The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Johan Series #2 - Pengurus MOS Harus Mati by Lexie Xu

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Novel Horror Repository, 2023-10-24 20:37:48

Johan Series #2 - Pengurus MOS Harus Mati by Lexie Xu

Johan Series #2 - Pengurus MOS Harus Mati by Lexie Xu

149 ”Gue jadi inget, kenapa selama bertahun-tahun gue emosi melulu sama elo.” Kukira hanya aku yang sering dibikin kesal oleh Frankie. ”Dan alasan yang nggak kalah penting untuk nolak lo jadi atlet tolak peluru, itu outdoor event, jadi nggak ada hubungannya sama gym.” Frankie langsung manggut-manggut setuju. ”Me­nurut gue, cabang atletik yang cocok buat elo itu lompat tinggi. Itu indoor event, dan setau gue, lo lumayan jago, kan?” ”Hah, lompat tinggi? Sama boring-nya, bro,” dengus Frankie meremehkan. ”Tapi yah, lebih mending loncat-loncat nggak keruan daripada ikutan olahraga buat Muppet.” ”Nggak usah menghina-hina deh.” Ivan mulai kehilangan kesabarannya. ”Jadi, apa rencana lo buat ngejebak si pelaku? Cuma bergabung dengan klub atletik?” ”Yah, itu awalnya,” seringai Frankie. ”Mulai sekarang, kita akan selalu bersama-sama setiap kali elo punya kebutuhan di gedung gym. Dan saat gue bilang kita, itu berarti termasuk elo juga, Tuan Putri.” Matanya menatapku lekat-lekat. ”Saat ini gue nggak mau lo terpisah jauh-jauh dari gue. Ngerti?” Sesaat tenggorokanku tercekat menyadari betapa intensnya tatap­an itu, tapi aku masih bisa memasang sikap sok. ”Gue nggak butuh perlindungan lo.” ”Ya, tapi gue butuh melindungi elo. Kalo gue terus-menerus mencemaskan elo yang nggak tau ada di mana dan kemungkinan bisa diterkam si Oknum X, gue bisa gila, tau?” Sial. Kenapa cowok ini selalu bisa saja meluluhkan hatiku? ”Oknum X?” tanya Ivan bingung. ”Itu nama yang gue dan Tuan Putri gunakan untuk si pelaku,” kata Frankie menjelaskan. ”Nah, intinya, kita akan jadi umpan. Umpan yang cukup menarik, kalo gue nggak salah ngerti jalan www.boxnovel.blogspot.com


150 pikiran si Oknum X. Kalo dia berhasil membekuk kita, dia akan mendapatkan wakil ketua OSIS, pembuat onar yang udah ngerepotin banyak orang, dan cewek paling beken di sekolah kita sekaligus!” Mata Frankie mengerling jail ke arahku, dan meski aku berlagak sok cuek, dalam hati aku merasa geli mendengar katakatanya. ”Pasti dia akan ngincar kita,” kata Frankie lagi. ”Kalo itu terjadi, lo nggak boleh segan-segan, bro. Lo harus bersikap seolaholah lo tega melukai dia. Ingat apa yang dia lakuin pada Anita, dan lo pasti bisa melakukannya.” Yah, kami tak akan lupa dengan apa yang terjadi pada Anita— juga Ronny. Keduanya terkapar di lantai ruang rapat OSIS, dengan tubuh kejang-kejang, mulut berbusa, mata bersimbah air mata, dan keputusasaan menghiasi sorot mata mereka. Rasanya sangat menyedihkan, sekaligus juga mengerikan. Siapa gerangan yang tega-teganya menyiksa mereka dengan kematian yang perlahan-lahan? Atau lebih tepatnya lagi, makhluk tak berhati seperti apa yang sanggup melakukan tindakan sekeji itu? www.boxnovel.blogspot.com


151 KISAH horor keempat SMA Persada Internasional: ”Kisah ini berlangsung di gedung gym. Pada suatu ketika, ada dua siswa yang menjadi pelari kebanggaan sekolah ini. Suatu hari diadakan perlombaan lari antarsekolah, dan cuma salah satu dari kedua siswa ini yang bisa menjadi wakil sekolah. Jadi, salah satu dari kedua pelari ini, yang berwatak sangat licik, menyelipkan paku-paku kecil ke sepatu saingannya yang akan dipakai dalam tes penentuan di antara mereka. Saat tes penentuan baru berlangsung beberapa saat, si saingan ini mengeluh kesakitan karena kedua telapak kakinya terluka. Saat diperiksa dokter, ketahuanlah bahwa kedua kakinya terkena gangrene dan harus diamputasi. Tidak kuat menghadapi hidup tanpa dua kaki, akhirnya siswa ini bunuh diri dengan cara melompat dari lantai dua gym ke lantai bawah. Hingga kini, pada malam hari, masih terdengar bunyi orang menyeret-nyeret tubuhnya di dalam gedung gym…” Ivan, kelas XII IPS 1, Wakil Ketua OSIS, Ketua Tim Atletik 9 www.boxnovel.blogspot.com


152 Sepertinya, hari ini, wajah-wajah kusut sedang populer. Hampir setiap anak baru tampak seperti tidak tidur semalaman. Wajah mereka pucat, sementara bagian bawah mata mereka terlihat hitam dengan kantong mata tebal. Mirip vampir, sebenarnya. Apalagi, meski tampang mereka seperti kurang energi, gerakgerik mereka dipenuhi semangat yang tidak biasa. Sesekali mereka berbisik-bisik sambil melirik-lirik para pengurus MOS. Pasti mereka asyik bergosip soal kejadian kemarin (mungkin mereka sibuk menebak-nebak siapa pengurus MOS yang paling pengecut dan suka menjerit-jerit di tengah kegelapan). Tak heran, gara-gara kebanyakan bergosip, mereka menjadi sasaran empuk kemarahan Benji yang semakin menjadi-jadi. Ketua OSIS kami itu memang marah besar. Mungkin sebagian kemarahannya diakibatkan olehku, namun sepertinya dia lebih marah pada Frankie dan Ivan ketimbang aku. Kelakuan sadisnya langsung meningkat satu level setiap kali Frankie atau Ivan lewat di hadapannya. Dan omong-omong, bukan hanya anak baru yang ber­wajah kusut. Ivan juga kelihatan lesu luar biasa. ”Hei, bro, kalo kayak gini, lo bakalan disergap Oknum X dengan gampang nih!” ledek Frankie, membuat kakaknya itu langsung memelototinya. ”Gue nggak tidur semalaman nih.” ”Kenapa?” goda Frankie lagi. ”Takut mati, ya?” Ivan mendelik, namun rona merah di wajahnya menandakan tebakan main-main Frankie itu ternyata benar. Meski be­gitu, untuk membela kehormatan, Ivan pun membantah, ”Enak aja! Lo kira gue pengecut?” ”Halah! Nggak usah malu, bro.” Frankie merangkul kakaknya www.boxnovel.blogspot.com


153 dengan gaya sok akrab. ”Tapi lo tenang aja. Selama ada gue, lo bakalan baik-baik aja. Liat aja si Tuan Putri, dia kan udah jadi sasaran empuk dari kapan tau, tapi sampe sekarang masih sehat walafiat karena gue kuntit terus.” Kini giliran aku yang memelototi Frankie. Seandainya Frankie menerima seratus perak setiap kali ada yang memelototi dia, pasti sekarang cowok menyebalkan itu sudah jadi konglomerat. Namun kini perhatianku teralih pada sikap gelisah Ivan yang mencurigakan. ”Bukan soal itu,” kata Ivan sambil melirik kiri-kanan. Mendadak kusadari dia sedang mencari-cari Benji. Saat melihat Benji sedang berada di dekat kami, Ivan berkata, ”Ah, udah­lah, bukan hal penting.” ”Apa?” tanyaku ingin tahu. ”Apa sih, Van? Ada hubungannya dengan Benji?” ”Nggak,” sahut Ivan, tapi lagi-lagi aku merasa dia tidak me­ngatakan kebenaran. ”Udahlah, ayo kita kerja baik-baik hari ini.” Aku dan Frankie mengawasi kepergian Ivan. ”Ada yang dia sembunyiin...,” gumam Frankie di sampingku, mem­buatku terperanjat. Biarpun menyebalkan, Frankie memang bermata awas. ”Tapi sekarang ini bukan waktunya ngorek-ngorek. Ayo, Tuan Putri, kita kejar dia sebelum Oknum X mulai bertindak lagi.” Sepanjang hari itu, biarpun berusaha kelihatan tenang, Ivan tidak sanggup menyembunyikan ketakutannya. Meski aku dan Frankie terus menempelinya seperti lintah, kegugupannya terlihat jelas. Setiap kali ada gerakan mendadak atau bunyi keras, Ivan selalu terlonjak kaget. Sesekali dia menoleh ke belakang, seakanakan merasa ada yang mengawasinya. Sekali waktu, Violina www.boxnovel.blogspot.com


154 mencoleknya dengan ganjen, dan dia nyaris meninju cewek itu. Sayang Ivan sempat menahan tangannya saat menyadari siapa yang menyentuhnya. Andai saja dia langsung menonjok dengan membabi buta, itu akan menjadi peristiwa paling menyenangkan bagiku sepanjang pekan MOS ini. ”Wah, kakak gue bertambah tua tiga puluh tahun dalam semalam,” komentar Frankie saat kami asyik menikmati es kelapa muda yang dibayar oleh, tentu saja, Pandu. ”Liat kerutan-kerutan di wajahnya. Kemaren nggak ada, kan? Dan uban yang di puncak kepalanya itu tuh...” ”Itu sih debu kapur,” gerutuku. ”Kan elo yang naburin itu di situ.” ”Oh, ya?” Frankie menyipitkan mata. ”Kelihatannya seperti uban asli dari sini. Debu-debu itu menyatu dengan alami di kepala Ivan bagaikan ketombe...” ”Katanya kayak uban asli, sekarang mendadak dibilang kayak ketombe.” ”Yang jelas, itu bikin Ivan jadi keliatan jelek natural, dan artinya tujuan gue udah tercapai.” ”Lo emang adik paling brengsek di dunia.” ”Thank you.” Seperti biasa, waktu istirahat kedua, Ivan selalu mampir di gym begitu selesai makan. Kali ini dia melakukannya dengan tampang bagaikan napi yang siap digiring untuk dieksekusi mati. Hal yang mungkin saja terjadi. Saat menyusuri koridor gedung gym yang sepi bersama Frankie dan Ivan, kusadari aku belum pernah melihat gedung ini benarbenar dipenuhi orang. Meski seandainya sedang dipakai untuk www.boxnovel.blogspot.com


155 menyelenggarakan pertandingan atau semacamnya, selalu saja ada tempat-tempat sepi yang mengundang orang-orang yang berniat jahat untuk beraksi. Ruang ganti yang luas, gudang-gudang peralatan, toilet dengan bilik-bilik kecil, belokan-belokan gelap. Seorang pembunuh maniak akan punya kesempatan untuk meraih kakiku dari bawah bangku di tribun penonton dan me­narikku ke bawah tribun, menerkamku saat aku berjalan di koridor-koridor gelap, mengurungku di dalam salah satu gudang bawah tanah, sebelum akhirnya memutilasi tubuhku secara per­lahan-lahan... Oke, Hanny. Hentikan semua khayalan mengerikan ini! Kenyata­an sudah cukup menakutkan tanpa perlu tambahan imajinasi yang berlebihan. Lagi pula, kalau dipikir-pikir, tidak ada gudang bawah tanah di gedung gym ini kok. Aku memang sudah mulai melantur. Kupaksakan diriku membuyarkan lamunan mengerikan itu, lalu mengalihkan perhatian pada pemandangan di depan mata. Frankie, setelah mengganti seragam sekolahnya yang preman banget dengan seragam tim atletik Ivan yang agak kekecilan untuk­nya, sedang asyik ngobrol dengan anggota tim atletik lain se­olah-olah dia sudah menjadi anggota tim seumur hidupnya. Padahal, menurut Ivan, baru kali inilah Frankie hadir dalam latihan tim atletik—dan bukan sekadar jadi penonton pula—dan hampir semua anggota tim baru dikenalnya hari ini. Cowok itu, tak salah lagi, memang pakarnya SKSD. Kalau diingat-ingat, gara-gara sifatnya yang seperti itulah aku tidak pernah bisa meng­hindar darinya. ”Frankie!” teriak Ivan. ”Jangan main-main mulu. Ayo, cepat mu­lai tes kemampuannya!” ”Halah, dasar perusak kesenangan,” cela Frankie, lalu menoleh padaku dan mengedipkan mata. ”Wish me luck, Tuan Putri!” www.boxnovel.blogspot.com


156 Aku mencibir. ”Wish it yourself.” ”Tuan Putri emang nggak ada duanya.” Frankie nyengir, lalu mulai mengambil kuda-kuda di belakang garis start. ”Siap?” Ivan memberi aba-aba. ”Mulai!” Aku melongo saat Frankie melesat dengan kecepatan tinggi, meng­ingatkanku pada anak panah yang baru meluncur dari busur, lalu melompat melewati rintangan dengan gaya yang sangat anggun. Sangat berbeda dengan imej yang biasa ditampakkan olehnya. Sesaat aku hanya bisa terpana mengaguminya. ”Idih..., Tuan Putri ngeces gara-gara terpesona sama kekerenan gue!” Sial. Kuralat lagi pendapatku. Frankie memang tidak ada anggunanggunnya sama sekali. ”Bagus!” puji Ivan, tampak bangga dengan kemampuan adiknya. ”Bukan cuma gue, semua juga mengakui kemampuan lo, Frank. Mulai sekarang, lo resmi jadi anggota tim atletik. Ini kebanggaan bagi keluarga kita. Meski ini cuma bagian dari rencana kita, lo harus gunain kesempatan ini sebaik-baiknya, mumpung dalam waktu dekat bakal ada pertandingan atletik. Siapa tau, berkat prestasi yang lo raih, lo bisa jadi ketua tim atletik yang berikutnya.” ”Nggak usah mimpi kejauhan,” kata Frankie cuek. ”Gue sama sekali nggak minat sama yang begituan. Lain kalo lo suruh gue jadi ketua klub tinju.” ”Mana ada klub tinju di sekolah kita?” tanya Ivan jengkel. ”Iya, sayang, ya? Nanti deh, gue minta Pak Sal bikinin satu. Nanti ketua dan anggota pertamanya pastilah gue. Tuan Putri, lo jadi manajernya, ya?” www.boxnovel.blogspot.com


157 ”Nggak mau,” tolakku mentah-mentah. ”Klub itu pasti bakalan bau banget.” ”Jelas dong. Bukan cowok namanya kalau nggak bau.” Gila. Rasanya lebih baik aku jadi perawan tua kalau semua co­wok memang bau seperti kata Frankie. Tapi omong-omong, si Frankie sendiri tidak bau kok. Kenapa dia promosi yang tidaktidak mengenai kaumnya sendiri? Dasar goblok. ”Ya udah, kita kembali ke auditorium,” ajak Ivan. ”Kita udah nyolong waktu acara MOS kita. Bisa-bisa Benji kira kita lagi ngerencanain kudeta.” ”Ya udah, sekalian kita kudeta aja,” seringai Frankie. ”Telat lo ngajakin sekarang. Kalo setahun lalu, pasti gue terima dengan senang hati.” Dasar dua kakak-beradik ini. Tidak kusangka, dalam kondisi yang seperti ini, hubungan mereka malah menjadi jauh lebih akrab daripada yang pernah mereka jalani seumur hidup mereka. Kami kembali ke auditorium, dan mendapatkan anak-anak baru sedang melakukan kericuhan di sana. ”Mana kisah horornya, Kak?” ”Kami harus tau supaya bisa menyatu dengan sekolah ini!” ”Kasih kami kisah horor lagi!” ”Kisah horor! Kisah horor! Kisah horor!” Gila. Kenapa mereka mendadak jadi bernafsu begitu? Kupandangi muka-muka liar di depanku dengan bingung. Saat menoleh pada teman-teman sesama pengurus MOS, aku terkesiap tatkala Benji menyunggingkan senyum penuh kepuasan. Mencurigakan. Benji menaiki podium dengan wajah serius, sama sekali tidak www.boxnovel.blogspot.com


158 menampakkan kegembiraan yang sempat kulihat sepintas tadi. Dengan suara suram dan sedikit tergetar, Benji menceritakan kisah horor karangan Ivan. Bukannya terdengar membosankan atau culun, nada suaranya malah membuat kisah itu terdengar mengerikan. Saat kisah itu selesai diceritakan, selama beberapa saat, keheningan melanda seluruh auditorium. Keheningan yang aneh, setelah sebelumnya terjadi keramaian yang begitu heboh. Lalu Pandu, anak baru kesayanganku, mengangkat tangannya dengan wajah penuh tekad dan berusaha mengabaikan tatapan tajam Benji. ”Kak, apa benar lagi-lagi salah seorang pengurus MOS ngalamin kecelakaan di tempat dalam kisah horor hari ini?” Benji diam sejenak. ”Ya, benar.” ”Kak!” Anak baru lain mengacungkan tangan. ”Apa benar hingga saat ini, semua yang terjadi pada kisah-kisah horor yang udah diceritain itu juga menimpa para pengurus MOS?” Lagi-lagi keheningan mencekam seluruh auditorium. ”Memang ada sedikit persamaan dalam kecelakaan-kecelakaan itu,” sahut Benji akhirnya, ”tapi hingga saat ini, semua pengurus MOS yang jadi korban berhasil diselamatkan.” Kini anak-anak baru mulai riuh. ”Apa kisah berikutnya, Kak?” ”Di mana kisah itu berlangsung?” ”Kenapa hanya pengurus MOS yang diincar?” ”Cukup!” potong Benji tegas. ”Kalian nggak perlu meng­khawatirkan semua itu. Kami para pengurus MOS akan tetap melaksanakan tugas kami dengan sebaik-baiknya, termasuk menceritakan satu kisah horor setiap hari. Dan kalian dilarang meng­interogasi pengurus MOS lainnya. Cukup kerjakan tugas kalian sebagai peserta www.boxnovel.blogspot.com


159 MOS, atau kalian harus mengulang keseluruhan proses ini tahun depan.” Ancaman itu, tentu saja, berhasil membungkam anak-anak baru. ”Tugas mengerikan hari ini bukanlah meneliti ruangan yang berada dalam kisah ini, melainkan membuat makalah mengenai kejadian itu. Coba kalian tuliskan, bagaimana caranya seseorang menjadi korban di dalam ruang rapat OSIS yang tertutup itu. Apakah itu ulah roh-roh masa lalu yang masih belum puas me­mangsa nyawa, ataukah ada pelaku lain yang lebih nyata. Se­telah menyelesaikan tugas outdoor terakhir, kalian boleh pu­lang.” Benji melangkah turun dari podium. Saat melewatiku, dia berhenti, membuatku langsung terheran-heran. ”Aku akan buktiin.” Hah? ”Aku akan buktiin bahwa aku jadi ketua OSIS bukan karena kebetulan, tapi karena aku emang punya kemampuan. Bukan cuma orang tertentu yang punya otak yang bisa nyelidikin semua kejadian ini. Aku akan buktiin dengan ngebongkar semuanya lewat caraku sendiri. Mungkin, dengan kejadian ini, kamu akan berpikir ulang mengenai hubungan kita.” Aku melongo saat dia meninggalkanku. Tak kusangka, dia masih berharap jadian lagi denganku. Yang benar saja. Memangnya aku pernah melakukan hal setolol itu, jadian lagi dengan cowok yang kuputuskan lantaran orangnya menyebalkan? ”Hei, orang tertentu yang dimaksud ada di sini,” kata Frankie dengan muka tengil. ”Orang tertentu itu juga akan melakukannya dengan caranya sendiri, dan caranya adalah… pulang yuk!” Aku memelototi Frankie. ”Apa-apaan lo? Udah dibilang kan, masih ada satu tugas outdoor!” www.boxnovel.blogspot.com


160 ”Makanya, cepetan diselesaiin,” kata Frankie enteng. ”Asal elo ngasih mereka tugas yang ringan-ringan, dalam waktu sekejap semua udah beres, dan kita semua bisa pulang. Gampang, kan?” ”Dasar bodoh,” celaku. ”Lo kira semuanya segampang yang lo pi­kir?” Aku berjalan menuju Grup BAB, yang dengan noraknya langsung memberikan penghormatan ala militer ajaran Frankie yang membuat semua orang menoleh padaku. ”Sekarang kalian sapu halaman depan!” teriakku dengan nada sekejam mungkin. ”Kalo udah bersih, buruan pulang sana! Jangan menyita waktu kami lebih banyak lagi!” ”Siap, Tuan Putri!” Sebelum aku mulai marah-marah lagi karena panggilan konyol dan menjijikkan itu, Frankie sudah bertepuk tangan dengan penuh semangat. ”Bagus, bagus! Kalian mengerti dengan cepat!” katanya seolaholah dia adalah orang tua sakti yang biasa membagi-bagikan jurus silat rahasia pada anak-anak berbakat. ”Sekarang, akan gue ajarin jurus baru yang lebih seru lagi. Pasang mata dan kuping kalian baik-baik!” Lalu tanpa bisa kucegah lagi, cowok sialan dan super memalukan itu sudah mulai bernyanyi dengan penuh perasaan, tangannya bergerak-gerak ke atas, ke bawah, ke kiri, dan ke kanan dengan tidak beraturan. Si Hanny Pelangi, nama Tuan Putri Biar sering galak, nggak bikin takut Pengawalnya ganteng, siapa gerangan? Si pengawal keren luar biasa. www.boxnovel.blogspot.com


161 ”Dasar nggak kreatif!” teriakku sambil berusaha sekuat tenaga menahan tawa karena tarian konyol yang diperlihatkan cowok geblek itu. ”Udah nyontek irama lagu Pelangi, syairnya nggak berima sama sekali pula. Udah gitu, tau-tau tokoh utamanya ganti di tengah jalan.” ”Yah, mau gimana lagi, Tuan Putri?” sahut Frankie santai. ”Gue Frankie yang pelajaran bahasa Indonesia aja nilainya merah, bukan Rendra yang bisa punya darah seni turun-temurun. Lagian, kalau nggak ada gue di lagu itu, nggak seru. Bener nggak, Anakanak?” Kesal banget, semua anggota Grup BAB mengiyakan dengan penuh semangat. Cowok ini benar-benar sudah mengontaminasi anak-anak kesayanganku. ”Nah, kalian bisa tiruin gerakan gue, kan?” tanya Frankie dengan muka serius. ”Ingat, ini gerakan yang sangat powerful. Kalo kalian bisa niruinnya, kalian bebas dari tugas nyapu yang gampang bener itu!” Anak-anak baru bersorak dengan suara yang makin semangat saja. Benar-benar sialan banget. Kenapa aku bisa ketiban cowok yang hobi merebut kekuasaan seperti ini? ”Nah,” Frankie berpaling padaku dan mengedip. ”Kita bisa pulang lebih pagi lagi kan, kalo mereka nggak perlu ngejalanin tugas nyapu?” Gila, selain semua kekurangan yang sulit kusebutkan saking banyaknya itu, cowok ini juga sangat licik. Tapi, kali ini, kurasa aku memetik keuntungan juga dari kekurangannya itu... ”Hei, mau ke mana lo?” Kami dihadang tampang Ivan yang ketakutan. www.boxnovel.blogspot.com


162 ”Masih ada latihan atletik, tau.” ”Bolos ajalah, demi keselamatan kita semua,” kata Frankie yang tampak ogah diseret kembali ke gedung gym. ”Nggak bisa,” tolak Ivan. ”Sebentar lagi gue bakalan lengser dari jabatan ketua. Padahal sebentar lagi kan bakal ada per­tandingan. Jadi gue harus mempersiapkan semuanya dengan se­baik-baiknya, supaya ketua periode berikutnya nggak kerepot­an.” ”Dasar orang yang terlalu bertanggung jawab,” gerutu Frankie. ”Terpaksa gue harus ikut-ikutan jadi anak baik, padahal itu kan bukan diri gue yang sebenarnya.” ”Harusnya lo bersyukur dong, bukannya berkeluh kesah nggak jelas gitu.” Ivan menoleh padaku. ”Tuan Put... eh, Han, kamu ikut juga, ya?” ”Wah, semua mulai ketularan gue, manggil lo dengan nama Tuan Putri,” kata Frankie riang. ”Gue emang jago nyari nama juluk­an. Omong-omong, julukan gue sendiri ’Pembuat Onar Tiada Tanding’. Keren, kan?” ”Lo aja yang ngerasa keren,” gerutuku sebal bercampur geli mendengar julukan konyol itu, lalu menyahuti Ivan, ”Nggak deh, aku mau pulang aja.” ”Nggak boleh.” Kini Frankie yang berlagak sok kuasa. ”Udah gue bilang, gue nggak mau lo terpisah dari gue. Lo harus ikut.” Sial, padahal kukira aku sudah bisa pulang dan bersantai-santai. Sudah kuduga, tak ada untungnya bergaul dengan Frankie. ”Kalo gitu, ngapain nanya?” ”Yang nanya kan kakak gue yang sopan itu, bukan gue yang super kurang ajar ini.” Selain tidak ada untungnya bergaul dengan Frankie, cowok menyebalkan ini juga selalu menang saat berdebat. Harus­nya dia www.boxnovel.blogspot.com


163 ikut tim debat sekolah kami yang punya prestasi kaliber regional itu. Dengan muka cemberut aku mengikuti Frankie dan Ivan kembali ke gym. Setiba di sana, aku langsung duduk di bangku penonton dengan bete, sementara Frankie, tanpa malu-malu lagi, mengganti seragam sekolahnya dengan seragam tim atletik di lapangan. Untungnya, selain aku, hanya ada tim atletik putra yang sedang berlatih. Tak ada yang berniat melirik-lirik adegan porno yang dipertontonkan Frankie. Selain aku yang sedikitbanyak rada penasaran, tentu saja. Sayang, cowok itu berganti pakaian secepat kilat. Nyaris tak ada yang bisa dilihat. Ehm, sebenarnya tidak juga sih. Cowok itu sendiri saja sudah merupakan pemandangan yang luar biasa menyenangkan. Tapi sampai mati pun aku tak bakal sudi mengakui hal ini di depan mukanya. Dan cara cowok itu berlatih, astaga! Rasanya latihan tim atletik mendadak menjadi pertunjukan paling menarik yang pernah kulihat. Caranya memasang kuda-kuda di belakang garis start, bagaimana dia melesat dengan kecepatan tinggi, dan bagaimana dia melemparkan dirinya melalui penghalang.... Sejujurnya, aku memang nyaris menitikkan air liur, seperti yang dituduhkan cowok sialan itu padaku. Tapi sekali lagi, aku tak bakalan sudi mengakui hal ini di depan mukanya. ”Hebat kan dia?” Aku menoleh pada Ivan, yang menatap lurus pada adiknya. ”Males sih ngakuinnya, tapi dalam banyak hal, sebenernya dia jauh lebih hebat daripada aku,” kata Ivan sambil tersenyum. ”Tapi dia kurang pinter ngambil hati orang. Sebaliknya, dia sangat ahli www.boxnovel.blogspot.com


164 bikin jengkel orang. Ayah kami sering kesal dibuatnya, dan harus kuakui, ulahku sering membuat dia makin disebelin.” ”Makanya, jangan nambahin masalah dia dong,” gerutuku. ”Yah, habis mau gimana lagi? Aku ambisius, Han,” aku Ivan. ”Aku ingin jadi anak kesayangan semua orang. Orangtua kami, sanak keluarga, guru-guru, teman-teman. Kadang aku nggak segan-segan melakukan kelicikan untuk mendapatkan semua itu. Nggak taunya, pada saat-saat seperti ini, satu-satunya yang bisa bikin aku me­rasa aman cuma Frankie, orang yang sering kurugiin karena ambisiku itu.” ”Kalo kamu emang lihai, seharusnya kamu bisa mencapai ambisi kamu tanpa perlu bikin Frankie jatuh ke dalam masalah,” ketus­ku. ”Nggak, aku nggak selihai itu,” kata Ivan jujur. ”Dan aku juga nggak mungkin bisa mencapai ambisiku tanpa ada kambing hitam. Harus ada yang dibandingin, harus ada yang kalah. Siapa yang kuat, dia yang menang.” ”Hei, yang namanya hukum rimba itu udah nggak matching dalam dunia modern,” balasku. ”Bukannya lebih baik kalo kamu bekerja sama dengan semua orang, gunain semua kelebihan mereka, dan bikin mereka ngakuin kepemimpinan kamu karena kamu sanggup ngatur orang-orang hebat?” Ivan menatapku dengan tatapan kagum. ”Wah, kamu harus nyalonin diri jadi ketua OSIS periode mendatang, Han! Aku yakin kamu bisa menang.” Hm, belakangan ini banyak orang yang berpikir aku sanggup menjadi ketua OSIS, termasuk aku sendiri. Daripada mengecewakan harapan semua orang, kurasa lebih baik aku serius mencalonkan diri. www.boxnovel.blogspot.com


165 Tiba-tiba salah seorang anggota tim atletik menghampiri kami. ”Van, Alvin sakit perut tuh. Katanya dia nggak mungkin bisa latihan hari ini.” ”Apa-apaan sih?” decak Ivan kesal. ”Paling alasan aja! Si Alvin kan kerjanya cuma bisa bentak-bentak, sementara kemampuannya gitugitu aja. Udah kubilang, kalo kali ini dia mau mangkir latihan lagi, aku nggak akan segan-segan ngeganti dia dengan orang lain!” Lalu Ivan bangkit dan pamitan denganku, ”Sebentar ya, Han.” ”Tunggu dulu!” Tahu-tahu saja Frankie menghampiri kami dengan tubuh bercucuran keringat. Sial, kenapa aku jadi deg-degan? Padahal tam­pang­nya jadi makin dekil saja. Seharusnya aku malah jijik dan menjauh, bukannya langsung salah tingkah begini. ”Mau ke mana?” tuntutnya. ”Ruang ganti cowok,” sahut Ivan. ”Sebentar aja.” ”Enak aja main bilang sebentar,” dumel Frankie. ”Udah dilarang pulang, harus latihan nggak jelas gini, tahu-tahu lo main minggat aja. Pokoknya gue mau ikut!” ”Ya udah,” sahut Ivan, tampak lega juga karena tidak harus pergi sendirian. ”Tuan Putri ikut juga, ya?” Ivan melongo. ”Hei, kita bakalan ke ruang ganti cowok. Hanny nggak mungkin mau pergi.” ”Mau kok,” sahut Frankie sambil nyengir padaku. ”Mau kan, Tuan Putri?” ”Iya dong!” sahutku penuh semangat. Siapa yang mau kehilangan kesempatan tengok-tengok ruang ganti cowok? Ivan menggeleng-geleng. ”Ya udah. Nanti jangan teriak-teriak ya, kalau ngelihat adegan nggak senonoh.” www.boxnovel.blogspot.com


166 ”Kalo itu sih udah,” kataku sambil menunjuk Frankie. ”Dia tadi ganti baju di tengah-tengah lapangan.” ”Di pinggir lapangan, kali,” sahut Frankie geli. ”Senarsisnarsisnya gue, nggak mungkin gue pamer bodi di tengah-tengah lapangan gitu.” ”Whatever deh.” Yang pertama-tama kulihat dari ruang ganti cowok, bahkan sebelum memasuki ruangan itu, adalah sebuah boks untuk kondisi darurat. Boks itu berisi alat pemadam kebakaran dan sebilah kapak di sampingnya. Pemandangan itu langsung membuat bulu kudukku merinding. Seandainya saja Oknum X ada di sekitar sini dan menggunakan kapak itu untuk menghabisi kami semua…. Ivan membuka pintu ruang ganti cowok, dan aku langsung mundur selangkah saking kagetnya. Habis, ruangan itu benarbenar pengap. Udara begitu kering dan panas, dipenuhi bau asam yang rasanya bisa kutebak dari mana asalnya. Secara spontan aku membasahi bibirku supaya tidak pecah gara-gara udara kering tersebut. ”Alvin, di mana lo?!” tanya Ivan dengan suara berang. Terdengar suara lemah menyahut, ”Di sini, Van. Perut gue sakit banget nih...” Dengan cepat Ivan menuju ke arah suara itu sambil mengomel, ”Perut sakit aja teriak-teriak. Lo cowok, bukan? Kan lo cuma perlu selesaiin di toilet, abis itu ikut latihan—arghh!” Terdengar bunyi pukulan yang sangat keras dibarengi teriakan Ivan. ”Ivan!” Aku dan Frankie langsung berlari menyusul Ivan. Namun saat www.boxnovel.blogspot.com


167 kami tiba di tempat yang kami duga sebagai tempat diserangnya Ivan, kami hanya melihat kedua kaki Ivan yang terbujur di lantai perlahan-lahan lenyap ke dalam salah satu loker, seperti anggota tubuh yang lainnya. Lalu, yang membuat hatiku semakin dicekam kengerian, sebuah tangan kurus dan putih terjulur ke luar, meraih pintu loker dan menutupnya dengan sebuah bantingan keras. Frankie-lah yang sadar duluan. ”Ivan!” teriaknya lagi sambil melompat ke depan loker itu dan mulai menggedornya. ”Sialan! Ada jepitan, Han?” Teriakan panik Frankie membuatku kembali pada kondisi genting yang sedang kami hadapi. Namun, menjadi cewek tidak membuatku membawa jepitan rambut ke mana-mana. Apalagi aku tidak suka rambutku dihiasi jepitan yang mungkin akan merusak proses smoothing yang membuat rambutku bagus banget itu. Melihat gelenganku, Frankie makin panik saja. ”Brengsek! Gimana caranya ngedobrak pintu sialan ini?” Aku teringat sesuatu yang kulihat pada saat sebelum aku memasuki ruangan ini. ”Ada kapak di boks darurat di luar ruang loker!” Frankie langsung melesat ke luar ruangan. Terdengar bunyi pecahan kaca tanda boks darurat dipecahkan. Dalam sekejap, Frankie sudah kembali ke dalam ruang ganti dengan kapak dalam genggamannya. Matanya yang berkilat-kilat membuatnya bisa dikira sebagai pembunuh serial berkapak. ”Minggir, Han!” geramnya. Dengan patuh aku menyingkir. Frankie langsung menghajar pintu loker itu dengan sekuat tenaga. Dalam lima kali hantaman, terlihat sebuah lubang yang cukup besar sehingga Frankie bisa membuka loker itu dari dalam. www.boxnovel.blogspot.com


168 Kami melihat ke dalam loker itu. Di sana terdapat sebuah lubang besar menembus dinding loker, bahkan menembus dinding ruang ganti cowok, menuju tangga darurat yang memang ter­letak di samping ruang ganti cowok. Berhubung loker itu sangat sempit, sepertinya Frankie tidak mungkin bisa menggunakan lubang itu untuk menuju tangga darurat. ”Ikut gue, Han!” Tanpa mempertanyakan perintah Frankie, aku langsung mengikutinya keluar dari ruang ganti cowok menuju tangga darurat. Memang, tangga darurat di sekolah kami jarang dipergunakan, bahkan para petugas kebersihan lebih suka menggunakan tangga umum. Kalau sampai ada yang melubangi dinding, pasti tidak akan ketahuan dalam waktu singkat. Namun, lubang besar pada dinding itu pasti tidak dibuat baru-baru ini. Saat kami tiba di tempat itu, aku bisa melihat bekas-bekas bahwa lubang itu sempat ditutupi dengan rapi sebelumnya dan baru dibuka belakangan ini. Jadi, ini kejahatan terencana. Kejahatan yang sudah dipikirkan lama sebelum semua ini dimulai. Siapa orang yang dendam pada semua pengurus MOS bahkan se­belum acara MOS dimulai? Saat sedang kebingungan di tangga darurat, kami men­dengar pintu dibuka dari arah atas. Frankie langsung berlari ke atas dengan menaiki tiga anak tangga sekaligus dengan kakinya yang panjang, sementara aku hanya bisa melompati dua anak tangga sekaligus. Pintu pertama yang kami jumpai, aku tahu pasti, mengarah ke balkon tribun penonton di gedung gym. Saat kami mem­buka pintu itu, kami melihat Ivan tergeletak di lantai, sedang megapwww.boxnovel.blogspot.com


169 megap lantaran disiram dengan benda cair keemasan dari botol plastik oleh seseorang yang tidak bisa kutebak identitasnya. Tubuhnya agak membungkuk, terbungkus jubah yang panjang dan longgar. Saat mendengar kedatangan kami, orang itu langsung menoleh. ”Voldemort!” teriak Frankie. Teriakan itu jelas tidak masuk akal. Kami tidak berada dalam novel Harry Potter, dan Voldemort tidak ada dalam dunia nyata ini. Namun orang itu benar-benar mirip musuh be­buyutan Harry Potter itu. Wajahnya yang pucat tirus, tubuhnya yang kurus dan membungkuk, jari-jarinya yang panjang serta kulitnya yang pucat mengering, semua itu tampak begitu nyata di mataku sehingga aku butuh beberapa waktu untuk menyadari bahwa semua itu hanyalah hasil make-up. Begitu melihat kami, orang itu langsung menendang Ivan ke bawah balkon, lalu lari dengan kecepatan yang tidak seperti kecepatan lari manusia pada umumnya. Tapi kami tidak sempat me­mikirkannya lagi lantaran terdengar teriakan Ivan. ”Tolooong...!” Kami langsung menghampiri balkon dan melihat Ivan bergelantungan di pinggiran balkon dengan wajah pucat. ”Gue nggak bisa manjat ke atas!” teriak Ivan pada kami dengan panik. ”Gue disiram minyak!” ”Nggak usah khawatir.” Frankie memanjat ke luar balkon, bergelantungan pada pagar balkon dan mulai menurunkan separuh tubuhnya. ”Gue akan angkat lo ke atas!” Kedua cowok itu sama-sama berteriak keras saat tarikan Frankie pada tangan Ivan terlepas. www.boxnovel.blogspot.com


170 ”Nggak bisa,” kata Ivan dengan wajah makin pucat saja. ”Terlalu licin!” ”Bisa!” kata Frankie berkeras. ”Pasti bisa!” Dia menurunkan tubuhnya semakin ke bawah hanya dengan ditahan oleh sebelah tangannya, dan mencoba menarik lengan atas Ivan dengan tangannya yang lain. Lagi-lagi tarikan itu tergelincir akibat kulit Ivan yang licin. ”Gimana ini...?” tanya Ivan sambil melirik ke bawah. ”Ini lebih dari lima meter. Leher gue bisa patah kalo jatuh!” ”Tenang aja, gue nggak akan biarin itu terjadi,” kata Frankie sambil mengertakkan gigi dan menggapai kakaknya lagi. ”Gue pasti bisa ngangkat lo!” ”Iya, tolong, Frank...,” kata Ivan lemah. ”Jari-jari gue udah nggak sanggup nahan nih. Licin banget!” ”Gue tau. Sabar, Van...!” Ivan berteriak ketakutan saat jari-jarinya terlepas dari pinggiran balkon yang dicengkeramnya sedari tadi, namun tangan Frankie langsung menangkap sebelah lengannya. ”Pegang tangan gue dengan tangan lo yang satu lagi!” bentak Frankie pada Ivan. ”Cepet!” ”Frankie…” Mata Ivan membelalak penuh rasa ngeri yang amat sangat saat menatap sesuatu di belakang kami berdua. Aku menoleh terlebih dahulu, namun terlambat. Kurasakan permukaan besi tongkat bisbol yang dingin dan keras saat benda itu menghantam punggungku. Samar-samar kudengar teriakan Frankie memanggil namaku, namun semua pancaindraku ter­pusat pada kesakitan yang kuderita akibat pukulan itu. www.boxnovel.blogspot.com


171 Aku bisa mendengar suara kelebatan tongkat bisbol itu saat membelah udara, disusul oleh teriakan Frankie yang lebih menyerupai kaget daripada kesakitan. Namun pukulan itu tidak cuma sekali, melainkan berkali-kali. Aku bisa membayangkan Frankie, tidak sudi melepaskan tangan kakaknya, meski dengan demikian dia hanya bisa menerima pukulan-pukulan itu tanpa bisa membalas. Cowok itu seperti Arnold Schwarzenegger yang tak matimati meski sudah dihajar dengan berbagai cara dalam film Terminator yang pertama. Oke, memang saat itu Schwarzenegger ber­peran sebagai penjahat, tapi yang penting Frankie menyerupainya dalam soal ketangguhan, bukan dalam soal kejahatannya (meski harus kuakui, Frankie bukannya cowok yang mulia-mulia banget). Kegigihan itulah yang membuat aku berusaha bangkit, meski punggungku yang kesakitan membuatku mengalami kesulitan. Sebelum aku sempat beraksi, terdengar teriakan keras Ivan yang menggema mengerikan saat cowok itu meluncur jatuh ke ba­wah balkon. Air mataku menggenang saat menyadari inilah akhir­nya. Seperti Ronny yang menjadi korban tambahan pada saat kejadian yang menimpa Anita, aku dan Frankie juga akan men­jadi korban ber­taraf figuran pada kecelakaan yang menimpa Ivan. Mengenaskan, karena aku tidak pernah mendukung acara karangmengarang kisah-kisah horor sialan itu. Mengenaskan, karena aku harus mati tanpa ketemu Jenny sekali lagi. Mengenaskan, karena aku belum sempat mengatakan apa yang ada di dalam hatiku pada… ”Nggak akan gue biarin, sialan!” Kudengar geraman Frankie. ”Akan gue singkap kedok busuk lo, dasar Voldemort palsu!” www.boxnovel.blogspot.com


172 Terdengar suara kelebatan tongkat bisbol lagi, namun kali ini tak terdengar suara hantaman. Aku mendongak, dan meski pandanganku kabur, aku bisa melihat Frankie menahan tongkat bisbol itu. ”Sori, dalam pertarungan one by one gini, lo bukan lawan gue yang setimpal, tau?!” geram Frankie. ”Lagian, tenaga apaan ini? Tenaga cewek?” Frankie pasti belum pernah nonton film. Orang yang ke­banyakan mengoceh biasanya pasti mendapat serangan balik. Benar saja, dengan tangan yang satu lagi, Oknum X menyerang­ Frankie dengan pisau, membuat cowok itu berteriak kaget dan me­langkah mundur. Pada saat itulah Oknum X berlari pergi. Frankie menjangkau, berhasil menyobek jubah milik Oknum X, namun hanya itulah yang berhasil dilakukannya. Dan itu pun sudah cukup, karena dari sekelebat itu aku melihat sepasang kaki yang jenjang, putih, dan halus tanpa bulu. Sepasang kaki yang pasti akan terlihat memukau kalau saja pemiliknya tidak memiliki tampang semengerikan itu. Menyadari bahwa kedoknya akan segera terbuka, Oknum X buru-buru melarikan diri tanpa menuntaskan tugasnya untuk menyingkirkan kami seperti dia menyingkirkan Ivan. Lalu, sebuah wajah mengerikan penuh darah mendekati wajahku. Aku nyaris saja menjerit kalau tidak mengenali wajah itu sebagai wajah Frankie. ”Lo nggak apa-apa, Han?” tanyanya. Enak saja aku tidak apa-apa! Begitulah yang ingin kuteriakkan padanya. Apa dia tidak bisa melihat, berdiri saja aku sudah tidak sanggup? Tapi tentu saja aku tidak bisa mengatakan semua itu pada orang yang sudah menerima pukulan berkali-kali lebih banwww.boxnovel.blogspot.com


173 yak daripada yang kuterima, dan masih saja sempat mengada­kan perlawanan terhadap penyerang kami, bahkan mengusirnya. Jadi yang kukatakan hanyalah, ”Kita salah, Frank. Oknum X bu­kan cowok, tapi cewek!” www.boxnovel.blogspot.com


174 BERLAWANAN dengan dugaan yang sempat membuat kami ketakutan setengah mati, Ivan ternyata masih hidup. Berkat kemampuan atletiknya, Ivan berhasil menjatuhkan diri dengan pose yang tepat, sehingga kepala dan lehernya selamat dari luka-luka yang tidak diinginkan. Dia mengalami sedikit gegar otak, tapi bisa dibilang itu luka yang sangat minor ketimbang berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Pendaratan itu meng­akibatkan kedua kakinya patah dan tulang-tulang kakinya retak sampai-sampai harus diisi dengan titanium (setelah ini mung­kin Ivan bisa menjadi Wolverine sekolah kami). Menurut dokter, dia harus mendekam di rumah sakit selama lebih dari se­bulan dan menjalani beberapa kali operasi, tapi sekali lagi, itu jauh lebih baik daripada berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Dan dalam kesempatan ini, lagi-lagi aku tidak mengalami luka berarti—sesuatu yang akan kubanggakan pada Jenny nanti— sedang­kan Frankie, meski harus dibalut seperti mumi, dengan tangan kiri yang harus digips pula, berhasil meloloskan diri dari keharusan diopname di rumah sakit. 10 www.boxnovel.blogspot.com


175 ”Wah, Tuan Putri, kita berdua bagaikan pasangan Imhotep dan Anck-Su-Namun, ya,” katanya menyinggung pasangan penjahat dalam film The Mummy. ”Lo aja jadi Imhotep sendirian.” Cowok ini, baik dalam keadaan sehat walafiat maupun babak belur, tetap saja menjengkelkan. ”Sekalian botakin rambut lo, sono!” ”Nggak bisa,” tolaknya tegas. ”Ini modal gue menuju kesuksesan. Tanpa rambut keren gue, gue nggak seberapa ganteng.” ”Halah! Bilang aja rambut gondrong lo buat nutupin muka lo yang nggak seberapa ganteng.” Tampang Frankie kelihatan terpukul. ”Jadi maksud lo, gue jelek, gitu?” Oke, melihatnya memasang tampang seperti itu, aku jadi tidak enak hati juga. Meski sering menghina tampang jelek orang lain, aku tidak pernah melakukannya pada orang-orang yang baik hati atau dekat denganku. ”Muka lo sih nggak jelek-jelek amat,” hiburku. ”Cuma nggak ada apa-apanya dibanding Robert Pattinson.” ”Okelah, gue tahu kalo dibandingin sama Robert Pattinson kejauhan. Tapi kalo sama George Clooney, kira-kira masih sebanding dong...” Cowok ini benar-benar tidak tahu malu. Aku menyesal pakai acara tidak enak hati untuk menghinanya. ”Ngaca dulu sana! Yang sebanding sama lo tuh sohib lo, si Imhotep! Cuma beda di rambut. Makanya, sana botakin rambut lo. Pasti lo sama dia jadi mirip pinang dibelah kapak—eh, dibelah dua.” ”Nggak ah. Kalo mirip pinang, udah pasti jelek bener.” Kami berdua langsung terdiam saat sosok besar Pak Sal muncul di depan pintu. www.boxnovel.blogspot.com


176 ”Senang melihat kalian berdua baik-baik saja,” katanya sambil melangkah masuk dan membuat kami berdua merasa kecil dan tak berdaya. ”Bisa kalian jelaskan apa yang terjadi?” Kami berdua berpandangan, lalu Frankie mengangkat bahu. ”Karena Bapak udah pasti bukan pelakunya,” katanya pada Pak Sal, ”gue akan ceritakan semuanya. Eh, maksudnya, saya. Sori, Pak.” Pak Sal mengangguk sambil berusaha terlihat galak, namun ku­perhatikan kumisnya agak maju, menandakan beliau sedang me­nahan senyum. ”Begini, Pak. Bapak tahu bahwa ada banyak pendapat mengenai semua ini. Bahwa semua kasus ini adalah kasus bunuh diri akibat kerasukan roh-roh jahat. Bahwa kecelakaan-kecelakaan ini dilakukan oleh anak-anak baru. Sedangkan pendapat saya, Bapak udah tahu, yaitu bahwa ini dilakukan oleh murid-murid senior, atau lebih parah lagi, guru-guru atau petugas kebersihan.” Pak Sal mengangguk. ”Akan saya jelaskan kenapa pendapat-pendapat lain tidak mungkin terjadi, dan hanya pendapat saya yang bisa diterima,” kata Frankie tegas tanpa terdengar pongah seperti biasa. ”Pertamatama, tulisan-tulisan vandalisme itu. Tanpa tulisan-tulisan itu, kita mungkin bisa menganggap semua ini perbuatan hantu atau monster atau apa aja. Tapi tulisan-tulisan itu adalah bukti bahwa ini perbuatan manusia, perbuatan orang yang mengira kita semua cukup bodoh untuk menganggap darah yang digunakannya adalah darah manusia. Sayang, dalam waktu singkat, kita semua tahu itu darah ayam. Dan hantu mana yang begitu bodoh menggunakan darah ayam untuk kegiatan tulis-menulis, atau lebih tepat lagi, hantu mana yang bisa menulis, sementara mereka makhluk www.boxnovel.blogspot.com


177 transparan yang bisa menembus benda padat? Jadi, kita bisa singkirkan kemungkinan kalau semua ini perbuatan makhluk halus.” Pak Sal diam sejenak. ”Teruskan.” ”Kedua, sebelum semua kecelakaan ini terjadi, Hanny pernah bilang pada saya, bahwa dia curiga itu perbuatan murid senior yang memiliki akses ke setiap tempat yang diguna­kan untuk melakukan vandalisme itu. Bagi saya, kemungkinan itu nggak tertutup pada murid senior saja, melainkan juga guru dan staf sekolah. Biar gampang, mari kita sebut pelaku semua ini sebagai Oknum X.” Pak Sal mengangguk. ”Nah, tindakan vandalisme ini diikuti dengan kasus Peter dan kasus Anita-Ronny. Kebetulan? Menurut saya, nggak mungkin. Pasti ini dilakukan orang yang sama. Orang yang mungkin saja dikenal oleh Peter, Anita, dan Ronny, sehingga mereka nggak waspada dan bisa dijebak oleh dia. Orang yang punya akses untuk masuk ke ruang klub KPR dan ruang rapat OSIS.” ”Tapi bisa saja si pelaku menjebak mereka di tempat lain, lalu membawa mereka ke tempat kejadian,” Pak Sal memberikan pendapat. ”Nggak mungkin, Pak,” tegas Frankie. ”Perbuatan mencolok seperti itu punya risiko besar untuk ketahuan. Oknum X nggak akan berani mengambil risiko itu.” ”Benar juga,” Pak Sal mengangguk. ”Teruskan lagi.” ”Berdasarkan kejadian-kejadian terdahulu, kami sudah mengetahui modus operandinya, Pak. Jadi saya, Hanny, dan Ivan berencana untuk menjebaknya.” ”Modus operandi?” Pak Sal mengerutkan alis. www.boxnovel.blogspot.com


178 ”Iya, dia bergerak berdasarkan kisah horor sekolah kita.” Pak Sal tampak heran. ”Kisah horor sekolah kita?” ”Itu, ehm, kisah horor yang dikarang oleh para pengurus MOS untuk meramaikan acara MOS,” jelas Frankie. ”Kisah yang dikarang oleh Peter ber-setting di ruangan klub KPR, dan kecelakaan Peter terjadi di situ. Kisah karangan Anita ber-setting di ruang rapat OSIS, dan kecelakaan yang menimpanya terjadi di ruang­an itu. Kami menarik kesimpulan, kecelakaan yang menimpa Ivan akan terjadi di gedung gym, seperti cerita karangan Ivan, dan memang itulah yang terjadi.” Pak Sal tepekur mendengar penjelasan Frankie. ”Lanjutkan.” ”Kami menempeli Ivan dengan ketat, berharap kami bisa membekuk Oknum X itu pada saat dia muncul. Namun, ternyata dia ber­hasil mencuri waktu saat Ivan muncul seorang diri, lalu menjebak­nya melalui salah seorang anggota tim atletik bernama Alvin. Omong-omong, Bapak harus menanyai Alvin, karena dia mungkin tahu sesuatu tentang Oknum X. Barangkali dia malah bersekongkol dengan Oknum X.” Pak Sal mengangguk. ”Kami mengejar Oknum X, namun persiapan yang dia lakukan terlalu matang.” Frankie menjelaskan secara terperinci bagaimana Oknum X yang mengenakan jubah itu melumuri Ivan dengan minyak, lalu kabur saat kami memergokinya, dan kembali pada saat kami tidak menduganya. Frankie juga sempat memberitahu Pak Sal soal satu-satunya anggota tubuh yang kami lihat dari Oknum X, yaitu sepasang kaki yang indah dan mulus. ”Pastinya bukan milik Bapak, guru-guru, ataupun para petugas ke­bersihan yang betisnya segede batang pohon itu,” kata Frankie nyengir, lalu wajahnya berubah serius. ”Jadi Bapak, guru-guru, www.boxnovel.blogspot.com


179 dan para petugas kebersihan tersingkir dari daftar tertuduh. Yang tersisa hanyalah murid-murid senior.” Wajah Frankie berubah serius saat dia melanjutkan ceritanya dengan apa yang belum kuketahui juga. Setelah berhasil mengusir Oknum X dan meyakinkan bahwa aku baik-baik saja, kami berdua segera berlari menghampiri Ivan. Menyadari bahwa kakak Frankie itu masih bernapas, kami langsung memanggil ambulans. Frankie berpesan padaku untuk menjaga Ivan baik-baik, sementara dia akan pergi untuk menginterogasi Alvin. Rupanya Alvin benar-benar sakit parah. Saat Frankie pergi melabraknya, cowok itu sedang sibuk di dalam kamar mandi entah untuk keberapa kalinya hari itu. Wajahnya tampak pucat pasi dan penuh keringat, tangannya mendekap perutnya erat-erat. Dia mengaku tidak tahu apa-apa soal kejadian yang menimpa Ivan, dan sangat terkejut waktu melihat ada yang menghajar Ivan dari belakang. Namun karena perutnya yang mulas, dia tidak bisa membantu Ivan sama sekali, malah kejadian itu membuat sakit perutnya bertambah parah sehingga dia harus buru-buru ngacir ke toilet. ”Kamu percaya ucapannya?” tanya Pak Sal pada Frankie. ”Ya, Pak,” angguk Frankie. ”Saat ambulans tiba, saya paksa dia ikut dengan kami. Menurut pemeriksaan dokter, dia memang men­derita keracunan makanan. Sepertinya dia korban sampingan kejadian ini.” Pak Sal menatap kami berdua lekat-lekat. ”Kerja yang bagus sekali, Anak-anak,” ucapnya perlahan dan lembut, membuat hidung kami berdua kembang-kempis karena bangga. ”Saya tidak menyangka kalian bisa melakukan sampai sejauh ini, sampai nyaris membekuk pelaku yang kalian namakan www.boxnovel.blogspot.com


180 Oknum X itu, sementara tak ada satu pun yang bisa menebak siapa pelakunya. Kalian betul-betul luar biasa.” Pada saat kami sedang membubung karena pujian-pujian itu, Pak Sal menambahkan, ”Tapi saya tidak mengharapkan hal ini ter­jadi lagi. Lain kali, kalau kalian menghadapi masalah, langsung beritahu salah satu guru atau, lebih baik lagi, saya sendiri. Jangan bertindak sendirian. Masalah ini sangat berbahaya, dan saya tidak ingin ada yang terluka lagi. Mengerti?” Tatapannya yang mengancam membuat Frankie dan aku langsung menempelkan punggung kami ke dinding saking tegangnya. ”Baik, Pak,” sahut kami berdua dengan suara tercekik. ”Bagus,” angguk Pak Sal. ”Saya akan memanggil polisi. Me­reka akan membutuhkan kalian untuk memberikan keterangan. Ceritakanlah semuanya, dan setelah itu, serahkan sisanya pada mereka.” Begitu polisi tiba, kami segera memberikan keterangan dan menjawab pertanyaan mereka yang mendetail dengan jelas. Setelah itu kami menemui dokter yang mengobservasi kami, dan dokter memutuskan bahwa kami boleh pulang setelah mewantiwanti kami luar biasa panjangnya. Sesaat sebelum pergi, Frankie berhenti di depan ruang operasi Ivan. Wajahnya mengeras, membuatku tiba-tiba menyadari bahwa meski tetap tengil seperti biasanya, saat ini Frankie pasti sangat mengkhawatirkan keadaan kakaknya. Dokter sudah menenangkan kami bahwa Ivan tidak apa-apa, namun Frankie pasti sangat ketakutan dan sedih saat menyaksikan kakaknya terjatuh dari balkon. Perlahan kusentuh bahunya. www.boxnovel.blogspot.com


181 ”Frank...” ”Ayo, Tuan Putri, kita pulang,” kata Frankie dengan suara tenang. ”Besok akan kita tangkap si Oknum X.” Namun ketenangan itu hanya kedok, karena saat dia menggandeng­ku, tangannya gemetaran. Aku meremas tangannya, berharap itu bisa menambahkan sedikit kekuatan padanya. Semua perasaan lembut terhadap Frankie langsung buyar saat kami kembali ke sekolah untuk mengambil mobil. Tanpa menggubris penampilannya yang mirip mayat hidup, Frankie memaksa memegang setir. ”Meski dalam keadaan terluka parah begini,” katanya pongah, ”gue masih lebih jago bawa mobil daripada elo.” ”Dengan bacot gede seperti itu,” balasku sebal, ”berlebihan banget lo disebut terluka parah.” Tapi berhubung aku sendiri meragukan kemampuan menyetirku, kuserahkan kunci mobilku pada cowok sialan itu. Satu lagi hal yang tak bakalan kuakui, aku merasa sangat aman saat Frankie yang menyetir mobilku. Rasanya jauh lebih aman ketimbang dibawa oleh cowok-cowok lain. Dari arah sekolah menuju rumahku, kami melewati sebuah jalan sepi dan panjang yang mirip jalan tol, lebar dan lurus, dipagari rumah-rumah raksasa milik orang-orang terkaya di kompleks kami dan lahan-lahan luas yang belum laku-laku juga saking mahalnya. Saking bagusnya, jalan ini sering digunakan oleh anak-anak ABG untuk balap mobil dan motor pada malammalam tertentu. Sebagai konsekuensinya, jalan ini juga terkenal sebagai lokasi yang paling rawan kecelakaan. ”Tuan Putri, lo kenal orang yang bawa mobil Jazz pink?” Aku mengerutkan alis. Selain Violina yang bawa Benz silver www.boxnovel.blogspot.com


182 sialan itu, aku tidak tahu mobil yang dibawa oleh cewek-cewek lain. Aku hafal mobil-mobil yang dibawa oleh cowok-cowok, terutama yang pernah mengajakku kencan, tapi jelas tak ada satu pun yang membawa mobil Jazz pink. ”Nggak,” sahutku. ”Emangnya kenapa?” ”Ada yang nguntit kita sedari tadi...,” gumamnya. ”Kemung­kinan besar, si Voldemort.” ”Maksud lo, Oknum X?” ”Ganti nama aja sekarang, biar lebih keren.” ”Penjahat aja dikasih nama keren,” gerutuku sambil melihat ke belakang melalui kaca spion di sampingku. Benar saja, di belakang kami, sebuah Honda Jazz berwarna pink menempel ketat. Saat melihat pengemudinya, aku menjerit saking kagetnya. ”Dia nggak ada mukanya!” ”Bukan nggak ada mukanya,” cela Frankie, ”tapi dia pake semacam topeng. Sepertinya penjahat kita yang satu ini punya banyak kostum. Penampilannya keren banget.” ”Apanya yang keren?” tanyaku ketakutan. ”Nakutin, tau!” ”Justru itulah peran penjahat.” Wajah Frankie mengeras. ”Sial, dia mulai main kasar!” Honda Jazz itu mengambil jalur sebelah kanan, tepat di sebelah kami, lalu mulai mendesak kami ke pinggir. Jalan ini cuma paspasan untuk dua mobil, sehingga mobil kami mulai mepet dengan bahu jalan. ”Sial!” geram Frankie lagi. ”Ngajak berantem dia!” ”Berhenti aja,” usulku, ”biar dia cengok di depan.” ”Enak aja! Kalo begitu, dia bisa kabur dong.” ”Jadi lo maunya gimana?” ”Gue tabrak aja, ya?” www.boxnovel.blogspot.com


183 ”Enak aja!” seruku spontan. ”Ini mobil baru, man!” ”Tapi emangnya gue bisa ngelepasin orang yang baru aja mukul elo di depan gue dan ngirim kakak gue ke kamar operasi?!” Meski suaranya terdengar tenang, mata Frankie menyala-nyala, menandakan kemarahan besar yang bergolak di dalam hatinya, membuatku jadi ciut juga. ”Tenang aja. Nanti gue ganti ongkos perbaikannya.” ”Nggak usah,” ketusku, berusaha menyembunyikan rasa malu karena lebih mementingkan mobil baru ketimbang perasaan Frankie. ”Gue juga sebel sama dia.” ”Lo kira gue cowok macam apa, Tuan Putri? Gue pasti bakal ber­tanggung jawab atas semua tindakan gue.” Sial, lagi-lagi niat baikku ditolak mentah-mentah. ”Pegangan, Tuan Putri!” Aku berpegangan pada pegangan di bagian atas pintu mobil. Sial, menyesal banget kubilang aku aman bersama Frankie. Main bareng cowok ini memang tidak ada untungnya sama sekali. Frankie mempercepat mobil kami, namun si pengemudi Jazz berhasil menyusul kami, bahkan mulai mendesak mobil kami. Hatiku mencelos saat mendengar bunyi goresan menyakit­kan di bagian samping mobilku. Rasanya aku bisa membayangkan suara ocehan ayahku. Sudahlah, lupakan soal itu. Yang penting menangkap Oknum X. ”Sori, Tuan Putri!” Frankie membanting setir dan menghantam balik Jazz itu. Bukannya ngacir, si Jazz malah meng­hantam lagi. Untuk menyeimbangkan posisi mobil, Frankie kem­bali mengarahkan setir ke sebelah kanan dan lagi-lagi meng­hantam Jazz tersebut. Dan di luar dugaan kami, mobil itu terguling melewati pemisah jalan dan menggelinding ke lajur sebelah. www.boxnovel.blogspot.com


184 ”Brengsek!” teriak Frankie sambil buru-buru menepikan mobil dan menghambur ke luar mobil. ”Semoga dia nggak mati!” Aku ikut menghambur ke luar mobil dan menyusul Frankie yang segera berusaha membuka paksa pintu mobil Jazz itu. Karena sudah ringsek, pintu itu berhasil dilepaskannya bahkan hanya dengan satu tangan. Tanpa berpikir panjang, cowok goblok itu meraih ke dalam mobil, berniat menyelamatkan siapa pun yang tergolek dalam keadaan terluka di dalamnya. Mataku terbelalak saat melihat kilatan dari pisau yang diayunkan si Oknum X pada Frankie. Untunglah refleks Frankie sangat cepat. Dengan gerakan spontan dia melompat mundur. ”Brengsek!” teriak Frankie. ”Perban gue putus!” Sekarang cowok itu mirip mumi miskin yang compangcamping. Seandainya Frankie berada dalam keadaan normal, Oknum X tak bakalan lolos dari cowok itu. Namun saat ini kondisi Frankie benar-benar parah, dengan kepala dan tubuh penuh perban, tangan kiri digips dan tangan kanan yang kesakitan karena baru saja melepaskan pintu Jazz tersebut. Cowok itu berusaha menjatuh­kan pisau yang digunakan Oknum X untuk menyerangnya dengan kedua kakinya, namun Oknum X tidak berniat berlamalama dengan Frankie. Begitu melihat ada kesempatan, dia langsung melarikan diri dari Frankie. ”Hei, jangan kabur!” seru Frankie sambil mengejarnya. Dasar tolol. Memangnya dikiranya ada kemungkinan si Oknum X bersedia menuruti perintahnya? Yang tak kuduga, ternyata dari seluruh tempat yang bisa ditujunya, Oknum X malah berlari ke arahku. Aku terpaku menatap wajahnya yang ditutupi topeng mengerikan, topeng yang www.boxnovel.blogspot.com


185 mirip topeng hoki yang sering dipakai Jason si pembunuh berantai, hanya saja yang ini berwarna krem seperti wajah manusia, lebih datar dan bolong-bolongnya hanya sedikit. Kudengar teriakan Frankie yang menyuruhku lari, tapi aku tidak sanggup bergerak. Sedetik sebelum Oknum X mendekatiku, pikiranku bekerja. Dia juga sama-sama cewek seperti aku, jadi aku tak perlu takut padanya. Di samping kenyataan itu, aku lebih atletis daripada cewek-cewek kebanyakan. Aku pasti bisa merobohkannya! Jadi, dengan pemikiran itu, aku pun maju menghampirinya. Oknum X menghunjamkan pisaunya padaku. Secara spontan aku berkelit dan memegangi kedua bahunya. Dengan penuh percaya diri, aku menyundulkan kepalaku ke kepalanya. Siapa sangka sundulan itu membuat mataku jadi berkunangkunang? Sesaat kami berdua tergeletak tanpa bergerak di atas rerumput­an seperti pasangan lesbi yang sedang berpacaran. Tercium olehku wangi yang familier, wangi yang menenangkan perasaanku, wangi yang seharusnya milik orang yang begitu dekat denganku. Wangi itu membuatku lebih dulu tersadar dibanding Oknum X. Yang pertamatama terpikir olehku adalah mencopot topeng yang di­kena­kan si Oknum X. Jadi, kuulurkan tanganku dengan perasaan berdebardebar, siap melihat wajah siapa pun yang ada di balik kedok itu…. Ujung besi yang tajam menempel di pinggangku. Oke, kali ini aku sudah bertindak bodoh. Seharusnya aku merebut pisaunya lebih dulu. Frankie, yang kini sudah menyusul Oknum X, menatapku dengan wajah pucat, dan aku membalas tatapannya dengan penuh sesal. www.boxnovel.blogspot.com


186 ”Sori, Frank...,” ucapku. Frankie memberiku senyuman menenangkan, dan suaranya tenang saat berkata, ”Lepasin dia. Kalo lo mau apa-apain gue, gue nggak akan ngelawan. Janji.” Perasaanku jadi terharu banget mendengar ucapan Frankie yang bersungguh-sungguh itu. Namun, sebagai jawaban tawaran itu, Oknum X malah menarikku mundur. ”Jangan!” teriak Frankie saat melihat wajahku yang ketakutan. ”Jangan bawa dia. Bawa aja gue. Gue bisa berguna buat lo suruhsuruh, tapi kalau dia, dia cuma bisa ngerepotin elo. Lo kan juga tahu reputasi dia sebagai anak manja.” Rasa haruku langsung lenyap saat mendengar ucapannya yang penuh penghinaan itu. ”Nggak usah dengerin bacot si tukang ngoceh ini!” bentakku pada Oknum X. ”Bawa aja gue, nggak usah banyak cincong!” ”Tuan Putri,” tegur Frankie, ”lo nggak ngerti maksud orang buat nyelamatin elo?” ”Orang bego juga tau,” balasku. ”Tapi gue nggak sudi dihinahina supaya bisa selamat. Lo kira gue nggak punya harga diri?” Frankie diam sejenak. ”Sori.” Saat aku ingin memaafkannya, ku­dengar dia melanjutkan, ”Tapi kata-kata gue emang ada benernya, kan?” Cowok ini benar-benar mengesalkan. ”Kalo emang pendapat lo kayak gitu, mendingan lo pergi aja!” bentakku, tidak menyadari bahwa pegangan Oknum X padaku melonggar, sementara Frankie makin mendekati kami. ”Gue nggak sudi ditolong oleh cowok yang nganggap gue merepot­kan...” Aku menjerit kaget saat Frankie, dengan tangan kanannya yang masih berfungsi, merenggut tangan si Oknum X yang memegang www.boxnovel.blogspot.com


187 pisau. Namun, si Oknum X bukannya melepaskan pisaunya seperti yang diharapkan, malah langsung melayangkan tinju ke muka Frankie yang dipenuhi luka-luka. Seandainya tinju itu mengenai sasaran, Frankie pasti bakal merasa sakit banget. Namun, kali ini aku sigap dan menahan tangan si Oknum X. ”Jangan berani-berani...” Ucapanku terhenti saat melihat jubah Oknum X tersingkap, menampakkan sebuah gantungan ponsel mungil berbentuk sandal jepit di dekat saku kemeja seragamnya. Tanganku langsung melemah, membuat Oknum X berhasil melepas­kan diri, mendorongku ke arah Frankie, dan sementara Frankie berusaha menyambutku supaya tidak terjatuh, Oknum X berlari ke arah mobilku dan melarikannya. Sesaat, samar-samar aku mendengar suara Frankie yang menanya­kan apakah aku baik-baik saja. Lalu, mendadak terdengar suara Frankie yang sejernih kristal. ”Han, gue cium nih kalo lo nggak nyahut lagi!” Aku mendongak padanya. Wajahku memerah, bukan hanya ka­rena ucapannya, melainkan juga karena caranya memanggilku. ”Apa?” ”Nah, diancam gitu baru bereaksi.” Frankie nyengir. ”Elo nggak apa-apa?” Bukannya menjawab pertanyaannya, aku malah langsung mengeluar­kan ponselku. Kutekan nomor menuju Singapura. Tidak ada jawaban. Rasanya aku ingin menangis saja. ”Han, elo kenapa?” tanya Frankie menyadari kecemasanku. ”Gantungan ponsel yang dipakai Oknum X...,” bisikku. Air mataku mulai mengalir tak terkendalikan. ”Gantungan itu punya Jenny.” www.boxnovel.blogspot.com


188 ”LO yakin, Han?” Untuk menjawab pertanyaan Frankie, aku mengeluarkan gantung­an ponsel milikku. Gantungan ponsel itu berbentuk sandal jepit, sama persis dengan milik Jenny. Bedanya, punyaku berwarna shocking pink, sementara milik Jenny berwarna biru aqua. Frankie membisu saat melihat gantungan itu. Jelas, dia juga melihat gantungan yang sama di saku Oknum X. ”Gue tadi langsung telepon Jenny, tapi nggak ada yang angkat. Gue takut.…” Aku mendongak menatap Frankie, mataku kabur ka­rena air mata. ”Gue takut Jenny udah dicelakain sama dia, Frank!” ”Nggak,” Frankie meraihku dan memelukku. Tercium bau Betadine yang kuat dari luka-luka yang diderita cowok itu, bercampur dengan aroma tubuhnya yang khas. Merasakan kokohnya tubuh Frankie dan kehangatannya, membuatku teringat bagaimana cowok ini selalu bisa kuandalkan. Perasaanku pun menjadi lebih tenang, meski hanya sedikit. ”Jangan berpikir yang nggaknggak dulu.” 11 www.boxnovel.blogspot.com


189 ”Tapi nggak ada yang tau kalo gue dan Jenny punya gantungan ini, soalnya ini masih sangat baru,” kataku tersendat-sendat. ”Bahkan Tony dan Markus yang paling deket sama gue dan Jenny juga belum tau. Jadi, gimana cara si Oknum X dapetin gantungan ponsel Jenny?” ”Coba elo telepon Jenny dulu,” saran Frankie. ”Telepon juga orang­tuanya, semua tempat yang mungkin dituju sama dia.” ”Sekarang seharusnya Jenny masih di Singapura. Di sana dia tinggal sendirian. Sebenarnya dia tinggal bareng orangtuanya, tapi mereka selalu pulang larut malam akibat kesibukan pekerjaan mereka. Sementara itu, rumahnya di sini cuma ditunggui Mbak Mirna…” ”Telepon semuanya. Juga kalau bisa, telepon Tony dan Markus.” Seperti yang pernah kami coba, nomor ponsel Tony dan Markus tidak bisa dihubungi. Seperti yang pernah dikatakan Peter, dua cowok itu benar-benar raib bagaikan ditelan bumi. Mbak Mirna, meski kegirangan mendengar suaraku, menyahut bahwa Jenny belum kembali dari Singapura. Suara pengurus rumah Jenny itu terdengar curiga. ”Apa kalian bertengkar lagi?” tanyanya. ”Nggak,” sahutku cepat. ”Saya balik lebih cepat, Mbak, soalnya ada acara di sekolah.” Setelah mendengarkan gerutuan Mbak Mirna selama sepuluh menit, bahwa seharusnya Jenny lebih aktif di sekolah seperti aku dan sebagainya, aku pun berhasil menanyakan nomor ponsel orang­­tua Jenny. Begitu kusudahi pembicaraan dengan Mbak Mirna, aku langsung menelepon mereka. ”Jenny?” tanya ibu Jenny dengan nada seolah-olah dia baru ingat www.boxnovel.blogspot.com


190 kalau dia punya anak. ”Bukannya Jenny tinggal bareng kamu, Han?” Hatiku mencelos. ”Nggak, Tante. Saya udah kembali ke Indonesia.” ”Oh iya, Jenny pernah cerita....” Ibu Jenny terdiam lama. ”Tante juga lama nggak lihat dia, Han. Tante kira kalian pergi menginap entah di mana tanpa bilang-bilang. Kamu kan tahu, Oom dan Tante selalu memberikan kebebasan untuknya.” Kali ini kebebasan itu terdengar sangat keterlaluan dan sama sekali tidak perhatian, membuatku ingin menangis untuk Jenny. Sial, saat ini aku betul-betul sedang cengeng. ”Jangan khawatir, Han. Kalau nanti malam dia nggak pulang, Tante akan kirim orang untuk mencarinya.” Aku mengucapkan terima kasih dan menyudahi pembicaraan. ”Nggak ada yang tau?” tanya Frankie prihatin. Aku menggeleng dengan hati dicekam ketakutan. ”Gimana nih, Frank? Jenny tuh bukan cewek kayak gue. Dia tuh lemah lembut, feminin, dan terlalu baik. Dia gampang ditipu orang, Frank, dan nggak ada orang di sampingnya saat ini. Tony nggak ada, Markus nggak ada, bahkan gue yang seharusnya pulang bareng dia pun kabur duluan. Kalau ada apa-apa terjadi sama dia, semua itu salah gue, Frank...” Aku mulai menangis lagi, dan Frankie langsung mendekapku. Ada perasaan aneh menggelitik hatiku, debaran yang menyenangkan pada saat-saat gelap begini, saat merasakan Frankie begitu dekat denganku. ”Dia sangat berarti buat elo, ya?” ”Sangat,” anggukku di dadanya. ”Dia sahabat terbaik gue, Frank. Gue dan dia udah melalui sangat banyak pertengkaran www.boxnovel.blogspot.com


191 yang nyaris membuat kami jadi musuh seumur hidup, kepercayaan yang diuji habis-habisan, situasi di antara hidup dan mati.... Pokoknya, begitu banyak hal yang membuat Jenny seharusnya jauh lebih berharga daripada semua hal yang pernah gue miliki. Tapi gue malah ninggalin dia sendirian karena gue kepingin jadi pengurus MOS. Gue bener-bener egois, Frank.” ”Elo nggak egois.” Suara Frankie terasa sejuk di dekat telingaku. ”Elo cuma ambisius. Nggak semua orang berambisi, dan nggak semua ambisi itu baik, tapi elo cocok dengan ambisi lo, Han.” Aku mendongak padanya, dan dia tersenyum padaku. ”Gue bohong waktu bilang lo merepotkan. Sebenarnya lo cewek yang sangat bisa diandalkan. Cewek mana lagi yang bisa nyundul penjahat bersenjata pisau? Cewek mana lagi yang bisa jadi partner gue buat berantem di saat gue sedang terluka gini?” Hatiku melambung oleh pujiannya, bukan cuma karena semua itu terdengar menyenangkan, tapi karena aku tahu itu benar. ”Dan kalo Jenny persis seperti yang gue bayangkan, jangan khawatir, dia akan baik-baik aja.” Aku menatapnya dengan agak kaget. ”Emangnya lo belum pernah liat Jenny?” tanyaku heran. Asal tahu saja, setiap murid sekolah kami—kuralat, nyaris setiap murid sekolah kami—tahu soal aku dan Jenny. Kami bahkan dipanggil sebagai satu kesatuan, ”Hanny dan Jenny”. Tidak ada yang bisa berteman dengan Hanny tanpa Jenny, begitu pula sebaliknya. Itu sebabnya, saat pacaran dengan Jenny, mau tak mau Tony ha­rus bersahabat juga denganku. Kalau tidak, bisa-bisa dia di­tendang oleh Jenny. ”Sori...,” sahut Frankie dengan muka nyaris kelihatan malu-malu. Itu pun kalau cowok itu punya urat malu. ”Saat ngeliat elo, gue nggak bisa ngeliat cewek lain lagi.” www.boxnovel.blogspot.com


192 Jantungku berdebar keras. ”Ngerayu, ya?” ”Serius, Tuan Putri,” katanya lembut, namun terdengar kesungguhan pada nadanya. ”Meski saat itu bagi gue lo keliatan nye­belin, tetap aja gue nggak bisa liat cewek lain. Rasanya seperti tersihir oleh seorang cewek penyihir yang jahat.” Aku cemberut. ”Kayaknya kata-kata lo nggak pernah manis semua. Muji di kalimat yang satu, menghina di kalimat yang lain.” ”Sori, gue emang bukan cowok yang manis.” Frankie nyengir. ”Gue cowok yang apa adanya.” Kusadari bahwa cowok yang apa adanya inilah yang kuinginkan untuk bersamaku selama sisa hidupku yang masih panjang ini. ”Han...” Pasti cowok ini mau mengajakku pacaran. Oke, bagaimana aku harus menjawabnya? Jawaban tipikal gue-pikir-pikir-dulu atau langsung oke? Aku teringat terakhir kali aku menjawab ”oke” saat diajak pacaran, dan bagaimana hasilnya ternyata kacau berat (ya, cowok yang mengajakku pacaran waktu itu adalah si Tony sialan). Tidak, aku harus tetap tegas dengan pendirianku, selalu menyahut beri-gue-waktu-seminggu-untuk-berpikir…. ”Menurut lo, Jenny bener-bener baik?” Aku mengerjapkan mata, tak menduga pertanyaan itu. ”Hah?” ”Mm, terlintas nggak dalam pikiran lo kalau ternyata Jenny adalah Oknum X…?” Kemarahan yang mendadak muncul membuat aku menarik diri dari Frankie. ”Jangan berani-berani!” ucapku dingin. ”Tapi lo harus mengakui,” kata Frankie pelan, ”kalo ke­mungkinan besar...” www.boxnovel.blogspot.com


193 ”Kemungkinan besar apanya?!” bentakku, berusaha menyingkirkan wangi yang tercium dari tubuh Oknum X saat kami berdekatan. Wangi familier itu. Wangi Jenny. ”Lo nggak kenal Jenny sama sekali! Dia itu cewek paling mulia di dunia ini! Nggak mungkin dia nyelakain semua teman kita, nggak mungkin dia nyelakain gue!” Memikirkan Jenny mungkin mencelakaiku membuat dadaku terasa sesak. Tapi wangi itu, gantungan ponsel itu…. Tidak, tidak mungkin. Aku sudah pernah mencurigai Jenny, dan aku salah besar. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Kugelengkan kepalaku keras-keras. ”Nggak mungkin dia tega ngelakuin semua itu, Frank. Kalau lo kenal Jenny, lo pasti nggak akan mikirin hal itu sedetik pun!” ”Tapi biasanya pelaku kejahatan emang orang yang nggak terduga,” bantah Frankie, ”dan orang itu biasanya deket dengan kita. Lagi pula, sori, Han, gue nggak percaya kalo lo bilang Jenny cewek paling mulia di dunia ini. Nggak mungkin ada cewek seperti itu di sekolah kita yang borju dan dipenuhi anak-anak manja itu. Elo terlalu deket sama Jenny, sampai-sampai lo nggak bisa ngeliat dari perspektif yang tepat…” ”Perspektif yang tepat itu ya perspektif gue!” teriakku berang. ”Perspektif lo perspektif orang luar yang goblok dan nggak tahu apa-apa! Gue kenal Jenny luar-dalam, gue tahu dia nggak mungkin ngelakuin hal-hal sejahat itu. Boro-boro mukul gue, ngebentak gue aja dia nggak bakalan tega!” ”Ya udah, ya udah!” Frankie menarikku, dan dengan tololnya aku bersandar di bahu­nya. ”Nggak mungkin Jenny...,” ucapku berkeras. www.boxnovel.blogspot.com


194 ”Iya, kalo lo seyakin itu, gue percaya,” katanya sambil mengusap rambutku. ”Jangan marah lagi, Tuan Putri. Gue kan nggak bermaksud apa-apa, hanya saja kemungkinan itu terlintas dalam pikiran gue.” Jantungku nyaris berhenti saat merasakan sapuan bibir Frankie di rambutku. ”Lo nyolong cium gue, ya?” tanyaku dengan tubuh menegang. ”Tuan Putri....” Suara Frankie terdengar geli. ”Nggak ada yang nyang­ka lo udah pacaran ratusan kali kalo ngeliat sikap lo yang nggak romantis sama sekali ini.” ”Gue emang nggak romantis,” balasku sambil mendongak menatap cowok itu. ”Dan gue nggak pacaran sampai ratusan kali kok. Cuma…,” aku berusaha menghitung berapa kali aku pernah pacar­an, ”...puluhan kali.” Frankie tertawa sambil membenamkan wajahnya di rambutku dan memelukku lebih erat lagi. ”Bandingin aja sama gue yang belum pernah pacaran sama sekali.” ”Gitu aja bangga. Dasar cowok nggak laku.” Frankie menarik diri dariku. Mukanya tampak lucu. ”Cowok nggak laku?” ulangnya. ”Lo tau nggak, ada berapa cewek yang pernah ngejar-ngejar gue?” Rasa cemburuku langsung terbit. ”Siapa yang pernah ngejarngejar elo?” ”Banyak!” sahutnya sok. ”Tapi nggak ada yang secakep elo sih....” Sekarang aku jadi curiga. ”Jangan masukin gue ke daftar cewek yang ngejar-ngejar elo, ya!” www.boxnovel.blogspot.com


195 Frankie tertawa. ”Bukan ding, lo satu-satunya nama di daftar yang satu lagi.” ”Daftar apa?” ”Daftar cewek yang pernah gue kejar.” Sial! Kenapa cowok ini pandai sekali membuat jantungku berdebar tak keruan? Untuk menutupi perasaanku, aku cemberut dan berkata, ”Dasar nggak tau malu! Adik kelas berani-beraninya ngejar kakak kelas. Nyolong cium, lagi! Lain kali nggak boleh ya, Dik.” Lagi-lagi mukanya kelihatan lucu. ”Siapa yang lo panggil ’Dik’? Dasar cebol.” ”Cebol?” dengusku. ”Seratus enam puluh senti itu nggak cebol, kali! Dasar anak kelas sepuluh!” ”Eits, itu bukan lantaran gue masih kecil, tapi karena gue nggak naik kelas.” ”Yang begituan nggak usah dibanggain.” ”Nggak bangga kok,” balasnya. ”Tapi gue nggak sudi dibilang lebih kecil. Lebih nggak sudi lagi dipanggil ’Dik’.” ”Aneh banget,” celaku. ”Orang lain seneng dibilang lebih muda, kenapa lo nggak seneng?” ”Cuma cewek yang seneng dibilang lebih muda,” tukasnya. ”Kalo gue sih lebih seneng disangka lebih tua.” ”Iya deh, Oom.” Frankie mendelik padaku. ”Nggak setua itu, kaleee!” ”Jadi maunya dipanggil apa?” tanyaku geli. Dia tepekur lama, seolah-olah jawaban atas pertanyaan ini memang harus dipikirkan secara serius. Lalu mendadak tampangnya seperti mendapat pencerahan. ”Mulai sekarang, panggil gue Kakanda.” www.boxnovel.blogspot.com


196 Aku langsung berjalan meninggalkannya. ”Nggak keren, ya?” tanyanya sambil menyusul di sampingku. ”Gimana kalo Abang? Mas? Kakak?” Aku menoleh padanya. ”Panggilan yang paling cocok buat elo, si Brengsek.” ”Itu kan nggak ada manis-manisnya,” protesnya. ”Ngaca dulu sana. Emangnya lo punya tampang yang layak dikasih panggilan manis?” ”Nanti deh, begitu pulang gue langsung ngaca. Janji.” Kami berdua berdiri di tepi jalan tanpa berbuat apa-apa. ”Nah, kita mau ngapain sekarang?” tanya Frankie. ”Ya nungguin taksi,” ketusku. ”Lo kira kita mejeng doang?” ”Nungguin taksi sama aja dengan mejeng doang,” kata Frankie tenang. ”Berapa banyak taksi yang lewat di jalan sepi ini? Sebiji seminggu?” Aku cemberut. ”Jadi saran lo apa?” ”Kita telepon bala bantuan.” Dengan penuh gaya Frankie mencabut ponselnya yang kukenali sebagai ponsel yang pernah ngetren beberapa tahun lalu dan kini sudah jadi rongsokan. ”Halo, Les? Udah pulang kerja? Ada waktu buat jemput gue dan Hanny di pinggir jalan tol deket sekolahan?” Cara bicaranya seolah-olah kami baru saja pulang kencan atau hal-hal ceria semacam itu, bukannya baru dipukuli hingga babak belur dan jadi korban perampasan mobil. ”Belum, kami belum makan. Boleh, bawain minum sekalian. Itu tuh, es kelapa muda Mpok Surti! Iya, iya, betul! Gue mau yang dicampur sama es jeruk itu!” Lalu, dia bertanya padaku, ”Mau es jeruk, es kelapa muda, atau campur?” www.boxnovel.blogspot.com


197 Cowok ini benar-benar tidak mengerti yang namanya keadaan genting. ”Campur.” Oke, kalau aku, bukannya aku tidak mengerti keadaan gen­ting. Hanya saja, sekarang aku haus banget. Rasanya aku rela men­jual jiwaku demi membeli es jeruk dicampur es kelapa muda. Tapi untunglah, saat ini sepertinya aku tidak perlu bayar apa-apa. ”Es kelapanya jadi dua, Les. Esnya yang banyak, ya! Haus bener gue! Oke, sampai nanti.” Frankie mematikan ponselnya, lalu berkata padaku dengan riang, ”Sip, bala bantuan segera datang!” Kami berdua duduk di trotoar seperti sepasang mumi yang hidup terlunta-lunta setelah kabur dari piramida. ”Sori soal mobil lo...,” kata Frankie sambil menoleh padaku. ”Ya,” anggukku murung. ”Bokap gue bakalan bunuh gue.” ”Nanti gue usulin gue yang dibunuh aja deh. Mungkin setelah menghabisi satu nyawa, bokap lo nggak akan haus darah lagi.” ”Lo kira bokap gue sebrutal apa?” tukasku geli. ”Yah, kalau diliat dari sifat anaknya, mungkin brutal banget.” Aku menonjok bahunya, dan dia meringis. ”Gimanapun, kejadian sore ini salah gue,” kata Frankie lagi. Aku menoleh padanya. ”Kok tahu-tahu bilang gitu?” ”Pertama-tama, gue berhasil menyingkap identitas Oknum X. Meski cuma sedikit yang kita ketahui, ini pasti udah ngacauin rencananya dan bikin dia jadi panik. Nggak heran dia ngelakuin tindakan di luar modus operandinya, kan?” Kata-kata Frankie benar juga. ”Lagian, gue yang maksa buat ngejar dia. Kalo gue nggak soksokan, mungkin mobil lo cuma tergores dikit.” www.boxnovel.blogspot.com


198 ”Iya, lo emang hobi sok-sokan, tapi buat gue sama aja kok. Tergores ataupun dicuri, gue pasti diomelin abis-abis­an.” ”Nanti gue pasti bertanggung jawab deh,” hibur Frankie. ”Gue bakalan nemuin orangtua lo dan ngejelasin semua yang udah terjadi. Gimanapun, semua ini udah telanjur. Mereka pasti ngerti kondisi yang kita hadapi.…” Aku memelototinya. ”Tolong deh, jangan deskripsiin masalah kita seolah-olah lo baru menghamili gue.” ”Hah?” Tampang Frankie bengong sejenak. ”Nggak lah. Gue kan anak polos, mana mungkin gue ngelakuin hal sebejat itu? Ke­cuali kalo lo ngegoda gue abis-abisan, Tuan Putri. Kalo begitu, mungkin gue susah bertahan juga dari prinsip-prinsip kuat gue...” Cowok ini benar-benar kurang ajar. Sejak kapan aku jadi cewek penggoda? Memangnya aku Violina? ”Capek gue dengerin omongan lo!” ketusku sambil berdiri, menepuk-nepuk rokku, lalu berjalan pergi. ”Hei, Tuan Putri, tunggu!” Kudengar Frankie berteriak di belakang­ku. ”Ya ampun, setiap kali ngambek, pasti kerjanya kabur me­lulu.” Aku mempercepat langkahku saat Frankie berhasil menyusulku. Tapi berhubung kaki sialannya jauh lebih panjang daripada kakiku, apalagi kakiku juga masih agak sakit akibat tertimpa balok beberapa hari lalu, dia sama sekali tidak mengalami kesulitan menyejajarkan langkahnya dengan langkahku. ”Jangan marah dong. Kita kan baru selamat dari marabahaya bersama-sama. Kapan lagi lo bisa nemuin cowok yang bisa dampingin lo baik dalam susah maupun sengsara, setengah hidup maupun setengah mati, seperti yang udah kita alamin sama-sama ini?” www.boxnovel.blogspot.com


Click to View FlipBook Version