The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Computational Thinking Disusun oleh Devi Widiya Anggraeni (7000123757)
PPG Prajabatan Gelombang 1 2023
IKIP Siliwangi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by adeviwidiya, 2024-01-04 20:03:53

Portofolio Computational Thinking - Devi Widiya Anggraeni (7000123757)

Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Computational Thinking Disusun oleh Devi Widiya Anggraeni (7000123757)
PPG Prajabatan Gelombang 1 2023
IKIP Siliwangi

LAPORAN PORTOFOLIO COMPUTATIONAL THINKING disusun untuk memenuhi UAS (Ujian Akhir Semester) mata kuliah Computational Thinking yang diampu oleh Ibu Diena San Fauziya, M.Pd. oleh Devi Widiya Anggraeni NIM 7000123757 PENDIDIKAN PROFESI GURU PRAJABATAN GELOMBANG 1 TAHUN 2023 PROGRAM STUDI BAHASA INDONESIA IKIP SILIWANGI 2024


i DATA DIRI PEMBUAT PORTOFOLIO Nama Mahasiswa : Devi Widiya Anggraeni, S.Pd. NIM : 7000123757 Program Studi : Bahasa Indonesia Tempat dan Tanggal Lahir : Karawang, 25 Juni 2000 Agama : Islam Status Marital : Belum Kawin Pendidikan Terakhir : S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pengalaman Kerja : Tutor Bahasa Indonesia Lokasi PPL PPG Prajabatan a. Sekolah : SMP Negeri 15 Cimahi b. Nama Guru Pamong : Hj. Imas Apong Nurhayati, S.Pd. c. Dosen Pembimbing Lapangan : R. Mekar Ismayani, M.Pd. d. Dosen Pengampu MK CT : Diena San Fauziya, M.Pd. Hobby/Kegemaran : Mendengarkan musik dan menulis Cimahi, 03 Januari 2024 Devi Widiya Anggraeni, S.Pd. NIM 7000123757


ii PRAKATA DAN UCAPAN TERIMA KASIH Alhamdulillah puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah Swt. karena dengan rahmat dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan tugas portofolio tepat waktu dengan sebaik-baiknya. Selawat serta salam tidak lupa saya curahkan kepada Nabi besar Muhammad Saw. beserta para sahabatnya. Tujuan dari penyusunan portofolio ini adalah untuk memenuhi UAS (Ujian Akhir Semester) mata kuliah Computational Thinking yakni melaporkan hasil merestrukturisasi portofolio sebagai pencapaian belajar dalam mata kuliah tersebut. Portofolio ini juga diharapkan dapat menjadi bekal saya pada saat kelak menjalani profesi sebagai seorang guru. Penyusunan portofolio ini tidak lepas dari kesalahan dan masih jauh dari hasil yang sempurna. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun baik bagi saya maupun pembaca. Rasa syukur serta terima kasih selain kepada Allah Swt. yang senantiasa memberikan pertolongan, kemudahan, dan kelancaran, saya juga akan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang senantiasa memberikan doa, dukungan, serta semangat kepada saya selama pelaksanaan kuliah PPG Prajabatan ini. Semoga Allah Swt. membalas kebaikan dari semua pihak yang telah mendukung saya. Semoga portofolio ini bisa bermanfaat bagi saya dan pembaca. Cimahi, 03 Januari 2024 Devi Widiya Anggraeni, S.Pd. NIM 7000123757


iii DAFTAR ISI DATA DIRI PEMBUAT PORTOFOLIO i PRAKATA DAN UCAPAN TERIMA KASIH ii DAFTAR ISI iii Topik 1. Pendalaman Pemahaman Computational Thinking 1 Topik 2. CT dalam Kurikulum 8 Topik 3. CT dalam Problem Solving 9 Topik 4. CT dan Proyek 32 Topik 5. Integrasi CT dalam Mata Pelajaran 38 SIMPULAN 61 LAMPIRAN 62


1 Topik 1. Pendalaman Pemahaman Computational Thinking Nama : Devi Widiya Anggraeni NIM : 7000123757 Tugas : SEL.09.2-T1-8a. Unggah Portofolio - Aksi Nyata Mata Kuliah : Computational Thinking (CT) Hal-hal yang menjadi bagian dari portofolio untuk topik pendalaman CT adalah sebagai berikut: 1. Hasil diskusi pada bagian Ruang Kolaborasi (dapat berupa slide presentasi/laporan). Nama/No. Kelompok: 3 No. Induk / Nama Mahasiswa : 1. Devi Widiya Anggraeni, S.Pd. 2. Karniti, S.Pd. 3. Sandi Nurjaman, S.Pd. Hasil Diskusi secara umum : ● Computational thinking dapat diimplementasikan dalam berbagai kegiatan/aktivitas sehari-hari. ● Pemecahan masalah dengan secara computational thinking dapat menggunakan alat bantu dalam bentuk penggunaan alat komputer atau tanpa menggunakan alat komputer. Tentunya hal tersebut merujuk pada hasil analisis persoalan yang akan dipecahkan. ● Pada empat fondasi CT, bisa untuk menyelesaikan suatu permasalahan secara menyeluruh, dan bisa juga dari tiap-tiap fondasi tersebut sudah dapat menyelesaikan permasalahan.


2 Contoh hal atau persoalan zaman sekarang yang tidak memakai “komputer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT. Persoalan zaman sekarang yang membutuhkan computational thinking dan tidak memakai adanya media/alat bantu berupa komputer, TIK, dan robot adalah ketika seorang Guru atau Wali kelas pada saat tahun ajaran baru, dia harus membentuk struktur organigram kelas. Tentunya guru tersebut dapat menyelesaikan persoalan yang ada dengan mengimplementasikan setiap pondasi CT. 1. Fondasi Dekomposisi Guru dapat membagi terlebih dahulu struktur organigram menjadi beberapa bagian seperti ketua, sekretaris, bendahara, dan bidang lainnya sesuai kebutuhan kelas. 2. Fondasi Pengenalan Pola Guru menentukan beberapa calon peserta didik yang dapat mengisi susunan organigram dengan menerapkan dan mengkomparasikan kemampuan serta pemahaman peserta didik dari aspek kepemimpinan, kemampuan, dan pengetahuan. 3. Fondasi Abstraksi Guru melakukan tahap eliminasi atau memilih peserta didik yang sesuai dengan kapasitasnya dalam susunan organigram tersebut. 4. Fondasi Algoritma Setelah ditentukan peserta didik yang sesuai dengan kualifikasi untuk mengisi organigram tersebut, tahap selanjutnya guru bersama siswa membuat tabel organigram kelas dan menjelaskan tentang alur koordinasi serta instruksi dari setiap elemen yang ada dalam organigram guna menjaga kestabilan dan keberlangsungan organisasi di dalam kelas.


3 Penerapan fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari. A. Jawaban yang sudah tepat 1. Dekomposisi, contoh penerapannya saat perayaan ulang tahun yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat. Pada acara ulang tahun tersebut terdapat sebuah keik sebagai bentuk dari rasa syukur atas bertambahnya usia. Agar anggota keluarga dan kerabat dapat mencicipi keik tersebut. Maka solusinya adalah keik tersebut harus dibagi menjadi beberapa potongan yang lebih kecil. 2. Pengenalan pola, contoh penerapannya ketika hendak pergi dari Bandung ke Karawang dengan menggunakan kendaraan seperti mobil dan kereta. Jika menggunakan mobil biasanya bisa ditempuh hanya dengan dua atau tiga jam perjalanan melalui tol. Maka akan berbeda jika perjalanan di tempuh dengan menggunakan kereta. Meskipun begitu tetapi tujuannya tetap sama yakni tiba di Karawang. 3. Abstraksi, contoh penerapannya ketika menjadi peserta yang menghadiri seminar luring. Sebagai peserta cukup berfokus pada inti sari dari penyampaian informasi yang disampaikan masing-masing pemateri seminar. Bagian-bagian yang tidak relevan bisa untuk tidak dipentingkan. 4. Algoritma, contoh penerapannya yaitu langkah membuat minuman energen. Langkah pertama sediakan gelas. Langkah kedua masukkan serbuk energen. Langkah ketiga tuangkan air panas ke dalam gelas. Kemudian, langkah terakhir aduk hingga merata. 5. Dekomposisi, perkuliahan ke kampus dan keperluan ke kantor pos. Aktivitas ini berkaitan dengan permasalahan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Persoalan ini kita harus bisa memecahkan masalah ini, seperti contoh di atas pemecahan masalah tersebut harus bisa mencari solusi dengan tepat agar perkuliahan datang tepat waktu. 6. Pengenalan pola, perjalanan rute yang akan ditempuh ke kampus dan kantor pos. Tahapan ini berkaitan dengan aktivitas kita dalam menentukan perjalanan untuk mencari solusi supaya urusan dapat diselesaikan pada hari itu juga, penyelesaian persoalan tersebut dengan cara membandingkan rute perjalanan ke arah kampus dan kantor pos, apabila arah ke kampus melewati kantor pos kita bisa untuk


4 menyelesaikan persoalan ke kantor pos terlebih dahulu baru ke kampus. apabila rute kantor pos lebih jauh sebaiknya kita memilih untuk ke kampus saja. 7. Abstraksi, contoh penerapannya ketika proses eliminasi bagian-bagian yang tidak relevan dari suatu persoalan, permasalahan ini terdapat pada mengabaikan untuk keperluan ke kantor pos dan lebih memilih fokus pada jadwal perkuliahan di kampus yang sudah terstruktur. 8. Abstraksi: Mahasiswa ditugaskan oleh dosen dalam membuat resume seminar internasional di kampus. Tentunya dalam mengerjakan tugas tersebut, mahasiswa akan mencatat hal-hal penting saja dan menyeleksi informasi yang tidak berkenaan dengan tujuan materi yang perlu dicatat. 9. Algoritma: Siswa diberikan projek untuk membuat pupuk kompos. Tentunya siswa diberikan pemahaman terlebih dahulu tentang langkah-langkah yang tepat dalam membuat pupuk kompos tersebut dengan urutan yang sesuai. Apabila setiap langkah diikuti dengan baik, maka siswa dapat membuat pupuk kompos. 10. Pengenalan Pola: Seorang Siswa diminta menganalisis pola pengembangan paragraf dari dua teks yang berbeda. Maka siswa akan membandingkan pola paragraf apakah deduktif, induktif, dan pola campuran berdasarkan hasil analisis terhadap teks yang dibaca. B. Jawaban yang kurang tepat 1. Algoritma, menentukan alat transportasi perjalanan agar tepat waktu sampai kampus untuk mengikuti pembelajaran. Hal tersebut dapat termasuk juga dalam fondasi CT pengenalan pola. Contohnya seseorang dapat membandingkan waktu perjalanan antara menggunakan kendaraan roda dua dan kendaraan umum roda empat, maka terdapat perbedaan pola waktu yang ditempuh menuju kampus. 2. Dekomposisi: Menyusun Organigram kelas. Guru atau wali kelas akan membagi beberapa pokok pembahasan dalam menentukan ketua, sekretaris, bendahara, dan beberapa bidang lainnya. Tentu ini merupakan penyelesaian masalah dengan membagi kedalam beberapa pemecahan masalah yang lebih kecil. Permasalah di atas dapat pula diselesaikan dengan fondasi CT yang lainnya seperti adanya pondasi


5 abstraksi dan pengenalan pola dalam menentukan peserta didik yang sesuai untuk menempati struktur organigram. 2. Feedback yang diberikan kelompok lain pada saat Demonstrasi Kontekstual. Nama/No. Kelompok: 3 No. Induk / Nama Mahasiswa: 1. Devi Widiya Anggraeni, S.Pd. 2. Karniti, S.Pd. 3. Sandi Nurjaman, S.Pd. Feedback/pertanyaan: Tanggapan/solusi: Tanggapan dari Bapak Abdul Hakim Saya setuju terkait dengan pemecahan suatu persoalan dengan CT, persoalan bukan hanya dipecahkan oleh teknologi tetapi bisa secara sederhana sesuai konteks persoalannya. Beberapa contoh persoalan yang diberikan dapat juga di golongkan ke dalam pemecahan fondasi lain. Pemecahan persoalan dengan menggunakan prinsip CT tentu tidak harus menggunakan alat atau bantuan teknologi karena pada prinsipnya pemecahan dengan CT tergantung pada analisis persoalan yang dihadapi. Tanggapan dari Bapak Bakti Abdullah Pemaparan video belum mengungkapkan contoh persoalan yang kurang Terjadi kesalahan teknis ketika pengeditan video ada bagian yang hilang. Bagian tersebut akan kami tambahkan.


6 tepat, bisa ditambahkan pemaparan yang belum ada. kemudian contoh penerapan CT didalam kelas dengan persoalan membuat organigram kelas bisa diimplementasikan oleh guru. 3. Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi Nyata Hasil refleksi 1. Apa harapan/target Anda dalam mengikuti mata kuliah ini? Jawaban: Harapan/target saya dalam mengikuti mata kuliah ini bisa memperoleh pengetahuan baru yang belum pernah saya ketahui. Dengan bertambahnya wawasan terkait CT khususnya dalam ranah pendidikan harapannya dapat membawa perubahan pada diri saya untuk dapat mengatasi permasalahan baik dalam kehidupan saya sehari-hari maupun dalam kegiatan pembelajaran di kelas karena saya belum pernah mengajar di sekolah, bukan tidak mungkin saya pasti akan menemukan sebuah permasalahan dalam proses mendidik peserta didik dengan karakteristik yang unik dan beragam. 2. Pemahaman baru apa yang Anda dapatkan setelah mempelajari CT? Jawaban: Setelah mempelajari CT saya menjadi tahu bahwa proses CT ternyata sudah sering dilakukan dalam aktivitas sehari-hari. Hanya saja karena kurangnya wawasan menjadikan saya tidak tahu bahwa ketika melakukan proses berpikir untuk penyelesaian sebuah permasalah secara efektif, efisien, dan dicapai melalui alur sistematis sesuai situasi dan kondisi dengan berkolaborasi teknologi, proses tersebut merupakan CT. Adapun setelah memahami konsep CT dan fondasi dari CT, saya menjadi tahu dan acap kali menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 3. Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadaan CT dalam kehidupan Anda? Jawaban: Menurut pendapat saya keberadaan CT sangat membantu terstrukturnya penyelesaian permasalahan yang perlu dihadapi. Dengan berpikir logis, maka satu


7 persatu persoalan baik itu sederhana atau kompleks dapat diselesaikan dengan memperoleh hasil yang efektif, efisien, dan optimal. Tanpa CT menurut saya proses menjalani kehidupan tidak akan teratur karena permasalahan sejatinya selalu ada dalam kehidupan kita. Dengan menguraikan sebuah permasalahan untuk menemukan solusinya harus dilakukan dengan berpikir logis agar pemikiran kita bisa terstruktur untuk mengelompokkan permasalahan tersebut masuk ke dalam fondasi CT dan dengan membiasakan diri beriringan bersama CT itu bisa meminimalkan kekhawatiran kita ketika menghadapi sebuah permasalahan. Sehingga proses mengatasi permasalahan akan lebih mudah dan optimal. 4. Bagaimana perasaan Anda setelah belajar mengenai CT? Jawaban: Perasaan saya senang ketika memperoleh ilmu terkait dengan CT. Mempelajari CT pastinya akan membantu membentuk saya untuk menjadi orang yang lebih siap ketika mendapatkan sebuah permasalahan. Dengan terbiasa beriringan dengan CT mempermudah proses pemecahan masalah yang harus saya hadapi di kehidupan sehari-hari. 5. Apa potensi kendala yang mungkin akan Anda alami selama mengikuti kuliah ini? Jika ada, tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk mengantisipasinya? Jawaban: Potensi kendala yakni keteteran waktu penyerahan tugas yang hanya diberi waktu paling lambat tiga hari setelah perkuliahan berlangsung. Sedangkan tuntutan tugas dari mata kuliah yang lain juga sama banyaknya apalagi ditambah dengan pelaksanaan PPL ke sekolah. Untuk mengantisipasinya, maka harus menerapkan CT, dengan begitu tugas-tugas yang menumpuk dapat dikelompokkan seperti mana saja yang tenggatnya paling singkat harus dikerjakan terlebih dahulu.


8 Topik 2. CT dalam Kurikulum Nama : Devi Widiya Anggraeni NIM : 7000123757 Tugas : SEL.09.2-T2-8. Aksi Nyata Mata Kuliah : Computational Thinking (CT) Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dan tuliskan hasilnya sebagai bagian dari portofolio akhir untuk mata kuliah ini! 1. Bagaimana perasaan Anda saat menelaah lebih lanjut mengenai CP CT dalam pertemuan kuliah ini? Jawaban: Perasaan saya senang saat menelaah lebih lanjut mengenai CP CT dalam perkuliahan ini karena pemikiran saya bisa lebih tercerahkan dalam mendalami materi. Dengan memperoleh informasi mengenai CP CT saya jadi tahu bahwa CT dalam kurikulum memiliki capaian pembelajarannya tersendiri dan dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran lain. 2. Tuliskan pengetahuan-pengetahuan baru yang Anda dapatkan dari pertemuan ini? Jawaban: Saya memperoleh pengetahuan baru setelah mengikuti perkuliahan ini yaitu CP CT yang terdiri dari beberapa fase. Sebelumnya saya belum tahu sama sekali, ternyata CP CT bisa berkaitan juga dengan CP mata pelajaran yang akan saya ampu yaitu CP mata pelajaran Indonesia.


9 Topik 3. CT dalam Problem Solving Nama : Devi Widiya Anggraeni NIM : 7000123757 Tugas : SEL.09.2-T3-12 Aksi Nyata & Portofolio Mata Kuliah : Computational Thinking (CT) 1. Pengalaman menarik apa saja yang Anda dapatkan dari mengimplementasikan CT untuk menyelesaikan berbagai jenis persoalan? Anda bisa menceritakan keberhasilan dan kegagalan yang Anda alami dalam mempelajari topik ini. Jawaban: Pengalaman menarik yang saya dapatkan dari mengimplementasikan CT untuk menyelesaikan berbagai jenis persoalan yaitu penyelesaian persoalan dengan menggunakan urutan fontasi CT secara sistematis. Keberhasilan yang saya alami ketika mempelajari topik ini saya bisa menerapkan berpikir CT ketika memecahkan persoalan yang kompleks. Melalui pemberian tugas atau latihan saya mencoba menyelesaikan persoalan pada kehidupan sehari-hari yang sederhana seperti menyelesaikan soal-soal pada tantangan Bebras dan PISA/AKM. Kegagalan yang saya alami adalah ketika saya belum selalu bisa tepat waktu dalam menyelesaikan tugas yang artinya saya belum optimal dalam menerapkan CT pada persoalan yang saya hadapi. 2. Apakah terjadi perubahan cara berpikir yang Anda alami setelah mempelajari topik CT dalam problem solving? Jawaban: Ya, terjadi perubahan cara berpikir yang saya alami setelah mempelajari topik CT dalam problem solving. Saya ternyata bisa menyelesaikan permasalahan yang kompleks menjadi lebih terstruktur dengan menemukan solusi terbaik. Saya jadi lebih meresapi permasalahan, tidak lekas menyimpulkan solusi atau tidak terburu-buru dalam menentukan solusi dari permasalahan yang saya hadapi karena harus menyesuaikan terlebih dahulu dengan empat fondasi CT. 3. Apakah ada perbaikan yang dapat Anda lakukan terhadap cara mengajar Anda nantinya setelah mempelajari topik CT dalam problem solving? Jawaban: Ya, setelah mempelajari topik CT dalam problem solving. Ada yang perlu saya perbaiki terhadap cara mengajar yang nantinya akan saya lakukan. Misalnya dalam menyusun soal untuk peserta didik, saya belum mengintegrasikan CT dalam soal yang dibuat. Sehingga peserta didik belum bisa menerapkan berpikir CT karena soal-soal yang saya buat masih terbilang sederhana, seperti apa yang dimaksud dengan puisi? Bagaimana cara merumuskan tema puisi yang dibaca?. Perbaikan tersebut diharapkan mampu mengarahkan peserta didik


10 untuk berpikir CT dan mencari solusi secara efektif, efisien, dan optimal dari soal-soal yang mereka kerjakan. Susunan Portofolio Topik CT dalam Problem Solving. 1. Lembar kerja mahasiswa pada eksplorasi konsep (02.04) SEL.09.2-T3-2 - 02.04. Lembar Kerja Mahasiswa – Eksplorasi Konsep Topik 3 Nama/NIM : Devi Widiya Anggraeni/7000123757 Jenjang/Mata Pelajaran yang diampu : SMP/Bahasa Indonesia Judul soal : Memisahkan Dadu No. Pertanyaan Jawaban 1. Tuliskan solusi untuk masing-masing soal! Solusi dari pesoalan jenjang SD memperoleh hasil 5. Solusi dari pesoalan jenjang SMP memperoleh hasil 3. Solusi dari pesoalan jenjang SMP memperoleh hasil 4. 2. Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapat solusi dari masing-masing soal! Jika Anda menggunakan lebih dari satu cara berpikir, tuliskan pada jenjang mana Anda menggunakan cara berpikir tersebut! Langkah berpikir untuk soal jenjang SD yakni dengan menggunakan dadu. Berhubung tidak tersedia dadu. Maka, dapat membuat replika dadu dari alat/bahan yang ada. Penghapus dapat digunakan dengan memberikan penomoran sesuai dengan dadu. Langkah selanjutnya adalah dengan menggulirkan dadu sesuai petak yang terdapat dalam persoalan. Langkah kesatu menunjukkan angka 5, langkah kedua menunjukkan angka angka 1, langkah ketiga menunjukkan angka 2, langkah keempat menunjukkan angka 4, dan langkah kelima menunjukkan angka 5. Langkah berpikir untuk soal jenjang SMP yakni dengan menggunakan dadu. Berhubung tidak tersedia dadu. Maka, dapat membuat replika dadu dari alat/bahan yang ada. Penghapus dapat digunakan dengan memberikan penomoran sesuai dengan dadu. Langkah selanjutnya adalah dengan menggulirkan dadu sesuai petak yang terdapat dalam persoalan. Langkah kesatu menunjukkan angka 5, langkah kedua menunjukkan angka angka 1, langkah ketiga menunjukkan angka 2, langkah keempat menunjukkan angka 4, langkah kelima menunjukkan angka 5, langkah keenam


11 menunjukkan angka 1, dan langkah ketujuh menunjukkan angka 3. Langkah berpikir untuk soal jenjang SMA yakni dengan menggunakan dadu. Berhubung tidak tersedia dadu. Maka, dapat membuat replika dadu dari alat/bahan yang ada. Penghapus dapat digunakan dengan memberikan penomoran sesuai dengan dadu. Langkah selanjutnya adalah dengan menggulirkan dadu sesuai petak yang terdapat dalam persoalan. Langkah kesatu menunjukkan angka 5, langkah kedua menunjukkan angka angka 1, langkah ketiga menunjukkan angka 2, langkah keempat menunjukkan angka 4, langkah kelima menunjukkan angka 5, langkah keenam menunjukkan angka 1, langkah ketujuh menunjukkan angka 3, langkah kedelapan menunjukkan angka 2, dan langkah kesembilan menunjukkan angka 4. 3. Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan persoalan ini! 1. Fondasi dekomposisi Memahami persoalan untuk dipecahkan berdasarkan soal tiap jenjang yang disuguhkan. 2. Fondasi pengenalan pola Mengenali pola penyelesaian persoalan dengan mengidentifikasi jumlah titik dadu pada kedua sisi berlawanan yaitu berjumlah 7. Titik 1 berlawanan dengan 6, titik 2 berlawanan dengan 5, dan titik 3 berlawanan dengan 4. 3. Fondasi abstraksi Memilih solusi yang paling efektif, efisien, dan optimal dengan membuat replika dadu dari alat peraga/bahan sederhana menyerupai dadu seperti penghapus. 4. Fondasi algoritma Memulai langkah pemecahan persoalan dengan replika dadu dan menggulirkannya sesuai dengan petak yang ada pada soal tiap jenjang. Sehingga dapat memperoleh hasil. 4. Adakah contoh pada kehidupan seharihari yang mengimplementasikan konsep yang ada pada soal ini? Contoh pada kehidupan sehari-hari pengimplementasian konsep yang ada pada persoalan yang disajikan adalah bermain permainan tradisional engklek. Dalam


12 permain tersebut, sebelum memainkannya harus menggambar pola petaknya terlebih dahulu. Pemain harus memahami pola permainannya agar bisa menyelesaikan permainan. 5. Tuliskan perbedaan kompleksitas persoalan untuk masing-masing jenjang yang terdapat di soal ini! Perbedaan kompleksitas persoalan untuk masing-masing jenjang yaitu pada jumlah petak yang bertambah. Pada jenjang SMP dan SMA masing-masing terdapat pengembangan tingkat kompleksitas dengan adanya penambahan petak sebanyak dua kotak perjenjang. 2. Hasil diskusi dan penilaian pada ruang kolaborasi (03) Nama Anggota Kelompok: Devi Widiya Anggraeni (7000123757) Karniti (7000124389) Sandi Nurjaman (7000135356) SEL.09.2-T3-3a Ruang Kolaborasi - MK CT (Computational Thinking) Tabel 3.1: Penilaian Teman Kelompok Penilaian dari teman kelompok Kriteria Penilaian Anggota 1 Devi Anggota 2 Karniti Anggota 3 Sandi Apakah cara mengerjakan soal yang dituliskan dapat dipahami? Ya A A Apakah cara mengerjakan sudah lengkap? Ya A A Apakah cara mengerjakan dapat diikuti tanpa menimbulkan keambiguan? Ya A A Apakah 4 fondasi CT yang ditulis benar? Ya A A Apakah 4 fondasi CT yang dituliskan dijelaskan dengan lengkap? Ya A A Apakah contoh masalah sehari-hari yang dituliskan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan? Ya A A Tabel 3.2: Perbaikan yang perlu dilakukan Nomor Soal Hal yang perlu diperbaiki Masukan atau saran perbaikan 1 Upaya di awal menentukan juga langkah atau pola penyelesaian dari persoalan yang ada. Perlu diupayakan opsi yang efektif, efisien, dan optimal agar pemecahan persoalan tersebut dapat terselesaikan. 2 Tidak ada. Pengerjaan soal sudah baik.


13 3 Tidak ada. Pengerjaan soal sudah baik. Tabel 3.3: Rubrik Penilaian untuk Masing-masing Kriteria Hasil penilaian = A Sangat Baik 3. Hasil pada demonstrasi kontekstual (04) Bagian ini 1-3 diulang sebanyak 3 kali untuk pertemuan 4 hingga 6. Nama : Devi Widiya Anggraeni NIM : 7000123757 SEL.09.2-T3-7 - 02.04. Lembar Kerja Mahasiswa – Eksplorasi Konsep LK 02.04.01 – 02.04.05 - MK Computational Thinking 02.04.01 Lembar Kerja Mahasiswa 1 (Literasi Membaca pada Tes PISA) Nama/NIM: Devi Widiya Anggraeni/7000123757 Literasi Membaca Mengapa literasi membaca dibutuhkan oleh siswa? Literasi membaca dibutuhkan oleh siswa karena literasi membaca sebagai sarana pembiasaan diri untuk membantu pengembangan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir, meningkatkan pengetahuan, dan meningkatkan pemahaman. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuan untuk memproses ilmu pengetahuan, mempelajari berbagai disiplin ilmu, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Literasi membaca dibutuhkan oleh siswa agar mereka memiliki kemampuan membaca, menulis yang baik, dan memahami makna dari sebuah teks. Dengan memiliki kemampuan membaca dan menulis yang baik siswa akan mampu memahami materi yang dapat mendukung proses pembelajaran. Pengertian dari literasi membaca pada tahun 2018 adalah kemampuan untuk mengerti, menggunakan, merefleksikan teks untuk suatu tujuan. Literasi membaca juga mencakup siswa memiliki motivasi untuk mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks. Apa makna dari masing-masing istilah berikut ini dalam konteks literasi membaca? 1. Mengerti teks: Mengerti teks adalah memahami apa yang dimaksud dengan teks. Mengerti teks memiliki makna


14 berupa memahami bacaan atau teks yang dibaca pada kegiatan literasi membaca. Teks adalah rangkaian kata, kalimat dan paragraf dan memiliki struktur dan kaidah kebahasaan sendiri. Tujuan dari teks, yaitu untuk penyampaian sebuah informasi, menjelaskan sebuah permasalahan yang disampaikan atau disusun secara tulisan dan lisan. 2. Menggunakan teks: Menggunakan teks bermakna melakukan sesuatu dengan teks untuk mengambil manfaat yang termuat dalam sebuah teks atau bacaan. Penggunaan teks dalam sebuah media pembelajaran memiliki fungsi yang dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Selain itu, teks digunakan sebagai bahan pengembangan diri dalam literasi membaca, dan pengembangan wawasan dan pengetahuan akan lebih luas bagi pembaca yang dapat menggunakan teks dari berbagai sumber. 3. Merefleksikan teks: Merefleksikan teks bermakna sebagai gambaran yang melibatkan kemampuan untuk mengevaluasi bentuk tulisan. Isi dan bentuknya saling berkaitan untuk mengungkapkan tujuan dari sudut pandang penulis. Merefleksikan juga melibatkan pengambilan pengetahuan, opini, atau sikap seseorang di luar teks untuk menghubungkan informasi yang diberikan di dalamnya teks ke kerangka referensi konseptual dan pengalaman sendiri. Teks merupakan bagian dari media pembelajaran, teks juga memiliki fungsi yang sangat efektif. Hal ini tentunya berkaitan dengan pengetahuan dalam bentuk lembaran, sehingga pembelajaran akan lebih efektif, efisien, dan optimal karena teks ini biasanya disampaikan berupa rangkuman yang akan lebih dipahami peserta didik. 4. Memiliki motivasi untuk mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks: Motivasi bermakna dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Dengan adanya motivasi untuk mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks, peserta didik akan lebih sering membaca, baik itu dengan teks cetak atau dilayar. Peserta didik merasa percaya diri dengan kemampuan membaca mereka dan menjadi tahu strategi mana yang digunakan untuk mempelajati dan mengerti teks lebih dalam. Misalnya, meringkas teks atau mencari informasi diinternet. Dengan begitu mereka cenderung lebih mahir membaca. Apa saja jenis teks yang digunakan pada tes PISA untuk literasi membaca? Jenis teks yang digunakan pada tes PISA untuk literasi membaca seperti teks deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, instruksi, interaksi, dan transaksi (description, narration, exposition, argumentation, instruction, interaction, transaction). Terdapat 6 level progress pada reading literacy. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut! Level 1b diberikan sebagai contoh. Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1b Siswa dapat menemukan sebuah informasi yang mudah didapat dari sebuah teks sederhana. Informasi yang dicari biasanya sering diulang di dalam teks. Informasi yang dicari juga bisa


15 dinyatakan dalam gambar dan grafik sehingga memudahkan siswa menemukan informasi tersebut. 1a Siswa di Level 1a dapat menemukan satu atau lebih bagian independen dari informasi yang dinyatakan secara eksplisit, mereka dapat mengenali tema utama atau tujuan penulis dalam teks tentang topik yang sudah dikenal, atau membuat hubungan sederhana antara informasi dalam teks dan pengetahuan umum sehari-hari. Biasanya, informasi yang diperlukan dalam teks menonjol dan hanya sedikit, jika ada, informasi yang bersaing. Siswa secara eksplisit diarahkanuntuk mempertimbangkan faktor-faktor yang relevan dalam tugas dan dalam teks. 2 Siswa di Level 2 dapat menemukan satu atau lebih informasi, yang mungkin perlu disimpulkan dan mungkin perlu memenuhi beberapa kondisi. Mereka dapat mengenali gagasan utama dalam sebuah teks, memahami hubungan, atau menafsirkan makna dalam bagian teks yang terbatas ketika informasinya tidak menonjol dan pembaca harus membuat kesimpulan tingkat rendah. Tugas pada tingkat ini mungkin melibatkan perbandingan atau kontras berdasarkan fitur tunggal dalam teks. Tugas refleksi yang khas pada tingkat ini mengharuskan pembaca untuk membuat perbandingan atau beberapa hubungan antara teks dan pengetahuan luar, dengan memanfaatkan pengalaman dan sikap pribadi. 3 Siswa di Level 3 dapat menemukan, dan dalam beberapa kasus mengenali hubungan antara, beberapa informasi yang harus memenuhi beberapa kondisi Mereka juga dapat mengintegrasikan beberapa bagian teks untuk mengidentifikasi ide utama, memahami hubungan, atau menafsirkan arti kata atau frasa. Mereka perlu mempertimbangkan banyak fitur dalam membandingkan, membedakan, atau mengkategorikan. Seringkali informasi yang dibutuhkan tidak menonjol atau ada banyak informasi yang saling bersaing, atau ada hambatan teks lain, seperti ide yang bertentangan dengan harapan atau bernada negatif. Mencerminkan tugas pada tingkat ini mungkin memerlukan koneksi, perbandingan, dan penjelasan, atau mungkin mengharuskan pembaca untuk mengevaluasi fitur teks. Beberapa tugas refleksi mengharuskan pembaca untuk menunjukkan pemahaman yang baik tentang teks dalam kaitannya dengan pengetahuan sehari-hari yangakrab. Tugas-tugas lain tidak memerlukan pemahaman teks yang terperinci tetapi mengharuskan pembaca untuk memanfaatkan pengetahuan yang kurang umum. 4 Pada Level 4, siswa dapat menemukan dan mengatur beberapa informasi yang disematkan. Mereka juga dapat memaknai nuansa bahasa pada suatu bagian teks dengan memperhatikan teks secara keseluruhan. Dalam tugas menafsirkan lainnya, siswa menunjukkan pemahaman dan penerapan kategori dalam konteks asing Selain itu, siswa pada tingkat ini dapat menggunakan pengetahuan formal atau publik untuk berhipotesis atau mengevaluasi secara kritis sebuah teks. Pembaca harus menunjukkan pemahaman yang akurat tentang teks yang panjang atau kompleks yang isinya atau bentuknya mungkin tidak familiar. 5 Pada Level 5, siswa dapat menemukan dan mengatur beberapa bagian informasi yang tertanam dalam, menyimpulkan informasi mana dalam teks yang relevan. Tugas reflektif memerlukan evaluasi kritis atau pembuatan hipotesis, berdasarkan pengetahuan khusus. Baik tugas interpretasi maupun refleksi membutuhkan pemahaman yang lengkap dan terperinci tentang teks yang konten atau bentuknya tidak dikenal. Untuk semua aspek membaca, tugas pada tingkat ini biasanya melibatkan berurusan dengan konsep yang bertentangan dengan harapan.


16 6 Siswa di Level 6 biasanya dapat membuat beberapa kesimpulan, perbandingan, dan kontras yang detail dan tepat. Mereka menunjukkan pemahaman yang lengkap dan rinci dari satu atau lebih teks dan dapat mengintegrasikan informasi dari lebih dari satu teks Tugas mungkin mengharuskan pembaca untuk berurusan dengan ide-ide asing di hadapan informasi bersaing menonjol, dan untuk menghasilkan kategori abstrak untuk interpretasi, dan siswa dapat berhipotesis. 02.04.02 Lembar Kerja Mahasiswa 2 (Literasi Matematika pada Tes PISA) Nama/NIM: Devi Widiya Anggraeni/7000123757 Literasi Matematika Mengapa literasi matematika dibutuhkan oleh siswa? Kemampuan literasi matematika (mathematical literacy) dibutuhkan oleh siswa karena sebagai bentuk bantuan agar seseorang mengenal peranan matematika di dunia nyata dan sanggup dalam mengambil keputusankeputusan yang untuk akurat yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pengertian dari literasi matematika 2012 juga digunakan pada tahun 2015 dan 2018. Literasi matematika adalah kemampuan seseorang untuk memformulasikan sebuah situasi secara matematika, menggunakan konsep, fakta, prosedur, dan penalaran matematika, dan menginterpretasikan hasil matematika untuk berbagai konteks. Apa makna dari masing-masing istilah berikut ini dalam literasi matematika? 1. Memformulasikan sebuah situasi secara matematika: Memformulasikan sebuah situasi secara matematika bermakna merumuskan situasi dalam bentuk yang tepat dan secara matematis, meliputi mengidentifikasi peluang untuk menerapkan dan menggunakan matematika dalam menyelesaikan masalah tertentu, menyediakan struktur dan representasi matematika, mengidentifikasi variabel, dan menyederhanakan asumsi-asumsi dalam menyelesaikan masalah. 2. Menggunakan konsep, fakta, prosedur dan penalaran matematika: Menggunakan konsep, fakta, prosedur dan penalaran matematika bermakna memakai matematika dalam menerapkan penalaran, konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk mendapatkan solusi yang meliputi perhitungan, manipulasi bentuk aljabar, persamaan dan model matematika, menganalisis dalam bentuk diagram atau grafik. Mengembangkan penjelasan maematika dan menggunakan alat matematika untuk menyelesaikan masalah. 3. Menginterpretasikan hasil matematika: Menginterpretasikan bermakna menafsirkan hasil matematika seperti merefleksikan solusi matematika dan menjelaskannya sesuai dengan konteks masalah yang diselesaikan, meliputi pengevaluasian solusi matematika, penentuan atau pengecekan kebenaran dan hasil yang diperoleh.


17 Terdapat 6 level progress pada literasi matematika. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut! Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1 Siswa mampu menjawab pertanyaan dengan konteks yang umum serta semua informasiI yang relevan tersedia dengan jelas. Mampu mengidentifikasi informasi dan menerima semua petunjuk berdasarkan intruksi yang jelas pada situasi yang ada. 2 Mampu menunjukkan suatu tindakan sesuai dengan simulasi yang diberikan Siswa mampu menafsirkan dan mengenali situasi dengan konteks yang memerlukan kesimpulan langsung. Mampu memilah informasi yang relevan dari sumber yang tunggal dan menggunakan cara penyajian tunggal. Mampu mengerjakan algoritma dasar, menggunakan rumus, melaksanakan prosedur atau kesepakatan dalam memecahkan masalah. Mampu menyimulkan secara tepat dari hasil penyelesaiannya. 3 Siswa mampu melaksanakan prosedur dengan jelas, termasuk prosedur yang memerlukan keputusan yang berurutan. Mampu memilih dan menerapkan strategi memecahkan masalah yang sederhana. Mampu menginterpretasikan dan menggunakan representasi berdasarkan informasi yang berbeda. Mampu menjabarkan berdasarkan hasil interpretasi dan alasan mereka. 4 Siswa mampu mengerakan dengan metode tertentu secara efektif dalam situasi yang kompleks tetapi konkret yang mungkin melibatkan hambatan-hambatan atau membuat asumsi-asumsi, Mampu memilih dan menggunakan representasi yang berbeda termasuk pada simbol. Mampu menggunakan keterampilan dan pengetahuannya pada konteks yang jelas. Mampu menjelaskan pendapatnya berdasarkan pada pemahaman, alasan dan rumusan mereka. 5 Siswa mampu mengembangkan dan bekerja dengan model untuk situasi yang kompleks, mengidentifikasi masalah dan menetapkan asumsi. Mampu memilih, membandingkan dan mengevaluasi strategi untuk memecahkan masalah yang kompleks yang berhubungan dengan model. Mampu menggunakan pemikiran dan penalarannya serta secara tepat menghubungkan representasi simbol dengan situasi yang dihadapi. Mampu menjabarkan dan merumuskan hasil pekerjaannya. 6 Siswa mampu membuat konsep, generalisasi dan menggunakan informasi berdasarkan penelaahan dan pemodelan dalam situasi yang kompleks. Mampu menghubungkan dan menerjemahkan sumber informasi berbeda dengan fleksibel Mampu menerapkan strategi dan pendekatan baru dalam menghadapi situasi baru. Mampu merumuskan hasil pekerjaannya dengan tepat dengan mempertimbangan penemuannya, penafsiran, pendapat dan ketepatan pada situasi nyata.


18 02.04.03 Lembar Kerja Mahasiswa 3 (Literasi Sains pada Tes PISA) Nama/NIM: Devi Widiya Anggraeni/7000123757 Literasi Sains Mengapa literasi sains dibutuhkan oleh siswa? Literasi sains dibutuhkan oleh siswa karena siswa dapat menerapkan pengambilan keputusan yang tepat secara ilmiah agar mencapai kehidupan yang lebih nyaman, sehat, dan juga lebih baik. Literasi sains adalah kemampuan untuk terlibat aktif dalam masalah dan ide yang berhubungan dengan sains. Kompetensi yang diperlukan oleh seseorang yang memiliki literasi dalam sains adalah kemampuan untuk menjelaskan sebuah fenomena secara ilmiah, mengevaluasi dan merancang pertanyaan-pertanyaan ilmiah, dan menginterpretasi data dan bukti-bukti secara ilmiah. Jelaskan masing-masing kompetensi di bawah ini! 1. Menjelaskan sebuah fenomena secara ilmiah: Menjelaskan sebuah fenomena secara ilmiah bermakna menerangkan atau menguraikan secara terang terkait fenomena ilmiah. Beberapa keterampilan dalam kompetensi ini mencakup menetapkan pengetahuan ilmu pada situasi tertentu, menggambarkan atau menafsirkan fenomena ilmiah, memprediksi perubahan, mengidentifikasi deskripsi yang tepat, menjelaskan, dan melakukan prediksi. 2. Mengevaluasi dan merancang pertanyaan-pertanyaan ilmiah: Mengidentifikasi pertanyaan dalam sebuah penelitian ilmiah, membedakan pertanyaan untuk menyelidiki secara ilmiah, mengusulkan, dan mengevaluasi cara mengeksplorasi pertanyaan yang diberikan secara ilmiah, menjelaskan dan mengevaluasi berbagai cara yang ilmuan gunakan untuk memastikan kebenaran data dan objektivitas 3. Menginterpretasi data dan bukti-bukti secara ilmiah: Menginterpretasi data dan bukti-bukti secara ilmiah bermakna menafsirkan data dan bukti-bukti secara ilmiah. Komptensi ini meliputi beberapa keterampilan yaitu mengintepretasikan bukti ilmiah membuat dan memberikan kesimpulan, mengidentifikasi asumsi-asumsi, memberikan alasan untuk menarik kesimpulan, merefleksikan implikasi sosial dari sains, dan perkembangan teknologi. Terdapat 6 level progress pada literasi sains. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut! Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1b Pada level 1b, siswa dapat menggunakan pengetahuan ilmiah dasar atau sehari-hari untuk mengenali aspek fenomena yang familiar atau sederhana. Mereka mampu mengidentifikasi pola sederhana dalam data, mengenal istilah-istilah ilmiah dasar dan mengikuti instruksi eksplisit untuk melaksanakan


19 prosedur ilmiah. 1a Pada level 1a siswa mampu menggunakan konten dasar atau sehari-hari dan pengetahuan prosedural untuk mengenali atau mengidentifikasi penjelasan fenomena ilmiah sederhana. Dengan diberi dukungan, mereka dapat melakukan penyelidikan ilmiah terstruktur dengan tidak lebih dari dua variabel. Mereka mampu mengidentifikasi hubungan sebab akibat atau korelasional sederhana dan menafsirkan data grafis dan visual yang memerlukan kognitif tingkat rendah. Siswa tingkat 1a dapat memilih penjelasan ilmiah terbaik untuk data tertentu dalam konteks pribadi, lokal, dan global. 2 Siswa mampu memanfaatkan pengetahuan konten sehari-hari dan pengetahuan prosedural untuk mengidentifikasi penjelasan ilmiah yang sesuai, menafsirkan data, dan mengidentifikasi pertanyaan yang diajukan dalam desain eksperimen sederhana. Mereka dapat menggunakan pengetahuan ilmiah dasar atau sehari-hari untuk mengidentifikasi kesimpulan yang valid dari kumpulan data sederhana. Siswa pada level 2 menunjukkan pengetahuan epistemik dasar dengan mampu mengidentifikasi pertanyaan yang dapat diselidiki secara ilmiah. 3 Siswa sudah mampu melakukan penalaran langsung dan memberikan interpretasi dari hasil penyelidikan sederhana yang mereka lakukan Siswa dapat mengidentifikasi dengan jelas, menguraikan isu-isu dalam berbagai konteks dapat memilih fakta-fakta dan pengetahuan utuk menjelaskan fenomena, dapat menerapkan model sederhana, menggunakan konsep ilmiah dari berbagai disiplin ilmu. 4 Siswa dapat bekerja secara efektif dengan situasi dan masalah yang mungkin melibatkan fenomena yang mengharuskan mereka untuk membuat kesimpulan dan menghubungkannya dengn perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Siswa pada level ini dapat merefleksikan tindakan dan dapatmengambil keputusan menggunakan pegetahuan ilmiah dan bukti 5 Siswa dapat mengidentifikasi komponen ilmiah pada situasi yang kompleks, menerapkan konsep limiah, dapat membuat perbandingan, memilih dan mengevaluasi bukti ilmiah yang sesuai untuk menanggapi situasi kehidupan. Siswa dapat memberikan penjelasan berdasarkan bukti dan argumen berdasarkan analisis kritis siswa 6 Siswa secara konsisten dapat mengidentifikasi, menjelaskan, dan menerapkan pengetahuan ilmiah dalam berbagai situasi yang kompleks, siswa pada tingkat ini memiliki konsistensi yang tinggi untuk memberikan pemikiran ilmiah dan dapat memberikan argumen yang mendukung keputusan yang bersifat pribadi, sosial, dan global dengan memanfaatkan situasi ilmiah dan tehnologi


20 02.04.04 Lembar Kerja Mahasiswa 4 (Literasi Finansial pada tes PISA) Nama/NIM: Devi Widiya Anggraeni/7000123757 Literasi Finansial Mengapa literasi finansial dibutuhkan oleh siswa? Literasi finansial dibutuhkan oleh siswa karena dengan memiliki pengetahuan dan pengalaman keuangan yang ditanamkan akan terinternalisasi dalam diri anak sehingga membentuk karakter dan kebiasaan mengelola keuangan mereka di masa depan sebagai suatu budaya baik, seperti mengenal makna uang, kebiasaan menabung, hingga mendahulukan kebutuhan dari keinginan bahkan nilai-nilai berbagi. Seseorang yang memiliki literasi finansial adalah seseorang yang memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan resiko finansial. Selain itu, dia juga memiliki kemampuan, motivasi dan kepercayaan diri untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahamannya untuk membuat keputusan yang efektif pada berbagai konteks masalah-masalah finansial. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu maupun masyarakat. Literasi finansial juga memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi. Jelaskan apa makna dari istilah-istilah berikut ini: 1. Memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan resiko finansial: Dalam literasi finansial, perlu kita memahami konsep dan resiko finansial untuk menghindari kesalahan saat implementasi literasi finansial. 2. Kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial: Dengan pengetahuannya yang cukup, biasanya seseorang sudah mengetahui fitur, manfaat dan risiko yang ditawarkan, hak dan kewajiban dalam menggunakan produk dan jasa Lembaga Keuangan. 3. Motivasi dan kepercayaan diri untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial: Dalam literasi finansial, setelah kita memiliki pengetahuan, kita harus memiliki motivasi dan kepercayaan diri dalam mengaplikasikan pengetahuan finansial dalam literasinya 4. Berbagai konteks masalah-masalah finansial: Melihat berbagai masalah yang dihadapi dalam uraian sebelumnya, literasi finansial merupakan solusi dan peluang untuk mengatasi kondisi ekonomi saat ini. 5. Meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu maupun masyarakat: Literasi keuangan juga diperlukan untuk memajukan industry jasa masyarakat merupakan pengguna utama jasa keuangan. 6. Memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi:


21 02.04.05 Lembar Kerja Mahasiswa 5 (Latihan soal tes PISA) Nama/NIM : Devi Widiya Anggraeni/7000123757 Jenjang/Mata pelajaran yang diampu : SMP/Bahasa Indonesia Unit/No.Unit : Reading/unit 3 Judul soal : Graffiti No Pertanyaan Jawaban 1 Tuliskan solusi untuk soal ini! 3.1 B. Menyajikan pendapat tentang graffiti. 3.2 Shopia mengacu pada periklanan karena secara fisik keberadaan graffiti itu sama dengan logo, nama toko, dan poster. Perusahaan yang membuat logo, nama toko, poster besar yang mengganggu di jalanan dapat diterima oleh sebagian besar orang. Sedangkan graffiti dapat diterima oleh beberapa orang dan beberapa lagi mengatakan tidak. 3.3 Saya setuju dengan penyampaian kedua surat tersebut. Surat dari Helga menyampaikan bahwa seorang seniman profesional tidak akan memuat karyanya disebarang tempat. Sedangkan surat dari Shopia menyampaikan bahwa graffiti dan iklan yang dibuat dibayar oleh konsumen. 3.4 Dalam surat yang ditulis oleh Helga dan Shopia memiliki isi yang sama, yakni menjelaskan bahwa graffiti kurang bisa diterima keberadaannya. Helga menyampaikan bahwa graffiti seharusnya tidak dibuat disebarang tempat karena seorang seniman profesional pun tidak akan memuat karyanya disebarang tempat. Keuangan karena Secara umum, pelaku ekonomi dalam suatu perekonomian terdiri atas rumah tangga, perusahaan, pemerintah, luar negert, dan lembaga keuangan. Pihak-pihak Ini memiliki kegiatan ekonomi.


22 2 Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapat solusi dari permasalahan ini! Menerjemahan tiap soal ke dalam bahasa Indonesia, membaca dan memahami soal yang sudah diterjemahkan, menarik inti sari dari soal, mencari solusi untuk jawaban sub soal. 3 Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan masalah ini! Fondasi dekomposisi Menentukan jenis teks yang disajikan dalam soal. Fondasi pengenalan pola Mengetahui pola-pola yang terdapat dalam surat, seperti pengirim, penerima, tujuan, dan isi surat. Fondasi abstraksi Menyeleksi jawaban yang paling tepat dari soal pilihan ganda. Fondasi algoritma Langkah-langkah untuk menyelesaikan soal dimulai dengan menerjemahkan soal ke dalam bahasa Indonesia, membaca dan memahami soal yang sudah diterjemahkan, menentukan jenis teks yang disajikan dalam soal, menarik inti sari dari soal. Sehingga dapat menentukan solusi untuk tiap soal.


23 Nama/NIM : Devi Widiya Anggraeni/7000123757 Jenjang/Mata pelajaran yang diampu : SMP/Bahasa Indonesia Unit/No.Unit : Mathematics/unit 7 Judul soal : Speed of Racing Car No Pertanyaan Jawaban 1 Tuliskan solusi untuk soal ini! 7.1 B. 1,5 km 7.2 C. at about 1,3 km (sekitar 1,3 km) 7.3 B. the speed of car is increasing (kecepatan mobil bertambah) 7.4 B 2 Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapat solusi dari permasalahan ini! 1. Menganalisis terlebih dahulu sumbu x dan sumbu y. Sumbu x sebagai waktu dan sumbu y sebagai kelajuan. 2. Memahami kondisi waktu tiap detiknya untuk mengetahui apakah terjadi peruabahan kelajuan atau tidak. 3. Menghubungkan kondisi kelajuan dengan gambaran lintasan mobil, misalkan kelajuan naik maka lintasan menanjak karena mobil membutuhkan usaha untuk bisa naik. 3 Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan masalah ini! Dekomposisi Mengurai proses apa yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan soal terkait jarak, kelajuan, dan lintasan. Abstraksi Mengeliminasi hal yang tidak diperlukan misalnya dalam menentukan jarak, kecepatan, dan kelajuan dari soal, kita tidak perlu menghubungkannya dengan rumus yang kita pelajari di sekolah karena soal yang diberikan terkait pemahaman membaca grafik. Pengenalan Pola


24 Mengenali pola yang ada dalam grafik dan mengamati kenaikan dan penurunan data dalam grafik. Algoritma langkah yang kita susun untuk menyelesaikan soal yakni dengan memahami tiap detik berapakah kelajuannya, kemudian bila dari detik satu ke detik yang lainnya termasuk meningkat atau tidak kelajuannya sehingga bisa mendapat gambaran lintasannya. Tabel 3.6: Soal latihan PISA yang diusulkan Unit Nomor Unit Judul Soal Level Reading 3 Graffiti 3 Mathematics 7 Speed of Racing Car 3,5


25 Nama Anggota Kelompok: 1. Devi Widiya Anggraeni (7000123757) 2. Karniti (7000124389) 3. Sandi Nurjaman (7000135356) SEL.09.2-T3-8a Ruang Kolaborasi - MK Computational Thinking Tabel 3.1: Penilaian Teman Kelompok Penilaian dari teman kelompok (Reading/3) Kriteria Penilaian Anggota 2 Karniti/7000124389 Apakah cara mengerjakan soal yang ditulis dapat dipahami? Dapat dipahami Apakah cara mengerjakan sudah lengkap? Lengkap Apakah cara mengerjakan dapat diikuti tanpa menimbulkan keambiguan? Dapat diikuti Apakah 4 fondasi CT yang ditulis benar? Benar Apakah 4 pondasi CT yang dituliskan dijelaskan dengan lengkap? Lengkap Apakah contoh masalah sehari-hari yang dituliskan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan? Sesuai Tabel 3.2: Perbaikan yang perlu dilakukan Nomor Soal Hal yang perlu diperbaiki Masukan atau saran perbaikan 3.1 Tidak ada. Pengerjaan soal sudah sesuai dan dapat dipahami dengan baik. 3.2 Tidak ada. Pengerjaan soal ini dijelaskan dengan urut dan sederhana sehingga mudah dipahami. 3.3 Tidak ada. Pengerjaan soal sudah lengkap dan tidak menimbulkan keambiguan. 3.4 Tidak ada. Pengerjaan soal dapat diikuti. Tabel 3.3: Rubrik Penilaian untuk Masing-masing Kriteria Hasil Penilaian: A = Sangat Baik


26 Tabel 3.1: Penilaian Teman Kelompok Penilaian dari teman kelompok (Mathematics / 7) Kriteria Penilaian Anggota 2 Karniti Apakah cara mengerjakan soal yang ditulis dapat dipahami? Dapat dipahami Apakah cara mengerjakan sudah lengkap? Lengkap Apakah cara mengerjakan dapat diikuti tanpa menimbulkan keambiguan? Dapat diikuti Apakah 4 fondasi CT yang ditulis benar? Benar Apakah 4 pondasi CT yang dituliskan dijelaskan dengan lengkap? Lengkap Apakah contoh masalah sehari-hari yang dituliskan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan? Sesuai Tabel 3.2: Perbaikan yang perlu dilakukan Nomor Soal Hal yang perlu diperbaiki Masukan atau saran perbaikan 7.1 Tidak ada. Pengerjaan soal sudah sesuai dan dapat dipahami dengan baik. 7.2 Tidak ada. Pengerjaan soal ini dijelaskan dengan urut dan sederhana sehingga mudah dipahami. 7.3 Tidak ada. Pengerjaan soal sudah lengkap dan tidak menimbulkan keambiguan. 7.4 Tidak ada. Pengerjaan soal dapat diikuti. Tabel 3.3: Rubrik Penilaian untuk Masing-masing Kriteria Hasil Penilaian: A = Sangat Baik


27 Tabel 3.1: Penilaian Teman Kelompok Penilaian dari teman kelompok (Reading/3) Kriteria Penilaian Anggota 2 Karniti/7000124389 Apakah cara mengerjakan soal yang ditulis dapat dipahami? Dapat dipahami Apakah cara mengerjakan sudah lengkap? Lengkap Apakah cara mengerjakan dapat diikuti tanpa menimbulkan keambiguan? Dapat diikuti Apakah 4 fondasi CT yang ditulis benar? Benar Apakah 4 pondasi CT yang dituliskan dijelaskan dengan lengkap? Lengkap Apakah contoh masalah sehari-hari yang dituliskan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan? Sesuai Tabel 3.2: Perbaikan yang perlu dilakukan Nomor Soal Hal yang perlu diperbaiki Masukan atau saran perbaikan 3.1 Tidak ada. Pengerjaan soal sudah sesuai dan dapat dipahami dengan baik. 3.2 Tidak ada. Pengerjaan soal ini dijelaskan dengan urut dan sederhana sehingga mudah dipahami. 3.3 Tidak ada. Pengerjaan soal sudah lengkap dan tidak menimbulkan keambiguan. 3.4 Tidak ada. Pengerjaan soal dapat diikuti. Tabel 3.3: Rubrik Penilaian untuk Masing-masing Kriteria Hasil Penilaian: A = Sangat Baik


28 Tabel 3.1: Penilaian Teman Kelompok Penilaian dari teman kelompok (Mathematics / 7) Kriteria Penilaian Anggota 3 Sandi Nurjaman Apakah cara mengerjakan soal yang ditulis dapat dipahami? Cara pengerjaan soal yang ditulis sudah dapat dipahami Apakah cara mengerjakan sudah lengkap? Cara mengerjakan sudah lengkap secara sistematis Apakah cara mengerjakan dapat diikuti tanpa menimbulkan keambiguan? Cara mengerjakan sudah dapat diikuti Apakah 4 fondasi CT yang ditulis benar? 4 fondasi CT sudah dapat dituliskan dengan benar Apakah 4 pondasi CT yang dituliskan dijelaskan dengan lengkap? 4 fondasi CT sudah dapat dituliskan dengan lengkap Apakah contoh masalah sehari-hari yang dituliskan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan? Contoh masalah yang dituliskan sudah sesuai dengan persoalan seharihari. Tabel 3.2: Perbaikan yang perlu dilakukan Nomor Soal Hal yang perlu diperbaiki Masukan atau saran perbaikan 7.1 Tidak ada. Pengerjaan soal sudah sesuai dan dapat dipahami dengan baik. 7.2 Tidak ada. Pengerjaan soal ini dijelaskan dengan urut dan sederhana sehingga mudah dipahami. 7.3 Tidak ada. Pengerjaan soal sudah lengkap dan tidak menimbulkan keambiguan. 7.4 Tidak ada. Pengerjaan soal dapat diikuti. Tabel 3.3: Rubrik Penilaian untuk Masing-masing Kriteria Hasil Penilaian: A = Sangat Baik


29 4. Lembar kerja pada koneksi antar materi (06) Nama anggota 1 : Devi Widiya Anggraeni NIM anggota 1 : 7000123757 Nama anggota 2 : Karniti NIM anggota 2 : 7000124389 Nama anggota 3 : Sandi Nurjaman NIM anggota 3 : 7000135356 SEL.09.2-T3-11a. Unggah Tugas Koneksi Antar Materi - MK Computational Thinking (CT) Kesamaan tipe soal Bebras dan PISA/AKM: 1. Membantu melatih proses berpikir CT 2. Melatih peserta didik mencari solusi 3. Melatih kemampuan dan pembiasakan menerapkan CT 4. Melatih mengenali pola. 5. Tipe soal berisi atau dilengkapi gambar untuk melatih berpikir CT 6. Soal-soal berbasis Bebras dan PISA/AKM melatih siswa untuk dapat menentukan suatu solusi yang paling efektif, efisien, serta optimal dalam memecahkan suatu persoalan yang dihadapi. 7. Soal-soal Bebras dan PISA/AKM melatih siswa untuk dapat berfikir CT. 8. Soal berbras dan PISA/AKM membentuk skill dan habbit yang diharapkan menjadi pola berpikir (reaksi otomatis) ketika memandang masalah-masalah lain (termasuk pelajaran sekolah). 9. Soal Berbras dan PISA/AKM dapat diselesaikan dengan alat atau media sederhana seperti kertas dan pensil; jika soal berupa online dapat dikerjakan tanpa perlu menggunakan software atau aplikasi. Perbedaan tipe soal Bebras dan PISA/AKM: Soal Bebras 1. Sudah dikategorikan berdasarkan usia atau jenjang pendidikan. 2. Masing-masing soal dikerjakan dalam waktu kurang lebih 3 menit. 3. Soal cenderung singkat dan hanya terdapat satu pertanyaan. 4. Konsep yang mendasari soal-soalnya adalah konsep CT dan informatika.


30 Soal PISA/AKM 1. Ditujukan untuk siswa usia 15 tahun. 2. Waktu yang diberikan untuk menjawab soal cukup panjang karena pada satu soal terdapat beberapa pertanyaan. 3. Konsep yang mendasarinya ada literasi membaca, literasi matematika, litrerasi sains, dan literasi finansial. 4. Mengasah kemampuan kognitif dengan berpikir CT mencakup komponen proses dan konten yang diuji mengacu pada penerapan literasi dan numerasi dalam kehidupan. 5. PISA ditujukan untuk siswa usia 15 tahun. AKM ditujuan untuk siswa di kelas 5, 8, 11. Kesamaan dari langkah penyelesaian kedua jenis persoalan: Sama-sama menggunakan berpikir CT dalam menyelesaikan persoalan. Menggunakan penyelesaian soal dengan mengidentifikasi 4 fondasi yaitu dekomposisi, pengenalan pola, abstrak, dan algoritma.


31 5. Hasil refleksi pada aksi nyata (07) Pengalaman menarik yang saya dapatkan dari mengimplementasikan CT untuk menyelesaikan berbagai jenis persoalan yaitu penyelesaian persoalan dengan menggunakan urutan fontasi CT secara sistematis. Keberhasilan yang saya alami ketika mempelajari topik ini saya bisa menerapkan berpikir CT ketika memecahkan persoalan yang kompleks. Melalui pemberian tugas atau latihan saya mencoba menyelesaikan persoalan pada kehidupan sehari-hari yang sederhana seperti menyelesaikan soal-soal pada tantangan Bebras dan PISA/AKM. Kegagalan yang saya alami adalah ketika saya belum selalu bisa tepat waktu dalam menyelesaikan tugas yang artinya saya belum optimal dalam menerapkan CT pada persoalan yang saya hadapi. Terjadi juga perubahan cara berpikir yang saya alami setelah mempelajari topik CT dalam problem solving. Saya ternyata bisa menyelesaikan permasalahan yang kompleks menjadi lebih terstruktur dengan menemukan solusi terbaik. Saya jadi lebih meresapi permasalahan, tidak lekas menyimpulkan solusi atau tidak terburu-buru dalam menentukan solusi dari permasalahan yang saya hadapi karena harus menyesuaikan terlebih dahulu dengan empat fondasi CT. Setelah mempelajari topik CT dalam problem solving. Ada yang perlu saya perbaiki terhadap cara mengajar yang nantinya akan saya lakukan. Misalnya dalam menyusun soal untuk peserta didik, saya belum mengintegrasikan CT dalam soal yang dibuat. Sehingga peserta didik belum bisa menerapkan berpikir CT karena soal-soal yang saya buat masih terbilang sederhana, seperti apa yang dimaksud dengan puisi? Bagaimana cara merumuskan tema puisi yang dibaca?. Perbaikan tersebut diharapkan mampu mengarahkan peserta didik untuk berpikir CT dan mencari solusi secara efektif, efisien, dan optimal dari soal-soal yang mereka kerjakan.


32 Topik 4. CT dan Proyek Nama : Devi Widiya Anggraeni NIM : 7000123757 Tugas : SEL.09.2-T4-7. Aksi Nyata - Portofolio Topik 4 Mata Kuliah : Computational Thinking (CT) Berikut ini hal-hal yang menjadi bagian dari portofolio saya untuk topik CT dan proyek STEM adalah sebagai berikut: 1. Hasil Lembar Kerja Reflektif Individual (01.03 dan 02.02) A. SEL.09.2-T4-3. Mulai Dari Diri 1. Jika Anda memilih proyek STEM yang sudah pernah Anda lakukan, kendala apakah yang Anda hadapi dalam melaksanakan proyek STEM tersebut? Jika Anda memilih proyek STEM yang belum pernah Anda lakukan (mengambil proyek yang ada di media lain seperti buku dan internet), potensi kendala apa yang mungkin dihadapi jika proyek STEM tersebut dilaksanakan? Your answer: Potensi kendala yang mungkin dihadapi jika proyek STEAM tersebut dilaksanakan adalah waktu yang tidak cukup. Proses penyelesaian proyek pasti memerlukan banyak waktu. Kemudian, kendala lainnya adalah dari dana yang disediakan untuk keperluan proyek STEAM, pasti memerlukan banyak biaya yang lumayan besar untuk dapat mendukung proses penyelesaian proyek. 2. Tuliskan usulan Anda untuk mengatasi kendala-kendala yang telah Anda sebutkan di atas! Your answer: Usulan saya untuk mengatasi kendala-kendala tersebut adalah jika proses pengerjaan proyek tidak cukup waktu dilakukan di dalam kelas maka bisa dilanjutkan di luar kelas atau di luar pembelajaran. Dibutuhkan kerja sama dan rasa tanggung jawab antara guru dan peserta didik agar dapat menyelesaikan proyek STEAM. Kemudian penyediaan dana untuk melengkapi peralatan yang diperlukan dalam proyek yang akan dilaksanakan sebaiknya tidak dibebankan seluruhnya kepada guru sedikitnya melibatkan peserta didik juga dalam prosesnya untuk saling patungan. Demikian, usulan yang dapat saya paparkan untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi saat proyek STEAM dilaksanakan. B. SEL.09.2-T4-2. Eksplorasi Konsep Hal baru yang saya dapatkan dari makalah “Infusing Computational Thinking in an Integrated STEM Curriculum: User Reactions and Lessons Learned” (Baek et al., 2021) adalah lingkungan pembelajaran STEM dan CT terintegrasi dipandu oleh pendekatan PBL yang mengharuskan peserta didik untuk belajar, mengeksplorasi, dan menerapkan lebih dari satu disiplin ilmu untuk memecahkan masalah. Integrasi CT dalam proyek Kehidupan di Mars melalui adanya penambahan pemrograman atau pengkodean yang berdiri sendiri. Hal ini dapat mendukung pembelajaran peserta didik tentang konsep STEM terkait lingkungan Mars untuk memecahkan masalah bagaimana menggunakan robot untuk mendeteksi kehidupan di Mars. Tantangan dalam


33 implementasinya adalah waktu yang tidak cukup. Sepanjang pelaksanaan guru terus menerus merefleksikan bahwa waktu yang tersedia tidak mencukupi untuk menyelesaikan seluruh kegiatan yang direncanakan. Makalah tersebut mempunyai kontribusi pada desain dan pengembangan program STEM+CT untuk peserta didik dan berupaya mengembangkan CT pada peserta didik dalam hal memposisikan CT dalam kurikulum. Makalah tersebut juga mempunyai kontribusi pada pelatihan guru dan peserta didik untuk integrasi CT yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. C. SEL.09.2-T4-2a. Eksplorasi Konsep - Lembar Kerja Mahasiswa Nama Devi Widiya Anggraeni NIM 7000123757 Judul Proyek STEM yang Dipilih Membuat Pot Bunga Dari Ecobrick Botol dan Plastik Bekas Berbasis STEAM Sebagai Solusi Fenomena Sosial (Penumpukan Sampah) dalam Pembelajaran Teks Eksplanasi Kelas VIII Sumber https://youtu.be/UXlhrHeJleY?si=UUPhVSNC2Gd1twMV Deskripsi Singkat tentang Proyek STEM yang Dipilih Pembuatan proyek ini sebagai bentuk implementasi peserta didik secara nyata dalam pembelajaran teks eksplanasi kelas VIII. Proyek ini juga dapat dikoordinasikan dengan guru mata pelajaran IPA sebagai bentuk kolaborasi mata pelajaran bahasa Indonesia materi Teks Eksplanasi dan mata pelajaran IPA. Science, peserta didik mengumpulkan sampah berupa botol dan plastik bekas yang bisa dijadikan sebagai pot bunga, mengidentifikasi lahan di sekolah untuk meletakkan hasil proyek. Technology, membuat alat sederhana untuk menyiram bunga/tanaman secara otomatis dari botol bekas. Engineering, teknik yang digunakan untuk memecahkan permasalahan penumpukan sampah sebagai salah satu fenomena sosial. Art, proses menghias pot bunga semenarik mungkin. Math, mengukur besar pot bunga, menghitung seberapa banyak botol bekas yang diperlukan, mengukur berapa sentimeter yang yang harus dipotong, menghitung seberapa banyak sampah plastik agar


34 Nama Devi Widiya Anggraeni NIM 7000123757 memenuhi satu botol plastik, mengukur seberapa banyak tanah yang diperlukan. 2. Hasil kerja pada Ruang Kolaborasi SEL.09.2-T4-4. Ruang Kolaborasi Kegiatan dalam ruang kolaborasi ini saya Devi Widiya Anggraeni, Ibu Karniti, dan Pak Sandi Nurjaman telah mendiskusikan proyek STEAM. Sebelumnya kami sudah memiliki ide proyek STEAM masing-masing. Ide pembuatan proyek STEAM saya berkaitan dengan pembelajaran teks eksplanasi kelas VIII mata pelajaran bahasa Indonesia yakni membuat pot bunga dari ecobrick botol dan plastik sebagai solusi fenomena sosial (penumpukan sampah) dalam pembelajaran teks eksplanasi. Adapun hasil diskusi kelompok kami yaitu kami sepakat memilih satu proyek STEAM dengan judul “Inovasi tempat sampah berbasis STEAM sebagai solusi fenomena sosial dalam pembelajaran teks eksplanasi di kelas VIII D”. Implementasi hasil akhir dari proyek STEM yang kami pilih ini adalah pembuatan tempat sampah inovatif dari galon bekas dengan fitur indikator alarm yang aktif ketika isi tempat sampah sudah mencapai batas maksimum. Pemerincian selanjutnya mengenai penjelasan dan implementasi proyek STEM yang kami pilih, akan dilampirkan pada unggah tugas ruang kolaborasi. Berikut ini, tautan video presentasi kelompok kami yang sudah diunggah pada kanal YouTube. https://youtube.com/watch?v=BqeELE7EZxg&feature=shared 3. Feedback yang diiiberikan dosen lain pada saat Demonstrasi Kontekstual SEL.09.2-T4-5a. Lembar Kerja Elaborasi Pemahaman Nomor Kelompok 3 Anggota Kelompok 1. Devi Widiya Anggraeni (7000123757) 2. Karniti (7000124389) 3. Sandi Nurjaman (7000135356)


35 Nama Proyek Inovasi tempat sampah berbasis STEAM sebagai solusi fenomena sosial dalam pembelajaran teks eksplanasi di kelas VIII D. Catatan-catatan Perbaikan yang Perlu Dilakukan Berdasarkan Masukan Dari Dosen dan Kelompok Lain Feedback dari Erni Fitriani: Izin menanggapi. Menurut saya, konsep yang dirancang sudah bagus, tetapi saya merasa relevansi proyek STEM yang dibuat lebih sesuai dengan materi pembelajaran Teks Prosedur, yakni langkah-langkah membuat inovasi tempat sampah. Apalagi di dalam proyek STEM tersebut dijelaskan mengenai alat dan bahan, dsb., karena jika teks eksplanasi lebih kepada teks yang menerangkan atau menjelaskan mengenai proses atau fenomena alam maupun sosial. Mungkin untuk bahan pertimbangan: Kelebihan: Konsep STEM sudah tampak dalam aktivitas yang dilakukan Masukan: melihat lagi relevansi proyek dengan materi pembelajaran. 4. Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi Nyata SEL.09.2-T4-7. Aksi Nyata 1. Pengalaman apa saja yang Anda dapatkan dari proses melakukan integrasi CT ke dalam proyek STEM? Jawaban: Pengalaman yang saya dapatkan dari proses melakukan integrasi CT ke dalam proyek STEM yakni menjadi tahu bahwa peserta didik melalui bimbingan saya dan dua rekan saya sudah mampu menerapkan berpikir komputasional dan memungkinkan mereka untuk mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi saat menyelesaikan proyek. Proyek kelompok saya yakni inovasi tempat sampah dengan fitur indikator yang aktif ketika isi tempat sampah sudah mencapai batas maksimum. Proyek inovasi tempat sampah ini menjadi lebih menarik dan memiliki nilai tambah karena mengimplementasikan CT di dalam prosesnya.


36 2. Bagaimana perasaan Anda pada saat mengerjakan modul ini? Jawaban: Perasaan saya pada saat mengerjakan modul ini yaitu pada saat memulai topik tentang proyek STEAM saya merasa kebingungan karena kurang luasnya pengetahuan dan pengalaman terlebih lagi dalam merancang atau membuat proyek berbasis STEAM, akan tetapi saya juga merasa bahwa hal tersebut sebagai tantangan. Saya harus menerapkan berpikir CT terlebih dahulu agar bisa menularkannya kepada peserta didik. Sehingga peserta didik bisa untuk meniru berpikir secara komputasional dan memecahkan permasalahan dalam menyelesaikan proyek STEAM yang mereka terima. Setelah mengerjakan tugas yang ada pada modul ini secara bertahap saya merasa pikiran saya lebih terbuka terhadap proyek STEAM yang direncanakan dan diimplementasikan langsung kepada peserta didik. Pada ruang kolaborasi, saya merasa dimudahkan karena dapat berdiskusi dan saling bertukar ide atau informasi dengan anggota kelompok untuk dapat mengimplentasikan proyek STEAM pada peserta didik kelas VIII D di SMP Negeri 15 Cimahi. 3. Jelaskan bagaimana rencana Anda dalam mengintegrasikan CT di dalam proyek STEM di kelas yang Anda ajar kelak. Jawaban: Setelah mendapatkan pengalaman mengenai proyek STEAM yang diimplementasikan di kelas VIII D secara berkelompok, saya dapat memahami bahwa ternyata proyek STEAM dengan integrasi CT di dalamnya lebih terstruktur baik itu dalam proses pengerjaan maupun dalam proses penyelesaiannya. Rencana saya dalam mengintegrasikan CT di dalam proyek STEAM di kelas yang saya ajar kelak yakni integrasi CT dalam proyek STEAM membuat pot bunga dari ecobrick botol dan plastik bekas sebagai solusi fenomena sosial (penumpukan sampah) dalam pembelajaran teks eksplanasi kelas VIII B. Pembuatan proyek ini sebagai bentuk implementasi peserta didik secara nyata dalam pembelajaran teks eksplanasi kelas VIII B. Proyek ini juga dapat dikoordinasikan dengan guru mata pelajaran IPA sebagai bentuk kolaborasi mata pelajaran bahasa Indonesia materi Teks Eksplanasi dan mata pelajaran IPA. Science, peserta didik mengumpulkan sampah berupa botol dan plastik bekas yang bisa dijadikan sebagai pot bunga, mengidentifikasi lahan di sekolah untuk meletakkan hasil proyek. Technology, membuat alat sederhana untuk menyiram bunga/tanaman secara otomatis dari botol bekas. Engineering, teknik yang digunakan untuk memecahkan permasalahan penumpukan sampah sebagai salah satu fenomena sosial. Art, proses menghias pot bunga semenarik mungkin. Math, mengukur besar pot bunga, menghitung seberapa banyak botol bekas yang diperlukan, mengukur berapa sentimeter yang yang harus dipotong, menghitung seberapa banyak sampah plastik agar memenuhi satu botol plastik, mengukur seberapa banyak tanah yang diperlukan. Integrasi CT dalam proyek STEAM, yakni pada fondasi abstraksi mengeliminasi bagian-bagian yang tidak relevan dan membuat suatu generalisasi. Peserta didik mengidentifikasi terlebih dahulu sampah botol dan plastik yang sesuai dengan kebutuhan dan mengidentifikasi lingkungan sekolah tempat menyimpan hasil karya. Fondasi algoritma yang merupakan langkah-langkah penyelesaian persoalan. Peserta didik


37 menyusun langkah-langkah dalam pembuatan pot bunga. Fondasi dekomposisi, yakni pembagian persoalan ke dalam beberapa sub-persoalan yang lebih kecil. Tujuannya adalah agar persoalan lebih mudah untuk diselesaikan. Jadi, pada tahap ini mengelompokkan peserta didik menjadi empat kelompok untuk dapat berbagi tugas menyelesaikan pembuatan pot bunga. Fondasi pengenalan pola, yakni mengenali pola berulang yang terdapat dalam sub-persoalan atau di antara beberapa persoalan yang sejenis. Peserta didik mengenali jenis sampah botol dan plastik yang sesuai dengan kebutuhan.


38 Topik 5. Integrasi CT dalam Mata Pelajaran 1. Hasil Lembar Kerja Reflektif Individual (2.3) Nama : Devi Widiya Anggraeni NIM : 7000123757 Tugas : SEL.09.2-T5-3a. Eksplorasi Konsep - Unggah Lembar Kerja Reflektif Mata Kuliah : Computational Thinking (CT) 1. Intisari apa saja yang Anda dapatkan saat mempelajari makalah “Bringing computational thinking to K-12: what is Involved and what is the role of the computer science education community” (Barr & Stephenson, 2011)? Jawaban: Intisari yang saya dapatkan setelah mempelajari makalah “Bringing computational thinking to K-12: what is Involved and what is the role of the computer science education community” (Barr & Stephenson, 2011) adalah makalah tersebut menjelaskan bahwa peserta didik yang pembelajarannya penuh dengan peluang untuk melakukan berpikir komputasional akan menunjukkan pemecahan masalah yang lebih lancar. CT adalah metodologi pemecahan masalah yang dapat diotomatisasi dan ditransfer serta diterapkan di seluruh mata pelajaran. Guru memerlukan sumber daya yang menunjukkan cara yang paling tepat dan efektif untuk mengintegrasikan konsep CT ke dalam lingkup konten dan pengetahuan pedagogi mereka sendiri dan ke dalam konten dan praktik kelas mereka. Dalam makalah tersebut juga memberikan gambaran umum mengenai contoh implementasi konsep CT dan keterampilannya dalam berbagai bidang mata pelajaran. Guru dapat memikirkan hal yang lebih spesifik sesuai keperluan kasus yang dibahas bersama peserta didik. Dalam makalah, diberikan contoh integrasi CT pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Pada kedua mata pelajaran tersebut, diberikan contoh kegiatan pembelajaran sebelum dan sesudah integrasi CT, yaitu dengan komponen inti tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan asesmen. Pada bagian kegiatan pembelajaran, diberikan contoh kegiatan pembelajaran sebelum dan sesudah integrasi CT. Contoh integrasi CT pada bidang sains telah diberikan pada modul proyek yang melibatkan analisis data, simulasi, dan modeling. Kaitan dengan mata pelajaran IPA adalah misalnya pada aspek penilaian, penilaian terhadap CT tetap dapat dilakukan. Namun, pada umumnya penilaiannya tidak dapat dilakukan secara tunggal atau mandiri. 2. Tuliskan juga kaitan makalah tersebut dengan mata pelajaran yang Anda ampu! Masingmasing kelompok hanya perlu mengisi satu lembar kerja reflektif. Jawaban: Keterkaitan antara makalah “Bringing computational thinking to K-12: what is Involved and what is the role of the computer science education community” (Barr & Stephenson, 2011) dengan mata pelajaran bahasa Indonesia yang saya ampu adalah dengan menggunakan konsep CT untuk memecahkan masalah pembelajaran dapat melatih peserta didik berpikir kritis secara lebih sistematis atau terstruktur dan optimal. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran guru


39 harus bisa memasukkan konsep berpikir kritis melalui pengimplementasian CT ke dalam lingkup konten, pengetahuan pedagogi, dan praktik di kelas. Sebagaimana dikemukakan dalam makalah ini, semua peserta didik pada suatu saat nanti tentunya akan memiliki kehidupan yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran komputasi yang memungkinkan mereka banyak bekerja di bidang yang menggabungkan atau dipengaruhi oleh konsep pemikiran komputasi. Maka, peserta didik hendaknya dibiasakan mengerjakan pemecahan masalah secara CT di sekolah. Dengan adanya kurikulum merdeka yang berlaku saat ini dapat mendorong berkembangnya kemampuan berpikir kritis pada peserta didik 2. Hasil kerja pada Ruang Kolaborasi Tugas : SEL.09.2-T5-4. Ruang Kolaborasi Mata Kuliah : Computational Thingking (CT) NIM/nama anggota 1: NIM/nama anggota 2: NIM/nama anggota 3: 7000123757/Devi Widiya Anggraeni 7000124389/Karniti 7000135356/Sandi Nurjaman Mata pelajaran: Bahasa Indonesia Materi ajar: Teks Eksplanasi Tujuan pembelajaran: 1. Setelah mengamati materi, peserta didik mampu menganalisis struktur dan kaidah kebahasaan teks eksplanasi secara tepat. 2. Setelah mengamati materi, peserta didik mampu merancang pola untuk menulis teks eksplanasi proses terjadinya suatu fenomena secara tulis dengan memperhatikan struktur dan unsur kebahasaan secara tepat dan percaya diri. Deskripsi penyampaian materi sebelum integrasi CT Peserta didik dapat menganalisis struktur, kaidah kebahasaan, dan merancang pola untuk menulis teks eksplanasi melalui aktivitas berdiskusi kelompok. Guru menjelaskan materi teks eksplanasi dengan metode konvensional seperti ceramah dan diskusi kelompok.


40 Deskripsi penyampaian materi setelah integrasi CT Peserta didik dapat menganalisis struktur, kaidah kebahasaan, dan merancang pola untuk menulis teks eksplanasi melalui aktivitas berdiskusi kelompok dan mengintegrasikan CT. Guru menjelaskan materi teks eksplanasi dengan model problem based learning dan menggunakan metode tanya jawab, diskusi, serta penugasan. Penjelasan konsep CT yang diintegrasikan pada materi ajar Dekomposisi Pada materi ajar peserta didik diminta untuk menganalisis pemecahan masalah terkait struktur dan kaidah kebahasaan teks eksplanasi melalui stimulus atau rangsangan berupa beberapa pertanyaan dan pemberian teks untuk memusatkan perhatian terhadap materi teks eksplanasi. Sehingga mereka bisa mengumpulkan data untuk membuat pola kerangka teks eksplanasi. Pengenalan Pola Pola yang dimaksudkan untuk memberikan latihan kepada peserta didik untuk mengenali pola suatu persoalan, menggeneralisasi tahapan penyelesaian masalah untuk dapat diterapkan pada persoalan sejenis. Peserta didik mengalisis teks yang diberikan oleh guru dan menentukan apakah termasuk teks eksplanasi atau bukan berdasarkan hasil analisis struktur dan kaidah kebahasaan teks eksplanasi. Abstraksi Pada bagian ini yakni mencari inti sari bagian penting suatu permasalahan dan mengabaikan bagian-bagian lain yang dianggap tidak perlu untuk selanjutnya fokus pada pencarian solusi. Peserta didik mampu menentukan topik fenomena (alam, sosial, dan budaya), topik yang tidak relevan dengan tiga fenomena tersebut diabaikan. Algoritma Peserta didik secara berkelompok menyusun kerangka pola pengembangan untuk menulis teks eksplanasi terjadinya suatu fenomena dengan menentukan terlebih dahulu topik atau suatu kejadian yang menarik, dikuasai, dan aktual. Kemudian mulai menyusun kerangka teks eksplanasi dengan mengembangkan topik utama ke dalam rincian-rincian topik yang lebih spesifik. Topik tersebut dapat disusun dengan urutan pola kronologis atau kausalitas. Selanjutnya, peserta didik dapat mengumpulkan bahan berupa fakta atau pendapat para ahli terkait dengan kejadian yang dituliskan dari berbagai sumber, untuk nantinya kerangka yang dibuat/disusun ini bisa dikembangkan menjadi teks eksplanasi yang lengkap dan utuh dengan memperhatikan struktur bakunya (identifikasi fenomena/kejadian, proses kejadian, dan ulasan) dan


41 memperhatikan juga kaidah kebahasaan yang berlaku pada teks eskplanasi. Tuliskan perbedaan yang terdapat pada materi ajar yang belum diintegrasikan dengan CT dan materi ajar yang telah diintegrasikan dengan CT! Materi ajar yang belum diintegrasikan dengan CT, belum optimal membantu peserta didik mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analisis, dan kreatif karena kurang melibatkan peserta didik dalam menyelesesaikan sebuah permasalahan dan dalam proses pencarian solusi. Materi ajar yang telah diintegrasikan dengan CT, dapat membantu peserta didik mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analisis, dan kreatif karena melibatkan peserta didik dalam menyelesesaikan sebuah permasalahan secara terstruktur melalui penerapan empat fondasi CT. Sehingga peserta didik dapat menentukan solusi dari permasalahan yang mereka hadapi. Integrasi pemikiran komputational dapat memperkaya pengalaman belajar peserta didik dan meningkatkan pemahaman peserta didik tentang konsep-konsep yang kompleks.


42 3. Feedback yang diberikan dosen lain pada saat Demonstrasi Kontekstual NIM / Nama anggota Kelompok yang presentasi: 7000123757/Devi Widiya Anggraeni 7000124389/Karniti 7000135356/Sandi Nurjaman NIM / Nama anggota Kelompok yang memberikan evaluasi: 7000150262/YuliYanti Nurjanah 7000510221/Bakti Abdullah 7000137660/Shela Khoerunnisa Mata pelajaran: Bahasa Indonesia Materi ajar: Teks Eksplanasi Ide baru yang didapatkan terkait integrasi CT di dalam mata pelajaran: Peserta didik dapat menganalisis struktur, kaidah kebahasaan dan merancang pola untuk menulis teks eksplanasi melalui aktivitas berdiskusi kelompok dan mengintegrasikan CT. Guru menjelaskan materi teks eksplanasi dengan model problem based learning dan menggunakan metode tanya jawab, diskusi, serta penugasan. Evaluasi/saran untuk kelompok yang sedang presentasi: Alangkah lebih baik, langkah yang ada pada algoritma yakni mengumpulkan bahan berupa fakta/ pendapat ahli terkait dengan kejadian yang dituliskan dari berbagai sumber, untuk nantinya kerangka yang dibuat/disusun ini bisa dikembangkan menjadi teks eksplanasi yang lengkap dan utuh bisa diubah menjadi peserta didik melakukan penjelajahan secara online terkait fenomena sosial maupun budaya yang sedang tren untuk nantinya kerangka yang dibuat/disusun ini bisa dikembangkan menjadi teks eksplanasi yang lengkap dan


43 utuh. Hal ini dikarenakan dapat memudahkan peserta didik dalam mengumpulkan informasi yang lebih mengerucut 4. Hasil lembar kerja pada Koneksi Antar Materi NIM/nama anggota 1: NIM/nama anggota 2: NIM/nama anggota 3: 7000123757/Devi Widiya Anggraeni 7000124389/Karniti 7000135356/Sandi Nurjaman Kesimpulan mengenai integrasi CT ke dalam mata pelajaran: CT yang diintegrasikan dalam mata pelajaran, tentunya memberikan pemahaman baru bagi kami. CT dapat diintegrasikan ke dalam konsep mata pelajaran apapun selama guru memahami Computational Thinking, materi ajar, dan pembelajaran berdasarkan proses yang berpusat ke peserta didik. Dengan mengintegrasikan CT dalam mata pelajaran bahasa Indonesia dapat membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah berkenaan dengan pembelajaran, mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analisis, dan kreatif karena dalam prosesnya melibatkan peserta didik dalam menyelesaikan sebuah permasalahan secara terstruktur melalui penerapan empat fondasi CT. Sehingga peserta didik dapat menentukan solusi dari permasalahan yang mereka hadapi. Integrasi pemikiran komputational dalam mata pelajaran bahasa Indonesia dapat memperkaya pengalaman belajar peserta didik dan meningkatkan pemahaman peserta didik tentang konsep-konsep yang kompleks berkenaan dengan konteks persoalan terkait kebahasaan. Implementasi CT dalam pembelajaran Bahasa Indonesia akan erat hubungannya dengan keterampilan berbahasa seperti menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Dengan demikian, integrasi CT dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat membantu peserta didik memahami konsep dasar keterampilan berbahasa serta memungkinkan mereka untuk dapat


44 mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dalam bentuk tekstual dan kontekstual. Strategi untuk mengintegrasikan CT ke dalam mata pelajaran: Strategi untuk mengintegrasikan CT ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia tentunya bertujuan untuk memberikan peserta didik pemahaman mengenai pengembangan keterampilan dalam suatu pemecahan masalah secara kritis berkaitan dengan persoalan tekstual dan kontekstual tentang keterampilan berbahasa. Salah satu bentuk strategi untuk mengintegrasikan CT ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah dengan merancang pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Guru dapat merancang pembelajaran tersebut untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik memecahkan suatu persoalan dalam bidang bahasa dengan mengintegrasikan CT dalam penyelesaiannya. Siswa dapat mengintegrasikan 4 fondasi CT seperti pada pelajaran materi teks laporan hasil observasi sebegai berikut: 1. Dekomposisi Peserta didik dapat membagi atau memecahkan persoalan terkait materi teks laporan hasil observasi yang kompleks ke dalam beberapa sub materi seperti pengertian, ciri-ciri, struktur, dan kebahasaannya. 2. Pengenalan Pola Peserta didik melakukan tahap eksplorasi dan identifikasi berkaitan dengan persamaan materi tentang teks laporan hasil obsevasi dari berbagai sumber informasi baik secara online atau offline yang dapat memberikan berbagai pemahaman tentang teks laporan hasil observasi. 3. Abstraksi Peserta didik menyimpulkan berbagai informasi yang relevan dengan materi teks laporan hasil observasi dan mengeliminasi berbagai informasi yang tidak relevan dengan materi teks laporan hasil observasi. 4. Algoritma Peserta didik dapat mengembangkan langkah-langkah dalam memahami materi teks laporan hasil observasi seperti menyimpulkan pengertian, ciri-ciri, dan kebahasaan teks laporan hasil observasi serta langkah yang tepat dalam menyajikan suatu teks laporan hasil observasi dalam bentuk teks dan nonteks.


45 Dengan demikian, integrasi CT dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat membantu peserta didik memahami konsep dasar keterampilan berbahasa serta memungkinkan mereka untuk dapat mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dalam bentuk tekstual dan kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. 5. Hasil refleksi dan RPP dari Aksi Nyata Hasil Refleksi Berdasarkan pengerjaan tugas RPP pada bagian aksi nyata, saya dapat merefleksikan diri bahwa pemahaman saya terkait integrasi CT dalam rancangan materi ajar masih belum mumpuni. Sehingga hasil penyelesaian tugasnya belum sempurna, saya masih merasa kebingungan ketika akan memasukkan empat fondasi CT dalam RPP. Namun, saya sudah berusaha mengoptimalkan pengerjaan tugas ini dengan mencari referensi yang relevan. Berikut hasil pengerjaan RPP dari Aksi Nyata. Nama : Devi Widiya Anggraeni NIM : 7000123757 Tugas : SEL.09.2-T5-8a. Aksi Nyata - Unggah Tugas Mata Kuliah : Computational Thinking (CT) Anda telah melakukan serangkaian aktivitas dan mendapat feedback dari rekan mahasiswa dan dosen. Selanjutnya, sebagai tugas aksi nyata Anda, tuangkan rancangan materi ajar yang telah Anda integrasikan dengan CT dalam bentuk RPP! Fondasi CT yang terintegrasi dalam RPP Materi Pokok : Urutan Cerita Menarik dalam Eksplanasi Sub Materi : Struktur dan Kaidah Kebahasaan Teks Eksplanasi Komponen CT Dekomposisi Peserta didik diminta untuk menganalisis pemecahan masalah terkait struktur dan kaidah kebahasaan teks eksplanasi melalui stimulus atau rangsangan berupa beberapa pertanyaan dan pemberian teks untuk memusatkan perhatian terhadap materi teks eksplanasi. Sehingga mereka bisa mengumpulkan data untuk membuat pola kerangka teks eksplanasi.


46 Pengenalan Pola Pola yang dimaksudkan untuk memberikan latihan kepada peserta didik untuk mengenali pola suatu persoalan, menggeneralisasi tahapan penyelesaian masalah untuk dapat diterapkan pada persoalan sejenis. Peserta didik mengalisis teks yang diberikan oleh guru dan menentukan apakah termasuk teks eksplanasi atau bukan berdasarkan hasil analisis struktur dan kaidah kebahasaan teks eksplanasi. Abstraksi Pada bagian ini yakni mencari inti sari bagian penting suatu permasalahan dan mengabaikan bagian-bagian lain yang dianggap tidak perlu untuk selanjutnya fokus pada pencarian solusi. Peserta didik mampu menentukan topik fenomena (alam, sosial, dan budaya), topik yang tidak relevan dengan tiga fenomena tersebut diabaikan. Algoritma Peserta didik secara berkelompok menyusun kerangka pola pengembangan untuk menulis teks eksplanasi terjadinya suatu fenomena dengan menentukan terlebih dahulu topik atau suatu kejadian yang menarik, dikuasai, dan aktual. Kemudian mulai menyusun kerangka teks eksplanasi dengan mengembangkan topik utama ke dalam rincian-rincian topik yang lebih spesifik. Topik tersebut dapat disusun dengan urutan pola kronologis atau kausalitas. Selanjutnya, peserta didik dapat mengumpulkan bahan berupa fakta atau pendapat para ahli terkait dengan kejadian yang dituliskan dari berbagai sumber, untuk nantinya kerangka yang dibuat/disusun ini bisa dikembangkan menjadi teks eksplanasi yang lengkap dan utuh dengan memperhatikan struktur bakunya (identifikasi fenomena/kejadian, proses kejadian, dan ulasan) dan memperhatikan juga kaidah kebahasaan yang berlaku pada teks eskplanasi. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan : SMPN 15 Cimahi Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Materi Pokok : Urutan Cerita Menarik dalam Eksplanasi Sub Materi : Struktur dan Kaidah Kebahasaan Teks Eksplanasi Kelas/Semester : VIII/Ganjil Alokasi Waktu : 2 X 30 Menit Pertemuan : Ke-2 A. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi 3.10 Menelaah teks eksplanasi berupa paparan kejadian suatu fenomena alam yang diperdengarkan atau dibaca. 3.10.1 Menganalisis (C4) struktur teks eksplanasi dan kaidah kebahasaan teks


Click to View FlipBook Version