The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

SMPN 27 SEMARANG TAHUN AJARAN 2023/2024

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Muntiaroh Muntiaroh, 2023-08-23 09:48:39

MODUL P5 KEARIFAN LOKAL KELAS VII

SMPN 27 SEMARANG TAHUN AJARAN 2023/2024

Keywords: MODUL P5

ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang DESKRIPSI KEGIATAN Projek “Semarak Gerak dan Lagu Gambang Semarang ” merupakan projek SMP Negeri 27 Semarang dalam upaya penguatan Profil Pelajar Pancasila. Gambang Semarang adalah kesenian musik tradisional yang berasal dari Semarang dan merupakan gabungan dari seni music, vocal, tari dan lawak. Sedangkan tari Denok Semarangan atau tari Semarangan merupakan tarian khas Semarang. Tarian ini biasa ditampilkan dalam event-event rakyat seperti dugderan dan festival. Projek ini sebagai upaya sekolah untuk membekali peserta didik dalam mempelajari konsep dan nilai-nilai luhur dibalik kesenian dalam bentuk tari dan lagu Gambang Semarang. Peserta didik dapat memahami pentingnya melestarikan budaya Semarang sebagai identitas diri, sosial, dan bangsa Indonesia, serta dapat merefleksi nilai- nilai luhur yang terkandung dalam kesenian tersebut, sehingga dapat diambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang Dimensi, Elemen, Sub-elemen dan Target Fase D Profil Pelajar Pancasila dalam Modul Projek. DIMENSI ELEMEN SUBELEMEN TARGET PENCAPAIAN FASE D AKTIFITAS TERKAIT Beriman, Bertaqwa Kepada Tuhan yang Maha Esa dan Berahlak mulia Ahlak kepada manusia Mengutamaka n persamaan dengan orang lain dan menghargai perbedaan Mengenal perspektif dan emosi / perasaan dari sudut pandang orang atau kelompok lain yang tidak pernah dijumpai atau dikenalnya, mengutamakan persamaan dan menghargai perbedaan sebagai alat pemersatu dalam keadaan konflik atau perdebatan Berkebhinek aan Global Mengenal dan Menghargai Budaya Mendalami Budaya dan Identitas Budaya Memahami perubahan budaya seiring waktu dan sesuai konteks, baik dalam skala local, regional, dan nasional. Menjelaskan identitas diri yang terbentuk dari budaya bangsa. Menumbuhkan rasa menghormati terhadap keanekaragam an budaya Memahami pentingnya melestarikan dan merayakan tradisi budaya untuk mengembangkan identitas pribadi, social dan bangsa Indonesia serta mulai berupaya melestarikan budaya dalam kehidupan sehari-hari Bergotongroyong Kolaborasi, Berbagi Kerja sama Menyelaraskan tindakan sendiri dengan tindakan orang lain untuk melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan kelompok di lingkugan sekitar, sertamemberi semangat kepada orang lain untuk bekerja efektif dan mencapai tujuan bersama


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang Koordinasi Sosial Membagi peran dan menyelaraskan tindakan dalam kelompok serta menjaga tindakan agar selaras untuk mencapai tujuan bersama


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang TUJUAN SPESIFIK Tujuan spesifik dari projek ini adalah peserta didik dapat: 1. Menjalin kebersamaan terhadap sesama manusia dan menghragi perbedaan 2. Memiliki identitas diri yang selaras dengan nilai-nilai luhur budaya Semarang yang tercermin dalam Profil Pelajar Pancasila. 3. Mengambil bagian dalam upaya melestarikan budaya Semarang. 4. Membangun kerjasama dalam kelompok secara aktif dan efektif, 5. Mendemontrasikan gerak dan lagu Gambang Semarang dengan penuh tanggung jawab.


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang TAHAPAN KEGIATAN PROJEK ALUR URAIAN KEGIATAN JUMLAH JP Asesmen Awal Pertanyaan Pemantik: (Dikerjakan di kertas folio) Apakah kamu pernah mendengar atau melihat kesenian daerah di lingkungamu? (Sebutkan) Seberapa besar ketertarikanmu terhadap kesenian/budaya daerah? (ST, T, CT, KT, TT) berikan alasanmu Apa kamu tahu, kesenian apa saja yang berasal dari Kota Semarang? Apakah kamu dapat mendemontrasikan salah satu kesenian daerah di Kota Semarang? Seberapa besar minatmu untuk dapat mendemonstrasikan salah satu kesenian dari Semarang tersebut? (SB, Berminat, CB, KB, TB) berikan alasanmu Menurut pendapatmu, apakah kita masih perlu melestarikan kearifan local khususnya kesenian daerah di tengah perkembangan dunia yang semakin maju dan modern? Diskusi yang berhubungan dengan pertanyaan pemantik Fasilitator 1 JP 2 JP 1 JP Tahap Pengenalan 1. Perkenalan dengan kearifan local yang terdapat di Kota Semarang (LKPD 1) 2. Membangun kesadaran peserta didik terhadap tema yang dipilih (LKPD 2) 3. Mengesplorasi isu-isu yang berhubungan dengan tema (LKPD 3) 4. Diskusi masalah budaya local Kota Semarang (LKPD 4) 5. Menentukan issue-isue/ materi yang perlu ditindaklanjuti dalam diskusi (Tari Denok Semarangan) (LKPD 5) 3 JP 4 JP 4 JP 4 JP 3 JP Tahap Kontekstualisasi 6. Menggali permasalahan terhadap kelestarian budaya Tari Denok Semarangan (LKPD 6) 7. Menggali permasalahan terhadap kelestarian budaya kesenian Gambang (LKPD 7) 8. Pengumpulan, pengorganisasian, dan penyajian informasi tentang kesenian Gambang Semarang 3 JP 3 JP 4 JP


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang dan Tari Denok Semarangan (LKPD 8) 9. Asesmen Formatif Presentasi paparan : Tari dan Lagu Gambang Semarang (LKPD 9) 10. Berbagi pengetahuan tiap kelompok diskusi sesuai dengan tema yang telah ditentukan (LKPD 10) 11. Penyusunan laporan diskusi (LKPD 11) 12. Refleksi Awal (LKPD 12) 13. Pembelajaran berbasis masalah (LKPD 13) 2 JP 2 JP 2 JP 2 JP 2 JP Tahap Aksi 14. Membuat video projek (LKPD 14) 15. Membuat rencana wawancara kearifan lokal budaya setempat (LKPD 15) 16. Merumuskan dan memilih peran yang dapat dilakukan secara bertanggungjawab untuk mencapai tujuan melalui aksi nyata (LKPD 16) 17. Berlatih dengan pendampingan secara serius dan berkesinambungan 18. Membuat gambar kearifan lokal tentang ikon Kota Semarang (PETUNJUK PEMBUATAN GAMBAR) 19. Berkolaborasi bersama kelompok dan saling melengkapi dengan pendampingan. 20. Membuat poster bertema menjaga dan melestarikan kearifan local kota Semarang (PETUNJUK PEMBUATAN POSTER) 21. Saling evaluasi dan refleksi tanyangan hasil gambar dan poster masing-masing kelompok (LKPD 17) 3 JP 4 JP 2 JP 20 JP 4 JP 2 JP 4 JP 2 JP Tahap Refleksi 22. Asesmen Sumatif 1: Berbagi karya kelompok dengan mempresentasikan Tari dan Lagu Gambang Semarang (LKPD 18) 23. Saling evaluasi dan refleksi dengan menerima masukan dari kelompok lain 24. Mengembangkan ide lebih lanjut dari masukan yang diterima 25. Menuliskan dan menghafalkan lirik lagu Gambang Semarangan (LKPD 19) 26. Penilaian Antar teman Menyanyi Gambang Semarang (LKPD 20) 22. Reflesi Akhir (LKPD) 9 JP 3 JP 2 JP 2 JP 2 JP 2 JP Tahap Tindak Lanjut 27. Praktik menyanyi dan menari Denok Semarang 28. Penilaian Antar Teman menyanyi dan menari (LKPD 21) 29. Peserta didik menyiapkan perencanaan kegiatan perayaan projek dengan pendampingan fasilitator 30. Refleksi akhir 31. Asesmen Sumatif 2: Presentasi Tari dan Lagu Gambang Semarang secara kolosal (LKPD 22) 3 JP 3 JP 2 JP 3 JP 6 JP TOTAL 120 JP


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang RUBRIK ASESMEN TEMA : KEARIFAN LOKAL TOPIK : SEMARAK GERAK DAN LAGU GAMBANG SEMARANG DIMENSI SUB ELEMEN BB MB BSH SB Beriman, Bertaqwa Kepada Tuhan yang Maha Esa dan Berahlak mulia Mengutamakan persamaan dengan orang lain dan menghargai perbedaan Berkebhinek aan Global Mendalami budaya identitas budaya. Memahami perubahan budaya seiring waktu dan sesuai konteks, baik dalam skala lokal, regional, dan nasional. Menjelaskan identitas diri yang terbentuk dari budaya bangsa Menumbuhkan rasa menghormati terhadap keanekaragaman budaya. Memahami pentingnya melestarikan dan merayakan tradisi budaya untuk mengembangkan identitas proibadi, berupaya melestraikan budaya dalam kehidupan sehari-hari Bergotongroyong Kerjasama. Menyelaraskan tindakan sendiri dengan tindakan orang lain untuk melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan kelompok di longkungan sekitar, serta memberi semangaat kepada orang lain untuk bekerja secara efektif dalam mencapai tujuan bersama Koordinasi sosial. Membagi peran dan menyelaraskan tindakan dalam kelompok serta menjaga tindakan agar selaras untuk mencapai tujuan bersama


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang TAHAPAN MODUL AJAR A. Tahap Pengenalan: 2 JP Pertanyaan Pemantik: Apakah yang kalian ketahui tentang budaya? Apakah kamu pernah mendengar atau melihat kesenian daerah di lingkungamu? (Sebutkan) Seberapa besar ketertarikanmu terhadap kesenian/budaya daerah? (ST, T, CT, KT, TT) berikan alasanmu Apa kamu tahu, kesenian apa saja yang berasal dari Kota Semarang? Apakah kamu dapat mendemontrasikan salah satu kesenian daerah di Kota Semarang? Seberapa besar minatmu untuk dapat mendemonstrasikan salah satu kesenian dari Semarang tersebut? (SB, Berminat, CB, KB, TB) berikan alasanmu Menurut pendapatmu, apakah kita masih perlu melestarikan kearifan lokal khususnya kesenian daerah di tengah perkembangan dunia yang semakin maju dan modern?


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang Perkenalan dengan kearifan lokal yang terdapat di Kota Semarang Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Dalam modul "Sosiologi SMA Kelompok Kompetensi I" yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sistem pemenuhan kebutuhan meliputi seluruh unsur kehidupan, yaitu agama, ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, organisasi sosial, bahasa dan komunikasi, serta kesenian. Konsep kearifan lokal atau kearifan tradisional atau sistem pengetahuan lokal (indigenous knowledge system) adalah pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya tertentu yang telah berkembang lama sebagai hasil dari proses hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Pengetahuan ini untuk menjawab berbagai masalah dalam memenuhi kebutuhan mereka. 1 3 JP


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang Konsep kearifan lokal atau kearifan tradisional atau sistem pengetahuan lokal (indigenous knowledge system) adalah pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya tertentu yang telah berkembang lama sebagai hasil dari proses hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Kearifan lokal itu tidak hanya berlaku secara lokal pada budaya atau etnik tertentu, tetapi dapat dikatakan bersifat lintas budaya atau lintas etnik sehingga membentuk nilai budaya yang bersifat nasional. Contohnya, hampir di setiap budaya lokal di Nusantara dikenal kearifan lokal yang mengajarkan gotong royong, toleransi, etos kerja, dan seterusnya. Pada umumnya etika dan nilai moral yang terkandung dalam kearifan lokal diajarkan turun-temurun, diwariskan dari generasi ke generasi melalui sastra lisan (antara lain dalam bentuk pepatah, semboyan, dan peribahasa) dan manuskrip. Kelangsungan kearifan lokal tercermin pada nilai-nilai yang berlaku pada sekelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai tersebut akan menyatu dengan kelompok masyarakat dan dapat diamati melalui sikap dan tingkah laku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal dapat dipandang sebagai identitas bangsa, terlebih dalam konteks Indonesia yang memungkinkan kearifan lokal bertransformasi secara lintas budaya yang pada akhirnya melahirkan nilai budaya nasional. Di Indonesia, kearifan lokal adalah filosofi dan pandangan hidup yang mewujud dalam berbagai bidang kehidupan, meliputi tata nilai sosial dan ekonomi, arsitektur, kesehatan, tata lingkungan, dan sebagainya. Contohnya, kearifan lokal yang bertumpu pada keselarasan alam telah menghasilkan pendopo dalam arsitektur Jawa. Pendopo dengan konsep ruang terbuka menjamin ventilasi dan sirkulasi udara yang lancar tanpa perlu penyejuk udara. Contoh Kearifan Lokal Nusantara Ada beberapa kekayaan budaya, kearifan lokal nusantara yang terkait dengan pemanfaatan alam, diantaranya : Masyarakat Serawai, Bengkulu, terdapat keyakinan celako kumali. Kelestarian lingkungan terwujud dari kuatnya keyakinan tata nilai dalam berladang dan tradisi tanam. Masyarakat Dayak Kenyah, Kalimantan Timur. Terdapat tradisi tana' ulen. Kawasan hutan dikuasai dan menjadi milik masyarakat adat


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang Masyarakat Bali dan Lombok. Mempunyai kearifan lingkungan awig-awig. Awig- awig adalah patokan tingkah laku yang dibuat masyarakat berdasarkan rasa keadilan dan kepatutan masyarakat setempat. Masyarakat Baduy mempunyai kearifan lingkungan yang mendasari mitigasi bencana dalam bentuk pikukuh (ketentuan adat pokok) yang mengajarkan antara lain: gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak (gunung tidak boleh dihancurkan, sumber air tidak boleh dirusak Nah, itulah penjelasan mengenai kearifan lokal beserta contohnya. Semoga kearifan lokal di daerahmu tetap terjaga


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang 2 Membangun kesadaran peserta didik terhadap tema yang dipilih Fakta Menarik tentang Kota Semarang yang Pernah Dijuluki Venesia-nya Jawa Liputan6.com, Jakarta - Semarang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah dan merupakan kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung. Kota ini terletak sekitar 558 km sebelah timur Jakarta, atau 312 km sebelah barat Surabaya, atau 621 km sebalah barat daya Banjarmasin (via udara). Semarang berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, Kabupaten Demak di sebelah timur, Kabupaten Semarang di sebelah selatan, dan Kabupaten Kendal di sebelah barat. Kota Semarang memiliki luas wilayah administratif sebesar 373,70 km persegi, sehingga merupakan administrasi kotamadya terluas di Pulau Jawa. Nama "Semarang" kabarnya berasal dari kata "sem", yang berarti "asam/pohon asam", dan kata "arang", yang berarti "jarang", yang digabungkan menjadi "asam yang jarang-jarang". Penamaan "Semarang" ini bermula ketika Ki Ageng Pandanaran I alias Ki Ageng Pandan Arang (bupati pertama Semarang), datang ke sebuah pulau bernama Pulau Tirang (dekat pelabuhan Bergota) dan melihat pohon asam yang jarang-jarang tumbuh berdekatan. Penamaan Kota Semarang ini sempat berubah saat zaman kolonialisme Hindia Belanda menjadi "Samarang". Kota Semarang merupakan satu dari tiga pusat pelabuhan (Jakarta dan Surabaya) penting bagi Hindia Belanda sebagai pemasok hasil bumi dari wilayah pedalaman Jawa. Tentu bukan itu saja hal-hal menarik tentang Semarang. Dilansir dari beragam sumber, berikut enam fakta menarik seputar Semarang yang dilansir dari berbagai sumber. 1. Kota Pelabuhan Pertumbuhan Kota Semarang tidak lepas dari kondisi geografis Semarang yang merupakan wilayah pesisir dengan adanya pelabuhan. Pelabuhan menjadi cikal bakal pertumbuhan Kota Semarang hingga menjadi wilayah perkotaan saat ini. Bermula dari aktivitas perdagangan di pelabuhan menjadikan Kota Semarang merupakan wilayah strategis dalam pengembangan perekonomian dan kontribusi distribusi barang jasa sejak zaman pra-kolonialisme. Sungai-sungai yang mengalir di pusat kota dahulu merupakan kawasan pelabuhan. 4 JP


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang Salah satu sungai tersibuk sebagai jalur lalu lintas kapal dan perahu adalah Sungai Semarang. Akibat sedimentasi sungai, sungai Semarang sudah tidak memungkinkan untuk jalur lalu lintas, kemudian pelabuhan direlokasi ke Muara Baru. Saat ini, pelabuhan utama di Semarang adalah Pelabuhan Tanjung Emas. 2. Hari Jadi Kota Semarang Di bawah pimpinan Pandan Arang II, Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten. Momen itu terjadi pada 2 Mei 1547, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal tahun 954 H dan disahkan oleh Sultan Hadiwijaya setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga. Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang dan di tahun ini memasuki usia 474 tahun. 3. Peran Penting Kereta Api Semarang berperan penting dalam sejarah kereta api Indonesia. Mereka jadi tonggak pertama pembangunan kereta api Hindia Belanda dimulai, dengan pembangunan jalan kereta api yang dimulai dari Desa Kemijen menuju Desa Tanggung sepanjang 26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Pencangkulan pertama dilakukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr LAJ Baron Sloet van den Beele, pada17 Juni 1864. Jalan kereta api ini mulai dioperasikan untuk umum pada 10 Agustus 1867. Pembangunan jalan kereta api ini diprakarsai sebuah perusahaan swasta Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM) (terjemahan: Perseroan tak bernama Perusahaan Kereta Api Nederland-Indonesia) yang dipimpin oleh Ir JP de Bordes. Kemudian, setelah ruas rel Kemijen - Tanggung, dilanjutkan pembangunan rel yang dapat menghubungkan kota Semarang - Surakarta (110 Km), pada 10 Februari 1870. Semarang memiliki dua stasiun kereta api utama, yaitu: Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol. Sumber: Museum Kereta Api Ambarawa di Semarang, Jawa Tengah. (dok.Instagram@ambarawan_railways/https://www.instagram.com/p/3Nv-BLHNSK/Henry)


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang 4. Kota dengan Beragam Julukan Kota Semarang mempunyai mempunyai beberapa julukan, salah satunya Venetië van Java. Semarang dilalui banyak sungai di tengah kota seperti di Venesia (Italia), sehingga Belanda menyebut Semarang sebagai Venetië van Java atau Venesia dari Jawa. Semarang juga dijuluki Kota Lumpia karena lumpia merupakan makanan khas Semarang. Lumpia merupakan akulturasi dua budaya yaitu budaya Jawa dan China. LumpA diambil dari kata lun pia. Julukan lainnya adalah Kota Atlas, akronim dari Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat yang menjadi slogan pemeliharaan keindahan kota. Semarang juga punya julukan The Port of Java (Pelabuhannya Jawa) sebagai upaya pencitraan kota Semarang sebagai pusat Pelabuhan Jawa, dan Semarang Pesona Asia. Hal itu bermula pada 2009 dari wacana beberapa pihak, Wali Kota Semarang menyetujui slogan "SPA", di mana konsekuensinya, dilakukan pembersihan dan pembangunan di berbagai tempat seperti perbaikan saluran, jalan, trotoar, taman, dan penataan PKL (Pedagang Kaki Lima).


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang Mengesplorasi isu-isu yang berhubungan dengan tema Tak Melulu Lumpia, Ini Sederet Julukan untuk Kota Semarang Liputan6.com, Semarang - Kota Semarang dapat disebut sebagai jantung Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Salah satu kota metropolitan ini terkenal memiliki segudang cerita sejarah dan kebudayaan yang menarik. Kota Semarang juga memilki banyak julukan unik,mulai dari kota lumpia hingga kota jamu. Julukan-julukan Kota Semarang tidak hanya berasal dari sejarah, kebudayaan dan ciri khas kotanya, tetapi juga dari citra Kota Semarang di mata nasional dan internasional. Dikutip dari berbagai sumber, berikut sederet julukan Kota Semarang, Jawa Tengah. 1. Kota Lumpia Julukan kota lumpia berasal dari makanan khas yang paling populer khas Semarang. Julukan Kota Lumpia sudah berlaku sejak abad ke-18. Makanan ini merupakan hasil akulturasi kebudayaan Tionghoa dan Jawa yang terbuat dari olahan rebung atau tunas bambu yang dimasak bersama daging, telur dan bumbu lalu digulung denga kulit terigu. Lumpia juga menjadi simbol toleransi antar suku bangsa di Semarang. 3 4 JP


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang 2. Kota Jamu Semarang dijuluki sebagai Kota Jamu karena kota inilah tempat berdirinya perusahaan-perusahaan jamu raksasa Indonesia. Misalnya, Jamu Jago, Jamu Borobudur, dan Jamu Cap Nyonya Meneer. Tradisi jamu-jamuan atau obat-obatan herbal sendiri telah mendarah daging di Semarang selayaknya kota-kota tua di Pulau Jawa lainnya. 3. Kota Atlas Julukan Atlas berasal dari singkatan slogan pemeliharaan lingkungan kota Semarang (Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat). Slogan ini berlaku sejak masa pemerintahan Muhammad Ismail, Gubernur Jawa Tengah periode 1983 - 1993. 4. Venetie van Java Dalam bahasa Indonesia Venetie van Java memiliki arti "Venesia dari Jawa". Julukan ini diberikan oleh orang-orang Belanda karena kondisi geografis Semarang yang dilalui banyak sungai seperti Kota Venesia di Italia. Seperti Kali Garang (Banjir Kanal Barat), Kali Pengkol, Kali Bringin, Sungai Plumbon, Sungai Karanganyar, Sungai Sringin, Sungai Cilandak, dan Sungai Ciangker. Kondisi tersebut ditambah dengan total 40 persen wilayah Kota Semarang berada di dataran rendah yang rawan banjir, sehingga dijuluki Semarang Ngisor (Semarang Bawah). 5. Port of Java Kota Semarang mendapat julukan port of Java berdasarkan unsur historis. Letaknya yang berada di pesisir, menjadikan Semarang salah satu kota pelabuhan penting di Pulau Jawa selain Batavia (Jakarta) dan Surabaya. Menurut catatan para penjelajah asal Portugis saat melakukan perjalanan ke timur, Pelabuhan Semarang menjadi tempat bertambahnya kapal-kapal dagang mancanegara. Terdapat kurang lebih 3 Junks (kapal bergaya Tiongkok) dan 5 Lanchars (kapal ringan dengan layar kecil dilengkapi dayung pendorong).


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang Tidak hanya dikenal sebagai Kotanya Bandeng Presto maupun Lumpia, Tahu Gimbal maupun Wingko Babat. Tetapi kota yang satu ini juga menyimpan selera wisata yang dapatmemanjakan mata dan penikmat pariwisata tentunya. Dengan berusaha berbenah tiap tahunnya, tentu saja membuat ―Kota Panas‖ (udara) ini melirik para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk merasakan suguhansuguhan mata keindahannya. Berikut beberapa sajian pesona Semarang untuk para penikmat jalanjalan dan keindahan : 1. Kota Lama Semarang Tak ubahnya seperti kota mati itulah gambaran awal Kota Lama Semarang yang dahulunya menjadi pusat perekonomian dan budaya, serta sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda. Glamornya puncak bisnis tersebut sudah meredup dan meninggalkan sejarah panjang untuk Kota Semarang. Bangunan-bangunan lama di sini menjadi saksi bisu lalu-lalangnya bisnis terdahulu di wilayah ini. Berada di tengah-tengah pusat kota menjadikan Kota Tua Semarang semakin mudah di akses. Kondisinya yang bersih dan ramai sangat cocok untuk berfoto ria dan mengabadikan potret keindahan baik siang maupun di malam hari. Menikmatinya dengan berjalan kaki ataupun bersepeda santai adalah pilihan yang pas. Bangunan kuno lainnya yang dapat dijumpai di Kota Lama Semarang adalah Gereja Blenduk yang juga merupakan icon Kota Semarang yang telah berdiri ratusan tahun dan masih kokoh hingga kini. Dinamakan Blenduk karena bagian atas geraja ini terdapat kubah besar menyerupai setengah bola yang disebut Mblenduk (mengembang ke atas) dalam bahasa jawa.


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang 2.Tugu Muda Menggambarkan semangat juang dan rasa patriolisme yang kuat itulah sejarah awal Monumen ini ketika dibangun untuk mengenang pertempuran lima hari melawan penjajahan Jepang. Khususnya mengenang jasa para remaja (pemuda) saat itu yang gigih dan rela berkorban mempertahankan kemerdekaaan Indonesia terutama untuk Kota Semarang. Kini, kawasan yang terletak di Jalan Pemuda Pandanaran ini menjadi objek ―tongkrongan‖ khas bagi kawula muda terutama pada malam hari yang sangat ramai dikunjugi. Dengan suasana santai, gemerlap kuning lampu jalanan dan rutinitas kendaraan yang lalu lalang membuat Tugu Muda menjadi landscape yang ciamik untuk kebersamaan dan tentunya keindahan ―mistis‖ Lawang Sewu di malam haripun dapat dirasakan di lokasi ini. 4. Pagoda Buddhagaya Watugong Terletak 45 menit dari pusat Kota Semarang, Vihara ini ditetapkan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Pagoda tertinggi di Indonesia yang memiliki ketinggian 45 meter dengan 7 tingkat. Keistimewaan yang dimiliki Pagoda ini sangat banyak, mulai dari genteng, relief tangga dari batu (9 naga), kolam naga, aksesoris, lampu naga, air mancur naga, hingga patung burung Hong


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang Kilin konon katanya seluruhnya diimpor dari Cina.


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang Didukung oleh suasana yang asri dan nyaman, Pagoda Watugong relatif menyenangkan dan nyaman untuk berziarah serta beribadah. Atau bahkan hanya sekadar mampir untuk istirahat di pepohonan sekitar Vihara sambil melepas lelah perjalanan. Sumber: caption id="attachment_316183" align="aligncenter" width="448" caption="Kompleks Vihara yang tertata bersih dan asri" 5. Lawang Sewu Gedung kuno bersejarah ini juga menjadi salah satu icon Kota Semarang yang banyak di kunjungi oleh para wisatawan, baik para pengunjung dari luar daerah maupun masyarakat sekitar . Terdapat 4 Gedung di kawasan Lawang Sewu ini, semua gedung tersebut mempunyai fungi dan cerita mistis tersendiri. Seribu pintu,, itulah julukan ―terkenal‖ untuk bangunan kuno bekas Kantor Djawatan Kereta Api Republik Indonesia . Dibangun pada tahun 1904 gedung tua ini pernah menjadi lokasi pertempuran pada masa penjajahan Jepang. Sisi mistispun sangat melekat untuk Gedung Tua ini apalagi bungker bawah tanahnya sering digadangkan dengan penampakan-penampakan ―aneh‖. Sumber: https://jateng.liputan6.com/read/4993190/tak-melulu-lumpia- Kota Lama Semaran (sumber: infowisata.semarangkota.go.id)


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang Diskusi masalah budaya local Kota Semarang 4 Dugderan Pada tahun 1881 M, di Kota Semarang pada masa Bupati KRMT Purbaningrat, berkembanglah sebuah tradisi berupa arak-arakan menyambut datangnya bulan Ramadhan atau bulan puasa, masyarakat Kota Semarang menyebutkannya dengan istilah Dugderan. Setelah sesaat umat Islam melaksanakan shalat Ashar ,tepat sehari menjelang bulan Ramadhan, dipukullah bedug Masjid Besar Kauman disusul dengan penyulutan meriam di halaman pendapa kabupaten di Kanjengan. Bedug mengeluarkan bunyi ―dug‖ dan meriam mengeluarkan bunyi ―der‖ yang berkali-kali pada akhirnya digabungkan menjadi istilah Dugderan. Mendengar suara Dug dan Der yang keras dari sekitar alun-alun pusat kota, masyarakat pun berbondong-bondong datang untuk menyaksikan apa yang terjadi. Masyarakat pun berkumpul di alun-alun di depan masjid, keluarlah Kanjeng Bupati dan Imam Masjid Besar memberikan sambutan dan pengumuman. Pada saat itu yang menjadi Imam Masjid Besar Kauman adalah Kyai Tafsir Anom. Salah satu isinya adalah informasi yang pasti tentang penentuan awal bulan puasa bagi masyarakat pelosok dan golongan. Selain itu ada pula ajakan untuk selalu meningkatkan tali silaturahim atau persatuan dan ajakan untuk senantiasa meningkatkan kualitas ibadah. Tradisi ini pun berjalan berulang-ulang, dari tahun ke tahun dan menjadi sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Semarang. Tujuan lain dari diciptakannya tradisi dugderan tersebut untuk mengumpulkan lapisan masyarakat dalam suasana suka cita untuk bersatu, berbaur dan bertegur sapa tanpa pembedaan. Selain itu dapat dipastikan pula awal bulan Ramadhan secara tegas dan serentak untuk semua paham agama Islam berdasarkan kesepakatan Bupati dengan imam Masjid. Sehingga terlihat semangat pemersatu sangat terasa dalam tradisi yang diciptakan tersebut. Dalam sejarah, Dugderan pertama kali dilaksanakan di Masjid Kauman, Bupati Semarang selaku umara datang ke Masjid Besar Kauman untuk bersamasama ulama menyampaikan hasil keputusan tentang awal puasa. Dari peristiwa tersebut dapat dipahami bahwa Dugderan merupakan ritual keagamaan dan masjid merupakan pusat perkumpulan umat. 4 JP


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang Prosesi tradisi Dugderan terdiri dari tiga agenda yakni pasar (malam) Dugderan, prosesi ritual pengumuman awal puasa dan kirab budaya Warak Ngendok. Tiga agenda tersebut yang sekarang menjadi satu kesatuan dalam tradisi Dugderan. Tradisi hingga sekarang masih terus dilestarikan dan dilakukan dengan segala dinamika dan perkembangannyaPasar Dugderan dilakukan selama satu minggu penuh mulai siang sampai malam dan dipusatkan di Pasar Johar atau sekitar Masjid Besar Kauman. Menariknya pasar Dugderan ini ramai dikunjungi oleh masyarakat pada malam hari untuk menikmati pasar malam. Setelah diadakan pasar malam dilanjutkan dengan prosesi ritual pengumuman awal bulan Ramadhan dan kirab Dugderan. Pada saat Bupati membacakan surat keputusan suasana menjadi hening dan penuh perhatian, seusai membacakan naskah kemudian Bupati memukul Bedug dan pada saat itu juga disulut meriam sehingga masyarakat merasa gembira dan senang. Dalam suasana bingarnya meriam dan bedug, dikeluarkan sebuah karya fenomenal dan menarik perhatian yang berupa seekor binatang khayal yaitu Warak Ngendok. Hadirnya Warak Ngendok dalam tradisi tersebut sebagai seekor binatang khayalan yang dapat menarik perhatian masyarakat sekitar, dan sebagai simbol tradisi Dugderan yang diadakan setiap menjelang bulan Ramadhan. Warak Ngendok merupakan salah satu unsur utama dari tradisi Dugderan yang ada di Kota Semarang, dan mampu bertahan hingga sekarang. Bahkan Warak Ngendok menjadi maskot masyarakat Semarang. Sebenarnya warak ngendok dahulu kala dikenal sebagai hewan mitologi yang sakti oleh warga Semarang , bentuknya merupakan perpaduan antara kambing pada bagian kaki, naga pada bagian kepala dan buraq di bagian badannya. Warak Ngendok sendiri berasal dari dua kata, yakni warak yang berasal dari bahasa arab ―Wara‖I‖ yang berarti suci. Sedangkan Ngendok sama artinya dengan bertelur, dua kata itu bisa diartikan sebagai siapa saja yang menjaga kesucian di Bulan Ramadhan kelak diakhir bulan akan mendapatkan pahala di hari lebaran. Menurut cerita warga, Warak Ngendok sudah hadir sejak awal mula pendirian Kota Semarang, bahkan saat Ki Ageng Pandan Arang mendirikan Kota Semarang dan menjadi Bupati pertama kali, hewan mitologi ini pun sudah hadir ditengah masyarakat. Dalam mensyiarkan agama Islam, Ki Ageng Pandan Arang memadukan unsur kebudayaan lokal seperti Warak Ngendok. Raden Pandanaran memperkenalkan Warak Ngendok pertama kali kepada warga Semarang kuno kala itu. Sejak saat itu Warak Ngendok terus dijadikan salah satu maskot Kota Semarang. Disetujui Oleh Mochtar Hidayat Pada Tanggal 02-12-2020


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang Melempar lumpur untuk menolak bala dan kejahatan: Popokan Di Sendang, Bringin, Semarang, ada sebuah tradisi unik yang diadakan pada hari Jumat Kliwon di bulan Agustus setiap tahunnya. Tradisi ini disebut popokan yang dipercaya sebagai penolak bala dan kejahatan. Popok an juga diselenggarakan sebagai wujud syukur atas berkah panen yang melimpah. Dalam tradisi popokan, warga laki-laki—mulai dari anak-anak sampai orang dewasa—akan saling melempar lumpur di jalan utama desa. Lumpur ini diambil dari sawah setempat. Tubuh kotor karena terkena lumpur bukan masalah. Tidak ada emosi, hanya ada sukacita semata selama popokan. W arga justru percaya bahwa terkena lumpur menandakan mereka mendapat berkah. Sebelum acara lempar lumpur, masyarakat akan membersihkan sendang, berdoa bersama, dan mengadakan berbagai kesenian serta hiburan. Gunungan hasil bumi dan sesaji akan diarak dan selanjutnya diperebutkan oleh warga. Ada juga arak-arakan dekorasi berwujud macan yang menjadi maskot tradisi popokan. Me ndoakan le luhur de ngan ziar ah kubur: Nyadr an Mendoakan leluhur dengan ziarah kubur: Nyadran. (Dok: Airy Rooms) Tradisi nyadran bukanlah ritual yang asing bagi masyarakat Jawa, termasuk Semarang. Nyadran biasanya dilakukan sebelum ibadah puasa dimulai, yaitu di bulan Ruwah. Umat muslim akan berziarah ke makam keluarga atau leluhur lalu membersihkan kuburan.


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang Selanjutnya, mereka akan memanjatkan doa bagi sanak saudara yang telah meninggal, sekaligus meminta pada Tuh an supaya ibadah puasa bisa berjalan baik. Umumnya, nyadran dilakukan secara pribadi atau bersama keluarga besar. Namun, beberapa daerah masih menggelar tradisi ini bersama seluruh warga satu dusun atau desa. Biasanya, setelah ziarah kubur, masyarakat akan mengadakan makan bersama. Beberapa ritual tersebut merupakan sebagian tradisi terkenal yang masih dipertahankan oleh masyarakat Semarang. Masih ada tradisi -tradisi lain seperti mantenan, aqiqah, padusan, siraman, dan juga magengan. Mengunjungi keluarga at au sekadar melihat kekayaan tradisi yang masih dilestarikan di Semarang cukup menarik, kapan lagi? Yuk siapkan rencanamu liburan ke Semarang untuk merasakan semarak budaya di sana.


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang Menentukan issue-isue/ materi yang perlu ditindaklanjuti dalam diskusi Peserta didik silahkan mengamati tanyangan Youtube sesuai link yang tertera. https://www.youtube.com/watch?v=l6wGJ8-B5xU https://www.youtube.com/watch?v=5LSweJ-wHvM 5 3 JP B. Tahap Kontekstualisasi


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang Menggali Permasalahan Terhadap Kelestarian Budaya Tari Denok Semarangan Salah satu jenis budaya yang ada di Indonesia adalah tarian tradisional. Banyak sekali tarian tradisional dari tiap daerah di Indonesia yang bahkan jumlahnya tak mampu dihitung menggunakan jari. Setiap tari memiliki kekhasan tersendiri dan biasanya berhubungan dengan tempat asal dimana tarian tersebut dilahirkan. Membentuk suatu filosofi yang berkaitan antara budaya dan daerah itu sendiri. Salah satu tari tradisional yang sangat terkenal di Kota Semarang, Jawa Tengah, yaitu Tari Denok Semarangan atau lebih dikenal dengan Tari Semarangan adalah tari yang biasa ditampilkan dalam acara penyambutan suatu acara maupun festival. Tari Denok Semarangan ditarikan oleh dua pasang putri. Tak disangka, gerakan yang ada dalam Tari Denok Semarangan ini terinspirasi oleh gerakan para waria. Dilansir dari metrojateng.com, Tari Gambang Semarang pertama kali dipopulerkan oleh Bintang Hanggoro Putro dan Aloisius Agus. Kedua tari tersebut mereka ciptakan sejak lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Berawal dari observasi yang mereka lakukan pada tahun 1991, akhirnya melahirkan macam-macam gerakan yang mencerminkan berbagai hal tentang Semarang Berdasarkan survei yang saya lakukan terhadap 13 orang yang ada disekitar saya, menurut mereka yang khas dari tari ini adalah dari segi musik yang tak hanya dari budaya Jawa namun juga budaya Arab dan Tionghoa, kostum yang meriah dan gerakan lingar yang menurut salah satu responden tidak ada di gerakan tari tradisional Semarang yang lain serta tarinya yang lincah namun tak berlebihan. Tari Gambang Semarang atau Tari Semarangan ini menggunakan tiga ragam gerak baku, yaitu ngondhek, genjot, ngeyek dan ketiganya merupakan gerakan yang berpusat pada pinggul. Selain itu terdapat pula gerakan jalan tepak, geyol, ngiting, mendak, mengibaskan sampur dan selut (silang 2 tangan kedepan bukak samping).Gerakan ngondhek adalah gerakan seperti mengayuh sepeda. Gerakan tepak adalah gerakan dengan telapak kaki berjungkit. Gerakan megol adalah gerakan goyang pinggul dan gerakan ngeyek adalah gerakan pinggul berputar. Gerakan tangan (lambeyan) yang menyertai ketiga ragam gerak itu merupakan gerakan yang 6 5 JP


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang berpangkal pada pergelangan tangan dengan media gerak sebatas pusar hingga pandangan mata. Goyangan pinggul seperti ombak air laut yang menghiasi Tari Denok Semarangan juga terinspirasi Laut Jawa yang berada di utara Semarang. Seni lawak yang terdapat pada tarian ini merupakan salah satu identitas budaya yang melambangkan bahwa orang Semarang mudah bergaul. Sayangnya, banyak para pemuda yang tidak mengetahui apa saja filosofi dari Tari Semarangan yang melegenda ini. Padahal, makna-makna yang terkandung dalam tari tersebut sangatlah menggambarkan keadaan Kota Semarang secara geografis, geologi, sosial dan budaya. Sesuai dengan letak Kota Semarang secara geografis, terbentuk dari dua dataran yaitu dataran tinggi dan dataran rendah. Pernyataan ini menciptakan gerakan yang berdampingan ada yang naik ada yang turun seperti gerakan tangan pada Tari Denok Semarangan yang naik turun. Jika dalam aspek geologi, Kota Semarang adalah kota daerah patahan yang sering dilanda bencana longsor. Bukti tersebut menciptakan gerakan pengulangan antara jongkok dan berdiri. Sementara dalam aspek sosial, Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah yang tentunya hari-hari dipenuhi hiruk pikuk orang kota. Hubungan antar masyarakat juga erat. Inilah yang membuat gerakan Tari Semarangan krentek dan energik. Kreator: Lathifa Drupadi Aspek budaya dalam Tari Denok Semarangan, terlihat dari kostum dan musik pengiringnya. Kostum penari dalam tari Semarangan dipengaruhi dari dua lintas budaya, yakni Tionghoa dan Arab. Kebaya encim, yang pada waktu itu sering dipakai oleh masyarakat Arab kemudian dipadukan dengan warna-warna ngejreng khas Cina dengan dominasi warna merah. Pengaruh kebudayaan Tionghoa dalam Tari Semarangan juga bisa diketahui lewat musik yang mengiringinya. Musik pengiring Tari Semarangan menggunakan kongahyan, sejenis alat musik musik gesek yang menyerupai rebab kalau di Jawa. Itulah sebabnya Tari Semarangan harus dilestarikan. Mengapa? Selain filosofinya yang menarik untuk diketahui, jiwa penerus karya


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang leluhur harus dipertahankan. Jangan sampai luntur termakan zaman. Apalagi Tari Semarangan merupakan identitas Kota Semarang. Ketika seseorang membicarakan kota ini, maka nama Tari Gambang Semarang pasti akan disebutkan. Jika tidak dilestarikan, bukankah tentunya turis akan bertanya-tanya ―mana yang disebut Tari Semarangan kebanggaan kota ini?‖ Betapa uniknya arti dari Tari Gambang Semarang ini. Di era generasi Z seperti sekarang, jarang sekali tari tradisional ini ditampilkan. Menurut survei saya terhadap orang Semarang tulen alias asli, bahkan ada yang selama 13 tahun terakhir belum pernah melihat mana yang disebut Tari Semarangan. Dari 8 orang yang menjawab pertanyaan saya tentang level gerakan tari Gambang Semarang, hanya 3 responden yang mengatakan tari ini mudah. Tentu perlu sosialisasi dan pembelajaran tentang pelestarian Tari Gambang Semarang agar semakin banyak peminatnya. Apalagi di era pandemi ini menurut saya dan jawaban para responden, sama sekali belum pernah ada pementasan Tari Denok Semarangan. Berikut beberapa upaya yang menurut saya dapat dilakukan agar Tari Gambang Semarang bisa abadi: 1. Pemerintah Kota Semarang mengadakan ekstrakulikuler tari meski secara online Pandemi COVID-19 telah membuat kegiatan sekolah offline diliburkan dan belum tau sampai kapan. Semua kegiatan ekstrakulikuler juga ditiadakan. Padahal, dari kegiatan ekstrakulikulerlah yang membuat bakat para siswa terlatih terutama bakat menjadi penari. Peminat ekstrakulikuler tari tidak hanya satu dua. Namun apa daya kini ekstrakurikuler tidak diadakan karena dihalang pandemi. Saran saya, ekstrakulikuler tetap diadakan agar budaya dan semangat tunas bangsa tidak luntur dan berhenti akibat pandemi. Bagaimana jika selama dirumahkan mereka lupa dengan gerakan-gerakan tari? Kreator: Lathifa Drupadi 2. Pemerintah Kota Semarang mengadakan lomba menari tarian tradisional Lomba menari sekarang sangat jarang ditemukan. Bahkan tahun lalu di Gedung Wanita Kota Semarang, banyak lomba yang


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang diadakan namun bukan lomba tari tarian tradisional. Yang diadakan malah lomba tarian modern. Tentu hal ini membuat Tari Denok Semarangan semakin sulit ditemukan dan bahkan bisa saja orang asli Semarang sendiri tidak tau dengan kearifan lokal daerahnya sendiri. Lalu dalam memeringati Hari Anak Nasional, akun Instagram @serasi.2020 milik Pemkot Kota Semarang yang berisi serangkaian lomba peringatan Hari Anak Nasional, tidak mengadakan lomba yang bersifat untuk melestarikan budaya. Ada enam lomba yang diselenggarakan yaitu, lomba video enam langkah mencuci tangan, lomba menghias masker, lomba menggambar dan mewarnai, lomba videografi, lomba menulis reportase dan lomba desain konten di media sosial. Sama sekali tidak ada lomba yang berhubungan dengan kearifan lokal. Cara untuk membudidayakan budaya salah satunya melalui lomba di mana nantinya banyak peserta yang mengincar penghargaan dari Walikota Semarang, yang membuat budaya secara langsung maupun tidak langsung dipelajari. Jika pemerintah saja tidak mengadakan lomba yang berkaitan dengan Tari Denok Semarangan, jangan kaget apabila nantinya Kota Semarang kehilangan salah satu tari kebanggannya. Ingin saya, pemerintah memperbanyak sanggar tari atau sanggar budaya dan memberikan bantuan dana kepada mereka agar semakin berkembang guna mempertahankan budaya Kota Semarang. Apalagi tari ini merupakan kearifan lokal dan identitas Kota Semarang. Selain itu, kecanggihan teknologi yang membuat para penari lebih meminati tarian modern dan dance challenge dari media sosial, membuat tari tradisional semakin terancam hilang karena tidak ada yang meneruskan untuk mempelajarinya. Kreator: Lathifa Drupadi


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang Mengenal Gambang Semarang Akulturasi Tradisi di Kota Semarang Semarang, Sonora.ID - Gambang Semarang merupakan salah satu kesenian tradisional Kota Semarang yang merupakan hasil dari akulturasi budaya. Kesenian Gmbang Semarang merupakan perpaduan antara seni musik, vokal, tari, dan lawak. Jika melihat dari asal-usulnya, Gambang Semarang ternyata merupakan turunan dari kesenian Betawi Gambang Kromong yang merupakan perpaduan antara kesenian Nusantara dan Tionghoa. Gambang Semarang diresmikan menjadi Warisan Budaya Tak benda (WBTb) sesuai dengan SK Mendikbud RI pada tahun 2018. Akulturasi budaya Tionghoa-Jawa yang ada pada Gambang Semarang terlihat dari busana yang dipakai oleh para penari dan penyanyi serta iringan musik gambang yang ada dalam kesenian ini. Tarian Denok Semarangan menggambarkan empat orang penari yang sedang bergembira, berkumpul, dan menari bersama. Alunan musik yang khas mengiringi telapak kaki para penari yang lincah dan bergerak sesuai dengan irama lagu. Unsur gerakan yang lugas dan dinamis membuat tarian Denok Semarangan menjadi semakin indah dan cantik.


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang Kesenian Gambang Semarang menjadi salah satu identitas Kota Semarang yang dipentaskan dalam perayaan tertentu seperti Dugderan, Karnaval, dan perayaan-perayaan lain yang ada di Kota Semarang. Karena menjadi salah satu aset kesenian yang menjadi akar sejarah dan budaya yang ada di Kota Semarang, Gambang Semarang tentunya perlu dilestarikan dan dikembangkan agar semakin dikenal oleh masyarakat luas. Gambang Semarang Gambang Semarang adalah kesenian musik tradisional kerakyatan yang berasal dari Semarang dan merupakan gabungan dari seni musik, vokal, tari dan lawak. Yang menjadi ciri khas dari kesenian ini adalah alunan musik yang mengiringi gerak telapak kaki secara dinamis sesuai irama lagu. Alat musik yang dipakai antara lain bonang, gambang, gong suwuk, kempul, peking, saron, kendang dan ketipung. Gambang Semarang merupakan bentuk akulturasi budaya antara etnis Tionghoa dengan Jawa dengan tokoh-tokoh perintisnya kebanyakan beretnis tionghoa seperti Lie Ho Sun dan Oey Yok Siang. [1] Pada pengembangan selanjutnya, Gambang Semarang semakin diisi oleh unsur kejawaan, lagu yang dimainkan adalah lagu pop Jawa. Kesenian Gambang Semarang merupakan turunan kesenian betawi Gambang Kromong yang memang lekat dengan budaya kalangan tionghoa. Gambang Semarang pada mulanya merupakan gagasan Lie Ho Sun, pada tahun 1930 untuk membawa dan mengembangkan Gambang Kromong di Semarang. [2] Gagasan tersebut disampaikan kepada Burgermeester (wali kota), dan langsung mendapatkan tanggapan baik dari wali kota. Lie Ho Sun sendiri adalah anggota volksraad yang gemar bermain musik keroncong, dan juga anggota organisasi kesenian ―Krido Handoyo‖. [3] Dengan bantuan biaya dari wali kota, ia membeli peralatan gambang kromong di Batavia bersama-sama dengan kelompok senimannya. Selanjutnya bermunculanlah berbagai komunitas Gambang di Semarang. [2] Kegiatan gambang Semarang periode pertama digawangi oleh beberapa pemain kelompok gambang kromong ―Kedaung‖ yang melatih pemain baru yang berasal dari grup keroncong ―Irama Indonesia‖. Tahun 1942, gambang Semarang bubar dan berhenti untuk sementara waktu dikarenakan perang antara rakyat dengan Jepang. Tahun 1949, Cik Boen dari ―Irama Indonesia‖ kembali mengaktifkan gambang Semarang. Di yang sama, The Lian Kian juga memulai kembali Gambang Semarang namun tidak bertahan lama. Tahun 1957 muncul generasi kedua dengan tokoh Yaw Tia Boen. Pada masa ini, terjadi kolaborasi Gambang Semarang dengan musik lain, seperti jazz, keroncong, dangdut dan lagu barat. Generasi ketiga


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang terbentuk sekitar tahun 1974 dengan tokohnya Sunoto, Bah Kalud, dan Jayadi. Pada masa ini didirikan Paguyuban Gambang Semarang yang mendapat pengesahan dari Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng tahun 1979 sebagai kategori kesenian rakyat.


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang Apa Itu Gambang Semarang? Empat penari, kian kemari Jalan berlenggang, aduh … Sungguh jenaka menurut suara Irama Gambang Penggalan syair lagu Gambang Semarang menjadi syair yang akrab didengar ketika Tarian Gambang dipentaskan di acara-acara tertentu. Lagu itu dipahami sebagai kesaksian dan ekspresi perasaan para pemainnya. Gambang semarang adalah kesenian musik tradisional kerakyatan dari Semarang. Gabungan seni musik, vokal, tari dan lawak. Ciri khasnya ada pada alunan musik yang mengiringi gerak telapak kaki secara dinamis sesuai irama lagu. Lagu Gambang Semarang adalah turunan kesenian Betawi Gambang Kromong yang lekat dengan budaya Tionghoa. Gambang Semarang diresmikan sebagai WBTb pada 2018 sesuai dengan SK Mendikbud RI. Lagu Gambang Semarang digagas oleh Lie Hoo Soen pada tahun 1898-1986, seorang anggota volksraad yang gemar memainkan musik keroncong sekaligus anggota organisasi seni ―Krido Handoyo‖. Suara gambang dan tiupan terompet serta bunyi krenceng termasuk perpaduan suara musik Jawa dan Cina. Nuansa Jawa-Cina dalam kesenian itu, bisa dilihat pada busana yang dipakai oleh penyanyi dan penari dengan kebaya bordir dan sarung pesisiran. Gambang Semarang dianggap sebagai bentuk akulturasi budaya, karena perpaduan unsur seni Cina dan Jawa. Jenis alat musik yang dipakai antara lain, bonang, gambang, gong suwuk, kempul, peking, saron, kendang dan ketipung. Dalam bidang seni tari, Gambang Semarang memiliki tiga ragam gerak baku, yaitu ngondhek, ngeyek, dan genjot yang ketiganya merupakan gerakan yang berpusat pada pinggul. Gerakan tangan (lambeyan) yang menyertai ketiga ragam gerak itu merupakan gerakan yang berpangkal pada pergelangan tangan dengan media gerak sebatas pusar hingga pandangan mata. Tari Gambang Semarang menggambarkan ekspresi gembira empat orang penari di suatu malam saat mereka berkumpul, berdendang dan menari bersama. Goyangan pinggul dan putaran pantat yang mengalun bila dihayati bagaikan riak gelombang air laut yang menghiasi garis pantai kota Semarang. Unsur gerak tari Jawa pesisiran yang lugas, dinamis dan mengalir membuat tari Gambang Semarang menjadi indah dan nyaman dipandang mata. Dalam setiap pementasan terdapat urutan penyajian yang dimulai dengan lagu pembukaan berupa instrumental.


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang Kesenian Gambang Semarang juga berfungsi sebagai tontonan atau pertunjukan. Gambang Semarang dipentaskan apabila ada permintaan. Biasanya Gambang Semarang dipentaskan pada berbagai event seperti perayaan tahun baru Cina di klenteng-klenteng, acara pernikahan, khitanan, karnaval, dugderan (perayaan menyambut bulan suci Ramadhan), penyambutan turis mancanegara dan lain sebagainya. Sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang 7


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang Menggali permasalahan terhadap kelestarian budaya Kesenian Gambang INSTRUMENTALIA GAMBANG https://www.youtube.com/watch?v=jkb3O0m-kVc LAGU GAMBANG SEMARANG https://www.youtube.com/watch?v=XFTv2mbIZH4 Gambang Semarang merupakan salah satu kesenian tradisional Kota Semarang yang merupakan hasil dari akulturasi budaya. Kesenian Gmbang Semarang merupakan perpaduan antara seni musik, vokal, tari, dan lawak. Jika melihat dari asal-usulnya, Gambang Semarang ternyata merupakan turunan dari kesenian Betawi Gambang Kromong yang merupakan perpaduan antara kesenian Nusantara dan Tionghoa. Gambang Semarang diresmikan menjadi Warisan Budaya Tak benda (WBTb) sesuai dengan SK Mendikbud RI pada tahun 2018. Akulturasi budaya Tionghoa-Jawa yang ada pada Gambang Semarang terlihat dari busana yang dipakai oleh para penari dan penyanyi serta iringan musik gambang yang ada dalam kesenian ini. Tarian Gambang Semarang menggambarkan empat orang penari yang sedang bergembira, berkumpul, dan menari bersama. Alunan musik yang khas mengiringi telapak kaki para penari yang lincah dan bergerak sesuai dengan irama lagu. Unsur gerakan yang lugas dan dinamis membuat tarian Gambang Semarang menjadi semakin indah dan cantik. Kesenian Gambang Semarang menjadi salah satu identitas Kota Semarang yang dipentaskan dalam perayaan tertentu seperti Dugderan, Karnaval, dan perayaan-perayaan lain yang ada di Kota Semarang. Karena menjadi salah satu aset kesenian yang menjadi akar sejarah dan budaya yang ada di Kota Semarang, Gambang Semarang tentunya perlu dilestarikan dan dikembangkan agar semakin dikenal oleh masyarakat luas. Sumber: Semarang, Sonora.ID 7 3 JP


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang 8 Pegumpulan , pengorganisasian, dan penyajian informasi Tentang Kesenian Gambang Semarang dan Tari Denok Semarangan 4 JP Gambang Semarang telah ada sejak tahun 1930 dengan bentuk paguyuban yang anggotanya terdiri dari warga masyarakat Semarang dan peranakan Tionghoa dengan mengambil tempat pertunjukan di gedung Pertemuan Bian Hian Tiong di Gang Pinggir. Jenis alat musik yang dipakai adalah kendang, bonang, kempul, gong, suling, kecrek, gambang serta alat musik gesek (konghayan/tohyan/biola). Disamping musik, kesenian Gambang Semarang juga menampilkan penari dan penyanyi/vokalis. Salah satu lagu yang mungkin masih diingat hingga saat ini adalah Empat Penari ciptaan Oei Yok Siang, yang lebih dikenal dengan Gambang Semarang. Kesenian tradisional Gambang Semarang terbentuk dari gabungan antara seni musik, vokal, tari, dan lawak. Jika dilihat dari asalusulnya, kesenian itu bukanlah asli dari penduduk Semarang, tetapi berasal dari Gambang Kromong Jakarta, yang merupakan perpaduan dari unsur kesenian Tionghoa dan Nusantara. Dalam perkembangannya lagu-lagu Gambang Semarang terasa gembira dan menyatu dengan gerak tari yang cenderung gemulai. Cirikhas dari kesenian ini terletak pada gerak telapak kaki yang berjungkat-jungkit sesuai irama lagu yang lincah dan dinamis. Kesenian ini memadukan tari dengan iringan alat musik yang terbuat dari bilah-bilah kayu dan gamelan Jawa yang biasa disebut “Gambang”. Kesenian ini muncul pada even-even tertentu seperti Festival Dugderan dan Festival Jajan Pasar. Gambang Semarang sebagai kesenian dengan akar sejarah dan estetika yang kuat perlu dilestarikan dan dikembangkan, bahkan dapat dijadikan sebagai salah satu identitas Kota Semarang. 8


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang Penataan kesenian Gambang Semarang sebagai identitas budaya Semarang meliputi penataan musik, vokal, tari, dan lawak. Penataan musik dan lagu dilakukan dengan cara membuat aransemen, menambahkan beberapa instrumen karawitan Jawa dan Sunda, mengembangkan teknik permainan instrumen, serta menampilkan lagu-lagu yang bertema danbernuansa Semarang, yaitu: Semarang Kota Atlas, Simpang Lima, Semarang Tempo Doeloe, Tanjung Emas, dan Kuliner Khas Semarang. Dalam penataan tari, telah diciptakan dua buah komposisi yang berjudul Tari Gambang Semarang dan Tari Goyang Semarang. Musik iringan tari ditata dengan pembuatan aransemen lagu Gambang Semarang dan Gado-gado Semarang serta menciptakan lagu Tari Goyang Semarang, yang dapat mendukung perwujudan gerak tarinya. Penataan lawak dilakukan dengan mengacu pada bentuk-bentuk lawakan Gambang Semarang, yaitu: lawakan verbal, nonverbal, dan musikal. Penggarapan lawak dilakukan dengan menggubah cerita lawak Dhadhung Kepuntir dalam tradisi Gambang Semarang dan diberi judul Dhadhung Ruwet. Media komunikasi yang digunakan dalam penataan lawak ini adalah bahasa masyarakat Semarang yang bersifat multilingual. Kontributor: Subiyantoro MaknaRealitas Sosial dalam Lirik Lagu Gambang Semarang Barisan.co – Gambang Semarang merupakan kesenian lokal di Semarang yang menandai keragaman elemen budaya Jawa – Tionghoa dengan berbagai dimensinya, antara lain dimensi kesejarahan. Dimulai dari komunitas pemukiman di Simongan, orang-orang Cina mengembangkan wilayahnya ke Pecinan dan bersosialisasi dengan masyarakat pribumi secara intensif. Mereka semakin eksist melalui keberhasilannya sebagai pedagang yang dapat menjalin kerjasama dengan pemerintah Belanda, sehingga tumbuh sebagai kekuatan ekonomi yang kuat. Menurut Rush (2000 ; 526) dari berbagai pajak yang disetor oleh para penguasa (pachter) candu, garam, dan cukai yang dimonopoli pengusaha Tionghoa, pemerintah Belanda dapat memperoleh pemasukan yang membuat mereka terhindar dari kebangkrutan akibat Perang Diponegoro. Di Semarang, kerajaan gula Oei Tiong Ham Concern tumbuh sebagai perusahaan multi nasional yang pengaruhnya sangat besar dan cukup diperhitungkan oleh pemerintah kolonial. Ada kemungkinan hal ini memberikan pengaruh ketika Li Ho Soen sebagai anggota Volksraad mengajukan usulnya untuk mendirikan perkumpulan kesenian Gambang Semarang pada tahun 1930. Dari catatan ini dapat diinterpretasikan bahwa kehadiran Gambang Semarang merupakan itikad baik masyarakat / etnis Tionghoa untuk bekerjasama dengan masyarakat / etnis Jawa. Pada perkembangannya lebih jauh, peranan masyarakat Tionghoa dalam menjaga eksistensi Gambang Semarang sangat besar, mulai dari fungsi


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang penyandang dana, penyedia lokasi berlatih dan bermain, proses kreatif dsb.Keterbukaan dan relasi sosial yang berlangsung pada kedua etnis menjadi setting lahirnya budaya multikultural, ditandai dengan berbagai kreativitas seni, serta genre seni “seni pembauran” atau “seni peranakan”. Gambang Semarang juga berperan penting dalam proses kecakapan teknis bermain musik, sebagaimana alih kecakapan kedua etnis dalam seni memasak, seni membatik atau bentuk-bentuk pendidikan seni dan budaya lainnya. Melalui media med-arb, spirit unity in diversity dan medium toekar tambah Gambang Semarang diprediksi telah berhasil mereproduksi karya-karya seni yang menunjukkan spirit multikulturalisme kedua etnis (Jawa dan Tionghoa). Melalui proses tukar-tambah itu berbagai ekses atau konflik bisa ditepis atau diredam, berbagai “kerugian” atau perlakuan kurang simpatik pada masa lalu dapat diterima sebagai realitas sejarah. Fakta-fakta tersebut merupakan segmentasi proses hybridasi budaya kedua etnis menuju ke arah kehidupan yang pluralistik dan multikultural. Yang dimaksud dengan frasa “kesenian musik khas Semarang” dalam konteks ini adalah keberadaan kesenian Gambang Semarang sebagai penanda (ikon) kota Semarang, khususnya dalam aspek seni musik yang dihayati oleh masyarakat Semarang dan diakui perbedaannya oleh masyarakat yang lain. Frasa tersebut merupakan kata kunci untuk menjelaskan bentuk atau struktur keunikan kesenian ini dibandingkan dengan keunikan struktur kesenian serupa semisal Gambang Kromong Betawi. Hal ini sekaligus merupakan bentuk legitimasi kesenian Gambang Semarang sebagai wujud identity of kind dari hakekatnya sebagai identity of mind karakteristik masyarakat Semarang yang multi etnis. Bonang; Alat musik Pukul dari bilah-bilah logam (be si, perunggu, logam) sejumlah Yang dimaksud dengan frasa “kesenian musik khas Semarang” dalam konteks ini adalah keberadaan kesenian Gambang Semarang sebagai penanda (ikon) kota Semarang, khususnya dalam aspek seni musik yang dihayati oleh masyarakat Semarang dan diakui perbedaannya oleh masyarakat yang lain. Frasa tersebut merupakan kata kunci untuk menjelaskan bentuk atau struktur keunikan kesenian ini dibandingkan dengan keunikan struktur kesenian serupa semisal Gambang Kromong Betawi. Hal ini sekaligus merupakan bentuk legitimasi kesenian Gambang Semarang sebagai wujud identity of kind dari hakekatnya sebagai identity of mind karakteristik masyarakat Semarang yang multi etnis. Unsur Sistem Peralatan: perpaduan alat musik Jawa – Tionghoa Salah satu unsure “identitas” kesenian Gambang Semarang adalah perpaduan peralatan musik yang dipakai. Peralatan musik tersebut merupakan perpaduan atau komposisi peralatan musik pukul, gesek dan tiup dari Jawa dan Tionghoa dapat dilihat dari ilustrasi gambar berikut : 1. Gambang : alat musik pukul dari bilah-bilah kayu sejumlah 20 buah 2. 7 buah / bilah, jumlahnya dapat bervariasi 3. Kromong, alat musik pukul dari logam, bentuknya bulat, berjumlah 7 – 11 buah 4. Tehiyan, alat musik gesek dari Cina5. Sukong, alat music gesek dari Cina


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang 6. Gong, alat musik pukul besar- kecil, untuk gambang Semarang jumlahnya hanya 4 ( empat) buah 7. Kendang, alat musik dari kayu dengan rongga berbentuk bulat ditengah di mainkan dengan dua buah tangan di kanan kiri rongga yang tertutup kulit. 8. Seruling bambu, alat musik tiup dengan 7 (tujuh) buah lubang yang menghasilkan nada apabila ditiup sambil sebagian lubangnya di buka tutup sesuai nada yang diinginkan. 9. Kecrek, alat musik pukul dari lempengan logam Realitas Sosial Lagu Gambang Semarang Realitas sosial yang melibatkan Gambang Semarang adalah perannya dalam perubahan sosial di Semarang adalah membongkar struktur atau tatanan masyarakat di lingkungan etnis Tionghoa secara komprehensif yang menyangkut individu-individu, tata nilai, organisasi sosial dan struktur budayannya. Dalam konteks perubahan sosial terkait dengan akulturasi budaya jawa – cina di Semarang melalui forum kesenian, peran Gambang Semarang adalah memberi peluang kepada masyarakat Tionghoa di Semarang yang semula tertutup untuk berinteraksi lebih terbuka dengan masyarakat pribumi (jawa) baik secara individu maupun kelompok. Terbukti, melalui interaksi sosial Gambang Semarang telah berkontribusi mengangkat realitas sosial etnis Tionghoa yang semula eklusif menjadi terbuka. Gambang Semarang telah berperan serta membongkar struktur budaya etnis Cinta untuk berintegrasi dengan budaya lokal (jawa) sampai terbentuknya entitas budaya multikultural, atau membentuk satu elemen budaya baru yakni hybrid culture. Gambang Semarang bukan hanya nama sebuah lagu, tapi juga sebuah struktur, sistem, dan intitusi sosial yang memiliki berbagai dimensi. Dalam konteks ini Gambang Semarang diasumsikan sebagai bentuk struktur sosial yang diamati dari berbagai pendekatan, antara lain dengan menafsirkan pesan salahs atu lirik lagu berikut: Apa guna bung, malu-malu kucing Meang-meong di belakang swaranya nyaring Apa guna bung diam-diam kucing. Sudah menerkam sebelum berunding. Aksi kucing membikin perselisihan Salah-salah dari kawan jadi lawan. Apa guna bung aksi-aksi kucing. Urusan kecil bisa jadi meruncing. Melalui teks lirik


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang laguAksi Kucing tersebut penulis lirik menyinggung perilaku masyarakat yang hipokrit (munafik), yaitu berpura-pura malu, tetapi sifatnya persis seperti seekor kucing; sudah menerkam sebelum berunding. Dalam format keindonesiaan, posisi kesenian Gambang Semarang adalah bagian dari kebudayaan yang seringkali dikategorikan dalam berbagai bingkai; ada yang berbingkai wilayah semisal kebudayaan lokal, nasional dan global. Ada yang berbingkai ideologis semisal kebudayaan Islam atau kebudayaan Hindu, ada juga berbingkai waktu atau periodisasi semisal kebudayaan tradisional, kebudayaan modern, kebudayaan pop, dan Gambang Semarang dapat dikategorikan sebagai sebi hibrida. Gambang Semarang merupakan pelopor dalam poerkembangan seni akulturasi atau bentuk seni hibrida yang mempertemukan perbedaan etnis dan elemen budaya, seperti yang sudah dilakukan oleh kesenian Gambang Kromong Jakarta. *Djawahir Muhammad; Budayawan Semarang


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul ProjectKearifan Lokal SMPN 27 Semarang


ImplementasiKurikulum Merdeka Modul Project Kearifan Lokal SMPN 27 Semarang 4 JP Asesmen Formatif Presentasi


Click to View FlipBook Version