The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bertualang merupakan hal yang menyenangkan bagi sebagian besar orang. Petualangan itu sendiri dapat menghilangkan kepenatan dalam hidup. Ada banyak cara dilakukan orang yang suka bertualang. Ada yang suka mendaki gunung, menjelajah hutan, menelusuri sungai atau rawa, dan masih banyak lagi. Banyak sekali keseruan kisah petualangan yang ada di buku ini.
Buku ini menyuguhkan kumpulan cerita pendek para bibit penulis Gendis Sewu dari SD Muhammadiyah 14 Surabaya hasil dari pendampingan petugas Taman Baca Masyarakat se-Kecamatan Tandes.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tbmtandessurabaya, 2024-01-27 02:53:27

aPETUALANGAN SERU

Bertualang merupakan hal yang menyenangkan bagi sebagian besar orang. Petualangan itu sendiri dapat menghilangkan kepenatan dalam hidup. Ada banyak cara dilakukan orang yang suka bertualang. Ada yang suka mendaki gunung, menjelajah hutan, menelusuri sungai atau rawa, dan masih banyak lagi. Banyak sekali keseruan kisah petualangan yang ada di buku ini.
Buku ini menyuguhkan kumpulan cerita pendek para bibit penulis Gendis Sewu dari SD Muhammadiyah 14 Surabaya hasil dari pendampingan petugas Taman Baca Masyarakat se-Kecamatan Tandes.

GENDIS SEWU BERKARYA PETUALANGAN SERU Antologi Cerita Pendek Bibit Penulis Gendis Sewu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Bekerja Sama dengan SD Muhammadiyah 14 Surabaya


PETUALANGAN SERU Penulis : Rizky Putra R, Al Arkan Eijaz R, Zahra Novalia A, dkk. Desain Sampul : Indah Purnamasari dan Ikke Ariani Penyunting : Akbar Fitriadi, Khoiruli, Indah Purnamasari, dan Ikke Ariani Penyunting Akhir : Faradila Elifin Malidin, Vivi Sulviana, Ayu Dewi A.S.N, Rici Alric K, dan Vegasari Yuniati Diterbitkan pada tahun 2023 oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Jln. Rungkut Asri Tengah 5-7, Surabaya Buku ini merupakan kumpulan karya dari bibit Gendis Sewu, sebagai penghargaan atas partisipasi yang telah diberikan dalam Gerakan Melahirkan 1000 Penulis dan 1000 Pendongeng. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.


KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah segala puji bagi Allah Swt. atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya yang begitu besar, sehingga dapat menyelesaikan penyusunan buku ini sebagai bentuk apresiasi kepada para bibit penulis yang mengikuti Gerakan Melahirkan 1000 Penulis dan 1000 Pendongeng (Gendis Sewu) dengan baik dan lancar. Antologi merupakan kumpulan karya cerita pendek dari para penulis SD Muhammadiyah 14 Surabaya. Buku ini mengangkat tema tentang petualangan dari para penulis yang merupakan bibit Gendis Sewu Berkarya. Kami menyadari bahwa sebuah karya memiliki ketidaksempurnaan. Apabila dalam penyusunan buku ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih ada kekurangan kami mengharap kritik dan saran yang bisa membangun dari segenap pembaca buku ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi


perkembangan karya tulis anak bangsa khususnya di Kota Surabaya dan seluruh Indonesia pada umumnya. Surabaya, 2023 Petugas TBM se-Kecamatan Tandes


KATA SAMBUTAN Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayatNya, hanya dengan kemurahan-Nya kita selalu dapat berikhtiar untuk berkarya dalam ikut serta membangun Kota Surabaya yang kita cintai. Kita patut bangga dan memberi apreasiasi kepada para bibit penulis Gendis Sewu (Gerakan Melahirkan 1000 Bibit Penulis dan 1000 Bibit Pendongeng), para editor penulis Dispusip di Kota Surabaya yang telah bekerja keras membuat karya tulis yang berjudul Petulangan Seru Buku para bibit Gendis Sewu menghasilkan karya tulis dari anak-anak cerdas yang telah melalui proses panjang dan berjenjang dan merupakan karya-karya imajinatif yang mengandung pesan moral dengan bahasa yang mudah dipahami juga sangat baik untuk dinikmati.


Semoga ke depannya akan menjadi inspirasi untuk berkembangnya budaya literasi dari berbagai kalangan masyarakat di Kota Surabaya. Akhir kata, semoga buku Gendis Sewu Berkarya dengan judul Petualangan Seru bermanfaat bagi semua pihak dan perkembangan para bibit Gendis Sewu. Surabaya, 2023 Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, S.H., M.Si.


SEKAPUR SIRIH Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Alhamdulillah, dengan menyebut nama Allah Swt. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami sangat bersyukur atas ke hadirat-Nya, hanya dengan kemurahan Allah Swt. kami dapat menghimpun berbagai karya tulis para bibit penulis Gendis Sewu dan menerbitkannya dalam sebuah buku antologi cerpen dengan judul Petualangan Seru Buku ini merupakan antologi cerpen kolaborasi Gendis Sewu dengan SD Muhammadiyah 14 Surabaya. Kolaborasi ini menghasilkan 10 karya tulis cerpen pendampingan petugas TBM se-Kecamatan Tandes yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. Kegiatan Gendis Sewu memanfaatkan platform buatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan


Kota Surabaya yang bernama Taman Kalimas. Taman Kalimas yang merupakan singkatan dari Tempat Menampung Karya Literasi Masyarakat memberikan layanan literasi yang di dalamnya terdapat tiga layanan sekaligus, antara lain layanan Taman Kalimas Pembelajaran, Taman Kalimas Karya dan Taman Kalimas Publikasi. Para bibit penulis Gendis Sewu terlebih dahulu didaftarkan untuk mengikuti kelas berjenjang dari mulai kelas reguler Taman Kalimas di tingkat kecamatan, lalu untuk bibit terbaik akan mendapatkan reward naik ke kelas khusus minat dan bakat setelah itu karyanya akan dibuat buku dan dipublikasikan. Saya mengapresiasi bangga kepada para bibit penulis Gendis Sewu yang memiliki semangat literasi dengan tidak hanya menjadi pembaca pasif melainkan menjadi pembaca aktif, yaitu selain membaca juga mampu menulis. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Tim Gendis Sewu dan Tim Inti Penulis Dispusip yang terdiri dari para tutor kelas reguler di tingkat


kecamatan, para editor area (Dira), dan para penyunting akhir hingga buku ini terselesaikansecara baik. Buku ini adalah jawaban nyata atas kinerja para petugas TBM se-Kecamatan Tandes yang berkolaborasi dengan SD Muhammadiyah 14 Surabaya. Membangun kota maka perlu disertai 'membangun' manusia di dalamnya. Tentu tidak lah mudah, karena awal membangun seringkali terlihat abstrak, dipertanyakan, atau diragukan. Walaupun begitu, tetap terus 'membangun' karena 'membangun' manusia melalui literasi adalah sebuah investasi jangka panjang untuk kota tercinta kita Kota Surabaya. Salam Literasi. Surabaya, 2023 Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Pudji Astuti, S.T.


DAFTAR ISI 1. Harta Karun 1 2. Tersesat di Hutan 4 3. Rumah Kosong 9 4. Menjelajah Pulau Bawean 14 5. Berkemah 20 6. Pulau Aneh 32 7. Rumah Sakit Berhantu 37 8. Rumah Angker 41 9. Rahasia Gunung Sihir 46 10.Kamping di Hutan 49


1 HARTA KARUN Oleh Rizky Putra R Suatu pagi di kantin SD Muhammadiyah 14 Surabaya, Rizky, Akbar, dan Kevin sedang berbicara tentang peta harta karun yang ditemukan oleh mereka kemarin. "Kevin ... Akbar, bagaimana jika besok kita pergi ke rumahku untuk mencari harta karun yang ada di peta itu," ucap Rizky. "Setuju," jawab Kevin dan Akbar. Lalu bel pun berbunyi mereka bertiga pun masuk ke kelas. Keesokan harinya, mereka bertiga mulai mencari harta karun sesuai dengan pertunjuk di peta. “Menurut petunjuk di peta, sepertinya kita harus mulai berjalan dari lapangan bola di belakang rumah ini," ucap Kevin. "Betul," kata Rizky sembari melihat peta tersebut. "Ayo, kita ke sana!" kata Akbar.


2 Mereka mulai berjalan dari lapangan bola menuju kebun buah milik pak Lurah. "Di sini tertulis kalau kita harus menggali tanah di dekat salah satu pohon pisang," kata Kevin. "Baiklah, ayo kita gali tanahnya," sahut Rizky. Kemudian mereka menemukan kunci yang terkubur di dekat salah satu satu pohon pisang. Setelah menemukan kunci di kebun buah pak Lurah, mereka melanjutkan perjalanan. Namun, di tengah perjalanan, Rizky dan Kevin bertengkar karena memperebutkan peta. Akhirnya peta tersebut sobek, Kevin marah kepada Rizky. Rizky pun tidak terima kalau dia yang disalahkan. Akbar berusaha mencoba menasihati mereka agar saling meminta maaf. Rizky dan Kevin akhirnya saling memaafkan. Mereka pun mencari harta karun bersama. Akbar, Kevin, dan Rizky sudah menemukan dua kunci lagi peta menunjukkan kalau harta karun berada di taman bermain. "Lihat! Ada tanda silang, mungkin harta karun itu ada di sini," kata Rizky.


3 Setelah menggali tanah tempat yang bertanda silang itu, mereka menemukan peti dan membukanya dengan tiga kunci yang mereka temukan. Akhirnya setelah membuka petinya, mereka menemukan lima lembar uang 100.000. Mereka kemudian menggunakan uang tersebut untuk mendanai pembangunan masjid di dekat rumah Rizky.


4 TERSESAT DI HUTAN Oleh Al Arkan Eijaz R Hari sabtu, Ello dan kawan-kawan pergi kamping di Gunung Penanggungan. Udara di sana terasa segar karena masih banyak pepohonan yang rindang. Terdengar suara burung berkicau, serangga berdengung, dan dahan pohon bergoyang tertiup angin. Saat malam hari, Ello, Fadil, Rangga, Yudhi, dan Usman pergi ke hutan rimba. Saat mereka berjalan menuju hutan, ada yang terpisah dari rombongan. Dia bernama Fadhil. Fadhil mencoba mencari kawan-kawannya, tetapi tidak ketemu. Ello dan kawan yang lain merasa khawatir. “Bagaimana kalau Fadhil tidak bisa kembali ke rumah? Orang tuanya pasti sedih,” Ello merasa resah. “Tapi kita tidak boleh menyerah. Kita pasti bisa menemukan Fadhil,” Rangga memberikan semangat. “Ayo, kita jalan lagi mencari Fadhil!” kata Ello.


5 Di tempat yang berbeda, Fadhil terus berjalan sambil mengingat di mana jalan setapak yang tadi dilewatinya. Dia juga memanggil kawan-kawannya. “Ello …! Di mana kamu!” teriak Fadhil. “Usman, Rangga, Yudhi … di mana kalian?” teriak Fadhil memanggil teman-temannya. Fadhil mulai kelelahan setelah berjalan cukup lama. Dia pun istirahat di bawah pohon besar yang rindang hingga tertidur. *** Hari semakin gelap. Yudhi berencana membuat api unggun. Dia yang mempersiapkan tenda sekaligus masak untuk makan malam. Ello, Rangga, dan Usman bertugas mencari ranting kayu kering. Mereka sepakat untuk selalu bersama saat mencari ranting. Mereka juga memberikan tanda agar tahu jalan setapak yang dilaluinya dan tidak tersesat. Ello, Rangga, dan Usman mencari ranting hingga tak terasa terlalu jauh dari tenda. Mereka lelah sekali. Setelah merasa cukup, mereka kembali ke tenda.


6 Di tengah perjalanan kembali ke tenda, Ello putus asa. "Bagaimana kalo kita enggak menemukan Fadhil?" “Jangan menyerah, El! Kita pasti bertemu kembali dengan Fadhil,” kata Yudhi. “Di mana? Ini di tengah hutan, enggak ada orang lain lagi kecuali kita dan keberadaan Fadhil entah ke mana,” kata Ello. “Besok pagi kita cari lagi,” kata Usman. *** Keesokan hari, Fadhil terbangun dari tidurnya. Dia bersiap-siap mencari jalan keluar untuk bertemu kawan-kawannya. Namun, sebelumnya dia memakan bekal yang dibawa. Fadhil melanjutkan pencarian dengan membaca bismallah. Bismillah, doa Fadhil dalam hati. “Semoga hari ini bisa bertemu dengan temanteman,” gumamnya. Baru berjalan beberapa langkah, dari kejauhan Fadhil melihat ada seseorang di sana. Dia


7 mempertajam penglihatannya. Ternyata benar, ada seseorang yang sedang mencari kayu bakar. Bergegas Fadhil menghampiri orang tersebut. Sesampai di dekat orang itu Fadhil bertanya. "Permisi, Pak, ke mana arah menuju pos penjagaan? Saya tersesat dan terpisah dengan teman-teman.” “Oh, adik lewat sini saja lurus. Saya tadi juga melihat ada empat orang pemuda di sebelah sana. Mari berangkat sama-sama, kebetulan kayu yang saya butuhkan sudah banyak,” kata orang itu. "Alhamdulillah, terima kasih, Pak,” kata Fadhil. Akhirnya Fadhil bisa keluar dan bertemu dengan kawan-kawannya lagi. Rasa senang, lelah bercampur aduk jadi satu. “Alhamdulillah, akhirnya kita semua selamat,” kata Ello. “Iya, syukur alhamdulillah,” jawab kawan yang lain. “Ini adalah pengalaman yang tak akan bisa terlupakan,” kata Fadhil.


8 “Fadhil, lain kali kamu jangan memisahkan diri dari kawan-kawan, ya,” kata Usman “Iya, maaf. Saya enggak akan mengulanginya lagi,” jawab Fadhil. Akhirnya mereka semua pulang dalam keadaan bersama-sama dan selamat.


9 RUMAH KOSONG Oleh Zahra Novalia Alvina Pagi itu cuaca sangat cerah, matahari bersinar terang. Ana, seorang gadis cantik sedang tertidur pulas tanpa menghiraukan panasnya cahaya matahari yang menembus jendela kamar. Terdengar suara ketukan pintu. TOK … TOK … TOK …. “Ana, ayo bangun, Nak!” kata ibu di balik pintu kamar mencoba membangunkan Ana. Ana pun mulai terbangun mendengar panggilan suara ibunya. Dia melihat jam yang menunjukkan pukul 06. 45. Ana langsung beranjak dari tempat tidurnya dengan perasaan panik karena terlambat bangun. “Astaghfirullah, aku pasti kena hukuman ini,” gumam Ana. Ana keluar dari kamar tidurnya dengan tergesa-gesa dan langsung pergi ke kamar mandi. Dia panik dan takut dimarahi ayahnya.


10 Setelah mandi dan ganti baju seragam, Ana menuju meja makan untuk sarapan. Ayahnya yang sudah menunggu, memandang Ana dengan wajah yang menunjukkan kemarahan. “Kenapa kamu bangun kesiangan?” tanya ayahnya dengan nada marah. “Maaf, Ayah. Semalam Ana menonton TV hingga larut malam,” jawab Ana jujur dengan rasa takut. Ana pun berangkat sekolah dengan naik sepeda. Kali ini dia mengayuh dengan cukup kencang karena takut gerbang sekolah akan ditutup. Ana melewati kampung yang sepi, maklum karena tinggal di desa yang jauh dari keramaian. Ana melihat rumah yang menurutnya menarik, tetapi sepertinya rumah itu kosong tanpa penghuni. Dia membelokkan sepedanya ke rumah itu karena rasa penasarannya begitu kuat. Rumah itu memang menarik, karena di sana terdapat banyak permainan seperti, ayunan, perosotan, kolam renang, dan masih banyak lagi.


11 Ana memberanikan diri masuk ke dalam rumah tersebut dengan rasa penasaran. Ternyata pintu rumah itu tidak terkunci, Dia takjub dengan bangunan dan isi rumah itu. Bangunan yang terlihat kokoh dan perabotan yang terlihat mewah. “Tapi kenapa aku tidak pernah melihat rumah ini sebelumnya, ya?” gumam Ana. Sambil melihat isi rumah tersebut, Ana ingat kalau harus berangkat ke sekolah. Saat Ana membuka pintu untuk keluar, tetapi langsung tertutup rapat. Dia pun mulai panik dan bercampur rasa takut, berlari ke sana kemari mencari jalan keluar. Semua pintu dan jendela yang ada sudah dia coba untuk membukanya, tetapi usahanya itu siasia. Dia pun mulai lelah dan menyerah. “Ayah … Ibu, tolong Ana. Keluarkan Ana dari sini!” teriaknya sambil menangis. Ketakutan Ana semakin menjadi, saat lampu dirumah itu semuanya mati. Suasana dalam rumah yang gelap dan sunyi membuatnya hampir pingsan.


12 Di tengah rasa takut yang sangat dalam, dia pun mencoba meminta tolong. “Tolong … tolong! Apakah ada orang di luar sana?” teriak Ana meminta bantuan. Terdengar suara memanggil namanya “Ana … Ana, di mana kamu?” Ana yang mendengar suara itu mulai berdiri dan mencari di mana sumber suara itu berasal. “Tolong, Ana di sini!” teriak Ana. Saat dia berteriak sekuat tenaga, rumah itu menghilang. Dia berada di tengah tanah kosong. Ana terus berteriak minta tolong sampai bertemu dengan ayah dan ibunya. Ana berlari dan memeluk kedua orang tuanya sambil menangis. “Ayah … Ibu, maafkan Ana,” ucap Ana sambil terisak-isak. “Ana, kenapa kamu berada di sini, Nak?” tanya ibunya. “Tadi ayah mendapat kabar dari sekolah kalau kamu hari ini tidak masuk sekolah,” kata ayah. “Ana, jangan buat kami khawatir,” ucap ayah.


13 “Maafkan Ana,” ucap Ana. Ana pun menceritakan semua yang dialami sampai berada di tanah kosong itu. Akhirnya mereka pun pulang dengan rasa haru.


14 MENJELAJAH PULAU BAWEAN Oleh Khansa Chariz Fillah Hari ini Sea mau pergi ke desa mama di Pulau Bawean. Sea senang sekali. Sea harus menaiki kapal cepat selama 4-5 jam dari Pelabuhan Gresik, untuk sampai di Pulau Bawean. Di perjalanan, Sea melihat ke arah jendela kapal. Dia melihat banyak sekali kapal besar berwarna warni. Lalu dia berbicara dengan mamanya. "Mama, lihat banyak kapal besar, ada perahu juga," kata Sea. "Wah, iya kapalnya banyak, ya. Itu ada kapal peti kemas juga," sahut mama. "Kapal peti kemas itu apa, Ma?" tanya Sea. "Kapal yang khusus untuk mengangkut barang yang dikemas dalam peti," jawab mama. "Oo ..., jadi kapal itu enggak cuma ngangkut orang saja ya, Ma. Ada barang juga." "Iya, Nak. Itu karena kapal termasuk alat transportasi," jawab mama.


15 Setelah hampir lima jam, Sea dan keluarganya tiba di Pulau Bawean. Mereka sudah ditunggu di dermaga oleh paman dan bibi. Sesampai di rumah Bibi, Sea melihat saudaranya yang sedang bermain, lalu menyapanya. "Hai, Clea!" sapa Sea. "Hai," jawab Clea. "Kamu sedang bermain apa?" tanya Sea. "Aku sedang bermain anak keong ini," jawab Clea. "Kamu mau ikut enggak?" ajak Clea. “Boleh," sahut Sea. Keesokan harinya mereka janjian untuk mandi di sungai yang tidak jauh dari rumah Clea. Di sana ada air terjun yang segar dan tinggi. Mereka sangat senang mandi di air terjun. Selesai mandi, mereka melanjutkan bermain ke sawah lalu mereka berdua duduk santai di batu kali yang sangat besar sambil asik bercerita. "Sejuk banget, ya, di sini," kata Sea.


16 "Iya, biasanya enggak sesejuk ini," sahut Clea. "Oh, ya?" tanya Sea. "Biasanya agak panas kalo di sawah," seru Clea. "Ngomong-ngomong di sini ada tempat bagus lagi enggak?" tanya Sea penasaran. "Ada, tapi jauh," jawab Clea. "Di mana itu?" tanya Sea lagi. "Pulau Noko," jawab Clea. "Apakah itu pantai?" tanya Sea. "Iya,” jawab Clea. “Kayaknya besok kita diajak Ibuku ke Pulau Noko deh," kata Clea. "Wah asik dong, kita bisa main istana pasir di sana!" seru Sea. "Kamu sudah pernah ke sana belum?" tanya Sea. "Sudah," jawab Clea. "Ada apa saja di sana?" tanya Sea. Clea menceritakan semuanya tentang pengalamannya di Pulau Noko. Mereka tidak


17 menyadari hari sudah semakin sore, Sea dan Clea langsung bergegas pulang ke rumah. *** "Ayo, bangun, Sea! Katanya mau ke Pulau Noko,” ajak Clea. "Em, iya-iya aku bangun ini," jawab Sea yang masih mengantuk. Setelah sarapan dan berkemas, mereka menuju Pulau Noko dengan naik motor. Setelah naik motor mereka masih harus menaiki perahu lagi sekitar 20 menit. Saat perjalanan menuju pulau Noko, di tengah laut Sea dan Clea melihat karang-karang yang sangat cantik dan besar Selain itu Sea dan Clea melihat ikan-ikan mungil yang lucu. Sampai di Pulau Noko, mereka langsung bermain pasir dan melihat seekor kepiting kecil berwarna putih. “Aku tidak pernah melihat kepiting seperti ini, apa kamu tahu itu jenis kepiting apa?” tanya Sea. “Tidak,” jawab Clea singkat.


18 Mereka berdua mencoba menangkap kepiting itu tapi kepiting itu sangat gesit dan kecil jadi susah untuk menangkapnya. Karena lelah menangkap kepiting mereka lebih memilih menangkap bayi siput yang terletak di bawah air, mereka dapat banyak sekali siput dan kerang yang cantik dan bersinar. Mereka tampak kelelahan bermain bersama. Akhirnya, mereka berhenti untuk makan lobster dan minum air kelapa yang sudah disiapkan dari rumah bibi untuk bekal makan, menjelang sore mereka kembali ke rumah Clea. Setelah tiga hari berada di Pulau Bawean, Sea mau pulang ke Surabaya. Clea memberikan bayi siput dan beberapa oleh-oleh dari Pulau Bawean sebagai kenang-kenangan, Sea mengucapkan terima kasih kepada Clea. "Semoga kamu suka bayi siputnya, ya," kata Clea. "Dada Clea, sampai bertemu lagi," ucap Sea. Sea tampak sedih ketika akan kembali ke Surabaya karena Sea merasa senang sekali berada


19 di Pulau Bawean, banyak petualangan bersama Clea yang membuatnya betah berlama-lama di Pulau Bawean.


20 BERKEMAH Oleh Amira Malia Mardha Pada pagi hari yang cerah, ada seorang gadis kecil yang bernama Rine baru saja terbangun dari tidurnya. Dia bergegas untuk mandi dan pergi sekolah. Saat jam pelajaran, Ibu Guru menjelaskan dan mengatakan bahwa sekolah akan mengadakan kemah. "Ayo, semua persiapkan diri kalian," ucap Bu Guru. Bel istirahat pun berbunyi, Rine dan temantemannya pun bergegas pergi ke kantin. "Rine!" ucap salah satu anak. Ternyata itu Hasya, sahabat baik Rine. "Hai, Hasya ada apa?" tanya Rine. "Ayo, pergi ke kantin bareng!" ajak Hasya. Mereka berdua bergegas menuju kantin. Di sana mereka membahas banyak hal. "Rine, kamu minggu depan ikut kemah?" tanya Hasya.


21 "Ikut kok," jawab Rine. "Wah seru, nanti kita harus bareng-bareng terus ya," kata Haya. Hari demi hari berlalu, Rine telah menyiapkan barang-barangnya dengan rapi dan lengkap. "Sip, sudah lengkap semua, tinggal berangkat," ucap Rine kegirangan. Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Rine sedang berada di sekolah menunggu temantemannya datang. "Hai Hasya," sapa Rinne. "Halo Rine," balas Hasya. Mereka duduk menunggu bus untuk pergi ke tempat berkemah. Mereka berdua sangat senang, karena ini kali pertama mereka berkemah bersama. "Aku harap semuanya akan berjalan baikbaik saja, ya, Rine," ucap Hasya. "Aamiin," sahut Rine. Mereka tiba di lokasi, mereka sangat kagum karena tempatnya sangat indah dan sejuk. "Rine, Hasya ayo ke sini," pinta Bu guru.


22 Mereka pun berlari ke arah Bu Guru untuk mendirikan tenda bersama-sama. Lalu ada suara keras, Rine dan Hasya pun kaget dan mencari tau dari mana suara itu berasal ternyata suara itu berasal dari Toa, ada Pak Guru yang sedang siap-siap menerangkan peraturan. "Anak-anak semuanya, hari ini kita sedang berada di hutan untuk mengadakan acara kemah. Pak Guru akan menjelaskan tata cara yang harus di patuhi oleh kalian semua," himbau Pak Guru. "Jadi anak-anak akan dibagi menjadi kelompok yang berbeda-beda dan setiap kelompok ada kakak-kakak pembina yang akan mendampingi kalian," ucap Pak Guru. Rine dan Hasya mendapatkan kelompok yang anggotanya tidak mereka kenali, yaitu Kayra dan Naifa. Mereka satu angkatan dengan Rine dan Hasya, tapi tidak sekelas. Jadi mereka belum terlalu akrab satu sama lain. Lalu yang ketiga ada Kevin, dia adalah adik kelas Rine dan Hasya. Mereka pun berkenalan dan mulai akrab satu sama lain.


23 Seorang kakak pembina pun ikut bergabung, namanya Nio atau dipanggil kak Nio. Dia sangat baik, pintar dan pemberani. "Adik-adik, kita akan mulai berpetualang mengelilingi hutan ini pada besok pagi, ya" ucap kak Nio. “Siap, Kak,” jawab mereka serempak dan kompak. “Kak Nio lalu berpesan, tetap jaga diri kalian agar tidak terjadi kendala yang tidak diinginkan. “Baik, Kak,” jawab mereka serempak. Pagi hari telah tiba, Rine, Hasya, Kayra, Naifa, dan Kevin pun bersiap-siap untuk bertualang di hutan. Mereka keluar dari tenda masing-masing dan mulai mencari keberadaan kak Nio. Mereka tidak menemukan keberadaan kak Nio. Akhirnya mereka menunggu hingga acara petualangan dimulai. "Maaf ya, Kakak baru datang. Terdengar suara dari kejauhan,” ternyata itu kak Nio. "Eh, Kak Nio. Iya tidak apa-apa, Kak," balas Hasya.


24 Mereka pun mulai berjalan. Tidak lama kemudian terdengar suara. "Aduh, aku lupa membawa air minum," kata Kayra. "Kamu gimana sih, kok bisa lupa bawa air minum," kata Naifa. "Maaf ya, aku kelupaan.” "Tidak apa-apa kok, Kayra. Nanti ambil minumku aja," ucap Hasya. Mereka mulai berjalan kembali. "Adik-adik, kali ini Kakak akan mengenalkan kalian tentang hutan ini,” kata kak Nio. "Nah, nama hutan ini adalah, Hutan Canggah." Semua anak-anak pun mendengarkan. "Hati-hati karena hutan ini termasuk hutan yang penuh dengan semak belukar, jadi kalian tetap waspada. Jangan sampai tersesat, ya," kata kak Nio memberi penjelaan. "Baik, Kak," semua menjawab dengan antusias.


25 Mereka kemudian diberi peta untuk bisa menjalani rintangan di Hutan Canggah ini. Saat mereka berjalan, Kevin yang ada di belakang mereka menghilang. "Kak Nio, Kevin hilang," ucap Rine. "Duh, di mana ya, Kevin?" tanya Kayra. Semua teman-teman panik dan mulai mencari Kevin. "Adik-adik, jangan berpencar dulu. Ayo, kita cari Kevin bersama-sama!" seru Kak Nio. Mereka berjalan balik dan mencari Kevin, lalu terdengar suara teriakan. "Kak Nio, aku di sini," teriak Kevin. "Eh, itu kayak suara Kevin, ya?" kata Hasya, Mereka mulai mencari di mana keberadaan Kevin. Naifa memiliki ide. "Gimana kalau kita berpencar?" kata Naifa. “Boleh,” sahut Kayra. "Jangan! Nanti kalian bisa tersesat," ucap Rine. "Enggak bakal kok," kata Naifa menyangkal perkataan Rine.


26 "Kalian tunggu sini dulu, ya. Kakak akan mencari Kevin." "Iya, Kak," jawab mereka. "Eh, aku izin pergi kesana sebentar, ya," kata Naiafa. "Hati-hati, ya. Jangan jauh-jauh," pesan Hasya. Mereka menunggu beberapa lama dan akhirnya Kevin pun datang. "Huh, untung saja Kevin ketemu," kata teman-teman. "Iya, maafkan aku, ya," kata Kevin. Tanpa dia sadari, Naifa dan Kayra menghilang juga. Mereka pun kebingungan karena tidak tahu di mana Naifa dan Kayra, ditambah lagi tidak ada kak Nio. "Kevin, kamu tahu di mana Kak Nio?" tanya Hasya. "Aku tidak tahu. Tadi Kak Nio bilang ingin pergi sebentar karena ada yang memanggilnya dan aku diarahkan untuk datang ke sini," ucap Kevin.


27 "Naifa dan Kayra menghilang, bagaimana ini?" Kata Hasya. "Ayo, kita cari, Hasya. Kasian mereka tersesat," ajak Rine. Rine dan Hasya lupa dengan perkataan kak Nio tadi untuk tetap berada di tempat. Mereka pun pergi dan menyuruh Kevin untuk menunggu karena tadi Naifa meminta izin ke tempat yang dekat. Mereka terus mencari, tetapi tidak ketemu. Mereka bingung karena tempatnya yang sangat rumit. "Aduh Rine, bagaimana cara kita kembali? Kayra dan Naifa juga tidak kunjung ketemu," tanya Hasya. "Jangan panik Hasya! Kita punya peta. Ayo, coba kita cari jalan keluarnya," ajak Rine Mereka pun mengikuti petanya dan terdengar suara. "Rine, aku takut, suara apa itu?" tanya Hasya. Rine tidak berani menjawab dan mencoba untuk menarik Hasya untuk berjalan sedikit cepat. Mereka berdua kembali mendengar suara yang


28 aneh berasal dari pepohonan kering yang berjatuhan. Rine dan Hasya memberanikan diri untuk melihat ke belakang. Dia melihat seekor ular yang besar. Mereka kaget dan berlari terbirit-birit. Mereka takut ular itu akan menggigit. Rine berlari sangat cepat Hasya hampir saja tertinggal. "Rine, tunggu aku," Hasya kembali berlari dan akhirnya mereka kembali bergandeng tangan. "Huh, capek banget, ya, Hasya." "Iya, Rine." Mereka berdua mendengar suara. "Rine, Hasya, Naifa, Kayra di mana kamu?" Itu seperti suara kak Nio dan Kevin. Mereka berlari dan akhirnya bertemu. Mereka kembali bersama, tetapi hanya tertinggal Naifa dan Kayra. Kak Nio mendapatkan laporan dari walkie talkie-nya. "Nio, ini ada dua anak bernama Naifa dan Kayra yang sedang tersesat tadi. Kita telah membawanya ke tempat pusat perkemahan," jelas kakak pembina itu.


29 Kak Nio pun lega karena mengerti bahwa Naifa dan Kayra sudah ditemukan. Mereka berjalan dan akhirnya sampai ke pusat perkemahan. "Aduh, capek banget," kata Kevin. "Iya, sama," sahut Rine dan Hasya. Rine dan Hasya menceritakan semuanya kepada kak Nio dan teman-temannya. “Syukurlah kalian semua baik-baik saja. Kakak juga ingin meminta maaf karena tidak mengurus kalian dengan baik," kata kak Nio. "Kak, Kayra juga minta maaf karena sudah egois dan tidak memikirkan kalian. Maafkan Kayra, ya teman-teman," kata Kayra. Semuanya saling meminta maaf, kecuali Naifa. "Kalian lebay banget sih," ucap Naifa. "Naifa kamu enggak boleh seperti itu, jangan egois," kata Hasya. Naifa pergi begitu saja dengan rasa tidak peduli. Akhirnya mereka kembali ke tenda masingmasing dan berkemas untuk pulang.


30 Sorenya, semua murid sudah siap untuk pulang bersama. Namun, ada Naifa yang datang dan mengatakan. "Teman-teman maafkan aku, ya. Aku sudah egois dan tidak peduli dengan kalian. Setelah aku renungkan semua yang aku lakukan adalah hal yang salah," kata Naifa menyesal. "Iya, tidak apa-apa Naifa, tetapi kamu juga harus meminta maaf kepada Kak Nio juga," Ucap Hasya. Mereka semua mencari Kak Nio dan Naifa mengungkapkan rasa bersalahnya. "Tidak apa-apa Naifa, Kak Nio harap kamu harus selalu sadar atas kesalahanmu dan tidak boleh egois," pesan Kak Nio. "Iya, Kak. Naifa tidak akan seperti itu lagi," balasnya. Mereka semua memaafkan Naifa. Tidak lama kemudian acara kemah ini selesai dan mereka harus berpisah dengan Kak Nio. "Dada … Kak Nio, terima kasih ya atas semua bimbingannya," kata mereka.


31 "Iya, jangan lupain Kak Nio, ya dan selalu semangat," jawab kak Nio. Mereka pun saling mengucapkan salam dan semua berangkat untuk kembali ke rumah. Mereka akhirnya berteman dekat dan saling bercerita bahwa berkemah itu ternyata seru. Namun, juga ada banyak hal yang bisa di pelajari dari sana mulai dari kebersamaan, kemandirian, saling peduli, dan melatih keberanian. Mereka selalu mengingat kak Nio dan semua ajarannya. Terima kasih kepada Allah Swt. karena telah diberikan waktu untuk bisa merasakan hal baru dan juga mendapatkan teman baru.


32 PULAU ANEH Oleh Citra Arum Anggraeni Dua anak perempuan bernama Serina Myra dan Serena Myra sedang berlibur. Mereka berdua adalah saudara kembar. Mereka dipanggil Rina dan Rena. Ada cara untuk mengetahui dan membedakan mereka. Cukup gampang karena mereka berdua memiliki kalung. Ri, huruf yang tertulis pada kalung Rina. Sedangkan Re adalah huruf yang tertulis pada kalung Rena. Mereka berlibur di kapal pesiar yang sangat besar karena papa dan mamanya memberikan hadiah atas prestasi yang diraih keduanya, yaitu juara peringkat I di kelas. Rina dan Rena duduk di bangku kelas IV, mereka berdua sekolah di SD Cempaka, sekolah yang sangat terkenal di Kota Tellil. Rina duduk di bangku kelas IV A, sedangkan Rena duduk dibangku kelas IV B. Meskipun mereka berdua kembar, tetapi memiliki perbedaan. Rina seorang anak yang kutu buku dan pemberani, sedangkan Rena anak yang


33 hobi berolah raga dan penakut. Walaupun mereka berbeda hobi dan sifat, tetapi sama-sama pintar pelajaran IPA dan matematika. Mereka menyukai kaca mata hitam dan juga berpetualang. Hari Minggu adalah hari yang sangat ditunggu oleh setiap orang, tak terkecuali buat Rina dan Rena. Mereka menghabiskan hari Minggu dengan pergi ke suatu tempat. Setelah salat Subuh, mereka keluar dari kamar nomor lima dengan memakai blus biru dengan tulisan ‘Hawaii’. Mereka juga memakai leging hitam polos, anting putih, dan gelang bertuliskan ‘holiday’. Mereka berdua sangat cantik. Rina dan Rena langsung berangkat menuju lokasi yang dikehendaki. Tempat itu tidak jauh dari tempat mereka menginap. Setelah sampai, Rina dan Rena makan di sebuah restoran mewah. Mereka memesan es teh, sandwich, dan salad. Mereka tidak sabar untuk menikmatinya. Beberapa menit kemudian makanan yang mereka pesan telah datang di meja makan. Sambil menikmati makanan, mereka juga menikmati


34 pemandangan laut karena restoran tempat mereka makan berada di tepi pantai. Sepasang lumba-lumba melompat dengan lincah. Beberapa penumpang kapal memberikan ikan salmon kepada lumba-lumba tersebut, dan lumba-lumba itu tampak senang. Itu merupakan beberapa pemandangan yang menghiasi mereka berdua. Tak kalah dengan yang lainnya, Rina dan Rena juga ikut memberikan ikan salmon kepada lumba-lumba. Lima menit kemudian ada seorang anak tidak sengaja mendorong Rina dan Rena, sehingga mereka berdua jatuh ke tepi pantai. Melihat hat tersebut papa dan mama melihat dari kejauhan tampak begitu senang. Rina langsung bergegas naik kapal dan segera menarik lengan Rena. Kapal yang mereka naiki bergerak menuju ke sebelah utara pantai. Rupanya kapal itu membawa mereka ke sebuah pulau kecil. Setelah sampai, Rina dan Rena turun dari kapal itu dan melihat sebuah rumah panggung yang cukup besar.


35 “Yuk, kita masuk ke rumah itu, Rin!” ajak Rena. Tanpa menjawab ajakan Rena, Rina langsung masuk ke dalam sambil mengeluarkan kamera miliknya diikuti langkah kaki Rena. Betapa terkejutnya mereka setelah tahu isi di dalam rumah itu. Rumah yang memiliki tiga ruangan yang cukup besar, yaitu kamar tidur, kamar mandi, dan dapur. Semuanya lengkap beserta isi perabotannya. “Aku lapar nih,” kata Rena memegang perutnya, “Ayo, kita lihat di dalam kulkas, siapa tahu ada makanan,” ajak Rina. Ternyata di dalam kulkas tidak ada makanan apa pun, yang ada hanya sebuah kertas bertuliskan selamat menikmati liburan di Pulau Adventure. Mereka bebas melakukan apa pun di pulau itu. Tidak berlama-lama, mereka berdua mengelilingi pulau itu untuk mencari makanan. Beberapa jam kemudian mereka pergi memancing di danau. Tidak sengaja mereka bertemu dengan temannya.


36 “Bagaimana kalian bisa berada di pulau ini?” tanya William. “Kapal yang kami tumpangi telah membawa kami di pulau ini,” jawab Rena. “Ya sudah kalau begitu setelah memancing kita jalan-jalan menikmati indahnya pulau adventur ini,” ajak William. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, seharian mereka menghabiskan waktu bersama untuk berpetualang di pulau adventure. “will, kami pulang dulu ya, sudah sore. Papa dan mamaku sudah menunggu,” kata Rina. Mereka berdua pergi meninggalkan pulau itu dan sahabatnya untuk pulang kembali kerumah.


37 RUMAH SAKIT BERHANTU Oleh Nirwana Bilqish Nawla W Pada suatu hari, Toni ingin bermain bersama temantemannya. Toni berangkat mengayuh sepedanya menjemput Fadilah. Toni dan Fadilah pergi ke rumah Nanda, ternyata di rumah Nanda ada Nabila juga. “Wah, kebetulan sekali ada Nabila juga,” ucap Toni. “Kita main ke taman yuk, kalau berempat jadi seru nih,” ajak Fadilah. Mereka pun berangkat bersama ke taman bermain yang dekat dengan rumah Nanda. Setiba di taman bermain, Nanda langsung bermain ayunan. Mereka semua mulai memilih mainan yang ada di taman bermain. Saat semua asyik bermain, Toni mendapat ide. “Teman-teman, ayo kita masuk ke sana!” ajak Toni sambil meunjuk sebuah gedung di dekat taman.


38 Gedung itu adalah gedung bekas bangunan rumah sakit yang sudah lama kosong. “Wah, keliatannya seru kalau kita masuk ke sana,” Ucap Nanda. “Kalian ini ngomong apa sih? Gedung itu sudah lama kosong. Apa kalian tidak takut?” ucap Fadilah mengingatkan. “Ah, bilang saja kalau kamu takut, Dil,” ejek Toni. “Bukan masalah takut apa tidak Ton, kita tidak boleh sembarangan memasuki suatu gedung,” kata Nabila menasihati. “Kalian tunggu saja disini kalau memang kalian penakut!” kata Toni. Kemudian Toni dan Nanda masuk gedung tersebut. Gedung itu gelap karena sudah lama kosong, Toni dan Nanda masuk dari salah satu pintu rumah sakit yang memang sudah terbuka dan pintunya rusak. Mereka berdua berkeliling dalam gedung itu. “Nan, kok kita sepertinya hanya berputarputar saja, ya,” kata Toni.


39 Mereka mulai tersadar kalau tidak bisa keluar dari gedung itu. Nanda mulai ketakutan. “Waduh, gimana ini kita tidak bisa keluar,” rengek Nanda. “Iya Nan, gimana ini kalau kita tidak bisa keluar?” Kita akan di sini selamanya,” keluh Toni sambil ketakutan. Fadilah dan Nabila mulai khawatir dengan kedua temannya yang lama tidak keluar dari gedung kosong tersebut. “Gimana ini, Dil. Tono dan Nanda kok lama sekali di dalam, ini sudah mau magrib,” ucap Nanda khawatir. “Apa kita cari saja ya, Bil. Aku takut mereka tersesat,” kata Fadilah. “Baiklah, aku ambil senter dulu ditrumah,” ucap Nabila sambil berlari mengambil senter di rumahnya. Fadila dan Nabila akhirnya masuk ke gedung tersebut dengan berbekal senter. “Toni, Nanda, kalian di mana?” teriak Fadilah.


Click to View FlipBook Version