Gerak Kebangkitan
Penerbit Alternatif
Yogyakarta
KSAUSTMRABAKARNA RENDAJHANJAYKAPEMNDINAPAATT
Oleh : Sudjiwo Tejo BACA MAHASISWA KOTA
YOGYAKARTA
46
16
www.balairungpress.com
SELAMAT DATANG
MAHASISWA BIASA
DI KAMPUS YANG
BIASA–BIASA SAJA
Pembina Deru langkah kaki terdengar begitu keras
Prof. Dr. Ir. Edhi Martono, M. Sc. dari ribuan penghuni baru Kampus Biru.
Pemimpin Umum Senyum bahagia menghiasi wajah mereka,
Muhammad Faisal Nur Ikhsan lengkap dengan setelan almamater berwarna
Koordinator Balkon Spesial karung goni yang katanya melambangkan perjuangan dan
Muhammad Unies Ananda Raja kerakyatan. Predikat baru sebagai mahasiswa pun mereka
Tim Kreatif dapatkan sebagai identitas. Sebagai kalangan elit, mereka
Luthfian Haekal, Marchyella Satyavita, Nila Minata, Revina kini memasuki lingkungan baru dan dianggap mapan
Meika Najmah karena bisa mengenyam bangku kuliah. Akan tetapi,
Pemimpin Redaksi lingkungan baru tersebut bukanlah tempat bersenang-
Dimas Syibli Muhammad Haikal senang, melainkan “medan” pertempuran baru.
Editor
Abdul Hakam Najah, Ardianto, Devananta R Rafiq, Dewi Pierre Bourdieu menyebut “medan” untuk menunjuk
Wijayanti, Fazrin Khaerul Saleh, Ni Luh Putu Juli Wirawati, watak dasar keruangan sebagai ajang tempur, tanah
Sitti Rahmania perang. Sulitnya laga di medan pertempuran menjadikan
Penulis mahasiswa mulai tumbang satu persatu. Mereka yang
Ahmad Thovan Sugandi, Amalia Nurul Ifa, Bernard Evan, digadang-gadang sebagai agent of changes memilih jalan
Fadilla Pramesti, Faizah Nurul Fatria, Farhan Isnaen, aman dan fokus pada ranah akademik dengan alasan
Fitria Nugrah Madani, Khumairah, Krisanti Arni Dinda, deadlock lima tahun. Ahirnya, isu-isu kampus tak tersentuh
Nizmi Rizka Utami, Nurrohman, Puri Dian Savitri, Respati dan mahasiswa mengalami kegagapan ketika menghadapi
Harun, Rosalina Woro Subektie, Sanya Dinda, Sultan sebuah permasalahan. Alhasil, organisasi mahasiswa mulai
Abdurrahman, Yuni Afitasari ditinggalkan, kalaupun ada ruang untuk berdialektika sukar
Kepala Riset diciptakan.
Bagus Zidni Ilman Nafi
Editor Untuk mengisi kekosongan tersebut, Badan
Dita Permata Aditya, Endang Darmawan, Risma Nur Majida, Penerbitan Pers Mahasiswa Balairung (BPPM Balairung)
Syahirul Alim Ritonga mempersembahkan Balkon Spesial Mahasiswa Baru.
Penulis Produk ini, ditujukan untuk memantik pemikiran
Arif Budi Darmawan, Dwiki Rama Y, Kenny Setya Abdel, mahasiswa yang diklaim sebagai intelektual muda.
Matheus Lumban Raja, Nur Fajriati Nadlifa, Nurul Anisa,
Wimpi Nabila F.Z BPPM Balairung yang terdiri dari empat divisi;
Pemimpin Perusahaan Divisi Redaksi, Divisi Riset, Divisi Perusahaan serta
Salma Dwi Nugrahaeni Divisi Produksi dan Artistik (PDA) saling bekerja sama
Staff Perusahaan untuk menyelesaikan produk ini. Bursa tema menjadi
Ahmad Luthfi Habibullah, Arini Kuntasih, Luthfi Mukhlis, awal rangkain proses pengerjaan, dilanjutkan pra-reportase
Ovi Hanifah tema, dan eksekusi tema untuk mematangkan tema yang
Kepala Produksi dan Artistik kami pilih. Berbeda dengan Balkon reguler yang hanya
Halvin Octriadi Utama berkutat dengan isu kampus, kali ini kami melebarkan
Redaktur Artistik sayap dengan mengangkat isu seputar Yogyakarta. Tahun
Aliftya Amarilisya, Althof Husain, Avivah Vega Meidienna, lalu “Interaksi mahasiswa dengan lingkungan kos” menjadi
Dwiki Aprinaldi, Edelweis Ngelow, Hamzah Ibnu Dedi, tema yang kami pilih. Kali ini kami hadir dengan tema
Igor Aviezena Eris, Nur Rahma Rizka P.A, Prima Hidayah, “Dunia perbukuan” di kota pelajar. Terpilihnya tema ini
Salsabila Syani, Tazkiyatun Nafs Azzahra dilandasi dari skeptisitas kami akan idealisme penerbit
Fotografer alternatif, indie, ataupun penerbit mayor. Selain itu, tema
Dwiyana Lingga, Kurnia Putri Utomo, Yuni Kartika Sari ini diangkat karena intelektual muda tak bisa lepas dari
Ilustrator buku untuk mengasah otak.
Celli, Chandra Hadi, Putu Tiara Lipcasani
Layouter Setelah tema terpilih, masing-masing divisi langsung
M Ghifari Irfansyah, Putri Tanjungsari, Rama Shidqi Pratama, bergerak mengerjakan pekerjaannya masing-masing.
Restu Ade Kurniawan, Wachid Siti Fatimah Divisi Redaksi berjuangan mencari narasumber yang akan
Cover Ilustrasi dan Konsep dituangkan dalam tulisan. Divisi Riset dengan pengolahan
Marchyella Satyavita data, Divisi PDA dalam pengilustrasian tulisan dan
Alamat Redaksi, Sirkulasi, Iklan dan Promosi : fotografi. Serta, Divisi Perusahaan yang berusaha tetap
Bulaksumur B-21 Yogyakarta 55281 mengepulkan dapur BPPM Balairung agar target cetak
Website : www.balairungpress.com terpenuhi.
Email : [email protected]
Produk yang tengah anda pegang ini, bukanlah tradisi
penyambutan ala kadarnya. Akan tetapi, sebagai lembaga
yang menghidupi nafas intelektualitas, kami mencoba
memantik nalar kritis mahasiswa terhadap sebuah isu.
Mengatasi sebuah isu, yang dibutuhkan bukanlah sekedar
aksi fisik tanpa solusi, akan tetapi setumpuk buku untuk
menganalisis permasalahan dan mengatasinya. Mengutip
Slavoj Žižek, berpikirlah !!
Akhirnya, selamat datang mahasiswa biasa di kampus
yang biasa-biasa saja!
DAFTAR
.........................ISI
10 ISU 6
32 Buku dan Harkat Intelektual 8
34 10
LAPUT 1 12
38 Terbit dan Tenggelamnya Penerbit Alternatif Yogya 14
16
LAPUT 2 20
Gerak Kebangkitan Penerbit Alternatif Yogyakarta 22
24
LAPUT 3 27
Pasar E-book Sepi, Langkah Penerbit Setengah Hati 32
34
SISI LAIN 36
Menghidupi Wacana, Menanggalkan Royalti 38
40
JAJAK PENDAPAT 42
Rendahnya Minat Baca Mahasiswa Yogyakarta 44
46
KOLOM PAKAR 48
Gemuruh Terkini Penerbit Alternatif di Yogyakarta 50
52
OPINI 54
Dekonstruksi Makna Mahasiswa
APRESIASI
Kala Keteguhan Mengekspresikan Ciri Berkarya
POTRET
Taman Bacaan: Bertahan dalam Ketersisihan
SOSOK
Seni Meracik Desa Ala Sarjana Farmasi
REHAL
Dinamika Kelas Menengah dalam Sejarah Indonesia
EUREKA
Himpunan Mahasiswa Gay dalam Studi Etnografi
NALAR
Teknologi Lawan Kutukan Tak Bisa Bergerak
TTS
KOMUNITAS
Menyebar Semangat Perdamaian Melalui Komunitas
ALMAMATER
Tata Kelola Penerbitan Buruk, UGM Press Tuai Kritik
SASTRA
Kumbakarna
INTERUPSI
Jejak Dialektis Industri Buku Yogyakarta
DAPUR
Jurnalisme Tanpa Koma
KOMIK & SI IYIK
GORES
ISU
Ilustrasi: Halvin/BALAIRUNG Buku
dan
Harkat
Intelektual
Waktu itu, menghancurkan 257 perpustakaan kehidupan saat ini. Toh, sedari dulu
19 Agustus rakyat.1 Kebiadaban itu dicatat dengan penghancuran buku dilakukan sebagai
1992, tentara apik oleh Fernando Páez. Ia menguak pengukuhan kekuasaan. Kebiadaban
nasional Serbia satu demi satu penghancuran buku Radovan Karadžic dan Ratko Mladić
mengepung zaman Yunani Kuno sampai saat menjadi bukti bahwa bibliokas adalah
Sarajova, ibu kota Bosnia-Herzegovina ini. Sekaligus ia memberi catatan: cendekiawan yang mempunyai kuasa
dari atas bukit. Senjata artileri segera para pelaku yang menghancurkan dan bersifat otoriter yang hanya
ditembakan atas perintah pemipin buku tersebut bukanlah manusia dari membenarkan apa yang ia yakini.
mereka; Ratko Mladić. Sasaran golongan kerdil dan tidak terdidik. Buku sebagai warisan kebudayaan
yang dituju bukanlah barak tentara Akan tetapi penghancur buku yang yang menyimpan berbagai gagasan
lawan ataupun pusat pemerintahan. terbesar di dalam sejarah adalah kaum yang dianggap menyimpang lantas
Melainkan perpustakaan nasional Bibliokas. Kaum ini adalah orang- dihanguskan.
Bosnia-Herzegovina. Kobaran api orang yang berpendidikan, berbudaya,
berbahan bakar kitab-kitab, dan perfeksionis, dengan bakat intelektual Penghancuran buku juga terjadi
manuskrip-manuskrip menghiasi yang tak biasa dan cenderung depresif, di Indonesia. Selepas tragedi G30S,
langit Sarajova kala itu. Hasilnya, tidak mampu menolerir kritik, egois, pada zaman Orde Baru, diresmikanlah
1,4 juta buku hangus terbakar. mitomania, dan cenderung berada TAP MPR XXV/1966. Isi dari TAP
Dr. Radovan Karadžic kolega dalam lembaga yang mewakili kekuatan tersebut adalah himbauan pelarangan
Ratko Mladić, seorang psikiater— yang sedang berkuasa, karismatik, dan penyebaran ajaran komunisme/
cum—sastrawan “membenarkan” dengan fanatisme berlebihan pada marxime/leninisme. Peraturan ini
penghancuran warisan budaya yang agama dan paham tertentu. Kebiadaban lantas digunakan sebagai senjata bagi
tak tergantikan itu. Sebagai seorang kaum bibliokas dijelaskan dengan pemerintah untuk melarang terbit
intelektual, Karadžic sangat mafhum rinci oleh Páez di dalam bukuya yang dan beredarnya buku yang dicap
bahwa penghancuran buku adalah bertajuk “Penghancuran Buku dari berbau komunis. Saat itu, pemerintah
bentuk lain dari penghapusan ingatan Masa ke Masa”.2 menjelma menjadi Bibliokas.
yang berdampak kepada pemutusan Penerbitan yang masih nekat
sejarah. Kenangan akan tradisi Bisa saja, “Penghancuran Buku” menerbitkan buku terlarang dibredel.
masyarakat beserta gagasan para hanyalah salah satu kisah di dalam Bagi para pembaca, jika ketahuan
tokoh intelektual Bosnia-Herzegovina sejarah. Akan tetapi, realitas sejarah mengkonsumsi buku tersebut akan
musnah ditelan api. mempunyai relevansi positif yang bisa dikenai delik dan dipenjarakan.
kita manfaatkan saat ini. Sebagai tata Namun, di zaman Orde Baru, bukan
Selain itu, di tahun 1936-1939, buku masa lalu, sejarah masih sangat hanya manusia yang dipenjarakan,
penguasa fasis Spanyol, Jendral Franco penting untuk menentukan alur buku pun ikut dipenjarakan.
6 balkon
Edisi Spesial 2016
ISU
Beberapa buku terlarang demi dalam pembukaan, Romo Magnis kawula lan Gusti.” Mereka harus
kepentingan akademis disimpan mengungkapkan kebahagiaan atas bersatu dan menyelami buku yang
rapi di Perpustakaan Nasional, terbitanya Das Kapital. Ia berucap, mengandung gagasan dari berbagai
Jakarta. Bagi para akademisi atau “Terbitnya Das Kapital dalam bahasa macam isme dan ideologi. Karena ciri
peneliti yang ingin mengakses Indonesia berarti normalisasi dan intelektual adalah bersifat objektif.
buku tersebut diperbolehkan. Akan pemulihan kembali harkat intelektual
tetapi, untuk mengakses buku di Indonesia.” Zaman yang terus bergerak
tersebut harus memenuhi beberapa menjadi tantangan tersendiri bagi
syarat, di antaranya meminta izin Terbitnya Das Kapital menjadi mahasiswa. Laku penghancuran buku
dan mendapakan izin dari: Kepala tonggak awal bagi terbitnya puluhan di zaman modern semakin canggih
Perpustakaan Nasional, Menteri bahkan ratusan buku lain yang dan mutakhir. Terlebih, kapitalisme
Pendidikan dan Kebudayaan (P dan bertemakan sosialisme. Ketakutan telah menjadikan semua hal yang
K), Kejaksaan Agung, dan Badan pemerintahan Orde Baru akan ada bernilai praktis-ekonomis.
Administrasi dan Koordinasi Intelijen bangkitnya gerakan komunisme di Vokasionalisme baru, sebuah
Negara (BAKIN)3 dan yang terpenting Indonesia akibat terbitnya buku-buku konsepsi utilitarian dari institusi-
adalah mempunyai surat bebas G30S4 kiri pun tidak terbukti. Sayang, sebelas intitusi pendidikan yang hanya
dari kelurahan yang ditandatangani tahun sejak terbitnya Das Kapital, memberhalakan keterampilan teknis.
oleh militer setempat. Setelah ketakutan serupa kembali terjadi. Sebuah tendensi yang kata Frank
memenuhi syarat tersebut barulah para Di tahun 2016, berbagai penerbit Furedi berakhir pada pengkultusan
pemohon akan diantarkan menuju yang biasanya melenggang kangkung atau pemujaan berlebihan kepada
tempat penyimpanan. Tidak seperti ketika menerbitkan buku bertemakan “budaya kedangkalan” akibat
normalnya buku yang ditata rapi di kiri dikagetkan dengan razia yang pemuliaan ekstrem pada interes-
dalam rak, akan tetapi buku terlarang dilakukan oleh aparat negara dan interes yang melulu material-praktis.6
ini disimpan di dalam ruangan yang organisasi kemasyarakatan (ormas).
berjeruji besi. Pemohon yang ingin Bibliokas yang telah mati bangkit dan Pembaca, budaya kedangkalan
membaca dipersilahkan masuk ke merasuki tentara, polisi, dan ormas. tanpa disadari telah mewabah dan
dalam ruangan tersebut, dikunci dari Gombalan lama akan bangkitnya diamini oleh kalangan intelektual
luar dan diawasi dari lubang pengintai gerakan komunis di Indonesia lagi-lagi di Indonesia. Institusi pendidikan
yang tersedia.5 menjadi alasan para Bibliokas baru sebagai tempat penggodokan
bermuka lama. intelektual pun menjadi tangan
Gambaran di atas menyiratkan panjang mewabahnya budaya
bagaimana tindakan represif dilakukan Normalisasi dan pemulihan kedangkalan. Etos manajerialisme dan
pemerintah karena ketakutan akan kembali harkat intelektual di instrumentalisme7 mulai mendominasi
gagasan komunis yang dianggap Indonesia yang diungkapkan oleh sistem pendidikan. Minimnya ruang
sesat. Ketakutan yang menjatuhkan Romo Magnis pun terancam sirna. dialektika yang mempertemukan
derajat dunia intelektual di Indonesia. Dunia intelektual di Indonesia mahasiswa dari lintas keilmuan untuk
Pemerintah zaman Orde Baru telah kembali terancam oleh campur membahas sebuah permasalahan
memenjarakan ilmu—ideologi, tangan para Bibliokas yang hanya menjadi satu contoh. Dampaknya,
paham, dan isme—yang seharusnya mementingkan kepentingan dan gairah para intelektual untuk
berkeliaran bebas untuk dikaji dan keuntungan antar golongan saja. mempelajari berbagai macam ilmu
digunakan oleh para intelektual. Korban yang sangat dirugikan dan gagasan yang termaktub di dalam
Untunglah, di tahun 1998, perjuangan adalah para mahasiswa sebagai calon buku patut kita pertanyakan. [Dimas
heroik para aktivis dan mahasiswa intelektual. Mahasiswa dan buku Syibli M. Haikal]
berhasil memunculkan Reformasi dan bukanlah dua benda asing yang saling
menggulingkan pemerintahan Orde menjauhi. Dalam konsep perpolitikan Akhirnya, selamat membaca dan
Baru. Buku-buku terlarang berhasil Jawa, mereka adalah “Manunggaling berdialektika!
keluar dari penjara. Harapan hilangnya
kaum bibliokas di negeri ini mendapat Catatan Akhir:
angin segar.
1. Perpustakaan Rakyat: perpustakaan-perpustakaan yang berada di pemukiman warga dan
Tahun 2005, Hasta Mitra basis serikat buruh. Baca Fernando Páez [ter.] Lita Soejadinata. 2013. Penghancuran
menerjemahkan dan menerbitkan Buku dari Masa ke Masa. Serpong, Tangerang Selatan: Margin Kiri.
Das Kapital ke dalam tiga jilid buku.
Peluncuran perdana karya agung 2. Fernando Páez [ter.] Lita Soejadinata. 2013. Penghancuran Buku dari Masa ke Masa.
bapak sosialisme dunia ini diiringi Serpong, Tangerang Selatan: Margin Kiri.
dengan pendedahan Das Kapital di
Perpustakaan Nasional, tempat ia 3. Sekarang berubah nama menjadi Badan Intelijen Negara [BIN]
dipenjarakan dulu. Para juru bedah 4. Surat Bebas G30S. Surat yang digunakan untuk membuktikan bahwa ia (peminta) tidak
yang didatangkan Hasta Mitra
pun berasal dari berbagai golongan terlibat dan bebas dari G30S.
intelektual, seperti; Gus Dur, Joesoef 5. Uraian lebih lanjut, baca kata pengantar novel gubahan Sobron Aidit. Buku yang
Isak, Oey Hay Djoen, Romo Magnis
Suseno, dan Hilmar Farid. Di Dipenjarakan. Bandung: Nuansa.
6. Selengkapnya, lihat Yudi Latif. 2009. Menyemai Karakter Bangsa: Budaya Kebangkitan
balkon
Berbasis Kesastraan. Jakarta: Kompas.
Edisi Spesial 2016 7. Manajerialisme dan Instrumentalisme: suatu etos yang menghargai segala hal sejauh bisa
melayani preferensi-preferensi praktis-ekonomis.
7
LAPORAN UTAMA
Foto: Yuni Kartika / Balairung
Terbit dan Tenggelamnya Penerbit Alternatif Yogya
Dinamika penerbit alternatif di Yogya merupakan hasil dari gerakan
perlawanan dan kerja kebudayaan yang sudah dilakukan sejak tahun
1983. Sayangnya, penerbitan alternatif Yogya mengalami kemunduran
sejak tahun 2005.
“Berdirinya Shalahuddin Adhe Ma’aruf, pimpinan Baru (Orba). Ia mencotohkan, ketika
Pers menandai kemunculan penerbit penerbit Jendela, menjelaskan bahwa Mustofa bekerja pada lembaga pers
alternatif Yogya,” ucap Buldanul Khuri. wajah perbukuan di Yogya kala itu Harian Masa Kini. “Ketika kami
Menurut alumni Shalahuddin Pers turut diramaikan oleh munculnya memberitakan peristiwa penguburan
ini, organisasi Jamaah Shalahuddin penulis-penulis baru yang dikenalkan anggota PKI, beberapa tentara datang
UGM mendirikan penerbitan tersebut oleh Shalahuddin Pers. Salah satu dengan ancaman pemberedelan,” tutur
pada tahun 1983. Buku-buku yang penulis yang menerbitkan karya Mustofa.
diterbitkan oleh Shalahuddin Pers awalnya dari Shalahuddin Pers
memiliki ciri khas yang menginspirasi adalah Emha Ainun Najib, atau yang Mustofa menambahkan bahwa
kemunculan penerbit-penerbit sekarang lebih dikenal dengan sapaan penerbit kala itu harus menyesuaikan
alternatif Yogya di masa depan. Hal ini Cak Nun. Shalahuddin Pers juga konten yang diterbitkan agar
terlihat dari buku-buku Shalahuddin pernah menerbitkan karya pertama tidak ditutup secara paksa. Hal ini
Pers yang mengedukasi pembacanya Kuntowijoyo mengenai teori sejarah, dilakukan karena beberapa konten
dengan konten wacana kritis. Penerbit sebelum dirinya dikenal sebagai tertentu dilarang disebarkan pada
yang didirikan oleh Ahmad Fanani pemikir berpengaruh Indonesia. masa pemerintahan Orba. Salah satu
ini menerbitkan berbagai karya yang bentuk penyesuaian tersebut dialami
bertemakan wacana agama yang Namun, bagi Mustofa oleh Shalahuddin Pers. Penyesuaian
sebelumnya tidak pernah dilakukan Wazir Hasyim selaku alumni dari itu terjadi pada buku yang mengusung
oleh penerbit lain. “Kami pernah Shalahuddin Pers, aktivitas penerbitan tema revolusi Iran. “Tema tulisan yang
menerbitkan buku Ali Syari’ati kala itu juga menemui berbagai memuat konten Syi’ah diubah agar
dan kumpulan cerpen Muhammad hambatan. Pasalnya, hak kebebasan lebih mudah diterima oleh pemerintah
Diponegoro,” ungkap Buldanul. berpendapat saat itu dihambat oleh dan masyarakat yang mayoritas
kontrol ketat dari pemerintahan Orde beragama Islam aliran Sunni,” ujar
8 balkon
Edisi Spesial 2016
LAPORAN UTAMA
Mustofa. buku yang diterbitkan oleh penerbit terbesar dari penerbit alternatif
Represi dari pemerintahan alternatif Yogya bahkan didapat Yogya. Bagi Ahmala, salah satu hal
dari skripsi sarjana. “Saya sudah yang mempengaruhi perubahan
Orba tidak membuat para penerbit menerbitkan skripsi Eka Kurniawan ini berasal dari semakin mudahnya
alternatif berdiam diri. Perlawanan sebelum penerbit mayor menyadari akses informasi yang didapatkan
dilakukan oleh sekumpulan mahasiswa potensinya,” kata Adhe. pembaca melalui internet. Perubahan
Institut Agama Islam Nasional ini membuat mahasiswa tidak lagi
Yogyakarta (IAIN) Yogya melalui Walaupun sempat mengalami menggunakan buku cetak sebagai
Lembaga Kajian Islam dan Sosial masa kejayaan, Wawan Arif selaku sumber informasi saat mengerjakan
(LKiS). Bagi Ahmala Arifin, kepala Wakil Ketua Ikatan Penerbit makalah atau skripsi. Selain itu,
redaksi LKiS, kegiatan penerbitan Indonesia (IKAPI) Yogya mengatakan perubahan ini terjadi ketika para
kala itu merupakan sebuah gerakan bahwa penerbit alternatif Yogya pembaca mulai meninggalkan buku
perlawanan terhadap represi Orba. mengalami masa surut setelah tahun wacana kritis sebagai bentuk gerakan
Gerakan itu dilakukan dengan kajian 2005. Ia menjelaskan bahwa terdapat perlawanan akibat suasana politik
dan bedah buku yang dilakukan di tiga faktor yang mempengaruhi yang sudah berubah. “Hilangnya Orba
lingkungan kampus yang saat ini surutnya penerbit alternatif Yogya. sebagai musuh bersama membuat
bernama Universitas Islam Nasional Ketiga faktor tersebut adalah faktor mahasiswa enggan berpikir kritis
(UIN) Sunan Kalijaga. “Kami redaksi, produksi, dan distribusi. seperti saat perlawanan dilakukan
mengeluarkan buku Kiri Islam yang Wawan mengakui bahwa penerbit dulu,” jelas Ahmala.
mengkritik pemerintahan Orba alternatif Yogya tidak menguasai
lewat sudut pandang Islam,” pungkas semua faktor tersebut. “Meski Bagi Ahmala, kondisi pembaca
Ahmala. didukung oleh sistem redaksi yang yang berubah turut mempengaruhi
terorganisir dalam pemilihan karya- konten buku dari penerbit alternatif
Setelah Orba, Adhe karyanya, hal tersebut tidak didukung Yogya. Perubahan ini terlihat pada
berpendapat bahwa reformasi oleh sistem produksi dan distribusi kecenderungan pembaca untuk
mempermudah kebebasan produk yang baik,” ucap Wawan. membeli buku-buku praktis yang
berpendapat yang sebelumnya mudah dipahami ketimbang buku
direpresi. Akibatnya, berbagai penerbit Buruknya penerbit alternatif kritis. Padahal, kehadiran buku
alternatif berdiri untuk menerbitkan dalam mengelola fase produksi dan praktis hanya berguna bagi pembaca
buku-buku yang sebelumnya dilarang distribusinya juga diakui oleh Mustofa. yang memiliki orientasi pragmatis.
beredar, seperti buku yang memiliki Baginya, kedua permasalahan itu Ia mencotohkan, mahasiswa yang
konten kiri layaknya komunisme. Pada terjadi karena para penggerak penerbit mempelajari otomotif hanya membeli
tahun 1998, penerbit Media Presindo alternatif tidak memiliki pengalaman buku otomotif saja, sehingga pembaca
muncul, lalu setahun kemudian, di bidang manajemen. Kurangnya tidak mengalami perkembangan di
penerbit Jendela, Indonesia Perak, pengalaman itu mengakibatkan modal luar disiplin ilmunya sendiri. Melihat
dan Yayasan untuk Indonesia juga penjualan tidak kembali, sehingga perubahan ini, Ahmala menduga
turut meramaikan dunia penerbitan penerbit mengalami kerugian. Mustofa bahwa para penerbit mengubah
alternatif. Setelah tahun 1998, ada 114 juga menjelaskan bahwa permasalahan konten bukunya agar tetap laku di
penerbit alternatif didirikan ( Jurnal sistem pembayaran yang diterapkan pasaran. Ia menambahkan, perubahan
Balairung 34, 2001:72). toko buku selaku distributor ini bukanlah hal yang menguntungkan
mengakibatkan biaya distribusi penerbit serta konsumen. Pada
Ciri khas yang dimiliki buku melambung. Menurut Salman akhirnya, Ahmala berharap agar para
penerbitan alternatif Yogya bagi Faridi, pemimpin penerbit Bentang, mahasiswa tidak hanya membaca
Adhe dipengaruhi oleh latar belakang beberapa toko buku bahkan ada buku praktis saja. “Pengembangan
pelaku penerbitan itu sendiri. Menurut yang memalsukan laporan penjualan. diri pembaca melalui buku-buku
Adhe, pelaku penerbit alternatif Penerbit akhirnya mengalami kerugian kritis harus tetap dilakukan untuk
Yogya merupakan kelompok yang akibat distributor meraup keuntungan memperluas wawasan,” harap Ahmala.
mencintai buku. Sebagai pecinta berlebih. “Kami lebih sulit melakukan [Amal, Bernard, Ami]
buku, mereka menganggap penerbitan produksi lagi akibat biaya pengeluaran
sebagai sebuah kerja kebudayaan. lebih tinggi,” tambah Mustofa. 9
Bersamaan dengan kesamaan latar
belakang tersebut, penerbit alternatif Ahmala menambahkan,
di Yogya memiliki kesamaan dalam kemunduran penerbit alternatif
tema yang diangkat. Hal ini terjadi Yogya diperparah oleh faktor
akibat para penerbit alternatif Yogya pembaca buku itu sendiri. Ahmala
selektif dalam memilih karya yang menjelaskan bahwa selera pasar yang
akan diterbitkannya, agar dapat lebih beragam merubah tren buku di
mengedukasi masyarakat. Berbagai kalangan mahasiswa selaku konsumen
balkon
Edisi Spesial 2016
LAPORAN UTAMA
Gerak Kebangkitan Penerbit
Alternatif Yogyakarta
Ilustrasi: Hamzah/Balairung
Melalui metode pemasaran yang lebih beragam, penerbit
alternatif bangkit setelah sempat redup karena bergesernya
selera pasar.
Seorang pemuda berambut lama ia mencarinya, tetapi buku itu tahun 2005 hingga 2008. Manajerial
ikal mendatangi kedai tak ditemui di toko-toko buku seperti yang buruk membuat beberapa
kopi yang terletak di Jalan Gramedia. Buku terbitan penerbit- penerbit gulung tikar. “Banyak
Wahid Hasyim, Yogyakarta. penerbit alternatif memang dipasarkan penerbit yang sudah besar, tetapi
Di samping kedai kopi dengan cara berbeda, salah satunya masih menggunakan manajemen
terdapat garasi berisi buku-buku yang melalui pameran buku. keluarga. Aset pribadi dan aset
ditumpuk rapi di atas meja. Pemuda perusahaan tidak dipisahkan sehingga
itu berkeliling, lalu tersenyum lebar Pameran tersebut merupakan pemilik dapat mengambil uang
saat melihat buku berjudul Haji salah satu indikasi kebangkitan perusahaan untuk kepentingan pribadi
Misbach terbitan Octopus. Sudah penerbit alternatif Yogyakarta, setelah tanpa adanya pencatatan keuangan
sempat mengalami kemunduran pada
10 balkon
Edisi Spesial 2016
LAPORAN UTAMA
yang jelas,” tutur Irfan Afifi, pendiri Yogyakarta. “Kami bekerjasama Naskah yang berfokus pada
penerbit Pustaka Ifada. dengan komunitas Dongeng Kopi, tema-tema tertentu memang menjadi
Radio Buku, dan Puisi Indo Jogja. kekuatan tersendiri bagi penerbit
Penerbit Insist Press yang Nantinya, mereka juga berperan alternatif Yogyakarta. Berorientasi
sudah berdiri selama delapan belas sebagai reseller produk kami,” papar pada isi naskah membuat penerbit
tahun pun mengalami permasalahan Irwan Badjang, pendiri sekaligus alternatif lebih berani menerbitkan
serupa. “Insist Press kebanyakan editor Indie Book Corner. buku yang bermuatan ideologi
terdiri dari anak sastra dan politik ekstrem. Hal ini menyebabkan
yang tidak memahami manajemen Kemunculan kembali penerbit penerbit alternatif sering diperiksa
dan bisnis. Wajar bila manajerial alternatif juga tak lepas dari peran aparat kepolisian yang terkadang
penerbitan sempat buruk,” terang teknologi. Sejak tahun 2011, berujung pada sweeping buku. Dalam
Muhammad Anwar, Direktur Insist penerbit mulai gencar melakukan hal ini, aparat kepolisian menggunakan
Press. Meski begitu, Insist Press penjualan buku secara online, yang TAP MPRS Nomor XXV/
terbilang beruntung karena tak sampai memungkinkan mereka menggunakan MPRS/1996 sebagai alasan untuk
gulung tikar. Adhe Ma’ruf, pengamat sistem pre-order. Pembeli terlebih dulu melakukan sweeping buku. Padahal,
penerbitan Yogyakarta, menambahkan membayar dan memesan buku yang TAP MPRS tersebut bicara mengenai
bahwa dulu penerbit alternatif diminatinya sebelum buku tersebut pembubaran Partai Komunis
kebanyakan tidak mempertimbangkan diproduksi. Sistem ini semakin Indonesia (PKI), bukan pelarangan
oplah buku dengan pangsa pasar. Hal dipermudah dengan adanya teknologi peredaran buku. “Pembredelan buku
itu menyebabkan penawaran buku print on demand. Dengan teknologi hanya boleh dilakukan setelah adanya
jauh lebih besar daripada permintaan tersebut, penerbit dapat mencetak proses peradilan, jika memang isi buku
pasar. buku sejumlah permintaan sehingga menyimpang,” jelas Adhe.
risiko kerugian dapat diminimalkan.
Selain faktor manajerial, Adanya sweeping buku,
kemunduran penerbit alternatif juga Hal lain yang membuat mendorong sejumlah penerbit
dipengaruhi oleh pergeseran selera teknologi print on demand menjadi alternatif membentuk aliansi
pasar perbukuan di Yogyakarta. menguntungkan adalah karena Masyarakat Literasi Yogyakarta
Tahun 1998-2004, toko buku di penerbit alternatif memiliki target (MLY). Selain untuk merespon
Yogyakarta didominasi oleh buku pasar yang spesifik. Target pasar kasus sweeping buku, MLY dibentuk
wacana kritis bermuatan politik, sosial, yang spesifik membuat pangsa pasar sebagai wujud ketidakpuasan terhadap
dan budaya. Setelah itu, toko buku penerbit alternatif lebih sedikit. kinerja Ikatan Penerbit Indonesia
mulai didominasi oleh buku praktis, Meski demikian, hasil penjualan (IKAPI). MLY beranggapan bahwa
produk penerbit mainstream. Hal penerbit alternatif cenderung lebih IKAPI belum dapat mengakomodasi
ini menyebabkan penerbit alternatif stabil dibandingkan dengan penerbit kepentingan penerbit-penerbit
kehilangan pasarnya. mainstream. Salah satu contohnya alternatif. Salah satunya terkait
adalah penerbit Insist Press yang dengan perlindungan idealisme
Akan tetapi, tahun 2009 terjadi membidik kalangan aktivis dan penerbit. Hal ini diakui oleh pihak
titik balik dunia penerbitan alternatif penggiat gerakan sosial. “Buku- IKAPI. Meski begitu, IKAPI
Yogyakarta. Pada tahun itu, penerbit buku advokasi dan pengorganisasian mencoba melakukan perbaikan.
alternatif di Yogyakarta mulai biasa kita pasarkan melalui jaringan “Pada periode kepengurusan yang
bergairah kembali. Penerbit alternatif, perkawanan dengan aktivis-aktivis,” baru ini, kami punya rencana untuk
baru maupun lama, meramaikan lagi terang Anwar. Hal ini sejalan dengan menyusun naskah akademik. Naskah
dunia penerbitan alternatif Yogyakarta. tema buku-buku Insist Press yang itu berisi usulan-usulan terkait dunia
Kebangkitan ini ditandai dengan banyak berkaitan dengan transformasi penerbitan, yang nantinya diajukan ke
terbitnya kembali beberapa judul buku sosial. Berbeda dengan Insist DPR,” tutur Wawan.
wacana kritis yang dulu diterbitkan Press, Indie Book Corner memilih
oleh Bentang Pustaka. “Saat ini, membidik komunitas pembaca muda. Melihat kondisi saat ini, Wawan
permintaan pembaca terhadap buku- Mereka berfokus pada tema sosial, memprediksi penerbit alternatif akan
buku wacana kritis lawas, seperti politik, dan budaya. Saat penerbit pada memiliki pangsa pasar lebih banyak ke
Republic karangan Plato dan Politics umumnya lebih memilih menerbitkan depannya. Hal ini didukung dengan
karangan Aristoteles meningkat. naskah karya penulis yang sudah metode baru dalam bidang produksi
Oleh karena itu, kami menjalin populer, Indie Book Corner justru dan pemasaran. “Saat ini justru posisi
kerjasama dengan Bentang Pustaka sebaliknya. Mereka berani mengambil penerbit mainstream yang terancam.
untuk menerbitkan kembali buku- risiko dengan menerbitkan naskah Buku mereka kebanyakan isinya
buku mereka,” tutur Hasnul Arifin, karya anak muda, bahkan naskah ‘ringan’. Bahasan ‘ringan’ sekarang
pemimpin redaksi penerbit Narasi. penulis pemula. “Meskipun naskah mudah dicari melalui internet.
mereka kebanyakan belum terlalu baik, Berbeda dengan bahasan buku wacana
Kebangkitan dunia penerbitan tapi mereka memiliki semangat yang kritis yang cenderung bermuatan
alternatif didukung oleh adanya relatif tinggi,” terang Irwan. Untuk ‘berat’ dan mendalam. Oleh karena
metode pemasaran baru. Indie Book menyiasati kekurangan tersebut, Indie itu, saya rasa buku wacana kritis akan
Corner misalnya, memasarkan Book Corner mengadakan diskusi dan kembali mendapatkan tempatnya,”
produknya melalui bedah buku, pelatihan kepenulisan bagi penulis- tambahnya. [Sanya, Fa’izah]
pameran buku, serta diskusi buku. penulis muda.
Indie Book Corner juga menggandeng 11
beberapa komunitas pembaca di
balkon
Edisi Spesial 2016
LAPORAN UTAMA
Ilustrasi: Hamzah/Balairung
Pasar E-book Sepi,
Langkah Penerbit Setengah Hati
Perkembangan teknologi tidak serta merta pembaca e-book modern seperti Kindle
mempopulerkan e-book di Indonesia. atau Nooks.
Respon pasar yang banyak dipengaruhi Seiring dengan perkembangan
kesiapan penerbit dan pembaca, teknologi, kini seseorang hanya
memerlukan sebuah gawai untuk
menjadi faktor penentu perkembangannya. mengakses e-book. Adanya website
hingga platform yang menyediakan
Pada tahun 1949, Angela keinginan dalam diri Angela untuk jasa layanan e-book, memungkinkan
Ruiz Robles, seorang guru meringankan beban murid-muridnya. masyarakat untuk mendapatkan buku-
berkebangsaan Spanyol buku digital. Pasar e-book pun mulai
memperhatikan satu Ia kemudian berusaha menciptakan bermunculan di masyarakat.
kesulitan murid-muridnya. sebuah alat pembaca buku otomatis.
Mereka harus mengangkut setumpuk Berbentuk seperti koper kecil, alat ini Menghadapi berkembangnya
buku dengan materi yang berbeda- kemudian memungkinkan murid- pasar baru ini, para penerbit di
beda, untuk satu hari kegiatan muridnya membaca beberapa buah Indonesia mulai ikut serta dalam
belajar mengajar di sekolah. Timbul buku dalam satu perangkat. Alat dunia perbukuan digital. Beberapa
ciptaannya ini pun menjadi prototipe penerbit seperti Kompas Gramedia,
Kanisius, dan bahkan penerbitan
1102 kampus layaknya UGM Press, kini
telah merintis penerbitan digitalnya
masing-masing.
Penerbit Kanisius misalnya,
telah memberi perhatian terhadap
e-book sejak sepuluh tahun yang lalu.
balkon
Edisi Spesial 2016
LAPORAN UTAMA
Akhirnya pada tahun 2011, Kanisius Di sisi lain, sedikitnya keuntungan terdapat pertumbuhan dari aspek
membentuk satu divisi bernama digital yang didapat dari penjualan buku pembaca digital. “Generasi-generasi
publishing. Rini memaparkan, divisi digital juga menjadi alasan penerbit. baru sudah menempatkan internet
ini dibentuk untuk mengeksplorasi Contohnya penerbit Kanisius yang sebagai sumber utama informasi.
penerbitan digital lebih dalam lagi, per tahun hanya mendapatkan sekitar Artinya, kalau dia mau mencari
mulai dari format digital publishing, 70 juta saja dari penerbitan digital, kedalaman informasi, pasti lari ke
pengkonversian, hingga ke pemasaran. dibandingkan dengan omzet penjualan electronic literature,” terang Eka.
“Seandainya nanti medianya sudah buku cetak Kanisius yang mencapai
bukan lagi tercetak, berarti penerbit 40 milyar. Rini menambahkan bahwa Harmantyo sebagai seorang
harus siap,” tambahnya. pendapatan dari buku digital tersebut pembaca mengaku turut merasakan
masih lebih rendah dari investasi yang hal tersebut. Selama ini ia
Selain Kanisius, penerbit Bentang diberikan Kanisius. menggunakan e-book ketika ada
Pustaka juga telah melakukan tugas atau diktat rujukan dosen yang
persiapannya dalam mengantisipasi Namun demikian, hal ini tidak mengharuskan untuk mengakses
kemunculan pasar digital. Salman menyurutkan keinginan penerbit buku digital. Buku digital pun
Faridi, CEO Bentang, memaparkan seperti Kanisius untuk berinvestasi banyak menolong dirinya ketika
bahwa penerbitannya telah lebih banyak pada buku digital di masa membutuhkan akses ke buku yang
memproduksi e-book sejak beberapa depan. “Kalau pasarnya memang jadi tidak terjangkau secara fisik di sekitar
tahun terakhir. Ia memandang lebih masif dan perkembangannya Jogja. “Misal kalau ingin beli buku
perkembangan digital telah membuat menjadi sangat pesat, ya mungkin terbitan Oxford, daripada mengirim
konsumen terbiasa dengan bacaan terpaksa kita (penerbit) lakukan itu,” dalam bentuk fisik yang butuh biaya
yang lebih pendek dari segi jumlah jelas Direktur Kanisius. kirim juga, lebih baik membeli atau
halaman. “Mungkin 50 halaman sudah mengakses e-book-nya,” ungkapnya.
ideal. Coba anda bayangkan kalau Lesunya pasar ebook selain
baca teori ekonomi 400 halaman, bergantung dari sisi penerbit, juga Eka Indarto juga menambahkan
tidak kebayang kan?” tutur Salman bergantung dari sisi konsumennya. bahwa hal yang penting bagi pelaku
menjelaskan. Saat ini pembaca cenderung lebih penerbitan adalah menstrategikan
memilih buku cetak konvensional model media yang diterima
Meski demikian, penerbitan buku dibanding e-book. Hartmantyo masyarakat. Hal tersebut ditekankan
digital ternyata tetap belum menjadi misalnya, mahasiswa Departemen agar penerbit mampu menghadapi
fokus utama penerbit-penerbit Sosiologi ‘11 UGM ini menuturkan pasar buku digital. “Kedua model ini,
tersebut. Data Ikatan Penerbit bahwa ia jauh lebih nyaman yakni cetak dan digital, lekat dengan
Indonesia (IKAPI) menyebutkan menggunakan buku cetak dibanding masyarakat. Tinggal bagaimana
bahwa 95% penerbit belum tertarik e-book “Kalau baca buku digital perlu penerbit mampu mengelola segmen
untuk mengembangkan penerbitan listrik dan nggak bisa mobile ke mana- dan bagimana mereka mampu me-
digitalnya sendiri saat ini. Selain mana, terlebih aku nggak tahan di maintenance segmen itu secara terus
itu, data IKAPI juga menunjukkan depan layar laptop terlalu lama,” terang menerus,” paparnya.
bahwa sejak 2010 pasar e-book hanya pria yang memiliki koleksi buku lebih
bertumbuh 2%. dari 200 judul ini. Menurut Eka, penerbit juga harus
mampu memanfaatkan teknologi baru
Kurangnya prioritas penerbit Hartmantyo juga menyoroti masih untuk membangun integrasi dengan
terhadap e-book juga menjadi adanya masyarakat di Indonesia yang berbagai industri. “Teknologi baru di
perhatian Irfan Adam, Head of Content kesulitan untuk mengakses internet, dalam pengembangan platform digital
MOCO Aksaramaya, salah satu terlebih mengakses e-book. “Akses itu mampu melakukan agregasi dan
platform penyedia layanan buku digital internet di beberapa daerah masih integrasi baik dari aspek user, konten
di Indonesia. Ia mengatakan bahwa susah. Sewaktu aku KKN di Maluku maupun konteks. Artinya di sini,
penerbit cenderung masih memiliki Tenggara, untuk buka Google aja seorang penerbit dapat melakukan
cara pikir konvensional. “Belum ada butuh 5 menit, itu belum sampe integrasi dengan berbagai industri,”
kemauan besar dari penerbit untuk ke websitenya. Alhasil kami waktu pungkasnya. [Sultan, Krisanti, Fitria]
memproduksi buku dalam dua bentuk itu nggak bisa mengakses internet,”
(cetak dan digital),” ujarnya. Padahal, jelasnya. 1131
menurutnya lagi, penerbit perlu
memberikan lebih banyak pilihan Kendatipun saat ini pasar
judul bagi pembaca di platform digital e-book belum begitu populer, Drs.
agar e-book menjadi lebih populer. Budhy Komarul Zaman, Dosen
Departemen Ilmu Komunikasi UGM,
Hal ini berujung pada penjualan menyebutkan bahwa munculnya buku
buku digital yang masih lebih sedikit digital adalah suatu hasil terobosan
dibandingkan buku cetak. Eka Indarto, yang tidak dapat ditolak oleh
anggota tim riset di Information masyarakat. “Secara pragmatis, arahnya
and Communication Technology for memang ke digital nanti,” terangnya.
Development UGM menyebutkan,
perbandingan penjualan buku cetak Hal tersebut diamini oleh Eka
dengan buku digital hanya satu Indarto. Ia menyebutkan bahwa orang
banding lima hingga satu banding akan semakin nyaman menggunakan
enam saja. e-book setelah mendapatkan
kemudahan melalui perkembangan
balkon teknologi. Terlebih, menurutnya kini
Edisi Spesial 2016
SISI LAIN
Menghidupi Wacana,
Menanggalkan Royalti
Upaya menerbitkan buku tidak hanya untuk mengejar royalti,
lebih dari itu penulis ingin menyalurkan wacana kepada
masyarakat
Deru mesin crane berbaur pandang yang disajika Abi di dalam buku. Sedangkan penulis punya
dengan lalu-lalang skripsinya menjadi alasan kami kewajiban untuk memperbaiki
kuli bangunan di area menerbitkannya menjadi buku,” jelas tulisannya.” terang Nursam. Disisi
proyek pembangunan Nursam. lain, penerbit Bentang Pustaka
gedung baru Fakultas selaku penerbit besar di Yogyakarta
Ilmu Budaya (FIB). Barisan bangku Abi merasa senang ketika menerapkan perjanjian kerja sama
bewarna hitam tak jauh dari lokasi naskah skripsinya yang berjudul yang berbeda. Salma Faridi selaku
proyek menjadi tempat bercengkerama ‘Membayangkan Ibukota Jakarta manajer penerbitan Bentang Pustaka
serta melepas penat mahasiswa setelah di Bawah Soekarno’ terbit. Bukan menjelaskan bahwa bagi penulis
seharian bejibaku dengan aktivitas karena ia akan mendapat royalti hasil pemula yang baru pertama kali
akademik. Bangku yang berjuluk penjualan buku, tetapi ilmunya di memasukkan naskahnya, pemberian
‘Bangtem’ ini juga menjadi tempat bidang sejarah akan tersampaikan royalti hanya sebesar 6%-7%. “Jika
favorit untuk berdiskusi atau sekadar kepada masyarakat. “Menerbitkan penerbitan buku pertama mampu
membaca buku bagi mahasiswa. buku itu penting bagi kalangan menarik minat para pembaca,
Tak hanya mahasiswa, dosen muda akademisi, untuk sumbangsih wacana persentase royalti untuk penerbitan
Departemen Sejarah Dr. Farabi keilmuan dan penyebaran informasi,” selanjutnya dapat mencapai angka
Fakih turut duduk di sana. Seolah tak terangnya. Senada dengan Abi, Agus 10%,” papar Salman.
menghiraukan suara bising proyek Rois penulis buku kumpulan esai
pembangunan, ia menceritakan berjudul ‘Di Benoa, Saya Bertemu Pembayaran royalti kepada
bagaimana naskah skripsinya mampu Siddartha’ menuturkan bahwa penulis pun tak selamanya berjalan
diterbitkan menjadi buku pada tahun menerbitkan suatu karya tidak selalu mulus. Nursam melihat kondisi pasar
2005. “Awalnya saya bertemu dengan berkutat dengan royalti. “Tidak hanya buku yang fluktuatif, menjadikan
pemilik Ombak ketika menghadiri sekadar mendapatkan uang, tapi penjualan buku sulit ditebak. Sering
seminar yang diadakan Departemen lebih dari itu ada kepuasan tersendiri kali buku yang baru terbit hanya
Sejarah. Kemudian terjadilah ketika ide yang tertuang dalam tulisan terjual beberapa buah dan tersisa
perbincangan panjang tentang skripsi dapat dibaca banyak orang,” tuturnya. separuh dari total eksemplar. “Padahal
yang tengah saya kerjakan,” papar Abi, Tulisan tentang refleksi kunjungannya jumlah penjualan buku menentukan
sapaan akrab Dr. Farabi Fakih. di pulau Dewata diterbitkan oleh pembayaran royalti yang akan kita
penerbit Ladang Kata pada tahun bayarkan,” ucapnya. Kondisi tersebut
Sebagai penerbit alternatif, 2014. menjadi penyebab terlambatnya
Ombak rutin menghadiri berbagai penerbit dalam memberikan royalti
macam seminar yang diadakan oleh Kendati tidak semua penulis kepada penulis.
berbagai universitas, khususnya tidak terlalu memikirkan royalti,
seminar yang bertemakan sejarah, pembagian hasil penjualan buku Dalam masa kerjasamana
politik, dan budaya. Tak hanya itu, menjadi kewajiban dan bentuk keterlambatan bisa terjadi antara 1-2
penerbit Ombak juga menjalin apresiasi penerbit kepada penulis. kali. Hal ini berkaitan dengan naskah
hubungan dengan mahasiswa dan Pembagian besaran royalti diatur dan yang masuk pada pertengahan rentang
dosen. “Dari berbagai kunjungan, kami tertulis di dalam surat kerja sama bulan pembayaran royalti. Padahal
membangun relasi dengan mahasiswa yang disepakati ke dua belah pihak. proses edit membutuhkan waktu
dan dosen untuk menanyakan adakah Nursam menjelaskan tentang kerja sekitar tiga bulan. Ia mencontohkan
skripsi bagus yang patut diterbitkan,” sama yang berisikan kewajiban penulis perhitungan sebuah buku yang terbit
papar Muhammad Nursam, pemilik dan penerbit dalam menerbitkan bulan Desember. Selama kurun
penerbitan Ombak. Skripsi Abi yang naskah. “Kewajiban penerbit adalah Desember-Januari jumlah buku yang
menyajikan sisi lain pembangunan menerbitkan naskah, memberikan laku sebanyak 15 eksemplar dengan
ibu kota di masa Soekarno menarik royalti sebesar 10% oleh penerbitan harga 50.000 rupiah/ eksemplar. Maka
perhatian Nursam. “Kebaruan sudut alternatif, seperti Ombak dan 10% dari 50.000 dikalikan jumlah
mengatur jangka waktu pemasaran buku. Jumlah nominal yang terbilang
14
balkon
Edisi Spesial 2016
SISI LAIN
Ilustrasi: Celli/Balairung
kecil menjadi alasan pernerbitan berhasil difilmkan adalah Strawberry penerbit tidak punya wewenang untuk
seringkali menahan royalty “ Hanya Surprise. Setelah perjanjian kerjasama menerbitkan ulang,” tambahnya. Hal
sekitar 75.000 yang dapat dibayarkan disetujui, tahap pengerjaan kemudian tersebut dialami Abi yang telah habis
kepada penulis,” papar Nursam. Ia dilakukan dengan melibatkan sinergi masa kontraknya sembilan tahun
juga menerangkan bahwasannya antara penulis dengan penerbit untuk silam. “Sewaktu penandatanganan
tidak ada sistematika khusus untuk kemudian diolah oleh rumah produksi kerja sama saya memilih opsi yang
penyampaian alasan keterlambatan film. kedua,” kenang Abi.
pemberian royalti, biasanya hal ini
dilakukan dengan memberi tahu Terlebih hak cipta merupakan Meskipun ada ancaman berbagai
kepada penulisnya secara personal. komponen penting untuk menentukan kondisi yang meruhikan penulis
royalti sebuah naskah. Nursam dalam menerbitkan karyanya, Abi
Untuk mengurangi resiko buku menjelaskan bahwa penerbit maupun Rois berharap penulis pemula
yang tidak terjual, strategi pemasaran menawarkan dua opsi penggunaan tidak kehilangan semangat untuk
yang dilakukan oleh penerbitan hak cipta. Opsi pertama, hak cipta menerbitkan naskahnya. “Menulis
alternatif semacam Ombak dilakukan dibeli oleh penerbit. Setelah proses dan menerbitakan buku bukan hanya
dengan cara membuka bazar di acara cetak usai penerbit dapat menjual untuk mendapat keuntungan materi,
seminar yang diadakan kampus. buku secara bebas, termasuk jangka tapi juga menjadi kesenangan pribadi,”
“Selain penjualan offline, penjualan waktu edar sebuah buku. Sedangkan ucap Rois. Selain itu dengan terbitnya
kami merambah ke media daring,” opsi kedua adalah, hak cipta berada berbagai buku, diharapkan mampu
papar Nursam. Sedangkan Bentang di tangan penulis serta mendapatkan untuk menumbuhkan minat baca
Pustaka melakukan terobosan royalti berkala dari hasil penjualan masyarakat secara keseluruhan. Selain
baru dengan adanya monetisasi. buku selama kontrak kerjasama masih itu, Abi menyarankan bagi penulis dan
“Monetisasi, merupakan cara berlangsung. “Sebut saja Dewi Lestari penerbit untuk mengemas isi naskah
menambah nilai jual suatu karya dan Andrea Hirata, mereka lebih sedemukian rupa agar menarik minat
dengan memaksimalkan isi buku pada memilih opsi kedua dengan hak cipta baca dan menaikkan kurva daya beli
media lain selain bentuk cetak,” ujar masih berada dalam tangan penulis,” masyarakat terhadap buku.
Salman. Monetisasi dapat dilakukan terang Nursam. Keterikatan naskah [Ira, Inur, Rosa]
dengan cara mengubah bentuk naskah dengan penerbit hanya sekitar dua
cetak menjadi bentuk lain, seperti hingga lima tahun, sesuai dengan yang 15
film layar lebar, drama musikal, telah disepakati dalam perjanjian.
sandiwara radio, dan cindramata Setelah masa perjanjian habis, naskah
berupa action figure. Salah satu naskah dikembalikan kepada penulis. “Jika
novel terbitan Bentang Pustaka yang tidak ada perpanjangan kerjasama,
balkon
Edisi Spesial 2016
JAJAK PENDAPAT
Rendahnya Responden dipilih dengan metode
non-probability quota, yaitu
Minat Baca pemilihan sesuai kriteria tertentu
sampai memenuhi kuota yang
Masyarakat telah ditentukan. Total terdapat
120 responden yang dipetakan dan
Yogyakarta dibagi secara proporsional menurut
empat zona. Zonasi digunakan agar
Di tengah kemudahan mengakses buku, pembagian responden merata dan
minat baca mahasiswa Yogyakarta representatif. Zona utara merupakan
masih rendah. mahasiswa yang berkuliah di UGM
dan Universitas Negeri Yogyakarta;
Dewasa ini, kesadaran artinya hanya ada satu dari 1000 orang zona timur dari UPN Veteran
akan pentingnya yang berminat untuk membaca. Yogyakarta dan Universitas Atma
budaya membaca Jaya Yogyakarta; zona selatan dari
mulai terbangun Dalam dunia akademik, Universitas Ahmad Dahlan dan
secara global. Hal khususnya lingkup mahasiswa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta;
tersebut salah satunya dipelopori oleh membaca diperlukan baik untuk zona barat dari Universitas
UNESCO dengan menyelenggarakan menyelesaikan tugas perkuliahan Muhammadiyah Yogyakarta dan
International Book Year pada maupun menambah pengetahuan. Universitas Janabadra. Data diambil
tahun 1972. Acara yang bertujuan Lingkungan baca yang demikian menggunakan kuesioner tertutup yang
untuk mempromosikan pentingnya membuat aktivitas membaca bagi disebarkan secara online pada tanggal
membaca buku ini disambut baik mahasiswa tak lagi sebatas kewajiban 19-30 Juni 2016.
dan kemudian diikuti oleh negara- namun juga kebutuhan. Maka dari itu
negara anggota UNESCO. Tiga wajar apabila minat bacanya tinggi, Mengacu dari hasil riset ini,
tahun berselang, Richard Bamberger terlebih jika akses terhadap buku ditemukan bahwa aksesibilitas buku
menerbitkan buku “Promoting mudah. Di Yogyakarta misalnya, di Yogyakarta tergolong mudah. 54,2
The Reading Habit”. Dalam buku menurut Badan Perpustakaan persen responden menyatakan dapat
tersebut, Bamberger menjelaskan dan Arsip Daerah Yogyakarta, dengan mudah mengakses buku
bahwa lingkungan baca seseorang terdapat sekurang-kurangnya 2.684 yang diinginkan. Sisanya 45,8 persen
memengaruhi minat bacanya. perpustakaan. Dengan sumber mengungkapkan masih kesulitan.
buku yang sedemikian melimpah, Harga buku pun di Yogyakarta
Senada dengan Bamberger, aksesibilitas terhadap buku di dianggap terjangkau oleh 52,5
Mustafa (2012) menjelaskan bahwa Yogyakarta sewajarnya tergolong responden, sedangkan 47,5 persen
lingkungan yang kurang mendukung mudah. Namun, apakah minat lainnya menyatakan sebaliknya.
berpengaruh terhadap rendahnya baca mahasiswa yang berstudi di
minat baca. Ia beranggapan faktor Yogyakarta tinggi? Dengan harga buku yang
rendahnya minat baca masyarakat di terjangkau, responden cenderung
Indonesia adalah aksesibilitas buku Berangkat dari pertanyaan mengakses buku dengan cara membeli
yang sulit dan harga buku yang mahal. tersebut, divisi riset BPPM Balairung sendiri. Sedikitnya 44,2 persen
Hal tersebut didukung dengan hasil Universitas Gadjah Mada (UGM) responden memilih cara tersebut
studi UNESCO yang menyatakan menyelenggarakan jajak pendapat untuk mengakses buku. Temuan yang
bahwa minat baca masyarakat guna mengukur minat baca mahasiswa menarik dari hasil jajak ini adalah
Indonesia berada di kisaran 0,01%. Itu di Yogyakarta dan hubungannya rendahnya minat responden untuk
dengan aksesibilitas terhadap buku. meminjam buku di perpustakaan.
Cara ini paling banyak dipilih oleh
16 20,8 persen responden. Hal itu
mengindikasikan perpustakaan belum
menjadi pilihan utama responden
untuk mengakses buku. Cara lainnya
seperti membaca lewat e-book
dan meminjam dari teman dipilih
berturut-turut oleh 12,5 dan 10,8
persen responden.
Namun, meski aksesibilitas buku
tergolong mudah, tingkat minat
baca responden malah memiliki
kecenderungan yang sebaliknya.
Mayoritas responden, yaitu 50,8
persen, membaca buku kurang dari 2
jam per hari. Persentase tersebut terus
menurun seiring bertambahnya durasi
baca buku. Hasil tersebut jauh dari
balkon
Edisi Spesial 2016
JAJAK PENDAPAT
JAJAK PENDAPAT INI UGM UNY UPN UAJY
DILAKUKAN TERHADAP VETERAN YK
120 RESPONDEN UAD ISI UMY UJB
DARI
YOGYAKARTA (UNIVERSITAS
8 KAMPUS DI
YOGYAKARTA: JANABADRA)
standar UNESCO yang menyarankan paling tidak satu buku. Hal tersebut tidak. Pun demikian saat
untuk membaca 4-6 jam per hari. setara dengan konsumsi buku di dibandingkan menurut banyaknya
Padahal, di negara-negara maju, negara maju seperti Jepang yang buku yang dibaca dalam satu bulan,
masyarakatnya rata-rata dapat membaca rata-rata satu buku per terdapat perbedaan sebesar 3,9 persen.
membaca selama 6-8 jam dalam bulan. Terhitung 41,7 persen
sehari. Paling banyak hanya 16,7 responden menyatakan telah Dapat ditelaah bahwa meskipun
persen responden yang membaca buku menyelesaikan satu sampai dua aksesibilitas terhadap buku mudah,
lebih dari 4 jam sehari. buku. Sedangkan 38,3 persen minat baca responden tergolong
belum merampungkan satu buku rendah. Teori Mustafa dan Bamberger,
Tidak hanya itu, rendahnya minat pun. Selebihnya, 20 persen telah dalam konteks responden dalam
baca responden juga ditunjukkan menamatkan lebih dari dua buku. penelitian ini tidak sepenuhnya
oleh sedikitnya responden yang telah berlaku. Kemudahan dalam mengakses
membaca secara teratur, yakni hanya Selain lingkungan baca, menurut buku tidak memengaruhi minat baca
4,2 persen. Tingginya akumulasi Bamberger ketersediaan waktu adalah responden. Hal itu justru menjadi
persentase responden yang belum faktor yang memengaruhi minat baca kenyataan yang ironis. Akses buku
membaca secara teratur menunjukkan seseorang. Semakin banyak waktu yang mudah dan sumber buku yang
bahwa membaca belum menjadi suatu yang tersedia untuk membaca semakin melimpah belum dimanfaatkan secara
kebiasaan. Setidaknya 67,5 persen tinggi potensi minat bacanya. Hal optimal oleh responden. Menilik
responden hanya membaca di waktu tersebut diperkuat oleh data hasil jajak peran dan kewajibannya sebagai
luang, bahkan 19,2 persen membaca yang menunjukkan bahwa responden kaum intelektual, responden yang
hanya saat ada tuntutan. Sementara itu yang mengikuti komunitas minat notabene mahasiswa sepatutnya gemar
sisanya sebanyak 9,2 persen membaca bacanya lebih rendah dibanding membaca. Namun, ternyata minat
di saat yang lain. dengan yang tidak. Dari segi durasi bacanya tidak jauh berbeda dengan
baca buku, responden yang mengikuti masyarakat pada umumnya. [Dwiky]
Dari segi banyaknya buku yang komunitas memiliki persentase 3,3
selesai dibaca dalam sebulan, sebagian persen lebih rendah dibanding yang
besar responden telah menamatkan
kapan membaca buku? baca berapa buku dalam sebulan?
lain-lain (9%) teratur (Dijadwalkan) 60 50
(4%) 46
jumlah responden 40
ketika ada 24
tuntutan (19%) 20
ketika waktu 0 1-2 buku >2 buku
luang saja (68%) < 1 buku
infografis lain di baliknya >
balkon 17
Edisi Spesial 2016
JAJAK PENDAPAT
mudahkah akses terhadap buku?
KOMUNITAS APA yang diikuti? berapa lama membaca buku per hari?
LAin-lain tidak ikut 6-8 jam > 8 jam
(26%) (22%) (5%) (3%)
4-6 jam
19% (8%) 12
19% olahraga 93
(9%)
sastra (5%) 6
17%
33% 2-4 jam
kesenian (33%)
saintek (6%) (15%)
29% 10% < 2 jam
(51%)
sosial (17%)
= responden yang membaca buku > 4 jam dalam sehari
apakah harga buku sudah terjangkau?
dari mana mendapat buku?
jenis buku apa yang biasa dibaca?
politik 11 lain-lain meminjam
biografi 6 (12%) perpustakaan
motivasi
16 (21%)
sains 12
sejarah membeli sendiri meminjam
sastra 17 teman (11%)
lain-lain 15 (44%) e-book
0 10 20 (12%)
30 43
40 50
18 balkon
Edisi Spesial 2016
KOLOM PAKAR
Gemuruh Terkini Penerbit
Alternatif di Yogyakarta
o l e h : A d h e M a’ r u f
Akhir-akhir ini penerbit yang akan mendapat imbalan awal 2000-an melahirkan banyak
buku indie tumbuh setimpal. Imbalan tersebut berasal “penerbit alternatif ” dengan buku-buku
di berbagai kota. dari keberhasilan mengembangankan “wacana serius” itu seakan menemukan
Mereka memilih jalur distribusi dan pemasaran. lagi semangatnya. Saat ini, slogan
independen dengan Yogyakarta sebagai episentrum “bacaan
alasannya masing-masing, termasuk Di sisi lain, salah satu problem serius” dalam tema-tema pemikiran,
karena menyadari bahwa pasar utama pokok dunia penerbitan buku sastra, sejarah, politik, dan lain-lain
(mainstream) bukanlah tempat yang secara umum adalah distribusi dan menyeruak kembali.
tepat untuk menyebarkan buku-buku pemasaran. Kerja mutakhir penerbit-
yang mereka buat. Konsekuensi dari penerbit indie belum disertai dengan Sejak akhir 2013 isu tentang
pilihan “menjadi indie” itu adalah perluasan dan pengembangan pola “buku Yogyakarta” menyeruak di
keharusan menemukan cara-cara distribusi dan pemasaran sehingga dunia maya. Ramainya lapak-lapak
mandiri dan teknik-teknik alternatif pertumbuhannya belum mencapai penjual online buku di social media
dalam kerja penerbitan yang mencakup titik maksimum dalam skala seperti Twitter dan Facebook turut
keredaksian, produksi, dan pasca- independen. Dalam hal ini diperlukan mendongkrak naiknya harga buku-
produksi (distribusi dan pemasaran). variasi-variasi pola distribusi dan buku wacana yang para penerbitnya
pemasaran supaya penerbitan indie sudah tutup di kisaran tahun 2004
Di tingkat keredaksian, yang mampu menunjukkan kemandirian hingga 2007. Buku-buku tersebut
juga meliputi pemilihan naskah, dan mempunyai perbedaan dengan kerap dikategorikan “langka” dan
setiap penerbit indie memiliki penerbit industrial. Perlunya out of print. Nama-nama penerbit
pilihannya sendiri. Tempat terbaik membangun variasi pola distribusi lawas seperti Bentang Budaya,
bagi penerbit indie adalah ruang dan pemasaran buku indie juga IndonesiaTera (lama), Jendela,
produksi tema-tema alternatif, dimaksudkan untuk membuka peluang Tarawang, dan Qalam pun ramai
sesuatu yang kerap dilupakan oleh di masa depan bahwa menjadi penerbit diperbincangkan lagi.
penerbit industrial yang berbasis indie adalah pilihan yang akan
pada mekanisme pasar reguler. mendapat imbalan setimpal. Imbalan Mungkin hari ini pasar buku
tersebut berasal dari keberhasilan secara umum sedang mengalami
Di sisi lain, salah satu problem mengembangankan distribusi dan stagnasi. Toko-toko buku berguguran
pokok dunia penerbitan buku pemasaran. karena tak kuat menangkis penurunan
secara umum adalah distribusi dan tingkat kunjungan dan pembelian
pemasaran. Kerja mutakhir penerbit- Di Yogyakarta, fenomena tersebut oleh konsumen. Hal ini antara lain
penerbit indie belum disertai dengan tampak nyata dan penuh gairah. Kota dapat dilihat pada peristiwa tutupnya
perluasan dan pengembangan pola yang pada akhir masa Orde Baru dan sejumlah toko buku dalam jaringan
distribusi dan pemasaran sehingga Toga Mas, juga toko buku tua seperti
pertumbuhannya belum mencapai Toko Buku “Djawa” di Bandung.
titik maksimum dalam skala Sementara itu sejumlah pusat buku
independen. Dalam hal ini diperlukan bekas mengalami nasib tragis:
variasi-variasi pola distribusi dan Palasari (Bandung) dan Pasar Johar
pemasaran supaya penerbitan indie (Semarang) diamuk si jago merah.
mampu menunjukkan kemandirian
dan mempunyai perbedaan dengan Yang menarik, realitas mutakhir
penerbit industrial. Perlunya perniagaan buku di pasar umum
membangun variasi pola distribusi mendapat respons berbeda oleh
dan pemasaran buku indie juga sebagian pelaku buku di Yogyakarta.
dimaksudkan untuk membuka Orang-orang lama yang dulu
peluang di masa depan bahwa menerbitkan “buku-buku alternatif ”
menjadi penerbit indie adalah pilihan kembali ke jalur produksi. Alasannya
antara lain permintaan yang tinggi
20
balkon
Edisi Spesial 2016
KOLOM PAKAR
di ranah online dan toko-toko perkiraan jumlah toko buku yang di pasar umum. Artinya, memangkas
buku non-jaringan. Di sisi lain, membutuhkannya. rantai panjang distribusi merupakan
sejumlah penerbit yang bermodal upaya menyampaikan langsung produk
kuat menerbitkan buku-buku Sebagian penerbit di Yogyakarta, kepada konsumen. Selain itu penerbit
serupa dalam volume besar dan terutama yang menerbitkan “buku mampu menghapus biaya ekspedisi
menggelontorkannya ke toko-toko alternatif ”, sadar bahwa regulasi toko dan distribusi karena ongkos kirim
buku besar. Penerbit Narasi (Media buku dengan jaringan terbesar di barang ditanggung konsumen.
Pressindo Group) dan Ircisod (Diva Indonesia cukup mempersulit para
Press Group) berada di ranah tersebut. penerbit “buku alernatif ” untuk masuk Yang sekarang sedang dicoba oleh
Sepertinya ada pemahaman yang sama dan menghadirkan produknya di sana. para pelaku bisnis “buku alternatif ”
bahwa sekarang adalah saat yang tepat Ketatnya aturan dan pendeknya masa di pasar non-toko buku besar adalah
untuk memunculkan kembali “buku- pajang (display) di sana membuat para memperbaiki kualitas isi buku. Jejak
buku alternatif ”. penerbit itu enggan memaksakan diri. buruk kualitas isi buku dari para
Dari berbagai eksperimen, rupanya penerbit di Yogyakarta di masa
Gaung “kembalinya buku pasar online dan pasar buku alternatif lampau harus diakhiri. Konsumen
alternatif ” juga dijawab oleh angkatan cukup mampu menyerap buku-buku pun sekarang semakin kritis terhadap
muda Yogyakarta. Sebagian dari hal itu. Para penerbit sadar bahwa
angkatan muda memilih untuk Kita patut memproduksi dalam jumlah terbatas
menerbitkan buku-buku tersebut. mengingat bahwa harus diimbangi dengan konten buku
Di kelompok ini tercatat antara lain kerja perbukuan yang bagus. Jika hal itu tercapai,
penerbit-penerbit bernama Indie yang sedang dan konsumen akan merasa puas. Dengan
Book Corner, I:Boekoe, Octopus, EA akan terus dilakukan demikian penjualan dapat meningkat
Books, Maddah, Oak, Cakrawangsa, dan oplah pun sangat mungkin
Pandega, Warning, Kakatua, para pegiat mengalami kenaikan. Lebih dari itu,
Metabook, Kendi, Sae, Tan Kinera, buku indie pada kualitas isi yang baik pada sebuah
dan sebagainya. dasarnya adalah buku adalah tanggung jawab para
upaya koreksi dan pelaku di dunia perbukuan.
Ada sejumlah hal berbeda pembaharuan atas
dari pergerakan “buku alternatif ” kenyataan dunia Penjualan buku secara umum
di Yogyakarta saat ini. Setidaknya literasi di Indonesia. mungkin terus menurun. Toko-toko
berdasarkan pola pikir dan tindakan buku besar berulang kali mengadakan
para pekerja buku generasi terbaru tersebut. Hal ini yang antara lain bazaar buku murah di pekarangannya.
itu (yang ternyata diikuti oleh tampak dari kesuksesan penjualan via Kios-kios kecil yang menjual buku
generasi sebelumnya). Pertama, social media, juga acara-acara semisal menjerit karena tak ada transaksi
ceruk pasar “buku alternatif ” tidak Pasar Buku Indie 2014, Pesta Buku pembelian oleh konsumen. Namun,
pernah mati. Kedua, memindahkan Jogja 2015, Kampung Buku Jogja selalu ada jalan di setiap himpitan.
“medan pertempuran” dari pasar 2015, dan Pekan Buku Indie 2016. Lubang pasar “buku alternatif ” tetap
buku umum (toko buku jaringan) hidup walau tak besar. Setidaknya
ke pasar buku online dan pasar Transaksi untuk “buku alternatif ” begitulah yang disadari sebagian
buku alternatif (pusat buku bekas, yang dilakukan di pasar online dan pekerja buku di Yogyakarta.
komunitas, bazaar/pameran). Ketiga, pasar alternatif adalah tunai. Penerbit
memangkas jalur panjang distribusi bertemu langsung dengan reseller dan Penerbitan buku-buku
buku yang berbiaya tinggi. Keempat, individu yang membeli produknya. wacana yang berbobot, penyebaran
memperbaiki kualitas isi buku. Hubungan yang bersifat langsung ini isu pendukung produk, dan
lebih menguntungkan penerbit karena pengembangan jaringan pasar
Praktik atas kesadaran bahwa pemotongan harga untuk pembeli jauh alternatif yang terpercaya menjadi
ceruk pasar “buku alternatif ” selalu lebih kecil dibanding via distributor faktor-faktor penting dalam model
hidup adalah dengan melakukan perniagaan “buku alternatif ” saat ini.
produksi secara terukur dan terbatas Kita patut mengingat bahwa kerja
(limited edition). Artinya, oplah perbukuan yang sedang dan akan
cetak buku-buku itu disesuaikan terus dilakukan para pegiat buku indie
dengan jumlah konsumen yang akan pada dasarnya adalah upaya koreksi
membelinya. Teknologi Print-On- dan pembaharuan atas kenyataan
Demand (POD) dan cetak offset dunia literasi di Indonesia. Dalam
terbatas cukup mampu menjadi hal ini percakapan yang akan terjadi
pendukung cara tersebut. Jumlah kemudian pun melampaui sekadar
konsumen pun terukur karena percakapan yang membedakan kerja
penerbit melakukan sistem pre-order perbukuan dalam dua sisi yang
untuk setiap buku yang hendak bertolak punggung: kerja regular
diproduksi. Dalam konteks ini oplah (mainstream) versus kerja indie.
awal produksi dan oplah cetak ulang Artinya, kita harus segera bersepakat
sebuah buku bisa berbeda tergantung bahwa kerja perbukuan adalah
jumlah konsumen yang ingin kerja kebudayaan, siapa pun yang
membelinya, bukan berdasarkan melakukan pekerjaan tersebut.
balkon 21
Edisi Spesial 2016
OPINI
Dekonstruksi Makna
Mahasiswa
oleh: Dendy Raditya Atmosuwito*
Iron stock, agent of change, Kepengaturan Negara pada tidak mungkin dilakukan, mengin-
moral force, dan agen pem- Mahasiswa gat gelombang demokratisasi dan
bangunan adalah sedikit kesadaran akan Hak Asasi Manusia
dari sekian banyak julukan Tadzkia Nurshafira dan Rizky (HAM) di Indonesia yang semakin
yang disematkan kepada Alif Alvian (2015) menunjukan bahwa tinggi. Akhirnya dipilihlah NKK/
Mahasiswa. Pemaknaan mahasiswa secara umum ada dua hal yang di- BKK model baru. Lantas bagaima-
beprestasi yang sering diidenti- harapkan negara pada pemuda (dalam na bentuk NKK/BKK model baru
kan dengan IPK tinggi, menjuarai hal ini mahasiswa). Pertama, pemu- tersebut? Contoh paling jelas adalah
perlombaan, menjadi pemimpin di da diharapkan untuk memperkuat mahalnya Uang Kuliah Tunggal dan
organisasi, sukses menyelenggarakan daya saing negara di ekonomi global. terbitnya Permendikbud No 49 Tahun
event besar, juga sering kita dengar Kedua, pemuda diharapkan menjadi 2014 (Pelaksanaan Permendikbud
bahkan kita percayai. Julukan dan pewaris dari nilai-nilai generasi tua. tersebut akhirnya ditunda) tentang
pemaknaan tersebut tentu saja tidak Yang menjadi pertanyaan sekarang Standar Nasional Perguruan Tinggi
datang dengan sendirinya, semua adalah bagaimana negara membuat yang memaksa mahasiswa lulus dalam
hal tersebut tentu dikonstruksikan mahasiswa mengikuti keinginan mer- jangka waktu maksimal 5 tahun. Jika
kedalam pikiran kita oleh pihak yang eka?. Michel Foucault, seorang filsuf mereka melebihi batas waktu tersebut,
berkepentingan. Lantas siapa pihak Perancis, mengemukakan konsep yang maka mereka akan di-drop out (D.O).
yang berkepentingan itu? Sebelum dinamainya governmentality. Foucault Orientasi para mahasiswa pun mulai
kita jawab pertanyaan tersebut, mari menjelaskan bahwa governmentality berubah menjadi sekadar kegiatan
kita tenggok terlebih dahulu sejarah atau kepengaturan adalah “ensemble kelas; datang, duduk, lalu pulang.
singkat pemaknaan tentang menjadi formed by the institiutions, procedures,
pemuda – yang kemudian berubah anlyses and reflections, the calculations Contoh lain adalah Program
menjadi mahasiswa – di Indonesia. and tactics, that allow the exercise of Kreativitas Mahasiswa dan men-
Hilmar Farid (2011) dalam this very specific albeit complex form of jamurnya event-event yang diselengga-
tulisannya yang berjudul Meronta dan power” (Foucault, 1979). rakan oleh mahasiswa. Kita tentu tak
Berontak: Pemuda dalam Sastra Indo- sulit menemukan peserta PKM yang
nesia menunjukan bahwa pemaknaan Sederhananya, kepengaturan melakukan mark-up anggaran PKM-
menjadi pemuda dan gerakan pemuda adalah sebuah konsep atau boleh nya untuk kepentingan ekonomis. Soal
direpresentasikan berbeda pada setiap juga disebut alat penggiring niat, event, negara lewat agennya – dalam
era. Pada awal abad 20, pemuda di- pembentuk kebiasaan, harapan dan hal ini kampus – gencar mendorong
gambarkan sebagai mereka yang bers- kepercayaan. Berbeda dengan disiplin mahasiswanya untuk menyelengga-
inggungan dekat dengan ‘kemajuan’ yang dilakukan melalui paksaan dan rakan event yang tujuannya tentu
berkat persentuhannya dengan kultur hukuman seperti yang dikatakan oleh saja melatih mahasiswa menarik hati
Eropa. Pada era Orde Baru, pemuda Foucault dalam bukunya tentang para investor menanamkan modalnya
digambarkan sebagai pemberontak. penjara di Prancis, kepengaturan lebih ke acara mereka. Wacana tentang
Keberagaman ini membuat Farid mengacu pada pengontrolan yang mahasiswa sebagai pilar utama bonus
menyimpulkan bahwa tak ada gerakan dilakukan oleh agen modern dengan demografi 2030 – yang juga gencar
pemuda yang sejati. Pemuda adalah tujuan kemaslahatan orang banyak; disosialisasikan – tentu bisa kita
‘floating signifier’ yang tak punya sifat meskipun dalam prakteknya bisa saja masukan dalam bentuk kepengaturan
tetap. Karakternya akan terus berubah dilakukan untuk keuntungan segelitir negara pada mahasiswa.
dari masa ke masa. Tulisan Hilmar orang.
Farid ini juga punya makna tersirat Dekonstruksi: Hal yang Mungkin
bahwa julukan-julukan dan pemak- Contoh konkritnya seperti ini, Bisa Kita Lakukan
naan beprestasi yang melekat pada pada zaman Orde Baru pendisiplinan
mahasiswa sekarang ini bukanlah hal mahasiswa dilakukan dengan program Lantas pertanyaan berikutnya
yang alami, semua itu adalah buatan. Normalisasi Kehidupan Kampus/ adalah, apa yang harus kita lakukan
Pembuatnya tentu saja mereka yang Badan Koordinasi Kemahasiswaan sebagai mahasiswa? Saya tentu tidak
punya kepentingan dan kuasa; Negara. (NKK/BKK). Pada era tersebut NKK- punya wewenang untuk memutuskan
BKK dilaksanakan dengan sistem apa yang harus kita lakukan tetapi
22 pendisiplinan ketat seperti penangka- saya setidaknya punya jawaban untuk
pan aktivis mahasiswa kala itu. Pasca pertanyaan apa yang mungkin bisa kita
Reformasi, tentu saja cara semacam itu
balkon
Edisi Spesial 2016
OPINI
Ilustrasi: Chandra/Balairung
lakukan. Jawaban saya datang dari mahasiswa? Derrida kemudian men- kita lakukan sebagai mahasiswa. Kita
seorang filsuf bahasa, Jacques Derrida. gajukan suatu cara pembacaan untuk bebas memaknai bagaimana menjadi
Bahasa mengandung “makna yang menghilangkan represi sebuah logika mahasiswa. Kita tidak perlu terikat
dianggap benar”. Derrida menyebutn- terhadap logika lainnya yang ada dengan konstruksi mahasiswa harus
ya “keutamaan bahasa”. Bagi Derrida, didalam bahasa. Cara pembacaan itu ini dan harus itu. Kita bebas menjadi
“Keutamaan bahasa” atas tulisan dia sebut dekonstruksi. Dekonstruksi mahasiswa tipe apapun. Mau menjadi
menunjukkan adanya represi sebuah merupakan cara pembacaan yang unik. mahasiswa yang hanya kuliah pulang,
logika terhadap logika yang lain. Le- Derrida beranggapan bahwa pembaca akademisi, aktivis, event organizer dll
wat struktur argumen yang runtut dan bebas memaknai bacaan. Pembaca atau bahkan menjadi semuanya dalam
logis, sebuah logika berusaha menjadi komik Batman bebas memaknai satu waktu sekaligus semua bebas
benar sambil menunjukkan logika lain bahwa sesungguhnya Batman adalah terserah anda. Menarik bukan?
salah. Hal tersebut hanya bisa terjadi penjahat juga karena dia sering main
dengan adanya otoritas atau kewenan- hakim sendiri. Pembaca juga bebas *Mahasiswa Manajemen Kebijakan
gan untuk menentukan makna suatu memaknai bahwa sesungguhnya Joker Publik Fisipol, UGM 2014. Anggota
hal. adalah orang yang baik karena ia selalu Kastrat DEMA FISIPOL 2015
mengungkapnkan the painful truth
Lantas apa hubungannya pe- atau kebenaran yang menyakitkan.
mikiran Derrida tadi dengan hal yang Dekonstruksi lah yang mungkin bisa
mungkin kita bisa lakukan sebagai
23
balkon
Edisi Spesial 2016
APRESIASI
Foto: Lingga/Balairung
Kala Keteguhan Mengekspresikan Ciri Berkarya
Beragam mobil jenis dengan niat tulus dan cinta untuk berkarya. “Pameran ini bukan
sedan, klasik, hingga sport Indonesia,” ujar Nasirun di tengah menandakan Nasirun berhenti
berjajar rapi di bagian sambutannya. Tak lama berselang, berlari, tetapi hanya berhenti sejenak
utara sebuah gedung pameran resmi dibuka bersamaan untuk merayakan persahabatan,” ujar
berornamen matahari. dengan dibukanya pintu utama dan Suwarno.
Mobil-mobil itu tersembunyi di balik dilepaskannya kain putih pada mobil
kain putih. Orang-orang berlalu lalang tadi. Pameran tersebut memamerkan
di muka pintu utama gedung. Pintu karya Nasirun dalam berbagai
utama itu tertutup rapat memancing Pameran tersebut menampilkan medium. Medium yang digunakan
rasa penasaran para pengunjung. berbagai karya Nasirun yang Nasirun mulai dari kanvas dan benda
Sesekali mereka mengintip untuk dikoleksi oleh sahabatnya, Agung terapan seperti mobil, gerobak sapi,
meredakan rasa penasaran. Setelah Tobing. Pameran diadakan tanggal dan globe. Namun menurut Suwarno,
rasa penasaran sedikit terobati, 29 Mei–2 Juni 2016. “Pameran karakter Nasirun tetap melekat pada
mereka kembali menuju kerumunan ini dilangsungkan sebagai bentuk setiap karya yang dihasilkan. “Nasirun
di halaman gedung. Terlihat sebuah persahabatan Nasirun dan Agung yang tetap menggores, menggaris, membuat
dinding bertuliskan “Sportorium telah terjalin selama 20 tahun,” kata ornamen, dan menuang warna-warna
Universitas Muhammadiyah Agung, selaku promotor pameran. seperti pada lukisan di kanvas,” jelas
Yogyakarta” di tengah kerumunan. Agung menambahkan, persiapan yang pria yang pernah menjabat sebagai
diperlukan untuk melangsungkan Wakil Ketua Dewan Kebudayaan
Gedung seluas 20.000 m2 tersebut pameran ini kurang lebih selama dua Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
tengah menjadi tempat perhelatan tahun. Pameran yang diresmikan oleh tersebut.
pameran seni rupa. Sebuah panggung Giok Hartono, Pemilik PT Djarum
di muka gedung di pasang sebagai tersebut, mengusung tema “Run: Di samping itu, pameran ini
tempat perhelatan acara pembuka. Embracing Diversity”. memperlihatkan ciri khas Nasirun
Terlihat sosok dengan baju dan celana dalam berkarya. Salah satu ciri khas
hitam duduk tepat di muka panggung. Menurut Kurator pameran, Nasirun dalam setiap karyanya adalah
Sosok itu adalah Nasirun, seniman Suwarno Wisetrotomo, kata Run corak wayang. Corak wayang bermula
dari semua karya yang terpajang memiliki dua makna. “Run merupakan dari kecintaan Nasirun terhadap
di pameran ini. Lelaki berambut panggilan Nasirun dan dalam Bahasa pertunjukan wayang kulit dan roman
panjang dengan jenggot dipelintir Inggris yang berarti berlari,” jelas wayang yang menarik. “Wayang
tersebut naik ke atas panggung untuk Suwarno yang berprofesi sebagai merupakan tontonan yang banyak
menyampaikan sambutan kepada Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) mengandung pesan dan menghadirkan
penonton yang hadir. “Pameran ini Yogyakarta. Suwarno menjelaskan berbagai karakter manusia,” imbuh
bertujuan merayakan kebersamaan, bahwa makna kata berlari merujuk Nasirun.
pada produktivitas Nasirun dalam
24 balkon
Edisi Spesial 2016
APRESIASI
Nasirun memperlihatkan corak Foto: Lingga/Balairung
wayang pada berbagai karya. Dalam
karya “Spirit of Wayang” misalnya, Setiap seniman memiliki ciri khas dalam berkarya,
Nasirun memperlihatkan karakter baik dari segi corak, warna, bentuk, maupun
wayang yang tradisional bersinergi medium. Begitu pun Nasirun, melalui pameran yang
dengan mobil yang modern. Karya bertajuk “Run: Embracing Diversity”, ia memamerkan
tersebut berupa mobil-mobil dengan karya berciri khas corak wayang dan naga
corak wayang yang diparkir di depan dengan paduan warna kontras. Karya itu lahir
gedung tadi. Nasirun melukis corak berkat keteguhan Nasirun dalam menekuni
wayang pada bagian body mobil profesinya.
layaknya melukis pada kanvas.
berbeda. Di dalam pagupon terdapat untuk menggambarkan luapan
Corak wayang juga ditonjolkan patung Budha berwarna emas. Patung kemarahannya terhadap kebakaran
oleh Nasirun dalam karya “The Budha di masing-masing pagupon hutan di Kalimantan.
Story of Buraq” dan “Perjalanan memiliki bentuk mudra yang berbeda.
Para Kesatria”. Kedua karya tersebut Tidak hanya dalam bentuk patung, Lukisan tersebut memperlihatkan
bercerita tentang perjalanan hidup Budha juga terlihat dalam corak bahwa pameran ini tidak hanya
manusia. Agung mengatakan karya karya bersama dengan corak bunga, terbatas pada ciri khas Nasirun semata.
tersebut mengandung makna tentang daun, dan matahari. Karya tersebut Kreativitas dalam menciptakan karya
perjalanan hidup manusia yang akan merupakan karya eksklusif yang seni rupa menjadi kunci Nasirun
selalu berubah setiap saat. Kedua karya pernah ditampilkan dalam pameran dalam mengembangkan keseniannya.
tersebut berupa gerobak sapi terbuat Mizuma Gallery, Tokyo, Jepang pada “Pameran ini menunjukkan
dari kayu yang bercorak wayang di tahun 2014. bahwa keteguhan seorang Nasirun
bagian permukaan badan gerobak. menjalani profesinya sebagai seorang
Dalam karya “The Story of Buraq”, Di dalam pameran ini terdapat pelukis,” jelas Suwarno. Pria lulusan
terdapat dua patung kuda yang karya eksklusif lain berupa lukisan pascasarjana di Universitas Gadjah
memiliki rupa seorang perempuan dan aliran abstrak. Karya bernama Mada tersebut menambahkan Nasirun
berada di sebelah timur pintu utama. “Abstraksi Hutan Terluka” tersebut memiliki totalitas dalam menekuni
Sedangkan dalam karya “Perjalanan dipajang di setiap dinding dalam profesinya sebagai seorang pelukis.
Para Kesatria”, terdapat berbagai ruangan pameran. Karya tersebut
patung berwajah Nasirun yang terletak dipamerkan dalam berbagai ukuran, Totalitas Nasirun yang
di sebelah barat pintu utama. mulai dari yang terkecil dengan diekspresikan dalam bentuk pameran
ukuran 280 x 380 cm hingga yang ini mendapat apresiasi oleh para
Ciri khas lain dari karya Nasirun terbesar mencapai luas 15 m2. Karya penikmatnya, seperti Suciati Umanah,
adalah corak naga. Inspirasi corak ini pernah dipamerkan di Green alumnus ISI Yogyakarta. Menurut
ini muncul ketika Nasirun bersama Art Space Greenhost Boutique Suci, karya Nasirun mempunyai
Agung berwisata ke makam Dinasti Hotel Yogyakarta, pada akhir kelebihan pada kombinasi warna yang
Ming di Museum Terakota Ming tahun 2015. Goresan warna merah bagus. “Karya dari Nasirun meskipun
Tomb, Republik Rakyat Tiongkok. mendominasi lukisan menyiratkan hanya goresan, tetapi memiliki makna
Nasirun menampilkan corak naga api membara yang melanda hutan. dan menunjukkan bahwa dia mengerti
dalam tiga karya, yaitu “Dragon Melalui karya ini, Nasirun mencoba tentang seni,” imbuh Suci. [Fadilla,
Fantacy”, “King, Queen, and Globe”, Isnaen]
dan “Spirit of The Dragon”. Dalam
karya “Dragon Fantacy”, Nasirun 25
menggunakan meja sebagai medium
untuk melukis corak naga yang
diletakkan di tengah ruang pameran.
Kemudian di panggung utama dalam
gedung, terdapat patung ukiran naga
bernama “King, Queen, and Globe”.
Di bagian utara karya “King, Queen,
and Globe”, terpajang karya “Spirit
of The Dragon” yang berupa perahu
kayu kuno bercorak naga. Ketiga karya
tersebut memadukan warna-warna
kontras.
Bagian utara karya “Spirit of The
Dragon”, Nasirun menampilkan karya
instalansi bernama “Imaji Borobudur”.
Karya tersebut berupa susunan
pagupon (rumah merpati) yang
disusun menyerupai bentuk candi.
Setiap pagupon memiliki warna yang
balkon
Edisi Spesial 2016
POTRET
Taman Bacaan : Bertahan
COVERdalam Ketersisihan
POTRETTaman bacaan merupakan sebuah tempat penyewaan buku-
buku seperti komik, novel, beberapa pengetahuan umum, dan
terkadang buku-buku sejarah dalam bentuk komik. Dewasa ini,
peminat taman bacaan di Yogyakarta mengalami penurunan.
Hal ini dikarenakan munculnya media daring yang memudahkan
orang-orang untuk membaca secara gratis. Tetapi, sekalipun
kurang diminati, masih ada beberapa taman bacaan yang ma-
sih eksis di Yogyakarta. Salah satunya adalah Taman Bacaan
Rizky. [Vita]
FOTOGRAFER : RESTU
aman Bacaan Rizky
merupakan sebuah
tempat persewaan
Tbuku yang berdiri pada
tahun 1998. Alasan utama tempat
ini didirikan adalah minimnya
taman bacaan yang dapat memenuhi
kebutuhan pembaca akan buku.
Ditambah lagi, latar belakang pendiri
sebagai seorang pecinta buku juga
turut mendorong berdirinya taman
bacaan yang terletak pada Jalan
Ringroad Utara ini. Taman Bacaan
Rizky menyewakan berbagai jenis
buku seperti pengetahuan populer,
komik dan novel. Untuk meminjam
buku-buku tersebut, pembaca harus
mendaftar sebagai anggota dari
Taman Bacaan Rizky terlebih dahulu.
Mayoritas anggotanya adalah para
mahasiswa yang memiliki hobi
membaca. Saat ini aman Bacaan Rizky
mencoba bertahan di tengah gempuran
arus informasi yang kini dapat diakses
hanya dari genggaman tangan saja.
[Bernard]
SOSOK
Seni Meracik Desa
Ala Sarjana Farmasi
Foto: Vita/BALAIRUNG Hamparan sawah prestasi. Dialah tokoh di balik
lengkap dengan sosok kesuksesan desa Panggungharjo,
Tidak hanya orang-orangan yang kecamatan Sewon, kabupaten Bantul,
material obat terbuat dari jerami Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga
yang harus diracik turut menyambut di berhasil mengantongi berbagai
dengan tepat gerbang desa Panggungharjo Minggu penghargaan baik tingkat daerah
agar menjadi obat (12/6). Jalan desa yang sempit dan maupun nasional. Di antaranya,
yang mujarab, berkelok-kelok tidak banyak dilalui juara satu Perlombaan Desa
mengelola kendaraan sore itu. Hanya terlihat Tingkat Nasional yang diadakan
masyarakat juga beberapa anak kecil sedang bermain oleh Kementrian Dalam Negeri
demikian. dan sekumpulan ibu-ibu yang tahun 2014. Pada tahun yang sama,
bercengkrama di halaman rumah. Komisi Pemberantasan Korupsi juga
32 Tibalah di depan rumah berwarna menganugerahkan penghargaan
jingga dengan ruang tamu berukuran sebagai Desa Model Anti Korupsi
sekitar tiga kali dua setengah meter. kepada desa Panggungharjo.
Seorang pria langsung menyambut
dengan ramah. “Monggo-monggo Pria sederhana nan bersahaja
Mas, Mbak. Bagaimana, ada agenda ini merupakan anak terakhir dari
apa ini,” sambut pria berperawakan delapan bersaudara. Bapak dan ibunya
kurus tersebut. Ia adalah Wahyudi masing-masing berprofesi sebagai
Anggoro Hadi, atau kerap dikenal pegawai negeri sipil dan pedagang
sebagai Pak lurah Wahyudi. pasar. Lahir dalam keluarga dengan
jumlah anggota yang besar, membuat
Di balik perawakannya, lurah kehidupan ekonomi keluarganya
Wahyudi ternyata menyimpan banyak terbilang pas-pasan. Bahkan hingga
balkon
Edisi Spesial 2016
SOSOK
kelas enam Sekolah Dasar, Wahyudi mengandalkan pendekatan masyarakat desa. Mulanya di tingkat daerah,
kecil hanya mempunyai satu pasang serta program yang telah disusun. Di kemudian melesat menjadi juara di
seragam sekolah untuk ia kenakan. luar dugaan Wahyudi berhasil terpilih tingkat nasional.
”Saya cuma punya satu seragam, itu menjadi kepala desa. Baginya, kaidah Bagi Wahyudi penghargaan itu
pun bagian celananya berlubang,” umum seni meracik dalam ilmu sekedar momentum peningkatan
paparnya. Namun, tidak terlihat farmasi tidak berlaku hanya untuk partisipasi, kesadaran bersama dan
kekecewaan atau rasa sedih atas material obat. Pengelolaan masyarakat kepercayaan warga desa. Ia juga
kondisi masa lalunya. Sebaliknya, dan pemerintahan dibutuhkan pula berhasil menyelesaikan masalah
keadaan itu justru menjadi seni meracik yang tepat. birokrasi desa yang dinilai berbelit dan
penyemangat bagi Wahyudi untuk Selain itu, keikutsertaanya koruptif. Kesuksesannya didukung
melakukan perubahan dan inovasi. dalam pemilihan kepala desa bukan dengan adanya lembaga-lembaga desa
Wahyudi mengakui, sikap didasari pertimbangan menang atau seperti, Badan Usaha Milik Desa, pos-
kepemimpinannya didapatkan dari kalah. Tetapi ia ingin memberikan pos pelayanan bantuan hukum dan
sang Bapak. ”Bapak saya orang yang pendidikan politik yang baik. Hak Asasi Manusia, pos pelayanan
demokratis, beliau tidak pernah “Selama ini pemilihan di tingkat bantuan kesehatan, dan sebagainya.
memberikan batasan terhadap daerah selalu dimonopoli dengan Hal ini, bertujuan untuk melindungi
pilihan hidup anaknya,” uangkapnya. politik modal. Itu coba saya lawan masyarakat yang rentan secara
Sikap demokratis dari keluarga dengan memberi alternatif yang ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan
itulah yang memberinya celah berbeda,” jelasnya singkat. ketahanan pangan. “Menurut saya,
untuk maju. Kebebasan berkreasi
dan menentukan masa depan
yang diberikan sang Bapak tidak “Kunci dari pemerintahan yang baik adalah
menjadikannya lepas kendali. Ia tetap
mempertanggungjawabkan pilihannya. tingkat kepercayaan masyarakat kepada
Itulah yang menjadi rujukan dan
panutan Wahyudi dalam bersikap, pemerintahnya tinggi”
bahkan hingga sekarang.
Alumnus Fakultas Farmasi
Universitas Gadjah Mada ini -Wahyudi Anggoro Hadi
semasa kuliah aktif dalam berbagai
keorganisasian. “Saya dulu di
Pergerakan Mahasiswa Islam Di awal jabatannya Wahyudi daripada pembangunan infrastruktur,
Indonesia, untuk intra saya juga mengalami banyak hambatan. Baik masyarakat lebih membutuhkan
ambil bagian di Senat Mahasiswa,” yang berasal dari kalangan perangkat pemenuhan hak-hak dasar,” jelasnya.
ungkapnya. Pergolakan sebelum dan desa maupun warga yang tidak puas Fokus pada hak-hak dasar
sesudah reformasi menyeretnya untuk atas terpilihnya dia sebagai kepala masyarakat, desa Panggungharjo
mengesampingkan perkuliahan formal desa. Akibatnya program-program melakukan beberapa inovasi.
di kelas. Alhasil, waktu kuliahnya yang ia buat terlantar dan banyak Salah satunya berkerjasama
hingga sebelas tahun, terhitung sejak diabaikan. Tidak putus asa, ia mencoba dengan perusahaan asuransi untuk
tahun 1997 hingga mendapat gelar mebangun kesadaran bersama mengadakan jaminan kesehatan bagi
sarjana farmasi pada tahun 2008. dengan berusaha menjadikan dirinya masyarakat. Uniknya program tersebut
Pria kelahiran 14 Juli 1979 ini sendiri teladan bagi masyarakat. sudah berjalan sebelum Jokowi
mengaku sempat terancam drop “Di awal jabatan saya masih sempat memberlakukan Kartu Indonesia
out (DO) dari UGM. Berdasarkan membersihkan toilet, serta membuka Sehat. “Kalau ada wanita hamil dan
kesamaan nasib, ia dan teman-temanya dan menutup pintu kantor sendiri tidak punya biaya, cukup antar saja ke
mendirikan Keluarga DO Gadjah setiap harinya,” tuturnya. kantor desa dan akan dibantu hingga
Mada. Semacam gerakan untuk Usahanya tidak sia-sia, lambat- pesalinan,” ujarnya bersemangat.
membantu mahasiswa yang terancam laun kesadaran kolektif mulai Wahyudi juga mengingatkan
DO agar segera lulus. Sayangnya terbangun, partisipasi meningkat, bahwa keberhasilan pemerintah itu
gerakan tersebut tidak terdengar lagi program-program desa mulai berbanding lurus dengan tingkat
kiprahnya hingga saat ini. Semua lika- berjalan, dan konflik pun sudah kepercayaan masyarakat. “Kunci dari
liku kehidupan kuliah tidak ia sesali, tidak dirasakan lagi. Sampai tahun pemerintahan yang baik adalah tingkat
justru pengalaman tersebut turut andil 2014 Panggungharjo dan kepala kepercayaan masyarakat kepada
dalam kesuksessannya saat ini. desanya menerima penghargaan dari pemerintahnya tinggi,” paparnya.
Walaupun berlatar belakang Kementrian Dalam Negeri sebagai Oleh karena itu Wahyudi bertekat
seorang sarjana farmasi yang desa terbaik dalam delapan aspek untuk terus menjadi teladan dan
nyaris di DO, pada tahun 2012 penilaian. Meliputi, pemerintahan, pelopor kepercayaan warga terhadap
Wahyudi membulatkan tekat untuk tingkat kesehatan, keamanan, pemerintah desa. Diharapkan
mencalonkan diri sebagai kepala desa kesejahteraan, ketertiban, partisipasi program-program desa akan berjalan
di tanah kelahirannya, Panggungharjo. warga, peran perempuan, kelembagaan dan hak-hak dasar masyarakat
Berbekal dana yang sedikit, dan hanya desa. Mulanya di tingkat daerah, terpenuhi. [Thovan, Yuni]
balkon 33
Edisi Spesial 2016
REHAL Foto: Puput/Balairung
Dinamika Kelas Menengah
dalam Sejarah Indonesia
Kolonialisasi Belanda di Penjajahan seharusnya kota menengah yang disebut juga
Nusantara membawa menimbulkan persamaan rasa kelas menengah.
banyak perubahan sesama pribumi. Sayangnya,
terlepas dari baik Keberadaan kota menengah
maupun buruknya kesadaran akan perasaan inilah yang coba didedah oleh
kehadirannya. Salah satu peran senasib itu tidak tumbuh Klinken melalui bukunya yang
Belanda yang paling berdampak dalam elite-elite kecil ini. berjudul The Making of Middle
pada negeri ini adalah penetapan Indonesia. Kota menengah dalam
Batavia-sekarang Jakarta- sebagai ke-19. Sehingga Jawa dapat disebut konteks ini adalah kota-kota
ibukota Hindia Belanda. Kala sebagai wilayah inti nusantara. yang tersebar di tiap-tiap pulau
itu, Batavia selain sebagai pusat Menurut Graeme Hugo, ahli luar Jawa. Dibanding daerah
administrasi pemerintahan kolonial geografi asal Australia, suatu daerah sekitarnya hingga perbatasan
juga menjadi pusat perdagangan dapat dikatakan sebagai wilayah atau periferi, kota menengah
rempah-rempah untuk memudahkan inti bila memenuhi syarat-syarat setidaknya lebih terbangun.
transaksi. Namun jika dilihat dari sebagai berikut ini: perekonomian Perekonomiannya jelas lebih
sisi lain, penetapan Batavia sebagai modern, menjalankan fungsi-fungsi modern dan fasilitas publik yang
ibukota Hindia Belanda melahirkan administrasi yang berpengaruh pada memadai daripada periferi. Kota
suatu kesenjangan dan suatu istilah bagian-bagian lain negeri itu, serta menengah juga yang mewakili
Jawa dan Luar Jawa. Sehingga mempunyai fasilitas yang mumpuni administrasi pemerintahan bagi
secara tidak langsung pemusatan ini seperti universitas, penerbangan, daerah sekitarnya. Sehingga
mempengaruhi pembagian tatanan dan sebagainya. Persyaratan tersebut dapat disimpulkan mereka adalah
kelas sosial, atas, menengah, dan sudah dipenuhi oleh Jawa. Sedangkan wilayah inti yang merangkul
bawah. pembangunan daerah-daerah di luar daerah-daerah terpelosok di
Jawa hanya diwakili kota provinsi atau sekitarnya.
Pertumbuhan di Jawa menjadi
semakin intens berkat Batavia. Dalam menguraikan peran-
Bahkan Jawa adalah satu-satunya peran kota menengah, Klinken
pulau di Nusantara yang mempunyai mengambil Kupang sebagai
transportasi kereta api di abad sampelnya karena ia merasa kota
inilah yang paling cocok. Kupang
34
balkon
Edisi Spesial 2016
REHAL
berada di pulau Timor sehingga pada INFORMASI TERKAIT BUKU
masa kolonial alur perdagangan dari
nusantara bagian Timur menuju ke Judul:
kota ini. Sisi lain Kupang ini yang The Making Of Middle Indonesia: Kelas Menengah di
menjelaskan bahwa kelas menengah Kota Kupang, 1930 an - 1980 an
juga memegang peranan kunci bagi Penulis: Gerry Van Klinken
kesatuan Indonesia. Di masa Hindia Penerjemah: Masri Maris
Belanda, Kupang dapat diibaratkan Penerbit: Obor
seperti pos pantau bagi pemerintah Tebal Buku: xx + 373
kolonial. Belanda meletakkan Tahun Terbit: 2014
kroni-kroninya di Kupang agar
daerah periferi terjangkau dan untuk bagi Klinken untuk mengartikan guncangan ideologi. Ia ditugaskan
memastikan jalinan antara pusat kelas-kelas yang tidak jelas posisinya. untuk membersihkan Kupang dan
dan daerah tetap terjaga. Namun Mereka yang tergabung dalam petty pemerintahannya dari para terduga
jika dilihat dari wilayah-wilayah bourgeoisie mengeksploitasi kelas komunis. Kepemimpinan El Tari
penyangga tanah Timor tersebut, yang lebih kecil, tetapi di sisi yang lain banyak merugikan rakyat Kupang.
Kupang adalah gerbang menuju ke mereka sekaligus menjadi tenaga kerja Terbukti oleh proyek-proyek
dunia yang lebih modern yaitu Jawa. bagi kelas yang lebih tinggi. pembangunan sekolah dan jalan
yang seharusnya menjadi penunjang
Perjalanan Kupang untuk menjadi Konsep ini terjadi di Indonesia kesejahteraan rakyat Kupang,
kota menengah dimulai di abad ke-17 sebagai akibat dari doktrin bangsa tetapi terbengkalai begitu saja. Para
kala VOC datang. Di tahun 1886, Belanda yang menganggap pribumi pekerjanya pun mayoritas para petani
telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai liyan (bukan segolongan yang dipaksa meninggalkan mata
kolonial mengenai batas-batas dengan mereka). Kemudian berlanjut pencahariannya.
wilayah Kupang dan para elite-elite menjadi sebuah kesenjangan antara
kecil ditempatkan di sini. Elite-elite pihak penguasa dan yang dikuasai. Klinken membuka pikiran kita
kecil ditugaskan untuk mengatur Seharusnya keadaan seperti itu mengenai adanya kelas menengah
jaringan perdagangan di wilayah itu. dapat menimbulkan kesamaan nasib di Indonesia. Buku yang awalnya
Kupang melakukan perdagangan pribumi di wilayah-wilayah Nusantara. merupakan tesis dari Klinken ini
rempah-rempah dengan VOC namun Namun, tidak semua pribumi mengambil permasalahan yang jarang
perdagangan yang mereka lakukan memiliki kesadaran tentang kesamaan disoroti, khususnya di Indonesia
lebih kecil dibanding perdagangan nasib sebagai kaum yang terjajah. sendiri. Kehadiran kelas menengah
di Jawa. Sehingga tidak akan mampu Contohnya adalah elite-elite kecil di sering dikesampingkan karena
menyokong perkembangan Kupang. kota menengah. dianggap tidak banyak mempengaruhi
Akibatnya, Kupang bergantung pada dan berperan dalam alur sejarah.
insentif-insentif dari pusat. Kesadaran elite-elite menengah Klinken mencoba menguraikan peran
akan perasaan senasib sebagai pribumi kelas menengah dan mematahkan
Selain itu juga, pembangunan tidak terbangun. Elite-elite menengah konsep sejarah yang monoton
kota-kota provinsi yang dilakukan oleh itu tidak banyak berperan sebagai mengisahkan peristiwa di Jawa. Selain
pusat bertujuan agar arus kedatangan broker untuk rakyat kecil melainkan itu dirinya juga memberikan data-data
masyarakat desa ke kota-kota besar hanya mengejar rente dari jabatan yang mendukung mengenai persoalan
di Jawa tidak melonjak. Sehingga mereka. Dari awal mereka telah kelas menengah. Sayangnya, struktur
nantinya tidak ada kekhawatiran dari mengabdikan diri pada pusat. Sebab kalimat dalam buku ini agak sulit
pusat akan adanya pemberontakan. loyalitas mereka menentukan seberapa dipahami mengingat buku ini adalah
Di sinilah peran elite-elite kecil besar kucuran dana yang akan buku terjemahan.
tersebut terlihat. Para elite kecil diterima. Mereka tidak benar-benar
tersebut memantau dan mengatur berbaur dengan rakyat dan akhirnya Alur pemikiran Klinken membawa
keuangan pembangunan di daerahnya. tidak turut mengalami apa yang kita pada perspektif lain dalam
Namun, peran tersebut bergantung dialami rakyat. dinamika perkembangan sejarah
pada mereka sendiri, apakah untuk Indonesia. Tak hanya itu, gagasannya
memediasi kepentingan rakyat-rakyat Bukti jelas dari adanya golongan dapat digunakan sebagai sumber
kecil atau untuk kepentingan mereka petty bourgeoisie di Kupang adalah referensi pembanding untuk mengkaji
sendiri. pemerintahan Gubernur Kupang mengenai kota-kota provinsi di luar
periode 1966, Brigadir Jenderal El Jawa. Sehingga pembaca mempunyai
Klinken menggunakan pandangan Tari. Tari, seorang perwira militer landasan lain dalam menganalisis
seorang ekonom asal Polandia, Michal yang loyal, ditugaskan pusat untuk permasalahan kelas sosial di Indonesia.
Kalecki, dalam menginterpretasikan menjadi Gubernur Kupang ketika di [Anisa, Kenny]
keberadaan elite-elite menengah itu. tahun 1966 Jawa sedang mengalami
Kalecki berpendapat mengenai konsep
petty bourgeoisie milik Lenin yaitu 35
bahwa elite-elite kecil tersebut tidak
dapat dimasukan ke dalam pola dua-
kelas Marx, kapitalis versus pekerja.
Konsep non-polar dirasa lebih cocok
balkon
Edisi Spesial 2016
EUREKA
Himag, Geliat Interaksi Gay dalam
Kampus
Geliat persoalan hubungan Himpunan mahasiswa gay, sebuah ikatan
sesama jenis merupakan permas- antar mahasiswa gay dalam lingkup akade-
alahan pelik yang hingga kini belum mis. Interaksi dan komunikasi terjalin menja-
diketemukan titik terangnya. Walau- di oase ditengah-tengah perlakuan diskrim-
pun beberapa negara seperti Amerika inasi dan intoleransi yang kerap kali terjadi
misalnya telah melegalkan hubungan
sesama jenis sejak pertengahan Juni terhadap mereka.
2015 lalu, dilain pihak masih banyak
yang mempertentangkan kebijakan ini. culnya Lembaga Swadaya Masyarakat pada dasarnya sama dengan komu-
Mereka yang berkeyakinan demikian (LSM) yang berfokus pada persoa- nitas gay yang lainnya. Namun yang
beranggapan bahwa permasalahan lan LGBT merupakan upaya dalam menjadi pembeda adalah identifikasi
homoseksual bukan hanya perihal memberikan edukasi, konseling, serta anggota yakni mahasiswa dan keresa-
pembuktian ilmiah terkait normal atau advokasi terkait hak -hak mereka. Di han atas banyaknya patron komunitas
tidak normal, melainkan pertentangan Yogyakarta sendiri LSM-LSM ini gay sebatas pada obral seks saja.
dengan nilai-nilai kepercayaan yang mulai bermunculan pada tahun 2006
mereka anut. sebagai akibat dari munculnya Yogya- Dengan melakukan serang-
karta Principles. Melalui kesepahaman kaian wawancara mendalam terhadap
Perlakuan diskriminatif dan ini lahirlah kesepahaman HAM dan lima informan, didapatkan kesimpulan
intoleransi terhadap kaum LGBT anti tindak kekerasan dalam rangka bahwa keterlibatan mahasiswa gay da-
seringkali timbul lantaran ketidak pemenuhan hak-hak LGBT. PLUSH lam himpunan tersebut dilatarbelakan-
pahaman masyarakat akan pemba- kepanjangan dari People Like Us gi oleh kesamaan sentimen. Dalam
gian kerja seksual atau gender. Dalam Satu Hati, merupakan salah satu dari lingkungan akademik seperti universi-
praktiknya masyarakat seringkali LSM yang bergerak dalam edukasi, tas sekalipun kerap kali terjadi perilaku
mempadupadankan istilah gender advokasi, dan pengorganisasian LGBT intoleransi, seperti tindakan bullying
dengan seksualitas, padahal keduanya di Yogyakarta. dan pengucilan. Tindakan tersebut
memiliki arti yang berbeda. Gender mengakibatkan mahasiswa gay kurang
lebih mengarah kepada kontruksi so- Salah satu yang menjadi fokus mendapatkan ruang untuk berekspresi
sial dan budaya, sedangkan seksualitas pengorganisasianya adalah himpunan serta berkomunikasi antar sesama gay.
berupa jenis kelamin yang merupakan mahasiswa LGBT atau HIMAG. Adanya kesamaan sentimen diskrim-
bawaan dari lahir. Termasuk ketertari- Penelitian terkait dengan interaksi, inasi dan kebutuhan akan berekspresi
kan seseorang terhadap sesama atau komunikasi, keorganisasian serta inilah yang membuat HIMAG hadir
berbeda jenis pun termasuk dalam identitas himpunan mahasiswa gay ini sebagai sarana interaksi dan komuni-
kontruksi sosial. pernah dilakukan oleh Muhammad kasi antar sesama mahasiswa gay.
Dany Nugraha, mahasiswa Antro-
Gay atau homoseksualitas da- pologi Universitas Gadjah Mada. Dalam teorinya, Rogers &
lam Suryasukmana (1991) merupakan Salah satu yang menjadi fokus pada D. Lawrence Kincaid memaparkan
orientasi seksual yang mengacu pada penelitian skripsinya itu terkait dengan bahwa komunikasi adalah suatu proses
ketertarikan secara emosional dan sek- alasan mahasiswa bergabung dalam pertukaran informasi antara dua orang
sual kepada sesama jenis baik laki-laki himpunan ini. Sifat himpunan yang atau lebih yang pada gilirannya saling
maupun perempuan. Orientasi seks masih tertutup dan banyak orang memberikan pengertian yang men-
ini termasuk dalam bahasan mengenai tidak mengetahui akan keberadaanya dalam. Begitupula dengan HIMAG
gender dan seksualitas, yang mencakup membuat himpunan ini menjadi unik yang mulai menggunakan media
seluruh kepribadian, sikap atau watak untuk diteliti. sosial sebagai media komunikasinya.
sosial yang berkaitan dengan perilaku Facebook dan Line merupakan dua
seks dan orientasi seksual. Masyarakat Melalui studi etnografi , Dany media berbasis online yang menjadi
yang pada umumnya menganut het- berusaha membahas fenomena mun- sarana komunikasi antar anggota
eroseksual menjadi alasan penolakan culnya komunitas gay dalam tatanan ditengah-tengah kesibukan kegiatan
terhadap identitas tersebut. Penolakan kehidupan mahasiswa yakni HIMAG. perkuliahan.
tersebut dapat berupa pemberian stig- Komunitas yang dibentuk oleh Koko,
ma, tindakan diskriminatif dan bahkan salah satu mahasiswa di Yogyakarta, Dalam skripsinya dipaparkan
sering kali menimbulkan konflik yang pula terdapat dua pola komunikasi
berujung pada kekerasan.
balkon
Pendiskriminasian kepada
kaum LGBT, mendesak mereka untuk Edisi Spesial 2016
bersatu dan saling melindungi. Mun-
36
EUREKA
ILUSTRASI : CHANDRA diskriminatif seringkali merampas hak nya, yang berfungsi sebagai wadah
kaum LGBT utamanya hak dalam untuk berkomunikasi dan berinteraksi
yang berbeda antara dua aplikasi berekspresi dan mengakses ruang pub- khusnya antar mahasiswa gay. Oleh
media sosial tersebut. Komunikasi lik. Dalam teorinya mengenai Public karenanya berbagai kegiatan kumpul
yang dijalin oleh sesama anggota Space, Habermas, menyatakan seha- baik online maupun dalam kegiatan
melalui Facebook biasanya lebih serius rusnya ruang publik dapat menjadi kopi darat seringkali diadakan sebagai
dibandingkan dengan Line, seperti suatu realitas dalam kehidupan sosial upaya dalam menjalin interaksi dan
diskusi ringan terkait dengan isu sehingga terdapat suatu proses per- komunikasi yang berkelanjutan
gender dan informasi kesehatan terkait tukaran informasi dan berujung pada
dengan LGBT. Penggunaan Line terciptanya pendapat umum. Adanya Dalam penelitian lebih bijak
cenderung digunakan sekedar untuk hambatan dari pihak penentang, apabila peneliti memaparkan pandan-
melakukan obrolan singkat. seringkali menutup proses pertukaran gan orang luar terhadap organisasi ini.
informasi sehingga seringkali terjadi Melalui wawancara mendalam terh-
Tidak hanya sebatas berdiskusi konflik yang dapat berujung pada adap orang-orang diluar himpunan
dan memberikan informasi, HIMAG kekerasan. tersebut kita dapat mengetahui apa
juga memiliki agenda gathering. Hal yang menjadi pemikiran mahasiswa
tersebut dilakukan untuk merperluas Proses pertukaran informasi terhadap isu LGBT. Diharapkan hal
cakupan interaksi yang tidak terbatas yang dilakukan kelompok dan organ- tersebut bisa menjadi masukan bagi
pada kegiatan online. Harapannya isasi pegiat LGBT sendiri ditujukan bergeraknya himpunan ini. [Matheus,
membuka ruang interaksi sosial baru. pada hal-hal yang bersifat positif. Arif ]
Gathering merupakan salah satu Selain itu himpunan ini pun berper-
agenda yang rutin dilakasanakan oleh an sebagai sarana untuk berekspresi 37
HIMAG. dan menjalin relasi ditengah-ten-
gah kehidupan sosial mereka yang
Dalam skripsi tersebut seringkali mendapatkan perlakuan
dipaparkan pula bahwa pola organi- diskriminatif dari lingkungannya.
sasi ini cenderung tertutup, mengapa Dari segi pengorganisasian himpunan
demikian? Maraknya kasus pembuba- inipun selayaknya himpunan atau
ran kegiatan dan organisasi LGBT organisasi mahasiswa pada umum-
menjadi salah satu alasan tertutupnya
organisasi ini. Perlakuan intoleran dan
balkon
Edisi Spesial 2016
NALAR
Teknologi Lawan
Kutukan Tak Bisa Bergerak
Ilustrasi: Celli/Balairung Sejak dahulu, lumpuh sudah
dianggap sebagai musibah
Kelumpuhan bukan berarti membuat bagi manusia. Berbagai
manusia hanya menjadi mayat hidup legenda rakyat menjadikan
kelumpuhan sebagai objek
yang hanya berdiam diri. kutukan. Misalnya saja legenda batu
Teknologi berusaha melawan itu. kuwung, Banten, yang menceritakan
tentang seorang raja yang sewenang-
38 wenang dan kemudian dikutuk
menjadi lumpuh oleh seorang sakti.
Atas sebab tersebut, manusia
sedari dulu selalu mencari cara untuk
mengatasi kelumpuhan. Dahulu
misalnya, manusia menangani
kelumpuhkan menggunakan mantra-
mantra yang dibacakan oleh orang
sakti mandraguna. Namun seiring
dengan berkembangnya teknologi,
cara-cara yang tidak rasional mulai
ditinggalkan. Ilmu pengetahuan
mencari inovasi untuk menciptakan
teknologi yang mudah bagi penderita
kelumpuhan.
Lumpuh sendiri pada dasarnya
terjadi karena kerusakan pada sel
syaraf. Padahal, sel syaraf merupakan
penghubung antara organ dengan otak,
maupun sebaliknya. Sementara itu
tidak seperti sel lainnya, sel syaraf tidak
mampu beregenerasi, membuatnya
tidak dapat berfungsi seperti semula.
Melihat sulitnya penderita
kelumpuhan dalam melakukan
aktivitasnya, teknologi muncul untuk
membantu. Misalnya saja, Novel Brain
yang menggunakan sistem berbasis
electroencephalogram (EEG) dan tangan
bionik.
Teknologi Novel Brain diciptakan
oleh beberapa orang di University
of California yang dipimpin oleh
balkon
Edisi Spesial 2016
NALAR
insinyur biomedis, Zoran Nenadic ujar beliau. Sri Brocoli. Karena, gelombang yang
dan ahli syaraf, An Do. Pada novel dihasilkan oleh otot lebih stabil
brain, sistem EEG mengirimkan Penyebab lumpuh yang dibandingkan gelombang otak yang
sinyal listrik dari otak. Sehingga saat bermacam-macam menjadikan bermacam-macam seperti teta, lamda,
pasien memikirkan sebuah gerakan terapi penyembuhan juga tidak dll.”, menurut Fatimah. Namun tidak
di kakinya, sinyal tersebut akan sama. Misalnya, kelumpuhan pada seperti penemuan sebelumnya, alat ini
diteruskan pada elektroda yang di penderita stroke yang terkena masalah hanya bisa digunakan bagi penderita
tempatkan di sekitar bagian lutut. di sistem syaraf pusat. Kerusakan kelumpuhan sebagian kerena sensor
Hal inilah yang kemudian memicu tersebut menyebabkan penderita otot berkerja di bagian tubuh yang
pergerakan di otot kaki. Dr. Ginus stroke tidak bisa terbantu dengan alat tidak lumpuh.
Partadiredja dari Fakultas Kedokteran semacam Novel Brain. Lain halnya
UGM menambahkan, “mesin itulah dengan pengguna tangan bionik, yang Diperkirakan di masa depan,
yang menggerakkan bagian tubuh membantu penderita kelumpuhan akan semakin banyak teknologi
yang lumpuh. Dalam artian, orangnya akibat kerusakan di bagian sistem yang bermunculan untuk membantu
tetap diam saja hanya mesin yang syaraf tepi. Artinya otak masih bisa penderita lumpuh. Do, pembuat
menggerakkan.” memerintahkan organ untuk bergerak, Novel Brain telah berharap alat ini
namun perintah dari otak tidak bisa bisa mencapai tahap invansif, yaitu
Selain Novel Brain, selanjutnya ada diteruskan untuk menggerakkan implan otak. Kelebihan implan otak,
tangan bionik yang bisa membantu bagian tubuh tertentu karena syaraf di gelombang otak direkam dengan
menggerakkan tangan yang lumpuh. daerah tersebut telah tidak berfungsi. kualitas yang lebih tinggi dan mampu
Tangan bionik yang dikembangkan memberikan sensasi ke otak, yang
oleh Micera dan teman-temannya UGM juga menghasilkan memungkinkan pengguna untuk
di Ecole Polytechnique Federale de beberapa inovasi untuk membantu merasakan kakinya. Selanjutnya
Lausanne di Italia. Berkebalikan penderita kelumpuhan. Salah ada pula microchip yang dipasang ke
dengan Novel Brain, alat ini diklaim satunya adalah Smart Room With dalam tubuh manusia. Dicanangkan,
mampu mengembalikan perasaan Brain Control (Sri Brocoli) yang microchip bisa menyamai cara kerja
sensorik pada tangan yang diamputasi. dikembangkan oleh Fatimah Tri otak manusia.
Artinya, tangan bionik tersebut bisa Windrasti dan kelompoknya. Hanya
merasakan tekstur dan bentuk objek dengan menggerakkan alis, bahkan Namun seperti halnya teknologi
dalam genggamannya. penderita kelumpuhan total mampu lainnya, harus dipikirkan juga
mengoperasikan perangkat elektronik, dampak terhadap tubuh manusia.
Seperti halnya Novel Brain, tangan seperti lampu dan kipas angin, Pemasangan microchip ke dalam
bionik juga dilengkapi sensor untuk menggunakan EEG tanpa kabel tubuh penderita kelumpuhan tidak
menyampaikan sinyal listrik ke (wireless). Alat ini bekerja dengan akan selalu 100% cocok dengan
beberapa elektroda, sebagai konduktor merekam gelombang listrik pada otak kondisi tubuh pengguna. Jika tidak
arus listrik, yang ditanamkan pada kemudian mengubahnya menjadi cocok, bisa saja pada akhirnya tubuh
lengan. Tangan bionik bekerja perintah. justru memberikan penolakan dan
menggunakan algoritma komputer menimbulkan masalah lain.
yang terdapat pada sensor dan Walaupun Sri Brocoli dibuat untuk
mengubah sinyal listrik agar bisa penderita lumpuh, namun teknologi Upaya ilmuwan untuk dapat
ditafsirkan ke dalam bentuk informasi ini belum pernah diuji cobakan membuat teknologi yang dapat
sentuhan. Alat ini dikhususkan untuk langsung pada penderita lumpuh. memudahkan manusia, khususnya
membantu orang yang mengalami “Karena mencari orang lumpuh di penderita kelumpuhan, akan terus
kelumpuhan pada bagian tangan. daerah Yogyakarta susah, akhirnya berkembang. Inovasi yang bersumber
kami mengambil sampel beberapa dari ambisius untuk menyamai apa
Namun dr. Ginus menambahkan orang yang berusia sekitar 50 tahun.”, yang Tuhan ciptakan akan selalu
bahwa tidak semua teknologi bisa ujar Fatimah. bermunculan. Walau bagaimanapun,
sesuai digunakan untuk penderita secara akal nalar tidak akan mungkin
lumpuh, tergantung dari penyebab Kemudian, muncul pengembangan ‘buatan manusia’ dapat menyamai
lumpuh itu sendiri. “Penyebab dari Sri Brocoli yaitu Automatic apa yang telah Tuhan ciptakan. [Ifa,
lumpuh ada bermacam-macam. Properties Motion Control System (Apri Wimpi]
Misal kelumpuhan di kaki, dapat Maco). Kelompok ini mengganti cara
dikarenakan kerusakan di sistem kerja alat dari sensor otak menjadi 39
syaraf pusat, sepanjang sel syaraf yang sensor otot. “Kami berpikir untuk
menuju kaki, otot, atau tulangnya.”, membuat Apri Maco, karena alat ini
lebih mudah pembuatannya dibanding
balkon
Edisi Spesial 2016
KOMUNITAS
Menyebar Semangat Perdamaian
Melalui Komunitas
Semangat perdamaian adalah aspek penting dalam
menjaga kerukunan antarumat beragama. Karena itulah,
YIPC bertekad untuk menyebar semangat perdamaian
kepada mahasiswa.
Foto: Lingga/BALAIRUNG
Langit mendung menyelimuti mendirikan komunitas ini saat konflik yang pernah terjadi antara dua
Yogyakarta pada Minggu mereka menjadi mahasiswa S3 di agama ini. Meskipun begitu, mereka
(5/6). Namun, langit Indonesian Consortium for Religious tetap tidak menutup diri dari agama
mendung tersebut tidak Studies Universitas Gadjah Mada. lain. “Kami juga tetap bersilaturahmi
menyurutkan semangat para YIPC terbentuk karena keprihatinan dengan para penganut Buddha, Hindu,
anggota Young Interfaith Peacemaker Andreas dan Ayi terhadap konflik dan agama lain untuk memberi
Community (YIPC) untuk mengadakan antaragama yang kerap terjadi di dukungan,” jelas Andreas.
diskusi. Diskusi yang bertemakan seluruh dunia, khususnya Indonesia.
“Insight for Cultural Understanding” Keberadaan YIPC digunakan
itu diselenggarakan di rumah dinas Agama yang menjadi fokus sebagai wadah bagi pemeluk agama
Profesor Magdy yang berada di area pembahasan YIPC adalah Islam dan Islam dan Kristen untuk bertemu
kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Kristen. Islam dan Kristen menjadi dan berdialog. Dialog tersebut tidak
Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diskusi ini fokus mereka karena kedua agama ini hanya diadakan untuk mempelajari
dibuka dengan pembacaan doa menurut memiliki sejarah konflik yang panjang. keunikan masing-masing agama,
Islam dan Kristen. Kemudian, diskusi Terlebih kedua agama itu memiliki tetapi juga mempelajari bahwa
dilanjutkan dengan penjelasan mengenai jumlah pemeluk yang banyak. “Jika keduanya mengajarkan perdamaian.
sejarah agama Yahudi, Islam, dan pemeluk kedua agama ini berdamai, Andreas memandang apabila YIPC
Kristen oleh profesor asal Mesir yang maka akan tercipta perdamaian,” hanya mempelajari keunikan masing-
juga merupakan dosen tamu di UIN ujar Ahmad Shalahuddin, Kepala masing agama, maka para anggota
Sunan Kalijaga. Fasilitator YIPC Yogyakarta. justru akan membeda-bedakan kedua
agama tersebut. “Padahal kedua agama
Diskusi pada sore itu merupakan Para anggota YIPC sempat ingin itu mempunyai satu titik temu, yaitu
salah satu program rutin YIPC sejak berfokus ke agama lainnya. Namun, perdamaian,” tambah Andreas.
didirikan pada 2012 silam. Andreas mereka memilih untuk tetap fokus
Jonathan dan Ayi Yunus Rusyana kepada agama Islam dan Kristen Keprihatinan terhadap konflik
dengan alasan jumlah pemeluk dan yang terjadi antara dua agama
42
balkon
Edisi Spesial 2016
KOMUNITAS
inilah yang mendorong Andreas Selama empat tahun berdiri,
dan Ayi mengadakan pelatihan Andreas merasa tidak ada pihak
tentang penciptaan perdamaian
kepada mahasiswa. Pelatihan- yang menentang pembentukan
pelatihan yang mereka laksanakan komunitas tersebut. “Mana
mendapatkan tanggapan positif dari mungkin ada orang yang
para pesertanya. Tanggapan positif
itulah yang akhirnya membuat mereka menentang adanya komunitas
memutuskan untuk membentuk yang peduli dengan isu
komunitas ini. “Awalnya kami juga
tidak menyangka kalau komunitas ini perdamaian,” tambahnya.
akan terbentuk,” terang Andreas.
mengadakan dialog satu sama lain. mahasiswa, YIPC melakukan sebuah
Dukungan terhadap keberadaan Di kalangan mahasiswa S1 juga ada modifikasi pada modul tersebut.
YIPC juga ditunjukkan oleh pergerakan-pergerakan mahasiswa. “Sebenarnya isinya sama, namun kami
Tania Amarthani, mahasiswa Ilmu Akan tetapi, pergerakan-pergerakan memodifikasi cara penyampaiannya
Hubungan Internasional ‘15 UGM. tersebut kebanyakan bergerak di agar sesuai untuk kalangan maha-
Menurut Tania pembentukan bidang sosial dan politik. “Sedangkan siswa,” terang Ahmad.
komunitas ini cukup inovatif karena pergerakan di bidang perdamaian
berani merambah isu yang dianggap masih sedikit,” ujar Andreas. Selain Peace Camp, YIPC juga
sensitif oleh masyarakat. “Aku jarang mengadakan konferensi nasional. Kon-
melihat ada komunitas seperti YIPC Meskipun mayoritas anggotanya ferensi tersebut diadakan setiap tahun
ini,” ujarnya. adalah mahasiswa S1, YIPC tidak dengan topik yang berbeda-beda. Pada
menutup kesempatan bagi mahasiswa konferensi tersebut, YIPC mengun-
Dukungan itu membuat S2 yang ingin bergabung. Mahasiswa dang orang-orang yang memahami
Andreas dan Ayi tidak merasakan S2 diperbolehkan bergabung jika perdamaian untuk memberi pengeta-
adanya hambatan dalam mendirikan usianya tidak lebih dari 30 tahun. “Jika huan tentang perdamaian kepada para
YIPC. Selama empat tahun berdiri, sudah berusia lebih dari 30 tahun, anggotanya. Konferensi ini memper-
Andreas merasa tidak ada pihak namanya bukan “young” seperti nama temukan anggota YIPC dari seluruh
yang menentang pembentukan YIPC,” ujar Ahmad sambil tertawa. regional. Regional tersebut antara lain
komunitas tersebut. “Mana mungkin Sumatera Utara, Jawa Barat, Daerah
ada orang yang menentang adanya Untuk menghimpun anggota Istimewa Yogyakarta-Jawa Tengah,
komunitas yang peduli dengan isu baru, YIPC mengadakan Peace dan Jawa Timur.
perdamaian,” tambahnya. Camp. Acara ini dilaksanakan setiap
semester. Pada semester pertama di Meskipun YIPC sudah tersebar
Selain dialog, YIPC juga rutin tahun 2016, YIPC telah mengadakan di beberapa regional, namun Andreas
mengadakan pembacaan kitab suci acara ini pada Mei lalu. Kemudian dan Ayi merasa mimpi besar mereka
antaragama. Kegiatan ini pada pada semester kedua, rencananya untuk YIPC belum terwujud. Mimpi
awalnya dilaksanakan di Cambridge Peace Camp akan diselenggarakan besar mereka adalah tersebarnya
oleh kalangan ulama dan akademisi. pada November mendatang. “Kami semangat perdamaian yang dibawa
Uniknya, di Indonesia, kegiatan ini juga menggunakan acara ini sebagai YIPC ke kalangan mahasiswa. Mereka
justru diinisiasi oleh mahasiswa yang sarana untuk mengajarkan dasar-dasar menginginkan adanya Unit Kegiatan
tergabung dalam YIPC. perdamaian,” ujar Ahmad. Mahasiswa (UKM) yang serupa den-
gan YIPC di setiap universitas. “Kami
Mahasiswa yang tergabung Dasar-dasar perdamaian yang berharap ada UKM-UKM yang
dalam keanggotaan YIPC merupakan mereka ajarkan diadopsi dari sebuah beranggotakan penganut dari beberapa
mahasiswa yang berada di jenjang modul yang dibuat oleh Peace agama, kemudian mereka berdialog
S1. YIPC memandang bahwa Generation Bandung. Modul tersebut satu sama lain,” pungkas Andreas.
mahasiswa S1 memiliki potensi sebenarnya digunakan untuk kalangan [Respati]
untuk menggerakkan perdamaian guru dan siswa di Bandung. Agar
antaragama. Mereka juga memandang sesuai diterapkan untuk kalangan
bahwa mahasiswa S1 merupakan agen
perubahan karena masih memiliki 43
semangat dalam menggerakkan
komunitas. “Mereka masih berusia
muda, mempunyai idealisme, dan
mampu menggerakkan komunitas,”
ujar Ahmad yang juga merupakan
mahasiswa Jurusan Ilmu Alquran dan
Tafsir UIN Sunan Kalijaga.
Selain itu, mahasiswa S1 juga
tergabung dalam kelompok-kelompok
mahasiswa Islam dan Kristen.
Namun menurut Andreas, kelompok-
kelompok itu tidak pernah
balkon
Edisi Spesial 2016
ALMAMATER
Ilustrasi: Vita/Balairung
Tata Kelola Penerbitan Buruk,
UGM Press Tuai Kritik
UGM Press yang digadang-gadang menjadi penerbitan universitas. Namun, ia
dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan buku seluruh sivitas akademik.
Pada 1959 masa akademik FISIPOL dalam mencari pada laba layaknya PT. Gama Multi.
pemerintahan Soekarno, literatur. Kemudian, pada 2013 Gama
Prof. Dr. Prijono, Menteri
Pendidikan Pengajaran dan Akan tetapi, sejak 30 Juni 1971, Press berubah fungsi menjadi Unit
Kebudayaan mengeluarkan Prof. Soeroso Prawirohardjo, selaku Penunjang Universitas, yang hanya
instruksi menteri. Instruksi tersebut Rektor UGM melalui SK Rektor berorientasi pada akademik, berbeda
dikenal dengan nama “Sapta Usaha UGM No. UGM/40/P/C mengambil pada saat menjadi unit usaha. Gama
Tama dan Pancawardhana”. Salah alih percetakan tersebut di bawah Press bertanggung jawab kepada
satu poin instruksi tersebut adalah wewenang PT. Gama Multi. Hal ini Wakil Rektor III Bidang Penelitian
pembangunan kecerdasan masyarakat. sebagai langkah untuk melebarkan dan Pengabdian Masyarakat, serta di
Hal itu memicu Dekan Fakultas Ilmu sayap ke lingkup universitas, tak hanya bawah pengawasan Badan Penerbit
Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) FISIPOL. Nama percetakan tersebut dan Publikasi (BPP). Nama Gama
UGM mendirikan percetakan pun berubah menjadi Gama Press. Press pun juga berubah menjadi UGM
ditingkat fakultas. Kebijakan tersebut Selain itu, Gama Press tidak hanya Press hingga saat ini.
bertujuan untuk memudahkan sivitas sebagai percetakan, melainkan juga
sebagai penerbitan yang berorientasi Sejak BPP membawahi UGM
44 Press, mereka menawarkan program
balkon
Edisi Spesial 2016
ALMAMATER
hibah penelitian kepada sivitas apabila menggunakan mekanisme Meski ditentukan BPP, Syamsul
akademik UGM yang selanjutnya program hibah, hal itu tidak Maarif selaku koordinator bagian
diterbitkan dalam bentuk buku. Harno berpengaruh pada insentif penulis. Penerbitan UGM Press menyatakan
Dwi Pranowo, selaku Kepala BPP, Bahkan, kemungkinan terjadi bahwa UGM Press memiliki idealitas
menuturkan bahwa progam tersebut ketimpangan keuntungan antara tersendiri. Idealis yang dimaksudkan,
berupa pemberian dana hibah dengan penulis dan UGM Press. UGM Press memiliki preferensi
syarat melakukan penelitian. Ia dengan buku-buku perkuliahan sains
menjelaskan bahwa sivitas akademik Senada dengan Abrar, Aprinus dan teknologi (saintek). Hal tersebut
bukan hanya dosen, tetapi juga Salam, dosen jurusan Sastra berbeda dengan penerbit seperti Resist
mahasiswa UGM pada jenjang S2 Indonesia UGM, yang juga pernah Book yang memiliki preferensi buku-
dan S3. “Program hibah belum kami menerbitkan buku melalui program buku wacana. Meskipun demikian,
fokuskan ke mahasiswa S1, karena hibah pun menyatakan pendapatnya. UGM Press tetap mencetak buku
jangka waktu S1 yang hanya satu Ia menuturkan bahwa, mekanisme sosio humaniora (soshum) karena
tahun untuk menggarap buku yaitu dari BPP terlalu kaku dengan sebagai unit penunjang universitas.
hanya pada saat skripsi, ” terang Harno. prosedur proposal hingga revisi. Ia
pun menambahkan, jika prosedur Idealitas semacam itu juga
Ia menambahkan, langkah ini sedemikian rumit akan menurunkan mengundang kritik dari Abrar. Ia
ditujukan untuk memotivasi sivitas minat untuk menerbitkan buku di menyatakan bahwa UGM Press
akademik UGM agar mau menulis UGM Press, terutama melalui progam seharusnya mampu imbang pada
dan menerbitkan di UGM Press. hibah. Selain mekanisme, desain setiap kluster. Menurutnya, UGM
Harno mengatakan, dosen lebih tata letak pada buku di UGM Press Press jangan hanya memfokuskan diri
memilih untuk penelitian di luar memasok buku-buku diktat Saintek.
UGM. Selain itu, program tersebut “Sebagai “UGM Press jangan hanya membawa
juga untuk meningkatkan kualitas penerbitan, nama UGM, namun juga membawa
tulisan dan produktivitas penelitian. seharusnya yang pesan sebagai penerbitan universitas
“Menurut kami, penelitian di UGM menentukan layak yang bisa menaungi semua kluster,”
perlu didorong lagi, karena minat cetak atau tidak terangnya.
penelitian untuk UGM sedang lesu,” adalah UGM Press,
terang Harno. bukan BPP” terang Syamsul menuturkan, sebenarnya
UGM Press juga menerapkan
BPP juga telah menetapkan Abrar. mekanisme lain dalam menerbitkan
prosedur program hibah ini. “Penulis karya, yaitu melalui inisiatif sendiri.
mengajukan proposal penelitian mempengaruhi minat menerbitkan Seperti yang dilakukan empat
kepada kami, kemudian diseleksi oleh penulis. Aprinus mencontohkan mahasiswa silvagama Fakultas
tim seleksi dari kami juga,” terang dengan buku yang ia tulis yaitu Kehutanan UGM yang berjudul
Harno. Ia pun melanjutkan, setelah “Politik dan Budaya Kebudayaan”. “Cerita dari Timur: Catatan
itu penulis yang terpilih menyerahkan Pada buku tersebut, Aprinus Perjalanan Ekspedisi Taman
naskah hasil penelitian kepada BPP. mengatakan bahwa, desain muka sama Nasional”. Novita Ratna Dewi, sebagai
Kemudian, mereka akan melakukan sekali tidak imajinatif dan tidak bisa salah satu penulis buku tersebut
pendampingan dari proses pengeditan mencerminkan isinya. menuturkan bahwa mereka langsung
hingga proses cetak. Setelah datang ke kantor UGM Press dibagian
melewati proses cetak, penulis akan Sementara itu, Abrar redaksi untuk menyerahkan naskah
mendapatkan insentif kurang lebih mengutarakan pendapatnya mengenai jadi. Setelahnya, akan melewati proses
15 juta rupiah, tetapi itu semua belum UGM Press yang ia anggap sebagai seleksi dari UGM Press dan pada
termasuk potongan pajak dan biaya percetakan karena hanya mencetak akhirnya yang terpilih akan dicetak.
lainnya. hasil seleksi BPP. “Sebagai penerbitan, Ia juga menambahkan bahwa UGM
seharusnya yang menentukan layak press juga menerapkan royalti kepada
Ana Nadya Abrar, dosen Ilmu cetak atau tidak adalah UGM Press, mereka sebesar 15%. Royalti akan
Komunikasi UGM, yang tahun bukan BPP” terang Abrar. Harno diberikan satu tahun dua kali, pada
ini menerbitkan buku “Menatap berdalih prosedur itu disebabkan Januari dan Juni.
Jurnalisme Masa Depan” di UGM UGM Press secara struktural berada
Press, mengaku menerima insentif dibawah naungan BPP. “Sehingga Berbeda dengan program hibah,
sebesar 15 juta rupiah tersebut. Hal penentuan standar dari BPP dan Syamsul menjelaskan mekanisme ini
itu karena ia menerbitkan melalui UGM Press tidak dapat dipisah,” jelas bisa diikuti semua sivitas akademik
program hibah. Namun, menurutnya Harno. di UGM baik dari saintek ataupun
mekanisme tersebut tidaklah adil soshum. Sivitas akademik mulai
bagi penulis. Ia pun mencontohkan dari jenjang S1 sampai S3, bahkan
dengan pengandaian apabila buku menerima sivitas akademik luar UGM.
meledak dipasaran. Buku tersebut “Walaupun tetap memegang idealitas,
dimungkinkan meraup untung hal ini akan menjadi kesempatan bagi
lebih dari 15 juta. Pada akhirnya, sivitas akademik secara berimbang
keuntungan penerbit menjadi lebih dari berbagai kluster,” tungkas Harno.
banyak dan royalti bagi penulis pun [Puri, Haekal]
seharusnya bertambah. Nyatanya,
45
balkon
Edisi Spesial 2016
SASTRA
Kumbakarna
Oleh: Sudjiwo Tedjo Ilustrasi: Lipcasani/Balairung
Trigangga muncul setahun lalu mungkin aku kali aku berharap mendapat bantuan
membolak-balik tak kan berjemawa pada Prabu dari Anila, namun kelihatannya Patih
sebuah kitab Rama. Kutarik mundur pasukan Prahasta tak kalah sakti dari Prabu
compang-camping Anggada dan Paman Jembawan Kumbakarna. Syukurlah menjelang
di ruangan semedi menghindari jatuhnya korban yang petang Prabu Rama mengangkat
─setelah sekian lama berkelana lebih banyak─maju menjajal kesaktian tangannya─tak jadilah Batara Bayu
menjelajahi Anak Benua, ia Prabu Kumbakarna, tentunya setelah kehilangan muka melihat muridnya
memutuskan untuk singgah mendapat anggukan Prabu Leksmana. dipecundangi makhluk Marcapada.
sebentar sekedar bernostalgia. Sedangkan di selatan sana Anila
Kendalisada telah banyak Seharian aku berlompatan berhasil melumpuhkan Patih Prahasta
berubah semenjak ditinggal menghujamkan gada, seharian pula setelah Paman Subali ikut serta.
moksa ayahnya, tak ada lagi aku tersungkur dihempasnya. Beberapa
perladangan di sisi timur
bangunan utama, tak tampak lagi balkon
gubuk-gubuk yang dahulu sesak
semrawut menghadap halimun, Edisi Spesial 2016
bahkan setapak pun kini telah
ditumbuhi gajahan setinggi
pundak orang dewasa.
***
Beritahukan rupa musuh
terbesarmu!
Sejatinya kau sangat
mengaguminya.
Waktu itu Prabu Rama
mengutusku untuk mencari
jalan memutar, seperti apa yang
telah dikatakan oleh Wibisana,
“mungkin hanya Prabu Rama
sendirilah yang kanuragannya
sebanding dengan Prabu
Kumbakarna.” Dan terbukti
pagi itu, seratus prajurit wanara
di bawah pimpinan Paman
Cucakrawu dihempaskan sekali
ayun di udara. Kupincingkan
mataku mengamatinya─sungguh
teduh bola matanya.
Perang sudah berkecambuk
di berbagai sudut Alengkapura,
namun ibu kotanya serasa
mustahil untuk ditembus dari
muka. Setahun yang lalu ibu
kota memang pernah ku bumi
hanguskan─ketika membawa
misi sebagai mata-mata dan
menyampaikan pesan pada Dewi
Sinta. Tapi hari ini berbeda,
andai-kata Prabu Kumbakarna
46
SASTRA
Mega bergulung mengantar surya ke Semalam suntuk Prabu telah lepas dari tempatnya, masih
peraduan, seluruh wanara serempak Kumbakarna menangisi entah pada detik yang sama Goawijaya
berlompatan ke kelaman hutan; apa? Isaknya mengusik kedamaian mengelilingi bumi dan kembali ke
meniru yang kucontohkan; kecuali Batara Indra di Jonggring Saloka pangkuan telapak Prabu Rama─Prabu
mereka-mereka yang telah gagah sana─namun kini pagi sudah Kumbakarna makin hebat menendang;
perkasa menjemput ajalnya. sempurna, musuh telah berdiri di menghantam; menerjang wanara yang
depan mata . Ia berdecak pinggang menyerangnya.
Bintang-bintang Marcapada di hadapan sepuluh ribu pasukan goa
hilang entah kemana, Kiskendar yang perkasa dengan Prabu Goawijaya kembali meluncur, kali
menyempurnakan gelapnya Rama di muka menunggang kuda, ini tangan kanan Prabu Kumbakarna
Alengkapura, dalam gulita sekali “Pulanglah Dimas! Bila kau besikeras tertembus, lepas, dilemparkan ke
lagi Wibisana mengingatkan, aku tak akan lagi menahan diri!” udara oleh salah seorang prajurit
“Kanjeng Prabu Rama, bukankah “Kangmas, bukan maksudku berbuat wanara. Prabu Kumbakarna malah
anda telah melihat sendiri bagaimana tak hormat padamu─apa yang harus jauh nampak jemawa memamerkan
kesaktian kanuragan Kakang Prabu terjadi maka terjadilah.” “Bila seperti tendangan, terjangan, dan gigitannya
Kumbakarna? Bahkan Panglima itu tolong terimalah permintakan mencongkeli nyawa serdadu goa
besar pun tak mampu berbuat banyak maafku atas apa yang akan terjadi.” Kiskendar. Pangkal paha kiri Prabu
dihadapannya. Anda harus turun Prabu Rama menjawabnya dengan Kumbakarna berlubang, membuat
tangan sendiri bila ingin dengan lekas anggukan, seketika Alengka riuh oleh kaki kirinya serupa kepompong yang
merangsek jantung Alengka, merebut teriakan wanara. bergelantung di balik daun dadap,
Dewi Sinta.” “Dimas Wibisana, satu tarikan kuat pajurit wanara
memang tak berlebihan yang engkau Sepuluh ribu wanara perkasa muda menjebolnya dari sana─Prabu
katakan mengenai Kangmasmu goa Kiskendar melompat bersamaan Kumbakarna murka menjadikan
Kumbakarna, namun sedari tadi menghujani Prabu Kumbakarna, wanara muda itu ringsek tak rupa
ada hal yang menggangu pikiranku dihempaskan macam buah Randu sekali terjang. Bertumpu pada satu
mengenai Kangmasmu itu─sorot kering yang meletak di pohon ditiup kaki Prabu Kumbakarna memutar
matanya teduh penuh ketedalaman, angin terbang entah kemana. Prabu tubuhnya serupa gasing menimbulkan
namun mengapa selalu pilu sesaat Rama mengamati dari atas kuda, puyu yang dahsyat luar biasa. Sekali
setelah musuhnya oleng tak bernyawa? memacunya berputar-putar sambil lagi Goawijaya menghunus.
Apakah gerangan maksudnya?” mencari celah untuk melepaskan anak
“Kangmas Kumbakarna itu...” panahnya. Begitu menemukan celah, Hanya tinggal kepala yang
busur Prabu Rama akan berdesing melekat pada tubuh Prabu
*** dan anak panahnya akan meluncur Kumbakarna, bergelesotan menggiti
Trigangga selesai di sana karena melewati pinggang, leher, ketiak, para wanara, seluruh wanara yang
halamannya hilang entah kemana. menyerempet bulu prajuritnya sebelum tersisa menyerangnya dengan mata
Dalam silanya ia gusar menerka terpelanting membentur badan Prabu berkaca-kaca. Prabu Rama turun
kelanjutan tulisan ayahnya, tak betah Kumbakarna. dari atas kudanya, kantung matanya
lama-lama dimakan gusar Trigangga ungu masam, entah sedari kapan air
menutup mata, dan mulai merapal Puluhan anak panah telah matanya tumpah menyirami bumi
mantra. Tiba-tiba Kendalisada riuh terpelanting membentur badan Alengka. Penderitaan maha hebat
seperti sedia kala, kemudian sepi Prabu Kumbakarna, prajurit goa menantinya atas kemenangan terhadap
menjadi tanah lapang di belantara, Kiskendar pun yang tersisa tak sampai Prabu Kumbakarna, dan Goawijaya.
tak lama kemudian ia telah sampai seperempat dari jumlah sebelumnya. Seperti itulah kesatria dari para
di tengah-tengah Alengkapura; asap Tersisa satu anak panah saja dalam kesatria ditangisi kesatria Ayodya
hitam membumbung di berbagai plompong yang terikat di punggung menjelang kematiannya.
sudut kota; hujan panah membara Prabu Rama, anak panah pusaka
berjatuhan dimana-mana. pemberian Batara Indra─Goawijaya, ***
Ayahnya telah berada di dalam yang bila terlepas dari busurnya Trigangga telah kembali ke
taman Asoka bersama Dewi Sinta dan akan menembus apa saja, mengitari ruangan semedi dengan pipi lebam,
beberapa prajurit wanara, sedangkan bumi secepat kilat lalu kembali merapikan kitab-kitab di ruangan itu
Rahwana dan puluhan Raksasa pala pemiliknya─pusaka sakti dengan kepala berdenyut-denyut, lalu
mengepungnya di luar tembok taman. mandaraguna yang belum pernah kembali berkelana membawa pelajaran
Di gerbang kota ia melihat Prabu sama sekali Prabu Rama pergunakan. berharga.
Ramawijaya menunggang kuda
berputar-putar mengelilingi Prabu Kantung mata Prabu Rama
Kumbakarna. Trigangga berhenti di berdenyut-denyut menahan air bah
sana. tumpah seiring ditariknya Goawijaya
*** dari plompongnya, sempurnalah
Ceritakan padaku sebuah lengkung busurnya dengan
kemenangan! Goawijaya melintang di pelontar.
Sejatinya kau pun akan ragu Bidikannya adalah pundak kiri Prabu
bercerita Kumbakarna, dan sedetik kemudian
tangan kiri Prabu Kumbakarna
balkon 47
Edisi Spesial 2016
INTERUPSI
Jejak Dialektis
Industri Buku Yogyakarta
M enurut data orientasinya yang populis membuat yang berarti melampaui. Sintesis
Ikatan Penerbit buku-buku yang ada di pasaran adalah sesuatu yang melampaui tesis
Indoesia, selama ‘itu-itu’ saja. Dengan keresahan dan anti-tesis, namun di dalamnya ada
2012-2014 angka akan kebanalan yang ada, pada awal substansi dari tesis dan anti-tesis yang
penjualan buku 2010-an, penerbit alternatif mulai masih terjaga.
di penerbit Kelompok Kompas bermunculan kembali. Sekarang,
Gramedia menurun. Namun, penerbit alternatif semakin ramai. Jika dilihat secara dialektis, tindak
penurunan tersebut tidak terjadi Para pemain besar di industri represif pemerintah memunculkan
pada penerbit alternatif seperti buku dibuat sampai kewalahan. keresahan dan memicu tindak
Mizan dan Marjin Kiri. Di tengah Dengan sistem tata kelola yang perlawanan. Kondisi tersebut memicu
kemerosotan penerbit mayor, lebih baik, kini penerbit alternatif adanya sebuah celah timbulnya anti-
berbagai penerbit alternatif dengan mulai bergaung di tengah belantara tesis. Dengan keadaan itu, anti-tesis
terbitan buku yang jarang ada di industri perbukuan Yogyakarta. muncul untuk menggantikan tesis.
pasaran mulai bermunculan. Buku Maka, hadirlah penerbit alternatif
yang diterbitkan antara lain adalah Melihat fenomena industri ke permukaan. Sifat penerbit buku
buku sastra terjemahan, buku kiri, buku saat ini, dialektika sejarah alternatif yang idealis menjadi oposan
hingga buku filsafat. Hegel dapat dijadikan sebagai pemerintah dan penerbit mayor.
alat pembacaan. Dari konsep Dalam fase ini, pertarungan dialektis
Sejarah penerbit buku alternatif dialektika Hegel dapat dipahami kedua sisi ada pada segi ideologis.
di Yogyakarta diawali pada masa bahwa realitas bukanlah suatu Pemerintah dengan sikap represifnya
Orde Baru. Rezim yang represif keadaan yang statis. Berangkat berlawanan dengan penerbit alternatif
menghambat akses terhadap buku dari itu, Hegel mengatakan bahwa yang menyuarakan kebebasan. Konflik
dengan muatan ideologis tertentu, keseluruhan sejarah adalah proses ideologis tersebut yang menjadi
seperti buku-buku kiri. Pada masa negasi terus menerus atau proses penyebab dialektis kemunculan
itu, penerbit harus menyesuaikan peperangan panjang menuju ke arah penerbit alternatif di Yogyakarta.
materi produksinya dengan Absolut. Dengan dialektika, Hegel
standar pemerintah. Jika ada yang mencoba menjelaskan bahwa ada Runtuhnya Orde Baru membuat
membandel, pemerintah tidak suatu keterhubungan antar zaman. posisi penerbit alternatif menjadi
segan-segan menutup penerbit Pengaruh perkembangan suatu stagnan. Hilangnya common enemy
tersebut. Dalam kondisi tersebut, zaman ke zaman lain adalah unsur menjadikan penerbit alternatif
muncul penerbit-penerbit yang penting dalam gerak maju dialektika. limpung. Ketiadaan Aufhebung
nekat melawan pemerintah dengan Poin penting dalam dialektika adalah menjadi alasan mengapa fase ini tidak
menerbitkan buku-buku terlarang. kondisi suatu zaman tidak berdiri bisa disebut sintesis. Pada titik ini,
Bermula dari satu penerbit, kemudian sendiri dalam sejarah. Masa kini dapat dilihat bahwa penerbit alternatif
banyak penerbit lain bermunculan bukanlah suatu finalitas absolut. sebagai corongkebebasan era reformasi
dengan semangat sama; melawan runtuh karena dirinya sendiri. Stagnasi
dengan idealisme. Konsep dialektika Hegel adalah pada era tersebut membuat penerbit
metode penalaran yang melibatkan alternatif akhirnya meredup dan
Penerbit alternatif di Yogyakarta proses kontradiksi di antara dua sisi mati. Sistem manajemen yang sama
mencapai kejayaan pada awal yang berlawanan. Kata berlawanan memaksa penerbit-penerbit alternatif
reformasi. Penerbit-penerbit yang inilah yang dimaksud dengan “perang” untuk gulung tikar. Pasalnya, banyak
awalnya selalu terancam bredel secara dialektis. Dialektika diawali penerbit yang rela merugi hanya untuk
menjadi leluasa untuk menerbitkan dengan adanya tesis. Kemudian, menerbitkan buku.
buku yang diinginkan. Namun, tesis dinegasikan atau dicari
hal itu tidak bertahan lama. Pada pertentangannya hingga menghasilkan Naiknya penerbit mayor kembali
medio 2000-an, penerbit-penerbit anti-tesis. Tesis dan anti-tesis menjadi awal munculnya tesis baru.
alternatif satu per satu hilang. Tata kemudian saling ber”perang”. penerbit mayor sifatnya berbeda
kelola yang buruk menjadi penyebab Keduanya akhirnya dileburkan dengan dengan penerbit alternatif. Pertama,
menghilangnya penerbit alternatif. diambil masing-masing unsurnya orientasi penerbit mayor ada pada
untuk menghasilkan suatu sintesis. pasar. Selain itu, penerbit mayor juga
Sejak hilangnya penerbit Dalam proses tersebut, hal yang mempunyai sistem yang baik. Namun,
alternatif, praktis industri buku diisi terpenting adalah Aufhebung yang karena buku yang hadir tidak variatif,
oleh pemain-pemain besar. Namun, muncul penerbit-penerbit alternatif.
48 balkon
Edisi Spesial 2016
INTERUPSI
Ilustrasi: Prima/BALAIRUNG
Dialektika yang Dengan produk-produk segar, dialektis. Terdapat suatu proses
telah terjadi mereka menjadi lawan penerbit kontradiksi yang membawanya
mengajari kita mayor. Kemunculan kembali penerbit menuju suatu perkembangan ke arah
bahwa kondisi alternatif pada awal 2010-an muncul yang lebih baik. Dengan membaca
industri buku saat sebagai sintesis. Dalam kemunculan masa lalu secara dialektis, kita dapat
ini bukanlah suatu tersebut, ia menuju Aufhebung. menerka apa yang terjadi di masa
peristiwa yang Penerbit alternatif yang awalnya hanya depan. Jika berkaca pada masa Orde
berdiri sendiri bernafas idealisme, kini hadir dengan Baru, pertentangan dialektis industri
dalam sejarah. manajemen yang lebih tertata. Artinya, buku berkutat pada masalah idealisme.
unsur tesis dan anti-tesis mampu Pada masa reformasi hingga sekarang,
balkon dipertahankan, namun juga dilampaui. pertentangan dialektis industri buku
berada pada segi ekonomi. Barangkali
Edisi Spesial 2016 Jika diamati, fase reformasi di masa depan, pertentangan
sampai sekarang mempunyai problem dialektisnya ada pada teknologi dan
di bidang ekonomi. Penerbit alternatif medium buku, seperti pertentangan
masa lampau tidak memperhatikan antara e-book dengan buku cetak.
segi ekonomis usahanya, karena
masih berkutat dengan idealismenya. Dialektika yang telah terjadi
Sedangkan penerbit mayor hadir mengajari kita bahwa kondisi industri
dengan strategi ekonomi yang lebih buku saat ini bukanlah suatu peristiwa
mumpuni. Hadirnya penerbit alternatif yang berdiri sendiri dalam sejarah.
masa kini membawa dua sisi dari masa Penerbit alternatif yang pernah berjaya
lalu; idealisme dan ekonomi. Dalam pada akhirnya tergantikan. Penerbit
poin tersebut, penerbit alternatif masa mayor yang mengambil alih, akhirnya
kini menjadi bukti sintesis sejarah. juga digeser. Dialektika penerbit di
Yogyakarta membawa pemahaman
Dari analisis tersebut, terlihat bahwa apa yang ada saat ini bukanlah
bahwa sejarah industri buku di suatu finalitas sejarah. [Penginterupsi]
Yogyakarta bergerak maju secara
49
DAPUR
Jurnalisme Tanpa Koma1
Sejarah pers mahasiswa dan BALKON Spesial Mahasiswa ILUSTRASI : HALVIN
di UGM tersusun dalam Baru, yang kami anggap masih
cukup relevan dan penting untuk Wisnu Prasetya, Pemimpin
kronologi yang patah-patah. menghidupi isu-isu penting di ruang Redaksi BALAIRUNG tahun
lingkup UGM. 2010, dalam opininya menjelaskan
generasi pertama diisi Gama bahwa meskipun media cetak sudah
Dengan keputusan seperti menemui akhir masanya, tidak
Intrauniversiter. Generasi kedua 1974 itu, berarti selama setahun penuh, berati bahwa jurnalisme juga sedang
BALAIRUNG hanya menerbitan tiga runtuh. Akan tetapi, justru inilah
- 1979 adalah Gelora Mahasiswa. produk cetak. Majalah BALAIRUNG, tantangan utama jurnalistik di era
Jurnal BALAIRUNG, dan BALKON digital.6 Pada titik ini, pers mahasiswa
BALAIRUNG menjadi generasi Spesial Mahasiswa Baru – yang dirasa perlu melakukan pembacaan
ketiga, sejak 1985 sampai sekarang.2 sedang Anda baca saat ini. Bukannya ulang. Reorientasi ini diperlukan
latah, tapi memang perlu diakui, untuk menghindari kecenderungan
BALAIRUNG bukan anak kemarin tulisan Bre Redana di penghujung pers mahasiswa yang terjebak dalam
lalu tentang senjakala media cetak5 romantisme kejayaan masa lalu.7
sore. Sudah lebih dari tiga dekade ia sedikit banyak mempengaruhi
keputusan ini. Tulisan tersebut telah Jauh sebelum Bre Redana
menjadi penjaga nafas intelektualitas memantik diskusi panjang kami soal mewacanakan senjakala media cetak,
peralihan dari media cetak ke digital. sesungguhnya dari kalangan pers
mahasiswa UGM. Dalam kurun Tentang bagaimana BALAIRUNG mahasiswa ataupun pers umum sendiri
menghadapi arus perubahan zaman. telah banyak melakukan transisi.
waktu yang sama, ia turut menghidupi Semuanya didiskusikan panjang lebar. Dalam konteks ini, biasanya kita akan
sedikit menyinggung keputusan pers
pasang surut – atau badai, kalau boleh Meskipun begitu, pendapat di Amerika seperti The New York
wartawan senior Kompas ini tidak Times dalam usahanya mendigitalkan
sedikit berlebihan – problematika diterima mentah-mentah. Mengamini produk cetak mereka. Seperti inovasi
pendapat bahwa kualitas media dalam untuk membuat satu newsroom
mahasiswa dan gerakannya. jaringan, dalam beberapa kasus, masih baru yang bertugas memprediksi
Produk di tangan Anda ini cukup rendah. Maka diperlukan isu-isu yang populer di internet.
taktik khusus untuk menjaga mutu Meskipun begitu, tujuan utamanya
misalnya, telah mengalami berbagai jurnalisme kami di dunia maya. Yang bukan semata-mata meningkatkan
perubahan dari awal kelahirannya pasti, media cetak bukanlah harga mati traffic, tapi menyediakan panduan
di akhir April 1999. BALAIRUNG bagi pers mahasiswa. bagi pelanggannya untuk mengurai
Koran sebagai manifestasi pers sengkarut arus informasi di media
komunitas di lingkungan kampus,
dulunya berbentuk koran dinding balkon
berukuran A-2. Distribusinya masih
sangatlah konvensional, ditempel di Edisi Spesial 2016
dinding-dinding pengumuman di 18
fakultas di UGM.3
Pada November 2000,
terjadilah perubahan yang cukup
radikal bagi BALAIRUNG Koran.
Bentuk koran dinding dinilai kurang
efektif dan efisien penyebarannya.
Maka diambillah keputusan untuk
mengubah BALAIRUNG Koran ke
dalam bentuk buletin dengan nama
BALKON. Sebagai manifestasi pers
komunitas, BALKON mengkhususkan
diri dalam mengabarkan isu-isu di
UGM bagi pembaca dalam kampus.
Jurnalismenya dinamai jurnalisme-
faktual-lokal dan jurnalisme-
akademis.4 Pada beberapa periode
kepengurusan, BALKON bisa terbit
mingguan, dwi mingguan, kadang bisa
sebulan sekali; semuanya tergantung
keputusan pengurus yang bertanggung
jawab saat itu.
Sayangnya, tidak ada
BALKON tahun ini. Dengan berbagai
pertimbangan, BALAIRUNG
memutuskan untuk menghentikan
sama sekali proses pengerjaan
BALKON reguler. Kecuali dua
varian lainnya, BALKON Khusus
50