The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by daniel.agustinus81, 2021-08-25 00:19:35

BUKU PEGANGAN PENGAJAR KATEKISASI

BUKU PEGANGAN PENGAJAR KATEKISASI

jamak. Jadi, perkataan Kristus ini tidak hanya ditujukan secara
ekslusif kepada Nikodemus saja, tetapi juga kepada orang lain.

Apakah pengertian dari kata “air” di sini? Berdasarkan penyelidikan
terhadap literatur rabinik/Yahudi, kata “air” di sini dapat berarti
“prokreasi.”Dalam hal ini kata “air”dimengerti sebagai “benih.” Maka
ada kemungkinan, pengertian air di sini adalah benih atau kelahiran
yang supranatural. Pengertian ini sesuai dengan pernyataan dalam
1Yoh 3:9 bahwa seorang yang mengalami kelahiran dari Allah [lahir
baru], pada dirinya terdapat “benih ilahi.” Air juga dapat bermakna
sebagai simbol penyucian batiniah [bdk Yeh 36:25]. Kata Roh di sini
menunjukkan subyek Roh Kudus sebagai pelaku kelahiran baru.
Dapat disimpulkan, pengertian dilahirkan dari air dan Roh di sini
adalah dilahirkan dari benih ilahi [kelahiran yang supranatural] yang
dikerjakan oleh Roh Kudus.

Dalam ayat 6, Yesus Kristus berkata: “Apa yang dilahirkan dari daging
adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah Roh.” Kata
“daging” dalam PB, khususnya dalam surat-surat Rasul Paulus,
umumnya dimengerti sebagai natur manusia yang
diperbudak/dibelenggu oleh dosa. Dalam surat-surat Rasul
Yohanes, kata “daging” pada umumnya dimengerti sebagai
kelemahan atau ketidakberdayaan diri manusia.

Apa yang dimaksud Yesus dari perkataan-Nya adalah bahwa apa
yang dilahirkan secara jasmaniah adalah tetap sebagai natur
manusia yang diperbudak/dibelenggu oleh dosa. Namun apa yang
dilahirkan oleh tindakan Roh Kudus adalah manusia baru yang lahir
dari benih ilahi/supranatural.

Ajaran tentang lahir baru ini tidak hanya terdapat dalam Injil
Yohanes, tetapi juga di seluruh PB, sekalipun istilah yang dipakai
berbeda-beda [bdk. Gal 6:14-15; 2Kor 5:17; Tit 3:5; Yak 1:18; 1Pet
1:3-5; 2:2-3; 1Yoh 2:29; 3:9; 4:7]. Berdasarkan penyelidikan Alkitab
tentang lahir baru, dapat disimpulkan bahwa lahir baru adalah
suatu perubahan yang radikal dari kematian rohani pada hidup

secara rohani. Semua ini sepenuhnya dilakukan oleh Roh Kudus,
sedangkan manusia bertindak pasif. Lahir baru bukan merupakan
hasil kerjasama antara kehendak/kemampuan manusia dengan
kehendak/kemampuan Allah, melainkan seluruhnya merupakan
kehendak dan pekerjaan Allah.

Pertobatan
Pertobatan merupakan pengalaman rohani yang terjadi bersamaan
dengan lahir baru. Untuk memahami tentang pertobatan, kita perlu
membedakan dua pengertian tentang pertobatan. Dalam bahasa
Inggris dikenal dua kata yaitu conversion dan repentance. Keduanya
berarti pertobatan.

Pertobatan dalam pengertian konversi adalah respon terhadap
berita Injil dan tindakan yang sadar dari seseorang yang telah
mengalami lahir baru terhadap panggilan Allah. Orang tersebut
sungguh-sungguh menyadari keberdosaannya, sehingga menerima
Yesus Kristus sebagai Juruselamat bagi pengampunan dosanya
dengan beriman kepada-Nya. Ia meninggalkan kehidupan
dosanya dan hidup memperkenankan hati Tuhan [Kis 11:18;
15:3, 19; 1 Tes 1:9]. Pertobatan dalam pengertian konversi ini terjadi
seumur hidup hanya satu kali.

Pertobatan dalam pengertian repentance adalah perubahan dalam
sikap hidup, tingkah laku, karakter atau kebiasaan yang buruk/dosa,
hidup yang tidak berkenan atau tidak memuliakan Allah [2 Kor 7:10].
Seseorang yang sudah bertobat dan menerima Yesus Kristus
sebagai Juruselamat [conversion], bukanlah manusia yang
sempurna tanpa kekurangan dan kelemahan. Ia masih memiliki
kekurangan atau kebiasaan buruk yang harus ia tinggalkan. Ia masih
memiliki kelemahan, sehingga ia bisa hidup jauh dari Tuhan, jatuh
dalam dosa atau membuat dirinya mempertahankan kebiasaan
buruknya. Untuk itu, ia perlu bertobat [repentance] dengan
meninggalkan dan membuang segala sesuatu yang tidak berkenan
kepada Allah. Pertobatan semacam ini harus terus berlangsung
dalam kehidupan setiap orang Kristen.

Sudahkah Yesus Kristus menjadi Tuhan dan Juruselamat pribadi
dalam hidup Anda?
Lagu Amazing Grace (Sangat Besar AnugerahNya) menyaksikan
bagaimana anugerah keselamatan di dalam Kristus sanggup
mengubah kehidupan yang kelam dan tak berpengharapan oleh
karena dosa menjadi indah dan bermakna. Disinilah letak keindahan
dan kedahsyatan dari anugerah Allah seperti yang dialami oleh John
Newton, sang penggubah lagu tersebut! Sejauh mana anugerah
keselamatan di dalam Tuhan Yesus itu dialami dan berdampak dalam
kehidupan Anda secara nyata?
Permulaan pengalaman seseorang menjadi anak Allah atau murid
Kristus selalu dan harus dimulai dengan lahir baru dan pertobatan.
Bagaimanakah pengalaman Anda mengenai kedua hal ini? (Ceritakan
secara singkat).

Look

Took

Tuliskanlah pengalaman lahir baru dan pertobatan Anda dalam selembar
kertas. Lalu lembar yang telah terisi diserahkan kepada pengajar untuk
dibaca dan ditindakjanjuti.

BAB 6

ROH KUDUS DAN
PERANANNYA

Mengajarkan tentang jati diri Roh Kudus dan
perananNya yang penting dalam pelbagai konteks.

Hook

Tayangkan video tentang peristiwa Pentakosta [Kis 2:1-21]. Mintalah
peserta untuk membayangkan, jika Anda di situ, reaksi seperti apa yang
akan Anda tunjukkan? Bingung/Kaget/Kagum/ dsbnya? Bayangkan jika
Petrus tidak menjelaskan [Kis 2:14-21], apakah Anda akan memahami
bahwa peristiwa tersebut adalah peristiwa pencurahan Roh Kudus atas
semua orang [ay. 17]?

Book

A. ROH KUDUS SEBAGAI PRIBADI

Roh Kudus adalah Oknum dari Allah Tritunggal. Karena adanya
kesulitan dalam memahami Allah Tritunggal, Roh Kudus seringkali
dipahami hanya sebagai kuasa atau kekuatan Allah, bukan sebagai
satu pribadi. Kata “roh” dalam bahasa Ibrani ruakh dan bahasa
Yunani pneuma memang dapat berarti: “nafas,” “angin,” “kekuatan,”
“daya hidup,” atau “roh.” Tetapi apabila kata ini dikenakan pada Roh
Kudus, Roh Allah, Roh Tuhan, kata ini tidak mengacu pada suatu
kekuatan, kuasa atau daya hidup yang dipersonifikasikan, tetapi
mengacu pada suatu pribadi atau oknum [Kej 1:2; Yes 63:10; 11:2-3].

Dalam PB terdapat banyak petunjuk yang sangat jelas yang
menyatakan Roh Kudus sebagai satu pribadi:

Roh Kudus disebut Penolong [Yoh 14:16; 15:26].
Roh Kudus mengajar dan memimpin pada kebenaran [Yoh
14:26; 16:13].
Roh Kudus menyaksikan [Yoh 15:26].
Roh Kudus berkata [Kis 13:2; Why 2:7].
Roh Kudus mempunyai inisiatif kehendak dan mengerjakan [Kis
13:2; 16:6-7; 1 Kor 12:11].
Roh Kudus membantu dan sebagai perantara doa [Rm 8:26-
27].
Roh Kudus bisa dihujat, didustai, atau didukakan [Luk 12:10; Kis
5:1-6; Ef 4:30,31].

PB juga mengungkapkan dengan jelas bahwa Roh Kudus juga
adalah Allah, karena hal-hal berikut:

Roh Kudus mempunyai atribut kekekalan [Ibr 9:14].
Roh Kudus mempunyai atribut maha tahu [1 Kor 2:10-11].
Roh Kudus setara dan identik dengan Allah [Mat 28:19; Kis 5:1-6; 1 Kor 12:4-6; 2
Kor 13:13].

C. PERANAN ROH KUDUS

Setelah Yesus Kristus menggenapkan karya keselamatan-Nya dan
naik ke surga, umat percaya tidak ditinggalkan sendiri. Allah Bapa
dan Allah Anak mengutus Allah Roh Kudus ke dalam dunia untuk
menopang, memimpin, menolong dan senantiasa hadir dalam
kehidupan umat percaya, baik secara komunal maupun secara
individual. Apakah peranan Roh Kudus dalam kehidupan umat
percaya? Peranan-Nya dapat dikategorikan sebagai berikut:

Dalam proses terbentuknya Alkitab.
Roh Kudus menginspirasikan penulisan Alkitab [2Tim 1:21]. Ia juga
memimpin para rasul pada kebenaran [Yoh 16:13]. Dalam
pemeliharaan-Nya, Ia memimpin dalam proses penyalinan kitab-
kitab Suci hingga proses pengumpulan [kanonisasi] Alkitab.

Dalam karya keselamatan
Roh Kudus bersaksi tentang Kristus [Yoh 15:26; 1Kor 12:3];
menginsafkan/menyadarkan manusia akan dosa [Yoh 16:8-11; Kis
7:51] dan mengakibatkan kelahiran baru/pertobatan [Yoh 3:5-6; Tit
3:5]. Roh Kudus juga menguduskan/memperbaharui hidup orang
percaya [1Kor 6:11; 2Tes 2:13; 1Pet 1:2].

Dalam kehidupan orang-orang percaya
Setelah seseorang lahir baru/bertobat, kehidupannya selalu disertai
Roh Kudus. Karena Roh Kudus diam di dalam setiap diri orang
percaya secara permanen [Rm 8:9; 1Kor 3:16]. Dikaruniakannya Roh
Kudus dalam diri orang yang percaya dan menerima Yesus
seringkali disebut dengan “dibaptis dengan Roh Kudus”

[1Kor 12:13; Kis 1:5; 11:17]. Dan Roh Kudus yang berdiam dalam diri
kita itu akan terus memperbaharui kita hari demi hari [Tit 3:5],
supaya kita semakin bertumbuh secara rohani dan menghasilkan
buah Roh Kudus.

Salah satu tanda dari orang yang telah lahir baru adalah
menghasilkan buah Roh Kudus. Adapun sifat-sifat yang terkandung
dalam buah Roh Kudus adalah kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan
penguasaan diri [Gal 5:22-23]. Adalah keliru bila ada yang
menganggap bahwa buah Roh itu berjumlah sembilan. Yang benar
adalah buah Roh Kudus itu satu, tetapi memiliki sembilan sifat. Buah
Roh Kudus tidak seperti karunia-karunia Roh Kudus yang berjumlah
banyak dan beragam. Dalam kenyataannya, memang ada orang
Kristen yang lebih bertumbuh dalam sifat-sifat tertentu, namun
kurang dalam hal sifat-sifat lainnya. Tugas orang Kristen adalah
mewujudkan sifat-sifat dari buah Roh Kudus itu dalam
kehidupannya. Buah Roh yang dihasilkan sekaligus merupakan
tanda kesejatian orang Kristen [Mat 7: 16, 20].

Roh Kudus juga memimpin kehidupan kita. Pimpinan Roh Kudus di
sini jangan diartikan sepertinya kita adalah robot. Roh Kudus
senantiasa memimpin kita dalam kebebasan kita [untuk taat atau
tidak taat pada pimpinan-Nya]. Pimpinan Roh Kudus dalam
kehidupan orang-orang percaya juga tidak harus diartikan secara
dramatis atau luar biasa, seperti pimpinan Roh Kudus atas diri
Filipus [Kis 8:29] atau atas diri Petrus [Kis 10:19-20; 11:12]. Roh
Kudus lebih banyak menyatakan pimpinan-Nya dalam kehidupan
kita sehari-hari agar kita hidup dalam kebenaran, kesucian,
berkenan kepada Allah, dan hidup selaras dengan firman-Nya [Rm
8:14; Gal 5:18; Ef 5:17, 18]. Alkitab menyebut pula hidup dipimpin
oleh Roh dengan istilah “hidup dipenuhi” atau “penuh dengan” Roh
Kudus [Ef 5:18; bdk Luk 4:1; Kis 6:1-7; 7:55; 11:24]. Orang Kristen
harus senantiasa di penuhi oleh Roh Kudus, supaya ia dapat hidup

berkenan kepada Tuhan. Bertolak belakang dengan sikap
mendukakan atau memadamkan Roh Kudus, [Ef 4:30,31; 1Tes 5:19].
Hidupnya ada dalam ketidaktaatan terhadap pimpinan Roh Kudus
yang membuahkan kehidupan yang tidak berkenan kepada Tuhan.
Kepenuhan Roh adalah untuk kemuliaan Allah, yang diwujukan
melalui ketaatan terhadap firman Allah, keberanian memberitakan
Injil, senantiasa mengucap syukur, antusias dalam melayani,
menghasilkan keteladanan hidup secara moral.

Bagaimana kita dapat mengetahui pimpinan Roh Kudus atas hidup
kita? Roh Kudus selalu memberi pimpinan yang sesuai dengan
firman Tuhan, yang tidak pernah bertentangan dengan firman Allah.
Ia akan selalu memimpin kita pada kebenaran. Roh Kudus juga
dapat memimpin orang percaya melalui hati nurani, teguran,
khotbah atau nasihat dari rohaniwan atau teman.

Dalam pelayanan dan pembangunan jemaat.
Karunia Roh Kudus adalah kemampuan yang diberikan oleh Roh
Kudus atas orang percaya. Di dalam pengertian ini terkandung
tujuan dari pemberian karunia Roh Kudus ialah untuk pelayanan
dan pembangunan tubuh Kristus sampai Kristus datang kembali
kedua kalinya [1Kor 1: 7; Ef 4: 12].

Ada enam bagian Alkitab yang mendaftarkan karunia-karunia Roh
Kudus [1Kor 12: 28; 12: 8-10; Ef 4: 11; Rm 12: 6-8; 1Pet 4: 11].
Daftar-daftar ini mencantumkan karunia-karunia yang berbeda-
beda, meskipun ada yang serupa. Ada kemungkinan Paulus dan
Petrus tidak bermaksud membuat daftar tentang karunia yang
lengkap, namun ingin menunjukkan bahwa Allah memberikan rupa-
rupa karunia dengan berbagai tujuan pula. Gereja yang sehat
ditandai dengan keberagaman karunia.

Dalam hal karunia Roh Kudus, tidak boleh ada anggapan bahwa
karunia tertentu lebih baik atau lebih unggul daripada yang lainnya.
Orang percaya harus menghargai karunia yang diterimanya dan
sekaligus menghargai karunia orang lain juga. Jadi, adalah keliru bila

ada yang mengatakan bahwa setiap orang percaya harus memiliki
karunia-karunia tertentu, misalnya karunia berbahasa lidah. Apakah
karunia Roh Kudus bersifat temporer atau permanen?
Perumpamaan Paulus tentang anggota tubuh memberikan kesan
yang kuat bahwa karunia itu bersifat permanen [1Kor 12: 12-26].
Selain itu, Paulus juga menyebut karunia dengan sebutan jabatan,
yang menggambarkan fungsi yang kontinu, seperti nabi, pengajar
[1Kor 12:29], dan pemberita Injil [Ef 4:11]. Namun demikian, ada
pengecualian bahwa karunia tertentu mungkin saja bersifat
temporer, misalnya karunia menyembuhkan. Karunia ini bersifat
temporer karena memang hanya pada saat-saat tertentu
dibutuhkan, misalnya dalam kasus Stefanus [Kis 7:55]. Sifat
temporer ini juga dapat terjadi bila orang percaya mengabaikan
karunia yang telah diberikan oleh Roh Kudus [1Tim 4:14].
Pemahaman ini selaras dengan sifat dasar dari karunia itu sendiri,
yaitu pemberian Roh Kudus. Roh Kudus akan memberikan karunia-
Nya sesuai dengan kehendak-Nya [1Kor 12:11].

Perlu dipahami pula bahwa karunia adalah alat pelayanan, tapi tidak
berhubungan dengan kedewasaan rohani. Roh Kudus memberikan
karunia kepada setiap orang percaya pada tingkat kerohanian
apapun, termasuk mereka yang kerohaniannya masih kanak-kanak
[1Kor 3:1]. Jadi, jelaslah bahwa karunia tidak menandakan
kedewasaan rohani seseorang. Dengan demikian, kita tidak dapat
mengukur kedewasaan rohani seseorang berdasarkan manifestasi
karunia yang dimilikinya.

Dalam hal ini kita perlu berhati-hati, karena kita perlu menyadari
bahwa karunia-karunia yang supranatural adalah karunia-karunia
yang sangat khusus dan tidak semua orang diberi oleh Roh Kudus
karunia-karunia yang demikian.

Dalam karya penciptaan
Dalam karya penciptaan, Alkitab menyatakan peranan Roh Kudus
sebagai yang melengkapi dan menopang apa yang Allah Bapa dan
Allah Anak telah kerjakan [Kej 1:2]. Roh Kudus memberi kehidupan
atas ciptaan [Mzm 104:30].

Siapakah Roh Kudus yang Anda ketahui atau kenal selama ini?
Sebutkan peranan Roh Kudus yang mana yang secara langsung Anda
rasakan atau alami!
Apa perbedaan dan fungsi antara buah Roh dengan Karunia Roh
dalam kehidupan orang percaya?

Look

Temukanlah keunikan peran Roh Kudus dalam diskusi kelompok

Took

Salah satu peran Roh Kudus yang penting adalah memberikan karunia-
karunia rohani kepada setiap orang percaya untuk dijadikan alat agar
dapat melayani dengan efektif. Apakah Anda memiliki kerinduan untuk
melayani sesuai karunia? Ceritakanlah kepada peserta yang duduk di
sebelah Anda! Sebelum bubar, baca dan terapkanlah langkah-langkah
konkret untuk mengenali karunia rohani, sbb:

Mengenal karunia-karunia rohani dengan mempelajari bagian firman Tuhan
yang berbicara mengenai karunia-karunia rohani, seperti Roma 12:3-8,
1Korintus 12:8-11; Efesus 4:10-12, 1 Petrus 4:11.
Mengikuti tes deteksi karunia rohani.
Meminta konfirmasi dari orang-orang terdekat atau rohaniawan.
Menjalin hubungan dengan Tuhan lebih intim. Sebab Dia-lah yg paling tahu,
karunia rohani apa yg ada pada kita.
Pekalah dengan kemampuan kita sendiri. Pikirkanlah tentang cara-cara Tuhan
memakai kita sekarang. Manakah di antara hal-hal itu yang paling menonjol.
Terlibat dalam banyak pelayanan. Tidaklah mungkin mengenali karunia
rohaninya dgn hanya berdiam diri saja dan merenung. Tidak ada salahnya
kita mencoba berbagai pelayanan. Dapatkan sebanyak mungkin pengalaman
di berbagai bidang pelayanan yang bisa kita lakukan, setidaknya hal itu akan
membuat semakin jelas di dalam memperoleh gambaran karunia apa yang
ada pada kita melalui hasil dari pelayanan yang kita lakukan.

BAB 7

HAKIKAT GEREJA

Menjelaskan tentang hakikat gereja berdasarkan kiasan
dan karakterisitiknya dalam rangka memenuhi tugas

dan panggilannya dalam diri orang Kristen.

Hook

Siapkanlah sebuah boardgame berupa slide yang ditayangkan dalam
bentuk powerpoint. Selama ini Anda memahami gereja sebagai:

Gereja Pompa Bensin
Gereja Bioskop
Gereja Toko Obat
Gereja Sekolah
Gereja Agen Produk Murah
Gereja Mode
Gereja _____________________
Gereja yang ditunjuk ditandai dengan inisial nama pesertanya. Setelah
semua nama inisial peserta tercantum di layar powerpoint mintalah
setiap peserta menceritakan, mengapa pemahamannya seperti itu!

Book

A. PENGERTIAN GEREJA

Banyak orang salah mengerti dalam memaknai hakikat Gereja yang
sesungguhnya. Mereka memahami gereja sebagai bangunan atau
denominasi [aliran atau organisasi gereja]. Pengertian yang demikian
adalah salah. Gereja bukanlah bangunan fisik atau gedung; juga
bukan suatu denominasi atau organisasi. Sebenarnya gereja adalah
komunitas umat Allah [semua orang percaya yang telah ditebus
oleh darah Yesus Kristus] dari seluruh abad dan tempat. Gereja pada
hakikatnya adalah manusianya, bukan gedung atau organisasinya.
Pengertian ini selaras dengan kata Yunani κυριακός, kuriakos[arti:
kepunyaan Tuhan], dan kata inilah yang menjadi asal-usul dari kata
Church (Inggris), Kirche (Jerman), atau Kerk (Belanda).

Kata “gereja” dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Portugis
igreja, yang artinya sama dengan kata-kata di atas. Dalam PB kata
yang dipakai untuk “gereja” adalah ἐκκλησία, 'ekklesia' [berasal dari
ek = keluar dan kaleo = memanggil]. Padanan kata untuk ekklesia
dalam PL adalah qahal, yang mengandung makna umat Allah [Ul 4:10
bdk. Kis 7:38; Mzm 22:22 bdk. Ibr 2:12].

B. UNGKAPAN DAN KIASAN UNTUK GEREJA.
Dalam Alkitab terdapat banyak ungkapan dan kiasan yang dipakai
untuk menggambarkan Gereja:

Tubuh Kristus |Ef 1:22-23|

Kiasan ini dipakai untuk menggambarkan bahwa gereja, baik secara
universal maupun lokal, merupakan komunitas orang-orang percaya
yang tidak terpisahkan dengan Kristus sebagai Kepala Gereja [Ef
1:10; Kol 1:18]. Jadi, sekalipun ada banyak orang percaya, yang
berasal dari berbagai suku, bangsa dan denominasi, semuanya
merupakan satu kesatuan, yaitu tubuh Kristus [1 Kor 12:12-13].
Gereja sebagai tubuh memperlihatkan kesatuan dan keberagaman.

Umat Allah |2Kor 6:16; 1Pet 2:9|
Ungkapan ini menekankan bahwa gereja merupakan umat
kepunyaan Allah yang didasarkan atas pemilihan dan inisiatif Allah.
Gereja merupakan umat atau komunitas yang ditebus dalam Yesus
Kristus sehingga menjadi umat kepunyaan Allah.

Bait Roh Kudus |1Kor 3:16-17; Ef 2:21; 1Pet 2:5|
Kiasan ini menunjukkan bahwa gereja, baik dalam diri setiap pribadi
maupun dalam keseluruhan komunitas didiami oleh Roh Kudus.
Gereja digambarkan sebagai bait Roh Kudus karena Roh Kudus
memberi kehidupan dalam gereja itu sendiri. Roh Kudus memberi
kuasa dan kekuatan kepada gereja, sehingga gereja dapat bertahan,
berbuah dan memberi dampak bagi pertumbuhan individu-individu
dan komunitas gereja itu sendiri.

Mempelai Perempuan Kristus |Ef 5:22-33|
Kiasan ini menggambarkan betapa eratnya hubungan antara Kristus
dan umat-Nya. Kiasan ini juga menekankan keharusan adanya
kesucian dan kesetiaan gereja kepada Tuhannya hingga kedatangan
Kristus kedua kali dan penggenapan keselamatannya.

Yerusalem baru atau Yerusalem Sorgawi|Why 20|
Dalam kitab Wahyu, gereja digambarkan sebagai pengganti
Yerusalem lama, yaitu Israel yang telah menolak Tuhan. Gereja
digambarkan sebagai Yerusalem karena sebagaimana dalam PL
Yerusalem sebagai pusat penyembahan dan ibadah kepada Allah,

demikian juga gereja. Namun julukan untuk gereja adalah
Yerusalem baru atau Yerusalem surgawi, karena Yerusalem lama
telah menolak Tuhan.

Pengertian yang demikian sama dengan pengertian Israel lama dan
Israel baru. Israel lama [umat Israel yang lama] telah gagal dalam
menaati perjanjian dengan Allah. Kini Allah telah mengadakan
perjanjian baru dan mewujudkan umat-Nya yang baru juga—Israel
baru, yaitu Gereja [Yer 31:31-34].

Keluarga Allah |Ef 2:19; 1Tim 3:15|
Kiasan ini menggambarkan bahwa gereja bukan sekadar komunitas
organisatoris, melainkan komunitas yang organis. Komunitas
persaudaraannya diikat oleh kasih Kristus. Setiap pribadi di
dalamnya adalah anak-anak Allah, di mana satu pribadi dengan yang
lainnya merupakan saudara-saudara seiman. Karena itu kasih,
kepedulian, saling menolong, kesehatian harus ada dalam
kehidupan komunitas umat Tuhan.

Tiang penopang dan dasar keselamatan |1Tim 3:15|
Dengan ungkapan ini Rasul Paulus menekankan bahwa gereja
mempunyai peranan sebagai penegak, pengajar dan pembela
kebenaran Firman Allah dan berita Injil.

C. KARAKTERISTIK GEREJA YANG FUNDAMENTAL
Sebagai komunitas dan umat Allah yang Allah wujudkan di muka
bumi ini, gereja pada dirinya [secara natur atau intrinsik]
mempunyai karakteristik yang fundamental, yang tidak dapat
dipisahkan dan harus ada dalam kehidupan Gereja:

Keesaan|Ef 4:1-6|
Sekalipun komunitas orang-orang percaya terdiri dari berbagai
bangsa, etnis dan budaya, tetapi pada dasarnya merupakan satu
kesatuan komunitas, yaitu umat Allah. Dan sekalipun secara
organisatoris gereja terdiri dari berbagai denominasi, tetapi secara

teologis (di hadapan Allah) gereja merupakan satu tubuh Kristus,
yaitu satu kesatuan umat Allah. Gereja memiliki karakteristik ini
karena seluruh komunitas orang percaya memiliki satu Allah/Bapa,
satu Tuhan/Juruselamat, satu Roh Kudus, satu panggilan, satu
pengharapan, satu iman dan satu baptisan.

Kekudusan|1Pet 1:15,16|
Sesuai dengan panggilan Allah dan penebusan Yesus Kristus, gereja
dan setiap pribadi di dalamnya harus memiliki karakteristik
kekudusan. Kekudusan Gereja bukan kekudusan yang berdasarkan
legalisme [misalnya tentang makan dan minum], juga bukan
berdasarkan pengisolasian diri atau cara hidup yang eksklusif,
melainkan berdasarkan kehidupan gereja yang tidak tercemar oleh
dosa dan kebobrokan dunia, di mana gereja hidup ditengah-
tengahnya. Gereja dipanggil bukan untuk mengisolir diri dari dunia
[eskapisme] dan juga bersikap kompromi dengan dunia, sebab jika
demikian gereja tidak bisa memberi dampak dan kehilangan fungsi
serta identitasnya. Gereja dipanggil untuk menjadi umat yang kudus
dan untuk berfungsi sebagai garam dan terang di tengah-tengah
dunia yang cemar ini.

Am/Katolik/Universal |1Kor 1:2|
Sebagai umat Allah, gereja tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
Maksudnya, ia tidak dipisahkan oleh tempat, letak geografis,
perbedaan masa dan berlangsungnya waktu, bahkan ia tidak
dipisahkan dari budaya, suku dan bangsa. Karena semua manusia di
muka bumi ini—yang pernah hidup dulu, sekarang dan yang akan
datang, yang percaya dan ditebus dalam Yesus Kristus merupakan
umat Allah. Oleh sebab itu, umat Allah bersifat am/katolik/ universal.

Apostolik/Rasuli |Ef 2:20|
Gereja berdiri di atas pengajaran para rasul, yang bersumber dari
Yesus Kristus dan dari PL [Pengakuan para rasul terhadap PL] serta
berdasarkan pimpinan Roh Kudus dan otoritas dari Allah.
Pengajaran-pengajaran para rasul tersebut tertuang dalam Alkitab.
Jelaslah bahwa gereja berdiri di atas pengajaran Alkitab.

D. TUGAS DAN PANGGILAN GEREJA

Sebagai suatu umat yang Allah panggil dan Allah selamatkan dalam
Yesus Kristus, Gereja mempunyai tugas, panggilan atau tanggung
jawabnya.

Beribadah kepada Allah dan melayani Allah (lateria)
Gereja dipanggil untuk kembali pada hubungan yang semula
dengan Allah, dimana Allah adalah Pencipta dan satu-satunya Allah
yang patut disembah oleh ciptaan-Nya. Ibadah atau kebaktian yang
kita lakukan setiap hari minggu merupakan ibadah formal, yang
dilakukan secara kolektif dengan orang-orang percaya. Dalam
komunitas orang-orang percaya kita memuji dan melakukan
penyembahan kepada Allah [Ef 1:12; Kol 3:16]. Namun demikian,
perlu dipahami bahwa ibadah yang demikian hanya merupakan
salah satu wujud atau bentuk ibadah yang harus ada dalam
kehidupan umat Allah. Sesungguhnya ibadah juga berarti melayani.
Dalam pengertian yang luas ibadah mencakup semua perbuatan
dan aktivitas yang kita lakukan bagi kemuliaan Allah. Itu sebabnya
perwujudan iman atau kebajikan dalam kehidupan kita merupakan
ibadah di hadapan Allah [Yak 1:26-27].

Bersaksi kepada dunia (marturia)
Pemberitaan Injil atau bersaksi merupakan panggilan dan tanggung
jawab gereja baik secara keseluruhan maupun bagi setiap orang
Kristen [Mat 28:19]. Gereja akan kehilangan fungsinya, jikalau gereja
tidak memberitakan Injil. Di samping itu, gereja juga mempunyai
tugas untuk memberitakan kebenaran Firman Allah [2Tim 4:2].

Kepedulian dan pelayanan sosial (diakonia)
Misi Yesus Kristus tidak hanya mencakup hal memberitakan Injil
Firman Allah dan memberi pengajaran, tetapi juga mencakup hal
memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan,
memberi makan kepada mereka yang lapar, dan memberi
penyembuhan kepada mereka yang sakit [Mat 14:13-21; 15:29-31].

penyembuhan kepada mereka yang sakit [Mat 14:13-21; 15:29-31].
Semua ini berlaku juga bagi gereja. Itulah peran gereja dalam dunia
ini. Kepedulian dan pelayanan sosial harus ada dalam kehidupan
gereja Tuhan, karena dengan cara demikianlah kita menyatakan
kasih Allah dan kasih kita kepada sesama manusia [2Kor 8: 4-15].

Pembinaan bagi umat Allah (didaskalia)
Tugas gereja bukan hanya menginjili, sehingga mereka yang belum
percaya menjadi percaya. Lebih daripada itu, gereja bertanggung
jawab atas mereka yang sudah percaya. Gereja bertanggung jawab
untuk mengajar, memberikan bimbingan, penggembalaan dan
pembinaan, agar iman dan kehidupan rohani mereka semakin
bertumbuh [1Tim 4:6; 2Tim 1:13; Ef 4:11].

Persekutuan bersama warga Tubuh Kristus (koinonia)
Gereja memiliki tanggung jawab untuk menyelenggarakan
persekutuan bagi setiap anggota keluarga Allah [Kis 5:12; Ef 2:19].
Persekutuan mencakup hubungan yang didasarkan pada
pengenalan timbal balik yang saling menyapa, saling membangun,
saling mengampuni, saling melayani, saling mendoakan, sampai
semua orang hidup saling mengasihi [1Ptr 1:22; Ibr 10:24; Ef 4:2].
Persekutuan adalah suatu pertemuan yang mencerahkan,
menyegarkan, meneguhkan panggilan Tuhan, sehingga
menimbulkan sikap saling berbagi dalam memelihara kesatuan
iman-kasih-pengharapan menghadapi segala tantangan hidup.

Mengapa dikatakan salah apabila gereja dipahami sebagai gedung
atau denominasi? Apakah arti gereja yang sebenarnya?
Jelaskan tentang bagaimana kekudusan gereja dan setiap pribadi di
dalamnya dapat berdampak di tengah-tengah dunia yang cemar ini!
Dalam hal tugas dan panggilan gereja, diskusikanlah perbedaan
ibadah yang formal dan ibadah yang sejati!

Look

Perhatikanlah kartu yang membuat kata-kata mengenai tujuh gambar
tentang ungkapan dan kiasan gereja. Pilihlah salah satu kartu yang berisi
gambar, ungkapan dan kiasan gereja yang paling Anda ingat lalu
jelaskanlah secara ringkas dengan kata-kata Anda sendiri!

Took

Jika seseorang mau bertumbuh, mau tidak mau ia harus terus rajin
mengevaluasi diri. Evaluasi diperuntukkan agar kita tahu kondisi yang
sesungguhnya saat ini, pergumulan, dan langkah apa yang bisa diambil
supaya bisa menjadi lebih baik lagi. Melihat tugas panggilan sebagai
gereja, apakah Anda sudah menjalankan panggilan Anda selama ini dan
juga telah bertumbuh di dalamnya?

Jadikanlah tabel di bawah berikut panduan untuk kita refleksi dan
membuat komitmen:

Setelah selesai, akhiri refleksi dengan doa ucapan syukur atas anugerah-
Nya yang telah memimpin Anda sebagai gereja dan memohon hikmat
serta penyertaan Tuhan di dalam mengatasi kesulitan Anda di dalam
tugas dan panggilan serta di dalam Anda menghidupi komitmen yang
telah Anda buat.

BAB 8

SAKRAMEN
KRISTIANI

Mengajarkan bahwa Baptisan dan
Perjamuan Kudus adalah dua

sakramen yang diperintahkan Kristus
untuk dilakukan orang percaya

sepanjang zaman sebagai tanda dan
meterai dari perjanjian Allah dengan

umat-Nya

Hook

Tugaskan peserta pada pertemuan sebelumnya untuk membawa sebuah
barang yang mengingatkan kepada seseorang. Di kelas sharingkan—
tunjukkan barangnya dan sebutkan barang itu mengingatkan siapa.
Tanyakan, sepenting apakah ingatan akan orang tersebut?

Book

A. PENGERTIAN SAKRAMEN

Ketika Yesus Kristus masih hidup di dunia, Dia pernah memberi
perintah kepada murid-murid-Nya untuk melakukan dua hal di
sepanjang zaman sebagai peringatan akan Dia dan kasih-Nya.
Pertama, perintah untuk membaptis. Tuhan Yesus memberikan
perintah ini kepada murid-murid-Nya sewaktu Dia akan naik ke surga
dan berpisah dengan murid-murid-Nya [Mat 28:16-20]. Kedua,
perintah untuk mengadakan perjamuan kudus. Tuhan Yesus
memberikan perintah ini kepada murid-murid-Nya sewaktu Dia
mengadakan perjamuan malam terakhir. Yesus menyelenggarakan
perjamuan malam untuk merayakan Paskah orang Yahudi dan untuk
mengadakan perjamuan perpisahan, sebelum Ia menggenapkan
misi-Nya dengan kematian-Nya di kayu salib [Mat 26:26-29; Mrk
14:22-25; Luk 22:15-20; 1Kor 11:23-25].

Kedua hal ini, yakni baptisan dan perjamuan kudus, disebut
“sakramen.” Kata “sakramen” berasal dari bahasa Latin sacramentum,
yang berarti: (1) hal yang kudus, (2) sumpah kesetiaan. Gereja-gereja
reformasi hanya mengakui dua sakramen di atas karena di dalam
Alkitab hanya keduanya yang diperintahkan langsung oleh Tuhan
Yesus. Keduanya harus dilakukan untuk mengingat karya
keselamatan-Nya dan meneruskan misi agung-Nya.

Sakramen adalah bentuk komunikasi yang berotoritas dari Tuhan
kepada kita. Sakramen mengajar kita bukan dengan perkataan,
tetapi dengan gambaran melalui tindakan. Sakramen adalah firman
Tuhan yang kelihatan. Pengajaran sempurna dari Tuhan adalah
melalui firman Tuhan dan sakramen. Di dalam sakramen, benda
material dipakai untuk menunjuk kepada sesuatu yang jauh lebih
besar dan bernilai dibandingkan harga materialnya, yakni berkat-
berkat yang muncul dari perjanjian Allah dengan umat-Nya. Di
dalam baptisan, material itu adalah air dan di dalam perjamuan
kudus, materialnya adalah roti dan anggur.

a. Sakramen Baptisan

1. Apa Makna/Arti Baptisan?
Baptisan bukan sekadar sebuah ritual untuk mengesahkan
seseorang menjadi Kristen atau anggota gereja melainkan memiliki
makna teologis dan spiritual mendalam:

Baptisan adalah pernyataan iman seseorang.
Dengan dibaptis, seseorang secara eksplisit menyatakan di hadapan
umum (jemaat) bahwa ia telah mengalami lahir baru: bertobat dari
dosanya, percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat
pribadinya. Dengan demikian, baptisan adalah tindakan iman
sekaligus kesaksian akan anugerah keselamatan yang diterima oleh
seseorang.

Baptisan adalah tanda dan meterai perjanjian.
Di dalam Perjanjian Lama, Allah berjanji akan memberkati Abraham
dan keturunannya (umat Tuhan = Israel) dan akan menjadi Allah
mereka. Tanda dan meterai dari perjanjian itu adalah sunat [Kej.
17:10-13]. Gereja adalah umat Allah dalam Perjanjian Baru yang ada
berdasarkan karya penebusan Yesus Kristus dan setiap orang
percaya diperhitungkan juga sebagai keturunan Abraham secara
rohani dan turut dalam perjanjian berkat Allah [Gal. 3:26, 29]. Tanda
dan meterai bagi orang percaya di Perjanjian Baru adalah baptisan
[Kol 2:11-13, bdk Rm 6:3-4].

Baptisan adalah ungkapan simbolis dari kematian dan
kebangkitan dalam Kristus.
Proses pembaptisan seseorang, baik dengan cara selam maupun
percik (dengan baptisan percik/tuang seakan-akan air di kepala
menggenangi dirinya), secara simbolis menunjukkan bahwa
manusia lamanya mati dalam Kristus tetapi manusia barunya
dibangkitkan dan hidup oleh Kristus [Rm 6:1-11]. Baptisan menjadi
simbol bahwa orang tersebut telah berubah secara batiniah dan
menjadi ciptaan baru dalam Kristus [2Kor 5:17].

Baptisan adalah tanda lahiriah dan simbolis bersatunya
seseorang ke dalam komunitas gereja yang kelihatan.
Gereja secara universal menjadikan baptisan sebagai bukti formal
bahwa seseorang telah mengalami lahir baru dan karenanya
dipersatukan ke dalam gereja yang kelihatan [Kis 2:41, 47].

2. Apakah baptisan menyelamatkan?
Bagi gereja-gereja reformasi, baptisan adalah kesaksian dan
pernyataan iman seseorang bahwa ia menerima anugerah Allah,
yaitu keselamatan dan penebusan dosa dalam Yesus Kristus. Jadi,
sakramen baptisan itu sendiri tidak menyelamatkan atau memberi
pengampunan dosa bagi yang menerimanya. Allah memberi
anugerah keselamatan dan pengampunan berdasarkan iman
seseorang yang sungguh-sungguh akan Yesus Kristus sebagai
juruselamat pribadinya.

3. Apakah baptisan merupakan keharusan?
Kalau baptisan tidak menyelamatkan, apakah memang baptisan
tetap perlu dilakukan? Tentu saja perlu! Alasannya antara lain:

Baptisan merupakan perintah Yesus Kristus [Mat 28:19].
Karena ini merupakan perintah Tuhan, maka baptisan merupakan
keharusan. Gereja harus taat kepada perintah Tuhan, dan
seseorang yang sungguh-sungguh sudah percaya kepada Yesus
Kristus harus menaati perintah ini.

Baptisan merupakan tanda dan bukti dari gereja secara
universal [Kis 2:38, 41, 47].
Karena baptisan merupakan tanda dari gereja secara universal,
maka komunitas atau denominasi suatu gereja hanya memiliki satu
tanda keanggotaan, yaitu baptisan [Ef 4: 3-6]. Suatu gereja tidak bisa
menerima atau mengakui seseorang sebagai orang Kristen dan
sebagai anggotanya, jikalau orang tersebut belum memberi dirinya
untuk dibaptis.

Baptisan merupakan sakramen yang dengannya iman
dinyatakan secara eksplisit dan formal.
Seseorang yang sungguh-sungguh menerima dan percaya kepada
Yesus Kristus pasti memberi dirinya dibaptis, sebagai bukti eksplisit
dan formal akan kesungguhan hatinya. Tetapi sebaliknya,
seseorang yang telah dibaptis belum tentu sungguh-sungguh telah
percaya dan menerima Yesus Kristus.

4. Cara Baptisan
Gereja pada umumnya mengenal dua cara baptisan: baptisan selam
dan baptisan percik atau tuang. Masalah mengenai cara baptisan ini
merupakan masalah yang sudah berlangsung berabad-abad, yang
sampai sekarang masih ada perbedaan pendapat. Alkitab
sebenarnya tidak memberi pengajaran secara definitif tentang cara
baptisan [bdk Ibr 6:2 LAI, NIV]. Baik baptisan selam maupun
baptisan percik, keduanya merupakan simbol lahiriah, yang
melambangkan hal yang sama, yaitu mati dan bangkit dalam Kristus.

Gereja Protestan/Reformasi berpandangan bahwa baptisan percik
sah tetapi tetap menganggap baptisan selam sebagai baptisan yang
sah pula.

b. Sakramen Perjamuan Kudus
Gereja-gereja di sepanjang sejarahnya sependapat bahwa
perjamuan kudus adalah ketetapan Kristus yang harus dilakukan
oleh umat Kristiani sepanjang zaman [Luk 22:19; 1Kor 11:23-26].
Ada tiga hal berbeda tetapi merupakan satu kesatuan yang perlu

dipahami dan dihayati terkait perjamuan kudus, yakni hakikat roti
dan anggur, kehadiran Kristus serta tujuan dan makna perjamuan
kudus itu sendiri.

1. Hakikat roti dan anggur dalam perjamuan kudus.
Pada waktu perjamuan malam bersama murid-murid-Nya, Yesus
Kristus mengambil roti, memecah-mecahkannya dan mengambil
cawan berisi anggur. Atas roti dan anggur dalam cawan itu, Yesus
Kristus berkata: “. . . inilah tubuh-Ku. . . inilah darah-Ku. . . “. [Mat
26:26-28].

Gereja-gereja reformasi menafsirkan perkataan Yesus Kristus secara
simbolis, bukan hurufiah. Roti melambangkan tubuh Yesus Kristus
yang disalibkan dan anggur melambangkan darah Yesus Kristus yang
dicurahkan di atas kayu salib. Jadi, roti dan anggur dalam perjamuan
kudus tetap adalah roti dan anggur yang sesungguhnya, tidak
berubah, tidak juga bertambah atau berkurang hakikatnya. Roti dan
anggur hanya sebagai simbol dari pengorbanan Kristus, yaitu
kematian-Nya bagi penebusan dosa orang-orang percaya.

Kehadiran Kristus dalam perjamuan kudus
Bagi gereja-gereja reformasi, kehadiran Kristus dalam perjamuan
kudus adalah aspek yang sangat ditekankan. Alasannya adalah: (1)
Sebagaimana Kristus hadir dalam perjamuan malam dengan murid-
murid-Nya (perjamuan kudus pertama), Dia juga hadir dalam
perjamuan kudus selanjutnya, karena perjamuan kudus yang
pertama merupakan contoh bagi perjamuan kudus selanjutnya dan
(2) perjamuan kudus yang pertama merupakan inisiatif Kristus dan
diadakan oleh Kristus.

Perjamuan tersebut adalah milik Kristus, dan melalui itu Dia
menghubungkan diri-Nya dengan penuh kehangatan kepada murid-
murid-Nya. Sebagaimana Dia pernah hadir dan makan bersama
murid- murid-Nya, demikian juga sekarang Dia mengundang kita
sebagai murid-murid-Nya untuk menikmati persekutuan dengan-Nya

dalam perjamuan-Nya, sebuah persekutuan yang didasarkan pada
undangan Kristus yang telah bangkit dan ditinggikan/dimuliakan.

Bagaimana tepatnya kehadiran Kristus dalam perjamuan kudus?
Mengikuti pandangan Zwingli, GII mengimani bahwa kehadiran
Kristus adalah kehadiran dalam iman ketika kita mengucap syukur
atas anugerah Allah dalam Kristus. Semua yang Kristus lakukan
secara fisik dalam perjamuan kudus pertama, seakan-akan hadir
dalam perjamuan kudus yang dilakukan oleh orang-orang percaya.

2. Tujuan dan makna perjamuan kudus
Apa tujuan dan makna perjamuan kudus bagi orang percaya?
Jawabannya dapat dilihat melalui tiga aspek perjamuan kudus.
Pertama, aspek masa lalu, yakni mengenang pengorbanan dan
kesengsaraan Kristus di kayu salib dan bersyukur untuk
keselamatan yang kita terima. Inilah tujuan utama perjamuan kudus
menurut pandangan Zwingli. Kedua, aspek masa kini, yakni
persekutuan bersama umat percaya dalam perjamuan kudus dan
mengikrarkan kembali iman kita sebagai bagian komunitas Kristen
sekaligus bersaksi di dunia melalui kehidupan yang diubahkan.
Ketiga, aspek masa depan, yakni mengimani akan kedatangan
Kristus yang kedua kalinya, saat di mana kita akan merayakan
perjamuan kawin Anak Domba Allah [Why 19:6-10].

3. Persiapan dan sikap mengikuti perjamuan kudus
Mengingat pentingnya perjamuan kudus, kita harus memiliki sikap
yang benar dalam mengikutinya. Hukuman Allah bisa saja terjadi
atas seseorang yang mengikutinya dengan sikap yang salah, seperti
yang dialami oleh jemaat Korintus, sehingga di antara mereka ada
yang lemah, sakit bahkan meninggal [1Kor 11:23-32]. Untuk
menghindari sikap yang salah dalam mengikuti perjamuan kudus,
maka:

a. Kita perlu mempersiapkan kelayakan diri kita sebelum
tiba hari perjamuan kudus diadakan.

Beberapa minggu sebelum perjamuan kudus diadakan, GII selalu
mengumumkan tanggal pelaksanaannya kepada jemaat.

Tujuannya supaya jemaat dapat menyiapkan hati dan kelayakan diri
pada waktu mengikuti perjamuan kudus.

b. Kita harus mengingat panggilan dan keselamatan yang
diberikan oleh Tuhan. Kita perlu mengingat pengorbanan Kristus
di kayu salib untuk menebus dosa kita setiap kali kita turut serta
dalam perjamuan kudus dan melakukannya dengan taat dan penuh
kasih.

c. Kita harus mengikuti perjamuan kudus dengan hati yang
suci. Sebelum menerima roti dan cawan perjamuan kudus, kita
perlu menguji/mengintrospeksi hati dan pikiran kita, memohon
pengampunan Tuhan atas dosa yang kita sadari maupun tidak kita
sadari.

d. Kita harus mengikuti perjamuan kudus dengan sikap
hormat dan hikmat. Kita mengakui bahwa roti dan anggur yang
diterima adalah simbol dari tubuh dan darah Kristus [1Kor 11:27-
29], yang dengan penderitaan telah dikorbankan di atas kayu salib
bagi penebusan dosa kita. Jika kita tidak mengakui pengorbanan
Kristus dalam hati dan pikiran kita ketika mengambil bagian dalam
perjamuan kudus, maka berarti kita tidak menghargai pengorbanan
Tuhan yang mulia.

e. Kita perlu mengintrospeksi diri kita dalam hal hubungan
kita dengan Tuhan dan sesama. Kita perlu memiliki hati yang
terbuka di hadapan Tuhan, agar melalui perjamuan kudus dan
pemberitaan firman Tuhan, kita diberi kekuatan rohani yang baru
untuk menjalani hidup dengan takut akan Tuhan.

Mengingat tujuan dari masing-masing sakramen ini, maka Sakramen
Baptisan dilakukan hanya satu kali seumur hidup sedangkan
Sakramen Perjamuan Kudus dilakukan secara berulangkali sampai
akhir hidup kita.

Bagaimana baptisan dan perjamuan kudus dapat mengingatkan Anda
akan kasih Kristus?
Apakah Anda setuju bahwa baptisan dan perjamuan kudus dapat
menyelamatkan Anda dari kuasa dosa atau dari hidup yang miskin,
tidak sukses dan malapetaka di dunia? Mengapa?
Sebutkan hakikat dari Sakramen Perjamuan Kudus dan sebutkan
sikap-sikap yang benar dalam mengikuti Sakramen Perjamuan Kudus
ini!

Look

Isilah bagian kosong dari bagan yang tertera di bawah ini:

Took

Ketika seorang gadis yang bernama Frances Ridley Havergal melihat sebuah
gambar Yesus tersalib dengan kata-kata dibawahnya: “Aku melakukan hal ini
untukmu, apa yang kau perbuat bagi-Ku?” Maka segera ia menulis sebuah sajak.
Tetapi ia tidak puas dengan sajaknya dan dilemparkan di dalam perapian.
Ternyata kertas sajak itu tidak terbakar! Kemudian atas anjuran ayahnya, ia
menerbitkan sajak itu dan menyanyikannya. Lagu buku Kidung Puji-Pujian Kristen
399, I Gave My Live for Thee, syairnya sebagai berikut:

Nyawaku Ku dibrikan, darah-Ku tercurah,
Kau dapat tebusan, dari mati bangkitlah.
Nyawa Ku dibrikan bagimu, apa kau bri padaKu?”

Renungkan kembali bagaimana Kristus menyelamatkan Anda dari kuasa dosa
dengan mengorbankan Diri-Nya demi keselamatan kekal Anda. Sebagai respon,
ambilah komitmen untuk sungguh-sungguh hidup bagi Dia! Tuliskan komitmen
konkrit tersebut dalam kotak kosong berikut ini (sambil diiringi lagu tersebut
dalam versi instrumental):

BAB 9

IBADAH KRISTIANI

Mengajarkan tentang pemahaman yang benar dari ibadah
Kristiani, khususnya yang berkaitan dengan kebaktian minggu

dan persembahan.

Hook

Tayangkan beberapa cuplikan tentang pelaksanaan kebaktian hari
Minggu dari 2 sampai 4 model ibadah (salah satunya GII). Tanyakan
kepada tiap peserta, model ibadah mana yang paling pas dengan
pribadi Anda? (1 atau 2 atau 3 atau 4). Tanyakan, menurut Anda apakah
model ibadah lebih penting daripada esensinya? Jelaskanlah!

Book

A. PENGERTIAN TENTANG IBADAH KRISTIANI

Ibadah Kristiani (ibadah yang dilakukan umat Kristiani) sebenarnya
tidak hanya mencakup kebaktian pada hari Minggu di gereja. Dalam
pengertian yang luas, ibadah Kristiani mencakup kebaktian,
pelayanan, persembahan dan kehidupan sehari-hari. Sesungguhnya
kekristenan tidak dapat dipisahkan dari ibadah. Dalam kekristenan,
tanpa ibadah setiap orang Kristen akan kehilangan jati diri atau
hakikatnya, karena panggilan gereja [umat Kristiani] pada hakikatnya
adalah untuk beribadah kepada Allah.

Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ibadah Kristiani itu?
Ibadah berkaitan dengan relasi antara Allah dengan umat-Nya. Relasi
ini dimulai dengan Allah yang berinisiatif untuk menyatakan diri
kepada umat-Nya, kemudian umat-Nya merespon. Ibadah adalah
respon manusia terhadap penyataan Allah. Di dalam Alkitab, pola
penyataan dan respon ini merupakan karakteristik relasi antara Allah
dan manusia [contoh: Kej 12:1-8, Kel 19:3-8, Maz 95:1-7, 2Kor 1:20,
Ibr 2:11-12]. Prinsip ini terjadi di dalam ibadah secara pribadi,
maupun ibadah secara komunal atau bersama dengan orang-orang
percaya lainnya.

Ibadah Kristiani mencakup semua aktivitas, perbuatan/tindakan dan
ekspresi hidup yang memuliakan Allah, yang mengungkapkan kasih
dan hormat kepadaNya, serta yang memperkenan hati-Nya. Jadi,
ibadah Kristiani mencakup seluruh aspek dalam kehidupan kita,
dimana totalitas kehidupan kita adalah bagi kemuliaan Allah.

B. KEBAKTIAN MINGGU
Kebaktian Minggu merupakan ibadah komunal yang
diselenggarakan pada hari Minggu oleh suatu gereja bagi jemaatnya
pada khususnya dan bagi umat Kristiani pada umumnya. Kebaktian
Minggu merupakan penyataan Allah kepada umat-Nya melalui
pembacaan dan pemberitaan Firman Tuhan (khotbah) dan respon
pujian, hormat dan syukur umat Allah secara komunal di dalam
bentuk nyanyian, doa, dan persembahan. Ini semua dilakukan
secara tertib dan formal (menurut liturgi kebaktian).

Mengapa hari Minggu?
Hampir semua gereja dan umat Kristiani (secara universal)—
termasuk GII—melaksanakan kebaktian pada hari Minggu.
Alasannya ialah karena para Rasul dan gereja mula-mula
melaksanakan kebaktian pada hari Minggu (hari pertama, tidak
seperti Gereja Advent Hari Ketujuh, yang melaksanakan kebaktian
pada hari Sabtu, sebagai hari Sabat/hari ketujuh), sebagai hari
kebangkitan Kristus dan hari kemenangan-Nya [1Kor 16:2].

Mengapa kita berbakti?
Karena kebaktian adalah ibadah secara komunal, maka kebaktian
merupakan keharusan (kecuali berhalangan berat) bagi setiap
orang Kristen. Tidak ada alasan bagi kita (kecuali berhalangan berat)
untuk tidak kebaktian, baik alasan suasana/warna kebaktian atau
khotbahnya, maupun alasan kesibukan. Allah memberi kita satu hari
24 jam, 12 jam anggap saja kita pakai untuk tidur/istirahat. Ini
berarti bahwa waktu efektif yang kita gunakan untuk aktivitas kita
(kerja, makan, bepergian, nonton televisi, dll.) adalah 12 x 7 = 84
jam. Adalah tidak logis dan tidak wajar, jika kita tidak dapat
memprioritaskan waktu 2 jam dari 84 jam untuk Tuhan dalam wujud
berbakti kepadaNya di gereja. Dari 84 jam, 2 jam (kebaktian +
perjalanan pergi dan pulang) secara perbandingan berarti 1
banding 42; secara prosentase berarti hanya 2,3 %.

Di samping itu, kebaktian juga harus dilihat sebagai persekutuan kita
dengan Tuhan dan saudara-saudara seiman kita. Melalui
persekutuan ini kita mendekatkan diri kepada Tuhan dan saudara-
saudara seiman, agar kita memperoleh kekuatan rohani. Tanpa
kekuatan rohani, kita tidak mungkin kuat dalam menghadapi segala
pengaruh kehidupan dunia dan bujukan Iblis, yang senantiasa ingin
menghancurkan kita sebagai anak-anak Allah.

Mengapa kita memberi persembahan?
Persembahan dalam kebaktian Minggu merupakan bagian dari
ibadah yang kita lakukan. Persembahan merupakan respon
ungkapan syukur kita kepada Allah, yang telah memenuhi segala
kebutuhan kita, bahkan telah memberi kita berkat yang
berkelimpahan. Karena itu, persembahan yang kita berikan haruslah
berdasarkan atau disertai rasa syukur kepada Tuhan.

Mengapa kita bernyanyi?
Bernyanyi dalam kebaktian merupakan ekspresi respon kita untuk
memuliakan Allah melalui puji-pujian. Puji-pujian yang kita nyanyikan
bisa menyatakan syukur dan mengagungkan Allah Tritunggal atas
anugerah-Nya, karya-Nya atau bisa juga untuk memohon
pertolongan, kekuatan dan penghiburan-Nya. Puji-pujian dalam
kebaktian harus dinyanyikan dengan segenap hati dan penuh
penghayatan.

Mengapa kita harus mendengar khotbah?
Khotbah dalam kebaktian merupakan pemberitaan tentang
kebenaran firman Tuhan yang dipersiapkan dengan pertolongan
dan pimpinan Tuhan oleh seorang hamba Allah untuk disampaikan
dan dijelaskan kepada jemaat. Tujuan khotbah adalah agar jemaat
memahami dan memperoleh berkat dari kebenaran firman Tuhan,
serta membawa jemaat semakin kuat dan dewasa secara rohani.
Dengan khotbah, jemaat diperkaya dengan kebenaran firman
Tuhan dan prinsip-prinsip rohani. Isi khotbah dapat berupa
kesaksian tentang kebesaran Allah dan anugerah-Nya, kehendak
dan rencana-Nya, teguran/nasihat atau penghiburan/kekuatan,
prinsip-prinsip

moral/etis Kristiani, atau juga tentang keselamatan dalam Yesus
Kristus.

Mengapa kita harus mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli?
Pengucapan Pengakuan Iman Rasuli bertujuan untuk mengajak
jemaat mengingat akan iman dan pengharapan yang agung dan
mulia. Dengan mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli, jemaat juga
diajak melihat bahwa mereka adalah bagian dari Gereja Tuhan dari
seluruh abad dan tempat, yang memiliki keyakinan iman yang
sama.

Mengapa kita berdoa syafaat?
Doa syafaat merupakan doa perantara. Karena kebaktian juga
merupakan persekutuan orang-orang percaya, maka dalam
kebersamaan dan kesehatian dengan saudara-saudara seiman
jemaat berdoa syafaat. Dalam doa syafaat jemaat yang hadir dalam
kebaktian menjadi juru doa bagi kepentingan orang lain atau pihak
lain, seperti bangsa/negara/pemerintah, anggota keluarga, saudara-
saudara seiman, dll. Dalam kebaktian, jemaat sebagai umat Kristiani
diajak untuk memperdulikan orang lain dalam doa. Jadi, doa syafaat
merupakan wujud kasih dan harapan kita bagi kebaikan orang atau
pihak lain.

C. PERSEMBAHAN
Persembahan pada hakikatnya merupakan pemberian sesuatu yang
mulia (umumnya berwujud uang) kepada Allah. Persembahan yang
kita berikan tentu saja tidak diberikan langsung kepada Allah, tetapi
diberikan melalui gereja dan dikelola oleh gereja atau orang-orang
yang bertanggung jawab kepada Allah. Hal ini tidak berarti bahwa
persembahan itu semata-mata hanya diberikan kepada
gereja/lembaga manusia. Persembahan adalah perbuatan rohani
(yaitu ibadah), sehingga persembahan harus dinilai dan dilakukan
(dengan motivasi) secara rohani (1Pet 2:5). Secara rohani, uang
tersebut sebenarnya dipersembahkan kepada Allah dan bagi
kemuliaan Allah. Dengan memberikan sesuatu atau uang
persembahan, berarti kita mengungkapkan syukur kepada Allah dan
kasih kepada

saudara-saudara seiman atau orang lain yang membutuhkan
bantuan. Ada beberapa macam persembahan yang perlu kita
pahami.

1. Persembahan Persepuluhan.
Persembahan persepuluhan merupakan persembahan yang kita
berikan kepada Allah dari setiap penghasilan yang kita dapatkan,
baik berupa honorarium/gaji atau keuntungan dari usaha kita.

a. Mengapa kita memberi persepuluhan?
Dalam PB persembahan persepuluhan memang tidak ditegaskan
dengan jelas. Lalu, bagaimanakah sepatutnya kita melihat
persembahan persepuluhan ini? Persembahan persepuluhan patut
dilihat sebagai keharusan (obligation) bagi setiap orang Kristen,
karena persepuluhan merupakan prinsip persepuluhan yang sudah
ada dan sudah dipraktikkan sebelum hukum Taurat diberikan
melalui Musa. Misalnya, Abraham dan Yakub, bapak leluhur umat
Israel sudah mengenal dan menjalankan prinsip ini [Kej 14:20; Ibr
7:4,6; 28:20-22]. Hal ini menunjukkan bahwa persepuluhan bukan
hanya sekedar peraturan PL (Taurat) yang hanya berlaku bagi umat
Israel, sebab sebelum peraturan PL (Taurat) ada, prinsip/praktek
persepuluhan sudah menjadi kebiasaan yang berlaku. Dari
manakah bapak leluhur umat Israel seperti Abraham dan Yakub,
mengenal prinsip persepuluhan ini? Kemungkinan prinsip yang
mereka tetapkan berasal dari wahyu Allah kepada Adam.

Jika prinsip/praktik persepuluhan sudah ada sebelum peraturan PL
(Taurat) dan bangsa Israel ada, maka ini berarti bahwa ada atau
tidak adanya atau berlaku dan tidaknya prinsip persepuluhan tidak
ditentukan oleh masih berlaku atau tidaknya hukum Taurat
(peraturan-peraturan PL). Jadi, persepuluhan tidak bersifat
kondisional (tergantung pada berlakunya hukum PL) dan
sementara, tetapi bersifat tidak kondisional dan permanen.
Prinsip/peraturan persepuluhan adalah keharusan dan tanggung
jawab moral (obligation) kepada Allah yang masih berlaku hingga
sekarang.

b. Apakah makna dan tujuan persepuluhan?
Suatu prinsip atau peraturan moral yang Allah kehendaki berlaku
dalam kehidupan kita, pasti mempunyai makna dan tujuannya.
Demikian juga halnya dengan prinsip/peraturan persepuluhan.

(1). Perlu kita sadari bahwa persepuluhan bukanlah persembahan
sukarela kepada Allah. Kalau dikatakan persembahan sukarela,
maka persepuluhan boleh dijalankan dan boleh juga tidak.
Persepuluhan pada hakikatnya adalah hak dan kepunyaan Allah
atas apa yang kita peroleh dari usaha dan pekerjaan kita. Jika
memperhatikan dan berpikir secara akal sehat (common sense), kita
dapat hidup karena karunia Allah. Hidup dan pekerjaan kita di atas
bumi/alam ini adalah kepunyaan Allah. Maka dari itu, adalah
tanggung jawab moral kita (memberi persepuluhan) kepada Sang
Pemberi karunia kehidupan, Yang Empunya dan Pencipta
bumi/alam ini. Persepuluhan pada hakikatnya adalah hak dan
kepunyaan Allah. Itu sebabnya, Allah menyebut sikap bangsa Israel
yang tidak memberi persepuluhan sebagai menipu Allah [Mal 3:8-9].

(2). Persepuluhan merupakan persembahan yang mencerminkan
relasi kita yang konkret dengan Allah. Selain itu, kita juga mengakui
Dia sebagai Tuhan (Tuan) yang berotoritas atas totalitas diri kita dan
segala yang kita miliki.

(3). Karena hidup yang kita miliki adalah karunia Tuhan dan kita
hidup dalam alam ciptaan-Nya, bahkan kita telah menikmati hidup
dalam anugerah-Nya, maka persepuluhan yang kita sisihkan untuk
Tuhan merupakan bagian yang proporsional. Allah tidak
menetapkan seperlima atau seperduapuluh, tapi sepersepuluh,
karena sepersepuluh adalah suatu bagian yang proporsional dan
wajar bagi Tuhan.

(4). Tujuan atau motivasi kita dalam memberikan persepuluhan
bukan (dan tidak boleh) untuk mengharapkan berkat dari Allah.
Sekalipun Allah berkata: “Bawalah seluruh persembahan
persepuluhan,. . .ujilah Aku,. . ., apakah Aku tidak membukakan

bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu
sampai berkelimpahan” [Mal 3:10]. Allah adalah Allah yang murah
hati (penuh kebaikan), tetapi Ia juga adalah Allah yang memiliki
kedaulatan, sehingga Ia berdaulat untuk mencurahkan berkat dan
juga berdaulat untuk tidak mencurahkan berkat.

2. Persembahan Diakonia
Sesuai dengan arti diakonia, yaitu “pelayanan,” persembahan
diakonia merupakan persembahan yang ditujukan bagi saudara-
saudara seiman yang kekurangan atau membutuhkan bantuan.

a. Mengapa kita memberi persembahan diakonia?
Persembahan diakonia pada hakikatnya merupakan wujud
kepeduliaan sosial kita (gereja) kepada saudara-saudara seiman
(anggota gereja) yang kekurangan atau membutuhkan bantuan
finansial. Kita perlu menyadari bahwa dari sekian banyak anggota
gereja, ada di antara mereka yang sudah tua dan tidak mempunyai
sanak-keluarga yang dapat menunjang kehidupan mereka; ada juga
yang sudah janda, yang harus menunjang kebutuhan anak-anaknya;
ada juga yang sakit berat tetapi penghasilan dan kemampuan
finansial tidak mencukupi, dll. Sebagai saudara-saudara seiman, kita
harus membantu mereka yang berada dalam kondisi yang
demikian. Semua persembahan diakonia yang diberikan jemaat
disalurkan oleh gereja (Unit Pelayanan Diakonia Filadelfia) kepada
saudara-saudara seiman yang membutuhkannya.

b. Apakah makna dan tujuan dari persembahan diakonia?
Persembahan diakonia tidak hanya sekedar wujud kepedulian dan
tanggung jawab sosial, secara rohani persembahan diakonia juga
adalah wujud kasih dan pelayanan kita kepada orang-orang kudus.
Oleh sebab itu, persembahan diakonia dapat juga disebut
pelayanan kasih. Lebih dari sekedar kerelaan, partisipasi kita
dalam pelayanan ini merupakan suatu hak istimewa/kharis [2Kor
8:4].

3. Persembahan Iman
Persembahaan iman adalah persembahan yang berdasarkan iman

dan tekad/komitmen kita kepada Tuhan. Dengan iman kita yakin
bahwa komitmen kita (yang menjadi tekad kita) pasti akan terwujud
atau terpenuhi sesuai dengan rencana, meskipun untuk sekarang
ini belum ada atau belum terpenuhi seluruhnya. Kita percaya bahwa
Tuhan akan mencukupi dan menyediakan apa yang ingin kita
persembahkan kepadaNya dengan tulus hati.

Di gereja kita, jemaat setiap tahun diajak untuk
bertekad/berkomitmen dalam memberikan persembahan iman bagi
pekerjaan Tuhan dalam rangka misi penginjilan. Misi penginjilan
merupakan tugas gereja dan tugas kita bersama. Karena itu, kita
sebagai anggota jemaat patut mengambil bagian dalam pekerjaan
Tuhan ini. Dengan persembahan iman dalam misi penginjilan ini,
kita beriman dan bertekad/berkomitmen untuk mempersembahkan
uang atau sesuatu kepada Tuhan bagi pekerjaan-Nya dalam rangka
misi penginjilan yang dilakukan oleh gereja.

4. Persembahan Syukur
Orang Kristiani senantiasa melihat bahwa kemurahan, berkat dan
pemeliharaan Allah senantiasa ada. Seperti yang dikatakan dalam
Kitab Ratapan: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-
habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaanMu”
[3:22]. Rasa syukur kita kepada Allah atas segala hal dalam
kehidupan kita adalah sikap rohani yang sangat mulia [bdk. 1Tes
5:18]. Kita bersyukur atas segala sesuatu yang biasa/lazim dan yang
istimewa, atas berkat yang besar dan yang kecil. Rasa syukur kita
kepada Allah dapat kita nyatakan melalui persembahan syukur kita
kepadaNya. Kita memberi persembahan syukur karena kita ingin
meresponi secara konkrit atas berkat, kemurahan dan
pemeliharaan Tuhan atas hidup kita.

Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ibadah Kristiani itu?
Diskusikanlah!
Mengapa orang Kristen harus mengikuti kebaktian hari Minggu?
Bahaslah tentang hakekat persembahan secara umum!

Look

Ibadah Kristiani mencakup totalitas hidup sebagai persembahan yang
sejati (ibadah yang holistik). Lakukanlah penelusuran di google tentang
apa itu holistic worship. Laporkan temuan Anda dalam forum kelas.

Took

Ibadah tidak hanya dibatasi sekadar di hari Minggu dalam sebuah
kebaktian (ibadah korporat). Pada hakikatnya ibadah mencakup seluruh
kehidupan kita seutuh dan seluruhnya, yaitu 7 x 24 jam [Rm 12:1]. Dengan
demikian, hidup yang seharusnya ditampilkan oleh setiap orang percaya
adalah sebuah ibadah atau penyembahan kepada Allah. Apakah hidup
Anda sudah mengekspresikan sebagai sebuah ibadah kepada Allah?
Silahkan Anda mengeceknya dengan men-ceklist ciri-ciri hidup yang
mengekspresikan penyembahan kepada Allah sbb:

Hidup yang mengejar kekudusan dengan menghidupi firman Allah
[1Ptr 1:15; Yoh 14:15]
Hidup yang mengutamakan kehendak Allah dalam mengambil setiap
keputusan [Mat 6:33]
Hidup yang dipenuhi dengan syukur dalam segala situasi [1Tes 5:18; Ef
5:20]
Hidup yang bergairah untuk kemuliaan Allah dalam melakukan
segala sesuatu [Kol 3:23; Flp 1:22]
Hidup yang memiliki dampak dan menjadi berkat bagi orang lain
[Mat 5:13-16; 2Kor 2:15]

BAB 10

PERTUMBUHAN
IMAN KRISTIANI

Mengajarkan bahwa kehidupan orang Kristen yang sejati
haruslah ditandai dengan terjadinya pertumbuhan iman yang

nyata dan progresif.

Hook

Sediakan minuman susu murni dengan gelas-gelas kecil untuk siap
diminum. Susu murni dapat divariasikan dengan berbagai rasa untuk
menolong mereka yang kurang suka. Sesudah itu tanyakan kepada
peserta “susu murni” adalah simbol apa bagi orang Kristen? Mintalah
mereka sebutkan ayat-ayat pendukung. Dalam hal ini boleh browsing di
google!

Book

A. HAKIKAT PERTUMBUHAN IMAN

Orang Kristen adalah orang yang percaya kepada Yesus Kristus
sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kepercayaan ini merupakan suatu
bentuk tindakan seseorang yang mempercayakan diri sepenuhnya
kepada seorang pribadi yang dipercayai, dalam hal ini adalah Allah
dalam diri Yesus Kristus. Itulah makna utama dari iman. Seorang
yang beriman kepada Kristus sesuai dengan janji-Nya, akan beroleh
hidup yang kekal [Yoh 3: 15-16]. Kehidupan kekal adalah hidup baru
yang merupakan sesuatu yang membedakan antara orang Kristen
dan non-Kristen.

Kehidupan yang ada dalam diri orang Kristen adalah kehidupan Allah
sendiri, karena Roh Allah tinggal di dalam diri-Nya [1Kor 3: 16]. Itulah
yang disebut iman sebagai kehidupan. Iman seperti ini pada
hakikatnya mengandung potensi pertumbuhan, karena adanya benih
kehidupan. Rasul Petrus dalam suratnya kepada orang-orang Kristen
di perantauan mengatakan, “Karena kamu telah dilahirkan kembali
bukan dari kasih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh
firman Allah yang hidup dan yang kekal” [1Pet 1: 23]. Orang Kristen
yang beriman kepada Kristus memiliki potensi dan seharusnya
bertumbuh. Pertumbuhan merupakan sesuatu yang wajar dan
normal. Setiap benih mengandung kehidupan dan pasti akan
bertumbuh seiring dengan berjalannya waktu.

B ANALOGI PERTUMBUHAN IMAN: BERAKAR, BERTUMBUH
DAN BERBUAH
Pertumbuhan iman orang Kristen digambarkan sebagai suatu
pertumbuhan tanaman, dimana benih kehidupan akan membuat
suatu benih tanaman menjadi berakar, bertumbuh dan berbuah.

a. Berakar
Paulus menyerukan: “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia” kepada
jemaat Kolose, yang notabene telah menerima Tuhan Yesus Kristus
[Kol 2: 6,7]. Dalam seruannya itu, tersirat suatu himbauan agar
setiap orang Kristen yang sudah lahir baru pun bertumbuh makin
kuat dengan kedalaman pengenalan akan Yesus dan pemahaman
akan segala pengajaran-Nya.

Ibarat tanaman cepat menjadi kering karena tidak berakar secara
mendalam, demikian pula halnya dengan iman Kristiani. Ia akan
cepat menjadi layu bahkan terancam mati, kalau tidak dipelihara
dalam persekutuan dengan Kristus sendiri. Agar iman kita tetap
tegak, kita harus berdiri di atas dasar kebenaran firman Tuhan dan
pengenalan akan Dia. Dengan demikian iman memperoleh vitalitas
hidup spiritual yang berakar pada Sang Firman itu sendiri.

b. Bertumbuh
Berakar saja tidaklah cukup. Benih yang baik akan menumbuhkan
akar ke bawah tanah dan menumbuhkan tunas ke atas dalam
bentuk batang dan daun. Dalam hal ini, jelaslah bahwa orang
Kristen harus bertumbuh, karena Firman Tuhan berkata, ”Tetapi
bertumbuhlah dalam kasih karunia dalam pengenalan akan Tuhan
dan Juruselamat kita, Yesus Kristus ..." [2Pet 3:18]. Ayat ini menyatakan
pentingnya orang percaya menuntut diri agar mengalami kemajuan
dalam pengenalan akan Kristus.

Apabila ada orang Kristen yang tidak bertumbuh imannya, mereka
tidak akan menjadi orang Kristen yang beranjak dewasa seperti yang
seharusnya [Ef 4:13]. Orang yang belum dewasa dalam Kristus akan
tetap menjadi bayi atau anak-anak yang mudah dipengaruhi oleh
pengajaran yang sesat atau menyimpang, dan menunjukkan ciri-ciri
manusia duniawi, seperti iri hati, suka berselisih, dan suka memihak
[Ef 4:14; 1Kor 3:1-9].

c. Berbuah
Tuhan Yesus pernah mengatakan: “Dalam hal inilah BapaKu
dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian
kamu adalah murid-muridKu.” [Yoh 15:8]. Kalimat ini menandaskan
kerinduan Tuhan agar para pengikut-Nya hidup berbuah bagi
kemuliaan Bapa. Allah menghendaki agar setiap orang percaya tidak
sekadar diselamatkan, titik. Dia berharap agar orang Kristen hidup
menghasilkan buah-buah iman yang berlipat ganda secara
maksimal [Mat 13:23; Gal 5:22-23]. Bukankah iman tanpa perbuatan
adalah mati?Demikian juga hidup Kristen tanpa buah Roh pada
hakikatnya iman tak berarti apa-apa.

Kehidupan yang berbuah bagi Tuhan merupakan hasil atau
konsekuensi dari hidup yang berakar dan terus bertumbuh di dalam
Kristus dan kasih karunia-Nya. Dasar dan syarat utama bagi
pertumbuhan iman adalah menyatu dalam persekutuan dan tetap
tinggal teguh di dalam Kristus. Apabila carang tidak melekat pada
pokoknya, ia tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi menghasilkan
buah [Yoh 15:5].

Tujuan akhir daripada pertumbuhan rohani adalah kedewasaan
rohani yang ditandai dengan kehidupan yang berbuah lebat [Ef
4:13]. Perubahan hidup semakin serupa dengan Kristus menjadi ciri
yang tampak dari kehidupannya [Rm 8:29; 1 Yoh 2:6; Ef 4:12-13].

C. ASPEK-ASPEK PERTUMBUHAN IMAN
a. Aspek personal
Pertumbuhan iman orang Kristen secara pribadi haruslah bersifat
kontinyu. Pertumbuhan pribadi merupakan keinginan yang terus
menerus, karena keinginan yang pudar akan berakibat pada
terhentinya pertumbuhan. Rasul Petrus memerintahkan orang
Kristen demikian: “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang
selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya
kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan“ [1Pet 2:2]

Pertumbuhan iman orang Kristen secara terus menerus ini sangat
penting, karena orang Kristen harus bertumbuh tambah kuat,
tambah teguh dan tambah taat. Mengapa harus demikian? Karena
orang Kristen sekalipun sudah beroleh hidup kekal, namun masih
hidup di dunia yang penuh dengan segala kejahatan, segala tipu
muslihat, segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.
Dengan pertumbuhan iman, orang Kristen dapat membuang segala
hal ini [1Pet 2:1].

b. Aspek doktrinal
Pertumbuhan iman orang Kristen bertumpu pada pengajaran yang
benar yaitu pengajaran para nabi dan para rasul. Rasul Paulus
sangat menekankan pentingnya doktrin yang benar atau pengajaran
yang sehat yang berdasarkan Injil dari Allah [1Tim 1:10-11]. Sebagai
orang yang dipercaya oleh Allah, Ia menyuruh Timotius untuk
menasehati orang-orang yang mengajarkan ajaran yang salah atau
menyesatkan [1Tim 1:3]. Baik kepada Timotius dan Titus—anak-
anak rohani Paulus—Rasul Paulus memerintahkan mereka untuk
mengajarkan ajaran yang benar/sehat seiring dengan kehidupan
yang benar pula [1Tim 4:16; Tit. 2:1].

Pertumbuhan iman orang Kristen yang bertumpu pada pengajaran
yang benar akan menghasilkan pengetahuan akan kebenaran yang
semakin bertambah dalam wujud ibadah atau kesalehan hidup [Tit.
1:1]. Jika tidak demikian, orang yang tidak bertumbuh secara
doktrinal akan dengan mudah diombang-ambingkan, dikacaukan,
dibingungkan oleh rupa-rupa pengajaran dan oleh permainan palsu
manusia dengan kelicikannya yang menyesatkan [Ef 4:14]. Orang
seperti ini tidak mempunyai kemampuan untuk membedakan atau
menilai mana yang benar dan mana yang tidak.

Sebab itu, baik Rasul Petrus maupun Rasul Paulus menasihatkan
agar orang Kristen bertumbuh pengetahuannya akan Allah dan
akan Kristus [1Pet 3: 18; Kol 1: 10]. Rasul Paulus memerintahkan
jemaat Kolose demikian, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan
segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala
hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil
menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu
mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu” [Kol 3: 16].

c. Aspek ministerial
Aspek ministerial adalah aspek pelayanan dari setiap orang Kristen.
Aspek ini bersifat hakiki mengingat statusnya di hadapan Tuhan
sebagai imamat. 1Pet 2:9 berbunyi demikian, “Tetapi kamulah
bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat
kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-
perbuatan yang besar dari ia, yang telah memanggil kamu keluar dari
kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.“ Ayat ini menunjukkan bahwa
umat pilihan Tuhan terdiri dari imam-imam, bukan dalam pengertian
imam Perjanjian Lama yang dipilih dan diangkat dari keturunan suku
Lewi dan secara khusus bertugas melayani umat Allah di bait suci-Nya.
Dalam Perjanjian Baru pun keimaman seperti ini memang masih
berlangsung, namun pemahamannya telah mengalami perubahan
yang radikal dalam terang Injil. Sejak Injil diberitakan yaitu Injil
Keselamatan Yesus Kristus sebagai Imam Besar Agung, maka peran
imam merupakan peran setiap orang percaya untuk melayani di dunia
agar dunia dimenangkan bagi Dia.

Pelayanan berkaitan erat dengan pertumbuhan iman. Seorang
Kristen yang bertumbuh adalah seorang yang karena imannya telah
menghasilkan buah-buah ketaatan dan pelayanan [2 Kor 8:1-15; 1
Tes 1:2-10]. Jadi, setiap orang yang beriman kepada Yesus Kristus
patut melayani karena Kristus telah terlebih dahulu melayani dan
memberikan teladan [Mrk 10:45; Yoh 13:15].

d. Aspek disiplinal
Aspek disiplinal merupakan satu aspek yang sangat penting bagi
orang percaya yang disebut murid Kristus. Mengapa demikian? Kata
“murid” dalam bahasa Inggris ialah disciple yang mempunyai akar
kata yang sama dengan kata 'dicipline.' Di sini tersirat bahwa
seorang murid Kristus adalah seorang pengikut Kristus yang
berdisiplin. Seorang murid wajib memahami pengajaran gurunya
dan meneladani hidup serta karakter gurunya. Pemahaman dan
peneladanan tidak akan terwujud tanpa disiplin yang sungguh-
sungguh serius. Disiplin terdiri dari dua macam: disiplin pribadi dan
disiplin secara bersama-sama dengan jemaat Tuhan. Disiplin rohani
dapat berbentuk saat teduh, doa, puasa, berdiam diri, dll.

Ironisnya, ternyata zaman sekarang banyak orang tidak atau kurang
mengenal lagi istilah disiplin. Bahkan ada yang mengatakan bahwa
disiplin sudah hilang tidak berbekas. Dalam aspek rohani pun,
ternyata disiplin juga sudah merupakan sesuatu yang asing di
telinga atau di dalam kehidupan generasi yang jarang sekali
membaca Alkitab apalagi merenungkannya siang dan malam.

D. WADAH DAN SARANA PERTUMBUHAN IMAN

a. Wadah keluarga
Keluarga merupakan unit kecil dari gereja yang amat efektif bagi
penginjilan dimana pertobatan satu orang telah membawa
pertobatan semua anggota keluarga. Contohnya, Kornelius [Kis
10:1-48], Lidia [Kis 16:13-15], kepala penjara di Filipi [Kis 16:19-34],
Krispus [Kis 18:8] dan Stefanus [1Kor 1:16]. Iman seseorang yang
bertumbuh akan membawa buah kesaksian yang hidup bagi sanak
keluarga yang lain. Dalam keluarga Kristen, iman bertumbuh karena

\adanya hubungan yang saling menguatkan dan membangun.
Timotius adalah seseorang yang beriman sejak kecil dan terus
bertumbuh karena nenek dan ibunya yang saleh [2Tim 3:14-15].

b. Wadah gereja
Pada saat seseorang bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus
sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia juga menerima baptisan Roh ke
dalam satu tubuh yaitu tubuh Kristus, dimana Kristus menjadi
Kepala dan setiap orang percaya menjadi anggotanya. Setiap
anggota tubuh Kristus mempunyai karunia yang berbeda satu
dengan yang lainnya, namun saling membutuhkan dan melengkapi,
sehingga kehadiran yang satu mempunyai keterikaitan yang erat
dengan yang lain. Hubungan yang dinamis antar anggota akan
berdampak pada pertumbuhan tubuh Kristus/gereja.

Masing-masing anggota adalah penting dan bernilai. Sekalipun
mungkin ada anggota yang paling kecil dan lemah, tetap
mempunyai sesuatu kontribusi yang berarti dalam partisipasi
pembangunan tubuh. Jadi, dalam hal ini tidak boleh ada anggota
yang dianggap sepele/tidak berarti oleh yang lain atau pun oleh
dirinya, sebagai alasan untuk tidak aktif dalam hal saling melayani
antar orang percaya.

Gaya hidup yang diajarkan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya
ialah gaya hidup komunitas yang saling melayani. Ia sendiri telah
meninggalkan teladan dengan cara membasuh kaki para murid-Nya.
Ia berbuat demikian agar para murid-Nya pun berbuat hal yang
sama [Yoh 13: 1-17].

Setelah Kristus naik ke surga, gaya hidup inilah yang diwujudkan di
antara para rasul dan yang mereka ajarkan kepada jemaat:

Apabila setiap anggota berfungsi menurut karunianya, maka
pelayanannya akan memberi andil bagi pertumbuhan tubuh secara
individual dan komunal. Rasul Paulus menasihatkan agar “dengan
teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di
dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala. Dari pada-
Nyalah seluruh tubuh, - yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh
pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap
anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam
kasih” [Ef 4:15-16].

Dalam konteks komunitas yang lebih sempit, Care Group (Sebutan
unik kelompok kecil yang berlaku di GII Hok Im Tong) menjadi
wadah yang sangat menunjang bagi terciptanya pertumbuhan
rohani. Setiap anggota memiliki komitmen yang sama untuk
menempuh perjalanan rohani yang sama, yaitu masuk dalam
proses menjadi murid Kristus. Dalam Care Group terjadi kesalingan
yang membangun, yaitu melalui saling melayani, menguatkan,
mengenal, memperhatikan, mendoakan, mengasihi, satu dengan
yang lain dalam jalinan relasi yang intim dan penuh keterbukaan.
Hal ini ditunjang pula dan menjadi yang utama, dimana setiap
anggota belajar untuk menaati firman Tuhan. Sebagaimana murid
Kristus dipanggil Tuhan untuk belajar mengerti dan melakukan
segala sesuatu yang Tuhan ajarkan (bukan sekadar mengetahui)
secara riil di dalam kehidupan sehari-hari [Mat 28: 20].

c. Wadah masyarakat luas (dunia).
Sebatang besi tidak akan menjadi tajam jika tidak ditempa, sebatang
pohon tidak akan berakar kuat jika tidak diterpa angin, demikian
pula seorang Kristen tidak akan bertumbuh tanpa mengalami
didikan, disiplin, dan dinamika hidup yang riil. Sekalipun orang
percaya sudah dipanggil keluar dari kegelapan dunia ini, namun
tetap hidup dalam dunia. Yesus berkata bahwa murid-murid-Nya
tidak berasal dari dunia, namun diutus ke dalam dunia untuk
memberikan kesaksian hidup yang nyata agar dunia dimenangkan
[lihat Yoh 17:18; Kis 1:8; Mat 28:19-20]. Dengan mengalami banyak
pencobaan, godaan, dan penderitaan di dunia [1 Kor 10:13; Yak 1:2-
3; 1Pet 1:6], kita teruji dalam iman dan bertumbuh, bahkan Tuhan
sendiri akan mendisiplin kita supaya kita kudus, sama seperti Allah
Bapa yang adalah kudus adanya [1Pet 1:7; Yak 1:4; Ibr 12:10; 1Pet
1:15-16].

Dunia dengan segala tantangannya seharusnya membuat orang
Kristen selalu bersikap optimis—selalu berpengharapan kepada
Tuhan, dan bukan sebaliknya. Dunia akan menjadi cermin agar kita
jangan menjadi semakin serupanya, tetapi semakin berbeda [Rm
12:2]. Dunia ini seharusnya menjadi tempat dimana kita berfungsi
sebagai garam dan terang [Mat 5:13-16].

d. Sarana belajar
Pertumbuhan iman tidak terjadi begitu saja dalam waktu satu
malam. Banyak orang Kristen setia pergi ke gereja hari Minggu
untuk beribadah dan mendengar firman Tuhan, tetapi hidupnya
tetap tidak berubah. Di antara banyak sebabnya ialah karena
mereka tidak melakukan salah satu cara utama yang dipakai Tuhan
untuk mengubah kita, yaitu belajar.

Apa yang diartikan dengan belajar sebenarnya? Belajar dalam
rangka pertumbuhan iman dapat didefinisikan sebagai proses
pemahaman akan kebenaran Tuhan secara mendalam dan ketaatan
berdasarkan pemahaman tersebut. Belajar berarti melibatkan aspek
pikiran, emosi dan perilaku. Belajar firman Tuhan tidak sekadar
menguasai isi/materinya, tapi juga sikap dan tindakan. Natur dari
belajar adalah berubah, berubah dari gaya hidup lama yaitu hidup
dalam dosa menjadi gaya hidup yang sesuai dengan kehendak
Tuhan dalam kebenaran dan kekudusan [Ef 4:20-24].

Sesungguhnya, memang ada hubungan yang erat antara belajar
dan pertumbuhan iman orang Kristen. Semakin belajar, semakin
banyak pengetahuan akan kebenaran dan semakin taat, sehingga
semakin bertumbuhlah iman seseorang. Proses pertumbuhan ini
bukanlah suatu proses yang pasif melainkan aktif. Artinya,
seseorang yang mau bertumbuh imannya harus menuntut diri
secara aktif untuk belajar dan bertekun. Orang-orang Kristen/jemaat
mula-mula yang bertekun dalam pengajaran para rasul sungguh
telah menjadi suatu teladan yang nyata [Kis 2:42]. Barangkali ada
orang percaya bertanya sampai taraf mana seorang Kristen harus
bertumbuh dalam pengetahuan/pemahaman imannya? Jawabnya
ialah sampai taraf penuh atau maksimal, dimana ia mengetahui
kehendak Allah dalam hidupnya dan menyenangkan Allah dalam
setiap aspek kehidupannya [Ef 4:13; Kol 1:9-10].

Penulis surat Ibrani menyerukan: “Sebab itu marilah kita tinggalkan
asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada
perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakan lagi dasar
pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar
kepercayaan kepada Allah, yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan,
penumpangan tangan, kebangkitan orang- orang mati dan hukuman
kekal” [Ibr 6:1-2]. Di sini, penulis menghimbau orang-orang Kristen
yang berlatar belakang agama Yahudi untuk bertumbuh ke arah
kedewasaan. Caranya adalah memacu diri untuk belajar kebenaran
tentang ajaran yang lebih sulit dan lebih mendalam. Mereka tidak
boleh puas atau terus berpegang pada pengajaran dasar yang
kurang mendalam atau dangkal.

Mungkinkah ada orang Kristen yang tidak mengalami pertumbuhan
iman? Mengapa hal demikian dapat terjadi?
Dari keempat aspek pertumbuhan iman Kristen, aspek manakah yang
paling sulit dikembangkan? Sebutkan alasannya!
Gereja merupakan salah satu wadah penting yang dapat menunjang
untuk pertumbuhan iman. Apakah gereja dimana Anda menjadi
bagian di dalamnya telah menjadi wadah yang subur bagi
pertumbuhan iman Anda?

Look

Tunjukanlah di forum pohon yang sudah ditugaskan sebelumnya (bisa
berbentuk powerpoint yang sudah di desain sendiri). Pohon ini bebas
asalkan dapat digantungkan berbagai label yang sudah disiapkan oleh
pengajar.

Took

Lakukan pre-test untuk mengetahui tingkat kerohanian sebelum di baptis
dengan menggunakan instrumen SMI-Spiritual Maturity Index atau Indeks
Kedewasaan Rohani. Perhatikanlah hasil dari test tersebut dan Anda
simpan. Hasil analisa ini penting untuk melakukan post-test satu tahun
kemudian, sehingga akan terlihat jelas apakah Anda sebagai anggota GII
mengalami pertumbuhan rohani atau tidak.


Click to View FlipBook Version