Lensa Kita 51
52 Warta Padua DigitalZiarah Porta Sancta Komunitas Awam DehonianNovember 2025
Lensa Kita 53
54 Warta Padua DigitalZiarah Porta Sancta Wilayah IIINovember 2025
Lensa Kita 55
56 Warta Padua DigitalZiarah Porta Sancta Wilayah IIINovember 2025
Lensa Kita 57
58 Warta Padua DigitalZiarah Porta Sancta Wilayah IIINovember 2025
Lensa Kita 59
60 Warta Padua DigitalPembaruan Janji PerkawinanOktober 2025
Lensa Kita 61
62 Warta Padua DigitalMinggu Misi Sedunia Oktober 2025
Lensa Kita 63
64 Warta Padua DigitalMinggu Misi Sedunia Oktober 2025
Lensa Kita 65
66 Warta Padua DigitalSosialisasi SPSE Oktober 2025
Lensa Kita 67
68 Warta Padua DigitalSosialisasi SPSE Oktober 2025
Lensa Kita 69
70 Warta Padua DigitalPosyandu LansiaNovember 2025
Lensa Kita 71
72 Warta Padua DigitalPembekalan Perdana Calon Prodiakon November 2025
Lensa Kita 73
74OBROLAN DI SELASARSelama Tahun Yubileum ini, umat yang beriman dapat memperoleh indulgensi plenaria jika mereka mengikuti beberapa praktik seperti perjalanan ziarah ke tempat-tempat suci, mengunjungi situssitus Yubileum, melakukan doa, meditasi, atau kunjungan penuh devosi, dan melakukan karya amal atau tobat. Ziarah yang cukup menonjol pada tahun 2025 ini adalah ziarah Porta Sancta, yaitu ziarah ke berbagai gereja di seluruh dunia, termasuk di KAJ, yang menyediakan situs “Pintu Suci” (porta sancta) yang memungkinkan umat berpartisipasi dalam perayaan Yubileum ini. Pintu Suci tersebut biasanya berlokasi di pintu utama gereja, pintu lainnya di gereja, pintu kapel atau ruang adorasi, pintu gerbang menuju Gua Maria, Taman Doa atau Taman Jalan Selama Tahun Yubileum ini, tahun 2025, sepertinya ada peningkatan dalam kegiatan warga paroki dalam melakukan ziarah. Mengapa? Tahun Yubileum 2025 ini merupakan “Tahun Yubileum Kudus” yang dimulai pada 24 Desember 2024 dan berakhir 6 Januari 2026, dengan tema “Peziarah Pengharapan”. Tema tersebut menekankan pentingnya perjalanan rohani menuju kedekatan dengan Tuhan dan perubahan hati yang sejati. Tahun Yubileum ini mengajak umat beriman untuk menjadi peziarah pengharapan. ZiarekSalib. Tentu, manfaat kegiatan ziarah ini harus diukur dari masing-masing orang yang melakukannya. Walaupun dari penjelasan yang diberikan mengenai manfaat dari peziarahan ini, yaitu bahwa para peziarah bisa memperoleh indulgensi plenaria, kita tahu bahwa syarat untuk memperoleh indulgensi plenaria tersebut tidaklah berubah: “berada dalam keadaan rahmat, tidak terikat pada dosa bahkan dosa ringan, menerima Sakramen Tobat dan Ekaristi, serta berdoa untuk maksud Paus.” Berapa banyak para peziarah yang melakukan persyaratan atau memenuhi persyaratan tersebut? Semoga banyak.Namun, ini membuat kita bertanyatanya: apakah memang banyak dari
Obrolan di Selasar 75kita yang melakukan perziarahan porta sancta atau ziarah lainnya memang bertujuan mendapatkan indulgensi tersebut, atau minimal terpikir untuk mendapatkannya? Semoga banyak juga. Namun, bagaimana kalau tidak? Kegiatan berziarah memang selama ini sering dipraktikkan atau dibarengi dengan kegiatan “jalan-jalan” atau wisata atau rekreasi, sehingga muncul istilah “ziarek”, singkatan dari “ziarah dan rekreasi”. Tentu yang dimaksud dari istilah itu adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk melakukan perziarahan, sekaligus berekreasi, entah bersama keluarga, teman, warga lingkungan, kelompok atau komunitas, dan sebagainya. Dulu sering ada sindiran bahwa banyak orang sering ikut kegiatan ziarek ini karena lebih berat ke arah “rekreasi”-nya, bukan ziarahnya. Orang kurang mendalami atau mengikuti bagian ziarahnya secara baik atau mendalam, namun lebih menikmati bagian rekreasinya. Ini terbukti bahwa sepulang dari kegiatan ziarek, orang lebih sering bercerita mengenai bagian rekreasinya, jarang berkisah mengenai sampai sejauh atau sedalam mana mereka melakukan ziarah.Namun, penilaian atau sindiran itu tidak selamanya tepat, tetapi tidak tepat sasaran. Ziarek, dari tujuannya, di samping untuk melakukan olah rohani vertikal dengan berdoa dan memohon kepada Tuhan, juga merupakan olah rohani horizontal, yaitu menjalin dan mempererat tali persaudaraan dengan peserta ziarah yang lain. Orang melakukan kedua kegiatan olah rohani itu dengan intensitas yang berpulang kepada masing-masing mereka, sama seperti orang ikut ibadat sabda di lingkungan: orang yang berdoa dengan tekun barangkali merasakan kesejukan atau kedalaman rohani tersendiri dan berharap pada belas kasih Allah untuk mengaruniakan rahmat-Nya, sementara yang ikut ibadat sambil lalu mungkin tidak merasakan intensitas seperti itu dan tidak merasakan apa-apa—semoga Allah tetap mengaruniakan rahmat-Nya juga karena ibadat seperti ini bersifat ex opera operantis, yaitu rahmat diberikan sesuai disposisi atau niat tulus dari pemohon. Hal ini memengaruhi seberapa besar rahmat yang diterima seseorang.Dari sudut pandang ini, ziarek, suatu kegiatan yang bersifat ibadat, yang dibarengi dengan kegiatan non-ibadat seperti rekreasi, tetaplah suatu kegiatan yang bagus dan bermanfaat. Semua orang dengan intensitas masing-masing bisa menarik manfaat dari kegiatan tersebut: ada yang bedoa secara lebih mendalam (karena mungkin memang berniat untuk itu dengan mengunjungi suatu tempat ziarah, misalnya), dan ada juga yang memang ingin mencari suatu kegembiraan dari perjalanan bersama, terutama ke tempat rekreasi dan wisata. Baik kegiatan rohani maupun nonrohani di dalam suatu ziarek, semuanya bersifat sah dan bermanfaat. Kita tidak perlu “menghakimi” bahwa ziarah harus dipisahkan dari rekreasi, atau memaksa supaya porsi ziarahnya diperbanyak, atau para peserta malah dipaksa untuk “tidak boleh terlalu menikmati rekreasinya”, karena pemaksaan atau pengaturan seperti itu justru boleh jadi mematikan gerak Roh Kudus dalam menggerakkan spontanitas dan hati para peserrta ziarek. Biarlah para peserta bisa memperoleh manfaat ziarek sesuai intensitas dan disposisi batin mereka masing-masing, tanpa perlu mereka menghakimi satu sama lain.Warta Padua/Komsos (ef)
76WARTA GEREJA
Sorotan Utama Warta Gereja 77
78 Warta Padua Digital
Sorotan Utama Warta Gereja 79