The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Book ini berisi naskah esai dari peserta Lomba Esai Nasional Education Fair 2022

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by deliaayuwindansari, 2023-01-02 01:36:20

E-Book Lomba Esai Nasional Education Fair 2022

E-Book ini berisi naskah esai dari peserta Lomba Esai Nasional Education Fair 2022

Keywords: Naskah Esai Education Fair 2022

Pembenahan mutu pendidikan di Indonesia tentu harus dikawal
berdasarkan jenjang paling dasar yaitu Sekolah Dasar. Hal ini sebagaimana
ditegaskan oleh Jean Piaget, bahwasannya perkembangan kognitif anak usia SD
tergolong pada tahap concrete-operational. Pada fase inilah kemampuan
berpikirnya masih bersifat intuitif, yakni berpikir dengan mengandalkan ilham.
Dalam periode ini, anak memperoleh tambahan kemampuan yang disebut system
of operations (satuan langkah berpikir). Kemampuan satuan langkah berpikir ini
berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan pemikiran idenya dengan peristiwa
tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri. Anak sudah berkembang ke arah
berpikir konkrit dan rasional. Ini menjadi kesempatan emas bagi pemerintah untuk
mengoptimalkan mutu pendidikan yang dimulai dari jenjang dasar yang ada di
Indonesia.

Namun, dari sekian banyaknya kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah
nyatanya belum mampu menunjang mutu pendidikan di Indonesia. Berdasarkan
analisis yang dilakukan melalui kuisioner yang melibatkan 30 sampel yang
sepenuhnya adalah orang tua dari siswa Sekolah Dasar dari 5 sekolah berbeda di
daerah Ponorogo dan Madiun, hal ini menunjukkan yang menjadi tonggak
keberhasilan program pembelajaran belum sepenuhnya disentuh tangan oleh
pemerintah yakni budaya literasi. Sebagaimana pernyataan UNESCO bahwa
kemajuan suatu negara secara langsung tergantung pada tingkat melek huruf di
negara tersebut. Ini artinya budaya literasi yang ada di masyarakat menjadi tolak
ukur keberhasilan pemberlakuan metode pembelajaran pada setiap jenjang
pendidikan yang ada. Secara historis, Menurut Lerner (1998) bahwasannya
kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi.
Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan
membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai
bidang studi pada kelas-kelas berikutnya.2 National Institute for Literacy,
mendifinisikan literasi sebagai kemampuan membaca, menulis, berbicara,
menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan

2 Dinas Pendidikan Mojokerto, Peran Literasi dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
(https://dispendik.mojokertokab.go.id/peran-literasi-dalam-meningkatkan-mutu-pendidikan/
diakses pada 17 Agustus 2022, 10.10 WIB)

2

dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Hal ini menunjukkkan betapa
urgensinya penerapan literasi dijenjang pendidikan siswa Sekolah Dasar.

Berdasarkan analisis data diatas menunjukkan rendahnya budaya literasi
yang diterapkan oleh berbagai kalangan di Indonesia baik yang muda maupun tua,
sehingga berdampak pada tingkat keberhasilan mutu pendidikan anak yang
rendah. Hal ini diperkuat dengan survei yang dilakukan oleh Program for
International Assessment (PISA) yang di rilis oleh Organization for Economic
Co-operation and Development (OECD) pada 2019 yang mana Indonesia
menduduki peringkat ke-62 dari 70 negara atau dapat dikatakan Indonesia
menjadi 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Survei ini
dilakukan selama 3 tahun sekali dan diikuti oleh 70 negara.

Kondisi tersebut menunjukkan belum adanya eskalasi terhadap budaya
literasi di Indonesia. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir saja berdasarkan
studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central
Coonecticut State University, Indonesia maih berada di peringkat ke-60 dari 61
negara. Posisi Indonesia persis kalah dari Thailand di peringkat 59 dan di atas
Botswana yakni di nomor 61. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat
Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang
rajin membaca.3 Ini merupakan jumlah yang mengecewakan karena artinya masih
sangat kecil budaya literasi masyarakat Indonesia. Jika ditelaah lebih dalam lagi
ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat literasi
dikalangan milenial. Seorang peneliti di Pusat Penilitian Kebijakan Pendidikan
dan Kebudayaan Balitbang Kemendikbud mengatakan bahwa ada korelasi antara
akses dan kebiasaan.4 Dalam kondisi seperti ini mahasiswa memiliki
tanggungjawab besar untuk menjadi problem solver dengan menciptakan ide dan

3 Evita Devega, TEKNOLOGI Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet di
Medsos, (https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-
baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media , dikases 17 Agustus 2022, 08.30)

4 Konde. 2020. Minat Baca Orang Indonesia Paling Rendah di Dunia, Karena Tidak
Ada Akses Dan Kesempatan. (https://www.konde.co/2020/03/minat-baca-orang-indonesia-
paling.html. diakses 17 Agustus 2022, 09.00 WIB)

3

gagasan yang mampu mengawal dan menunjang budaya literasi anak di Indonesia
sehingga besar kemungkinannya mutu pendidikan akan semakin membaik seiring
dengan perkembangan zaman.
GREP’S’S (Genius Reading Application Student) di Era Keemasan Digital

Di era keemasan digital kini tentu menjadi momentum emas bagi
pemerintah untuk mengoptimalkan sarana dan prasaran dengan pengoptimalan
minat literasi secara digital guna menunjang pembelajaran para pelajar. Bagimana
tidak, dalam studi yang bertajuk “Digital Citizenship Safety among Children and
Adolescents in Indonesia” yang merupakan salah satu Program UNICEF dan
dilaksanakan di Indonesia pada 2014 lalu oleh Kementerian Komunikasi dan
Informasi menunjukkan data yang fantastis dimana setidaknya 30 juta anak-anak
dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet. Hal ini harus betul
dimanfaatkan oleh pemerintah dalam menciptakan inovasi didunia pendidikan,
sehingga kesan “kuno” dalam media pembelajaran di Indonesia dapat terus
diperbaharui sesuai dengan perkembangan zaman yang nantinya akan berdampak
pada kualitas SDM yang dihasilkan.

Melihat kondisi literasi anak di Indonesia yang memprihatinkan tentu ini
menjadi salah satu tugas besar bagi mahasiswa selaku kaum intelektual untuk
mencetuskan sebuah ide ataupun gagasan yang dapat menjadi problem solver
terhadap permasalahan mutu pendidikan. Jika ditelaah penggunaan gadget dapat
menjadi sarana dan prasarana yang menyenangkan bagi anak dalam belajar dan
berkreasi. Untuk itulah penulis mendapatkan suatu solusi inovatif dalam
meningkatkan budaya literasi di Indonesia guna menunjang peningkatan mutu
pendidikan anak dengan menggunakan teknologi modern berupa penggunaan
gadget berbasis game edukasi dan kreasi yang berupa aplikasi khusus, dimana
dapat disebut dengan GREP’S (Genius Reading Application Students).

GREP’S merupakan aplikasi berbasis edukasi dan kreasi yang digunakan
untuk membantu siswa Sekolah Dasar dalam meningkatkan budaya literasi di
Indonesia. Aplikasi ini bertujuan untuk memudahkan para siswa dalam
memperoleh informasi mengenai berbagai macam bacaan, wawasan, games
edukasi dan masih banyak lagi serta terdapat menu share sebagai langkah
mempromosikan objek yang dipilih oleh users dalam menyebarluaskan

4

penggunaan aplikasi GREP’S. Bukan tanpa sebab aplikasi ini dicanangkan,
tujuannya tak lain adalah memanfaatkan momentum kemajuan era digital,
sehingga disamping dapat menunjang keberlangsungan pembelajaran di sekolah
namun juga dapat mengenalkan anak akan batasan penggunaan teknologi sesuai
dengan usianya.

Cara kerja dari aplikasi GREP’S yaitu:
1. Pengguna dapat mengunduh aplikasi melalui App Store.
2. Pengguna melakukan regristasi secara online sesuai ketentuan.
3. Data pengguna disimpan oleh server.
4. Data dari server ditransfer kepada User Interface untuk mengkonfirmasi

pendaftaran telah berhasil.
5. Dari User Interface memberitahukan mengenai Traning Info dalam

menggunakan aplikasi GREP’S.
6. Pengguna dapat menjelajahi berbagai menu yang ditawarkan GREP’S dengan

mudah.
Aplikasi GREP’S’S (Genius Reading Application Student) memberikan

berbagai fitur kemudahan dalam melayani para penggunanya seperti:
1. Setting: menu pengaturan utama yang memiliki berbagai fitur tambahan
dalam mengedit berbagai info akun pengguna seperti Password, Email,
Username, Personal Info hingga Freeze Account.
2. Home : berisikan berbagai menu utama dari aplikasi GREP’S seperti,

1. GREP’S baca, menu dimana user bisa memilih bacaan
yang akan dibaca. Bacaan disini mencakup Bahasa Indonesia,
Sains, dan Sosial.

2. GREP’S games, setelah selesai membaca user akan
disuguhi quiz yang akan disediakan disebelah kanan fitur GREP’S
bacaan. Games ini diadakan untuk menilai pemahaman anak terkait
bacaan yang telah mereka baca. Diakhir games yang disajikan,
akan ada kunci jawaban yang disertakan dan skor dari kuis yang

5

telah dijawab oleh sang anak, sehingga bias menjadi pembelajaran
di kemudian hari.

3. GREP’S Kamus, kamus ini segala istilah asing dan
ilmiah yang disisipkan dalam bacaan ataupun kuis dalam fitur
sebelumnya. Sehingga dapat menambah wawasan belajar anak
terkait bahasa asing dan ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.

3. Help: fitur dalam memberikan suatu informasi rinci mengenai permasalah
yang dihadapi oleh users.

4. Share: menu yang dapat mempermudah users untuk membagikan suatu
informasi lewat media sosial seperti Facebook, Twitter maupun Google+.

Terlepas dari itu semua, aplikasi GREP’S (Genius Reading Application
Student) memiliki kelemahan jika diterapkan pada daerah pedalaman karena
jaringan koneksi yang rendah. Oleh karena itu, kerjasama dari berbagai pihak
sangat dibutuhkan seperti berkerja sama dengan pemerintah daerah, pemerintah
pusat hingga perusahaan Telkom dalam memperluas jaringan koneksi internet ke
daerah pedalaman. Strategi promosi juga haruslah dilakukan agar GREP’S
(Genius Reading Application Student) dapat dikenal oleh masyarakat luas baik itu
promosi secara online maupun offline. Disamping kelemahan tersebut aplikasi ini
juga memiliki berbagai keunggulan dimana dapat mempermudah masyarakat
Indonesia utamanya para tenaga pendidik dan orang tua untuk ikut
mengembangkan budaya literasi dan memberikan informasi kepada masyarakat
luas mengenai pentingnya budaya literasi guna menunjang keberhasilan
peniingkatan mutu pendidikan pelajar. Selain hal tersebut, terdapat manfaat lain
yang terkandung dalam aplikasi GREP’S (Genius Reading Application Student)
ini yaitu sebagai media dalam memperoleh data pengguna android dan lalu lintas
pemakaiannya sehingga dapat menjadi patokan dalam pemerataan teknologi.

Maka dari itu, penulis memberikan kesimpulan bahwa aplikasi GREP’S
(Genius Reading Application) merupakan sarana online yang memiliki fitur
hingga manfaat yang berpusat dalam meningkatkan dan mengoptimalkan budaya
literasi. Penulis juga berharap agar seluruh pemilik gadget yang berbasis android

6

untuk memasang aplikasi ini dan terus menyuarakan dukungannya melalui
aplikasi GREP’S utamanya para milenial. Selain itu, dengan adanya GREP’S
(Genius Reading Application Students) ini penulis berharap agar optimalisasi
budaya literasi digital menjadi pemecah masalah atas pertumbuhan mutu
pendidikan di Indonesia dengan memanfaatkan momentum era keemasan digital
demi menyongsong Indonesia yang gemilang.

“Karena keyakinan menciptakan kenyataan” (James, 2000).

7

DAFTAR PUSTAKA

DEDIKNAS, 2005. Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional 2005-2009

Devega, Evita, 2017. TEKNOLOGI Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet di

Medsos, (https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-

indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media , dikases 17

Agustus 2022, 08.30)

Dinas Pendidikan Mojokerto, Peran Literasi dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

(https://dispendik.mojokertokab.go.id/peran-literasi-dalam-meningkatkan-mutu-

pendidikan/ diakses pada 17 Agustus 2022, 10.10 WIB)

Konde. 2020. Minat Baca Orang Indonesia Paling Rendah di Dunia, Karena

Tidak Ada Akses Dan Kesempatan.

https://www.konde.co/2020/03/minat-baca-orang-indonesia-paling.html.

Diakses 17 Agustus 2022, 10.00 WIB.

8

Lampiran 1
Hasil Survei Media Pembelajaran Terhadap Peningkatan Literasi Anak

9

10

11

SUB TEMA : PENDIDIKAN

SNAPAN (Smart Card NAPZA dan AIDS): Inovasi Kartu Ramah Anak
dengan Pemanfaatan Instagram untuk Memberikan Edukasi Bahaya

NAPZA dan AIDS

Ditujukan untuk mengikuti Kompetensi
ESAI Mahasiswa Nasional

Education Fair LSP FKIP UNS 2022

Diusulkan Oleh:

Putri Nurlita Sari (K4321065)

UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2022

Masa remaja merupakan masa dimana manusia mengalami transisi dari
masa anak-anak menuju dewasa. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan berbagai
gejolak emosi dari dalam diri karena perubahan sifat yang terjadi oleh keadaan
dan kecenderungan untuk resisten terhadap peraturan yang dianggap membatasi
kebebasan. Dengan adanya berbagai kondisi perubahan yang terjadi seiring
dengan tahapannya, remaja dinilai sangat rentan dengan tindakan perilaku yang
menyimpang. Menurut Bakolak Inpres No. 6 tahun 1971, Pedoman 8 tentang Pola
Penanggulangan Kenakalan Remaja, kenakalan remaja dapat diartikan sebagai
kelainan tingkah laku, perbuatan, atau tindakan remaja yang bersifat asosial
bahkan antisosial yang melanggar norma-norma sosial, agama, dan ketentuan
hukum yang berlaku dalam masyarakat. Menurut Hurlock, kenakalan remaja
dapat bersumber dari berbagai hal seperti keluarga yang kurang harmonis
(keluarga yang sibuk, broken home, atau keluarga single parent) dan menurunnya
kewibawaan sekolah dalam mengawasi peserta didiknya. (Kusuma, R. 2017).
Kenakalan remaja terjadi dikalangan pelajar salah satunya pelajar SMA seperti
penyalahgunaan NAPZA dan munculnya penyakit AIDS. Namun pada zaman
sekarang ini kenakalan remaja juga sudah merebak pada anak-anak usia SD.

Penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, Zat Aditif
lainnya) di Indonesia juga terasa sangat memprihatinkan. Dalam kondisi politik
dan perekonomian yang masih tidak stabil seperti sekarang ini, ternyata peredaran
NAPZA tetap merajalela. Bahkan, merebak hingga ke semua lapisan masyarakat,
mulai dari yang berstatus sosial tinggi sampai yang rendah, dari yang berusia
belasan tahun hingga usia puluhan tahun, dari yang siswa sekolah dasar sampai
mahasiswa yang ada di perguruan tinggi, dari anak jalanan sampai anak-anak
yang memiliki keluarga, tidak peduli putra atau putri, pria atau wanita yang ada di
kota maupun di desa. Hampir semua dari kalangan masyarakat sudah terbiasa
dengan penyalahgunaan NAPZA di lingkungan sekitarnya. Namun menurut
Badan Narkotika Nasional RI (BNN) justru banyak dilakukan oleh kalangan
remaja. (Nurmaya, 2016).

Selain itu, terdapat pula Acquired Immune Deficiency Syndrom atau yang
biasa kita sebut dengan AIDS merupakan kumpulan penyakit yang disebabkan
oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyakit AIDS ini dapat

1

menular dan sangat mematikan. Virus HIV tersebut bekerja dengan cara
menginfeksi sel darah putih dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang
berakibat pada menurunnya daya tahan tubuh manusia. UNICEF (United Nations
International Children Emergency Fund) menyebutkan bahwa adanya jumlah
kematian yang disebabkan oleh HIV/AIDS menunjukkan kondisi yang
mengkhawatirkan yang terjadi pada kalangan remaja diseluruh dunia. Menurut
United Nations Programme on HIV and AIDS pada tahun 2019 populasi
terinfeksi HIV terbesar di dunia adalah di Benua Afrika sebanyak 25,7 juta orang,
kemudian di Asia Tenggara sebanyak 3,8 juta orang, dan di Amerika sebanyak 3,5
juta orang. Sedangkan kasus yang terendah berada di Pasifik Barat sebanyak 1,9
juta orang. Tingginya orang yang terinfeksi HIV di Asia Tenggara membuat
Indonesia harus lebih waspada lagi terhadap penyebaran dan penularan virus HIV.
(Listyana, dkk, 2021).

Di Indonesia sendiri menurut data dari Pusat Data dan Informasi
Kementrian Kesehatan RI kasus HIV AIDS terus meningkat dari tahun ke tahun
meskipun cenderung fluktuatif. Selama sebelas tahun terakhir jumlah kasus HIV/
AIDS di Indonesia mencapai puncaknya yaitu pada tahun 2019 dengan kasus
sebanyak 50.282 kasus. Berdasarkan data WHO pada tahun 2019, terdapat 78%
infeksi HIV baru di regional Asia Pasifik dan untuk kasus HIV/ AIDS tertinggi
selama sebelas tahun terakhir yaitu pada tahun 2013 dengan kasus sebanyak
12.214 kasus (Kemenkes RI, 2020). Paparan diatas menjelaskan bahwa
kedaruratan penyalahgunaan NAPZA dan juga kasus HIV/ AIDS sudah sangat
krusial di Indonesia serta jika dibiarkan terus menerus di khawatirkan masa depan
anak bangsa akan rusak. Dengan adanya permasalahan ini maka salah satu
alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA dan
munculnya kasus HIV/ AIDS maka salah satu solusi yang cukup efektif adalah
dengan adanya SNAPAN (Smart Card NAPZA dan AIDS) sebagai inovasi kartu
ramah anak dengan tautan sosial media untuk memberikan edukasi bahaya
NAPZA dan AIDS. Meskipun adanya penyebaran kasus HIV/ AIDS di Indonesia
cenderung fluktuatif, namun jumlah kasus yang ada terus meningkat dari tahun ke
tahun. Pada kurun waktu sebelas tahun terakhir ini jumlah kasus HIV/ AIDS di

2

Indonesia mencapai puncaknya yaitu terjadi ketika pada tahun 2019 dengan kasus
sebanyak 50.282 kasus.

Grafik 1. Jumlah Kasus HIV dan AIDS Berdasarkan Tahun di Indonesia
Sumber: Ditjen P2P (Sistem Informasi HIV/AIDS dan IMS (SIHA)
Sedangkan pada NAPZA berdasarkan laporan perkembangan situasi

NAPZA dunia pada tahun 2014 menyatakan bahwa angka estimasi pengguna
NAPZA pada tahun 2012 adalah antara 162 juta hingga 324 juta orang atau
sekitar 3,5–7% dan pada tahun 2010 berkisar antara 3,5–5,7%. Prevalensi
penyalahgunaan NAPZA di Indonesia pada setiap tahunnya selalu meningkat.
Menurut data BNN RI pada tahun 2011 prevalensinya sebesar 2,32%, tahun 2013
sebesar 2,56%, dan tahun 2015 sebesar 2,80% (Nur’artavia, 2017). Berdasarkan
prevalensi yang ada tentu saja akan menimbulkan dampak yang sangat besar.
Menurut Badan Narkotika Nasional RI pada tahun 2010, dampak dari adanya
penyalahgunaan NAPZA dikenal dengan istilah 4L yaitu liver, lover, lifestyle, dan
legal (Rahayuni dan Wulandari, 2021). Penyalahgunaan NAPZA pada remaja
memberikan dampak dalam jangka waktu yang panjang terhadap kesehatan
mental (Nurfadhilah, dkk, 2021). Penggunaan NAPZA jenis narkotika yang kerap
kali digunakan anak-anak hingga remaja.

Bahaya perilaku penyalahgunaan NAPZA pada anak-anak dan remaja di
Indonesia berhubungan signifikan terhadap pengetahuan, sikap, usia, jenis
kelamin, pendidikan status ekonomi, akses terhadap media informasi, komunikasi
dengan orang tua, dan adanya yang berperilaku beresiko (Fajriani dan Yulastini,
2021). Penggunaan NAPZA juga dapat menimbulkan kerusakan pada organ vital
pada tubuh yang dapat menimbulkan hilangnya kesadaran dan juga menurunnya
tingkat kecerdasan pada penggunanya. Mahasiswa sebagai generasi muda yang
hebat dan juga cerdas dalam menyikapi kasus HIV/ AIDS dan juga
penyalahgunaan dimana kasusnya yang semakin bertambah kita harus bisa

3

bertindak dan juga berperan dalam upaya pencegahannya. Pengetahuan tentang
bahaya NAPZA dan AIDS sangat penting diberikan pada anak-anak agar kelak
ketika remaja tidak terlanjur menyalahgunakan NAPZA dan dapat membatasi
pergaulannya sendiri. Masa anak-anak merupakan masa yang tepat untuk mulai
sedikit demi sedikit memberikan pengetahuan ini karena daya ingat anak-anak
masih sangat tajam sehingga diperlukan edukasi yang dapat tepat dan dapat
menarik perhatian penggunanya terutama anak-anak. Edukasi yang tepat dapat
dilakukan melalui kartu yang bergambar. Hal ini dapat menarik minat anak-anak
untuk membaca tetapi juga dapat digunakan oleh remaja maupun orang dewasa.

SNAPAN merupakan kartu edukasi yang memiliki tautan ke sosial media
instagram melalui kode batang (barcode). Dalam kartu ini terdapat dua sisi yaitu
depan dan belakang. Pada sisi depan terdapat materi seputar NAPZA atau AIDS
yang disajikan dengan gambar disertai tulisan penjelasan yang menarik. Informasi
yang disajikan dapat berupa pengertian, penyebab, dampak, dan upaya
pencegahan terhadap bahaya NAPZA dan AIDS. Sedangkan pada bagian
belakang terdapat kode batang (barcode) yang dapat dipindai dan terhubung pada
instagram. Instagram yang terhubung memuat poster edukasi tentang bahaya
NAPZA dan AIDS. Hal ini mempermudah penyebarluasan informasi untuk
mengedukasi masyarakat luas. Informasi yang disajikan dalam kartu dan poster
instagram berasal dari sumber terpercaya seperti website resmi Badan Narkotika
Nasional (BNN) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).
Bagi pengguna yang berusia dibawah 13 tahun dianjurkan hanya menggunakan
bagian depan kartu saja sebagai sumber edukasinya karena instagram hanya boleh
digunakan untuk pengguna yang berusia 13 tahun keatas.

Edukasi dengan media kartu SNAPAN berbeda dengan kartu pada
umumnya karena materi-materi yang terkandung dalam kartu bergambar peneliti
lebih luas dan dapat menarik perhatian siswa ketika bermain menggunakan kartu
tersebut. Selain itu, gambar yang diperlihatkan juga mudah dipahami karena
dilengkapi dengan tulisan penjelasan. Menurut Septiana dan Suaebah (2019),
adapun kelebihan dari kartu bergambar adalah dapat memberikan kesan terhadap
anak untuk dapat menyampaikan ide ataupun gagasan terhadap gambar yang
dilihatnya secara terpusat dan terperinci. Kartu SNAPAN dapat digunakan dalam

4

pembelajaran di sekolah maupun di luar sekolah. Saat pembelajaran di sekolah
kartu ini dapat digunakan dalam menunjang materi kesehatan pada mata pelajaran
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Sedangkan saat di luar
sekolah kartu ini dapat digunakan untuk media sosialisasi kesehatan remaja yang
diadakan oleh Puskesmas terdekat.

Gambar 1. Contoh Kartu SNAPAN
Edukasi yang diberikan melalui media kartu mempunyai dampak positif
terhadap penggunanya. Informasi yang diberikan melalui pendekatan sederhana
menggunakan media kartu bergambar dapat memberikan efek terhadap
pengetahuan pengguna. Sumber informasi yang disampaikan disajikan dengan
menarik sehingga pengguna lebih antusias dalam menerima informasi yang
diberikan. Selain itu juga pengguna mendapatkan pengetahuan lebih luas
berdasarkan informasi yang disampaikan. Penggunaan media kartu bergambar
ternyata mempunyai manfaat yang dapat berpengaruh terhadap perubahan
seseorang baik perubahan pengetahuan maupun perilaku dari pengguna terutama
pada siswa. Pendekatan menggunakan media kartu ini memberikan pengaruh yang
besar terhadap siswa dimana mereka mampu mengubah perilaku sebagai hasil
proses pembelajaran. Dengan adanya kartu SNAPAN ini diharapkan mampu
menekan angka penyalahgunaan NAPZA dan terjangkitnya AIDS pada
masyarakat terutama anak-anak maupun remaja akibat kurangnya edukasi.
Kemudahan dalam penggunaan kartu dan isi materi yang berguna untuk semua
kalangan juga diharapkan mampu memperluas jangkauan pengguna agar semua
mendapat edukasi dan dapat menjalankan hidup sehat.

5

Daftar Pustaka
Ditjen P2P Kementerian Kesehatan RI. 2020. Sistem Informasi HIV/AIDS dan

IMS (SIHA), Laporan Tahun 2019. Jakarta: Ditjen P2P Kementerian
Kesehatan RI.
Fajriani, E., & Yulastini, F. 2021. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang
Bahaya NAPZA Terhadap Tingkat Pengetahuan Remaja. Ovary Midwifery
Journal 2(2): 71-76.
Kementerian Kesehatan RI. 2018. Laporan Situasi Perkembangan HIV AIDS dan
PIMS di Indonesia, Triwulan IV Tahun 2018. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2019. Laporan Situasi Perkembangan HIV AIDS dan
PIMS di Indonesia, Triwulan III Tahun 2019. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2020. Laporan Situasi Perkembangan HIV AIDS dan
PIMS di Indonesia, Triwulan IV Tahun 2019. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.
Kusuma, R. 2017. Mencegah Seks Bebas Narkoba dan HIV/AIDS. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Listyana, P. S., & Meynur, R. 2021. Pengaruh Edukasi terhadap Pengetahuan
Siswa Tentang HIV/AIDS di Tangerang Tahun 2020. Nusantara Hasana
Journal, vol. 1, no. 4, 2 Sep. 2021: pp. 36-43.
Nur’artavia, M. R. 2017. Karakteristik Pelajar Penyalahguna NAPZA dan Jenis
NAPZA yang Digunakan di Kota Surabaya. The Indonesian Journal of
Public Health, 12(1): 27-38.
Nurfadhilah, N., Purnamawati, D., & Robalais, A. N. 2021. Penguatan Peran
Remaja dalam Pencegahan dan Pengendalian NAPZA pada Masa Pandemi
Covid-19. Community Empowerment, 6(4): 572-578.
Nurmaya, A. 2016. Penyalahgunaan NAPZA di Kalangan Remaja (Studi Kasus
pada 2 Siswa di MAN 2 Kota Bima). Jurnal Psikologi Pendidikan dan
Konseling: Jurnal Kajian Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Konseling,
2(1): 26-32.

6

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2018. Infodatin Situasi
Umum HIV/AIDS dan Tes HIV. Jakarta: Pusat Data dan Informasi
Kementerian Kesehatan RI.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2019. Infodatin Situasi
Umum HIV/AIDS dan Tes HIV. Jakarta: Pusat Data dan Informasi
Kementerian Kesehatan RI.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2020. Infodatin Situasi
Umum HIV/AIDS dan Tes HIV. Jakarta: Pusat Data dan Informasi
Kementerian Kesehatan RI.

Rahayuni, I. G. A. R., & Wulandari, I. A. P. 2021. Dampak Pandemi Covid-19
pada Kesehatan Mental Pemandu Wisata di Bali. Jurnal Riset Kesehatan
Nasional, 5(2): 164-173.

Septiana, P., & Suaebah, S. 2019. Edukasi Media Kartu Bergambar Berpengaruh
terhadap Pengetahuan dan Sikap Anak dalam Pemilihan Jajanan Sehat di
SD Negeri Pontianak Utara. Pontianak Nutrition Journal (PNJ), 1(2), 56-
59.

World Health Organization (WHO). 2019. WHO HIV update, Global Summary
Web, World Health Organization, 2019. Jenewa, Swiss: World Health
Organization (WHO).

7

Lampiran
Contoh Kartu SNAPAN

(a) Tampak Depan (b) Tampak Belakang

8

FORMULIR PENDAFTARAN
KOMPETISI ESAI NASIONAL
EDUCATION FAIR LINGKAR STUDI PENDIDIKAN 2022
UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Judul Karya :

Data diri Ketua Kelompok

Nama Lengkap : Putri Nurlita Sari

Perguruan Tinggi : Universitas Sebelas Maret

Jurusan/ Fakultas : Pendidikan Biologi/ FKIP

NIM : K4321065

No. Hp : 085646572553

Email : [email protected]

Data diri Anggota Kelompok

Nama Lengkap :-

Perguruan Tinggi : -

Jurusan/ Fakultas : -

NIM : -

No. Hp :-

Email :

Lamongan, 20 Agustus 2022
Ketua Tim,

(Putri Nurlita Sari)
NIM. K4321065

9

11

SUB TEMA : Pendidikan

(Pendidikan di Indonesia) Nilai spiritual dan intelektual dalam
merealisasikan makna kehidupan ummat manusia.

Ditujukan untuk mengikuti Kompetensi ESAI Mahasiswa Nasional
Education Fair LSP FKIP UNS 2021

Diusulkan Oleh :
Salsabilla Safitri 112103100037
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2022

 (PENDIDIKAN DI INDONESIA) NILAI SPIRITUAL DAN
INTELEKTUAL DALAM MEREALISASIKAN MAKNA KEHIDUPAN
UMMAT MANUSIA.

• Pendahuluan

Indonesia menjadi negara muslim terbanyak di dunia1. Berdasarkan laporan
RISSC, Indonesia memiliki 231,05 juta penduduk muslim. Jumlah itu masuk daftar
negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Dan seperti yang kita ketahui
bahwa peradaban tidak lahir begitu saja tanpa adanya perubahan, revolusi, dan
kemajuan. Maka pendidikan menjadi wadah dan pondasi awal dalam suatu negara
upaya merealisasikan suatu visi misi yang nantinya berkesinambungan dengan
salah satu purpose of the social living.

Dan jika dilihat secara struktural, kini sudah ada lembaga yang merumuskan
sistem (kurikulum) di Indonesia, namun apakah efektfitas disana sudah nyata
terealisasi? Apakah justru menjadi beban dan juga pr bagi anak-anak generasi
berikutnya? Memangnya intelektual saja sudah cukup? Bagaimana dengan nilai
spiritual yang sudah menjadi pakaian kita (ummat beragama)? Disini saya
paparkan mengenai ilmu maupun agama, baik komparasi dan korelasi di keduanya.
Dan juga problematis yang ada di era masa kini.

• Isi

Agama dan keadilan merupakan satu hal yang konkrit kita temukan. Namun
banyak orang yang hanya menjadikan agama sebagai identitas saja tanpa ilmu yang
dalam terhadapnya. Bagi manusia yang beragama, sudah jelas akan menjunjung
tinggi nilai ketuhanan sebagai landasan dalam perbuatan dan juga akan mematuhi

1 Berdasarkan laporan The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC), ada 231,05 juta warga
Indonesia yang beragama Islam. Proporsinya setara dengan 86,7% populasi di dalam negeri.

semampunya konsep-konsep yang diajarkan tuhan kepadanya melalui perantara
agama. Dan sistem pendidikan di Indonesia ini adalah sebuah idealisme, sebuah
tujuan ke kondisi dunia atau keadaan yang dianggap mulia, ideal atau sempurna.
Sepatutnya harus di terapkan secara keseluruhan, karena merupakan deklarasi
universal tetapi pada implementasinya tidak. Hal kecil yang menjadi nilai
penerapannya adalah perhatikan hak dan kewajiban sebagai human.

Namun sebagaimana pengalaman yang saya alami, cerita dan masukan yang
telah saya terima, sistem yang ada kini dominan dengan keluh kesah. Seperti
contohnya: Terlalu banyak kurikulum, perubahanan yang tidak stabil, kecurangan
dan minusnya sosialisasi secara baik, yang menyebabkan banyaknya pelajar yang
kini masih dalam tahapan belajar dan belum sepenuhnya paham, kita ambil contoh
klasifikasi penerimaan siswa baru dengan sistem wilayah, usia dll. Hal itu jelas
menjadi batasan bagi murid dalam prosesnya menuntut ilmu, menurut kami sistem
yang ada kini tidak totalitas memfasilitasi, karena dengan adanya kesenjangan itu
menjadi bukti belum keseluruhan anak di Indonesia medapatkan haknya untuk
menempuh bangku pendidikan 2 Meskipun sudah ada upaya namun tidak
membuktikan signifikasi keberhasilan mutlak. Jika keilmuan dalam ranah negara
sudah diatur dalam konstitusi, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak
memperdulikan ilmu spiritual, hanya fokus kepada intelektual?

Agama mengedapankan akal menjadi salah satu alat manusia yang menjadikan
manusia mulia, tentu itu juga termasuk salah satu dari tujuan pendidikan, lalu
penggunaan akal pikiran secara teratur tersebut akan menghasilkan ilmu
pengetahuan. Dan menurut kami berfikir dan mencari sampai kepada rasionalitas
daya pikir kita yang semoga juga bisa terbukti secara ilmiah, hal itu mampu
merubah kita menjalani dan menghadapi kehidupan dengan cara yang lebih baik
lagi, verifikasi atas realitas dan sejauh mana suatu realitas dapat dipahami. Upaya
menciptakan pendidikan dengan nilai efektifitas tinggi yakni

2 Pasal 31 UUD 1945 ayat 1 berbunyi, "Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan".

1. Bersatu dengan satu tujuan, setiap berbeda sudah pasti adanya perpecahan
maka kita sebagai manusia yang memiliki visi dan misi yang sama tentu
persatuan akan menjadi landasan utama supaya maju dan berkembang.

2. Kritis dan argumentasi adalah awal berkembangnya ilmu pengetahuan yang
menjadi langkah awal kemajuan peradaban.

3. Riset dan mengkaji ulang pendapat juga menjadi pondasi untuk
berkembangnya Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi.

4. Berinovasi untuk mengkreasikan ide sumber daya alam apalagi menjadi
teknologi.

Berlanjut kepada pembahasan agama, nilai intelektual seharusnya tidak lepas
dari nilai spiritual, sebagaimana akal dan ilmu. Kata Ilmu dengan berbagai
bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Qur’an. Dari segi bahasa ilmu adalah
kejelasan (Quraish Shihab, 2004: 434).

Ilmu merupakan salah satu hasil usaha manusia untuk memperadab dirinya dan
setiap ilmu tersebut dapat dianggap suatu sistem yang menghasilkan kebenaran. Al-
Ghazali mengatakan bahwa ilmu yang diberikan kepada manusia adalah sedikit
sekali ibarat kita mencelupkan telunjuk ke dalam air kemudian kita angkat dan
berapa tetesan air yang jatuh dan berapa lama kering air ada ditelunjuk kita,
sebanyak itulah ilmu yang kita miliki.

• Penutup

Antara agama dan sains sudah seharusnya berdampingan, antara pendidikan dan
kurikulum pasti ada kaitan, sebaiknya dalam menempuh jenjang pendidikan, nilai
niai spiritual musti disertakan, al qur’an adalah ilmu pengetahuan dari berbagai
disiplin yang diisyaratkan. Memang terbukti, bawa sekian banyak ayat-ayat Al
qur’an yang berbicara tentang hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa
turunnya, namu terbukti kebenarannya di tengah-tengah perkembangan ilmu.
Demikian seterusnya, sehingga amat tepatlah kesimpulan yang dikemukakan oleh:
Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya Al-Qur’an, Bible dan Sains Modern, “Bahwa
tidak satu ayat pun dalam Al qur’an yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan.”


Click to View FlipBook Version