jalan Pos • 132
15: Tentang Sebuah Kitab • 140
16: Kisah Cupu Terlarang • 148
17: Bidadari Main Biola • 156
18: Meditasi Cahaya • 165
19: Hanuman Belajar Terbang • 173
20: Labirin Durjana Alengka • 181

http://pustaka-indo.blogspot.com viii — Kitab Omong Kosong

21: Cincin Emas 22 Karat • 189
22: Hanuman Membakar Alengka • 198
23: Trijata dan Dua Hanuman • 207
24: Bandit-Bandit Gurun har • 215
25: Hanuman Membuat Totem • 223
26: Kisah Satya • 231
27: Bubukshah dan Gagang Aking • 239
28: Hanuman dan Konser Empat Musim • 251
29: Walmiki di Pasar • 260
30: Cahaya Mengusap Tepian Mega • 268

III KItab OmOng KOsOng .................................... 277

31: Bertemu Hanuman • 279
32: Dunia Seperti Adanya Dunia • 288
33: Sungai Tubuh Mengalir ke Lautan Jiwa • 296
34: Sapi Benggala • 305
35: Walmiki Berlayar • 314
36: Dunia Seperti Dipandang Manusia • 322
37: Talamariam • 330
38: Berbincang tentang Pohon • 338
39: Kapimoda • 347
40: Hanuman di Rumah Pemulung • 355
41: Tokoh-Tokoh Mencari Walmiki • 364
42: Dunia yang Tidak Ada • 373
43: Walmiki dan Tukang Pijat • 380
44: Lelaki Beserban dan Ular Kobra • 390
45: Kandungan Tiga Titisan • 398
46: Lembah Pintu Naga • 407
47: Mengadakan Dunia • 415
48: Kepergian Walmiki • 423
49: Kitab Keheningan • 430
50: Hanuman Seda • 439
51: Akhir Sebuah Cerita • 441
52: Pengakuan Togog • 442

sekadar bacaan

http://pustaka-indo.blogspot.com

http://pustaka-indo.blogspot.com

x — Kitab Omong Kosong

http://pustaka-indo.blogspot.com

Persembahan Kuda

http://pustaka-indo.blogspot.com

2 — Kitab Omong Kosong

http://pustaka-indo.blogspot.com Pada punggung terbuka pelacur yang tidur tengkurap itu,
terdapatlah lukisan rajah seekor kuda yang berlari.
Suatu malam kuda itu melompat lewat jendela,
berlari ke luar kota, menuju padang terbuka.

http://pustaka-indo.blogspot.com

4 — Kitab Omong Kosong

http://pustaka-indo.blogspot.com 1

Kuda yang berlari

D ari atas bukit, anak-anak itu melihat seekor kuda putih berlari
melintas padang rumput. Dalam terpaan matahari, kuda putih itu
seperti cahaya putih yang meluncur di atas lautan padang rumput
yang terbentang bagai tiada habisnya sampai ke cakrawala. Kuda putih itu
berlari dengan kecepatan terbang membelah kesunyian padang bagaikan
berlomba dengan angin. Kaki-kakinya yang tegap menderap begitu cepat
sehingga kelihatan seperti baling-baling. Surainya yang indah menggelom-
bang perlahan bagai tarian. Kuda itu menderap melebihi kecepatan angin.

“Lihat! Ada kuda!”
“Kuda! Kuda!”
Dari atas bukit anak-anak itu bisa melihat bahwa cahaya putih yang
meluncur di padang rumput membentang itu adalah seekor kuda.
“Itu kuda putih.”
Mereka memerhatikan bagaimana kuda itu berlari dengan indah. Di
mata anak-anak yang setiap hari pergi menggembalakan kambing, bercakap
dengan daun-daun dan sengaja mendengarkan sungai bernyanyi, laju kuda
itu bisa dicermati begitu rupa seolah kuda itu bergerak begitu lamban
bagaikan tarian yang terjaga. Mereka memerhatikan kuda itu dengan
bertanya-tanya. Kuda bukanlah binatang yang asing bagi mereka, begitu
pula kuda yang berlari lepas di padang-padang terbuka. Namun laju kuda
ini bukanlah laju kuda biasa—bukan hanya karena lebih cepat, namun
mengapakah seekor kuda harus berlari secepat itu?

http://pustaka-indo.blogspot.com 6 — Kitab Omong Kosong

Kuda itu berlari ke arah desa mereka. Apakah orang-orang akan me-
nangkapnya? Satya melihat kesibukan yang luar biasa di gerbang desa.
Orang-orang berlarian membawa tombak, bambu runcing, pentungan kayu,
bahkan juga alu. Apakah yang akan mereka lakukan? Apakah mereka akan
membunuh kuda gagah perkasa yang melaju dengan kecepatan angin itu?
Tapi untuk apa membunuh kuda indah yang tidak bersalah?

“Apa yang mereka lakukan?” Satya bertanya.
Tak ada satu anak pun bisa menjawabnya. Seingat Satya tidak ada
sesuatu yang istimewa belakangan ini yang harus mereka perhatikan, se-
perti misalnya jika orang-orang desa harus melakukan upacara. Kalau ada
sesuatu yang harus diketahuinya, anak-anak akan mendapat penjelasan
dari orangtuanya. Tapi itu pun tidak ada. Jadi, tentu ada sesuatu yang sa-
ngat mendadak, sehingga semua orang berlarian kalang kabut seperti itu,
membawa tombak, bambu runcing, pentungan kayu, dan bahkan alu, dan
sekarang menutup gerbang desa yang cuma setinggi pinggang itu pula.
Satya hanya teringat beberapa hari lalu, seorang punggawa berkuda
datang dari ibukota, lantas pergi lagi. Namun itu pun tak jelas maknanya.
Setelah punggawa itu pergi, Satya tahu ayahnya dipanggil kepala desa
ke kelurahan. Satya kini teringat kembali betapa sepulangnya ke rumah,
ayahnya tak banyak berkata-kata. Ayahnya adalah seorang jagabaya yang
wajib menjaga keamanan desa. Kepala desa sering memanggilnya untuk
urusan-urusan keamanan, dan ayahnya selalu bertugas dengan baik. Di
bawah pimpinan ayahnya, para jagabaya desa selalu bisa menangkap para
perampok dan mengatasi para penjarah, sehingga desa tempat Satya ting-
gal dikenal sebagai desa yang aman. Dalam beberapa tahun terakhir ini,
bahkan desa mereka yang terletak di tepi padang rumput luas itu menjadi
tempat tetirah para punggawa Kerajaan Mantura. Bahkan sang raja pernah
pula tetirah di sana, mencari ketenangan di punggung-punggung bukit,
menikmati keluasan alam raya.
Maka apakah yang terjadi kini ketika dilihatnya orang-orang tampak
siaga? Apakah mereka akan menangkap atau membunuh kuda itu? Kuda
yang berlari melebihi kecepatan angin itu segera mendekati desa. Satya
merasa ngeri membayangkan bagaimana kuda putih itu akan menjadi
berdarah. Dilihatnya kuda itu mendekat, mendekat, dan mendekat. Sa-

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 7

tya melihat ayahnya mengangkat tangan, tanda agar orang-orang tidak
menggunakan senjatanya. Kuda itu sudah sangat dekat.

Ternyata kuda itu mereka biarkan saja, dan kuda itu tetap berlari
melewati mereka, melompati pintu gerbang, dan berderap memasuki desa.
Dengan segera kuda itu melesat keluar desa lagi, berlari lepas ke padang
rumput melanjutkan perjalanannya.

“Aneh, mengapa mereka tidak menangkapnya,” pikir Satya.
Orang-orang desa biasa menangkap kuda liar dan menjinakkannya.
Kuda liar yang luar biasa seperti ini tentu tidak akan didiamkan saja. Apalagi
dengan banyak orang berkumpul seperti itu. Namun rupanya orang-orang
menanti sesuatu yang lain.
“Satya! Lihat!”
Satya menoleh, dan dadanya berdegup keras. Bumi bergetar ketika
dari balik bukit itu muncul balatentara berkuda yang luar biasa banyak-
nya. Balatentara berkuda itu menderap memenuhi padang rumput, melaju
dengan cepat menuju ke desanya. Satya terkesiap. Orang-orang desa yang
cuma segelintir itu tampak bersiap. Apakah mereka akan berperang? Jum-
lah mereka tidak lebih dari seratus orang. Bagaimana mungkin menghadapi
balatentara berkuda yang jumlahnya sejuta orang? Dari seratus orang
desanya itu, yang merupakan jagabaya cuma dua belas orang di bawah
pimpinan ayahnya. Satya melihat sebagian kaum perempuan membantu
orang-orang yang mencoba bertahan itu, dengan membawa pisau. Sebagi-
an lain terlihat membawa lari anak-anak dan orang tua ke atas bukit di
selatan desa. Satya dan kawan-kawannya terpana. Balatentara berkuda itu
terlihat membawa panji dan umbul-umbul.
“Pasukan Ayodya,” ujar teman Satya.
Mereka melihat balatentara yang mahadahsyat itu. Sejuta pasukan
berkuda melaju ke desa mereka dan tidak ada tanda-tanda menghentikan
kecepatannya. Satya berlari meninggalkan kambing-kambingnya.
“Bapaaakkkk!!!”
Satya berlari menuruni bukit, kawan-kawannya menyusul. Namun apa
yang bisa mereka lakukan? Balatentara yang membuat bumi bergetar itu
menyapu para jagabaya dan penduduk desa bagaikan air bah. Orang-orang
itu mati dilindas kaki-kaki kuda tanpa sempat berteriak lagi, yang masih

http://pustaka-indo.blogspot.com 8 — Kitab Omong Kosong

berdiri dihunjam sekian banyak tombak begitu rupa sehingga tubuhnya
terpancang tidak menyentuh bumi. Sejuta pasukan kuda yang perkasa
masuk desa, memburu siapa pun yang masih berlarian dengan panah,
tombak, maupun kelewang. Tanpa ampun desa itu dibakar. Rumah-rumah
diambrukkan, patung-patung dilempar ke dalam api, tempat pemujaan
dihancurkan, segalanya dilenyapkan sampai tidak ada lagi yang tersisa.
Sapi, kambing, anjing, kucing, dan ayam pun dimusnahkan. Ketika desa
itu mereka tinggalkan, semuanya sudah rata dengan tanah.

Di luar desa tampaklah kaum perempuan yang berlari mendaki bukit
menyelamatkan orang-orang tua dan kanak-kanak, itu pun masih mereka
buru tanpa mengurangi kecepatan.

“Ibuuu!!!”
Balatentara sejuta pasukan berkuda itu mengalir bagaikan banjir ban-
dang melumatkan persawahan, melenyapkan apa pun yang dilewatinya.
Sisa penduduk yang berlarian itu tewas terkapar digilas pasukan berkuda,
dengan luka dan pukulan yang bagai dipastikan harus mematikan. Tiada
seorang prajurit pun dari sejuta pasukan berkuda itu melihat Satya, karena
seolah-olah mereka hanya membabat dan membantai apa pun yang meng-
halangi laju pasukan di depan.

dua wanita meniup seruling
sambil berlayar di sungai darah
lagu seruling diterbangkan angin
menjelma sepasang burung branjangan, o!

Kepada setiap negara di seluruh anak benua telah dimaklumatkan
suatu keputusan: Ayodya melaksanakan Persembahan Kuda. Tiada cara
lain yang lebih kejam dari ini untuk menghancurkan dan menjarah rayah
negara-negara lain yang lebih lemah, karena jengkal tanah mana pun di ne-
geri mana pun yang dilewati kuda itu harus takluk, tunduk, dan menyerah
kepada Ayodya. Jika tidak maka balatentara sejuta prajurit berkuda Ayodya
yang perkasa itu akan menghancurkannya. Lagi pula, di antara segenap
negara di anak benua, negara manakah yang bisa menahan laju Ayodya?
Tiada negara yang akan bisa lebih kuat dari sebuah negara yang dipimpin
Rama, ksatria penakluk Rahwana yang sudah berabad-abad tiada pernah

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 9

terkalahkan. Bagaimana mungkin menang melawannya? Bagaimana mung-
kin bahkan hanya untuk mengimbanginya?

Inilah balatentara mahadahsyat di seluruh anak benua yang dipim-
pin oleh ksatria perkasa Laksmana. Bahkan seandainya Laksmana hanya
sendirian saja di atas kereta kencananya itu pun belum tentu ada sebuah
negara bisa menghalanginya. Panah-panahnya yang ganas siap berubah
menjadi sejuta dan setiap anak panahnya itu bisa dipastikan pula akan
mencabut nyawa. Bagaimana mungkin sebuah negara akan menghalangi
balatentara ini bahkan seandainya raja-raja seribu negara bergabung jadi
satu, jika setiap saat Ayodya masih akan bisa dibantu dua sekutunya yang
mahakuat dan mahaperkasa, siapa lagi jika bukan Raja Wibisana dari Aleng-
ka dengan pasukan raksasanya maupun Raja Sugriwa dari Goa Kiskenda
dengan balatentara wanaranya yang menggetarkan.

Bagaimanakah bencana ini bisa dibendung? Bahkan jika suatu keajaib-
an bisa menahan laju balatentara ini, mungkinkah balatentera gabungan
seribu negara sekalipun menahan amarah dan kebuasan para panglima
Goa Kiskenda yang luar biasa? Hamongga Si Kepala Macan, Kapisraba Si
Kepala Buaya, Cucakrawa Si Kepala Burung, Harimenda Si Kepala Kam-
bing, Hanila Si Wanara Ungu, Hanggada Si Wanara Kelabu telah terkenal
sebagai penyebar maut. Bahkan seandainya mereka semua bisa dikalahkan,
o siapakah yang akan bisa menahan badai gempuran Sang Hanuman? Di
seluruh anak benua, bukankah mustahil menahan kemarahan Sri Rama
titisan Wisnu, dewa penghancur itu sendiri?

Dewa-dewa boleh mahasakti, namun manusia ternyata luar biasa.
Negara-negara yang tidak mempunyai kehormatan menaikkan bendera
putih di gerbang perbatasannya, tetapi negara-negara yang mempunyai
kehormatan mengangkat senjata. Maka berlangsunglah bencana Persem-
bahan Kuda, sebuah upacara untuk dewa-dewa atas nama perdamaian
yang menginjak-injak hak asasi manusia. Balatentara yang tak terlawan
ini mendapatkan perlawanan di mana-mana. Bagaikan air bah laju sejuta
kuda itu menderap dari negeri satu ke negeri lain bagaikan tanpa berhenti.
Mereka bagaikan tidak pernah istirahat menebarkan bencana, dan kuda
putih itu tak pernah berhenti berlari dari negeri satu ke negeri lain. Berita
dengan cepat tersebar betapa balatentara Ayodya membawa bencana di
mana-mana, sebelum sampai Mantura, mereka telah membumihanguskan

http://pustaka-indo.blogspot.com 10 — Kitab Omong Kosong

Matsya, menghancurkan Kasi, dan meski mendapat perlawanan berat di
Magada, negeri yang terkenal dengan pasukan gajahnya itu mereka mus-
nahkan pula.

Dalam waktu singkat nama Sri Rama yang sebelumnya begitu harum,
sebagai penakluk negeri Alengka, berubah menjadi nama yang sangat mena-
kutkan. Dari Magada, balatentara Ayodya terus menyapu negeri-negeri
Angga, Campa, Mantura, dan Bangga bahkan sampai ke tepi pantai. Kota
Malini yang cantik berubah menjadi lautan api karena mengadakan per-
lawanan. Pasukan berkuda Ayodya memburu orang-orang yang terdesak
sampai ke tepi pantai. Di sanalah berlangsung pembantaian yang kejam.
Orang-orang yang sudah menyerah, mengangkat tangan dengan separuh
tubuhnya di dalam laut, tetap dibunuh tanpa ampun sehingga pantai itu
penuh dengan mayat bergelimpangan.

Di bawah langit senja yang kemerah-merahan, balatentara Ayodya
menyusuri pantai sampai ke Kalingga, dari pantai mereka menyerbu pe-
dalaman dan menghancurkan setiap kota yang ditemuinya. Mereka tidak
perlu menuju Pandya, karena negeri itu sudah menyerah. Di seberang
Pandya terletaklah Alengka, sekutu Ayodya, maka balatentara perkasa itu
kini mengancam wilayah Pegunungan Daksinapata di mana terdapat ne-
geri-negeri Widarba dan Gandawana. Kedua negeri ini tidak sudi menyerah.
Di mana-mana rakyat mengadakan perlawanan, mereka mencegat bala-
tentara Ayodya di hutan dan perbukitan. Pasukan berkuda yang besar itu
terhambat lajunya. Di hutan dan perbukitan, sulit sekali mereka bergerak.
Pasukan gerilya Widarba dan Gandawana telah lama melatih diri dalam
pertempuran di dalam hutan. Dengan senjata sumpitan beracun mereka
bergerak di atas pohon. Korban berjatuhan di pihak Ayodya.

Balatentara yang begitu terlatih dalam gelar perang di padang-padang
terbuka itu bagaikan mendadak tak berguna. Pasukan kuda yang banyak itu
saling berdesak di antara pepohonan. Dalam kegemparan, banyak pula dari
antaranya terperosok ke jurang. Ringkik kuda dan jerit memilukan meng-
gaung dari dasar jurang yang gelap. Sementara sumpit beracun dari atas
pohon bersuit-suit seperti hujan jarum. Balatentara sejuta manusia itu jadi
makanan empuk. Manusia dan kuda bergelimpangan saling berdesakan.
Banyak di antaranya hanya bisa bersembunyi di bawah tumpukan mayat
yang mengenaskan. Mereka yang mencoba naik pohon dengan mudah

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 11

dirontokkan. Pasukan Widarba dan Gandawana tidak pernah kelihatan.
Mereka bergerak seperti manusia pohon, berayun-ayun seperti orangutan,
sambil melepaskan sumpit mautnya ke mana-mana. Mayat manusia dan
bangkai kuda berkaparan penuh jarum beracun yang mematikan dalam satu
detik saja. Astaga. Sampai di sini sajakah laju menderu balatentara Ayodya?
Ketika malam tiba, tak kurang 20.000 prajurit Ayodya bersama kudanya
telah ditewaskan, dan tidak seorang pun dari pihak lawan menjadi korban.

Panglima Laksmana yang kereta perangnya tak berguna dan panah-
panahnya tak bermanfaat di dalam hutan telah menjadi murka. Ia tarik
mundur pasukannya keluar dari hutan. Jumlah balatentaranya yang masih
besar diperintahkannya mengelilingi bukit. Lantas dikirimnya utusan ke
Goa Kiskenda, meminta bantuan balatentara wanara, dan betapa sebuah
pembalasan bisa begitu mengerikan. Di bawah pimpinan Raja Sugriwa
sendiri, perlawanan Widarba dan Gandawana dihancurkan. Di dalam
rimba, tiada yang lebih perkasa ketimbang para wanara. Di atas pohon
mereka menyergap beribu-ribu penyumpit gelap, dan membantingnya
ke bawah, di mana orang-orang Ayodya telah menunggu dengan tetak
kelewang yang kejam.

Bisakah dibayangkan betapa mengerikannya lima juta wanara yang
menjerit-jerit di dalam hutan sembari mengamuk dan merobek-robek de-
ngan buas? Setiap kali Raja Sugriwa menjerit, lima juta wanara ikut menjerit,
sehingga bahkan suaranya saja bagaikan sudah cukup untuk menghentikan
detak jantung. Dengan ganas dan buas lima juta wanara itu menemplok,
mencakar, dan menggigit, lantas membanting pasukan pohon Widarba dan
Gandawana. Pasukan yang lari berayun dengan akar pohon dikejar dari se-
gala penjuru. Tiada seorang pun sempat mengangkat sumpitnya. Serangan
kilat pasukan wanara begitu tiba-tiba, mengejutkan, dan mematikan. Dalam
satu hari saja 200.000 prajurit dari kedua negara itu ditewaskan.

angin padang yang meronta, o
membawa bau darah nan amis
rintihan tangis seribu janda
anak sungai tersiram gerimis
malam yang kelam,
malam yang terlalu hitam, o!

http://pustaka-indo.blogspot.com 12 — Kitab Omong Kosong

Kuda putih itu masih berlari di bawah cahaya rembulan. Kematian berju-
ta-juta orang yang tidak bersalah tiada pernah mengendurkan semangat
Laksmana untuk menguasai wilayah mana pun yang dilewati kuda putih
itu. Kuda itu melaju bagaikan tahu betul peta bumi anak benua. Setelah
keluasan wilayah Widarba dan Gandawana tertaklukkan, kuda itu melaju
ke utara, diiringi 980.000 prajurit berkuda yang menghancurkan setiap
wilayah yang dilaluinya. Korban yang jatuh di pihak Ayodya agaknya
membangkitkan amarah Laksmana. Kini panglima itu tidak menunggu
bendera putih tanda menyerah. Pada malam hari ketika semua orang ter-
tidur, balatentara Ayodya terus melaju menggebu, memorak-porandakan
desa dan kota mana pun yang dilewati dalam perjalanan. Mahismali dan
Mahismati, Bojakata, Dasarna, dan seluruh wilayah Windya dijarahnya.
Bumi hangus di setiap jejak perjalanannya, asap mengepul ke langit, me-
ga-mega merah terbakar. Balatentara melaju menuju Salwa, lantas turun
ke padang-padang Pratici. Kaki-kaki kuda terus-menerus berlari membawa
para pembunuh di atasnya.

Raja Sugriwa tak ikut lagi dan kembali ke Goa Kiskenda. Tak akan ada
lagi lawan yang tangguh di seluruh anak benua, namun Laksmana tetap
menghancurkan setiap kota yang dilaluinya. Segenap perlawanan dilaku-
kan, tapi selalu sia-sia. Pria, wanita, tua, muda, dan anak-anak, semuanya
melawan balatentara yang jaya itu. Lelaki mencegat dengan tombak, pa-
rang, alu, dan senjata apa saja setelah tentara mereka dikalahkan di luar
kota. Di dalam kota, pasukan Ayodya menyerbu dengan panah-panah
api yang dilesatkan ke atap-atap rumah. Perempuan dan anak-anak pun
melawan, dari jendela dan loteng mereka melemparkan batu, membidik
dengan katapel, atau menyiramkan air panas. Perlawanan dilakukan sampai
titik darah penghabisan.

Tiada yang lebih kejam dan lebih menghina kehormatan selain
Persembahan Kuda.

Raja yang Terhormat,
Bersama surat ini saya beri tahukan, saya Sri Rama, raja yang berku-

asa di Ayodya, mengadakan Persembahan Kuda. Kerajaan mana pun yang
dilewati kuda putih yang kami lepaskan pada malam bulan sabit setelah
surat ini disampaikan, harus tunduk kepada kami atas nama perdamaian.

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 13

Barangsiapa tidak tunduk kami anggap menentang perdamaian, dan ba-
latentara Ayodya akan memeranginya. Kami akan menjamin kekuasaan
raja setempat yang menyerah, namun kami tidak akan memberi ampun
siapa pun yang menentang kami. Tujuan Persembahan Kuda ini adalah
mempersatukan bangsa-bangsa anak benua dalam perdamaian.

Kami membawa perdamaian, kami membawa peperangan, Baginda
Raja yang Terhormat boleh memilih salah satunya.

Demikianlah surat ini.

Sri Rama

Surat semacam inilah yang disebarkan kedelapan penjuru angin dan
menimbulkan amarah semua orang. Tiada akan pernah terkira bahwa
surat semacam ini bisa ditulis oleh seorang raja seperti Rama. Apakah
yang telah terjadi?

menulis surat cinta di atas daun
rembulan biru terbenam di kolam
orang kebiri mengolah mentega
seribu kuda terbang di awan, o!

Ketika gemuruh balatentara berkuda Ayodya masih terus mengge-
tarkan kota-kota di bagian utara anak benua, di tepi sebuah sungai yang
jernih Satya dan kawan-kawannya membakar jenazah para kerabat mereka.

Di tepi sungai itu mereka memandang api yang menjilat-jilat ke udara.
Di mata mereka hanya terlihat duka. Apakah yang bisa dilakukan anak-
anak di sebuah desa yang telah rata dengan tanah? Kambing-kambing
mengembik. Satya memandangnya dengan mata kosong. Di angkasa, langit
menjadi hitam karena burung-burung pemakan bangkai beterbangan di
seluruh anak benua. 

http://pustaka-indo.blogspot.com 2

Perempuan mengandung
yang tersaruk-saruk

E mpat belas tahun sebelum Rama menyebarkan bencana ke seluruh
anak benua, seorang perempuan yang sedang mengandung berjalan
tersaruk-saruk di rimba Dandaka. Bisakah dibayangkan betapa
berat perjalanannya? Kandungan perempuan itu berumur dua bulan dan
rasanya betapa besar untuk sebuah kandungan berumur dua bulan dan
betapa meletihkannya kandungan itu pada bulan-bulan pertama, sehing-
ga o apakah sebabnya seorang perempuan ningrat yang begitu halus dan
begitu langsat kuningnya, yang begitu kuning memutih dan begitu putih
menguning dengan harum yang anggun seanggun-anggun putri istana o
betapa bisa seorang perempuan yang kaki mungilnya tak layak menyentuh
tanah berada di dalam rimba raya penuh siluman? Putri istana manakah
itu yang berjalan tersaruk-saruk di dalam rimba yang bahkan jalan setapak
pun tak punya? Betapa tak terbayangkan beratnya berjalan di dalam rimba
bagi putri istana yang sedang mengandung seperti itu.

Batang-batang pohon yang tumbang sungguh begitu besar sehingga
mustahil bagi perempuan itu untuk melangkahinya, lagi pula bagaimana
mungkin seorang perempuan yang berjalan tersaruk-saruk dan menge-
nakan kain dengan bahu terbuka seperti itu bisa melangkahi batang
pohon tumbang bahkan yang tidak terlalu besar sekalipun? Jangankan
batang pohon yang tumbang sedangkan tanpa itu pun betapa penuhnya
rimba raya itu dengan semak-semak berduri. Betapa sayang bahu terbuka
yang mulus dan kuning itu yang kini mulai tergores-gores duri menjadi

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 15

garis-garis merah tipis yang meskipun tipis sungguh kentara di atas kulit
indah bidadari yang sungguh tidak bisa dimengerti bagaimana mungkin
bisa berjalan sendirian saja dengan tersaruk-saruk di dalam rimba raya
angker dan sangar seperti ini. Dengan susah payah ia berjalan menembus
semak, kalau ada pohon tumbang ia memutar, setelah memutar jalan bisa
menurun, ketika menurun ia harus berjalan pelan sembari berpegangan
pada dahan dan ranting, sebab rumput entah kenapa hampir selalu licin.
Sampai di bawah tiada jalan lain selain mendaki. O, betapa beratnya per-
jalanan di dalam rimba.

Dari hari ke hari, dari malam ke malam, perempuan itu berjalan ter-
saruk-saruk kadangkala bahkan merangkak-rangkak dan merayap-rayap.
Tubuhnya dari saat ke saat tambah kurus karena ia tak pernah menemu-
kan makanan dalam arti yang sebenarnya. Dimakannya sembarang daun
sekadar mengisi perutnya yang kelaparan. Ia berjalan begitu lambat dan
tampaknya tanpa arah saja barangkali cuma berputar-putar di dalam rimba.
Siluman-siluman rimba yang tidak kelihatan oleh mata manusia biasa me-
merhatikannya tanpa pernah bisa mengerti. Rambut panjang perempuan
itu yang semula begitu hitam bergelombang dan panjang kini telah menjadi
gimbal. Berbagai serangga bahkan bersarang dan bertelur di dalamnya.
Kandungannya tampak semakin besar menggantung di tubuhnya yang ku-
rus. Betapakah tidak akan kurang gizi anak yang dikandungnya? Ia hanya
makan sembarang daun dan akar-akaran. Ia tidur di mana pun ia kelelahan
tanpa memilih-milih tempat. Kainnya selalu basah karena rimba raya ini
sungguh begitu lembap. Bila hujan turun ia tetap saja berjalan tersaruk-saruk
begitu rupa. Perempuan yang sesungguhnya begitu cantik begitu indah dan
begitu penuh dengan pesona ini telah menjadi makhluk yang mengenaskan.

Para siluman yang tidak pernah kelihatan oleh mata biasa dan tidak
mungkin terdengar oleh telinga awam membicarakannya.

“Coba lihat manusia perempuan itu, bentuknya semakin lama semakin
buruk, lama-lama ia bisa seburuk siluman.”

“Huss! Bangsa sendiri kok dihina!”
“Aku tidak menghina, siluman memang buruk rupa kan? Coba lihat,
aku bertanduk, hidung seperti belalai, kalau bersuara seperti macan batuk.”
“Itu karena kamu melihat siluman dengan mata manusia, kalau de-
ngan mata siluman, kita ini cantik-cantik saja kok!”

http://pustaka-indo.blogspot.com 16 — Kitab Omong Kosong

“Lho, aku ini siluman, jadi aku bicara sebagai siluman!”
“Iya, tapi siluman yang sudah terpengaruh manusia!”
“Tidak mungkin, manusia tidak bisa melihat siluman!”
“Kalau begitu, kamu mestinya melihat manusia itu makhluk lain dong!
Makhluk aneh yang berbeda dengan kita!”
“Hei dengar siluman goblok! Aku memang siluman, tapi aku mengerti
manusia!”
“Hahahaha! Mengerti manusia? Apa yang kamu mengerti tentang
manusia?”
Siluman bertanduk yang hidungnya seperti belalai gajah itu menunjuk
perempuan yang berjalan tersaruk-saruk.
“Manusia adalah makhluk yang kejam,” katanya.
“Kamu tahu riwayat manusia perempuan itu?”
Siluman itu mengangguk.
“Coba ceritakan.”
“Tidak perlu, kau dengar sendiri saja kata-kata perempuan itu.”
Para siluman mendekati perempuan itu, yang sambil merangkak-
rangkak mengeluh pelan tertahan-tahan.
“O dewa, dewa, jagad dewa batara, bagaimana mungkin aku harus
merasakan semua penderitaan ini o dewa! Tubuh hancur, hati tersayat,
kandungan telantar, perut lapar tak tertahankan! Dewa, o dewa, siapa di
antara kalian yang merasa begitu hebat sehingga bisa menentukan nasib
manusia? Menentukan siapa yang bahagia dan siapa yang tidak bahagia!
O dewa, betapa kuasa kalian membuat rancangan sejarah manusia, me-
nentukan siapa yang menderita dan siapa yang tidak menderita, siapa
kalah dan siapa menang, siapa jahat dan siapa yang mulia! Kekuasaan
dari manakah itu o dewa, sehingga bisa menentukan jalan ceritaku yang
berkepanjangan penuh derita berlarat-larat? Apa yang membuat kalian
begitu berkuasa sehingga merasa begitu berhak untuk menentukan betapa
hidupku harus menderita? Dewa o dewa! Betapa ingin aku menolak keku-
asaanmu! Kamu tidak mempunyai hak untuk mengatur hidupku! Meskipun
tubuhku hancur, hatiku tersayat, dan perutku lapar, aku sendirilah yang
telah memilih jalanku!”
Siluman-siluman saling berbisik.
“Manusia perempuan ini sudah gila!”

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 17

“Ssstt! Jangan berisik!”
Perempuan itu masih merangkak-rangkak.
“Tidak juga Rama, titisan Batara Wisnu yang mahaperkasa dan maha
menghancurkan itu bisa menentukan nasibku. Sungguh tiada pernah
kukira betapa ksatria Ayodya yang kukira begitu lembut dan begitu mulia
ternyata begitu rendah diri sebagai manusia. O lelaki mana kiranya yang
tidak bisa disebut rendah diri jika tiada pernah percaya betapa suci istrinya
meski istrinya itu sudah begitu setia dalam cengkeraman Rahwana yang
kaya raya? Rama telah membakar aku dalam api unggun raksasa yang nyala
apinya memerahkan langit demi kepercayaan dirinya maupun orang-orang
Ayodya. Mengapa begitu penting bagi Rama untuk meyakinkan orang-
orang Ayodya bahwa Rahwana sungguh-sungguh tiada pernah menyentuh
apalagi menjamahku? Kalau dia memang cinta kepadaku, mengapa dia
tidak terima saja aku apa adanya, meski seandainya Rahwana telah me-
merkosa diriku? Kalau dia memang cinta kepadaku, bahkan jika aku telah
berbuat seperti seorang pelacur kepada Rahwana, yang menyerahkan tubuh
demi keselamatanku, tak juga Rama harus menimbang-nimbang diriku.
Cinta adalah cinta. Terimalah aku seperti apa adanya.
“Apakah cinta bagi Rama memerlukan syarat? Apakah cinta bagi
Rama yang mahabijak dan maha mengerti itu memerlukan syarat bernama
kesucian? Kesucian cinta bukanlah kesucian tubuh o Rama, karena jika
begitu bagaimana seorang pelacur bisa mengorbankan tubuh demi cintanya
kepada kehidupan? Tapi begitu pun aku ini bukan pelacur o Rama, aku lebih
baik mati daripada dijamah Rahwana, dan aku tak menyerah meski setelah
Rahwana memperlihatkan kepala Sondara dan Sondari, anak-anaknya
sendiri, yang begitu mirip dirimu dan Laksmana.
“Aku hanya mencintaimu o Rama, tetapi bagimu cinta orang-orang
Ayodya lebih penting ketimbang cintaku kepadamu. Apakah itu hanya
karena kamu seorang raja o Rama? Apakah karena kamu seorang penguasa?
Apakah dengan menjadi seorang raja diraja yang berkuasa maka kehidupan
pribadimu harus menjadi berbeda dengan orang biasa? Engkau mencintai
aku atau mencintai dirimu sendiri wahai Rama? Aku seorang perempuan
yang mempunyai kehormatan, tidak membutuhkan perlindungan maupun
belas kasihan.”

http://pustaka-indo.blogspot.com 18 — Kitab Omong Kosong

Perempuan itu masih meratap-ratap. Siluman-siluman terkesiap.
Mereka merasa tersentuh. Tanpa diketahui perempuan itu mereka meno-
longnya, dengan menyisihkan ranting-ranting berduri, dan membimbing-
nya menuju anak sungai. Di kericik aliran air yang dingin perempuan itu
merebahkan dirinya dan minum berteguk-teguk. Air anak sungai yang kecil
itu jernih sekali, meluncur turun dari gunung. Sayup-sayup perempuan itu
mendengar suara air terjun, tapi rasanya ia sudah tidak kuat mengangkat
tubuhnya. Ia hanya bisa menyeret tubuhnya ke bawah sebuah pohon. Para
siluman membuat rerumputan di bawah pohon itu tebal, bersih, dan lunak
seperti permadani. Mereka lantas menggiring angin agar bertiup sepoi ke
arah perempuan itu, yang kemudian tertidur karena kelelahan yang amat
sangat, dan dalam tidurnya perempuan itu bermimpi. Para siluman yang
bisa keluar masuk berbagai dunia mengikuti mimpi itu.

siluman tidur di atas kasur, o
berlayar di lautan mimpi
menatap rembulan,
menatap pelangi
mencari cinta di dalam laci, o!

Masih diingatnya betapa mereka saling menatap dan terpesona, ketika
ayahnya, Prabu Janaka, memperkenalkannya kepada Rama.

“Inilah Rama, ksatria Ayodya yang telah mengusir Dandang Sangara
dari Mantili.”

Saat itulah ia melihat Rama, cahaya memancar nan perkasa. Rambut-
nya panjang bergelombang seperti singa, dengan paras tampan halus mulus
penuh pesona. Kedua anting-antingnya yang panjang di kiri dan kanan
berkilatan kertap permata. Meski hanya mengenakan jubah pengembara,
Rama dan Laksmana tak bisa menyembunyikan cahaya kesatriaannya.

Rama telah mengusir Dandang Sangara, gagak raksasa nan berbahaya,
maka ksatria itu berhak mengawininya. Semenjak ayahnya menjadikan
dirinya taruhan sayembara, ia setuju dikawinkan dengan siapa pun yang
menyelamatkan negaranya, meski barangkali tidak mencintainya—namun
kepada Rama, ia jatuh cinta pada pandangan pertama.

Apakah Rama pun mencintainya?

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 19

Ah, ia tidak pernah bertanya.
Kemudian Rama pun mengalahkan para raja yang baru tiba setelah
gagak itu pergi, dalam lomba menarik busur sakti, bahkan Rama mena-
riknya sampai patah busurnya. Sungguh rela ia pergi ke Ayodya. Melewati
rimba di mana Rama membunuh Ramabargawa. Segera pergi lagi karena
janji Dasarata, Raja Ayodya ayahanda Rama, kepada selir bernama Kekayi,
bahwa Barata anak Kekayi, dan bukan Rama anak Kausalya, yang harus
menjadi raja. Rama harus mengembara 14 tahun atas desakan Kekayi,
dan ia bersama Laksmana mengikutinya. Tak ada yang disesalkannya, asal
berdekatan dengan Rama.
Apakah Rama mencintainya?
Ah, ia tidak pernah bertanya.
Kini ia bahkan bertanya-tanya, apa sebabnya Rama memerangi Rah-
wana dan menyerbu Alengka. Benarkah ia berperang demi cinta? Ataukah
berperang demi ketersinggungannya sebagai lelaki dan sebagai ksatria
karena Rahwana menculik istrinya? Mengapa Rama begitu mementingkan
kesetiaan dan kesucian, tapi tidak pernah mempertanyakan cinta? Ada
banyak peristiwa yang membuatnya bertanya-tanya.
Pertama, ketika Rama mengutus Hanuman, wanara putih yang per-
kasa itu, untuk menyelundup ke Taman Argasoka, tempat ia disekap Rah-
wana di Alengka, dititipkannya sebuah cincin. Rama minta ia memakainya,
jika jarinya bisa masuk, tandanya ia masih setia. Terlalu! Apakah Rama
mengira ia sudi menyerah kepada Rahwana raja raksasa? Mana mungkin
ia menyerahkan diri kepada raja yang selalu mabuk karena tuak, apalagi
mulutnya bau petai dan jengkol setiap hari. Apakah kiranya yang membuat
Rama berpikir betapa dirinya mungkin untuk tidak setia? Jika Rama tidak
percaya, mengapa ia tidak membiarkan saja dirinya tinggal di Alengka?
Tidak terlalu salah jika ia mengira Rama datang bukan hanya untuk membe-
baskannya, tapi terutama lebih demi kehormatannya sebagai seorang pria.
Kedua, setelah peperangan selesai, dan Rahwana terjepit Gunung
Sondara-Sondari jelmaan kepala anak-anaknya sendiri, masih juga Rama
meminta ia membuktikan kesetiaan dengan cara dibakar api. Astaga. Trijata,
putri Wibisana yang marah karena permintaan Rama sampai ikut terjun ke
dalam api unggun raksasa itu, namun untunglah Hanuman menyelamat-
kannya. Rama berkata, jika ia masih suci, maka api itu tidak akan memba-

http://pustaka-indo.blogspot.com 20 — Kitab Omong Kosong

karnya, jika ia tidak suci, dalam arti pernah disentuh atau membiarkan
dirinya dijamah Rahwana, api itu akan menghanguskannya. Kurang ajar!
Jika toh ia pernah jatuh di bawah kekuasaan Rahwana dan karena itu api
tersebut menghanguskannya, maka apa sebenarnya hak Rama sehingga
bisa menjadi hakim yang memutuskan sekaligus menghukum seseorang
atas nama kesucian dan kesetiaan? Hanya karena ia mencintai Rama, dan
mau melakukan segalanya demi Rama, maka ia rela melakukannya.

Apakah Rama mencintainya?
Ah, ia tidak pernah bertanya.
Tapi apakah boleh disebut cinta namanya jika seorang suami mem-
biarkan saja istrinya yang sedang mengandung lari dari istana? Rama
terlalu peduli kepada desas-desus yang berkembang di Ayodya. Mana
mungkin seorang perempuan tidak akan pernah terpikat oleh kekayaan
Rahwana? Rahwana memang raja raksasa, namun banyak ilmunya dan
penuh tipu daya, selama 700 tahun kehidupannya terlalu banyak perem-
puan yang jatuh ke pangkuannya. Bidadari swargaloka Banondari atau
Dewi Tari, ratu siluman Krendawati, ratu buaya Banggawati, ratu kepiting
Rekatayaksi, ratu siluman lain Kutawati, bahkan anak pendeta bernama
Dewi Kresnasih, ibu dari Si Kembar Sondara-Sondari. Maka, demikianlah
pikiran rakyat Ayodya yang sederhana, mengapa tak mungkin dirinya pun
jatuh ke tangan Rahwana.
Apakah Rama mencintainya? Justru ini pertanyaannya. Mereka te-
lah berjodoh sebelum dilahirkan. Rama adalah titisan Wisnu dan dirinya
adalah titisan Laksmi, istri Wisnu, mestinya tidak ada lagi masalah dalam
hubungan cinta. Cinta Wisnu dan cinta Laksmi adalah abadi—tapi itu
adalah cinta dewa-dewi, mungkinkah cinta menjadi berbeda dalam hati
manusia yang berdarah dan berdaging dan berubah setiap hari? Tidakkah
mungkin Wisnu terpengaruh oleh ketubuhan Rama?
Sebagai raja titisan dewa, mengapa ia begitu percaya kepada desas-
desus di Ayodya, mengapa ia begitu peduli? Bahkan peringatan Hanuman
yang turun dari pertapaannya di Kendalisada tiada digubrisnya. Bukankah
ia telah menjadi istrinya? Bukankah ia mengandung anak darinya pula?
Apakah Rama tidak peduli bahwa istrinya yang menghilang dalam keadaan
mengandung itu mungkin saja terancam marabahaya? Ia tahu Rama sama
sekali tidak mencarinya—Rama berusaha melupakannya, dan tak seorang

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 21

pun di Ayodya merasa harus mencarinya. Hanya Laksmana, yang memang
bertanya-tanya. Namun sejak semula Laksmana adalah boneka kakaknya.
Jika Rama memang peduli, dengan mudah dirinya bisa ditemukan. Apa
susahnya meminta pasukan Sugriwa menyelusuri rimba? Hanuman yang
perkasa pun akan mudah mencarinya. Tapi tidak ada tindakan apa-apa dari
Rama. Permaisuri hilang dan tidak ada tindakan apa-apa.

O, suami macam apakah dikau Rama? Jika dikau tidak peduli kepada
istrimu setidaknya dikau wajib peduli kepada anakmu dan inilah kesalahan-
mu yang ketiga dan terbesar, Rama, kesalahan yang rasanya tidak mungkin
dilakukan oleh seorang titisan dewa. Ataukah, ternyata dewa itu memang
bukan segala-galanya?

Di dalam mimpinya perempuan itu mengarungi kenangan. Ia meli-
hat seekor kijang berbulu keemasan, yang meloncat-loncat seperti minta
ditangkap. Ia meminta Rama menangkapnya. Maka Rama pun menghi-
lang memburu kijang. Sampai terdengar suara jeritan. Ia paksa Laksmana
menyusul Rama. Lantas muncul seorang tua. Orang tua itu tak mampu
menembus lingkaran yang digoreskan Laksmana di tanah dengan keris
untuk melindunginya. Maka orang tua itu mengulurkan tangan dari luar
lingkaran untuk menerima sirih yang diberikannya. Begitu tangannya
bersentuhan orang tua itu berubah menjadi Rahwana, langsung mener-
bangkannya ke angkasa.

Betapa pusing kepalanya. Angin dan ketinggian memekakkan teli-
nganya. Ia berteriak memanggil Rama dan Laksmana, tapi di angkasa yang
sepi siapakah yang mendengarnya? Seekor burung raksasa tiba-tiba me-
matuk Rahwana, yang menjadi hangus seketika. Rahwana jatuh mati, dan
dirinya melayang menembus mega, untung burung itu menyambar dengan
cakarnya. Tapi dilihatnya Rahwana hidup kembali, melesat seperti kilat
dan memukul kepala burung itu dengan gadanya. Ia jatuh lagi, Rahwana
menyambarnya sebelum menyentuh bumi. Waktu tersadar ia sudah berada
di Alengka, dalam perawatan Trijata, yang akan selalu melindunginya.

Rama, o Rama, betapa berat kujaga diriku, betapa berat kujaga kese-
tiaan dan kesucianku, demi cintaku yang hanya untukmu. Cinta yang telah
digariskan oleh keabadian, bahwa Laksmi akan selalu berpasangan dengan
Wisnu. Rama, o Rama, mengapa engkau sama sekali tidak membelaku?
Apakah yang telah terjadi padamu, Rama?

http://pustaka-indo.blogspot.com 22 — Kitab Omong Kosong

tidur sendirian di dalam hutan
dijaga empat ribu siluman
matahari menanti rembulan
yang datang hanya bayangan, o!

Para siluman tertegun menyaksikan impian perempuan itu. Inilah
putri istana yang begitu mulia tapi juga begitu menderita. Dengan hati
tersayat ditinggalkannya kemewahan atas nama kehendak rakyat. Ia mera-
sa dirinya dianggap noda, sehingga membuang diri demi ketenteraman
Ayodya, padahal ia sama sekali tidak berdosa.

Maka, para siluman yang tidak memiliki tubuh tapi memiliki hati itu
berusaha meringankan penderitaannya. Ketika perempuan itu tertidur,
mereka memindahkannya keluar dari rimba. Perempuan itu merasa seperti
bermimpi ketika merasa dirinya terbang melayang menembus rimba raya.
Para siluman meletakkannya di tepi sebuah sungai di luar rimba, tak jauh
dari pondok seorang pertapa.

Ia membuka mata. Seorang tua yang cerah parasnya dan lembut ma-
tanya mengusap kening perempuan itu. Tubuhnya serasa hancur, namun
pandangan orang tua itu membuat hatinya merasa damai.

“Siapa namamu Nak?”
“Sinta.”
“Tenanglah Sinta, engkau kini bersama Walmiki.” 

http://pustaka-indo.blogspot.com 3

gelembung rahwana

G unung Sondara-Sondari muncul dari balik kabut, bersama ter-
dengarnya bunyi tetabuhan. Desa di lereng gunung itu sedang
mengadakan sebuah perhelatan, sebuah pesta perkawinan meriah
yang diramaikan oleh tontonan kuda lumping. Orang-orang berteriak di
sekitar kalangan, seolah-olah menyoraki kuda yang sebenarnya, agar lebih
seru lagi menari-nari, seperti kerasukan jiwa seekor kuda.

“Hua! Hua! Hua!”
Kuda itu memang menggila. Penari yang memegang kuda lumping itu
bergedebukan ke sana kemari dengan binalnya. Orang-orang melempari
kuda itu dengan gelas, piring, dan pecahan kaca—semua itu dimakan oleh
manusianya.
“Lihat! Semuanya dia makan!”
Bunyi tetabuhan makin membahana. Rahwana yang terjepit di an-
tara dua gunung itu mendengarnya, maka ia membuka mulutnya, dan
keluarlah gelembung-gelembung bagai gelembung busa sabun dari sana.
Berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu-ribu, berjuta-juta gelembung meng-
udara. Seperti bernyawa, gelembung-gelembung itu mencari mangsa dari
tempat satu ke tempat lain. Gelembung itu akan pecah di hati manusia tak
beriman, menjadikannya sama jahat dengan Rahwana. Gelembung-gelem-
bung itu tidak bisa terlihat oleh mata manusia biasa. Hanya mereka yang
mempunyai ilmu siluman bisa melihatnya.
Dahulu kala Rahwana lari bersembunyi ke celah dua gunung itu,
karena tak tahan oleh patukan-patukan Kiai Danu, panah Rama yang

http://pustaka-indo.blogspot.com 24 — Kitab Omong Kosong

bisa bicara. Atas nasihat Walikilia, seorang pertapa yang selalu terbang di
atas selembar daun, Rama menggunakan panah yang hanya meluncur jika
diiringi bunyi gending Galaganjur itu, setelah sebelumnya putus asa karena
Rahwana memang tidak bisa mati. Kiai Danu memburu Rahwana yang
melesat-lesat ke seluruh penjuru bumi, menunggunya di atas permukaan
laut, dan tetap mematuknya di celah semak-semak yang paling rimbun.
Rahwana yang tidak bisa mati menjadi sangat tersiksa. Ia meminta kema-
tian kepada para dewa, namun ilmu Pancasona dan Rawarontek yang
dikuasainya tidak bisa dicabut kembali.

Saat bersembunyi di celah dua gunung itulah kedua gunung tersebut
bergerak menjepitnya. Inilah karmapala Rahwana, karena memenggal ke-
dua anak kembarnya sendiri, yang kepalanya dibuang setelah gagal menipu
Dewi Sinta, karena Trijata pergi meyakinkan kematian Rama dan Laksmana
ke Pancawati. Kepala itu kemudian menjelma gunung kembar, menunggu
hari pembalasan. Dengan segala kesaktiannya Rahwana nyaris bisa meng-
geser kedua gunung itu, namun dari angkasa Hanuman menginjak kepala
Rahwana dengan bobot seluruh ajiannya, sehingga seluruh tubuh Rahwana
melesak ke dalam bumi, terjepit di sana untuk selama-lamanya.

Rahwana yang tidak akan pernah bisa mati, tidak kekurangan akal.
“Rama, titisan Wisnu, pembela umat manusia, penghancur segenap
kejahatan, janganlah engkau merasa menang dulu Rama! Meskipun aku
tidak bisa bergerak, aku masih bisa mengalahkanmu Rama—masih bisa
menyerangmu! Waspadalah Rama, bahkan engkau pun bisa menjadi kor-
banku!”
Saat itulah ia mengangakan mulutnya, dan semenjak saat itu beter-
banganlah Gelembung Rahwana ke seluruh dunia.
Batara Narada, yang menjadi saksi seluruh kejadian di marcapada,
hanya bisa menjerit tanpa mampu mengatasi keadaan.
“Tiwas! Tiwas Adik Guru!”
Para dewa telah waspada, bahwa kejahatan akan menjadi musuh me-
reka yang abadi. Gelembung Rahwana tidak kelihatan oleh mata manusia,
dan hanya yang memiliki kekuatan iman dalam dirinya tidak akan terpe-
ngaruh sama sekali. Dengan demikian Gelembung Rahwana terus-menerus
menelan korban. Mereka yang berhasil dirasuki gelembung ini segera ber-
ubah menjadi jahat. Segera menipu, memitnah, mengadu domba, mencuri,
merampok, bahkan membunuh.

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 25

Gelembung Rahwana itu kini berhamburan di desa yang sedang
ramai oleh perhelatan. Seorang di antara penonton melempar batu ke
kepala penari kuda lumping itu, namun rupanya penari yang kerasukan
roh kuda itu membalas. Ia menerjang dan menggigit pelempar batu itu
hingga berdarah. Orang-orang lain menggebuk kuda itu, tapi kuda-manusia
ini menyepak dan meringkik. Tiba-tiba orang-orang saling menggebuk.
Sorakan gembira kini menjadi teriakan kemarahan dan jerit ketakutan.
Perhelatan menjadi kekacauan. Namun tetabuhan tetap berbunyi, para
penabuh memainkan alat-alat mereka dengan penuh semangat, seolah-olah
kekacauan ini adalah bagian dari pertunjukan.

“Tolong! Istri saya diculik orang! Tolooongng!”
Seseorang melarikan pengantin wanita, yang bukannya menjerit-jerit
melainkan tersenyum-senyum saja dalam gendongan penculiknya. Suasana
kacau-balau. Tenda ambruk. Makanan berhamburan. Semua orang telah
menggenggam senjata. Mulut penari kuda lumping itu penuh dengan darah,
ia telah berubah menjadi kuda yang menggigit-gigit, menandak-nandak,
dan menyepak-nyepak. Pengantin pria dan orangtua kedua mempelai ikut
masuk ke dalam lingkaran, ikut ditelan kekacauan. Tetabuhan berbunyi
tanpa irama. Mata para penabuh seperti orang kesurupan. Seekor banteng
masuk dan langsung kesetanan, menyeruduk kian kemari sehingga semua
orang terpental ke udara.
Jagabaya desa dipanggil, dan ia tidak bisa mengerti. Dilihatnya semua
orang saling menikam. Pesta perhelatan di pagi yang cerah itu berubah
menjadi arena pembantaian. Ia segera tahu ada yang tidak wajar.
“Panggil tetua desa, cepat!”
Ia melihat kuda-manusia itu bertarung melawan banteng, sementara
orang-orang di sekitarnya saling bergumul.
“Kenapa semua orang jadi gila?”

darah pengantin yang terbunuh
menguap bersama asap kemenyan
bersamamukah cintaku o sayang
rahasia dunia pewayangan, o!

Ketika para tetua desa tiba di tempat itu, suasana sunyi senyap.
Hanya terdengar suara rebab yang digesek bidadari di balik mega. Mayat

http://pustaka-indo.blogspot.com 26 — Kitab Omong Kosong

bergelimpangan. Banteng sekarat menguak-uak. Kuda lumping terserak.
Alat-alat tetabuhan berpencaran.

Jagabaya itu terduduk dan menangis.
“Apa yang terjadi, Paman? Apa yang terjadi?”
Para tetua desa saling berpandangan. Mereka semua mempunyai ilmu
siluman, jadi mereka bisa melihat Gelembung-gelembung Rahwana keluar
dari tubuh-tubuh yang berserakan. Gelembung-gelembung bak gelembung
busa sabun melayang dan mengudara, melanjutkan perjalanan setelah me-
nelan korban. Gelembung-gelembung kejahatan bergerak mencari sasaran.
Banyak di antaranya mendekati para tetua desa, namun mereka semua bisa
melihatnya dan meniupnya sehingga terpental menjauh.
Mereka melihat ke arah lembah di celah Gunung Sondara-Sondari.
Pemandangan begitu indah dan begitu permai. Burung-burung berkicauan
dan matahari bercahaya lembut.
“Apa kepala Rahwana itu tidak bisa ditutup saja Pak Tua?”
“Bukan itu masalahnya Lik, gelembung ini bukan busa sabun. Gelem-
bung kejahatan ini tidak bisa dikurung dengan kain, kayu, maupun besi.”
“Bagaimana kalau kepala itu dipenggal saja?”
“Panah Goawijaya milik Sri Rama telah selalu mencerai-beraikan
tubuh Rahwana, tapi selalu bisa menyatu kembali. Tidak mungkin. Jika
orang-orang sakti saja tidak mampu membunuh Rahwana, apalagi kita.
Kejahatan tidak mungkin dilawan dengan kekerasan, karena kekerasan
adalah bagian dari kejahatan.”
Mereka semua menghela napas. Di hadapan mereka mayat-mayat
orang yang mereka kenal bergelimpangan. Sayup-sayup, mereka dengar
suara tawa yang menggema.
Nun jauh di lembah sunyi itu, di mana tiada seorang pun berani men-
dekatinya. Rahwana yang tubuhnya terjepit dua gunung dan hanya terlihat
kepalanya tertawa terbahak-bahak.
“Huahahahaha! Korban lagi! Huahahaha! Korban lagi! Huahahaha-
haha! Apa yang bisa kamu lakukan Rama? Huahahahahahaha! Tubuhku
terjepit tapi aku tidak bisa mati! Berapa zaman lagi kamu akan menitis dan
selalu menitis kembali Batara Wisnu? Sampai kapan pun engkau tidak bisa
mengalahkan aku, karena akulah Rahwana, Dasamuka Si Sepuluh Kepala.
Kau penggal satu kepalaku akan muncul kepala yang lain. Engkau akan mati

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 27

Rama, tapi aku akan tetap hidup mengacaukan duniamu! Hahahahaha!
Huahahahahaha! Bahkan dirimu akhirnya akan bisa kukalahkan Rama!
Huahahahaha!”

Kepala yang terletak di kegelapan penuh sarang laba-laba itu terta-
wa. Suaranya menggema, dan setiap kali tertawa berjuta-juta gelembung
menyembur dari mulutnya. Berjuta-juta gelembung. Bermiliar-miliar
gelembung, mengarungi udara mencari mangsa. Gelembung-gelembung
semacam itulah yang mengangkasa. Lantas turun ke Ayodya.

Orang-orang yang sudah kemasukan gelembung, melihat iring-iringan
dari istana. Dewi Sinta sedang lewat di dalam tandu. Di balik tirai yang
tersibak, orang-orang melihat kecantikannya yang cemerlang, yang bahkan
membuat udara bisa bergelombang.

“Cantik sekali, seperti bidadari,” desis seseorang.
“Seperti bidadari? Seperti peri!”
“Seperti peri?”
“Apa yang bukan peri yang berasal dari Alengka?”
“Dia bukan orang Alengka, dia orang Mantili.”
“Tapi berapa lama dia disekap Rahwana? Lebih dari setahun! Apa
yang membuat kita harus percaya dia tidak menjadi gundik Rahwana?”
“Tapi dia sudah dibakar dalam api!”
“Ah! Itu kan cuma sulap! Apa yang tidak bisa dilakukan oleh Rama?
Dia ingin meyakinkan rakyat Ayodya, maka diadakanlah pertunjukan Sinta
Obong itu. Setiap orang panggung juga bisa membuat tontonan seperti itu!”
“Awas, kamu nanti ditangkap.”
“Kenapa?”
“Omonganmu seperti itnah.”
“Fitnah? Orang lain yang menodai kesucian istana, dan aku yang di-
tuduh memitnah? Coba periksa darahnya! Barangkali dia seorang pecandu
madat seperti Rahwana!”
“Dewi Sinta itu putri yang lembut budinya.”
“Justru itulah caranya menutupi kesalahan sendiri. Supaya orang lupa
dia pernah menjadi gundik Rahwana. Heran, bagaimana mungkin Rama
merasa bisa mengelabui rakyat Ayodya. Besok aku akan menjemur diri di
alun-alun. Tanda aku tidak setuju kehadiran Sinta di Ayodya.”
“Kamu bisa ditangkap.”

http://pustaka-indo.blogspot.com 28 — Kitab Omong Kosong

“Lihat saja besok.”
Ternyata esok harinya beribu-ribu orang menjemur dirinya di alun-
alun, sampai alun-alun Ayodya tidak cukup lagi menampung mereka.
Orang-orang yang menjemur diri, laki-laki maupun perempuan, meman-
jang sampai ke gerbang kota. Rama yang telah mendengar keinginan me-
reka terhenyak. Apakah ia harus mengusir Sinta, karena ia berpihak kepada
keinginan orang banyak? Ataukah ia mengusirnya, karena ia sendiri sejak
dulu sebenarnya tidak terlalu percaya?
Rama menatap punggung-punggung mengkilat yang tengkurap ter-
bakar matahari.
“Laksmana, adikku, tanyakan kepada orang-orang itu, apa kehendak
mereka.”
Dengan segera Rama tahu jawabnya, mereka tidak menghendaki
Dewi Sinta di Ayodya.
“Apakah yang terjadi adikku? Tidakkah Sinta telah disucikan api
dewata?”
“Mereka tidak pernah percaya, wahai Rama. Apakah dikau percaya?”
“Aku harus percaya. Mengapa aku harus meragukannya?”
“Karena Sinta dilindungi dewa. Batara Agni telah membuat api itu
sejuk dan menciptakan singgasana teratai di dalamnya. Itu bukanlah se-
macam api yang digunakan Hanuman membakar separuh Alengka.”
“Laksmana, mungkinkah dewa berdusta?”
“Dewa-dewa hanya kebetulan berkuasa, mempunyai kesaktian, tetapi
keluhuran budinya sering dikalahkan manusia.”
“Laksmana, aku tetap harus percaya. Tiada wanita yang lebih setia
dari Sinta.”
“Rama kakakku, hati-hatilah dalam berkata-kata. Sinta adalah juga
seorang manusia biasa.”
Rama termenung ragu.
“Pendapatmu sendiri bagaimana Laksmana?”
Laksmana mendekat ke jendela, menunjuk orang-orang yang men-
jemur diri di bawah terik matahari.
“Kemarilah Rama.”
Rama mendekat. Dari atas loteng mereka melihat semuanya.
“Sebagai raja engkau harus memilih, rakyatmu atau istrimu.”

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 29

api lilin tertiup angin, o
bayangan di tembok bergoyang-goyang
ke manakah akan pergi yayi?
siluman berpesta di tepi kali
api lilin bergetar dan mati,
bayangan menghilang, dunia menghitam, o!

Pada hari Sinta menghilang, orang-orang berpesta. Di jalanan berlang-
sung pesta kambing guling, minuman tuak dibagikan cuma-cuma, dan
tabla ditabuh mengiringi penari dengan giring-giring gemerincing. Semua
orang bermabuk-mabukan. Rahwana dengan telinganya yang tajam bisa
mendengar segalanya. Di lembah sunyi itu ia tertawa-tawa, dan setiap kali
tertawa gelembung-gelembung menyembur dari mulutnya, mengudara ke
angkasa, melayang-layang sambil mencari-cari mangsa.

Semakin malam semakin pesta menggila. Jalanan penuh manusia. Di
lorong-lorong orang mengisap ganja. Hanuman yang tiba dari Kendalisada
tak bisa menahan amarahnya.

“Hanggada! Dewi Sinta menghilang, mengapa kau diam saja?”
Hanggada menenggak jenewer, menjawab setengah mabuk.
“Mengapa aku harus mencarinya, kalau ia lari tanpa ada yang meng-
usirnya. Biarkan saja. Barangkali ia mencari Rahwana.”
Hanuman telah menjadi pertapa, tapi kali ini meledak amarahnya.
Diterjangnya Hanggada, sampai terpental membuyarkan kerumuman
yang berpesta.
“Jaga mulutmu Hanggada! Kita dahulu bertempur untuk membe-
baskan dia!”
Hanggada bangkit dan balas menerjang. Terjadi perkelahian seru di
tengah malam. Orang-orang yang semuanya mabuk bersorak-sorak me-
ngerumuninya, sampai Laksmana tiba di sana.
“Gila,” pikirnya, “kedua sepupu ini selalu bertengkar saja.”
Tembok-tembok kota sampai runtuh karena pergumulan kedua ma-
hawanara yang perkasa.
Laksmana menciptakan tabir jala yang lentur tapi sekuat baja untuk
memisahkan mereka.
“Hanuman! Hanggada! Apakah kalian sudah gila?”

http://pustaka-indo.blogspot.com 30 — Kitab Omong Kosong

Mereka berdua tertunduk, tak bisa bicara. Namun di hadapan Rama,
Sang Hanuman bicara terus terang.

“Saya melihat Gelembung Rahwana turun dari langit seperti hujan.
Kita sudah dikuasai sifat-sifat jahat Rahwana. Lihat bagaimana rakyat
Ayodya menjadi edan. Sinta yang setia dituduh yang bukan-bukan. Bahkan
Rama suaminya, tidak peduli kepada nasib ibu yang mengandung anaknya.”

Rama tersentak. Ucapan Hanuman adalah kenyataan. Tapi jawaban-
nya sungguh mengecewakan.

“Hanuman, aku telah mendengar kata-katamu. Kunyatakan masalah
ini bukan urusanmu. Pergilah kembali ke pertapaan.”

Hanuman pamit, dan mengundurkan diri dengan sopan. Meskipun
begitu Laksmana tahu, inilah sengketa yang tiada pernah terbayangkan.

Di luar istana, Trijata, bekas istri Hanuman yang telah menjadi istri
Jembawan mengejarnya.

“Hanuman, Hanuman, kau mau ke mana?”
“Aku seorang pertapa; aku akan kembali ke pertapaan.”
“Apa yang bisa kulakukan?”
“Lakukanlah apa saja yang bisa kamu lakukan untuk memerangi
kejahatan.”
Orang-orang masih berpesta di segala tempat. Trijata melihat Ha-
numan lenyap ditelan kerumunan. Apakah jadinya Ayodya, dan apakah
jadinya dunia jika Rama bertengkar dengan Hanuman? Tanpa Hanuman,
Rahwana tak bisa dikalahkan. Tanpa Rama, Hanuman pun tak bisa me-
ngalahkan Rahwana. Keduanya tak bisa dipisahkan.
Pesta di jalanan makin meriah, langit penuh kembang api. Di ja-
lan orang berpawai. Berlangsung karnaval yang meriah. Arak-arakan
diiringi tetabuhan sepanjang malam mengelilingi kota. Semua orang ber-
jingkrak-jingkrak, dan aroma daging bakar bercampur dupa memenuhi
udara. Panggung-panggung serentak didirikan. Perempuan dengan anting
sebesar gelang di hidungnya menari berputar-putar. Atraksi ular kobra
terdapat di mana-mana, selalu dengan lingkaran judi di sebelahnya.
“Hanuman! Mari sini! Ayo ikut main!”
Hanuman berjalan tanpa menghiraukannya. Di luar kota ia terbang
mengangkasa. Sungguh tak mengerti ia kelakuan manusia. Orang banyak
memusuhi seorang perempuan seperti Sinta. Ia tahu kini Sinta meng-

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 31

gelandang sendirian dengan bayi di kandungan. Tetapi jika Rama telah
menyatakan kepadanya jangan ikut campur, bagaimana mungkin ia me-
nolongnya?

“Bahkan Rama telah kerasukan Gelembung Rahwana,” pikirnya.
Di angkasa, Hanuman yang menguasai segenap ilmu siluman, ilmu
dewa, maupun ilmu manusia melihat jutaan Gelembung Rahwana di antara
cahaya kembang api di mana-mana. Telinganya yang tajam juga mendengar
tawa Rahwana.
“Huahahaha! Bagaimana kalian akan bisa mengalahkan kejahatan?
Huahahahaha!” 

http://pustaka-indo.blogspot.com 4

tulisan Walmiki

angin meniup seruling bambu
lagunya berkisah tentang Ramayana
inikah kisah cinta nan bahagia
bukan karmapala manusia di dunia?
seruling bambu menyanyikan nada
orang-orang menafsirkan cerita, o!

D i tepi sungai itu terdapat sebuah rumah panggung dengan teras
terbuka. Dewi Sinta sedang merenda, benang warna-warni di
hadapannya. Ia merenda sambil memerhatikan Walmiki meng-
gores-gores lembaran karas dengan alat tulis yang disebut tanah.

“Sudah sampai di manakah Ramayana itu Paman?”
Walmiki yang cuma mengenakan sarung, mengelus-elus jenggotnya.
Tersenyum memandang Sinta.
“Kamu ingin mendengar bagian yang mana?”
“Yang mana saja, asal yang menyenangkan.”
Walmiki meneliti tumpukan karas itu, setelah meletakkan tanah
di sebelahnya. Sudah berminggu-minggu ia tenggelam dalam penulisan
Ramayana.
“Aku sudah sampai hari ini,” katanya.
“Hari ini?”

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 33

“Ya, dengarkanlah Sinta.”
Di tepi sungai, terdengarlah Walmiki menembang sambil memetik
kecapi.

Kepada Walmiki, Sinta menceritakan riwayat hidupnya
Hidup sengsara terlunta-lunta di dalam rimba
Selalu terkenang Ayodya,
sia-sia mengharap Rama menyusulnya
Bersama Walmiki,
pertapa dalam sunyi,
Sinta kini bahagia

Tujuh bulan dalam perawatan sang pertapa
Sinta melahirkan Lawa dan Kusa
Putra kembar Rama yang serupa

Lebih perkasa dari Rama dan Laksmana
Mengapa tidak mungkin menjadi ksatria perkasa,

jika Walmiki sendiri menghendakinya?

Atas nama cinta kepada Sinta
Atas nama penghormatan kepada yang empunya

Lawa dan Kusa menjadi sakti mandraguna
Begitulah kodratnya untuk menghukum Rama yang lupa

Anak-anak boleh menghukum ayahnya
Demi kemuliaan ibunya

Lawa dan Kusa mahir mengolah senjata
Tekun pula menulis dan membaca sastra
Sebab di sana jagad raya disimpan untuk ditimba

Bersama Walmiki hidup jadi berguna
Karena ksatria hanya tahu senjata

Sedangkan pertapa merenungkan dunia
Sungguh Sinta merasa lega

Putra kembarnya tidak menjadi singa
Bahagia sebagai manusia biasa

http://pustaka-indo.blogspot.com 34 — Kitab Omong Kosong

Di tepi rimba, di tepi sungai
Dalam pemandangan alam serba permai

Lawa dan Kusa belajar mandiri
Berenang, berkuda, berburu, dan bertani
Memanah, memancing, mendaki, dan berlari
Melukis, membaca, menari, dan menyanyi
Berdebat, berpikir, berhitung, dan mengkaji
Pagi buta mencatat cahaya yang pertama

Siang hari menanam bibit palawija
Sore hari menghayati senja yang merah membara

Malam hari mengamati bintang di langit sana
Lawa dan Kusa menjadi pelajar utama
Dalam naungan kasih Dewi Sinta

Dari tahun ke tahun Lawa dan Kusa belajar bertanya
Langit di luar dan langit di badan jadi masalah kesukaannya

Sambil tak lupa selalu bertanya tentang bapaknya
“Siapakah ayah kami?”

Mereka berdua selalu bertanya
Maka Walmiki meriwayatkan Ramayana
“Betapa kejamnya Rama,” kata mereka,
tanpa tahu yang dimaksud Widehi adalah ibunya
“Siapakah ayah kami, siapakah kami?”
Mereka tak hendak berhenti bertanya
“Pada saatnya kalian akan menemuinya,” jawab sang pertapa

Di tempat terpencil, segalanya sempurna bagi Sinta
Bulu burung-burung bersaing dengan bunga-bunga
Warna-warni di mata ditingkah kicau semarak suasana

Suara air terjun di tepi rimba pun menghiburnya
Dulu sering ia ke sana, memandikan Lawa dan Kusa

Kini putra kembarnya telah remaja
Sinta tetap ke sana sendiri saja

Mengenang suka duka tanpa perasaan nestapa
Di tempat terpencil, dunia yang mungil
Sungguh lebih dari cukup bagi Sinta

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 35

Di seberang sungai terdapat padang rumput
Di seberang padang rumput terdapat danau
Di seberang danau perbukitan ungu membiru
Di seberang perbukitan dunia luar yang tak terjangkau

Di sanalah Sinta berkuda tanpa pelana
Duduk miring dengan kain rapi
rambut berombak menarik hati

Padang rumput hijau luas tak terperi
Angin sepoi basah bertiup pelan senja hari

“Ibu! Ibu! Jangan jauh dari kami!”
Begitulah Lawa dan Kusa selalu menjaga sang dewi

Betapa bumi penuh cinta tanpa Rama
Betapa Sinta kini tak membutuhkan istana

Di rumah panggung di tepi sungai
alam membentang di luar jendela
Hanya ada satu rumah, rumah mereka berempat
Sinta, Lawa, Kusa, dan Walmiki
Serasa dunia milik mereka yang abadi
Sinta mengerti dirinya putri Dewi Bumi
Berdiri di puncak bukit, memandang sekeliling,
bagai bayi dalam rahim ibu sendiri

Apakah lagi yang ditunggu sang putri?
Dunia berutang menunggu pelunasan
Empat belas tahun menghilang dari dunia pewayangan
Merenda kenangan tokoh-tokoh dalam percintaan
Tiada percintaan lain yang begitu menelan korban,
selain percintaan dalam persaingan kekuasaan
Rahwana menculik Sinta, Rama merebut Sinta

Berapa nyawa telah dikorbankan?
Inikah cinta?

Bukan nafsu semata?
Mungkinkah cinta, meminta korban dunia?
Tidakkah ini cuma bencana, pandangan dunia kaum pria?

http://pustaka-indo.blogspot.com 36 — Kitab Omong Kosong

Di tengah padang Sinta suka berkuda
Ia tak pernah jatuh meski miring duduknya

Konon para siluman menjaganya
Suku pengembara penunggang unta kadang melihatnya

Jelas mereka tak berani mengusiknya
Tapi beritanya sampai Ayodya

“Sinta berada di ujung dunia,” kata mereka
Jelas pula tiada yang tahu tempatnya
Di pasar, di kedai, di gedung sandiwara,
orang-orang teringat Sinta

Mereka masih dikuasai Gelembung Rahwana
“Biarlah Sinta jauh dari Ayodya,
toh Rama pun tak mencarinya.”
Rama memang tidak mencarinya

Namun diburu perasaan bersalah sampai hampir gila
Tahu dirinya bersalah

Tapi seperti bukan orang bijaksana
Hati kacau tiada menentu, tak tahu harus berbuat apa

Alih-alih mencari Sinta,
patung emas Sinta dibuatnya pula

Sinta dibanding patung,
tiada perbedaan yang lebih menyakitkan
Lelaki sekuat Rama bukan perkecualian

Apalah artinya patung emas,
dibanding kekasih berhati emas?

Rama kehilangan daya
Sampai dibuatnya Persembahan Kuda
Betapa gawatnya pengaruh Gelembung Rahwana!

Anak benua gempar karena persembahan
yang menuntut banyak korban

Perdamaian yang dipaksakan adalah penjajahan
Kehormatan manusia membangkitkan perlawanan

Nafsu kekuasaan menghasilkan penindasan
Tubuh manusia bergelimpangan sepanjang peperangan

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 37

Panji-panji Ayodya berkibar mencipratkan darah
Semuanya akibat rindu dendam

kegilaan Rama yang tak tersalurkan
Masihkah juga Sinta yang akan disalahkan?

Mengapa manusia tidak pernah memetik pelajaran?
Cinta yang murni terlalu mudah menjelma kebencian
Tanpa kebijaksanaan, cinta sungguh kekanak-kanakan

Walmiki mengharap Lawa dan Kusa
sungguh-sungguh mencamkan

Ramayana adalah kisah cinta yang mengorbankan
Tiada negara yang kuat menahan laju balatentara Ayodya
Di mana-mana penduduk yang tersisa menggali kuburan

Atau membakar mayat-mayat
yang menumpuk tak beraturan
Atau menghanyutkannya ke sungai
sampai penuhnya mengerikan
Para pertapa terhenti dari samadi
Bahkan para dewa geleng-geleng kepala
Terdengar gema tawa Rahwana
Astaga, bagaimanakah kejahatan akan bisa tiada?

Burung-burung musim terbang ke selatan
Daun-daun melayang

Pohon-pohon bambu bergesekan
Betapa tenteram jauh dari peperangan
Lawa dan Kusa meniup seruling bersahutan

Sampai di sini Walmiki berhenti, tapi tangannya masih memetik keca-
pi. Sinta mengusap air mata yang mengalir di pipi, meskipun ia tersenyum.

“Katanya Paman mau membacakan yang menyenangkan. Ini sangat
menyedihkan.”

“Bukankah kuceritakan kamu dalam kebahagiaan?”
“Apalah artinya kebahagiaanku seorang, jika karena aku orang-orang
tak bersalah menjadi korban.”

http://pustaka-indo.blogspot.com 38 — Kitab Omong Kosong

Walmiki menukas.
“Nah! Ini penalaran awam!”
Sinta memandang bertanya-tanya. Walmiki melanjutkan.
“Orang lain yang tolol, dirinya sendiri disalahkan.”
“Jadi aku tak boleh merasa bersalah?”
“Kamu tidak bersalah Sinta, kenapa harus merasa bersalah?”
Sinta terdiam. Terdengar suara seruling. Walmiki menanggapi de-
ngan kecapi yang masih dipetiknya. Lantas suara dua seruling yang ber-
sahut-sahutan itu terdengar mendekat. Dari seberang sungai terlihat dua
remaja yang masing-masing menunggang kerbau. Keduanya bercaping
dan meniup seruling.
Lawa dan Kusa datang. Betapa meyakinkan keduanya dengan latar
belakang pemandangan. Kerbau-kerbau itu menyeberangi sungai yang
dangkal. Sinta bisa mendengar bagaimana tiupan seruling itu begitu indah.
Seperti dua burung yang terbang beriringan, lantas saling menukar jalur
penerbangan, naik turun serong kiri kanan ganti berganti. Walmiki masih
memetik kecapi sampai mereka semua berhadapan. Kemudian serempak
mereka berhenti dalam waktu bersamaan.
Sinta bertepuk tangan.
“Indah sekali lagu kalian. Lagu apa namanya?”
“Ah itu lagu yang mendadak diciptakan, lagu tanpa nama, kami cuma
main-main saja.”
“Kalau begitu berilah nama.”
“Untuk apa, setiap hari kami memainkan lagu baru. Bukankah begitu
Eyang?”
Walmiki tersenyum. Sinta menjawab.
“Eyang kalian juga menemukan kalimat baru setiap hari, tapi dia
mencatatnya.”
“Eyang seorang empu, dia membuat tulisan, maka dia memberi nama
yang dia cari dan temukan. Kami belum tahu mau jadi apa, entah pemain
seruling atau pemburu beruang, kami hanya mau bergembira saja. Apa
tidak boleh bergembira tanpa beban pekerjaan?”
Sinta memandang Walmiki.
“Begini Lawa, begini Kusa,” ujar Walmiki sambil menyeruput teh,
“ibumu memberi harga kepada penciptaan. Memang boleh-boleh saja

http://pustaka-indo.blogspot.com Persembahan Kuda — 39

berkesenian tanpa merasa berkewajiban, karena kesenian memang haki-
katnya suatu permainan. Tapi inilah suatu cara menghargai kehidupan.
Burung-burung dan angin boleh bertiup, melayang, dan hilang, karena
mereka adalah peristiwa alam. Namun suara-suara serulingmu adalah
penciptaan, bukan peristiwa alam. Suara serulingmu adalah pemberian
nama kepada alam dan kehidupan, dalam matamu maupun dalam hatimu,
merupakan suatu tanggapan kemanusiaan. Itulah bedanya kalian dengan
beruang. Tetap saja terserah kalian, bagaimana ingin memberi harga ke-
pada kehidupan. Kita hidup dengan memberi nama kepada dunia dan
keadaan. Kita memberi nama suara kepada suara, kita memberi nama su-
ngai kepada sungai, kita memberi nama cinta kepada cinta, kita memberi
nama duka kepada duka. Kehidupan bisa diterjemahkan ke dalam suatu
rangkaian kata-kata. Kehidupan juga bisa diterjemahkan ke dalam susun-
an suara-suara. Itu juga suatu cara memberi nama, memberi arti kepada
sesuatu yang mungkin saja akan lewat percuma. Maka kukatakan ini suatu
cara menghargai kehidupan, menjadikannya tanda-tanda zaman, sebagai
jejak kemanusiaan. Inilah kehidupan manusia, Lawa dan Kusa, dalam
tanggapan, penghargaan, penafsiran, dan penciptaan. Tanpa kemanusiaan,
kehidupan adalah suatu kekosongan, karena tidak ada pemaknaan. Dunia
ini menjelma dalam kehidupan manusia. Apa kata kalian?”

Lawa dan Kusa saling melirik dengan jenaka.
“Aduh Eyang, masih siang mengajak debat-debatan. Kami tentu punya
tanggapan, meski tidak akan jauh bertentangan. Masalahnya sekarang
Eyang, kami ini kelaparan.”
Walmiki tertawa riang.
“Baik, kuharap itu bukan cara menghindari kekalahan.”
“Wah, Eyang, apa pernah kami menyerah dalam perbincangan?”
“Melawan boleh-boleh saja Kusa, asal dengan penalaran.”
“Kami selalu menggunakan penalaran, bukankah Eyang yang memberi
pelajaran?”
“Kita lanjutkan nanti malam. Masak apa kamu tadi Sinta?”
“Kalkun bakar, sayur asam, sambal gandaria,” kata Sinta sambil me-
letakkan hasil perendaan.
“Ah! Kalkun! Sudah lama Ibu tidak masak kalkun!” Keduanya ber-
teriak gembira.

pustaka-indo.blogspot.com


Click to View FlipBook Version