Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 201
202 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 203
204 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis Demografi Kondisi demografi di Dusun Grogol X menunjukkan bahwa Dusun Grogol X memiliki jumlah penduduk sebanyak 427 jiwa, dengan komposisi penduduk laki-laki sebanyak 192 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 235 jiwa. Mayoritas penduduk Dusun Grogol X adalah penduduk asli Desa Parangtritis. Penduduk usia kerja di Dusun Grogol X lebih dominan yaitu sebanyak 80%, sedangkan untuk penduduk usia anak-anak sebanyak 15% dan penduduk usia lansia sebanyak 5%. Ekonomi Kondisi ekonomi masyarakat di Dusun Grogol X sudah cukup sejahtera. Masih ada beberapa penduduk yang tergolong pra-sejahtera. Penduduk pra-sejahtera di Dusun Grogol X berjumlah sembilan KK. Bantuan yang disalurkan dari pemerintah berupa raskin dan BPJS. Penduduk Dusun Grogol X yang telah memiliki BPJS sebanyak 20%. Sebagian besar masyarakat Dusun Grogol X sebagai petani. Selain itu, juga terdapat masyarakat yang bermatapencaharian sebagai pedagang (asongan, penjual peyek, dan lotis di Pantai Parangtritis), buruh, dan PNS. Jumlah penduduk yang bermatapencaharian sebagai PNS sangat sedikit. Dalam setahun petani biasanya menanam padi, bawang merah, dan cabai. Padi biasanya ditanam satu hingga dua kali periode tergantung musim, sedangkan bawang merah ditanam dua kali dalam setahun. Hasil pertanian padi sebagian besar dikonsumsi secara pribadi oleh masyarakat dan sebagian lagi dijual ketika harga beras tinggi. Dusun Grogol X memiliki kelompok tani yang masih berperan aktif yang bernama kelompok tani “Rawa Cili” dengan kegiatan rutin seperti pertemuan dan pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh gapoktan. Kondisi perekonomian penduduk Dusun Grogol X termasuk dalam tingkat ekonomi rata-rata. Rasio penduduk berdasarkan jenis kelamin di Dusun Grogol X 45% 55%
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 205 5% anak-anak 80% angkatan kerja 15% lansia
206 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis Pendidikan Kesehatan Rata-rata pendidikan terakhir penduduk di Dusun Grogol X adalah Sekolah Menengah Atas (SMA). Tidak ada masyarakat Dusun Grogol X yang mengalami buta huruf, hanya saja yang menjadi permasalahan adalah beberapa lansia tidak memiliki kacamata baca. Sarana pendidikan yang tersedia di Dusun Grogol X adalah PAUD. Biasanya anak-anak Dusun Grogol X bersekolah di Dusun Grogol VIII. Menurut narasumber, sarana pendidikan di Dusun Grogol X sudah cukup, sehingga tidak perlu ditambah. Kondisi kesehatan masyarakat secara umum sudah cukup bagus dan tidak ada riwayat penyakit menular. Beberapa tahun belakangan ini, kader BSN aktif dalam memantau jentik nyamuk di seluruh permukiman warga Dusun Grogol X. Dusun Grogol X tidak memiliki sarana kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas, maupun Apotik. Masyarakat Dusun Grogol X biasanya berobat di Puskesmas di dekat Kantor Kecamatan yang secara administratif sudah berbeda desa. Bantuan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah kepada penduduk Dusun Grogol X berupa BPJS. Hanya 20% penduduk Dusun Grogol X yang telah memiliki BPJS. Kelembagaan Permukiman Kelembagaan atau organisasi yang ada di Dusun Grogol X terdiri atas Karang Taruna, LPMD, PKK, Posyandu, dan Kelompok Kandang “Dasa Kaloka” yang memiliki hewan sapi, kambing, dan kuda sebanyak sebelas ekor yang dimanfaatkan untuk penunjang pariwisata. Di Dusun Grogol X terdapat tiga kandang ayam potong dengan jumlah masing-masing kandang sekitar 2.000 ekor, 3.000 ekor, dan 7.000 ekor. Lembaga yang ada di Dusun Grogol X cukup aktif dan efektif. Seminggu sekali masyarakat Dusun Grogol X mengadakan arisan dan tabungan. Untuk kegiatan LPMD, setiap 35 hari sekali yaitu malam Sabtu Pahing diadakan pertemuan membahas kegiatan pembangunan di Dusun Grogol X. Setiap RT mengadakan pertemuan warga dan musyawarah pembangunan yang telah dilaksanakan di Dusun Grogol X setiap 35 hari sekali. LPMD biasanya mengurusi pembangunan yang bersifat aset milik dusun seperti pembangunan dan pemeliharaan bangunan Balai Dusun, pembangunan masjid, serta lapangan voli. Di Dusun Grogol X belum tersedia Posyandu bagi lansia. Kondisi permukiman di Dusun Grogol X secara umum sudah cukup bagus. Semua rumah penduduk sudah terbuat dari tembok. Di Dusun Grogol X tidak ada rumah yang tak layak huni. Permukiman di Dusun Grogol X dibagi kedalam dua blok permukiman besar. Satu blok permukiman berada di sisi timur laut jalan raya parangtritis sedangkan blok yang lain berada di sisi selatan jalan parangtritis. Blok permukiman yang berada di timur laut jalan parangtritis merupakan wilayah perbukitan. Pola permukiman yang berada di sini merupakan pola permukiman terpusat. Relatif mengelompok pada satu lokasi yang relatif datar. Grogol X pada bagian selatan Jalan Raya Parangtritis berada di wilayah yang datar sehingga kecenderungan pola permukiman memiliki pola mengikuti jalan lokal yang ada di pantai.
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 207 Infrastruktur Kondisi jaringan jalan di Dusun Grogol X secara umum sudah cukup bagus dengan komposisi 90% jalan sudah cor blok namun belum sempurna dan sisanya sudah menggunakan jalan aspal. Jalan yang masih menggunakan cor semen kebanyakan berada di Dusun Grogol X bagian utara yang berada di perbukitan. Kondisi yang bergelombang menjadikan lokasi ini tidak dibuat jalan aspal. Lebar jalan lokal di bagian Dusun Grogol X bagian atas sekitar dua meter dan hanya dilalui oleh masyarakat setempat. Berbeda dengan jalan yang ada di Grogol X bagian bawah yang dekat dengan pantai, jalan di lokasi ini relatif lebih baik mengingat wilayah ini merupakan kawasan wisata sehingga aksesibilitas sangat baik. Jalan di buat dari aspal dengan lebar jalan mencapai lima meter. Dusun Grogol X berada di antara kawasan pariwisata Pantai Depok dan Pantai Parangtritis. Pantai Depok merupakan pantai yang menyajikan wisata kuliner sedangkan Parangtritis sebagai mana yang telah lazim terkenal sebagai pantai maskot Yogyakarta. Grogol X sebagai dusun yang berada di keduanya, dilewati jalan lokal yang menghubungkan antara pantai depok dengan Pantai Parangtritis yang selalu dilewati wisatawan. Bahkan kini, telah muncul dan dikembangkan wisata baru yakni wista Gumuk Pasir sehingga dengan potensi wisata yang luar biasa tersebut menjadikan Grogol X bagian selatan memiliki infrastruktur jalan yang sangat baik. Kondisi jalan kampung
208 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis Sarana komunikasi di Dusun Grogol X cukup lancar termasuk koneksi internet. Semua rumah sudah teraliri listrik dan sudah menggunakan meteran listrik pribadi. Sarana olahraga yang tersedia di Dusun Grogol X hanya lapangan voli, sedangkan untuk sarana rekreasi berupa gumuk pasir dan pantai. Hal-hal yang perlu diperbaiki dari segi infrastruktur yaitu talud. Masih ada talud yang belum tersemen/permanen dan masih berupa tanah. Lampu penerangan jalan di Dusun Grogol X sudah cukup bagus.
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 209 Peribadatan Masyarakat Dusun Grogol X mayoritas beragama islam dengan persentase sebesar 95% dan non-muslim yaitu kristen sebesar 5%. Untuk sarana peribadatan, di Dusun Grogol X hanya terdapat 1 (satu) masjid dan mushola komplek Makam Syekh Bela-belu dan tidak ada bangunan gereja. Semua sarana peribadatan yang ada di Dusun Grogol X sudah sangat layak. Masjid yang berada di Dusun Grogol X adalah bantuan yang diberikan dari timur tengah. Masjid ini masih dalam proses pembangunan, peletakan batu pertama dimulai pada akir tahun 2015 Masehi atau awal tahun 1437 Hijriah. Masjid ini didesain untuk mampu menampung sejumlah 100 jamaah. Kapasitas ini cukup untuk menampung umat muslim yang ada di Dusun Grogol X. Replika Ka’bah untuk Manasik Haji Dusun Grogol X memiliki wilayah gumuk pasir. Kondisi ini menjadi khas karena menyerupai kondisi yang ada di gurun Tanah Haram Makkah. Kondisi yang serupa ini dimanfaatkan bagi umat muslim untuk melakukan pelatihan haji atau lebih lazim dikenal manasik haji. Terdapat bangunan replika Ka’bah yang digunakan untuk thawaf mengelilingi Ka’bah serta terdapat wilayah gumuk pasir barkhan yang dapat digunakan sebagai lokasi wuquf sebagai ilustrasi Padang Arafah. Dusun Grogol X memiliki potensi unggulan khususnya bagi umat muslim dalam manasik haji. Hal ini menjadi alasan pemerintah Kabupaten Bantul untuk menjadikan lokasi ini sebagai Islamic Center Kabupaten Bantul.
210 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis Lingkungan Kebencanaan Dusun Grogol X adalah salah satu wilayah terdampak gempa bumi tahun 2006 yang mengakibatkan 57 rumah rusak berat. Pemerintah memberikan bantuan dana sebesar Rp 15.000.000 per rumah untuk rumah yang termasuk kategori rusak berat. Pemerintah telah melakukan sosialisasi kebencanaan di Dusun Grogol X, seperti sosialisasi mengenai kebakaran di tingkat dusun, sedangkan sosialisasi mengenai gempa bumi sudah sering dilakukan di tingkat Desa. Kondisi air di Dusun Grogol X memiliki kadar kapur yang cukup tinggi. Di Dusun Grogol X sudah ada penduduk yang menggunakan PDAM sebanyak 3%. Sistem pengelolaan sampah di Dusun Grogol X masih dengan cara dibakar, belum ada sistem pengelolaan sampah terpadu. Kondisi drainase di Dusun Grogol X sudah cukup bagus, hanya saja sebagian saluran air belum permanen. Keamanan Kondisi keamanan di Dusun Grogol X sudah sangat aman. Sarana keamanan yang tersedia di Dusun Grogol X yaitu pos kamling dimana penduduk Dusun Grogol X melakukan ronda secara bergiliran setiap malam. Pembagian kelompok ronda berjumlah lima kelompok masing masing terdiri dari enam hingga tujuh orang setiap kelompok. Kelompok jadwal dibagi berdasarkan hari jawa yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 211 Sosial Budaya Potensi dan Tantangan Dusun Grogol X memiliki kelompok seni Jathilan yang disebut “Tunggu Wulung” dimana setiap 3 (tiga) bulan sekali melakukan pentas. Masyarakat Dusun Grogol X sering melakukan kegiatan Merti Dusun untuk melestarikan kebudayaan, sehingga kegiatan ini perlu tetap dilestarikan. Selain itu, ada kegiatan lain yang dinamakan Anggoro Kasih (Anggoro: Selasa, Kasih: Kliwon), yaitu melakukan syukuran setelah membajak sawah. Masyarakat Dusun Grogol X biasanya memanfaatkan Balai Dusun sebagai tempat pertemuan masyarakat dalam berbagai kegiatan Dusun. Di balai dusun juga digunakan sebagai tempat musyawarah, dan latihan kegiatan-kegiatan yang dipentaskan. Potensi pengembangan desa berupa potensi wisata yaitu gumuk pasir, camping ground, outbond, dan pantai. Potensi kuliner makanan seperti peyek membutuhkan marketing yang bagus karena pemasarannya masih dengan cara tradisional. Tantangan atau permasalahan yang ada di Dusun Grogol X untuk pengembangan dusun yaitu kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masih terpaku pada kegiatan pertanian, dan minimnya ketersediaan dana. Penduduk dusun belum memahami RTRW sehingga masih takut melakukan pengembangan karena dapat menyalahi dan melanggar aturan RTRW.
212 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis DUSUN MANCINGAN
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 213
214 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 215
216 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis Demografi Jumlah penduduk Dusun Mancingan secara keseluruhan adalah 2.305 jiwa dengan jumlah penduduk wanita 1.340 jiwa dan sisanya sejumlah 965 jiwa adalah penduduk pria. Jumlah penduduk tersebut merupakan penduduk asli, jika ditambah dengan pendatang jumlah penduduk Dusun Mancingan menjadi sekitar 3.000an jiwa. Jumlah keluarga yang dilihat dari data Kartu Keluarga (KK) di Dusun Mancingan sebanyak 484 KK. Sama seperti yang terjadi di Dusun Depok, penduduk usia muda yang masih bersekolah sudah mulai bekerja sebagai tukang parkir di lokasi-lokasi wisata. Kelompok usia kerja berkisar antara umur 19-55 tahun. Penduduk lansia yang ada di Dusun Mancingan berjumlah sekitar 18% dan masih ada beberapa yang bekerja, hanya 10% yang sudah tidak bekerja. Jika ada penduduk baru/ pendatang belum tentu lapor atau tidak semuanya lapor ke RT maupun dusun. Ekonomi Mata pencaharian utama penduduk Dusun Mancingan adalah rumah makan dan jasa atau perdagangan, serta sektor pariwisata sebesar 85%, sektor non-pariwisata seperti pertanian, PNS, TNI, POLRI sekitar 15%. Ditinjau dari data KK, kondisi kesejahteraan masyarakat di Dusun Mancingan prasejahtera sebanyak 15%. Dari jumlah 15% tersebut terdapat penduduk lansia sebanyak 9% dan komposisi penduduk lansia yang produktif sebesar 6%. Data tersebut merupakan data yang berasal dari pemerintah, tetapi kenyataannya hanya 8% penduduk lansia yang tergolong pra-sejahtera. Tanaman kacang tanah dengan teknik surjan Rasio jenis kelamin di Dusun Mancingan 42% 58%
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 217 Dusun Mancingan memiliki kawasan pertanian. Dalam satu tahun dilakukan dua kali penanaman padi, kacangkacangan dan bawang merah. Lokasi pertanian terletak pada lahan persawahan yang bermaterial tanah, dan bukan bermaterial bukan pasir. Penanaman padi biasanya dilakukan bulan November dan Mei. Sedangkan tanaman bawang dan tanaman kacang-kacangan ditanam pada musim kering setelah periode tanam padi. Khususnya tanaman bawang merah dan tanaman kacang-kacangan ditanam dengan metode surjan. Metode Surjan ditanam dengan membuat beda tinggi di suatu lahan. Tanah yang lebih tinggi untuk menanam dan tanah yang lebih rendah digunakan untuk pengairan dan mempermudah petani merawat tanaman karena beda tinggi membuat petani sejajar dengan tanaman bawang dan palawija. Selain sektor pertanian, terdapat pula sektor perikanan yang dikembangkan di Dusun Mancingan. Perikanan berupa tambak udang dilakukan di lahan pribadi dan milik perseorangan. Budidaya perikanan kolam dilakukan di halaman rumah penduduk. Hasil komoditas perikanan kolam dijual langsung ke pasar dan konsumen. Pada umumnya jenis ikan yang dibudidayakan adalah ikan lele dan metode kolam yang dikembangkan adalah kolam terpal. Minimnya lahan mendorong masyarakat untuk menjadikan lahan pekarangan sebagai kolam ikan. Dusun Mancingan terdiri dari perbukitan dan dataran, pemanfaatan pekarangan untuk digunakan sebagai kolam ikan memberi batasan pemanfaatan air. Air yang digunakan untuk kolam ikan bersumber dari air tanah yang terbatas sehingga tidak setiap saat diganti atau tidak mengalir. Oleh karena air yang terbatas dan tidak serta-merta diganti setiap saat maka jenis ikan lele menjadi pilihan yang cocok untuk dibudidayakan mengingat tidak membutuhkan air yang selalu diganti atau air mengalir. Lahan perkebunan di Dusun Mancingan sangat minim karena jarak antar rumah warga terlalu berdekatan. Komoditas tanaman hutan seperti pohon jati, kelapa, dan sengon dikembangkan oleh perseorangan. Sektor perekonomian di bidang jasa berupa warung, penginapan, bendi, penyewaan ATV, penyewaan payung, dan arena kolam renang anak. Kondisi pariwisata dari tahun ke tahun sejak 2006 pasca gempa sampai 2016 semakin meningkat, begitu pula taraf hidup masyarakat yang juga semakin meningkat. Kelompok tani di Dusun Mancingan bernama “Pasir Subur”. Pasir subur adalah kelompok tani yang mengelola daerah pertanian di dekat gumuk pasir. Lahan pertanian padi Dusun Mancingan
218 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis Rata-rata pendapatan penduduk yang tinggal di dekat Parangkusumo berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 2.000.000, sedangkan daerah relokasi antara Rp 1.000.000 hingga Rp 4.000.000. Bantuan yang masuk Dusun Mancingan dari pemerintah adalah raskin. Jumlah penduduk yang menerima sebanyak 8% KK atau 73 orang. Bantuan lain adalah PKH yaitu Keluarga Harapan dikhususkan untuk keluarga yang memiliki anak usia sekolah dan termasuk golongan kurang mampu. Dana bantuan langsung diberikan kepada penerima, lain halnya dengan raskin yang diberika melewati dukuh. Bantuan hewan ternak kambing merupakan program CDMK setiap tahun kepada 10 orang dan sistemnya bergiliran. Kelompok tani pernah mendapatkan bantuan benih. Kelompok ternak Ngudi Karya merupakan kelompok ternak sapi di Dusun Mancingan yang beranggotakan sekitar 20 orang. Kelompok tani ini saling bekerjasama dalam perawatan hewan ternak serta pemeliharaan. Kelompok Ternak dusun Mancingan Kelompok tani ini merupakan kelompok swakelola terpadu dalam pengembangbiakan dan pemeliharaan hewan ternak Kambing dan Sapi. ” “
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 219 Rata-rata pedidikan terakhir penduduk Dusun Mancingan adalah SMA. Masih ada penduduk yang buta huruf yaitu lansia sekitar 12 orang. Sarana pendidikan yang ada terdiri atas PAUD Wijayakusuma, KB (Kelompok Bermain) Kuncup Melati, TK Kuncup Melati, dan SD. Penambahan sarana pendidikan tidak perlu dilakukan, hanya perlu merenovasi bagian atap di TK dan KB. Jumlah siswa PAUD stabil, tetapi siswa TK berkurang karena banyak yang sekolah lebih memilih mendaftar ke TK IT di luar dusun. Pendidikan PAUD Kuncup Melati
220 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis Lembaga Nguri Budaya melingkupi kegiatan kebudayaan dan kesenian seperti jathilan, wayang, srandul, dan ketoprak yang beranggotakan warga Desa Parangtritis. Kegiatan rutin setiap tahun adalah pertunjukkan srandul saat Mangayubagya Kraton dan pertunjukkan jathilan jika ada kegiatan dari Dinas Pariwisata atau pribadi. Pokgiat LPMD aktif setiap 35 hari sekali setiap malam Rabu Kliwon dengan agenda rapat rutin, selain itu juga ada kegiatan kerjabakti di bidang pembangunan. Kegiatan PKK dan karang taruna rutin dilakukan satu bulan sekali. Kelompok organisasi lainnya adalah PORDASI. Di Dusun Mancingan sudah tidak ada kegiatan TPA. Di Dusun Mancingan perlu dibentuk lembaga Pokdarwis dan masih menunggu SK Dinas Pariwisata, sementara baru satu dusun tengah merintis di tahun 2016. Dahulu Dusun Mancingan memiliki koperasi, tetapi saat ini sudah tidak dijalankan. Menurut narasumber, kegiatan koperasi perlu dihidupkan lagi. Dusun Mancingan memiliki satu gedung yang difungsikan sebagai Balai Pertemuan di Pedukuhan Mancingan. Balai ini biasa digunakan sebagai tempat musyawarah dan kegiatan masyarakat lainnya. Kondisi kesehatan penduduk Dusun Mancingan kurang baik. Pada tahun 2016, ada empat orang yang menderita penyakit Demam Berdarah. Pihak dusun telah melaporkan dan sudah ada timbal balik dengan dilakukan fogging di wilayah dusun. Sarana kesehatan yang tersedia antara lain posyandu balita Wijaya Kusuma 1 dan Wijaya Kusuma 2. Kegiatan posyandu dilakukan setiap tanggal 3 dan 4 setiap bulannya. Posyandu untuk lansia belum tersedia di Dusun Mancingan. Pemerintah sudah melakukan sosialisasi tentang penyakit menular dua kali setahun. Lembaga non-pemerintah yang pernah mengadakan sosialisasi berasal dari LSM dengan sasaran utama adalah WTS. Bantuan dari pemerintah di bidang kesehatan berupa Jamkesmas, Jamkesda, Jamkesta. Tidak semua penduduk memiliki jaminan kesehatan. BPJS masih tersebar ke sekitar 30-40% penduduk. Bantuan lain yang pernah diberikan berupa PMT untuk penambahan gizi balita dari puskesmas dan desa. Dusun Mancingan sebagai pusat pariwisata Pantai Parangtritis memiliki masalah khusus terkait sampah. Sampah plastik/non organik menjadi masalah terbesar Di Dusun Mancingan sehingga masyarakat Dusun Mancingan mengupayakan pengelolaan sampah terpadu dengan memilah antara sampah organik dan sampah non organik. Khususnya sampah non organik seperti botol dan plastik oleh masyarakat digunakan sebagai kerajinan dan kreasi. Botolbotol yang seragam digunakan sebagai hiasan dan kerajinan. Kelembagaan Kesehatan
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 221 Permukiman Tata permukiman di Dusun Mancingan masih belum baik. Banyak bangunan yang didirikan tidak seragam menyebabkan pola permukiman menjadi tidak seragam. ” “
222 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis Dusun Mancingan berkembang sebagai pariwisata parangtritis menyebabkan banyak masyarakat terdorong untuk mendirikan bangunan yang difungsikan sebagai penginapan. Masing masing pemilik modal mengembangkan penginapan sesuai dengan besaran modal yang dimiliki sehingga banyak bermunculan losman dan hotel di sepanjang jalan raya Parangtritis. Kondisi bangunan permukiman di Dusun Mancingan beberapa masih belum baik. Terdapat rumah yang masih tergolong dalam rumah non permanen/tembok. Dua rumah warga tergolong tidak layak, salah satunya dihuni oleh lansia dan warga tuna netra. Kedua warga tersebut juga tergolong penduduk yang tidak mampu/pra-sejahtera. Usaha penginapan di sepanjang jalan Parangtritis Bangunan rumah hanya berukuran 2 x 3 meter. Tergolong dalam bangunan non permanen karena seluruh dinding dibuat dari bambu dengan lantai tanah. Atap bangunan terbuat dari genteng tanah. Hanya pilar penyangga bangunan yang terbuat dari cor semen. Bangunan seperti ini sangat riskan ambruk.
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 223 Jaringan jalan yang ada di Dusun Mancingan cukup baik karena dilewati jalan parangtritis. Jalan ini merupakan jalan lintas kabupaten yang menghubungkan Kabupaten Gunungkidul dengan Kabupaten Bantul serta Kota Yogyakarta sekaligus melalui jalur selatan. Jalan ini menjadi akses utama wisatawan yang berkunjung ke Pantai Parangtitis. Kondisi jalan masih ada yang perlu di cor blok terletak di beberapa wilayah Dusun Mancingan yang berdekatan dengan pantai, secara keseluruhan sepanjang satu kilometer. Jaringan internet sudah dapat diakses oleh seluruh penduduk. Jaringan listrik sudah terpasang secara merata, hanya satu rumah yang belum memasang jaringan listrik. Sarana olahraga yang ada seperti tenis meja, lapangan badminton dan bola voli. Lapangan bola voli perlu ada perbaikan. Dahulu Dusun Mancingan memiliki lapangan bola di dekat Parangkusumo, tetapi saat ini sudah difungsikan untuk tempat parkir. Sarana rekreasi antara lain Parangtritis, Parang Wedang, Gardu Action, Maulana Maghribi, Parangkusumo, Cepuri Parangkusumo, Selo Hening, dan Gua Panepen. Fasilitas umum yang tersedia yaitu balai dusun, balai RT (dari delapan RT ada tiga RT yang memiliki balai RT), terminal reguler untuk bus antar kota, terminal wisata, lokasi relokasi, terminal semi reguler, taman dari pemerintah, ikon tulisan Parangtritis. Kompleks ruko di daerah relokasi sebelah timur berfungsi maksimal, tetapi ruko sebelah barat belum berfungsi maksimal. Terminal Parangtritis merupakan terminal semi regular yang melayani angkutan penumpang dari dan ke Kota Yogyakarta dengan tujuan akhir terminal besar giwangan. Namun meningkatnya kepemilikan kendaraan bermotor menjadikan terminal parangtritis kian sepi penumpang. Setiap harinya hanya berkisar 6 hingga 7 armada yang beroperasi di terminal ini mengantarkan penumpang melalui jalan parantritis ke arah Kota Yogyakarta Infrastruktur
224 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis Mayoritas penduduk 95% beragama islam, sisanya beragama katholik dan kristen. Sarana peribadatan tersedia dua buah masjid, Masjid Al Fatah dan Masjid Darussalam. Masjid Al Fattah merupakan masjid milik perseorangan. Gereja ada dua buah dan dibangun di tanah pribadi. Hanya terdapat satu buah mushola yang bernama Baitul Amin. Budaya kesenian yang terdapat di Dusun Mancingan adalah wayang, jathilan, kethoprak, dan srandul. Ritual khusus yang dilakukan berupa upacara adat setiap tahun pada bulan Mei hingga Juni. Pada tahun 2016, upacara adat dilakukan pada tanggal 24 Mei. Tanggal pelaksanaannya dapat berubahubah karena berdasarkan tanggalan Jawa. Upacara Merti Dusun dilakukan setiap hari Selasa Wage atau setiap selesai panen. Peringatan tanggal satu suro tidak ada ritual atau upacara yang dilakukan, kecuali dari Keraton Kediri. Keraton Yogyakarta hanya melaksanakan upacara labuhan saat jumeneng Sultan dan dilakukan setiap setahun sekali. Kegiatan upacara Pehcun yang merupakan tradisi Cina dan labuhan/ Melasti yang dilakukan orang beragama Hindu se-Yogyakarta dilakukan di Parangkusumo. Segala labuhan dilakukan di Parangkusumo, mungkin karena garis lurus imajiner yang terbentuk antara Gunung Merapi, Keraton, dan Laut Selatan, dengan Parangkusumo sebagai pintu gerbangnya. Peribadatan Sosial Budaya
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 225 Kegiatan lain yang rutin dilaksanakan adalah Paralayang (Jogja Air Show), festival layang-layang, dan kegiatan dari Dinas Pariwisata seperti pentas seni. JAS dan festival layang-layang melibatkan warga dalam hal menata parkir pengunjung. Tidak ada ritual khusus yang dilakukan warga pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, tetapi banyak pendatang dari luar yang mengunjungi Cempuri Parangkusumo.
226 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis Masyarakat Dusun Mancingan pada umumnya menggunakan menggunakan air PDAM. Air di beberapa lokasi di Dusun Mancingan juga ada yang berindikasi memiliki kandungan zat kapur berlebih. Belum ada penduduk yang memberikan laporan bahwa mereka sakit karena menggunakan air sumur untuk kebutuhan sehari-hari. Pemerintah sudah berinisatif untuk membuat tempat pembuangan sampah komunal dengan syarat mengajukan proposal terlebih dahulu dari dusun. Dusun Mancingan telah memiliki pengelolaan sampah berupa bank sampah. Bank sampah dimiliki dan dikelola oleh pemuda karang taruna. Para pemuda mengambil sampah di setiap rumah tangga, dikumpulkan, dan dibuang ke TPA. Dinas Pekerjaan Umum mengambil sampah di TPA tiga kali seminggu. Sampah belum dikelola secara maksimal untuk memiliki nilai lebih, meskipun telah memiliki bank sampah. Hasil dari penjualan pengolahan bank sampah masuk ke dalam kas karang taruna. Permasalahan yang terkadang muncul adalah ketika Dinas PU telah mengambil sampah, alhasil sampah terkadang menumpuk di TPS. Lingkungan Masalah penataan parkir, perawatan infrastruktur sekitar Parangtritis menjadi salah satu tantangan bagi pengembangan dusun. Terkait pengelolaan sampah, butuh waktu lama untuk merubah pola pikir masyarakat agar sampah bisa dimanfaatkan atau dipilah-pilah. Dusun Mancingan memiliki produk khas berupa jingking. Para pemuda dan karang taruna berinisiatif untuk membuat sesuatu sebagai oleh-oleh khas Parangtritis, namun masih terkendala modal. Tantangan atau permasalahan pengembangan adalah kesadaran masyarakat tentang sampah yang belum maksimal. Beberapa masalah sosial lain seperti rebutan dalam mencari lahan pekerjaan karena adanya penggusuran dan relokasi warga. Modal yang saat ini masih dimiliki oleh warga Dusun Mancingan adalah semangat gotong royong antar warga masih bagus. Potensi dan Tantangan
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 227 Longsor tebing di Mancingan Bencana yang pernah terjadi adalah gempa bumi tahun 2006. Saat laut pasang, beberapa lokasi permukiman penduduk terkadang menerima sampah kiriman yang berasal dari laut. Pengelolaan dan penanggulangan sudah dilakukan dengan cara merelokasi beberapa rumah warga yang terkena dampak tersebut. Beberapa warga yang direlokasi kehilangan mata pencaharian utama mereka sebagai pedagang, tetapi lokasi wisata menjadi lebih bersih dan rapi. Bencana terakhir yang melanda Dusun Mancingan adalah banjir rob pantai selatan pada tanggal 8 hingga 9 juni 2016. Banjir rob diakibatkan oleh air laut pasang menyebabkan gelombang pasang hingga mencapai 200 meter ke arah daratan menyebabkan genangan di permukiman penduduk. Bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal serta usaha yang berada dekat dengan pantai terkena imbas langsung. Air masuk hingga ke dalam rumah dan warung terkena hempasan gelombang langsung. Potensi bencana lain yang ada di Dusun Mancingan adalah tsunami dan tanah longsor. Sosialisasi yang pernah dilakukan pemerintah adalah sosialisasi gempa dan tsunami pada tahun 2015. Potensi yang dapat dikembangkan di Dusun Mancingan adalah penataan dari pemerintah terkait Rencana Tata Ruang Wilayah terkait peraturan pembangunan. Kebencanaan
228 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis Kondisi keamanan di Dusun Mancingan cukup aman. Tidak ada kejadian pencurian di rumah-rumah penduduk. Sarana keamanan sudah tersedia delapan pos ronda yang tersebar di setiap RT dan aktif. Ronda dilakukan setiap minggu atau lima hari sekali. Keamanan kios-kios di lokasi wisata ikut dijaga oleh petugas ronda. Keamanan
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 229
230 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis Adji, T.N. 2013. Kondisi Daerah Tangkapan Sungai Bawah Tanah Karst Gunungsewu dan Kemungkinan Dampak Lingkungan Terhadap Sumberdaya Air (Hidrologis) Karena Aktivitas Manusia. dalam Sudarmadji., Haryono, E., Adji, T.N., Widyastuti, M., Harini, R., Nurjani, E., Cahyadi., Nugraha, H. 2013. Ekologi Lingkungan Kawasan Karst Indonesia: Menjaga Asa Kelestarian Kawasan Karst Indonesia. Yogyakarta: Deepublish. Aldrian, E., Susanto, R.D. 2003. Identification of Three Dominant Rainfall Regions Within Indonesia and Their Relationship to Sea Surface Temperature. International Journal of Climatology, Vol.23: 1435-1452. Dinas PUP-ESDM Pemda DIY. 2014. Laporan Akhir Penyusunan Kawasan Bentang Alam Gumuk Pasir di Kabupaten Bantul. Yogyakarta: Dinas PUP-ESDM Pemda DIY. Ford, D.C., Williams, P. 2007. Karst Hydrogeology and Geomorphology. London: John Wiley &Sons Ltd. Idral, A., Suhanto, E., Sumardi., Kusnadi, D., Situmorang, T. 2003. Penyelidikan Terpadu Geologi, Geokimia, dan Geofisika Daerah Panas Bumi Parangtritis, Daerah Istimewa Yogyakarta: Kolokium Hasil Kegiatan Inventarisasi Sumberdaya Mineral DIM TA. 2003. Bandung: Badan Geologi. Malawani, M.N. 2014. Karakteristik Deflasi dan Dampaknya Terhadap Pariwisata di Kawasan Parangtritis: Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Marfai, M.A., King, L., Singh, L.P., Mardiatno, D., Sartohadi, J., Hadmoko, D.S., Dewi, A. 2008. Natural Hazards in Central Java Province, Indonesia: An Overview. Environ Geol, Vol. 56: 335-351. Maryono, A. 2007. Restorasi Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Pannekoek, A.J. 1949. Garis Besar Geomorfologi Pulau Jawa. diterjemahkan oleh Budio Basri. Jakarta: tanpa penerbit. Purnomo, B.J., Pichler, T. 2014. Geothermal Systems on The Island of Java, Indonesia. Journal of Volcanology and Geothermal Research, Vol. 285: 47-59. Putri, F.W. 2008. Potensi Airtanah di Desa Parangtritis Kecamatan Kretek Kabupaten Bantul: Tesis. Yogyakarta: Program Studi Geografi Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Rahardjo, W., Sukandarrumidi., Rosidi, H.M.D. 1995. Peta Geologi Bersistem Jawa Lembar Yogyakarta 1408-2 & 1407- 5 Skala 1: 100.000 Edisi 2. Bandung: Pusat Penelitian dan Daftar Pustaka Pengembangan Geologi, Direktorat Geologi, Departemen Pertambangan Republik Indonesia. Santosa, L.W., Widiyanto., Muta’ali, L. 2012. Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah. Yogyakarta: Badan Penerbit dan Percetakan Fakultas Geografi (BPFG). Santosa, L.W., Adji, T.N. 2014. Karakteristik Akuifer dan Potensi Air Tanah Graben Bantul. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sartohadi, J., Jamulya., Dewi, N.I. 2012. Pengantar Geografi Tanah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Soil Survey Staff. 2010. Keys to Soil Taxonomy: Eleventh Edition. Washington DC: United State Department of Agriculture (USDA). Sudibyakto. 2006. Gempa dan Tsunami. dalam Sudibyakto. 2011. Manajemen Bencana di Indonesia Ke Mana?. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sunarto., Marfai, M.A., Mardiatno, D. 2010. Multirisk Assesment of Disaster in Parangtritis Coastal Area. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sunarto. 2014. Geomorfologi dan Kontribusinya dalam Pelestarian Pesisir Bergumuk Pasir Aeolian dari Ancaman Bencana Agrogenik dan Urbanogenik: Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Sunarto. 2015. Pengelolaan Pesisir Teluk Berdasarkan Indikator Alamiah Morfologi Teluk dan Kehadiran Gumuk Pasir Kepesisiran di Teluk Pacitan, Baron, dan Cilacap. Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai Ke-1. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Sutari, C.A., Siswanti, E., Jiwaningrat, Y. 2015. Antropodinamik Tambak Udang Sebagian Pesisir Kabupaten Bantul. Buletin Geomaritim Edisi Desember 2015: 7-12. Triana, K. 2014. Zonasi Bahaya Jatuhan Batuan di Sepanjang Jalan Utama Desa Parangtritis-Desa Giricahyo Provinsi DIY: Tesis. Yogyakarta: Jurusan Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada. Tsuji, T., Yamamoto, K., Matsuoka, T., Yamada, Y., Onishi, K., Bahar, A., Meilano, I., Abidin, H.Z. 2009. Earthquake of The 26 May 2006 Yogyakarta Earthquake Observed by SAR Interferometry. Earth Planet Spaces, Vol. 61: 29-32. Verstappen, H.Th. 2013. Garis Besar Geomorfologi Indonesia. diterjemahkan oleh Sutikno. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis | 231
232 | Buku Deskripsi Peta Desa Parangtritis