The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam di Malang Raya (6)-compressed

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Alfania sheila, 2023-08-30 07:22:09

Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam di Malang Raya (6)-compressed

Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam di Malang Raya (6)-compressed

Mitigasi dan adaptasi bencana ALAM DI MALANG RAYA LANG RAYA


Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam di Malang Raya Program Studi S1 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang 2023


Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Pasal 113 (1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah). (2) Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). (3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). (4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).


Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam di Malang Raya Program Studi S1 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang 2023 Neni Wahyuningtyas, S. Pd., M.Pd dkk i


MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA DI MALANG RAYA Copyright©2023, Neni Wahyuningtyas, S. Pd., M. Pd Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Penulis: Neni Wahyuningtyas, S. Pd., M. Pd Agus Purnomo, S.Pd, M.Pd Nevy Farista Aristin, S.Pd, M.Sc. Ardhina Nadhianty Sheila Alfania Penyunting: Fatiya Rosyida, S.Pd, M.Pd Penata Letak: Sheila Alfania Perancang Sampul: Sheila Alfania Penerbit: Prodi S1 Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang Jalan Semarang no 5, Kota Malang, 65145


KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmatnya, saya dapat menyelesaikan penyusunan Buku Mitigasi dan Adaptasi Bencana di Malang Raya dengan baik. Buku ini merupakan salah satu bentuk pengembangan bahan ajar untuk peserta didik SMA/MA kelas XI pada mata pelajaran IPS materi Mitigasi dan Adaptasi kebencanaan. Data dan informasi yang termuat dalam Buku ini adalah berbagai kenampakan bentuk muka bumi yang ada di wilayah Malang Raya meliputi Kompleks Bromo Tengger Semeru, Kompleks Arjuno Welirang, Dataran Rendah Daerah Aliran Sungai Brantas, Wilayah Perbukitan Struktural, dan Wilayah Perbukitan Kapur. Tentunya dengan bentuk kenampakan bumi pada wilayah Malang Raya menjadikan wilayah ini rawan terjadi bencana alam. Informasi yang termuat dalam buku ini juga berkaitan dengan Mitigasi dan Adaptasi Bencana di Malang Raya. Diharapkan data dan informasi tersebut dapat memberikan gambaran umum pada peserta didik mengenai bentuk muka bumi pada wilayah Malang Raya yang menjadikan wilayah ini rawan terhadap bencana serta memberikan pengetahuan mengenai Mitigasi dan Adaptasi Bencana di Malang Raya sehingga dapat digunakan peserta didik untuk mempermudah memahami materi pembelajaran. Saya selaku penyusun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pembuatan Buku ini. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan Buku ini. Semoga Buku ini dapat bermanfaat bagi peserta didik dan dunia pendidikan. Malang, Agustus 2023 Penyusun ii


DAFTAR ISI iii HALAMAN JUDUL.....................................................................................................i KATA PENGANTAR...................................................................................................ii DAFTAR ISI..............................................................................................................iii A. LETAK DAN LUAS WILAYAH MALANG RAYA........................................................1 1. Letak dan Luas Kabupaten Malang................................................................2 2. Letak dan Luas Kota Malang.........................................................................4 3. Letak dan Luas Kota Batu..............................................................................6 B. BENTUK MUKA BUMI MALANG RAYA..................................................................9 1. Kompleks Gunung Api....................................................................................10 1a. Kompleks Bromo Tengger Semeru.....................................................15 1b. Kompleks Arjuno Welirang.................................................................19 2. Dataran Rendah DAS Brantas......................................................................22 3. Wilayah Perbukitan Struktural.......................................................................24 4. Wilayah Perbukitan Kapur.............................................................................25 C. MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAM DI MALANG RAYA..........................26 1. Konsep Bencana............................................................................................27 2. Jenis dan Karakteristik Bencana...................................................................29 2a. Bencana Geologis...........................................................................30 2b. Bencana Hidrometeorologis............................................................38 3. Penanggulangan Bencana...........................................................................44 4. Peran Masyarakat dalam Penanggulangan Bencana..................................47 DAFTAR RUJUKAN .................................................................................................50


Malang Raya disebut juga dengan kawasan metropolitan Malang karena terdiri dari beberapa wilayah administratif yaitu Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu. Bagian barat dan timur dari wilayah Malang Raya merupakan kawasan dataran tinggi dikarenakan terdapat beberapa kompleks gunung api. Sedangkan bagian selatan wilayah Malang Raya merupakan dataran rendah berupa wilayah pesisir Laut Selatan Jawa. A. LETAK DAN LUAS WILAYAH MALANG RAYA Pemandangan Kota Malang Sumber. Canva 1


1. Letak dan Luas Kabupaten Malang 2


Sebelah Utara : Kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo Sebelah Barat : Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri Sebelah Selatan : Samudera Indonesia Sebelah Timur : Kabupaten Lumajang Bagian Tengah : Kota Malang dan Kota Batu Kabupaten Malang merupakan kabupaten terbesar kedua di Jawa Timur setelah Kabupaten Banyuwangi. Letak astronomis Kabupaten Malang terletak pada koordinat 112°17’10,90” BT - 122°57’00,00” BT dan 7°44’55,11” LS - 8°26’35,45” LS. Luas wilayah Kabupaten Malang yaitu 3.534,86 km2 atau 353.486 ha, yang terdiri dari wilayah daratan dan lautan dengan luas masing-masing yaitu 3.534,86 km2 dan 557,81 km2. Kabupaten Malang memiliki ketinggian 250 – 500 m di atas permukaan laut dengan keragaman topografi mulai dari dataran rendah, dataran tinggi, gunung api aktif dan tidak aktif, perbukitan, sungai, dan pesisir. Adapun letak geografis dari Kabupaten Malang berbatasan dengan: 3


4 2. Letak dan Luas Kota Malang


5 Sebelah Utara : Kecamatan Singosari dan Kecamatan Karangploso Sebelah Barat : Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau Sebelah Selatan : Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji Sebelah Timur : Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang Kota Malang adalah kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya. Letak astronomis Kota Malang terletak pada koordinat 112.06° - 112.07° BT, 7.06° - 8.02° LS. Luas wilayah Kota Malang yaitu 110,06 km2. Wilayah Kota Malang memiliki ketinggian 445 - 526 m di atas permukaan air laut dengan topografi berupa dataran tinggi yang dikelilingi oleh perbukitan serta pegunungan. Adapun letak geografis dari Kota Malang berbatasan dengan beberapa kecamatan di Kabupaten Malang, yaitu:


6 3. Letak dan Luas Kota Batu


7 Sebelah Utara : Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan Sebelah Barat : Kecamatan Pujon Sebelah Selatan : Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau Sebelah Timur : Kecamatan Karangploso dan Kecamatan Dau Kota Batu merupakan kota yang memiliki potensi sebagai kota pariwisata di Jawa Timur. Letak astronomis Kota Batu terletak pada koordinat 122°17’ - 122°57’ BT dan 7°44’ - 8°26’ LS. Luas wilayah Kota Batu yaitu 199,09 km2 atau 19.908,72 ha. Wilayah Kota Batu memiliki ketinggian 897 m di atas permukaan laut dengan topografi berupa perbukitan dan pegunungan dengan kemiringan lahan berkisar antara kemiringan 0% - >40%. Adapun letak geografis dari Kota Batu berbatasan dengan:


Puncak tertinggi di Pulau Jawa terletak di Kabupaten Malang, tepatnya berada di Puncak Mahameru, Gunung Semeru dengan ketinggian mencapai 3.676 mdpl. Gunung Semeru berada di kawasan Kompleks Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang secara administratif berada di wilayah dua kabupaten yaitu Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Gunung Semeru merupakan salah satu bentuk lahan vulkanik (gunung api) yang berasal dari zona tumbukan antar lempeng Benua Asia dengan Samudra Australia. Tumbukan lempeng ini mengakibatkan adanya jalur magma yang memanjang sejajar dengan garis tumbukan. Akibatnya di sepanjang Pulau Jawa bagian tengah terdapat banyak gunung api. Puncak Gunung Semeru apabila dilihat dari arah selatan dan tenggara akan membentuk kerucut sempurna, tetapi pada kenyataannya puncak Gunung Semeru membentuk struktur yang rumit. Gunung Semeru memiliki kawah yang dikenal dengan sebutan Jonggring Saloko. Selain keindahan kawahnya, Gunung Semeru juga menjadi destinasi favorit bagi para pendaki karena sepanjang jalur pendakian Semeru, banyak ditemukan objek wisata yang menarik. Objek wisata tersebut antara lain Ranu Kumbolo, Padang Rumput Jambangan, Oro - Oro Ombo, Cemoro Kandang, Pangonan Cilik, Kalimati, Arcopodo, dll. 8 Tahukah kamu?


Kalian telah membaca dan melihat sekilas mengenai bentuk muka bumi wilayah Malang Raya. Untuk selanjutnya, kalian akan mempelajari berbagai jenis kenampakan bentuk muka bumi yang tersebar di wilayah Malang Raya. Agar lebih memahami materi, amatilah terlebih dahulu peta fisiografi Malang Raya di bawah ini: B. BENTUK MUKA BUMI MALANG RAYA kampung warna-warni jodipan Sumber. Canva 9 Peta Fisiografi Malang Raya Sumber. Agus Purnomo (2021)


Gunung api merupakan salah satu jenis kenampakan bentuk muka bumi berupa rekahan atau lubang kepundan yang berfungsi sebagai aliran tempat keluarnya cairan magma yang membawa berbagai macam material hasil endapan menuju ke permukaan bumi (Umam, Alhidayah and Fauziyah, 2019). Jenis gunung api berdasarkan bentuk dan proses terjadinya, dapat dibedakan menjadi gunung api maar, gunung api perisai (landai), dan gunung api kerucut (strato). 10 1. kompleks gunung api


Contoh gunung api maar terdekat dari Malang ada di wilayah Kabupaten Lumajang, yaitu Gunung Lamongan yang sekarang sudah tidak aktif. Bekas letusan gunung ini pada masa lalu masih dapat diamati sebagai bentukan danau vulkanik Tiga Ranu Lumajang, yaitu Ranu Klakah, Bedali, dan Pakis Jenis gunung api maar terbentuk karena letusan yang sangat kuat dan bersifat eksplosif. Akibat dari letusan tersebut, puncak gunung membentuk suatu lubang besar yang disebut dengan kawah. 11 Gunung Api Maar Sumber. Pustakasekolah.com Danau vulkanik Tiga Ranu Lumajang Sumber. Google Earth (2021) Gunung Api Maar


Contoh gunung api jenis perisai (landai) tidak dapat ditemukan di Indonesia. Gunung ini berasal dari zona pemakaran benua. Salah satu gunung api perisai yang terkenal adalah Gunung Kilauea yang terletak di kepulauan Hawaii dan berstatus aktif. Pada gambar dapat dilihat bentuk dari Gunung Kilauea berbeda dengan bentuk gunung yang biasa dijumpai di Indonesia. Gunung Kilauea memiliki alas yang sangat luas tetapi tidak mempunyai lereng yang tinggi dan curam. Jenis gunung api perisai terbentuk karena letusan dengan tekanan lemah dan bersifat efusif sehingga menyebabkan cairan magma keluar secara cepat, mengalir, dan menyebar ke daerah di sekitarnya. Proses letusan tersebut mengakibatkan bentuk alas gunung api relatif luas dengan lereng gunung yang landai. 12 Gunung Api Perisai (landai) Gunung Api Perisai Sumber. Pustakasekolah.com Gunung Kilauea Sumber. Google Earth (2021)


Malang Raya merupakan wilayah yang dikelilingi oleh gunung api strato. Di sebelah timur terdapat Kompleks Bromo Tengger Semeru, di sebelah barat laut terdapat Kompleks Arjuno Welirang, dan di sebelah barat terdapat Kompleks Kawi Anjasmoro. Gunung-gunung yang berada pada kompleks gunung api tersebut merupakan jenis gunung api kerucut (strato) dengan ciri khas yaitu mempuyai lereng yang tinggi dan puncak yang mengerucut Jenis gunung api kerucut terbentuk karena bahan piroklastika yang dikeluarkan saat erupsi magma menumpuk secara terus menerus hingga berlapislapis sehingga menyebabkan bentuk gunung semakin tinggi dan menjadi kerucut. Gunung api strato adalah gunung api dengan bentuk kerucut dan merupakan hasil dari tumbukan lempeng. 13 Gunung Api Kerucut (strato Gunung Api Kerucut Sumber. Pustakasekolah.com Kompleks Gunung Api di Malang Raya Sumber. Google Earth (2021)


Malang Raya dikenal sebagai kawasan yang dikelilingi oleh kompleks gunung api. Hal tersebut dikarenakan Indonesia terletak dalam wilayah ring of fire (cincin api) (Syiko, Rachmawati and Rachmansyah, 2014). Jenis gunung api yang berada di Jawa Timur termasuk dalam jenis gunung api kerucut (strato) yang merupakan akibat dari tumbukan lempeng Asia dan Australia. Wilayah Malang Raya mempunyai kompleks gunung api terkenal yaitu Kompleks Bromo Tengger Semeru di sisi timur dan Kompleks Arjuno Welirang di sisi barat. Pemandangan pegunungan di Malang Raya Sumber. tamanpendidikan.com 14


Kompleks Bromo Tengger Semeru merupakan suatu kawasan gunung api yang terdiri dari dua gunung api aktif yaitu Gunung Bromo dan Gunung Semeru, serta adanya kenampakan bentuk muka bumi unik yaitu Kaldera Tengger yang di dalamnya terdapat gunung api lainnya (Syamsu Budiyanti, 2015). Kompleks Bromo Tengger Semeru ditetapkan menjadi salah satu taman nasional yang berada di Jawa Timur sejak tahun 1982. Kompleks Bromo Tengger Semeru juga menjadi kawasan wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan karena keunikan panoramanya berupa lautan pasir yang sangat luas. Letak Kompleks Bromo Tengger Semeru Sumber. Data pribadi 15 1a. kompleks bromo, tengger, semeru


Gunung Bromo merupakan salah satu gunung api aktif yang ada di Jawa Timur dengan ketinggian mencapai 2.329 m di atas permukaan laut. Gunung Bromo termasuk dalam jenis gunung strato atau kerucut. Letak koordinat Gunung Bromo yaitu 7°56.30’ LS dan 112°57’ BT, dengan kawah yang luas berukuran 600 m x 800 m (Wuryani, Maryanto and Nadhir, 2014). Gunung Bromo mempunyai keunikan yaitu letaknya yang saling tumpang tindih dengan badan gunung lainnya sehingga membentuk suatu rangkaian vulkanik yang berada di dalam kawasan Kaldera Tengger. GUNUNG BROMO Kenampakan Gunung Bromo Sumber. Google Earth (2021) 16


Kaldera merupakan suatu kawah vulkanik yang terbentuk akibat dari aktivitas letusan gunung api dengan tekanan kuat (eksplosif) serta dapat terbentuk akibat dari erupsi efusif yang menyebabkan runtuhnya batuan ke dalam dapur magma (Marbun, Muta’ali and Sudrajat, 2019). Kaldera Tengger berupa hamparan pasir luas serta rangkaian badan gunung api kerucut yang saling tumpang tindih. Kaldera Tengger terdiri dari Kaldera Ngadisari, Kaldera Lautan Pasir, Kaldera Argowulan, Lembah Sapikerep, dan Pematang Cemara Lawang. Di kawasan Kaldera Lautan Pasir terdapat rangkaian badan gunung api yang terdiri dari Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Kursi, dan Gunung Widodaren. Satu – satunya gunung api aktif di rangkaian badan gunung tersebut adalah Gunung Bromo yang merupakan gunung api termuda (Muchlisin et al., 2019). KALDERA TENGGER Kenampakan Kaldera Tengger 17 Sumber. Google Earth (2021)


Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, dan gunung tertinggi ketiga di Indonesia yang memiliki ketinggian mencapai 3.676 m di atas permukaan laut dengan puncaknya bernama Mahameru. Gunung Semeru termasuk dalam jenis gunung strato atau kerucut. Letak koordinat Gunung Semeru berada di 8°06' LS dan 112°55' BT. Apabila dilihat dari jarak jauh, puncak Gunung semeru berbentuk kerucut sempurna, namun apabila berada di puncaknya Gunung Semeru membentuk suatu kubah besar di setiap tebingnya (Agustin, 2015). GUNUNG SEMERU 18 Kenampakan Gunung Semeru Sumber. Google Earth (2021)


Kompleks Gunung Api Arjuno Welirang merupakan suatu rangkaian gunung api yang puncaknya berada pada satu punggungan gunung yang sama yaitu terdiri dari Gunung Arjuno, Gunung Kembar I, Gunung Kembar II, dan Gunung Welirang (Utama, Harijoko and Husein, 2016). Punggungan merupakan suatu kontur tanah yang berada di pegunungan maupun perbukitan berbentuk U atau V terbalik 180°. Puncak dari punggungan memiliki ketinggian paling tinggi dibandingkan dengan kedua sisinya. Sisi punggungan dapat berbentuk landai maupun terjal. Kompleks Gunung Api Arjuno Welirang terbentuk akibat adanya tumbukan lempeng Indo-Australia di Samudra Hindia, sehingga menyebabkan penunjaman kerak samudra lalu kerak benua pada Jawa Timur bagian selatan terangkat dan membentuk jalur magma. Kompleks Arjuno Welirang termasuk dalam sabuk vulkanik Zona Solo yang letaknya berada di Pegunungan Serayu Utara-Kendeng dan Pegunungan Selatan (Luckytasari, Cancerio and Fitri, 2019). 19 Letak Kompleks Arjuno Welirang dan Kawi Anjasmoro Sumber. Data pribadi 1b. kompleks arjuno welirang


Gunung Arjuno merupakan salah satu gunung api aktif yang ada di Jawa Timur dengan ketinggian mencapai 3.339 m di atas permukaan laut. Gunung Arjuno termasuk dalam jenis gunung strato atau kerucut dan merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Timur setelah Gunung Semeru, serta gunung tertinggi keempat di Pulau Jawa. Letak koordinat Gunung Arjuno berada di 112°29’12” – 112°37’39” BT sampai 7°37’56” – 7°49’51” LS. GUNUNG ARJUNO 20 Kenampakan Gunung Arjuno Sumber. Google Earth (2021)


Gunung Welirang merupakan salah satu gunung api aktif yang ada di Jawa Timur dengan ketinggian mencapai 3.156 m di atas permukaan laut. Gunung Welirang termasuk dalam jenis gunung strato atau kerucut. Gunung Welirang termasuk dalam pengelolaan dan pengawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo bersama dengan Gunung Arjuno. Nama Gunung Welirang diambil dari Bahasa Jawa yang artinya belerang. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya lokasi penambangan belerang di gunung tersebut (Wulandari, 2019). GUNUNG WELIRANG 21 Kenampakan Gunung Welirang Sumber. Google Earth (2021)


2. DATARAN RENDAH DAERAH ALIRAN SUNGAI BRANTAS Sungai merupakan salah satu kenampakan bentuk muka bumi yang permukaannya berupa cekungan dan digunakan sebagai jalannya air dari tempat yang tinggi menuju ke daerah yang lebih rendah. Aliran sungai tersebut menuju dan berhenti di muara berupa danau, laut, maupun sungai lainnya. Sungai dapat berasal dari mata air, air hujan, maupun berasal dari es yang mencair (gletser). Terdapat dua aktivitas yang terjadi di sungai yaitu erosi dan sedimentasi. 22 Erosi yang terjadi di sungai dapat diartikan sebagai salah satu contoh akibat dari pengaruh tenaga eksogen yang merubah bentuk atau topografi sungai dengan cara pengikisan lapisan tanah yang disebabkan oleh arus air. Material-material yang terkikis akibat erosi tersebut akan terbawa oleh aliran air sepanjang badan sungai (Lihawa, 2009). Sedangkan sedimentasi merupakan proses lanjutan dari aktivitas erosi, yaitu pengendapan material sedimen yang merupakan hasil dari erosi kemudian terbawa oleh aliran air dan mengendap pada daerah muara sungai. Proses sedimentasi tersebut dapat menyebabkan pendangkalan dasar sungai (Andayani and Yulianti, 2019).


hulu Merupakan bagian sungai yang menghubungkan daerah hulu dan hilir sungai. Pada bagian tengah sungai masih terjadi aktivitas erosi tetapi tidak sekuat pada bagian hulu karena arus air yang mulai melambat. Bagian tengah sungai terdapat proses transportasi yaitu pengangkutan material sedimen hasil erosi yang terbawa aliran air menuju bagian hilir. tengah hilir Merupakan bagian sungai yang paling dekat dengan sumber mata air dan merupakan tempat bermulanya aliran sungai. Hulu sungai juga dapat disebut sebagai kepala sungai. Hulu sungai biasanya berada pada daerah dataran tinggi seperti pegunungan atau perbukitan. Pada daerah hulu sungai terjadi aktivitas erosi yang sangat cepat karena arus air yang sangat kuat. Erosi yang mengikis tepi sungai menyebabkan sungai semakin lebar, sedangkan erosi yang mengikis dasar sungai mengakibatkan sungai semakin dalam. Merupakan bagian sungai yang menghubungkan daerah hulu dan hilir sungai. Pada bagian tengah sungai masih terjadi aktivitas erosi tetapi tidak sekuat pada bagian hulu karena arus air yang mulai melambat. Bagian tengah sungai terdapat proses transportasi yaitu pengangkutan material sedimen hasil erosi yang terbawa aliran air menuju bagian hilir. 23 Berdasarkan letaknya, sungai dibagi menjadi tiga bagian yaitu hulu, tengah, dan hilir.


3. WILAYAH PERBUKITAN STRUKTURAL Wilayah perbukitan struktural yang berada pada bagian selatan Malang Raya merupakan bentukan lahan yang berasal dari hasil proses tenaga endogen yaitu tektonisme dan seisme (gempa), kemudian menghasilkan bentuk muka bumi berupa tebing, bukit, dan lembah. Lahan struktural dikenal dengan ciri khas permukaan reliefnya yang kasar dan terdiri dari lipatan dan patahan (Kurnianto, 2019). 24 Letak wilayah perbukitan struktural Sumber. Data pribadi


25 Selain wilayah perbukitan struktural, pada bagian selatan Malang Raya juga terdapat kenampakan bentuk muka bumi berupa wilayah perbukitan kapur atau biasa disebut dengan Karst Malang Selatan yang memiliki ketinggian mencapai 650 m di atas permukaan laut (Susanti and Meviana, 2019). Wilayah perbukitan kapur tersebut berada di antara Daerah Aliran Sungai Brantas yang menjadi batas sisi utara dan Samudra Hindia sebagai batas sisi selatan. Letak wilayah perbukitan kapur Sumber. Data pribadi 4. WILAYAH PERBUKITAN KAPUR


Kalian telah membaca dan melihat sekilas mengenai bentuk muka bumi dan berbagai jenis kenampakan bentuk muka bumi yang tersebar di Wilayah Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu), Jawa Timur. Perlu di ingat bahwa Bagian barat dan timur dari wilayah Malang Raya merupakan kawasan dataran tinggi dikarenakan terdapat beberapa kompleks gunung api. Sedangkan bagian selatan wilayah Malang Raya merupakan dataran rendah berupa wilayah pesisir Laut Selatan Jawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Dengan demikian, perlu adanya upaya mitigasi dan adaptasi bencana alam di wilayah Malang Raya. pantai teluk asmara Sumber. Traveloka 26 C. MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAM DI MALANG RAYA


1. KONSEP BENCANA APA ITU BENCANA ? Bencana merupakan rangkaian peristiwa yang dapat mengganggu dan mengancam kehidupan manusia. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain faktor alam, faktor non-alam, dan faktor manusia. Bencana dapat mengakibatkan kerusakan, korban jiwa, juga kehilangan harta benda. Sebuah peristiwa dapat dikategorikan sebagai bencana apabila peristiwa tersebut mengganggu kelangsungan hidup manusia. Bencana diawali dengan adanya potensi bahaya yang dapat mengancam kehidupan manusia. Ancaman yang terjadi dapat menjadi lebih besar dan lebih merusak tergantung pada kesiapan manusia dalam menghadapi ancaman tersebut. Potensi kerusakan yang dialami oleh manusia sebagai akibat dari bencana dalam kurun waktu tertentu disebut sebagai risiko bencana. Risiko bencana dapat dipengaruhi oleh tiga faktor penting yakni : kerentanan, ancaman bencana dan kemampuan manusia dalam merespon bencana tersebut. 27


BENCANA ALAM adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. BENCANA NON ALAM adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror BENCANA SOSIAL 28 Bencana berdasarkan penyebabnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga yakni bencana alam, bencana nonalam dan bencana sosial. Di dalam Undang-undang No. 24 Tahun 2007 didefinisikan mengenai bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial. adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemik, dan wabah penyakit.


Berbagai fenomena dan lingkungan alam di bumi saling berinteraksi yang dapat memengaruhi kehidupan makhluk hidup di bumi, termasuk manusia. Interaksi antar fenomena pada litosfer, atmosfer, dan hidrosfer dapat menimbulkan dampak yang merugikan dan mengancam kehidupan manusia sehingga dikategorikan sebagai bencana alam. Terdapat dua jenis bencana alam, yaitu: bencana alam geologis dan bencana alam hidrometeorologis. 2. JENIS DAN KARAKTERISTIK BENCANA Bencana alam geologis, yakni terjadi akibat proses tektonik dan siklus yang berlangsung dalam perut bumi. Peristiwa yang termasuk ke dalam bencana alam geologis yaitu: gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan gunung meletus. Bencana alam hidrometeorologis yakni disebut juga dengan bencana klimatologis. Bencana ini dipengaruhi oleh perubahan iklim dan kondisi cuaca. Peristiwa yang termasuk dalam bencana alam hidrometeorologis yaitu: banjir, kekeringan, badai, dan cuaca ekstrim. 29


2A. BENCANA GEOLOGIS 1.Gempa bumi Gempa bumi adalah getaran pada permukaan bumi yang disebabkan oleh pergerakan patahan geologi. Pergerakan tersebut mengakibatkan terjadinya pelepasan energi (getaran) yang sampai ke permukaan bumi. Gempa bumi diukur menggunakan Skala Richter, Skala Mercalli, atau Magnitudo. Terdapat dua jenis gempa bumi, yaitu gempa bumi tektonik dan gempa bumi vulkanik. Indonesia menjadi salah satu wilayah yang juga rentan terhadap gempa bumi. Salah satu contonya yakni gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,1 SR mengguncang wilayah Malang Selatan pada 10 April 2021. Mengakibatkan ratusan rumah rusak. Salah satu lokasi yang cukup parah terdampak gempa adalah di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Gempa Bumi di Kecamatan Ampelgading Sumber. antaranews.com 30


31 VIDEO MITIGASI BENCANA GEMPA BUMI


2.TSUNAMI Tsunami merupakan gelombang besar yang melintasi lautan dengan kecepatan sangat tinggi. Istilah “Tsunami” diadaptasi dari Bahasa Jepang yakni kata tsu yang berarti pelabuhan, dan nami yang berarti ombak. Tsunami disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya: gempa bawah laut, longsor bawah laut, dan aktivitas gunung api bawah laut. Bencana Pada wilayah Malang Raya terutama Malang Selatan juga berpotensi terjadi Tsunami. Menurut Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang terdapat potensi terjadinya gempa besar hingga 8,9 SR yang memicu tsunami setinggi 17 meter. Pada tahun 1994 wilayah Kabupaten Malang juga pernah mengalami dampak akibat benturan lempeng. Kala itu gempa bumi dengan magnitudo 7,8 terjadi di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Akibat gempa tersebut, timbul gelombang Tsunami yang dampaknya dirasakan hingga wilayah pesisir Kabupaten Malang. 32 Pantai Malang Selatan Sumber. radarmalang.id


33 VIDEO MITIGASI BENCANA TSUNAMI


3. TANAH LONGSOR Tanah longsor merupakan fenomena perpindahan material penyusun lereng berupa tanah, batu, dan bahan rombakan yang mengalir menuruni lereng. Bencana tanah longsor secara umum terjadi akibat gangguan atau kestabilan material penyusun lereng. Tidak stabilnya material tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya: kondisi geologi, jenis tanah, curah hujan, kemiringan lereng dan pemanfaatan lahan di suatu wilayah. Tanah longsor berdasarkan prosesnya dapat dibedakan menjadi enam (6) yaitu: Longsoran rotasi, Longsoran translasi, Pergerakan blok, Rayapan tanah, Runtuhan batu, dan Aliran bahan rombakan. Tanah longsor juga kerap kali terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Salah satu wilayah yang rawan terhadap bencana longsor yakni Kota Batu, Jawa Timur. Pada awal bulan maret 2023, tanah longsor mendominasi kejadian bencana alam di Kota Batu. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, selama periode 1-9 Maret 2023 telah terjadi 16 kejadian bencana alam. Dari seluruh kejadian itu, 12 di antaranya berupa tanah longsor. Cuaca ekstrem dan alih fungsi lahan jadi faktor utama pemicu peristiwa tersebut. 34 Tanah Longsor di Batu Sumber. Liputan6.com


35 VIDEO MITIGASI BENCANA TANAH LONGSOR


4. gUNUNG MELETUS Seringkali gunung meletus disebut juga dengan istilah erupsi. Erupsi gunung api mengacu pada aktivitas vulkanisme serta proses keluarnya material yang berasal dari dalam perut bumi. Material tersebut berupa lava, awan panas, abu vulkanik, dan material piroklastik lainnya. Erupsi gunung api dapat mengakibatkan hancurnya kehidupan dan hilangnya harta benda. Berdasarkan kekuatannya, terdapat dua tipe erupsi gunung api, yaitu erupsi eksplosif, dan erupsi efusif. Gunung semeru yang terletak di Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang menjadi salah satu gunung yang mengalami erupsi pada awal Januari lalu, tepatnya pada tanggal 16 Januari 2021. Potensi bahaya erupsi tersebut berupa guguran awan panas sejauh radius 4,5 km dari puncak Mahameru, material lontaran, abu vulkanik, aliran lava, dan lahar di sepanjang sungai yang berhulu di Gunung Semeru. 36 Erupsi Gunung Semeru Sumber. pikiranrakyat.com


37 VIDEO MITIGASI BENCANA GUNUNG MELETUS


2B. BENCANA HIDROMETEOROLOGIS 1. BANJIR Banjir merupakan luapan air dalam jumlah yang besar melebihi batas normal. Penyebab banjir umumnya adalah curah hujan yang tinggi, salju yang meleleh, kerusakan tanggul, dan kondisi drainase yang kurang mampu menampung air hujan. Luapan air yang besar dapat mengganggu aktivitas dan kelangsungan hidup manusia apabila melanda wilayah pemukiman, pertanian, dan wilayah lainnya yang terdapat aktivitas manusia. Banjir dapat digolongkan ke dalam tiga jenis, yaitu banjir bandang, banjir sungai, dan banjir pesisir. Wilayah Malang Raya juga kerap terjadi banjir. Pada 6 Juli 2023, hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan banjir di Desa Sitiarjo Kecamatan Sumbermanjing, dan Desa Lebakharjo, Dusun Sukomaju, Dusun Krajan Kecamatan Ampelgading. Ketinggian air mencapai 30 cm hingga 1 m. 38 Banjir luapan yang terjadi di Desa Sitiarjo, Kabupaten Malang Sumber. antaranews.com


39 VIDEO MITIGASI BENCANA BANJIR


2.KEKERINGAN Kekeringan adalah situasi minumnya ketersediaan air bagi manusia. Hal ini dikarenakan oleh penurunan curah hujan dalam kurun waktu yang lama, kurangnya daerah resapan air, dan kurangnya kemampuan tanah untuk menyimpan air tanah. Kekeringan merupakan bencana yang terjadi secara perlahan akan tetapi memiliki dampak yang luas. Bencana kekeringan ini memiliki dampak yang bersifat lintas sektoral, mulai dari kekurangan air bersih, kerusakan sumber daya ekologi, penurunan hasil pertanian, kelaparan, hingga korban jiwa. Berdasarkan dampak tersebut, kekeringan dibedakan menjadi empat (4), yaitu: 1) kekeringan meteorologi, 2) kekeringan hidrologi, 3) kekeringan pertanian, dan 4) kekeringan sosial-ekonomi. Pada awal bulan Agustus 2023 saat ini, terdapat beberapa wilayah di Kabupaten Malang mengalami kekeringan akibat musim kemarau. Desa yang terdampak, yaitu Desa Sidorenggo Kecamatan Ampelgading, Desa Sumberoto Kecamatan Donomulyo, Desa Klampok Kecamatan Singosari, serta Desa Jabung dan Desa Kemiri di Kecamatan Jabung. Polres Malang telah menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang membutuhkan, sebanyak 19 truk tangki ukuran 5000 liter dipergunakan. 40 Bantuan Air bersih Sumber. BatasMedia99.com


41 VIDEO MITIGASI BENCANA KEKERINGAN


3.ANGIN PUTING BELIUNG Angin puting beliung adalah Pusaran angin kencang dengan kecepatan 120 km/jam atau lebih. Bencana ini dapat terjadi karena perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin puting beliung yang bergerak dari lautan dapat mengaduk air laut di bawahnya dan pusat menyebabkan gelombang besar (badai). Pada pusat badai mata angin yang bertekanan rendah akan membentuk kubah air yang tinggi. Kubah air ini akan menjadi banjir bila angin badai menghantam daratan. Angin puting beliung sering terjadi di wilayah tropis diantara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat berdekatan dengan khatulistiwa. Pada beberapa wilayah Malang Raya juga kerap terjadi angin puting beliung. Pada 15 Desember 2022 di Desa Asrikaton dan Ampeldento, Kecamatan Pakis belasan rumah rusak akibat angin puting beliung. Mayoritas rumah yang rusak kondisinya atap berterbangan akibat angin kencang disertai hujan deras. 42 Rumah Rusak Akibat Angin Puting Beliung di Kabupaten Malang Sumber. malang.times.co.id


VIDEO MITIGASI BENCANA ANGIN PUTING BELIUNG 43


Click to View FlipBook Version