BUKU PEGANGAN PENGAJAR
KATEKISASI
GII HOK IM TONG
PENTINGNYA
KATEKISASI
Alkitab sebenarnya tidak memberi peraturan bahwa seseorang yang hendak
memberi dirinya dibaptis harus/perlu mengikuti katekisasi. Berdasarkan fakta-
fakta dalam sejarah, terbukti bahwa banyak orang yang telah menyatakan diri
bertobat dan dibaptis, namun kemudian mengingkari/meninggalkan imannya.
Hal ini menunjukkan bahwa keputusan mereka untuk dibaptis tidak
didasarkan pada kesungguhan hati dan pikiran; tidak didasarkan pada
motivasi yang murni; atau tidak didasarkan pada pertobatan yang sungguh-
sungguh. Hal inilah yang harus dihindari oleh gereja.
Karena baptisan merupakan sakramen yang kudus dan yang mulia, maka
sakramen tidak boleh sembarangan diberikan [bdk Mat 7:6]. Gereja yang
menyelenggarakan baptisan dan seorang hamba Allah [pendeta] yang
melakukan pembaptisan bertanggung jawab atas baptisan yang dilakukan.
Sebab itu, gereja perlu memberikan pengajaran, yaitu katekisasi, kepada
mereka yang hendak memberi diri untuk dibaptis. Tujuan utama dari
pengajaran ini adalah agar mereka mempunyai pemahaman yang cukup
tentang ajaran-ajaran dasar Kristen, dalam rangka mempersiapkan hati,
pikiran, motivasi dan kesadaran mereka sebelum dibaptis. Dengan demikian
diharapkan, menjelang baptisan mereka telah memiliki pemahaman yang
cukup tentang ajaran-ajaran Kristen, serta memiliki tekad, ketetapan hati,
pikiran yang sungguh-sungguh dan motivasi yang murni.
A. Pengertian Tentang Katekisasi
Kata “katekisasi” atau “katekese” berasal dari kata dalam bahasa Yunani
Κατεχειν, “katekhein,” yang artinya mengajar, memberi pengajaran [Luk 1:4;
Kis 18:25; 21:21, 24; Rm 2:17,18; 1Kor 14:19; Gal 6:6]. Katekisasi berarti
pengajaran tentang Kekristenan yang diberikan kepada seseorang agar
mengerti dan menghayati perkataan-perkataaan dan perbuatan-perbuatan
Allah yang tertulis dalam Alkitab. Hal ini penting karena untuk menjadi
anggota gereja/jemaat Tuhan dengan pertolongan Roh Kudus, maka setiap
calon anggota harus diperlengkapi dalam rangka kemudian memenuhi
tanggunggungjawabnya untuk berpartisipasi bagi tugas kesaksian dan
pelayanan di dunia ini.
B. Tujuan Katekisasi
Memberikan pengajaran tentang Kekristenan. Pengajaran di sini bukan
hanya menyentuh aspek intelektualnya secara konseptual saja
melainkan juga secara praktis. Pengajaran katekisasi diarahkan pada
tujuan untuk mengajar dan membimbing peserta katekisasi agar
mengetahui, mengerti dan melakukan apa yang telah diajarkan.
Mengajarkan pokok-pokok tentang Kekristenan yang terarah kepada
keseluruhan pribadi peserta katekisasi. Peserta katekisasi disebut
katekisan atau katekumen. Dalam Alkitab dijelaskan bahwa pengajaran
harus menekankan pada segi pemahaman dan penghayatan akan
Allah dan karya-Nya.
Mengajarkan tentang Allah Tritunggal dalam Alkitab. Pengetahuan
tentang Allah Tritunggal perlu dipahami sebagai tindakan mengenal
Dia dan kehendakNya melalui pengalaman hidup yang bergaul intim
dengan Dia dalam wujud ketaatan kepadaNya.
Membimbing seseorang untuk menjadi anggota gereja Yesus Kristus.
Pengajaran katekisasi berlangsung dalam suatu persekutuan yang
tetap dengan murid-murid Tuhan Yesus yang lain dalam konteks
jemaat Tuhan sebagai komunitas orang beriman.
Mengajarkan dasar-dasar kepercayaan iman Kristiani untuk
memperlengkapi. Dasar-dasar kepercayaan iman Kristiani ini penting
dipahami oleh setiap orang percaya untuk mengerti apa artinya
menjadi orang Kristen dan menjadi anggota GII Hok Im Tong. Dengan
demikian dipersiapkan untuk diperlengkapi agar dapat berpartisipasi
dan bersaksi bagi pelayanan Tuhan.
C. Katekisasi Dalam Program Pembinaan Jemaat
Kelas katekisasi ditempatkan pada tahap awal atau dasar dari proses
pemuridan. Menurut tingkatannya, kelas katekisasi disebut pula sebagai
pembinaan dasar. Istilah pembinaan dasar dipakai karena pengajaran
katekisasi benar-benar merupakan fondasi untuk membangun iman
seseorang ke arah pertumbuhan iman selanjutnya sebagai murid Kristus.
D. Syarat Mengikuti Kelas Katekisasi
·Siapa saja yang telah berusia 16 tahun ke atas dan telah mengikuti
kebaktian di GII Hok Im Tong secara rutin minimal 1 tahun.
·Bersedia memenuhi peraturan katekisasi.
E. Penjelasan Setiap Bagian Materi
Materi yang disusun terdiri dari empat bagian besar dengan rincian dan
penjelasan sebagai berikut:
HOOK: Bagian ini merupakan pengantar dan sekaligus berfungsi
sebagai “ice breaker” sebelum masuk ke menu inti materi pengajaran.
BOOK: Bagian ini merupakan isi atau bagian utama dari materi yang
akan disampaikan. Bahan yang ada merupakan poin-poin ajar yang
dijabarkan secara deskriptif dan ringkas
LOOK: Bagian ini bertujuan untuk mereview apa yang telah
disampaikan oleh pengajar dengan tujuan untuk mengukur
sejauhmana peserta telah menerima dan menangkap materi yang telah
disampaikan tersebut.
PERTANYAAN DISKUSI: Pertanyaan-pertanyaan ini di susun sebagai
bahan diskusi dalam kelompok.
TOOK: Bentuk penerapan setiap materi yang telah disampaikan dalam
ranah kehidupan sehari-hari yang bersifat aplikatif.
Catatan:
Kelengkapan bagian yang tersedia, yaitu Hook, Look dan Took sifatnya hanyalah
membantu bagi pengajar untuk menciptakan kelas yang dinamis dan partisipatori, serta
bagaimana menerapkan materi dalam ranah kehidupan praktis.
Setiap pengajar dapat menggunakan setiap bagian (Hook, Look dan Took) yang telah
tersedia atau mempersiapkan sendiri sesuai dengan kreatifitas dan inovasi masing-
masing.
Pertanyaan diskusi dapat digunakan jika setelah kelas berlangsung akan diadakan
kelompok kecil atau CG.
Durasi kelas berlangsung 1 – 11/2 jam sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
BAB 1
ALKITAB ADALAH
FIRMAN TUHAN
Menjelaskan tentang Alkitab yang adalah Firman
dan wahyu Allah serta menjelaskan tentang
sifat-sifatnya agar dimengerti dan ditaati oleh
setiap orang Kristen.
Hook
Wajibkan masing-masing peserta sebelum hadir di kelas untuk membawa
foto kakek nenek dan ayah ibunya (foto keluarga besar antar generasi
juga boleh). Bagikan hand out gambar teori evolusi bahwa manusia
berasal dari _________________. Meminta Anda menempelkan foto
foto kakek-nenek, ayah ibu atau keluarga besar di bagian kanan gambar
seolah-olah mereka dan Anda juga berasal dari _____________.
Bagaimana pendapat dan perasaan Anda? Alkitab mengatakan bahwa
manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Percayakahkah Anda
akan hal itu? Jelaskan!
Book
A. ARTI PERJANJIAN
Alkitab di bagi menjadi dua bagian besar, yaitu Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru. Kata “perjanjian” [Inggris: covenant] adalah
terjemahan dari kata [ ְּב ִריתberith, bahasa Ibrani] atau διαθήκη
[diatheke, bahasa Yunani]. Kata berith dan diatheke menyatakan
perjanjian yang dilakukan antara dua pihak. Dalam konteks PL, kata
ini berarti perjanjian yang dilakukan antara Allah sebagai inisiator
dengan umat Israel. Perjanjian ini dilakukan oleh Allah melalui Musa
[Kel 24:8; UI 26:18]. Inti perjanjian ini adalah bahwa Allah mengambil
Israel sebagai umat-Nya yang khusus untuk menjalankan misi-Nya.
Dalam ikatan perjanjian ini, Allah menjadi Allah atas umat Israel, yang
kepada-Nya umat Israel harus taat dan menyembah [Kel 19:5-6; Ul
4:20, 7:6, 14:2]. Perjanjian ini disebut dengan Perjanjian Lama [PL]
atau Perjanjian Pertama.
Akan tetapi perjanjian tersebut telah dilanggar oleh umat Israel
melalui ketidaktaatan dan kemurtadan mereka. Akibatnya Allah
mengadakan lagi sebuah perjanjian yang baru di dalam Pribadi Yesus
Kristus, Anak-Nya yang Tunggal. Perjanjian ini telah dinubuatkan oleh
Yeremia [Yer 3.1:31-34; bdk Yeh 36:26-27]. Perjanjian baru ini bukan
didasarkan oleh darah korban, melainkan disahkan oleh darah Yesus
Kristus. Melalui Yesus Kristus dan berdasarkan pengorbanan-Nya di
Kalvari, Allah menebus orang-orang yang percaya menjadi umat-Nya
yang khusus untuk menunaikan dan menggenapkan misi Allah di
muka bumi. Umat tebusan Allah dalam Yesus Kristus ini adalah
Gereja [Mat 26:28; 1 Kor 11:23-25; Ibr 8:6-8]. Perjanjian Allah dengan
umat-Nya melalui Yesus Kristus ini disebut Perjanjian Baru [PB]
atau Perjanjian Kedua.
Jadi, bagian Alkitab Perjanjian Lama terdiri dari kitab-kitab yang
ditulis sebelum terjadinya Perjanjian Baru, sedangkan bagian Alkitab
Perjanjian Baru terdiri dari kitab-kitab yang ditulis sesudah terjadinya
Perjanjian Lama. Kedua bagian Alkitab ini merupakan satu kesatuan
yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. Kita tidak dapat memahami
PB tanpa PL dan sebaliknya kita juga tidak dapat memahami PL
tanpa PB. Inti berita yang terkandung dalam PB merupakan
penggenapan inti rencana dan misi Allah dalam PL. Keduanya, PL
dan PB, adalah firman Allah dan wahyu Allah yang diwujudkan dalam
bentuk tulisan. Apakah maksudnya?
B. ALKITAB SEBAGAI FIRMAN DAN WAHYU ALLAH
1. Arti Firman Allah
a. Firman Allah sebagai pribadi Yesus Kristus
Dalam Alkitab istilah Firman Allah dipakai sebagai sebutan bagi
pribadi Yesus Kristus, Anak Allah. Sebutan ini juga sering disingkat
dengan Firman saja [Yoh 1: 1; 1Yoh 1:1; Why 19:13].
b. Firman Allah sebagai perkataan Allah
Pengertian ini dapat dibedakan lagi dalam beberapa pengertian:
Sebagai ketetapan Allah. Misalnya dalam Kejadian 1:3,
Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. Firman
Allah dalam pengertian ini adalah perkataan Allah yang penuh
kuasa dan penuh daya cipta [Mzm 33:6].
Sebagai perkataan Allah secara langsung kepada manusia,
yang berupa perintah atau pernyataan [Kej 2:16-17; Kel 20:1-3].
Sebagai perkataan Allah secara tidak langsung kepada
manusia. Dalam Alkitab banyak ditulis tentang Allah berkata
atau Allah berfirman melalui para nabi atau hamba-Nya [Kel 4:12; Bil
22:38; Ul 18:18-20; l Sam 15:3, 18, 23; l Raj 20:36; 2 Taw 20:20;
25:15-16; Yes 30:12-14; Yer 1:7, 9; 6:10-12; 36:29-31].
c. Firman Allah dalam bentuk tertulis [Alkitab]
Allah tidak hanya menyatakan firman-Nya dalam bentuk lisan, tetapi
juga dalam bentuk tertulis. Contohnya adalah Sepuluh Hukum yang
diberikan Allah kepada bangsa Israel [Kel 31:18; 32:16; 34:1, 28].
Para hamba Allah menuliskan perintah atau firman yang mereka
terima [Ul 31:9-13; Yos 24:26]. Bahkan Allah sendiri memerintahkan
hamba-Nya untuk menulis apa yang Ia firmankan [Yes 30:8; Yer
30:2]. Tuhan Yesus pernah berjanji kepada murid-murid-Nya bahwa
Roh Kudus akan memampukan mereka untuk mengingat apa yang
telah diajarkan-Nya [Yoh 14:26]. Alkitab adalah firman Allah dan
wahyu Allah, yang ditulis sesuai dengan kehendak dan pimpinan Roh
Kudus melalui para hamba-Nya.
2. Arti Wahyu Allah
Secara umum wahyu berarti penyingkapan atau penyataan
sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya. Dalam konteks teologis,
wahyu diartikan sebagai komunikasi atau penyataan Allah kepada
manusia tentang kebenaran, kehendak, rencana, kasih dan diri-Nya
[misalnya, sifat-sifat, kasih dan kehendak-Nya]. Tanpa wahyu Allah,
manusia tidak mungkin mengenal Allah dan kebenaran-Nya dan
tidak mungkin pula untuk mengetahui bahwa Allah ada. Manusia
mutlak memerlukan wahyu Allah.
Berdasarkan media yang dipakai Allah untuk mengkomunikasikan
diri-Nya, wahyu dibedakan atas wahyu umum dan wahyu khusus.
a. Wahyu Umum
Wahyu umum adalah wahyu Allah yang dinyatakan melalui media
yang umum dan yang dapat diterima oleh manusia secara universal,
yaitu melalui alam semesta [ciptaan Allah] dan hati nurani [Mzm
19:1-5; Rm 1:18-20, 2: 14-16]
b. Wahyu Khusus
Wahyu khusus adalah wahyu Allah yang dinyatakan melalui media
yang khusus dan yang tidak diterima oleh setiap orang. Wujud dari
wahyu khusus ini berbentuk tulisan, yaitu Alkitab. Dari Alkitab kita
dapat mengerti bagaimana Allah menyatakan diri dalam sejarah
umat Israel, menyatakan firman-Nya melalui para hamba-Nya [nabi-
nabi dan rasul-rasul], dan puncaknya menyatakan diri-Nya melalui
Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus [Ibr 1:1-4].
C. KANON ALKITAB
Gereja Protestan selaku umat percaya mengakui 66 kitab sebagai
pengajaran yang berotoritas dari segi teologi dan moral Kristiani. Ke-
66 kitab ini disebut juga sebagai kanon [artinya: tongkat pengukur,
standar, patokan, atau tolok ukur]. Enam puluh enam kitab ini dibagi
ke dalam dua bagian, yaitu Perjanjian Lama yang terdiri 39 kitab dan
Perjanjian Baru yang terdiri 27 kitab.
1. Kanon Perjanjian Lama
Gereja Protestan hanya mengakui 39 kitab kanon PL. Tiga puluh
sembilan kitab ini dapat dikelompokkan menjadi:
Gereja Protestan hanya mengakui dan menerima 39 kitab PL dan
menolak 10 kitab Deuterokanonika [arti: Kanonika kedua].
Deuterokanonika merupakan 10 kitab yang ditulis pada masa
sebelum Masehi, yang oleh Gereja Protestan disebut sebagai kitab-
kitab Apokrifa [artinya: hal-hal yang tersembunyi]. Gereja Protestan
mengakui bahwa kitab kanon PL yang terakhir ditulis adalah kitab
Maleakhi [kira-kira tahun 435 SM]. Setelah kitab Maleakhi, tidak ada
lagi kitab kanon PL yang ditulis sebab tidak ada lagi nabi yang
berbicara atas nama Tuhan atau yang menyampaikan firman dari
Tuhan.
2. Kanon Perjanjian Baru
Gereja Protestan mengakui 27 kitab kanon PB. Dua puluh tujuh kitab
ini dikelompokkan menjadi:
Selain kitab-kitab PB yang kanonikal ini, dikenal juga kitab-kitab
pseudepigrafa [artinya: tulisan palsu], yaitu tulisan-tulisan yang
bertujuan untuk penyamaran maupun pemalsuan. Penulis-penulis
kitab-kitab pseudepigrafa ini biasanya memakai nama-nama yang
berotoritas, misalnya nama-nama rasul, dengan tujuan agar tulisan
mereka dianggap sebagai tulisan para rasul yang sesungguhnya.
Semua kitab ini ditulis setelah abad pertama, yaitu setelah semua
rasul wafat. Contoh kitab pseudepigrafa adalah Injil Thomas, Injil
Petrus, Injil Filipus [semuanya ditulis pada abad ke-2] dan Injil
Barnabas [abad ke-7].
D. PROSES TERBENTUKNYA ALKITAB
Alkitab bukan Kitab Suci yang diturunkan secara seketika dari surga.
Alkitab juga tidak terwujud seketika. Alkitab terbentuk melalui proses
penulisan dan pengumpulan yang panjang dan di dalam prosesnya
memperlihatkan pemeliharaan dan pimpinan Allah.
Seluruh isi Alkitab ditulis oleh 40 orang lebih dari berbagai latar
belakang, budaya dan daerah yang beragam: ada yang berprofesi
sebagai petani, negarawan, pemungut pajak, penyair, raja,
cendikiawan, nelayan, tabib dan sebagainya, yang ditulis di tiga
benua, yaitu Asia, Afrika dan Eropa, dalam kurun waktu 1.500 tahun,
dari kitab pertama hingga yang terakhir [Kejadian, 1400 SM – Wahyu,
90 M].
Proses terbentuknya Alkitab berkaitan dengan dua hal utama.
1. Penginspirasian
Seluruh isi Alkitab ditulis oleh manusia sebagai hamba-hamba Allah.
Melalui mereka Allah menghadirkan Alkitab. Penulisan setiap kitab
didasarkan pada penginspirasian dari Roh Kudus. “Segala tulisan
yang diilhamkan [= diinspirasikan] Allah ....” [2 Tim 3:16].
Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam ayat ini:
a. Istilah "semua tulisan"yang menunjukkan bahwa semua kitab PL
pada waktu itu sudah ada dan sudah dikenal oleh Timotius.
b. Kata "inspirasi" [LAI: diilhamkan] berasal dari kata Latin 'inspirare'
yang berarti menafaskan atas atau ke dalam sesuatu [to breathe
upon or into something]. Kata ini sesuai dengan kata aslinya
θεοπνευστος [Yun. theopneustos] yang berarti 'God-breathed.'
Inspirasi dalam penulisan Alkitab dapat didefinisikan sebagai proses
yang misterius dan supranatural dalam penulisan Alkitab, yang
dengannya pimpinan dan kuasa Allah bekerja melalui manusia
sebagai penulis, tanpa merusak dan menghilangkan kepribadian,
karakteristik, gaya dan kebebasan mereka, sehingga proses
penulisan tersebut menghasilkan tulisan yang berotoritas ilahi dan
tanpa salah.
2. Kanonisasi
Alkitab tidak langsung ada dengan jumlah baku 39 kitab PL dan 27
kitab PB. Sebagaimana kitab-kitab itu ditulis melalui proses yang
panjang, demikian juga dengan kanonisasi Alkitab. Kanonisasi adalah
proses penerimaan kitab-kitab dalam Alkitab sebagai kitab yang
berotoritas ilahi. Kanon PL dan Kanon PB masing-masing terbentuk
melalui proses kanonisasi yang berbeda.
a. Kanonisasi PL
Antara abad ke-2 SM – 4 SM, ke-39 kitab PL sudah ada.Di masa
Tuhan Yesus dan para rasul masih hidup, kitab-kitab itu juga sudah
dikenal dan dipakai [Luk 24:44] tetapi belum dibakukan secara
konsensus-formal sebagai satu kesatuan kanon PL. Hal ini baru
terjadi melalui Konsili Jamnia di tahun 90 M [Konsili ini sebenarnya
adalah semacam akademi yang didirikan oleh Rabi Jochanan bin
Zakkai setelah keruntuhan Yerusalem tahun 70 M].
b. Kanonisasi PB
Semua kitab PB sudah selesai ditulis di abad ke-1 M. Sama halnya
dengan kanon PL yang tidak langsung terbentuk, demikian juga
dengan kanon PB. Setelah para rasul dan penulis PB menyelesaikan
kitab mereka masing-masing [berupa Injil dan Surat-surat], tulisan-
tulisan tersebut digunakan dan dikumpulkan oleh gereja-gereja pada
abad mula-mula.
Ada beberapa faktor pendorong pemakaian dan pengumpulan kitab-
kitab PB:
Kitab yang ditulis oleh para rasul dan penulis PB merupakan
tulisan yang bernilai dan berotoritas [2 Pet 3:15-16; Kol 4:16].
Adanya kebutuhan pembakuan [kristalisasi] gereja mula-mula
akan sumber pengajaran setelah semua rasul tidak ada lagi.
Adanya kebutuhan akan tolok ukur pengajaran yang benar,
karena munculnya bidat-bidat.
Adanya kebutuhan akan penerjemahan kitab-kitab ke dalam
bahasa non-Yunani, karena gereja sudah berkembang ke
berbagai tempat.
Adanya penganiayaan, sehingga membuat orang-orang Kristen
semakin bertekun dan bersatu dalam iman.
Dalam proses kanonisasi, ke-27 kitab PB tidak serempak diterima
dan diakui sebagai kitab yang kanonikal. Terhadap beberapa kitab,
ada gereja-gereja dan tokoh-tokoh gereja yang menerima, ada pula
yang meragukan atau menolak, misalnya kitab Ibrani, Yakobus, 1dan
2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes serta Yudas. Namun di kemudian hari
keraguan terhadap kitab-kitab tersebut hilang. Melalui Sinode Hippo
atau Konsili Hippo, tahun 393, gereja-gereja secara konsensus-
formal meratifikasi 27 kitab PB, yang sekarang dipakai, sebagai kanon
PB. Konsensus-formal ini ditegaskan kembali dalam Konsili Kartago,
tahun 397. Selain itu, kedua sinode gereja tersebut juga
memasukkan daftar kanon PL.
Dengan demikian, apakah terbentuknya Alkitab sebagai Kitab Suci
ditentukan oleh lembaga manusia? Tidak demikian karena
sebagaimana Allah bekerja dalam proses penulisan setiap kitab
[penginspirasian], demikian juga Allah bekerja dalam proses
terbentuknya kanon PL [39 kitab] dan kanon PB [27 kitab].
Providensia Allah bekerja dalam seluruh proses terbentuknya
Alkitab. Sebagaimana Allah memakai manusia sebagai agen untuk
menulis setiap kitab, demikian juga Allah memakai manusia dan
lembaga manusia untuk membentuk kanon Alkitab. Penentuan
kanon PL dan PB tidak mungkin ditentukan oleh satu individu,
karena satu individu tidak memiliki otoritas yang memadai (ingat:
pada masa proses penetapan kanon PL dan PB tidak ada lagi
jabatan nabi dan rasul) untuk menentukan kanon Alkitab. Allah
memakai konsili-konsili, karena inilah lembaga yang memiliki otoritas
tertinggi, yang melaluinya dapat tercapai konsensus-formal bagi
penentuan dan pembentukan kanon Alkitab.
E. SIFAT-SIFAT ALKITAB
Alkitab sebagai Kitab Suci dan dasar pengajaran Gereja mempunyai
sifat atau karakteristik yang sangat fundamental dan tidak dapat
dipisahkan dari Alkitab itu sendiri:
Berotoritas
Alkitab dikatakan berotoritas karena seluruh isi Alkitab merupakan
firman Allah yang harus ditaati. Alkitab merupakan dasar, tolok ukur
dan sumber pengajaran Gereja, baik dalam masalah teologis
maupun moral. Gereja dan setiap orang Kristen tidak boleh
mengajar dan menganut ajaran atau prinsip yang bertentangan
dengan isi Alkitab.
Mutlak diperlukan
Gereja tidak dapat dipisahkan dari Alkitab. Alkitab mutlak diperlukan
sebagai sumber pengajaran dan untuk memelihara Gereja. Allah
mewujudkan Gereja dalam dunia sedemikian rupa sehingga Gereja
tidak dapat hidup tanpa Alkitab. Keyakinan injili berpandangan
bahwa Gereja hidup dan bersaksi berdasarkan firman Allah,
sehingga secara fundamental Gereja memerlukan Alkitab. Tugas
Gereja sebagai saksi dan pemberita firman tidak mungkin dapat
terpisah dari Alkitab.
Kecukupan
Alkitab yang terdiri 39 kitab PL dan 27 kitab PB, bersifat cukup bagi
pengenalan jalan keselamatan dan pengetahuan yang benar tentang
Allah, cukup bagi pengajaran teologis dan pengajaran moral Gereja
Tuhan sepanjang zaman. Sola Scriptura sebagai salah satu moto
Reformasi merupakan pernyataan penolakan terhadap berbagai
otoritas di luar Alkitab, termasuk otoritas tradisi. Hampir semua bidat
menempatkan otoritas lain selain Alkitab sebagai sumber
pengajaran. Mereka menganggap Alkitab tidak cukup, sehingga perlu
ditambah dengan kitab atau sumber pengajaran yang lain.
Jelas dan sulit dimengerti
Alkitab terbuka bagi setiap orang yang ingin membaca dan
memahaminya. Setiap orang Kristen dapat membaca dan
mempelajari Alkitab tanpa harus bergantung pada penafsiran atau
tuntunan gereja. Alkitab ditulis sedemikian rupa sehingga maksud
dari pemberitaan dan pengajaran Tuhan di dalamnya dapat
dipahami oleh setiap orang yang sungguh-sungguh membaca dan
mencari pertolongan Tuhan. Ini tidak berarti seluruh bagian Alkitab
mudah dimengerti. Kadang-kadang kita sulit memahami isi Alkitab
karena ada jurang budaya, konteks sejarah dan alam pikiran yang
memisahkan kita dengan dunia ketika Alkitab ditulis. Iman injili juga
menegaskan bahwa Alkitab dapat dipahami bukan dalam pengertian
semua bagian Alkitab dipahami secara penuh tetapi hanya secara
terbatas. Demikian pula Alkitab dapat dimengerti secara benar
bukan hanya dengan cara dibaca biasa tetapi perlu menggunakan
metode penafsiran yang tepat.
Apa artinya bahwa Alkitab adalah Firman Allah dan wahyu Allah?
Jelaskan!
Disebutkan bahwa salah satu sifat dari Alkitab ialah dapat
dimengerti dan sulit dimengerti. Apakah sifat ini dialami oleh
Saudara saat membaca Alkitab? Jika ya, apakah yang akan Saudara
lakukan untuk dapat mengerti Alkitab yang sulit dimengerti ini?
Hafalkanlah urutan kitab-kitab PL dan PB. Untuk mempermudah hal
ini, bentuklah kelompok berpasangan!
Look
Urutkanlah 1 set flash cards yang telah disediakan mulai dari awal PL
sampai akhir PB! Insight apa yang Anda pelajari hari ini tentang Alkitab?
Tuliskan di atas kertas lalu sharingkanlah kepada teman sebelah Anda!
Took
Coba bayangkan jika Allah tidak pernah menyatakan Diri-Nya dalam
Alkitab, apa yang akan terjadi dengan manusia? Seberapa kuat Anda
akan memegang Alkitab sebagai pegangan hidup? Jelaskan!
BAB 2
PENGAKUAN
IMAN RASULI
Mengajarkan tentang fungsi suatu pengakuan iman
secara individual sebagai pernyataan imannya dan
secara korporat/gereja sebagai prinsip, standard atau
pedoman ajaran bagi jemaatnya
Hook
Ceritakanlah satu kisah [bisa berupa cuplikan tayangan] orang yang mati
syahid atau martir karena tidak bersedia menyangkal imannya kepada
Yesus Kristus! Lontarkan pertanyaan, mengapa mereka rela mati
daripada tidak lagi mengaku imannya? Diskusikanlah secara
berpasangan!
Book
A. PENTINGNYA SUATU PENGAKUAN IMAN RASULI
Kekristenan bukan hanya persoalan praktis menyangkut pengalaman
spiritual bagaimana seseorang mengalami kasih, keselamatan,
pengampunan dosa dan damai sejahtera di dalam Yesus Kristus.
Demikian pula, kekeristenan tidak hanya terdiri dari ajaran-ajaran
tentang moralitas saja, bagaimana hidup berkenan di hadapan Allah.
Namun, juga terdiri dari ajaran-ajaran teologis atau doktrin-doktrin
yang perlu dipahami dan imani dengan segenap hati. Baik, ajaran-
ajaran doktrinal, maupun ajaran-ajaran tentang moralitas serta
pengalaman hidup dalam anugerah Allah harus menjadi satu
kesatuan yang terintegrasi, bak mata uang logam dengan kedua
sisinya.
Adanya bahaya penyimpangan dari ajaran sesat, gereja dan semua
umat Kristiani perlu memiliki iman atau dasar-dasar ajaran yang
menjadi keyakinannya. Pengakuan iman merupakan pernyataan iman
yang minimal, sehingga dengan adanya pengakuan iman [credo]
suatu gereja memiliki prinsip-prinsip ajaran dan keyakinannnya.
Gereja juga harus memiliki standar dan pedoman ajaran bagi
jemaatnya dari generasi ke generasi. Dengan demikian, ajaran-ajaran
doktrinal yang prinsipil dapat terpelihara kemurnian dan
keorthodoksannya.
Mengingat pentingnya pengakuan iman, hingga sekarang telah
banyak dibuat pengakuan- pengakuan atau pernyataan-pernyataan
iman yang mendasar, baik oleh perorangan [bapak-bapak gereja]
maupun oleh kelompok [denominasi suatu gereja]. Sejak abad ketiga
hingga sekarang sudah banyak pengakuan-pengakuan iman yang
telah dibuat secara sederhana dan singkat, misalnya: Pengakuan
Iman Rasuli [abad 4], Pengakuan Iman Nicea [325/381], Pengakuan
Iman Athanasius [akhir abad 4-awal abad 5], Pengakuan Iman
Chalcedon [451], atau secara panjang lebar, misalnya: Tiga Puluh
Sembilan Dalil [1517], Pengakuan Iman Westminster [1643-1646],
Pengakuan Iman Augsburg [1530], Formula Concord [1576].
B. KEISTIMEWAAN PENGAKUAN IMAN RASULI
Pengakuan Iman Rasuli tidak diketahui dengan tepat kapan mulai
adanya dan juga tidak diketahui siapa yang merumuskannya. Namun
yang pasti, Pengakuan Iman Rasuli sudah dipakai sejak abad
keempat. Teks Pengakuan Iman Rasuli yang lama yang diperkenalkan
oleh Rufinus [390] dalam bahasa Latin dengan yang diperkenalkan
oleh Marcellus [336-341] dalam bahasa Yunani, sedikit berbeda
dengan yang dipakai gereja-gereja sekarang. Dalam teks Pengakuan
Iman Rasuli yang kita pakai sekarang terdapat sedikit penambahan
atau revisi dari teks yang lama. Penambahan ini sudah terjadi sejak
tahun 700 M. Teks baru [direvisi] Pengakuan Iman Rasuli, yang kita
pakai sekarang [terjemahan yang hurufiah] adalah:
Aku percaya kepada Allah Bapa, yang maha kuasa,
Pencipta langit dan bumi.
Dan kepada Yesus Kristus, AnakNya yang tunggal, Tuhan kita;
Yang dikandung oleh Roh Kudus,
dilahirkan dari anak dara Maria;
Yang menderita sengsara di bawah [pemerintahan] Pontius Pilatus,
disalibkan mati dan dikuburkan;
Ia turun ke dalam alam orang mati [kerajaan maut (hades)].
Pada hari yang ketiga, Ia bangkit dari antara orang mati.
Ia naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah yang mahakuasa.
Dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup
dan yang mati.
Aku percaya kepada Roh Kudus;
Gereja yang kudus dan am, persekutuan orang-orang kudus;
Pengampunan dosa;
Kebangkitan tubuh (daging);
Dan kehidupan yang kekal
Meskipun dinamai Pengakuan Iman Rasuli, tidak berarti pengakuan
iman ini dirumuskan dan ditulis oleh para rasul. Sebutan rasuli
dipakai karena seluruh isi dari pengakuan iman ini merupakan
intisari atau kesimpulan dari pengajaran para rasul. Dibandingkan
dengan pengakuan-pengakuan iman lainnya, Pengakuan Iman Rasuli
memiliki beberapa keistimewaan:
a. Sangat alkitabiah
Semua butir-butir Pengakuan Iman Rasuli tidak ada yang
bertentangan dengan Firman / Wahyu Allah, Alkitab. Semua isinya
sesuai dengan ajaran Alkitab, khususnya PB.
b. Diakui, diterima dan dipakai oleh banyak gereja
Pengakuan Iman Rasuli merupakan pengakuan iman yang paling
banyak diterima dan dipakai oleh gereja-gereja seluruh dunia baik
oleh denominasi gereja yang besar, seperti Gereja Lutheran,
maupun oleh denominasi gereja yang kecil. Ada gereja yang
mengakui dan menerima pengakuan iman ini, sekalipun tidak
memasukkannya dalam liturgi gereja.
c. Dipakai dari abad ke abad
Pengakuan Iman Rasuli sudah sangat teruji dalam perjalanan
sejarah karena pengakuan iman ini bersifat akurat, esensial,
fundamental dan alkitabiah.
d. Singkat, lugas dan padat
Dibandingkan dengan pengakuan iman-pengakuan iman yang
sejenis, Pengakuan Iman Rasuli dirumuskan dengan tidak panjang
lebar, namun lugas/jelas; dan keseluruhannya mengandung isi yang
sangat padat akan iman Kristiani yang sangat esensial dan
fundamental.
e. Praktis
Karena kepraktisannya, Pengakuan Iman Rasuli mudah diingat dan
di hafal, sehingga lebih dapat digunakan dalam liturgi gereja
daripada pengakuan-pengakuan iman lainnya.
C. ISI DAN MAKNA PENGAKUAN IMAN RASULI
Pengakuan Iman Rasuli diawali dengan perkataan aku percaya
[Latin: credo]. Ini berarti Pengakuan Iman Rasuli sangat
menekankan iman pribadi dari orang yang mengucapkannya.
Oleh sebab itu, sekalipun diucapkan secara bersama-sama pada
saat ibadah, tetapi yang ditekankan adalah pengakuan secara
pribadi dari masing-masing anggota jemaat, yang diucapkan
dengan penuh keyakinan dan penghayatan.
Dalam teks asli Pengakuan Iman Rasuli sebenarnya tidak diuraikan
menjadi dua belas butir, tetapi merupakan satu kesatuan
pernyataan yang berkesinambungan. Namun untuk
mempermudah mempelajari, mengucapkan dan menghafalkannya,
Pengakuan Iman Rasuli diuraikan menjadi dua belas butir
pengakuan:
1. Aku percaya kepada Allah Bapa, yang mahakuasa,
Pencipta langit dan bumi.
Pernyataan ini secara tersurat menyatakan pengakuan
Ketritunggalan Allah [bdk butir 2 dan 8], yang diawali dengan
pengakuan terhadap oknum pertama dalam Tritunggal, yaitu Allah
Bapa. Ia adalah Allah yang mahakuasa, tidak ada oknum ciptaan
yang melampaui kuasa-Nya. Ia adalah Penguasa tertinggi atas
segala ciptaanNya baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.
Allah Bapa, bersama dengan Anak dan Roh Kudus adalah Pencipta
alam semesta ini [Kej 1:1, 2; Yoh 1:3; Kol 1:16-17]. Jadi, alam
semesta ini termasuk kehidupan di dalamnya diciptakan oleh Allah,
bukan terjadi secara kebetulan [Ibr 11:3].
2. Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan
kita;
Pernyataan ini menyatakan pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah
Anak Allah yang satu-satunya ['only-begotten,' Yoh 1:14, 18; 3:16,
18]. Selain hal ini menegaskan kepemilikian status dan hubungan
yang unik dan kekal dengan Bapa, juga mengkonfirmasi bahwa Ia
memiliki natur yang sama dengan Bapa sebagai Pribadi Ilahi.
Demikian pula, bagi kita Yesus Kristus adalah Tuhan, yaitu Tuan dan
Penguasa tertinggi atas hidup kita [Yoh 20:28-29; Flp 2:9-11].
3. Yang dikandung oleh Roh Kudus, dilahirkan dari anak
dara Maria;
Pernyataan ini menyatakan pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah
Anak Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, melalui proses
kelahiran dari rahim seorang anak dara yang bernama Maria [Luk
1:34-35]. Ia dikandung bukan secara natural oleh benih seorang
laki-laki, melainkan secara supranatural oleh Roh Kudus [Luk 1:35].
Dengan cara demikianlah, maka seorang perawan Maria dapat
mengandung dan melahirkan bayi Yesus, Anak Allah. Fakta ini
sangatlah penting untuk menegaskan keilahian Yesus dan juga
kemanusiaan-Nya sebagai adam yang baru, atau yang kedua, yang
berbeda dari adam pertama, oleh karena ketidakberdosaan-Nya
[Ibr 4:15; 7:26, 27].
4. Yang menderita sengsara di bawah [pemerintahan]
Pontius Pilatus, disalibkan mati dan dikuburkan; Ia turun ke
dalam alam orang mati [kerajaan maut (hades)].
Pernyataan ini menyatakan pengakuan bahwa penderitaan dan
kematian Yesus Kristus di atas kayu salib adalah peristiwa dan fakta
sejarah, yang mengacu pada suatu masa ketika Pontius Pilatus
menjadi pejabat pemerintahan Romawi, yang berkedudukan
sebagai wali negeri. Di bawah pemerintahan atau kekuasaan
Pontius Pilatus inilah, Yesus Kristus diadili secara tidak adil. Ia
menderita dan dihukum mati dengan cara disalibkan [Mat 15:15;
Luk 23:24; Yoh 19:15-16; Kis 3:13; 13:28]. Dengan demikian, iman
kekeristenan di bangun berdasarkan fakta sejarah, bukan mitos
ataupun imajinasi. Yesus mati di kayu salib kemudian dikuburkan [1
Kor 15:3-4]. Ini menyatakan bahwa Yesus Kristus sungguh-sungguh
mengalami kematian; dan kematian yang dialami-Nya dengan cara
yang sangat hina dan penuh kengerian. Pengorbanan, penderitaan
dan perendahan diri [pengosongan diri] dilakukan Kristus sampai
titik yang paling rendah dan hina, yaitu Ia turun ke dalam alam
orang mati atau alam maut ['hades,' Ef 4:8-10; 1 Ptr 3:18-20; Ibr
11:39-40]. Ini berarti bahwa Yesus Kristus bukan hanya mengalami
kematian fisik, melainkan juga mengalami totalitas dari kematian
dari satu pribadi yang harus menanggung dosa umat manusia.
Dengan turun ke dalam alam orang mati, Kristus mengalami
keterpisahan total dengan Allah Bapa.
5. Pada hari yang ketiga, Ia bangkit dari antara orang mati.
Pernyataan ini menyatakan pengakuan bahwa kebangkitan Yesus
Kristus adalah peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah.
Menurut cara perhitungan hari bangsa Yahudi [bukan satu hari
sama dengan dua puluh empat jam], Yesus Kristus bangkit pada
hari yang ketiga [Mat 16:21, Mrk 9:31, Luk 9:22, Yoh 2:191 Kor
15:4]. Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa Ia adalah Anak
Allah [Rm 1:4]. Ia adalah Pribadi yang melampaui segala kuasa. Ia
melampaui kuasa maut/kematian dan melampaui hukum alam [Kis
2:24]. Ia juga melampaui kuasa pemerintahan manusia [yang
menyalibkan Dia dan yang menjaga kubur-Nya]. Kebangkitan-Nya
memberikan jaminan akan pengampunan dan pembenaran orang
percaya [1Kor 15:17; Rm 4:25]. Tidak hanya itu, kebangkitan-Nya
dari antara orang mati juga mengandung sebuah janji yang pasti
bahwa kita yang menaruh iman kepada-Nya akan dibangkitkan dari
kematian sama seperti Dia di akhir zaman [Rm 6:4-5; 1Kor 15:20,
35-44; 1Tes 4:16].
6. Ia naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa
yang maha kuasa.
Pernyataan ini menyatakan pengakuan akan kemuliaan dan
otoritas Yesus Kristus. Setelah mengalami kerendahan yang amat
sangat, Kristus ditinggikan melalui kebangkitan-Nya, bahkan
mencapai kemuliaan-Nya saat naik ke sorga dan duduk di sebelah
kanan Allah Bapa [Mrk 16:19; Rm 8:34; Ef 1:20; Ibr 1:3].
Ungkapan “naik ke sorga” bukan menunjukkan bahwa sorga berada
di atas bumi. Sesungguhnya kita tidak tahu dimana letaknya sorga
itu, tetapi Alkitab menyatakan bahwa sorga itu ada dan nyata. Sorga
adalah tempat dimana Allah bertakhta. Yesus Kristus dikatakan naik
ke sorga. Maksudnya, Ia kembali ke sorga, dimana Ia bertakhta dan
memerintah dalam kemuliaan.
Ungkapan “duduk di sebelah kanan Allah Bapa” [muncul 12 kali
dalam Perjanjian Baru; Ibr 10:12; Kis 7:56] tidak boleh diartikan
secara hurufiah, tetapi perlu dipahami sebagai ungkapan figuratif,
yang berarti berada dalam kemuliaan ilahi yang Kristus miliki
setelah menggenapi karya penebusan dosa secara tuntas dan
sempurna. Pernyataan ini juga menyatakan kesetaraanNya dengan
Allah Bapa, karena Ia memiliki kuasa dan kedaulatan yang
mahatinggi.
7. Dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang
hidup dan yang mati.
Pernyataan ini menyatakan pengakuan bahwa Yesus Kristus pasti
akan datang untuk kedua kalinya sebagai Hakim [Yoh 5:22].
Kedatangan-Nya yang kedua ini bertujuan untuk menyatakan
pengadilan dan penghakiman Kristus atas semua manusia tanpa
terkecuali, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati
[dibangkitkan] [Why 20:11-15; bdk Mat 25:31-46; Kis 17:31]. Kristus
akan datang dengan kemuliaan dan kuasa/otoritas ilahi yang
mahatinggi. Kedatangan Kristus yang kedua kali, bukan hanya
sebagai Hakim yang agung—yang akan menghakimi semua
manusia, melainkan juga sebagai Penguasa alam semesta—yang
akan mengakhiri sejarah dunia dan kehidupan dunia yang penuh
dosa ini.
8. Aku percaya kepada Roh Kudus;
Pernyataan ini menyatakan pengakuan bahwa Roh Kudus bukanlah
kekuatan aktif yang tidak berpribadi [impersonal], tetapi
merupakan Oknum ketiga dari Allah Tritunggal. yang setara dengan
Allah Bapa dan Allah Anak baik dalam kekekalan dan kemuliaan
maupun dalam kuasaNya.
9. Gereja yang kudus dan am, persekutuan orang-orang
kudus.
Pernyataan ini menyatakan pengakuan bahwa dalam kehidupan
dunia yang penuh dosa ini Allah mempunyai suatu umat
kepunyaan-Nya, yang Allah ciptakan berdasarkan penebusan dan
pengudusan dalam darah Yesus Kristus, yaitu Gereja [Kol 1:13; 1Ptr
2:9-10]. Gereja atau umat Allah bersifat kudus, karena gereja telah
dikuduskan dalam darah Yesus Kristus, sehingga semua individu
yang percaya dan ditebus dalam Yesus Kristus termasuk ke dalam
persekutuan/komunitas orang-orang kudus. Gereja juga bersifat
am [katolik], yang artinya umat Allah mencakup semua orang
percaya yang telah ditebus oleh Yesus Kristus dari semua abad dan
tempat. Jadi, gereja tidak dibatasi oleh waktu, tempat, budaya,
bahasa, suku-bangsa/etnis, status sosial, dsb [Ef 2:19-22].
10. Pengampunan dosa;
Pernyataan ini secara tersirat menyatakan pengakuan adanya dosa.
Dosa merupakan kenyataan yang ada dalam dunia, yang merusak
kehidupan manusia dan yang menyebabkan keterpisahan manusia
dengan Allah, Sang Penciptanya [Yes 59:2; Rm 3:23]. Di sisi lain,
pernyataan ini secara juga menyatakan pengakuan tentang
anugerah Allah dalam Yesus Kristus. Karena pengampunan dosa
terjadi berdasarkan karya penebusan Yesus Kristus, maka ada
perdamaian dengan Allah dan keselamatan kita [Ef 1:7]. Tanpa
adanya pengampunan dosa, maka tidak ada seorang pun yang
dapat terlepas dari murka dan hukuman Allah.
11. Kebangkitan tubuh [daging];
Pernyataan ini menegaskan bahwa semua orang yang mati akan
dibangkitkan pada waktu kedatangan Yesus Kristus yang kedua
[Yoh 6:39-40, 44; 1Kor 6:14; 2Kor 4:14]. Berdasarkan iman Kristen,
diajarkan bahwa dalam Kristus orang-orang percaya memiliki
pengharapan yang besar dan mulia, yaitu kebangkitan dari
kematian. Dikatakan besar karena pengharapan ini melampaui
pengalaman kita atas realitas duniawi, bahkan melampaui kekuatan
kematian. Dikatakan mulia karena kita yang ada dalam Kristus akan
dibangkitkan
sama seperti Kristus yang telah bangkit dengan tubuh yang telah
diubah, yaitu tubuh kemuliaan, yang tidak dapat rusak/mati dan
yang bersifat kekal [Flp 3:20-21; 1 Yoh 3:2].
12. Dan kehidupan yang kekal.
Pernyataan ini menyatakan pengakuan bahwa ada kehidupan yang
tidak fana, yang sangat berbeda dengan kehidupan yang kita alami
di dunia sekarang ini. Dengan pengakuan ini kita percaya bahwa
hidup di dunia ini bukanlah segala-galanya, dan kematian pun
bukanlah akhir dari segala sesuatu. Berdasarkan iman Kristen,
diajarkan bahwa dalam Kristus kita memiliki pengharapan yang
mulia, yaitu kehidupan yang kekal, yang tanpa dosa, tanpa
penderitaan, tanpa kerusakan dan tanpa sakit penyakit [1Yoh 5:11-
12; Why 21:4]. Inti dari hidup kekal adalah berada bersama dengan
Kristus dalam relasi yang sempurna [Yoh 12:26; 14:3; 17:24; Flp
1:23; 1Tes 4:17].
Sebutkan tiga hal yang mendasari pentingnya suatu pengakuan
iman!
Sebutkan pula beberapa hal yang menunjukkan keistimewaan dari
Pengakuan Iman Rasuli, sehingga rumusan Pengakuan Iman Rasuli
dimasukkan ke dalam liturgi Kebaktian Minggu GII!
Hafalkan teks baru dari Pengakuan Iman Rasuli dalam kelompok
secara berpasangan!
Look
Berikanlah tanda √ di kolom yang kedua jika Anda mengakuinya. Kolom
ketiga dapat diisi bila ada asas yang masih diragukan dan bahaslah lebih
lanjut.
Took
Hafalkanlah pengakuan iman rasuli secara keseluruhan.
BAB 3
MENGENAL
ALLAH TRITUNGGAL
Mengajarkan tentang pentingnya dan uniknya doktrin
Tritunggal dalam Kekristenan yang harus dipahami oleh
setiap orang Kristen
Hook
Kalo misal Anda di tanya orang lain, “Allah seperti apa yang Anda
percayai selama ini?” Apa jawab Anda? Silahkan Anda gambarkan di
atas selembar kertas yang tersedia (juga disiapkan pensil warna atau
crayon), lalu minta mereka menjelaskannya apakah langsung di forum
atau di kelompok kecil. Aturlah sesuai kondisi.
Book
A. PENGENALAN YANG TAK SEMPURNA
Keselamatan yang kita terima dalam Yesus Kristus, tidak dapat
dipisahkan dari pengenalan akan Allah yang benar[Yoh 17:3]. Karena
panggilan keselamatan dari Allah atas kita bukan hanya untuk
menikmati anugerah dan kebaikanNya, melainkan juga untuk
mengasihiNya dan memperkenankan hatiNya [Mat 22:34-40].
Bagaimana kita dapat mengasihiNya tanpa kita mengenalNya?
Pengenalan akan Allah bukanlah pengenalan yang dangkal,
melainkan merupakan pengenalan yang bertumbuh makin
mendalam [Kol 1:10].
Pembicaraan tentang Allah merupakan hal yang abstrak. Karena Allah
bukanlah obyek yang dapat dianalisa, diraba, dilihat dan diobservasi.
Namun ini tidak berarti kita tidak dapat memahami hal-hal tentang
diri Allah. Kita dapat mengenal Allah bukan berdasarkan upaya rasio
dan pengamatan kita, melainkan berdasarkan penyataan Allah
sendiri kepada kita melalui wahyu dan FirmanNya, yaitu Alkitab.
Sejauhmana Allah menyatakan Diri-nya, sejauh itulah kita dapat
mengenal-Nya. Martin Luther menegaskan bahwa ada dua aspek
dalam Diri Allah, yaitu yang tersembunyi dan yang dinyatakan. Kita
dapat mengenal Allah bergantung pada aspek yang Allah nyatakan
kepada kita. Selebihnya, tetap dan akan selalu tersembunyi dari kita.
Siapakah Allah? Kita tidak dapat dapat menjawab pertanyaan ini
dengan sempurna. Musa pernah bertanya kepada Allah tentang
namaNya. Tetapi Allah menjawab: Aku adalah Aku [Kel 3:14]. Jawaban
Tuhan ini mengandung makna bahwa Allah adalah Pribadi yang
tidak dapat dibatasi dengan penjelasan kata-kata. Namun demikian
bukan berarti kita tidak dapat memahami dan mengenal Pribadi
Allah. Kita dapat memahami dan mengenal Allah. Tetapi kita tidak
dapat sepenuhnya atau dengan sempurna memahami hal-hal
tentang Allah[Ul 29:29]. Oleh sebab itu, tidak ada seorangpun yang
bisa berkata bahwa ia telah mengenal atau memahami hal-hal
tentang Allah dengan sempurna. Bahkan jikalau kita tanpa dosa
sama sekalipun atau dalam hidup yang kekal kelak, kita tidak dapat
mengenal dan memahami Allah dengan sempurna.
Ketidakmampuan manusia untuk memahami Allah dengan
sempurna, bukan karena keberdosaan kita, melainkan karena
ketidakterbatasan Allah dan keterbatasan kita. Ciptaan yang
terbatas tidak mungkin dapat memahami sepenuhnya Pencipta
yang tidak terbatas. Meskipun kita tidak dapat mengenal Allah
secara sempurna, tetapi kita dapat mengenal hal-hal yang benar
tentang diri Allah.
B. KEUNIKAN ALLAH TRITUNGGAL
Kekeristenan dengan doktrin Tritunggal memiliki kaitan erat yang
tidak terpisahkan. Doktrin Allah Tritunggal merupakan pengajaran
yang paling fundamental atau ”jantung” dari iman Kristen dan
sekaligus ”jati diri” iman Kristen yang memberikan keunikan di
tengah-tengah keragaman keyakinan mengenai Allah. Pendek kata,
tidak ada kekeristenan sejati tanpa doktrin Allah Tritunggal.
Kata “tritunggal” sebenarnya berasal dari kata bahasa Inggris trinity,
yang jika dimodifikasikan ke dalam bahasa Indonesia, kata ini
menjadi “trinitas.” Kata trinity [berasal dari kata bahasa Latin
trinitas] merupakan gabungan dari kata 'tri' [berarti tiga] dan 'unity'
[berarti kesatuan]. Jadi, kata tritunggal dan trinitas secara hurufiah
berarti tiga, tetapi satu kesatuan/tunggal
Kata “Tritunggal” dan “Trinitas” itu sendiri memang tidak terdapat
dalam Alkitab secara tersurat. Namun, tidak berarti bahwa
pengajaran tentang Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab. Kata ini
dipakai sebenarnya untuk menyimpulkan atau mengintisarikan
kebenaran akan jati diri Allah yang secara tersirat disingkapkan di
dalam seluruh bagian Alkitab secara konsisten, yaitu bahwa Allah
adalah Allah yang bertiga-pribadi, tetapi tetap satu Allah.
C. INTI DOKTRIN TRITUNGGAL
Doktrin Tritunggal adalah doktrin yang sulit tetapi bukan doktrin
yang spekulatif, melainkan doktrin yang berdasarkan
penyataan/wahyu Allah yaitu Alkitab. Penyataan Allah ini bersifat
progresif atau dengan kata lain bahwa Allah menyatakan diriNya
secara progresif. Maksudnya, Allah menyatakan jati diriNya tidak
sekaligus tetapi bertahap; dimana dari waktu ke waktu penyataan
Allah tentang diri-Nya semakin jelas.
Penyataan diri Allah ini mencapai puncaknya pada saat kedatangan
Yesus Kristus ke dalam dunia [Ibr 1:1-4]. Oleh sebab itu, konsep
Allah Tritunggal tidak begitu jelas dalam PL, tetapi menjadi sangat
jelas dalam PB. Inti dari doktrin Tritunggal secara ringkas
mengajarkan tentang tiga hal utama yaitu: Allah adalah Allah yang
bertiga-pribadi [God is three persons]; Setiap pribadi adalah Allah;
Ketiga pribadi adalah satu Allah.
Allah adalah Allah yang bertiga pribadi
Alkitab menyatakan kepada kita bahwa ada tiga pribadi atau oknum
yang memiliki atribut dan otoritas sebagai Allah: Allah Bapa, Allah
Anak dan Allah Roh Kudus. Ketiganya bukan hanya sekedar tiga
nama yang dapat ditukar untuk satu pribadi, melainkan benar-
benar merujuk pada keberadaan tiga pribadi yang berbeda satu
dengan yang lain. Allah Bapa bukan Allah Anak. Allah Bapa bukan
Allah Roh Kudus. Allah Anak bukan Allah Roh Kudus.
Penyataan tiga pribadi yang berbeda ini sangat jelas dalam
peristiwa pembaptisan Yesus Kristus oleh Yohanes Pembaptis [Mat
3:13-17; Mrk 1:9-11; Luk 3:21-22; Yoh 1:32-34]. Dalam peristiwa
pembaptisan ini terlihat dengan jelas peranan ketiga pribadi: Yesus
Kristus yang dibaptis; Allah Bapa yang berkata dari sorga: “Inilah
Anak-Ku yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.” Dan Allah
Roh Kudus yang menyatakan diri seperti burung merpati yang
turun ke atas diri Yesus Kristus.
Rasul Yohanes menyatakan: “Pada mulanya adalah Firman; Firman
itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada
mulanya bersama-sama dengan Allah” [Yoh 1:1-2]. Pernyataan ini
dengan jelas mengungkapkan bahwa Firman [pribadi Yesus Kristus]
berbeda dengan Allah Bapa [baca juga Yoh 17: 24; 1 Yoh 2:1].
Selanjutnya Rasul Yohanes memberikan pernyataan bahwa Roh
Kudus bukan Allah Bapa. Dalam ayat Yoh 14:26, Yohanes
menuliskan demikian, “….Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan
diutus oleh Bapa dalam namaKu…” [baca juga Rm 8:27]. Yesus
Kristus [sebagai Allah Anak] juga bukan Roh Kudus. Yesus pernah
berkata, “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab
jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu,
tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu” [Yoh 16:
7].
Dalam PL kita akan menjumpai suatu pernyataan diri Allah yang
bersifat jamak. Misalnya, dalam Kej 1: 26; 3: 22; 11: 7 dikatakan,
“Baiklah Kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Kita.”
Dalam terjemahan hurufiah dari ayat Yes 6: 8, Allah mengatakan
demikian, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakan yang mau pergi
untuk Kami?”
Setiap Pribadi adalah Allah
Masing-masing pribadi, Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah Allah.
Masing-masing pribadi memiliki atribut dan status keallahan. Bapa
adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah. Tentang
keallahan Bapa, Alkitab menyatakan dengan jelas [1Kor 8:4,6; 1Tim
2:5-6].
Tentang keallahan Yesus Kristus, Fil 2:5-11 dan Yoh 1:1-2 dengan
jelas menyatakan hal ini, sekalipun Yesus Kristus memang tidak
pernah menyatakan secara langsung bahwa Ia adalah Allah. Namun
berdasarkan perkataan-perkataan yang dikatakanNya dengan
sadar dan otoritasNya, hal itu membuktikan dengan pasti bahwa Ia
adalah Allah.
Tentang keallahan Roh Kudus, Alkitab menyatakan bahwa Ia
mempunyai atribut dan otoritas ilahi berdasarkan hal-hal berikut:
Berdasarkan semua atribut di atas, dapat disimpulkan bahwa Roh
Kudus adalah Pribadi ilahi, yang memiliki kuasa ilahi sebagai Allah.
Jadi, Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Bapa adalah Allah,
Anak [Yesus Kristus] adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah.
Ketiga pribadi Allah Tritunggal tidak berbeda dalam semua atribut
keallahan, baik dalam kuasa, otoritas, kemuliaan, kekekalan, dan
kesucianNya.
Urutan penyebutan yang lazim terhadap pribadi-pribadi Allah
Tritunggal biasanya mulai dari Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh
Kudus, tetapi hal ini tidak menunjukkan adanya subordinasi
[perbedaan derajat / kedudukan], dimana Bapa lebih tinggi dari
Anak dan Roh Kudus, dan Anak lebih tinggi dari Roh Kudus. Masing-
masing pribadi hanya berbeda dalam peranan, namun ketiganya
setara dalam keallahan.
Misalnya, dalam karya keselamatan. Allah Bapa mengutus Allah
Anak ke dalam dunia [Gal 4:4; Ef 1:9-10] dan Allah Anak
menggenapkan kehendak Bapa dengan mati di kayu salib untuk
menebus dosa manusia. Setelah Yesus naik ke Sorga, Allah Roh
Kudus diutus oleh Allah Bapa dan Allah Anak [Yoh 14:26; 16:7;
15:26] untuk membawa manusia bertobat, menerima karya
penebusan Yesus Kristus, membuat manusia mengalami kelahiran
baru [Yoh 3:5-8], serta memperbaharui/menguduskan orang-orang
percaya [Rm 8:13; 15:16; 1 Pet 1:2].
Ketiga Pribadi adalah satu Allah
Bagian dari doktrin Tritunggal yang paling sulit adalah bagaimana
memahami tiga Pribadi yang berbeda sebagai satu Allah. Allah Bapa
adalah Allah, Allah Anak adalah Allah dan Allah Roh Kudus adalah
Allah, tetapi bukan tiga Allah, melainkan tetap satu Allah [Allah yang
Esa].
Apakah dengan demikian dapat dikatakan bahwa doktrin Tritunggal
tidak masuk akal? Doktrin ini bukan tidak masuk akal atau
kontradiktif dengan akal, sebab doktrin ini tidak mengajarkan
demikian:
Ada satu Allah dan ada bukan satu Allah.
Allah merupakan tiga Pribadi dan Allah merupakan bukan tiga Pribadi.
Allah merupakan tiga Pribadi dan Allah merupakan satu Pribadi.
Semua pernyataan di atas bersifat kontradiktif dan tidak masuk
akal. Doktrin Tritunggal mengajarkan bahwa Allah merupakan tiga
Pribadi dan Allah adalah esa. Pernyataan ini bukan kontradiktif,
melainkan paradoks.
Pada diri Allah ada satu natur dan tiga Pribadi. Dalam satu natur ini,
ketiga Pribadi tersebut adalah satu [koesensial/kosubstansial],
berada dalam dan melalui satu sama lain, yaitu relasi yang
diungkapkan dengan istilah 'coherence' atau 'intercomprehension'
[satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan].
Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah,
namun ketiganya bukan tiga Allah, melainkan satu Allah.
Kekristenan yang berdasarkan Alkitab tidak mengajarkan
politeisme. Karena dalam Alkitab Allah menyatakan diri dengan
jelas bahwa Allah adalah Allah yang esa [Kel 20:3; Ul 6:4-9; Mrk
12:29,30; Yak 2:19; 1Kor 8:4,6; 1Tim 2:5-6]. Baik PL maupun PB
mengajarkan konsep Allah yang monoteisme—Allah yang esa.
D. PENTINGNYA DOKTRIN TRITUNGGAL
Sekalipun doktrin Tritunggal sulit untuk dipahami, tetapi doktrin ini
merupakan dasar bagi kita untuk memahami doktrin-doktrin
lainnya dengan benar. Tanpa pemahaman yang benar tentang
doktrin Tritunggal, kita tidak mungkin dapat memahami doktrin-
doktrin lain, yang berkaitan dengan doktrin Tritunggal dengan
benar. Doktrin Tritunggal penting karena beberapa hal berikut:
Berkaitan dengan doktrin penebusan Kristus
Jikalau Yesus Kristus hanya ciptaan, bagaimana Kristus dapat
menebus dosa banyak manusia? Karena Kristus adalah Allah, maka
Ia dapat menebus dosa dari umat manusia. Jika Yesus Kristus
hanya ciptaan, maka itu berarti bahwa dalam karya
penebusan/keselamatan Kristus, ciptaan menyelamatkan ciptaan.
Ini menunjukkan bahwa ada ciptaan yang sangat berjasa dalam
keselamatan bagi umat manusia.
Berkaitan dengan penyembahan kita
Jika Yesus Kristus bukan Allah, maka penyembahan dan doa kita
kepadaNya adalah salah. Salah karena hal itu menunjukkan bahwa
kita menyembah berhala.
Berkaitan dengan obyek kasih Allah
Alkitab menyatakan bahwa Allah adalah kasih. Dalam kekekalan
[sebelum Allah melakukan penciptaan] Allah adalah kasih. Jika
demikian, siapakah yang Allah kasihi dalam kekekalan? Dalam
konsep Allah Tritunggal, kita dapat memahami kasih Allah yang
kekal ini. Dalam hal ini, obyek kasih Allah ada di antara Pribadi-
Pribadi Tritunggal. Bapa mengasihi Anak dan Roh Kudus, Anak
mengasihi Bapa dan Roh Kudus, Roh Kudus mengasihi Anak dan
Bapa.
Jika pemahaman tentang obyek kasih Allah tidak dikaitkan dengan
konsep Allah Tritnggal, maka tindakan Allah mencipta dapat berarti
bahwa Allah memerlukan ciptaan sebagai obyek kasih dan
relasiNya. Dengan demikan, tindakan Allah menciptakan
merupakan keharusan dan kebutuhan Allah. Allah Tritunggal tidak
harus menciptakan atau memerlukan ciptaan sebagai obyek kasih
dan relasiNya, sebab pada diri Allah Tritunggal sudah terjalin kasih
dan relasi, sehingga Allah tidak mutlak memerlukan ciptaan.
Berkaitan dengan pelayanan
Teamwork yang solid menjadi gambaran pola Allah Tritunggal di
dalam mengerjakan karya keselamatan. Ketiga Pribadi
berpartisipasi di dalam peran yang berbeda dan sangat vital
membentuk pola kerja bak simfoni yang indah untuk menghasilkan
karya keselamatan yang sempurna. Ketiga peran tersebut saling
terkait satu dengan yang lain dan tidak bisa dipisahkan sehingga
menjadi berdiri sendiri. Allah memainkan simfoni keselamatan kita
di dalam tiga gerakan. Tiap-tiap gerakan diasosiasikan dengan dan
difasilitasi oleh tiap pribadi Tritunggal. Bapa sebagai perencana
keselamatan [Ef 1:3-6], Anak sebagai pelaksana keselamatan [Ef
1:7-12] dan Roh Kudus sebagai penerap keselamatan [Ef 1:13-14].
Pola teamwork yang diperlihatkan oleh Tritunggal menjadi teladan
dalam pola melayani dalam membangun tubuh Kristus.
Di manakah letak keunikan doktrin Tritunggal dalam Kekristenan?
Apa yang membedakan Kekeristenan dengan kepercayaan lain?
Sebutkan hal-hal apakah yang menyebabkan doktrin Tritunggal ini
penting untuk dipahami oleh setiap orang Kristen! Apa bentuk
implikasi praktis dari mempelajari doktrin Tritunggal?
Doktrin Allah Tritunggal tidak hanya menekankan kesatuan (unity)
namun juga kesetaraan (equality) dan keharmonisan. Yangmana
didalamnya mengandung nilai-nilai ketaatan (Yoh 17:4), kesetiaan,
dan ketidak mementingkan diri sendiri (Yoh 16:14). Sejauhmana
keharmonisan yang telah diteladani oleh Allah itu ada di dalam
kehidupan Anda? Dan sejauhmana pula kasih telah menjadi landasan
Anda dalam berhubungan dan berkomunitas?
Look
Berikanlah tanda √ di kolom yang kedua jika Anda mengakuinya. Kolom
ketiga dapat diisi bila ada asas yang masih diragukan dan bahaslah lebih
lanjut.
Took
Tuliskanlah pemahaman yang salah yang selama ini Anda yakini
mengenai Allah Tritunggal! Hafalkanlah 3 ayat utama yang menyatakan
tentang Allah Tritunggal!
BAB 4
MANUSIA
DAN DOSA
Mengajarkan bahwa dosa merupakan
masalah yang sangat serius yang telah
merusak tatanan kehidupan setiap
manusia secara utuh dan radikal
Hook
Berikan satu set flash cards berisi gambar-gambar para penjahat kelas
berat: pembunuh bayaran, teroris, pemerkosa, koruptor, perampok,
penipu, pembunuh berantai, pemalsu uang, penculik dan penadah barang
curian. Kelompokan peserta sesuai jumlah total peserta di kelas. Tiap
kelompok 3-5 orang. Minta mereka urutkan gambar-gambar penjahat
mulai dari yang dianggap paling jahat. Lalu minta masing-masing
menjelaskannya! Masuklah ke forum dengan melontarkan sebuah
pertanyaan, “Mengapa ada orang sampai sejahat itu?” Dengarlah
pendapat beberapa orang.
Book
A. TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA
Manusia ada bukan hasil produk dari sebuah kebetulan tetapi karena
penciptaan Allah yang direncanakan. Alkitab menyaksikan bagaimana
Allah menciptakan manusia secara langsung dan menjadi puncak
dari seluruh karya Allah dalam penciptaan alam semesta. Manusia
merupakan ciptaan yang mulia dengan harkat dan martabat serta
status istimewa dibandingkan dengan ciptaan lainnya [Kej 1:28; Mzm
8:4-9]. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah [Kej
1:27]. Artinya manusia sebagai representasi dan refleksi dari Allah
itu sendiri. Tujuan dari Allah menciptakan segala sesuatu termasuk
manusia adalah untuk kemuliaan-Nya [Yes 43:7; Ef 1:11-12]. Namun,
penciptaan manusia tidaklah menambahkan kemuliaan-Nya atau
tanpa manusia kemuliaan Allah tidak pernah berkurang. Dengan ada
dan tidak adanya manusia, Allah tetap adalah Allah yang mulia. Jika
Allah berkehendak menciptakan manusia dan itu untuk kemuliaan-
Nya, berarti manusia yang diciptakan itu begitu berharga di mata-
Nya. Maka dengan demikian, tujuan hidup manusia harus selaras
dengan tujuan Allah menciptakannya, yaitu untuk memuliakan
Allah [1Kor 10:31; Rm 11:36; 12:1-2; Why 4:11].
B. KEJATUHAN MANUSIA KE DALAM DOSA
Pada mulanya manusia [Adam dan Hawa] hidup dalam kondisi dan
status yang baik, murni, suci, dan benar di hadapan Allah [Kej 1:31].
Lalu Iblis sebagai seteru Allah menggoda manusia agar manusia tidak
taat kepada Allah. Akhirnya, karena godaan Iblis, manusia
jatuh ke dalam dosa dengan melanggar ketetapan Allah [Kej
3]. Pelanggaran atau dosa yang dilakukan manusia telah
mengakibatkan hal-hal berikut:
Kondisi dan status manusia tercemar oleh dosa
Karena manusia telah jatuh ke dalam dosa, kondisi dan status
manusia menjadi tercemar secara radikal oleh dosa. Bukan hanya
di lapisan luar kehidupan saja, yaitu berupa pelbagai tindakan
kejahatan, namun dosa telah berakar pada kedalaman keberadaan
manusia. Sehingga setiap manusia adalah pendosa yang hidupnya
menjadi pabrik yang selalu memproduksi buah-buah dosa [Kej 6:5;
Rm 7:23; Ef 2:1]. Di sisi lain, Allah adalah Allah yang maha kudus,
yang tidak membenarkan adanya dosa sekecil apapun di hadapan-
Nya. Akibatnya, dengan kondisi yang demikian manusia tidak lagi
berstatus benar di hadapan Allah. Melainkan sebagai seteru dan
musuh Allah yang selayaknya dibinasakan [Ef 2:3].
Hubungan manusia dengan Allah menjadi terputus
Karena manusia telah berbuat dosa, hubungan dan
persekutuannya dengan Allah yang merupakan sumber hidup dan
berkat menjadi terputus [Rm 6:23]. Akibatnya adalah manusia
mengalami kematian rohani [Ef 2:1,5,12; 4:18]. Bukan hanya
kematian rohani tetapi juga kematian jasmani. Dari suatu keadaan
dapat tidak mati [posse non mori] menjadi tidak dapat tidak mati
[non posse non mori, Rm. 6:23]. Dan pada akhirnya akan mengalami
kematian kekal. Dosa bukan hanya memutuskan hubungan dengan
Allah, juga merusak hubungan manusia dengan sesamanya dan
dengan alam [Kej 3:8-19].
Status manusia yang berdosa telah mengakibatkan
manusia kehilangan kemuliaan Allah, “Karena semua
orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”
[Rm 3:23].
Gambar dan rupa Allah pada diri manusia menjadi
rusak.
Kejatuhan manusia dalam dosa telah mengakibatkan kerusakan
gambar dan rupa Allah dalam diri manusia, tetapi kerusakan ini
tidak menjadikan gambar dan rupa Allah itu hilang dari diri
manusia. Manusia tetap memiliki gambar dan rupa Allah [Kej 6:5],
sehingga masih memiliki kemampuan berpikir rasional,
kemampuan melakukan pertimbangan moral/etis, sifat
spiritualitas/keagamaan. Sekalipun masih memiliki semua itu,
kemampuan dan kondisinya tidak lagi sama seperti sebelum
manusia jatuh dalam dosa.
Kerusakan gambar dan rupa Allah ini disebabkan oleh dosa yang
telah mencemari seluruh aspek diri manusia secara total [Rm 7:18].
Rasio sebagai mekanisme berpikir manusia telah tercemar oleh
dosa; sehingga rasio tidak dapat berpikir sesuai dengan kebenaran
Allah, bahkan rasio cenderung menolak dan menentang kebenaran
Allah [Rm 1:19-21; Tit 1:15]. Demikian pula, kehendak manusia
telah terbelenggu oleh dosa, sehingga kehendaknya tidak lagi
murni dan netral, melainkan kecenderungannya memuaskan dosa
dan tidak mungkin tidak melakukan dosa [Kej 6:5; Gal 5:19-21].
Manusia yang sudah jatuh dalam dosa bukan lagi hamba Allah,
hamba kebenaran, melainkan hamba dosa. Manusia tidak mampu
menundukkan kehendaknya pada kehendak dan kebenaran Allah
[Yoh 8:34; Rm 6:20; 8:7; Ef 2:1-2]. Sehingga manusia tidak sanggup
melakukan hal yang benar dan berkenan di hadapan Allah [Mzm
14:3; Rm 3:10; 8:8]. Meskipun dari sudut pandang manusia, kita
mampu melakukan apa yang baik dan benar, tetapi bagi Allah
segala kesalehan dan kebaikan itu seperti kain kotor [Yes 64:6].
C. HAKIKAT DAN UNIVERSALITAS DOSA
Dosa merupakan satu kenyataan yang telah menjadi bagian dalam
kehidupan/sejarah manusia. Alkitab mengajarkan, dosa merupakan
hal yang sangat serius bagi Allah. Berdasarkan keadilan dan
kebenaran Allah, dosa pasti mengakibatkan penghukuman. Allah
sangat membenci dosa dan tidak bersikap kompromi terhadapnya,
karena dosa mutlak bertentangan dengan karakter kebajikan dan
kekudusan Allah.
a. Pengertian Dosa
Secara sederhana dosa dapat didefinisikan sebagai ketidaktaan
atau pelanggaran dan pemberontakan terhadap hukum moral
Allah, baik dalam tindakan nyata maupun dalam sikap hati atau
pikiran. Jadi, dosa berkaitan dengan hukum moral Allah; tanpa
pengakuan adanya hukum Allah dalam kehidupan manusia, maka
kita tidak dapat berbicara tentang dosa. Rasul Yohanes
mengatakan: “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga
hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah” [1Yoh 3:4].
Untuk memahami tentang dosa secara mendalam, kita harus
memperhatikan beberapa istilah. Hal ini penting karena dengan
memahami beberapa istilah ini, kita memiliki gambaran yang
sebenarnya tentang apa yang disebut dengan dosa. Selain itu,
pemahaman ini juga dapat membantu kita untuk mengerti benar
mengapa Allah sangat membenci dosa, sehingga dosa harus
dijauhi bahkan ditinggalkan.
Dosa digambarkan sebagai anak panah yang dilepaskan
dari busurnya, tetapi “meleset dari sasaran.” Gambaran
ini berasal dari kata hamartia. Dosa berarti “meleset dari
sasaran” atau “meninggalkan jalan kebenaran.” Ini berarti
bahwa pada saat manusia tidak mencapai sasaran/standar
yang telah ditentukan dalam hukum Allah dan terus gagal untuk
mencapai sasaran/standar itu, maka dikatakan bahwa manusia
telah berdosa. Berdosa juga identik dengan ketidakmauan
seseorang untuk menaati Allah. Hal ini menunjukkan adanya
unsur pemberontakan kepada Allah [bdk Kis 2: 38; Rm 5: 21;
6:1, 1Kor 15: 3; Yak 1: 15]
.
Dosa dipahami sebagai kesalahan atau kedurjanaan,
yaitu sesuatu yang bengkok atau diputarbalikkan. Istilah ini
dinamakan dengan adikia. Kejahatan timbul karena hati dan
pikiran seseorang sudah dibengkokkan atau diputarbalikkan.
Hati dan pikiran yang tidak lagi berpaut kepada Allah sebagai
sumber kebenaran, dengan sendirinya akan berpaut kepada
Iblis yang adalah sumber kejahatan [Rm 6: 13; 2 Tes 2: 10; Yak
3: 6].
Dosa diterjemahkan sebagai kedurhakaan, yang
menunjukkan adanya usaha yang disengaja untuk melawan
kebenaran, dalam hal ini adalah Allah sendiri. Istilah yang
dipakai ialah anomos. Istilah ini juga berarti pelanggaran
terhadap hukum dalam arti luas [Rm 2:23; 5:14; Gal 3:19].
Secara eskatologis, kata ini juga menunjuk pada anti Kristus,
yaitu si pendurhaka [bdk Mat 13: 41; 24: 12; 1Tim 1: 9; 2Tes 2:
8].
Dosa berarti menyimpang atau tersesat, yaitu suatu kondisi
yang tidak berada pada jalur yang tepat atau yang dikehendaki.
Dalam hal ini, dosa juga disebut sebagai suatu perbuatan yang
patut dicela. Istilah yang dipakai ialah planao. Kata ini
menunjukkan adanya penyesatan yang dilakukan terhadap
orang lain atau diri sendiri. Istilah ini juga menunjuk pada
tindakan Iblis yang menyesatkan seluruh dunia [bdk Mat 24: 6;
6: 1; 1Pet 2: 25; 1Yoh 1: 8; Why 12: 9; 20: 3, 8].
b. Asal usul Dosa
Dari manakah asal dosa? Siapakah atau apakah yang menyebabkan
adanya dosa? Kalau Allah adalah Pencipta segala sesuatu, apakah
dengan demikian Ia juga sebagai penyebab adanya dosa? Jawabnya
adalah tidak! Adanya dosa tidak mungkin disebabkan oleh Allah,
karena dosa sepenuhnya bertentangan dengan natur dan pribadi
Allah yang mahakudus. Tidak mungkin Allah menyebabkan atau
melakukan sesuatu yang bertentangan dengan diri-Nya sendiri.
Justru di hadapan Allah, dosa itu begitu buruk dan menjijikan.
Alkitab tidak berbicara dengan jelas tentang asal mula dosa. Pada
umumnya golongan Injili percaya bahwa dosa berasal dari
kejatuhan malaikat dalam dosa, yaitu iblis dan pengikut-
pengikutnya. Alkitab hanya mengungkapkan dengan jelas tentang
masuknya dosa dalam dunia ini, yaitu bermula dari ketidaktaatan
Adam dan Hawa. Mereka memilih untuk melanggar perintah Allah
dengan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik
dan yang jahat [Kej 3:1-9]. Dalam hal ini Iblis, melalui seekor ular,
berhasil membujuk dan membuat Adam dan Hawa jatuh dalam
dosa.
Dosa asal tidak hanya menunjuk pada dosa yang pertama kali
diperbuat oleh Adam dan Hawa, tetapi juga menunjuk pada akibat
dosa yang pertama terhadap seluruh umat manusia, yaitu
kecemaran dan kerusakan. Jadi, dapat dikatakan bahwa dosa asal
menunjuk pada kondisi manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa
sejak manusia itu dilahirkan ke dalam dunia. Tentu saja dosa asal
dibedakan dari dosa aktual, yaitu dosa-dosa yang berasal dari
tindakan, perkataan atau pikiran yang manusia lakukan. Namun
keduanya memiliki hubungan erat, dimana dosa asal menjadi
sumber dari dosa-dosa aktual. Meskipun demikian, bukan berarti
meniadakan tanggung jawab manusia atas dosa-dosa yang
diperbuatnya.
c. Dosa Turunan/Warisan
Alkitab mengajarkan bahwa pelanggaran Adam dan Hawa bukan
saja berakibat pada diri mereka sendiri, tetapi juga berakibat pada
semua garis keturunannya. Karena Adam merupakan kepala dan
wakil manusia, maka siapapun yang berada di dalam Adam sebagai
keturunannya secara inklusif akan mewarisi kesalahan Adam dan
menanggung natur kehidupan yang telah rusak tercemar oleh dosa
[sinful nature; Mzm 51:7]. Oleh karena kesalahan dan
penghukuman Adam diperhitungkan atau diimputasikan kepada
seluruh keturunannya. Rm 5:18-19 berbunyi demikian: “Sebab itu,
sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh
penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran
semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti
oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang
berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang
menjadi orang benar.” Dengan demikian, dosa telah menjadi
universal, dimana tidak ada satupun manusia di muka bumi ini
yang bebas dari dosa [terkecuali Yesus Kristus] “Karena semua
orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” [Rm
3:23; bdk. Mzm 143:2; 1Raj 8:46; Ayb 14:4; Ams 20:9; Pkh 7:20; Yak
3:2; 1Yoh 1:8-10].
Apa yang membuat hidup manusia menjadi berharga?
Mengapa sekadar mengetahui konsekuensi dari dosa tidak pernah
cukup mencegah kita berbuat dosa? Jelaskanlah!
Langkah apa yang dapat Anda lakukan agar tidak kembali jatuh pada
dosa yang sama?
Look
Hafalkan Roma 3:23! Tanyakan, “Setujukah Anda akan bunyi ayat ini?
Berarti Anda mengakui juga sebagai salah seorang yang telah berbuat
dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah?”
Took
Tuliskanlah dosa-dosa apa saja yang telah Anda lakukan, bahkan sering
dilakukan sebagai dosa favorit dalam kertas yang telah disediakan.
Sesudah itu, robeklah kertas tersebut dan masukkan ke dalam kantong
yang telah disediakan. Lalu ambil waktu doa hening dan lakukanlah
pengakuan dosa pribadi.
BAB 5
KESELAMATAN DI
DALAM YESUS
KRISTUS
Mengajarkan bahwa
keselamatan sejatinya
merupakan karya Allah
melalui pengorbanan Tuhan
Yesus di Kalvari yang
dikerjakan secara sempurna
dalam anugerah-Nya yang
diterima melalui iman di
dalam Tuhan Yesus
Hook
Bahaslah jawaban dari pertanyaan yang tertera dalam kisah studi kasus
“The Dancer.” Apakah yang Anda pelajari dari kisah ini? Berikan waktu
masing-masing untuk menuliskannya.
Book
A. KETIDAKMAMPUAN MANUSIA MENYELAMATKAN DIRINYA SENDIRI
Alkitab dengan gamblang mengajarkan bahwa manusia di dalam
keberdosaannya tidak mungkin dapat menyucikan dan
membenarkan dirinya dengan segala perbuatan amal-ibadahnya.
Di hadapan Allah, semua kesalehan dan kebaikan manusia sama
seperti kain yang kotor [Yes 64:6]. Sehingga segala usaha dan inisiatif
manusia untuk mendapatkan keselamatan adalah sebuah kesia-
siaan. Oleh karena dosa yang sedemikian mengerikan telah menjerat
hidupnya, membuat manusia tidak mungkin memenuhi standar
Allah. Kenyataan ini dapat digambarkan melalui ilustrasi seorang
yang tenggelam di dalam lumpur hisap yang terus menghisap dirinya
semakin dalam. Ia berada dalam keadaan kritis dan tidak berdaya.
Segala upaya untuk menyelamatkan diri adalah upaya yang tidak
pernah mendatangkan hasil, selain membawa dirinya semakin
tenggelam dalam keberdosaan.
B. YESUS KRISTUS MERUPAKAN SATU-SATUNYA JALAN KESELAMATAN
Semua agama mengajarkan bahwa manusia mencari jalan
keselamatan dan mencari Allah. Alkitab mengajarkan sebaliknya
bahwa sesungguhnya Allah-lah yang mencari manusia berdosa dan
Allah memberikan jalan keselamatan. Inilah yang membedakan
antara apa yang diajarkan Alkitab dengan apa yang diajarkan oleh
semua agama pada umumnya. Pada prinsipnya, semua agama
mengajarkan tentang autosoterisme, yaitu keselamatan berdasarkan
usaha manusia sendiri. Namun berbeda dengan kekristenan yang
mengajarkan bahwa di dalam keberdosaannya, manusia tidak
berdaya dan tidak mampu mencari solusi untuk menyelamatkan
dirinya. Dosa telah membuat manusia mengalami kematian rohani
[Ef 2:1]. Sehingga ia tidak mampu mencari Allah selain sepenuhnya
bergantung kepada inisiatif Allah yang mencari dan menemukan
dirinya yang telah terhilang di dalam kegelapan dosa [Mzm 14:2;
Rm 3:11; Luk 19:10; Kej 3:8-9]. Hal ini menegaskan bahwa
keselamatan bergantung sepenuhnya kepada kehendak dan karya
Allah sendiri. Dan Allah menetapkan jalan keselamatan satu-
satunya hanya di dalam Yesus Kristus—Solus Christus [Yoh 14:6;
Kis 4:12].
Tidak ada jalan lain bagaimana seseorang bisa mencapai
kehidupan kekal selain melalui Yesus. Perbuatan baik sebagaimana
yang ditekankan di dalam pengajaran setiap agama, tidak dapat
memenuhi standar pemenuhan keselamatan. Alkitab mengatakan
dengan sangat jelas bahwa jalan keselamatan dan
penebusan/pengampunan dosa hanya ada dalam Yesus Kristus.
Dengan kematian-Nya, Kristus telah menggenapkan tuntutan
keadilan Allah [Bapa] atas dosa manusia. Kita yang seharusnya
menerima hukuman karena dosa kita, semua hukuman itu telah
ditanggung sepenuhnya oleh Kristus di atas Kalvari. Jadi, kematian
Kristus bertujuan sebagai penebusan dosa [Mat 20:28; Ef 1:7]. Ia
yang tidak berdosa, menanggung semua dosa setiap orang yang
menaruh iman kepada-Nya [Rm 3:24]. Dan di sisi lain, kebenaran
Kristus diperhitungkan [imputasi] kepadanya, sehingga ia diterima
sebagai orang benar di hadapan Allah [2Kor 5:21].
C. DISELAMATKAN OLEH ANUGERAH MELALUI IMAN
Keselamatan yang Akitab ajarkan adalah keselamatan yang semata-
mata berdasarkan karya Allah. Tidak ada andil kita sedikit pun yang
membuat kita dapat diampuni, berkenan kepada Allah dan terlepas
dari penghukuman Allah. Pengampunan dan keselamatan yang kita
dapatkan hanya berdasarkan anugerah Allah (sola gratia)—tidak
ada cara lain. Keselamatan tidak didasarkan pada akumulasi
kebaikan dan legalisme melakuan ritus keagamaan, tetapi
didasarkan pada iman kepada Yesus Kristus [Rm 3:23-28; 5:1-2;
2Tim 3:15; Gal 2:16]. Melalui imanlah, karya keselamatan yang
dikerjakan secara sempurna oleh Kristus di Kalvari diperhitungkan
kepada kita [Rm 4:23-25]. Dengan demikian, orang berdosa
diselamatkan bukan karena imannya, tetapi oleh iman yang
membuat dirinya terhubung dengan dan menerima karya
keselamatan di dalam Kristus. Dan iman yang menyelamatkan itu
sendiri tidak tumbuh secara alamiah sebagai buah dari tekad
manusia, tetapi karunia Allah, yang Roh Kudus tanamkan dalam
hati kita [Ef 2:8; 1Kor 12:9; Flp 1:29]. Dengan demikian, keselamatan
sepenuhnya mutlak karena pekerjaan Allah yang didasarkan
anugerah-Nya.
D.PERBUATAN BAIK ADALAH BUAH KESELAMATAN
Meskipun perbuatan baik tidak memberi andil bagi keselamatan
kita [Ef 2:8], tidak berarti kita tidak perlu melakukan kebaikan.
Perbuatan baik harus ada dalam kehidupan setiap orang Kristen
bukan sebagai dasar keselamatan melainkan sebagai buah atau
konsekuensi logis dari keselamatan [Rm 12:1-2; Yak 2:14-26; Ef
2:10]. Perbuatan baik seharusnya menjadi kesaksian yang ampuh
untuk menunjukkan bahwa keselamatan telah menjadi bagian
dalam hidupnya dan menjadi magnet untuk menarik orang datang
memuliakan Allah [Mat 5:16; Yoh 15:8; 1 Kor 10:31].
D. LAHIR BARU DAN PERTOBATAN
Permulaan pengalaman seseorang menjadi anak Allah atau murid
Yesus Kristus selalu dan harus dimulai dengan lahir baru dan
pertobatan. Berdasarkan pengalaman, keduanya terjadi secara
bersamaan atau simultan, dan keduanya tidak dapat dipisahkan.
Walau terjadinya demikian, tetap keduanya memiliki makna teologis
yang berbeda.
Lahir-baru
Lahir baru merupakan bagian penting dalam konsepsi keselamatan
seperti yang diajarkan dalam Alkitab. Yesus Kristus berkata: “. .
.sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali (lahir-baru), ia
tidak dapat melihat Kerajaan Allah [Yoh 3:3]. Artinya ialah bahwa
keselamatan tidak dapat dipisahkan dari lahir baru. Tentu saja,
yang dimaksud lahir baru disini bukan sekedar perubahan tekad
moral seseorang yang didasarkan atas kemauannya sendiri. Tetapi
lebih daripada itu. Alkitab mengajarkan dengan jelas bahwa
manusia telah mengalami kerusakan total. Akibatnya, tanpa inisiatif
dan tindakan Roh Kudus manusia tidak mungkin dapat dan mau
menanggapi kebenaran dan anugerah Allah, atau menyadari bahwa
dirinya adalah manusia yang berdosa dan patut menerima
hukuman [Yer 17:9; Yoh 3:19; Rm 8:8; 1Kor 2:14; Ef 2:1]. Karena itu,
agar seseorang dapat mengerti tentang kebenaran Allah dan mau
menanggapi anugerah Allah, ia perlu dicelikkan oleh pekerjaan Roh
Kudus. Dengan demikian, ia akan mengerti kebenaran Allah,
menginsafi akan keberdosaannya dan hukuman Allah, serta rindu
untuk hidup yang berkenan kepada Allah. Inilah yang dimaksud
dengan lahir baru.
Dalam percakapannya dengan Nikodemus, Yesus mengajarkan soal
lahir baru dengan gamblang. Ia mengatakan “Sesungguhnya jika
seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah”
[ay.3]. Ungkapan “dilahirkan kembali”atau “dilahirkan baru,” dalam
teks Yunaninya menggunakan istilah genethe anothen, yang secara
hurufiah diterjemahkan “dilahirkan atau diperanakkan dari atas.”
Namun, menurut konteksnya, dan berdasarkan tanggapan
Nikodemus dalam ayat 4: “Bagaimanakah mungkin seorang
dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam
rahim ibunya dan dilahirkan kembali (lagi)?” Kata anothen lebih tepat
diterjemahkan “baru”atau “kembali.” Baik diterjemahkan dilahirkan-
baru atau dilahirkan-kembali, hal ini tidak menjadi masalah.
Keduanya mempunyai pengertian yang saling melengkapi.
Keduanya berarti kelahiran dari atas, yang didasarkan pada inisiatif
dan tindakan Allah sebagai subjek yang melahirbarukan. Dan
peristiwa lahir baru terjadi hanya satu kali dan berlaku untuk
selamanya.
Dalam ayat 5, Yesus Kristus berkata: “Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak
dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Kata “mu”dalam teks Yunani
bukan berbentuk tunggal (yaitu: engkau), melainkan berbentuk