The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by , 2017-02-11 00:16:51

Jurnal maret 2016 full.compressed

Jurnal maret 2016 full.compressed

terhadap Allah, diri sendiri, sesama 3)Mengembangkan pemikiran d

umat dan lingkungannya. yang selaras dengan keyaki

3) Mengembangkan pemikiran dan dalam kehidupan sebaga

akhlak mulia dalam kehidupan masyarakat, warga Negara, d

sebagai warga masyarakat, warga dunia.

Negara, dan warga dunia. 4)Mengantarkan mahasiswa

4) Mengantarkan mahasiswa mampu bersikap rasional dan dinam

bersikap rasional dan dinamis mengembangkan dan mem

dalam mengembangkan dan IPTEKS dengan menjadikan aj

memanfaatkan IPTEKS serta sebagai landasan berpi

menjadikan ajaran Islam sebagai berperilaku dalam peng

landasan berpikir dan berperilaku keilmuan dan profesi.

dalam pengembangan profesi. 5)Membimbing mahasiswa

5) Membimbing mahasiswa untuk mengembangkan pemikira

mengembangkan pemikiran dan penalaran yang benar dan kr

penalaran yang benar dan kritis memahami berbagai masalah

dalam memahami berbagai masalah menyikapinya dengan perspek

actual dalam perspektif Islam dan

merumuskan solusi-solusi serta

menjadikan ajaran Islam sebagai

atau alternative dengan tetap

mengedepankan kearifan dan

kesantunan.

Berdasarkan pada rumusan capaian pembelajaran PAI tersebut,
maka sesungguhnya pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama
Islam memiliki peranan yang sangat penting dalam mencetak
lulusan-lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya memiliki
kemampuan dan keahlian dalam bidang keilmuannya atau
profesinya, melainkan juga berkepribadian islami dalam
menjalankan dan mengembangkan keilmuan serta profesinya.
Pernyataan ini adalah dapat diverifikasi setidaknya dalam
keputusan direktur jendral pendidikan tinggi no 43 tahun 2006
pada pasal tiga ayat 2 poin a.17

17 Pasal 3 tentang Kompetensi Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian
(MPK) ayat (2) Kompetensi dasar untuk masing-masing matakuliah, kemudian pada poin
(a) tentang pendidikan agama ialah menjadi ilmuwan dan profesional yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan memiliki etos kerja, serta
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan. Lampiran Keputusan Direktur
Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor:
43/Dikti/Kep/2006, Op.Cit.

45

Pendidikan Islam dan Modernitas

b. Penyusunan Silabus atau Rencana Perkuliahan Semester
Pendidikan Agama Islam

Silabus atau dalam lingkungan perguruan tinggi dikenal sebagai
rencana perkuliahan semester (RPS) merupakan sebuah deskripsi
matakuliah yang berisi penjabaran materi-materi identitas
matakuliah, tujuan malakuliah, uraian materi. pendekatan
pembelajaran, media, evaluasi hasil belajar, dan referensi yang
digunakan. Keberadaan RPS tersebut mejadi sebuah acuan
pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas oleh
dosen.
Dari penelitian yang sudah dilakukan di Universitas Brawijaya dan
Universitas Negeri Malang bahwa pelaksanaan pembelajaran PAI di
kelas berpatokan pada RPS yang telah disusun dan disepakati oleh
Koordinator PAI dan dosen-dosen PAI dalam rapat internal yang
kemudian digunakan untuk semua fakultas dan jurusan. Semua
jurusan yang mendapatkan matakuliah PAI disemesternya
menggunakan RPS yang sama dengan ketentuan dosen-dosen PAI
berhak melakukan pengembangan dan inovasi sendiri dari RPS
yang ada, termasuk pengembangan pembelajaran PAI yang
bersangkutan dengan term keilmuan mahasiswa difakultasnya.
Proses penyusunanRPS Pendidikan Agama Islam yang dilakukan
oleh kedua situs penelitian tersebut sebagaimana dari hasil
penelusuran peneliti baik dari hasil wawancara ataupun analisis
dokumen RPS, bahwa penyusunan RPS yang dilakukan adalah
berdasarkan pada substansi kajian pokok matakuliah pendidikan
agama yang terdapat dalam SK DIKTI tahun 2006 dan kemudian
dikembangkan dengan penambahan materi kajian keislaman
lainnya yang berdasar atas sebuah analisis kebutuhan pembahasan
persoalan-persoalan keislaman kontemporer terus berkembang di
masyarakat nasional maupun global. Dengan adanya
pengembangan tersebut diupayakan adanya sebuah pemahaman
mahasiswa tentang perkembangan dunia keislaman kontemporer
yang dihadapinya sekarang atau di masa mendatang.
Bahwa setiap dosen yang mengajar PAI berusaha memberikan
materi-materi keislaman yang lebih mendalam terkait dengan term
keilmuan mahasiswa adalah sebuah upaya pengintegrasian Agama
dan ilmu umum yang dipelajari mahasiswa. Sehingga selain
pembelajaran PAI tersebut dapat berjalan relative lebih
menyenangkan bagi mahasiswa karena diajak berbicara materi-
materi Islam dengan perspektif keilmuannya juga merupakan

46

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

sebuah usaha memberikan landasan agama bagi mahasiswa dalam
mengembangkan ilmu dan profesinya kelak.18
Berdasarkan kepada uraian di atas mengenai dua aspek
pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam yang dilakukan
oleh kedua situs penelitian tersebut, bahwa kurikulum yang
digunakan adalah kurikulum berbasis kompetensi yang
dikembangkan berdasarkan learned center curriculum berbasis
tema-tema dengan pendekatan pengembangan kurikulum
rekontruksi sosial, yakni kurikulum yang bertujuan untuk
menghadapkan peserta didik pada berbagai permasalahan manusia
dan kemanusiaan yang muncul dalam perjalanan kehidupannya.
Dimana terdapat keyakinan bahwa permasalahan yang muncul
tidak harus diperhatikan oleh “satu disiplin ilmu” saja, tetapi oleh
setiap disiplin ilmu.19 Oleh karena itu, pendekatan rekonstruksi
sosial dalam menyusun kurikulum bertolak dari problem yang
dihadapi dalam masyarakat, untuk selanjutnya dengan
memerankan ilmu-ilmu dan teknologi, serta bekerja secara
kooperatif dan kolaboratif, akan dicarikan upaya pemecahannya
menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.Dan peranan
dosen di sini sebagai orang yang menganjurkan perubahan (agent
of change) mendorong peserta didik menjadi partisipan aktif dalam
proses perbaikan masyarakat.20
Selain itu bahwa pendekatan rekonstruksi sosial sebagai
pendekatan pengembangan kurikulum sangat relevan dilakukan di
perguruan tinggi hal ini berdarkan pada teori pengembangan
peserta didik yang pada usia mahasiswa dengan rentang usia
antara 19 hingga 25 tahun merupakan masa remaja akhir yang
akan masuk pada masa dewasa. Dalam masa ini menurut teori
perkembangan bahwa pengembangan kognitif peserta didik telah
memiliki kemampuan mengoordinasikan baik secara simultan
(serentak) maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif,

18 Analisis hasil wawancara dengan kooodinator PAI dan Dosen PAI di Universitas
Brawijaya dan Universitas Negeri Malang.

19Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2007), Hlm. 146.

20Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah,
Madrasah dan Perguruan Tinggi (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2005), Hlm. 173

47

Pendidikan Islam dan Modernitas

yakni; 1) kapasitas menggunakan hipotesis;21 2) kapasitas
menggunakan prinsip-prinsip abstrak.22
Selanjutnya jika dilihat dari manajemen pengembangan kurikulum
PAI yang dilakukan oleh kedua situs penelitian tersebut dapat
dikategorikan sebagai model perpaduan antara model administratif
yang berifat top-down/sentral dan model grass roots yang bersifat
bottom-up/desentral. Dikatakan sebagai model administratif
karena dalam pengembangannya mengacu pada tujuan nasional
pendidikan yang diejawantahkan melalui perundang-undangan
pengembangan kurikulum pendidikan tinggi. Sebagaimana
dijelaskan oleh Nana Syaodih bahwa Model pengembangan
kurikulum administrative merupakan model yang paling lama dan
paling banyak di kenal. Istilah lain dari model ini ialah top-down
atau line-staff, karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang
dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur
administrasi.23
Dilain sisi bahwa pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh
kedua situs tersebut memberikan keleluasaan kepada dosen-dosen
PAI untuk mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan
pembelajaran. Sebagaimana dijelaskan bahwa model grass-roots
ialah dimana Inisiataif dan upaya datang dari bawah, yaitu dari
guru-guru atau dosen dalam hal ini. Model grass-roots akan
berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi.
Oleh sebab itu, sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi
menuntut para guru/dosen untuk cerdas dan lebih kreatif dalam
melaksanakan pengembangan kurikulum. Sebab guru/dosen
adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari
pengajaran di kelasnya.24

2. Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Sistem pembelajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi yang

meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan

21 Dengan kapasitas menggunakan hipotesis dalam arti dapat berpikir hipotesis,
yakni berbipir sesuatu khususnya dalma pemecahan masalah dengan menggunakan
anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respons.

22 Dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak akan mampu
mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak. Lihat Muhibbin Syah, Psikologi
Belajar, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), Hlm. 33-34

23Nana Syaodih, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, (Bandung: Rasyda
Karya, 2006), Hlm. 162

24Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktik (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2007), Hlm. 168, lihat juga

48

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Unsur
manusiawi dalam system pembelajaran meliputi Siwa, Guru, serta
orang-orang mendukung terhadap pelaksanaan pembelajaran.
Material adalah berbagai bahan pelajaran yang dapat dijadikan
sebagai sumber belajar, misalnya buku, film, audio, gambar, dan
sebagainya. Fasailitas dan perlengkapan adalah segala sesuatu yang
dapat mendukung terhadap jalannya proses pembelajaran seperti
ruang kelas, penerangan, perlengkapan computer, dan sebagainya.
Prosedur adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam proses
pembelajaran, seperti, strategi yang digunakan, metode yang
digunakan, bentuk evaluasi pembelajaran, dan sebagainya. Sebagai
sebuah sistem maka kesemua komponen tersebut memiliki fungsi
masing-masing dan memiliki ciri saling ketergantungan satu sama lain
untuk mencapai sebuah tujuan pembelajaran.25

Pengembangan sistem pembelajaran yang dalam penelitian ini
meliputi aspek pengembangan bahan ajar, pengembangan strategi
pembelajaran, dan pengembangan evaluasi pembelajaran yang
dilakukan di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang
sebagai situs dalam penelitian ini.
a. Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam

Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk
membantu guru/instruktur dalam melaksanakan proses kegiatan
pembelajaran di kelas.26 Sedangkan pakar lain menerangkan bahwa
yang dimaksud bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun
secara sistematis, baik tertulis maupun tidak tertulis, sehingga
tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta
didik untuk belajar.27
Pengembangan bahan ajar di kedua situs penelitian ini, yakni
Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang sama-sama
memiliki dua bentuk bahan ajar yang digunakan selama ini.
Pertama adalah bahan ajar yang berupa buku paket PAI yang
disusun oleh dosen-dosen PAI sebagai buku wajib dan buku bacaan
minimal mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan Pendidikan
Agama Islam. Kedua adalah bahan ajar pengembangan oleh

25 Wina Sanjana, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana,
2012), Hlm. 6

26 Ali Mudlofir, Aplikasi Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan
Bahan Ajar dalam Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT.Grafindo Persada, 2011), Hlm.
128

27 Andi Prastowo, Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovasi Menciptakan
Metode Pembelajaran yang Menarik dan Menyenangkan, (Jogjakarta: Diva Press, 2012),
Hlm. 16

49

Pendidikan Islam dan Modernitas

masing-masing dosen PAI dalam pelaksanaan pembelajaran
Pendidikan Agama Islam yang memiliki bentuk beragam sesuai
dengan kebutuhan dan kesesuian dengan materi yang diajarkan di
kelas.28
Mengenai pengembangan bahan ajar berupa buku paket PAI adalah
sebuah pengembangan yang dilakukan oleh masing-masing
Universitas tersebut melalui kooordinator PAI bersama dengan
dosen-dosen PAI. Bahan ajar yang digunakan oleh masing-masing
universitas tersebut secara isi telah terdapat beberapa
pengembangan materi yang tersusun dalam bab-bab di dalamnya.
Materi-materi yang disusun dalam buku paket tersebut adalah
berupa penambahan materi-materi terkait dengan perkembangan
dunia dan juga adalah berdasarkan dari analisis terhadap materi-
materi yang dibutuhkan dan relevan dengan perkembangan
mahasiswa dimana materi-materi tersebut tidak terdapat di dalam
substansi kajian kelompok matakuliah pengembangan kepribadian
dalam SK DIKTI no 43 tahun 2006.29
Selanjutnya adalah berupa bahan ajar pengembangan yang
dilakukan oleh masing-masing dosen dalam proses pembelajaran
PAI di kelas di luar dari buku paket tersebut. Dengan adanya
kebebasan dosen mengembangankan bahan ajar, hal ini
menimbulkan banyak jenis bahan ajar yang kemudian digunakan
dalam pembelajaran PAI sesuai dengan kebutuhan pembelajaran
dosen masing-masing. Selain bahan ajar yang berbentuk teks, ada
pula bahan ajar yang berbentuk audio atau audio visual, maupun
media interaktif yang terdiri dari gabungan ketiga jenis bahan ajar
tersebut.
Hal ini sebagaimana yang peneliti ketahui baik melalui wawancara
dengan dosen-dosen, maupun observasi partisipatoris peneliti
dalam pelaksanaan pembelajaran PAI di kelas pada dua situs
penelitian ini. Pada intinya adalah selain menggunakan bahan ajar
berupa buku paket PAI yang disediakan universitas, adalah
pengembangan lebih lanjut dilakukan oleh dosen ketika mengajar
di kelas, seperti penggunaan video dan mp3 yang dilakukan oleh
salah satu dosen PAI di Universitas Negeri Malang ketika
pembelajaran berlangsung pada materi-materi tertentu. Hal senada
juga diungkapkan oleh salah satu dosen PAI di Universitas
Brawijaya bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran PAI beliau

28 Analisis hasil wawancara dari coordinator PAI, Op.Cit.
29 Analisis dokumen bahan ajar buku paket PAI universitas brawijaya dan
Universitas Negeri Malang dengan SK DIKTI No 43 Tahun 2006.

50

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

tidak hanya mengandalkan pada buku paket PAI, melainkan
mencoba mengelaborasikan pembelajaran PAI dengan
menggunakan bahan ajar yang lain, seperti buku modul, video-
video dan yang lainnya yang memiliki relevansi dengan pokok
bahasan yang dipelajari mahasiswa.30
Deskripsi di atas sesuai dengan apa yang dikutip oleh dikutip oleh
Mudhofir dalam Abdul Madjid, Perencanaan Pembelajaran.
Mengembangkan Standar Kompetensi Guru bahwa bahan ajar harus
terdiri dari beberapa prinsip diantaranya adalah Perinsip
Relevansi, Prinsip Konsistensi, dan Perinsip Kecukupan.31
b. Pengembangan Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang
berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran adalah suatu
kegiatanpembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar
tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Senada dengan itu, Dick and Carey menyebutkan bahwa strategi
pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran
dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang atau digunakan
oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan
pembelajaran tertentu.32
Dengan demikian, strategi pembelajaran merupakan cara-cara
yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk
menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan
peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, yang
pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat terealisasikan dengan
lebih efektif dan efisien. Dalam kaitannya dengan pembelajaran PAI
bahwa penentuan pendekatan pembelajaran, penggunaan metode
dan media pembelajaran yang sesuai akan memberikan dampak
positif dalam proses pelaksanaan pembelajaran itu sendiri.
Sebagaimana dari hasil penelitian yang dilakukan di Universitas
Brawijaya dan Universitas Negeri Malang bahwa dalam
melaksanakan pembelajaran PAI dosen-dosen menggunakan
pendekatan, medote dan media pembelajaran tertentu yang
berbeda antara satu dosen dengan dosen yang lainnya. Meski

30 Analisis wawancara dan observasi kelas di Universitas Brawijaya dan
Universitas Negeri Malang

31 Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran. Mengembangkan Standar Kompetensi
Guru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), Hlm. 187-131

32 Wina Sanjaya, Strategi pembelajaran Berorientasi Standar proses Pendidikan(Cet.
VII; Jakarta: Kencana, 2010), Hlm. 126

51

Pendidikan Islam dan Modernitas

terdapat banyak pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh
dosen-dosen PAI di kedua situs tersebut, bahwa secara substansial
memiliki kesamaan yang mana pendekatan yang digunakan adalah
sebuah pendekatan pembelajaran yang memaksimalkan peran
mahasiswa dalam pembelajaran, seperti student active learning
atau bisa juga disebut pendekatan student center learning. Dengan
pendekatan pembelajaran tersebut maka dosen-dosen PAI dalam
melaksakan pembelajarannya ialah dengan mengaktifkan
mahasiswa, mencari, mendiskusikan, memdeskripsikan, dan
kemudian mempresentasikan hasil di kelas, adalah sebuah
pembelajaran yang menjadikan mahasiswa sebagai pusat
pembelajaran.
Kegitan pembelajaran seperti di atas merupakan pembelajaran
berdasarkan prinsip student centered, peserta didik merupakan
pusat dari suatu kegiatan belajar yang dikenal dengan istilah lama
CBSA (cara belajar siswa aktif) sebagai terjemahan dari SAL
(student active training), yang maknanya adalah bahwa proses
pembelajaran akan lebih berhasil apabila peserta didik secara aktif
melakukan latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan
pembelajaran yang sudah ditetapkan.33
Dari pendekatan pembelajaran sebagaimana diutarakan di atas,
maka metode pembelajaran sudah pasti menggunakan metode-
metode pembelajaran yang memberikan mahasiswa porsi lebih
besar dalam pembelajaran daripada dosen. Banyak metode
pembelajaran yang dapat digunakan, diantaranya adalah metode
diskusi, tanya jawab, praktikum, observasi partisipatoris, dan lain
sebagainya.
Berdasarkan pada hasil telaah terhadap data-data dalam penelitian
ini menunjukkan penggunana metode-metode seperti di atas
tersebut memang digunakan para dosen PAI dalam pembelajaran.
Mulai dari metode resitasi individu maupun kelompok yang
kemudian dipresentasikan dan didiskusikan di dalam kelas dengan
diakhiri oleh proses Tanya jawab baik dari mahasiwa kepada
mahasiswa maupun dari mahasiswa kepada dosen. Selain kegiatan
di kelas ada pula kegiatan pembelajaran di luar kelas seperti
praktikum tatacara beribadah di masjid universitas dan kegitan
observasi partisipatoris dimana mahasiswa melakukan observasi
lapangan ke berbagai tempat yang telah ditentukan sebelumnya

33 Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang
Kreatif Dan Efektif (Cet. IV; Jakarta: Bumi aksara, 2009), Hlm. 7

52

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

untuk melakukan pembelajaran analisis sosial keagamaan yang
terdapat ditempat observasi tersebut.34
Penggunaan metode-metode pembelajaran sebagaimana
disebutkan di atas merupakan bagian dari implementasi jenis
pembelajaran inkuiri yang merupakan pengajaran yang
mengharuskan mahasiswa mengolah pesan sehingga memperoleh
pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai. Dalam model inkuiri
mahasiswa dirancang untuk terlibat dalam melakukan inkuiri, dan
model pengajaran yang berpusat pada mahasiswa. Tujuan utama
model inkuiri adalah mengembangkan kemampuan intelektual,
berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah secara ilmiah.35
Selain pendekatan dan metode pembelajaran, bagian terpenting
lainnya adalah penggunaan media pembelajaran yang efektif
merupakan sebuah keharusan agar pembelajaran menjadi
menyenangkan dan memberikan pengalaman belajar menyeluruh
dari yang abstrak hingga yang konkret. Media pembelajaran yang
merupakan segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk
menyampaikan pesan atau informasi pembelajaran baik berbentuk
orang, alat-alat elektronik/peraga, media cetak, audio, visual
maupun multimedia.36
Berbagai bentuk media pembelajaran seperti di atas digunakan
dalam pembelajaran PAI baik di Universitas Brawijaya maupun
Universitas Negeri Malang. Memaksimalkan berbagai media dalam
pembelajaran PAI sangat membatu mahasiswa dalam memahami
materi-materi yang di pelajari, diantaranya adalah dengan
penggunaan LCD untuk presentasi, penggunaan Al-Qur’an baik
cetak maupun digital untuk membaca dan mencari ayat-ayat
mengenai materi yang sedang dipelajari, papan tulis, video, audio,
hingga multimedia seperti yang dilakukan di Universiyas Brawijaya
dengan Pusat Pembelajaran Jarak Jauh (PPJJ) yang berupa video
rekaman pembelajaran PAI yang bisa di akses mahasiswa dimana
saja.37
c. Pengembangan Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

34 Analisis hasil wawancara dengan Koordinator PAI, Dosen PAI, dan Observasi
kelas di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang.

35 Dimyati, Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Cet. II; Jakarta: Rineka Cipta,
2002), Hlm. 173

36 Banbang Warsita, Teknologi Pembelajaran, Landasan dan aplikasinya, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2008), Hlm. 274

37 Analisis hasil wawancara dengan Koordinator PAI, Dosen PAI, dan Observasi
kelas di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang.

53

Pendidikan Islam dan Modernitas

Evaluasi pembelajaran yang merupakan bagian terakhir dari sistem
pembelajaran adalah kegiatan yang terencana untuk mengetahui
keadaan objek dengan menggunakan instrument tertentu dan
hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh
kesimpulan.38 Evaluasi pembelajaran yang memiliki tujuan sebagai
alat untuk mengetahui keefektifan dan efesiensi sistem
pembelajaran baik yang menyangkut tentang tujuan, materi,
metode, media, sumber belajar, lingkungan maupun sistem
penilaian itu sendiri.39
Kemudian dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama
Islam untuk semua jenjang pendidikan tentu memiliki sistem
evaluasi pembelajaran tersendiri. Pelaksanaan evaluasi
pembelajaran PAI di perguruan tinggi yang berupa penilaian hasil
kelas mahasiswa dilakukan sesuai dengan pedoman evaluasi
akademik yang berlaku di perguruan tinggi tersebut. Sebagaimana
tertera dalam SK DIKTI no 43 Tahun 2006 bahwa Penilaian hasil
belajar mahasiswa dilakukan berdasarkan data yang diperoleh
melalui penugasan individual atau berkelompok. ujian tengah
semester. ujian akhir semester, penilaian-diri (self-assessment).
penilaian-sejawat (peer-assessment,), dan observasi kinerja
mahasiswa melalui tampilan lisan atau tertulis. Kriteria penilaian
dan pembobotannya diserahkan kepada dosen pengampu dan
disesuaikan dengan Pedoman Evaluasi Akademik yang berlaku
pada perguruan tinggi masing-masing.40
Begitupun sebagaimana dilakukan oleh dosen-dosen PAI di
Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang, bahwa
pelaksanaan evaluasi pembelajaran PAI dikategorikan kedalam
penilaian hasil belajar melalui Ujian Tengan Semester dan Ujian
Akhir Semester serta penilai proses pembelajaran melalui
instrument penilaian yang telah disusun. Dari kedua jenis penilaian
tersebut maka pada akhirnya memberikan nilai akhir hasil
pembelajaran mahasiswa. Hasil dari penelitian ini bahwa di kedua
situs penelitian tersebut memiliki sedikit perbedaan mengenai
kriteria penilaiannya dan kriteria kelulusan matakuliah bagi
mahasiswa. Di Universitas Brawijaya kriteria kelulusan matakuliah
PAI berdasarkan pada hasil akhir dari penilaian prosen

38 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010), Hlm. 221
39 Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Jakarta: DITPENDIS KEMENAG, 2012),
Hlm. 22
40 Lampiran Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 43/Dikti/Kep/2006, Op.Cit.

54

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

pembelajaran melalui instrument assessment yang telah disusun,
sedangkan di Universitas Negeri Malang memasukkan kompetensi
membaca al-Qur’an mahasiswa sebagai persyaratan kelulusan
matakuliah PAI.41
Secara keseluruhan apa yang dijelaskan di atas baik mengenai
pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam ataupun
terkait sistem pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah untuk
mengetahui model pengembangan Pendidikan Agama Islam yang
dilakukan di kedua situs penelitian. Dari pemaparan di atas
tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa model
pengembangan Pendidikan Agama Islam yang dilakukan oleh
kedua universitas tersebut dapat dikategorikan menjadi dua, yakni
secara sentral dan secara desentral. Secara sentral adalah model
pengembangan Pendidikan Agama Islam dalam ruang lingkup
perumusan visi misi, Silabus/RPS dan buku paket Pendidikan
Agama Islam yang dijadikan sebagai acuan pelaksanaan Pendidikan
Agama Islam oleh dosen-dosen PAI di masing-masing universitas.
Sedangkan secara desentral yang dimaksud adalah sebuah model
pengembangan Pendidikan Agama Islam yang dilakukan dalam
kegitan praktis pembelajaran Pendidikan Agama Islam baik yang
dilakukan di kelas sebagai bagian dari kurikulum inti perguruan
tinggi maupun dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan seperti
kegiatan Tafaqquh fii Dinil Islam (TDI) di Universitas Negeri Malang
dan kegiatan Turorial keagamaan di Universitas Brawijaya.
Secara sentral model pengembangan Pendidikan Agama Islam di
kedua universitas tersebut mengarah kepada model
pengembangan Pendidikan Agama Islam yang dalam perspektif
Amin Abdullah disebut sebagai model isolated entitiesdalam arti
masing-masing rumpun ilmu berdiri sendiri, tahu keberadaan
rumpun ilmu yang lain tetapi tidak bersentuhan dan tegur sapa.42
Sedangkan menurut Muhaimin disebut sebagai pengembangan
Pendidikan Agama Islam dengan model mekanisme yang
memandang kehidupan ini terdiri atas berbagai aspek, dan
pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan
seperangkat nilai kehidupan, yang masing-masing bergerak dan
berjalan menurut fungsinya. Aspek-aspek atau nilai-nilai
kehidupan itu sendiri terdiri atas: nilai agama, nilai individu, nilai

41 Analisis hasil wawancara dengan Koordinator PAI, Dosen PAI, dan Dokumen
Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang.

42 Amin Abdullah. dkk, Studi Islam dalam Paradigma Integrasi-Interkoneksi
(Sebuah Antologi), (Yogyakarta: SUKA Press, 2007), Hlm. 10

55

Pendidikan Islam dan Modernitas

sosial, nilai politik, nilai ekonomi, nilai rasional, nilai aestetik, nilai
biofisik, dan lain-lain.43Hal ini dikarenakan oleh dengan
diberlakukannya visi misi, silabus atau rencana perkuliahan
semester serta buku paket PAI untuk semua fakultas dan jurusan
yang tentu memiliki karakteristik keilmuan yang berbeda satu
dengan yang lainnya.
Maka dalam hal ini bahwa model pengembangan Pendidikan
Agama Islam secara sentral menjadikan Pendidikan Agama Islam
sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri yang tidak bersentuhan
secara fleksibel dengan rumpun keilmuan di setiap fakultasnya.
Sehingga bahwa dengan banyaknya jurusan dengan rumpun
keilmuan yang berbeda-beda, Pendidikan Agama Islam secara
sentral yang meliputi visi, misi, capaian pembelajaran, silabus dan
rencana perkuliahan semester, serta buku paket PAI disamakan
untuk seluruh fakultas dan jurusan.
Fakta bahwa pengembangan Pendidikan Agama Islam secara
sentral belum menunjukkan adanya interkoneksi atau integrasi
dengan keilmuan lainnya yang terdapat sebuah perguran tinggi,
maka secara desentral yang merupakan pelaksanaan pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dilapangan oleh dosen-dosen PAI baik
dalam kegiatan pembelajaran di kelas maupun dalam kegiatan
ekstrakurikuler terlihat adanya sebuah pengembangan Pendidikan
Agama Islam kepada model interconnected entities dalam arti
masing-masing keilmuan sadar akan keterbatasannya dalam
memecahkan persoalan manusia, lalu menjalin kerjasama dengan
disiplin keilmuan yang lain44 atau dalam istilahnya Muhaimin
disebut sebagai model Organism/Sistemik yang mana pada model
ini bertolak pada pandangan bahwa aktifitas kependidikan
merupakan suatu sistem yang terdiri atas komponen-komponen
yang hidup bersama dan bekerja sama secara terpadu menuju
tujuan tertentu, yaitu terwujudnya kehidupan yang religious atau
dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai agama. Pandangan semacam itu
menggarisbawahi pentingnya kerangka pemikiran yang dibangun
dari fundamental doctrines dan fundamental values yang tertuang
dalam sumber ajaran pokok Islam yakni al-Qur’an dan al-Sunnah.

43 Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan,
Manajemen Kelembagaan, Kurikulu Hingga Strategi Pembelajaran, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2009), Hlm. 59-71

44 Amin Abdullah. dkk, Studi Islam,. Op.Cit.

56

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

Sehingga menempatkan nilai-nilai agama sebagai sumber
konsultasi yang bijak bagi ilmu-ilmu yang lain.45
Untuk lebih memperjelas model pengembangan Pendidikan Agama
Islam yang terdapat di kedua situs penelitian ini, peniliti mencoba
menyusunnya dalam sebuah pemetaan seperti berikut.

KOLABORASI

LANDASAN YURIDIS

PELAKSANAAN

PENDIDIKAN AGAMA

ISLAM DI PERGURUAN

TINGGI DAN KEBIJAKAN

SENTRAL UNIVERSITAS
DESENTRAL

Perumusan Visi Misi, Kegitan Praktis
Silabus/RPS dan Buku Pembelajaran PAI Di
Kelas oleh Dosen dan
Paket PAI yang
berlaku di semua Kegiatan
Ekstrakurikuler
fakultas
Keagamaan

Model Isolated Model
Entities atau Interconnected
Entities atau
Model Mekanisme Model Organism

Sistemik

PENGEMBANGAN
MODEL PENDIDIKAN

AGAMA ISLAM
DI PERGURUAN

Gambar: Penjelasan MoTdIeNlGPGenI UgeMmUbMangan Pendidikan
Agama Islam di Perguruan Tinggi

DAFTAR RUJUKAN

Abdullah. M. Amin, 2006, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan
Integratif-Interkonektif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

45 Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam,. Op.Cit.

57

Pendidikan Islam dan Modernitas

_________________, 2002, Profil Kompetensi Akademik Lulusan Program
Pascasarjana Perguruan Tinggi Agama Islam dalam Era
Masyarakat Berubah, disampaikan dalam Pertemuan dan
Konsultasi Direktur Program Pasca Sarjana Perguruan Tinggi
Agama Islam, Jakarta

_________________, dkk, 2007, Studi Islam dalam Paradigma Integrasi-
Interkoneksi (Sebuah Antologi), Yogyakarta: SUKA Press

Ahmadi, Rulam, 2005, Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif,
Malang: UIN Malang Press

al-Syaibani. Umar Muhammad al-Toumy, 1986, Al-Usus al-Nafsiyyat wa al-
Tarbiyyat li Ri’ayat al-Syabab, Kahirat: Dar Al-Ma’arif

Amri. Sofian dan Lif Khoirul Ahmadi, 2010, Kontruksi Pengembangan
Pembelajaran Pengaruhnya Terhadap Mekanisme dan Praktek
Kurikulum, Jakarrta: PT. Pustakaraya

Arikunto. Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan
Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

Burhan Bungin, ed., 2003, Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman
Metodologis dan Filosofis ke Arah Model Aplikasi, Jakarta: Rraja
Grafindo

Daryanto dan Herry Sudjenro, 2014, Siap Menyongsong Kurikulum 2013,
Yogyakarta: Gava Media, Yogyakarta

Faisal. Sanafiah, 1995, Format Dan Penelitian; Dasar dasar dan Aplikasi,
Jakarta : Rajawali Press

_____________, 1989, Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar dan Aplikasi,Malang:
Yayasan Asah, Asih, Asuh,

Golshani.Mehdi, 2004, Issues in Islam and Science, Tehran: Institute for
Humanities and Cultural Studies (IHCS)

Hamalik. Oemar, 2007, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung:
Remaja Rosdakarya

Idi. Abdullah, 2005, Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktik,
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

__________, 2009, Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma
Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulu Hingga
Strategi Pembelajaran, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Lincoln, Yonna S. dan Guba, Egon G., 1985, Naturalistic Inquiry. London:
Sage Publication

Moleong, Lexy J., 1991, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT
Remaja Rosda Karya

Muhaimin, 2011, Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan
Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

_________, dkk. 1996, Strategi Belajar Mengajar, Surabaya: Citra Media

58

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

__________. dkk, 2008,Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) pada Sekolah dan Madrasah, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada

__________, 2005, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di
Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada

Poerwadarminta. W. J. S., 2003, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta:
Balai Pustaka

Robert. C. Bogdan, dan Sari Knopp Biklen., 1998, Qualitative Research In
Education: An Introduction to Theory and Methods, Boston: Allyn
and Bacon

Salinan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 045/U/2002 Tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi

Salinan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 232/U/2000 Tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum
Pendidikan Tinggi Dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa

Salinan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor:
43/Dikti/Kep/2006 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan
Kelompok Matakuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan
Tinggi

Syaodih. Nana, 2006,Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek,
(Bandung: Rasyda Karya

Syahidin, dkk., 2014, Pendidikan Agama Islam Kontemporer, Jakarta:
Yayasan Masyarakat Indonesia Baru

Tafsir. Ahmad, 2006, Filsafat Pendidikan Islami; Integrasi Jasmani, Rohani,
dan Kalbu Memanusiakan Manusia, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya

___________, 2005, Ilmu Pendidikan dalam Perpektif Islam, (Bandung:
Remaja Rosdakarya

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen serta Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Bandung: Citra Umbara

Widyastono. Herry, 2014, Pengembangan Kurikulum di Era Otonomi
Daerah, Jakarta: PT.Bumi Aksara

Zuhairini dan Abdul Ghofir, 2004, Metodologi Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam, Malang: UM Press

59

Pendidikan Islam dan Modernitas

KONTEKSTUALISASI TRIAL AND ERROR LEARNING
(Menggerakkan Produktifitas Hasil Belajar
di Lembaga Pendidikan Islam)

ZAITUR RAHEM1

Abstract

The educational development in Indonesia is identic with
reformulation of policy. Regulatory policy, sometimes conditionally,
depends on the change of leadership in a number of institutional
sectors. These conditions gave rise numerous obstacles , ranging
from the concept of communication, negotiation, dissemination,
and distribution (materials and products). Curriculum often
changes in Indonesia. As the result, the process conditions in the
institution be 'staggering'. Such changes cause pressure physically
and psychologically of performers and managers. At the
culminating point, the tradition of creativity and productivity in
controlling and managing processes is not necessarily the direction.
Trial and Error in the assessment becomes lancet stagnation of
productivity and creativity in the educational process of Islamic
institutions in Indonesia.

Keywords: Islamic Education, Trial and Error Learning

Pendahuluan
Dalam kuran dua tahun terakhir ini, dunia pendidikan tanah air seing
disibukkan dengan persoalan prosedural. Perubahan dasar dunia
pendidikan yang terbungkus dalam kurikulum dan undang-undang
sering ‘kabur’. Semisal, perubahan kurikulum pendidikan nasional dan
penerapan jam sekolah. Perubahan demi perubahan sering dilakukan
secara spontanitas dan aksidental. Kondisi ini menimbulkan efek
universal dalam sektor yang sangat luas. Penerapan kebijakan sering
membuat bingung pelaksana dan peserta didik. Meski, dalam bingkai
pendidikan, perubahan tersebut sangat lazim. Sebab, dunia pendidikan
identik dengan perubahan dan perkembangan. Dinamika dunia
pendidikan ditentukan sejauh mana progresifitas perubahan dan
perkembangan tersebut dilakukan oleh pelaku pendidikan. Akan tetapi,

1 Penulis adalah Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-
Guluk Sumenep

dalam konteks prosedur, konsistensi jauh lebih dibutuhkan. Mengingat,
perubahan demi perubahan prosedur sangat mempengaruhi proses dan
hasil pendidikan. Apalagi, perubahan prosedur hanya sebatas sensasional
dan sifatnya parsial.

Di Indonesia, perubahan prosedur (aturan) memang sering dilakukan
Pemerintah. Kurikulum kita sejak tahun 1964 sudah mengalami
perubahan berkali-kali. Termasuk perubahan ‘yang tidak jelas’ pada
tahun 2015-2016 ini. Pemerintah dengan berbagai pertimbangan hendak
memberlakukan kurikulum 13 (K13), namun satu sisi ekspresi K13
belum menyentuh semua lapisan masyarakat pendidikan. Dilema
pemberlakuan kurikulum baru menimbulkan asumsi-asumsi, yang pada
gilirannya, memecah konsentrasi, emosi, simpati dan empati pelaku
Pendidikan. Akibat tafsir yang beragam, K13 dipandang sebagai sebuah
fenomena kurikulum modern dengan konteks yang tidak tepat.
Realitanya, sejumlah sekolah –khususnya- di kawasan pedalaman belum
mampu menterjemahkan K13 secara sempurna. Masalahnya, minimnya
sosialiasi, komunikasi, dan interaksi antara pejabat Pemerintah dan
Pelaku Pendidikan. Komposisi masalah dalam menangkap muatan
kurikulum K13 menjadikan penerapan K13 di sebagian lembaga
pendidikan jalan di tempat.

Persoalan berikutnya, pemberlakukan waktu proses pembelajaran.
Realitas yang menjadi bola salju saat ini, penerapapan fullday school.
Fullday school ciri khasnya adalah anak belajar dalam rentang waktu
lebih lama dibanding sebelumnya. Dari pagi hingga menjelang sore hari.
Penerapan waktu proses belajar di sekolah formal dimaksudkan untuk
menekan prilaku negatif anak didik ke hal yang lebih positif. Secara
substantif, fullday school untuk menjembatani persoalan patologi sosial
akibat interaksi anak dengan lingkungan yang kurang baik. Sayang,
penerapan fullday school mendapat kritikan. Sebab, fullday school
dianggap ‘langkah panik’ pemerintah pasca ‘gejolak KTPS-K13 atau K13
saja’.

Fenomena perubahan prosedur pendidikan dalam wajah lembaga
pendidikan keislaman secara normatif berpengaruh signifikan. Pengelola
di lingkungan lembaga pendidikan Islam ketar-ketir. Alasannya simpel,
mereka merasakan prosedur tersebut akan mempengaruhi tradisi belajar
yang sudah diberlakukan sejak bertahun-tahun lamanya. Penerapan
fullday school, di ranah lembaga pendidikan Islam sudah diberlakukan
sebelum pemerintah menitahkan dalam wujud peraturan. Perlu
digarisbawahi, lembaga pendidikan Islam selama ini terekspresi dalam
formal dan non formal. Konteks formal secara legal formal, lembaga
pendidikan Islam mengikuti perubahan dan perkembangan kurikulum

62

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

nasional. Sebab, lembaga pendidikan Islam juga bagian dari system
pendidikan NKRI. Lembaga pendidikan formal keislaman yang khas
adalah Pondok Pesantren. Fenomena fullday school sudah lama
dipraktekkan di lembaga pendidikan Islam. Anak didik (santri) belajar
sepanjang waktu di pondok pesantren. Tanpa harus ditekan dalam ikatan
aturan dan sekian penilaian formalistik2.

Meski demikian, formalisasi prosedur kurikulum dan waktu belajar
menjadi bagian penting optimalisasi proses dan hasil belajar. Lembaga
pendidikan Islam dalam realitanya terbagi ke dalam beberapa kelompok.
Ada kelompok yang sukses menempuh hasil dan proses, ada kelompok
yang memang jauh dari harapan. Kebiasaan dalam menjalankan proses
pembelajaran memang bukan jaminan bisa mengantarkan hasil ke arah
yang diinginkan. Proses pada prinsipnya membutuhkan sentuhan seni
pembelajaran. Salah satunya strategi pembelajaran alternatif yang
dianggap progresif dan akomodatif. Lembaga pendidikan keislaman di
semua kawasan tanah air ‘wajib’ terbuka dengan gerak perubahan dunia
pendidikan, termasuk perkembangan strategi pembelajaran. Sumber
kajian tentang strategi pembelajaran banyak dimiliki lembaga pendidikan
Islam. Salah satunya terdapat dalam sumber-sumber primer berupa
turats (kitab kuning dan kitab suci al-Quran dan Hadis).

Nalar Belajar Manusia
Seiring perubahan zaman, peradaban manusia semakin maju. Gerak

progresif peradaban ini, faktanya hampir menyeluruh, terjadi di seluruh
pelosok dunia. Peradaban yang salah satu manfaatnya membawa nafas
penyempurnaan status manusia di bumi. Tentu, irama peradaban
manusia di bumi muncul bersamaan dengan kelindan waktu dan
peralihan generasi. Manusia yang satu dengan yang lain, dari setiap
generasi ke generasi berikutnya saling menyatu, menyempurnakan
peradaban yang ada. Generasi hari ini menyempurnakan peradaban
generasi sebelumnya. Generasi sebelumnya menyempurnakan perdaban
sebelumnya juga. Satu generasi dengan generasi lainnya memiliki sisi
prestasi, potensi, dan mimpi yang berbeda. Tergantung momentum dari
generasi tersebut ada, beraktualiasi, dan berdomisili.

Peradaban memiliki makna hasil.3 Hasil tesebut berupa karya,
pemikiran, seni, budaya, ilmu pengetahuan, dan tekhnologi (teori
mekanis). Hasil yang dimaksudkan dalam batasan ini adalah wujud nyata
(bentuk kongkrit) dari sebuah proses yang dilakukan manusia. Manusia

2 Martin van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia (Bandung: Mizan,
1994), h. 34-36

3 Oemar Hamalik, Proses Belajar dan Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 5

63

Pendidikan Islam dan Modernitas

berproses dalam bidang seni sehingga mampu menghasilkan karya seni,
ilmu kesenian, pemikiran metodologis seni, produk tekhnologi kesenian,
dan SDM berwawasan kesenian. Begitu seterusnya. Ada dua poin penting
dari narasi peradaban manusia dalam kajian ini. Yaitu, proses dan hasil.
Proses tidak bisa diabaikan dari kehidupan manusia. Abai terhadap
proses jelas tidak akan bisa memproduk sebuah peradaban.

Proses juga ada kaitannya dengan belajar. Alasannya sangat
sederhana, belajar substansinya modifikasi tingkah laku4. Tingkah laku
sendiri dalam perspektif Sigmund Freud, memiliki kaitan erat dengan
pengalaman: learning is defined as the modification or strengthening of
behavior through expriencing5. Pengalaman hidup seseorang, dalam
kesendirian dan interaksi sosial akan berimplikasi terhadap
peradabannya. Semakin jelek pengalaman hidup seseorang, semakin
kacau peradaban dirinya, generasi, dan masyarakatnya.

Sejumlah ahli mencoba menafsirkan pengertian belajar dari sudut
pandang yang berbeda. Baik dalam takaran terminologis dan etimologis.
Pengertian belajar mengalami metamorfosa seiring perkembangan
waktu, perubahan peradaban, dan ruang gerak sosial. Belajar merupakan
kata kerja (verba) dari kata benda (nomina) ajar. Kata ajar (nomina)
memiliki makna petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui
(dituruti). Sedangkan belajar (verba) memiliki tiga makna, pertama:
berusaha memeroleh kepandaian atau ilmu. Kedua, berlatih untuk
memeroleh sesuatu. Ketiga, berubah tingkah laku atau tanggapan karena
disebabkan oleh pengalaman.6

Berangkat dari definisi tersebut, sejumlah ahli pendidikan memaknai
belajar sesuai dengan disiplin keilmuan yang ditekuni. Ahli phisikologi
memaknai belajar, perubahan tingkah laku individu. Perubahan tingkah
laku tersebut karena dipengaruhi faktor interal
(psikologis/perkembangan) dan eksternal (fisik/pertumbuhan). Ahli
ilmu sosial mengartikan, belajar adalah berlatih menjadi pribadi yang
unggul, potensial, dan manusiwi. Ahli tasawuf mengartikan, belajar
menjadi pribadi yang muttaqin. Dari pribadi yang tidak tahu (bodoh)
menjadi tahu (pintar). Konteks tasawuf erat kaitannya dengan nilai.
Sehingga pintar yang dimaksudkan pada makna belajar adalah pandai
merenungi nikmat-nikmat Allah SWT.

Term belajar juga bisa ditinjau dari potret teologis. Dalam QS. An-
Nahl :98 dijelaskan:

4 Wragg, C.E., Clasroom Teaching Skills, (News York: Nicholas Publishing Company,
1984), h. 45

5 Oemar Hamalik, Proses Belajar dan Mengajar ... h. 10
6 KBBI, hal. 23

64

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

‫و الله اخرجكم مه بطىن امهب تكم لا تعلمىن شيبء وجعل لكم السمع والابصبر والافئدة لعلكم‬
‫تشكرون‬

Nilai pendidikan dari QS. An-Nahl :98 ini mengajarkan tentang
pirnsip belajar individu. Pada prinsipnya, manusia belajar dari
ketidaktahuannya. Dari sudut pandang ilmiah, manusia mengetahui
sesuatu (syai’an) dari proses hidup yang dijalani. Interaksi visual antara
seorang anak dengan lingkungannya memberikan materi berupa
informasi. Informasi tesebut memiliki muatan pengetahuan. Sejumlah
ilmuwan di bidang pendidikan memberikan klasifikasi, manusia
mengetahui karena didapat dari pengalamannya (emprisme) dan karena
bantuan orang lain/lingkungan (behaviorisme).

Pengalaman dan interaksi individu memberikan pengetahuan baru
dalam hidupnya. QS. An-Nahl:98 menekankan ajaran pencarian, ikhtiyar
untuk bisa dan tahu sesuatu dengan mengaktualisasikan potensi diri. QS.
An-Nahl:98 ada lafald as-sam’a (telinga sebagai alat pendengaran), al-
bashara (mata sebagai alat penglihatan), dan af’idah (hati sebagai alat
perasa). Tiga potensi permanen yang melekat pada fisik seseorang
menjadi alat bantu menemukan pengetahuan. Sekali lagi, pengetahuan
yang didapat seseorang karena menggerakkan potensi inderawi tersebut
secara empiris atau behavioris. Tentu, pengalaman satu individu dengan
lainnya beragam. Sehingga, pengetahuan yang diperoleh juga akan
beragam. Meski, pengalaman dan interaksi sosial yang dilakukukan sama.
Perbedaan pencapaian daya pengetahuan ini menjadi bahan renungan
agar ‘ibadullah bisa bersyukur kepada sang Pencipta (la’allakum
tasykurûn).

Belajar sendiri menurut William Burton (1951-1990) memiliki
prinsip-prinsip elegan, terarah dan kompeherensif. Prisip belajar
tersebut sebagai berkut:

1. Proses belajar adalah pengalaman, berbuat, berinteraksi, dan
melampaui (under going)

2. Proses itu melalui bermacam-macam ragam pengalaman dan
mata pelajar yang terpusat kepada tujuan tertentu

3. Pengalaman yang dilakukan memiliki makna bagi kehidupan
seseorang (anak didik)

4. Proses belajar merupakan kesatuan fungsional yang prosedural
5. Hasil-hasil belajar lambat laun dipersatukan menjadi

keperibadian dengan kecepatan yang berbeda-beda.7

7 Wragg, C.E., Clasroom Teaching Skills ... h. 50

65

Pendidikan Islam dan Modernitas

Prinsip belajar di atas bukan landasan final untuk mencapai tujuan
yang terbaik. Sebab, dalam praktiknya belajar sendiri memiliki ruang
lepas yang setiap saat akan mengalami perubahan. Akan tetapi, ruang
lepas tersebut bisa disiasati dengan merencanakan, memilih, dan
mengembangkan strategi pencapaian hasil belajar terbaik. Oleh karena
itu, belajar efektif sangat dipengaruhi faktor-faktor kondisional yang
selama ini berjalan. Faktor belajar tersebut bisa diklasifikasi sebagai
berikut:

1. Kegiatan terencana
2. Belajar membutuhkan latihan simultan: relearning, recalling, dan

reviewing
3. Mempertimbangkan minat, intelegensi, dan kesiapan mental.
Faktor kondisional tersebut dalam perjalanan belajar seseorang
memiliki pengaruh luar biasa. Kegiatan pembelajaran, latihan, minat,
kesiapan mental akan menjadikan situasi belajar efektif, nyaman dan
menghasilkan prestasi yang diinginkan. Akan tetapi dengan catatan,
faktor kondisional tersebut diramu sedemikian akurat. Tentu, dengan
penalaran ilmiah. Sehingga, faktor kondisional ini menjadi lebih kuat
ketika ditopang dengan usaha fleksibel, kerja keras, dan perhatian penuh.
Usaha tersebut, peluangnya adalah dengan menemukan cara baru. Cara
baru salah satunya bisa dilakukan dengan menerapkan teori belajar yang
sudah dilalui dengan pendekatan ilmiah. Teori belajar yang Penulis
anggap mampu menjawab pertanyaan di atas adalah: teori Psikologi
Klasik, Teori Psikologi Daya, Teori Mental State, Teori Psikologi
Behaviorisme, dan Teori Psikologi Gestalt. Seperti tabel berikut:

Tabel 1: Alur Prinsip-prinsip belajar efektif-Prestisius
Teori Psikologi Klasik merupakan induk teori belajar yang
berpusat kepada tekstur internal manusia. Menurut pandangan teori ini,
manusia terdiri dari tiga komponen. Yaitu, jiwa (mind), badan (body), dan
zat (matter). Oemar Hamalik menggariskan, antara jiwa dan badan

66

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

memiliki perbedaan yang sangat prinsipil. Badan (body) adalah suatu
objek yang sampai ke indera. Sedangkan Jiwa adalah suatu realita
nonmaterial dan terikat dengan badan. Jiwa sifatnya subjektif, karena
berhubungan dengan wilayah rasa, keinginan dan cita-cita. Meski wilayah
rasa, jiwa memiliki peran hirarkis dengan badan. Sebab, tanggungjawab
jiwa pada prinsipnya kepada badan. Sedangkan zat ifatny sangat
terbatas. Karena, zat berkaitan dengan proses yang mebantu jiwa dan
badan dalam proses beraktfitas.

Kedua, teori Psikologi Daya (Faculty Psichology). Menurut teori
ini, jiwa manusia terdiri dari aneka macam daya, mengingat, berpikir,
merasakan, kemauan, kreatifitas, dan daya lainnya. Setiap daya yang
melekat pada jiwa memiliki fungsi tersendiri dengan kapasitas dan
potensi masing-masing. Setiap orang memiliki jiwa,dan setiap jiwa itu
memiliki daya-daya yang dimaksudkan tersebut. Semua daya yang ada
akan berkembang (terbentuk) jika dilatih. Latihan terhadap daya-daya
yang ada akan memiliki fungsi luar biasa.

Ketiga, Teori Mental State. Teori ini berpankal kepada teori
asosiasi yang dikembangkan oleh J. Herbart. Pada prinsipnya teori ini
menganggap, jiwa manusia terdiri dari kesan/tanggapan-tanggapan yang
masuk melalui penginderaan. Kesan-kesan tresebut bersasosiasi satu
sama lain membentuk mental dan kesadaran manusia. Semakin kuat
kesan yang ada pada jiwa maka semakin kuat ingatan manusia. Demikian
sebaliknya, kesan yang terus melemah maka berpengaruh kepada daya
ingat jiwa.

Keempat, Teori Psikologi Behaviorisme. Teori belajar ini
sederhananya adalah memaksimalkan latihan-latihan. Stimulus dan
respon akan membentuk pengalaman dan perilaku seseorang. Yang ke
lima, Teori Psikologi Gestalt. Aliran ini menganggap belajar memiliki
keterkaitan erat denga lingkungan, suasana hati, dan status sosial.
Artinya, perilakukan seseorang berdasarkan teori ini terbentuk oleh
eksosistem terstruktur di mana posisi seseorang itu ada. Keperibadian
tebentuk karena faktor sttruktur yang melingkupi seseorang itu bergerak
sealur dengan kehidupan seseorang bersangkutan8.

Berdasarkan teori di atas, kecakapan individu substansinya
adalah hak permanen dan azazi (dasar). Setiap individu memiliku ruang
dan keterbatasan. Ruang keterbatasan tersebut memiliki peluang besar
untuk dilatif, diujicoba dengan maksud mengembangkan potensi yang
belum terkuak. Kecakapan potensi seorang anak pada mulanya berawal
dari sejumlah kondisi belajar. Baik kondisi yang mereka rasakan secara

8 Burton William, The Guidance of Learning Activities, (New York: Appleton
Century Croft, 1952), h. 34

67

Pendidikan Islam dan Modernitas

personal (empiris) atau secara berjamaah (behavioris). Kondisi belajar
secara substanstif bisa direncanakan, diciptakan, dan ditata sedemikian
rupa. Pertimbangan yang akan dipergunakan adalah teori belajar
sebagaimana diutarakan di atas.

Aktivasi Trial and Eror, Teologi Pembelajaran Gaya Baru
Metode belajar model trial and error secara harfiah disebut juga

belajar coba-coba salah, akhirnya pintar. Dari pespektif ilmuwan Eropa,
metode ini ditemukan dan dikembangkan pertama kali oleh Edward L.
Thorndike berdasarkan hasil eksprimen yang dia lakukan pada tahun
1890-an. Eksprimen awal dilakukan untuk mengetahui fenomena belajar.
Thorndike melakukan eksprimen pertama kali menggunakan hewan
(kucing). Seekor kucing yang lapar ditaruh didalam sangkar besi yang
disitilahkan dengan puzzle box (peti teka-teki) yang didepan sangkar
disediakan makanan daging. Puzzle box sebagai stimulus untuk
merangsang untuk memacning hewan di dalam sangkar untuk lepas dan
memakan daging yang ada di depannya. Pada awalnya, kucing ini hanya
mengeong, mencakar, melompat, dan akhirnya berhasil menemukan
pintu keluar dan memakan umpan yang ada di depannya.

Fenomena belajar ini akhirnya terus dikembangkan. Sejumlah
pakar pendidikan kemudian mengaopsi teori belajar Edward L.
Thorndike masuk ke ranah aktifitas belajar mengajar. Semua anak
dibiarkan mencari jawaban dari masalah yang dihadapi. Teori Edward L.
Thorndike ini juga sering disebut dengan “Trial and Error Learning”.9
Strategi belajar metode trial and error sebenarnya bermaksud
menempatkan anak didik sebagai sosok yang sudah berpengalaman.
Mencoba meski salah hakekatnya adalah suskses. Sebab, dari kesalahan
yang dilakukan maka Peserta Didik akan mencoba untuk
menyempurnakan kesalahan yang dilakukannya. Demikian halnya dalam
kasus aktifitas belajar dan mengajar, peserta didik diajak mencoba
memahami satu materi berdasar ‘coba-coba salah’ akhirnya ‘benar’.
Dengan pengembangan model ini, anak didik akan menjadi pintar karena
keinginannya untuk terus mencoba dalam kesalahan yang sudah
dilakukan.

Metode belajar ini dimaksudkan untuk mampu mengantarkan
anak didik pintar dalam penguasaan materi dan berinovasi.10 Tetapi,
target ideal adalah mampu meningkakan kecerdasan anak didik.

9 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persadara, 2003),
h.93.

10 Bambang Sugiarto, Mengajar Siswa Belajar & Implementasi Guru di dalam Kelas
(Surabaya: University Press, 2009) h. 26

68

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

Kecerdasan anak didik ini nanti akan bisa menggiring mereka menjadi
insan yang berbudi luhur. Kecerdasan anak didik yang didapat dari
pengalaman belajar sendiri menjadi pijakan menciptakan kharakter
dalam diri anak. Seorang anak yang mampu memecahkan masalah
belajar dalam dirinya akan bisa mandiri. Mereka akan bisa mencari
jawaban dan tidak mudah putus asa ketika berhadapan dengan problem
belajar.

Meningkatkan kecerdasan anak dewasa ini sering menjadi
perbincangan banyak orang tua dan praktisi lembaga pendidikan. Sebab,
kasus yang ada, meski anak sudah sekolah hingga pada jenjang
pendidikan yang tinggi kemampuan yang dimiliki anak masih rendah.
Bahkan, sejumlah kegiatan non formal di sejumlah sekolah dengan durasi
waktu sehari semalam (full day school) tidak menjamin peningkatan
kecerdasan seorang anak. Kecerdasan ini adalah ‘anugerah’ dari Tuhan
yang sudah ada sejak anak ini lahir dan mengenal dunia. Kecerdasan
seorang tidak ditentukan oleh seberapa dia dicekoki dengan materi
pelajaran. Namun, sejauh mana orang-orang yang ada di sekitar anak
bersangkutan bisa menggiring dan memberikan rangsangan. Seorang
anak belajar karena menyaksikan sesuatu yang ada di sekitarnya.
Artinya, tingkah laku yang berhasil direkam akan berfungsi sebagai
instrumental untuk mencapai ganjaran atau hasil. 11

Dalam medan pembelajaran ini, maka metode belajar dalam
rangka mengembangkan kecerdasan anak sangat diperlukan. Strategi
mengajar model trial and error ini mencoba mengakomudir
kekhawatiran rendahnya nalar kecerdasan anak. Strategi yang dibangun
ini menempatkan anak sebagai orang yang bisa melakukan perubahan
dalam dirinya, berdasar kemampuan yang dimiliki. Belajar kepada Ibrah
Nabi Ibrahim, maka anak dalam konsep strategi ini akan dibiarkan
berdiskusi dengan dirinya sendiri untuk menemukan pengetahuan baru.
Tahapan mencari pengetahuan yang baru ini, selain berdampak
signifikan terhadap nalar kreatif dan kecerdasan anak pada akhirnya
akan berimplikasi pada Emosi dan Spriritualnya. Emosi terbangun karena
nalar kecerdasan anak nyambung dengan hati. Emosi identik dengan
perasaan. Nalar kecerdasan yang bersumber dari pencarian diri sendiri
lebih kuat dari pengetahuan instan bukan dari kemauan anak secara
personal.12

Pencarian pengetahuan baru cara mencoba salah dan akhirnya
benar berupaya mencetak anak untuk bisa berlatih dengan sabar.

11 Taufiq Pasiak, Manajemen Kecerdasan; Memberdayakan IQ, EQ, dan SQ untuk
Kesuksesan Hidup (Bandung: Mizan Media Utama; 2006), h.37

12 Ibid, 249

69

Pendidikan Islam dan Modernitas

Kesabaran yang terbangun pada diri anak ini dengan sendiri akan bisa
menetralisir emosi. Emosi, sekali lagi berhubungan erat dengan hati,
pikiran dan phisikologi anak.13 Emosional yang terkendali juga bisa
berpengaruh terhadap diri anak. Pada tautan ini maka emosional quotien
akan menjadi bagian penting dalam rangka menyeimbangkan kecerdasan
anak. Kecerdasan yang dimiliki seorang anak dengan emosi yang baik
akan menyempurnakan pemikiran anak.

Pentingnnya pemantapan emosi ini akan mengarahkan anak
melakukan tindakan yang baik. Sebab, anak sudah bisa memanfaatkan
kecerdasannya berdasarkan sifat baik yang dihasilkan dari emosi yang
stabil. Konsep strategi saya pintar arahnya memang memadukan otak
dengan hati bisa berjalan sejalur. Ketika hati dan otak anak sudah bisa
berjalan seiring, maka nalar spiritual akan juga bertambah. Intelegensi,
emosi dan spiritual tiga komponen yang sangat berhubungan.
Pemantapan emosi anak yang bersumber dari hati ini menjadi jalan lain
mengantarkan anak pada wilayah bepikir akan pencipataan (Tafakkar fi
khalqillah). Dengan pengetahuan yang dimiliki seorag anak akan
meyakini akan kehebatan dari kuasa Tuhan. Seorang anak pada akhirnya
akan mampu memaksimalkan komitmen sebagai khalifah di muka bumi
ini. Sebagaimana dijelaskan dalam QS;2: 30 yang artinya sebagai berikut:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui."14

Menemukan pengetahuan baru dengan pencaharian diri sendiri ini
akan memunculkan kesadaran akan kuasa Tuhan. Tuhan dalam hal ini

13 Ibid, 67
14 Departemen Agama RI, 2004

70

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

akan menjadi jalan akhir dari pencarian anak (Afektif-Kognitif-
Psikomotorik). Ketika seorang anak mencoba melacak suatu persoalan,
mencari jawaban dari persoalan yang dicari maka pertanyaan
selanjutnya akan menagrah kepada ‘siapa yang menciptakan masalah.
Tuhan yang dalam hal ini sebagai eksistensi mutal akan menjadi jawaban
akhir dari pencarian anak ini; Tiadalah yang Tuhan ciptakan di dunia ini
kecuali semuanya bermanfaat dan penuh hikmah.

Pencarian jawaban dari persoalan yang ditemukan anak didik
akan mampu membiasakan mental kritis. Seoarag anak akan bisa
berusaha memecahkan persoalan yang dihadapi dalam hidupnya. Dalam
hal ini persoalan menemukan jawaban dari materi ajar yang sedang
dihadapi anak didik.

Metode belajar trial and error ini dipandang sebagai seni tenaga
pendidik dalam mengarahkan kegiatan belajar dan mengajar berjalan
sesuai dengan harapan. Tidak semua tenaga pendidik mampu
melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar ini berdasarkan tujuan
yang direncanakan. Sebab, sejumlah tenaga pendidik terkadang gagal
dalam menajalankan ‘misi’ menerapakan strategi yang dijalankan.
Kegagalan ini disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya, minimnya
pengalaman dan pemahaman tenaga pendidik dalam dunia strategi
mengajar ini. Bagi sejumlah guru yang memiliki mental mudah menyerah,
kegagalan yang menimpa akan menjadi bom waktu yang bisa
menghancurkan tugas mulia sang tenaga pendidik (guru). Seorang guru
pada akhirnya diharapkan juga bisa meneguhkan mental tidak mudah
menyerah anak didik. Sebab, mudah menyerah tidak disukai oleh Tuhan.
Proses perjuangan menemukan jawaban dari persoalan ini sudah
dicontohkan Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhannya:

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda
keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami
memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.

71

Pendidikan Islam dan Modernitas

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia
berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam
dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah
Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata:
"Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku,
pastilah aku termasuk orang yang sesat."

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah
Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu
terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas
diri dari apa yang kamu persekutukan

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang
menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama
yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan. 15
Pelajaran kontekstual yang bisa diambil dari kisah Nabi Ibrahim
di dalam ayat di atas, pertama: research (penelitian) sebagai bagian dari

15 Deperteman Agama RI, Al Qur’an Terjemah Bahasa Indonesia, 2004 QS. 6:75-79

72

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

tradisi belajar menjadi prinsip asasiyah. Penelitian dilakukan untuk
membiasakan seseorang membangun pemikiran rasional, sistematis, dan
logis. Dimensi rasionalitas, sistematis, dan logis ini dalam ranah
pembalajaran kita merupakan target pencapaian kognitif. Materi ajar
dengan penerapan strategi pembalajaran tujuannya adalah
mengantarkan anak mampu menerima dan memahami pelajaran dengan
baik benar. Koginitif merupakan kuasa tes. Indikator keberhasilan ranah
kognitif adalah kecakapan seorang anak dalam menemukan jawaban
yang benar dan baik dari materi yang sudah diikuti. Dalam konteks nabi
Ibrahim a.s, Beliau belajar menggerakkan kemampuan rasionalitasnya
untuk menganalisa materi yang disaksikan. Materi menjadi objek ilmu
pengetahuan bagi seseorang untuk meneguhkan pemahaman. Semakin
kuat daya penelitiannya, maka semakin maksimal menemukan informasi
dan teori baru. Kedua, kesiapan mental dalam mengekspresikan temuan
kognitif. Ekspresi keberhasilan dan kekalahan tentu beragaman. Berhasil
pada prinsipnya adalah gembira. Sedangkan tidak berhasil adalah sedih.
Sedih dan gembira mengkrcut kepada suasana fisik dan phisikologis.
Dalam ruang pembelajaran, kondisi fisikis dan phisikologis menjadi
komponen otoritatif bagi Guru. Ketiga, kemahiran dalam menyimpulkan.
Titik kulminasi dalam penelitian dalam berani menerima kesimpulan dari
pencarian. Afektif menjadi ranah pembelajaran yang krusial. Sebab, titik
tekan afektif adalah prilaku dan mental.

Penutup
Perubahan kebijakan dalam takaran makro, dan perilaku dalam

takaran mikro menjadi fenomena biasa di ranah dunia pendidikan kita.
Hanya saja, respon akomodatif terhadap gejala-gejala perubahan tersebut
menjadi pembacaan awal untuk menemukan solusi. Jalan keluar dari
gejala yang dianggap sebagai tantangan menjadi pembelajaran berharga
bagi setiap generasi di negeri ini. Apapun produk nama produk teoritis
dan kebijakan yang ada, menjadi motivasi dan inspirasi bagi manusia
pembelajar. Tak peduli merk, karena substansinya adalah melakukan
geakan pembenahan ke arah yang lebih baik dan maksimal. Kajian
tentang strategi alternatif Trial and Error Learning substansinsinya
bagian dari pergerakan pembenahan. Baik secara personal atau komunal.
Semua komponen daam dunia pendidikan di Indonesia bisa
memunculkan wawasan baru. Karena wawasan baru hadir menjadi iniasi
teori ketika dinalar secara akomodatif. Gaya bernalar akomodatif
menurut Jame Brog salah satunya dengan mengubah gaya pemikiaran.
Seseorang yang memiliki mental pembenah adalah mereka yang berani
keluar dari tekanan pemikiran bermasalah. Semua yang masalah menjadi

73

Pendidikan Islam dan Modernitas

materi positif. Mereka akan bergerak linear tanpa harus dibebani rasa
khawatir dan ragu-ragu. Karena gerakannya bersifat kemaslahan
universal.

Makna progressif dari strategi alternatif Trial and Error Learning
ini mengajak semua pengelola dan pelaku pendidikan untuk
membiasakan melakukan kajian-kajian fenomenologis. Apalagi, dunia
pendidikan memang khas dengan dinamisasi organis dan mekanis.
Pendidikan adalah ruang pergerakan. Pergerakan dunia pendidikan
selalu berkelindan dengan masalah dan temuan-temuan baru. Semua
gerak dinamis tersebut menjaga marwah pendidikan bertahan sepanjang
zaman. Artinya, temuan strategi alternatif Trial and Error Learning akan
tidak berlaku permanen. Sebab, pada setiap kurun waktu tertentu
konteks dan prosedur pendidikan akan mengalami perubahan. Sehingga,
pada puncaknya teori ini akan juga mengalami peleburan dengan temuan
berikutnya. Semoga kajian ini bemanfaat. Wallahu A’lam.

Daftar Pustaka

Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum (Teori dan Praktik) (Jakarta:
Radar Jaya, 1999)

Dimyati, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud,
1999)
Devis, E. Teachers as Curiculum Evaluation, George Allen dan Unwin,

(Australia. 1990)
Hamalik Omar, Pengembangan Kurikulum: Dasar-Dasar dan

Perkembangannya (Bandung: Mandar Maju, 1990)
Hamilton, David, Curricullum Evaluation ( Boston: Open Books Publishing

Ltd. 1977)
Jalaluddin & Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan

Perkembangan Pemikirannya (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1994)
John P Miller, Seller Wayne, Curicullum Perpsektif and Praktice (London:

Longman, 1985)
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2006)
Maryanto, A., Kurikulum Lintas Bidang Study (Jakarta: Grasindo, 1994)
Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam (Solo: Ramadhani: 1991)
Suharsini Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa (Jakarya: . PT Raja

Grafindo Persada, 1996)
Sardiman, A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Rajawali

Persada, 1990)
Subandijah., Pengembangan dan Inovasi Kurikulum (Jakarta: PT. Raja

Grafindo Persada, 1933)

74

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN
(Studi Pustaka Kisah-kisah dalam al-Qur’an)
Rosidin1

Abstract

Al-Qur’an is the main source of Islamic educational concept. The
Qur’anic text is constant, while its contextualization and its
implementation is dynamic throughout muslim history. Therefore
its verses could be interpreted as the answer to the problems of
Islamic education nowdays. One of the Educational problems
within Islamic education is the problem of leadership. At least,
there are seven stories of leadership within Qur’an. The lesson
learned from these stories of leadership can be conclude as
follows; there are four leadership competencies, i.e : moral,
professional, social, and intellectual competencies. These
competencies are equivalent to the prophetic qualities: Siddiq,
Amanah, Tabligh, and Fatanah.

Keywords: Al-Qur’an, Educational Leadership, Competency

A. PENDAHULUAN
Al-Qur’an merupakan sumber primer pendidikan Islam.

Kandungan al-Qur’an tidak pernah habis meskipun telah digali oleh
para pakar sejak berabad-abad silam hingga kini. Teks al-Qur’an
memang bersifat konstan, namun kontekstualisasi al-Qur’an selalu
bersifat dinamis. Dari sini muncul istilah populer, al-Qur’an Shalih li
Kulli Zaman wa Makan, yakni al-Qur’an itu relevan bagi setiap
dimensi waktu dan ruang.

Kontekstualisasi al-Qur’an seperti di atas dapat dimanfaatkan
oleh pendidikan nasional, apalagi banyak umat muslim yang menjadi
stakeholders pendidikan di Indonesia. Kendati mereka sudah kaya
akan wawasan dan ilmu pengetahuan tentang pendidikan dari
berbagai sumber keilmuan terkini, kontekstualisasi al-Qur’an tetap
dapat memberikan sumbangsih pemikiran sebagai alternatif solusi
atas problematika pendidikan nasional.

Di antara problem pendidikan nasional yang mendesak untuk
segera ditangani adalah krisis kepemimpinan pendidikan. Misalnya

1 Penulis adalah Dosen Tetap Program Pascasarjana UNISLA Lamongan, Jawa
Timur

pada tahun 2015 silam, terjadi kasus sembilan kepala sekolah dan
guru di sekolah menengah dan dasar di DKI Jakarta yang
mendapatkan sanksi pencopotan jabatan dan penurunan pangkat.
Kesembilan oknum tersebut disebut terlibat dalam kasus pungutan
liar dan pelecehan seksual. Dari kesembilan orang tersebut, empat di
antaranya merupakan kepala sekolah.2 Krisis kepemimpinan
pendidikan juga menyasar segi manajerial, sebagaimana komentar
Mantan Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh, bahwa
kemampuan kepala sekolah Indonesia dalam mengelola sekolah
masih rendah, bahkan di bawah Malaysia dan Singapura.3

Krisis kepemimpinan, termasuk kepemimpinan pendidikan,
sudah pasti mendatangkan berbagai problem lanjutan. Seger
Handoyo mengutip pendapat Frost (2003) yang menegaskan bahwa
krisis kepemimpinan mengakibatkan banyak orang menderita,
mengalami burn-out (kelelahan emosional), tidak dapat menikmati
hidup dalam pekerjaannya, serta banyak biaya yang dikeluarkan
untuk mengobati sakit emosional di tempat kerja. 4

Tulisan ini bertujuan memberikan sumbangsih pemikiran
terkait alternatif solusi atas problem krisis kepemimpinan
pendidikan dengan menjadikan kisah-kisah dalam al-Qur’an
(Qashash al-Qur’an) yang relevan sebagai data penelitian pustaka.

B. METODE
Penelitian ini bersifat studi pustaka dengan menggunakan

pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Teknik
pengumpulan data berupa dokumentasi. Literatur tafsir al-Qur’an
dan ilmu pendidikan diposisikan sebagai sumber primer, sedangkan
sumber sekunder mengacu pada koleksi data yang dapat difungsikan
sebagai pelengkap.

Teknik analisis data menggunakan analisis isi. Mengingat
kajian ini masuk dalam kategori tafsir tarbawi (tafsir kependidikan),
maka ada tiga tahap analisis. Pertama, analisis kebahasaan
(lughawi). Yaitu memahami makna linguistik dari suatu term dan
derivasinya secara utuh, berdasarkan penggunaan term tersebut
dalam seluruh isi al-Qur’an. Kedua, analisis isi (tahlili). Yaitu
memahami makna suatu ayat berdasarkan kitab tafsir yang relevan.

2 www.cnnindonesia.com
3 www.republika.co.id
4 Seger Handoyo, Pengukuran Servant Leadership Sebagai Alternatif
Kepemimpinan Di Institusi Pendidikan Tinggi Pada Masa Perubahan Organisasi,
Makara, Sosial Humaniora, Vol. 14, No. 2, Desember 2010, h.130.

76

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

Ketiga, analisis kependidikan (tarbawi). Yaitu memahami nilai-nilai
pendidikan yang terkandung dalam suatu ayat dengan melibatkan
sumber data primer maupun sekunder.5

C. HASIL PENELITIAN
Penelitian ini mambatasi kajiannya pada tujuh kisah al-Qur’an,

yaitu kisah Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Musa
AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Isa AS dan Rasulullah SAW.

Adapun hasil penelitian terkait tujuh kisah rasul tersebut
adalah:

1. Kisah Nabi Nuh AS. Al-Qur’an menyebut kata Nuh sebanyak
43 kali dalam 43 ayat. Di antara poin penting terkait
kepemimpinan pendidikan Nabi Nuh AS adalah:
a. Ketabahan dalam memimpin. Dengan kata lain, sabar
pasif. Indikatornya adalah durasi dakwah yang mencapai
950 tahun (Q.S. al-‘Ankabut: 14), penentangan oleh
keluarga terdekat, yaitu istri (Q.S. al-Tahrim: 10) dan
anak kandungnya (Q.S. Hud: 47) serta penentangan oleh
kaumnya (Q.S. al-Hajj: 42)
b. Kegigihan dalam mempimpin. Dengan kata lain, sabar
aktif. Indikatornya adalah berdakwah secara verbal (Q.S.
al-Mu’minun: 23), beradu argumen (Q.S. Hud: 32) hingga
aksi aktual yang fungsional bagi umat (Q.S. al-Mu’minun:
27)
c. Aktif berdoa kepada Allah SWT terkait umatnya, baik
dalam konteks memohon keselamatan bagi umat yang
taat (Q.S. al-Anbiya’: 76) maupun memohon kebinasaan
bagi umat yang kafir (Q.S. Nuh: 26)

2. Kisah Nabi Ibrahim AS. Al-Qur’an menyebut kata Ibrahim
sebanyak 69 kali dalam 63 ayat. Poin penting
kepemimpinan pendidikan Nabi Ibrahim AS antara lain:
a. Mengedepankan pendekatan rasional. Indikatornya
adalah membiasakan diri bersikap kritis-rasional (Q.S.
al-Baqarah: 260) dan mengajukan argumentasi yang
rasional (Q.S. al-Baqarah: 258)
b. Totalitas dalam memimpin. Indikatornya adalah
memenuhi janji-janjinya melebihi standar normal (Q.S.
al-Najm: 37; Q.S. al-Baqarah: 124) dan melaksanakan
perintah Allah SWT secara total, kendati harus

5 Rosidin, 2015, h. 27-28

77
Kepemimpinan Pendidikan

mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya
(Q.S. Ibrahim: 37)
c. Demokratis dalam memimpin. Indikatornya adalah
bermusyawarah dengan keluarga terkait problem yang
sedang dihadapi (Q.S. al-Shaffat: 102) dan mendoakan
seluruh umatnya, baik yang berstatus taat maupun
maksiat (Q.S. Ibrahim: 35-36)

3. Kisah Nabi Yusuf AS. Al-Qur’an menyebut kata Yusuf
sebanyak 27 kali dalam 26 ayat. Poin penting
kepemimpinan Nabi Yusuf AS meliputi:
a. Amanah (dapat dipercaya) dalam mengemban tanggung
jawab dan wewenang sebagai pemimpin (Q.S. Yusuf: 54).
b. Cerdas dan cermatdalam menjalankan roda
kepemimpinan (Q.S. Yusuf: 55)
c. Kasih sayang dan pemaaf kepada orang lain, meskipun
pernah menyakiti hati maupun fisiknya (Q.S. Yusuf: 92)

4. Kisah Nabi Musa AS. Al-Qur’an menyebut kata Musa
sebanyak 136 kali dalam 131 ayat.Di antara poin penting
kepemimpinan Nabi Musa adalah:

a. Tegas dalam memimpin. Indikatornya adalah keberanian
dalam menghadapi penguasa kejam seperti Fir’aun,
tentara bengis seperti Haman dan pengusaha licik
seperti Qarun (Q.S. al-‘Ankabut: 39) serta sikap marah
sekaligus sedih atas perilaku negatif yang dilakukan oleh
kaumnya (Q.S. al-A’raf: 150)

b. Tegar dalam menghadapi berbagai perilaku negatif
kaumnya. Baik perilaku yang menyakiti hatinya (Q.S. al-
Ahzab: 69; Q.S. al-Shaff: 5) maupun perilaku yang
menyimpang dari ajarannya (Q.S. al-A’raf: 138)

c. Cinta ilmu pengetahuan. Indikatornya adalah belajar
bersama Nabi Khidhir AS (Q.S. al-Kahfi: 60-82) dan
berdoa menyangkut ilmu pengetahuan (Q.S. Thaha: 25-
29)

5. Kisah Nabi Sulaiman AS. Al-Qur’an menyebut kata Sulaiman
sebanyak 17 kali dalam 16 ayat. Poin penting kepemimpinan
Nabi Sulaiman AS antara lain:
a. Keterampilan komunikasi. Indikatornya adalah
komunikasi dengan pemimpin lain (yakni Ratu Bilqis)
maupun komunikasi dengan bawahannya sendiri (Q.S.
al-Naml: 36-38)

78

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

b. Arif dan bijaksana dalam memberi keputusan hukum.
Indikatornya adalah apresiasi Allah SWT atas
kebijaksanaan keputusan hukum Nabi Sulaiman AS
melebihi keputusan hukum yang diambil ayahnya, yaitu
Nabi Daud AS (Q.S. al-Anbiya’: 78-79)

c. Membangun sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Indikatornya adalah bangunan istana Nabi Sulaiman AS
yang kokoh dan indah (Q.S. al-Naml: 44)

6. Kisah Nabi Isa AS. Al-Qur’an menyebut kata Isa sebanyak 25
kali dalam 25 ayat. Poin penting kepemimpinan Nabi Isa AS
meliputi:

a. Lemah lembut dan kasih sayang terhadap kaumnya.
Bahkan sikap Nabi Isa AS tersebut terinternalisasikan
dengan baik pada diri para pengikutnya (Q.S. al-Hadid:
27; Q.S. Maryam: 32)

b. Memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan
kaumnya. Indikatornya adalah kemukjizatan Nabi Isa AS
banyak yang berhubungan dengan dunia medis yang
merupakan keterampilan populer di kalangan kaumnya
saat itu (Q.S. al-Ma’idah: 110)

c. Bersikap terbuka kepada kaumnya. Indikatornya adalah
menawarkan pilihan sikap kepada kaumnya, bukan
menuntut satu pilihan sikap semata (Q.S. al-Shaff: 14)

7. Kisah Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an menyebut kata
Muhammad sebanyak 4 kali dalam 4 ayat. Namun di luar itu
Nabi Muhammad SAW disebut oleh al-Qur’an dengan
redaksi “al-Rasul”, “al-Nabi”, “al-Muddatstsir”, “al-
Muzzammil”, serta redaksi yang menggunakan kata ganti
seperti “aku”, “kamu” dan “dia”. Mengingat Nabi
Muhammad SAW adalah suri tauladan bagi seluruh umat
muslim (Q.S. al-Ahzab: 21), maka sudah pasti banyak poin
kepemimpinan yang melekat pada diri Nabi Muhammad
SAW.Utamanya empat sifat kenabian, yaitu: Shiddiq
(integritas), Amanah (terpercaya), Tabligh (menyampaikan)
dan Fathonah (cerdas).Keempat sifat ini akan penulis
posisikan sebagai pisau analisis dalam membedah seluruh
poin kepemimpinan yang dipaparkan di atas.

79
Kepemimpinan Pendidikan

D. PEMBAHASAN
Seluruh pemimpin membutuhkan rangkaian keterampilan,

kompetensi dan kualitas. Sebagian berlaku umum bagi seluruh
pemimpin, dan sebagian lagi berlaku khusus sesuai dengan situasi
dan kondisi. Tidak ada daftar yang definitif untuk mendeskripsikan
pemimpin yang sempurna. Akan tetapi, berdasarkan penelitian Dent,
daftar kualifikasi utama yang dibutuhkan oleh pemimpin yang
sempurna adalah: percaya diri, kesadaran diri, kredibel, dipercaya,
visioner, empati, ahli mengambil-keputusan, berpikiran-terbuka,
adaptif, komunikatif, analitik, ahli strategi, agen perubahan,
kesadaran politik dan altruis.6

Sedangkan Rhenald Kasali menyajikan kompetensi yang lebih
simpel dalam diri seorang pemimpin besar. Menurutnya, ada empat
unsur dalam leadership diamond, yaitu Visi (vision), Keberanian
(courageness), Realitas (reality) dan Etika (ethics). Visi membuat
pemimpin memiliki change DNA yang siap melepaskan diri dari
belenggu-belenggunya. Keberanian membuat seorang pemimpin
berani melakukan terobosan-terobosan baru (inisiatif) dan
mengambil risiko (risk taking). Realitas membuat pemimpin tahu
persis dan mampu membedakan antara ilusi dan fakta. Etika
menjadikan pemimpin sensitif terhadap orang lain (pemimpin yang
humanis) dan tidak akan melakukan apapun yang dianggap dapat
merugikan orang lain. 7

Sebenarnya leadership diamond model di atas merupakan
kreasi Peter Koestenbaum. Berikut visualisasinya8:

6 Fiona Elsa Dent, 2003, h. 28
7 nyoemhokgie.wordpress.com
8 elcaminogroup.com

80

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

Peter Koestenbaum mengusulkan sejumlah tips untuk memperkuat
masing-masing unsur leadership diamond tersebut. Misalnya: Untuk
memperkuat visi dibutuhkan: Latihan penalaran abstrak;
menanamkan perspektif yang strategis dan sistematis, yakni melihat
hubungan dalam “gambar besar”; melibatkan kreativitas;
mempraktikkan pemikiran. Untuk memperkuat keberanian
dibutuhkan: memberi dukungan; berkeinginan mandiri;
mengonstruksi pengalaman yang menggelisahkan; bertanggung
jawab atas pilihan pribadi. Untuk memperkuat unsur realitas
dibutuhkan: memperhatikan detail birokrasi; objektif dan
berwawasan; melakukan apa yang dibutuhkan agar tetap bertahan
(survive); mencari realitas yang tersebar luas. Untuk memperkuat
unsur etika dibutuhkan: Menilai dan mengembangkan kerja-tim
(teamwork); berusaha keras untuk bekerja yang bermanfaat;
memprioritaskan komunikasi yang bagus dan komitmen yang
matang; beraktivitas dengan penuh integritas dan selaras dengan
prinsip-prinsip hidup.

Kompetensi kepemimpinan yang ringkas namun sarat makna
juga terdapat dalam sifat kenabian. Dalam Islam, ada empat sifat
wajib yang pasti dimiliki oleh setiap nabi dan rasul, yaitu Shiddiq,
Amanah, Tabligh dan Fathonah. Sebagaimana paparan sebelumnya,
sifat kenabian ini akan penulis posisikan sebagai pisau analisis. Akan
tetapi pemaknaannya diperluas agar dapat difungsikan dalam
kategorisasi kompetensi kepemimpinan pendidikan. Kongkritnya,
shiddiq diperluas menjadi kompetensi moral, amanah menjadi
kompetensi profesional, tabligh menjadi kompetensi sosial, dan
fathonah menjadi kompetensi intelektual. Berikut penjelasan
detailnya:

1. Shiddiq (Kompetensi Moral)
Kompetensi moral ini terlihat jelas pada kepemimpinan

pendidikan Nabi Nuh AS. Ketabahan, kegigihan dan doa
harapan menjadi ujung tombak kepemimpinan. Ketabahan
terkait dengan dimensi masa lalu, kegigihan terkait dimensi
masa kini, sedangkan doa harapan terkait dimensi masa
datang. Implikasinya bagi pemimpin pendidikan adalah
bersikap tabah atas program pendidikan yang dinilai “gagal”
pada masa lalu; bersikap gigih dalam melaksanakan program
pendidikan pada masa kini dengan sebaik-baiknya; serta
berdoa penuh harap agar program pendidikannya meraih
kesuksesan di masa mendatang.

81
Kepemimpinan Pendidikan

Kompetensi moral juga tercermin pada sikap
kepemimpinan Nabi Yusuf AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan
Rasulullah SAW yang penuh kasih sayang dan pemaaf. Sikap
kasih sayang membuat masyarakat taat kepada para rasul atas
dasar sukarela, bukan terpaksa; sedangkan sikap pemaaf
memberi “kesempatan kedua” kepada masyarakat yang belum
taat kepada para rasul. Implikasinya bagi pemimpin
pendidikan adalah mengkreasi proses pendidikan yang
diselenggarakan atas dasar cinta dan kasih sayang antara
pendidik dan peserta didik, sehingga menimbulkan interaksi
edukatif yang harmonis layaknya hubungan orang tua dengan
anaknya.
2. Amanah (Kompetensi Profesional)

Kompetensi profesional ditunjukkan oleh totalitas Nabi
Ibrahim AS dalam memimpin. Yaitu menjalankan tugas
kepemimpinan melebihi standar minimal tanggung jawab
seorang pemimpin. Nabi Yusuf AS menampilkannya melalui
pemanfaatan wewenang dan kekuasaan dengan sebaik-
baiknya untuk pelayanan publik, bukan kepentingan pribadi
dan golongan. Nabi Isa AS menampilkannya dalam bentuk
kemukjizatan yang selaras dengan keterampilan yang
dibutuhkan masyarakat. Gelar sebagai al-Amin (yang
terpercaya) merupakan jaminan bahwa Nabi Muhammad SAW
adalah pribadi amanah dalam setiap posisi kepemimpinan
yang beliau emban.

Implikasinya bagi pemimpin pendidikan adalah
membudayakan kinerja-kependidikan yang berorientasi pada
Need of Achievement (N-Ach) model McClelland, yaitu bukan
sekedar menggugurkan kewajiban, melainkan berusaha keras
untuk memperoleh prestasi dan kepuasan diri. Jabatan sebagai
pemimpin pendidikan tidak boleh disalah-gunakan untuk
kepentingan pribadi dan golongan, melainkan harus digunakan
dengan sebaik-baiknya demi kepentingan seluruh civitas
akademia di lembaga pendidikan yang dipimpin. Selain itu,
pemimpin pendidikan dituntut memiliki keterampilan yang
benar-benar dibutuhkan dalam “arena” pendidikan agar dapat
memenangkan kompetisi pendidikan, baik skala regional,
nasional bahkan internasional.

Adapun implikasi praktis bagi pemimpin pendidikan
terkait model kepemimpinan Rasulullah SAW dapat mengacu
pada identifikasi M. Syafii Antonio terkait peran Rasulullah

82

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

SAW sebagai pemimpin dan manager pendidikan berikut ini:
mendidik diri sendiri sebelum mendidik orang lain (self
education); memotivasi menuntut ilmu; mendirikan lembaga-
lembaga pendidikan; mengkondisikan proses belajar;
mengkreasi prosesbelajar yang interaktif; menerapkan metode
belajar terapan,pengamatan, pengelompokan, diskusi, cerita,
analogi dan stusi kasus; mengajar sambil memberi motivasi;
menggunakan bahasa tubuh; menerapkan media pembelajaran
yang beragam; menggunakan penalaran, argumentasi dan
refleksi diri; penguatan dan pengulangan; fokus satu demi
satu; hukuman yang mendidik; pemberian penghargaan;
pendidikan lintas negara hingga pendidikan seksualitas yang
tepat.9
3. Tabligh (Kompetensi Sosial)

Kompetensi sosial tampak nyata dalam kepemimpinan
Nabi Sulaiman AS. Wujudnya adalah keterampilan komunikasi,
kearifan dan kebijaksanaan dalam memberi keputusan hukum
serta membangun sarana dan prasarana yang dibutuhkan
masyarakat. Keterampilan komunikasi menyangkut
kemampuan komunikasi verbal (eksplisit), kearifan dan
kebijaksanaan menyangkut kemampuan komunikasi non-
verbal (implisit), sedangkan pembangunan sarana dan
prasarana merupakan kemampuan komunikasi aktual
(realitas).

Implikasinya bagi pemimpin pendidikan adalah
membekali diri dengan keterampilan berkomunikasi verbal
yang bagus, baik secara vertikal (dengan atasan atau
bawahan), maupun horizontal (dengan sesama pimpinan
pendidikan). Di sisi lain, keputusan yang diambil senantiasa
didasarkan pada asas kearifan dan kebijaksanaan, yaitu
mendatangkan kemaslahatan dan menampil kemudaratan.
Kearifan dan kebijaksaan tersebut akan berfungsi sebagai
komunikasi non-verbal yang efektif. Lebih dari itu,
keterampilan komunikasi dapat diwujudkan dalam bentuk
konkrit berupa produk, misalnya penyediaan sarana dan
prasarana yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan.

Kompetensi sosial terlihat pula pada sikap demokratis
Nabi Ibrahim AS; ketegasan Nabi Musa AS; dan keterbukaan

9 mimpipejuang.wordpress.com

83
Kepemimpinan Pendidikan

Nabi Isa AS. Sikap demokratis memberikan kesempatan yang
sama kepada semua pihak tanpa ada diskriminasi; sikap tegas
menimbulkan sikap disiplin pada diri orang lain, terutama
bawahan; sikap keterbukaan memberikan pilihan yang variatif
dalam merespon setiap situasi.

Implikasinya bagi pemimpin pendidikan adalah bersikap
egaliter terhadap semua civitas akademia. Contoh praktisnya
adalah merekrut pegawai kependidikan berdasarkan asas
“keterampilan, kompetensi dan kualitas”, bukan asas “korupsi,
kolusi dan nepotisme”. Sikap tegas pemimpin pendidikan
dibutuhkan sebagai jalan tengah antara dua sikap ektrim, yaitu
sikap lembek yang membuat bawahan tidak semangat bekerja
dan sikap keras yang membuat bawahan bekerja dengan
terpaksa. Lebih dari itu, ketegasan dimaksudkan agar tercipta
budaya disiplin dalam dunia pendidikan. Sedangkan sikap
keterbukaan pemimpin pendidikan dapat menumbuh-
suburkan kreativitas dan inovasi di kalangan civitas akademia,
karena mereka meyakini bahwa pemikiran, bakat dan aksi
mereka akan diterima bahwa dihargai oleh pemimpin.

Adapun implikasi praktis bagi pemimpin pendidikan
terkait kompetensi sosial Nabi Muhammad SAW adalah
berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang selaras
dengan mitra bicara (Q.S. Ibrahim: 4), bermusyawarah
sebelum mengambil keputusan (Q.S. al-Syura: 38), menjadi
teladan dalam konteksamar ma’ruf nahy munkar (Q.S. Ali
‘Imran: 110), membangun iklim kompetisi dan kolaborasi yang
kondusif (Q.S.al-Baqarah: 148; Q.S. al-Ma’idah: 2) dan seluruh
kebijakannya didasarkan pada dimensi dunia dan akhirat (Q.S.
al-Baqarah: 201; Q.S. al-Qashash: 77).

4. Fathonah (Kompetensi Intelektual)
Kompetensi intelektual muncul pada kepemimpinan

Nabi Ibrahim AS yang selalu mengedepankan pendekatan
rasional dalam melakukan persuasi terhadap kaumnya. Nabi
Yusuf AS menampilkannya ketika menjadi “menteri ekonomi
(pangan)” yang ditugasi agar menyelamatkan bangsa Mesir
dari bahaya kelaparan. Nabi Musa AS memperlihatkan
kompetensi intelektualnya dalam interaksi edukatif dengan
Nabi Khidhir AS. Kompetensi intelektual Nabi Ibrahim AS
ditujukan dalam rangka sosialisasi nilai-nilai kebenaran
kepada masyarakat, kompetensi intelektual Nabi Yusuf AS

84

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

ditujukan dalam rangka memberi solusi atas problematika

yang sedang dihadapi masyarakat, sedangkan kompetensi

intelektual Nabi Musa AS ditujukan pada upaya peningkatan

kualitas diri yang harus senantiasa dilakukan sepanjang waktu.

Implikasinya bagi pemimpin pendidikan adalah

kebijakan-kebijakan kependidikan yang diambil seyogianya

didasarkan pada rasionalitas yang dapat diterima oleh

masyarakat, bukan sekedar dogma, apalagi pada masyarakat

modern yang semakin kritis-rasional seperti sekarang ini.

Seorang pemimpin pendidikan juga harus memberdayakan

kreativitas dan inovasi pemikiran dalam rangka

menyelesaikan problematika yang sedang dihadapi oleh

lembaga pendidikan dipimpin, bahkan kreativitas dan inovasi

pemikiran tersebut dapat disebar-luaskan kepada lembaga-

lembaga pendidikan lainnya. Lebih dari itu, seorang pemimpin

pendidikan dituntut agar terus-menerus melakukan upaya

pengembangan kualitas intelektual melalui berbagai pelatihan

dan pengalaman hidup setiap hari.

Adapun implikasi bagi pemimpin pendidikan terkait

kompetensi intelektual pada diri Rasulullah SAW antara lain:

Menerapkan pendidikan seumur hidup (life-long education),

yaitu belajar lintas ruang dan waktu; mengkreasi budaya

literasi yang kokoh (Q.S. al-‘Alaq: 1-5); memadukan

keterampilan intelektual dengan kualitas spiritual (Q.S. Ali

‘Imran: 190-191); mengapresiasi pakar ilmu, pendidik dan

peserta didik (Q.S. al-Mujadilah: 11); serta memberdayakan

keterampilan intelektual demi pengembangan sumber daya

manusia dan sumber daya alam agar mendatangkan rahmat

bagi semesta alam (Q.S. al-Anbiya’: 107).

Bahasan di atas dapat diringkas dalam bentuk matrik di bawah

ini:

NO KOMPETENSI KOMPETENSI KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
KEPEMIMPINAN

 Tabah dalam menghadapi kegagalan

program pendidikan masa lalu; gigih

dalam melaksanakan program

pendidikan masa kini; dan berdoa atas

1 Moral kesuksesan program pendidikan di masa

depan

 Mengkreasi proses pendidikan yang

diselenggarakan atas dasar cinta dan

kasih sayang antara pendidik dan peserta

85
Kepemimpinan Pendidikan

2 Profesional didik, sehingga menimbulkan interaksi
edukatif yang harmonis laksana
3 Sosial hubungan orang tua dengan anaknya
4 Intelektual  Mengimpelementasikan etos perjuangan
dan keteladanan akhlak dalam upaya
mengemban tugas sebagai pemimpin
pendidikan yang sarat dengan
problematika
 Mengemban tanggung-jawab
kepemimpinan pendidikan melebihi
standar normal, semisal bekerja
berdasarkan kebutuhan terhadap prestasi
(Need of Achivement/N-Ach), bukan
sekedar kewajiban
 Memanfaatkan wewenang dan
kekuasaan untuk kepentingan publik,
bukan kepentingan pribadi dan golongan,
sehingga mengedepankan pemberian
layanan terbaik (best service) bagi
stakeholders sebagai costumers
 Mempraktikkan keterampilan
akademik maupun non akademik dalam
rangka menyelenggarakan proses
pendidikan dan pembelajaran yang
berkualitas (committed learning), bukan
sekedar administrative teaching
 Kompeten dalam berkomunikasi verbal,
non-verbal dan aktual (produk) yang
sesuai dengan situasi, kondisi dan
kebutuhanstakeholders pendidikan
 Bersikap egaliter, tegas dan terbuka
terhadap stakeholders pendidikan
 Menciptakan budaya musyawarah,
kompetisi dan kolaborasi dalam konteks
amar ma'ruf nahy munkar demi meraih
kesuksesan di dunia dan akhirat
 Kebijakan kependidikan didasarkan
pada penalaran logis-rasional [realitas]
 Pemikiran kreatif dan inovatif dalam
problem solving, terutama untuk
pengembangan SDA dan SDM
 Pengembangan kompetensi intelektual
yang berkelanjutan [lifelong education]
disertai penciptakan iklim intelektual
yang kondusif [budaya literasi; apresiasi]

86

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

dan perpaduan antara intelektual dengan
spiritual

E. SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
Kepemimpinan pendidikan dalam kisah-kisah al-Qur’an
tentang tujuh kisah rasul yang menjadi objek penelitian ini
dapat dikategorikan menjadi empat kompetensi. Yaitu
kompetensi moral, profesional, sosial dan intelektual.
Keempatnya merupakan pemekaran makna dari empat sifat
kenabian, yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah.
Keempat kompetensi dan sub-kompetensi kepemimpinan
tersebut berimplikasi pada aneka model, strategi hingga teknik
kepemimpinan pendidikan yang berpotensi menanggulangi
krisis kepemimpinan pendidikan.
2. Saran
Penelitian ini disarankan agar ditindak-lanjuti melalui
penelitian pustaka dengan mengkaji teori-teori ilmu
pendidikan yang relevan untuk menemukan indikator-
indikator praktis bagi masing-masing unsur kompetensi
kepemimpinan pendidikan. Dengan adanya indikator-
indikator praktis tersebut, maka terbuka peluang bagi
penelitian lapangan untuk menguji secara empiris tentang
sejauh mana ketercapaian masing-masing kompetensi
pemimpin pendidikan dalam praktik kepemimpinan
pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan.

DAFTAR RUJUKAN
Rosidin. Metodologi Tafsir Tarbawi. (Jakarta: Amzah. 2015).
Seger Handoyo, Pengukuran Servant Leadership Sebagai Alternatif

Kepemimpinan Di Institusi Pendidikan Tinggi Pada Masa
Perubahan Organisasi, Makara, Sosial Humaniora, Vol. 14, No.
2, Desember 2010
http://journal.ui.ac.id/index.php/humanities/article/view/67
5/643 diakses pada 27 Februari 2016
https://nyoemhokgie.wordpress.com/2014/01/22/pemimpin-
versi-rhenald-kasali/ diakses pada 27 Februari 2016
http://elcaminogroup.com/sharing-brilliance/the-leadership-
diamond-corner/ diakses pada 27 Februari 2016

87
Kepemimpinan Pendidikan

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150123155605-20-
26904/korupsi-dana-bos-empat-kepala-sekolah-dicopot/
diakses pada 27 Februari 2016

http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/06/22/1
21187-mnuhnilaikemampuanmanajerialkepalasekolahrendah
diakses pada 27 Februari 2015

https://mimpipejuang.wordpress.com/2010/10/18/ensiklopedia-
leadership-dan-manajemen-muhammad-saw-the-super-
leader-super-manager-8-buku/diakses pada 28 Februari 2016

88

TA’LIMUNA, Vol. 10 No. 1, Maret 2016

STRATEGI KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN MUTU
PENDIDIKAN

(Studi Kasus pada Madrasah Aliyah Negeri I Rengel Tuban)
Zakiyah Kholidah 1

Abstract
This research aim at knowing objectively the strategy of the
headmaster of madrasah in improving educational quality at
Madrasah Aliyah Negeri I Rengel Tuban, in term of quality throughout
input, process, and output. This research utilizes qualitative approach
through case study, data resource, data collection technique are in-
depth interview, non-participant observation, and document study.
Data analysis technique is interactive model of Miles and Huberman.
This research is resulted in: Strategy of headmaster in improving
quality of education at Madrasah Aliyah are: good communication and
coordination; self management and entrepreneurship and
participative-delegative leadership; academic achievement and
nonacademic achievement.
Keywords: Strategy, Headmaster, Leader, Educational Quality.

Pendahuluan
Mutu pendidikan merupakan aspek penting yang harus

diperhatikan untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa.
Karena alternatif mutu pendidikan akan mempengaruhi sumber daya
manusia yang ada. Menurut “mutu pendidikan merupakan salah satu isu
sentral dalam pendidikan nasional, terutama berkaitan dengan
rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan,
terutama pada jenjang pendidikan dasar dan menengah”.2 Sementara
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

1 Penulis adalah Dosen STAI Al-Hikmah Tuban
2 Mulyasa, E., Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah. (Jakarta: Bumi Aksara,
2012)..

Salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan sistem dan
iklim pendidikan nasional yang bermutu yang diupayakan pemerintah
mulai dari tingkat kebijakan pusat sampai pada tingkat satuan
pendidikan.

Peningkatan mutu pendidikan pada satuan pendidikan tertentu,
termasuk Madrasah Aliyah Negeri dapat dilihat dari mutu input, proses,
dan output-nya. Ketersediaan input yang memadai, terlaksananya proses
yang efektif, dan output yang memenuhi kebutuhan dan harapan
senantiasa diupayakan kepala madrasah sebagai pemimpin pendidikan
melalui suatu strategi yang dapat meningkatkan ketiga indikator mutu
tersebut.

Pada Madrasah Aliyah Negeri I Rengel Tuban terjadi peningkatan
mutu pendidikan dalam waktu yang relatif cepat. Ini terjadi sejak
diangkatnya kepala madrasah baru sejak dua tahun yang lalu. Keadaan
tersebut dapat dilihat dari terjadi peningkatan lebih kurang 148% jumlah
siswa yang memasuki Madrasah Aliyah Negeri I Rengel ini dalam dua
tahun terakhir dibandingkan dua tahun sebelumnya, pengembangan dan
penambahan bangunan fisik madrasah juga mengalami peningkatan.
Pada aspek lainnya, kedisiplinan tenaga pendidik dan kependidikan
meningkat dibandingkan masa kepemimpinan kepala madrasah
sebelumnya, hasil Ujian Akhir Tahun Pelajaran 2014/2015 siswa
Madrasah Aliyah Negeri I Rengel Tuban mendapatkan nilai tertinggi dari
Madrasah Aliyah yang ada di Kabupaten Tuban.

Memperhatikan kenyataan tersebut, penulis memandang perlunya
penelitian tentang: bagaimana strategi kepala madrasah sebagai
pemimpin dalam meningkatkan mutu pendidikan dengan melihat aspek
input, proses, dan output pendidikan madrasah tersebut. Dengan
demikian, menarik untuk dipelajari tentang strategi kepala madrasah
sebagai pemimpin dalam meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah
Aliyah Negeri I Rengel Tuban untuk dijadikan bahan kajian kepala
sekolah atau madrasah dan mutu pendidikan di masa mendatang.

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fakta secara obyektif
tentang strategi kepala madrasah sebagai pemimpin dalam
meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri I Rengel
Tuban. Ini dapat diketahui dari aspek-aspek berikut: (a) Strategi kepala
madrasah sebagai pemimpin dalam meningkatkan mutu input
pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri I Rengel Tuban. (b) Strategi
kepala madrasah sebagai pemimpin dalam meningkatkan mutu proses
pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri I Rengel Tuban. (c) Strategi kepala
madrasah sebagai pemimpin dalam meningkatkan mutu output
pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri I Tuban.

90

TA’LIMUNA, Vol.10 No. 1, Maret 2016

Adapun teori yang digunakan adalah hal-hal yang berkaitan dengan
penelitian ini. Pengertian dari Kepala madrasah adalah guru yang
diberikan tugas tambahan dalam memimpin madrasah. Atmodiwirio
menjelaskan “Kepala sekolah adalah seorang guru (jabatan fungsional)
yang diangkat untuk menduduki jabatan struktural (kepala sekolah) di
sekolah. Ia adalah pejabat yang ditugaskan untuk mengelola sekolah. ”
Sedangkan Ekosiswoyo menjelaskan “Kepala sekolah adalah pemimpin
suatu unit organisasi pada tingkat operasional yang berada di garis
terdepan yang mengkoordinir upaya peningkatan kualitas pendidikan.”
Dengan demikian, kepala madrasah merupakan guru yang diberikan
tugas tambahan sebagai pemimpin pendidikan pada tingkat operasional
yang memegang jabatan puncak guna mengelola dan memimpin
madrasahnya dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Kartono menjelaskan “Pemimpin adalah seorang pribadi yang
memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan dan kelebihan
di satu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain
untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi
pencapaian satu atau beberapa tujuan.”3 Selanjutnya, Joseph dalam
Alifuddin menjelaskan “ada sepuluh kompetensi yang perlu dimiliki
seorang pemimpin, yaitu: (1) arah diri; (2) fleksibelitas; (3) tim kerja; (4)
strategi; (5) pengambilan keputusan; (6) mengelola perubahan; (7)
delegasi; (8) komunikasi; (9) negosiasi; (10) kekuasaan dan pengaruh.”
Berbagai kompetensi pemimpin tersebut seharusnya dimiliki seorang
kepala madrasah sebagai pemimpin, sehingga dapat mengarahkan dan
mempengaruhi bawahan untuk mencapai visi, misi, dan tujuan yang
ditetapkan.4

Mutu merupakan makna abstrak yang didefinisikan bervariasi
menurut pandangan dan tinjauan orang masing-masing. Rohiat
menjelaskan “Mutu atau kualitas adalah gambaran dan karakteristik
menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya
dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat.”5
Zakiyah dalam Alifuddin menjelaskan: Mutu didukung oleh tiga
parameter penting, yaitu: mutu desain (design quality), mutu kesesuaian
(conformance quality), dan mutu penggunaan (use quality). Mutu desain
adalah desain mencerminkan suatu produk atau jasa sesuai dengan
kebutuhan, mutu kesesuian adalah produk atau jasa yang diberikan

3 Kartono, K., Pemimpin dan Kepemimpinan. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008).
h.38

4 Joseph dalam Alifuddin, M., Reformasi Pendidikan: Strategi Inovatif Peningkatan
Mutu Pendidikan. (Jakarta: Magna Scrip Publishing, 2012). h.19

5 Rohiat., Manajemen Sekolah. Bandung: Refika Aditama, 2010). h.52

91

Pendidikan Islam dan Modernitas

memenuhi standar desain, dan mutu kegunaan adalah pemakai terus
menerus menggunakan produk atau jasa yang diberikan. Dalam konteks
pendidikan, pengertian mutu mencakup input, proses, dan output
Pendidikan.6

Dengan demikian, mutu pendidikan madrasah dapat dilihat dari
mutu ketiga faktor tersebut. Suherman menjelaskan “Aktivitas kepala
sekolah dapat dilukiskan sebagai seni (art) dan bukan ilmu (science)
untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada anggota kelompok
dalam mencapai tujuan.”7 Selanjutnya, “Dalam kerangka pengembangan
mutu sekolah, sangat jelas dibutuhkan tipe kepemimpinan yang memiliki
visi ke depan dengan memberdayakan orang lain, berpenampilan unggul
dan memiliki strategi yang tinggi dalam memenuhi kegiatan
kastamernya”. Pendapat tersebut menginsyaratkan bahwa kepala
madrasah sebagai pemimpin tidak cukup hanya memiliki keterampilan
tinggi saja tetapi juga harus memiliki strategi dalam upaya meningkatkan
mutu pendidikan yang ditinjau dari mutu input, proses, dan outputnya.
Keterkaitan mutu input, proses, dan output pendidikan dapat
digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1 Keterkaitan Mutu Input, Proses, dan Output Pendidikan

Berdasarkan hal tersebut di atas dapat ditegaskan bahwa mutu
pendidikan Madrasah merupakan kualitas yang dimiliki madrasah yang
ditinjau dari input, proses, dan output pendidikannya. Dengan demikian,
strategi kepala madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan

6 Zakiyah dalam Alifuddin, M., Reformasi Pendidikan: Strategi Inovatif Peningkatan
Mutu Pendidikan.( Jakarta: Magna Scrip Publishing, 2012). h. 80

7 Suherman, A., (2011). Kepemimpinan Kepala Sekolah Menuju Manajemen Berbasis
Sekolah. Jurnal Kependidikan, XII (16): h.53-59

92

TA’LIMUNA, Vol.10 No. 1, Maret 2016

dilakukan dengan mengoptimalkan penyediaan dan pelaksanaan ketiga
faktor tersebut.

Untuk memperjelas pemahaman konseptual dalam penelitian ini,
beberapa terminologi penting dijelaskan sebagai berikut:
(1) Strategi adalah kiat atau rencana cermat yang berkaitan dengan

perencanaan, implementasi, dan tindak lanjut sebuah aktivitas
dalam kurun waktu tertentu untuk mencapai sasaran khusus;
(2) Pemimpin adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk
mempengaruhi dan mengarahkan perilaku orang lain agar
meningkatkan kemampuan secara berkesinambungan untuk
mengetahui kompleksitas, memperoleh visi yang jernih dan
memperbaiki model mental bersama sehubungan dengan kerja atau
tugas-tugas yang harus dilaksanakannya;
(3) Kepala madrasah adalah guru yang diberikan tugas tambahan sebagai
pemimpin suatu unit organisasi pada tingkat operasional yang
memegang jabatan puncak guna mengelola dan memimpin
madrasahnya dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan;
(4) Kepala Madrasah sebagai pemimpin adalah peranan kepala madrasah
yang didasari dengan kemampuan atau kompetensi tertentu untuk
mempengaruhi dan mengarahkan tenaga pendidik dan
kependidikan, serta orang tua siswa agar melaksanakan tugas
masing-masing dengan kepuasan kerja dan sense of belonging yang
tinggi dalam rangka mencapai visi, misi, dan tujuan madrasah;
(5) Mutu pendidikan madrasah adalah kualitas yang dimiliki madrasah
yang ditinjau dari input, proses, dan output pendidikannya;
(6) Madrasah Aliyah adalah pendidikan menengah setingkat Sekolah
Menengah Atas yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama
Republik Indonesia.

METODE
Penelitian ini dilakukan pada Madrasah Aliyah Negeri I Rengel

Tuban yang berada di Jl. Raya Beron no. 728 Rengel Kabupaten Tuban
Jawa Timur.

Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan
naturalistik/kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian studi kasus.
Adapun yang menjadi obyek kajiannya adalah kondisi alamiah yang
terjadi pada strategi kepala madrasah sebagai pemimpin dalam
meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri I Rengel
Tuban.

Kehadiran peneliti dalam penelitian tidak akan memanipulasi dan
menginterpensi kondisi, proses dan perilaku sosial yang terjadi. Peneliti

93

Pendidikan Islam dan Modernitas

berupaya mengungkap fakta untuk dideskripsikan melalui pengumpulan
data yang valid. Namun demikian, karena penelitian lebih banyak
menggunakan data kualitatif, maka kehadiran peneliti dalam hal ini
adalah sebagai instrumen penelitian.

Penentuan sumber data dalam penelitian ini dilakukan dengan
teknik purposive sampling dan snowball sampling. Adapun yang menjadi
sumber data dalam penelitian ini adalah kepala madrasah sebagai key
informan yang didukung dengan sumber lainnya, yakni: tenaga pendidik,
tenaga kependidikan, komite madrasah, pengawas madrasah, serta
kepala seksi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten
Tuban.

Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui dua tahapan
secara sistematis, yakni tahap persiapan dan tahap pengumpulan data.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, teknik pengumpulan data dilakukan
melalui wawancara mendalam, nonparticipant observation, dan studi
dokumentasi. Ketiga teknik pengumpulan data tersebut digunakan secara
berkesinambungan untuk mendapatkan data yang valid. Analisis data
dilakukan melalui model interaktif dengan komponen-komponen
sebagaimana dipaparkan pada gambar berikut:
Gambar 2 Model Interaktif Analisis Data dari Miles & Huberman

Model analisis data tersebut menunjukkan bahwa dalam
melakukan analisis data dalam penelitian ini dilakukan reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi dalam suatu
proses yang dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus
sampai tuntas, sehingga datanya mencapai jenuh. Pengecekan keabsahan
data dilakukan dengan pengecekan derajat keterpecayaan dengan
menggunakan triangulasi, member check, dan perpanjangan pengamatan.
Selanjutnya dilakukan pengecekan pemeriksaan derajat keteralihan
(transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian
(confirmability).

94

TA’LIMUNA, Vol.10 No. 1, Maret 2016

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, hasil yang diperoleh adalah
sebagai berikut:
1. Strategi Kepala Madrasah sebagai Pemimpin dalam Meningkatkan

Mutu Input Pendidikan.
Strategi kepala madrasah dalam meningkatkan input pendidikan
berupa sumber daya, perangkat lunak, dan harapan sebagai berikut;
a. Strategi Kepala Madrasah dalam meningkatkan Sumber Daya

Madrasah terdiri dari: (i) Sumber Daya Manusia : Sumber daya
manusia di madrasah dapat berupa tenaga pendidik dan
kependidikan yang mempunyai pengaruh dominan dalam upaya
meningkatkan mutu pendidikan madrasah. Strategi yang
diterapkan kapala madrasah dalam memberdayakan tenaga
pendidik dan kependidikan adalah membangun motivasi kerja
dan mengoptimalkan partisipasi mereka. Sementara aspek yang
menjadi prioritas kepala madrasah dalam hal ini adalah tenaga
pendidik dan kependidikan agar dapat membiasakan diri untuk
melaksanakan tugas dengan disiplin; (ii) Sumber Daya Finansial:
Madrasah merupakan unit organisasi pendidikan pada tingkat
operasional. Ini mengisyaratkan bahwa operasional madrasah
dalam menjalankan proses pendidikan memerlukan dana.
Strategi kepala madrasah dalam meningkatkan sumber daya
finansial di Madrasah Aliyah Negeri I Rengel Tuban melalui
komunikasi efektif dengan komite dan orang tua siswa, sehingga
finansial madrasah tidak hanya bersumber dari bantuan
pemerintah tetapi juga sumbangan suka rela dari orang tua siswa
secara rutin; (iii) Sumber Daya Fisik: Sumber daya fisik madrasah
berupa sarana dan prasarana pendidikan yang mencakup
bangunan, ruang kelas, dan perlengkapan madrasah. Strategi
kepala madrasah dalam menyediakan dan meningkatkan sarana
dan prasarana pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri I Rengel
Tuban melalui pemberdayaan, keterlibatan, dan kepedulian
warga madrasah, orang tua siswa, dan komite; (iv) Sumber
Informasi: Informasi yang terkait perkembangan, kebijakan, dan
perubahan pendidikan harus diperoleh setiap satuan pendidikan
termasuk madrasah. Pada Madrasah Aliyah Negeri I Rengel
Tuban, strategi kepala madrasah dalam mengembangkan sumber
informasi diperoleh melalui optimalisasi partisipasi aktif dan
koordinasi madrasah terhadap pihak dan lembaga yang terkait
pendidikan;

95

Pendidikan Islam dan Modernitas


Click to View FlipBook Version