http://pustaka-indo.blogspot.com 440 — Kitab Omong Kosong
selesai tidak seorang pun pernah menemukannya. Setelah selesai ditulis,
surat yang terbuat dari lembaran lontar itu dimasukkan ke sebuah kantong
kulit, lantas diletakkan di atas meja batu.
Kemudian, kepada seekor bajing ia berkata dengan bahasa antar-
makhluk, “Aku akan pergi selama-lamanya, aku akan mati. Kumpulkan
mereka semua di sini.”
Di tempat itu kemudian berkumpul segala macam makhluk kecuali
manusia. Menurut yang empunya cerita, makhluk-makhluk yang berkum-
pul itu sama dengan makhluk-makhluk yang diangkut oleh kapal raksasa
Nabi Nuh. Dalam pertemuan itu Hanuman berbicara di puncak bukit,
seperti berkhotbah, tetapi tidak satu manusia pun akan mengerti apa yang
dikatakan Hanuman karena ia bicara dengan bahasa binatang, yang berarti
menutup kemungkinan bagi manusia untuk mengetahuinya, di masa kini
maupun masa yang akan datang.
Hanya diceritakan secara turun-temurun bahwa Hanuman dalam
pertemuan itu menangis karena kesedihan yang tampak luar biasa, dengan
cara menangis yang berbeda dengan cara menangis manusia. Diceritakan
betapa ketika tiba saatnya menangis Hanuman merebahkan diri di pun-
cak bukit itu dan meraung dengan dahsyat. Betapa dahsyat raungan itu
sehingga mega-mega buyar, langit terkuak, dan tepiannya terbakar oleh
api yang menyala-nyala.
Segala makhluk tergetar dan kehilangan nyali tetapi tidak pernah
pergi sampai mereka sendiri semuanya mati. Setelah meraung dengan
sedih, marah, dan pedih berkali-kali, Hanuman pun mati.
Tempat itu tidak pernah ditemukan oleh manusia, tidak mungkin dan
tidak akan pernah, dengan sengaja ataupun kebetulan. Tidak akan pernah.
Setelah mati tubuh Hanuman menyatu dengan tanah. Ia moksa tetapi
tidak mau bersatu dengan dewa. Hanya senja yang langitnya kemerah-me-
rahan menjadi saksi kematiannya.
http://pustaka-indo.blogspot.com 51
akhir sebuah Cerita
D i tepi kali, seorang perempuan duduk menatap senja yang menjadi
saksi kematian Hanuman. Itulah senja di balik hutan yang ber-
getar karena lidah-lidah api keemasan membakar langit, begitu
cemerlang, namun tiada berdaya untuk bertahan.
Dari hutan itu muncul seorang lelaki dengan sekeranjang kayu bakar
di bahunya. Ia menggandeng seorang anak kecil, yang segera melepaskan
diri, dan berlari, dan akhirnya menjatuhkan diri ke pangkuan perempuan
di tepi kali itu, yang punggungnya terbuka dan memperlihatkan rajah
kuda berlari.
“Ibu, ceritakanlah kepadaku tentang Kitab Omong Kosong,” katanya.
Maka, perempuan itu pun mulai bercerita ....
http://pustaka-indo.blogspot.com 52
Pengakuan togog
Saya, Togog, penulis cerita ini,
mohon maaf kepada Pembaca yang Budiman,
telah menghabiskan waktu Pembaca sekian lama
untuk mengikuti cerita ini.
Saya, Togog, hanyalah tukang cerita yang bodoh
tidak diberkati para dewa.
Saya, Togog, hanyalah orang terbuang
tidak disayang seperti Semar,
memang tidak layak diperhatikan,
buruk rupa, terlalu banyak bicara, banyak bohong,
berpanjang-panjang mengarang cerita.
Mohon maaf, demi langit dan bumi,
mohon maaf, telah menulis cerita yang buruk,
tidak intelek, tidak mempunyai kedalaman,
tidak menghibur, tidak ada gunanya,
hanya berkata yang tidak-tidak,
mohon maaf untuk sepanjang zaman.
http://pustaka-indo.blogspot.com Kitab Omong Kosong — 443
Barangkali kesaktian Empu Semar alias Badranaya
telah membuat saya begini,
beliau tidak mau disaingi,
ingin menjadi satu-satunya yang dicintai.
Sekali lagi mohon maaf untuk iri hati ini.
Saya, Togog, penulis cerita ini, tahu diri
betapa cerita ini tidak menarik,
dibuat dengan ngawur,
tergesa-gesa, terkantuk-kantuk,
berlari dari kota ke kota, tanpa pernah mau belajar,
ditulis tanpa perenungan, berpura-pura pintar,
padahal tidak ada isinya sama sekali.
Mohon maaf, sekali lagi, mohon maaf.
Kalau saya mati mBilung anak saya jangan ikut disalahkan.
Sudah cukuplah Togog membikin malu keluarga,
seisi desa, nusa dan bangsa,
karena tidak mampu menulis cerita bermutu.
Sangat ruwet susunannya, kacau penggambarannya,
jelek bahasanya, miskin khayalannya,
tanpa kecerdasan sama sekali,
tidak bisa dimengerti apa maunya,
tidak mendidik pula.
Mohon maaf sudah berani-beraninya menulis cerita,
banyak cerdik pandai cerdik cendekia di muka bumi
yang mampu menulis lebih dari sekadar cerita.
Tolong sampaikan agar cerita ini tidak usah dibaca,
karena membuang waktu, pikiran, dan tenaga.
http://pustaka-indo.blogspot.com 444 — Kitab Omong Kosong
Sungguh hanya suatu omong kosong belaka.
Mohon maaf sekali lagi untuk permintaan tolong ini.
Maaf.
Beribu-ribu kali mohon maaf.
Togog
Jakarta-Yogyakarta-Bandung-
Victoria, British Columbia, 2000–2001 / Edisi Pertama.
Pondok Aren, Minggu, 29 Januari 2006, 09.35 / Edisi Kedua.
Kampung Utan, Minggu, 31 Maret 2013, 09.48 / Edisi Ketiga.
http://pustaka-indo.blogspot.com sekadar bacaan
Achadiati Ikram, Hikayat Sri Rama: Suntingan Naskah Disertai Telaah Amanat
dan Struktur (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1980).
Haryati Soebadio, Jnanasiddhanta (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1985)
Terjemahan Dick Hartoko.
I Gusti Made Widia, Ramayana (Denpasar: Penerbit BP, 1993).
J. Kats, Het Javaansche Tooneel I: Wajang Poerwa (Weltevreden: Commissie
voor de Volkslectuur, 1923).
J.H.C. Kern & W.H. Rassers, Civa dan Buddha (Jakarta: Penerbit Djambatan,
1982) Kata Pengantar Edi Sedyawati.
Meechai hongtnep, Ramakien: he hai Ramayana (Bangkok: Naga Books,
1993).
Mpu Tanakung, Siwaratrikalpa (The Hague: Martinus Nijhoff, 1969)
Terjemahan A. Teeuw, h. P. Galestin, S.O. Robson, P.J. Worsley, P.J.
Zoetmulder.
P. Lal, Ramayana (Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1995) Terjemahan
Djokolelono.
P.J. Zoetmulder, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (Jakarta:
Penerbit Djambatan, 1983) Terjemahan Dick Hartoko.
R.A. Kosasih, Lahirnya Sri Rama & Dewi Sinta (Bandung: Penerbit Erlina,
1981).
http://pustaka-indo.blogspot.com R.A. Kosasih, Putra Rama (Bandung: Yayasan Karya Bhakti, 1983).
R.A. Kosasih, Rama & Sinta (Bandung: Penerbit Erlina, 1975).
R.A. Kosasih, Ramayana 1-3 (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2000).
R.A. Kosasih, Lahirnya Rahwana (Jakarta: PT Elex Media Komputindo,
1999).
S. Ardisoma & Hadis Sudarma, Wajang Purwa (Bandung: PT Melodi, 1966).
Supomo Surjohudojo, “Sastra Djendra ‘Ngelmu’ jang Timbul Karena Ka-
kograi” dalam “Nomor Persembahan Kepada Prof. Dr. R.M.Ng. Poer-
batjaraka”, Madjalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, Jilid 2, Juni 1964,
hlm. 177–186.