The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kelas10_Teknik_Pembibitan_Tanaman_dan_Produksi_Benih_Jilid_1

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-09-14 00:30:07

Teknik Pembibitan Tanaman Dan Produksi Benih SMK Jilid 1

Kelas10_Teknik_Pembibitan_Tanaman_dan_Produksi_Benih_Jilid_1

a. Penyerbukan oleh serangga yang berbeda. Hal ini

menguntungkan penyerbukan silang

Sebahagian besar tumbuhan (dikogam). Dikogami terhjadi melalui

berbung diserbuki oleh insekta seperti dua cara. Yang pertama adalah

lebah, kupu-kupu, tawon, kumbang anther akan matang sebelum stigma

dan lain-lain. Pada kasus tertentu pada kasus lain stigma lebih dulu

penyerbukan dapat dilakukan oleh matang daripada anther. Bunga

burung dan mamalia. Bunga yang dengan pistil dan stamen yang

diserbuki oleh serangga biasanya matang pada waktu yang berbeda

berwarna cerah dan atau berbau sangat umum dijumpai pada dunia

harum. Serbuk sari yang dihasilkan tumbuhan.

sangat berat sehingga cepat lengket Pada beberapa bunga terdapat

dan sukar diterbangkan oleh angin. hubungan antara tabung korola dan

Bunga seperti ini mengandung tempat ukuran panjangnya. Nektar yang

air madu atau nektar. Banyak sekali terletak pada pangkal tabung korola

percobaan-percobaan untuk akan menempel pada anggota badan

mengetahui ketertarikan serangga kupu-kupu atau ngengat yang memiliki

terhadap bunga yang berwarna dan bagian mulut berbentuk panjang

berbau wangi. Lebah dan serangga sehingga dapat mencapai nektar.

akan mendatangi bunga dan Sebagai contoh adalah Saponaria,

mengumpulkan serbuk sari atau berbagai jenis tembakau, Datura

nektar sebagai bahan makanan buat memiliki tabung korola sepanjang 8cm

mereka atau keturunannya. sehingga sulit untuk diserbuk oleh

Penyerbukan terjadi secara kebetulan serangga.

pada waktu serangga tersebut Penyerbukan sendiri tidak

mendatangi bunga. Serbuk sari terhalangi oleh heterostyli karena

melekat pada bagian mulut, kepala, pada saat serangga mencabut

kaki dan rambut pada tubuh lebah mulutnya dari korola bunga maka dia

sesudah lebeah tersebut mendatangi akan memindahkan serbuk sari dari

bunga. Jika lebih mendatangi bunga anther ke stigma dari bunga yang

yang lain, sebagian serbuk sari akan sama. Penyerbukan sendiri lebih

menyentuh stigma dan mudah terjadi pada siklus pendek

mengakibatkan penyerbukan silang. akan tetapu proses penyerbukan

Penyerbukan oleh serangga sendiri dalam pembentukan biji sangat

merupakan cara yang terpenting untuk bervariasi.

proses perkebang-biakan.

c. Ketidak serasian

b. Adaptasi bunga yang Pada banyak tumbuhan dengan
menguntungkan penyerbukan
bunga sempurna pembuahan dan
silang pembentukan buah serta biji terjadi

Pada tumbuhan yang memiliki setelah penyerbukan sendiri
bunga sempurna mempunyai stamen (keserasian sendiri). Pada tumbuhan
dan pistil yang matang pada waktu lain kadang-kadang tidak terjadi

92

pembuahan walaupun stigma sudah Prinsip genetik adalah pengendalian
diserbuk oleh serbuk sari dari bunga
yang sama (ketidak serasian fisiologis mutu benih internal yang dilaksanakan

atau ketidak-serasisan sendiri). produsen benih agar kemunduran
Dalam banyak hal ketidak serasian
disebabkan oleh rendahnya laju genetik tidak terjadi dan benih yang

pertumbuhan tabung serbuk sari. dihasilkan memiliki mutu genetik

(kemurnian) yang tinggi. Adapun

prinsip agronomik adalah tindakan

budi daya produksi agar benih yasng

d. Penyerbukan angin dihasilkan dapat maksimum, basik

dalam kuantitas (jumlah) maupun

Penyerbukan dengan angin kualitas (terutama mutu fisik dan mutu

merupakan proses yang paling fisiologis benih).
mudah. Bunga tumbuhan diserbuk
oleh angin kecil dan kurang menarik, Pada dasarnya, usaha produksi

penyerbukann angin dijumpai pada atau penangkaran benih bertujuan
tumbuhan kayu dan herbal, seperti
Conifer, Cuercus dan lain-lain. Pada untuk menghasilkan benih sebanyak-

banyak tumbuhan erkayu bunga banyaknya dengan mutu yang
jantan dan terkadang betina
berkelompok dalam untaian. memenuhi syarat sertifikasi benih.

Benih bersertifikat merupakan benih

dari suatu varietas yang telah

diketahui (telah dilepas) dan

diproduksi dengan sistem

e. Musim penyerbukan pengawasan serta standar sertifikasi

benih, baik standar lapangan maupun

Di daerah empat musim terdapat laboratorium yang ketat dalam
tiga kali waktu penyerbukan, yaitu
mempertahankan kemurnian varietas
awal musim semi, akhir musim semi
dan awal musim panas, serta akhir tersebut. Untuk menghasilkan benih
musim panas dan musim gugur.
ber-sertifikat, perlu memperhatikan
Banyaknya seruk sari di udara dapat
dihitung dengan cara meletakkan di prinsip-prinsip berikut ini.

udara slide mikroskop yang ditutupi a. Persyaratan lahan produksi
oleh agar tipis atau vaselin. Serbuk benih
sari yang melekat harus diwarnai dan
Untuk menghasilkan benih
dapat dipelajari di bawah mikroskop
dan kemudian diidentifikasi melalui bermutu, tanaman harus diusahakan
ciri-ciri permukaan butir sari tersebut. secara intensif pada lahan yang
memenuhi persyaratan dan dikelola
4.4. Teknik Produksi Benih
Tanaman sesuai dengan keadaan agroklimat
setempat. Dua persyaratan lahan
Untuk menghasilkan benih yang utama bila akan memproduksi

bermutu (bersertifikat) minimum benih bersertifikat yaitu sebagai
melibatkan dua aspek penting, yakni berikut:
prinsip genetik dan prinsip agronomik.
(a). Lahan subur dan tersedia air:
Air dapat disediakan secara teknis
melalui irigasi atau secara alami

93

sebagai lahan tadah hujan. Air sangat generation flow atau poly generation
dibutuhkan terutama pada saat
tanaman memasuki masa pengisian flow. Untuk itu perlu diperhatikan
biji (grain filling). Perlu diperhatikan
pula bahwa memproduksi benih ketentuan pelaksanaan sertifikasi
umumnya dilakukan di luar musim
tanam (off-season) karena untuk sebagai berikut: (a). Benih penjenis
memenuhi kebutuhan benih pada
musim berikutnya. (b). Lahan bersih (BS) dapat diperbanyak kembali
dan bebas dari varietas lain. Untuk
menghindari percampuran varietas, sampai 5 kali (sampai dengan BS4).
sejarah lahan, yakni catatan urutan
jenis dan varietas tanaman yang Pengawasan dan jaminan mutu
pernah ditanam, perlu diperhatikan.
Secara umum, dalam satu lokasi dilakukan oleh pemulia tanaman
lahan produksi benih tidak dapat
ditanami dua varietas berbeda dari (breader) yang bersangkutan. (b).
jenis tanaman yang sama secara
berturut karena akan menimbulkan Benih dasar (BD) dapat diperbanyak
penyerbukan silang. Adanya tanaman
voluntir juga merupakan kontaminan. kembali sampai 5 kali (sampai dengan
Selain dari dalam lahan, percampuran
pun dapat terjadi dari pertanaman BD4). (c). Benih pokok (BP) dapat
sejenis yang berbeda varietas yang
ada di sekitar lahan produksi. Cara diperbanyak kembali sampai 5 kali
menghindarinya dengan melakukan
isolasi waktu atau isolasi jarak. (sampai dengan BP4). (d). Benih

b. Benih Sumber sebar (BR) dapat diperbanyak kembali

Benih sumber atau benih yang sampai 5 kali (sampai dengan BR4)
akan digunakan untuk memproduksi
benih haruslah bermutu tinggi dan Selain aspek benih sumber,
jelas asal-usulnya. Syarat mutu bagi
benih bersertifikat antara lain murni produksi benihpun perlu
(sesuai dengan sifat-sifat induknya),
sehat (bebas dari hama maupun memperhatikan aspek sumber benih,
penyakit), bersih (bebas dari kotoran
maupun campuran varietas lain), dan yakni lembaga atau institusi yang
memiliki daya tumbuh yang tinggi.
Benih sumber yang digunakan dalam menghasilkan benih sumber. Hal ini
produksi benih harus berasal dari
kelas yang lebih tinggi seperti dalam penting karena dalam skema sistem
sistem alur perbanyakan mono
perbenihan di Indonesia, telah

ditentukan lembaga-lembaga yang

berkompeten untuk memproduksi

setiap jenjang kelas benih

bersertifikat.

Untuk kesuksesan produksi

benih dalam hal kemurnian benih,

pada umumnya proses produksi

terisolasi. Isolasi uang umum

digunakan adalah isolasi waktu dan

jarak.

Isolasi waktu ataupun isolasi jarak

merupakan tindakan perlindungan

terhadap pertanaman benih dari

penyerbukan silang oleh varietas lain,

baik dari dalam maupun sekitar lahan

produksi. Isolasi diterapkan apabila

pada satu areal pertanaman terdapat

kemungkinan terjadinya penyerbukan

silang. Jika kemungkinan

penyerbukan silang tidak terjadi maka

isolasi tidak perlu dilakukan.

94

Dalam isolasi waktu, waktu tanam Dalam pelaksanaannya, isolasi
produksi benih dibuat berbeda dengan
waktu tanam produksi benih dan atau sering sulit dilaksanakan karena sulit

non benih suatu varietas lain dari jenis mencari lahan produksi benih yang
tanaman yang sama, di suatu lahan
produksi yang berdekatan agar masa betul-betul ideal dan mengatur

berbunga antara kedua varietas tidak keserempakan pola dan waktu tanam
dalam waktu yang bersamaan.
Lasmanya ditentukan oleh masa petani. Oleh karenanya, isolasi yang

pembungaan varietas yang sering dilakukan yaitu menanam
bersangkutan. Secara umum, lama
tanaman barier sehingga dapat
isolasi waktu untuk tanaman pangan
sekitar 1 bulan. Dalam melakukan menghemat waktu (tidak perlu isolasi
isolasi waktu, dapat terjadi
waktu) dan dapat memanfaatkan
penanaman di luar musim tanam. Jika
ini terjadi maka harus ditunjang ruang antara pertanaman. Adapun
dengan sarana atau prasarana yang
upaya untuk menghindari
mampu menekan risiko kegagalan,
misalnya irigasi yang baik. Isolasi percampuran varietas dari dalam
jarak memberi jarak antara satu
lahan produksi, dilakukan roguing
hamparan pertanaman dan hamparan
pertanaman lain dari varietas yang (pencabutan tanaman voluntir).

berbeda sehingga tidak dimungkinkan c. Dasar-dasar budidaya untuk
terjadi penyerbukan silang. Isolasi produksi benih
jarak dapat berupa lahan kosong,
Teknik produksi benih sedikit
pertanaman dari tanaman jenis lain
atau tanaman sejenis yang dijadikan berbeda dengan teknik produksi non-
tanaman penghalang (barier) dan
benih, yakni pada prinsip genetisnya,
tidak ikut dipanen sebagai benih.
Jarak isolasi tersebut ditentukan oleh dimana aspek kemurnian genetik

tipe (jenis) dan cara penyerbukan dari menentukan kelulusan dalam
tanaman yang bersangkutan. Isolasi
jarak untuk tanaman dengan sertifikasi. Teknik budi daya ini secara

penyerbukan silang (misalnya jagung, internal dilaksanakan oleh penangkar
isolasi jarak 200 m) askan lebih jauh
dibandingkan tanaman dengan benih dalam bentuk roguing dan

penyerbukan sendiri (misalnya padi, secara eksternal dilaksanakan oleh
isolasi jarak 3 m). Demikian pula,
isolasi jarak untuk tanaman dengan BPSB dalam bentuk pengawasan di

penyerbukan yang dibantu oleh angin lapang. Adapun teknik budi daya
(misalnya jagung) lebih jauh dibanding
mulai dari pengolahan tanah hingga
tanaman yang penyerbukannya
dibantu oleh serangga. panen antara teknik budi daya

produksi benih dan non benih secara

relatif sama.

Produksi benih biasanya diawali

dengan perkecambahan benih,

pesemaian, pembibitan, penanaman,

pemeliharaan, panen dan

pascapanen, pengolahan benih,

pengeringan, pengujian benih,

sertifikasi dan pengepakan benih.

95

1) Pengolahan tanah, menentukan kebutuhan unsur hara yang
dipersyaratkan.
komposisi media tanam,
Media tanah dan kompos yang
mencampur media dan tealh sisiapkan harus dicampur
dengan merata agar kondisi media
mengisi media ke dalam tanam seragam baik secara fisik,
kimia dan biologis. Sara encampu
polybag. media tanam dapat dilakukan secara
manual dan mekanik. Pencampuran
Pengolahan tanah pada dasarnya secara manual dapat dilakuan dengan
bantuan alat sekop dan cangkul. Para
bertujuan untuk menggemburkan, petani pengangkar biasanya
melakukan pencampuran sebagai
memperbaiki struktur tanah, berikut: karung tanah dicampur satu
karung kompos lalu diaduk sampai
meningkatkan aktivitas organisme rata, kegiatan ini dilakukan berulang-
ulang sampai volume media tanam
tanah, serta menciptakan aerasi yang diperkirakan mencukup untuk mengisi
polybag.
baik. Selain itu, pengolahan tanah
Pencampuran media tanam dapat
dapat juga bermanfaat dalam dilakukan dengan mesin pengaduk
media atau mixer. Dengan alat ini
mengendalikan gulma dan petani tinggal memasukkan tanah
setengah dari volume mixer dan
membebaskan lahan dari sisa-sisa kompos setengah dari volume mixer.
Tutup kap penutup sampai rata.
tanaman atau benih tanaman yang Sambungkan kabel mixer ke arus
listrik dan media tanam akan
ada. Untuk itu, hendaknya cukup tecampur dengan sempurna dan ada
kemungkinan lebih homogen dari
tersedia waktu antara saat pada pencampuran dengan cara
manual.
pengolahan tanah dan waktu tanam
Media yang sudah siap untuk
sehingga benih gulma dan tanaman digunakan diangkut dengan gerobak
(jika lokasi antar lokasi media dan
dari pertanaman sebelumnya tumbuh tempat pembibitan berdekatan).
Apabila penyiapan media berjauhan
dan dapat dicabut. dengan tempat pembibitan, maka
disarankan untuk mengangkut media
Untuk memproduksi benih-benih dengan kendaraan roda empat. Hal
ini dilakukan untuk memudahkan
kecil (10 gram benih • 1.000 benih, pekerja dalam mengisi polybag.

biasanya diawali dengan

perkecambahan benih, pesemaian,

pembibitan, penanaman,

pemeliharaan, panen dan

pascapanen, pengolahan benih,

pengeringan, pengujian benih,

sertifikasi dan pengepakan benih.

Proses penyiapan polybag untuk

pembibitan dimulai dengan

menentukan komposisi media

pembibitan. Pada umumnya

komposisi media yang diharapkan

adalah mempunyai kandungan hara

makro dan mikrto, mangandung

bahan organik, aerasi baik dan dapat

menyimpan air dengan afisien. Untuk

media pembibitan para petani

penangkar benih biasanya menyiapka

komposisi media tanah: kompos (1: 1)

dan biasanya telah memenuhi standar

96

Media tanam akan diisikan ke Setelah jarak tanam ditentukan,
polybag. Para petani biasanya
menyiapkan kotak kayu untuk kebutuhan benih setiap hektar dapat

memberdirikan polybag atau kaleng ditentukan. Kebutuhan benih
atau botol plastik. Polybah dibuka
mulutnya dan diletakkan pada dipengaruhi oleh: (1). Jarak tanam

peralatan yang disebutkan. Setelah atau populasi tanaman per hektar.
polybag berdiri pada tempatnya, maka
media pembibitan disiramkan ke atas (2). Ukuran atau bobot benih per

polybag terbuka sampai penuh, 1.000 butir. (3). Daya tumbuh
kemudian masing=masing polybah
(kecambah) benih.
dirapikan dan disiram dengan air.
Jatak tanam antar tanaman pada

umunya dapat ditentukan berdasarkan

kanopi dari varietas tanaman yang

dibudidayakan. Ukuran atau bobot

benih per 1000 gram, biasanya tertera

pada kemasan (label) benih.

Keterangan ini terdapat pada

kemasan apabila benih varietas

tanaman mempunyai perfomansi biji

berukur kecil seperti benih kubis,

sawi, wortel, tomat, cabai, bunga

Posisi wadah dengan polybag pembibitan krisan dan lain-lain. Keterangan
pada saat mengisi polybag
tentang daya tumbuh (daya

kecambah) tertera pada label

2) Penanaman kemasan. Ketiga keterangan di atas

selalu terdapat pada label benih-benih

Penanaman dilakukan secara tanaman yang bersertifikat.

beraturan untuk memudahkan Penghitungan kebutuhan benih

pemeliharaan (pemupukan, sangat penting dilakukan agar

pengendalian hama dan penyakit), penangkar dapat menyediakan benih

pembersihan tanaman (pengendalian secara tepat jumlah sehingga tidak

gulma), dan pelaksanaan roguing. ada kelebihan pembelian benih dan

Jarak tanam yang digunakan dapat input produski benih menjadi efektif

disesuaikan dengan jenis atau dan efisien. Kekurangan penyediaan

varietas tanamannya, tingkat benih akan menyebabkan

kesuburan lahan, serta ketersediaan ketidakseragaman penanaman

air dan sinar matahari. Jarak tanam sedangkan kelebihan penyediaan

yang rapat dilakukan jika kesuburan benih merupakan pemborosan.

tanah mendukung dan kompetisi antar Perkiraan kebutuhan benih per hektar

tanaman tidak sampai pada taraf yang dapat dihitung dengan rumus :

merugikan. Jarak tanam rapat

dilakukan untuk memaksimalkan

sumber daya yang tersedia dalam

rangka mendapatkan hasil (produksi)

yang maksimal.

97

B = 10.000 X 100/p x100/q X 100/r X s/1000 X t X 1 g

Keterangan :
B = Benih yang diperlukan per hektar (gram)
p = Jarak antar barisan (cm)
q = Jarak rumpun tanaman dalam barisan (cm)
r = Daya kecambah benih (%)
s = Bobot 1.000 butir benih (gram)
t = Jumlah tanaman per rumpun

3) Pemeliharaan tanaman ditingkatkan dengan pemu-pukan
kalsium (Ca).
Pemeliharaan tanaman dalam
budi daya meliputi pemupukan, b) Penyiangan
penyiangan (pengendalian gulma),
pengendalian hama dan penyakit, Penyiangan dilakukan untuk
serta pengairan dan pengelolaan air. membebaskan lahan dari gulma dan
Teknik pemeliharaan tanaman tanaman lainnya. Gulma dan tanaman
hendaknya disesuaikan dengan fase lain dapat berfungsi sebagai
pertumbuhan tanaman sehingga kompetitor dalam mendapatkan air,
tindakan yang diberikan tepat dan hara, dan energi matahari. Selain itu,
efisien. gulma atau tanaman lain juga dapat
menjadi inang bagi hama dan penyakit
a) Pemupukan tertentu atau memungkinkan
terjadinya penyer-bukan silang
Pemupukan dilakukan untuk dengan tanaman benih. Pengendalian
memperbaiki ketersediaan hara dalam gulma dapat dilakukan secara manual
tanah. Pada awal pertumbuhan (dengan cara mencabut), mekanis
vegetatif, kebutuhan tanaman akan (menggunakan alat), dan kimiawi
hara (terutama nitrogen) sangat besar. (bahan kimia). Penggunaan bahan
Adapun pupuk fosfor (P) dan kalium kimia untuk mengendalikan gulma
(K) dibutuhkan tanaman pada fase hendaknya selektif agar tidak
reproduktif, terutama masa membahayakan tanaman yang
pembungaan dan pengisian benih diusahakan dan sumber plasma
(grain filling). Dosis pupuk hendaknya nuftah lainnya, serta tidak mencemari
disesuaikan dengan ting-kat lingkungan (terutama air). Pada saat
kesuburan tanah. Selain untuk penyiangan, biasanya juga dilakukan
pertumbuhan tanaman, pupuk pun pembumbunan (pendangiran) untuk
berpengaruh terhadap produksi dan memperbaiki aerasi di daerah sekitar
mutu benih. Protein benih padi dapat perakaran tanaman.
ditingkatkan dengan pemupukan N
dan bobot benih padi dapat

98

c) Pengendalian hama dan penyakit benih dini, air diperlukan dalam jumlah
banyak dan pada tahap pemasakan
Hama dan penyakit di lapang benih, air tidak diperlukan lagi.

selalu ada sehingga perlu Penyediaan air bagi tanaman
dapat dilakukan secara teknis melalui
dikendalikan agar pertanian dapat irigasi atau secara alami dari hujan.

mencapai produksi yang tinggi. Pada musim kemarau atau bila tidak
hujan, pengairan dilakukan dengan
Namun, pengendalian tersebut penyiraman. Penyiraman sebaiknya

hendaknya dilakukan sedini mungkin dilakukan pada pagi atau sore hari,
jangan dilakukan pada siang hari
dengan senantiasa memperhatikan
karena berpengaruh buruk terhadap
batas ambang ekonomisnya, yakni tanaman, yakni terjadi peningkatan
laju transpirasi secara mendadak.
tingkat populasi dan intensitas
Sebelum melakukan kegiatan
serangan yang membahayakan produksi benih. Harus dilakukan
terlebih sahulu pengecekan sumber
proses pertumbuhan dan
air dan jaringan irigasi. Apabila lahan
perkembangan tanaman. produksi berada pada lahan sawah
dengan pengairan teknis, maka
Pengendalian hama dan penyakit
kondisi sumber air dan jaringan irigasi
dapat dilakukan secara preventif dan diprediksi tidak akan ada masalah.

kuratif. Cara preventif (pencegahan) Apabila fasilitas tersebut tidak ada,
maka sumber air biasanya ditampung
dengan membuat pertumbuhan pada drum atau bak penampungan

tanaman sesehat mungkin, misalnya yang dilapisi plastik yang disiapkan di
sekitar lokasi budidaya.
memberi pupuk yang seimbang dan
Apabila produksi benih dilakukan
melakukan sanitasi lingkungan. Cara
pada skala luas, biasanya jaringan
kuratif adalah cara pemberantasan irigasi secara teknik harus disiapkan

terhadap hama dan penyakit, seperti pada saat pembuatan bedengan
sakaligus dengan pebuatan saluran.
penggunaan pestisida, gropyokan Pada sistem ini saluran dapat dialiri air

untuk pemberantasan tikus, dan sehingga dapat dilakukan penyiraman
dengan sistem lep. Hal yang harus
eradikasi (pencabutan dan diperhatikan adalah kemiringan

pembuangan) tanaman yang jaringan irigasi harus diperhitungkan
agar air dapat mengalir dengan baik
terserang. Karena penggunaan bahan pada semua lahan budidaya.

kimia cukup mengandung risiko maka

dian-jurkan pestisida yang digunakan

berbahan organik.

d) Pengairan, pengecekan sumber
dan pengelolaan air.

Kegiatan ini bertujuan untuk
menyediakan air bagi tanaman dalam
jumlah yang tepat, sesuai dengan fase
pertumbuhan dan perkembangannya.
Pada tahap pertumbuhan vegetatif
sampai inisiasi bunga, air diperlukan
dalam jumlah banyak. Pada tahap
pembungaan, air diperlukan dalam
jumlah sedang. Pada tahap
pembentukan dan perkembangan

99

e) Roguing menyulitkan pengamatan. Tanaman
rogue, tanaman yang terserang hama
Roguing bertujuan untuk menjaga dan penyakit, gulma-gulma berbahaya

kemurnian benih. Cara dicabut dan dimusnahkan. Melakukan
roguing di lahan yang luas cukup
pelaksanaannya dengan mencabut menyulitkan. Oleh karenanya,

tanaman yang tidak dikehendaki, dibutuhkan metode yang cukup
representatif melalui pengacakan
seperti tanaman yang berpotensi sampel di lapang. Ada beberapa

untuk terjadinya penyerbukan silang macam pola pelaksanaan roguing
(lihat gambar Usulan Jalur perjalanan
dengan varietas tanaman yang
dalam melakukan roguing). Pola A
diusahakan atau tanaman yang dapat menjamah lahan pertanaman
sekitar 75%, pola B mampu
berpotensi menghasilkan benih
menjamah lahan seluas 60-70%, pola
campuran varietas lain. Roguing C (cara acak) dan pola D (searah
jarum jam) memungkinkan seluruh
biasanya dilakukan sebelum lahan
(100%) pertanaman terjamah, pola E
diperiksa oleh tim sertifikasi dari mampu menjamah lahan sebesar
85%, dan pola F hanya mampu
BPSB. Pelaksanaan roguing
menjamah pertanaman sebesar 60%
mengikuti waktu dan frekuensi dari luas lahan keseluruhan.

pemeriksaan lapangan oleh petugas Pemanenan
Penanganan pascapanen dapat
pengawas sertifikasi benih, yaitu saat
dilakukan dengan baik, tidak merusak
tanaman umur 4 minggu setelah
benih yang masih berkadar air tinggi,
tanam, pada fase berbunga, dan maka panen pada saat benih masak
fisiologis adalah pilihan yang tepat.
menjelang panen. Jika
Beberapa keuntungan panen yang
memungkinkan, roguing dapat dilakukan pada saat benih mencapai

dilakukan setiap saat tidak hanya masak fisiologis antara lain: (a).
Benih belum mengalami deteriorasi
pada saat menjelang pemeriksaan (kemunduran). (b). Mempercepat

oleh BPSB. Roguing dilaksanakan program pemuliaan tanaman karena
segera diperoleh data viabilitas dan
dengan mencocokkan deskripsi vigor maksimum dari varietas yang

tanaman di lahan dengan deskripsi dikembangkannya.

varietas tanaman yang diusahakan.

Tanaman yang tidak sesuai dengan

deskripsi tanaman yang diusahakan

harus dicabut dan dimusnahkan.

Roguing dilakukan dengan

berjalan secara sistemik sehingga

setiap tanaman dapat terlihat dan

diamati. Roguing hendaknya

dilakukan sepagi mungkin dan arah

berjalan sebaiknya tidak menghadap

matahari, karena silau akan

100

* * * *
* * *
* *
* * *
* *
* * *
*
* *
*
** *
*
*
* ** *
*
*
** **
*
*
*

* * * *
* * *
*
* * * *
* ** *
*
* * *

Gambar 4.9 .
Beberapa alternatif jalur perjalanan untuk melakukan kegiatan roguing.

(c) Menghemat waktu dan mengurangi Kondisi iklim pada selang waktu

kehilangan benih di lahan, serta. (d). antara masak fisiologis dan panen
Perkecambahan benih di lapang dapat sangat berpengaruh terhadap
dihindari. viabilitas benih, daya kecambah,

Oleh karena kadar air benih pada vigor, maupun daya simpan benih.
saat masak fisiologis masih cukup Cuaca pada areal produksi yang tidak
tinggi (50-60%) sehingga rentan menguntungkan dapat menurunkan

terhadap kerusakan mekanik, maka mutu benih yang dihasilkan.
panen dapat dilakukan beberapa hari
setelah masak fisiologis. Waktu panen

ini pun jugam mempunyai risiko.

101

f) Pengolahan Benih d. Alur umum pengolahan benih

Pengolahan benih merupakan Benih masuk ke unit pengolahan
tahap transisi antara produksi dan benih umumnya dalam bentuk calon
penyimpanan atau pemasaran benih. benih, misalnya benih jagung masih
Tahap ini cukup menentukan karena dalam tongkol, benih kedelai dan
benih dapat tidak bermanfaat jika kacang hijau masih dalam polong.
salah dalam pengolahannya. Selain dalam bentuk calon benih,
kadar airnya juga masih sangat tinggi.
Prinsip umum pengolahan benih Oleh karenanya, pengolahan benih
adalah memproses calon benih yang dilakukan sebagai berikut.
menjadi benih dengan tetap
mempertahankan mutu yang telah 1) Pembenihan dan prapembersihan
dicapai. Pengolahan benih tidak dapat
meningkatkan mutu benih secara Kegiatan pembenihan meliputi
individual, tetapi secara populatif. pengeringan (drying) dan perontokan
Secara populatif, mutu benih dapat (threshing) pada kacang-kacangan
ditingkatkan melalui dua cara yaitu : dan padi atau pemipilan (shelling)
(a). Separation, yakni memisahkan pada jagung. Setelah pengolahan
benih dari sumber kontaminan seperti tersebut, dilakukan pemisahan benih
benih gulma, benih tanaman lain, dan dari kotoran sisa polong, tongkol, atau
kotoran benih. (b). Upgrading, yakni jerami (disebut pre-cleaning). Selama
memilah benih dari benih yang kurang proses pembenihan dan pra-
bermutu, misalnya berukuran kecil pembersihan, benih disimpan
atau tidak seragam. sementara secara curah dan
tumpukan (bulk storage).
Dengan pemisahan dan
pemilahan benih, akan diperoleh 2) Pembersihan
benih yang murni dan hidup (pure life
seed) dengan total jumlah yang lebih Proses pembersihan (cleaning)
rendah dari jumlah benih hasil panen. benih diawali dengan pemisahan
Perbandingan jumlah benih hasil benih dari kotoran (sampah).
pengolahan dengan jumlah calon Pembersihan ini dapat menggunakan
benih hasil panen dinamakan ayakan (saringan) atau alat pembersih
rendemen. Nilai rendemen sangat benih dengan sistem pengayakan dan
ditentukan oleh jenis benih dan hembusan udara, seperti air screen
efektivitas pengolahan. Semakin cleaner. Setelah bersih dari kotoran,
efektif pengolahan yang dilakukan, benih memasuki proses sortasi dan
semakin tinggi nilai rendemen yang upgrading, yaitu benih dipisahkan dari
berarti semakin kecil nilai kehilangan benih varietas lain, benih gulma, serta
pascapanennya (post harvest losses). benih yang berviabilitas rendah (kecil,
Adapun efektivitas pengolahan pecah, dan tidak seragam).
ditentukan oleh alur (jalur) pengolahan
dan penggunaan alat-alat pengolahan
benih yang tepat.

102

3) Perlakuan benih dan e. Alat dan mesin pengolahan
benih
pengemasan
Secara umum, alat dan mesin
Perlakuan benih (seed treatment) pengolahan yang paling dibutuhkan
adalah pemberian bahan kimia dalam yaitu alat pembenihan (conditioning
rangka melindungi benih dari hama dan pre-cleaning), alat pengering, alat
pembersih, serta alat perlakuan dan
dan penyakit, baik yang terbawa pengemasan. Alat-alat tersebut dapat
benih, serangan yang mungkin terjadi berupa mesin pengolah benih yang
di penyimpangan maupun serangan di dijalankan secara mekanik atau alat
sederhana yang dijalankan secara
lapang produksi. Hal penting yang manual. Pemilihan jenis alat pengolah
diperhatikan di dalam memberikan benih tersebut sangat ditentukan oleh
kemampuan penangkar, jenis dan nilai
perlakuan benih adalah jenis dan komoditas, tingkat mutu dan efisiensi
dosis pestisida yang digunakan agar yang diinginkan, pertimbangan
tidak meracuni benih. keuntungan usaha, dan ada atau
tidaknya sumber listrik atau mesin
Pengemasan bertujuan untuk diesel.
melindungi benih dari pengaruh
kelembaban udara dan pencampuran 1) Alat pengering benih (seed drier)

antar lot (kelompok) benih. Jenis Pengeringan benih dapat
kemasan benih dapat dikelompokkan dilakukan secara alami dengan panas
menjadi 3, yakni kemasan porus, matahari atau secara buatan dengan
bantuan alat pengering (seed drier).
resisten dan kedap. Kemasan porus Pengeringan secara alami mempunyai
adalah kemasan yang tembus air kendala seperti turun hujan, suhu
yang tidak dapat dikontrol, diperlukan
sehingga tidak mampu melindungi pembalikan benih, dan kapasitas
benih dari pengaruh kelembapan lantai jemur yang terbatas. Kendala
udara luar. Contohnya, kertas dan tersebut tidak dijumpai bila
pengeringan dilakukan dengan alat
kain blacu. Kemasan resisten adalah pengering. Secara prinsip, sistem
kemasan yang tahan terhadap pengeringan buatan menggunakan
tembusan air, tetapi dalam jangka kompor api atau heater sebagai
sumber panas dan kipas (fan) sebagai
panjang kemasan menjadi porus. tenaga penggerak aliran udara.
Contoh kemasan seperti ini yaitu Kapasitas alat dan lama pengeringan
perlu diketahui agar tidak terjadi
kantong plastik. Adapun kemasan overload atau penundaan
kedap adalah kemasan yang tidak
tembus air. Contohnya botol (gelas)

dan kaleng (drum). Jenis kemasan ini
mampu mempertahankan kadar air
benih dalam jangka waktu yang lama.

Bila menggunakan kemasan kedap,
kadar air benih harus rendah untuk
menghindari pengaruh buruk dari

akumulasi produk respirasi benih di
dalam kemasan.

103

pengeringan yang dapat menurunkan dengan blower sehingga benih yang
mutu benih.
dihasilkan lebih bersih. Faktor penting
Meski penggunaan drier memiliki
berbagai keunggulan dibandingkan yang perlu diperhatikan dalam meng-
pengeringan alami, tetapi benih hasil
pengeringan dengan matahari gunakan alat perontok dan pemipil
memiliki mutu fisik yang lebih baik,
terutama warna dan baunya. Benih adalah kecepatan putar silinder dan
yang dikeringkan secara alami
memiliki warna yang lebih cerah dan jumlah paku yang berpotensi merusak
tidak berbau, sedangkan benih hasil
pengeringan buatan memiliki warna benih secara mekanik. Semakin cepat
yang sedikit kusam dan berbau
(terutama bila menggunakan alat putaran silinder dan semakin banyak
berbahan bakar minyak tanah).
paku yang dipasang, semakin cepat
Terdapat berbagai tipe drier
seperti tunnel drier, batch drier, bin pula proses perontokan atau
drier, column seed drier dan continous
flow tower drier. Penggunaan masing- pemipilan benih, tetapi potensi
masing tipe antara lain tergantung
pada jumlah lot benih, serta alat kerusakan mekanik yang
penanganan dan transportasi yang
digunakan. Benih tanaman pangan, ditimbulkannya juga semakin besar.
seperti kedelai dan jagung,
dikeringkan dengan batch drier. Alat pembenihan yang paling
Adapun benih yang diproduksi dalam
jumlah banyak dikeringkan dengan bin sederhana adalah tangan, seperti
drier atau continous flow drier.
memipil jagung dan mengupas benih
2) Alat pembenihan
kacang tanah. Cara ini adalah cara
Alat pembenihan adalah alat yang
digunakan untuk memisahkan benih yang paling kecil kerusakan
dari struktur buah. Jenis dan tipe alat
yang digunakan berbeda untuk mekaniknya, tetapi membutuhkan
setiasp jenis benih. Namun, secara
umum alat pembenihan terdiri dari waktu lama dan khusus untuk benih
silinder yang memiliki gigi (paku) yang
dapat diputar sehingga mampu jagung, kadar air benih harus cukup
merontok atau memipil benih. Tenaga
yang digunakan untuk memutar rendah (kering pipil).
silinder perontok dapat berasal dari
tenaga mekanik atau tenaga listrik. 3) Alat pembersih benih
Ada pula mesin yang dilengkapi
Alat pembersih merupakan alat

untuk membersihkan benih dari

sumber-sumber kontaminan dan benih

yang tidak bermutu melalui

pengayakan (penyaringan, screening)

dan peniupan benda-benda yang tidak

diperlukan dengan blower. Alat

pembersih benih tradisional berupa

nyiru atau tampah. Cara

menggunakannya dengan

menggerakkan ke atas dan ke bawah,

lalu memutarnya sambil ditiup.

Hasilnya diperoleh benih yang bersih.

Kekurangan dari penggunaan alat ini

adalah dibutuhkan waktu yang lama

dan tenaga kerja yang banyak.

Meskipun demikian risiko kerusakan

benih sangat kecil.

104

Alat pembersih benih modern dikelompokkan menjadi 3 kelompok,
(berbasis mesin) ada banyak tipe dan yaitu faktor benih, lingkungan fisik
jenisnya. Alat pembersih yang paling penyimpanan, dan faktor organisme
banyak digunakan sebagai pembersih
dasar (utama) adalah air scree hidup yang ada di dalam ruang
cleaner. Alat tipe ini menggunakan simpan. Ketiga faktor tersebut saling
kombinasi dari aliran udara dan berinteraksi baik secara langsung
saringan untuk memisahkan benih
berdasarkan ukuran, berat jenis dan maupun tidak langsung.
resistensi terhadap aliran udara. Air
screen cleaner tipe kecil terdiri dari 2 a) Faktor Benih
saringan dengan 3-4 aspirator. Cara
kerja alat ini terdiri dari tiga tahap, Kondisi benih merupakan faktor
yakni (1) saringan atas (scalping yang sangat berpengaruh terhadap
screen) menahan benih dan benda daya simpannya. Tiap jenis atau
yang berukuran besar, (2) aliran udara varietas benih memiliki daya simpan
(aspirating air) memisahkan benih dari tersendiri, sebagai contoh benih padi
benda-benda yang ringan, (3) memiliki umur simpan yang lebih lama
saringan bawah (graded screen) dibandingkan benih kedelai walaupun
memilah dan menahan benih yang faktor lainnya sama. Kondisi benih
bersih. Alat pembersih benih lain yaitu tersebut dipengaruhi oleh:
spesific gravity separator untuk
memilah benih berdasarkan berat x faktor genetik,
jenisnya, diseparasi untuk memilah
benih berdasarkan ukurannya, dan x faktor perlakuan sebelum benih
spiral separator untuk memilah benih disimpan, seperti kondisi
berdasarkan bentuknya. lapangan selama pertanaman
(kesuburan lahan, tingkat hama
f. Penyimpanan Benih dan penyakit, iklim); kondisi
lingkungan selama benih dalam
Tujuan penyimpanan benih pemasakan, pemanenan; dan
adalah mempertahankan daya hidup perlakuan pengolahan benih dari
(daya simpan) benih selama mungkin. calon benih menjadi benih
Dalam penyimpangan, faktor-faktor (perontokan, pengeringan), (3)
yang berpengaruh terhadap daya komposisi kimia benih,
simpan benih dioptimalkan agar
prosers kemun-duran dapat ditekan x struktur fisik benih,
seminimum mungkin.
x dormansi dan benih keras,
1) Faktor yang mempengaruhi daya
simpan benih x tingkat kemasakan benih,

Faktor yang mempengaruhi daya x tingkat kerusakan benih, dan (8)
simpan benih, secara umum kadar air benih.

b) Faktor lingkungan fisik ruang
penyimpanan

Faktor lingkungan fisik yang

mempengaruhi daya simpan benih di

dalam penyimpanan yaitu

105

kelembapan, temperatur, dan Gas yang berpengaruh terhadap
daya simpan benih di penyimpanan
komposisi gas di ruang simpan. antara lain oksigen (O2), karbon
dioksida (CO2), dan nitrogen (N2).
Kelembaban ruang simpan akan Semakin tinggi kadar O2 di ruang
penyimpanan, daya hidup benih akan
berpengaruh terhadap kadar air benih semakin turun. Meningkatnya kadar
CO2 dapat meningkatkan daya simpan
dan meningkatkan aktivitas benih bawang merah. Nitrogen dapat
mempercepat kemunduran benih
mikroorganisme. Karena bersifat bawang merah dan sawi.

higroskopis, benih mudah menyerap c) Jasad hidup di ruang
penyimpanan
atau melepaskan uap air tergantung
Jasad hidup yang terdapat di
kelembapan ruangan. Melindungi ruang penyimpanan benih umumnya
terdiri dari cendawan, bakteri, virus,
benih dari pengaruh kelembapan serangga, tungau, tikus, dan burung.
Kerusakan yang diakibat-kan oleh
dengan cara menggunakan kemasan jasad hidup ini umumnya secara fisik,
misalnya benih berlubang atau rusak.
yang resisten atau kedap, Selain itu, adanya jasad hidup juga
akan menyebabkan kondisi
menggunakan bahan penyerap lingkungan kurang baik, seperti
lingkungan menjadi lebih lembap dan
kelembapan (desikan), dan kurang bersih yang pada akhirnya
juga mempercepat kemunduran benih.
mengendalikan ruangan supaya tetap Pengendalian jasad hidup tersebut
dapat dilakukan dengan sanitasi atau
kering dengan alat dehumidifier fumigasi, yakni menutup seluruh benih
dengan terpal lalu memberinya bahan
(penurun kelembapan). Suhu fumigan seperti fostoxin.

berpengaruh terhadap laju respirasi d) Cara penyimpanan benih

benih dan tingkat kadar air Secara umum, penyimpanan
benih dilakukan dengan dua sistem,
kesetimbangan benih. Semakin tinggi yakni penyimpanan terbuka dan
penyimpanan terkendali. Sistem
termperatur, semakin tinggi laju penyimpanan terbuka berarti tidak ada
perlakuan terhadap kondisi lingkungan
respirasi dan semakin tinggi kadar air ruang penyimpanan. Daya simpan
benih tergantung padak ondisi daerah
kesetimbangan sehingga

mempercepat kemunduran benih.

Rumusan tentang pengaruh

temperatur dan kadar air benih

terhadap daya simpan benih yaitu

sebagai berikut : (1). Jumlah angka

kelembapan dalam % dan temperatur

dalam OF tidak boleh melampaui

angka 100 untuk penyimpanan benih

selama 3-10 tahun. Untuk

penyimpanan benih <3 tahun, angka

tersebut boleh sampai 120 dengan

catatan tingkat kelembapan udara

tidak melebihi 60Of. (2). Daya hidup

benih menjadi setengahnya jika

temperatur dinaikkan 5Oc. Hal ini

berlaku bila tempat penyimpanan

dengan kelembapan 20-70% dan

temperatur 0-50OC. (3). Daya hidup

benih menjadi setengahnya jika kadar

air benih ditingkatkan 1% untuk

kisaran benih berkadar air 5-14%.

106

penyimpanan. Di daerah dengan iklim sampai beberapa tahun.
yang lembap dan temperatur tinggi,
daya simpan benih akan cepat Penyimpanan kering dapat juga

menurun. Di daerah dengan iklim dilakukan dengan penggunaan bahan
kering dan dingin, benih bisa tahan
lama disimpan. Pada sistem pengemas yang rapat, seperti kantong

penyimpanan ini, biasanya benih plastik, botol atau kaleng yang tertutup
dikemas dengan wadah yang tidak
kedap, seperti kain blacu, karung goni, rapat.

kertas semen, dan bahan porus lain. Kombinasi penyimpanan kering
Ssitem penyimpanan ini hanya cocok
dan dingin, kelembapan maupun
untuk benih yang disimpan dalam
jangka pendek (<3 bulan). temperatur ruang simpan di kontrol

Pada sistem penyimpanan benih dengan alat atau dengan cara

terkendali, lingkungan ruang pengemasan seperti pada kedua
penyimpanan dikontrol atau
dikendalikan sedemikian rupa penyimpanan di atas. Ruang simpan

sehingga daya hidup benih dapat diberi AC, dehumidifier, dan benih
dipertahankan sesuai dengan
keinginan (lama yang diinginkan). dikemas dengan kemasan yang

Ada empat cara penyimpanan kedap. Sistem penyimpanan kering
benih dengan suhu dan kelembaban
dan dingin merupakan sistem
terkendali, yaitu penyimpanan secara
dingin, penyimpanan secara kering, penyimpanan terbaik yang mampu
penyimpanan kering dan dingin, serta
memperta-hankan daya simpan benih
penyimpanan beku.
Pada penyimpanan dingin, hingga 10 tahun.

temperatur ruangan diatur agar tetap Pada penyimpanan beku,

dingin dengan menggunakan AC (Air temperatur dibuat sangat rendah
condition). Dalam sistem ini, benih
antara -20oC hingga 5oC, kelembapan
diekmas dengan wadah yang relatif
rapat, seperti kantong plastik, dan ruang <30%, dan digunakan kemasan
benih dapat diperta-hankan sampai
benih yang rapat (kedap).
beberapa tahun, tergantung pada
tingkat kadar airnya. Penyimpanan ini mampu

Pada penyimpanan kering, mempertahankan benih bertahun-

kelembapan ruang simpan tahun, bahkan sampai 100 tahun.
dipertahankan rendah dengan
menggunakan alat pengering ruangan Sistem penyimpanan ini biasanya

dehumidifier. Benih bisa disimpan digunakan untuk penyimpanan koleksi
dalam wadah sarang lalu ditempatkan
benih penting yang dijadikan sebagai
di ruang ini. Selama perubahan
temperatur ruang simpan tidak bahan pemuliaan tanaman (plasma
terlampau tinggi, benih bisa disimpan
nutfah).

4.5 Mutu Benih

Program perbenihan

menitikberatkan pada penggunaan

benih yang tepat muitu yang

ditunjukkan pada labelnya. Agar tidak

tertipu oleh label benih, para

pengguna benih (terutama petani)

hendaknya memahami tentang mutu

benih dan komponen-komponennya

107

yang dicantumkan di dalam label dapat diperkirakan sebelumnya, yaitu
benih. dari data (label) daya berkecambah
dan nilai kemurniannya. Dengan
Secara umum, komponen mutu
benis dibedakan menjadi tiga, yaitu demikian, dapat diperkirakan jumlah
komponen mutu fisik, fisiologis, dan benih yang akan ditanam dan benih
genetik. Sekarang pasar sudah sulaman, diperkirakan jumlah benih
mendesak dimasukkannya komponen
mutu pathologis. Komponen mutu fisik yang akan ditanam dan benih
adalah kondisi fisik benih yang sulaman.
menyangkut warna, bentuk, ukuran,
bobot, tekstur permukaan, tingkat Secara fisik, benih bermutu
kerusakan fisik, kebersihan, dan
keseragaman. Komponen mutu menampakkan ciri-ciri berikut: (a).
fisiologis adalah hal yang berkait-an Benih bersih dan terbebas dari
dengan daya hidup benih jika
ditumbuhkan (dikecambahkan), baik kotoran, seperti potongan tangkai, biji-
pada kondisi yang menguntungkan bijian lain, debu dan kerikil. (b).
(optimum) maupun kurang mengun- Benih murni, tidak tercampur dengan
tungkan (suboptimum). Komponen
mutu genetik adalah hal yang varietas lain. (c). Warna benih terang
berkaitan dengan kebenaran dari dan tidak kusam. (d). Benih mulus,
varietas benih, baik secara fenotip tidak berbercak, kulit tidak terkelupas.
(fisik) maupun genetiknya. Adapun
mutu pathologis berkaitan dengan ada (e). Sehat, bernas, tidak keriput,
tidaknya serangan penyakit pada ukurannya normal dan seragam.
benih serta tingkat serangan yang
terjadi. Selain itu, benih dianggap

Pada label benih, unsur-unsur bermutu tinggi jika memiliki daya
mutu benih yang dicantumkannya tumbuh (daya berkecambah) lebih dari
meliputi kadar air, komponen benih
murni, campuran varietas lain, kotoran 80% (tergantung jenis dan kelas
dan daya tumbuh. Hal yang berkaitan benih) dan nilai kadar air di bawah
dengan ada atau tidaknya dan 13% (tergantung jenis benihnya; benih
besarnya serangan penyakit yang
terjadi, di Indonesia, belum kedelai mesti lebih rendah lagi).
dicantumkan dalam label sertifikat
benih. b. Kelas benih

a. Kriteria benih bermutu Benih merupakan hasil akhir dari

Penggunaan benih bermutu proses panjang yang dilakukan oleh
dalam budi daya akan meningkatkan
efektivitas dan efisiensi karena seorang pemulia tanaman dalam
populasi tanaman yang akan tumbuh
merakit sebuah varietas baru. Jika

proses penyebaran varietas baru dari

pemulia kepada petani dilakukan

secara langsung maka jumlah benih

yang tersedia tidak mencukupi

kebutuhans seluruh petani.

Untuk mengatasi keterbatasan

jumlah benih hasil pemuliaan ini,

dibutuhkan kegiatan perbanyakan

benih atau produksi benih. Sistem

perbanyakan benih dilakukan secara

berjenjang dengan selalu

108

mempertahankan identitas genetis 3) Benih pokok (BP= stock seed,
dan kualitas benih dari varietas yang (SS))
dihasilkan pemulia tanaman.
Benih pokok merupakan F1 dari
Benih hasil produksi ini kemudian benih dasar atau F2 dari benih
dikelompokkan kedalam kelas-kelas penjenis. Produksi benih pokok tetap
sesuai dengan tahapan generasi
perbanyakan dan tingkat standar mempertahankan identitas dan
mutunya, melalui suatu prosedur yang kemurnian varietas serta memenuhi
diatur dalam aturan sertifikasi benih. standar peraturan perbenihan maupun
Dari sistem dibagi menjadi empat.
sertifikasi oleh BPSB. Benih pokok
1) Benih penjenis (BP = breeder diproduksi oleh Balai Benih ataui
seed: (BS))
pihak swasta yang terdaftar dan diberi
Benih penjenis diproduksi dan label sertifikasi berwarna ungu.
diawasi oleh pemulian tanaman dan
atau oleh instansi yang menanganinya 4) Benih sebar (BR=extension seed
(Lembaga Penelitian atau Perguruan (ES))
Tinggi). Benih ini sebagai sumber
untuk perbanyakan benih dasar. Benih sebar merupakan F1 benih
Khusus untuk benih penjenis tidak
dilakukan sertifikasi tetapi diberikan pokok. Produksinya te-tap
label warna putih.
mempertahankan identitas maupun
2) Benih dasar (BD = foundation
seed (FS)) kemurnian varietas dan memenuhi

Benih dasar merupakan turunan standar peraturan perbenihan maupun
pertama (F1) dari benih penjenis.
Benih ini diproduksi dan diawasi sertifikasi oleh BPSB. Benih pokok
secara ketat oleh pemulia tanaman
sehingga kemurnian varietasnya dan benih sebar umumnya
dapat dipertahankan. Benih dasar
diproduksi oleh Balai Benih (terutam diperbanyak oleh Balai Benih atau
Balai Benih Induk, BBI) dan proses
produksinya diawasi dan disertifikasi penangkar benih dengan
oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi
Benih (BPSB). Benih dasar ini diberi mendapatkan bimbingan,
label sertifikasi berwarna putih.
pengawasan dan sertifikasi dari

BPSB. Benih sebar diberi label

sertifikasi berwarna biru.

Untuk benih palawija, selain benih

sebar berlabel biru juga terdapat benih

sebar berlabel hijau yang merupakan

keturunan dari benih sebar berlabel

biru. Produksi tetap mempertahankan

identitas dan tingkat kemurnian

varietas.

Dalam rangka memenuhi

kebutuhan benih bermutu yang terus

meningkat, sementara jumlah benih

bermutu yang beredar belum sesuai

dengan yang dibutuhkan maka

dimungkinkan untuk diproduksi benih

berlabel merah jambu (LMJ).

109

Pengadaan benih LMJ tidak melalui seperti padi dan jagung. Adapun benih
yang memiliki indeks penangkaran
proses sertifikasi, tetapi tetap rendah dapat menggunakan

memenuhi standar laboratorium untuk perbanyakan pola alur perbanyakan
ganda seperti pada kedelai. Pada
pelabelan. Selain dengan sistem alur perbanyakan benih alur

pengkelasan benih, upaya tunggal, tiap kelas benih diperbanyak
untuk menghasilkan kelas benih di
pemenuhan kebutuhan benih bawahnya sehingga F3 dari benih

bersertifikat juga dilakukan dengan penjenis adalah kelas benih sebar.

strategi alur perbanyakan benih. Benih

dengan indeks penangkaran tinggi

menggunakan strategi perbanyakan

pola alur pernabanyakan tunggal,

Benih penjenis (Breeder seed)

Benih dasar (Foundation seed)
Benih pokok (Stock seed)

Benih sebar (Extension seed)

Petani

Gambar 4.11.
Alur perbanyakan benih sistem polygeneration flow

110

Gambar 4.12.
Alur perbanyakan benih sistem monogeneration flow – transisi

Adapun pada sistem alur perbanyakan perbanyakan transisi pun dikenal pula
dalam perbanyakan benih kacang-
ganda, setiap kelas benih dapat kacangan. Pada sistem alur
perbanyakan ini, benih diperbanyak
diperbanyak untuk menghasilkan secara alur generasi tunggal sampai
dengan kelas benih pokok dan
kelas benih yang sama dengan slenajutnya benih diperbanyak secara
alur ganda untuk menghasilkan kelas
maksimal generasi diperbanyak 4 kali. benih sebar. Hal ini pun diterapkan
dengan pertimbangan kebutuhan
Dengan demikian, F3 dari kelas benih benih di lapang sehingga tidak perlu
benih F4.
penjenis bukan benih sebar,
b. Faktor yang Mempengaruhi
melainkan benis penjenis ke-3 yang Mutu Benih

dapat dijadikan sebagai bahan Mutu benih merupakan
perpaduan dari karakter genetik dan
perbanyakan kelas benih penjenis ke- pengaruh lingkungan. Adapun faktor-
faktor yang berpengaruh terhadap
4 atau kelas benih dasar. mutu benih antara lain faktor genetika,
faktor lingkungan dan faktor status
Penerapan sistem alur benih (kondisi fisik dan fisiologis
benih).
perbanyakan benih selalu

mempertimbangkan aspek volume

kebutuhan benih dan indeks

penangkaran benih. Oleh karenanya,

penerapan alur generasi ganda tidak

harus sampai generasi ke-4, tetapi

dapat hanya sampai generasi ke-3

atau ke-2 bila kebutuhan benih telah

tercukupi.

Selain dikenal dua sistem alur

perbanyakan benih, sebagai strategi

perbanyakan benih, sistem alur

111

1) Faktor genetik maka varietas yang ditanam
hendaknya. Hal ini untuk menghindari
Genetik merupakan faktor adanya tanaman voluntir hasil
bawaan yang berkaitan dengan penyerbukan silang antara tanaman
komposisi genetika benih. Setiap jenis sebelumnya (yang berbeda varietas)
atau varietas memiliki identitas genetik dengan pertanaman yang ada.
yang berbeda. Sebagai contoh, mutu Adanya tanaman voluntir dapat
daya simpan benih kedelai lebih mengakibatkan mutu (genetis) benih
rendah dibanginkan dengan mutu menjadi rendah. Jika penanaman
daya simpan benih jagung, kekuatan yang berbeda varietas tidak bisa
daya tumbuh (vigor) dan produksi dihindari, lahan masing-masing
benih jagung hibrida lebih tinggi dari varietas harus diisolasi.
benih jagung biasa (komposit).
Demikian pula padi var. Peta memiliki Isolasi yang dilakukan meliputi
mutu daya simpan yang lebih baik dari isolasi jarak maupun isolasi waktu.
benih padi var. Chainan. Semua Jarak antarblok pertanaman produksi
perbedaan tersebut diakibatkan benih diatur agar tidak terjadi
perbedaan gen yang ada di dalam penyerbukan silang, begitu juga waktu
benih. tanamnya.

2) Faktor lingkungan Berkaitan dengan waktu tanam,
hal terpenting adalah memperkirakan
Faktor lingkuingan yang bahwa saat panen benih tidak
berpengaruh terhadap mutu benih dilakukan pada musim hujan.
berkaitan dengan kondisi dan Sebaliknya, selama fase pertumbuhan
perlakuan selama prapanen, (fase vegetatif) curah hujan
pancapanen, maupun saat pemasaran hendaknya cukup memadai.
benih. Faktor-faktor tersebut adalah Kesalahan dalam menentukan waktu
sebagai berikut : tanam bisa mengakibatkan proses
pembentukan dan perkembangan
a) Lokasi produksi dan waktu tanam benih kurang sempurna (terutama
fase pengisian biji/grain filling)
Lokasi produksi benih dipilih sehingga kuantitas maupun kualitas
lahan yang subur, tidak merupakan benih menjadi rendah.
sumber investasi hama dan penyakit,
serta sumber kontaminan terhadap b) Teknik budidaya
varietas tanaman yang akan
diproduksi. Dalam memilih lokasi Semua tindakan dalam teknik
produksi, senantiasa memperhatikan budi daya produksi benih akan
sejarah lahan dan kondisi pertanaman berpengaruh langsung terhadap mutu
sekitar lahan. benih. Dari mulai tingkat kesuburan
lahan dan teknik pemupukan, jarak
Jika lahan produksi harus tanam, status serangan hama dan
ditanami jenis komoditas yang sama penyakit serta pengendaliannya,
dengan pertanaman sebelumnya kondisi gulma, pengelolaan air,
sampai perlindungan tanaman dari

112

penyerbukan silang. Untuk d) Penimbunan dan penanganan
mendapatkan benih bermutu tinggi, hasil
teknik budi daya produksi benih perlu
Ketika dipanen, kadar air benih
berpedoman pada kaidah-kaidah masih relatif tinggi dan masih dalam
sertifikasi benih. bentuk calon benih (masih dalam
malai, di dalam polong kelobot, atau
c) Waktu dan cara panen struktur pembungkus benih lainnya).
Keadaan tersebut membawa
Dalam pembentukannya, benih konsekuensi pada tingginya proses
metabolisme yang terjadi di dalam
mengalami beberapa stadia, yaitu benih, tingginya tingkat kepekaan
benih terhadap benturan dengan alat-
stadia pembentukan, stadia matang alat (mesin) pengolahan pada
pascapanen, serta tingginya potensi
morfologis, stadia perkembangan serangan hama dan penyakit. Oleh
karenanya, sistem penimbunan dan
benih, dan stadia masak fisiologis. penanganan hasil sangat berpengaruh
pada kualitas benih yang akan
Pada stadia masak fisiologis, bobot dihasilkan.

kering benih mencapai maksimum dan Penimbunan hasil yang baik
ditujukan untuk menghindari terjadinya
benih telah lepas dari tanaman proses metabolisme anaerobik pada
benih. Tempat penimbunan hasil
induknya. Pada saat itu kadar air hendaknya cukup luas dan
mempunyai sirkulasi udara yang baik.
benih cukup tinggi sehingga tidak Jika tempat penimbunan berupa ruang
terbuka, perlu digunakan alas dan
cukup aman terhadap kerusakan penutup timbunan benih yang kedap
air, seperti terpal plastik, untuk
mekanik pada saat panen maupun menghindari pengembunan pada
malam hari.
pascapanen. Oleh krenanya, saat
Berkaitan dengan penanganan
panen yang sering dilakukan yaitu hasil, benih hendaknya sesegera
mungkin diproses untuk menghindari
beberapa hari setelah masak dampak buruk. Semakin cepat proses
penanganan benih, semakin baik
fisiologis, sampai kadar air benih mutu benih yang dihasilkan karena
memperkecil energi yang terbuang
cukup aman untuk panen dan akibat proses metabolisme benih
selama di dalam penimbunan.
penanganan pasca panen. Bahkan

utnuk beberapa kasus, jika kondisi

lingkungan memungkinkan (tidak ada

hujan, gangguan hama dan penyakit

serta benih rontok), benih tidak

dipanen. Tindakan ini merupakan

tindakan pengeringan dan

penyimpanan benih di lapangan.

Agar benih tidak rusak pada saat

panen, hendaknya digunakan alat

panen yang tidak menimbulkan

kerusakan mekanik (fisik) benih.

Panen secara manual atau

menggunakan alat panen sederhana

merupakan cara panen terbaik karena

tidak menimbulkan kerusakan fisik

yang berarti, meski cara ini kurang

efisien.

113

3) Faktor fisik dan fisiologis benih dan mutu benih dari pengaruh-

pengaruh lingkungan luar

Faktor ini berkaitan dengan (kelembaban udara, suhu ruangan,

performa benih seperti tingkat dan hama serta penyakit). Kadar air
kemasakan, tingkat kerusakan
mekanis, tingkat keusangan benih sangat penting untuk

(hubungan antara vigor awal dan dipertahankan karena peningkatan 1%
lamanya disimpan), tingkat kesehatan,
ukuran dan berat jenis, komposisi nilai kadar air akan mampu

kimia, struktur, tingkat kadar air, dan menurunkan daya simpan benih
dormansi benih.
menjadi setengahnya. Kadar air dapat

dipertahankan dengan kemasan yang

kedap udara luar, seperti plastik

polietilin, atau benih disimpan dalam

a) Tingkat kemasakan benih ruangan yang kering, misalnya di atas

para-para dapur. Pendistribusian

Panen yang dilakukan sebelum benih tidak sampai merusak kemasan

masak fisiologis akan menghasil-kan benih. Apabila kemasannya rusak,

benih yang kurang bermutu. Oleh kadar air benih akan berubah dan

karenanya, pemanenan benih pada memungkinkan tercampurnya antara

tingkat kemasakan yang tepat satu kelompok benih (dari satu

sangatlah penting dalam kemasan) dengan kelompok benih lain

mendapatkan tingkat mutu benih (dari kemasan aslinnya).

(awal) yang tinggi dan mutu daya

simpan benih yang panjang. d) Tingkat kesehatan benih

b) Tingkat keusangan benih Tingkat kesehatan berkaitan

Tingkat vigor awal tidak dapat dengan ada tidaknya serangan dan
dipertahankan karena benih akan tingkat serangan hama dan penyakit.
Serangan hama dari penyakit dapat
mengalami proses kemunduran
secara kronologis. Sifat kemunduran terjadi sejak benih masih berada di
lapang sampai di ruang penyimpanan.
ini tidak dapat dicegah dan tidak dapat
balik atau diperbaiki secara sempurna. Mutu benih yang terserang hama
dan atau penyakit akan menurun.
c) Tingkat kerusakan benih Kerusakan yang ditimbulkan oleh

Tingkat kerusakan benih pada hama dapat secara langsung, yakni
benih dimakan atau struktur, terutama
umumnya dapat diidentifikasi dari laju embrio, rusak (sehingga benih tidak
kemunduran mutu benih. Hal ini
dapat diperkecil dengan melakukan mampu berkecambah secara normal).
Dapat pula benih rusak secara tidak
penanganan dan pengolahan, langsung, yakni hama sebagai
penyimpanan, serta pendistribusian
pembawa penyakit. Adapun
benih secara baik. Pengemasan dan kerusakan yang ditimbulkan penyakit,
penyimpanan benih hendaknya
mampu menjaga tingkat kadar air selain menimbulkan lingkungan
penyimpanan yang tidak optimum,
cendawan umumnya menghasilkan

114

produk beracun seperti aflatoksin (oily seed) dan benih berprotein
yang akan meracuni benih sehingga (protein seed). Benih dikatan
akan menurunkan aktivitas enzim berlemak jika memiliki kandungan
tatkala benih dikembahkan. lemak antara 18-50%, dikatakan
berprotein jika kandungan proteinnya
e) Ukuran dan berat jenis benih 18-50% dan kandungan lemak <18%,
sedangkan dikatakan berpati jika kan-
Ukuran dan berat jenis benih dungan patinya >50% dengan
sangat berkaitan dengan posisi bnenih kandungan lemak dan protein <18%.
di dalam buah dan posisi buah pada
tanaman. Butiran benih padi yang Komposisi kimia benih
terletak di ujung malai memiliki ukuran berhubungan dengan mutu daya
dan berat jenis yang lebih besar simpannya. Di tempat terbuka, benih
dibandingkan butiran benih pada berpati dan berprotein mempunyai
pangkal malai. Hal ini disebabkan daya simpan lebih lama dibandingkan
benih-benih di ujung malai lebih benih berlemak. Hasil penguraian
dahulu terbentuk dan berkembangl. lemak tak jenuh di dalam benih akan
Sebaliknya benih-benih yang berada menghasilkan asam lemak bebas, lalu
di pangkal dan tengan tongkol jagung terurai menjadi radikal bebas yang
memiliki ukuran dan berat jenis yang akan merusak fungsi enzim di dalam
lebih tinggi dibandingkan dengan proses meta-bolisme benih. Pada
benih di ujung tongkol. Hal ini pun akhirnya benih cepat mengalami
disebabkan benih pada pangkal dan kemunduran.
tengah tongkol lebih dahulu terbentuk
dan berkembang. Fenomena yang g) Struktur benih
sama pun terjadi pada benih kedelai,
benih yang berasal dari polong di Struktur benih sangat berkaitan
pangkal batang memiliki ukuran dan dengan sistem penyebaran benih
berat jenis yang relatif lebih besar (seed dispersal, misalnya dilengkapi
dibanding benih-benih yang berasal sayap sehingga mudah menyebar)
dari polong di ujung batang. Benih- dan mempunya fungsi sebagai
benih dengan ukuran dan berat jenis pelindung (protecting structure) dari
lebih besar, pada varietas yang sama kerusakan fisik dan mekanik. Sistem
dan tingkat kadar air yang sama, pelindung ini bisa terkait dengan
diduga memiliki mutu fisiologis yang struktur fisik benih (bentuk dan
lebih tinggi karena benih tersebut ukuran), tetapi juga bisa terkait
memiliki jumlah cadangan makanan dengan berat benih.
yang lebih banyak.
Atas dasar ini, benih
f) Komposisi kimia benih dikategorikan dalam lima kelompok
yaitu :
Berdasarkan komposisi kimia ini, x weight protected seed (benih
benih dibedakan menjadi benih
berpati (starchi seed), benih berlemak yang dilindungi oleh beratnya
yang ringan).
x structure protected seed (benih
dilindungi oleh struktur fisiknya).

115

x loose filled seed (benih dilindungi berkait erat dengan mutu fisik,
oleh ruangan yang cukup longgar fisiologis, dan patologis. Proses panen
antara benih dan kulit buah). dan perontokan yang dilakukan pada

x naked fruit (buah terbuka), serta benih berkadar air tinggi akan
x naked seed (benih terbuka). mengakibatkan benih memar.
Sebaliknya, jika terlalu kering, proses
Berdasarkan kategori tersebut,
padi tergolong structure protected perontokan dapat mengakibatkan
seed, jagung tergolong naked fruit, benih retak. Demikian pula dalam
kacang tanah tergolong loose filled proses pengeringan, benih berkadar
seed, sedangkan kacang hijau dan
kedelai tergolong naked seed. air tinggi yang dikeringkan dengan
suhu tinggi (kecepatan pengeringan
Struktur benih berkaitan dengan
mutu benih, yaitu semakin terbukanya tinggi) dapat terjadi pengerasan pada
struktur benih maka semakin tinggi kulit benih. Dalam kondisi ini, benih
nilai indeks kerusakannya. Hal ini belum kering, tetapi tampak seolah-
berarti indeks kerusakan benih
(damage susceptibility index; DSI) olah telah kering karena air di dalm
kedelai lebih tinggi dari benih jagung, benih tidak dapat diuapkan akibat kulit
DSI benih jagung lebih tinggi dari yang keras. Demikian juga, dengan
benih padi. Selain itu kombinasi
antara komposisi kimia dan struktur pemberian bahan kimia pada
benih dapat menduga tingkat beberapa jenis benih (seperti
kerusakan dan kemunduran benih pemberian Ridomil pada benih
seperti yang tertera pada tabel 1.
jagung). Jika masih berkadar air
h) Tingkat kadar air benih tinggi, bahan kimia yang akan

Kadar air benih merupakan faktor terabsorbsi benih melebihi batas
yang sangat berpengaruh terhadap aman sehingga dapat meracuni benih.
mutu benih. Kadar air benih sangat Kadar air benih sangat berpengaruh

pada penyimpanan. Pengaruh
tersebut bisa bersifat langsung, yaitu
berlangsungnya metabolisme benih,

maupun tidak langsung, yakni
memberikan kondisi yang optimum

116

Tabel 4.1 Indeks kerusakan dan kemunduran benih berkaitan dengan komposisi

kimia dan struktur benih

Komposisi Kimia Benih

Benih Benih Berlemak Benih Berprotein Benih Berpadu

(DSI = 6) (DSI = 3) (DSI = 2)

1. Padi (structure protected 4

seed, DSI = 2)

2. Kacang tanah belum 18

dikupas (loose filled seed,

DSI=3)

3. Kacang tanah kupas 30

(naked seed, DSI=5)

4. Jagung (naked fruit, DSI=4) 8

5. Kedelai (naked seed, 30

DSI=5)

Sumber: Potts, 1972

untuk perkembangbiakan hama dan i) Dormansi benih

penyakit. Kadar air yang tinggi Dormansi benih merupakan
kondisi benih yang tidak mampu
menyebabkan laju respirasi benih berkecambah meski kondisi
lingkungannya optimum untuk
menjadi tinggi sehingga sejumlah perkecambahan. Berbeda dengan
dormansi adalah guiescence.
energi di dalam benih hilang. Guiescence adalah kondisi benih yang
tidak berkecambah karena tidak
Respirasi tersebut juga menghasilkan tersedia lingkungan yang optimum
untuk perkecambahan.
produk yang tidak diperlukan, seperti
Dormansi benih dibedakan
gas karbondioksida, air, dan panas. menjadi dua, yaitu dormansi primer
dan dormansi sekunder. Dormansi
Dalam keadaan seperti ini benih primer adalah sifat dormansi yang
timbul karena sifat fisik dan fisiologis
mengalami kemunduran. Produk benih. Dormansi primer dibedakan
menjadi exogenous dormancy dan
respirasi tersebut selanjutnya endogenous dormancy. Exogenous
dormancy umumnya terjadi karena
merupakan stimulan untuk sifat kulit benih. Klulit benih menjadi
penghalang masuknya air dan atau
peningkatan laju respirasi berikutnya. gas kedalam benih dalam proses
perkecambahan sehingga proses
Dengan demikian, lajur respirasi perkecambahan tidak terjadi. Selain
itu kulit benih juga menjadi
semakin meningkat dan akibatnya

lajur kemunduran benih semakin

meningkat pula. Selain stimulan

terhadap laju kemunduran benih,

produk respirasi tersebut juga

merupakan kondisi optimum untuk

perkembang-biakan cendawan.

Cendawan akan aktif dan berkembang

biak secara cepat pada tingkat kadar

air benih 13-18%. Adapun hubungan

kadar air dengan kondisi fisik dan

fisiologis benih dapat dilihat pada

tabel 4.2.

117

penghalang munculnya kecambah zat penghambat tumbuh dapat
(radicle protusion) pada proses dibersihkan dair benih.
perkecambahan. Tipe dormansi ini
Dormansi sekunder adalah
terjadi pada benih yang berkulit keras dormansi yang disebabkan oleh tidak
(hardseed), seperti pada benih legum. tersedianya salah satu faktor yang
Dormansi ini dapat dipatahkan dengan berpengaruh bagi perkecambahan
tertentu. Meski sifat dormansi sangat
memberi perlakukan terhadap kulit berkaitan dengan sifat genetik, tetapi
benih agar menjadi permeable dormansi benih (terutama dormansi
(mudah dilalui) air dan gas, seperti sekunder) dapat pula disebabkan oleh
faktor lingkungan dan atau faktor
pelukaan kulit dan perendaman dalam pengelolaan dalam proses produksi,
air panas. pengolahan, dan penyimpanan benih.
Kondisi iklim yang kering dan panas
Endogenous dormancy terjadi sangat kondusif untuk menghasilkan
berkaitan dengan sifat internal benih yang berkulit keras (hardseed).
(endogen) fisiologis benih, seperti
Hubungan antara dormansi
kondisi embrio yang belum masak benih dan mutu benih terkair dengan
(rudimentary embryo) dan tidak mutu daya simpan benih. Benih
seimbangnya komposisi zat pengatur dorman akibat kekerasan kulit benih
secara umum diyakini memiliki daya
tumbuh didalam embrio sehingga simpan yang lebih panjang
proses perkecambahan (terutama dibandingkan benih yang tidak
aktivasi enzim dan respirasi) memiliki sifat kulit benih keras. Namun
demikian nilai positif dormansi benih
terhambat dan akhirnya gagal ini menuntut penanganan yang tepat
berkecambah. saat benih harus dikecambahkan
karena dibutuhkan teknik pematahan
Tipe dormansi ini terjadi pada dormansi yang tepat pula.
benih-benih yang mengalami after
ripening (embrio masak setelah

panen), sperti padi, dan benih-benih
yang mengandung zat penghambat
tumbuh (growth inhibitor), seperti

tomat. Mematahkan tipe dormansi ini
dengan pemberian zat perangsang

tumbuh atau dengan pencucian agar

Tabel 4.2. Hubungan kadar air dengan kondisi fisik dan fisiologi benih

Kadar Air (%) Kondisi Fisik dan Fisiologi Benih

30-80 Belum siap dipanen
18-40
Benih sudah masak fisiologis. Kecepatan respirasi benih relatif
13-18 tinggi. Benih peka terhadap gangguan yang berasal dari lapangan.
Benih peka terhadap hama, patogen, faktor fisik dan mekanik.

Laju respirasi benih masih tinggi. Benih peka terhadap serangan
hama, patogen, faktor fisik dan mekanik.

118

10-13 Benih aman untuk disimpan selama 6-18 bulan. Benih masih peka
8-10 terhadap beberapa serangga hama dan kerusakan mekanik.

4-8 Benih aman untuk disimpan selama 1-3 tahun. Benih cukup tahan
0-4 terhadap serangan patogen, tetapi masih peka terhadap beberapa
33-66 hama dan kerusakan mekanik.

Benih aman untuk disimpan dalam wadah tertutup dan kedap
udara.

Benih terlalu kering sehingga kondisi benih dalam keadaan rusak.

Benih akan berkecambah setelah mengimbibisi air sampai kadar
air benih 33-66%

patogen secara terpisah terbawa biji,

4.6 Pengujian Kesehatan Benih dalam hal ini patogen bisa berada

Berbagai jenis cendawan, bakteri, dalam sisa tanaman, butiran tanah
nematoda dan virus dapat terbawa
benih tanaman. Dari hasil-hasil atau dalam bentuk struktur tertentu.
penelitian yang telah dilakukan
diketahui kelompok cendawan Sebagai upaya untuk mencegah
merupakan mikro-organisme yang
paling dominan berasosiasi dengan atau mengurangi risiko akibat
benih. Sebagian patogen terbawa
benih dapat menimbulkan gangguan gangguan penyakit atau patogen
tidak saja di pertanaman, tetapi juga di
tempat penyimpanan. Cendawan terbawa benih, maka perlu dilakukan
merupakan mikroorganisme utama
yang sering menimbulkan gangguan pemeriksaan atau pengujian
di tempat penyimpanan. Kebanyakan
patogen terbawa benih menjadi aktif kesehatan benih sebelum benih
segera setelah benih disebar atau
disemai, tetapi sebagian patogen baru disimpan ataupun sebelum ditanam.
menunjukkan aktivitasnya yang
ditunjukkan gejala tertentu setelah Metode pengujian kesehatan benih
tanaman dewasa dan berproduksi.
Patogen (lebih tepat disebut inokulum yang digunakan sangat tergantung
patogen) dapat terbawa benih
tanaman dalam 3 cara. Pertaman pada jenis benih dan jenis patogen
patogen terbawa secara internal dan
berada di dalam jaringan struktur yang mungkin terbawa benih.
perbanyakan tanaman seperti biji,
dalam hal ini patogen bias berada di Penentuan metode tersebut
embrio, endosperm atau kulit biji.
Kedua, patogen menempel pada dimaksudkan agar deteksi dan
permukaan benih. Dan ketiga,
identifikasi patogen terbawa benih

dapat dilakukan dengan mudah dan

akurat. Hal tersebut berarti untuk

pengujian suatu contoh benih dapat

digunakan lebih dari satu metode

pengujian kesehatan benih. Berbagai

macam cara pengujian kesehatan

benih untuk mendeteksi

mikroorganisme atau patogen terbawa

benih dapat dikelompokan menjadi :

a. Pengamatan Secara Visual
terhadap Benih Kering

Pengujian kesehatan benih
dengan metode pengamatan benih

119

kering dapat dilakukan secara cepat tanaman atau butiran-butiran tanah.

untuk mendapatkan informasi awal Benih yang mengalami diskolorasi

tentang penampakan atau status maupun yang mengandung patogen

kesehatan benih. Tetapi metode ini infeksi tidak dicantumkan dalam

hanya mendeteksi cendawan yang analisis kemurnian benih, oleh karena

ada di permukaan benih atau itu perlu ada kerjasama dari petugas

tercampur bersama benih serta yang menangani kemurnian benih

kondisi fisik benih saja. Metode ini dengan petugas yang menangani

dapat digunakan untuk mendeteksi kesehatan benih sebelum

patogen yang menyebabkan gejala menerbitkan sertifikat benih.

khas pada benih misalnya disklorisasi

atau perubahan warna pada kulit Prosedur :

benih, perubahan ukuran, dan bentuk Metode ini bersifat kualitatif, sehingga

benih. Metode ini juga dapat tidak ada standar dalam jumlah

digunakan untuk mendeteksi patogen contoh benih tertentu yang digunakan

yang menghasilkan struktur tubuh dalam pengujian.

buah yang dapat dilihat secara visual

pada benih atau tercampur pada c. Metode Pencucian Benih

benih.

Sebagai tambahan metode ini Metode pencucian benih terutama

berguna untuk mengetahui adanya dilakukan untuk mendeteksi

serangan/infestasi serangga benih cendawan yang membentuk struktur

atau kerusakan benih atau melihat di permukaan benih. Pengujian dapat

adanya perlakuan benih dengan dilakukan secara cepat dan mudah,

pestisida. Metode ini berkaitan namun pengujian dengan cara ini

langsung dengan kegiatan analisis memiliki keterbatasan karena

kemurnian benih (purity), yaitu apakah cendawan yang berada di dalam

benih tercampur dengan benda-benda jaringan benih tidak dapat diketahui

dan benih lainnya dalam proses atau terdeteksi. Hasil pengujian

pemberian sertifikasi benih. tersebut tidak dapat menggambarkan

Berdasarkan peraturan tingkat infeksi dan infestasi patogen

Internasional Seed Testing pada benih.

Association (ISTA) benda-benda Sebagaimana pengamatan

tercampur benih antara lain butiran secara visual terhadap benih kering,

tanah, pasir, batu, sisa tanaman, puru dalam metode pencucian benih tidak

nematoda, maupun tubuh buah ada standar dalam jumlah benih yang

cendawan seperti sklerotia, smut/ bunt diuji. Prosedur yang biasa digunakan

(yaitu butiran benih yang telah terisi di berbagai laboratorium adalah

struktur cendawan). Unsur-unsur yang sebagai berikut :

tercampur dengan benih tersebut Prosedur pencucian benih adalah

sangat potensial dalam sebagai berikut: Sebanyak 50 gr

perkembangan dan penyebaran suatu benih (dari 1 kg benih contoh)

patogen, karena berbagai cendawan dimasukan ke dalam gelas

mampu bertahan pada sisa-sisa Erlenmeyer kemudian ditambahkan

120

100 ml air steril. Untuk memudahkan cendawan. Pengujian kesehatan
benih dengan metode inkubasi yang
peluruhan struktur cendawan dari sering dilakukan adalah pengujian
dengan media kertas (Blotter-test),
permukaan benih sering ditambahkan dan pengujian pada media agar.

1 tetes Twin 20. Benih tersebut Metode Inkubasi dengan Media
Kertas (Blotter-Test) Metode Blotter
dikocok selama 5 menit (dengan adalah salah satu dari metode
inkubasi, yaitu benih ditumbuhkan
shaker) selanjutnya disaring dengan pada kertas saring basah,
diinkubasikan selama 7 hari dengan
kain kasa. Air hasil pencucian penyinaran lampu ultra violet selama
12 jam terang dan selama 12 jam
dimasukan dalam tabung sentri-fugasi kondisi gelap secara bergantian.
Benih yang diinkubasi tersebut diamati
dan kemudian disentrifugasi pada di bawah mikroskop dengan
pembesaran 50–60 kali untuk melihat
kecepatan 1500–2000 rpm selama 3 pertumbuhan cendawan.

menit. Sedimen yang terbentuk Cendawan yang tumbuh diamati
dan didekteksi berdasarkan
dipisahkan dengan air dengan cara karakteristik keberadaan tumbuhnya
seperti tubuh buah, konidia yang
membuang air tersebut menggunakan muncul dari konidiofor (tangkai
konidia), spora dengan massa
pipet. sporanya, sporodokium dan
aservulus, piknidiospora da-lam
Selajutnya dilakukan pengamatan piknidia, dan askospora dalam
peritesia.
mikroskopis; sebanyak 1 ml lactofenol
1) Metode inkubasi dengan media
ditambahkan pada sedimen dalam kertas saring

tabung dan dicampur hingga merata. Sebanyak 400 benih diletakkan
dalam cawan petri berdiameter 9 cm.
Dengan menggunakan pipet, Jumlah benih per cawan petri 10 atau
25 tergantung dari ukuran benih. Tiap
campuran sedimen diteteskan pada cawan petri diberi label nomor benih
dan tanggal pengujian. Sebelum benih
gelas objek dan ditutup dengan gelas diletakkan, cawan dialasi dengan 2
lapis kertas saring yang telah
penutup dan selanjutnya dilakukan dicelupkan ke dalam air bersih.
Usahakan jangan terlalu banyak air
pengamatan di bawah mikroskop (tidak tergenang). Letakan benih satu

dengan pembesaran 100–400 kali

untuk melihat struktur cendawan. Bila

pendekatan kuantitatif diperlukan,

maka pengamatan dapat

menggunakan haemacytometer untuk

mengetahui kepadatan inokulum

(cendawan) per satuan berat benih.

d. Metode Inkubasi

Prinsip pengujian benih dengan
metode inkubasi adalah memberikan
kondisi tumbuh yang optimal bagi

mikroorganisme terbawa benih, baik
yang ada di permukaan ataupun yang
ada di dalam jarungan benih. Dengan

cara tersebut maka mikro-organisme/
patogen terbawa benih, terutama

cendawan dan bakteri dapat
terdeteksi dengan mengamati
karakteristik pertumbuhan dan struktur

121

per satu dengan menggunakan pinset secara teknis dalam pengamatan
sehingga informasi menjadi bias.
seperti Gambar 2.
Setelah diberi perlakuan dingin
Selanjutnya benih diinkubasi pada kemudian benih diinkubasi selama 5
hari pada suhu ruang dengan
suhu kamar dengan penyinaran lampu penyinaran lampu ultra violet 12 jam
terang dan 12 jam gelap secara
ultra violet 12 jam terang dan 12 jam bergantian.

gelap secara bergantian selama 7 Pada hari ke-8 benih diamati
seperti prosedur pengamatan metode
hari. Pada hari ke-8 dilakukan inkubasi dengan media kertas
standar.
pengamatan dengan menggunakan
3) Metode inkubasi pada media agar
mikroskop stereo. Pada tiap benih
Dalam metode media agar
diamati karakteristik pertumbuhan inokulum terbawa benih, dideteksi
berdasarkan karakteristik koloni pada
berbagai cendawan yang tumbuh. media agar yang berkembang dari
benih. Secara umum prinsipnya sama
Kadang-kadang sangat sulit dengan prinsip dari pengujian dengan
media kertas. Dalam beberapa hal
mengidentifikasi cendawan melalui metode ini memiliki kelebihan, yaitu
memberikan informasi relatif lebih
pengamatan karakteristik cepat dan cukup menggambarkan
status kesehatan benih dibandingkan
pertumbuhan cendawan, oleh karena dengan metode media kertas, karena
ketersediaan nutrisi pada media agar
itu dibuat preparat dari cendawan memungkinkan cendawan atau bakteri
tumbuh dan berkembang secara lebih
tersebut dan diamati dengan bantuan baik dan lebih cepat sehingga
memudahkan dalam pengamatan.
mikroskop compoun dan kunci Biasanya cendawan atau bakteri akan
membentuk koloni yang khas pada
identifikasi. Jika suatu cendawan telah media agar.

teridentifikasi, dituliskan kode Dalam pelaksanaan pengujian
dengan media agar memerlukan
cendawan pada kertas blotter didekat persiapan yang lebih lama, relatif
rumit dan mahal, terutama bila
cendawan yang bersangkutan. menggunakan media spesifik. Sering
terjadi kesulitan dalam pengamatan
Jumlah benih yang terinfeksi suatu karena pertumbuhan koloni cendawan
atau bakteri men-jadi berbeda atau
cendawan dihitung sebagai tingkat berubah bila menggunakan media

infeksi cendawan pada contoh benih

yang diuji.

2) Metode inkubasi dengan media
kertas dengan pendinginan

Sebanyak 400 benih diletakkan
dalam cawan petri yang telah dialasi
kertas saring seperti pada metode

inkubasi dengan kertas standar.
Benih diinkubasi selama 24 jam pada
suhu ruang dengan penyinaran lampu

ultra violet 12 jam terang dan 12 jam
gelap. Pada hari ke-2 benih disimpan
pada suhu –20o C selama 24 jam.

Tujuan perlakuan pendinginan
tersebut adalah untuk menghambat

atau menekan perkecambahan benih.
Hal ini disebabkan sering
perkecambahan benih menyulitkan

122

tumbuh yang berbeda dengan waktu e. Uji Gejala pada Bibit/Kecambah
yang berbeda pula. Kesulitan lain
pada waktu pengamatan adalah Patogen dapat menghasilkan
gejala pada bibit/kecambah baik pada
pertumbuhan cendawan bukan akar, kotiledon, atau hipokotil. Benih
sasaran (cendawan saprofit) tumbuh yang terinfeksi pada kondisi yang
lebih ekstensif sehingga menekan menguntungkan dapat menghasilkan
gejala pada bibit sama dengan gejala
pertumbuhan cendawan patogen yang di lapangan, sehingga metode ini
menjadi sasaran pengamat-an. Untuk dapat digunakan untuk mendapatkan
keperluan pengujian dengan media informasi yang mewakili penampakan
di lapangan. Sejumlah cendawan,
agar digunakan berbagai jenis media bakteri dan virus terbawa benih sering
tumbuh seperti PDA dan media semi menghasilkan gejala infeksi atau
serangan pada kecambah atau bibit
selektif atau selektif seperti Czapek, tanaman. Gejala terjadi pada akar,
Media BSC, Media Komada, dan lain- batang, daun atau seluruh bagian
lain. kecambah atau bibit tanaman. Pada
berbagai kejadian inokulum cendawan
Prosedur metode inkubasi pada terbawa benih menyebabkan
media agar adalah sebagai berikut: kematian pada tanaman atau
Media agar steril disiapkan dalam kecambah.

cawan petri steril. Sebanyak 400 Beberapa kelompok cendawan
benih dari satu contoh benih diberi terbawa benih yang sering
perlakuan sterilisasi permukaan menyebabkan penyakit pada
kecambah atau bibit antara lain
dengan NaOCL 1 % selama 3 menit. Alternaria, Ascochyta, Colletotrichum,
Kemudian benih ditiriskan pada kertas Drechslera, Fusarium, Macrophomina.
Sedangkan kelompok bakteri yang
saring steril. Dalam banyak kasus, sering menunjukkan gejala pada
perlakuan sterilisasi pada permukaan kecambah antara lain Pseudomonas
benih tidak dilakukan. spp. Media tumbuh yang digunakan
untuk pengujian gejala pada bibit/
Benih diletakkan pada media agar kecambah adalah media pasir, bata
dalam cawan petri. Tiap cawan merah, campuran pasir dan tanah
ditanami 10 butir benih. Pekerjaan serta media buatan seperti agar air.
Pengujian kesehatan benih dengan
penanaman benih tersebut dilakukan gejala bibit/ kecambah mempunyai
secara aseptik, yaitu membersihkan beberapa kelebihan dibandingkan
metode yang lain.
tempat dan alat kerja dengan bahan
aseptik seperti alkohol 70 %. Benih Pengujian dengan cara ini dapat
diinkubasi pada suhu kamar selama 7 mengamati penularan (transmisi)
patogen dari benih ke tanaman dari
hari dengan penyinaran lampu ultra satu fase ke fase pertumbuhan
violet 12 jam terang dan 12 jam gelap
secara bergantian.

Pengamatan dilakukan pada hari
ke-8 tetapi sering pula dilakukan mulai
hari ke-4, karena koloni cendawan

sudah mulai tampak. Hal yang diamati
adalah karak-teristik koloni dan

struktur cendawan. Untuk bakteri
bahkan peng-amatan sudah dapat
dilakukan pada hari ke-2 atau ke-3.

123

tanaman. Beberapa patogen tidak f. Uji Serologi
mudah dideteksi dengan metode lain
karena serangan patogen tersebut Uji ELISA (Enzyme-Linked
Immuno-sorbent Assays) adalah
yang bersifat laten. Sehingga pengujian serologi terutama
diperlukan fase tertentu pertumbuhan digunakan untuk mendeteksi bakteri
tanaman agar gejala dan dan virus terbawa benih. Prinsip
pengujian tersebut adalah reaksi in
perkembangan patogen dapat vitro antara antigen dan antibodi.
dideteksi. Metode ini sangat Dalam pengujian cara ini sangat
bermanfaat untuk pengujian contoh tergantung kepada ketersediaan
sejumlah antibodi yang spesifik untuk
benih yang jumlahnya terbatas seperti patogen sasaran. Uji ELISA sebagai
benih hasil pemuliaan pada tahap salah satu metode serologi untuk
mendeteksi virus sering digunakan
tertentu dan juga bermanfaat untuk karena metode tersebut sederhana,
tujuan karantina. Pengujian gejala mudah dilakukan, cepat, sensitif,
bibit/kecambah dapat digunakan untuk akurat, dan dapat digunakan untuk
menguji sampel dalam jumlah besar.
evaluasi efektivitas perlakuan benih, Metode tersebut berdasarkan pada
baik dengan kimia maupun secara konjugasi antara virus– antibodi dan
fisik. enzim, dengan menambahkan
substrat pewarna maka adanya
Prosedur pengujian dengan konjugasi tersebut dapat diperlihatkan.
metode media agar cair adalah
sebagai berkiut: Dengan media agar Dalam uji ELISA ada beberapa
cara yang digunakan yaitu indirect
air (water agar) dilakukan dengan cara ELISA, double antibody sandwich
sebagai berikut. Tuangkan 10 ml agar ELISA (DAS ELISA), DAS ELISA
protocol, F (ab’) 2 indirect ELISA dan
air ke dalam tabung reaksi ukuran F (ab’)2 ELISA protocol, tetapi yang
160x16 mm kemudia tutup dengan banyak digunakan adalah metode
kapas dan selanjutnya disterilisasi indirect ELISA dan double antibody
sandwich ELISA (DAS ELISA). Dalam
pada temperatur 121o C selama 15 indirect ELISA uji didasarkan pada
menit. Sebutir benih ditanam pada adanya ikatan enzim dengan molekul
media agar air steril. Sebelum dan antibody yang dapat dideteksi oleh
antiviral immunoglobulin. Sedangkan
sesudah penanaman, tabung tetap pada DAS ELISA, virus diikat oleh
tertutup dengan kapas. Penanaman antibody spesifik yang kemudian
bereaksi lagi dengan antibody spesifik
dikerjakan secara aseptik. Tabung yang telah diikat oleh enzim.
reaksi yang berisi media agar air dan
benih kemudian diletakkan pada rak Dari segi praktikal indirect ELISA
lebih sederhana dan lebih cepat
tabung reaksi dan diinkubasikan karena dalam indirect ELISA tidak
sampai 14 hari pada temperatur ruang
dengan penyinaran lampu ultra violet.

Setelah masa inkubasi diamati gejala
yang timbul, koloni cendawan dan
struktur cendawan. Pengamatan

sebenarnya bisa dilakukan selama
masa inkubasi.

124

melalui prosedur pemurnian virus, primary antiserum 100 —l setiap
mempersiapkan stock gamma– lubang plate ELISA. Inkubasikan plate
globulin (lgG), dan mela-kukan tersebut selama 1 jam pada suhu
37oC.
konjugasi enzim–immuno-globulin. Secondary antiserum (conjugate)
Prosedur uji serologi adalah harus disiapkan setelah primery
antiserum yaitu dengan cara:
sebagai berikut: Antigen (ekstrak Kosongkan plate ELISA dan cuci
dengan cara seperti di atas. Masukan
tanaman yang diuji) harus konjugasi antibody– Alkaline
dipersiapkan terlebih dahulu phosphatase (tersedia secara
(Persiapan kontrol) yaitu ekstrak komersial sebagai SWAREC = Swine
antirabbit enzyme conju-gate) pada
tanaman sehat dan suspensi tanaman pengenceran 1/1000–1/2000 dalam
yang positif terinfeksi virus dalam serum buffer. Inkubasikan selama 1
jam pada suhu 37oC.
antigen buffer dengan pengenceran
1/50. Buat ekstrak antigen dengan Substrat dibuat setelah antiserum
cara menggerus jaringan tanaman siap untuk digunakan. Metoda
pembuatan substrat adalah sebagai
yang akan diuji kemudian diencerkan berikut: Kosongkan plate ELISA dan
dengan antigen buffer dengan cuci sebagaimana di atas. Buat
pengenceran 1/9. Masukan antigen larutan substrat dari 1 tablet p–
nitrophenyl (PNPP), (tersedia se-cara
tersebu sebanyak 100 —l pada setiap komersial) dalam 10–15 ml
lubang plate ELISA. diethanolamine buffer (DIEAB).
Masukan substrat tersebut 100 —l per
Tutup plate ELISA dengan plastik lubang. Inkubasikan selama 30 menit
pada suhu kamar. Reaksi positif yaitu
tipis dan diinkubasikan selama 1 jam apabila terjadi perubahan warna
pada suhu tumbuh 37o C atau menjadi kuning.

semalaman pada suhu kamar. Baca nilai absorban ultra violet
Primary (specific antiserum) harus dengan menggunakan alat spektro-
fotometer. Untuk menghentikan reaksi
disiapkan terlebih dahulu. Selama dapat dilakukan dengan menambah
setetes 3 N NaOH pada tiap lubang.
inkubasi (atau sebelum uji dimulai)
dapat dilakukan cross–adsorbtion Cara Pembuatan Buffer untuk Inderect
antiserum dengan jaringan sehat ELISA :
PBS (Phosphate Buffered Saline) :
dengan cara sebagai berikut. a. 0,05 M KH2 PO4 / Na2 HPO4 +
Jaringan sehat dihancurkan dalam
8,5 g Na Cl /l
serum buffer dengan pengeceran b. pH 7,2
1/20. Suspensi disaring dengan
menggunakan kain kasa. Encerkan

anti-serum sesuai anjuran dalam
suspensi tersebut. Aduk sampai rata
dan inkubasi selama 45 menit pada

suhu 37o C.
Pencucian dilakukan dengan

langkah-langkah sebagai berikut.

Kosongkan plate ELISA. Cuci plate
ELISA dengan PBS Tween, rendam

selama 3 menit dengan PBS Tween,
ulangi sampai 4 kali cucian. Keringkan
dengan kertas tissue. Masukan

125

Antigen buffer: kesehatan benih adalah Polymerase
i. PBS + 0,01 M NaDIECA. chain reaction (PCR). Teknik PCR
mempunyai tingkat ketelitian yang
PBS Tween (untuk mencuci) sangat tinggi dan dapat dilakukan
x 1 liter PBS Tween dalam waktu yang relatif singkat.
x 0,2 g KCl. Tetapi penggunaan teknik PCR untuk
x 0,5 ml Tween 20 pengujian rutin kesehatan benih masih
terlalu mahal dalam hal bahan,
Serum buffer : peralatan dan tenaga pelaksana.
x 1 liter PBS Tween
x 20 g Polyvinylpyrrolidone (2 %) 4.7 Prosedur Memproduksi Benih
Bersertifikat
(MW = 25.000)
x 2 g Ovalbumin (0,2 %) Seorang penangkar benih
bersertifikat perlu memiliki
Substrate – Buffer : DIEAB : pengetahuan yang cukup tentang cara
Diethanolamine Buffer. memproduksi benih bermutu dan cara
menyimpan benih. Hal berikutnya
x 100 ml diethanolamine adalah penguasaan pengolahan
(C4H11NO2). benih, tanah, dan gudang
penyimpanan, serta sikap jujur dan
x 200 ml deinonized H2O bersedia selalu mematuhi peraturan/
ketentuan perbenihan yang berlaku.
x 24 ml 5 N Hcl
Prosedur untuk mendapatkan
x buat suspensi dalam deionized sertifikat dimulai dari permohonan
H2O sampai mencapai volume sertifikasi, pengajuan pemeriksaan
1000 ml. pendahuluan, pemeriksaan lapang,
pemeriksaan alat-alat panen dan
g. Uji Tanaman Indikator pengolahan, pengambilan sampel
benih, dan pengajuan pemasangan
Pengujian dengan tanaman label sertifikat.

indikator digunakan terutama untuk a. Permohonan sertifikasi
mendeteksi virus dan bakteri terbawa
benih. Prinsip pengujiannya adalah Untuk menghasilkan benih ber-
sertifikat, dimulai dari pengajuan
reaksi dari tanaman indikator terhadap permohonan sertifikasi kepada BPSB
ekstrak/sap dari biji yang setempat yang dilakukan paling
lambat satu bulan sebelum tebar
diinokulasikan pada tanaman indikator (tanam) dengan mengisi formulir.
tersebut. Reaksi yang terjadi adalah Formulir isian mencakup tentang
berupa gejala lokal pada daun nama dan alamat pemohon
(penangkar), letak areal, asal benih
tanaman indikator. sumber, rencana penanaman, sejarah

x Uji dengan Teknologi

Biomolekuler

Teknik biomolekuler sudah mulai

digunakan dalam pengujian kesehatan

benih. Teknik biomolekuler yang

diaplikasikan dalam pengujian

126

lapangan, dan isolasi (jarak/waktu) sebaiknya melakukan roguing agar
yang dilakukan. Setelah diisi, formulir standar lapang benih bersertifikat
diserahkan dengan dilampirkan label terpenuhi. Jika hasil pemeriksaan oleh
benih (kelas dan benih sumber) yang pengawas BPSB menyatakan lulus,
akan digunakan dan denah situasi lahan tersebut dapat diteruskan untuk
lapangan. proses sertifikasi selanjutnya. Jika
lahan dinyatakan tidak lulus maka
b. Permohonan pemeriksaan penangkar diwajibkan melakukan
lapang pendahuluan roguing ulang, dan selanjutnya
mengajukan pemeriksaan ulangan.
Penangkar menyampaikan Pemeriksaan ulang hanya dapat
pemberitahuan siap untuk diperiksa dilakukan satu kali. Jika haisl
lapang pendahuluan kepada BPSB pemeriksaan ulang lahan dinyatakan
setempat paling lambat 10 hari tidak lulus, maka lahan tersebut gagal
sebelum tanam atau seminggu untuk dijadikan areal produksi benih
sebelum pemeriksaan lapang. Dalam karena kemurniannya tidak dapat
pemeriksaan ini, pengawas BPSB dipertanggung-jawabkan, dan hanya
akan menguji kebenaran data diperbolehkan untuk produksi non-
lapangan yang diajukan penangkar benih.
seperti dalam surat permohonan
sertifikasi. Jika data lapangan d. Permohonan pemeriksaan
menunjukkan kesesuaian maka lahan lapangan fase generatif
penangkaran tersebut telah syah
dinyatakan sebagai lahan produksi Pemeriksaan lapangan fase
benih bersertifikat. generatif hanya dilakukan bila telah
lulus pada tahapan pemeriksaan
c. Permohonan pemeriksaan fase sebelumnya. Pengajuan permohonan
vegetatif pemeriksaan lapangan fase generatif
(saat berbunga) dilakukan satu
Pemeriksaan lapangan pertama minggu sebelum pemeriksaan
dilakukan saat tanaman dalam fase dilakukan. Dalam pemeriksaan ini juga
pertumbuhan vegetatif atau sekitar 30 diamati keberadaan dari CVL dengan
hari setelah tanam. Pengajuan pengamatan pada organ reproduktif,
permohonan pemeriksaan diajukan seperti warna dan bentuk bunga, serta
kepada BPSB paling lambat 7 hari saat pembungaan. Seperti pada
sebelum pemeriksaan, pemeriksaan pengawasan lapangan fase vegetatif,
akan dilakukan terhadap keberadaan penangkar benih diberi kesempatan
campuran varietas lain (CVL). Nilai untuk melakukan pengawasan ulang
standar CVL berbeda untuk setiap jika hasil pemeriksaan dinyatakan
jenis tanaman dan kelas benih yang tidak lulus. Pemeriksaan ulang pun
diproduksi. Semakin tinggi kelas hanya diberikan satu kali.
benih, semakin ketat standarnya.

Sebelum pengawas BPSB
memeriksa, penangkar benih

127

e. Permohonan pemeriksaan fase sisa kotoran dan benih dari proses
menjelang panen pengolahan benih sebelumnya dapat
keluar dan alat dapat dibersihkan.
Pemeriksaan fase menjelang
panen dilakukan bila telah lulus g. Pengawasan pengolahan benih
pemeriksaan lapang sebelumnya.
Pemeriksaan dilakukan satu pekan Pengawasan pengolahan benih
sebelum panen (menjelang masak tidak diajukan oleh penangkar benih,
fisiologis). Permohonan pemeriksaan tetapi merupakan peng-awasan
diajukan satu minggu sebelum langsung oleh petugas BPSB secara
pemeriksaan dilakukan. Hal-hal yang periodik selama masa pengolahan
diperiksa pada pemeriksaan ini benih dengan waktu yang tidak
meliputi komponen buah dan benih, diberitahukan kepada penangkar.
seperti warna dan bentuk benih. Tidak Tujuan dari pengawasan ini adalah
seperti pada pemeriksaan memastikan bahwa selama dalam
sebelumnya, pada pemeriksaan ini pengolahan tidak terjadi kecurangan-
tidak dilakukan pemeriksaan ulang. kecurangan yang dilakukan
Artinya, jika lahan dinyatakan tidak penangkar, misalnya mencampurkan
lulus maka secara langsung benih benih yang lulus lapangan dengan
yang dihasilkan di lahan tersebut tidak benih kedaluwarsa atau benih tidak
dapat dijadikan sebagai benih lulus lapangan. Jika didapatkan
bersertifikat. penangkar yang melakukan
kecurangan maka proses sertifikasi
f. Permohonan pemeriksaan alat- dapat dihentikan.
alat panen dan pengolahan
benih h. Permohonan pengambilan
contoh benih
Selain benih, alat-alat panen dan
pengolashan benih pun dilakukan Prosedur selanjutnya adalah
pemeriksaan. Tujuan pemeriksaan ini permohonan pengambilan contoh
adalah untuk memastikan bahwa benih guna pengujian di laboratorium
peralatan yang digunakan dalam analisis mutu benih BPSB.
panen dan pengolahan benih tidak Pengambilan contoh benih oleh
membawa sumber kontaminan, pengawas BPSB dilakukan setelah
seperti varietas lain. Pengajuan pengolahan benih. Permohonan oleh
pemeriksaan alat-alat panen dan penangkar dilakukan 1 minggu
pengolahan benih dilakukan paling sebelum pengawasan dilakukan.
lambat satu minggu sebelum panen Sebelum dilakukan pengambilan
atau bersamaan dengan pemeriksaan contoh benih, penangkar diwajibkan
lapangan fase menjelang panen. Hal telah menempatkan dan mengemas
yang dilakukan pengawas BPSB benih secara tepat. Benih telah
dalam pemeriksaan ini adalah dikemas dengan kemasan curah
menjalankan (menghidupkan) semua (belum dikemas dengan kemasan
alat pengolahan benih sehingga sisa- pemasaran) dan dikelompokkan

128

berdasarkan lot yang tepat, misalnya sesuai yang diajukan penangkar
berdasarkan tanggal panen yang benih.
sama dari varietas yang sama. Lot
benih ditempatkan sedemikian rupa j. Permohonan pelabelan ulang
sehingga setiap wadah benih
berpeluang sama untuk diambil Benih bersertifikat telah
contoh benihnya. Pengawas dapat mendekati atau habis masa edarnya
membatalkan pengambilan contoh dan akan diedarkan kembali harus
benih jika diindikasikan adanya dilakukan pengujian dan pelabelan
kelompok benih yang mencurigakan ulang. Produsen benih bersertifikat
atau susunan penempatan benih tidak wajib mengajukan pengambilan
memungkinkan semua wadah diambil contoh benih, mengujikannya dan
contoh benihnya. kemudian me-masang label ulangan
pada kemasan benihnya. Prosedur
i. Permohonan pengawasan dan pe-laksanaan dari pelabelan
pemasangan label sertifikat ulang sama seperti pada prosedur
pengambilan contoh dan pengawasan
Prosedur akhir dari proses pemasangan label sebelumnya.
pembuatan benih bersertifikat adalah Pengajuan pelabelan ulang dilakukan
pengawasan pemasangan label satu bulan sebelum masa edar benih
sertifikasi. Jika dalam pengujian bersertifikat berakhir. Pada kemasan
laboratorium, benih penangkaran benih, dicantumkan data analisis mutu
dinyatakan lulus maka selanjutnya benih terbaru dan dicantumkan pula
penangkar mengajukan pengawasan kode LU yang berarti Label Ulang.
pemasangan label sertifikat pada
benih-benih yang akan dikemas Dormansi sekunder adalah
dengan ukuran tertentu (sesuai dormansi yang disebabkan oleh tidak
kebutuhan pasar). tersedianya salah satu faktor yang
berpengaruh bagi perkecambahan
Dalam pengajuan ini, tertentu. Meski sifat dormansi sangat
penangkar memohon nomor seri label berkaitan dengan sifat genetik, tetapi
sertifikasi dengan mencantumkan dormansi benih (terutama dormansi
jumlah segel (seal) dan label sekunder) dapat pula disebabkan oleh
sertifikasi yang diperlukan, nomor faktor lingkungan dan atau faktor
pengujian, nomor kelompok benih pengelolaan dalam proses produksi,
yang bersangkutan, jenis, varietas, pengolahan, dan penyimpanan benih.
jumlah wadah, berat bersih tiap Kondisi iklim yang kering dan panas
wadah, nama dan alamat produsen. sangat kondusif untuk menghasilkan
Adapun isi label akan meliputi hasil- benih yang berkulit keras (hardseed).
hasil pengujian laboratorium yang
terdiri dari nilai kadar air benih, Hubungan antara dormansi benih
kemurnian, daya tumbuh benih, sertak dan mutu benih terkair dengan mutu
andungan kotoran dan campuran daya simpan benih. Benih dorman
varietas lain, selain identitas lain akibat kekerasan kulit benih secara
umum diyakini memiliki daya simpan
yang lebih panjang dibandingkan

129

benih yang tidak memiliki sifat kulit Sebagai upaya untuk mencegah
benih keras. Namun demikian nilai atau mengurangi risiko akibat
positif dormansi benih ini menuntut gangguan penyakit atau patogen
penanganan yang tepat saat benih terbawa benih, maka perlu dilakukan
harus dikecambahkan karena pemeriksaan atau pengujian
dibutuhkan teknik pematahan kesehatan benih sebelum benih
dormansi yang tepat pula. disimpan ataupun sebelum ditanam.
Metode pengujian kesehatan benih
4.8 Pengujian Kesehatan Benih yang digunakan sangat tergantung
pada jenis benih dan jenis patogen
Berbagai jenis cendawan, bakteri, yang mungkin terbawa benih.
nematoda dan virus dapat terbawa Penentuan metode tersebut
benih tanaman. Dari hasil-hasil dimaksudkan agar deteksi dan
penelitian yang telah dilakukan identifikasi patogen terbawa benih
diketahui kelompok cendawan dapat dilakukan dengan mudah dan
merupakan mikro-organisme yang akurat. Hal tersebut berarti untuk
paling dominan berasosiasi dengan pengujian suatu contoh benih dapat
benih. Sebagian patogen terbawa digunakan lebih dari satu metode
benih dapat menimbulkan gangguan pengujian kesehatan benih. Berbagai
tidak saja di pertanaman, tetapi juga di macam cara pengujian kesehatan
tempat penyimpanan. Cendawan benih untuk mendeteksi mikro-
merupakan mikro-organisme utama organisme atau patogen terbawa
yang sering menimbulkan gangguan benih dapat dikelompokan menjadi :
di tempat penyimpanan. Kebanyakan
patogen terbawa benih menjadi aktif a. Pengamatan Secara Visual
segera setelah benih disebar atau terhadap Benih Kering
disemai, tetapi sebagian patogen baru
menunjukkan aktivitasnya yang Pengujian kesehatan benih
ditunjukkan gejala tertentu setelah dengan metode pengamatan benih
tanaman dewasa dan berproduksi. kering dapat dilakukan secara cepat
Patogen (lebih tepat disebut inokulum untuk mendapatkan informasi awal
patogen) dapat terbawa benih tentang penampakan atau status
tanaman dalam 3 cara. Pertaman kesehatan benih. Tetapi metode ini
patogen terbawa secara internal dan hanya men-deteksi cendawan yang
berada di dalam jaringan struktur per- ada di permukaan benih atau
banyakan tanaman seperti biji, dalam tercampur bersama benih serta
hal ini patogen bias berada di embrio, kondisi fisik benih saja. Metode ini
endosperm atau kulit biji. Kedua, dapat digunakan untuk mendeteksi
patogen menempel pada permukaan patogen yang menyebabkan gejala
benih. Dan ketiga, patogen secara khas pada benih misalnya disklorisasi
terpisah terbawa biji, dalam hal ini atau perubahan warna pada kulit
patogen bisa berada dalam sisa benih, perubahan ukuran, dan bentuk
tanaman, butiran tanah atau dalam benih. Metode ini juga dapat
bentuk struktur tertentu. digunakan untuk mendeteksi patogen

130

yang meng-hasilkan struktur tubuh contoh benih tertentu yang digunakan
dalam pengujian.
buah yang dapat dilihat secara visual

pada benih atau tercampur pada

benih. b. Metode Pencucian Benih

Sebagai tambahan metode ini Metode pencucian benih terutama

berguna untuk mengetahui adanya

serangan/infestasi serangga benih dilakukan untuk mendeteksi

atau kerusakan benih atau melihat cendawan yang membentuk struktur

adanya perlakuan benih dengan di permukaan benih. Pengujian dapat

pestisida. Metode ini berkaitan dilakukan secara cepat dan mudah,

langsung dengan kegiatan analisis namun pengujian dengan cara ini

kemurnian benih (purity), yaitu apakah memiliki keterbatasan karena

benih tercampur dengan benda-benda cendawan yang berada di dalam

dan benih lainnya dalam proses jaringan benih tidak dapat diketahui

pemberian sertifikasi benih. atau terdeteksi. Hasil pengujian

Berdasarkan peraturan tersebut tidak dapat menggambarkan

Internasional Seed Testing tingkat infeksi dan infestasi patogen

Association (ISTA) benda-benda pada benih.

tercampur benih antara lain butiran Sebagaimana pengamatan

tanah, pasir, batu, sisa tanaman, puru secara visual terhadap benih kering,

nematoda, maupun tubuh buah dalam metode pencucian benih tidak

cendawan seperti sklerotia, smut/ bunt ada standar dalam jumlah benih yang

(yaitu butiran benih yang telah terisi diuji. Prosedur yang biasa digunakan

struktur cendawan). Unsur-unsur yang di berbagai laboratorium adalah

tercampur dengan benih tersebut sebagai berikut :

sangat potensial dalam Prosedur pencucian benih adalah

perkembangan dan penyebaran suatu sebagai berikut: Sebanyak 50 gr

patogen, karena berbagai cendawan benih (dari 1 kg benih contoh)

mampu bertahan pada sisa-sisa dimasukan ke dalam gelas

tanaman atau butiran-butiran tanah. Erlenmeyer kemudian ditambahkan

Benih yang mengalami diskolorasi 100 ml air steril. Untuk memudahkan

maupun yang mengandung patogen peluruhan struktur cendawan dari

infeksi tidak dicantumkan dalam permukaan benih sering ditambahkan

analisis kemurnian benih, oleh karena 1 tetes Twin 20. Benih tersebut

itu perlu ada kerjasama dari petugas dikocok selama 5 menit (dengan

yang menangani kemurnian benih shaker) selanjutnya disaring dengan

dengan petugas yang menangani kain kasa. Air hasil pencucian

kesehatan benih sebelum dimasukan dalam tabung sentrifugasi

menerbitkan sertifikat benih. dan kemudian disentrifugasi pada

kecepatan 1500–2000 rpm selama 3

Prosedur : menit. Sedimen yang terbentuk

Metode ini bersifat kualitatif, sehingga dipisahkan dengan air dengan cara

tidak ada standar dalam jumlah membuang air tersebut menggunakan

pipet.

131

Selajutnya dilakukan pengamatan kondisi gelap secara bergantian.
mikroskopis; sebanyak 1 ml lactofenol Benih yang diinkubasi tersebut diamati
ditambahkan pada sedimen dalam di bawah mikroskop dengan
tabung dan dicampur hingga merata.
Dengan menggunakan pipet, pembesaran 50–60 kali untuk melihat
campuran sedimen diteteskan pada pertumbuhan cendawan.
gelas objek dan ditutup dengan gelas
penutup dan selanjutnya dilakukan Cendawan yang tumbuh diamati
pengamatan di bawah mikroskop
dengan pembesaran 100–400 kali dan didekteksi berdasarkan
untuk melihat struktur cendawan. Bila karakteristik keberadaan tum-buhnya
pendekatan kuantitatif diperlukan, seperti tubuh buah, konidia yang
maka pengamatan dapat dilakukan
dengan menggunakan haemo- muncul dari konidiofor (tangkai
cytometer untuk mengetahui konidia), spora dengan massa
kepadatan inokulum (cendawan) per
satuan berat benih. sporanya, sporodokium dan
aservulus, piknidiospora da-lam
c. Metode Inkubasi piknidia, dan askospora dalam

Prinsip pengujian benih dengan peritesia.
metode inkubasi adalah memberikan
kondisi tumbuh yang optimal bagi 1) Metode inkubasi dengan media
mikroorganisme terbawa benih, baik kertas saring
yang ada di permukaan ataupun yang
ada di dalam jaringan benih. Dengan Sebanyak 400 benih diletakkan
cara tersebut maka mikroorganisme
/patogen terbawa benih, terutama dalam cawan petri berdiameter 9 cm.
cendawan dan bakteri dapat
terdeteksi dengan mengamati Jumlah benih per cawan petri 10 atau
karakteristik pertumbuhan dan struktur
cendawan. Pengujian kesehatan 25 tergantung dari ukuran benih. Tiap
benih dengan metode inkubasi yang
sering dilakukan adalah pengujian cawan petri diberi label nomor benih
dengan media kertas (Blotter-test),
dan pengujian pada media agar. dan tanggal pengujian. Sebelum benih

Metode Inkubasi dengan Media diletakkan, cawan dialasi dengan 2
Kertas (Blotter-Test) Metode Blotter
adalah salah satu dari metode lapis kertas saring yang telah
inkubasi, yaitu benih ditumbuhkan
pada kertas saring basah, dicelupkan ke dalam air bersih.
diinkubasikan selama 7 hari dengan
penyinaran lampu ultra violet selama Usahakan jangan terlalu banyak air
12 jam terang dan selama 12 jam
(tidak tergenang). Letakan benih satu

per satu dengan menggunakan pinset

seperti Gambar 2.

Selanjutnya benih diinkubasi pada

suhu kamar dengan penyinaran lampu

ultra violet 12 jam terang dan 12 jam

gelap secara bergantian selama 7

hari. Pada hari ke-8 dilakukan

pengamatan dengan menggunakan

mikroskop stereo. Pada tiap benih

diamati karakteristik pertumbuhan

berbagai cendawan yang tumbuh.

Kadang-kadang sangat sulit

mengidentifikasi cendawan melalui

pengamatan karakteristik

132

pertumbuhan cendawan, oleh karena 3) Metode inkubasi pada media agar
itu dibuat preparat dari cendawan
tersebut dan diamati dengan bantuan Dalam metode media agar
mikroskop compoun dan kunci inokulum terbawa benih, dideteksi
identifikasi. Jika suatu cendawan telah berdasarkan karakteristik koloni pada
teridentifikasi, dituliskan kode media agar yang berkembang dari
cendawan pada kertas blotter didekat benih. Secara umum prinsipnya sama
cendawan yang bersangkutan. dengan prinsip dari pengujian dengan
Jumlah benih yang terinfeksi suatu media kertas. Dalam beberapa hal
cendawan dihitung sebagai tingkat metode ini memiliki kelebihan, yaitu
infeksi cendawan pada contoh benih memberikan informasi lebih relatif
yang diuji. lebih cepat dan cukup
menggambarkan status kesehatan
2) Metode inkubasi dengan media benih dibandingkan dengan metode
kertas dengan pendinginan media kertas, karena ketersediaan
nutrisi pada media agar
Sebanyak 400 benih diletakkan memungkinkan cendawan atau bakteri
dalam cawan petri yang telah dialasi tumbuh dan berkembang secara lebih
kertas saring seperti pada metode baik dan lebih cepat sehingga
inkubasi dengan kertas standar. memudahkan dalam pengamatan.
Benih diinkubasi selama 24 jam pada Biasanya cendawan atau bakteri akan
suhu ruang dengan penyinaran lampu membentuk koloni yang khas pada
ultra violet 12 jam terang dan 12 jam media agar.
gelap. Pada hari ke-2 benih disimpan
pada suhu –20o C selama 24 jam. Dalam pelaksanaan pengujian
Tujuan perlakuan pendinginan ter- dengan media agar memerlukan
sebut adalah untuk menghambat atau persiapan yang lebih lama, relatif
menekan perkecambahan benih. Hal rumit dan mahal, terutama bila
ini disebabkan sering perkecambahan menggunakan media spesifik. Sering
benih menyulitkan secara teknis terjadi kesulitan dalam pengamatan
dalam pengamatan sehingga karena pertumbuhan koloni cendawan
informasi menjadi bias. atau bakteri men-jadi berbeda atau
berubah bila menggunakan media
Setelah diberi perlakuan dingin tumbuh yang berbeda dengan waktu
kemudian benih diinkubasi selama 5 yang berbeda pula. Kesulitan lain
hari pada suhu ruang dengan pada waktu pengamatan adalah
penyinaran lampu ultra violet 12 jam pertumbuhan cendawan bukan
terang dan 12 jam gelap secara sasaran (cendawan saprofit) tumbuh
bergantian. lebih ekstensif sehingga menekan
pertumbuhan cendawan patogen yang
Pada hari ke-8 benih diamati menjadi sasaran pengamat-an. Untuk
seperti prosedur pengamatan metode keperluan pengujian dengan media
inkubasi dengan media kertas agar digunakan berbagai jenis media
standar. tumbuh seperti PDA dan media semi
selektif atau selektif seperti Czapek,

133

Media BSC, Media Komada, dan lain- di lapangan. Sejumlah cendawan,
lain. bakteri dan virus terbawa benih sering
menghasilkan gejala infeksi atau
Prosedur metode inkubasi pada
media agar adalah sebagai berikut: serangan pada kecambah atau bibit
Media agar steril disiapkan dalam tanaman. Gejala terjadi pada akar,
cawan petri steril. Sebanyak 400 batang, daun atau seluruh bagian
benih dari satu contoh benih diberi
perlakuan sterilisasi permukaan kecambah atau bibit tanaman. Pada
dengan NaOCL 1 % selama 3 menit. berbagai kejadian inokulum cendawan
Kemudian benih ditiriskan pada kertas terbawa benih menyebabkan
saring steril. Dalam banyak kasus,
perlakuan sterilisasi pada permukaan kematian pada tanaman atau
benih tidak dilakukan. kecambah.

Benih diletakkan pada media agar Beberapa kelompok cendawan
dalam cawan petri. Tiap cawan terbawa benih yang sering
ditanami 10 butir benih. Pekerjaan menyebabkan penyakit pada
penanaman benih tersebut dilakukan
secara aseptik, yaitu membersihkan kecambah atau bibit antara lain
tempat dan alat kerja dengan bahan Alternaria, Ascochyta, Colletotrichum,
aseptik seperti alkohol 70 %. Benih Drechslera, Fusarium, Macrophomina.
diinkubasi pada suhu kamar selama 7
hari dengan penyinaran lampu ultra Sedangkan kelompok bakteri yang
violet 12 jam terang dan 12 jam gelap sering menunjukkan gejala pada
secara bergantian. kecambah antara lain Pseudomonas

Pengamatan dilakukan pada hari spp. Media tumbuh yang digunakan
ke-8 tetapi sering pula dilakukan mulai untuk pengujian gejala pada bibit/
hari ke-4, karena koloni cendawan
sudah mulai tampak. Hal yang diamati kecambah adalah media pasir, bata
adalah karak-teristik koloni dan merah, campuran pasir dan tanah
struktur cendawan. Untuk bakteri serta media buatan seperti agar air.
bahkan peng-amatan sudah dapat
dilakukan pada hari ke-2 atau ke-3. Pengujian kesehatan benih dengan
gejala bibit/ kecambah mempunyai
4) Uji Gejala pada Bibit/ Kecambah beberapa kelebihan dibandingkan

Patogen dapat menghasilkan metode yang lain.
gejala pada bibit/kecambah baik pada Pengujian dengan cara ini dapat
akar, kotiledon, atau hipokotil. Benih
yang terinfeksi pada kondisi yang mengamati penularan (transmisi)
menguntungkan dapat menghasilkan patogen dari benih ke tanaman dari
gejala pada bibit sama dengan gejala satu fase ke fase pertumbuhan
di lapangan, sehingga metode ini
dapat digunakan untuk mendapatkan tanaman. Beberapa patogen tidak
informasi yang mewakili penampakan mudah dideteksi dengan metode lain
karena serangan patogen tersebut

yang bersifat laten. Sehingga
diperlukan fase tertentu pertumbuhan
tanaman agar gejala dan

perkembangan patogen dapat
dideteksi. Metode ini sangat

bermanfaat untuk pengujian contoh
benih yang jumlahnya terbatas seperti
benih hasil pemuliaan pada tahap

134

tertentu dan juga bermanfaat untuk salah satu metode serologi untuk
tujuan karantina. Pengujian gejala mendeteksi virus sering digunakan
bibit/kecambah dapat digunakan untuk karena metode tersebut sederhana,
evaluasi efektivitas perlakuan benih,
baik dengan kimia maupun secara mudah dilakukan, cepat, sensitif,
fisik. akurat, dan dapat digunakan untuk
menguji sampel dalam jumlah besar.
Prosedur pengujian dengan
metode media agar cair adalah Metode tersebut berdasarkan pada
sebagai berkiut: Dengan media agar konjugasi antara virus– antibodi dan
air (water agar) dilakukan dengan cara enzim, dengan menambahkan
sebagai berikut. Tuangkan 10 ml agar
air ke dalam tabung reaksi ukuran substrat pewarna maka adanya
160x16 mm kemudia tutup dengan konjugasi tersebut dapat diperlihatkan.
kapas dan selanjutnya disterilisasi
pada temperatur 121o C selama 15 Dalam uji ELISA ada beberapa
menit. Sebutir benih ditanam pada cara yang digunakan yaitu indirect
media agar air steril. Sebelum dan ELISA, double antibody sandwich
sesudah penanaman, tabung tetap
tertutup dengan kapas. Penanaman ELISA (DAS ELISA), DAS ELISA
dikerjakan secara aseptik. Tabung protocol, F (ab’)2 indirect ELISA dan F
reaksi yang berisi media agar air dan (ab’)2 ELISA protocol, tetapi yang
benih kemudian diletakkan pada rak
tabung reaksi dan diinkubasikan banyak digunakan adalah metode
sampai 14 hari pada temperatur ruang indirect ELISA dan double antibody
dengan penyinaran lampu ultra violet. sandwich ELISA (DAS ELISA). Dalam
Setelah masa inkubasi diamati gejala
yang timbul, koloni cendawan dan indirect ELISA uji didasarkan pada
struktur cendawan. Pengamatan adanya ikatan enzim dengan molekul
sebenarnya bisa dilakukan selama
masa inkubasi. antibody yang dapat dideteksi oleh
antiviral immunoglobulin. Sedangkan
5) Uji Serologi pada DAS ELISA, virus diikat oleh

Uji ELISA (Enzyme-Linked antibody spesifik yang kemudian
Immuno-sorbent Assays) adalah bereaksi lagi dengan antibody spesifik
pengujian serologi terutama yang telah diikat oleh enzim.
digunakan untuk mendeteksi bakteri
dan virus terbawa benih. Prinsip Dari segi praktikal indirect ELISA
pengujian tersebut adalah reaksi in lebih sederhana dan lebih cepat
vitro antara antigen dan antibodi.
Dalam pengujian cara ini sangat karena dalam indirect ELISA tidak
tergantung kepada ketersediaan melalui prosedur pemurnian virus,
sejumlah antibodi yang spesifik untuk mempersiapkan stock gamma–
patogen sasaran. Uji ELISA sebagai
globulin (lgG), dan mela-kukan
konjugasi enzim–immuno-globulin.

Prosedur uji serologi adalah

sebagai berikut: Antigen (ekstrak
tanaman yang diuji) harus
dipersiapkan terlebih dahulu

(Persiapan kontrol) yaitu ekstrak
tanaman sehat dan suspensi tanaman

yang positif terinfeksi virus dalam
antigen buffer dengan pengenceran
1/50. Buat ekstrak antigen dengan

135

cara menggerus jaringan tanaman pengenceran 1/1000–1/2000 dalam
yang akan diuji kemudian diencerkan serum buffer. Inkubasikan selama 1
dengan antigen buffer dengan jam pada suhu 37oC.

pengenceran 1/9. Masukan antigen Substrat dibuat setelah antiserum
tersebu sebanyak 100 —l pada setiap siap untuk digunakan. Metoda
lubang plate ELISA. pembuatan substrat adalah sebagai
berikut: Kosongkan plate ELISA dan
Tutup plate ELISA dengan plastik cuci sebagaimana di atas. Buat
tipis dan diinkubasikan selama 1 jam larutan substrat dari 1 tablet p–
pada suhu tumbuh 37o C atau nitrophenyl (PNPP), (tersedia se-cara
komersial) dalam 10–15 ml
semalaman pada suhu kamar. diethanolamine buffer (DIEAB).
Primary (specific antiserum) harus Masukan substrat tersebut 100 —l per
lubang. Inkubasikan selama 30 menit
disiapkan terlebih dahulu. Selama pada suhu kamar. Reaksi positif yaitu
inkubasi (atau sebelum uji dimulai) apabila terjadi perubahan warna
dapat dilakukan cross–adsorbtion menjadi kuning.

antiserum dengan jaringan sehat Baca nilai absorban ultra violet
dengan cara sebagai berikut. dengan menggunakan alat spektro-
Jaringan sehat dihancurkan dalam fotometer. Untuk menghentikan reaksi
dapat dilakukan dengan menambah
serum buffer dengan pengeceran setetes 3 N NaOH pada tiap lubang.
1/20. Suspensi disaring dengan
menggunakan kain kasa. Encerkan Cara Pembuatan Buffer untuk Inderect
ELISA :
anti-serum sesuai anjuran dalam PBS (Phosphate Buffered Saline) :
suspensi tersebut. Aduk sampai rata 6) 0,05 M KH2 PO4 /

dan inkubasi selama 45 menit pada Na2 HPO4 + 8,5 g Na Cl /l
suhu 37o C. 7) pH 7,2
Antigen buffer:
Pencucian dilakukan dengan a. PBS + 0,01

langkah-langkah sebagai berikut. M NaDIECA.
Kosongkan plate ELISA. Cuci plate PBS Tween (untuk mencuci)
ELISA dengan PBS Tween, rendam
x 1 liter PBS Tween
selama 3 menit dengan PBS Tween,
ulangi sampai 4 kali cucian. Keringkan x 0,2 g KCl.

dengan kertas tissue. Masukan x 0,5 ml Tween 20
primary antiserum 100 —l setiap Serum buffer :
lubang plate ELISA. Inkubasikan plate
x 1 liter PBS Tween
tersebut selama 1 jam pada suhu
37oC. x 20 g Polyvinylpyrrolidone (2 %)
Secondary antiserum (conjugate) (MW = 25.000)

harus disiapkan setelah primery x 2 g Ovalbumin (0,2 %)
antiserum yaitu dengan cara:
Kosongkan plate ELISA dan cuci

dengan cara seperti di atas. Masukan
konjugasi antibody– Alkaline

phosphatase (tersedia secara
komersial sebagai SWAREC = Swine
antirabbit enzyme conju-gate) pada

136

Substrate – Buffer : DIEAB : 4.9 Prosedur Memproduksi Benih
Diethanolamine Buffer. Bersertifikat

x 100 ml diethanolamine Seorang penangkar benih
(C4H11NO2).
bersertifikat perlu memiliki
x 200 ml deinonized H2O
pengetahuan yang cukup tentang cara
x 24 ml 5 N Hcl
memproduksi benih bermutu dan cara
x buat suspensi dalam deionized
H2O sampai mencapai volume menyimpan benih. Hal berikutnya
1000 ml.
adalah penguasaan pengolahan

benih, tanah, dan gudang

6) Uji Tanaman Indikator penyimpanan, serta sikap jujur dan

bersedia selalu mematuhi

Pengujian dengan tanaman peraturan/ketentuan perbenihan yang
indikator digunakan terutama untuk
berlaku.
mendeteksi virus dan bakteri terbawa
benih. Prinsip pengujiannya adalah Prosedur untuk mendapatkan

reaksi dari tanaman indikator terhadap sertifikat dimulai dari permohonan
ekstrak/sap dari biji yang
diinokulasikan pada tanaman indikator sertifikasi, pengajuan pemeriksaan

tersebut. Reaksi yang terjadi adalah pendahuluan, pemeriksaan lapang,
berupa gejala lokal pada daun
tanaman indikator. pemeriksaan alat-alat panen dan

pengolahan, pengambilan sampel

benih, dan pengajuan pemasangan

label sertifikat.

7) Uji dengan Teknologi

Biomolekuler a. Permohonan sertifikasi

Teknik biomolekuler sudah mulai Untuk menghasilkan benih
bersertifikat, dimulai dari pengajuan
digunakan dalam pengujian kesehatan permohonan sertifikasi kepada BPSB
benih. Teknik biomo-lekuler yang setempat yang dilakukan paling
diaplikasikan dalam pengujian lambat satu bulan sebelum tebar
(tanam) dengan mengisi formulir.
kesehatan benih adalah Polymerase Formulir isian mencakup tentang
chain reaction (PCR). Teknik PCR nama dan alamat pemohon
mempunyai tingkat ketelitian yang (penangkar), letak areal, asal benih
sumber, rencana penanaman, sejarah
sangat tinggi dan dapat dilakukan lapangan, dan isolasi (jarak/waktu)
dalam waktu yang relatif singkat. yang dilakukan. Setelah diisi, formulir
diserahkan dengan dilampirkan label
Tetapi penggunaan teknik PCR untuk benih (kelas dan benih sumber) yang
pengujian rutin kesehatan benih masih akan digunakan dan denah situasi
terlalu mahal dalam hal bahan, lapangan.

peralatan dan tenaga pelaksana.

137

1) Permohonan pemeriksaan lapang penangkar diwajibkan melakukan
pendahuluan roguing ulang, dan selanjutnya
mengajukan pemeriksaan ulangan.
Penangkar menyampaikan Pemeriksaan ulang hanya dapat
pemberitahuan siap untuk diperiksa dilakukan satu kali. Jika haisl
lapang pendahuluan kepada BPSB pemeriksaan ulang lahan dinyatakan
setempat paling lambat 10 hari tidak lulus, maka lahan tersebut gagal
sebelum tanam atau seminggu untuk dijadikan areal produksi benih
sebelum pemeriksaan lapang. Dalam karena kemurniannya tidak dapat
pemeriksaan ini, pengawas BPSB dipertanggung-jawabkan, dan hanya
akan menguji kebenaran data diperbolehkan untuk produksi non
lapangan yang diajukan penangkar benih.
seperti dalam surat permohonan
sertifikasi. Jika data lapangan 3) Permohonan pemeriksaan
menunjukkan kesesuaian maka lahan lapangan fase generatif
penangkaran tersebut telah syah
dinyatakan sebagai lahan produksi Pemeriksaan lapangan fase
benih bersertifikat. generatif hanya dilakukan bila telah
lulus pada tahapan pemeriksaan
2) Permohonan pemeriksaan fase sebelumnya. Pengajuan permohonan
vegetatif pemeriksaan lapangan fase generatif
(saat berbunga) dilakukan satu
Pemeriksaan lapangan pertama minggu sebelum pemeriksaan
dilakukan saat tanaman dalam fase dilakukan. Dalam pemeriksaan ini juga
pertumbuhan vegetatif atau sekitar 30 diamati keberadaan dari CVL dengan
hari setelah tanam. Pengajuan pengamatan pada organ reproduktif,
permohonan pemeriksaan diajukan seperti warna dan bentuk bunga, serta
kepada BPSB paling lambat 7 hari saat pembungaan. Seperti pada
sebelum pemeriksaan, pemeriksaan pengawasan lapangan fase vegetatif,
akan dilakukan terhadap keberadaan penangkar benih diberi kesempatan
campuran varietas lain (CVL). Nilai untuk melakukan pengawasan ulang
standar CVL berbeda untuk setiap jika hasil pemeriksaan dinyatakan
jenis tanaman dan kelas benih yang tidak lulus. Pemeriksaan ulang pun
diproduksi. Semakin tinggi kelas hanya diberikan satu kali.
benih, semakin ketat standarnya.
4) Permohonan pemeriksaan fase
Sebelum pengawas BPSB menjelang panen
memeriksa, penangkar benih
sebaiknya melakukan roguing agar Pemeriksaan fase menjelang
standar lapang benih bersertifikat panen dilakukan bila telah lulus
terpenuhi. Jika hasil pemeriksaan oleh pemeriksaan lapang sebelumnya.
pengawas BPSB menyatakan lulus, Pemeriksaan dilakukan satu pekan
lahan tersebut dapat diteruskan untuk sebelum panen (menjelang masak
proses sertifikasi selanjutnya. Jika fisiologis). Permohonan pemeriksaan
lahan dinyatakan tidak lulus maka

138

diajukan satu minggu sebelum periodik selama masa pengolahan
pemeriksaan dilakukan. Hal-hal yang benih dengan waktu yang tidak
diperiksa pada pemeriksaan ini diberitahukan kepada penangkar.
meliputi komponen buah dan benih, Tujuan dari pengawasan ini adalah
seperti warna dan bentuk benih. Tidak memastikan bahwa selama dalam
seperti pada pemeriksaan pengolahan tidak terjadi kecurangan-
sebelumnya, pada pemeriksaan ini kecurangan yang dilakukan
tidak dilakukan pemeriksaan ulang. penangkar, misalnya mencampurkan
Artinya, jika lahan dinyatakan tidak benih yang lulus lapangan dengan
lulus maka secara langsung benih benih kedaluwarsa atau benih tidak
yang dihasilkan di lahan tersebut tidak lulus lapangan. Jika didapatkan
dapat dijadikan sebagai benih penangkar yang melakukan
bersertifikat. kecurangan maka proses sertifikasi
dapat dihentikan.
5) ermohonan pemeriksaan alat-alat
panen dan pengolahan benih c. Permohonan pengambilan
contoh benih
Selain benih, alat-alat panen dan
pengolashan benih pun dilakukan Prosedur selanjutnyas adalah
pemeriksaan. Tujuan pemeriksaan ini permohonan pengambilan contoh
adalah untuk memastikan bahwa benih guna pengujian di labora-torium
peralatan yang digunakan dalam analisis mutu benih BPSB.
panen dan pengolahan benih tidak Pengambilan contoh benih oleh
membawa sumber kontaminan, pengawas BPSB dilakukan setelah
seperti varietas lain. Pengajuan pengolahan benih. Permohonan oleh
pemeriksaan alat-alat panen dan penangkar dilakukan 1 minggu
pengolahan benih dilakukan paling sebelum pengawasan dilakukan.
lambat satu minggu sebelum panen Sebelum dilakukan pengambilan
atau bersamaan dengan pemeriksaan contoh benih, penangkar diwajibkan
lapangan fase menjelang panen. Hal telah menempatkan dan mengemas
yang dilakukan pengawas BPSB benih secara tepat. Benih telah
dalam pemeriksaan ini adalah dikemas dengan kemasan curah
menjalankan (menghidupkan) semua (belum dikemas dengan kemasan
alat pengolahan benih sehingga sisa- pemasaran) dan dikelompokkan
sisa kotoran dan benih dari proses berdasarkan lot yang tepat, misalnya
pengolahan benih sebelumnya dapat berdasarkan tanggal panen yang
keluar dan alat dapat dibersihkan. sama dari varietas yang sama. Lot
benih ditempatkan sedemikian rupa
b. Pengawasan pengolahan benih sehingga setiap wadah benih
berpeluang sama untuk diambil
Pengawasan pengolahan benih contoh benihnya. Pengawas dapat
tidak diajukan oleh penangkar benih, membatalkan pengambilan contoh
tetapi merupakan pengawasan benih jika diindikasikan adanya
langsung oleh petugas BPSB secara kelompok benih yang mencurigakan

139

atau susunan penempatan benih tidak kadar air benih, kemurnian, daya
memungkinkan semua wadah diambil tumbuh benih, sertak andungan
contoh benihnya. kotoran dan campuran varietas lain,
selain identitas lain sesuai yang
d. Permohonan pengawasan diajukan penangkar benih.
pemasangan label sertifikat
e. Permohonan pelabelan ulang
Prosedur akhir dari proses
pembuatan benih bersertifikat adalah Benih bersertifikat telah
pengawasan pemasangan label mendekati atau habis masa edarnya
sertifikasi. Jika dalam pengujian dan akan diedarkan kembali harus
laboratorium, benih penangkaran dilakukan pengujian dan pelabelan
dinyatakan lulus maka selanjutnya ulang. Produsen benih bersertifikat
penangkar mengajukan pengawasan wajib mengajukan pengambilan
pemasangan label sertifikat pada contoh benih, mengujikannya dan
benih-benih yang akan dikemas kemudian memasang label ulangan
dengan ukuran tertentu (sesuai pada kemasan benihnya. Prosedur
kebutuhan pasar). Dalam pengajuan dan pe-laksanaan dari pelabelan
ini, penangkar memohon nomor seri ulang sama seperti pada prosedur
label sertifikasi dengan pengambilan contoh dan pengawasan
mencantumkan jumlah segel (seal) pemasangan label sebelumnya.
dan label sertifikasi yang diperlukan, Pengajuan pelabelan ulang dilakukan
nomor pengujian, nomor kelompok satu bulan sebelum masa edar benih
benih yang bersangkutan, jenis, bersertifikat berakhir. Pada kemasan
varietas, jumlah wadah, berat bersih benih, dicantumkan data analisis mutu
tiap wadah, nama dan alamat benih terbaru dan dicantumkan pula
produsen. Adapun isi label akan kode LU yang berarti Label Ulang.
meliputi hasil-hasil pengujian
laboratorium yang terdiri dari nilai

140

Direktorat Jenderal Litbang Dinas Pertanian
Perbenihan Pemerintah dan Tingkat I

BPSB Swasta BUMN
Swasta
Pelepasan

Varietas Baru BBI Diperta
(Breeder Seed) BBU Tk.II

Benih Dasar BUMN
(Fondation Seed) Swasta

Benih Pokok BBP BUMN
(Stock Seed) Swasta

Benih Sebar Keterangan:
(Extention Seed) : Komando
: Pengawasan
Pemasaran Pemasaran
: Pembinaan dan
PETANI Koordinasi
: Alur benih
: Sertifikasi

Gambar 4.13.
Skema alur pelepasan benih, produksi dan pengawasan mutu benih di Indonesia.

(Ditjentan Pangan dan Horti, 1999)

141


Click to View FlipBook Version