The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku panduan dalam rangkaian kegiatan jurnalistik

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by MAJALAH LENSA WARASTRATAMA, 2021-05-21 12:20:08

PUBLIC RELATIONS II (JURNALISTIC)

Buku panduan dalam rangkaian kegiatan jurnalistik

LEMBAGA VOKASI

UNIVERSITAS INDONESIA

MODUL TEKNIS KEHUMASAN, FOTOGRAFI DAN VIDEOGRAFI
JURNALISTIK

PUBLIC RELATIONS

DAFTAR ISI JOURNALISTIC

SEJARAH SINGKAT JURNALISTIK 2
PENGERTIAN JURNALISTIK 4
JENIS-JENIS JURNALISTIK 7
PRODUK JURNALISTIK 17
KARAKTERISTIK JURNALISTIK 24
KODE ETIK JURNALISTIK 26
ELEMEN JURNALISTIK 33
BAHASA JURNALISTIK 40
TEKNIK JURNALISTIK 44
PENGERTIAN JURNALIS/WARTAWAN 45
PERS 47
BERITA 60
TEKNIK PENULISAN BERITA 82

1

JOURNALISTIC

SEJARAH
SINGKAT
JURNALISTIK

Berbagai literatur tentang sejarah jurnalistik senantiasa merujuk pada “Acta
Diurna” pada zaman Romawi Kuno, khususnya masa pemerintahan Julius
Caesar (100-44 SM). “Acta Diurna” adalah papan pengumuman sejenis majalah
dinding (mading) atau papan informasi sekarang– yang diletakkan di Forum
Romanum agar diketahui oleh banyak orang. Secara harfiyah, Acta Diurna
diartikan sebagai Catatan Harian atau Catatan Publik Harian.

(sumber : timetoast)
Acta Diurna awalnya berisi catatan proses dan keputusan hukum, lalu
berkembang menjadi pengumuman kelahiran, perkawinan, hingga keputusan
kerajaan atau senator dan acara pengadilan. Acta Diurna diyakini sebagai

2

JOURNALISTIC

produk jurnalistik pertama sekaligus pers, media massa, atau suratkabar/koran
pertama di dunia. Julius Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”.
Kata atau istilah jurnalistik pun berasal dari Acta Diurna itu. Orang yang
menghimpun dan menulis informasi untuk dipublikasikan di Acta Diurna
disebut diurnalis. Dari kata diurna muncul kata du jour (Prancis) yang berarti
“hari” dan journal (Inggris) yang artinya laporan, lalu berkembang
menjadi journalism atau journalistic. Dalam bahasa Inggris, journalist artinya
orang yang membuat atau menyampaikan laporan.

3

JOURNALISTIC

PENGERTIAN
JURNALISTIK

Secara bahasa (Indonesia), jurnalistik adalah hal yang menyangkut
kewartawanan dan persuratkabaran dan seni kejuruan yang bersangkutan
dengan pemberitaan dan persuratkabaran. Journalisme (journalism) diartikan
sebagai “the activity or profession of writing for newspapers, magazines, or news
websites or preparing news to be broadcast.” (aktivitas atau profesi penulisan
untuk suratkabar, majalah, atau situs web berita atau menyiapkan berita untuk
disiarkan). Dalam kamus bahasa Inggris, jurnalistik adalah “The collection and
editing of news for presentation through the media; writing designed for
publication in a newspaper or magazine” (Merriam Webster). Kata kunci dalam
pengertian jurnalistik adalah berita dan penyebarluasan (publikasi.)

(sumber : ekspresionline.com)

4

JOURNALISTIC

Dengan demikian, secara praktis, jurnalistik dapat didefinisikan sebagai berikut:
Jurnalistik adalah pengumpulan bahan berita (peliputan), pelaporan peristiwa
(reporting), penulisan berita (writing), penyuntingan naskah berita (editing), dan
penyajian atau penyebarluasan berita (publishing/broadcasting) melalui media.
Definisi jurnalistik di atas seperti dikemukakan Roland E. Wolseley dalam
buku Understanding Magazines (1969): jurnalistik adalah pengumpulan,
penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat
pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk
diterbitkan pada suratkabar, majalah, dan disiarkan.

Ahli atau akademisi lainnya membuat definisi jurnalistik antara lain sebagai
berikut:

a. Jurnalistik adalah kepandaian dalam hal mengarang yang tujuan
pokoknya adalah untuk memberikan kabar/ informasi pada masyarakat
umum secepat mungkin dan tersiar seluas mungkin (Adinegoro, Hukum
Komunikasi Jurnalistik, 1984).

b. Jurnalistik merupakan sebuah proses kegiatan dalam mengolah, menulis,
dan menyebarluaskan berita dan atau opini melalui media massa (Asep
Syamsul M Romli, Jurnalistik Dakwah, 2003).

c. Jurnalistik adalah kegiatan yang dilakukan seseorang dalam mencatata
dan melaporankan serta menyebarkan informasi kepada masyarakat
umum. Informasi yang dimaksud berkenaan dengan kegiatan sehari-hari
(Astrid Susanto, Komunikasi Massa, 1986)

5

JOURNALISTIC

d. Jurnalistik merupakan suatu kegiatan untuk mengumpulkan, mengolah
dan menyebarkan berita secepat mungkin dan seluas mungkin kepada
khalayak (Djen Amar, Hukum Komunikasi Jurnalistik, 1984).

e. Journalism ambraces all the forms in which and trough wich the news and
moment on the news reach the public. Jurnalistik mencakup semua bentuk
cara/ kegiatan yang dilakukan hingga sebuah ulasan/ berita dapat
disampaikan kepada publik (Fraser Bond, An introduction to Journalism,
1961).

f. Jurnalistik adalah teknik dalam mengelola berita, mulai dari mendapatkan
bahan hingga menyebarkannya kepada masyarakat secara luas. (Onong
U. Effendi, Ilmu, Teoiri dan Filsafat Komunikasi,1993).

6

JOURNALISTIC

JENIS-JENIS
JURNALISTIK

Berdasarkan media yang digunakan untuk publikasi atau penyebar luasan informasi,
jurnalistik dibagi menjadi tiga jenis:

1. Jurnalistik Cetak (printed journalism) — yaitu proses jurnalistik di media
cerak (printed media) koran/suratkabar, majalah, tabloid.

2. Jurnalistik Elektronik (electronic journalism) atau Jurnalistik Penyiaran
(Broadcast Journalism) — yaitu proses jurnalistik di media radio, televisi,
dan film.
Jurnalistik Elektronik dibagi lagi menjadi:
• Jurnalistik Radio -- program berita di radio siaran.
• Jurnalistik Televisi -- program berita di televisi.
• Jurnalistik Film -- pemberitaan melalui film, misalnya film dokumenter.

3. Jurnalistik Online (online journalism) atau Jurnalistik Daring (dalam
jaringan — yaitu penyebarluasan informasi melalui situs web berita atau
portal berita (media internet, media online, media siber).

Berdasarkan Gaya, Ruang Lingkup Pemberitaan, dan Ideologi, jenis-jenis
jurnalistik sangat beragam, antara lain sebagai berikut:
1. Citizen Journalism (Jurnalisme Warga).

7

JOURNALISTIC

Jurnalisme Warga adalah proses jurnalistik atau pemberitaan yang
dilakukan oleh warga biasa (bukan wartawan profesional) yang disebarkan
melalui media komunitas, blog, atau media sosial. Citizen Journalism (CJ)
juga dikenal dengan nama lain:

• Participatory Journalism
• Netizen Journalism
• Open Source Journalism
• Grassroot Journalism

2. Yellow Journalism (Jurnalisme Kuning)
Jurnalisme Kuning adalah jenis jurnalisme yang berupaya untuk
menciptakan kesan-kesan sensasional dengan judul-judul bombastis yang
mengundang perhatian dan menimbulkan rasa penasaran.

Dari Jurnalisme Kuning ini muncul istilah Koran Kuning (Yellow Papers),
yaitu media yang membuat judul-judul berita bombastis, tetapi isinya tidak
sesuai dengan judul. Jurnalisme Kuning disebut juga Sex and Crime
Journalism, yaitu jurnalistik yang mengutamakan pemberitaan tentang seks
dan kriminalitas alias dunia hitam. Karena ruang lingkup pemberitaannya
seputar dunia hitam, maka jurnalistik kuning disebut juga Jurnalisme
Got (Gutter Journalism) karena merambah "dunia kotor" layaknya got.

3. Peace Jouyrnalism (Jurnalisme Damai)
Jurnalisme Damai atau Jurnalistik Perdamaian adalah jurnalistik yang
pemberitaannya mendorong pihak-pihak yang berperang atau terlibat
konflik. Jurnalisme damai menunjukkan kerugian akibat perang dan
berusaha membentuk opini pentingnya perdamaian. Jurnalisme damai
mementingkan empati kepada para korban.

8

JOURNALISTIC

4. War Journalism (Jurnalisme Perang)
Jurnalisme Perang adalah kebalikan dari jurnalise damai, yakni jenis
jurnalisme yang menyampaikan informasi yang bersifat provokatif dan
memanaskan situasi. Jurnalisme Perang fokus terhadap jalannya konflik
dan kekerasan. Dalam beritanya digambarkan bagaimana penyiksaan yang
dilakukan oleh kedua belah pihak yang berperang.

5. Jurnalisme Kepiting
Istilah Jurnalisme Kepiting dipopulerkan oleh wartawan senior Rosihan
Anwar untuk menggambarkan kebijakan redaksi Kompas yang diterapkan
terjang pendirinya, Jakob Oetama. Jurnalisme jenis ini mengajak pembaca
diajak "berputar-putar dulu" ketika membaca berita atau opini, cenderung
mengambil sikap hati-hati dalam pemberitaan, agar tidak dianggap
bertentangan dengan kepentingan penguasa. Jurnalisme kepiting adalah
jurnalisme yang juga mementingkan “jalan tengah” (jalan aman).

6. Jazz Journalism (Jurnalisme Jazz)
Jurnalisme Jazz adalah jurnalistik yang menerapkan berita sensasi pendek
atau hal yang sedang booming di masyarakat. Bahasanya dibuat begitu
ringan yang penting bebas asal populer. Jurnalisme Jazz mengangkat isu-
isu seperti skandal seks, kekerasan, dan uang dengan penekanan pada
fotografi. Jurnalisme Jazz disebut juga "Jurnalisme Tabloid", yaitu media
tabloid yang biasanya mengangkat tema selebritas dan menyajikan feature
dan banyak foto.

7. Adversary Journalism/Adversarial Journalism (Jurnalisme Oposisi)
Jurnalisme Oposisi disebut juga Jurnalisme Anjing Penjaga (Watchdog
Journalism) dan Jurnalisme Aktivis (Activist Journalism). Jurnalisme
Oposisi adalah jurnalistik yang fokus pada pemberitaan yang berisi kritik
terhadap setiap kebijakan pemerintah atau perilaku pejabat negara.

9

JOURNALISTIC

8. Jurnalisme Partisan
Jurnalistik Partisan yaitu jurnalistik yang fokus memberitakan hal-hal yang
baik saja dari sebuah kelompok, organisasi, partai politik, atau pemerintah.
Media yang menjadi corong atau media propanda pemerintah menganut
jurnalistik ini --berpihak pada salah satu kelompok atau kekuatan tertentu.

9. Checkbook Journalism.
Istilah ini merujuk pada jurnalisme yang membayar narasumber untuk
mendapatkan informasi atau bahan pemberitaan.

10. Crusade Journalism.
Jurnalistik Perag Suci adalah jurnalistik yang mengusung misi penyebaran
nilai-nilai tertentu atau menggiring opini pembaca dengan pemilihan isu dan
narasumber. Jurnalisme Dakwah atau Jurnalistik Islam, dengan media-
media yang fokus pada pemberitaan tentang Islam dan Kaum Muslim,
masuk dalam kategori Crusade Journalism.

11. Advocacy Journalism (Jurnalisme Advokasi)

Jurnalisme Advokasi adalah jenis jurnalisme yang mengedepankan sudut
pandang subjektif terhadap isu atau peristiwa.

12. Immersion Journalism

Immersion Journalism disebut juga teknik immerse reporting-- yaitu gaya

peliputan dan pemberitaan di mana reporter seakan-akan "menyusup" dalam

cerita yang sedang dikerjakannya. Secara bahasa, immersion artinya larut

atau lebur. Jurnalistik immersion merujuk pada sikap wartawan yang "larut"

dalam peristiwa yang diliputnya, sehingga memunculkan keberpihakan

pada subjek berita yang ditulisnya.

10

JOURNALISTIC

Jenis-jenis jurnalistik berdasarkan media publikasinya dibedakan menjadi
jurnalistik cetak, jurnalistik radio, jurnalistik televisi, dan jurnalistik online.
Jurnalistik radio dan televisi disebut juga dengan istilah jurnalisme
penyiaran (broadcast journalism) dan jurnalistik elektronik.
13. Jurnalistik Cetak (Printed Journalism)

(sumber : romeltea.com)
Jurnalistik cetak adalah jurnalistik yang menggunakan media cetak
(printed media) sebagai saluran penyebaran berita. Media cetak terdiri dari
koran (newspaper, suratkabar), tabloid, dan majalah (magazine).
Khusus tabloid, ada istilah khusus pula, Tabloid Journalisme, merujuk pada
gaya jurnalisme tabloid yang biasanya mendalam, berisi mayoritas tulisan
feature, sering menyajikan berita sensasional, bahkan menyebarkan gosip
dan menganut jurnalisme kuning (yellow journalism).
Jurnalistik cetak merupakan jurnalistik generasi pertama atau pionir
jurnalisme. Sejarah jurnalistik selalu merujuk pada kelahiran Acta
Diurna sebagai jurnalistik sekaligus media pertama di dunia. Penemuan

11

JOURNALISTIC

kertas dan mesin cetak memunculkan suratkabar sebagai media publikasi
karya jurnalistik.

Dalam penulisan berita, jurnalistik cetak menggunakan bahasa tulisan dengan
gaya bahasa khusus yang disebut bahasa jurnalistik atau bahasa pers/bahasa
media.

JURNALISTIK RADIO (RADIO JOURNALISM)

(sumber : romeltea.com)
Jurnalistik radio muncul seiring dengan kemunculan dan perkembangan radio
siaran (radio broadcasting). Dari semula sebagai media hiburan, khususnya
memperdengarkan musik (lagu), radio berkembang menjadi media
penyebarluasan berita atau informasi. Media radio pun memiliki wartawan –
selain penyiar dan kru lain– untuk mencari dan menyebarkan berita. Wartawan
radio lebih dikenal dengan sebutan reporter.

12

JOURNALISTIC

Dalam menyajikan berita, dalam menulis naskah berita (news script), jurnalis

radio menggunakan bahasa tutur (bahasa percakapan, spoken

language, conversational language) dan kata-kata yang biasa diucapkan sehari-

hari (spoken words) yang dipadukan dengan bahasa jurnalistik.

Contohnya, di media cetak unsur waktu ditulis Pukul 16.00. Dalam naskah berita
radio ditulis “pukul empat sore”. Naskah berita cetak tidak mengenal tanda baca
seperti tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda petik (“), atau dalam kurung ().

Prinsip penulisan naskah berita radio adalah Write the Way You Talk (tuliskan
sebagaimana Anda mengucapkannya).

JURNALISTIK TELEVISI (TV JOURNALISM)

(sumber : romeltea.com)
Jurnalistik televisi adalah proses pencarian, pengumpulan, penyuntingan, dan
penyebarluasan berita melalui media televisi.

13

JOURNALISTIC

Sebagaimana radio, televisi sejatinya merupakan media hiburan. Namun,
jurnalistik juga masuk ke dunia tv sehingga memunculkan jurnalistik tv dengan
sajian program-program berita.
Jurnalistik televisi juga menggunakan bahasa tutur dalam penulisan naskah
beritanya.
Namun, karena televisi merupakan “media dengar dan pandang”, menyajikan
suara dan gambar (audio & video), bahasa televisi dirancang secara teknis untuk
memadukan gambar, kata-kata, dan suara sekaligus pada saat bersamaan.
Wartawan media televisi sering disebut “jurnalis televisi”, berbeda dengan
wartawan radio yang sering disebut “reporter radio”.

JURNALISTIK DARING (ONLINE JOURNALISM)

(Sumber : romeltea.com)

14

JOURNALISTIC

Jurnalistik online (jurnalisme daring) adalah proses pengumpulan, penulisan,
penyuntingan, dan penyebarluasan berita melalui situs berita di internet yang
dikenal dengan media siber (cyber media), media online, atau situs berita (news
site).

Jurnalistik online disebut juga Jurnalisme Daring (Dalam Jaringan) –merujuk
pada terjemahan kata “online” dalam bahasa Indonesia, yakni “daring“.
Jurnalistik online merupakan jurnalisme “generasi ketiga” setelah jurnalistik
cetak dan jurnalistik elektronik/penyiaran.

Nama, istilah, atau sebutan lain jurnalistik online adalah:

1. Jurnalistik Internet (Internet Journalism)
2. Jurnalistik Website (Web Journalism)
3. Jurnalistik Digital (Digital Journalism)
4. Jurnalistik Siber (Cyber Journalism)
5. Jurnalistik Judul (Headline Journalism)

Jurnalistik era internet ini melahirkan “cabang jurnalisme online” berupa:

1. Jurnalisme Blog (blog journalism) – merujuk pada blog-blog pribadi
ataupun kelompok dan komunitas yang berisi berita.

2. Jurnalistik Mobil (mobile journalism) – merujuk pada aktivitas wartawan
dalam peliputan dan pelaporan berita melalui smartphone (HP).

3. Jurnalisme Media Sosial (Social Media Journalism) – merujuk pada
produksi dan publikasi berita melalu akun media sosial.

4. Jurnalisme Umpan Klik (Clickbait Journalism) – merujuk pada fenomena
judul umpan klik di media-media online.

Jurnalistik Online juga menumbuhkembangkan konsep “Jurnalisme Warga”
(Citizen Journalism) yang diperkukuh dengan perkembangan media sosial
(social media) seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube.

15

JOURNALISTIC

Dalam menulis berita, wartawan media online menggunakan bahasa tulisan
sebagaimana di media cetak.
Namun, wartawan media online harus pula memperhatikan karakteristik khas
media online, seperti adanya link (tautan) dan bisa menyajikan berita dalam
bentuk yang lebih beragam (multimedia): teks, gambar, audio, video, dan grafis.

16

JOURNALISTIC

PRODUK
JURNALISTIK

Secara garis besar, produk atau karya jurnalistik itu adalah :

BERITA (NEWS)

(sumber : abundancethebook)
News adalah berita, yakni penyajian kumpulan bahan keterangan (informasi)
atau laporan mengenai suatu peristiwa atau kejadian yang terbaru (aktual) serta

17

JOURNALISTIC

laporan mengenai fakta-fakta yang aktual, menarik perhatian, dinilai penting
atau luar biasa. News terdiri atas Straight News dan Feature News.

A. STRAIGHT NEWS

Adalah berita langsung, dalam arti penulisan berita ini ditulis apa adanya
berdasarkan fakta atas kejadian. Tidak berbelit belit serta mengutamakan
nilai aktualitas. Sifat utamanya adalah lugas, singkat dan langsung ke pokok
persoalan dengan dukungan fakta-fakta akurat, namun tanpa mengabaikan
kelengkapan data dan obyektivitas.

Berita jenis ini harus memenuhi unsur 5W+1H secara ketat dan harus cepat-
cepat disiarkan atau dipublikasikan, karena terlambat sedikit maka berita
akan dianggap basi. Straight news terdiri atas :

a) Matter of Fact News
Adalah berita yang hanya mengemukakan fakta utama yang terlibat
dalam suatu peristiwa itu saja. Berita langsung jenis ini ditulis
cenderung pendek, terdiri atas dua atau tiga alinea.

b) Interpretative Report
Adalah pengungkapan peristiwa disertai usaha memberikan arti pada
peristiwa tersebut, menyajikan interpretasi (Jakob Oetama, 1975).
Berita interpretatif memfokuskan pada sebuah isu, masalah, atau
peristiwa-peristiwa yang bersifat kontroversial.

Namun demikian, fokus laporan beritanya masih tetap menyampaikan
tentang fakta yang ada dan bukan opini. Dalam jenis berita ini,
wartawan atau penulis dituntut untuk dapat melakukan analisis dan
menjelaskan persoalan yang terjadi dengan jelas.

18

JOURNALISTIC

Berita jenis ini sangat tergantung pada pertimbangan nilai (value) dan
fakta yang ada. Wartawan yang menulis berita ini pada umumnya
mencoba menerangkan berbagai peristiwa publik melalui penggalian
informasi yang diperoleh langsung dari para narasumber.
Laporan interpretatif biasanya dipusatkan untuk menjawab
pertanyaan “mengapa”, misalnya mengapa kenaikan BBM diprotes
rakyat? mengapa calon presiden harus yang tegas? Mengapa aksi
terorisme semakin menggejala? Mengapa aksi demo selalu marak
terjadi? Dan lain sebagainya. Untuk dapat menurunkan berita jenis ini,
wartawan biasanya mencari alasan-alasan dengan menggali informasi
dari para narasumber yang terpercaya.

c) Reportage
Menurut kaidah Jurnalistik, reportage atau reportase adalah
pemberitaan suatu peristiwa, pernyataan, keterangan, pendapat atau
ide melalui teknik liputan langsung ke tempat kejadian, wawancara
atau studi literasi.

Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), reportase
adalah pemberitaan, pelaporan, dan teknik yang diajarkan kepada
wartawan mengenai laporan kejadian berdasarkan pengamatan atau
sumber tulisan.

B. FEATURE NEWS

Berita feature atau feature adalah merupakan tulisan khas yang
menggabungkan unsur jurnalistik dengan unsur sastra serta dapat
mengabaikan segala aktualitas. Feature dapat mengajikan kebenaran
objektif namun juga terkadang subjektif dan cenderung mengutamakan segi
minat insani. Materinya bersifat ringan, menghibur, menenangkan,
merangsang dan menimbulkan rasa emosional serta mengundang imajinasi

19

JOURNALISTIC

pembaca dan memberi, menambah atau meningkatkan informasi tentang
suatu keadaan atau peristiwa, masalah, gejala, proses, aspek-aspek
kehidupan, termasuk juga latar belakang. (Pratikno, 1984).
Sekaitan dengan itu, menurut Wolseley dan Campbell, berita feature terdiri
atas beberapa jenis, antara lain :
1) Feature minat insani;
2) Feature sejarah;
3) Feature biografi;
4) Feature perjalanan;
5) Feature yang mengajarkan keahlian;
6) Feature ilmiah.

OPINI (VIEWS)

(sumber : kompasiana.com)

Views adalah opini, pandangan atau pendapat mengenai suatu masalah,
kejadian atau peristiwa. Secara garis besar, Views terdiri atas editorial, special
artikel, coloum dan feature artikel.

20

JOURNALISTIC

A. EDITORIAL

Editorial atau tajuk rencana adalah opini berisi pendapat atau sikap resmi
suatu media sebagai institusi penerbitan terhadap persoalan aktual,
fenomenal, atau kontroversial yang berkembang di masyarakat. Opini yang
ditulis pihak redaksi diasumsikan mewakili redaksi sekaligus
mencerminkan pendapat dan sikap resmi media yang bersangkutan.

Adapun editorial atau tajuk rencana sebuah media mempunyai sifat-sifat, di
antaranya :

• Krusial dan ditulis secara berkala, namun tergantung dari jenis terbitan
medianya sendiri, bisa harian (daily), atau mingguan (weekly), atau dua
mingguan (biweekly) dan bahkan bulanan (monthly).

• Isinya menyikapi situasi yang berkembang di masyarakat luas, baik
aspek sosial, politik, ekonomi, budaya, hukum, pemerintahan atau
olahraga bahkan hiburan, tergantung jenis liputan medianya.

• Memiliki karakter atau konsistensi yang teratur kepada pembacanya
terkait sikap dari media massa yang menulis tajuk rencana.

• Terkait erat dengan kebijakan media atau kebijakan media yang
bersangkutan. Karena setiap media mempunyai perbedaan iklim
tumbuh dan berkembang dalam kepentingan yang beragam, yang
menaungi media tersebut.

B. SPECIAL ARTICLES

Merupakan tulisan lepas berisi opini seseorang yang mengupas tuntas
suatu masalah tertentu yang sifatnya aktual dan atau kontroversial dengan

21

JOURNALISTIC

tujuan untuk memberitahukan (informatif), memengaruhi dan menyakinkan
(persuasif argumentatif) atau menghibur khalayak pembaca (rekreatif).
Secara teknis jurnalistik, artikel adalah salahsatu bentuk opini yang terdapat
dalam surat kabar atau majalah.

C. COLUMN

Adalah opini singkat seseorang yang lebih banyak menekankan aspek
pengamatan dan pemaknaan terhadap suatu persoalan atau keadaan yang
terdapat atau terjadi di dalam masyarakat. Kolom lebih banyak
mencerminkan cap pribadi penulis. Sifatnya memadat memakna, berbeda
dengan sifat artikel yang memapar melebar. Kolom ditulis secara
inferensial, sementara artikel ditulis secara referensial. Biasanya dalam
tulisan kolom terdapat foto sang penulis.

D. FEATURE ARTICLES

Feature artikel adalah tulisan-tulisan mengenai suatu keadaan, kejadian,
sesuatu hal, seseorang, sesuatu pikiran, sesuatu idiologi, tentang ilmu
pengetahuan dan seterusnya yang dikemukakan sebagai pemberitaan dan
atau informasi dengan tekanan terutama pada segi-segi rasa manusiawi
yang mengandung nilai hiburan.

Berbeda dengan feature berita yang terikat pada deadline, penulisan feature
artikel dapat lebih tenang, tidak terburu-buru oleh waktu bahkan ada feature
artikel yang apabila misalnya di muat setahun kemudian masih tetap dapat
diterima dan dinikmati oleh pembacanya. Sementara perbedaannya dengan
artikel adalah bahwa artikel lebih mengarah dan mengandung teori,
pendapat, dan permasalahan. Karenanya tulisan artikel menjadi teoritis dan
problematis bahkan menyebabkan pembaca mengernyitkan dahi ketika

22

JOURNALISTIC

membacanya. Sedangkan feature artikel penuh dengan cerita human
interest (Adi Subrata, 1991).
Selain menghibur dan informatif, feature artikel juga di tulis dan diwarnai
secara pribadi oleh wartawan atau penulisnya itu sendiri. Sengaja diwarnai
agar menarik dibaca, sesuai dengan fungsi feature itu sendiri, yakni
mengemukakan suatu pribadi dan melukiskan suasana.

23

JOURNALISTIC

KARAKTERISTIK
JURNALISTIK

Jurnalistik atau jurnalisme menurut Luwi Ishwara (Kris Budiman, 2005) dalam
bukunya yang berjudul “Dasar-Dasar Jurnalistik” mempunyai ciri-ciri atau
karakteristik yang penting untuk diperhatikan, antara lain :

1. Skeptis; adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu,
meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak
mudah tertipu. Inti dari skeptis adalah keragu-raguan. Karenanya, media
massa biasanya tidak puas dengan permukaan sebuah peristiwa serta
enggan untuk mengingatkan kekurangan yang ada di dalam masyarakat.
Wartawan akan terjun langsung ke lapangan, berjuang, serta menggali hal-
hal yang eksklusif dari suatu peristiwa sebagai bahan berita.

2. Bertindak (action); adalah wartawan tidak menunggu sampai peristiwa itu
muncul, tetapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajaman naluri
seorang wartawan (sense of social).

3. Berubah; adalah perubahan merupakan hukum utama jurnalisme. Media
bukan lagi sebagai penyalur informasi, tetapi bertindak sebagai fasilitator,
penyaring (filter) dan pemberi makna dari sebuah informasi.

24

JOURNALISTIC

4. Seni dan Profesi; adalah wartawan melihat dengan mata yang segar pada
setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik dan menarik di
tengah kehidupan masyarakat.

5. Peran Pers; adalah pers sebagai pelapor, bertindak sebagai mata dan
telinga publik. Melaporkan peristiwa-peristiwa di luar pengetahuan
masyarakat dengan netral dan tanpa prasangka. Selain itu, pers juga harus
berperan sebagai interpreter, wakil publik, peran jaga (watchdog), dan
pembuat kebijaksanaan serta advokasi.

25

JOURNALISTIC

KODE ETIK
JURNALISTIK

(sumber : dprd-diy.go.id)

Kemerdekaan berpendapat, berekspresi sebagai representasi dari kebebasan
pers merupakan Hak Azasi Manusia (HAM) yang dilindungi Pancasila, Undang-
Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB.
Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memeroleh informasi dan
berkomunikasi guna memenuhi kebutuhan hakiki guna meningkatkan kualitas
hidup manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, seorang wartawan
juga harus menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial,
keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama. Karenanya, dalam

26

JOURNALISTIC

melaksanakan tugas, fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati
hak asasi setiap orang. Karena itu, pers dituntut profesional dan terbuka untuk
dikontrol oleh masyarakat. Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi
hak publik untuk memeroleh informasi yang benar, seorang wartawan sebagai
pekerja profesional memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai
pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan
integritas serta profesionalisme. Atas dasar itulah, wartawan menetapkan dan
harus menaati Kode Etik Jurnalistik.

Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk
memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan
moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga
kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas
dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik:

Pasal 1: Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang
akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Pasal 2: Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam
melaksanakan tugas jurnalistik.

Pasal 3: Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara
berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta
menerapkan asas praduga tak bersalah.

Pasal 4 : Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan
cabul.

Pasal 5: Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas
korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi
pelaku kejahatan.

27

JOURNALISTIC

Pasal 6 : Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak
menerima suap.

Pasal 7 : Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber
yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai
ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan
kesepakatan.

Pasal 8 : Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan
prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku,
ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan
martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Pasal 9 : Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan
pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

Pasal 10 : Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki
berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada
pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

Begitu pula Kode Etik Jurnalistik (KEJ) menempati posisi yang sangat strategis
dan penting bagi wartawan. Bahkan dibandingkan dengan undang-undang
lainnya yang memiliki sanksi fisik dan material sekalipun, di hati sanubari setiap
wartawan seharusnya KEJ mempunyai kedudukan yang sangat istimewa.
Wartawan yang tidak memahami dan menaati KEJ akan kehilangan harkat dan
martabatnya sebagai seorang wartawan. Dewan Kehormatan Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI) merumuskan setidaknya ada empat (4) alasan
mengapa kode etik jurnalistik amat penting bagi para wartawan, di antaranya :

• Kode etik jurnalistik dibuat khusus dari, untuk dan oleh kalangan wartawan
sendiri dengan tujuan untuk menjaga martabat atau kehormatan profesi

28

JOURNALISTIC

wartawan. Ini berarti pelanggaran terhadap kode etik jurnalistik adalah
pelanggaran terhadap nilai nilai kehormatan profesinya sendiri.

• Wartawan harus memiliki keterampilan teknis di bidang profesinya. Misalnya
harus dapat menulis berita atau menyiarkan berita dengan benar, adil dan
berimbang. Selain itu, wartawan juga harus memiliki pengetahuan dan
wawasan yang sangat luas. Pendek kata, wartawan harus berilmu dan
’pinter’, baik dalam penguasaan teknis jurnalistik maupun sosial
kemasyarakatan. Kode Etik Jurnalistik dalam hal ini menjadi salah satu dan
yang utama sebagai barometer profesionalisme wartawan.

• Kode Etik Jurnalistik menyangkut hati nurani terdalam wartawan. Rumusan
dalam Kode Etik Jurnalistik merupakan hasil pergumulan hati nurani
wartawan. Pelaksanaannya juga harus dilandasi dengan hati nurani. Maka
pelanggaran terhadap KEJ, berarti pengkhianatan terhadap hati nurani
profesi wartawan sendiri, dan ini jelas merupakan sifat yang sangat tercela.
Secara prinsip pelanggaran terhadap KEJ khusus bagi wartawan dapat
bermakna merupakan perbuatan yang lebih tercela daripada pelanggaran
terhadap hukum atau perundang-undangan sekalipun.

• Kode Etik Jurnalistik adalah mahkota dalam hati setiap wartawan.
Pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik merupakan salah satu barometer
seberapa besar amanah yang diberikan oleh rakyat kepada pers dijalankan.
Tanpa memahami Kode Etik Jurnalistik secara benar wartawan telah
mengkhianati kepercayaan yang dipegangnya. Tanpa memahami dan
tunduk kepada Kode Etik Jurnalistik wartawan telah mengkorupsi
kedaulatan rakyat yang dipercayakan kepada mereka. Oleh karena itu
pemahaman dan penaatan terhadap Kode Etik Jurnalistik mutlak bagi
wartawan.

29

JOURNALISTIC

PERBEDAAN KODE ETIK JURNALISTIK DAN HUKUM

Ruang lingkup dan makna kode etik dan hukum memiliki kedekatan, sehingga
menimbulkan pertanyaan apa bedanya antara kode etik dengan hukum? Untuk
menjelaskannya, lebih dulu harus dipaparkan mengenai pengertian konsep
hukum itu sendiri. Secara sederhana pengertian hukum tersebut dapat dibagi ke
dalam 2 (dua) bagian, yakni 1) hukum dalam arti luas dan 2) hukum dalam arti
sempit. Dalam arti luas pengertian hukum mempunyai tata nilai peraturan dan
konvensi baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Dengan demikian seluruh
kaidah yang mengatur kehidupan manusia dalam arti luas ini adalah hukum.

Sedangkan hukum dalam arti sempit, adalah segala bentuk perundang-
undangan atau peraturan yang tertulis. Dalam pengertian sempit ini semua
peraturan yang tertulis tanpa membedakan tingkatan dapat dikategorikan
sebagai hukum. Mulai dari konstitusi Undang-Undang Dasar, Peraturan
Pemerintah sampai Keputusan lurah yang tertulis masuk dalam wilayah
pengertian ini. Dilihat dari makna hukum dalam arti luas, maka kode etik dapat
dikategorikan sebagai salah satu bagian dari hukum dalam arti sempit, walaupun
sama-sama terhimpun dalam peraturan yang tertulis, kode etik mempunyai
karakteristik yang berbeda dengan hukum.

Setidaknya-tidaknya terdapat empat perbedaan antara kode etik dengan hukum,
di antaranya :
• Perbedaan dalam soal sanksi
• Perbedaan dalam soal ruang lingkup daya laku atau daya jangkau berlaku
• Perbedaan soal prosedur pembuatannya
• Perbedaan antara formalitas dan sikap batiniah

Selain berfungsi mengatur, hukum juga mempunyai sanksi kongkrit tertentu,
termasuk sanksi fisik, yang bersifat memaksa dan dapat dilaksanakan oleh pihak
ketiga. Misalnya seseorang yang dihukum karena melakukan tindak pidana,

30

JOURNALISTIC

orang itu dapat dikenakan hukuman penjara. Sebaliknya kode etik hanya
berfungsi mengatur saja, dan tidak mempunyai sanksi kongkrit tertentu.

Sejatinya sanksi dalam kode etik lebih bersifat moral. Makanya sanksi dari kode
etik terutama berasal dari hati nurani masing-masing atau masyarakatnya
sebagaimana yang tercantum dalam salahsatu klausul Kode Etik Jurnalistik,
yang mengatakan, “Wartawan Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa
penaatan Kode Etik Jurnalistik ini terutama berasal pada hati nurani masing-
masing,”. Ukuran utama dalam menghayati dan melaksanakan kode etik terletak
pada hati nurani sang wartawan.

Perbedaan dalam soal daya laku, dayajangkau atau ruang lingkup antara kode
etik dan hukum sangat jelas. Daya laku kode etik hanyalah terbatas pada
kalangan tertentu saja. Ini berarti ruang lingkup untuk KEJ hanyalah untuk para
wartawan saja. Mereka yang bukan wartawan tidak bisa dikenakan kode etik
pers. Bahkan jika kode etik itu milik suatu organisasi wartawan tertentu, daya
lakunya hanya juga khusus untuk organisasi wartawan yang bersangkutan.
Tidak semua wartawan bisa dikenakan isi kode etik untuk organisasi wartawan
tertentu. Misalnya, kode etik jurnalistik milik PWI hanya berlaku bagi wartawan
dan anggota di bawah organisasi PWI.

Di sini Kode Etik PWI bersifat otonom dan personal, hak otonom dalam
menyusun, membuat, mengawasi, dan personal dalam pelaksanaan KEJ PWI.
Berbeda dengan daya jangkau hukum. Hukum bersifat publik, sehingga otomatis
berlaku dan mengikat bagi semua warga negara. Misalnya, sebuah undang-
undang berlaku untuk semua warga negara. Contohnya hukum positif berlakunya
UU Nomor.40 Tahun 1999 tentang Pers mengikat semua warga negara.
Singkatnya, obyek kandungan isi perundang-undangan jauh lebih luas
dibandingkan dengan kode etik.

31

JOURNALISTIC

Perbedaan mekanisme proses pembuatan perundang-undangan (hukum dalam
arti sempit) harus dibuat oleh salah satu organ negara yang diberi wewenang
untuk tu. Misalnya untuk tingkat undang-undang, proses pembuatan harus
melibatkan DPR dan Pemerintah. Sedangkan kode etik dibuat oleh organisasi
profesi yang bersangkutan sesuai dengan aturan organisasi. Idealnya proses
pembuatan kode etik tidak perlu melibatkan pihak lain atau pihak ketiga di luar
lembaga atau organisasi profesi yang bersangkutan.

32

JOURNALISTIC

ELEMEN
JURNALISTIK

Ada sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap
jurnalis. Prinsip-prinsip ini telah melalui masa pasang dan surut. Namun, dalam
perjalanan waktu, terbukti prinsip-prinsip itu tetap bertahan.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001), dalam bukunya The Elements of
Journalism, What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (New
York: Crown Publishers), merumuskan prinsip-prinsip itu dalam Sembilan
Elemen Jurnalisme. Kesembilan elemen tersebut adalah:

1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.
Kewajiban para jurnalis adalah menyampaikan kebenaran, sehingga
masyarakat bisa memperoleh informasi yang mereka butuhkan untuk
berdaulat. Bentuk “kebenaran jurnalistik” yang ingin dicapai ini bukan
sekadar akurasi, namun merupakan bentuk kebenaran yang praktis dan
fungsional.

Ini bukan kebenaran mutlak atau filosofis. Tetapi, merupakan suatu proses
menyortir (sorting-out) yang berkembang antara cerita awal, dan interaksi
antara publik, sumber berita (newsmaker), dan jurnalis dalam waktu
tertentu. Prinsip pertama jurnalisme—pengejaran kebenaran, yang tanpa

33

JOURNALISTIC

dilandasi kepentingan tertentu (disinterested pursuit of truth)—adalah yang
paling membedakannya dari bentuk komunikasi lain.

Contoh kebenaran fungsional, misalnya, polisi menangkap tersangka
koruptor berdasarkan fakta yang diperoleh. Lalu kejaksaan membuat
tuntutan dan tersangka itu diadili. Sesudah proses pengadilan, hakim
memvonis, tersangka itu bersalah atau tidak-bersalah. Apakah si tersangka
yang divonis itu mutlak bersalah atau mutlak tidak-bersalah? Kita memang
tak bisa mencapai suatu kebenaran mutlak. Tetapi masyarakat kita, dalam
konteks sosial yang ada, menerima proses pengadilan –serta vonis bersalah
atau tidak-bersalah– tersebut, karena memang hal itu diperlukan dan bisa
dipraktikkan. Jurnalisme juga bekerja seperti itu.

2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga (citizens).
Organisasi pemberitaan dituntut melayani berbagai kepentingan
konstituennya: lembaga komunitas, kelompok kepentingan lokal,
perusahaan induk, pemilik saham, pengiklan, dan banyak kepentingan lain.
Semua itu harus dipertimbangkan oleh organisasi pemberitaan yang
sukses. Namun, kesetiaan pertama harus diberikan kepada warga
(citizens). Ini adalah implikasi dari perjanjian dengan publik.

Komitmen kepada warga bukanlah egoisme profesional. Kesetiaan pada
warga ini adalah makna dari independensi jurnalistik. Independensi adalah
bebas dari semua kewajiban, kecuali kesetiaan terhadap kepentingan
publik. Jadi, jurnalis yang mengumpulkan berita tidak sama dengan
karyawan perusahaan biasa, yang harus mendahulukan kepentingan
majikannya. Jurnalis memiliki kewajiban sosial, yang dapat mengalahkan
kepentingan langsung majikannya pada waktu-waktu tertentu, dan
kewajiban ini justru adalah sumber keberhasilan finansial majikan mereka.

3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi.

34

JOURNALISTIC

Yang membedakan antara jurnalisme dengan hiburan (entertainment),
propaganda, fiksi, atau seni, adalah disiplin verifikasi. Hiburan –dan
saudara sepupunya “infotainment”—berfokus pada apa yang paling bisa
memancing perhatian. Propaganda akan menyeleksi fakta atau
merekayasa fakta, demi tujuan sebenarnya, yaitu persuasi dan manipulasi.
Sedangkan jurnalisme berfokus utama pada apa yang terjadi, seperti apa
adanya.

Disiplin verifikasi tercermin dalam praktik-praktik seperti mencari saksi-
saksi peristiwa, membuka sebanyak mungkin sumber berita, dan meminta
komentar dari banyak pihak. Disiplin verifikasi berfokus untuk
menceritakan apa yang terjadi sebenar-benarnya. Dalam kaitan dengan
apa yang sering disebut sebagai “obyektivitas” dalam jurnalisme, maka
yang obyektif sebenarnya bukanlah jurnalisnya, tetapi metode yang
digunakannya dalam meliput berita.

Ada sejumlah prinsip intelektual dalam ilmu peliputan: 1) Jangan
menambah-nambahkan sesuatu yang tidak ada; 2) Jangan mengecoh
audiens; 3) Bersikaplah transparan sedapat mungkin tentang motif dan
metode Anda; 4) Lebih mengandalkan pada liputan orisinal yang dilakukan
sendiri; 5) Bersikap rendah hati, tidak menganggap diri paling tahu.

4. Jurnalis harus tetap independen dari pihak yang mereka liput.
Jurnalis harus tetap independen dari faksi-faksi. Independensi semangat
dan pikiran harus dijaga wartawan yang bekerja di ranah opini, kritik, dan
komentar. Jadi, yang harus lebih dipentingkan adalah independensi, bukan
netralitas. Jurnalis yang menulis tajuk rencana atau opini, tidak bersikap
netral. Namun, ia harus independen, dan kredibilitasnya terletak pada
dedikasinya pada akurasi, verifikasi, kepentingan publik yang lebih besar,
dan hasrat untuk memberi informasi.

35

JOURNALISTIC

Penting untuk menjaga semacam jarak personal, agar jurnalis dapat
melihat segala sesuatu dengan jelas dan membuat penilaian independen.
Sekarang ada kecenderungan media untuk menerapkan ketentuan “jarak”
yang lebih ketat pada jurnalisnya. Misalnya, mereka tidak boleh menjadi
pengurus parpol atau konsultan politik politisi tertentu.

Independensi dari faksi bukan berarti membantah adanya pengaruh
pengalaman atau latar belakang si jurnalis, seperti dari segi ras, agama,
ideologi, pendidikan, status sosial-ekonomi, dan gender. Namun, pengaruh
itu tidak boleh menjadi nomor satu. Peran sebagai jurnalislah yang harus
didahulukan.

5. Jurnalis harus melayani sebagai pemantau independen terhadap
kekuasaan.
Jurnalis harus bertindak sebagai pemantau independen terhadap
kekuasaan. Wartawan tak sekedar memantau pemerintahan, tetapi semua
lembaga kuat di masyarakat. Pers percaya dapat mengawasi dan
mendorong para pemimpin agar mereka tidak melakukan hal-hal buruk,
yaitu hal-hal yang tidak boleh mereka lakukan sebagai pejabat publik atau
pihak yang menangani urusan publik. Jurnalis juga mengangkat suara
pihak-pihak yang lemah, yang tak mampu bersuara sendiri.

Prinsip pemantauan ini sering disalahpahami, bahkan oleh kalangan
jurnalis sendiri, dengan mengartikannya sebagai “mengganggu pihak yang
menikmati kenyamanan.” Prinsip pemantauan juga terancam oleh praktik
penerapan yang berlebihan, atau “pengawasan” yang lebih bertujuan
untuk memuaskan hasrat audiens pada sensasi, ketimbang untuk benar-
benar melayani kepentingan umum. Namun, yang lebih berbahaya, adalah
ancaman dari jenis baru konglomerasi korporasi, yang secara efektif
mungkin menghancurkan independensi, yang mutlak dibutuhkan oleh pers
untuk mewujudkan peran pemantauan mereka.

36

JOURNALISTIC

6. Jurnalisme harus menyediakan forum bagi kritik maupun komentar dari
publik.
Apapun media yang digunakan, jurnalisme haruslah berfungsi
menciptakan forum di mana publik diingatkan pada masalah-masalah yang
benar-benar penting, sehingga mendorong warga untuk membuat
penilaian dan mengambil sikap. Maka, jurnalisme harus menyediakan
sebuah forum untuk kritik dan kompromi publik. Demokrasi pada akhirnya
dibentuk atas kompromi. Forum ini dibangun berdasarkan prinsip-prinsip
yang sama sebagaimana halnya dalam jurnalisme, yaitu: kejujuran, fakta,
dan verifikasi. Forum yang tidak berlandaskan pada fakta akan gagal
memberi informasi pada publik.

Sebuah perdebatan yang melibatkan prasangka dan dugaan semata hanya
akan mengipas kemarahan dan emosi warga. Perdebatan yang hanya
mengangkat sisi-sisi ekstrem dari opini yang berkembang, tidaklah
melayani publik tetapi sebaliknya justru mengabaikan publik. Yang tak
kalah penting, forum ini harus mencakup seluruh bagian dari komunitas,
bukan kalangan ekonomi kuat saja atau bagian demografis yang menarik
sebagai sasaran iklan.

7. Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting itu menarik dan
relevan.
Tugas jurnalis adalah menemukan cara untuk membuat hal-hal yang
penting menjadi menarik dan relevan untuk dibaca, didengar atau ditonton.
Untuk setiap naskah berita, jurnalis harus menemukan campuran yang
tepat antara yang kurang serius dan yang kurang-serius, dalam
pemberitaan hari mana pun.

Singkatnya, jurnalis harus memiliki tujuan yang jelas, yaitu menyediakan
informasi yang dibutuhkan orang untuk memahami dunia, dan

37

JOURNALISTIC

membuatnya bermakna, relevan, dan memikat. Dalam hal ini, terkadang
ada godaan ke arah infotainment dan sensasionalisne.

8. Jurnalis harus menjaga agar beritanya komprehensif dan proporsional.
Jurnalisme itu seperti pembuatan peta modern. Ia menciptakan peta
navigasi bagi warga untuk berlayar di dalam masyarakat. Maka jurnalis
juga harus menjadikan berita yang dibuatnya proporsional dan
komprehensif. Dengan mengumpamakan jurnalisme sebagai pembuatan
peta, kita melihat bahwa proporsi dan komprehensivitas adalah kunci
akurasi. Kita juga terbantu dalam memahami lebih baik ide
keanekaragaman dalam berita.

9. Jurnalis memiliki kewajiban untuk mengikuti suara nurani mereka
Setiap jurnalis, dari redaksi hingga dewan direksi, harus memiliki rasa etika
dan tanggung jawab personal, atau sebuah panduan moral. Terlebih lagi,
mereka punya tanggung jawab untuk menyuarakan sekuat-kuatnya nurani
mereka dan membiarkan yang lain melakukan hal yang serupa.

Agar hal ini bisa terwujud, keterbukaan redaksi adalah hal yang penting
untuk memenuhi semua prinsip jurnalistik. Gampangnya mereka yang
bekerja di organisasi berita harus mengakui adanya kewajiban pribadi
untuk bersikap beda atau menentang redaktur, pemilik, pengiklan, dan
bahkan warga serta otoritas mapan, jika keadilan (fairness) dan akurasi
mengharuskan mereka berbuat begitu. Dalam kaitan itu, pemilik media
juga dituntut untuk melakukan hal yang sama. Organisasi pemberitaan,
bahkan terlebih lagi dunia media yang terkonglomerasi dewasa ini, atau
perusahaan induk mereka, perlu membangun budaya yang memupuk
tanggung jawab individual. Para manajer juga harus bersedia
mendengarkan, bukan cuma mengelola problem dan keprihatinan para
jurnalisnya.

38

JOURNALISTIC

Dalam perkembangan berikutnya, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel
menambahkan elemen. Yaitu:

Warga juga memiliki hak dan tanggung jawab dalam hal-hal yang terkait
dengan berita.

Elemen terbaru ini muncul dengan perkembangan teknologi informasi,
khususnya internet. Warga bukan lagi sekadar konsumen pasif dari media, tetapi
mereka juga menciptakan media sendiri. Ini terlihat dari munculnya blog,
jurnalisme online, jurnalisme warga (citizen journalism), jurnalisme komunitas
(community journalism) dan media alternatif. Warga dapat menyumbangkan
pemikiran, opini, berita, dan sebagainya, dan dengan demikian juga mendorong
perkembangan jurnalisme.

39

JOURNALISTIC

BAHASA
JURNALISTIK

Bahasa jurnalistik atau biasa disebut dengan bahasa pers merupakan salah satu
ragam bahasa kreatif bahasa indonesia di samping terdapat juga ragam bahasa
akademik (ilmiah), ragam bahasa usaha (bisnis), ragam bahasa filosofik, dan
ragam bahasa literer (sastra) (sudaryanto, 1995). Dengan demikian bahasa
jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan
ragam bahasa yang lain. Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan
oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa
(anwar, 1991). Dengan demikian, bahasa indonesia pada karya-karya
jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa
pers.

Bahasa jurnalistik itu sendiri juga memiliki karakter yang berbeda-beda
berdasarkan jenis tulisan apa yang akan terberitakan. Bahasa jurnalistik yang
digunakan untuk menuliskan reportase investigasi tentu lebih cermat bila
dibandingkan dengan bahasa yang digunakan dalam penulisan features. Dalam
menulis banyak faktor yang dapat mempengaruhi karakteristik bahasa jurnalistik
karena penentuan masalah, angle tulisan, pembagian tulisan, dan sumber
(bahan tulisan).

Namun demikian, bahasa jurnalistik sesungguhnya tidak meninggalkan kaidah
yang dimiliki oleh ragam bahasa Indonesia baku dalam hal pemakaian kosakata,
struktur sintaksis dan wacana (Reah, 2000). Karena berbagai keterbatasan yang

40

JOURNALISTIC

dimiliki surat kabar (ruang, waktu) maka bahasa jurnalistik memiliki sifat yang
khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Kosakata
yang digunakan dalam bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan bahasa
dalam masyarakat.

Sifat-sifat tersebut merupakan hal yang harus dipenuhi oleh ragam bahasa
jurnalistik mengingat surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang
tidak sama tingkat pengetahuannya. Dengan kata lain bahasa jurnalistik dapat
dipahami dalam ukuran intelektual minimal.

Hal ini dikarenakan tidak setiap orang memiliki cukup waktu untuk membaca
surat kabar atau majalah. Oleh karena itu, bahasa jurnalistik sangat
mengutamakan kemampuan untuk menyampaikan semua informasi yang
disajikan kepada pembaca dengan mengutamakan daya komunikasinya.
Dengan perkembangan jumlah pers yang begitu pesat pasca pemerintahan
Soeharto — lebih kurang ada 800 pelaku pers baru — bahasa pers juga
menyesuaikan pasar. Artinya, pers sudah menjual wacana tertentu, pada
golongan tertentu, dengan isu-isu yang khas.

Secara spesifik bahasa jurnalistik dapat dibedakan menurut bentuknya, yaitu
bahasa jurnalistik surat kabar, bahasa jurnalistik tabloid, bahasa jurnalistik
majalah, bahasa jurnalistik radio siaran, bahasa jurnalistik televisi dan bahasa
jurnalistik media online.

Haris Sumadiria (2004) dalam bukunya ”Menulis Artikel dan Tajuk Rencana”
menyebutkan ciri- ciri utama bahasa jurnalistik yang dapat dipakai oleh semua
bentuk media, di antaranya :

1. Sederhana, selalu mengutamakan dan memilih kata atau kalimat yang paling
banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen.

41

JOURNALISTIC

2. Singkat, secara langsung kepada pokok masalah, tidak bertele- tele, tidak
memboroskan waktu pembaca yang sangat berharga.

3. Padat, sarat informasi maksudnya setiap kalimat dan paragraph yang ditulis
memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca.

4. Lugas, berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus menghindari eufemisme atau
penghalusan kata dan kalimat yang bias membingungkan khalayak pembaca
sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi.

5. Jernih, berarti bening, tembus pandang, transparan,jujur, tulus, tidak
menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negatif seperti prasangka
atau fitnah.

6. Jelas, mudah ditangkap maksudnya, tidak kabur.

7. Menarik, mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca,
memicu selera baca, serta membuat orang yang sedang tidur,terjaga
seketika.

8. Populis, artinya setiap kata, istilah atau kalimat apa pun yang terdapat dalam
karya- karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata dan di benak pikiran
khalayak pembaca, pendengar.

9. Logis, apapun yang terdapat dalam kata, istilah, kalimat jurnalistik harus
dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat.

10. Demokratis, bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta,
atau perbedaan dari pihak yang menyapa atau pihak yang disapa
sebagaimana yang dijumpai dalam gramatika bahasa Sunda dan bahasa
Jawa.

42

JOURNALISTIC

11. Gramatikal, kata, kalimat atau istilah apa pun yang dipakai dan dipilih dalam
bahasa jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku.

12. Menghindari kata tutur, yaitu kata yang biasa digunakandalam percakapan
sehari- hari secara informal.

13. Menghindari kata dan istilah asing, artinya pembaca harus mengetahui
makna setiap kata yang dibaca dan didengar.

14. Pilihan kata (diksi) yang tepat, karena bahasa jurnalistik sangat menekankan
pada efektivitas.

15. Mengutamakan kalimat aktif, karena lebih mudah dipahami, dimengerti dan
disukai oleh khalayak pembaca daripada penggunaan kalimat pasif.

16. Menghindari kata atau istilah teknis, karena ditujukan untuk umum bahasa
jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami, ringan dibaca, tidak membuat
kening berkerut apalagi sampai membuat kepala berdenyut.

17. Tunduk kepada kaidah etika, salah satu fungsi utama pers adalah edukasi,
mendidik.

43

JOURNALISTIC

TEKNIK
JURNALISTIK

Teknik Jurnalistik (Journalism Skills) adalah keahlian atau keterampilan khusus
dalam hal reportase, penulisan dan penyuntingan berita, serta wawasan dan
penggunaan bahasa jurnalistik atau bahasa media.

• Teknik Reportase: Observasi, Wawancara, Studi Literatur. Wartawan
harus piawai wawancara dan mengamati peristiwa. Wartawan juga harus
andal dalam riset data atau studi literatur.

• News Writing. Penulisan berita adalah keterampilan utama wartawan.
• News Reporting (for Radio/TV): News Reading, Spoken Reading, News

Script Writing). Khusus wartawan media elektronik (TV/Radio) harus
piawai menyajikan berita (news presenting) secara langsung (live report)
ataupun menjadi presenter berita di studio.
• Editing. Wartawan harus piawai menyunting naskah sebelum
dipublikasikan.
• Bahasa Jurnalistik. Wartawan harus menguasai kaidah bahasa
jurnalistik, yakni bahasa pers atau bahasa media, dengan ciri khas
ringkas, lugas, dan mudah dipahami.
Secara praktis, dasar jurnalistik yang wajib dimiliki wartawan adalah keahlian
meliput perisiwa, menulis beritanya, melakukan wawancara, dan menaati kode
etik.

44

JOURNALISTIC

PENGERTIAN
JURNALIS/
WARTAWAN

(sumber : kabarmapegaa.com)

Pelaku jurnalistik biasa disebut jurnalis atau wartawan. Merekalah yang
berperan penting dalam dunia jurnalistik. Karena Jurnalis atau wartawan adalah
motor penggerak dari kegiatan jurnalistik itu sendiri. Dalam Kamus Besar
bahasa Indonesia atau KBBI menyebutkan, wartawan adalah orang yang
pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat dalam surat kabar,
majalah, radio, dan televisi. Wartawan disebut juga juru warta atau jurnalis.

45

JOURNALISTIC

Jurnalis/Wartawan adalah orang yang melakukan aktivitas jurnalistik secara
rutin. ini dicantumkan dalam UU No. 40/1999 tentang Pers. Sedangkan dalam
bahasa Inggris: Journalist, Reporter, Editor, Paper Man, News Man.
Kualifikasi Karyawan
Lalu apa saja kualifikasi dari seorang wartawan, jurnalis atau reporter itu?
Berikut adalah kualifikasi umum yang bersifat pokok dari seorang wartawan.
Apa saja?

• Menaati Kode Etik (Codes of Conduct)
• Menguasai Bidang Liputan (Beat)
• Menguasai Teknik Jurnalistik (J-Skills)
Wartawan adalah orang yang bekerja di sebuah media massa dengan
melakukan aktivitas jurnalistik (peliputan dan penulisan berita) secara rutin,
menaati kode etik, menguasai tema liputannya, dan menguasai teknik jurnalistik
terutama menulis berita dan wawancara.

46

JOURNALISTIC

PERS

(sumber : pelayananpublik.id)

PENGERTIAN PERS

Istilah “pers” berasal dari kata persen Belanda, press Inggris, yang
berarti “menekan” yang merujuk pada alat cetak kuno yang digunakan dengan
menekan secara keras untuk menghasilka karya cetak pada lembaran kertas.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KBBI), Pers berarti :
1) Alat cetak untuk mencetak buku atau surat kabar.
2) Alat untuk menjepit, memadatkan.

47

JOURNALISTIC

3) Surat kabar dan majalah yang berisi berita.
4) Orang yang bekerja di bidang peresuratkabaran.

UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, pers adalah lembaga sosial dan wahana
komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi
mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan
informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta
data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media
cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Dari pengertian pers menurut UU No. 40 Tahun 1999, pers memiliki dua arti, arti
luas dan sempit. Dalam arti luas, pers menunjuk pada lembaga sosial atau
pranata sosial yang melaksanakan kegiatan jurnalistik untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat akan informasi. Sedanglan dalam arti sempit,
pers merujuk pada wahana / media komunikasi massa baik yang lektronik dan
cetak.

Wahana komunikasi massa ada dua jenis, yaitu media cetak dan media
elektronik. Media massa elektronik, adalah media massa yang menyajikan
informasi dengan cara mengirimkan informasi melalui peralatan elektronik,
seperti radio, televisi, internet, film. Sedangkan media massa cetak, adalah
segala bentuk media massa yang menyajikan informasi dengan cara mencetak
informasi itu di atas kertas. Contoh, Koran, majalah, tabloid, bulletin.

SEJARAH PERS DI INDONESIA

Pada dasarnya, sejarah Pers di Indonesia terbagi dalam dua babak, yakni babak
pertama yang berlangsung antara tahun 1745-1854 dan babak kedua yang
berlangsung antara tahun 1854 hingga Kebangkitan Nasional (1908). Babak
pertama dimulai saat Indonesia masih dalam keadaan terjajah oleh
kolonialisme Belanda. Pada masa itu, surat kabar masih mutlak dikuasai oleh

48

JOURNALISTIC

orang-orang Eropa dan hanya tersedia dalam bahasa Belanda. Kontennya pun,
hanya seputar kehidupan orang-orang Eropa dan tidak berkaitan dengan
kehidupan masyarakat Indonesia. Kabarnya, koran pertama di Indonesia
bernama Bataviasche Nouvelles yang terbit pada bulan Oktober 1744.

Sementara itu, pada babak kedua, mulai bermunculan surat kabar dalam bahasa
Jawa dan Melayu. Pada mulanya, surat kabar dengan bahasa pra-Indonesia ini
masih dipimpin oleh orang-orang dari peranakan Eropa, namun, menjelang
Kebangkitan Nasional, para pekerja pers terutama para redakturnya mulai
banyak berasal dari peranakan Tionghoa dan Indonesia (pribumi). Koran
mingguan Medan Prijaji, yang didirikan oleh RM Tirto Adhi Soerjo dan Raden
Djokomono pada tahun 1907, kemudian yang mengawali sejarah pers nasional.
Penerbitan koran inilah yang pertama kali menggunakan modal nasional dan
dipimpin oleh orang Indonesia.

Selain dibagi menjadi dua babak, sejarah pers di Indonesia juga dibagi lagi
kedalam 6 periode zaman mulai dari Zaman Belanda, Zaman Jepang, Zaman
Kemerdekaan, Zaman Orde Lama, Zaman Orde Baru dan Zaman Refomasi.

1. ZAMAN BELANDA

Seperti yang telah kita ketahui, perkembangan dunia pers di Indonesia
diawali sejak masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1744, percobaan
pertama untuk menerbitkan media massa diawali dengan terbitnya surat
kabar pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Imhoff dengan
nama Bataviasche Nouvelles. Kemudian, pada tahun 1828, Javasche
Courant diterbitkan di Batavia (sekarang Jakarta) dan memuat berita-
berita resmi pemerintahan, berita lelang, dan berita kutipan dari aktivitas-
aktivitas harian di Eropa. Mesin cetak pertama di Indonesia juga datang
melalui Batavia melalui seorang Belanda bernama W. Bruining dari
Rotterdam yang kemudian menerbitkan surat kabar bernama Het
Bataviasche Advertantie Blad. Pada tahun 1885, di seluruh daerah yang
dikuasai Belanda, telah terbit sekitar 16 surat kabar dalam bahasa Belanda

49


Click to View FlipBook Version