RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
pembelajaran dari rumah di masa pademi diharapkan dapat memperkecil kesenjangan
COVID-19 dilaksanakan, sumber pembelajaran kualitas belajar.
dalam jaringan sangat dibutuhkan baik oleh
pendidik maupun oleh peserta didik. OECD Meskipun Bahasa Inggris perlu diajarkan sejak
(2020c) melakukan pendataan sumber- jenjang SD, namun dalam jangka pendek
sumber pembelajaran daring dari berbagai mata pelajaran ini belum dapat menjadi mata
negara dan dikembangkan oleh pemerintah pelajaran wajib. Menurut data Dapodik, saat
dan masyarakat, yang dapat diakses secara ini hanya sekitar 4% satuan SD/MI di Indonesia
terbuka. Namun demikian, mayoritas sumber yang mengajarkan mata pelajaran Bahasa
belajar yang telah dikurasi kualitasnya Inggris. Sebagaimana yang diperlihatkan Tabel
tersebut menggunakan Bahasa Inggris 1, di beberapa kabupaten/kota proporsi SD
sebagai bahasa pengantarnya. Sehingga, yang mengajarkan mata pelajaran Bahasa
ketika guru dan peserta didik kurang memiliki Inggris cukup tinggi. Di beberapa kabupaten/
kemampuan Bahasa Inggris, sumber-sumber kota tersebut, Bahasa Inggris merupakan mata
belajar yang sebenarnya berpotensi untuk pelajaran yang diwajibkan sebagai muatan
memitigasi ketertinggalan pembelajaran lokal. Dengan demikian, beberapa pemerintah
(learning loss) tetap tidak dapat diakses. daerah sudah melakukan inisiatif untuk
Sementara untuk satuan pendidikan yang menguatkan Bahasa Inggris di jenjang SD.
telah menyelenggarakan pembelajaran Bahasa Sementara itu, di DKI Jakarta Bahasa Inggris
Inggris, sumber-sumber belajar tersebut dapat tidak menjadi satu mata pelajaran tersendiri
diakses dengan lebih leluasa. Oleh karena melainkan terintegrasi dalam muatan lokal
itu, menguatkan kemampuan berbahasa Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta
Inggris di mayoritas sekolah dasar di Indonesia (PLBJ).
Tabel 3.1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Dengan SD/MI Yang Mengajarkan Mata Pelajaran Bahasa Inggris
30 Persen Atau Lebih
No Provinsi Kabupaten/Kota Jlm SD Jml SD %
1 Prov. Bali Kab. Badung 278 Bhs. Inggris 75%
2 Prov. Bali Kota Denpasar 227 66%
3 Prov. Jawa Tengah Kab. Temanggung 434 208 58%
4 Prov. Papua Barat Kota Sorong 80 150 40%
5 Prov. Jawa Timur Kab. Tulungagung 631 252 36%
6 Prov. Jawa Tengah Kab. Magelang 602 32 33%
229
199
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 51
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
No Provinsi Kabupaten/Kota Jlm SD Jml SD %
Kab. Pati 678 Bhs. Inggris 33%
7 Prov. Jawa Tengah Kota Batu 79 30%
8 Prov. Jawa Timur Kota Tangerang 445 223 30%
9 Prov. Banten Kab. Kudus 422 30%
10 Prov. Jawa Tengah Kab. Berau 166 24 30%
11 Prov. Kalimantan
135
Timur
125
49
Data empiris menunjukkan bahwa proporsi berlatih membiasakan diri untuk mengamati
SD yang sudah mengajarkan mata pelajaran atau mengobservasi, mengeksplorasi, dan
Bahasa Inggris masih relatif rendah melakukan kegiatan yang mendorong
sehingga, mengubah statusnya menjadi kemampuan inkuiri lainnya yang sangat
mata pelajaran wajib merupakan kebijakan penting untuk menjadi fondasi sebelum mereka
yang terlalu terburu-buru. Oleh karena itu, mempelajari konsep dan topik yang lebih
Kemendikbudristek mengembangkan peta jalan spesifik di mata pelajaran IPA dan IPS yang
pendidikan Bahasa Inggris yang merumuskan akan mereka pelajari di jenjang SMP.
strategi untuk menyiapkan Bahasa Inggris
sebagai mata pelajaran wajib, termasuk Pembelajaran berbasis inkuiri merupakan
penyiapan tenaga pendidik dan berbagai pendekatan dimana peserta didik ditantang
pendukung pembelajaran lainnya. Dengan untuk mengumpulkan dan menganalisis
demikian, dalam jangka waktu menengah, mata informasi, kemudian melakukan review
berdasarkan pengetahuan yang dimiliki,
pelajaran ini akan menjadi mata pelajaran wajib mencari keterkaitan, mengenali pola dan
di SD. secara perlahan membangun pemahaman
akan suatu konsep. Dalam pendekatan ini,
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di pendidik berperan sebagai fasilitator untuk
jenjang SD merupakan mata pelajaran yang membangun pemahaman peserta didik.
ditujukan untuk membangun kemampuan Dengan pendekatan inkuiri, peserta didik
literasi sains dasar. Muatan ini merupakan secara bertahap dan mandiri membangun
fondasi untuk menyiapkan peserta didik pemahaman dan memperdalam prinsip-
mempelajari ilmu pengetahuan alam dan ilmu prinsip yang sedang dipelajari (Murdoch,
pengetahuan sosial yang lebih kompleks di 2015, Constantinou et al., 2018). Bila merujuk
jenjang SMP. Ketika mempelajari lingkungan pada teori perkembangan anak yang dipakai
sekitarnya, peserta didik di jenjang SD melihat dalam pengembangan Kurikulum Merdeka,
fenomena alam dan sosial sebagai suatu maka usia SD merupakan masa strategis untuk
fenomena yang terintegrasi, dan mereka mulai mengembangkan kemampuan inkuiri anak.
52
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
Mata pelajaran IPA dan IPS dijadikan satu literasi dan numerasi, maka mata pelajaran
menjadi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial Informatika, yang sebelumnya merupakan mata
(IPAS) karena dasar dari kedua mata pelajaran pelajaran pilihan dalam Kurikulum 2013, mulai
ini adalah pengembangan keterampilan inkuiri diwajibkan dalam Kurikulum Merdeka di jenjang
atau dikenal juga sebagai kemampuan berpikir SMP dan SMA Kelas X, dan kemudian menjadi
ilmiah. salah satu mata pelajaran pilihan di kelas XI dan
XII.
Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa
berbagai masalah di dunia ini seringkali Pertimbangan mewajibkan mata pelajaran
tidak dapat dipecahkan hanya dari sudut Informatika juga didasari oleh data empiris yang
pandang satu bidang ilmu tertentu. Untuk telah diperoleh melalui uji coba implementasi
keberlanjutan planet bumi ini, maka masalah kurikulum dalam Program Sekolah Penggerak
perlu dipecahkan dengan mempertimbangkan (PSP). Dari 573 satuan SMP yang mengikuti PSP
aspek alam, ekonomi, sosial dan kesejahteraan untuk kelas VII pada Tahun Ajaran 2021/2022,
manusia (Atkisson, 2008). Saat membahas sebanyak 542 (sekitar 95%) SMP mengajarkan
tentang dampak perilaku manusia terhadap mata pelajaran Informatika di sekolah mereka.
lingkungan, atau dampak iklim dan peristiwa Tingginya angka tersebut mengindikasikan
geologi terhadap manusia, misalnya. Untuk bahwa mewajibkan Informatika di jenjang SMP
membantu anak berpikir secara holistik, adalah kebijakan yang siap diimplementasikan.
belajar berpikir dari berbagai perspektif dan Namun demikian, perlu diperhatikan juga 5%
mengembangkan kemampuan inkuiri mereka, sisanya yang belum siap untuk mengajarkan
serta untuk mengurangi beban jam belajar Informatika. Masalah yang dihadapi 31 satuan
peserta didik, maka pelajaran IPA dan IPS pada SMP tersebut adalah tidak ada guru yang siap
Fase B dan dijadikan satu menjadi IPAS. untuk mengampu mata pelajaran Informatika.
Mata pelajaran Informatika di jenjang SMP Menghadapi situasi kurangnya guru
menjadi wajib yang sebelumnya merupakan Informatika di jenjang SMP, Pemerintah
mata pelajaran pilihan dalam Kurikulum 2013. menetapkan keputusan bahwa mata pelajaran
Pertimbangan utamanya adalah karena literasi Informatika SMP dan SMA Kelas X dapat
digital yang banyak dipelajari melalui mata diampu oleh guru yang mempunyai kualifikasi
pelajaran Informatika menjadi kebutuhan akademik atau sertifikat pendidik bidang
penting saat ini. Selain itu, Informatika ilmu komputer, informatika, MIPA, atau guru
mengajarkan keterampilan yang tidak hanya yang selama ini mengampu Bimbingan TIK
relevan untuk pengguna komputer dan (Kepmendikbudristek Nomor 162 Tahun
teknologi digital, tetapi juga kemampuan 2021 tentang Program Sekolah Penggerak).
berpikir komputasi (computational thinking) Keputusan tersebut sesuai dengan prinsip
yang membangun keterampilan menyelesaikan fleksibilitas, namun tetap memperhatikan
masalah (problem solving), berpikir logis, kualitas pembelajaran yang berfokus pada
sistematis, mengolah dan menggunakan data, penguatan kompetensi. Perancangan kurikulum
serta kemampuan berpikir sistem (system Informatika SMP dan SMA Kelas X pun dilandasi
thinking). Mengingat pentingnya kemampuan- dengan kesadaran akan adanya tantangan
kemampuan tersebut untuk mengembangkan
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 53
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
ketersediaan guru ini. Untuk membantu guru mereka dapat mempertimbangkan kebutuhan
yang relatif baru mengajar mata pelajaran ini, peserta didik.
pemerintah menyediakan buku panduan guru
dan beragam contoh silabus/alur pembelajaran Pembebasan pengaturan muatan lokal ini
serta modul ajar. sesuai dengan prinsip fleksibel. Menyadari
bahwa setiap daerah dan satuan pendidikan
Muatan lokal dapat dikembangkan dalam memiliki visi misi pendidikan yang mungkin
bentuk yang lebih beragam, tidak harus berbeda dengan daerah/satuan pendidikan
menjadi satu mata pelajaran yang berdiri lainnya, maka menjadi wewenang daerah untuk
sendiri. Dalam Kurikulum 2013, muatan lokal menentukan bagaimana muatan pelajaran
merupakan satu mata pelajaran. Kebijakan yang berbasis pada konteks lokal tersebut
tersebut diubah dalam Kurikulum Merdeka, diorganisir dan diajarkan kepada peserta didik.
di mana muatan lokal dapat diajarkan melalui Berdasarkan umpan balik yang diperoleh dari
tiga cara yang dapat dipilih oleh satuan uji coba kurikulum ini di Sekolah Penggerak,
pendidikan, yaitu mengintegrasikan muatan sebagian besar sekolah mengajarkan muatan
lokal ke dalam mata pelajaran yang sudah lokal sebagai mata pelajaran tersendiri karena
ada, mengintegrasikan muatan lokal ke dalam telah diatur oleh Pemerintah Daerah masing-
projek penguatan profil pelajar Pancasila, masing, dan sisanya mengintegrasikan muatan
atau mengembangkan mata pelajaran khusus lokal dalam mata pelajaran lain atau dalam
muatan lokal seperti halnya dalam Kurikulum projek penguatan profil pelajar Pancasila.
2013. PIlihan ini diberikan kepada satuan
pendidikan dan/atau pemerintah daerah agar
2. Wewenang satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum
operasional
Kebijakan ini merefleksikan amanat Peraturan dalam pembagian wewenang antara
Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang pemerintah pusat dan satuan pendidikan dalam
Standar Nasional Pendidikan khususnya Pasal hal pengembangan kurikulum merupakan
38 yang menyatakan bahwa kerangka dasar kebijakan yang semakin banyak diterapkan di
kurikulum dan struktur kurikulum menjadi berbagai negara, bahkan negara-negara yang
landasan bagi pengembangan kurikulum yang sebenarnya jauh lebih kecil daripada Indonesia
lebih operasional di tingkat satuan pendidikan. (UNESCO, 2017a).
Pemerintah Pusat hanya mengatur muatan
pembelajaran yang wajib diajarkan di satuan Berbeda dengan Kurikulum 2013 yang
pendidikan beserta beban belajar untuk mengatur jumlah jam pelajaran per minggu,
masing-masing muatan tersebut dalam satu Kurikulum Merdeka menetapkan target jam
tahun ajaran (untuk pendidikan formal) atau satu pelajaran yang terakumulasi dalam satu
fase (untuk pendidikan kesetaraan). Fleksibilitas tahun. Hal ini dilakukan untuk memberikan
54
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
keleluasaan kepada satuan pendidikan untuk Kurikulum Merdeka memiliki keleluasaan
mengatur jadwal kegiatan pembelajaran untuk mengorganisasikan pembelajarannya,
secara lebih fleksibel. Sebagai contoh, saat tidak lagi diarahkan untuk menggunakan
ini sebagian sekolah menggunakan sistem pendekatan tematik. Dengan kata lain, satuan
belajar dalam satuan semester, namun ada pendidikan SD dapat menstruktur muatan
yang menggunakan sistem catur wulan dan pelajarannya menggunakan mata pelajaran
blok dengan rentang waktu yang berbeda. ataupun melanjutkan penggunaan pendekatan
Perbedaan ini sedikit banyak mempengaruhi tematik namun menyesuaikan dengan Capaian
jumlah hari belajar per tahun. Pengurangan Pembelajaran.
atau perubahan jumlah jam belajar juga
terjadi sebagai dampak dari situasi bencana Kebijakan pengembangan kurikulum
yang terpaksa harus menghentikan kegiatan operasional di satuan pendidikan ini
pembelajaran untuk beberapa waktu. sebenarnya sudah diinisiasi dalam Kurikulum
2006 yang dikenal juga sebagai Kurikulum
Amanat Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan
2021 yang mengatur pembagian wewenang demikian kebijakan tentang pengembangan
tentang kurikulum berimplikasi pada dua kurikulum operasional dalam Kurikulum
hal. Pertama, satuan pendidikan dan/atau Merdeka ini merupakan kelanjutan dari
pemerintah daerah dapat menambahkan kebijakan yang sudah ada. Besarnya negara
muatan pelajaran sesuai dengan konteks Indonesia dengan beragam konteks budaya
lokal, visi misi dan karakteristik satuan dan lingkungan menjadi salah satu alasan
pendidikan, dan kebutuhan peserta didik. utama pentingnya kontekstualisasi kurikulum
Kedua, satuan pendidikan dapat mengatur di tingkat satuan pendidikan. Dalam konteks
pengorganisasian pembelajaran baik berbasis yang sangat beragam ini, kurikulum yang
mata pelajaran, menggunakan unit-unit tematik tersentralisasi (centralized curriculum) bukan
atau terintegrasi. Namun demikian, untuk saja tidak efektif, tetapi juga secara alami
tiga mata pelajaran yaitu Pendidikan Agama tidak dapat dilakukan. Satuan pendidikan dan
dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan pendidik akan selalu melakukan penyesuaian
Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia, dengan situasi yang dihadapinya. Sehingga
satuan pendidikan tidak diperkenankan mengontrol penuh proses pembelajaran melalui
untuk meleburnya menjadi unit pelajaran kurikulum tersentralistik adalah upaya yang
dengan nama yang berbeda. Kebijakan ini tidak akan efektif (OECD 2020a; Valverde et
banyak dilakukan di berbagai negara untuk al., 2002) sebagaimana yang dijelaskan pada
menguatkan jati diri bangsa (Porter & Polikoff, bagian Kerangka Kurikulum di awal bab ini.
2008).
Evaluasi terhadap implementasi Kurikulum
Kebijakan ini selaras dengan semangat Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau
Merdeka Belajar dan prinsip fleksibilitas Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013
dalam pengembangan kurikulum. Berbeda menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum
dengan Kurikulum 2013 di mana kurikulum di satuan pendidikan masih banyak yang
SD menggunakan pendekatan tematik, sekadar formalitas untuk memenuhi tuntutan
satuan pendidikan yang menggunakan administrasi yang berujung pada salah satu
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 55
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
kriteria penilaian akreditasi sekolah. Akibatnya, Berdasarkan evaluasi tersebut, kebijakan terkait
dokumen kurikulum satuan pendidikan yang kurikulum operasional yang perlu dikuatkan
dihasilkan tidak benar-benar digunakan sebagai adalah penyederhanaan dokumen kurikulum
referensi perencanaan pembelajaran dan tidak operasional sebagai output dari proses
benar-benar mencerminkan pembelajaran perancangan dan refleksi pembelajaran di
yang sebenarnya terjadi. Setelah ditelaah lebih satuan pendidikan (dan proses ini lebih penting
mendalam, nampak bahwa salah satu faktor untuk dilakukan setiap satuan pendidikan
penting yang menyebabkan tidak efektifnya daripada produknya). Dengan kata lain,
pengembangan kurikulum satuan pendidikan dokumen yang perlu dihasilkan dari proses
adalah karena pengembangan kurikulum pengembangan kurikulum satuan pendidikan
satuan pendidikan ini lebih berfokus pada tidak menjadi beban kerja yang berlebihan,
format dokumen yang harus diisi oleh sekolah, sesuai kebutuhan satuan pendidikan sehingga
yang dinilai membebani guru terlalu berat. bermanfaat bagi mereka, dan mencerminkan
Karena fokus pada format dokumen, maka proses pembelajaran yang diharapkan atau
terjadi penyeragaman dokumen kurikulum sesuai dengan prinsip pembelajaran dan
satuan pendidikan. Hal ini bertentangan asesmen.
dengan prinsip yang paling mendasar dalam
pengembangan kurikulum satuan pendidikan, Selain itu, belajar dari tantangan yang dihadapi
yaitu keleluasaan setiap satuan pendidikan KTSP dan Kurikulum 2013, strategi yang
untuk mengembangkan kurikulumnya sesuai dilakukan untuk membantu satuan pendidikan
keunikan masing-masing. mengembangkan kurikulum operasional
sekolah, pemerintah menyediakan panduan
Selain itu, melalui diskusi kelompok dan beberapa contoh konkrit dokumen
terpumpun (DKT), pimpinan sekolah dan kurikulum operasional sekolah. Contoh-
guru menyampaikan bahwa tantangan dalam contoh tersebut bervariasi formatnya untuk
pengembangan kurikulum operasional juga menunjukkan bahwa tidak ada tuntutan
diakibatkan banyaknya aturan-aturan yang penyeragaman dokumen. Penilaian kualitas
mengikat sehingga sulit untuk mengembangkan kurikulum operasional perlu merujuk pada
kurikulum yang otentik dan kontekstual kesesuaian antara kurikulum operasional
karena aturan tersebut harus dipenuhi. Aturan dengan kriteria yang bersifat prinsip, bukan
tentang jam pelajaran, asesmen dan penilaian teknis. Prinsip yang dimaksud adalah (Gabriel &
hasil belajar siswa, serta aturan administrasi Farmer, 2009; Glatthorn et al., 2019): berpusat
lainnya yang diseragamkan membuat satuan pada peserta didik, kontekstual, esensial,
pendidikan memiliki ruang gerak yang sempit akuntabel (berbasis data dan logis) , dan
untuk mengembangkan kurikulum. melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
56
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
3. Struktur kurikulum dibagi menjadi intrakurikuler dan projek
penguatan profil pelajar Pancasila
Struktur kurikulum dalam Kurikulum Merdeka konten tidak bertambah, sesuai dengan prinsip
dibagi menjadi dua kegiatan utama, yaitu: (1) perancangan kurikulum.
kegiatan pembelajaran intrakurikuler yang
merupakan kegiatan rutin dan terjadwal Projek penguatan profil pelajar Pancasila
berdasarkan muatan pelajaran yang terstruktur, tidak menggantikan pendekatan pembelajaran
dan (2) kegiatan pembelajaran melalui projek berbasis projek (project-based learning)
untuk penguatan profil pelajar Pancasila. yang sudah diterapkan oleh sebagian guru.
Kebaruan dalam pembagian dua kegiatan ini Projek-projek tersebut bisa jadi berbasis
merujuk pada prinsip fokus pada kompetensi mata pelajaran atau sebagai unit pelajaran
dan karakter peserta didik melalui dua hal. terintegrasi dari dua atau lebih mata pelajaran.
Pertama, untuk menguatkan pendidikan Guru tetap dapat meneruskan pembelajaran
karakter, pembelajaran yang berorientasi penuh inkuiri yang mendukung penguatan dan
pada kompetensi fundamental dan karakter pengembangan kompetensi tersebut. Projek
perlu menjadi bagian dari struktur kurikulum ini dirancang sebagai upaya untuk menguatkan
agar mendapatkan perhatian penuh baik dari pengembangan profil pelajar Pancasila dengan
pendidik maupun peserta didik (OECD, 2020a). enam dimensinya: beriman, bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia,
Kedua, projek penguatan profil pelajar mandiri, berkebinekaan global, bergotong
Pancasila yang memberikan kesempatan royong, bernalar kritis, dan kreatif. Khusus
kepada peserta didik untuk mengeksplorasi untuk pembelajaran yang ditujukan untuk
isu-isu kontemporer seperti masalah penguatan profil pelajar Pancasila ini memang
lingkungan/pemanasan global dan gaya diarahkan untuk berbentuk projek, tidak kuliah/
hidup berkelanjutan, kebinekaan dan ceramah satu arah, dan tidak terjadwal secara
toleransi, kesehatan fisik dan mental rutin dalam daftar mata pelajaran seperti halnya
termasuk kesejahteraan diri (wellbeing), dan mata pelajaran (intrakurikuler).
sebagainya. Namun demikian, isu-isu ini tidak
diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri Pembelajaran berbasis projek memberikan
dan menambah beban belajar, melainkan kesempatan kepada siswa untuk
sebagai unit pembelajaran yang interdisipliner, mengeksplorasi suatu topik, isu, atau masalah
tanpa terikat dengan Capaian Pembelajaran tanpa ada sekat-sekat disiplin ilmu atau batasan
mata pelajaran ataupun materi yang sedang antar mata pelajaran. Hal ini dinilai sangat
dipelajari dalam mata pelajaran. Projek ini sesuai untuk pengembangan kompetensi Abad
pun tidak menambah jam pelajaran. Total jam 21 serta nilai-nilai atau karakter (OECD, 2018)
pelajaran yang ditempuh siswa sama dengan sesuai dengan apa yang dirumuskan dalam
Kurikulum 2013. Bedanya, projek dalam profil pelajar Pancasila. Ki Hadjar Dewantara
Kurikulum Merdeka mengambil waktu sekitar (2013) juga menekankan bahwa mempelajari
20 hingga 30% dari total jam pelajaran per pengetahuan saja tidak cukup, peserta didik
tahun. Dengan demikian, meskipun kompetensi perlu menggunakan pengetahuan tersebut
dan karakter dikuatkan, muatan pelajaran atau dalam kehidupan nyata, di mana mereka dapat
berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 57
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
Pendekatan pembelajaran yang mendekatkan multikulturalisme masyarakat lokal, Indonesia,
peserta didik dengan dunia nyata tidak hanya dan dunia; (3) kearifan lokal yang berkaitan
berguna untuk menerapkan ilmu pengetahuan, dengan budaya lokal dan perkembangannya;
tetapi juga menguatkan pemahaman peserta (4) kewirausahaan yang berkaitan dengan
didik akan ilmu pengetahuan yang telah kemampuan menyelesaikan masalah (problem
dipelajarinya, membangun minat belajar yang solving); (5) bangunlah jiwa dan raganya
lebih mendalam, serta kepedulian terhadap berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental
lingkungan sekitarnya. (kesejahteraan atau well being); (6) berekayasa
dan berteknologi untuk membangun NKRI; dan
Pencapaian profil pelajar Pancasila tidak cukup (7) suara demokrasi yang berkaitan dengan
hanya mengandalkan proses belajar-mengajar pengembangan kemampuan menjadi warga
dalam program intrakurikuler. Pembelajaran negara dan dunia di alam demokrasi.
intrakurikuler yang dilakukan secara rutin
memiliki keterbatasan untuk menerapkan Pembelajaran berbasis projek biasanya
pembelajaran yang sangat kontekstual, berlangsung untuk rentang waktu yang
dan intrakurikuler juga memiliki Capaian bervariasi, bisa satu minggu namun bisa
Pembelajaran yang harus dicapai sehingga juga berlangsung sepanjang satu semester
tidak dapat fokus sepenuhnya pada nilai-nilai bergantung pada tujuan, ruang lingkup,
dalam profil pelajar Pancasila. Sementara itu, dan kompleksitasnya. Kegiatan ini biasanya
projek dilakukan di luar jadwal pelajaran rutin, meliputi proses menginvestigasi/meneliti
lebih fleksibel dan tidak seformal kegiatan atau melakukan eksperimen untuk menjawab
pembelajaran intrakurikuler, dan tidak harus pertanyaan yang otentik, menarik, dan
berkaitan erat dengan Capaian Pembelajaran kompleks bagi peserta didik (Murdoch, 2020).
mata pelajaran apapun. Target capaiannya Oleh karena itu, alokasi waktu jam pelajaran
adalah profil pelajar Pancasila sesuai dengan untuk projek penguatan profil pelajar Pancasila
tahap perkembangan peserta didik. Situasi ditetapkan per tahun, agar satuan pendidikan
belajar yang seperti ini dinilai efektif untuk dapat mengatur alokasi waktu untuk
mendorong pengembangan karakter dan menyelenggarakan dua projek (SD, SMP) atau
kompetensi yang mendalam (Miller, 2018). tiga projek dalam setahun (SMA).
Pemerintah menetapkan tujuh tema untuk Projek penguatan profil pelajar Pancasila
projek dan satuan pendidikan dapat adalah suatu kebaruan yang signifikan dalam
memilih tema-tema tersebut yang jumlahnya Kurikulum Merdeka sebab sebelumnya
disesuaikan dengan jenjang pendidikan. pembelajaran berbasis projek tidak diatur oleh
Ketujuh tema tersebut berlaku untuk beberapa pemerintah tetapi mengandalkan inisiatif guru
tahun ke depan dan dapat diganti oleh untuk menggunakan pendekatan tersebut.
Pemerintah berdasarkan evaluasi dan relevansi Perancangan pembelajaran berbasis projek
tema dengan perkembangan zaman. Tujuh bukanlah hal yang sederhana dan mudah
tema yang dapat dipilih tersebut adalah dilakukan. Oleh karena itu, pemerintah perlu
tema-tema yang berkaitan dengan isu-isu membantu satuan pendidikan melalui pelatihan,
kontemporer, yaitu: (1) gaya hidup berkelanjutan pendampingan, penyediaan panduan yang
yang berkaitan dengan masalah lingkungan dan dapat digunakan guru untuk memfasilitasi
pemanasan global; (2) bhineka tunggal ika yang pembelajaran ini, dan juga contoh-contoh
berkaitan dengan spiritualitas, toleransi dan konkrit bagaimana projek dirancang dan dinilai.
58
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi uji kewirausahaan juga digunakan namun dengan
coba kurikulum di Sekolah Penggerak, contoh- pengembangan yang berbeda. Di SMP ini
contoh projek ini memberikan inspirasi kepada projek penguatan profil pelajar Pancasila
guru untuk mengembangkan projek sesuai dilaksanakan dengan mengintegrasikan
dengan konteks masing-masing. beberapa mata pelajaran dalam pembelajaran
intrakurikuler. Sebagai contoh, kegiatan
Di salah satu SD di Bandung Barat, Provinsi membuat teks prosedur (mata pelajaran Bahasa
Jawa Barat, kepala sekolah menyampaikan Indonesia) digabungkan dengan olahraga dan
bahwa ia mengunduh contoh projek dengan prakarya digabungkan, dibuat seolah-olah
tema kewirausahaan. Ia kemudian mengajak seperti acara TV Masterchef, sebuah kompetisi
para guru dan sekelompok mahasiswa LPTK memasak. Teks prosedur merupakan unsur
setempat untuk memodifikasi contoh tersebut mata pelajaran Bahasa Indonesia, memasak
agar lebih relevan dengan konteks dan olahan merupakan unsur mata pelajaran
sesuai dengan karakter peserta didik mereka Prakarya, untuk unsur mata pelajaran Olahraga
dengan latar belakang keluarga petani dan dinilai dari gizinya pada masakannya, dan unsur
peternak. Hasilnya, siswa di sekolah tersebut mata pelajaran Matematika dinilai dari waktu
mengeksplorasi produksi susu sapi sesuai yang digunakan dalam memasak.
dengan keunggulan daerahnya. Di SMP di
wilayah yang sama, tema yang sama yaitu
4. Mata Pelajaran Pilihan pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner).
Dengan memilih, peserta didik belajar untuk
Memberikan pilihan terkait mata pelajaran memegang kendali atas proses belajarnya
kepada satuan pendidikan dan peserta didik secara mandiri, termasuk menentukan tujuan
merupakan salah satu strategi yang dianjurkan personal, memotivasi diri untuk belajar,
untuk menghindari kepadatan kurikulum menyusun strategi, dan berperilaku yang
dan sejalan dengan prinsip fleksibilitas mengarah pada pencapaian tujuan tersebut.
(OECD, 2020a). Dalam Kurikulum Merdeka, Woolfolk menekankan bahwa choice, atau
memberikan pilihan mata pelajaran juga kesempatan untuk menentukan pilihan, adalah
mencerminkan semangat Merdeka Belajar yang hal yang sangat penting dalam membangun
memberikan fleksibilitas dan otonomi lebih kemampuan belajar secara mandiri (self-
besar kepada satuan pendidikan dan peserta regulated learning). Dengan demikian,
didik. Pilihan ini juga semakin menguatkan kurikulum perlu memberikan kesempatan untuk
wewenang satuan pendidikan untuk memilih kepada peserta didik sesuai dengan
mengembangkan kurikulum operasional yang minat, bakat, dan aspirasi masing-masing.
sesuai dengan konteks, karakteristisk, serta
kebutuhan belajar peserta didik. Beberapa mata pelajaran perlu menjadi mata
pelajaran wajib atas pertimbangan perannya
Dari perspektif teori belajar (Eggen & Kauchak, dalam mencapai Tujuan Pendidikan Nasional,
2016; Woolfolk, 2017), memberikan pilihan membangun jati diri bangsa, serta perannya
kepada peserta didik merupakan strategi
untuk membangun kompetensi untuk menjadi
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 59
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
dalam mengembangkan kompetensi yang pelajaran dalam empat kelompok disiplin ilmu:
fundamental untuk hidup secara produktif MIPA, IPS, Bahasa, dan Prakarya & Vokasi.
sebagai warga negara (Porter & Polikoff, Kelompok ini meneruskan sistem peminatan
2008). Atas pertimbangan tersebut, dalam yang telah dilakukan sejak lama dalam sistem
Kurikulum Merdeka beberapa mata pelajaran pendidikan Indonesia sebagaimana yang
diwajibkan di seluruh jenjang dan jenis diperlihatkan dalam Gambar 3.4. Menelusuri
pendidikan,sementara beberapa mata sejarah sistem penjurusan/peminatan di jenjang
pelajaran, terutama di SMA/MA, dapat menjadi SMA sejak setelah kemerdekaan Republik
pilihan yang disesuaikan dengan minat, bakat, Indonesia, sistem ini telah diterapkan dengan
serta aspirasi individu. menggunakan tipologi yang sama, yaitu disiplin
ilmu yang pada umumnya dibagi menjadi
Pemilihan mata pelajaran di SMA/MA kelas jurusan/kelompok atau program peminatan:
XI dan XII diatur berdasarkan kelompok Bahasa, IPA (atau disebut sebagai Ilmu Pasti
disiplin ilmu. Dalam Kurikulum Merdeka, dan Ilmu Alam pada Kurikulum 1950), dan IPS.
siswa SMA/MA menentukan pilihan mata
Gambar 3.13. Sejarah Peminatan SMA di Indonesia
(Sumber: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2017)
60
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
Perubahan kurikulum nasional dari waktu seleksi inilah kemudian yang secara empiris
ke waktu tidak banyak mengubah tipologi menjadikan program peminatan serupa dengan
ini meskipun ada pembagian yang lebih tracking system. Sistem jalur yang diterapkan di
detail, misalnya pada Kurikulum 1984 yang banyak negara pada jenjang SMA melestarikan
memisahkan antara penekanan pada mata kesenjangan kesempatan pendidikan antar
pelajaran Fisika (program A1) dan Biologi siswa di sekolah sebab jalur-jalur tersebut pada
(program A2) dari disiplin ilmu pengetahuan kenyataannya tidak bernilai setara (Oakes cit.
alam. Mekanisme pemilihannya juga sama, Arum et al., 2015). Dalam konteks Indonesia,
yaitu setiap individu mengikuti satu program. jalur atau peminatan IPA cenderung dinilai
Setiap program memiliki jalur masing-masing, lebih baik daripada yang lain, dan hal ini bukan
dan siswa tidak dapat belajar lintas jalur. Dalam saja oleh siswa dan orang tua, tetapi juga oleh
Kurikulum 2013 siswa boleh mengambil mata perguruan tinggi. Untuk masuk ke perguruan
pelajaran lintas minat, namun pada hakikatnya tinggi, lulusan dari peminatan IPA memiliki lebih
mereka tetap dikategorikan masuk dalam salah banyak peluang untuk memilih program studi
satu program peminatan. Sebagai contoh, siswa dan perguruan tinggi yang dituju (misalnya
dari program IPA dapat mengikuti satu mata syarat masuk ke Akademi Militer adalah lulusan
pelajaran dari program IPS. Namun demikian dari program peminatan IPA), diikuti dengan
siswa tersebut tetap dianggap sebagai siswa lulusan dari IPS, kemudian yang paling terbatas
program IPA. opsinya adalah lulusan dari Bahasa. Hal inilah
yang mendorong kesenjangan kesempatan
Indonesia memiliki sejarah panjang pendidikan karena jalur yang dipilih siswa,
menerapkan sistem jalur (tracking system) ataupun terpaksa ditempuh oleh siswa sebagai
pada jenjang SMA. Setelah siswa berada konsekuensi adanya seleksi, mempengaruhi
di suatu jalur (track) IPA, IPS, atau Bahasa, kesempatan belajar mereka berikutnya.
maka sulit bagi mereka untuk berpindah jalur.
Akibatnya, program peminatan yang dipilih Sistem jalur (tracking system) juga dikritik
peserta didik (atau dipilihkan untuknya) dapat dapat membuat peserta didik merasa
berdampak panjang hingga program studi kemampuan akademiknya rendah. Akibatnya,
yang dapat mereka akses di perguruan tinggi. terbangun pola pikir yang tidak bertumbuh
Istilah tracking system merupakan metode (fixed mindset), yaitu percaya bahwa dirinya
yang digunakan untuk mengelompokkan siswa tidak dapat mencapai prestasi akademik
menurut kemampuannya, yang biasanya dinilai sebagaimana teman-temannya di program
melalui laporan hasil belajar, tes, atau bahkan peminatan yang dianggap lebih baik atau lebih
persepsi dirinya tentang kemampuannya (Arum, bergengsi. Mereka yang tidak masuk program
Beattie, & Ford, 2015). IPA kemudian merasa dirinya tidak berbakat
Matematika, padahal kompetensi tersebut
Meskipun program peminatan selama ini sebenarnya dapat dibangun (OECD, 2021).
memberikan peluang kepada siswa untuk
menentukan pilihan jalur yang akan mereka Di sisi lain, peminatan merupakan rancangan
tempuh, namun seringkali proses seleksi kurikulum yang memberikan fleksibilitas untuk
dilakukan oleh sekolah karena peminat suatu peserta didik usia remaja yang sudah mulai
program, biasanya IPA, terlalu banyak. Proses mengeksplorasi minat, bakat, dan aspirasi
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 61
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
mereka. Mereka mulai perlu mendalami bidang- selama di SMA tanpa harus terburu-buru
bidang ilmu yang ingin mereka tekuni. Artinya, mengambil keputusan segera sebelum masuk
menghilangkan peminatan di jenjang SMA SMA seperti yang perlu dilakukan dalam
bukanlah opsi yang sejalan dengan prinsip Kurikulum 2013. Memperdalam sekurang-
rancangan Kurikulum Merdeka yang fleksibel kurangnya dua disiplin ilmu, lulusan SMA juga
dan fokus pada kompetensi. Oleh karena itu, diharapkan memiliki kompetensi yang lebih
dalam Kurikulum Merdeka peminatan ini tidak holistik atau menyeluruh.
dihapuskan, namun sistemnya yang diubah.
Kurikulum yang memberikan kesempatan
Dalam Kurikulum Merdeka, peminatan dimulai siswa untuk memilih perlu dirancang dengan
pada kelas XI, berbeda dengan Kurikulum 2013, memperhatikan kesiapan satuan pendidikan
namun serupa dengan beberapa kurikulum serta karakteristik mata pelajaran. Memberikan
nasional sebelumnya, misalnya Kurikulum pilihan mata pelajaran yang lebih beragam
1984, Kurikulum 2004, dan Kurikulum 2006 tentu membutuhkan sumber daya manusia
(lihat Gambar 3.4). Pengelompokan mata guru serta infrastruktur yang lebih besar.
pelajaran berdasarkan disiplin ilmu masih Selain itu, sistem pemilihan mata pelajaran
dilakukan dalam Kurikulum Merdeka, di mana juga perlu dibangun di setiap sekolah dan
ada 4 kelompok mata pelajaran pilihan yaitu: guru, terutama guru BK yang diharapkan
Matematika dan IPA (MIPA), IPS, Bahasa, memainkan peranan baru dalam memfasilitasi
dan Vokasi & Prakarya. Bedanya dengan siswa untuk mata pelajaran ini. Hal ini bukan
kurikulum-kurikulum nasional sebelumnya, perubahan yang sederhana, oleh karena itu
dalam Kurikulum Merdeka peminatan tidak pemerintah memberikan dukungan kepada
lagi menjadi program yang tersekat-sekat satuan pendidikan, salah satunya dengan
melainkan pemilihan mata pelajaran sesuai memberikan beberapa contoh kebijakan dan
minat, bakat, dan aspirasi siswa. Siswa memilih mekanisme pemilihan mata pelajaran yang
empat mata pelajaran minimal dari dua dapat diadaptasi dan diadopsi oleh sekolah-
kelompok mata pelajaran pilihan. Dengan kata sekolah, atau menjadi inspirasi bagi mereka
lain, siswa tidak lagi memilih program melainkan dalam mengembangkan sistem tersebut.
memilih mata pelajaran, maka tidak ada lagi
track atau jalur di mana siswa dikelompokkan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
perubahan struktur kurikulum secara umum
Dalam Kurikulum Merdeka, pemilihan mata selaras dengan prinsip perancangan kurikulum,
pelajaran dari dua atau lebih kelompok di mana struktur kurikulum melanjutkan upaya
mata pelajaran pilihan akan memberikan yang telah mulai pada kurikulum-kurikulum
kesempatan kepada seluruh siswa untuk nasional sebelumnya yaitu fokus pada
mengembangkan kompetensi yang dipelajari kompetensi dan karakter, fleksibel, merujuk
dari sekurang-kurangnya dua disiplin ilmu. pada hasil kajian, dan sedapat mungkin
Masing-masing disiplin ilmu memiliki ciri khas sederhana agar dapat diimplementasikan
yang mengembangkan kompetensi dan sesuai dengan kesiapan pendidik dan satuan
kemampuan berpikir yang berbeda-beda. Hal pendidikan. Sesuai juga dengan prinsip
ini memberikan kesempatan untuk siswa terus perancangan kurikulum, apabila perubahan
mengeksplorasi minat, bakat, dan aspirasinya yang dibutuhkan adalah perubahan yang
62
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
kompleks, maka opsi yang dipilih bukanlah untuk mengimplementasikan kurikulum ini.
menghindarinya, namun memberikan bantuan Di antara contoh-contoh yang dibutuhkan
kepada pendidik untuk secara bertahap adalah beragam contoh projek penguatan
dapat mengimplementasikannya. Oleh profil pelajar Pancasila dan mekanisme
karena itu, pemerintah perlu bergotong pengaturan pemilihan mata pelajaran di SMA
royong dengan pendidik, satuan pendidikan, yang merupakan komponen yang baru dalam
dan masyarakat untuk mengembangkan struktur Kurikulum Merdeka.
contoh-contoh yang memandu pendidik
5. Perubahan Struktur Kurikulum Menurut Jenjang dan Jenis
Pendidikan
Empat perubahan utama dalam struktur sistem dan komputasional melalui mata
kurikulum secara umum telah dijelaskan pada pelajaran Informatika yang diwajibkan.
bagian sebelumnya, yaitu adanya perubahan
status mata pelajaran, penguatan wewenang • SMA: peminatan tidak berupa program
satuan pendidikan dan pendidik untuk yang tersekat-sekat atau sistem jalur
mengembangkan kurikulum operasional, (tracking system) melainkan pemilihan
pembagian struktur kurikulum menjadi dua mata pelajaran mulai kelas XI.
yaitu intrakurikuler dan projek penguatan
profil pelajar Pancasila, dan adanya mata • SMK: struktur kurikulum yang lebih
pelajaran pilihan. Berikut ini adalah kesimpulan sederhana dengan dua kelompok mata
perubahan struktur kurikulum spesifik untuk pelajaran, yaitu Umum dan Kejuruan.
setiap jenjang dan jenis pendidikan: Praktek kerja lapangan menjadi mata
pelajaran wajib minimal 1 semester. Siswa
• PAUD: penguatan pembelajaran melalui dapat memilih mata pelajaran di luar
kegiatan bermain dan penguatan dasar- program keahliannya.
dasar literasi terutama untuk membangun
minat dan kegemaran membaca. • SLB: penguatan pembelajaran yang
disesuaikan dengan karakteristik siswa
• SD: penguatan fondasi literasi dan untuk menguatkan kecakapan hidup dan
numerasi serta kemampuan berpikir secara kemandirian.
inkuiri dengan mengintegrasikan ilmu
pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan • PKBM: satuan unit pembelajaran
sosial menjadi satu mata pelajaran, disebut menggunakan sistem satuan kredit
IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial). kompetensi (SKK). Struktur kurikulum
Bahasa Inggris semakin dianjurkan untuk pendidikan kesetaraan terdiri mata
mulai diajarkan di jenjang SD. pelajaran kelompok umum dan kelompok
pemberdayaan dan keterampilan berbasis
• SMP: penguatan kompetensi teknologi profil pelajar Pancasila.
digital termasuk kemampuan berpikir
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 63
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
E. Prinsip Pembelajaran dan Asesmen
Prinsip Pembelajaran dan Asesmen adalah Pemerintah hanya mengatur prinsip dari
bagian dari kerangka kurikulum yang pembelajaran dan asesmen. Artinya, tidak ada
utamanya merujuk pada Standar Proses arahan yang preskriptif atau aturan yang konkrit
dan Standar Penilaian dari Standar Nasional tentang bagaimana guru harus membuat
Pendidikan. Prinsip Pembelajaran dan Asesmen perencanaan, mengajar, dan melakukan
dirumuskan untuk menjadi rujukan bagi asesmen. Dengan demikian, pembelajaran dan
seluruh pemangku kepentingan yang berkaitan asesmen dapat beragam sesuai dengan kondisi
dengan pembelajaran dan asesmen, terutama dan konteks pembelajaran di masing-masing
guru, pimpinan sekolah, dan termasuk juga kelas dan satuan pendidikan, namun semuanya
pengembang kurikulum dan perangkat ajar. berlandaskan pada prinsip-prinsip yang sama.
Di satuan pendidikan, Prinsip Pembelajaran Hal ini sejalan dengan semangat Merdeka
dan Asesmen perlu menjadi landasan dalam Belajar dan prinsip perancangan kurikulum
merancang kebijakan dan praktik pembelajaran yang fleksibel dan memberikan otonomi
dan asesmen kelas. kepada satuan pendidikan dan guru.
Prinsip Pembelajaran dan Asesmen dirancang Pendekatan kebijakan yang mengatur prinsip
dengan pertimbangan bahwa menentapkan pembelajaran dan prinsip asesmen dalam
Capaian Pembelajaran saja tidak cukup untuk Kurikulum Merdeka juga digunakan di beberapa
dapat mencapai karakter dan kompetensi negara, seperti Finlandia yang memuat prinsip
yang perlu dikembangkan dalam setiap pembelajaran dan prinsip asesmen dalam
diri pelajar Pancasila. Karakter juga secara dokumen kurikulum mereka (Finnish National
efektif terbangun melalui pengalaman belajar, Board of Education, 2014), Selandia Baru
interaksi antara guru dan siswa, peraturan dan (https://nzcurriculum.tki.org.nz/Principles),
pembiasaan (routine) dalam kelas, dan strategi dan salah satu negara bagian di Kanada yaitu
pengelolaan kelas (classroom management). Ontario (Ontario Ministry of Education, 2010).
Selain itu, apa yang dinilai dari kegiatan Dalam dokumen National Core Curriculum for
belajar yang siswa alami serta bagaimana hasil Basic Education 2014, pemerintah Finlandia
asesmen digunakan untuk kepentingan belajar memaparkan secara komprehensif asesmen
mereka pun akan mempengaruhi karakter yang diharapkan untuk diimplementasikan
siswa, terutama sikap mereka terhadap belajar di sekolah. Paparan ini tidak menjelaskan
dan perkembangan pola pikir bertumbuh teknik-teknik asesmen yang perlu diikuti guru,
(growth mindset) (OECD 2021a). Oleh karena melainkan pemahaman tentang pentingnya
itu, aktivitas pembelajaran dan asesmen perlu asesmen untuk membangun budaya yang
dirancang dan dikelola dengan baik, sehingga mendukung pembelajaran. Untuk mencapai
pemerintah perlu memberikan panduan yang hal tersebut, bab asesmen dalam dokumen
tidak bersifat teknis namun berupa prinsip- standar Finlandia tersebut menjelaskan
prinsip agar para pendidik dapat memahami prinsip-prinsip asesmen yang perlu melandasi
apa yang diharapkan dari pembelajaran dan kebijakan dan praktik asesmen di sekolah dan
asesmen yang mereka rancang dan terapkan. kelas. Demikian pula dalam dokumen kebijakan
64
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
asesmen, evaluasi, dan pelaporan hasil belajar yang baru dan relearning adalah penguatan
yang dikeluarkan pemerintah Ontario, Canada. hal yang telah dipelajarinya. Sementara itu,
Pemerintah Ontario menetapkan prinsip-prinsip unlearning adalah suatu proses belajar hal baru
asesmen beserta konteks pembelajarannya. yang mengoreksi hal yang semula dipahami
atau merombak konstruksi pemahaman
Belajar dari strategi yang dilakukan negara mereka (Eggen dan Kauchak, 2016). Proses
maju tersebut, Kemendikbudristek menerbitkan learning, relearning, dan unlearning ini tidak
Panduan Pembelajaran dan Asesmen sebagai sebatas proses yang terjadi di ruang kelas;
pegangan guru untuk mendapatkan gambaran setiap peserta didik mengkonstruksikan
yang lebih konkrit dan sebagai inspirasi untuk pemahamannya melalui berbagai proses belajar
mengembangkan pembelajaran dan asesmen. baik belajar di ruang kelas, luar kelas, bahkan
Hal-hal yang disampaikan dalam panduan juga di luar sekolah, sehingga tahap capaian
tersebut sama sekali tidak mengikat sebagai pemahaman anak-anak di kelas yang sama bisa
aturan, melainkan berupa contoh-contoh yang berbeda-beda, meskipun usia mereka relatif
dapat diikuti atau dimodifikasi. sama. Hal ini melandasi prinsip pembelajaran
yang perlu memperhatikan keberagaman,
Prinsip pembelajaran yang dikembangkan bukan saja keragaman antar daerah atau
tidak lepas dari pengaruh pandangan satuan pendidikan, tetapi juga antar individu
Pendidikan Ki Hajar Dewantara, terutama peserta didik.
tentang Panca Dharma dan sistem among.
Panca Dharma adalah pandangan bahwa Oleh karena pemahaman yang telah dimiliki
pendidikan adalah untuk transfer budaya antar (existing understanding) setiap individu peserta
generasi yang memajukan budaya, namun didik bisa jadi bervariasi, maka asesmen
tetap dengan identitas khas bangsa menuju formatif menjadi penting karena asesmen
ke arah keseluruhan hidup kemanusiaan. ini, atau dikenal juga sebagai asesmen kelas
Pendidikan harus memberikan kemerdekaan (classroom assessment), memberikan informasi
pada anak-anak menuju kepada keluhuran tentang kompetensi atau pemahaman yang
dan kebahagiaan hidup. Sistem among adalah telah dicapai peserta didik. Umpan balik
model pembelajaran yang menerapkan nilai- pembelajaran adalah komponen yang sangat
nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso penting dalam asesmen formatif karena
sung tulodo), membangun kemauan (ing digunakan oleh pendidik dan peserta didik
madyo mangun karso), dan mengembangkan dalam menilai diri mereka dan satu sama lain.
kreativitas peserta didik dalam proses Pendidik kemudian dapat memodifikasi rencana
pembelajaran (tut wuri handayani) (Dewantara, pembelajaran dan aktivitas belajar peserta
2013). didik berdasarkan hasil umpan balik asesmen
formatif tersebut (Lambert dan Lines, 2000).
Selaras dengan Capaian Pembelajaran, Prinsip Singkatnya, umpan balik dari asesmen formatif
Pembelajaran dan Asesmen juga dipengaruhi digunakan sebagai landasan untuk merancang
oleh teori belajar konstruktivisme. Menurut teori pembelajaran termasuk tujuan, materi, dan
ini, proses belajar adalah proses konstruksi dan aktivitas yang akan dilakukan. Oleh karena itu,
rekonstruksi pemahaman yang berlangsung proses pembelajaran dan asesmen formatif
terus menerus. Proses pembelajaran ini dikenal adalah dua hal yang saling berkaitan erat, dan
sebagai learning, relearning, dan unlearning. hal ini dinyatakan dalam Prinsip Pembelajaran
Proses learning adalah proses belajar suatu hal dan Asesmen.
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 65
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
1. Pembelajaran sesuai tahap capaian peserta didik
Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya dan menjadi bahan pertimbangan pendidik
keterkaitan pembelajaran dengan asesmen, dalam menentukan apakah individu-individu
terutama asesmen formatif, sebagai suatu peserta didik tersebut siap untuk mempelajari
siklus belajar. Menurut Black dan rekan-rekan materi yang lebih kompleks. Dengan
(2002), asesmen formatif adalah segala demikian, pembelajaran yang berorientasi
bentuk asesmen yang tujuan utamanya adalah pada kompetensi membutuhkan asesmen
untuk meningkatkan kualitas proses belajar yang bervariasi dan berkala. Pendekatan
peserta didik. Tujuan utamanya adalah untuk pembelajaran seperti inilah yang sangat
pembelajaran, bukan untuk kepentingan dikuatkan dalam Kurikulum Merdeka.
akuntabilitas, sertifikasi, ataupun meranking
capaian peserta didik, guru, dan satuan Terkait Prinsip Pembelajaran dan Asesmen,
pendidikan. Asesmen formatif dengan demikian teori konstruktivisme juga menekankan
ditentukan oleh tujuannya, bukan instrumen pentingnya keselarasan antara asesmen
atau mekanismenya. Bentuk atau instrumen dua dengan tujuan pembelajaran yang ingin
atau lebih asesmen bisa serupa, namun apabila dicapai. Keselarasan atau alignment ini
tujuan salah satu asesmen tersebut untuk bermakna bahwa metode pembelajaran
menentukan kenaikan kelas, misalnya, maka dan asesmen harus diselaraskan dengan
asesmen tersebut bukan asesmen formatif, capaian pembelajaran yang diinginkan.
melainkan asesmen sumatif. Oleh karena itu, Jika tujuan pembelajaran yang ditetapkan
Prinsip Asesmen dalam Kurikulum Merdeka adalah membentuk peserta didik yang
tidak menekankan pada metode yang konkrit, kreatif, maka metode pembelajaran yang
melainkan pada tujuan serta fungsi asesmen dirancang harus memfasilitasi munculnya ide
sebagai umpan balik untuk meningkatkan atau gagasan baru, sehingga penilaian yang
kualitas pembelajaran. dipilih memfasilitasi respon yang bervariasi
dan lebih otentik. Asesmen otentik dinilai
Berdasarkan fungsi asesmen formatif sesuai untuk menilai kompetensi esensial
tersebut, Prinsip Pembelajaran dan Asesmen dan untuk memantau keterampilan berpikir
menekankan pentingnya pengembangan yang kompleks, di mana materi yang dipelajari
strategi pembelajaran sesuai dengan tahap peserta didik dikaitkan dengan konteks riil.
capaian belajar peserta didik atau yang dikenal Penilaian otentik dikembangkan berdasarkan
juga dengan istilah teaching at the right level. pemahaman bahwa untuk menjadi kompeten,
Pembelajaran ini dilakukan dengan memberikan setiap peserta didik perlu memiliki kecakapan
materi pembelajaran yang bervariasi sesuai dalam merespon, memecahkan masalah, dan
dengan pemahaman peserta didik. Tujuan dari mengambil langkah terhadap isu-isu yang nyata
diferensiasi ini adalah agar setiap anak dapat terjadi di dunia. Oleh karena itu, pembelajaran
mencapai kompetensi yang diharapkan dan perlu dirancang sedemikian rupa agar
dasar dari penentuan materi pembelajaran kompetensi tersebut terbangun melalui tugas-
tersebut adalah asesmen formatif. Asesmen tugas yang bermakna dan relevan dengan
formatif juga digunakan secara berkala untuk dunia nyata, dan asesmen perlu dirancang
memantau perkembangan setiap peserta didik untuk memantau kemampuan tersebut.
66
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
Penilaian otentik dapat dilakukan melalui Kebijakan untuk mengatur prinsip-prinsip
berbagai teknik penilaian seperti penilaian dalam melakukan pembelajaran dan asesmen
produk, penilaian projek, penilaian unjuk kerja, tanpa petunjuk atau aturan yang lebih teknis
dan penilaian portofolio. selaras dengan upaya untuk mendorong
pengembangan kurikulum operasional
Prinsip pembelajaran dan asesmen yang di satuan pendidikan. Apabila praktik
dirancang berlaku untuk seluruh jenjang dan pembelajaran dan asesmen terlalu dibatasi oleh
jenis pendidikan, termasuk pendidikan anak regulasi di tingkat nasional, satuan pendidikan
usia dini (PAUD). Dalam salah satu prinsip akan mengalami kesulitan untuk secara kreatif
pembelajaran dinyatakan bahwa pembelajaran dan leluasa mengembangkan kurikulum dan
dirancang dengan mempertimbangkan tahap aktivitas pembelajaran yang kontekstual,
perkembangan sehingga pembelajaran menjadi bermakna, relevan, dan menyenangkan bagi
bermakna dan menyenangkan. Di tingkat PAUD, peserta didik. Salah satu tantangan dalam
hal ini dikaitkan dengan kegiatan bermain- pengembangan pembelajaran yang kontekstual
belajar. Menurut Sahlberg dan Doyle (2019), dalam Kurikulum 2013 adalah karena arahan
bermain adalah hal yang esensial bagi anak tentang pembelajaran dan asesmen yang
untuk mengembangkan diri, karena melalui cukup terperinci. Sebagai contoh, penilaian
bermain mereka belajar tentang diri mereka hasil belajar peserta didik dalam Kurikulum
sendiri dan dunia sekitar mereka. Berdasarkan 2013 diatur terperinci dan menuntut guru untuk
kajian yang dilakukan Sahlberg dan Doyle, melakukan penilaian yang begitu banyak,
reformasi kurikulum PAUD pada kurun waktu karena adanya pemisahan antara pengetahuan
5 tahun terakhir di beberapa negara seperti dan keterampilan. Selain itu, kriteria kompetensi
Amerika Serikat mengarah pada penguatan minimum (KKM) yang menentukan apakah
kegiatan bermain. World Bank (2017) juga seorang peserta didik dianggap layak untuk
menekankan bahwa perkembangan kognitif melanjutkan pembelajaran pun diatur cukup
anak usia dini akan lebih optimal apabila ketat, dengan menggunakan skor angka
kegiatan mereka dipenuhi dengan eksplorasi, (rentang 1-100) dan penilaian deskriptif.
bermain, dan berinteraksi dengan teman Penghitungan skor atau nilai akhir semester
sebayanya dan juga dengan orang dewasa pun diatur oleh pemerintah pusat. Tantangan
yang mengasuh mereka, yaitu orang tua dan yang dialami inilah yang ingin diselesaikan
guru. melalui Kurikulum Merdeka, sesuai dengan
semangat Merdeka Belajar.
F. Perangkat Ajar yang berlaku dalam pembelajaran. Satuan
pendidikan yang tidak menggunakan buku teks
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang utama akan dikenai sanksi administratif berupa
Sistem Perbukuan mengatur dalam Pasal peringatan tertulis, penangguhan bantuan
65 bahwa buku teks utama yang diterbitkan pendidikan, penghentian bantuan pendidikan,
oleh Pemerintah Pusat wajib digunakan
satuan pendidikan sesuai dengan kurikulum
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 67
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
perekomendasian penurunan peringkat dan/ modul ajar, video pembelajaran, serta bentuk
atau pencabutan akreditasi, penghentian lainnya. Tujuannya adalah untuk membantu
sementara kegiatan penyelenggaraan satuan pendidik yang membutuhkan referensi atau
pendidikan, atau pembekuan kegiatan inspirasi dalam pengajaran. Oleh karena itu,
penyelenggaraan satuan pendidikan. Dalam selain buku teks utama dan buku panduan guru,
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2019 Pemerintah Pusat juga menyediakan contoh-
Pasal 53 kemudian menyatakan bahwa contoh modul ajar, contoh-contoh silabus
selain menggunakan buku teks utama yang yang menjelaskan alur tujuan pembelajaran,
disediakan pemerintah, satuan pendidikan contoh-contoh panduan projek penguatan profil
dapat menggunakan buku teks pendamping pelajar Pancasila, contoh-contoh kurikulum
dan/atau buku nonteks yang telah disahkan operasional, contoh-contoh asesmen kelas
oleh Pemerintah Pusat. untuk keperluan diagnostik kesiapan peserta
didik, bahkan contoh-contoh mekanisme
Kedua peraturan tersebut menunjukkan bahwa pengaturan pemilihan mata pelajaran untuk
buku teks utama wajib digunakan pendidik. kelas XI dan XII.
Namun demikian, proses pembelajaran yang
diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Ada tiga perangkat ajar yang baru
dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 dikembangkan dalam Kurikulum Merdeka,
tentang Standar Proses Pendidikan Dasar yaitu contoh-contoh modul ajar, alur tujuan
dan Menengah, dinyatakan bahwa buku teks pembelajaran, dan projek penguatan profil
pelajaran digunakan untuk meningkatkan pelajar Pancasila. Modul ajar merupakan
efisiensi dan efektifitas pembelajaran, pengembangan dari rencana pelaksanaan
sementara sumber belajar dapat berupa pembelajaran (RPP) yang dilengkapi dengan
buku, media cetak dan elektronik, alam panduan yang lebih terperinci, termasuk
sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan. lembar kegiatan siswa dan asesmen untuk
Dengan demikian, dua hal dapat disimpulkan mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran.
dari peraturan-peraturan tersebut, yaitu: (1) Disebut sebagai modul karena perangkat
buku teks utama wajib digunakan, namun ini dapat digunakan secara modular.
fungsinya dapat sebagai salah satu referensi Dengan adanya modul ajar ini, guru dapat
pembelajaran bagi pendidik dan peserta menggunakan perangkat yang lebih bervariasi,
didik; dan (2) buku teks bukanlah satu-satunya tidak hanya buku teks pelajaran yang sama
sumber belajar. sepanjang tahun. Modul ajar tidak hanya
dikembangkan oleh Pemerintah namun juga
Peraturan tersebut menjadi landasan yuridis dapat dikembangkan oleh guru, komunitas
untuk perancangan perangkat ajar yang pendidikan, penerbit, serta lembaga, pakar,
merupakan salah satu kebaruan dalam ataupun praktisi lainnya di Indonesia. Dengan
Kurikulum Merdeka. Perangkat ajar merupakan menggunakan modul ajar diharapkan proses
berbagai sumber dan bahan ajar yang belajar menjadi lebih fleksibel karena tidak
digunakan oleh guru dan pendidik lainnya tergantung pada konten dalam buku teks,
dalam upaya mencapai profil pelajar Pancasila kecepatan serta strategi pembelajaran juga
dan Capaian Pembelajaran. Termasuk dalam dapat sesuai dengan kebutuhan peserta
perangkat ajar adalah buku teks pelajaran, didik, sehingga diharapkan setiap siswa
68
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
dapat mencapai kompetensi minimum yang untuk menggunakan contoh-contoh yang
ditargetkan. disediakan. Penyediaan contoh-contoh ini
merupakan bagian dari prinsip perancangan
Contoh-contoh alur tujuan pembelajaran (ATP) kurikulum yang sederhana dan mudah
atau urutan pembelajaran adalah komponen diimplementasi. Sebagaimana yang dianjurkan
untuk menyusun silabus. ATP diharapkan dalam Standar Proses di mana peserta didik
dapat membantu satuan pendidikan dan diharapkan untuk belajar dari beragam sumber,
pendidik mengembangkan langkah-langkah Pemerintah membantu menyediakan sumber-
atau alur pembelajaran berdasarkan Capaian sumber tersebut bagi pendidik yang kesulitan
Pembelajaran yang telah ditetapkan. mengakses ataupun mengembangkan sumber
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam belajar. Dengan demikian, diharapkan seluruh
bagian 3 tentang Capaian Pembelajaran, peserta didik dapat membangun kebiasaan
kompetensi yang perlu dicapai dalam setiap dan kemampuan untuk tidak terpaku pada satu
mata pelajaran ditetapkan dalam satuan fase. buku teks pelajaran sepanjang tahun.
Setiap fase memiliki rentang waktu yang
berbeda, ada yang dua sampai tiga tahun, Perangkat ajar didistribusikan melalui platform
namun ada juga yang satu tahun. Urutan digital yang dikembangkan Kemendikbud
atau alur pembelajaran kemudian ditetapkan Ristek agar dapat diakses lebih luas dalam
oleh pendidik sesuai dengan kecepatan jangka waktu yang cepat. Selain itu, pengguna
dan kebutuhan belajar peserta didik. Namun perangkat ajar juga akan lebih mudah untuk
demikian, berdasarkan umpan balik selama memilih perangkat ajar sesuai dengan
perancangan Kurikulum Merdeka dilakukan kebutuhannya dalam platform tersebut. Namun
didapat bahwa sebagian guru masih kesulitan demikian, menyadari bahwa akses internet dan
dalam mengembangkan alur pembelajaran perangkat digital belum merata, perangkat ajar
berdasarkan CP tanpa merujuk pada buku juga didistribusikan melalui diska lepas (flash
teks yang biasanya sudah memandu mereka disk) agar dapat diakses offline atau tanpa
langkah-langkah pembelajaran. Oleh karena itu, jaringan internet dan juga dalam bentuk bahan
agar guru tidak kembali berpatokan hanya pada cetak yang tidak membutuhkan perangkat
buku teks, pemerintah menyediakan contoh- digital.
contoh alur tujuan pembelajaran yang dapat
dipilih guru ataupun menjadi referensi untuk Strategi pengembangan platform digital
mereka mengembangkan sendiri ATP sesuai serta beragam perangkat ajar ini sejalan
kebutuhan peserta didik. dengan rekomendasi UNESCO (2020)
tentang pembukaan akses berbagai sumber
Contoh-contoh diberikan untuk dapat atau referensi pembelajaran atau dikenal
digunakan langsung ataupun sebagai referensi sebagai open educational resources
yang menginspirasi satuan pendidikan dan (OER). OER merupakan salah satu upaya
pendidik dalam mengembangkan modul ajar untuk meningkatkan pemerataan kualitas
mereka sendiri serta perangkat ajar lainnya, pembelajaran, yaitu dengan membuka akses
sesuai konteks dan kebutuhan peserta didik. guru untuk mendapatkan berbagai sumber
Dengan kata lain, pendidik memiliki keleluasaan pembelajaran yang berkualitas. OER juga
untuk membuat sendiri dan tidak ada kewajiban menjadi pendorong penggunaan konten
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 69
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
secara inovatif serta pengembangan ilmu atau referensi pembelajaran ataupun membuat
pengetahuan serta strategi pembelajaran sendiri modul ajar adalah bentuk kemerdekaan
yang efektif (UNESCO & Commonwealth of untuk guru yang dikuatkan dalam Kurikulum
Learning, 2019). Platform teknologi digital dapat Merdeka.
meningkatkan akses secara lebih inklusif, lebih
cepat, dan lebih murah (UNESCO, 2020). Dalam Menurut data yang dikumpulkan UNESCO, saat
platform ini, guru tidak hanya dapat mengakses ini jenis-jenis OER yang tersedia di seluruh
perangkat ajar, namun juga memberikan umpan dunia berbentuk buku teks yang dapat diakses
balik untuk perangkat ajar yang digunakannya. terbuka (open textbooks), materi atau paparan
kuliah, multimedia, audio, ilustrasi, animasi,
Memberikan akses terbuka agar guru dapat tugas-tugas, dan kuis. Materi-materi tersebut
menggunakan berbagai sumber pembelajaran dikelola oleh pemerintah termasuk pengaturan
merupakan bagian dari memberikan hak untuk menggunakan dan memodifikasi
kemerdekaan bagi guru; sebagaimana perangkat tersebut agar dapat disesuaikan
yang disampaikan UNESCO (2020) dalam isi dan tujuan penggunaannya. Hak untuk
rekomendasi pada negara-negara terkait OER: menggunakan sesuai dengan kebutuhan dan
“as part of academic and professional freedom, tujuan guru (yang bisa jadi berbeda dengan
teachers should be given the essential role in tujuan dituliskannya materi tersebut oleh
the choice and adaptation of teaching material, penulisnya) adalah faktor yang sangat penting
the selection of textbooks and the application dalam OER, yang mendorong terjadinya
of teaching methods.” (sebagai bagian dari pengembangan materi secara terus menerus.
kemerdekaan akademik dan profesional, guru Adaptasi dan modifikasi ini juga dibutuhkan
sepatutnya diberikan peran yang esensial untuk mendorong penggunaan materi secara
untuk menentukan dan mengadaptasi materi inovatif, yang pada akhirnya mendorong proses
pembelajaran, memilih buku teks, dan pembelajaran yang juga inovatif.
mengaplikasikan metode pembelajaran).
Kesempatan untuk membuat pilihan sumber
G. Kesimpulan peserta didik; (3) fleksibel; (4) selaras; (5)
bergotong royong; dan (6) memperhatikan
Bab 3 menjelaskan kerangka berpikir di hasil kajian dan umpan balik. Bagian-bagian
balik rancangan Kurikulum Merdeka. Proses lain dalam bab ini merupakan elaborasi tentang
perancangan yang dilakukan lebih dari 2 bagaimana prinsip-prinsip tersebut diterapkan
tahun ini senantiasa mengacu pada prinsip- dalam merancang aspek-aspek kurikulum.
prinsip rancangan (design principles) yang Aspek-aspek utama yang dijelaskan dalam
disepakati dan dirujuk dari berbagai kajian bab ini adalah kerangka kurikulum, Capaian
dan praktik baik di konteks yang beragam. Pembelajaran, struktur kurikulum, prinsip
Setiap pengambilan keputusan, baik kecil pembelajaran dan asesmen, serta perangkat
maupun besar, perancangan kurikulum selalu ajar.
merujuk pada enam prinsip, yaitu: (1) sederhana,
mudah dipahami dan diimplementasikan; (2)
fokus pada kompetensi dan karakter semua
70
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
Melanjutkan upaya yang telah diinisiasi struktur kurikulum yang diatur oleh pemerintah
kurikulum-kurikulum nasional sebelumnya, tidak hanya tentang pembelajaran intrakurikuler
Kurikulum Merdeka fokus pada kompetensi. atau mata pelajaran, tetapi juga pembelajaran
Konsekuensinya, muatan pelajaran perlu yang dirancang untuk menguatkan kompetensi
disederhanakan dan dikurangi agar peserta dan karakter yang dirumuskan dalam profil
didik memiliki lebih banyak waktu untuk Pelajar Pancasila. Perbedaan utama lainnya ada
mempelajari suatu konsep secara mendalam. pada SMA/MA, di mana program peminatan
Strategi yang dilakukan adalah dengan digantikan dengan sistem pemilihan mata
merancang Capaian Pembelajaran (CP) yang pelajaran pada kelas XI dan XII.
diatur dalam fase-fase dan dirumuskan dalam
bentuk naratif yang merangkaikan kemampuan Perubahan-perubahan yang cukup
pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dalam mendasar tersebut perlu dijembatani
setiap CP juga dirumuskan karakteristik dari dengan berbagai panduan dan contoh yang
setiap mata pelajaran termasuk domain atau membantu satuan pendidikan dan pendidik
elemen pembentuk mata pelajaran tersebut mengimplementasikannya secara efektif. Atas
sehingga menjadi lebih terlihat kompetensi dasar prinsip fleksibilitas, Pemerintah tidak
dan/atau konsep utama apa yang dipelajari banyak mengatur dalam bentuk petunjuk teknis
peserta didik dan berkembang dari satu fase ke atau pedoman-pedoman yang mengikat, tetapi
fase berikutnya. melalui berbagai contoh yang dapat diadaptasi
oleh satuan pendidikan dan pendidik. Dengan
Demikian pula dengan struktur kurikulum, demikian, tidak hanya buku teks pelajaran dan
beberapa aspek masih terus melanjutkan panduan yang disediakan oleh pemerintah,
Kurikulum 2013. Jumlah jam pelajaran total per tetapi juga beragam contoh modul ajar,
tahun tidak berubah untuk setiap jenjangnya. pengaturan alur pembelajaran (ATP atau alur
Namun demikian, alokasi jam pelajaran dalam tujuan pembelajaran), contoh bagaimana
Kurikulum Merdeka diatur per tahun, tidak projek penguatan profil pelajar Pancasila
lagi per minggu. Satuan pendidikan memiliki diterapkan di satuan pendidikan, dan contoh
wewenang untuk mengatur kegiatan belajar kurikulum operasional yang dikembangkan
sehari-hari sesuai dengan konteks dan satuan pendidikan. Kesemuanya dapat diakses
kebutuhan belajar peserta didik. Beberapa melalui platform yang dikembangkan oleh
mata pelajaran pun berubah, misalnya Kemendikbud Ristek dan diakses oleh seluruh
penggabungan IPA dan IPS di SD, penguatan pendidik. Untuk pendidik yang kesulitan
mata pelajaran Bahasa Inggris di SD, serta mengakses secara daring, Pemerintah juga
perubahan status mata pelajaran Informatika menyediakan perangkat ajar tersebut dalam
menjadi wajib di SMP. diska lepas (flash disk) dan bahan cetak.
Berbeda dengan Kurikulum 2013, dalam struktur Perancangan Kurikulum Merdeka tidak
Kurikulum Merdeka ada dua kegiatan utama berhenti saat kurikulum ini mulai diterapkan
yang wajib dilakukan siswa, yaitu pembelajaran di sekolah-sekolah yang mengikuti Program
intrakurikuler dan pembelajaran melalui projek Sekolah Penggerak (PSP) dan SMK Pusat
yang ditujukan untuk menguatkan pencapaian Keunggulan (SMK PK) sejak Tahun Ajaran
profil pelajar Pancasila. Dengan demikian 2021/2022 yang lalu. Melalui uji coba pada PSP
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 71
RANCANGAN KURIKULUM MERDEKA
dan SMK PK tersebut, umpan balik diperoleh hasil belajar tidak hanya bergantung pada
dan digunakan sebagai referensi untuk desain kurikulumnya saja tetapi juga sangat
melakukan reviu terhadap berbagai komponen bergantung pada strategi implementasinya.
kurikulum. Beberapa revisi dilakukan Untuk memberi dampak pada hasil belajar,
berdasarkan umpan balik tersebut diantaranya kurikulum harus dapat mempengaruhi perilaku
beberapa penyesuaian terhadap isi Capaian seluruh aktor terkait dalam sistem pendidikan.
Pembelajaran dan buku teks serta beberapa Tidak hanya mengubah perilaku guru dan
panduan. Monitoring dan evaluasi akan terus orang tua, tetapi juga pimpinan sekolah, serta
dilakukan untuk memastikan keselarasan pembuat kebijakan di tingkat daerah maupun
antara kurikulum yang secara resmi dikeluarkan nasional yang tidak berinteraksi langsung
oleh pemerintah (intended curriculum) dengan dengan peserta didik namun berkontribusi
kurikulum yang benar-benar dipelajari oleh secara tidak langsung melalui kebijakan yang
siswa (attained curriculum). mereka hasilkan dan terapkan. Oleh karena
perspektif sistem ini penting untuk digunakan
Bab ini hanya membahas tentang rancangan dalam memastikan efektivitas kurikulum
Kurikulum Merdeka. Keberhasilan kebijakan prototipe, strategi implementasi kurikulum
kurikulum untuk meningkatkan kualitas disampaikan lebih mendalam pada Bab 4.
72
04 Implementasi
Kurikulum Merdeka
Secara Terbatas
A. Pendahuluan Gambar 4.14. Sebaran Satuan Pendidikan Pelaksana
Program Sekolah Penggerak Berdasarkan Jenjang
Kurikulum Merdeka telah diimplementasikan (n=2.499)
secara terbatas pada 2.499 satuan pendidikan
peserta Program Sekolah Penggerak dan 901 Sumber: Direktorat Jenderal GTK, Kemendikbud Ristek
SMK dari Program SMK Pusat Keunggulan
(SMK PK), 75% diantaranya merupakan Penerapan Kurikulum Merdeka secara terbatas
sekolah-sekolah negeri dan sisanya ditujukan untuk tiga hal. Pertama, sebagai
swasta. Implementasi terbatas ini dilakukan bagian dari proses penyempurnaan kurikulum
menyebar pada kualitas sekolah yang sehingga memiliki dampak paling optimal
beragam. Dilihat dari kategori sekolahnya, dalam mengurangi risiko learning loss dan
6% sekolah merupakan tahap I (poor), 50,77% meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia
merupakan sekolah pada tahap II (fair), 25,1% di masa yang akan datang. Kedua, untuk
merupakan tahap sedang (good) dan sisanya menghasilkan praktik-praktik baik bagi guru
13,1% pada tahap IV atau (excellent)1. Dari serta kepala sekolah yang berpengalaman
status kewilayahannya, kurikulum Merdeka dalam mengadopsi kurikulum yang kemudian
dilaksanakan di 111 kab/kota. Pada 111 kab/ dapat diimbaskan pada sekolah lainnya. Ketiga,
kota tersebut tersebar baik dari kawasan pendekatan adaptasi kurikulum secara terbatas
tertinggal, non tertinggal, maupun daerah dan bertahap juga ditujukan untuk memberikan
khusus (kabupaten dengan desa tertinggal ruang kepada daerah untuk mempersiapkan
terbanyak menurut Permendes PDTT No. 18 SDM selama fase adopsi untuk memberikan
tahun 2019). Dilihat dari sebarannya 96,1%
merupakan kawasan non tertinggal dan 3,9%
merupakan kawasan tertinggal. Sementara
dilihat dari jenjangnya dapat dilihat tabel di
bawah. Implementasi kurikulum secara terbatas
ini akan diperluas secara bertahap dari tahun
ke tahun.
1 Kategorisasi berasal dari proxy awal satuan pendidikan
73
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
penguatan kurikulum yang akan digunakan di Pada SMK PK jumlah kepala sekolah, guru
masa yang akan datang. dan siswa yang sudah dilatih berasal dari
perwakilan setiap satuan pendidikan yang
Dalam Program Sekolah Penggerak (PSP) terpilih untuk menjadi SMK PK. Pada sekolah
dan SMK PK, penguatan SDM di satuan non PSP dan SMK PK, Kemendikbud juga telah
pendidikan. Sebagaimana pandangan menyiapkan penguatan Kapasitas SDM melalui
Boundersa (2016) yang melihat pelatihan Program Guru Penggerak.
dan pendampingan dianggap metode paling
efektif dalam meningkatkan pengetahuan Uraian ini akan mendeskripsikan implementasi
dan keterampilan guru pada tingkat satuan kurikulum dalam empat aspek, yaitu: a) rencana
pendidikan, maka kedua upaya tersebut juga pembelajaran, b) Proses belajar dan asesmen,
dilakukan pada PSP dan SMK PK. Pelatihan c) Persepsi, serta d) hambatan dan dukungan.
dan pendampingan dalam konteks PSP dan Rencana pembelajaran adalah sebuah roadmap
SMK PK ditujukan untuk memberikan gagasan bagi guru tentang bagaimana proses belajar
tentang kurikulum alternatif serta melatih akan dilakukan secara efektif dan menyusun
guru mengimplementasikan gagasan tersebut strategi bagaimana pembelajaran tersebut akan
dalam bentuk latihan dan praktik dengan mendapatkan umpan balik terkait hasil belajar
metode belajar secara kolaboratif. Fokus siswa. Pemahaman ini dianggap penting
penguatan kompetensi SDM dalam kurikulum agar pendidik mampu berefleksi terhadap
ditekankan pada tiga hal yaitu: a) Pelatihan pelaksanaan kurikulum merdeka telah sesuai
dan pendampingan dalam pembelajaran yang dengan karakteristik tingkat satuan pendidikan.
berprinsip pada differentiated learning atau Deskripsi proses dan asesmen belajar akan
Teaching at The Right Level (TaRL); b) Pelatihan melihat praktik yang dilakukan oleh guru dan
dan pendampingan terkait pedagogik dan kepala sekolah dalam menerapkan kurikulum
penilaian agar guru/pendidik PAUD mampu Merdeka apakah sudah sesuai dengan harapan
menerapkan pembelajaran dengan prinsip atau justru sebaliknya. Deskripsi perspsi
TaRL, dan c) Pelatihan dan pendampingan memberi perhatian pada pandangan kepala
dalam mengoptimalkan aplikasi digital untuk sekolah dan guru dalam mengimplementasikan
memudahkan SDM satuan pendidikan. Saat Kurikulum Merdeka. Selanjutnya, uraian tentang
ini, jumlah peserta yang telah dilatih Kurikulum hambatan dan dukungan akan mendeskripsikan
Merdeka berjumlah 19.086 yang berasal dari tantangan yang dialami kepala sekolah dan
kepala sekolah, guru, dan pengawas sekolah. guru, serta dukungan yang mereka butuhkan
selama proses belajar.
B. Implementasi Kurikulum Merdeka secara Terbatas Pada
Program Sekolah Penggerak
Evaluasi implementasi kurikulum bertujuan satuan pendidikan yang terpilih dalam
untuk mendapatkan informasi tentang proses Program Sekolah Penggerak. Informasi
penerapan Kurikulum Merdeka pada tingkat tersebut diperlukan untuk menganalisis
74
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
apakah satuan pendidikan tertentu sudah terhadap kurikulum yang mereka jalankan
dapat mempraktikkan kurikulum di satuan tersebut. Dalam Program Sekolah Penggerak,
pendidikannya. Evaluasi implementasi evaluasi implementasi kurikulum ini dilakukan
kurikulum juga bertujuan untuk mengetahui dengan tiga cara yaitu, survei cepat, wawancara
bagaimana persepsi kepala sekolah dan guru singkat, dan studi etnografi.
1. Metode Penajam Paser Utara, Kab. Banyu Asin, dan Kab
Deli Serdang.
Survei dan Wawancara Singkat
Etnografi
Metode evaluasi implementasi melalui survei
(survei populasi) dilakukan di 2.499 satuan Studi etnografi dilakukan dalam evaluasi proses
pendidikan. Total responden guru yang mengisi dan konteks perubahan Program Sekolah
survei adalah 8.262 responden sementara total Penggerak. Evaluasi ini ditujukan untuk melihat
kepala sekolah yang mengisi survei sebanyak proses perubahan yang terjadi pada tingkat
1.713. Berdasarkan karakteristik wilayahnya satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan
tingkat keterisian non-tertinggal adalah 96,2% mutu pembelajaran sebagai akibat serta
dan kawasan tertinggal adalah 3,8% atau konteks yang melatarbelakangi perubahan
sudah proporsional jika dibandingkan dengan tersebut.
sebaran populasi pelaksana program Sekolah
Penggerak. Responden berasal dari unsur guru Evaluasi proses dan konteks perubahan
dan kepala sekolah dilatih selama 74 JP untuk dilakukan pada sepuluh kota/kabupaten
menggunakan Kurikulum Merdeka dalam peserta Program Sekolah Penggerak. Pemilihan
program sekolah penggerak. Sesuai dengan lokasi penelitian didasarkan pada beberapa
intervensi programnya, responden berasal dari pertimbangan, antara lain: (1) keterwakilan
guru kelas I, IV, VII, dan X. Program Sekolah daerah tertinggal dan non-tertinggal; (2)
Penggerak memberikan intervensi pada kelas- keterwakilan daerah Indonesia barat, tengah,
kelas tersebut dengan tujuan agar siswa dapat dan timur; (3) keterwakilan daerah urban dan
diukur dalam kurun waktu tiga tahun masa rural; serta (4) jumlah dan keragaman jenjang
studi di sekolah yang sama. Survei dilakukan satuan pendidikan peserta Program Sekolah
secara daring (online) dengan menyebarkan Penggerak di kabupaten/kota tersebut. Studi
secara langsung kepada responden di setiap etnografi ini dilakukan di Kab. Asahan (SMPN 1
grup Program Sekolah Penggerak dan melalui Bandar Pasir Mandoge), Kab. Agam (SLB Baso),
kanal-kanal yang dimiliki oleh direktorat teknis Kab. Lampung (TKN 3 Krui dan SDN 19 Krui),
seperti Direktorat SD, Direktorat SMP, Direktorat Kota Bandung (SMA IT Miftahul Khoir dan SLBN
SMA, Direktorat PAUD dan Direktorat PMPK. Cicendo), Kota Gresik (SD NU Almustaniroh),
Dalam studi ini juga dilakukan triangulasi data Kab. Sintang (SDN 23 Menyumbung), Kota
melalui wawancara singkat yang dilakukan Ternate (SMP 1 Kota Ternate), Kab Manggarai
di 10 kabupaten kota yaitu di tiga wilayah Timur (SMPN 4 Poco Ranaka, SMAN 3 Poco
tertinggal yaitu di Kab. Keerom, Kab. Supiori, Ranaka), Kota Bitung (PAUD Imanuel Manembo-
dan Kab Sumba Timur, dan tujuh wilayah non nembo), Lombok Timur (SMA 1 Sikur).
tertinggal yaitu: Kota Metro, Kab Nagan Raya,
Kota Sorong, Kab. Bolaang Mongondow, Kab
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 75
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
2. Temuan Studi pengaruh yang besar terhadap motivasi belajar
siswa yang pada akhirnya akan berdampak
Perencanaan Pembelajaran pada hasil belajar siswa (OECD, 2008). Untuk
itu, memahami karakteristik satuan pendidikan
Kurikulum Merdeka berupaya memberikan dari mulai kondisi geografi, budaya, sosial
layanan pendidikan yang berpihak pada siswa. dan ekonomi menjadi langkah penting dalam
Untuk itu, dalam setiap aktivitasnya kurikulum membuka wawasan kepada guru untuk lebih
berupaya memberikan ruang kepada guru mengenal siswanya.
untuk berefleksi melalui berbagai hal agar
kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa. Dalam Program Sekolah Penggerak, hampir
Aktivitas refleksi harus terjadi dalam setiap seluruh sekolah (94%) baik dari wilayah
tahapan dari mulai perencanaan sampai tertinggal maupun non-tertinggal sudah
dengan asesmen. melakukan asesmen karakteristik satuan
pendidikan. Angka ini cukup signifikan
Pada tahap persiapan, pembelajaran mengingat di Indonesia asesmen diagnostik
dalam kurikulum merdeka dimulai dengan belum menjadi acuan sebagian besar guru di
perencanaan-perencanaan yang dilakukan oleh Indonesia dalam menentukan pembelajaran.
satuan pendidikan sebelum menyelenggarakan (World Bank, 2021).
pembelajaran. Dalam kurikulum merdeka,
perencanaan pembelajaran dituangkan dalam Gambar 4.15. Persentase Guru di Sekolah Penggerak yang
empat aspek penting. Pertama pengumpulan Melakukan Asesmen Diagnostik Berdasarkan Kategori
data karakteristik satuan pendidikan yang akan Wilayah
digunakan dalam penyusunan modul-modul
selanjutnya. Kedua, Kurikulum Operasional Sumber: PSKP, 2021
Satuan Pendidikan (KOS). Ketiga, penyusunan
modul ajar (Silabus). Keempat, penyusuan Dari hasil wawancara yang dilakukan, proses
modul Projek Penguatan Profil Pelajar memahami karakteristik satuan pendidikan
Pancasila. masih dalam proses adaptasi yang memberikan
harapan besar. Dimana, meskipun guru belum
Sebelum merencanakan pembelajaran, memahami sepenuhnya terkait kurikulum
sangat penting bagi kepala sekolah dan tetapi mereka sudah mulai menyesuaikan
guru, untuk memahami karakteristik satuan
pendidikan sehingga dapat memberikan
layanan pendidikan yang kontekstual, berpihak
kepada siswa, serta memastikan tidak ada
anak yang tertinggal dalam proses belajar.
Untuk itu aktivitas asesmen karakteristik satuan
pendidikan menjadi penting untuk membuka
kesadaran bahwa pada latar belakang siswa
yang berbeda memerlukan layanan yang
berbeda. Dalam studi yang dilakukan oleh
OECD latar belakang siswa memberikan
76
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
penyelenggaraan pendidikan dari hasil Hasil analisis ini diharapkan digunakan dalam
asesmen karakteristik satuan pendidikan. menyusun kurikulum operasional satuan
pendidikan yang kontekstual dan relevan
Kendala yang dihadapi sekolah ketika bagi siswa untuk meningkatkan hasil belajar
menyusun Kurikulum Operasional Satuan siswa yang pada akhirnya akan menghasilkan
Pendidikan adalah kami bersama komite profil pelajar pancasila. Untuk itu, langkah
pembelajaran masih belum terlalu selanjutnya setelah menyusun karakteristik
memahami tentang kurikulum operasional satuan pendidikan yaitu menyusun Kurikulum
itu sendiri. Akan tetapi tetap berusaha Operasional Satuan Pendidikan (KOS).
untuk membuatnya dengan mengikuti
contoh yang ada sambil menyesuaikan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan
keadaan yang sesuai dengan karakteristik (KOS) memuat seluruh perencanaan proses
satuan pendidikan yang kami bina saat ini belajar yang akan diselenggarakan oleh satuan
(TK Mekar Kuncup Pituala, Kolaka Timur). pendidikan agar satuan pendidikan memiliki
pendoman pembelajaran. Komponen dalam
Setelah sekolah mengumpulkan asesmen KOS diharapkan dapat menjadi dokumen acuan
karakteristik peserta didik, diharapkan satuan refleksi bagi semua unsur pendidikan di satuan
pendidikan juga membuat analisis terkait latar pendidikan sehingga satuan pendidikan dapat
belakang peserta didik dari berbagai aspek. tetap menyesuaikan dinamika perubahan dan
kebutuhan siswa.
Gambar 4.16. Persentase Satuan Pendidikan yang Telah Menyusun
Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan berdasarkan Jenjang (n= 1.594 Kepala Sekolah)
Sumber: PSKP, 2021
Data di atas menunjukan bahwa proses dinas pendidikan. Secara nasional, total satuan
adaptasi dalam perencanaan kurikulum secara pendidikan yang telah menyelesaikan dokumen
umum telah dilakukan terutama pada jenjang baik yang sudah ditetapkan maupun yang
SD, SMP dan SMA juga SLB yang sebagian belum ditetapkan mencapai 79,9%. Sementara
besar telah menetapkan dokumen KOS pada yang masih dalam proses penyusunan
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 77
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
berjumlah 19,76% dan sisanya sebanyak 0,3% dari capaian pembelajaran yang telah
sama sekali belum menyusun KOS. Dilihat ditetapkan oleh kementerian pendidikan,
dari jenjangnya, PAUD merupakan jenjang serta memuat karakteristik siswa yang
terbanyak yang masih melakukan proses ada pada sekolah kami utamanya pada
penyusunan. Tingginya satuan pendidikan yang mata pelajaran muatan lokal. Dalam
sudah menyusun dokumen KOS menunjukan penyusunan kurikulum operasional kami
bahwa adaptasi dalam perencanaan mengadakan rapat dengan guru-guru
pembelajaran sudah terjadi meskipun belum di tiap tingkatan kelas dan kami juga
sempurna. mengundang pengawas pembina, untuk
memberikan saran dan masukan untuk
Proses penyusunan KOS di tingkat satuan terhadap kurikulum operasional. Dalam
pendidikan cukup beragam. Meskipun sejumlah kurikulum operasional kami memuat
kepala sekolah dan guru telah mendapatkan beberapa hal seperti karakteristik siswa,
pelatihan terkait Kurikulum Merdeka, namun di visi dan misi sekolah beban belajar serta
sejumlah daerah penyusunan KOS dilakukan capaian pembelajaran dan modul ajar
dengan beragam strategi. Di Kabupaten Kolaka, yang sementara di susun oleh guru-guru.
Sulawesi Tengah penyusunan KOS diawali (UPT SDN 221 Inpres Labbumesang,
dengan bimtek secara virtual yang diinisiasi Sulawesi Selatan)
oleh P4TK. Bimtek tersebut ditujukan guna
mendapatkan informasi yang lebih detail Selama penyusunan KOS, sekolah mulai
sehingga sekolah lebih percaya diri dalam menerapkan prinsip demokrasi deliberatif
menyusun kurikulum operasional. Namun yang melibatkan seluruh unsur dari mulai
demikian, di sejumlah daerah lain penyusunan orang tua, guru, komite sekolah dan dinas
KOS tanpa melibatkan P4TK melainkan melalui pendidikan (pengawas). Pelibatan seluruh
diskusi di lingkup internal yang diinisiasi unsur ini memungkinkan sekolah menyusun
langsung oleh kepala sekolah dan guru komite rencana pembelajaran tidak hanya berdasarkan
pembelajaran. persepsi atau harapan yang mungkin timbul
dari kepala sekolah atau sebagian guru saja
Sekolah kami sudah menyusun kurikulum tetapi memungkinkan pembelajaran yang
operasional yang sudah disahkan dan mengakomodir seluruh kalangan di satuan
ditandatangani oleh kepala Dinas pendidikan. Dari hasil survei yang dilakukan,
Pendidikan Kabupaten Takalar. Dalam 99% kepala sekolah terlibat dalam penyusunan
penyusunan kurikulum operasional kami KOS, sebanyak 98% satuan pendidikan
melibatkan semua guru tiap tingkatan melibatkan guru, dan 91% melibatkan komite
kelas utamanya guru yang yang pernah sekolah, sebanyak 86% melibatkan pengawas.
mengikuti Diklat komite pembelajaran. Sementara hanya 57% satuan pendidikan
Dalam kurikulum operasional kami yang melibatkan orang tua dan 35% satuan
mengambil acuan pendidikan yang melibatkan siswa dalam
proses penyusunan KOS.
78
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
Gambar 4.17. Persentase Guru Cara Menyusun Rencana Pembelajaran (n= 8.262)
Sumber: PSKP, 2021
Persiapan implementasi Kurikulum Merdeka masukan dari orang tua siswa. Hal ini juga
juga terlihat dari cara guru menyusun modul tampak dari hasil survei keterlibatan orang
ajar. Sebagian besar guru melakukan proses tua pada jenjang PAUD keterlibatan orang tua
adaptasi dengan mengadopsi modul dari mencapai 77,46% sementara pada jenjang SLB
Kemendikbudristek kemudian disesuaikan sebanyak 64,29%.
dengan konteks lokalnya. Hanya sedikit guru
yang mengadopsi keseluruhan contoh modul Studi ini juga menunjukkan bahwa sebagian
ajar untuk diterapkan di sekolah masing- besar guru-guru memanfaatkan hasil asesmen
masing. Hal yang menarik adalah sebagian karakteristik siswa sebagai pertimbangan
guru mulai berproses, mencoba mengasah utama dalam penyusunan modul ajar. Selain hal
kreativitas dan nalar kritisnya dengan mencoba tersebut, pertimbangan guru dalam menyusun
menyusun modul ajar sendiri. Pada jenjang pembelajaran dihasilkan dari diskusi dengan
Dasmen, guru yang menyusun modul ajar berbagai guru, mempelajari contoh-contoh
sendiri berada pada kisaran angka 15% yang diberikan dari platform guru berbagi,
sementara pada PAUD dan SLB lebih tinggi dan sedikit diantaranya memperoleh inspirasi
yaitu 21,99% dan 29,09%. Dari hasil wawancara, penyusunan modul pembelajaran dari RPP
guru-guru PAUD dan SLB melakukan banyak sebelumnya.
improvisasi berdasarkan kebutuhan dan
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 79
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
Gambar 4.18. Persentase Satuan Pendidikan yang Mengimplementasikan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (n= 1.594)
Sumber: PSKP, 2021
Sebagian besar sekolah juga telah mulai dapat dipahami oleh siswa. Keputusan terkait
mempersiapkan pelaksanaan Proyek pengorganisasian pembelajaran merupakan
Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Dalam hasil strategi guru untuk menerapkan konsep
kurun waktu semester terakhir, sebagian besar dalam bidang studi yang akan diajarkan kepada
satuan pendidikan sudah memiliki tim projek siswa.
pengembangan. Namun demikian, baru sedikit
sekolah yang telah mengembangkan modul
projek. Di SLB misalnya, total sekolah yang
sudah memiliki tim projek sebanyak 84%,
sementara sekolah yang sudah menyusun
projek baru sekitar 54%.
Implementasi Pembelajaran Gambar 4.19. Presentase Kepala Sekolah Janjang
Dasmen terkait Pilihan dalam Melakukan Pendekatan
Salah satu fase penting dalam proses Pengorganisasian Pembelajaran di Sekolah (n=1.594)
belajar mengajar adalah pengorganisasian
pembelajaran. Saat ini sekolah memiliki Sumber: PSKP, 2021
cara-cara yang beragam dalam
mengimplementasikan pengorganisasian Dalam menerapkan metode belajar, guru
pembelajaran. Sebagian besar memang masih sudah mulai melakukan metode yang lebih
melakukan pengorganisasian pembelajaran fleksibel. Cara-cara ini sangat berdampak
berdasarkan mata pelajaran, naum cara- pada terciptanya suasana kelas yang
cara kombinasi dan kolaborasi antar-mata menyenangkan. Menurut hasil studi
pelajaran sudah mulai banyak dilakukan.
Pengorganisasian pembelajaran di beberapa
sekolah didasarkan oleh hasil refleksi guru atas
kemampuannya agar materi yang disampaikan
80
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
yang dilakukan oleh Reigeluth dan Merill yang menampilkan gambar yang menarik.
(Munawaroh, 2017) cara guru mengajar Cara ini tampak efektif dalam mendorong
sangat mempengaruhi hasil belajar siswa. antusiasme mereka untuk berpikir kritis
Dalam studi tersebut menyebutkan metode mengenai gambar yang ada di bahan
belajar yang menciptakan proses belajar ajar tersebut (Wawancara Guru Fitri,
yang menyenangkan secara tidak langsung 20/09/2021). (PSKP, 2021).
mempengaruhi hasil belajar siswa sehingga
menghasilkan pembelajaran yang lebih Selain melalui metode yang fleksibel suasana
bermakna. Hal ini sejalan dengan studi yang menyenangkan juga tampak pada
etnografi yang dilakukan dalam program penerapan kegiatan Projek Penguatan
sekolah penggerak: Profil Pelajar Pancasila (P5). P5 merupakan
aktivitas pembelajaran yang bermakna untuk
Sikap siswa dalam pembelajaran mewujudkan enam dimensi profil pelajar
tergantung pada metode yang digunakan pancasila. Kegiatan ini sudah dilakukan oleh
oleh guru. Siswa terlihat bersemangat sebagian besar sekolah. Sekolah biasanya
ketika pembelajaran menggunakan memilih tema berdasarkan pada keinginan
proyektor untuk menyajikan materi dan siswa dan potensi wilayahnya. Misalnya di
melakukan pembelajaran di luar kelas PAUD Imanuel Manembo-nembo, P5 dilakukan
dibanding di dalam kelas (Observasi dengan cara membuat abon ikan karena kota
Kelas Guru Fitri, 11/09/2021). Ketika Bitung memiliki potensi ikan yang berlimpah.
menggunakan metode ceramah, Hal ini juga menjadikan sekolah lebih mandiri
siswa bagian depan semangat dalam dalam hal pendanaan (PSKP, 2021). Berbeda
mendengarkan, namun siswa yang dengan PAUD Imanuel Manembo-nembo,
duduk di bagian belakang terlihat bosan, di SMAN 1 Sikur, P5 memiliki program yang
bermain dan bersenda gurau (Observasi disebut ‘SI ASIK SMANSIK (Pengolahan
Kelas Guru Idris, 19/09/2021). Interaksi Sampah Holistik SMAN 1 Sikur). Kegiatan ini
antar sesama siswa dalam pembelajaran dilakukan dengan mengolah sampah organik
baik, dalam metode kelompok siswa menjadi pupuk. Setelah menjadi pupuk,
berdiskusi satu sama lain, namun ada juga siswa melakukan proses pemanfaatan pupuk
yang memilih mengerjakan tugas secara dengan melakukan penanaman di dalam pot.
individu meskipun sedang bekerja dalam Proses pemanfaatan tersebut dilaksanakan
kelompok. Ketika mengerjakan tugas di sebuah tempat khusus bernama ‘Green
yang sifatnya individu untuk mengetahui House’ yakni tempat pembudidayaan tanaman.
pemahaman siswa pada materi tertentu, Setelah pemanfaatan, siswa diarahkan untuk
maka siswa mengerjakan soal secara mengemas hasil produk dengan membuat
mandiri. Dalam pelaksanaan PSP ini, siswa desain penjualan berbasis komputer. Kegiatan
terlihat tertarik dengan bahan ajar PSP ini merupakan kolaborasi antara guru IPA, IPS,
IT dan Bahasa Indonesia.
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 81
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
Gambar 4.20. Persentase Sekolah Yang Sudah Mengimplementasikan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Berdasarkan Jenjan dan Status Wilayah (n= 1.713)
Sumber: PSKP, 2021
Pembelajaran yang berpihak pada murid peserta didik. Asesmen diagnostik dapat
juga ditandai dengan bagaimana guru membantu guru dalam memahami pengetahuan
menerapkan assessment for learning, yaitu dan keterampilan siswa sebelum memulai
proses penilaian siswa yang digunakan sebagai pembelajaran. Asesmen diagnostik biasanya
acuan pembelajaran. Sebelum melakukan disebut assessment for learning karena tujuan
pembelajaran, diharapkan guru melakukan utama dari asesmen ini akan dijadikan acuan
asesmen diagnostik atau pra-penilaian pada dan tujuan pembelajaran bagi guru.
Gambar 4.21. Persentase Guru yang Melakukan Asesmen Diagnostik Berdasarkan Jenjang dan Status Wilayah (n=8.262)
Sumber: PSKP, 2021
82
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
Pada sekolah penggerak hampir seluruh guru proses belajar guru berkeliling pada setiap
sudah menggunakan asesmen diagnostik. kelompok untuk menyesuaikan. Sementara
Kondisi ini merata di seluruh jenjang baik di cara yang lebih rumit dilakukan oleh SLB
kawasan tertinggal maupun non tertinggal. Cicendo. (lihat box). Saat ini satuan pendidikan
Secara nasional hanya 2,72% guru yang belum baru beradaptasi untuk menerapkan konsep
menggunakan asesmen diagnostik untuk assessment for learning di semester pertama,
pembelajaran. Pada dekade sebelumnya tentu saja hasilnya belum terlihat signifikan.
asesmen diagnostik tidak terlalu populer Namun jika hal ini menjadi budaya baru, di
di kalangan guru di Indonesia, padahal hal sejumlah negara assessment for learning
ini cukup penting untuk menentukan arah telah teruji membantu siswa - terutama yang
pembelajaran. Penggunaan asesmen diagnostik memiliki nilai rendah - untuk meningkatkan
secara masif menunjukan adanya perubahan hasil belajarnya secara signifikan (Cambridge
ke arah yang lebih positif. Guru akan semakin asesmen for education, 2021). Idealnya asemen
memahami kebutuhan belajar siswa. formatif dan sumatif juga menjadi bahan refleksi
bagi guru sehingga guru memiliki target dan
Dalam studi etnografi, asesmen diagnostik penyesuain berbeda tergantung kepada
dilakukan baik dengan cara sederhana kebutuhan siswanya. Adaptasi ini tentu tidak
maupun cara-cara yang lebih kompleks. Cara dapat serta merta menjadi kebiasaan baru
asesmen diagnostik yang relatif sederhana tetapi perlu pembiasaan dalam waktu yang
dilakukan di SMAN 1 Sikur. Guru bertanya lama agar guru dapat lebih memaknai manfaat
secara lisan kepada peserta didik, kemudian assessment for learning untuk meningkatkan
guru mengelompokan murid berdasarkan kualitas proses pembelajaran.
kemampuan dan cara belajarnya. Dalam
Praktik Baik Asesmen Diagnostik SLBN Cicendo
SLBN Cicendo merupakan sekolah luar biasa yang berada di kota Bandung. Sekolah
berupaya menerapkan prinsip pembelajaran yang berfokus dan berorientasi pada
kebutuhan siswa secara holistik terutama dalam mempersiapkan pembelajaran
yang tepat untuk peserta didik berdasarkan hambatan yang dimiliki. Proses layanan
pendidikan untuk anak di SLB dimulai dari penyelenggaraan asesmen yang
komprehensif dan tidak terdapat di sekolah umum, meliputi asesmen perkembangan
dan asesmen akademik. Asesmen perkembangan mencakup aspek kognitif, motorik,
emosi sosial, komunikasi, serta riwayat ketunaan. Asesmen akademik meliputi
kemampuan dalam beradaptasi dengan materi pembelajaran. Selanjutnya, sekolah
melakukan tes Bera dan audiogram untuk mengetahui ambang batas kemampuan
pendengaran anak kerjasama dengan Bandung Hearing Aid. Selain itu juga tes
psikologi yang dilaksanakan atas kerjasama sekolah dengan Lembaga Psikologi.
Keragaman siswa direspon dengan pelaksanaan asesmen yang komprehensif
agar didapatkan informasi yang utuh, sehingga perancangan pembelajaran sesuai
dengan kebutuhan anak. Berdasarkan hasil asesmen tersebut, maka lahirlah program
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 83
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
pembelajaran individual dimana guru mengembangkan pembelajaran berfokus kepada
kebutuhan, hambatan, potensi, dan kemampuan siswa. Setelah didapatkan informasi
yang lengkap tentang kondisi anak, guru merumuskan program dan aplikasi kurikulum
yang tepat untuk anak dan menempatkan anak sesuai mental age dan kemampuannya.
Dampak positif di lingkungan sekolah juga pelaksanaan kurikulum sekolah penggerak
turut memberikan persepsi yang positif terutama dalam Projek Pengutaan Profil Pelajar
pada kurikulum yang digunakan secara Pancasila, memberikan nuansa yang lebih
terbatas. Sejumlah guru mengaku bahwa positif. Dalam berbagai mata pelajaran P5
kurikulum memberikan nuansa baru untuk mampu meningkatkan antusiasme guru dan
meningkatkan kolaborasi antara sesama peserta didik dalam pembelajaran. Selain itu
guru. Selain itu guru juga merasa bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara
kurikulum yang dilakukan sangat berpijak berkelompok dan tidak hanya di ruang kelas
pada peserta didik dan merangsang kreativitas juga menjadi kebiasaan baru yang semakin
dan keterampilan bernalar kritis. Dalam studi menguat di sekolah (PSKP, 2021).
etnografi yang dilakukan oleh PSKP (2021),
Gambar 4.22. Persepsi Guru terhadap Program Sekolah Penggerak (n=8.262)
Sumber: PSKP, 2021
Selain berbagai capaian di atas, terdapat heran karena selama lebih dari tujuh dasawarsa
sejumlah hambatan yang masih menjadi guru tidak diberikan kebebasan dalam
kendala sekolah untuk mengimplementasikan implementasi pembelajaran melainkan menjadi
kurikulum. Pemahaman yang belum utuh sangat bergantung kepada aturan-aturan yang
menjadi bottle neck dalam menyelenggarakan sangat ketat (Pratiwi, Solihin dkk, 2019). Selain
pembelajaran. Meskipun sudah dilatih pemahaman yang belum utuh, pembelajaran
sebelumnya guru sering kali bingung apakah dengan Tatap Muka Terbatas (PTMT) menjadi
yang telah diterapkan sudah sesuai dengan hambatan khususnya di wilayah non tertinggal.
harapan kurikulum atau belum. Hal ini tidak Guru kesulitan mengimplementasikan
84
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
pembelajaran bermakna di luar ruang kelas Dalam hasil wawancara kami, guru kesulitan
dengan alokasi waktu yang minim dan tingginya dalam menyelesaikan berbagai modul karena
kekhawatiran akan COVID-19. Sehingga ketiadaan listrik dan internet. Terbatasnya
pembelajaran juga dirasakan guru kurang ruang kelas yang aman juga menjadi kendala
optimal. Di sisi lain, pada kawasan tertinggal dalam pembelajaran masih dirasakan di wilayah
kurangnya sarpras masih menjadi kendala. tertinggal.
Gambar 4.23. Grafik Hambatan Implementasi Kurikulum (n=1.713)
Sumber: PSKP, 2021
Agar pemahaman terhadap kurikulum lebih menyelenggarakan kurikulum yang berpihak
utuh, sebagian guru baik di wilayah tertinggal kepada murid. Selain itu perangkat ajar dan
maupun non-tertinggal mengharapkan dukungan orang tua juga menjadi salah
adanya pendampingan yang cukup intensif satu yang dibutuhkan oleh sekolah untuk
dari pelatih ahli. Hal ini cukup penting untuk memudahkan mereka mengimplementasikan
memberikan fasilitator pada guru dalam pembelajaran.
berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 85
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
Gambar 4.24. Grafik Dukungan Yang dibutuhkan Satuan Pendidikan (n=1.713)
Sumber: PSKP, 2021
Praktik Adptasi Implementasi Kurikulum Kawasan Tertinggal SMP N 4 Poco Ranaka,
Kab. Manggarai Timur, NTT
SMP N 4 PocoRanaka berada di kawasan tertinggal yang rawan dengan ancaman
bencana longsor. Sekolah ini terletak di Desa Watu Lanur, Kampung Adat Kedel,
Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur. Letaknya yang berada di
lereng perbukitan membuat lokasi gedung-gedung di sekolah ini tersebar dan tidak
merata. SMP 4 Poco Ranakan memiliki sejumlah ruang kelas memprihatinkan, seperti
plafon yang bolong serta meja dan kursi yang terbatas. Kondisi perpustakaan sebagai
penunjang pembelajaran ternyata tidak jauh berbeda. Buku tidak tertata rapi karena
keterbatasan rak buku. Selain itu, laboratorium tidak berfungsi karena tidak adanya
perawatan. Instalasi listrik juga baru ada belum lama ini. Sejak sekolah terpilih menjadi
sekolah Penggerak, kepala sekolah merasa bersyukur dan menjadikan cambuk untuk
meningkatkan layanan sekolah. Kepala sekolah merangkul semua guru untuk bisa maju
bersama-sama. Guru-guru juga merespon dengan positif.
Mulanya guru mengeluhkan perubahan menuju Sekolah Penggerak. Mereka tampak
kebingungan dengan implementasi modul ajar dan bagaimana menyiasati program
digitalisasi sekolah. Namun proses adaptasi itu mengalami kemajuan. Sejak menjadi
sekolah penggerak, para guru di SMPN 4 Poco Ranaka menjadi terbiasa hal-hal baru
yang ditawarkan oleh program, pembelajaran yang lebih fleksibel dan media ajar yang
lebih beragam proses kegiatan belajar mengajar dalam kurikulum PSP dianggap lebih
menarik. Metode diskusi dan belajar di luar ruang kelas juga sering menjadi metode
yang digunakan guru. Dalam prosesnya, siswa menjadi lebih antusias dan merasa
86
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
lebih terlatih berpikir kritis dan berani mengemukakan pendapat dalam menanggapi
permasalahan yang dihadirkan oleh guru untuk tugas kelompok.
Hal yang paling menarik dalam kurikulum ini adalah pembelajaran berbasis projek.
Projek Penguatasn Profil Pancasila yang pertama dipilih adalah kunjungan ke rumah
adat Manggarai. Gagasan tersebut muncul karena dorongan sejumlah faktor yang
pertama adalah karena kedekatan masyarakat manggarai dengan tokoh adat setempat
yang kedua adalah dorongan melestarikan budaya setempat pada generasi muda
sehingga menjadi pribadi yang bangga dengan identitas budayanya. Dua faktor
tersebut akhirnya menjadi pertimbangan bersama dalam rapat guru saat menentukan
tema P5. Projek pertama ini dilakukan melalui kolaborasi sejumlah guru PKn, guru
Bahasa Indonesia, guru IPS, dan guru Seni Budaya. Tokoh adat dan masyarakat
menyambut gembira gagasan tersebut, hal ini terlihat dari antusias masyarakat dan
tokoh adat yang menjadi fasilitator untuk mengajarkan adat kepada siswa. Dalam
prosesnya,siswa diminta untuk datang ke rumah adat kemudian tokoh adat akan
menjelaskan terkait benda pusaka ataupun falsafah adat manggarai dan siswa diminta
menuliskan kembali dengan bahasa Indonesia dan guru akan melakukan proses
tanya jawab setelahnya. Selama projek dilakukan. siswa terlihat sangat antusias dalam
belajar. Antusisme ini mendorong satuan untuk terus berkreasi menciptakan projek
yang baru setiap sebulan. Semangat tersebut terlihat dalam diskusi dalam refleksi oleh
guru sepulang sekolah. Dalam salah satu keputusan yang telah diambil, diputuskan
target projek berikutnya yaitu: pada bulan Oktober akan dilakukan Projek Bulan Bahasa
dan untuk bulan November, di bidang kewirausahaan yang bertemakan Bazaar Rakyat.
(Studi Etnografi, PSKP, 2021)
C. Implementasi Terbatas Pada Program SMK Pusat
Keunggulan
Sebagaimana evaluasi implementasi Kurikulum Kurikulum Merdeka di SMK dan persepsi
Merdeka pada PSP, evaluasi implementasi kepala sekolah terhadap penerapan kurikulum
kurikulum pada program SMK PK bertujuan tersebut. Evaluasi implementasi kurikulum pada
untuk mendapatkan informasi tentang proses program SMK PK dilakukan melalui dua metode
penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah- yaitu metode survei dan wawancara singkat
sekolah yang terpilih dalam program tersebut. pada satuan pendidikan terpilih.
Evaluasi ini akan memotret penerapan
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 87
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
1. Metode melalui jejaring dinas pendidikan provinsi dan
group SMK- PK. Pengisian survei dilakukan
Studi Implementasi kurikulum di SMK PK selama dua bulan yang menjaring data persepsi
dilakukan oleh Pusat Standar dan Kebijakan terhadap kurikulum merdeka. Responden yang
melalui studi wawancara singkat Penelitian mengisi survey sebesar 47% atau 421 SMK PK.
dilakukan di 21 satuan pendidikan pada 3
Provinsi yaitu Provinsi Banten (wilayah Kota Dua langkah di atas menunjukkan bahwa
Cilegon, Kab. Serang, dan Kab. Pandeglang), studi implementasi kurikulum secara
Provinsi Jawa Barat (Kota Bandung), dan terbatas pada program SMK PK relatif lebih
Provinsi Jawa Tengah (wilayah Kota Tegal, Kab. terbatas dibandingkan studi implementasi
Tegal, dan Kab. Brebes). Evaluasi kurikulum ini PSP. Dibutuhkan proses studi yang lebih
dilakukan melalui metode Diskusi Kelompok komprehensif untuk menghasilkan temuan
Terpumpun (DKT) pada kepala sekolah dan yang konklusif. Namun, sebagaimana akan
wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Dalam dijelaskan kemudian. hasil wawancara
studi juga dilakukan observasi singkat untuk dan survei yang dilakukan secara umum
melihat keterlaksanaan SMK PK. menunjukkan satuan pendidikan telah memulai
pelaksanaan Kurikulum Merdeka sangat
Sementara pada metode survei pendalaman beragam. Di beberapa SMK, proses adaptasi
lebih banyak ditekankan kepada persepsi kurikulum berlangsung relatif cepat, sementara
kepala sekolah terhadap kurikulum SMK PK. di beberapa SMK yang lain, proses adaptasi
Pertanyaan dikirimkan melalui instrumen yang berjalan lebih lambat.
disebarkan kepada 901 satuan pendidikan
yang merupakan populasi dari SMK PK. Survei
dilakukan melalui metode online dan disebar
2. Temuan Studi adaptasi untuk menyempurnakan implementasi
dari gagasan kurikulum merdeka (Joko,
Proses penyebarluasan gagasan dimulai pada Ulumudin, Setiyawan,dkk, 2021).
aktivitas IHT (in house training) yang dilakukan
oleh Komite Pembelajaran di setiap satuan Sama seperti pada sekolah penggerak, secara
pendidikan. Karena adaptasi dimulai dari kelas umum struktur Kurikulum Merdeka terbagi
10 maka komite pembelajaran merupakan menjadi dua aspek penting yaitu: (1) kegiatan
guru pada tingkat kelas yang sama. Komite intrakurikuler berupa tatap muka dalam kelas;
Pembelajaran memiliki tugas untuk melakukan (2) kegiatan projek penguatan profil pelajar
diseminasi pada guru lain yang mengampu pancasila (P5). Pada kegiatan intrakurikuler,
kelas 10. Proses adaptasi dimulai dengan pembelajaran di SMK PK menekankan pada
membuat perangkat pembelajaran yang model pembelajaran berbasis projek serta
sesuai dengan kaidah baru dengan konsep melakukan kolaborasi antar mata pelajaran
“Merdeka Belajar” dan “Merdeka Mengajar. yang menarik dan inovatif. Dalam hal mengukur
Meskipun kurikulum ini sudah dimulai namun
satuan pendidikan masih membutuhkan proses
88
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
hasil belajar siswa, SMK PK menggunakan tiga pembelajaran dirancang untuk mendorong
asesmen yaitu asesmen diagnostik, formatif dan peserta didik agar lebih aktif, disiplin, kreatif,
asesmen sumatif. percaya diri, dan tangguh, serta mandiri sesuai
dengan Profil lulusan SMK yang memiliki
Dalam masa adaptasi, sekolah menilai bahwa kepribadian sesuai dengan nilai-nilai “Generasi
Kurikulum Merdeka pada SMK PK merupakan Yang Berprestasi dan Berakhlak Mulia”.
kurikulum lanjutan yang secara operasional
dikembangkan secara mandiri oleh satuan Dalam SMPK PK, Pelaksanaan Asesmen hasil
pendidikan dengan melakukan berbagai belajar siswa ditekankan kepada capaian
penyesuaian sesuai dengan konteks satuan keterampilan non-teknis (soft skills), karakter,
pendidikan dan sumber daya yang tersedia. dan kesiapan kerja serta keterampilan teknis
Sebagian besar SMK PK telah menggunakan (hard skills) yang sesuai dengan kebutuhan
Kurikulum Merdeka untuk kelas X, sebagian industri. Implementasi Asesmen SMK PK
SMK juga menggunakan dua dokumen yaitu dilakukan dalam proses pembelajaran pada
dokumen Kurikulum Operasional Satuan (KOS) kegiatan harian, tengah semester dan akhir
Pendidikan yang mengacu pada spektrum semester. Sama seperti program sekolah
keahlian dan struktur kurikulum paradigma baru penggerak, asesmen pada SMK PK berfungsi
bagi peserta didik di kelas X, dan dokumen sebagai asemen for learning. Penilaian hasil
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) belajar dilakukan lebih komprehensif yaitu
yang mengacu pada spektrum keahlian dan menilai sikap, pengetahuan dan keterampilan.
struktur kurikulum 2013 revisi Tahun 2018 bagi Dari ketiga penilaian akhirnya digabungkan
peserta didik kelas XI, XII, dan XIII. Pada SMK untuk memperoleh nilai akhir semester, dimana
PK baik KOS maupun KTSP dikembangkan pada nilai raport tersebut terdiri dari nilai sikap,
dengan memperhatikan masukan sesuai pengetahuan dan keterampilan.
kompetensi yang diharapkan DU/DI. Saat ini
dokumen KOS telah dijadikan pedoman/ acuan Asesmen hasil belajar diarahkan pada
dalam melaksanakan proses pembelajaran pencapaian keterampilan softskill dalam bentuk
yang bermuara pada perwujudan pelajar yang pengamatan/observasi langsung guru mata
sesuai dengan profil pelajar Pancasila, dan pelajaran saat proses pembelajaran dengan
dikembangkan sesuai kebutuhan dan konteks instrumen observasi dan rubrik penilaian. Nilai-
sekolah. nilai yang diangkat dalam parameter penilaian
adalah Profil Pelajar Pancasila dan Karakter
Pada sejumlah SMK, Kurikulum Merdeka tidak Kerja. Untuk asesmen hardskill dilakukan dalam
hanya diimplementasikan di kelas X tetapi bentuk unjuk kerja/uji praktik/project melalui
juga telah diimplementasikan di kelas XI lembar kerja peserta didik atau jobsheet yang
dan XII dengan mengintegrasikan sejumlah disertai rubrik penilaiannya, mengacu budaya
indikator capaian pembelajaran dan RPP industri serta aspek teknis berupa hardskill
dengan menyusun berbagai kolaborasi dari dengan dilakukannya Uji sertifikasi siswa sesuai
beberapa model pembelajaran. Implementasi standar DU/DI melalui LSP-P1/LSP-P3 dan
program ini dilakukan satuan pendidikan Sertifikasi yang relevan lainnya.
untuk meningkatkan kompetensi, karakter, dan
budaya kerja siswa SMK. Kurikulum dan proses
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 89
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
Pada asesmen akhir dilakukan bersama-sama melalui aktivitas asesmen formatif dan asesmen
dengan pihak DU/DI sehingga pengguna sumatif.
lulusan diberi kesempatan untuk menguji
peserta didik, jika ditemukan kompetensi yang Sebanyak 99% responden menyatakan
belum memenuhi standar minimal industri maka setuju bahwa kurikulum merdeka yang
peserta didik diberikan kesempatan satu kali dilaksanakan di sekolah dapat menjawab
dalam uji kompetensi berikutnya. Sementara kebutuhan masa depan siswa. Sebesar 99%
asesmen hasil belajar yang berkaitan dengan responden menyatakan setuju bahwa dengan
keterampilan non teknis/soft skill dilakukan oleh adanya kurikulum merdeka, guru memiliki
guru melalui metode observasi baik selama kemerdekaan belajar dalam menentukan materi
pembelajaran di luar proses pembelajaran, ajar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
sedangkan asesmen yang berkaitan dengan
keterampilan teknis/hard skill yang diperoleh
Gambar 4.25. Persepsi Guru bahwa Kurikulum Merdeka Menjawab kebutuhan murid (kiri) dan Persepsi Bahwa Kurikulum
Merdeka Guru memiliki Kemerdekaan Mengajar (kanan) n= 421
Sumber: Direktorat SMK
Persepsi positif di atas sejalan dengan semakin kompetensi keahlian bagi siswa, 66% SMK PK
beragamnya metode pembelajaran yang telah melaksanakan program teaching factory
digunakan di SMK PK. Survei yang dilakukan dengan dunia kerja, dan 67,53% SMK PK telah
oleh Direktorat vokasi menunjukkan 87.35% melakukan project based learning bersama
SMK PK telah melakukan program magang dunia kerja.
D. Kesimpulan segi kondisi geografi, kurikulum ini juga dapat
diimplementasikan oleh sekolah yang berada
Kurikulum Merdeka telah diimplementasikan di kawasan tertinggal maupun di perkotaan.
secara terbatas pada Program Sekolah Temuan dari studi menunjukan sejumlah
Penggerak dan SMK Pusat Keunggulan. praktik baik terjadi baik di sekolah dengan
Implementasi terbatas tersebut telah menyasar sarana dan prasarana memadai maupun di
berbagai jenjang, seperti: SLB, PAUD, SD, SMP,
SMA, dan SMK baik swasta maupun negeri. Dari
90
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA SECARA TERBATAS
sekolah yang memiliki sejumlah keterbatasan. kurikulum memberikan ruang bagi guru untuk
Dalam praktik baik yang dilakukan oleh satuan memberikan pembelajaran yang kontekstual
pendidikan, Kurikulum Merdeka mendorong yang berpihak pada murid. Kurikulum yang
guru untuk senantiasa memberikan strategi fleksibel dan mengasah kreativitas dapat
pembelajaran yang berpihak kepada peserta meningkatkan hasil belajar siswa. Kedepan
didik. Pada dasarnya tidak ada kurikulum yang kurikulum ini juga dapat menjawab tantangan
sesuai dengan kebutuhan semua guru dan zaman yang terus berkembang karena
peserta didik di Indonesia. Namun, fleksibilitas guru dapat fleksibel mengubah strategi
dalam hal mengajar dan mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa
strategi pembelajaran yang terdapat dalam dan perkembangan zaman.
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 91
05 Rancangan
Implementasi
Kurikulum Merdeka
Pada bab ini diuraikan mengenai rekomendasi Bab 3 menjelaskan rancangan Kurikulum
untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dan disampaikan bahwa pemerintah
Merdeka di satuan pendidikan di Indonesia pusat hanya menetapkan kompetensi yang
dalam rangka pemulihan pembelajaran. Para dituju (Capaian Pembelajaran) dan struktur
pemangku kepentingan terkait perlu memahami dasar kurikulum yang relatif longgar. Dengan
dan menyadari bahwa perubahan kurikulum demikian, satuan pendidikan memiliki
merupakan suatu proses besar yang kompleks, keleluasaan untuk mengembangkan kurikulum.
dan memiliki beberapa tantangan dari berbagai Desain kurikulum yang memberikan fleksibilitas
aspek seperti kompetensi guru, situasi dan tersebut juga perlu diikuti dengan implementasi
konteks lokal, serta pengaruh dari kebijakan- yang memberikan fleksibilitas kepada satuan
kebijakan lainnya yang terkait pendidikan. pendidikan. Oleh karena itu itu Bab 5 ini
Proses pemaknaan kebijakan dan kemampuan menjelaskan kerangka berpikir yang melandasi
adaptasi dari berbagai pemangku kepentingan strategi implementasi Kurikulum Merdeka
terkait menjadi aspek kunci untuk menyiapkan untuk memulihkan pembelajaran dengan
implementasi Kurikulum Merdeka secara struktur sebagai berikut. Bagian A menjelaskan
efektif, yaitu implementasi yang memberikan kerangka teori implementasi yang diadaptasi
dampak positif terhadap hasil belajar dari teori sistem ekologi yang dicetuskan oleh
peserta didik. Untuk itu, Kemendikbudristek Bronfenbrenner dan disesuaikan oleh OECD
memberikan pilihan bagi satuan pendidikan (2020) untuk menjelaskan faktor-faktor yang
untuk menggunakan kurikulum yang sesuai berkaitan dan mempengaruhi implementasi
dengan kondisi dan kesiapan masing-masing kurikulum. Model sistem ekologi tersebut
satuan pendidikan itu sendiri. Adapun membantu dalam menganalisis tantangan
tiga pilihan kurikulum yang disiapkan oleh implementasi kurikulum dari berbagai level
Kemendikbudristek dalam rangka pemulihan sistem serta dalam mengidentifikasi peran
pembelajaran meliputi Kurikulum 2013 (secara masing-masing aktor dari level yang berbeda,
penuh), Kurikulum Darurat (Kurikulum 2013 yang dapat mendukung proses implementasi
yang disederhanakan), dan Kurikulum Merdeka. kurikulum.
Bersamaan dengan diluncurkannya kebijakan
pemulihan pembelajaran ini, Kemendikbudristek Dalam Bagian A juga disampaikan teori
juga menyediakan sistem informasi tentang proses pemaknaan (sensemaking) kebijakan
kurikulum-kurikulum di atas dan sebuah pendidikan (Spillane, 2014) yang dipengaruhi
platform bernama Platform Merdeka Mengajar faktor internal individu, faktor situasi dan
sebagai dukungan untuk membantu satuan konteks lokal, serta faktor dukungan yang
pendidikan memahami kebijakan ini. didapat oleh pendidik dan satuan pendidikan
92
RANCANGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
untuk mengimplementasikan kurikulum. sesuai dengan tahap kesiapan masing-masing
Selanjutnya bagian B menjelaskan konteks tanpa harus mengimplementasikannya secara
pandemi COVID-19 yang menambah seragam, dan (3) dukungan implementasi
kompleksitas implementasi kurikulum. diberikan sesuai kebutuhan satuan pendidikan
Konteks ini penting sekali untuk disadari, dan pendidik. Dalam masa pemulihan
mengingat implementasi Kurikulum Merdeka pembelajaran akan dilaksanakan monitoring,
dilakukan pada masa yang tidak “normal”. evaluasi dan perbaikan terhadap implementasi
Setelah itu Bagian C menjelaskan strategi kebijakan terkait beserta komponen-
kunci untuk implementasi Kurikulum Merdeka komponennya. Hasil dari proses monitoring
berdasarkan kerangka teori dan konteks saat dan evaluasi (monev) kemudian akan menjadi
ini, dan dengan merujuk pula pada prinsip- bahan pertimbangan untuk penetapan
prinsip perancangan kurikulum yang telah kebijakan pendidikan nasional di masa
disampaikan pada Bab 3 Kajian Akademik mendatang. Namun demikian, monev juga
ini. Ada tiga prinsip yang melandasi strategi dilakukan untuk membantu satuan pendidikan
implementasi kurikulum, yaitu: (1) Kurikulum bergerak dari tahap implementasi satu ke tahap
Merdeka merupakan pilihan, sehingga tidak berikutnya, sehingga implementasi benar-benar
ada kewajiban untuk satuan pendidikan menjadi bagian dari perbaikan terus menerus
mengimplementasikannya sebagai upaya (continuous improvement).
pemulihan pembelajaran, (2) Implementasi
kurikulum adalah proses belajar untuk satuan
pendidikan dan pendidik, sehingga perlu
A. Kerangka Teori Implementasi Kurikulum
Implementasi perubahan kebijakan memperhatikan kompleksitas implementasinya
pendidikan, termasuk kurikulum, adalah di tingkat lokal, yaitu di tingkat daerah, satuan
suatu proses yang kompleks. Perancang pendidikan, dan di kelas.
kebijakan perlu memperhatikan kompleksitas
karena keberhasilan suatu kurikulum tidak Spillane (2004) menggunakan analogi
hanya ditentukan oleh desain kurikulum permainan “pesan berantai” untuk menjelaskan
tersebut tetapi juga oleh pengelolaan proses implementasi kebijakan dari pemerintah
perubahan (change management) serta pusat hingga ke guru. Pemain di ujung
strategi yang digunakan untuk mendukung kiri membisikkan pesan kepada orang di
satuan pendidikan dan pendidik sebelahnya, dan kemudian orang ke-2 tersebut
mengimplementasikannya. Menurut Stephen melanjutkan ke orang ke-3, dan seterusnya
Ball dan rekan-rekan (2012), perubahan- hingga mencapai orang terakhir. Pemenang dari
perubahan kebijakan termasuk kurikulum permainan beregu ini adalah kelompok yang
seringkali tidak menghasilkan perubahan dapat menghantarkan pesan dengan deviasi
nyata di ruang-ruang kelas di satuan atau penyimpangan isi yang paling sedikit.
pendidikan karena pembuat kebijakan tidak Akan tetapi, dalam implementasi kebijakan di
satuan pendidikan, permainan pesan berantai
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 93
RANCANGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
ini lebih rumit. Satuan pendidikan dan pendidik Dalam kajiannya tentang bagaimana sekolah-
sebagai orang ke-3 dari permainan tadi juga sekolah di Amerika Serikat merespon reformasi
menerima pesan dari pihak lain, tidak hanya kebijakan, Anthony Bryk dan rekan-rekan
dari orang pertama (pemerintah pusat). Pesan- (2015) menyimpulkan bahwa implementasi
pesan itu datang dari pemerintah daerah, orang kebijakan dalam konteks yang berbeda akan
tua murid, masyarakat, bahkan juga peserta selalu menimbulkan reaksi dan respon yang
didik. Mereka menyampaikan harapan, keluhan, berbeda. Hal ini terjadi sebagai dampak dari
dan pandangan yang mengharapkan satuan interaksi antara kebijakan yang datang dari
pendidikan untuk menyesuaikan kebijakan luar sekolah dengan kebijakan, praktik, tradisi,
dengan kebutuhan mereka. Inilah salah satu dan budaya yang sudah berjalan di sekolah.
analogi yang digunakan untuk menjelaskan Proses adaptasi kebijakan seringkali akan
kompleksitas implementasi kurikulum. menimbulkan konflik dan masalah baru di
satuan pendidikan, dan hal ini pada hakikatnya
Menurut pengamatan Stephen Ball dan adalah bagian dari proses belajar (Bryk et al.,
rekan-rekan (2012), seringkali masalah 2015). Namun demikian, pemerintah sebaiknya
implementasi diselesaikan melalui pembuatan tidak membiarkan satuan pendidikan sendiri
kebijakan baru tanpa mengubah strategi melewati proses belajar yang penuh dinamika
implementasinya secara signifikan. Hal ini tersebut. Sebaliknya, dukungan harus terus
dilakukan karena pembuat kebijakan berasumsi diberikan agar proses yang terjadi di satuan
bahwa rancangan kebijakan sedemikian pendidikan tersebut menghasilkan luaran yang
kuat pengaruhnya untuk mengelola perilaku diharapkan, yaitu implementasi kebijakan yang
guru yang menerapkan kebijakan tersebut, secara nyata berdampak positif pada kualitas
tanpa peduli bagaimana kebijakan tersebut pembelajaran.
diperkenalkan dan dikelola implementasinya.
Kegagalan kebijakan membuat perubahan di Dinamika dan problem baru yang muncul akibat
satuan pendidikan dianggap sebagai kegagalan diperkenalkan dan diimplementasikannya
desain, bukan kegagalan implementasi. kebijakan baru pun berbeda-beda sesuai
Sementara menurut Taylor (1997 cit. Ball et al., konteks satuan pendidikan masing-masing.
2012), respon tersebut juga dilakukan karena Di saat yang sama, dukungan untuk
pemerintah merasa bahwa membuat kebijakan melancarkan proses implementasi juga
adalah hal yang paling memungkinkan dibutuhkan dari berbagai pihak atau pemangku
untuk dilakukan di bawah kendali mereka, kepentingan dalam sistem pendidikan. Untuk
sementara hal-hal yang terjadi di akar rumput memahami konteks serta dukungan dari
berada di luar kendali mereka. Hal ini lah yang pemangku kepentingan yang dimaksud,
mendorong apa yang disebut “the more things pendekatan sistem ekologi digunakan untuk
change, the more they remain the same” memvisualisasikannya. Bagian 1.1 menjelaskan
(semakin banyak perubahan, semakin banyak kerangka teori sistem ekologi di area
yang sama saja) (Wilcox et al., 2017). Karena implementasi kebijakan.
perubahan terus dilakukan namun strategi
implementasi yang justru menjadi problemnya
tidak pernah diselesaikan.
94
RANCANGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
1. Pendekatan Sistem Ekologi Gambar 5.26. Pendekatan Sistem Ekologi Untuk
Implementasi Kurikulum (OECD, 2020)
Implementasi kebijakan pendidikan sering
dianggap sebagai suatu proses linear satu arah, Gambar 5.1 memperlihatkan lapisan-lapisan
yaitu top-down (pemerintah pusat memberikan sistem yang memberikan pengaruh langsung
arahan kepada daerah, satuan pendidikan, dan maupun tidak langsung terhadap keberhasilan
kemudian kepada pendidik) ataupun bottom- implementasi kurikulum untuk mencapai tujuan
up (pendidik melakukan inisiatif perubahan utamanya, yaitu pengembangan karakter dan
yang kemudian ditingkatkan skalanya hingga kompetensi peserta didik secara optimal.
berujung pada perubahan kebijakan di tingkat Dalam gambar tersebut, peserta didik menjadi
pusat). Pakar (Ball et al., 2012; Bjork, 2016; Bryk pusat (center) dari kebijakan kurikulum karena
et al., 2015; Viennet & Pont, 2017) mengkritik sejatinya seluruh kebijakan pendidikan
pandangan tersebut, dan berpendapat bahwa mengarah pada keberhasilan peserta didik.
implementasi kebijakan adalah interaksi proses Prinsip berpusat pada peserta didik ini
yang kompleks antara kebijakan dari pusat, digunakan baik dalam perancangan desain
respon dari akar rumput (satuan pendidikan), kurikulum dan juga implementasinya.
serta dinamika yang berlangsung sebagai
reaksi dari masyarakat, tokoh politik, dan orang Mikrosistem. Terletak pada lapisan kedua,
tua yang diamplifikasi oleh saluran-saluran mikrosistem adalah hal-hal yang paling
media. berkaitan langsung dengan pembelajaran
peserta didik. Terkait kurikulum, mikrosistem
Oleh karena implementasi perubahan kurikulum adalah interaksi antara peserta didik,
merupakan proses yang dinamis, non-linear, pendidik, dan materi pelajaran. Faktor
dan dipengaruhi oleh banyak pemangku individu pendidik, yaitu kompetensinya, nilai-
kepentingan. OECD (2020) mengembangkan nilai serta keyakinannya, serta pengalaman
model sistem ekologi untuk memahami
pihak-pihak yang turut berpengaruh dalam
keberhasilan implementasi perubahan
kurikulum serta interaksi antar pemangku
kepentingan di berbagai level. Model ini
diadaptasi dari teori Bronfenbrenner tentang
pengaruh lingkungan sosial yang saling
berkaitan terhadap perkembangan individu.
Model sistem ekologi untuk menjelaskan
implementasi kurikulum digambarkan
sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar 5.1
berikut ini.
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 95
RANCANGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
personalnya pun termasuk dalam mikrosistem. Wilcox et al., 2017). Budaya ini biasanya juga
Kapasitas ini akan mempengaruhi bagaimana ditunjukkan dengan kuatnya kolaborasi antar
pendidik mengimplementasikan kurikulum di guru dan kemampuan mereka bekerja sebagai
kelasnya. Termasuk juga dalam mikrosistem tim yang juga menjadi faktor pendorong
adalah praktik yang dilakukan guru serta implementasi kurikulum (Cheung & Wong,
proses yang berlangsung dalam kegiatan 2012; OECD, 2019). Yang juga berdampak
belajar intrakurikuler dan projek penguatan positif pada implementasi inovasi pendidikan
profil pelajar Pancasila. Interaksi antara guru di satuan pendidikan adalah keterbukaan dan
dengan siswa dan antar siswa di kelas juga rasa percaya antara pendidik dengan orang tua
menjadi faktor yang mempengaruhi perubahan (Mapp & Kuttner, 2013).
pendekatan pembelajaran ketika kurikulum
baru diimplementasikan. Sebagai contoh, dalam Eksosistem. Sistem yang lebih luar, yaitu
suasana kelas di mana guru menempatkan diri eksosistem, adalah representasi dari
sebagai sumber ilmu pengetahuan dan siswa pemerintah daerah dan pemerintah pusat serta
adalah konsumen ilmu pengetahuan tersebut, kebijakan-kebijakan pendidikan yang secara
pembelajaran yang mendorong nalar kritis dan langsung berpengaruh pada implementasi
kreatif akan sulit terbangun (Sahlberg, 2020). kurikulum, dan dalam konteks Indonesia adalah
Standar Nasional Pendidikan (SNP) khususnya
Mesosistem. Lapisan pengaruh berikutnya Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi,
adalah mesistem, yaitu aspek-aspek kolektif Standar Proses, dan Standar Penilaian.
dalam satuan pendidikan. Mesosistem ini Keempat standar tersebut menjadi rujukan
menjadi perhatian banyak pakar dalam kajian dalam perancangan kurikulum, sebagaimana
implementasi kurikulum (misalnya Ball et al., yang dijelaskan dalam Bab 3. Contoh lain
2012; Bryk et al., 2015; Wilcox et al,, 2017). kebijakan yang perlu selaras (aligned) dengan
Kesiapan sekolah untuk berinovasi salah implementasi kurikulum antara lain adalah
satunya ditentukan oleh kepemimpinan yang tentang beban kerja guru yang mungkin
efektif di mana kepala sekolah serta jajarannya berubah sebagai akibat dari perubahan
membangun budaya belajar di kalangan struktur kurikulum, penggunaan dana bantuan
guru-guru dan berbagai strategi digunakan operasional sekolah (BOS) yang perlu selaras
untuk mentransformasi pembelajaran di kelas. dengan kegiatan pembelajaran intrakurikuler
Kepemimpinan yang menguatkan pembelajaran dan projek penguatan profil pelajar Pancasila,
di kalangan guru akan menimbulkan rasa termasuk juga penerimaan peserta didik
aman untuk mencoba berinovasi dan baru yang perlu berubah sebagai akibat
mengimplementasikan kurikulum baru (Bryk et perubahan struktur kurikulum di SMA/MA.
al., 2015; OECD, 2019; Wilcox et al., 2017). Apabila kebijakan-kebijakan ini tidak selaras
dengan arah kebijakan Kurikulum Merdeka,
Faktor mesosistem lain yang juga penting maka implementasi kurikulum juga akan
adalah komunikasi dan budaya kerja di satuan terhambat atau tidak sesuai dengan tujuan
pendidikan. Budaya kerja yang terbuka, saling yang diharapkan.
percaya, serta kolaborasi antar pendidik
yang kuat, misalnya, dinilai penting dalam Termasuk juga dalam eksosistem adalah
implementasi kurikulum (Bryk et al., 2015; peran masyarakat termasuk universitas,
96
RANCANGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
organisasi non-profit, industri, serta pihak- muatan dan proses belajar, salah satunya
pihak yang mendampingi pemerintah baik melalui unit pelajaran yang terintegrasi. Dengan
di tingkat pusat maupun daerah. Mereka pengurangan beban belajar harapannya
berperan dalam memberikan dukungan melalui tingkat kelelahan baik fisik maupun mental
peningkatan kapasitas guru serta dukungan anak-anak muda di Jepang dapat menurun.
bentuk lainnya seperti sarana dan prasarana Namun demikian perubahan ini tidak selaras
pembelajaran yang kemudian mempengaruhi dengan paradigma pemangku kepentingan
proses pembelajaran dan implementasi yang utama, yaitu orang tua bahkan juga
kurikulum di satuan pendidikan. Organisasi- guru. Bagi guru dan juga orang tua, hal yang
organisasi ini juga ada yang berperan sebagai paling utama dalam pendidikan menengah,
perantara (intermediary) antara institusi sekolah terutama jenjang SMA, adalah kompetensi
dengan keluarga yang menjadi penting yang dibutuhkan untuk dapat bersaing masuk
untuk membangun pemahaman yang sama perguruan tinggi yang terbaik. Oleh karena itu,
antara orang tua dan guru tentang perubahan kebijakan yang meringankan beban belajar
kurikulum dan implikasinya terhadap siswa tersebut justru dianggap kontraproduktif.
pembelajaran peserta didik (Lopez et al., 2005). Ketidakselarasan antara kebijakan kurikulum
dengan paradigma merupakan tantangan
Makrosistem. Sebagai bagian terluar makrosistem dalam perubahan kurikulum.
dalam sistem berlapis dari model ekologi,
makrosistem adalah ideologi budaya dan sosial Kronosistem. Dalam konteks implementasi
serta keyakinan yang mempengaruhi sistem kurikulum, kronosistem berkaitan dengan
pendidikan, proses pembelajaran, dan juga konteks waktu (OECD, 2019). Waktu
lingkungan belajar peserta didik. Pandangan adalah hal yang sangat esensial dalam
masyarakat tentang peran pendidikan serta melakukan perubahan kurikulum karena
diskursus publik yang dominan tentang guru membutuhkan waktu untuk memproses
pendidikan yang ideal dapat mempengaruhi perubahan yang disampaikan pada mereka.
proses pemaknaan kurikulum di satuan Tanpa adanya waktu yang mencukupi, guru-
pendidikan. Sebagai contoh, keselarasan antara guru merasa frustasi dan menolak perubahan
paradigma guru, orang tua, dan masyarakat (Cheung & Wong, 2012; Wilcox et al., 2017).
tentang kemampuan apa yang penting Untuk membangun rasa percaya diri dan
untuk dikembangkan peserta didik akan rasa nyaman untuk mengimplementasikan
mempengaruhi keberlangsungan kebijakan perubahan, waktu adalah aset yang perlu
kurikulum baru (Bjork, 2016). dimanfaatkan secara strategis oleh pembuat
kebijakan (Tikkanen et al., 2017).
Dalam studinya tentang relaksasi kebijakan
kurikulum di Jepang, Bjork (2016) menemukan Setiap lapis sistem memberikan pengaruh baik
bahwa kebijakan yang sebenarnya secara langsung maupun tidak langsung serta
ditujukan untuk penguatan kompetensi dan berinteraksi satu sama lain dan mempengaruhi
kesejahteraan (well-being) generasi muda implementasi kurikulum. Waktu juga
tidak selaras dengan paradigma pemangku mempengaruhi hubungan atau interaksi dalam
kepentingan tersebut tentang pendidikan. sistem dan antara sistem yang makro dengan
Kurikulum tersebut dirancang untuk merelaksasi yang lebih mikro. Misalnya, implementasi
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 97
RANCANGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
kurikulum dapat dipengaruhi oleh konteks komprehensif, tidak hanya menargetkan proses
pandemi COVID-19 sehingga setelah pandemi yang berkaitan langsung dengan pembelajaran
berakhir, moda pembelajaran dan interaksi di kelas. Menggunakan perspektif sistem
antara guru dan siswa berubah. Implementasi ekologi ini, perancang kurikulum dapat
kurikulum juga mungkin berubah. Oleh karena memahami faktor-faktor yang mempengaruhi
itu, penting untuk menyertakan konteks waktu pemahaman, penerimaan, serta keputusan
dalam strategi dan analisis implementasi pendidik dan juga pimpinan satuan pendidikan
kurikulum dari waktu ke waktu. dalam merespon kebijakan baru yang perlu
mereka implementasikan. Proses ini dikenal
Pendekatan sistem ekologi untuk implementasi sebagai sense-making process atau proses
kurikulum (OECD, 2020) berguna untuk pemaknaan kebijakan (Spillane, 2004).
mengidentifikasi masalah implementasi serta
menentukan strategi implementasi yang lebih
2. Proses Pemaknaan Kurikulum tersebut pun terus berdinamika dari waktu ke
waktu atau yang disebut dengan pengaruh dari
Pakar sepakat bahwa guru adalah pusat kronosistem dalam pendekatan sistem ekologi
dari implementasi perubahan kurikulum, (Gambar 5.1).
sebagaimana siswa adalah pusat dari proses
pembelajaran (Kneen et al., 2021; Spillane et al., Spillane dan rekan-rekan (2002)
2002). Ketetapan, peraturan, serta dokumen mengembangkan kerangka teori untuk
kebijakan lainnya yang dikeluarkan oleh memahami proses pemaknaan (sensemaking)
pemerintah akan melewati proses pemaknaan yang dilakukan oleh para pelaku kebijakan
oleh satuan pendidikan dan pendidik (Ball, di tingkat lokal. Menurut mereka, ada tiga
2005). Kompleksitas proses implementasi di pengaruh terhadap pemaknaan kebijakan,
tingkat satuan pendidikan terjadi sejak para yaitu: (1) interpretasi yang dilakukan setiap
pelaku kebijakan di tingkat lokal (guru, kepala individu (individual cognition) yang terjadi
sekolah, pemerintah daerah) menginterpretasi ketika individu mempelajari kebijakan
atau memaknai kebijakan (Spillane et al., 2002). dengan dipengaruhi oleh pengetahuannya,
Proses pemaknaan (sensemaking) kebijakan pengalaman, nilai-nilai, serta keyakinannya
menjadi semakin kompleks dengan adanya tentang tujuan pendidikan, makna
perdebatan, kesepakatan, dan kompromi pembelajaran, serta peran mereka sebagai
antar berbagai pihak baik di dalam satuan pendidik; (2) interpretasi yang dilakukan karena
pendidikan maupun antara satuan pendidikan pengaruh situasi (situated cognition) atau
dengan pemerintah daerah dan/atau pusat interaksi individu dengan situasi di sekitarnya,
dan juga antara pemerintah dan masyarakat. sesuai dengan konteks tempat ia bekerja;
Oleh karena itu, satu kebijakan pendidikan dan (3) peran representasi pembuat kebijakan
dari pusat sebenarnya tidak pernah tunggal, yang membantu dalam proses interpretasi,
melainkan melahirkan kebijakan-kebijakan yang memfasilitasi proses pemahaman kebijakan
beragam karena adanya proses interpretasi dan
negosiasi tersebut (Ball, 2005). Satu kebijakan
98
RANCANGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
tersebut. Termasuk dalam representasi tersebut terpengaruh oleh pandangan tersebut
adalah pelatihan dan peran pemerintah daerah atau khawatir akan kehilangan legitimasi
dalam mendampingi proses implementasi publik apabila mereka tetap melaksanakan
kebijakan. Kerangka Spillane dan rekan-rekan arahan pemerintah untuk mengimplementasi
ini selaras dengan kerangka teori sistem kurikulum (Ball et al., 2012). Ketika memaknai
ekologi (OECD, 2020) yang membagi faktor suatu kebijakan, pendidik tidak semata-mata
pengaruh implementasi kurikulum menjadi menggunakan kognisinya atau pemahaman
beberapa lapisan (lihat Gambar 5.1). pribadinya tentang isi kebijakan tersebut.
Mereka juga mempertimbangkan lingkungan
Kerangka tentang proses pemaknaan kebijakan di sekitarnya serta situasi yang kompleks dan
oleh guru tersebut setidaknya menunjukkan dinamis yang harus mereka hadapi setiap hari
dua hal besar. Pertama, guru adalah pihak yang (Lipsky, 1981; Wilcox et al., 2017).
memiliki kuasa atau kendali (agency). Dengan
kendalinya tersebut, secara aktif mereka Guru dengan kuasa (agency) yang dimilikinya
dapat memaknai dan mengambil keputusan menjadikan mereka sebagai birokrat akar
bagaimana kebijakan yang sampai di tangan rumput (street-level bureaucrats) (Lipsky, 1980).
mereka akan direspon. Mereka memiliki kuasa Sebagai birokrat akar rumput, guru lah yang
untuk menentukan apakah kebijakan tadi akan pada akhirnya dapat menilai apakah Capaian
dilaksanakan sesuai dengan arahan pemerintah Pembelajaran telah digunakan dan secara
sepenuhnya, akan dimodifikasi sesuai dengan efektif dapat mengembangkan kompetensi
situasi dan konteks yang mereka hadapi, atau siswa, menentukan apakah projek penguatan
akan didiamkan saja seolah-olah berubah profil pelajar Pancasila perlu diimplementasikan
padahal masih melakukan praktik yang sama sebagaimana yang dianjurkan, dan seterusnya.
(Kneen et al., 2021; Spillane, 2004; Wilcox et al., Keputusan-keputusan yang mereka buat
2017). pada akhirnya menjadi kebijakan yang
diimplementasikan secara nyata, atau yang
Kedua, meskipun proses pemaknaan disebut Stephen Ball (2005) sebagai kebijakan
kebijakan dilakukan oleh guru di tingkat yang sebenarnya.
satuan pendidikan, proses ini tidak hanya
mengandalkan sumber daya yang ada di satuan Keputusan-keputusan yang dibuat oleh
pendidikan (mesosistem), tetapi juga dukungan birokrat akar rumput tidak selalu sejalan
pemerintah dan organisasi lainnya (eksosistem) atau mendukung kebijakan pusat. Namun
yang dapat membantu guru memahami demikian, hal ini tidak dapat selalu dianggap
kebijakan kurikulum yang baru tersebut. Pada sebagai penolakan atau kesengajaan untuk
sisi sebaliknya, tantangan dan hambatan menentang dan mengacuhkan arahan. Lipsky
implementasi kurikulum juga demikian, dapat (1980) dan Spillane (2004) menjelaskan
terjadi akibat pengaruh eksosistem dan bahwa profesi pelayan publik seperti guru,
makrosistem. Sebagaimana yang dijelaskan perawat, pekerja sosial, polisi, dan pekerjaan
pada bagian sebelumnya, pandangan negatif lain yang berinteraksi langsung dengan
masyarakat terhadap perubahan kurikulum, masyarakat seringkali tidak dapat memenuhi
misalnya, dapat mempengaruhi proses ekspektasi pemerintah pusat dalam hal
sensemaking ketika guru dan kepala sekolah implementasi kebijakan akibat situasi yang
KAJIAN AKADEMIK KURIKULUM UNTUK PEMULIHAN PEMBELAJARAN 99
RANCANGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
mereka hadapi. Mereka harus berhadapan implementasi secara taat (implementation
dengan berbagai kejadian yang membutuhkan fidelity) menuju implementasi dengan integritas
kemampuan improvisasi dan kemahiran (implementation integrity) (OECD, 2020).
untuk dapat memberikan respon cepat, Semula satuan pendidikan dan guru diharapkan
sementara kebijakan yang diarahkan untuk untuk mengimplementasikan kebijakan dengan
mereka patuhi dirancang dengan asumsi mematuhi sepenuhnya arahan yang teknis
bahwa pekerjaan mereka tersebut stabil dan dan konkret, namun pendekatan itu semakin
monoton. Maka dari itu, keputusan yang dibuat ditinggalkan oleh banyak negara. Berdasarkan
oleh birokrat akar rumput seringkali berbeda berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa
dengan apa yang diinginkan pemerintah pendekatan top-down seperti tidak memberikan
pusat karena kompleksitas situasi yang hasil yang diharapkan, maka pendekatan yang
harus dihadapi guru seringkali menuntut digunakan adalah memberikan keleluasaan
mereka untuk mengabaikan kebijakan, kepada satuan pendidikan dan pendidik untuk
memodifikasinya, mengubah arahnya, atau mengadaptasi kebijakan dari pemerintah pusat
mengimplementasikannya hanya di permukaan sesuai dengan konteks masing-masing dan
yang kasat mata saja (Spillane et al., 2002) tetap selaras (kongruen atau sebangun) dengan
tujuan dan prinsip-prinsip yang ditetapkan (Bryk
Perubahan yang terlalu banyak dan et al., 2015; OECD, 2019). Dengan kata lain,
harus dilakukan dalam waktu yang terlalu arah kebijakan implementasi kurikulum yang
cepat menyebabkan guru frustasi dalam berkembang saat ini adalah pendekatan yang
mengimplementasikan suatu kebijakan baru. memberikan kewenangan atau kendali (agency)
Rasa putus asa dan kelelahan yang dirasakan kepada kepala sekolah dan guru di satuan
oleh birokrat akar rumput ini membawa pendidikan. Langkah ini pula yang menjadi
dampak negatif yang lebih signifikan. Dalam pilihan strategi untuk implementasi Kurikulum
keadaan terpaksa untuk melakukan perubahan Merdeka, yaitu memberikan pilihan kepada
dan kesulitan untuk mengimplementasikan satuan pendidikan (dijelaskan lebih mendalam
kurikulum, satuan pendidikan dan guru dengan di bagian 3 Bab 5).
agency yang mereka miliki akan cenderung
mencari jalan yang paling mudah untuk Implikasi dari pemahaman tentang teacher
menerapkan kurikulum. Cara yang mudah agency dan proses sensemaking kebijakan
ini biasanya adalah pendekatan yang nyaris perlu direspon oleh pembuat kebijakan.
serupa dengan praktik-praktik yang sudah Pemerintah pusat perlu memberikan ruang
pernah dilakukan atau status quo (Tyack & kepada pendidik dan satuan pendidikan
Cuban, 1997; Wilcox et al., 2017), sehingga pada untuk mengimplementasikan perubahan
akhirnya kebijakan baru tidak menghasilkan kurikulum secara fleksibel (Kneen et al.,
perubahan apapun di ruang kelas. 2021) serta memberikan waktu untuk mereka
untuk memaknai kurikulum (Spillane, 2004).
Menyadari agency yang dimiliki para birokrat Satuan pendidikan dan guru perlu diberikan
akar rumput serta tantangan implementasi wewenang, tanggung jawab, sekaligus ruang
kurikulum di berbagai negara dari waktu untuk menyesuaikan implementasi kurikulum
ke waktu, tren strategi implementasi dengan konteks dan situasinya di tingkat lokal.
kebijakan pendidikan saat ini bergerak dari Konteks yang dimaksud tidak sebatas pada
100