Sajak Sajak Sunyi
Narasi Segugus Awan
kita adalah tubuh tipis berlapis
yang tersusun dari sekumpulan angan
hasrat memadat
menjalani takdir pengelana
mendaki undakan langit
dengan perlahan sembari mengingat kilasan musim
yang tertanam di lahan kesunyian
kehadiran dan kepulangan
hanya hamburan perulangan
riwayat yang mengeja gelaran jentera waktu
membaca alamat ruang
keberadaan yang tekun mencari
pengakuan di halaman kitab purba
yang berkelindan isyarat
kesementaraan dan keabadian
berapa panjang perjalanan kita
mungkin cuma fragmen sesaat yang tak tercatat
meski lewat benang layang layang
dapat kita sampaikan kepada anak anak di tanah lapang
kesepian semesta tak pernah lekang
pada akhirnya kita tak bisa memilih di bumi mana
tubuh kita menyerpih, satu satu luruh
mengangsur fana menuju moksa
menjelma rintis gerimis
lalu membiak menjadi cucuran ketika
tak bisa dibedakan lagi dengan tangis
sampai ketiadaan menyimpan
40
Budhi Setyawan
kita tak pernah tahu siapa yang memanggil
dari bilik bilik berhijab temaram
dengan tangan tangan tengadah dan terbuka
Bekasi, 2016
41
Sajak Sajak Sunyi
Antologi Sepi
apakah kau telah mengenal elegi musim yang khusyuk
mengaji sepi. ia kerap menjauhkan diri dari riuh, kejaran
mata yang membuih keruh. ada nyanyi yang mulai
mempercepat lajunya, meninggalkan tafsir yang tersendat
oleh tumbuhnya gema yang mekarkan tanya. barangkali
hamburan suara itu tak hinggap pada penantian yang telah
menjadi amanat usia dalam kegaiban.
kesendirian menjadi ladang bagi cahaya yang datang lewat
celah sempit di jeda napas. zikir mengalir di sungai nadi,
membawa bayang risau makin menua hari. engkau pun
akan mencoba lebih menajamkan indra, sedemikian
banyak ruang berlalu dan teramat fana. banyak wajah
yang kebingungan kehilangan cermin diri. bukankah ada
yang telah menanti dengan pasti, bersabar sambil menahan
waktu agar tak jadi pasi.
akumulasi renung membuahkan percik embun yang
melumasi ingatan, o, siapa yang memainkan rahasia rasa,
merasuk ke pucuk senyap. pertanyaan memantulkan
gaung, seperti tamparan yang menempelkan pesan:
apakah pemburu mesti membawa hasil buruan di hutan?
wirid putih melangkah sendiri membawa diri, bergantian
ke ruang silam dekapan jauh dan ke usapan dekat begitu
teduh.
Jakarta, 2016
42
Budhi Setyawan
Pengembaraanku
sejauh jauhnya pengembaraanku
kepulangan rindu hanyalah padamu
Bekasi, 2016
43
Sajak Sajak Sunyi
Pada Dada
pada dada
kupondokkan kenangan
untuk membaca ayat ayat
kerinduan
sungai bening mengalir
tempat berkaca langit niskala
setipis rambut dibelah tujuh
batas surga dan neraka
Bekasi, 2016
44
Budhi Setyawan
Memandang Jalanan
memandang jalanan tumpah kendaraan membawa
pemudik, dalam tubuhku ada yang tertarik: jalan
kampung, rumah ibu, kelok sungai, suara unggas,
terlahir tanpa diminta. menyusun sendiri cerita
entah berapa alinea, kisah kisah sunyi dan sederhana.
aku seperti telah di luar bingkai kisah itu, berulang
kuketuk untuk masuk, namun pintu pintu masih
mengatup. selama ini waktu menyeretku terlalu jauh,
pada ruang ruang berkabut. o, di mana aku, siapa
aku. teriakku membentur tembok tembok kota, dan
lenyap terhisap abai dunia.
kutempuh jalan kota ini ditemani seberkas kenangan
tersisa, menyusur kesangsian berbaur aroma luka.
dan di bawah gerimis tua, kusembunyikan air mata
bersama doa doa lama.
Jakarta, 2016
45
Sajak Sajak Sunyi
Menggulung Jarak
tersebab apa
kobar rindu menggulung jarak
membakar segala perintang
mencipta riwayat bagi jalan
penempuhan menuju haribaan
kekasih yang mendiami seluruh arah mata angin
sepoi pun mengalir ke ujung napas
bisiknya menggetarkan dada waktu
biar matahari mati
bulan padam
bintang bintang menghilang
ingatan pada kekasih terus nyala
jadi petunjuk langkah keyakinan
menyatu bumi langit dalam desir
mimpi tetap terjaga dalam kegaiban
rasa yang meluap
karena kemabukan telah mendaki puncak
mencari obat penawar yang tak bisa ditawar
telah memburu
telah diburu
detak detik mengetuk ruang
membiru
pada kedalaman risalah haru deru
pertemuan tak mengakhirkan riwayat rindu
Bekasi, 2016
46
Budhi Setyawan
Desir Sembahyang
berawal dari suara panggilan yang mendatangi
serambi dengar
mengirim debar
seperti mengingatkan pada penempuh
lorong kesibukan
apakah kau nyata berada
dalam arus permainan dan canda
kesiaan dan kerugian
masa masa menua
dadamu mengupas suara yang terus berulir merasuk
ke dalam pori dan pembuluhmu
dengan begitu khusyuk
lalu mencipta saf saf berjenjang
menabung sujud untuk menyusun wujud
di bentang tanah yang menyentuhkan desir manah
sekadar persinggahan sesaat untuk mengambil bekal
menuju keabadian cahaya
kau dalam lumur lengang
seperti ada gema doa memanjang
mengharap amin
dalam cuaca yang makin dingin
: hidup serupa cuma bayang bayang
Jakarta, 2016
47
Sajak Sajak Sunyi
Digilir Sepi
kita adalah para pejalan
yang terus mendaki
makna di tingkap kata kata
menyusur puncak puncak bahasa
yang menderetkan nada
selalu menjelma lagu baru
dan menarik tafsir untuk diburu
segala keriuhan cuma pelipur
kesementaraan bagi batin kita
yang risau menunggu
kepastian bertemu
ayat ayat sepi diri
tak ada nyanyi abadi
akan berhenti pada nada dasar
kepasrahan yang sunyi
bersemayam di lembah sadar
seusai sekumpulan ingatan waktu
tanak menandai deru
kita pun rebah
hingga tinggal sepah
Bekasi, 2017
48
Budhi Setyawan
Riwayat Nabi
kau tentu masih menyisakan tanya pada gugus riwayat
yang menggumpal dari risalah kesunyian. bahwa
dikabarkan oleh langit pada ruas ruas abad untuk
membelah deru, untuk menandai kurun yang sesak oleh
seteru. bukankah langit telah mengatakan: ia datang dari
tempatmu berpijak, lalu menjadi awan dan turun
menjelma hujan untuk menyuburkan tandus hatimu,
memadamkan api tubuhmu.
lalu sebagian darimu menyumpal telinganya dengan
lagu dunia yang melalaikan, juga menutup matanya
dari huruf huruf yang menyusun nubuat. tahun tahun
melesat dari busur dendam menuju entah, keasingan
ruang dan waktu yang gerah. semakin kencang
perburuan hingga semakin terlepas diri dari lingkar
perjanjian di tingkap sunyi. akan tetapi seperti tak
tersedia secelah jeda atau serambut diam untuk
bertanya sebenarnya hendak ke mana laju usia.
tiba tiba dunia keriput dan tua. sebagian darimu teringat
buah terlarang, laut terbelah, patung dengan kapak
tergantung, pengap perut ikan, bayi mahir berbicara,
dan jari tangan kucurkan air minum. ingatan yang
kembali nyala, kerlip yang terabaikan dalam perjalanan
mencari hamburan mozaik rahasia.
Bekasi, 2017
49
Sajak Sajak Sunyi
50
Budhi Setyawan
waktu sunyi
51
Sajak Sajak Sunyi
Aku Belum Mengenalmu
aku belum mengenalmu, ketika subuh meluruh pelan
dari kuncup waktu. embun masih bertengger di
dedaun mimpi. sisa kesunyian masih tersangkut di
dahan dingin. lalu pagi mulai mengangsur rabaannya
ke lingkar penjuru, berulang menyusupkan partikel
partikel yang mencetuskan awal tarian yang menderu.
aku belum banyak mengenalmu, tatkala siang
mengangkut hari ke puncak terik. telah terlewati
beberapa alinea penempuhan, namun masih saja
belum kuasa untuk menceritakan, segala kesan dan
makna yang mekar di jalan. entah mesti berapa kali
mengeja agar dapat terhisap segala yang suar dan
mengirimkan debar.
aku belum sepenuhnya mengenalmu, saat lautan
seperti kian meluas, mewadahi ombak yang terus
melafalkan zikir pengagungan. pun senja kian masak,
dengan matahari yang lindap ke ceruk persembunyian.
ada semacam sutra bisikan untuk kembali mencipta
repetisi penelusuran, lebih hening dan dalam, sebelum
yang terang benar benar tenggelam.
Jakarta, 2014
52
Budhi Setyawan
Repetisi Pencarian
dalam desak gelebah
tentang yang menunas dalam fikrah
atau seri muka yang terbit
dari tingkap tualang
betapa derap perjalanan
serupa rakaat pencarian
yang selalu berulang
dan metafora angin
mengering membasah
membaluri tubuh waktu
sepanjang penelusuran napas
mengangkut nujum kehadiran
ribuan bayang restu alam
terdedah
o, sepertinya
tak
khatam jua:
membaca tanda tanda
meraba makna makna
Bekasi, 2014
53
Sajak Sajak Sunyi
Menafsir Sepimu
ada sisa seranting senja
tersangkut di jendela, ketika jemari malam
mulai mengatupkan pintu hari
dan aku seperti terhisap ke dalam lorong
misteri. segala atraksi dan tarian
perlahan mengendap ke bawah tapis napas
menjadi artefak yang tiba tiba
menjelma prasasti muram
mempertanyakan tentang kisah fana
lalu tangan malam meraba
menjamahi skenario langit yang terhampar
jangkrik mengirim salam kepada belalang
dan serangga malam yang lain,
untuk menggubah lantunan kasidah
menyambut kepak takzim alam
khayal khayal gaib bangkit
menerobos gigil
membangunkan sepiku
di kejauhan laut pasang
memercikkan riak roman ke bulan
mengombak kerinduan
dan gunung mengirimkan anginnya
mendesirkan halimun
rasa piatu yang purba
hingga pada kuntum dini hari
yang hampir mekar. segugusan kata
menguar menggugatkan gelebah,
54
Budhi Setyawan
yang tak sampai sampai
kureka dalam anyam angan:
tentang sepimu
yang tak mengenal
awal dan akhir
pada bibir fajar
kesepianku tergugup mengeja alif
yang senantiasa berdiri
menegakkan wirid di lidah, jantung,
kalbu, tangan, kaki semesta
setia menempuh rahasia kalam
mengatasi musim musim
yang gawal membaca
hakikat dan tanda
Jakarta, 2014
55
Sajak Sajak Sunyi
Perindu Malam
1/
sebagai lelaki, ia tertakdir untuk tegak berdiri
berkhidmat pada alif yang tabah
paling depan membabat hutan
dan gerumbul yang membebat pandangan
lalu menjelmakan taman
2/
dengan merunut sabda dikara
ia bersetia menekuni rintisan pijar
melompati segala duri desahan
yang kerap menggeliat mencuat
julurkan lidah ratap
di sela tubuh kesepian
kerinduannya pada kekasih
telah mendaraskan ayat kemabukan
di malam yang kuntum madrasah
memucuk tebing keyakinan
yang rekahkan wewangian firdaus
ke seluruh penjuru tafsir
3/
di kelopak sepi
ia ketuk pintu muhasabah
jalan setapak memasuki tubuhnya
menjenguk timbunan jejak dan peristiwa
untuk mengenal siapa dirinya
dan setelah hembusan napas fajar
ia hirup aroma mawar melati
56
Budhi Setyawan
menjadi perambah semesta alif lam mim
lelatu rahasia langit malam
yang berpendar di sekujur usia
Jakarta, 2014
57
Sajak Sajak Sunyi
Malam Kering
malam kering
tandus dan retak retak
karena kerap kita sembunyikan
tetes tetes rindu tahajud
di lubuk kantuk
meski jemari tahajud
mengulurkan jamahnya ke pelupuk
namun terlampau sering
perisai mimpi menepisnya
dan lalu tersisa
potret dada yang ternganga
waktu merintih, terluka
Bekasi, 2014
58
Budhi Setyawan
Kamar Malam
kumasuki sebuah kamar yang dalam dan dingin
ada pijar lentik penerang, membuihkan bayang
dan kembali bertunas pertanyaan dari lubuk diam
hasrat menawarkan letih, usai seharian berburu
memintas rezeki di antara kelindan kecemasan
ke dalam selarik doa, tubuh pasrah kusodorkan
hanya igau dan dengkurku saja masih mengemuka
di atas tangan mimpi yang meraba raba
ke mana muara segala rahasia di kelam usia
Bekasi, 2014
59
Sajak Sajak Sunyi
Rumah Malam
kususun batu bata rakaat
di malam jauh sepi
kepiatuan menikam diri
angin meniupkan sepoi elegi
membawa kerlip silam risalah
tempat berlindung dari gelisah
belum jua sanggup meninggi
dinding berkelok dalam gamang
merupa rumah setengah jadi
Bekasi, 2014
60
Budhi Setyawan
Malam Menggigil Cemas
sepi makin mengerutkan ruang
dan lingkup suasana nyaris lengang
hiruk pikuk kata telah berada di ilusi seberang
pun gerak gerak hari esok tinggal bayang
telah terbang menjauh burung malam
menyisakan ruam waswas di detak jam
lalu terbit suara kepak lirih dan berat
apakah getaran sayap izrail yang hendak mendekat
memucat warna langit di pucuk diam
sesiapa pun akan gegas lunaskan seribu niatan
menegak bulu kuduk, dan tubuh terpuruk diburu
cuaca rembang kelabu, dingin menikam kelu
Bekasi, 2014
61
Sajak Sajak Sunyi
Iman
serupa laut yang pasang dan surut
dengan deburnya membersitkan haru
perasaan pun membukit dan melembah
di antara gemuruh tafsir cuaca
angin dunia rajin mengirim ucapan
seperti belai kekasih lekapkan hangat
memerangkap napas hari hari
ke dalam pagut degup yang lena
di sepanjang pantai usia
tuhan
terlupa dalam suka
tersebut dalam duka
Purworejo, 2014
62
Budhi Setyawan
Pada Akhir Ramadan
pada akhir ramadan
kita akan sedemikian kesepian menempuh riuh
hanya ruh kita yang mengenang ketika
lapar dahaga yang cahaya
lemas yang menyengatkan daya
pada akhir ramadan
kita seperti akan kehilangan kekasih
yang pergi menempuh senyap petualangan
dan tahun depan kembali datang lebih dewasa
sedangkan kita belum beranjak
dari ruas kusam alif ba ta
Jakarta, 2014
63
Sajak Sajak Sunyi
Gunung Waktu
aku lambaikan dambaku
pada haru hijau yang mengalir
yang menyimpan lirih lagu
dengan partitur desir
dari puncak gunung waktu
di kejauhan tatapan tafsir
kepadamu kukisahkan
segala raungku yang diabaikan zaman
di gunung beku, di jalan berbatu
dalam balutan kabut cuaca batin
dan butiran ingin yang angin
kulangsungkan pendakian
di jalur sungsang angan
lewati tebing demi tebing
yang meruncing
yang mengintip kegawalan doa
di gua napas yang gigil
oleh kesepian sukma rasa
yang terus memanggil
musim sansai ketika sampai
di telaga, aku serupa jelaga
di kawah, aku telanjang pasrah
kudedahkan segala rahasia
tentang retak dada
oleh tikam kemarau
dan zikir yang parau
o, keagungan biru rindu
tenggelamkan aku
64
Budhi Setyawan
tenggelamkan aku
dalam sunyi kudusmu
Bekasi, 2014
65
Sajak Sajak Sunyi
Pada Jam Tiga Dini Hari
pada jam tiga dini hari
kutatap langit dilekap mega nyeri
dalam redup cahaya
dan cuaca diam sesepi dada
aku bertanya pada sepoi angin
tentang rinai doa yang membasahi ingin
seperti kata tersapih dari bahasa
mencari jawaban di lapis senyap rahasia
hari menjadi kian samar dan silam
pagi pun berangkat menyisakan raut suram
segala yang tak terucap perlahan menjelma derai
dan waktu menyerpih dalam buih yang terlerai
Jakarta, 2014
66
Budhi Setyawan
Sungai Malam Hari
ada percik tafsir yang mengalirkan panas
menerpa dinding kamar mengunggah cemas
tidurmu dengan lumuran gelebah gelisah
di hampar malam yang mengawetkan kesah
terpisah dari kata yang menyusun percakapan ramai
tersapih dari tawa masa kanak yang rinaikan derai
beruntun terbit gumam yang mencari pelegaan
seperti guntur yang tak juga memetik sahutan hujan
tanganmu meraih bayang di tingkap ingin
namun yang kaudapat cuma rabaan angin
di luar masih terang dan jalanan dalam riang deru
dalam kepalamu bersemayam kelam sepi yang batu
hanya sosok doa yang sanggup terus berjalan
tak letih terus mengetuk pada pintu keajaiban
pangkal matamu terus mencipta sungai
keperihan meluap pada malam yang sansai
Jakarta, 2014
67
Sajak Sajak Sunyi
Setelah Itu
ada arus yang keras dan menderas
menembusi ruas ruas waktu
hingga semua napas menjadi deru
bayang kegembiraan bangkit berdiri
lalu menyanyi dan menari
mengisi derap di pembuluh hari
namun keriap gerak hanya sesaat lewat
setelah itu sunyi
setelah itu sunyi
Jakarta, 2014
68
Budhi Setyawan
Penakwil Aura
gugus tahun kirimkan perangai musim
teduh rindu melindung seperti rahim
cuaca membersitkan kelindan warna
tubrukan angin berebut bahana
bulan dan bintang di dada malam
menjadi penerang mengeja kalam
terbit getar bumi dan getar langit
ruh menghuni takdir yang wingit
gelombang angan mencipta nyala
serupa nebula di puncak kepala
percakapan sepi suar terucap
pandang batin tunjam mendekap
tersarikan dalam almanak tafsir
tirakat sunyi tak pernah berakhir
Bekasi, 2015
69
Sajak Sajak Sunyi
Desir Keabadian
munajatku adalah segenggam sapa perkenalan
yang kukirimkan kepada wajah langit
sembari menakar arah percakapan getar
pada wajah musim yang kerap berhijab
pengembaraanku adalah mendaras mimpi
dari sepi ke sepi dan segala perulangannya
meraba putaran suar hasrat semesta
yang disemburatkan kepak rasi bintang
napasku adalah menarik dan hembuskan nama
yang bersemayam di jantung keberadaan
ketika ingatan mengirimkan silir rindu
untuk bertahan pada ragam kunjungan tafsir
Bekasi, 2015
70
Budhi Setyawan
Seperti Sujud Terakhir
alam memanjat ketinggian, membubung menuju tujuh
martabat langit, mengisahkan perjalanan ruh untuk
mengenali diri. rumpun angan, perdu sangka, dan
geragih peristiwa ikut terangkat, berputar putar di
sekitarku, terus naik menuju awang awang hampar sepi
tak berpenghuni. entah gelap atau terang yang terbawa,
namun getarnya mengirimkan haru ke jantungku.
detakku tak henti menakwil aura, lakon yang dibawa
oleh ribuan kerjapan cuaca.
maka kubenamkan sujudku, kutenggelamkan diri pada
lubuk diam paling sunyi. inikah akhir dari pengembaraan
angan menurutkan jalan ingin. sementara angin makin
mendekati sarangnya, sebagai pintu membebaskan doa
dari tindihan harap dan bayang kenikmatan. juga
melepaskan rasa dari dekap rencana rencana. karena
sebagai penempuh takdir sampai batas akhir, tak
semestinya berderap meminta, tetapi cuma bisa tekun
menerima. pada segala yang tiba, kerlip tunaskan daya.
lalu keheningan tajam memintas kalbu, terbit gigil
terbayang tebasan waktu.
Bekasi, 2015
71
Sajak Sajak Sunyi
Dalam Pejaman Mataku
saat malam menutup pintu hari
aku tiriskan lelah pada mulut sepi
kukatupkan kedua daun kelopak
meliburkan rekaman warna sejenak
dalam pejaman mata kunyalakan pandang
yang tak teraba oleh retina nyalang
kulihat wajahmu memenuhi segala penjuru
mengirimkan rinai basah butiran haru
selama ini edaran lingkar sengkarut tatap
hanya melahirkan riuh koloni ratap
kaki berlari mengejar jentera musim
menguar suara silam kedalaman rahim
isyarat melepas debu makin menebal
kembali pada kalimat di alam misal
sebelum matahari leleh dan mencair
merasuk ke dalam pejaman mata terakhir
Bekasi, 2016
72
Budhi Setyawan
Sembilan Kali Menyebutmu
sembilan kali menyebutmu
adalah menggesekkan seutas sembilu
menyayat nadi sejarah yang kucurkan darah rindu
setiap kata adalah pencarian
kepada makna keberadaan dan kehadiran
di setiap jeda gerak pengucapan
akan selalu tumbuh nadi baru
sebagai jalan pengakuan detak deru
mengekalkan ruang dan waktu di lingkar haru
Bekasi, 2016
73
Sajak Sajak Sunyi
Di Jalan Puasa
kita adalah penempuh
mencari musim teduh
dengan melewati kemarau api
yang menyimpan ayat diri sepi
terbayang sepoi lembah biru
dengan sungai berarus susu dan madu
kita adalah perindu
yang menunggu temu
dengan berjalan melintasi padang gurun
menuju rimbun kebun
anggur di seberang hampar pasir
yang tawarkan basah dan desir
saat senja mengetuk pintu malam
sebuah puisi putih dalam ruh tertanam
Bekasi, 2016
74
Budhi Setyawan
Waktu Rindu
begitulah rindu, tak pernah letih untuk terus mengasuh waktu.
kau dan aku adalah sepasang sepi yang terus mencari tapak
tapak detak untuk mengudarakan nyanyi. musim musim puasa
akan terus menyambangi bentang usia, kau dan aku tak
sepenuhnya memiliki kuasa. pada setiap lakon dan peristiwa,
hanya mengikuti jalan yang telah ditunjukkan cahaya pada
kerlip awal mula.
aku dan kau adalah sepasang haru yang tak bisa diam pada
ranah ingatan bisu. bersusulan bayang dan imaji di laju darah
seperti menguji derap pada arah surga yang masih terhijab.
kemarau seperti tali yang teregang panjang, menghamburkan
terik ke liang pori pori hari. menerjemahkan dahaga sebagai
labirin yang mesti ditempuh dengan selidi keyakinan yang
bara.
kita adalah pencari keabadian di hampar kefanaan, yang kerap
kita rayakan dengan perulangan takzim bumi kepada langit.
tak pernah terurai sulur kegaiban yang merimbun di ruas
penantian begitu wingit. kita berkiblat pada cinta, muara
seluruh geliat arus sembahyang dan doa doa, namun tak
pernah tahu bilakah ayat ayat sunyi menjelma makna.
begitulah rindu, tak pernah letih untuk terus mengasuh waktu.
Bekasi, 2016
75
Sajak Sajak Sunyi
Risalah Sepi
senja menitiskan gerimis
kepada bibir yang menadah hujan
bersama wirid wirid kesunyian
Bekasi, 2016
76
Budhi Setyawan
Nubuat Pencarian
sejauh jalan pencarianku
adalah kembali pada pelukmu
Jakarta, 2016
77
Sajak Sajak Sunyi
Berbuka Puasa
saat tiba berbuka atas setiap puasaku
kuminum leleh madu dari bibirmu
Jakarta, 2016
78
Budhi Setyawan
Menuju Sebuah Alamat
sebuah nama alamat lahir dari rahim sepi. memburu
seperti sekawanan lebah terbang, menaburkan bayang
dan menebarkan ngiang. gemanya memanggil rindu
untuk bangkit, dan menawarkan pencarian sendiri, ke
dalam pusaran gua tersembunyi.
ricik air di kali kecil, kersik daun daun didesak tangan
angin, menjadi bagian dari lanskap penempuhan.
remang memayung, matahari masih tersekap oleh
mendung. ruang menjadi serupa rimba yang menyimpan
rekat rahasia, dan mengarsir gamang tafsir di bukit dada.
adalah penyebutan nama berkali, seperti kerja sunyi
membuat jembatan untuk mendekatkan pada wajah
yang menjanjikan peluk dan ciuman. meluruhkan
mendung menjadi hujan, memadamkan tafsir keraguan.
lalu menjelma alamat yang menawarkan kemabukan,
secawan demi secawan.
Jakarta, 2016
79
Sajak Sajak Sunyi
Lebaran (1)
kumandang takbir menguar dari sepi dada
yang telah melewati pintu kemarau
berduyun duyun naik ke langit
lapar dahaga kemarin menyusun mendung
di ketinggian semesta
lalu sepoi mengalir angin dari wirid
menurunkan deras hujan mawar ke bumi
tak ada yang berlari untuk bernaung
karena hujan membukakan sekat ruang
meluaskan jalan bagi takzim pengucapan
kembali ke masa kecil yang menyimpan terang
mengeja aksara hijau di lembar turutan
mengusapi dada dengan harakat bunyi
meraba jeda ke dalam tirakat sunyi
namun kedatangan hari begitu gegas
sementara ada yang masih tergagap dalam napas
percakapan pun belumlah berasa dekat
tiba tiba ia begitu terburu melesat
tinggal diri berjelaga berdiri mematung
membiarkan air mata menjadi pejalan
menyinggahi ruas ruas usia di tingkap angan
Jakarta, 2016
80
Budhi Setyawan
Lebaran (2)
berbekal rasa sesal yang telah kumal
kuberburu maaf di celah celah pintu
pertemuan yang belum sampai pada percakapan
karena masih terjuntai bayang bayang
silam yang menggelar jarak
kisah bertaut ujub
waktu membatu dalam dingin
ditumbuhi lumut yang melebat
sendiri dan seperti melupa
pada ayat ayat yang mendekatkan
wajah langit dan bumi
hingga mengakrabkan pada sebuah nama
mengekal cahaya
memenuhi detak semesta
kusiapkan satu kata
yang memuat rintih, juga merangkum ingatan perih
keusangan bagi riwayat kediaman
dan rindu telah meluap
untuk bertukar kabar
dengan uluran tangan yang putih
membuka pintu
kepada catatan yang membasuh
lembar lembar musim di arah depan
Jakarta, 2016
81
Sajak Sajak Sunyi
Rakit Usia
dan setiap bilah rasa sakit kurangkai menjadi rakit
untuk menyusur riwayat ke hulu sungai air mata
mencari pijar kelahiran pertama
Bekasi, 2016
82
Budhi Setyawan
Membaca Usia
usiaku ingin menuju perbukitan di balik kata yang telah
menumpuk dan menebal di hampar keseharian. ia bilang
ingin berjarak dari hiruk kesibukan yang telah begitu pekat
dan rapat menyalin gegas mimpi hingga ruang kehilangan
sepi dan tak sanggup menangkap ratap. jalanan penuh
dengan gemuruh, dengan para pejalan berlarian
mengunduh keasingan yang makin asin bagi tubuh.
sementara ada suara hadir lamat lamat dari kejauhan lalu
mendekat, hingga terdengar begitu keras, seperti membawa
ngiang ledakan, mengetuk pintu kesendirian berulang
pesan, tak pernah jemu berkata: bacalah, bacalah.
ngiang itu demikian tajam, menyusup ke liang pori,
mengalir dalam darah, menuju jantung, mengelus otak,
mengusap hati, meraba nyawa, menyentuh ruh. ia terus saja
berjalan menghampiri ceruk ceruk di tubuhku yang senyap,
seperti hendak menjejakkan hening gua hira yang teguh
berjaga dan tak pernah terlelap. ada getar getar langit yang
meneteskan desir cinta pertama dan menjadi selamanya.
terlintas bayangan gunung batu dengan pintu gua yang
dilekapi sarang laba laba, memuat kedalaman semesta dan
merawat keabadian cahaya.
air mataku melukis kesiaan usia yang tak usai bercanda
pada gelimang kefanaan, semacam perulangan permainan
yang hanya mencatatkan kerugian dalam batin perniagaan.
ia meluruhkan gerimis melewati ruas tahun dan batas
musim, seperti menjadi penyaksi bagi kecemasanku yang
kian dekat dilimbur ribuan getun bermukim. ngiang suara
itu kembali datang dengan rangkuman jentera waktu, kisah
kisah amanah rindu, dan bisa jadi memercikkan awal haru.
83
Sajak Sajak Sunyi
suaranya makin menggelegar, mendesakku agar menyebut,
sebelum maut merebut, maka: bacalah, bacalah.
Jakarta, 2016
84
Waktu yang Bergetar Budhi Setyawan
85
tiba tiba
ada yang masuk ke dalam nadi
tanpa permisi
menyusupkan kecamuk
membangunkan bulu kuduk
yang tengah tertidur
dan mengulur dengkur
gelaran getar
barangkali pengantar sebuah kabar
dari balik diam dan abai
pada tahun tahun yang telah terlerai
kata menjadi gagu
ucap menjadi kelu
ruang ruang menjelma bibir bisu
siang menjadi sengkarut pedih
malam menjelma kelindan perih
kubang memusar repih
lalu bermunculan getun
berhimpun hingga rimbun
di dalam kepala berayun
mungkin saja guncangan guncangan
adalah sehimpunan ketuk pertanyaan
mengapa kerap terlupa
manusia menyusur utas usia
hingga terbenam dan sia sia
Jakarta, 2016
Sajak Sajak Sunyi
86
Budhi Setyawan
RIWAYAT PENYAIR
Budhi Setyawan, atau yang akrab
dipanggil Buset ini kelahiran 9 Agustus
1969. Penyair asal Purworejo, Jawa
Tengah, yang merantau ke Jakarta
bekerja sebagai pegawai negeri. Pernah
menjadi drummer sebuah band di
Jakarta dan Balikpapan. Bekerja sebagai
pegawai negeri di Kementerian
Keuangan di Jakarta. Ikut menggagas
dan berkegiatan di komunitas
Paguyuban Sastra Rabu Malam (Pasar Malam), dengan kegiatan
bulanan Sastra Reboan di Bulungan, Jakarta Selatan, dan
menggagas serta mengelola komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB)
yang menerbitkan Buletin Jejak. Bersama istri dan keempat
anaknya tinggal di Bekasi, Jawa Barat.
Beberapa tulisannya pernah dimuat media massa Bali Post,
Indopos, Media Indonesia, Suara Merdeka, Republika, Jurnal
Nasional, Sinar Harapan, Seputar Indonesia, Waspada, Tribun
Kaltim, Minggu Pagi, Mimbar Umum, Suara Karya, Majalah
Horison, GONG, STORY, KORT, Buletin Jejak, Littera, Replika, Jurnal
Sastra Santarang, Jurnal Sarbi, Jurnal Puisi Amper,
sastradigital.com, kompas.com, poetikaonline.com,
horisononline.com, rumahdunia.com, penulismuda.com,
kabarbekasi.com, dan lain-lain.
Puisi dalam Bahasa Jawa (geguritan) pernah dimuat di
majalah Damarjati, Panjebar Semangat, Jayabaya.
Puisi-puisinya ada dalam antologi bersama: Kemayaan dan
Kenyataan (Fordisastra, 2007), Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009),
Kakilangit Kesumba (Purworejo, 2009), Resonansi (Purworejo,
2010), Pukau Kampung Semaka (2010), Akulah Musi (2011),
Sekumpulan Sajak Matajaman (bersama Jumari Hs dan Sosiawan
87
Sajak Sajak Sunyi
Leak, 2011), Antologi Puisi dan Cerpen Ibukota Keberaksaraan
(2011), Beternak Penyair (2011), Karena Aku Tak Lahir Dari Batu
(2011), Narasi Tembuni (2012), Meretas Karya Anak Bangsa
(2012), Antologi Puisi Satu Kata Istimewa (2012), Sauk Seloko
(2012), Sendaren Bagelen (2013), Antologi Apresiasi Sastra
Indonesia Modern (penyusun: Korrie Layun Rampan, Penerbit
NARASI, Yogyakarta, 2013), Tifa Nusantara (2013), Kepada Bekasi
(2013), Tengara Getar Lengkara (2014), Negeri Langit (2014),
Bersepeda ke Bulan (2014), Puisi Menetas di Kaki Monas (2014),
Saksi Bekasi (2015), Sajak Puncak (2015), Tifa Nusantara 2
(2015), Nun (2015), Negeri Laut (2015), Pelabuhan Merah (2015),
Memandang Bekasi (2015), Dari Gentar Menjadi Tegar (2015),
Gelombang Puisi Maritim (2016), Seratus Puisi Qurani 2016
(2016), Ije Jela (2016), Negeri Awan (2016), Yang Tampil Beda
Setelah Chairil (2016), Matahari Cinta Samudera Kata (2016), dan
lain-lain.
Beberapa puisinya mendapatkan penilaian: satu puisinya
masuk dalam 10 besar Lomba Cipta Puisi Nasional ‘Batu Bedil
Award’ – Festival Teluk Semaka tahun 2010 yang diadakan oleh
Pemerintah Kabupaten Tanggamus, Prov. Lampung; meraih Juara
Harapan 1 dalam Lomba Puisi yang diadakan Komunitas Rumah
Sungai di Lombok, Nusa Tenggara Barat tahun 2012; meraih Juara
1 Lomba Menulis Puisi Kreasi Akbar Forum Lingkar Pena (FLP)
Bandungtahun 2012, meraih Juara 1 dalam lomba penulisan puisi
Dewan Kesenian Balikpapan tahun 2013, dan masuk nominasi
Anugerah Sastra Litera 2017.
Beberapa kali diundang ke acara Temu Sastrawan Indonesia
(TSI), Pertemuan Penyair Nusantara (PPN), Temu Karya
Sastrawan Nusantara (TKSN) Tifa Nusantara, Temu Sastrawan
Mitra Praja Utama (TS MPU), Silaturrahim Sastrawan Indonesia di
Rumah Puisi Taufiq Ismail, dan lain-lain.
Buku antologi puisi tunggal sebelumnya: Kepak Sayap Jiwa
(2006), Penyadaran (2006), Sukma Silam (2007).
88
Budhi Setyawan
Alamat blog pribadinya di:
dan alamat email:
www.budhisetyawan.wordpress.com
[email protected].
89