The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sajak-Sajak Sunyi Sehimpun Puisi (Budhi Setyawan)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-08-01 18:09:22

Sajak-Sajak Sunyi Sehimpun Puisi

Sajak-Sajak Sunyi Sehimpun Puisi (Budhi Setyawan)

SAJAK
SAJAK
SUNYI

sehimpun puisi

Budhi Setyawan

SAJAK SAJAK SUNYI
© Budhi Setyawan

sehimpun puisi

Layout Isi :
Dimas Indiana Senja

Lukisan Cover:
Purnama Sunyi, karya Wahyu Jatmiko

Cat air di atas kertas, 2017
Cover:

Khairul Farid
Ilustrasi

Lukisan oleh Wahyu Jatmiko
Foto oleh Budhi Setyawan

Diterbitkan Oleh:
FORUM SASTRA BEKASI (FSB)

Bekerjasama dengan

PUSTAKA SENJA
[email protected]
Jl. Ori 1 No 9 c Papringan, Yogyakarta

(085741060425)

Cetakan I Juni 2017

ISBN 978-602-6730-00-8

ii

untuk:

Dian Rusdiana
Rifqa Aziza Ramadhani

Fitra Setya Firdaussy
Phiva Mustika Prabawany
Teja Narendra Permanajati

iii

iv

Mukadimah

Pengantar atau semacamnya tidaklah mutlak harus ada
dalam sebuah buku. Bagaimanapun yang menjadi hal pokok
dalam buku adalah karya atau hasil tulisan-tulisan yang ada di
dalamnya. Pengantar lebih merupakan ucapan selamat datang
kepada pembaca. Justru pengantar yang memberi arahan atau
bekal awal kepada pembaca dapat berpotensi mengurangi
kemurnian pembaca dalam mencari rasa keindahan, kenyamanan,
bahkan kebahagiaan dari tulisan yang hendak dibacanya. Jadi
para pembaca sangat boleh langsung membaca puisi di dalam
buku ini, dan melewatkan pengantar di sini. Bahkan bisa dengan
bebas seperti misalnya memulai membaca dari puisi terakhir di
buku ini.

Mengumpulkan puisi-puisi dan membukukannya adalah
upaya mendokumentasikan apa yang telah dikerjakan pada
rentang waktu tertentu. Tidak jauh berbeda dengan
mengumpulkan hasil cetak foto dari jepretan kamera fotografer
pada berbagai objek, dan memasukkannya ke dalam album foto.
Jika hasil cetak foto cara menikmatinya dengan dipandang atau
dilihat, maka dokumentasi berbentuk tulisan dinikmati dengan
membacanya. Jadi membukukan karya itu sebuah upaya yang
biasa, sebuah cara atau metode untuk mengatur pengarsipan
karya. Bukan merupakan hal yang khusus, apalagi sakral. Akan
tetapi dapat dikatakan ada usaha serius dari penulis dan pihak

v

yang terkait untuk belajar memberikan apresiasi terhadap apa-
apa yang telah dilakukan dalam mengisi perjalanan waktu.

Saya membukukan sejumlah 72 puisi di buku berjudul
Sajak Sajak Sunyi atau dapat disebut S3 pada tahun 2017 ini,
setelah hampir 10 tahun yang lalu yaitu pada tahun 2007 saya
membukukan puisi dalam buku berjudul Sukma Silam, yang
merupakan buku ketiga setelah 2 buku saya Kepak Sayap Jiwa
dan Penyadaran pada tahun 2006. Pada penerbitan 3 buku awal
tersebut dapat dikatakan buku sebagai kartu nama. Saya belum
melakukan pendekatan yang baik dan berharap segera jadi buku
saja. Bahkan pada buku S3 ini juga bisa jadi belum dilakukan
upaya secara maksimal dalam persiapannya. Akan tetapi saya
berharap hasilnya lebih baik daripada buku-buku sebelumnya,
walaupun bisa jadi (tetap boleh) dianggap sebagai kartu nama
juga.

Buku ini memuat puisi yang saya anggap satu tema atau
berdekatan, sehingga diharapkan tidak meloncat jauh ragam
penerimaan tafsir dan memudahkan untuk menyusun arus
kenyamanan dalam membacanya. Tetapi jika pembaca menjadi
jenuh, itu risiko yang mestinya diantisipasi dengan menyediakan
makanan ringan dan minuman segar secukupnya. Kecuali sedang
berpuasa. Saya pun belum bergerak jauh dalam menulis puisi,
masih dengan semangat dan kemampuan sederhana. Banyak puisi
yang berasal dari keseharian saja, dan setelah membaca puisi

vi

barangkali tidak ada hal yang istimewa, dan hanya menyisakan
gema suara: kita hanya manusia.

Tentu saya berharap buku ini berkenan bagi pembaca
dan akan terus dibaca. Harapan lainnya semoga memberi manfaat
kepada para pembaca. Akan lebih bagus lagi jika ada umpan balik
yang dapat memberikan arah pada upaya untuk makin baiknya
dokumentasi karya pada tahun-tahun berikutnya.

Saya ucapkan terima kasih kepada Penerbit Pustaka
Senja yang berkenan menerbitkan tulisan sederhana saya, tulisan
yang masih belajar dari saya yang juga masih pembelajar awal
dalam bersastra. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada para
penyair guru dekat dan guru jauh saya yang tidak saya sebutkan
satu per satu namun diam-diam saya banyak belajar dari karya-
karyanya, teman teman penggiat sastra di Purworejo, warga
Forum Sastra Bekasi (FSB), Sastra Reboan, dan para penyair serta
komunitas sastra di banyak kota lainnya. Dan tentu saja tak lupa,
saya sampaikan terima kasih dan cinta sedalam-dalamnya kepada
keluarga kecil saya Dian, Qiqa, Rara, Iva, dan Rendra.

Selamat membaca. Selamat berkarya. Salam progresif.

Bekasi, 22 Mei 2017

Budhi Setyawan

vii

DAFTAR ISI

Ruang Sunyi
1. Di Atas Kata ~ 2
2. Kita Hanya ~ 3
3. Latisan ~ 4
4. Bernaung ~ 5
5. Tak Bisa Sembunyi ~ 6
6. Di Kedaimu ~ 7
7. Risalah Sujud ~ 8
8. Hudhud ~ 9
9. Makrifat Pencarian ~ 11
10. Sembahyang Sunyi ~ 12
11. Pohon Sunyi ~ 13
12. Ingatan Mimpi ~15
13. Rindu Ini ~ 16
14. Buah Sunyi ~ 17
15. Suara dari Lembah ~ 18
16. Harakat Sepi ~ 19
17. Riwayat Pendaki ~ 20
18. Sajak Senyap ~ 22
19. Buah Hujan ~ 23
20. Tentang Doa ~ 24
21. Memuja ~ 25
22. Dari Sir Sampai Tajali ~ 26
23. Bait Keakuan ~ 27

viii

24. Sajak Kayu Bakar ~ 28
25. Jalan Doa ~ 30
26. Puasaku ~ 31
27. Teduh Doa ~ 32
28. Kamar Altar ~ 33
29. Rakaat Kerinduan Padamu ~ 34
30. Syahid Rindu ~ 35
31. Tafakur Sebutir Debu ~ 36
32. Doa di Bawah Hujan ~ 38
33. Mengingatmu Sepi ~ 39
34. Narasi Segugus Awan ~ 40
35. Antologi Sepi ~42
36. Pengembaraanku ~ 43
37. Pada Dada ~ 44
38. Memandang Jalanan~ 45
39. Menggulung Jarak ~ 46
40. Desir Sembahyang ~ 47
41. Digilir Sepi ~ 48
42. Riwayat Nabi ~ 49

Waktu Sunyi

43. Aku Belum Mengenalmu ~ 52
44. Repetisi Pencarian ~ 53
45. Menafsir Sepimu ~ 54
46. Perindu Malam ~ 56
47. Malam Kering ~ 58

ix

48. Kamar Malam ~ 59
49. Rumah Malam ~ 60
50. Malam Menggigil Cemas ~ 61
51. Iman ~ 62
52. Pada Akhir Ramadan ~ 63
53. Gunung Waktu ~ 64
54. Pada Jam Tiga Dini Hari ~ 66
55. Sungai Malam Hari ~ 67
56. Setelah Itu ~ 68
57. Penakwil Aura ~ 69
58. Desir Keabadian ~70
59. Seperti Sujud Terakhir ~71
60. Dalam Pejaman Mataku ~ 72
61. Sembilan Kali Menyebutmu ~ 73
62. Di Jalan Puasa ~ 74
63. Waktu Rindu~ 75
64. Risalah Sepi ~76
65. Nubuat Pencarian ~ 77
66. Berbuka Puasa ~ 78
67. Menuju Sebuah Alamat ~ 79
68. Lebaran (1) ~ 80
69. Lebaran (2) ~ 81
70. Rakit Usia ~ 82
71. Membaca Usia ~ 83
72. Waktu yang Bergetar ~ 85
Riwayat Penyair ~ 87

x

ruang sunyi

Sajak Sajak Sunyi
Di Atas Kata
engkau yang kubayangkan terbang
atau memang penghuni awang awang
kucari lewat zikir dan sembahyang
kukejar dengan kasidah dan dendang
sedangkan diri masih di bawah duga
melumur umur dengan prasangka
namun waktu tabah merawat sasmita
malam sajikan epilog hari fana
nadi yang merambati gunungan doa
menafsir lirih suara di sunyi dada
dengan setapak kecil menuju kerlip lentera
tak khatam jua menguak himpunan rahasia

Bekasi, 2014

2

Budhi Setyawan

Kita Hanya

kita hanyalah uap
dari didih golak

kita hanyalah bayang
dari dunia lakon

kita hanyalah gema
dari alun kidung

kita hanyalah sekumpulan
uap, bayang dan gema
yang tersesat berabad abad
ke ranah kilau fana

Bekasi, 2014

3

Sajak Sajak Sunyi

Latisan

dalam remang kulewati titian rakaat yang rapuh
oleh sebab lembab kediaman
musim yang belum menampakkan geliat
sedangkan di bawah menganga jurang
gelap pekat, seperti tanpa dasar,
aku yang fakir
nyaris raib pikir

mengingat seadanya matahari masa kecil
kakiku yang melangkah
menjelma seperti bermata
meski didekapi bimbang
terus melanjutkan perjalanan
dan bibirku merapal permohonan
akan cercah cahaya

o, malam tiupkan padaku tentang sunyi yang pisau
untuk menyayat selaput yang membaluri tubuh jiwaku
agar dapat kujamah sutra pelukan kekasih
lezat persentuhan yang mengalirkan riwayat
penyatuan lewati tapisan tapisan langit
menuju altar kesejatian

dalam terpejam
jemari batinku meraba raba
menggapai langit cintamu

Jakarta, 2014

4

Budhi Setyawan
Bernaung
angin sore mengarak mega ke bukit bukit
segerombolan kelelawar terbang menembus langit
pandangku menadah sepi ke hamparan ketinggian
di ufuk barat lazuardi, senja pun berangkat perlahan
kini aku kian jauh dari teduh sapa dan masa kecil
dunia menua ungsikan riwayat nurani lindap terkucil
terkenang gema nyaring suara anak anak riang mengaji
dan kerlip lampu minyak terangi ayat ayat pijarkan diri
lalu temaram cuaca beranjak menuju lipatan kelam
aku pun mengetuk pintu rahasia di napas malam
terhisap rabaan sukma oleh cahaya memutikkan bening
bernaung di bawah ranum doa, kucari degupnya dalam hening

Bogor, 2014

5

Sajak Sajak Sunyi
Tak Bisa Sembunyi
aku tak sanggup sembunyi dari tatapmu
meskipun kukenakan berbagai majas dan diksi
dalam menorehkan sehimpunan isyarat yang membersit
dari gema yang tajam menggemuruhkan kepala
pintu dan jendela rumah terbuka di pagi hari
dan terkatup seiring kehadiran malam berwajah legam
begitulah sajak melintas di antara dua keadaan
menyibak perasaan, menyusup ke atas tingkap kenyataan
kuhela hatiku menuju medan medan kesenangan
tak urung kesabaranmu menghadirkan sebuah tarikan
seluruh wilayah adalah luas kelir alam terbuka
dalam genggammu semesta maksud dan pergerakan

Bekasi, 2014

6

Budhi Setyawan

Di Kedaimu

aku pejalan tanpa kompas dan peta
hanya merunut pijar getar
yang terbit dari retak dada

embara serupa perulangan
menimbun kemarau
di kantong ingatan
berhias lubang
sampai ku tersesat
ke wilayah jauh dan dalam
asing dan sepi
pertemuan dua kutub suasana
yang merangkum silam dan hari depan
dalam sebingkai panorama
yang merawikan imajinasi dan kenyataan
dalam sebuah ketukan kehadiran

kulihat sebuah bangunan kayu tahun
mengerlip dalam pandangan
apakah itu kedaimu
izinkan aku singgah
melarutkan hausku
melupakan diriku
minum beberapa tempurung tuak kesunyian
lalu biarlah
aku mabuk dan mengapung
dalam arus napasmu

Bekasi, 2014

7

Sajak Sajak Sunyi
Risalah Sujud
keningku hamburkan arus pusaran dalam kepala
panah panah rindu melesat ke udara
mengejar sumber maha cahaya
yang pendarnya merinai di langit terkembang
di atas tanah yang basah oleh impian
sujudku menggugat pengembaraan ruh
menimbang prasasti kesetiaan di perjanjian awal
hingga terdedah dengan segenggam ihwal simpangan
air mataku merambahi luka hati semesta
yang terbawa dalam kasidah senja usia
tak purna hidungku menanam cium
di kebun sajadah, mencatat jelajah lingkar tahun

Bekasi, 2014

8

Budhi Setyawan

Hudhud

1/
sungguh, aku serupa berhutang jika berdiam
karena sayap sayapku yang terlumur sabdamu
senantiasa dalam keriaan tak berbatas
mengepakkan bening titahmu pada semesta

2/
paduka, telah sesenja ini hamba menghadap
karena ada gulungan waktu memberati jambul
yang berisi ranah berkilau
kerajaan bersinggasana kecemasan
bermenara kegelisahan
dan bersemayam di pucuk tampuknya
perempuan bermata hikmah
yang berjalan dalam selimut kabut
mencari kiblat napasnya, dan
hakikat perih sunyinya

maka, izinkan hamba bawa surat paduka
untuk hamba sampaikan kepadanya
agar terbuka tempurung pandang
kepada mekar lawah cakrawala
dan undakan saf saf langit
dengan kesaksian awan dan angin
yang menderas dalam darah,
hingga mengekalkan keyakinan

3/
maka,
di sela bisik reranting dan percakapan dedaunan

9

Sajak Sajak Sunyi
di antara ricik sungai dan gemuruh laut
kurukukkan batinku
saat uluran syahadat paduka
menyulut kesadaran matahari di jantung balqis
hingga berlepasan tingkap antariksa
lalu benderang abad abad
menjelma kulminasi cahaya
yang mengilhami derana rindu,
dan terus berdegup nyala di masa kemudian

Jakarta, 2014

10

Budhi Setyawan
Makrifat Pencarian
kukejar jejak jejak tahajud nabi
yang bertabur di udara malam, dan
menjelma kerlip kunang kunang
semakin tinggi dan jauh terbang mereka
mengapung sepoikan desir kerinduan
malam pun berhias dalam keagungan
tak purna jua jangkauku, sukma
dahagaku senantiasa memanggil kalbu langit
yang menyimpan nurani cahaya di sekujur zaman

Jakarta, 2014

11

Sajak Sajak Sunyi
Sembahyang Sunyi
malam masih mendaki dan hampir sampai puncak senyap
saat suara suara kembali ke sarangnya yang pengap
dan kasih udara ingin terdengar lagi sari luhur getarnya
seperti hirupan pertama pada kelahiran anak manusia
dalam sepi malam, kesendirian membangunkan rimbun tanya
kecemasan batin di riuh kekinian, dalam arus pusaran usia
yang merindukan kelegaan musim dengan tempias basah hujan
serta dada yang mekar terlepas dari kejaran beragam keinginan
di telinga langit gema ayat ayatmu terasa makin purba
menikam sunyi gigil sukmaku, tak terbayang nanti bila berjumpa
aku pun bersembahyang cipta dalam semesta gaib jantungmu
dengan debar nadi yang mencari resonansi pada irama degupmu

Purworejo, 2014

12

Budhi Setyawan

Pohon Sunyi

1/
pada rekah fajar, matahari berangsur
lepas dari cangkang horison
untuk mengemanasi setiap wajah yang legam jelaga
menyusupkan cinta pada kata kata yang dingin
menumbuhkan gerak gerak dedaun dan bunga
serta segala yang lalu tumbuh dan kembang
berpijak di bumi fana

2/
pada hari yang kita niatkan
di relung nirmala bulan
napas menyusur kewahyuan di dada langit
kita menahan segala alir, membekukan yang cair
mendudukkan yang biasanya hadir,
menuju kosong nadir
mengendapkan angan, mendiamkan nujum tarian
menarik harum ilham, menyadap pukau keharuan

kita menahan dari hambur keseharian
tak mengucurkan siraman air
tak menaburkan butiran pupuk
pada pepohonan di tubuh kita
biar kemarau kian menerikkan cuaca
memenuhi kebun usia
meranggaskan rumputan liar
hingga pepohonan menjadi seringan mimpi
seperti hendak melanglang
menggapai langit sepi
mengalap antariksa senyap
pucuknya menadah rinai

13

Sajak Sajak Sunyi

percakapan batin langit
yang rekah dengan aura takdir matahari

ruh kita
adalah akar yang bersabar
bersedia untuk kerontang
bertapa di dalam bumi pengembaraan
karena rindu adalah keberadaan
yang teguh menanggung jarak ingin
dalam rahasia hikmah
makrifat sunyi

3/
saat matahari bergulung ke ufuk pulang
meninggalkan wajah bumi yang kian ringan
waktu pun makin silam, samar mengelam
dan kita berharap, hari akan bertahan lebih lama
bertakzim dalam tasamuh penantian kekasih
sementara curah kelegaan yang membersit sesaat
hanyalah wirid menandai detak nadi
untuk selanjutnya rasa kembali
bersemayam ke lubuk hening diri

Jakarta, 2014

14

Budhi Setyawan
Ingatan Mimpi
malam menyerpih ke tingkap tirai kesepian
bulan merangkak di langit, keletihan dalam pikiran
angin pun tertatih menyeret luka kenangan
yang telah memenuhi kebun dan jalanan
mimpi mengharapkan takwil yang lebih terang
akan arus sujudku yang masih saja mengambang
karena seperti jauh bayangan tanah merah
bernyaman dengan usia, menepis renik risalah
di tepian sajadahku, jurang curam menganga
serupa kubang sesal, doa gawal meronta
lidah api julurkan panas menara pembakaran
menggigil batinku dikerubuti kelindan alamat persangkaan

Bekasi, 2014

15

Sajak Sajak Sunyi
Rindu Ini
rindu ini adalah tumpukan waktu
yang terus tumbuh dan menubuh
seluruh ingatan tentangmu
rindu ini adalah tarikan darimu
yang berangsur mengambil keberadaanku
hingga lenyaplah aku

Jakarta, 2014

16

Budhi Setyawan

Buah Sunyi

teruslah berjalan, masuk ke gua telinga
sampai masa di pucuk malam
sampai segala bunyi lenyap
dan yang tinggal hanya senyap

tatap aku dalam pejam matamu
lalu petiklah aku
petiklah
yang terlekap
di ceruk napasmu

kupas, kupaslah aku
sampai habis hijabku
sampai purna telanjangku
hingga di kedalamannya yang pasi
akan kautemui dirimu
sendiri
piatu, termangu

Bekasi, 2014

17

Sajak Sajak Sunyi

Suara dari Lembah

kami hanyalah rumputan yang berada di sebuah
cekungan. tak ada keriuhan seperti dunia jauh di
seberang. tubuh kami hanya merayap dekat, namun
mata kami tetap tengadah, hati kami mengembara
tak terhingga. kami tak takut bertatap dengan
matahari. atau juga bulan jika malam datang.
kesunyian adalah minuman yang kami reguk dari
danau di hadapan, dengan segala dingin perasaan,
entah sampai kapan.

suara dari mulut kami hanya lirih saja, yang
mungkin tak terdengar olehmu. bahkan gerak pun
teramat lamban tak seperti engkau yang sedemikian
cepat melangkahi musim. kau akan berburu jauh
ke seberang ilusi, memasuki kota kota, ruang kaca,
mimbar orasi, dan segala yang menjadi mimpi
dunia. biarlah kami di sini, menunggu lembah ini.
nanti kejemuan akan memelukimu, dan engkau
pun menjadi seperti kanak lagi. mungkin sesekali
kau akan teringat pada kami, dan kami tetap di sini,
menunggumu singgah dalam muhasabah hari.

Bekasi, 2014

18

Budhi Setyawan
Harakat Sepi
mengapa selalu terbit rindu akan kehadiran
untuk membubuhkan pengakuan atas keberadaan
karena sepi yang hampa
adalah ruang bertuba
maka aku terus menjelajah mencarimu
lewat pilar pilar waktu
agar degup menjadi harakat
yang tekun mengirim isyarat
hingga sepi ini berisi dan dapat terbaca
sebagai kasidah hati merawat nubuat cinta

Jakarta, 2014

19

Sajak Sajak Sunyi

Riwayat Pendaki

coba katakan,
sudah sampai mana pendakianmu
karena kabut kadang singgah
bertukar jaga dengan cerah
mereka yang sama sama mencintai cuaca

entahlah,
aku sendiri tak pernah mengukur
meski bumi makin menuju uzur
telah sampai di mana jejakku
namun lamunku selalu terpanggil
pada puncak puncak bukit yang memijar
membersitkan taman surga
yang penuh dengan sajak susu dan madu
dengan musim yang senantiasa remaja
dan kecup angin tak pernah tua

sekarang katakan,
sampai kapan engkau akan berjalan
sedangkan kakimu telah lebam
napasmu ringkih menempuh tubir curam
getar cemas seperti mengalun
mendesak, mendesir nun

aku juga tak bisa menerka
bilakah akhir dari perjalanan kata
karena seperti kumasuki arena permainan
barangkali sebagai keabadian pencarian
bukit bukit yang kutempuh menjauh berlari
saat kukejar dengan sepenuh diri
dan lalu hanya akan terdiam

20

Budhi Setyawan

waktu tak kuterbitkan gerakan
kuingat senja pernah mengajarkan
menangkap hening dengan mata terpejam
akhirnya biarlah kemurnian doa
yang akan menjaga darah nirmala

Jakarta, 2014

21

Sajak Sajak Sunyi
Sajak Senyap
begitu lirih sebuah pesan disampaikan
seperti rintih yang mendaki bukit kelengangan
tertatih sendiri dalam langkah sansai
tanpa pernah tahu bila semua hendak usai
ia yang sedemikian pelan menarik tangan kita
untuk sejenak bersua di sudut ruang senja
mengendapkan kata dari sehimpunan riak riuh
juga dari kelindan perburuan mata yang keruh
mungkin tak akan pernah terdengar oleh kita
bisik hadirnya yang tenang bersama angin sahaja
kecuali rekah kesediaan kalbu untuk bersanding
membuka seluasnya pintu bagi perjumpaan hening

Bekasi, 2014

22

Budhi Setyawan
Buah Hujan
hujan pun runtuh dari dahan dahan awan
membawa pesan haru jantung laut
selepas melewati udara kota desa dan hutan
menyadap bermacam kisah yang membuat waktu hanyut
lapis kelopak kenangan perlahan membuka dan mekar
seperti tersentuhi pekabaran, panggilan nyanyian surga
yang mencurah mencipta sajak dalam arus memusar
menyuburkan kata kata yang menggelombang cahaya
mengapa doa doa bumi telah memanggilnya turun
karena mimpi api telah terlampau kuasa menjalar
maka pohon langit melepaskan ranum buah rimbun
sebelum semesta menyerpih terhampar terbakar

Jakarta, 2014

23

Sajak Sajak Sunyi

Tentang Doa

doa adalah rangkaian tulang dari keberadaan
yang menopang daging harapan untuk bertahan
ketika segala riuh dan pikuk
menyerbu tubuh dari segala pintu
membandang bagai bah menerjang
berangkat dari sungai dendam
legam berkepanjangan

di dalamnya tersusun sumsum
dari buliran keyakinan dan pengakuan
pada nirmala hayat di atas langit
yang mendesir dan mengalir
menderas di pembuluh waktu
membasahi kanal kanal rindu

adalah doa yang menegakkan badan
dalam melanglang ke segala ranah rasian
menerobos panas dan hujan
menembus angin dan bebatuan
dengan bermata panah hening
yang runcing beruliran dan berlumur harum
keabadian

Bekasi, 2015

24

Budhi Setyawan

Memuja

izinkan aku yang lata ini
merindumu sampai tulang
menabung rahasia hati
sampai waktunya pulang

Bekasi, 2015

25

Sajak Sajak Sunyi
Dari Sir Sampai Tajali
kau mendengar alun napasmu sendiri yang lirih
seperti mengangkut serimba hayat, imaji rintih
mendaki bukit wingit yang begitu sepi
bersama kesendirian yang makin lesi
kau mencari yang masih tersembunyi
di balik lipatan kabut di puncak sunyi
dan rimbunan alamat belum tertakwilkan
meski telah dirapalkan mantra penyingkapan
rindu yang kaukandung dalam jantung
bergolak berontak hendak keluar menjelma laung
menjadi darah mengalirkan nada dalam nadi
rekah gerak sepanjang usia, nyanyian budi

Jakarta, 2015

26

Budhi Setyawan

Bait Keakuan

aku berlari sendiri
dari sepi ke tepi
dari luka ke nyanyi
di ladang pencarian
di padang penghambaan
hari hari menjerat sangsi
melempangkan nurani diri

aku berjalan sendiri
dari duri ke nyeri
dari senja ke pagi
di ranah pendakian
di bukit pengharapan
bulan bulan mencatat segala
yang berkeriap di tubir mata

aku berdiam sendiri
dari bunyi ke sunyi
dari jantung ke hati
di pucuk penantian
di ujung penyatuan
tahun tahun telah mabuk
terminum rindu yang khusyuk

Jakarta, 2015

27

Sajak Sajak Sunyi

Sajak Kayu Bakar

aku tahu aku akan menjadi arang
namun telah kutabukan terbitnya erang

dari kejauhan hutan atau dekat kebun
dari berbagai ranah teduh yang rimbun
aku berasal sebagai tegak pepohonan
diliputi lebat ikal daun daun harapan

sebagai bagian ranting dan dahan
aku menuju kering dengan perlahan
mencoba meniru mereka yang berpuasa
menahan segala amuk terik dan dahaga

pada kesepian semula yang temaram
menempuh setapak sunyi yang diam
lewat kegembiraan apa takdir kuturutkan
selain kepada api sebagai penyucian

kuikuti alur perjalanan yang sekejap
sejengkal demi sejengkal menyingkap hijab
mengusaikan waktu utas embara
menanakkan doa doa dengan bara

dari tubuhku yang terbakar
aku hendak kirimkan kabar
mencintai yang dikandung usia
berakhir di kefanaan remah sisa

akhirnya nyala itu pun padam
segala ingatan akan tenggelam
terlepas semua yang bersama hayat

28

Budhi Setyawan

kembali tersimpul pada gulungan ayat

aku tahu aku akan menjadi arang
namun telah kutabukan terbitnya erang

Jakarta, 2015

29

Sajak Sajak Sunyi

Jalan Doa

berbagai jalan telah kita kenali
hanya kusut serupa temali
karena gelegak berpaut diri
kerap menjejakkan duri nyeri

hanya kepenatan kita tangkap
dari pergumulan riuh menghisap tubuh
sementara teriak ruh nyaris tak terdengar telinga waktu
dan isak sunyi merintikkan serpih haru

ke mana pertanyaan akan pulang
karena ruang menanggung beban himpitan
yang diturunkan dari nujum perhitungan
tentang alur nasib dan peruntungan

dan,
akhirnya hanya kepada doa
kita kembali menaruh isi dada dan kepala
karena doa adalah juru selamat semesta
dari taring cemas yang suka memangsa
kerlip rindu dan cinta

Jakarta, 2015

30

Budhi Setyawan

Puasaku
puasaku ini adalah puasanya bumi dan langit
menunggu pesan nirmala bagi semesta
puasaku adalah puasanya jasad dan ruh
menahan dari amuk kasat dan tak kasat mata
adalah rindu tanah saat kemarau
pada hujan untuk mendaur kesuburan
adalah rindu tulang dan darah
pada sepoi kesunyian detak silam
: maka biarlah kesabaran menempuh jalannya
bersama ayat ayat yang dirapalkan musim
kepada pepohonan usia yang menggigil
mencatat daun jatuh hingga sujud penghabisan
: maka biarlah kebijakan menuntun pandang
sukma kepada pencetus rindu semula
yang kuasa menghadirkan jalinan ruang
di segala kisi angan dan penyebutan

Jakarta, 2015

31

Sajak Sajak Sunyi

Teduh Doa

ingatan tentangmu
membekukan kecemasan
cahaya malam pun pendar di ranting kesunyian

lirih jalan napas
makin hunjam
hingga sisakan gema panjang
merasuk senyap selepas hujan
dan suara angin keluar dari lubang seruling
kirimkan lagu lama
lalu terbayang rerumpun bambu
batang batang bergesekan
dengan senandung derit menyayat langit
terlingkar utas sulur dan duri
serta miang yang jatuh ke tanah
bersama selaput kering, pasrah

aku sendiri
aku bersama
sedih sekalian gembira

dan pada doa kutitipkan gugusan air mata
berharap kelak menjadi rumah
yang teduh bagi keasingan usia

Jakarta, 2015

32

Budhi Setyawan

Kamar Altar

sepetak ruang merawat raung dan bayang
membalutnya dengan suara lirih, lebih sebagai gumam

tak begitu jelas kata yang keluar
dari mulut yang setengah tertahan
melafalkan maksud yang telah bertumpuk

di selasar tahun
karena sebagian alamat yang dulu

melintas di redup benak
terikut ke pusaran arus jentera peristiwa

kamar adalah altar diri yang menyimpan sunyi
di antara kepungan gelebah dan elegi
racauan angan dan sengkarut mimpi
lenguh nada dan keluh nadi

juga bait bait ambigu
yang kemudian disisipkan ke dalam nyanyi
membersitkan trenyuh pada kait perulangan
dengan ketukan perih termaktub
di senarai gema berkelindan

ialah yang menentramkan malam dengan rahasia doa
memanjang pada jalan insomnia
yang kadang menjelmakan percakapan sepi

: antara langit dan bumi

Bekasi, 2015

33

Sajak Sajak Sunyi

Rakaat Kerinduan Padamu

seperti musafir lama
aku menempuh petualangan usiaku tanpa peta
dalam lumuran kabut dan temaram cuaca
hanya berbekal bara keyakinan di rimbun sekam pencarian

adalah serbuan wajah kerlap kekinian
menaburkan warna yang menyeret kesunyianku
lindap digerus kegaduhan pukau
kerap terlupa pada kata kata
menyebut atau memanggil namamu
dan kuasa racau dari kemabukanku pada kebanalan derap
menjelma jelaga pada putaran jam resah

maka saat matahari makin condong ke barat
kutunaikan rakaat rakaat
rindu ke dalam semesta tirakat
meniti jembatan dari rerambut mimpi
pesan yang ditanam oleh musim cahaya
sebelum kelahiranku

napasku pun kini sarat olehmu
mengisi segala kisi dan ceruk pembuluh dengan getar
kegaiban semakin memijar
rinduku padamu mencipta gunung nyala
ke langit, ke ubun keheningan
begitu wingit

Bekasi, 2015

34

Budhi Setyawan

Syahid Rindu

aku bukan laron yang takjub
pada kerlip tajam membelah gelap
juga bukan tak tahu panas yang meluah dari api
tapi tak kuasa lagi bertahan
oleh sebuah panggilan yang datang menyerbu
meluluhkan bongkahan ragu

aku tak sanggup menulis sajak tentangmu
karena semestamu telah meliput ke rasaku
tetapi sang waktu tak letih menulis tentang cintamu
ke dalam seluruh ruang dan ceruk usiaku

kuhikmati kegembiraan seperti tanpa sebab
setiap hari aku terbang tanpa sayap
memasuki lapisan langit senyap
juga berjalan merasuk ke jantung belantara
menyelusup ke sanubari samudra
semua melafalkan namamu
tanpa jeda
tak pernah alpa

kubaiatkan napasku padamu
dan tak kuhiraukan lagi tentang makna sampai
karena hijab hijab antara aku denganmu
terus berlepasan setiap kusebut
kebesaranmu dalam hitungan ganjil
hingga terus kutakzimkan detak nadi
mengalirkan haru ke muara sunyi

Bekasi, 2015

35

Sajak Sajak Sunyi

Tafakur Sebutir Debu

kueja kembali kehadiranku
yang tak bernama di haribaan bumi

juga di hadapan desingan planet planet
yang mengabarkan kesementaraan deru

sedangkan duniaku sesak sesat hasrat
berderap ke ribuan ambang, ke licin penampang
ingatan bertubi menyusur getas diri
racau igau berbaur dengan ringkas doa

berlepasan rintik gelisah dan andai
cemas meremas usia tak pernah usai

cahaya musim berkelindan di lingkar sekitar
menyusupkan bulan dan matahari ke pori tubuhku
menjelmakan keriaan alam, kesegaran daun daun

berembun
seekor capung berkali menyentuhkan

ekornya ke muka kolam
lalu suara kelelawar menandai ranum buah buahan

di pepohonan
serta sahutan sekumpulan katak dari ceruk

persembunyian
hingga kemudian gerimis tumbuh
memercikkan getar rindu bertempias
o, ilusi selintas yang segera tuntas

aku cuma sebutir debu
angin menerbangkanku ke tempat tempat terjauh

ke nadi jalanan, ke denyut batu batu
juga ke detak ranah ranah tak kukenali
kunyanyikan lagu petualangan di arus siang
dan malam melindapkan suaraku bersama dingin

36

Budhi Setyawan
lalu membiarkanku sendiri
meraba arah kiblat, menyusun sembahyang sunyi
membaca ayat ayat, mengejar makna ruang hayat
saat merekam gilir napas piatu
dari rahim pasi waktu
lahir bulir bulir haru
satu per satu
Jakarta, 2016

37

Sajak Sajak Sunyi

Doa di Bawah Hujan
petir memekik merobek sepi
saat angin melindapkan irama hari
dan kilat yang menjalari langit
menjadi obor bagi kuncup cemas
lalu mendung yang tergantung melepaskan
pegangannya dari pundak langit yang hening
jatuh menjadi serbuk nyala rindu
menggenangi remah waktu
kupejamkan mataku dengan keras
hingga aku tak lagi tahu
mana yang lebih deras
air hujan atau air mataku
tetes tetesnya menghidupkan mata air
ayat ayat yang mengalir menyirami
pohon pohon anggur
di kebun keabadian

Jakarta, 2016

38

Budhi Setyawan

Mengingatmu Sepi

mengingatmu dalam sepi
aku kehilangan diri

Bekasi, 2016

39


Click to View FlipBook Version