The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Iis Sobariah, 2023-07-05 18:46:58

Jurnal Refleksi_gabungan

Jurnal Refleksi_gabungan

Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 Kab. Bekasi MODUL 1 Oleh : Iis Sobariah SDN Karang Asih 10 Jurnal Refleksi


JURNAL REFLEKSI Modul 1.1 Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan Facts (Peristiwa) : Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat aksi nyata ke dalam kelas ? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut? Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut? Feelings (Perasaan): Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut` Findings (Pembelajaran) : Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini? Future (Penerapan) : Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan ? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini? Jurnal Refleksi dwimingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh calon guru penggerak. Sebagai calon guru penggerak saya akan merefleksi seluruh rangkaian kegiatan selama mempelajari modul 1.1. yaitu Filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan. Dalam mengerjakan tugas ini saya menggunakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway, melalui pertanyaan sebagai berikut :


1.Fact (Peristiwa) Program Guru Penggerak angkatan 7 dibuka perdana oleh Menteri Kemdikbudristek, Nadiem Anwar Makarim B.A. M.B.A dan Dirjen GTK, Prof. DR. Nunuk Suryani, M.Pd pada hari Kamis, 20 Oktober 2022 melalui video conference. Pada tanggal 22 Oktober 2022 diadakan lokakarya orientasi yang dilakukan secara luring di SMPN 1 Cikarang Barat Kabupaten Bekasi, dari pukul 08.00 s.d. 16.00 WIB. Dalam kegiatan ini diundang juga pengawas dan Kepala sekolah tempat kami mengajar. Dengan diikutsertakannya Kepala sekolah dalam lokakarya tersebut diharapkan dapat memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi sehingga kami dapat melaksanakan Pendidikan Guru Penggerak ini dengan baik. Selanjutnya kegiatan lokakarya orientasi lebih banyak berinteraksi dengan Pengajar Praktik dan teman-teman sekelompok yang terdiri dari 3 Pengajar Praktik dan 21 CGP. Ada beberapa hal yang harus dikerjakan oleh calon guru penggerak terkait tindak lanjut dari program ini. Pada tanggal 21 Oktober 2022 seluruh CGP diwajibkan mengerjakan pretest di LMS masing-masing. Setelah itu dilanjutkan dengan mempelajari modul 1.1. yaitu Mulai dari diri, eksplorasi konsep, eksplorasi konsep di forum diskusi dengan fasilitator, kolaborasi di ruang kolaborasi dan setiap CGP berkolaborasi bersama kelompoknya masing-masing untuk mempresentasikan hasil menemukenali nilai-nilai luhur kearifan budaya dan memberi umpan balik,dengan didampingi oleh fasilitator yang terus memberikan arahan dan motivasi kepada kami. Dengan jadwal yang telah disusun sebelumnya, kegiatan demi kegiatan telah saya lewati. Pengalaman pertama saya membuat sebuah karya berupa demonstrasi konstektual tentang filosofis Ki Hajar Dewantara, Pendidikan Yang Berpihak pada Murid, yang diunggah di youtube https://youtu.be/gzAjxCUROqU Setelah membuat demontrasi konstektual saya mengikuti elaborasi pemahaman bersama Ibu Ebah Suhaebah, melalui G-Meet. Ibu Ebah memberikan banyak bekal kepada saya tentang dasar-dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara, refleksi dan relevansinya dengan pendidikan di abad 21 ini, Kemudian yang kedua kalinya saya mengunggah tugas modul koneksi antar materi, kesimpulan dan refleksi pemikiran Ki Hajar dewantara.


2. Feeling (Perasaan) Selama dua minggu mengikuti pendidikan guru penggerak ini berbagai macam perasaan yang saya rasakan, antara senang, bangga, dan juga khawatir. khawatir tidak dapat melaksanakan pendidikan ini dengan baik dan maksimal, bahkan insecure atau merasa minder karena melihat teman-teman calon guru penggerak yang hebat. Disamping itu, ada beberapa kendala yang siap menghadang saya. Diantaranya yaitu kekurangpahamanan saya dibidang IT. Selain itu, kesibukan saya sebagai guru PAI yang harus mengisi 7 rombel dan saya juga sebagai operator dapodik. Semua itu mengharuskan saya untuk bisa membagi waktu antara tugas saya sebagai guru, sebagai operator dan tugas saya sebagai Calon Guru Penggerak. Sayapun harus lebih ekstra lagi dalam menjaga kesehatan, berdoa memohon agar Allah senantiasa memberikan kemudahan dan kelancaran. Rasa khawatir tidak bisa membagi waktu dan tidak bisa mengunggah tugas tepat waktu terkadang menghantui perasaan saya. Namun disamping kekhawatiran, terselip rasa gembira, saya merasa sangat beruntung mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan CGP, Apalagi ketika saya mulai menerapkan filosofis Ki Hajar dewantara dalam pembelajaran dikelas. Saya merasa kasih sayang saya terhadap murid semakin bertambah. Saya tidak lagi memandang murid yang sering bercanda, mengganggu teman-temannya, dan bermain-main di kelas sebagai anak yang nakal dan harus ditegur , karena saya menyadari bahwa kodrat anak adalah bermain. Maka muncul ide saya untuk mengemas permainan menjadi sebuah pembelajaran yang menarik. 3. Findings (Pembelajaran) Pembelajaran Calon Guru Penggerak ini menggunakan model Blended Learning ini, artinya kombinasi antara tatap maya, tatap muka dan melalui LMS. Semua metode pembelajaran ini sangat menarik bagi saya, karena membuka wawasan berbagai model pembelajaran yang bisa diterapkan bagi peserta didik di sekolah. Dari pembelajaran ini saya mendapat ilmu-ilmu baru yang sangat saya perlukan untuk meningkatkan kompetensi saya sebagai seorang pendidik, Melalui 6 Dasar pemikiran ki hajar Dewantara saya merasa mendapat bekal yang tidak ternilai harganya. Saya menyadari bahwa anak memiliki kodratnya sendiri, oleh karena itu saya harus memberikan kemerdekaan kepada anak-anak untuk menyelesaikan tugas-tugasnya sesuai dengan minat, bakat , dan kreatifitasnya.


Sebagai seorang pendidik saya harus menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat dengan mengacu pada trilogi pendidikan yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani. Saya menyadari bahwa anak memiliki kodrat merdeka, merdeka batin adalah pendidikan sedangkan merdeka lahir adalah pengajaran. Dua hal yang saling bergantung satu sama lain. Oleh karena itu saya harus memberikan kemerdekaan kepada anak-anak untuk menyelesaikan tugas-tugasnya sesuai dengan minat, bakat , dan kreatifitasnya sebab manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Sebagai pendidik saya harus senantiasa menghamba kepada anak atau dengan kata lain mendidik anak harus dengan lemah lembut, dengan hati yang bersih, tulus, ikhlas dalam mendidiknya, memberikan yang terbaik apa yang menjadi keinginan dan kebutuhannya dengan menanamkan budi pekerti yang luhur sehingga anak bisa menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter dan berakhlak mulia. 4. Future (Penerapan) Saya akan melakukan hal terbaik dalam proses pembelajaran yang saya lakukan di kelas, agar tujuan pendidikan bisa tercapai dengan maksimal. Banyak hal yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis Ki hajar Dewantara yang harus saya benahi, diantaranya Pembelajaran yang berpusat pada guru harus segera diganti dengan pembelajaran yang berpusat pada murid, agar tercipta interaktif yang menyenangkan didalam kelas. Memberi kebebasan kepada anak-anak untuk menggali potensi yang dimilikinya harus terjadi dalam proses pembelajaran agar mereka menemukan jati dirinya sehingga menjadi manusia seutuhnya. Menuntun peserta didik harus selaras dengan kodrat alam dan kodrat zaman yang dihadapinya sehingga bisa berdampak dan mempermudah mereka dalam mengatasi persoalan hidupnya di masa kini ataupun masa mendatang. Kita sebagai pendidik harus terus belajar karena Ilmu pengetahuan dinamis dan terus berkembang, Ayo bapak guru hebat kita harus senantiasa belajar dan belajar lagi untuk menjadi guru yang hebat agar bisa menuntun anak didik mewujudkan profil pelajar pancasila demi Indonesia Maju. Sekian pemaparan saya dalam Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.1 Pendidikan Calon Guru Penggerak Angkatan 7.1


JURNAL REFLEKSI Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak Setelah saya menjalani pembelajaran dari modul 1.1 hingga modul 1.2, hal yang menjadi pembelajaran bagi saya akan saya sampaikan dalam model refleksi 4P berikut ini : Hal yang paling penting dan mencerahkan bagi saya dalam proses pembelajaran modul 1.1 hingga 1.2 adalah : Pada modul 1.1 dijelaskan bahwa pendidikan yang kita laksanakan harus sesuai dengan dasar-dasar filosofi pendidikan yang dicetuskan oleh Ki hajar Dewantara, yaitu menuntun. Saya baru menyadari bahwa pendidik adalah “pamong” yang memfasilitasi / membantu anakah menebalkan atau membentuk kekuatan kodrat yang memang sudah ada pada diri anak dengan memberikan kebebasan kepada meraka untuk mengolah dirinya sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhannya untuk bekal hidup bersama engan orang lain baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidikan bukan semata-mata mengejar prestasi secara akademik, namun pendidikan yang sesungguhnya adalah menumbuhkembangkan karakter pada anak agar siap menghadapi kehidupannya dalam bermasyarakat sebagai profil pelajar pancasila yang religius, mandiri, kreatif, mampu berfikir kreatif dan selalu menanamkan sikap gotong royong. Pada modul 1.2 Juga dijelaskan tentang pentingnya nilai dan peran guru penggerak yang dibutuhkan dalam melaksanakan pendidikan. Nilai-nilai guru penggerak yang seharusnya juga dimiliki oleh setiap pendidik adalah : berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif.


Keterkaitan antara modul 1.1 dan 1.2 adalah bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesuai dengan dasar-dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara yang terdapat pada modul 1.1 dibutuhkan seorang pendidik yang memiliki nilai-nilai guru penggerak yang disebutkan dalam modul 1.2 yaitu berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif. Disamping memiliki nilai-nilai, seorang guru penggerak diharapkan dapat memainkan peran-peran pemimpin perubahan dalam ekosistem pendidikannya masing-masing. Peran-peran tersebut adalah menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, pendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid dan penggerak komunitas praktisi. 2. Feeling (Perasaan) Saat saya mempelajari modul 1.1 dan 1.2 saya merasa seperti mendapatkan pencerahan baru tentang tujuan pendidikan yang sebenarnya dan gagasan baru dalam mengembangkan metode pembelajaran yang menyenangkan, namun tetap melatih anak untuk berfikir kritis. Selama ini saya telah keliru karena pendidikan yang saya lakukan hanya mengejar nilai dan prestasi secara akademik, hingga mengesampingkan pembentukan karakter yang seharusnya menjadi kunci utama dalam pendidikan murid. 3. Findings (Pembelajaran) Sebelum saya mempelajari modul 1.1 dan 1.2 saya berfikir bahwa murid harus belajar sesuai dengan keinginan dan perintah guru. Saya menuntut murid untuk mendapatkan nilai yang bagus. Sayapun jarang melakukan refleki tentang kegiatan pembelajaran yang sudah saya lakukan, sehingga saya tidak mengetahui sejauh mana murid memahamai materi yang sudah saya sampaikan. Setelah saya mempelajari modul 1.1 dan 1.2 saya menyadari apa yang sudah saya lakukan adalah sebuah kekeliruan. Pendidik hanya sebagai orang yang menuntun anak menebalkan laku baik dan membentuk kekuatan kodrat yang memang sudah ada dalam diri anak agar anak dapat mengolah dirinya sesuai dengan potensi dan bakat yang mereka miliki untuk bekal bidup baik sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat.


Oleh karena itu seorang pendidik harus memiliki nilai dan peran sebagai seorang guru penggerak agar dapat mewujudkan profil pelajar pancasila dalam kehidupan sehari-hari. 4. Penerapan ke depan Rencana ke depan, saya akan berusaha menjadi pendidik yang lebih baik lagi dengan melaksanakan pendidikan yang berpihak pada murid, dan selalu melakukan pengembangan diri dengan meningkatkan kompetensi sebagai seorang pendidik secara mandiri dan berkesinambungan, sehingga dengan nilai dan peran yang saya miliki, saya mampu mewujudkan anak didik yang berkarakter sesuai dengan profil pelajar pancasila. Sekian pemaparan saya dalam Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.2 Pendidikan Calon Guru Penggerak Angkatan 7. Salam dan Bahagia..


Peristiwa (Facts): Dalam melakukan refleksi ini saya menggunakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu 4F (Facts, Feelings, Findings, Future). 1. Pada Modul 1.3, di alur Mulai dari Diri, saya sebagai CGP diminta mampu merumuskan visi pribadi mengenai murid dan sekolah yang menumbuhkembangkan Profil Pelajar Pancasila. Dalam memaknai bagaimana pentingnya visi tentang murid, saya diminta untuk menggambarkan impian tentang murid saya di masa depan. Dalam hal ini murid impian saya adalah “murid-murid yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, kreatif, berprestasi, mandiri, bernalar kritis, memiliki jiwa gotong royong dan peduli pada sesama, sehingga mampu menghantarkan murid menjadi pribadi yang tangguh, dapat diterima di mana saja, menjadi pemimpin, kreatif dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan serta bermanfaat di manapun dia berada.” Setelah menjabarkan murid impian saya, saya juga diminta untuk menyusun visi sebagai guru penggerak dari gambaran murid yang saya impikan ini. Hal ini dilakukan agar impian saya terhadap murid menjadi sebuah kenyataan dan dapat terwujud di kehidupan yang akan datang. Setelah Menyusun visi, kemudian saya membuat sebuah Prakarsa perubahan menggunakan Inkuri Apresiatif (IA) sebagai paradigma manajemen perubahan (BAGJA). IA merupakan suatu pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. IA menggunakan prinsip-prinsip psikologi positif di sekolah. JURNAL REFLEKSI Modul 1.3 Visi Guru Penggerak


Pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan ke arah yang lebih baik melalui tahapan BAGJA. 2. Perasaan (Feelings) Yang saya rasakan pada saat mempelajari modul 1.3 baik secara mandiri maupun di ruang tatap maya Bersama fasilitator dan juga saat berkolaborasi dengan teman satu kelompok, kemudian diperkuat pula dengan elaborasi pemahaman oleh Instuktur, saya merasa senang sekali karena terbukanya pemahaman saya tentang visi guru penggerak dan sangat optimis sekali, saya dapat mewujudkan visi tersebut. Saya juga baru memahami bahwa kita harus memanfaatkan asset sebagai kekuatan positif untuk memulai melakukan perubahan demi terwujudnya sebuah visi yang telah dicitacitakan, walaupun dalam perjalanan mewujudkan perubahan tersebut tidak akan berjalan mulus dan pasti akan menemui hambatan atau tantangan. 3. Pembelajaran (Findings) Hal penting yang saya dapatkan dari modul 1.3 ini adalah ketika seorang guru penggerak akan memulai suatu perubahan maka ia membutuhkan sebuah sebuah paradigma atau pendekatan. Pendekatan tersebut berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Inkuiri apresiatif adalah paradigma manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Cooperrider & Whitney, 2005; Noble & McGrath, 2016). Pendekatan IA meyakini bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisas yang dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif pada diri seseorang. IA dalam Bahasa Indonesia disebut BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi). Untuk melakukan perubahan yang positif tidak harus bermula dengan mengidentifikasi permasalahan yang ada ,namun kita fokuskan pada kekuatan apa yang telah kita miliki sehingga pemikiran kita diarahkan pada hal yang positif. Selain itu saya juga diminta untuk merumuskan visi sebagai Guru penggerak, merumuskan prakarsa perubahan dan membuat tahapan BAGJA. 4. Penerapan (Future) Setelah saya mempelajari modul 1.3 ini, saya akan mencoba untuk mewujudkan visi yang sudah saya buat dan merumuskan prakarsa-prakarsa perubahan, tentunya saya akan berkolaborasi dengan semua pihak untuk melakukan perubahan positif dengan bersumber pada aset sebagai kekuatan yang dimiliki guna mewujudkan murid impian sebagai bentuk ejawantah dari murid yang berprofil pelajar Pancasila. Saya akan berusaha mewujudkan visi saya yaitu “Mewujudkan generasi yang religius, cerdas dan berkarakter sesuai dengan profil pelajar pancasila melalui ekosistem pendidikan yang berpihak pada murid”


Untuk menyampaikan jurnal refleksi dwimingguan modul 1.4, saya menggunakan model 4F / 4P yaitu Facts/Peristiwa, Feelings / Perasaan, Findings / Pembelajaran, Future / Penerapan. Penjelasannya sebagai berikut: 1. Peristiwa (Facts) Kegiatan modul 1.4 ini dimulai pada tanggal 6 Desember 2022. Materinya tentang mulai dari diri di sini saya diminta membuat catatan dan pertanyaan tentang kasus atau persoalan yang diberikan dalam LMS. Pada tanggal 7,8,9 Desember 2022 materi masuk pada eksplorasi konsep. Kegiatan ini dilakukan secara mandiri. Materinya sangat banyak yaitu disiplin positif dan nilai-nilai kebajikan universal, Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Keyakinan Kelas, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Restitusi - Lima Posisi Kontrol, Restitusi - Segitiga Restitusi. Pada tahap ini CGP memahami konsep budaya positif dan saling berdiskusi dengan CGP lain, Saling memberi masukan dan penguatan serta saling menanggapi. Pada tanggal 12 Desember 2022 bersama fasilitator di ruang kolaborasi. Fasilitator membimbing dan mendampingi kami untuk diskusi dalam kelompok kecil. Saya berada pada kelompok 4, dengan dua orang teman lainnya yaitu ibu Ida Rosilawati dan pak Supriyadi. Masalah yang dibahas adalah 4 kasus masalah murid di sekolah. Kami menjawab pertanyaanpertayaan sehubungan dengan kasus yang terjadi yang dihubungkan dengan materi dalam budaya positif. JURNAL REFLEKSI Modul 1.4 Budaya Positif


Pada tanggal 13 Desember 2022, kegiatannya Ruang kolaborasi presentasi dan diskusi. Di sini masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya kemudian kelompok lain menanggapi dan memberikan masukan terhadap tugas kelompok temannya. Setelah presentasi tugas kelompok semakin sempurna untuk diunggah ke LMS pada sesi unggah tugas ruang kolaborasi Selanjutnya pada tanggal 14-15 Desember 2022 jadwal untuk Demonstrasi Kontekstual. Yang dilakukan disini, saya diminta mempraktikkan segitiga restitusi untuk masalah atau kasus yang dilakukan murid di sekolah. praktiknya saya diminta membuat scenario singkat dan memerankan kasus tersebut Bersama siswa. Saat itu saya melakukan restitusi pada dua orang siswa yang melakukan kesalahan, dan saya menyelesaikan kasus itu dengan segitiga restitusi. Pada tanggal 19 Desember 2022 kegiatannya Elaborasi pemahaman bersama instruktur di goole meeting. Instruktur menjelaskan secara jelas materi budaya positif sehingga materi itu makin dipahami oleh CGP. Setelah itu saya sebagai CGP diminta menjelaskan hubungan budaya positif dengan materi 1.1,1.2 dan 1.3 pada sesi koneksi antar materi. Saya membuat koneksi antar materi ini dalam bentuk power point yang saya unggah ke google drive dan kemudian Link nya saya kirimkan ke LMS. Selanjutnya kegiatan terakhir dari modul 1.4 ini adalah aksi nyata. CGP diberi waktu sampai tanggal 9 Maret 2023. Pada tanggal 10 Januari 2023, saya bentuk keyakinan kelas Bersama murid kelas 5. Dan pada tanggal 14 Januari 2023 saya adakan pengimbasan materi budaya positif kepada rekan sejawat. Kegiatan ini agak terlambat saya lakukan karena terbentur libur akhir semester 1, dan saya mengerjakan tugas ini setelah liburan. Hal baik yang dialami dalam pembelajaran itu, saya memahami materi tentang budaya positif ini dan saya juga mampu mengimbaskan kepada teman sejawat. Hambatan yang saya temui untuk mengimbaskan materi ini adalah suara saya yang kurang bagus karena kondisi kesehatan saya terganggu.


2. Perasaan. (Feelings) Selama pembelajaran berlangsung, saya merasa senang karena materinya sangat bagus dan dekat sekali dengan tugas sebagai seorang guru. Ketika dalam berdiskusi kelompok, saya juga sangat bahagia karena dengan demikian saya makin paham materi budaya positif ini Saya sangat bersyukur bisa mengikuti Pelatihan Guru Penggerak ini karena dengan demikian saya tahu tentang budaya positif ini. Ilmu yang sangat berharga bagi saya untuk modal saya dalam mendidik murid di sekolah dan juga mendidik anak-anak saya di rumah. Saya juga merasa tertantang untuk bisa mengimbaskan materi ini kepada rekan-rekan sejawat di sekolah saya. 3. Pembelajaran (Findings) Pembelajaran yang dapat saya petik dari kegiatan pada modul 1.4 ini adalah saya mengetahui bahwa untuk menciptakan budaya positif di sekolah sangat dituntut kerja sama dan kekompakan serta keselarasan dari semua pihak di sekolah. Budaya Positif tidak bisa diciptakan oleh satu orang saja. Harus ada Kerjasama dari semua pihak di sekolah termasuk orang tua siswa dan masyarakat. Kerja sama yang baik dari semua unsur akan memudahkan terciptanya budaya positif dan juga terbentuknya Profil Pelajar Pancasila di kalangan murid. Semoga warga sekolah saya bisa lebih meningkatkan terciptanya budaya positif ini di sekolah. 4. Penerapan. (Future) Saya akan menerapkan materi tentang budaya positif yang sudah saya dapatkan dalam pendidikan ini di sekolah saya dan materi ini pun harus saya imbaskan kepada teman sejawat saya di sekolah karena untuk mewujudkan budaya positif ini tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja. Pengimbasan ini sangat penting untuk saya lakukan, agar rekan sejawat saya lebih memahami konsep budaya positif dan kolaborasi dalam penerapannya lebih mudah dilakukan. Pengimbasan juga merupakan salah satu tugas aksi nyata yang harus di kerjakan LMS. Kerjasama yang baik dan dukungan dari seluruh warga sekolah akan lebih memudahkan penerapan budaya positif ini di sekolah.


Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 Kab. Bekasi Jurnal Refleksi Oleh : Iis Sobariah SDN Karang Asih 10 Modul 2


JURNAL REFLEKSI Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi Fact (Peristiwa) Jurnal Refleksi kali ini membahas materi pada Modul 2.1 bertemakan Pembelajaran Berdiferensiasi. Refleksi ini ditulis sebagai media untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya dilakukan. Model refleksi menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future). 1. Pembelajaran modul 2.1 merupakan kelanjutan dari modul sebelumnya yaitu modul 1. Kegiatan diawali dengan pre-test, Dengan soal Panjang sempat terkendala jaringan, hampir dalam mengerjaannya tidak cukup waktu. Pembelajaran menggunakan alur MERDEKA (Mulai dari diri sendiri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata). Mulai dari diri merupakan awal untuk mempersiapkan diri dalam menerima pengetahuan baru pada alur ini, kami melakukan refleksi diri secara individu tentang keberagaman murid di kelas dan bagaimana langkah yang diambil untuk mengakomodir keberagaman murid sehingga semua terlayani dengan baik. Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi konsep pemikiran kita dari modul yang sudah dipelajari tentang Pembelajaran Berdiferensiasi, diskusi dengan rekan CGP dalam Ruang Kolaborasi untuk menemukan kesamaan persepsi serta saling memberi masukan konstruktif dalam menyusun rencana pembelajaran berdiferensiasi dan secara mandiri menyusun RPP berdiferensiasi diunggah di LMS untuk mendapat umpan balik dari sesama CGP dan fasilitator. Dalam ruang Elaborasi Pemahaman, kami mendapat penguatan dari narasumber kemudian membuat keterkaitan dengan materi sebelumnya yang sudah dipelajari, dan diakhiri dengan aksi nyata praktik pembelajaran berdiferensiasi di kelas sesuai dengan RPP yang sudah dibuat.


2. Feeling (Perasaan) Pada modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi ini saya mengawalinya dengan semangat dan antusias. Saya juga merasa penasaran karena sebagai guru, saya diharuskan memberlakukan siswa sesuai dengan karakteristiknya. Selama ini saya hanya berfokus pada ketercapaian materi kurikulum, sehingga saya hanya mengejar ketuntasan materi saja. saya mengabaikan banyak keragaman kebutuhan belajar murid dalam satu kelas. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan nilai-nilai filosofi dari KHD tentang belajar adalah menuntun murid mencapai tujuan, dan tentunya guru tidak bisa memaksa masing-masing murid untuk melewati jalan yang sama dalam mencapai tujuannya. 3. Findings (Pembelajaran) Pembelajaran berdiferensiasi didesain agar guru bisa melaksanakan pembelajaran yang mampu mengakomodir berbagai macam kebutuhan belajar murid. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian berjenjang dan berkelanjutan. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan belajar yang aman dan nyaman pun akan didapatkan murid. 4. Future (Penerapan) Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat diselenggarakan secara efektif, maka perlu pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan, minat dan profil belajar murid, agar guru dapat menentukan perbedaan konten, proses, serta produk dalam kegiatan pembelajaran. Yaitu dengan asesmen diagnostic non kognitif. Data pemetaan bisa diperoleh dari data murid pada tahun/semester sebelumnya, melalui angket, melalui pengamatan, atau wawancara dengan sesama rekan guru dan wali murid. Pengalaman yang saya peroleh, saya jadikan sebagai bahan merefleksi diri terhadap proses pembelajaran yang saya lakukan dan saya jadikan sebagai bahan tindak lanjut untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas agar semua kebutuhan murid dapat terlayani dan terakomodir dengan baik.


JURNAL REFLEKSI Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional 1. Peristiwa (Facts) Pada pembelajaran modul 2.2 (pembelajaran sosial dan emosional) sama dengan modul-modul sebelumnya yaitu dengan alur MERDEKA yang dimulai dari mulai dari diri. Mulai dari alur pertama alur mulai dari diri menjawab beberapa pertanyaan di LMS sebagai refleksi individu selama menjadi seorang pendidik tentunya telah mendapatkan banyak pengalaman yang mengarah pada pembelajaran sosial dan emosional. Pengalaman tentang bagaimana kami menghadapi krisis tersebut, serta apa yang kami pelajari dari krisis tersebut, sehingga kami bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Setelah itu memasuki alur kedua yaitu eksplorasi konsep, pada alur eksplorasi konsep calon guru penggerak belajar secara mandiri melalui materi-materi yang disajikan dalam forum LMS, calon guru penggerak juga diminta untuk menganalisis kasus dan saling menuliskan komentar pada forum diskusi daring. Memasuki alur ketiga yaitu ruang kolaborasi yang dibagi menjadi dua sesi, ruang kolaborasi ini dipandu oleh fasilitator Ibu Siti Amanah. Ruang kolaborasi sesi pertama dimulai dengan refleksi materi pada eksplorasi konsep sejauh mana pemahaman calon guru penggerak pada materi tentang pembelajaran sosial dan emosional. Kemudian kesepakatan kelas dalam pembelajaran dan diskusi kelompok berdasarkan kelompok yang telah dibagi yaitu mendiskusikan bagaimana pengimplementasian pembelajaran sosial dan emosional di sekolah. Dilanjutkan dengan ruang kolaborasi sesi kedua yaitu melakukan presentasi hasil diskusi kelompok.


Alur yang keempat yaitu demontrasi kontekstual yaitu calon guru penggerak diminta untuk membuat rencana pelaksanaan pembelajaran sosial dan emosional, saya membuat RPP pembelajaran sosial dan emosional yang terintegrasi dalam kurikulum akademik hal ini karena tanpa disadari sebetulnya sebagai pendidik sudah menerapkan pembelajaran sosial dan emosional dalam pembelajaran hanya belum terarah dengan pembelajaran sosial dan emosional yang didapatkan dalam pendidikan guru penggerak . Selanjutnya alur yang kelima adalah eloborasi pemahaman bersama instruktur yaitu Bapak Dadang Darmawan. pada alur ini calon guru penggerak mendapat penguatan tentang materi pembelajaran sosial dan emosional. Selanjutnya alur yang keenam adalah koneksi antar materi mengaitkan materi pembelajaran sosial dan emosional dengan materi yang telah didapatkan pada modul sebelumnya. Alur terakhir dari alur merdeka adalah aksi nyata. Pada aksi nyata ini calon guru penggerak tidak diminta mengunggah tugas pada LMS akan tetapi menampilkannya kepada pengajar praktik pada pendampingan individu keempat. Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Pembelajaran Sosial dan Emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning) yang bertujuan untuk mengembangkan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Pembelajaran Sosial Emosional ini dapat diimplementasikan di kelas atau sekolah dengan 4 indikator yaitu, pembelajaran eksplisit, integrasi dalam pembelajaran guru dan kuirkulum akademik, melalui proses menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah, serta penguatan KSE Tenaga pendidik dan Tenaga Kependidikan. 2. Perasaan (Feelings) Saya merasa sangat beruntung dan bersyukur karena saya berkesempatan untuk dapat mengikuti Pendidikan Guru Penggerak sehingga saya bisa mendapatkan ilmu-ilmu baru yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya.


Sebelum mempelajari modul ini saya berpikir bahwa pembelajaran sosial dan emosional ini akan tumbuh dengan sendirinya pada murid seiring dengan tingkat kedewasaannya. Tanpa sadar saya pun pernah menerapkan pembelajaran sosial dan emosional ini sebelum mempelajari modul ini dengan memberikan motivasi kepada murid, mendengarkan dan memberikan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi, dan berempati kepada murid-murid saya. Ternyata hal-hal yang saya terapkan belum sepenuhnya tepat. Saya merasa masih banyak kekurangan pada diri saya dalam menerapkan pembelajaran sosial dan emosional ini. Untuk itu saya berharap saya dapat menerapkan pembelajaran sosial emosional ini baik secara eksplisit maupun secara terintegrasi dalam kurikulum sekolah. Hal yang saya tidak sadari juga sebetulnya ada juga yang sudah diterapkan dalam pembelajaran yang terintegrasi dalam kurikulum pembelajaran yaitu seperti keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dalam pembelajaran secara berkelompok. 3. Pembelajaran (Findings) Dari modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional banyak sekali ilmu baru yang bisa saya dapatkan. Dari modul ini saya mendapatkan pelajaran bahwa mengenali emosi diri sebelum melakukan setiap tindakan itu harus agar tindaan tersebut tidak berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Selain mengenali emosi diri, kita juga dituntut untuk mampu mengelola emosi tersebut agar kita kembali ke keadaan semula yaitu dalam keadaan yang bahagia. Selain itu, banyak lagi ilmu yang saya dapatkan di modul ini seperti kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kesemua materi tersebut menginginkan terciptanya hubungan yang baik dan positif dengan sesama rekan kerja, dengan murid maupun dengan masyarakat disekitar kita. Kompetensi sosial emosional ini juga dapat diterapkan di kelas maupun disekolah. Penerapan PSE di kelas bisa dilakukan dengan pembelajaran secara eksplisit maupun terintegrasi dalam proses belajar guru dan kurikulum akademik.


Menerapkan pembelajaran sosial dan emosional dalam pembelajaran baik secara eksplisit maupun terintegrasi dalam kurikulum akademik maupun iklim dan budaya sekolah. Saya akan mencoba menerapkannya terlebih dahulu dalam lingkup kelas saya disekolah seperti melakukan Bernafas dengan kesadaran penuh sebelum memulai pembelajaran, kemudian juga mengintegrasikan kompetensi tersebut dalam pembelajaran saya seperti menerapkan kompetensi kesadaran sosial dalam kegiatan diskusi di kelas, kemudian menerapkan keterampilan berelasi pada saat melakukan refleksi ataupun memberikan umpan balik terhadap hasil kerja teman maupun penjelasan guru dengan menggunakan kata-kata yang positif dan mudah dimengerti. Menginformasikan kepada warga sekolah tentang pembelajaran sosial dan emosional serta berkolaborasi kepada orang tua agar pembelajaran sosial dan emosional ini dapat terlaksana dengan optimal. Dengan mempelajari modul ini dan melakukan penerapan pembelajaran sosial dan emosional saya berharap dapat melakukan perubahan positif pada manajemen diri saya yang masih kurang dan dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yang terkadang saya masih sulit untuk mengambil keputusan dan mempertimbangkan segala resiko dari keputuasan yang diambil. Juga dapat dilakukan dengan membentuk iklim kelas dan budaya sekolah serta dengan melakukan penguatan pada Tenaga pendidik maupun tenaga kepedidikan. Adapun tujuan utama PSE itu sendiri adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal. 4. Perubahan (Future) Semoga Bermanfaat Salam dan Bahagia ..


JURNAL REFLEKSI Modul 2.3 Coachinguntuk Supervisi Akademik 1. Peristiwa (Facts) Pada pembelajaran modul 2.3 (Coaching untuk Supervisis Akademik) diawali dengan kegiatan mulai dari diri. dimana saya membuat blog yang berisikan jawaban dari pertanyaan pemantik yang diberikan untuk merefleksikan diri saya tentang supervisi di sekolah saya, kemudian masuk ke eksplorasi konsep yang membahas tentang coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri coaching, mentoring, konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari system Among yang merupakan konsep dari Ki Hajar Dewantara. Selanjutnya kami mempelajari tentang eksplorasi paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervise akademik, selain itu dijabarkan perbedaan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik. Selanjutnya di modul yang sama, kami juga mempelajari tentang kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching , disini dipelajari alur coaching mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab yang diakronimkan menjadi TIRTA.


Karena diharapkan komunikasi dalam proses coaching akan mengalir seperti air . Di modul ini juga dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi seorang pendengar aktif dengan sesekali memberikan tanggapan atas apa yang sedang dibicarakan oleh coachee, dan dibahas tentang keterampilan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching, Selain itu, modul ini juga membahas tentang jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana aksi, coaching untuk melakukan refleksi, coaching untuk memecahkan masalah dan coaching melakukan kalibrasi, selanjutnya di forum diskusi eksplorasi kami saling melakukan pemantapan pemahaman dengan berdiskusi antar CGP. Mamasuki alur ketiga yaitu ruang kolaborasi saya berpasangan dengan Bu Siti mahruroh melakukakn sebuah percakapan coaching untuk benar-benar memberikan pengalaman coaching secara nyata dengan teman sesama CGP, dan hasil percakapan divideokan dan diunggah ke LMS, kemudian pada alur Demonstrasi kontekstual, kami melakukan tugas kelompok dengan beranggotakan 3 orang (Bu Kusdarini, saya, dan Bu endah) kami membuat video percakapan dengan 1 CGP menjadi observer, 1 CGP lain menjadi coach, dan 1 CGP lainnya menjadi Coachee dan kami melakukannya secara bergiliran. Selanjutnya pada alur keempat yaitu elaborasi pemahaman bersama bapa instruktur membahas tentang coaching dan supervisi akademik secara mendalam. Pada alur berikutnya yaitu koneksi antar materi, kami membuat refleksi tentang apa yang kami dapati dan bagaimana rencana dan Langkah ke depannya yang akan kami lakukan, selanjutnya kami membuat rancangan aksi nyata yang berkaitan dengan supervisi akademik yang dilakukan dengan teman sejawat, dan pada tanggal 28 maret saya melakukan test akhir modul 2. 2. Perasaan (Feelings) Perasaan saya diawal mempelajarai modul 2.3. ini, saya merasa bingung dan tidak tahu bagaimana menjadi coach yang baik dan bisa membantu coachee dalam menemukan solusi dari permasalahannya tetapi ketika saya sudah mempelajari modul ini, sudah banyak tugas yang saya kerjakan akhirnya saya mulai memahami mengenai proses coaching ini.


Mempraktekkan proses coaching berdasarkan kompetensi inti coaching serta prinsi-prinsip coaching dengan murid dalam menyelesaikan permasalahan terkait proses pembelajaran sehingga proses coaching yang saya lakukan mendapatkan solusi dari permasalahan yang dihadapi coachee. mengimplementasikan proses coaching kepada seluruh rekan sejawat agar rekan sejawat, agar rekan sejawat saya dapat menerapkan proses coaching kepada murid-muridnya. Melalui proses coaching dapat menggali potensi setiap individu dan membantu mengarahkan untuk menemukan sendiri solusi dari setiap permasalahannya. Saya sangat senang mendapatkan ilmu baru serta saya bersemangat menerapkan coaching ini kepada murid dan teman sejawat karena proses coaching ini membantu coachee untuk belajar bukan mengajarinya dalam mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi serta melalui proses coaching ini dapat menggali potensi dari coachee. 3. Pembelajaran (Findings) Dari modul 2.3 yang membahas tentang materi Coaching ini, saya menjadi lebih memahami bahwa kegiatan coaching adalah kegiatan yang menstimulasi pemikiran coachee dan memberdayakan potensi coachee, di mana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pemebelajaran diri dan pertumbuhan pribadi dari coachee. Proses coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar dari pada mengajarinya. Kompetensi inti coaching yang perlu diperhatikan dalam melakukan proses coaching yaitu kehadiran penuh, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot. Percakapan coaching juga harus diterapkan sesuai dengan alur TIRTA yaitu adanya tujuan, identifikasi, rencana aksi, tanggung jawab. Serta ketika melakukan supervisi akademik tahapan yang harus dilakukan yaitu pra observasi, observasi, dan pasca observasi. 4. Perubahan (Future) Terima kasih Salam dan bahagia ...


JURNAL DWIMINGGU PENGAMBILAN KEPUTUS KEBAJIKAN SE Dalam menulis karya refleksi ini, sa yakni : Connection, Challenge, Con Dwimingguan Modul 3.1 : Pengambilan Keputusan Berbasis N : 1. CONNECTION Pembahasan modul ini fokus pada khususnya pada kasus yang berkai tersebut akan menentukan arah menunjukkan integritas dari instans akhirnya akan berpengaruh pad didapatkan murid. Filosofi pendidik mampu memberikan teladan dala dengan menggunakan paradigma yang berdasarkan kebajikan univers


REFLEKSI UAN MODUL 3.1 SAN BERBASIS NILAI-NILAI BAGAI PEMIMPIN aya menggunakan model refleksi 4C, ncept, Change. Berikut Jurnal Refleksi Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin keterampilan mengambil keputusan, itan dengan dilema etika. Keputusan h dan tujuan suatu instansi dan si tersebut. Keputusan tersebut pada da kualitas pendidikan yang akan kan dari KHD mengarahkan guru agar am praktik pengambilan keputusan dan prinsip pengambilan keputusan al.


Guru harus mampu mengkomunika kebaikan saat berhadapan dengan 2. CHALLENGE 1. Guru penggerak diharapka universal, berkepribadian da melaksanakan tugasnya dan bertanggung jawab yang berpi 2. Guru penggerak dihara pembelajaran yang berpega universal pada saat pengam dilema etika atau bujukan mor 3. CONCEPT Dilema Etika adalah kondisi diman opsi yang kedua-duanya secara mo (benar VS benar). Bujukan Moral ad harus memilih dan membuat keput 4 paradigma dilema etika, yakni : 1. Individu lawan Kelompok (indiv 2. Rasa Keadilan lawan Rasa Kasih 3. Kebenaran lawan Kesetiaan (tru


asikan dan memberikan dorongan nilai kasus dilema etika dan bujukan moral. an memahami nilai-nilai kebajikan n memiliki kinerja yang baik dalam mampu mengambil keputusan yang ihak pada murid. apkan dapat menjadi pemimpin ng teguh pada nilai-nilai kebajikan bilan suatu keputusan terkait kasus ral. na seseorang harus memilih antara 2 oral benar, tetapi saling bertentangan dalah sebuah kondisi ketika seseorang tusan anatar benar dan salah. vidual vs community) an (Justice vs Mercy) uth vs loyalty)


4. Jangka Pendek lawan jangka Pan 3 Prinsip Pengambilan Keputusan 1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (E 2. Berpikir Berbasis Peraturan (R 3. Berpikir Berbasis rasa Peduli (C 9 langkah Pengambilan dan Pengu 1. Mengenali nilai-nilai yang salin 2. Menentukan siapa yang terliba 3. Kumpulkan fakta-fakta yang re 4. Pengujian benar atau sala Profesional, Uji Intuisi, Uji Pub 5. Pengujian paradigm benar lawa 6. Melakukan prinsip resolusi 7. Investigasi Opsi trilema 8. Buat keputusan 9. Lihat lagi keputusan dan refleks


njang (short term vs long term) , yakni : End Based Thingking) ule based Thingking) Care based Thingking) ujian keputusan, yakni : ng bertentangan at dalam situasi ini levan dengan situasi ini ah (uji illegal, uji Regulasi,/standar likasi, Uji Panutan/Idola) n benar i


4. CHANGE Setelah mempelajari modul in pembelajaran yang dalam setiap pertimbangan 4 paradigma, 3 keputusan. Sehingga diharapkan dipertanggungjwabkan, bijak, berm Keputusan-keputusan dapat mere dijunjung tinggi, menjadi rujukan da


ni, berusaha menjadi pemimpin mengambil keputusan berdasarkan prinsip dan 9 langkah pengujian keputusan yang saya ambil dapat manfaat dan berpihak pada murid. efleksikan nilai-nilai kebajikan yang an teladan bagi warga sekolah


JURNAL R DUA MINGGUAN Pemimpin dalam Penge SUPRIY CGP An Kabupat


REFLEKSI N MODUL 3.2 elolaan Sumber Daya YADI, S.Pd ngkatan 7 ten Bekasi


FACT FEELING FINDING FUTURE


Peristiwa Perasaan Pembelajaran Penerapan


FAC ( PERIST MODUL 3.2 diawali d pada kegiatan ini menja bertujuan untuk men awal tentang ekosiste pemimpin dalam penge


CT TIWA ) dengan Mulai dari Diri, awab pertanyaan yang ngetahui pengetahuan m sekolah dan peran elolaan sumber daya.


FEEL ( PERA Perasaan saya gembira dan pe tahapan pembelajaran bersam dan rekan – rekan CGP lainn berbagi pengetahuan ter kekurangan/masalah dan pend


LING SAAN ) enuh semangat mengikuti tiap ma Instruktur, Pengajar praktik, nya. Mencerahkan dan saling kait pendekatan berbasis ekatan berbasis Aset/kekuatan.


FIND ( PEMBELA Sekolah adalah bentuk inte ( semua warga sekolah dan dan faktor Abiotik ( k prasarana, lingkungan alam Proses pembelajaran di mo banyak pengetahuan da ekosistem.


DING AJARAN ) raksi antara faktor Biotik n lingkungan sekitarnya ) keuangan, sarana dan m ) dul 3.2 ini memberi saya n pencerahan tentang


FU ( PEN Akan saya implementasi menganalisis asset kekua dimiliki sekolah dan li diberdayakan dalam p sekolah. Saya akan berkolaborasi untuk memanfaatkan mengembangkan potensi m


UTURE ERAPAN ) kan Modul 3.2 dengan atan dan potensi yang ngkungan sekitar untuk pengembangan program i dengan rekan sejawat asset sekolah demi murid.


TERIMA TERGERAK – BERGERA


A KASIH AK - MENGGERAKKAN


JURNAL DUA MINGGU Pengelolaa yang Berdamp SUPRIY CGP An Kabupat


REFLEKSI AN MODUL 3.3 an Program pak Pada Murid YADI, S.Pd ngkatan 7 ten Bekasi


Jurnal refleksi Dwi mingguan ini untu pengalaman praktik baik yang telah dila Feeling, Finding, Future ) , sebagai re dilakukan di LMS Pendidikan Guru Peng Dalam dua minggu ini melakukan beber dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang Elaborasi Konsep, dan Aksi Nyata.


Click to View FlipBook Version