The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search

Warta Padua Digital No. 34/Oktober 2025

Warta Padua Digital No. 34/Oktober 2025

Keywords: warta padua,warta padua digital,seksi komsos,komsos bidaracina,paroki bidaracina,gereja antonius padua,antonius padua jakarta timur,romo heru scj,antonius heruyono

EDISI 34/OKTOBER 2025


2Sapa Redaksi 3Sorotan Utama 4• Mgr. Suharyo: “Di Seluruh KAJ, Baru Ada di Paroki Bidaracina” 4Sorotan Khusus 10• Doa, dan Kekuatan di Saat Genting 10• Ad Infinitum: Kasih Tak Terhingga Sepanjang Masa 14Di Antara Kita 18• Orang Muda Katolik “Kembali ke Setelan Awal” 18• Kolaborasi Berbagai Subseksi dan Lingkungan sebagai Belarasa bagi KLMTD 22• Tergenapilah Firman Tuhan di Tahun Yubileum 32• Porta Sancta Komunitas Awam Dehonian (KAD) Paroki Bidaracina 36Renungan 40• Jangan Lelah Menanti Jawaban Tuhan 40Lensa Kita 42Obrolan di Selasar 74• Ziarek 74Warta Gereja 76TIM REDAKSIPenerbit:SEKSI KOMSOS Paroki BidaracinaGereja St. Antonius PaduaModerator:Rm. Antonius Heruyono, SCJDewan Paroki Pendamping:Henricus Haryo SudirjoEditor:Veronica B. Vonny dan Eko Y.A. FangohoyTim Redaksi:Komsos Paroki BidaracinaDesain Kover:Tim RedaksiDesain Majalah:Maria AudreyEko Y.A. FangohoyTim Foto:Fernando, Veronica, Jessica, Frengky, David, Bisma, Tadeo, Agung, EkoSumber Foto:Cover: Frengky Saptaputra Lensa Kita: Seksi KomsosRubrik Lain: Seksi Komsos (atau disebutkan pada akhir tulisan jika dari sumber lain)Redaksi menerima tulisan dan foto-foto kegiatan lingkungan/wilayah, seksi, dan kegiatan lainnya di Paroki Bidaracina. Tulisan dan foto dikirim paling lambat pekan ke-2 setiap bulan atau sebelum tanggal 20, ke WA Vero (081311215507) atau Eko (08129442814)EDISI 34/OKTOBER 2025


3SAPA REDAKSIWarta Padua edisi ini menurunkan laporan utama yang mengangkat Misa Pemberkatan Gedung Cura Animarum. Siapa para pembaca yang mengikuti misa ini yang diadakan pada 1 November 2025 yang lalu? Kalau tidak mengikuti, silakan menonton rekamannya di PTV Bidaracina, channel YouTube paroki kita.Bertepatan dengan Misa Hari Raya Semua Orang Kudus, Kardinal Suharyo berkenan hadir ke paroki kita dan memimpin misa pada hari itu! Luar biasa! Yang luar biasa adalah isi khotbah beliau yang mengangkat beberapa hal yang menarik untuk disimak. Silakan nikmati sajian kami dalam rubrik Sorotan Utama.Dalam rubrik Sorotan Khusus, kami menurunkan dua tulisan sekaligus, yaitu tulisan mengenai Bulan Rosario dan satu tulisan dari Frater Yu, SCJ. Tulisan tentang apa itu? Silakan nikmati tulisan Frater yang ternyata jago menulis ini! Selain itu, di dalam rubrik Di Antara Kita, kami menurunkan beberapa tulisan terkait dengan ziarah Porta Sancta. Wah, ziarah dari wilayah, lingkungan, atau kelompok mana nih? Silakan cek sendiri ya. Dan jangan lupa, para pembaca bisa mengirim tulisan atau foto kegiatan serupa, seperti ziarah atau ibadah di Salam, Sobat Padua! November! Bulan depan kita akan memasuki bulan Desember, bulan terakhir! Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Natal sebentar lagi akan tiba, tetapi tentunya didahului masa-masa Adven. Panitia Natal paroki pun sudah mulai dibentuk dan mencari dana. Bagaimana persiapan para pembaca pada bulan-bulan ini? lingkungan atau wilayah. Selain itu, nikmati foto-foto di rubrik Lensa Kita. Banyak deh, kegiatan yang foto-fotonya ada di rubrik itu. Kalau kurang banyak, silakan kirimkan fotofoto kegiatan Anda! Selamat membaca!Salam,Bang Anton


4SOROTAN UTAMAMisa konselebrasi ini dipimpin oleh Mgr. Suharyo didampingi konselebran: Rm. Antonius Heruyono, SCJ; Rm. Yosafat Hengki Sanjaya, SCJ; Rm. Cornelius Dwijo Sukarno, SCJ; Rm. Fransiskus Edi Setiawan, SCJ; Rm. Ignatius Trisna Setiadi Dwijo Waseso, SCJ; dan Rm. Yuvens Kristia Efrata, SCJ. Selain di dalam gereja, umat juga menempati Ruang St. Markus dan St. Petrus di GHKY Lantai 2. Semua tampak gembira dan khidmat mengikuti Perayaan Ekaristi ini.“Ada satu yang istimewa bagi Paroki Bidaracina ini. Karena pada Hari Raya Orang Kudus, Paroki Bidaracina membuat suatu penanda. Penandanya adalah pemberkatan ruang doa yang diberi nama Cura Animarum, yang artinya pendampingan rohani atau Tepat pada hari raya semua orang kudus, Sabtu, 1 November, Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, berkenan memberkati Gedung Cura Animarum. Gedung yang sering disebut “pastoran lama” ini, kini hampir semua ruangannya ‘disulap’ oleh Kepala Paroki Bidaracina, Rm. Antonius Heruyono, SCJ, menjadi ruangruang doa. Pemberkatan itu dilaksanakan dalam Misa Sabtu sore, pukul 16.30. Mgr. Suharyo: “Di Seluruh KAJ, Baru Ada di Paroki Bidaracina”pendampingan jiwa-jiwa,” demikian Bapak Uskup memulai homilinya.“Gedung Cura Animarum, yang di dalamnya ada ruang doa, ruang meditasi, kapel, dan ruang refleksi, sejauh yang saya tahu, di seluruh Keuskupan Agung Jakarta, ya, baru ada di Paroki Bidaracina ini,” lanjut beliau. Menurut Bapa Uskup, ketika merenung untuk menyiapkan ibadah ini, beliau bertanya kepada diri sendiri, apakah ada hubungan antara perayaan semua orang kudus dan pemberkatan gedung Cura Animarum. Beliau meyakini, kedua peristiwa itu ada hubungannya, yaitu “Keduanya merupakan suatu penegasan peranan Gereja bagi umat, yaitu menyediakan berbagai macam sarana, menyediakan berbagai macam pelayanan untuk Pemberkatan Ruang-Ruang Doa Gedung Cura Animarum


Sorotan Utama 5pendampingan rohani.” Pendampingan rohani itu tujuannya adalah agar kita, murid-murid Kristus, semakin menyadari jati diri kita di hadapan Allah.Beliau kemudian menguraikan perbedaan pemaknaan “jati diri” dari waktu ke waktu. Pada suatu zaman, jati diri itu dirumuskan oleh seorang pemikir Perancis: “Saya berpikir maka saya ada.” Pada zaman lain, ketika konsumerisme merajalela, rumusan jati diri manusia diganti menjadi: “Saya berbelanja maka saya ada.” Dan, yang mengerikan, sekarang rumusannya berubah lagi: “Saya berbohong maka saya ada.” Semua itu tentu bukan rumusan “jati diri” yang tepat. Cura Animarum—bimbingan rohani—menurut Bapa Uskup Suharyo, tujuan utamanya adalah mendampingi atau berjalan bersamasama agar kita mempunyai kesadaran akan jati diri kita yang benar, bukan yang palsu. Jati diri yang benar adalah yang dirumuskan Rasul Yohanes dalam kalimat terakhir bacaan kedua: “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.” (1 Yohanes 3:3).Itulah sebabnya, kata Bapa Uskup, di dalam Gereja Katolik kita kenal Santo dan Santa, orang-orang kudus. Itu hanya ada di dalam Gereja Katolik. “Karena jati diri kita sebagai muridmurid Kristus adalah dipanggil menuju kesempurnaan kesucian. Inilah kemudian yang menjadi Ajaran Gereja.” Di dalam ajaran Gereja, semua murid Kristus mempunyai panggilan yang sama, yaitu “bertumbuh menuju


6 Warta Padua Digitalkesempurnaan kasih, kesempurnaan kesucian, kesempurnaan hidup Kristiani, menjadi semakin serupa dengan Kristus.”Cara menuju kesucian ditunjukkan oleh Paus Fransiskus dalam Anjuran Apostoliknya yang berjudul Bersukacita dan Bergembiralah (Gaudete ex Exsultate). Jadi, kata beliau, menunjukkan kegembiraan itu sudah merupakan jalan menuju kesucian. Cara lainnya untuk menjadi suci adalah dengan berusaha, bekerja dengan integritas tinggi, dan bertanggung jawab. Pada akhir homilinya, Bapa Uskup mengucapkan “Proviciat” kepada Paroki Bidaracina yang “sungguhsungguh berusaha menyediakan segala macam sarana untuk memberikan pendampingan rohani”. Beliau berharap, “semoga berkat kehadiran Cura Animarum ini kita selalu diingatkan bahwa jati diri kita, panggilan kita adalah bertumbuh menuju kesempurnaan kekudusan, kesempurnaan kasih, lewat hal-hal yang sangat sederhana sehari-hari yang tersedia di depan kita.”Selanjutnya, Romo Heru selaku Kepala Paroki maju ke mimbar untuk mengucapkan rasa syukur karena kita telah menyelesaikan proses renovasi gedung Cura Animarum menjadi ruang-ruang doa. Romo Heru mengucapkan terima kasih dan meminta kesediaan Bapa Uskup memberkati ruangan-ruangan itu. Kemudian, Bapa Uskup mengatakan di depan altar bahwa “doa-doa pemberkatan akan diucapkan di dalam gereja. Sesudah itu, nanti kami akan keluar mereciki gedung ini dengan air suci.”Setelah mengucapkan doa pemberkatan, Bapa Uskup, Romo Heru bersama sejumlah romo lain dan para petugas liturgi beriringan


Sorotan Utama 7berjalan menuju Gedung Cura Animarum. Yang pertama diberkati adalah depan pintu Taman Doa Maria Mater Dei, Taman Maria Fatima, lorong, toilet, patung kecil beberapa santo-santa, patung Yesus Tunawisma, kemudian dua kapel di sebelah kanan, yaitu Kapel Bunda Penolong Abadi (Ruang St. Elisabeth) dan Kapel Hati Kudus Yesus (Ruang St. Maria Alacoque), lalu dua ruang latihan koor, yaitu St. Klemen & St. Leo XIII, patung Pieta, Communio Sanctorum (ruang tengah, ruang utama), patung Paus Yohanes Paulus II, patung Mother Teresa, Kapel Adorasi Abadi (Ruang St. Benediktus), lalu lanjut ke bagian depan, yakni Kapel St. Antonius Padua, kolumbarium mini, foto-foto mantan Pastor Kepala Paroki, dan yang terakhir: patung Santo Antonius Padua di depan Gedung Cura Animarum. Selama pemberkatan berlangsung, umat di dalam gereja mengikutinya melalui layar LCD, sementara koor terus mengiringi dengan nyanyian hingga rombongan Bapa Uskup kembali ke dalam gereja untuk melanjutkan misa. Seperti biasa, penayangan seluruh prosesi itu secara live difasilitasi oleh Tim Padua TV dan Tim Media Tayang Komsos Bidaracina, bekerja sama dengan Seksi Liturgi.Usai penerimaan Tubuh Kristus, pada saat Pengumuman, Romo Heru menyampaikan terima kasih pertamatama kepada para tukang yang telah membantu menyelesaikan rumah doa Cura Animarum. Ia berpesan, seandainya ada sesuatu yang bisa dinikmati seusai misa ini, tolong ajak para tukang untuk turut menikmati. Ia juga berterima kasih kepada para penggambar yang bekerja dengan keras mewujudkan ide-ide kreatifnya. Juga kepada para penyantun atau penderma, karena tanpa bantuan para penderma mungkin renovasi ini sudah mogok


8 Warta Padua Digitalatau jalan di tempat. “Tetapi karena banyak orang baik yang dikirimkan Tuhan untuk kita semua, maka proses berjalan dengan lancar, beberapa bulan selesai,” ujarnya.Romo Heru juga berterima kasih kepada semua umat Paroki Bidaracina yang “dengan caranya masing-masing memberikan dukungan, entah melalui doa-doa, teguran, kritikan, sapaan yang membantu kami untuk menghadirkan ruang doa yang dikatakan oleh Bapak Uskup tadi yang pertama di Keuskupan Agung Jakarta. Saya malah tidak tahu,” ucapnya, seraya kembali berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapa Uskup yang telah berkenan memberkati. “Awalnya minder mau minta Bapa Uskup untuk memberkati ruang doa, tetapi Bapa Uskup berkenan untuk memberikan perhatian yang cukup untuk kita di paroki kita tercinta ini.”Romo Heru menambahkan, “Dan, tadi sebelum Perayaan Ekaristi, Bapak Uskup meneguhkan kita semua terhadap pertanyaan dari umat: ‘Bapa Uskup, nanti kalau hujan bagaimana?’ Dijawab oleh Bapa Uskup, ‘Percaya saja.’ Tepuk tangan untuk kita semua.” Karena, ternyata benar sekali keyakinan Bapa Uskup, bahwa sore itu langit cerah, tidak ada hujan yang biasanya menyambangi Jakarta hampir tiap sore. Terakhir, Romo Heru mengimbuhkan bahwa yang menjadi tugas selanjutnya adalah memperbaiki tata cahaya di dalam gereja, karena pihak cagar budaya sudah mengingatkan bahwa kabel-kabel yang berseliweran di dalam gereja usianya sudah 80 tahun lebih dan cukup berisiko. Karena itu, ia masih meminta dukungan dari para penderma untuk memperbaiki tata


Sorotan Utama 9lampu dan tata kabel tersebut. Seusai misa, acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah di GHKY Lt. 4, yang seperti biasa diiringi musik dan lagu tempo dulu. Makanan kali ini disajikan di meja-meja terpisah, dalam bentuk berbagai kuliner yang tidak terlalu berat tapi cukup mengenyangkan. Para undangan melebur dalam sukacita dan syukur bersama Bapa Uskup dan para Romo yang duduk santai menikmati hidangan. Semoga ruang-ruang doa di Gedung Cura Animarum sungguh dapat dimanfaatkan seluruh umat Paroki Bidaracina—juga umat dari mana pun—sebagai sarana untuk menyucikan diri dan semakin menyadari jati diri masingmasing sebagai murid Kristus. Amin.Veronica B. Vonny (Tim Komsos)


10SOROTAN KHUSUSWaktu itu, yang kupahami hanyalah bahwa Oktober adalah bulan istimewa. Kini, setelah dewasa, barulah aku mengerti kisah luar biasa di balik tradisi sederhana nan khidmat itu.Suatu Malam yang Mengubah Segalanya: Lepanto, 1571Semua bermula di Eropa, pada tahun 1571. Saat itu suasana penuh ketakutan karena Kekaisaran Ottoman yang perkasa mengancam akan menyerbu dan menghapus jejak Eropa. Kekaisaran Ottoman sangat besar; bahkan armada laut mereka mampu meluluhlantakkan musuh dengan cepat.Berbanding terbalik dengan lawannya, pasukan Kristen hanya memiliki sedikit senjata dan prajurit. Tetapi itu saja tak Setiap Oktober tiba, ada kenangan manis dari masa kecil yang hinggap. Ibu tak lagi memanggilku dengan teriakan, tetapi dengan gemerincing rosario yang ia genggam. “Ayo, kita doa rosario bersama,” katanya dengan suara lembut yang tak bisa ditolak. Ruang tamu yang biasanya ramai dengan acara TV berubah menjadi kapel kecil yang hening. Aroma lilin bercampur wangi bunga menyambut kami.Doa, dan Kekuatan di Saat Gentingcukup untuk menghadapi musuh yang jauh lebih kuat.Lalu, Bapa Suci Paus Pius Vmenganjurkan setiap orang untuk berdoa dengan keyakinan penuh melalui perantaraan Bunda Maria. Ia meminta semua orang—para petani di ladang, ibu-ibu di rumah, anakanak, hingga para bangsawan—untuk mengambil rosario mereka dan berdoa bersama, terus-menerus dengan tekun dan taat. Ia yakin pertolongan akan datang bukan dari kekuatan manusia, melainkan dari surga, melalui tangan seorang Ibu penuh kasih: Bunda Maria.Pada 7 Oktober 1571, di perairan Lepanto, terjadi sebuah keajaiban. Armada kecil dan sederhana dari pasukan Kristen akhirnya berhasil Bulan Rosario Oktober 2025


Sorotan Khusus 11mengalahkan armada Ottoman yang jauh lebih besar dan kuat. Kemenangan itu begitu mengejutkan hingga diceritakan bahwa Paus Pius V, yang berada ribuan kilometer jauhnya di Roma, tiba-tiba merasakan kemenangan itu di dalam jiwanya. Ia membuka jendela dan dengan air mata berkata, “Marilah kita berhenti dan bersyukur. Tuhan telah memberi kita kemenangan.”Kemenangan itu diyakini sebagai salah satu wujud nyata campur tangan Bunda Maria kepada orang-orang yang berdoa melalui perantaraannya. Berdoa rosario sama halnya dengan berdoa bersama para malaikat, dan dari doa rosario yang dipanjatkan oleh ribuan, bahkan mungkin jutaan umat, mukjizat terjadi. Hal yang awalnya tidak mungkin menjadi kenyataan.Keajaiban inilah yang menjadi awal ditetapkannya Oktober sebagai Bulan Rosario. Hal ini merupakan bentuk ucapan syukur serta penghormatan kepada Sang Bunda. Sejak itu, bulan Oktober ditahbiskan sebagai “Bulan Rosario”—sebuah pengingat abadi bahwa di saat kita merasa paling tak berdaya, doa yang tulus adalah senjata kita yang paling ampuh.Menghidupi Kekuatan Rosario dengan Cara SederhanaKita tidak perlu menjadi pahlawan besar seperti mereka yang berjuang di Lepanto untuk merayakan kekuatan Rosario. Namun, kita bisa memulainya dari halhal kecil di keluarga dan lingkungan.Menghidupi sesuatu bukanlah hal yang


12 Warta Padua Digitalmudah, namun semuanya dapat dimulai dari menanamkan nilainilai kepercayaan dalam diri sendiri. Keluarga adalah lini terdekat yang perlu kita terapkan untuk membentuk “liga suci” kecil di rumah.Contohnya: cobalah mengajak keluarga berdoa rosario bersama selama 5–10 menit saja di malam hari. Jadikan momen hening sebagai perjumpaan dengan Bunda Maria yang penuh makna di tengah kesibukan.Membawa Rosario di Dalam Saku Saat BepergianBawalah rosario kecil di dalam saku atau tas. Saat terjebak macet, menunggu antrean, atau merasa cemas, genggamlah dan ucapkan satu doa. Ingatlah, ada Bunda Maria di surga yang mendengarmu dan mendampingimu. Mintalah Bunda Maria untuk terus mendoakanmu.Selain hal-hal yang disebutkan, masih banyak kegiatan lain yang dapat memberi dampak positif bagi penghayatan Rosario dan kecintaan kepada Bunda Maria.Oktober adalah Sebuah UndanganJadi, bulan Oktober ini bukan tentang kewajiban atau ritual semata. Ini adalah undangan personal dari Bunda Maria untuk kita, putraputri yang dikasihinya, agar duduk sebentar di dekatnya, menggenggam tangannya melalui rosario, dan membiarkan dia membawamu kepada sumber segala kedamaian.Di saat dunia terasa berat, dan kita sering merasa seperti armada kecil yang menghadapi badai, ingatlah kisah Lepanto. Ingatlah bahwa ada kekuatan dalam doa yang dipersatukan. Dan, kekuatan itu masih sama besarnya hari ini, seperti pada suatu hari di bulan Oktober, ratusan tahun yang lalu.Mari kita berdoa dengan hati, bukan hanya dengan kata.Theresia Jessica Dita (Tim Komsos)Sumber foto: Wikipedia dan Seksi Komsos


Sorotan Khusus 13


14SOROTAN KHUSUSAd Infinitum: Kasih Tak Terhingga Sepanjang MasaGereja yang Hidup, Bergerak, dan Mengasihi Tanpa BatasAda sesuatu yang menyentuh hati ketika menonton video Ad Infinitum karya Tim Padua TV - Paroki Bidaracina. Selain karena daya tarik visualnya, juga karena ketulusan dan kehangatan yang mengalir dari setiap adegan. Dalam gambar-gambar sederhana, misalnya umat yang berdoa, persaudaraan penuh toleransi, kepedulian nyata bagi sesama, dan lansia yang tersenyum murni, kita menangkap denyut kehidupan Gereja yang sesungguhnya: hidup, bergerak, dan terus diutus tanpa henti.Judul Ad Infinitum, yang berarti ‘sampai tak berhingga’, bukan sekadar permainan kata. Ia menggambarkan sebuah pernyataan iman. Iman yang tak berhenti di dalam Gereja, tetapi meluas ke jalanan, rumah, dan hati setiap insan. Iman yang tak lekang oleh waktu, yang terus bertumbuh di tangan generasi baru. Iman yang menggambarkan seperti kasih Allah sendiri, tidak mengenal akhir.Gereja yang Diutus untuk KeluarPaus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium menulis dengan tegas: “Saya lebih menyukai Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan, daripada Gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri.” (EG 49) Kalimat ini seolah menjadi inti dari film Ad Infinitum. Gereja yang digambarkan di dalamnya bukanlah institusi megah yang berdiri di menara gading, melainkan komunitas yang hadir di tengah kehidupan. Ia mendengar tangisan, meneguhkan yang rapuh, dan ikut merasakan denyut penderitaan umat manusia.Dalam dunia yang sering kali diwarnai oleh ketergesaan, kesibukan, dan kesepian, Gereja dipanggil untuk menjadi oase yang memberi ruang bagi perjumpaan. Ia tidak hadir untuk menghakimi, melainkan menyembuhkan; tidak untuk memisahkan, melainkan memeluk dan mempersatukan. Inilah misi yang tidak pernah selesai, misi yang ad infinitumkarena kasih Allah sendiri tak pernah mengenal batas.Paus Fransiskus menyebut setiap orang yang dibaptis sebagai murid-misioner. Artinya, tidak ada umat Katolik yang sekadar penonton dalam panggilan Gereja. Setiap kita adalah bagian dari perutusan itu. Baik imam, biarawanbiarawati, maupun umat awam, semua diutus untuk menghadirkan Kristus di tempatnya masing-masing: di rumah, di tempat kerja, di sekolah, di jalanan, di dunia digital dan sebagainya.Film Ad Infinitum menangkap


Sorotan Khusus 15semangat itu dengan indah: Gereja bukan sekadar tempat kita datang setiap Minggu, melainkan cara kita hidup setiap hari.Misi yang Menyentuh Dunia NyataLebih dari seabad yang lalu, Paus Leo XIII menulis ensiklik Rerum Novarumyang menjadi tonggak ajaran sosial Gereja. Ia melihat ketimpangan dan penderitaan para buruh di zaman industrialisasi, dan dengan berani menyuarakan bahwa iman harus hadir dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya manusia.“Agama saja yang dapat menembus hingga ke akar dan membasmi kejahatan sosial,” tulisnya, “sebab agama mengajarkan keadilan dan cinta kasih yang sejati.” Spirit inilah yang juga bergelora dalam film Ad Infinitum. Gereja yang ditampilkan dalam film bukan hanya berbicara tentang doa, tetapi juga tentang tindakan. Tentang solidaritas. Tentang keterlibatan nyata dalam kehidupan masyarakat urban yang penuh tantangan: kemiskinan, kesepian, kehilangan arah, dan pencarian makna.Dengan cara sederhana, umat paroki di Bidaracina menunjukkan wajah Gereja yang membumi: mengunjungi yang sakit, menemani anak muda, menata lingkungan, berbagi rezeki, dan membangun kebersamaan penuh persaudaraan. Tindakan-tindakan kecil ini menjadi gema nyata dari ajaran sosial Gereja: bahwa kasih bukanlah teori, melainkan gerak yang menghidupkan.Kasih yang Tak BertepiDalam dunia modern yang sering kali terpecah oleh perbedaan dan individualisme, kasih menjadi bahasa universal yang menyatukan. Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti menulis, “Kasih yang sejati melampaui batas-batas geografi dan ruang. Ia adalah panggilan untuk mencintai tanpa batas.”Itulah makna terdalam dari Ad Infinitum:


16 Warta Padua Digitalkasih yang melampaui batas. Gereja bukan hanya tentang perayaan sakramen, tetapi tentang menghadirkan kasih di setiap sudut dunia. Tentang menjadi sahabat bagi yang kesepian, penopang bagi yang lemah, dan pembawa terang bagi yang gelap.Dalam setiap wajah umat yang tampil di film ini, ada kisah kasih yang tumbuh tanpa banyak kata. Ada kesetiaan yang mungkin tak tampak megah, tetapi justru di sanalah Injil hidup di tangan-tangan sederhana yang melayani dengan cinta. Kasih itu nyata dalam tindakan sederhana dalam hidup sehari-hari.Menutup dengan HarapanMisi Gereja memang tidak pernah selesai. Selalu ada yang harus disentuh, selalu ada yang perlu diperjuangkan, selalu ada kasih yang harus dibagikan. Tetapi justru dalam ketidakterbatasan itulah kita menemukan keindahan iman: bahwa kita berjalan bersama Allah yang tak berkesudahan.Video Ad Infinitum mengajak kita untuk kembali pada makna dasar Gereja: persekutuan yang hidup, yang berziarah di dunia, yang dimurnikan dalam kasih, dan yang jaya dalam kemuliaan. Gereja yang berani melangkah keluar, berjumpa dengan dunia, dan membawa kasih Kristus yang tak bertepi.Terima kasih untuk Anda sekalian yang terlibat dalam produksi film yang luar biasa ini, juga untuk Anda sekalian yang terus berjuang menghadirkan kasih Kristus dalam hidup Anda. Semoga kisah sederhana dari umat yang dengan setia melayani dan mengabdi ini menjadi inspirasi bagi semua: bahwa setiap langkah pelayanan, sekecil apa pun, bila dilakukan dengan cinta, akan mengalir sampai tak berhingga. Karena misi Kristus dan kasih-Nya tak pernah berakhir.Fr. Yubile, SCJ


Sorotan Khusus 17


18DI ANTARA KITAPDOMPKK ini dibentuk agar para OMK Bidaracina tidak hanya aktif dalam kegiatan gereja, tetapi juga terus bertumbuh dalam iman dan kehidupan rohani. PDOMPKK Santo Carlo Acutis menjadi langkah nyata untuk menjawab kebutuhan spiritual kaum muda di Bidaracina, agar mereka memiliki wadah doa dan persekutuan yang dekat dengan Tuhan, sesuai semangat pembaruan karismatik Katolik.Theresia Jessica Dita, Koordinator PDOMPKK Santo Carlo Acutis – BDC, menyebutkan bahwa tujuan didirikannya persekutuan doa ini adalah:1. Membangun komunitas berbasis kerohanian dan pembaruan karismatik.Persekutuan Doa Orang Muda Pembaruan Karismatik Katolik (PDOMPKK) Paroki Bidaracina resmi mengadakan persekutuan doa perdananya bersama Orang Muda Katolik (OMK) Bidaracina pada Minggu, 12 Oktober 2025. PDOMPKK yang diberi nama Santo Carlo Acutis ini mengusung tema “Reset My Heart (Kembali ke Setelan Awal)”, sebuah ajakan untuk kembali memurnikan hati dan relasi pribadi dengan Tuhan Yesus.Orang Muda Katolik “Kembali ke Setelan Awal” 2. Mengajak Orang Muda Katolik untuk membangun relasi yang lebih dalam dengan Tuhan melalui pujian dan penyembahan (praise & worship) serta pewartaan.Acara persekutuan doa perdana ini menghadirkan Ignatius Rian, seorang pewarta muda berbakat yang dikenal melalui kisah hidup dan pelayanan rohaninya. Ia didampingi oleh Romo Yosafat Hengki Sanjaya, SCJ, selaku Romo Pendamping OMK Bidaracina.Dalam pewartaannya, Rian membagikan kesaksian hidup yang penuh dinamika—tentang jatuh bangun dalam iman, tekanan hidup, dan perjuangan untuk tetap bersyukur di tengah beban kehidupan. Ia juga mengutip kisah dari Injil mengenai anak sulung, anak Persekutuan Doa OMK: PDOMPKK Santo Carlo Acutis


Di Antara Kita 19bungsu, dan sang ayah, sebagai gambaran kasih Allah yang selalu menerima anak-anak-Nya yang mau kembali.“Hidup itu naik turun. Ada masa kita bahagia, tapi juga ada tekanan dan beban. Kuncinya adalah berani reset hati—menyadari kesalahan, mengakui kelemahan, dan kembali kepada Tuhan,” ujar Rian dalam kesaksiannya.Ia menegaskan bahwa langkah pertama untuk kembali ke “setelan awal” adalah menyadari dan mengakui, yaitu: menyadari kesalahan yang telah diperbuat, mengakui kelemahan di hadapan Tuhan, dan dengan rendah hati membuka diri untuk pembaruan. Dengan demikian, setiap orang muda diajak untuk selalu bersyukur dan hidup dalam penyertaan Tuhan, apa pun keadaan yang dialami.Harapannya, OMK Bidaracina dapat terus melakukan refleksi diri, mengikuti sakramen pengakuan dosa, dan menjaga semangat syukur agar senantiasa hidup dalam hadirat Kristus.PDOMPKK Santo Carlo Acutis sendiri terbentuk berkat gagasan dari Persekutuan Doa Umum Paroki Bidaracina, yang ingin memperluas pelayanan doa dan membangkitkan semangat iman di kalangan muda. Setelah melalui berbagai diskusi dan kajian, akhirnya pada 12 Oktober 2025, komunitas ini resmi berdiri.Dengan semangat kasih Kristus yang mengalir di hati para pengurusnya, PDOMPKK Santo Carlo Acutis hadir untuk membangun komunitas rohani yang hidup, penuh sukacita, dan mengajak para OMK membangun relasi pribadi dengan Tuhan melalui pujian, penyembahan, dan pewartaan.“Kami ingin agar setiap OMK bisa bertumbuh dalam iman, menemukan kembali jati diri mereka di hadapan Tuhan,


20 Warta Padua Digitaldan mengalami kasih Yesus secara pribadi,” ujar Jessica.Jadi, tunggu apa lagi, OMK Bidaracina?Inilah saatnya “Kembali ke Setelan Awal”, membangun iman, memperdalam relasi dengan Yesus Kristus, dan mungkin ... menemukan pasangan seiman dan se-amin! ?Let’s join us — Reset your heart, and let God renew your life!Ignatius Agung (Tim Komsos)Struktur Kepengurusan PDOMPKK Santo Carlo Acutis:Koordinator: Theresia Jessica DitaSekretaris: Catharina Galuh M.FPublikasi: ClarissaBendahara: EllenIT: Evan Febrian Atmadja


Di Antara Kita 21


22Dalam sambutannya pada awal kegiatan ini, Romo Antonius Heruyono, SCJ menyoroti dua hal. Pertama, lingkungan kurang menyapa saudara-saudara di sekitar yang membutuhkan bantuan. Ini terlihat dari dana Porta Sancta yang hampir utuh karena sangat sedikit yang mengajukan permohonan bantuan untuk warganya. Apabila seluruh warga Paroki Bidaracina sudah sejahtera sehingga tidak lagi memerlukan bantuan, Romo Heru Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (SPSE) adalah salah satu seksi di Paroki Bidaracina yang memiliki banyak subseksi, selain Seksi Liturgi. Karena memiliki banyak subseksi yang semuanya sangat terlibat dengan bidang sosial dan ekonomi umat, SPSE mengadakan acara “Sosialisasi SPSE” untuk memberikan pembekalan, terutama kepada para ketua lingkungan dan pengurus lingkungan baru, tentang subseksi-subseksi di SPSE dan apa saja kegiatan masing-masing subseksi untuk membantu umat yang membutuhkan bantuan. Acara ini diadakan Sabtu, 18 Oktober 2025 di Gedung Hati Kudus Yesus Lantai 4. Walaupun berlangsung sekitar lima jam, para peserta mengikuti acara dengan semangat dan antusiasme tinggi, yang terlihat pada saat diskusi kelompok dan sesi tanya jawab.Kolaborasi Berbagai Subseksi dan Lingkungan sebagai Belarasa bagi KLMTDmerasa bersyukur sehingga dananya bisa dikembalikan ke Keuskupan. Namun, Romo Heru mengingatkan agar para pengurus lingkungan gerak cepat dan cepat tanggap. Jika ada umatnya yang membutuhkan, harap segera menghubungi SPSE untuk membicarakan bantuan apa yang bisa diberikan Paroki untuk mengatasi masalah dihadapi umat tersebut. Yang kedua, Romo Heru Sosialisasi SPSE


Di Antara Kita 23menyampaikan bahwa pengurusan administrasi BKSY di paroki mengalami kendala karena setiap anggota berbedabeda tanggal perpanjangan atau renewalnya (perpanjangan dilakukan tiap tahun sesuai tanggal pendaftaran). Hal ini membuat admin di paroki kesuitan merekap data pembayaran anggota BKSY Paroki Bidaracina yang berjumlah 600-an orang. Untuk itu, Ketua SPSE, Andreas Firman, akan membahas solusinya dengan pihak BKSY Pusat yang kebetulan akan datang ke acara tersebut untuk menyosialisasikan mengenai BKSY. Solusi yang hendak diminta Romo Heru adalah seluruh anggota disamakan tanggal renewal-nya untuk memudahkan administrasi. Setelah semua yang lama dibereskan, baru akan dibuka pendaftaran bagi anggota baru.Usai sambutan dari Romo Heru, MC Dyah dan Putri menyilakan Firman untuk memberikan pengantar sebelum diadakan diskusi kelompok. Ya, pertemuan kali ini akan dimulai dengan diskusi per 2 atau 3 wilayah untuk membahas beberapa contoh kasus sosial yang pernah atau sangat mungkin dialami umat di lingkungan/wilayah (Kelompok A: Wilayah I-II, Kelompok B: Wilayah III-IV-V, Kelompok C: Wilayah VI-VII, dst.) Tiap kelompok diminta mendiskusikan cara menghadapi dan mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Setelah berdiskusi selama 10 menit, salah satu perwakilan kelompok diminta mempresentasikan hasil diskusi mereka. Renungan Fr. YuSetelah presentasi kelompok, Frater Andreas Agung Yubile, SCJ—yang akrab dipanggil Frater Yu—menyampaikan renungan singkat. Fr. Yu mengawali renungannya dengan bertanya, apa perasaan yang muncul ketika para kelompok membaca kasuskasus tadi? “Kalau saya, waktu semalam Pak Firman mengirimkan materi kasus-kasus yang sudah disampaikan


24 Warta Padua Digitaltadi, batin saya meronta-ronta karena tidak bisa berbuat apa-apa.” Maka, ia menganjurkan agar para pengurus lingkungan tidak sekadar merasa kasihan atau prihatin tetapi juga melakukan aksi nyata.Fr. Yu kemudian membahas Seruan Apostolik pertama dan terbaru dari Paus Leo XIV bernama Dilexi Te, yang artinya ‘Aku telah mengasihi kamu’ (Wahyu 3:11). Isinya hampir sama dan sejalan dengan Dilexit Nos (‘Dia telah mengasihi kita’) yang dikeluarkan Paus Fransiskus. Isinya juga menekankan kepedulian kepada yang lemah dan miskin, yaitu agar Gereja berpihak kepada mereka yang membutuhkan.Fr. Yu selanjutnya menyampaikan empat prinsip Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang perlu kita ketahui (“yang sebetulnya sudah terangkum dalam presentasi kelompok”, yaitu: (1) Martabat manusia: nilai yang ada dalam diri manusia yang secitra dengan Allah. Martabat bukan karena kedudukan tetapi karena manusia ambil bagian/berpartisipasi dalam kehidupan Allah. Paus Leo menegaskan, martabat manusia bukan tentang besok tetapi hari ini. (2) Bonum commune(kesejahteraan umum): mengusahakan kesejahteraan bersama, individuindividu saling menopang. (3) Solidaritas: manusia di mana pun akan membentuk persekutuan, termasuk Gereja. (4) Subsidiaritas: kita tidak cukup hanya memberikan bantuan tetapi perlu memberikan kail. Jangan sampai kita mematikan kemandirian individu-individu yang kita bantu.


Di Antara Kita 25Fr. Yu mengingatkan bahwa lingkungan adalah garda terdepan untuk membangun Gereja dengan cara kebersamaan atau solidaritas bersama. “Kita di lingkungan memang tugasnya berat, tetapi rekanrekan dari SPSE bagai sumber air yang memberikan harapan (spes). Semoga kita menjadi spes atau pembawa harapan yang bisa mewujudkannya kepada keluargakeluarga di sekitar kita,” harap Fr. Yu.Ia juga berharap, para pengurus lingkungan menjadi abdi yang dapat melayani dengan tulus. “Pengabdian asal katanya ‘abdi’, bukan ‘pengap’. Semoga pengabdian kita membentuk diri kita sebagai abdi Allah dan sesama; bukan kita melakukan pengabdian karena kita pengap dengan suara-suara yang ada di sekitar kita,” ujarnya menutup renungan yang menarik ini.Subseksi Bantuan Karitatif dan Bantuan Perbaikan RumahSelanjutnya, dimulailah “roadshow” pemaparan subseksi-subseksi. Djoko Sugiarto dari Subseksi Bantuan Karitatif memaparkan bantuan berupa uang tunai yang diberikan kepada keluarga prasejahtera (KLMTD = kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel/disabilitas) setiap bulan selama setahun. Besarnya berbedabeda, tergantung jumlah anggota dalam keluarga. Setiap tahun (bulan November/Desember) ketua lingkungan harus membuat pengajuan baru, apakah KK yang sama atau KK lain yang patut diberikan. Setelah pengajuan itu disetujui koordinator wilayah, Pak Djoko akan melakukan survei ke rumah calon penerima. Subseksi Bantuan Perbaikan Rumah mendapat giliran selanjutnya, yang disampaikan oleh R. Natakusuma. Bantuan ini bisa bersifat tunai atau berupa pengerjaan rumah


26 Warta Padua Digitalumat lingkungan yang rusak atau kurang layak dari segi keamanan konstruksi, kesehatan, dan sosial. Tujuannya, agar tempat tinggal lebih sehat dan sebagai bentuk belarasa. Nata mengharapkan para ketua lingkungan baru segera melihat kondisi rumah warganya. Apabila ada yang kurang layak atau masuk keluarga prasejahtera (KLMTD), atau terkena bencana, harap segera dilaporkan ke SPSE. Setelah melengkapi semua prosedur dan disurvei oleh SPSE dan DPH, pemilik rumah diminta membuat RAB (rencana anggaran belanja). Jika disetujui, renovasi akan segera dilaksanakan. Ia juga berpesan bahwa jika lingkungan mampu, karena ini sifatnya belarasa, lingkungan bisa membantu keluarga tersebut secara mandiri tanpa meminta bantuan SPSE. Subseksi Santunan Santo Yusuf dan BKSYSantunan Santo Yusuf dan BKSY adalah dua program yang namanya mirip, dan sama-sama berurusan dengan bantuan kematian, tetapi tidak sama. Santunan Santo Yusuf dikelola oleh paroki, sedangkan BKSY oleh KAJ. Katarina Ira Maria, Koordinator Subseksi Santo Yusuf, menyampaikan bahwa Santunan Santo Yusuf adalah gerakan belarasa, solidaritas, atau partisipasi umat beriman untuk membantu yang miskin-papa (KLMTD) saat mengalami kedukaan. Maka, meskipun salah satu KK merasa tidak memerlukan bantuan, dengan ikut menjadi anggota Santo Yusuf, ia bisa membantu keluarga lain yang membutuhkan. Bantuan yang


Di Antara Kita 27diterima harus dimaknai sebagai “berkat” untuk keluarga. Inti dari ‘iuran’ adalah semangat berkorban, berpartisipasi, dengan tujuan menyumbang, berdonasi atas dasar belas kasih.Setelah itu, diputarkan video Bp. Uskup Ignatius Kardinal Suharyo yang memaparkan bahwa sejak 2014 di KAJ ada berbagai macam gerakan dengan semboyan “semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbelarasa”. Salah satunya adalah BKSY (Berkhat Santo Yusuf) yang membagikan berkat kepada keluarga yang mengalami kematian.Setelah diseling dengan pemaparan singkat soal ASAK, sesi kembali ke soal BKSY dengan penjelasan dari tim BKSY Pusat, yaitu Purwanto, Krismanto, dan Adel. Purwanto menjelaskan bahwa kata “Berkhat” (pakai h) adalah singkatan dari “Berbelarasa dalam Kematian dan Kesehatan”. Selain memberikan santunan kematian, BKSY juga bisa memberikan penggantian biaya rawat inap. Ia menekankan bahwa BKSY bukan asuransi, melainkan wujud belarasa atau perbuatan kasih yang nyata. Belarasa adalah berbelas kasih dan tidak hanya kasihan tetapi juga berbuat sesuatu untuk menolong. Tujuan akhirnya ada di Lukas 6:36 (menjadi manusia baru) yang ciri khasnya adalah murah hati.Subseksi ASAK dan Ayo KerjaDisampaikan oleh Victoria Luna Pratiwi, Ketua ASAK (Ayo Sekolah Ayo Kuliah), bahwa ASAK merupakan gerakan sosial kreatif yang memberikan bantuan pendidikan bagi siswa atau mahasiswa dari keluarga prasejahtera di lingkungan paroki. ASAK pertama kali berdiri pada


28 Warta Padua Digital10 Agustus 2007 di Paroki Bojong (St. Thomas Rasul). Di Paroki Bidaracina berdiri 3 September 2016 sebagai paroki ke-44 yang memiliki ASAK. Syarat menjadi anak ASAK adalah keluarga prasejahtera dengan surat keterangan dari Ketua Lingkungan, mengisi formulir A, B1 & B2 lengkap dengan dokumen yang diminta. ASAK Bidaracina sudah meluluskan 38 Anak Ayo Sekolah & 30 anak Ayo Kuliah. Setelah diselingi penjelasan dari BKSY Pusat, tibalah giliran penjelasan Subseksi Ayo Kerja yang dibawakan oleh Dyah Susanti. Ayo Kerja adalah program dari Komisi PSE KAJ yang bertujuan membantu umat KLMTD untuk menemukan pekerjaan melalui pendampingan, pelatihan, dan penyediaan informasi lowongan kerja. Program ini sudah diadopsi semua paroki se-KAJ.Dyah mengatakan, gerakan ini hadir karena angka pengangguran di Jakarta yang terus bertambah, serta banyak keluarga mengalami krisis pendapatan dan membutuhkan pekerjaan. Anggota Ayo Kerja adalah pencari kerja dan juga pengusaha atau pemilik usaha yang berpartisipasi dalam menyerap tenaga kerja. Para pencari kerja bisa mendaftarkan diri ke Tim Ayo Kerja Paroki melalui platform website Harapan.id. Para pencari kerja dan pengusaha juga dapat bergabung dalam Grup WA https://bit.ly/wagayokerjapadua dan Grup Telegram https://t.me/ayokerjapadua. Posting lowongan kerja di WAG tersebut dilakukan 2–3x per minggu. Ayo Kerja juga mengadakan pelatihan


Di Antara Kita 29karier. Terakhir adalah pelatihan care giver (pendamping lansia/orang sakit). RD St. Carolus dan Graha Sentosa Memorial ParkSetelah penayangan video dari Rumah Duka St. Carolus, disampaikan secara singkat oleh Firman bahwa RD Carolus memang untuk keluarga yang mampu. Bagi KLMTD juga disediakan program sosial oleh RD Carolus berupa paket semayam kremasi dan non-kremasi yang cukup terjangkau. Syaratnya, persemayaman maksimal 2 hari 1 malam. Berikutnya ada penayangan video dan presentasi dari Graha Sentosa Memorial Park, sebuah pemakaman modern yang berlokasi di Karawang Barat. Kelebihan layanan di lokasi ini adalah tidak ada iuran bulanan atau tahunan, pembayaran sekali di awal untuk selamanya. SABUK dan Sahabat ArimateaSetelah ditayangkan video dari CU Bina Seroja yang menjelaskan tentang koperasi kredit Bina Seroja dengan berbagai paket tabungan dan pelatihan yang tersedia, selanjutnya adalah penjelasan dari Subseksi SABUK oleh Firman dan Maya Sutiknja (koordinator baru). Maya menjelaskan, SABUK adalah singkatan dari Sentra Bimbingan Usaha Kecil. SABUK ini memberikan bimbingan usaha kepada UMKM yang ada di paroki, dengan program mentor, monitor, dan tutor. Dalam tutor ini, narasumber mengajarkan berbagai materi bimbingan usaha dalam hal ASK, yaitu Karakter (Attitude),


30 Warta Padua DigitalKeterampilan (Skill), dan Pengetahuan (Knowledge). Bantuan SABUK bersifat hibah, tetapi tidak diberikan tunai. Bantuan dibelanjakan sesuai tujuan: biaya sewa, biaya renovasi, pembelian peralatan, biaya kursus pelatihan, pembelian barang, dsb. Untuk pemasaran produk anggota secara online, KAJ memiliki website Sabuk.id.Selanjutnya, Firman memaparkan tentang kelompok Sahabat Arimatea. Sahabat Arimatea merujuk pada nama tokoh Yusuf dari Arimatea yang memakamkan jenazah Yesus. Berkat perannya itu, Santo Yusuf dari Arimatea dianggap sebagai santo pelindung bagi pengurus jenazah. Kegiatan Sahabat Arimatea berawal dari kelompok Daoer Zenee yang mengadakan pemberdayaan untuk umat disabilitas dengan menghasilkan karya-karya daur ulang yang berlokasi di Cawang Kapling. Kelompok ini membantu menyediakan pakaian jenazah bagi keluarga yang tidak mampu, karena jenazah bagaimanapun harus dihormati dengan memberikan pakaian dan pemakaman yang layak.Sebelum sesi presentasi berakhir, Firman memutarkan video singkat tentang salah satu umat yang dibantu modal berjualan es batu sampai berhasil membeli motor untuk usaha. Ia mengumumkan agar ketua


Di Antara Kita 31lingkungan mulai mempersiapkan siapa saja warganya yang memerlukan bantuan karitatif, perbaikan rumah, dsb. karena ketua lingkunganlah yang paling tahu tentang kondisi umat lingkungannya. Dengan demikian, pengajuan dari lingkungan sudah 90% disetujui. Sebagai pamungkas, Vero, Ketua Bank Sampah Berkah Alam Semesta (BS BAS), memberikan penjelasan singkat bahwa tahun 2026 Ardas KAJ adalah tentang “Keutuhan Alam Ciptaan” dan yang menjadi program utama adalah pemilahan sampah di rumah, yang kemudian bisa ditimbang di bank sampah. Jadwal penimbangan sampah di BS BAS adalah setiap Sabtu ke-2 dan ke-4 di halaman belakang GHKY, pukul 07.15–09.45. Ia juga menambahkan bahwa ia sendiri tergabung menjadi pengurus Sahabat Arimatea dan saat ini sudah lintas paroki karena ketuanya sekarang (Wety) dari Paroki Paskalis dan founder-nya selain Magdalena dari Bidaracina juga Susi dari Paroki Kramat. Ditambahkan juga oleh Firman bahwa Sahabat Arimatea sekarang sudah menjadi program KAJ.Setelah sesi tanya jawab sekitar setengah jam, acara diakhiri dengan doa penutup, tanpa foto bersama.Veronica B. Vonny (Tim Komsos)


32Para pengurus baru Wilayah III berinisiatif mengadakan kegiatan ini untuk mengajak umat semakin aktif dalam kegiatan rohani sekaligus mempererat keakraban antarumat dan keluarga.Setelah melalui sejumlah pertemuan dan diskusi hangat, akhirnya terbentuklah panitia yang solid, dengan susunan sebagai berikut.• Ketua: Bapak Hermanto• Sekretaris & Bendahara: Ibu Ungky• Sie Pendaftaran: Ibu Vivi• Sie Konsumsi: Ibu Yustina dan Ibu Melly• Sie Akomodasi & Liturgi: Bapak Pungky• Sie Dana: Bapak Mulyadi• Sie Acara: Bapak HenricusPanitia bekerja dengan penuh semangat dan dedikasi selama tiga bulan, mengadakan rapat rutin setiap dua minggu sekali pada Senin malam. Setiap Wilayah III Santo Matheus Paroki Antonius Padua Bidaracina, yang terdiri dari empat lingkungan—Santa Klara, Santo Kornelius, Santa Katarina, dan Santo Karolus—berkolaborasi mengadakan ziarah Porta Sancta dalam rangka Tahun Yubileum ini.Tergenapilah Firman Tuhan di Tahun Yubileumpertemuan diisi dengan diskusi dan makan malam bersama untuk memperkuat kekompakan serta menyusun persiapan acara.Ajakan panitia untuk mengikuti kegiatan Porta Sancta disambut antusias oleh umat Wilayah III. Setelah melalui persiapan panjang, kegiatan resmi diadakan pada Sabtu, 25 Oktober 2025.Perjalanan dimulai pukul 06.00 pagi, mengunjungi sembilan gereja Katolik dengan rute berikut ini.1. Paroki Jatiwaringin - Gereja St. Leo Agung2. Paroki Duren Sawit - Gereja St. Anna3. Paroki Kelapa Gading - Gereja St. Andreas Kim Tae-gon4. Paroki Pluit - Gereja Stella Maris5. Paroki Slipi - Gereja Kristus Salvator6. Paroki Pinang Tangerang - Gereja Ziarah Porta Sancta Wilayah III


Di Antara Kita 33St. Bernadet7. Paroki Alam Sutera - Gereja St. Laurentius 8. Paroki Cilandak - Gereja St. Stefanus 9. Paroki Bidaracina - Gereja St. Antonius PaduaSelama perjalanan, Bapak Henricus menjelaskan sejarah setiap gereja yang dikunjungi. Umat berziarah melewati pintu suci, berdoa, mendaraskan rosario di Gua Maria, dan berfoto bersama di setiap lokasi. Di dalam bus, suasana semakin hangat dengan bernyanyi karaoke bersama.Panitia juga menggandeng tim Komsos Paroki Bidaracina untuk mendokumentasikan seluruh rangkaian kegiatan. Menariknya, salah satu anggota OMK Wilayah III yang ikut dalam ziarah tertarik bergabung dengan tim Komsos setelah mengikuti kegiatan ini — sebuah buah nyata dari semangat pelayanan.Kegiatan Porta Sancta ini berlangsung selama 12 jam penuh, dari pukul 06.00 hingga 18.00. Menjelang tiba di gereja terakhir, hujan rintik-rintik turun lembut dan di langit muncul pelangi indah yang menyambut kami di perjalanan menuju tujuan gereja terakhir—seolah menjadi tanda kasih dan perjanjian Tuhan. Merefleksikan makna perjalanan ini, para umat yang mengikuti ziarah Porta Sancta ini meyakini bahwa ada pesan rohani yang Tuhan Yesus ingin sampaikan: Yesus memiliki 12 murid,


34 Warta Padua Digitaldan perjalanan yang genap 12 jam disertai pelangi menjadi simbol penggenapan Firman Tuhan.Bapak Hermanto selaku ketua panitia berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan iman umat Wilayah III, mempererat persaudaraan, serta mendorong keterlibatan yang lebih aktif dalam kegiatan rohani paroki. Terlebih lagi, beliau berharap umat memperoleh indulgensi penuh, mengalami pembaruan hidup, dan semakin bertumbuh dalam iman akan Kristus.Semoga kegiatan ini menjadi awal dari rangkaian karya rohani yang lebih hidup dan penuh berkat di masa mendatang.Ignatius Agung (Tim Komsos)


Di Antara Kita 35


36Komunitas Awam Dehonian melaksanakan Peziarahan Pengharapan Porta Sancta di Keuskupan Agung Jakarta pada hari Minggu, 2 November 2025. Kegiatan Porta Sancta KAD diikuti sebanyak 29 peserta, termasuk di dalamnya pendamping rohani kami, Romo Ignatius Trisna Setiadi Dwijo Waseso, SCJ, dan Romo Fransiskus Edi Setiawan, SCJ. Kegiatan ini diagendakan pada bulan Oktober dan dikoordinasi oleh Ibu Resti yang mempersiapkan materi Peziarahan Pengharapan ini.Peziarahan Pengharapan KAD dimulai pada pukul 05.30 di Gua Maria Mater Dei, area Gereja Santo Antonius, untuk berdoa bersama yang dipimpin oleh Romo Trisna, SCJ. Para peziarah Pengharapan Porta Sancta kemudian mengunjungi Taman Doa Kasih Mulia Sejati, Bojong Indah, yang baru diresmikan oleh Gubernur Tahun Yubileum terjadi 25 tahun sekali, dimulai dengan dibukanya Pintu Suci atau Porta Sancta oleh Bapa Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus pada 24 Desember 2024. Keuskupan Agung Jakarta memulai pembukaan Porta Sancta pada 4 Januari 2025. Bapa Uskup Ignatius Kardinal Suharyo mengajak umat di Keuskupan Agung Jakarta untuk mengikuti Ziarah Pengharapan ini di 9 Gereja di 9 Dekenat dalam kurun waktu satu tahun.Porta Sancta Komunitas Awam Dehonian (KAD) Paroki Bidaracina DKI Jakarta, Pramono Anung, pada 20 September 2025. Di Taman Doa ini kami menyusuri area Perjalanan Salib Yesus. Setelah berdoa bersama di taman doa, kami melanjutkan perjalanan menuju Porta Sanctapertama di Gereja Santo Thomas Rasul, Bojong Indah, Jakarta Barat 2, yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja SaThoRa, letaknya sekitar 100 meter dari Taman Doa.Porta Sancta kedua yang kami kunjungi adalah Gereja Santo Matias Rasul, Kosambi, Jakarta Barat. Berlanjut ke Porta Sancta ketiga di Gereja Santo Barnabas, Pamulang, Tangerang. Di sini kami berjumpa dengan Romo Blasius Sumaryo, SCJ, yang pernah berkarya di Gereja Santo Antonius Padua, Bidaracina. Di Pamulang kami berdoa di dalam gereja Kegiatan Tahun Yubileum – Peziarah Pengharapan


Di Antara Kita 37dan di ruang adorasi.Kemudian, kami mengunjungi Porta Sancta keempat, yaitu Gereja Santo Stefanus, Cilandak. Pada saat itu sedang berlangsung Misa Kudus. Jadi, kami berdoa bersama di depan pintu porta dan dilanjutkan di ruang adorasi. Berlanjut ke Porta Sancta kelima, kami mengunjungi Gereja Santo Yohanes Maria Vianney, Cilangkap, Jakarta Timur. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan ke Porta Sancta keenam, yaitu Gereja Kalvari, Lubang Buaya, Bekasi. Area gereja ini masih baru, dilengkapi ornamen kisah Perjalanan Salib Yesus serta gua tempat Yesus dimakamkan.Porta Sancta ketujuh yang kami kunjungi adalah Gereja Santo Servatius, Kampung Sawah, Bekasi. Di gereja ini terasa nuansa budaya Betawi yang tampak dari pakaian adat yang dikenakan para petugas porta.Mereka menceritakan kisah sejarah Gereja Kampung Sawah yang berkembang pesat. Di gereja ini terdapat relikui atau peninggalan fisik dari santo/santa berupa cuilan tubuh, pakaian, atau benda pribadi lainnya. Untuk Porta Sancta kedelapan, kami mengunjungi Gereja Salib Suci, Cilincing, Jakarta Utara. Porta Sancta kesembilan sekaligus yang terakhir kami kunjungi adalah Gereja Santo Bonaventura, Pulo Mas, Jakarta Timur. Di porta terakhir ini kami tiba pukul 17.00, kala sedang berlangsung Misa Minggu. Oleh karena itu, kami berdoa bersama di Gua Maria yang terletak di belakang gereja.Selama perjalanan Peziarahan Pengharapan ini, ada doa bersama maupun doa pribadi. Setiap doa di Porta Sancta diakhiri dengan berkat dari Romo Trisna atau Romo Edi secara bergantian.Dalam peziarahan ini, kadang kami menempuh perjalanan cukup panjang, misalnya dari Kosambi menuju Pamulang yang berjarak 30 kilometer


38 Warta Padua Digitaldan ditempuh hampir satu jam. Kami mengisi waktu perjalanan dengan berdoa Thesaurus dan bernyanyi bersama di dalam bus. Acara Peziarahan Pengharapan KAD Bidaracina selesai, dan kami tiba di Bidaracina pada pukul 18.00. Puji Tuhan, keseluruhan acara dapat terlaksana dengan lancar.Vivat Cor Jesu, Per Cor Mariae.Resti SartonoWakil ketua KAD BidaracinaKetua Rombongan Porta Sancta KAD


Di Antara Kita 39


40Jangan Lelah Menanti Jawaban TuhanSobat Padua,Ada seorang anak laki-laki yang terpisah dari keluarganya sejak bayi. Anak itu kemudian diasuh di sebuah panti asuhan. Setelah dewasa, ia bekerja di sebuah perusahaan pelayaran. Di dalam hatinya terpendam kerinduan besar untuk bertemu orang tuanya. Ia mengirim surat ke beberapa tempat, tetapi hasilnya nihil.Suatu hari ia membaca firman Tuhan yang membangkitkan imannya akan pertolongan Tuhan: “Sebab Tuhan Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.” (Mazmur 84:12). Ketika ia mengirim surat ke sebuah panti jompo, suratnya dibalas oleh pengurus panti yang mengabarkan bahwa ibunya masih hidup dan sedang mencarinya.Tanpa membuang waktu, ia segera menemui orang tua yang dirindukannya sejak kecil. Pengurus panti itu menceritakan bahwa sang ibu tidak pernah berhenti berdoa untuk anaknya sejak mereka berpisah dua puluh tahun lalu. Terbukti sudah bahwa “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b).Sobat Padua,Dalam kehidupan ini, banyak masalah dapat membuat kita terus diliputi rasa cemas. Masalah itu bisa bersumber dari masa lalu, masa kini, maupun masa depan, dan dapat berkaitan dengan apa saja atau siapa saja. Kecemasan mengusir ketenangan hati, padahal sebenarnya tidak satu pun dari kecemasan itu akan menjadi kenyataan.Kecemasan tidak menghasilkan apa-apa, walau kita menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk memikirkannya. Kita harus meninggalkan kecemasan dan berusaha meraih sukacita dengan bersikap optimis. Kekhawatiran hanya akan membuat kita lemah dan tidak percaya kepada Tuhan.“Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau; tidak untuk selama-lamanya dibiarkannya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:23). Saat kecemasan menyerang, kita dapat mengatakan kepada diri sendiri, “Don’t worry, be happy.”RENUNGAN PADUA“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12)


Renungan Padua 41Kuasa doa yang dipanjatkan dalam nama Tuhan Yesus tidak pernah dibatasi oleh jarak dan waktu. Karena itu, jika ada doadoa kita yang belum terjawab, mungkin saja jawabannya sedang dalam perjalanan. Satu prinsip yang harus tertanam dalam hati kita adalah bahwa Tuhan tidak pernah berdusta atau mengingkari janji-Nya. Jika Dia sudah berjanji maka Dia pasti menjawab doa yang dipanjatkan dengan iman.Pesan sabda Tuhan adalah: jangan pernah lelah menanti jawaban dari Tuhan. Tetaplah tekun dalam doa, sabar dalam kesulitan, dan bersukacita di tengah keadaan sulit, karena Tuhan akan melakukan apa yang harus Dia lakukan, yaitu menjawab doa-doa kita.Marilah berdoa:Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.Allah Bapa yang Maha Bijaksana,Engkau senantiasa mendengar dan menjawab doa-doa kami. Sendengkanlah telinga-Mu untuk mendengarkan doa atas berbagai masalah yang menjadi pergumulan hati kami. Kuduskan dan sucikanlah hati kami agar tidak menjadi batu sandungan bagi kuasa-Mu untuk bekerja dalam diri kami. Kami percaya, walaupun doa kami belum terjawab, kami sudah menerimanya. Amin.Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.meiZ (Tim Komsos)Sumber gambar: freepik.com


42LENSA KITAZiarek Lingkungan St. Diego ke Gereja Kristus Tebar Kamulyan September 2025


Lensa Kita 43


44 Warta Padua DigitalMisa Pemberkatan Cura Animarum November 2025


Lensa Kita 45


46 Warta Padua DigitalMisa Pemberkatan Cura Animarum November 2025


Lensa Kita 47


48 Warta Padua DigitalMisa Pemberkatan Cura Animarum November 2025


Lensa Kita 49


50 Warta Padua DigitalZiarah Porta Sancta Komunitas Awam DehonianNovember 2025


Click to View FlipBook Version