The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam di Malang Raya (6)-compressed

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Alfania sheila, 2023-08-30 07:22:09

Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam di Malang Raya (6)-compressed

Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam di Malang Raya (6)-compressed

3.PENANGGULANGAN BENCANA 44 Penanggulangan bencana adalah upaya yang dilakukan sebagai langkah mengurangi risiko bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekontruksi. Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang beresiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat dan rehabilitasi. Penanggulangan bencana merupakan upaya berkelanjutan yang bertujuan untuk menekan kerugian dan korban jiwa akibat bencana. Disisi lain, penanggulangan bencana juga dapat membentuk masyarakat yang resilience (memiliki ketahanan dan kemampuan untuk bangkit dari bencana). Terdapat tiga tahapan penting dalam penanggulangan bencana, yaitu: tahap prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana. Tahap prabencana terbagi lagi ke dalam dua tahap yaitu pencegahan dan kesiapsiagaan. Tahapan tersebut digambarkan dalam gambar siklus disamping. Siklus penanggulangan bencana Sumber. handalselaras.com


Mitigasi struktural mencakup seluruh pembangunan prasarana dan infrastruktur fisik untuk mengurangi kerugian akibat bencana. Mitigasi non-struktural mencakup peningkatan kesadaran, kapasitas, dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana. Pencegahan dan mitigasi adalah tahap awal penanggulangan bencana. Pencegahan adalah upaya untuk mengurangi ancaman dan kerentanan terhadap bencana. Sedangkan mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana baik melalui peningkatan kualitas fisik maupun peningkatan wawasan masyarakat dalam menghadapi bencana. Terdapat dua pola dalam mitigasi bencana, yaitu mitigasi struktural dan mitigasi non-struktural. Pencegahan dan Mitigasi Pelatihan siaga bagi setiap sektor penanggulangan bencana Pengadaan posko siaga dan lokasi evakuasi bencana; Penyiapan sistem informasi dan komunikasi terpadu untuk membantu proses penanggulangan bencana; Penyusunan data akurat, informasi, dan pemutakhiran prosedur tanggap darurat Kesiapsiagaan adalah upaya yang dilakukan pada saat ditemukan potensi terjadinya bencana. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi datangnya bencana melalui langkah yang tepat dan berdaya guna. Tahap ini membutuhkan kerjasama antara beberapa pihak antara lain pemerintah, swasta, dan seluruh lapisan masyarakat. Bentuk kesiapsiagaan bencana di antaranya : KESIAPSIAGAAN Tahapan dalam siklus penanggulangan bencana harus dilakukan secara sistematis mulai dari tahap prabencana, tanggap darurat, hingga pascabencana. 45


Penentuan status darurat bencana; Pengkajian cepat terhadap cakupan lokasi bencana, kerusakan, jumlah korban, dan kebutuhan; Pencarian dan penyelamatan; Evakuasi masyarakat yang terdampak bencana; Pemenuhan kebutuhan dasar (seperti: air bersih, sanitasi, sandang, pangan, pelayanan kesehatan, pelayanan psikososial, dan hunian sementara). Fase tanggap darurat ialah upaya yang dilakukan dengan cepat pada saat kejadian bencana. Hal ini bertujuan untuk menekan korban jiwa dan kerugian hingga seminimal mungkin. Kegiatan yang dilakukan pada tahap tanggap darurat di antaranya : tanggap darurat Fase pascabencana terdiri atas dua kegiatan utama yakni rehabilitasi dan rekonstruksi. Rehabilitasi adalah upaya perbaikan atau pemulihan unsur pelayanan publik yang bertujuan untuk menormalisasi kehidupan masyarakat setelah terjadinya bencana. Bentuk rehabilitasi di antaranya: perbaikan lingkungan yang terdampak bencana, bantuan perbaikan rumah bagi masyarakat, dan sebagainya. Disisi lain, rekonstruksi adalah pembangunan kembali sarana dan prasarana serta kelembagaan wilayah setelah terjadinya bencana. Hal ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya pasca terjadinya bencana. Bentuk kegiatan ini di antaranya: pembangunan kembali fasilitas sosial, penerapan rancang bangun tahan bencana, dan sebagainya. pasca bencana 46


4. Peran Masyarakat dalam Penanggulangan Bencana Penanggulangan bencana dengan melibatkan masyarakat secara langsung merupakan langkah penting untuk mencapai keberhasilan dalam meminimalisir korban jiwa atau kerugian akibat bencana. Hal ini mendorong pemerintah untuk melaksanakan penanggulangan bencana dengan prinsip swakarsa, yakni menekankan pada kesiapan dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. Pemerintah pusat memberikan kewenangan bagi kepala daerah untuk melaksanakan penanggulangan bencana sesuai dengan kearifan lokal wilayah masing-masing. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana melalui semangat gotong royong. Partisipasi aktif masyarakat dalam penanggulangan bencana tercermin dalam program Kampung Siaga Bencana (KSB) dan Desa Tangguh Bencana (Destana). 47


Kampung Siaga Bencana merupakan program pemberdayaan masyarakat yang dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia No. 128 Tahun 2011. Kampung Siaga Bencana (KSB) ini bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi masyarakat dari ancamana dan risiko bencana melalui kegiatan pencegahan dan penanggulang. Dapat dicontohkan Desa Sukomulyo dan Bendo Sari di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang merupakan Kampung Siaga Bencana (KSB) yang secara langsung dirintis pemerintah. Terdapat juga pada 4 (empat) Kawasan Siaga Bencana di Wilayah Malang Selatan yakni Kampung Siaga Bencana (KSB) Kec. Donomulyo, KSB Kec, Gedangan, KSB Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan KSB Kec. Tirtoyudo 48 4a. KAMPUNG SIAGA BENCANA Kampung Siaga Bencana di Kabupaten Malang Sumber. kominfokabmlg


Desa Tangguh Bencana (Destana) merupakan program yang dibentuk berdasarkan Peraturan Kepala BNPB No. 1 tahun 2012 tentang Pedoman Umum Desa atau Kelurahan Tangguh Bencana. Program Destana bertujuan untuk mendorong masyarakat agar berpartisipasi aktif dalam menganalisis, menangani, memantau, dan mengevaluasi risiko bencana yang ada di wilayah tempat tinggal. Pelaksana dan pengurus Destana bersifat dari, oleh, dan untuk masyarakat. Tercatat sudah ada 20 dari 378 desa di Kabupaten Malang yang dinyatakan tangguh bencana. Ketangguhan bencana masingmasing desa pun berbeda, mulai dari tingkat utama hingga pratama. Tujuannya agar warga desa setempat memiliki persiapan jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam. 49 4b. DESA TANGGUH BENCANA Desa tangguh bencana di Kabupaten Malang Sumber. jawapos.com


50 Agustin, H. (2015) The Seven Summits of Indonesia. Yogyakarta: CV. Andi Offset. Andayani, R. and Yulianti, D. (2019) ‘Analisis debit muatan sedimen dasar pada Muara Sungai Ogan’, Jurnal Desiminasi Teknologi, 7(1), pp. 9–19. Brahmantyo, B. and Salim, B. (2018) ‘Klasifikasi Bentuk Muka Bumi (Landform) untuk Pemetaan Geomorfologi pada Skala 1:25.000 dan Aplikasinya untuk Penataan Ruang’, Jurnal Geoaplika, 1, pp. 71–79. doi:10.31227/osf.io/8ah6v. Kurnianto, F. A. (2019) ‘Proses-Proses Geomorfologi pada Bentuk Lahan Lipatan’, Majalah Pembelajaran Geografi, 2(2), pp. 194–196. Lihawa, F. (2009) ‘Pendekatan Geomorfologi Dalam Survei Kejadian Erosi’, Jurnal Pelangi Ilmu, 2(5), pp. 118. Luckytasari, N. P., Cancerio, C. R. and Fitri, W. N. (2019) Analisis Transverse Electric dan Transverse Magnetic pada Data Magnetotelurik Daerah Panas Bumi Arjuno-Welirang, Prosiding Seminar Nasional Kebumian ke 12.Yogyakarta. Marbun, S. F., Muta’ali, L. and Sudrajat, S. (2019) ‘PENGEMBANGAN KAWASAN GEOPARK KALDERA TOBA DI KABUPATEN SAMOSIR (Development of The Geopark Kaldera Toba Area in Samosir District)’, Jurnal Sains Informasi Geografi, 2(2), p. 18. doi: 10.31314/jsig.v2i2.281. Muchlisin, A. et al. (2019) Magmagama Expedition: The Secret of Bromo. Yogyakarta: UGM Press. Siregar, S. (2017) Fisika Tata Surya. Bandung: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB. Susanti, N. E. and Meviana, I. (2019) ‘Nilai Laju Pelarutan Batu Gamping Pada Mataair Sumber Agung Di Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang’, JPIG (Jurnal Pendidikan dan Ilmu Geografi), 4(1), pp. 51–59. doi 10.21067/jpig.v4i1.3091. Syamsu Budiyanti (2015) ‘ANALISIS DESKRIPTIF AKTIVITAS DAN POTENSI KOMUNITAS DESA “ENCLAVE” RANU PANE PADA ZONA PEMANFAATAN TRADISIONAL, KECAMATAN SENDURO, KAB. LUMAJANG, WILAYAH TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU (TNBTS)’, Dimensi: Jurnal of Sociology, 8(1), pp. 1–11. doi: .1037//00332909.I26.1.78. DAFTAR PUSTAKA


51 Umam, M. F., Alhidayah, Y. and Fauziyah, R. (2019) ‘Analisis Material Endapan Vulkan Gunung Semeru Kabupaten Lumajang’, Majalah Pembelajaran Geografi, 2(1), pp. 92–98. Utama, H., Harijoko, A. and Husein, S. (2016) ‘Studi Vulkanisme dan Struktur Geologi untuk Eksplorasi Awal Panas Bumi di Kompleks Gunung Api Arjuno Welirang’, Seminar Nasional Kebumian, 9, pp. 83–92. Wulandari, S. (2019) MEKANISME BERTAHAN HIDUP PENAMBANG BELERANG DI GUNUNG WELIRANG. Universitas Airlangga. Wuryani, S. D., Maryanto, S. and Nadhir, A. (2014) ‘Identifikasi Kantung Magma Gunung Bromo Berdasarkan Analisa Sebaran Hiposenter Gempa VTA’, Brawijaya Physics Student Journal, pp. 2–5.


Click to View FlipBook Version