The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bertualang merupakan hal yang menyenangkan bagi sebagian besar orang. Petualangan itu sendiri dapat menghilangkan kepenatan dalam hidup. Ada banyak cara dilakukan orang yang suka bertualang. Ada yang suka mendaki gunung, menjelajah hutan, menelusuri sungai atau rawa, dan masih banyak lagi. Banyak sekali keseruan kisah petualangan yang ada di buku ini.
Buku ini menyuguhkan kumpulan cerita pendek para bibit penulis Gendis Sewu dari SD Muhammadiyah 14 Surabaya hasil dari pendampingan petugas Taman Baca Masyarakat se-Kecamatan Tandes.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tbmtandessurabaya, 2024-01-27 02:53:27

aPETUALANGAN SERU

Bertualang merupakan hal yang menyenangkan bagi sebagian besar orang. Petualangan itu sendiri dapat menghilangkan kepenatan dalam hidup. Ada banyak cara dilakukan orang yang suka bertualang. Ada yang suka mendaki gunung, menjelajah hutan, menelusuri sungai atau rawa, dan masih banyak lagi. Banyak sekali keseruan kisah petualangan yang ada di buku ini.
Buku ini menyuguhkan kumpulan cerita pendek para bibit penulis Gendis Sewu dari SD Muhammadiyah 14 Surabaya hasil dari pendampingan petugas Taman Baca Masyarakat se-Kecamatan Tandes.

40 Sambil berkeliling gedung Nabila dan Fadilah memanggil nama temannya. Setelah lima belas menit akhirnya Toni menjawab panggilan Fadilah dan Nabila. “Fadilah, kami di sini,” teriak Toni menjawab panggilan temannya sambil berlari ke arah sumber suara. Akhirnya mereka berempat bertemu. Mereka mencari jalan keluar bersama-sama.


41 RUMAH ANGKER Oleh Alfinna Nurica Utami Pada suatu sore, Sinta, Rina, Dino, dan Alung bermain bersama. Mereka bermain petak umpet, lompat tali dan lainnya. Menjelang magrib Rina mengajak teman-temannya untuk pulang. "Teman-teman ayo pulang, sudah mau magrib nih. Ingat kata orang tua kita harus pulang sebelum maghrib," ajak Rina. "Bentar lagi Rin, lagi nanggung nih," jawab Dino. "Iya Rin, bentar lagi lah," Sinta dan Alung menjawab bersamaan. Mereka pun melanjutkan permainan hingga terdengar suara azan maghrib. "Udah magrib tuh ayo pulang," ajak Rina lagi. Mereka akhirnya berjalan pulang. Saat di tengah perjalanan Alung mengajak lewat jalan tikus. Kata Alung jalan tersebut bisa lebih cepat sampai ke rumah mereka. Sinta, Rina dan Dino pun mengikuti ajakan Alung.


42 Mereka berjalan sambil bercanda dan tertawa, padahal suara adzan Magrib masih terdengar. Mereka melewati sebuah rumah yang sangat besar, namun sepertinya tidak terawat. Ada dua pohon beringin besar di depan rumah itu. "Teman-teman kita lihat rumah itu yuk, sepertinya seru," ajak Dino. "Ah, enggak mau Din. Rumahnya serem gitu," jawab Rina. "Tapi sepertinya seru loh, kamu gimana Sinta? "Tanya Alung. "Iya sepertinya seru, ayo lah Rin ikutan juga, enggak seru deh kalau kamu enggak ikut," rengek Sinta. Rina pun memutuskan ikut teman-temannya masuk rumah menyeramkan itu.Saat Dino mencoba membuka pintu rumah itu, ternyata pintunya tidak terkunci. Dino membuka pintu perlahan . Alung, Rina dan Sinta mengikuti di belakang Dino. Tiba-tiba ada seekor tikus terjatuh dari langitlangit. Rina dan Sinta berteriak ketakutan.


43 "Tenang teman-teman itu cuma tikus," kata Alung menenangkan. "Udah yuk pulang, ini sudah lewat magrib, nanti kita dicari orang tua kita," kata Rina sedikit merengek. "Halah bilang aja Rin kamu ketakutan garagara tikus," kata Dino mengejek. Mereka terus menyusuri rumah itu. Di dalamnya masih banyak perabotan namun tidak terurus, penuh debu dan juga kotor. Tiba-tiba muncul sosok bayangan hitam besar di depan mereka. Mereka pun berteriak dan lari berbalik arah ketakutan. Sinta dan Dino ke arah kiri, sedangkan Alung dan Rina ke arah kanan. Rina menangis ketakutan, Alung menenangkan Rina. "Ayo Rin, kita jalan pelan-pelan sambil mencari pintu keluar," ajak Alung. “Rina mengangguk sambil mengusap air matanya.” Saat Alung dan Rina mencari jalan keluar mereka bertemu lagi dengan Dino dan Sinta.


44 Sinta memarahi Dino karena mengajak mereka masuk ke rumah ini. Namun Dino tak mau disalahkan karena mereka juga setuju. "Sudah teman-teman jangan bertengkar, kita sebaiknya segera mencari pintu keluar," kata Alung menengahi. Dino dan Sinta saling melirik sinis. Sedangkan Rina masih berusaha menahan tangis. Setelah beberapa saat berjalan, mereka akhirnya menemukan pintu keluar. Namun tak disangka pintu tersebut tidak bisa dibuka. Dino dan Sinta kembali ribut saling menyalahkan. Rina sudah tidak kuat menahan tangis, dan akhirnya menangis dengan keras. "Ayo teman-teman kita berdoa, agar Allah menolong kita," kata Alung berusaha menenangkan teman-temannya. Mereka pun membaca doa bersama, membaca ayat kursi dan surat-surat yang lain. Setelah selesai berdoa, lalu mencoba kembali membuka pintu itu. Kali ini pintu itu berhasil terbuka.


45 Mereka pun mengucap syukur alhamdulillah. Mereka segera keluar dari rumah itu. Saat sudah beberapa meter berjalan, mereka menengok lagi ke rumah itu. Mereka melihat lagi sosok bayangan hitam besar itu di depan rumah itu. Mereka pun segera berlari menjauh. "Teman-teman, maafin aku ya karena sudah mengajak kalian masuk ke rumah itu," kata Dino menyesal. "Aku juga minta maaf karena tadi marahmarah ke kamu Din," sahut Sinta. Mereka pun saling memaafkan, mereka juga menyesal karena tidak langsung pulang menjelang magrib.


46 RAHASIA GUNUNG SIHIR Oleh Rifqi Azzam Suatu hari, Adi, Edo, dan Lani pulang sekolah bersama. Mereka selalu melewati gunung. "Eh, lihat gunung itu!" tunjuk Adi. Edo dan Lani melihat gunung yang ditunjuk Adi. "Sepertinya seram," kata Edo bergidik. "Ah, itu ketakutanmu saja, mana ada gunung seram," sahut Lani. "Ayo, kita ke sana dan mendaki gunung itu!" ajak Adi. "Ayo, siapa takut!" sahut Lani. Mereka akhirnya mendaki gunung itu. "Eh teman-teman lihat!" kata Edo terkejut. "Ada apa, Edo?" tanya Lani. "Di sini tertulis ‘selamat datang di gunung sihir’," kata Edo Mereka masih penasaran dan terus mendaki. Akhirnya mereka sampai di puncak gunung. "Hai, teman-teman lihat ada rumah!" seru Adi.


47 "Sangat menyeramkan," kata Edo. "Sedikit menyeramkan sih," sahut Lani. "Ayo, kita masuk!" ajak Adi dengan semangat. Mereka masuk ke dalam rumah itu. "Sepertinya rumahnya kosong,” kata Lani. "Sudah kubilang ‘kan rumah ini kosong kamu saja yang takut, "kata Adi. Adi berpikir untuk pulang, tetapi secara mengejutkan ada bayangan melintas. "Teman-teman!" suara Edo bergetar. "Ada apa, Do?" tanya Lani. "Ada hantu!” teriak Edo. Mereka melihat bayangan itu. Adi membacakan ayat-ayat Al-qu’ran dan yang lain ikut membaca. Tak lama akhirnya bayangan itu pergi dari gunung sihir. "Horeee! Kita mengalahkannya," teriak Lani girang. “Ada untungnya juga aku mengaji dan menghapal surat pendek,” kata Adi.


48 Akhirnya mereka turun dari gunung dengan selamat dan kembali pulang ke rumah masingmasing.


49 KAMPING DI HUTAN Oleh M. Dzakwan F.S Sabtu pagi Dila dan teman-temannya sedang berkumpul dan mengobrol bersama, Dila mengajak untuk kamping di hutan, “Hai, teman-teman. Nanti sore pulang kerja Ayahku akan kamping di hutan,” ucap Dila “Wah, aku ikut dong, Dila,” kata temanteman. “Oke, teman-teman kalian semua boleh ikut aku,” jawab Dila. “Kalau begitu sekarang kita siapkan barang bawaan untuk keperluan di sana,” kata Dila. Sabtu sore yang dinanti telah tiba, mereka bersiap untuk berangkat menuju ke hutan bersama orang tua Dila. Tak terasa 45 menit berlalu mereka telah sampai di tujuan. "Wah … indah banget," seru teman-teman. "Iya ini ‘kan ciptaan Tuhan," sahut Dila. Orang tua Dila sedang membuat tenda untuk mereka. Dila meminta tolong kepada teman-


50 temannya untuk mencari kayu bakar, tetapi Salsa tidak tahu jalan. “Teman-teman, aku minta tolong ya kepada kalian,” kata Dila. "Apa, Dila?" tanya Salsa. “Minta tolong carikan kayu bakar ya buat api unggun nanti malam," pinta Dila. “Tapi aku tidak tahu jalan,” kata Salsa. “Tidak apa-apa kamu bisa bareng sama teman-teman,” jawab Dila. Saat teman-teman mencari kayu bakar Salsa terpisah dari teman-teman dan tersesat. "Aduh!” Aku tersesat, bagaimana ini, ya?" gumam Salsa. Teman-teman sudah kembali dengan membawa kayu bakar, tetapi mereka hanya bertiga. “Hai Dila, kita semua sudah kembali,” kata teman-teman. “Kalian kok cuma bertiga, dimana Salsa?” tanya Dila. "Enggak tahu Salsa kemana," jawab temanteman.


51 Sementara di dalam hutan Salsa masih kebingungan dan akhirnya Salsa punya ide. “Aku harus ambil daun di pohon dan menyalahkan api dengan begitu muncul asap dan teman-teman pun tahu,” gumam Salsa. Dari kejauhan teman-teman Dila pun melihat asap yang dibuat oleh Salsa. "Dila lihat di sana ada asap," kata temanteman. "Wah, iya. Ayo, kita ke sana!" ajak Dila. “Itu ‘kan Salsa,” kata Dila menunjuk ke arah Salsa. “Salsa akhirnya kamu ketemu juga,” seru teman-teman. Akhirnya Dila dan teman-temannya menemukan Salsa. "Kamu tidak apa-apa ‘kan?" tanya Dila. "Iya, aku tidak apa-apa. Ayo, Dila kita kembali," ajak Salsa. Akhirnya Dila dan teman-temannya pun berkumpul kembali.


52


Click to View FlipBook Version