i Implementasi Model Pembelajaran Two Stray Two Stay Guna Meningkatkan Capaian Tujuan Belajar Akidah Akhlak Bab Keteledanan Rasul Ulul Azmi Pada Siswa Kelas VIII E MTs Negeri 2 Bandung Tahun Pelajaran 2023/2024 LAPORAN TINDAKAN KELAS Dalam Rangka Memenuhi Salah Satu Syarat Kenaikan Tingkat Guru OLEH : Iis Robiah Hasanah, S.Ag NIP. 197402062007012029 KEMENTRIAN AGAMA KABUPATEN BANDUNG MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 2 BANDUNG 2024
ii HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN Setelah membaca dan mencermati karya ilmiah yang merupakan ulasan hasil penelitian yang dipublikasikan dan didokumentasikan di perpustakaan MTsN 2 Banudng hasil karya dari: 1. Identitas Peneliti : Nama : Iis Robiah Hasanah,S.Ag NIP : 197402062007012029 Unit Kerja : MTsN 2 Bandung 2. Lokasi Penelitian : MTsN 2 Bandung 3. Lama Penelitian : 3 Bulan 4. Judul : Implementasi Model Pembelajaran Two Stray Two Stay Guna Meningkatkan Capaian Tujuan Belajar Akidah Akhlak Bab Keteledanan Rasul Ulul Azmi Pada Siswa Kelas VIII MTs Negeri 2 Bandung Tahun Pelajaran 2023/2024 Pasirjambu, Maret 2024 Kepala Madrasah Agus Sudianto, S.Pd NIP. 196907312005011003
iii HALAMAN PUBLIKASI Setelah membaca dan mencermati karya ilmiah yang merupakan ulasan hasil penelitian yang dipublikasikan dan didokumentasikan di perpustakaan MTsN 2 Bandung hasil karya dari: 1. Identitas Peneliti : Nama : Iis Robiah Hasanah, S.Ag NIP : 197402062007012029 Unit Kerja : MTsN 2 Bandung 2. Lokasi Penelitian : MTsN 2 Bandung 3. Lama Penelitian : 3 Bulan 4. Judul : Implementasi Model Pembelajaran Two Stray Two Stay Guna Meningkatkan Capaian Tujuan Belajar Akidah Akhlak Bab Keteledanan Rasul Ulul Azmi Pada Siswa Kelas VIII MTs Negeri 2 Bandung Tahun Pelajaran 2023/2024 Karya Ilmiah ini diajukan sebagai syarat untuk memenuhi syarat Kenaikan Tingkat Guru. Karya ilmiah ini dipublikasikan dan didokumentasikan didokumentasikan di perpustakaan MTsN 2 Bandung Pasirjambu, Maret 2024 Pustakawan Nurjanah, S.Pd NIP. 197111272005012003
iv KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan karya ilmiah dengan judul Implementasi Model Pembelajaran Two Stray Two Stay Guna Meningkatkan Capaian Tujuan Belajar Akidah Akhlak Bab Keteledanan Rasul Ulul Azmi Pada Siswa Kelas VIII E MTs Negeri 2 Bandung Tahun Pelajaran 2023/2024, penulisan karya ilmiah ini kami susun untuk dipakai dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan dapat dipakai sebagai perbandingan dalam pembuatan karya ilmiah bagi teman sejawat juga anak didik pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pembinaan karya ilmiah remaja. Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan tulus dan sedalam-dalamnya kepada: 1. Yth. Kepala MTsN 2 Bandung 2. Yth. Wakil Kepala Bidang Kurikulum MTsN 2 Bandung 3. Yth. Kepala Perpustakaan MTsN 2 Bandung 4. Yth. Rekan-rekan Guru MTsN 2 Bandung Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari sempurna untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis harapkan. Penul
v ABSTRAK Iis Robiah, Implementasi Model Pembelajaran Two Stray Two Stay Guna Meningkatkan Capaian Tujuan Belajar Akidah Akhlak Bab Keteledanan Rasul Ulul Azmi Pada Siswa Kelas VIII E MTs Negeri 2 Bandung Tahun Pelajaran 2023/2024 Kata Kunci: Akidah Akhlak Penelitian ini berdasarkan permasalahan: Apakah Pembelajaran Metode Two Stay Two Stray berpengaruh terhadap capaian tujuan belajar Akidah Akhlak Bab Keteledanan Rasul Ulul Azmi Pada Siswa Kelas VIII? Tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mengungkap pengaruh Pembelajaran Metode Two Stay Two Stray terhadap capaian tujuan belajar Akidah Akhlak Bab Keteledanan Rasul Ulul Azmi Pada Siswa Kelas VIII. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas VIII. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu, siklus I (68%,), siklus II (79%), siklus III (100%). Simpulan dari penelitian ini adalah metode Metode Two Stay Two Stray dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Siswa Kelas VIII E , serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative Akidah Akhlak .
vi DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul ................................................................................................. i Halaman Pengesahan ....................................................................................... ii Hlaman Publikasi.............................................................................................. iii Kata Pengantar ................................................................................................. iv Abstrak ............................................................................................................ v Daftar Isi .......................................................................................................... vi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ................................................... 1 B. Perumusan Masalah............................................................ 3 C. Tujuan Penelitian ............................................................... 4 D. Pentingnya Penelitian ........................................................ 4 E. Definisi Operasional Variabel ........................................... 4 F. Batasan Masalah ................................................................ 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Pembelajaran Kooperatif Teknik Two Stay Two Stray .............................................. 6 B. Materi Pembelajaran .......................................................... 20 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Rancangan dan Jenis Penelitian ................................................ 30 B. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian .............................. 32 C. Alat Pengumpul Data ......................................................... 32 D. Analisis Data ...................................................................... 33 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Analisi Item Butir Soal ..................................................... 35 B. Analisis Data Penelitian Persiklus .................................... 37 C. Pembahasan ....................................................................... 60
vii BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ........................................................................ 62 B. Saran-saran ........................................................................ 63 DAFTAR PUSTAKA
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di sekolah tidak dapat lepas dari peran guru sebagai fasilitator dalam penyampaian materi. Profesionalisme guru sangatlah dibutuhkan untuk menciptakan suasana proses belajar mengajar yang efisien dan efektif dalam pengembangan siswa yang memiliki kemampuan beragam. Kualitas guru ditinjau dari dua sisi, yaitu dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses guru dikatakan berhasil apabila mampu melibatkan sebagian besar peserta didik secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran. Disamping itu, dapat dilihat dari gairah dan semangat mengajarnya, serta adanya rasa percaya diri. Sedangkan dari segi hasil, guru dikatakan berhasil apabila pembelajaran yang diberikan mampu mengubah perilaku peserta didik ke arah penguasaan kompetensi yang lebih baik (Mulyasa, 2005). Metode pembelajaran yang dipakai oleh seorang guru, juga merupakan aspek penting dalam proses belajar mengajar. Pemilihan metode pembelajaran yang sesuai akan memberikan kontribusi yang penting bagi keberhasilan sebuah kegiatan pembelajaran dan pendidikan (Baharuddin dan Wahyuni, E. N., 2023). Berbagai macam pendekatan, model, dan metode mengajar dapat digunakan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan yang terdapat di dalam kurikulum. Penggnaan model pembelajaran yang biasa disajikan oleh guru dalam pembelajaran hanya dapat mengembangkan hal kognitif saja. Padahal penerapan
2 pembelajaran di ruang kelas merupakan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk menghadapi tantangan dunia global di masa depan. Guru bertugas untuk memudahkan pembelajaran sesuai dengan keadaan diri masingmasing siswa. Di sini, ditekankan bahwa dalam pemilihan kegiatan pembelajaran yang akan disampaikan harus ditujukan untuk dapat mengembangkan potensi siswa secara optimal. Oleh karena itu, dalam melakukan pembelajaran di kelas, guru harus memberikan ruang bagi murid untuk berkreatifitas dan terlibat secara aktif sepanjang proses pembelajaran. Pembelajaran yang bersifat student-centre dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat lebih berkreasi dalam membentuk pengetahuan dan pemahaman tentang apa yang sedang dipelajarinya. Dengan demikian siswa mampu menerapkan pengetahuan yang diperolehnya dalam berbagai kondisi, sehingga aspek kognitif, afektif dan psikomotorik siswa pun dapat berkembang maksimal secara bersamaan (Baharuddin dan Wahyuni, E. N., 2023). Sehubungan dengan fakta-fakta di atas, maka dipandang perlu untuk menerapkan suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses pembelajarannya. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan model pembelajaran aktif yaitu model pembelajaran Two Stray Two Stay. Dalam Model pembelajaran Two Stay Two Stray anggota kelompok lebih menjadi aktif dan mereka akan menekankan pada pemahaman materi yang didiskusikan. Hal ini karena akan disampaikan kepada temannya dari kelompok lain (tahap Stay) dan dari kelompoknya sendiri (tahap Stray). Model Pembelajaran Two Stay Two Stray ini (TSTS) merupakan salah satu model pembelajaran aktif yang bisa diterapkan untuk membangkitkan
3 pembelajaran di abad 21 ini, khususnya dalam kurikulum merdeka. Model pembelajaran ini mengedepankan aktivitas peserta didik (melibatkan setiap peserta didik) yaitu dengan peserta didik mampu untuk bertanya dan menjawab dari setiap permasalahan yang dihadapinya karena menggunakan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS), “dua tinggal dua tamu” dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992 dan biasa digunakan bersama dengan model Kepala Bernomor (Numbered Heads). Struktur TSTS yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Peserta didik bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan peserta didik yang lain. Sesuai dengan uraian diatas penulis tertarik terhadap “Implementasi Model Pembelajaran Two Stray Two Stay Guna Meningkatkan Capaian Tujuan Belajar Akidah Akhlak Bab Keteledanan Rasul Ulul Azmi Pada Siswa Kelas VIII E MTs Negeri 2 Bandung Tahun Pelajaran 2023/2024”. B. Rumusan Masalah Merujuk pada uraian latar belakang di atas, dapat dikaji ada beberapa permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut: ”Apakah Pembelajaran Metode Two Stay Two Stray berpengaruh terhadap capaian tujuan belajar Akidah Akhlak Bab Keteledanan Rasul Ulul Azmi Kelas VIII E tahun pelajaran 2023/2024?”
4 C. Tujuan Penelitian Berdasar atas rumusan masalah di atas, maka tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah: ”Guna Mengungkap pengaruh Pembelajaran Metode Two Stay Two Stray terhadap capaian tujuan belajar Akidah Akhlak Bab Keteledanan Rasul Ulul Azmi Kelas VIII E tahun pelajaran 2023/2024. D. Pentingnya Penelitian 1. Hasil dan temuan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang Metode Two Stay Two Stray dalam pembelajaran Akidah Akhlak oleh guru Kelas VIII E tahun pelajaran 2023/2024. 2. Sekolah sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Akidah Akhlak . 3 Guru, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran yang dapat memberikan manfaat bagi siswa. 4 Siswa, dapat meningkatkan motiviasi belajar dan melatih sikap sosial untuk saling peduli terhadap keberhasilan siswa lain dalam mencapai tujuan belajar. 5 Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru Akidah Akhlak dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar Akidah Akhlak . 6 Sumbangan pemikiran bagi guru Akidah Akhlak dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar Akidah Akhlak .
5 E. Batasan Masalah Karena keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah meliputi: 1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa Kelas VIII E tahun pelajaran 2023/2024. 2. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Maret semester genap tahun pelajaran 2023/2024.
6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Pembelajaran Kooperatif Teknik Two Stay Two Stray 1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Setiap manusia yang hidup di dunia akan selalu melakukan interaksi dengan orang lain. Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam proses pembelajaran, siswa diharapkan mampu memahami pelajaran dengan baik. Selain itu, siswa.juga diharapkan dapat berinteraksi dan bekerjasanna dengan temannya untuk menyelesaikan tugas kelompok yang di berikan oleh guru. Salah satu pembelajaran yang mampu meningkatkan interaksi dan kerjasama antar siswa adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran ini menggunakan kelompok-kelompok kecil sehingga siswasiswa saling bekerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Siswa dalam kelompok kooperatif belajar, saling membantu, dan mengajak satu sama lain untuk mengatasi masalah belajar. Pembelajaran kooperatif mengkondisikan siswa untuk aktif dan saling memberi dukungan dalam kerja kelompok untuk menuntaskan materi masalah dalam belajar. Tujuan pembagian kelompok Pembelajaran Two Stray Two Stay menjadi kelompok yang heterogen supaya siswa bisa berinteraksi dan saling bekerjasama dengan semua teman sekelas untuk mengerjakan tugas atau lembar Pembelajaran Two Stray Two Stay siswa. Guru membagi kelompok
7 secara heterogen supaya siswa tidak selalu berkelompok dan bergerombol dengan teman-teman dekatnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sanjaya yaitu: "Setiap kelompok bersifat heterogen. artinya: kelompok terdiri atas anggota yang memiliki kemampuan akademik, jenis kelamin dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberikan pengalaman, saling memberi dan penerima, sehingga diharapkan setiap anggota dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan kelompok" Jadi, setiap anggota kelompok memiIiki tanggung jawab dan harus saling membantu antar sesama anggota, agar keberhasilan pembelajaran dapat tercapai. Dalam Pembelajaran Two Stray Two Stay kelompok dibutuhkan tanggung jawab individu, kekompakan dan adanya kerjasama yang tinggi untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Menurut Nurhadi, dkk3 "pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang saling mengasihi antar sesama siswa". Sedangkan menurut Abdurrahman dan Bintoro, dalam Nurhadi, dkk, pembeIajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata". Berdasarkan dua pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dapat meningkatkan interaksi siswa pada proses pembelajaran sebagai latihan hidup dalam masyarakat. Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang dapat meningkatkan kerjasama siswa untuk mengerjakan tugas dalam proses belajar mengajar di kelas. Menurut Lie pembelajaran kooperatif, adalah sistem pengajaran yang
8 memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur". Sedangkan Solihatin mengemukakan pembelajan kooperatif yaitu: "Cooperative learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri." Koes, menyebutkan bahwa belajar kooperatif didasarkan pada hubungan antara motivasi, hubungan interpersonal, strategi pencapaian khusus, suatu ketegangan dalam individu memotivasi gerakan ke arah pencapaian hasil yang diinginkan. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat elemen-elemen yang saling terkait di dalamnya, diantaranya adalah saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual, keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan social yang sengaja diajarkan. Keempat elemen tersebut tidak bisa dipisahkan dalam pembelajaran kooperatif karena sangat mempengaruhi kesuksesan dari pembelajaran kooperatif sendiri. Penelitian tentang kooperatif telah dilakukan pada tahun 1920 oleh Social Psychological tetapi penelitian secara spesifik dalam aplikasi dikelas baru dimulai pada tahun 1970. Pada saat itu empat kelompok peneliti mulai meneliti dan mengembangkan metode pembelajaran kooperatif dalam kelas. Sejak saat itu para peneliti diseluruh dunia mulai menerapkan pembelajaran kooperatif dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, dan pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang sangat cocok. Ada beberapa definisi
9 pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh beberapa ahli pendidikan. Menurut Holubec, Pembelajaran koperatif (Cooperative Learning) merupakan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dan mencapai tujuan belajar. Menurut Johson pada umumnya hasil penelitian dari penggunaan metode pembelajaran kooperatif akan menghasilkan prestasi yang lebih tinggi, hubungan yang lebih positif, dan penyesuaian psikologis yang lebih baik daripada suasana belajar yang penuh dengan persaingan dan memisahmisahkan siswa. Menurut Johnson, pembelajaran kooperatif sebagai satu kaedah pengajaran. Kaedah ini merupakan satu proses pembelajaran yang melibatkan siswa yang belajar dalam kumpulan yang kecil. Setiap siswa dalam kelompok ini dikehendaki bekerjasama untuk memperlengkapkan dan memperluaskan pembelajaran diri sendiri dan juga ahli yang lain. Dalam kaedah ini, siswasiswa akan dipecahkan kepada kelompok-kelompok kecil dan menerima arahan dari guru untuk melaksanakan tugas yang diberikan. Mereka dalam kelompok seterusnya diminta bekerjasama untuk menyelesaikan tugas sehingga menghasilkan kerja yang memuaskan. Menurut Effandi Zakaria, pembelajaran kooperatif dirancang bagi tujuan melibatkan pelajar secara aktif dalam proses pembelajaran menerusi perbincangan dengan rekan-rekan dalam kelompok kecil. Ia memerlukan siswa bertukar pendapat, memberi tanya jawab serta mewujudkan dan membina proses penyelesaian kepada suatu masalah. Kajian eksperimental dan diskriptif
10 yang dijalankan mendukung pendapat yang mengatakan pembelajaran kooperatif dapat memberikan hasil yang positif kepada siswa-siswa. Pembelajaran kooperatif berasal dari kata “kooperatif” yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Slavin mengemukan, “In cooperative learning methods, student work together in four member teams to master material initially presented by the teacher”. Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar. Sedangkan menurut Lie, Cooperative Learning merupakan sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas terstruktur. Lie juga menyebut “Cooperative Learning sebagai sistem pembelajaran gotong-royong”. Dalam sistem pembelajaran ini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Dengan ringkas Abdurrahman dan Bintoro mengatakan bahwa “Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata.” Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang didasarkan atas kerja kelompok, yang menuntut keaktifan siswa untuk saling bekerjasama dan membantu dalam menyelesaikan masalah atau tugas yang diberikan oleh guru.
11 Melalui pembelajaran kooperatif siswa didorong untuk bekerjasama secara maksimal sesuai dengan keadaan kelompoknya. Kerjasama yang dimaksud dalam pembelajaran kooperatif adalah setiap anggota elompok harus saling membantu menguasai bahan ajar. Bagi siswa yang mempunyai kemampuan tinggi harus membantu siswa yang berkemampuan rendah agar dapat menguasai materi yang sedang dipelajari sehingga kelompoknya dapat berhasil karena penilaian akhir ditentukan oleh, keberhasilan kelompok. Oleh karena itu setiap anggota kelompok harus mempunyai tanggung jawah penuh terhadap kelompoknya. 2. Pengertian Teknik Two Stay Two Stray Salah satu teknik atau teknik pembelajaran kooperatif adalah teknik Two Stay Two Stray (TSTS) atau dua tinggal dua tamu. Teknik pembelajaran dua tinggal dua tamu ini dikembangkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992. Struktur dua tinggal dua tamu memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagi hasil dan informasi dengan kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya. Model two stay two stray atau dua tinggal dua tamu merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat memberikan kesempatan kepada anggota kelompok untuk membagi hasil dan informasi kepada kelompok lain. Saat Pembelajaran Two Stray Two Stay , siswa diharapkan lebih aktif, baik
12 sebagai penerima tamu yang menyampaikan hasil Pembelajaran Two Stray Two Stay maupun sebagai tamu yang bertanya informasi kepada kelompok lain. Model two stay two stray merupakan model pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama dalam kelompok berkaitan dengan kehidupan nyata bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain. Pembagian kelompok TSTS pada siklus I berbeda dengan siklus II. Hal ini bertujuan supaya setiap siswa dalam kelompok merasakan pengalaman dalam kerjasama di kelompoknya, yaitu dua siswa yang bertugas bertamu pada sikliis I, maka pada sklus II bertugas tetap tinggal di kelompoknya, sedangkan dua siswa yang tetap tinggal di kelompoknya pada siklus I, maka pada siklus II bertugas bertamu. Berikut ini disajikan skema Pembelajaran Two Stray Two Stay two stay two stray yang dilakukan: Kelompok Awal
13 Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray, (TSTS) atau dua tinggal dua tamu adalah sebagai berikut: a. Empat siswa bersama menyelesaikan lembar kegiatan seperti biasa dan bekerjasama dalam kelompok secara heterogen. b. Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan bertamu ke salah satu kelompok yang lain dengan tujuan menggali informasi dari kelompok tersebut. c. Dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan infomasi mereka ke tamu mereka. d. Tamu mohon diri dan kembali kekelompoknya masing-masing dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain kepada kelompoknya.
14 e. Masing-masing kelompok bersama untuk membahas kembali hasil kerjanya. Keterangan: 1A, 2A : Siswa yang tetap tinggal di kelompok awal 3A, 4A : Siswa yang bertamu ke kelompok lain. Penyajian gambar skema Pembelajaran Two Stray Two Stay teknik Two Stay Two Stray (TSTS) yang akan dilakukan dalam kelas secara lebih rinci
15 seperti pada Gambar 2.1 tentang alur perpindahan Pembelajaran Two Stray Two Stay dengan teknik Two Stay Two Stray (TSTS). 2. Tahapan-Tahapan Pembelajaran Teknik Two Stay Two Stray Pembelajaran kooperatif teknik dua tinggal dua tamu terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut: a. Tahap persiapan Pada tahap persiapan ini, hal yang dilakukan guru adalah membuat modul ajar, sistem penilaian, menyiapkan LKPD (lembar kerja peserta didik) dan membagi siswa ke dalam beberapa kelompok dengan masing-masing beranggotakan 4 siswa dan setiap anggota kelompok harus heterogen dalam hal jenis kelamin dan prestasi belajar. b. Presentasi guru Pada tahap ini, guru menyampaikan indikator pembelajaran dan menjelaskan materi secara garis besarnya sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. c. Kegiatan kelompok Dalam kegiatan ini, pembelajaranya menggunakan lembar kegiatan yang berisi tugas-tugas yang harus dipelajari oleh tiap-tiap siswa dalam satu kelompok. Setelah menerima lembar kegiatan yang berisi permasalahanpermasalahan yang berkaitan dengan konsep materi dan klasifikasinva, siswa mempelajarinya dalam kelompok kecil yaitu menPembelajaran Two Stray Two Stay kan masalah tersebut bersama-sama anggota kelompoknya. Masing-masing kelompok menyelesaikan atau memecahkan masalah yang
16 diberikan dengan cara mereka sendiri. Masing-masing siswa boleh mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari temannya. Kemudian dua dari empat anggota dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya dan bertamu ke kelompok yang lain secara terpisah, semetara dua anggota yang, tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka. Setelah memperoleh informasi dari dua anggota yang tinggal, tamu mohon diri dan kembali ke kelompok masing-masing dan melaporkan temuan dari kelompok lain serta mencocokkan hasil kerja mereka. d. Presentasi kelompok Setelah belajar dalarn kelompok dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan, salah satu kelompok mempresentasikan hasil Pembelajaran Two Stray Two Stay kelompoknya untuk dikomunikasikan atau diPembelajaran Two Stray Two Stay kan dengan kelompok lainnya. Dalam hal ini masingmasing siswa boleh mengajukan pertanyaan dan memberikan jawaban atapun tanggapan kepada kelompok yang sedang mempresentasikan basil Pembelajaran Two Stray Two Stay nya. Kemudian guru membahas dan mengarahkan siswa ke jawaban yang benar. e. Evaluasi kelompok dan penghargaan Pada tahap evaluasi ini, untuk mengetahui seberapa besar kemampuan siswa dalam memahai materi yang telah diberikan dapat dilihat dari seberapa banyak pertanyaan yang diajukan dan ketepatan jawaban yang telah diberikan atau diajukan
17
18
19 4. Kekurangan Dan Kelebihan Pembelajaran Teknik Two Stay Two Stray Suatu teknik pembelajaran pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Adapun kelebihan dari pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray (TSTS) adalah sebagai berikut : 1) Dapat diterapkan pada semua kelas / tingkatan, 2) Kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna, 3) Lebih berorientasi pada sikap dan keaktifan, 4) Membantu meningkatkan proses dan prestasi belajar. Sedangkan kekurangan dari pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray (TSTS) adalah sebagai berikut: 1) Membutuhkan waktu yang relatif cukup lama; 2) Siswa cenderung tidak mau belajar dalam kelompok dan menyerahkan tugas kepada satu siswa dalam kelompok tersebut, 3) Bagi guru membutuhkan hanyak persiapan materi, tenaga, dan waktu. 4) Guru cenderung kesulitan dalam pengelolaan kelas. Cara mengatasi kekurangan pembelajaran kooperatif teknik dua tinggal dua tamu, maka sebelum pembelajaran guru terlebih dahuiu mempersiapkan dan membentuk kelompok-kelompok yang heterogen ditinjau dari segi jenis kelamin dan kemampuan akademis. Dari sisi jenis kelamin, ada dua kelompok yang terdapat siswa laki-laki dan siswa perempuannya. Dari hal kemampuan akademis, dalam satu kelompok terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu orang berkemampuan kurang. Dengan pembentukan kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar dan saling mendukung sehingga memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang
20 yang berkemampuan akademis tinggi yang diharapkan dapat membatu anggota kelompoknya. Dalam Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kelebihan pembelajaran kooperatif model two stay two stray adalah siswa yang aktif dalam proses belajar mengajar dan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Sedangkan kekurangan teknik ini adalah membutuhkan persiapan yang matang karena proses belajar mengajar dengan model two stay two stray membutuhkan waktu yang lama dan pengelolaan kelas yang optimal. B. Materi Pembelajaran A. PENGERTIAN RASUL ULUL AZMI Dari 25 (dua puluh lima) rasul yang wajib kita imani, terdapat 5 (lima) orang rasulpilihan yang mendapatkan gelar Ulul Azmi. Kata Ulul Azmi berasal dari bahasa Arab, yaitu : “Ulul” yang artinya orang yang memiliki, dan “Azmi” yang artinya citacita yang mantap.Menurut Sirojuddin dalam buku “Ensiklopedi Islam” menyebutkan bahwa Ulul ‘Azmi (ulual-‘azmi) artinya “orang-orang yang mempunyai kemauan kuat dan teguh. Secara istilah Ulul Azmi berarti rasul-rasul pilihan atau Nabi yang memiliki keteguhan hati, lapang dada dan sabar dalam menghadapi kaumnya yang menentangdirinya dan tidak mau menerima ajaran yang disampaikannya. Adapun rasul-rasul yang termasuk dalam Ulul Azmi adalah: 1. Nabi Nuh As. 2. Nabi Ibrahim As.
21 3. Nabi Musa As. 4. Nabi Isa As. 5. Nabi Muhammad Saw. B. SIFAT UTAMA DAN KETEGUHAN RASUL ULUL AZMI Rasul-rasul yang termasuk dalam kelompok Ulul ‘Azmi ini adalah orang yangmemiliki ketabahan / kesabaran yang luar biasa dan mempunyai ketetapan (keteguhan) hatisekalipun dengan susah payah dan sangat berat dalam menegakkan syari’at Allah Swt.,sehingga kesabaran mereka dipuji oleh Allah Swt. sendiri sebagaimana dalam al-Qur’ansurah al-Ahqaf ayat 35 berikut: Ayat di atas menunjukkan bahwa para rasul Ulul Azmi hidup dalam perjuangan yanglebih berat. Namun mereka tetap teguh, sabar dan tawakkal dalam menyampaikan ajarandan dakwahnya kepada umat manusia. Di antara tantangan dakwah para rasul Ulul Azmi antaralain:
22 a. Nabi Nuh As. Nabi Nuh As. berdakwah selama kurang lebih 950 tahun, tetapi yang berimanhanya 80 orang, jumlah yang sangat tidak seimbang dengan lamanya berdakwah. Kendatipun setiap diajak dan diseru telinga mereka selalu ditutup dengan jari-jarinya,namun Nabi Nuh As. dengan kesabaran dan ketabahannya tetap terus menyerukaumnya agar hanya menyembah kepada Allah Swt. sampai akhirnya azabdidatangkan oleh Allah berupa banjir besar dan menenggelamkan semua orang yangtidak beriman, termasuk isteri dan anaknya sendiri. b. Nabi Ibrahim As. Semenjak kecil Ibrahim As. senang berdebat tentang ke-Tuhan-an, baik kepadaorang tuanya maupun kaumnya. Kemudian setelah remaja dengan keberaniannyamenghancurkan berhala / patung-patung sesembahan kaumnya, hingga beliau dibakardalam api yang sangat besar oleh Raja Namrudz yang berkuasa pada saat itu.Selanjutnya setelah beliau berpindah ke Palestina, maka beliau melanjutkandakwah kepada kaum Bani Isra‟il dan di kota ini pula beliau menikah dengan SitiSarah dan Siti Hajar. Dengan ketaatan Nabi Ibrahim As. kepada perintah Allah Swt.,beliau sampai beberapa kali pulang-pergi antara kota Palestina dengan kota “Bakkah” (Makkah) yang jaraknya sangat jauh sekali, perjalanan satu bulan pergi dan satu bulanpulang. Perintah Allah Swt. yang pertama adalah membawa Siti Hajar dengan anaknya Ismail yang masih bayi ke tempat yang di situ tidak ada
23 pepohonan, tidak ada air,tanahnya sangat tandus dan gersang untuk selanjutnya diperintahkan Tuhan keduanyaharus tinggal di tempat tersebut. Perintah Allah Swt. yang kedua adalah menyembelihputra kesayangannya Ismail dan tentu hal ini suatu ujian yang paling berat bagi beliau. Perintah Allah Swt. yang ketiga sehingga Nabi Ibrahim harus ke Makkah lagi adalahperintah membangun “Baitullah” (Ka’bah) bersama anak beliau Ismail. Semuaperintah Allah beliau laksanakan dengan penuh kesabaran dan ketabahan tetapisemuanya berujung kepada pertolongan Allah Swt. c. Nabi Musa As. Seorang Nabi yang diberikan kelebihan dapat berdialog langsung dengan Tuhan, karenanya beliau diberi gelar dengan “Kalimullah”. Kesabaran dan ketabahanNabi Musa As. ini adalah karena pada zaman itu beliau harus berhadapan denganseorang raja yang sangat kejam, zhalim dan bengis, lebih dari itu dia mengaku sebagaituhan yang harus disembah, jika tidak mau pastilah mati di tangannya, yaitu “Fir’aun”. Orang semacam inilah yang dihadapi oleh Nabi Musa, namun dengan tongkatnyayang diberikan oleh Allah sebagai mukjizat beliau, maka akhirnya Fir’aun harustenggelam bersama tentaranya di laut merah. Penderitaan pertama yang dialami oleh Nabi Musa adalah sewaktu beliau masihbayi, oleh ibunya Musa terpaksa harus dihanyutkan di sungai, untuk menyelamatkanbeliau dari undang-undang Fir’aun yang berisi setiap anak laki-laki yang lahir padawaktu itu harus dibunuh
24 hidup-hidup. Ujian kedua ketika Nabi Musa harusberhadapan dengan para tukang sihir. Perintah Tuhan selanjutnya adalahmenyelamatkan Bani Isra’il yang sudah sekian lama menjadi budak Fir’aun, untukselanjutnya dibawa ke luar kota Mesir, sehingga pada saat itulah Fir’aun bersamatentaranya mengejar sampai ke laut merah dan ternyata hidup Fir’aun harus berakhirdi laut merah tersebut. d. Nabi Isa As. Nabi dan Rasul Ulul Azmi keempat yang juga tidak kalah banyaknya tantangandan halangan yang dialami beliau dalam berdakwah adalah Nabi Isa As. Tantanganyang dihadapi Nabi Isa dalam menyampaikan dakwah adalah para Pendeta “Yahudi”. Kaum Yahudi ini selalu menyulut api keangkuhan dan kesombongan bahkan mendustakan ajaran beliau.Kendatipun Nabi Isa As. telah diberikan mukjizat oleh Allah untukmembuktikan kebenaran akan kenabian beliau, namun orang-orang Yahudi tetapmembuat permusuhan, hingga akhirnya membuat fitnah kepada “Raja Pilathus”,penguasa Romawi pada saat itu. Maka dengan fitnah inilah Isa kemudian dibunuh dandisalib, namun sebenarnya yang dibunuh / disalib itu bukanlah Nabi Isa, melainkanYahudza al-Askharyuthi (Yudas Iskariot) yang diserupakan oleh Allah dengan NabiIsa. e. Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal 571 M di Kota Makkah, bertepatan dengan tahun gajah. Ayahnya bernama Abdullah dan ibunya bernamaAminah binti Abdul Mutholib. Ayahnya wafat
25 ketika Muhammad Saw. masih dalamkandungan. Sedangkan ibunya wafat ketika ia masih kecil. Muhammad Saw. menikahpada usia 25 tahun dengan Siti Khadijah. Mereka dikarunia beberapa anak, diantarnyaadalah : Ibrahim dan Fatimah (istri Ali bin Abu Thalib). Muhammad diangkat menjadituhan yang harus disembah, jika tidak mau pastilah mati di tangannya, yaitu “Fir’aun”. Orang semacam inilah yang dihadapi oleh Nabi Musa, namun dengan tongkatnyayang diberikan oleh Allah sebagai mukjizat beliau, maka akhirnya Fir’aun harustenggelam bersama tentaranya di laut merah. Penderitaan pertama yang dialami oleh Nabi Musa adalah sewaktu beliau masihbayi, oleh ibunya Musa terpaksa harus dihanyutkan di sungai, untuk menyelamatkanbeliau dari undang-undang Fir’aun yang berisi setiap anak laki-laki yang lahir padawaktu itu harus dibunuh hidup-hidup. Ujian kedua ketika Nabi Musa harusberhadapan dengan para tukang sihir. Perintah Tuhan selanjutnya adalahmenyelamatkan Bani Isra’il yang sudah sekian lama menjadi budak Fir’aun, untukselanjutnya dibawa ke luar kota Mesir, sehingga pada saat itulah Fir’aun bersamatentaranya mengejar sampai ke laut merah dan ternyata hidup Fir’aun harus berakhirdi laut merah tersebut. d. Nabi Isa As. Nabi dan Rasul Ulul Azmi keempat yang juga tidak kalah banyaknya tantangandan halangan yang dialami beliau dalam berdakwah adalah Nabi Isa As. Tantanganyang dihadapi Nabi Isa dalam menyampaikan
26 dakwah adalah para Pendeta “Yahudi”.Kaum Yahudi ini selalu menyulut api keangkuhan dan kesombongan bahkanmendustakan ajaran beliau. Kendatipun Nabi Isa As. telah diberikan mukjizat oleh Allah untuk membuktikan kebenaran akan kenabian beliau, namun orang-orang Yahudi tetapmembuat permusuhan, hingga akhirnya membuat fitnah kepada “Raja Pilathus”,penguasa Romawi pada saat itu. Maka dengan fitnah inilah Isa kemudian dibunuh dandisalib, namun sebenarnya yang dibunuh / disalib itu bukanlah Nabi Isa, melainkanYahudza alAskharyuthi (Yudas Iskariot) yang diserupakan oleh Allah dengan NabiIsa. f. Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal 571 M di Kota Makkah, bertepatan dengan tahun gajah. Ayahnya bernama Abdullah dan ibunya bernamaAminah binti Abdul Mutholib. Ayahnya wafat ketika Muhammad Saw. masih dalamkandungan. Sedangkan ibunya wafat ketika ia masih kecil. Muhammad Saw. menikahpada usia 25 tahun dengan Siti Khadijah. Mereka dikarunia beberapa anak, diantarnyaadalah : Ibrahim dan Fatimah (istri Ali bin Abu Thalib). Muhammad diangkat menjadipenuh kesabaran dan ketabahan sambil terus berdo’a dan memohon pertolongan AllahSwt. baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk kaum mereka masing-masing.
27 C. HIKMAH KETELADANAN RASUL ULUL AZMI Para rasul “Ulul Azmi”, di samping memiliki kesabaran yang tinggi, senantiasa bermohon kepada Allah agar tidak menurunkan azab kepada kaumnya, dan senantiasamendo’akan agar kiranya Allah Swt. memberi hidayah dan petunjuk kepada kaumnya. ifat-sifat utama yang dapat kita teladani dari para rasul Ulul Azmi antara lain: 1. Sabar 2. Ikhlas 3. Ikhtiar 4. Tawakal 5. Teguh pendirian Hikmah beriman kepada rasul Ulul Azmi dalam kehidupan, antara lain sebagai berikut: 1. Bertambah iman kepada Allah Swt. dengan mengetahui bahwa rasul itu benar-benar manusia pilihan-Nya. 2. Sabar dan tabah dalam melaksanakan perintah Allah Swt. dan rasul-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. 3. Bersyukur kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang diberikan-Nya 4. Ikhlas menerima segala ujian dan cobaan yang kita alami 5. Mempercayai tugas-tugas yang dibawanya untuk disampaikan kepada umatnya.
28 6. Lebih mencintai, menghormati, dan mengagungkan rasul atas perjuangannya dalam menyampaikan agama Allah Swt. kepada umatnya. 7. Memperoleh teladan yang baik untuk menjalani hidup. 8. Akan selamat di dunia dan di akhirat dengan bimbingan yang diberikan rasul.
29 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas dalam bahasa inggris disebut dengan istilah classroom action research. Dari nama tersebut terkandung tiga kata yakni : 1. Penelitian : menunjukkan pada suatu kegiatan mencermati suatu obyek dengan cara menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. 2. Tindakan : menujukkan pada suatu obyek kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa. 3. Kelas : dalam hal ini tidk terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spsifik, yakni sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Sehingga dengan menggabungkan ketiga kata tersebut menjadi, Penelitian Tindakan Kelas. Dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu
30 pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dngan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa. Penelitian Tindakan Kelas merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah – masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencoba hal-hal baru dalam pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran. PTK mempunyai karakteristik tersendiri yang membedakan dengan penelitian yang lain, diantaranya yaitu : masalah yang diangkat adalah masalah yang diahadapi oleh guru dikelas dan adanya tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar dikelas. Penelitian Tindakan Kelas termasuk penelitian kualitatif meskipun data yang dikumpulkan bisa saja kuantitatif, dimana uraiannya bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata, peneliti merupakan instrument pertama dalam pengumpulan data, proses sama pentingnya dengan produk. Pada bab ini dibahas tentang metodologi penelitian dan langkah-langkah penelitian secara aplikatif, yang meliputi: (1) rancangan dan jenis penelitian, (2) data dan sumber data, (3) pengumpulan data, (4) analisis data, (5) instrumen penelitian, dan (6) prosedur penelitian. A. Rancangan dan Jenis Penelitian Menurut Darsono dkk, dalam Manajemen Penelitian Tindakan Kelas menjelaskan bahwa seorang peneliti bukan sebagai penonton tentang apa yang dilakukan guru terhadap muridnya, tetapi bekerja secara kolaboratif dengan guru mencari solusi
31 terbaik terhadap masalah yang dihadapi. Selain itu dalam penelitian tindakan kelas dimungkinkan siswa secara aktif erperan serta dalam melaksanakan tindakan.6 Sejalan dengan pernyataan tersebut, maka jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat kolaboratif. Peneliti berkolaborasi dengan guru dalam merencanakan, mengidentifikasi, mengobservasi, dan melaksanakan tindakan yang telah dirancang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas sistem spiral dengan model Hopkins seperti pada gambar dibawah ini. Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan rancangan penelitian model Hopkins yang diawali dengan tindakan pendahuluan kemudian dilanjutkan perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian dilakukan sebanyak 3 siklus. Hasil evaluasi pada siklus I masih belum tuntas, sehingga dilakukan perbaikan pada siklus II dan ada refleksi lagi dan dilanjutkan apda siklus 3. Refleksi siklus I dilakukan untuk menentukan langkah-langkah perbaikan pada siklus II, begitu juga untuk siklus III.
32 B. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di Sekolah MTsN 2 Bandung Kecamatan Pasirjambu Tahun pelajaran 2023/2024. 2. Waktu / Jadwal Penelitian Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2024, semester Genap. Dalam melaksanakan penelitian ini, penulis melakukan prosedur penelitian sebagai berikut dengan jadwal sebagai berikut: No Jadwal kegiatan Januari Februari Maret 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Persiapan awal sampai penyusunan proposal 2 Persiapan instrument dan alat 3 Pegumpulan data • penulis mengadakan penelitian dengan metode dokumentasi yaitu dengan mencari nilai raport dan nilai ulangan harian siswa. • penulis mengadakan penelitian dengan menggunakan metode Two Stay Two Strayyaitu siklus I • penulis mengadakan penelitian dengan menggunakan metode Two Stay Two Strayyaitu siklus II • penulis mengadakan penelitian dengan menggunakan metode Two Stay Two Strayyaitu siklus
33 III 4 Analisis data 5 Penyusunan Laporan 3. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas VIII E tahun pelajaran 2023/2024 pada bab Keteledanan Rasul Ulul Azmi . C. Alat Pengumpul Data Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru yang fungsinya adalah: (1) untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu, (2) untuk menentukan apakah suatu tujuan telah tercapai, dan (3) untuk memperoleh suatu nilai (Arikunto, Suharsimi, 2002:149). Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individual maupun secara klasikal. Di samping itu untuk mengetahui letak kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa sehingga dapat dilihat dimana kelemahannya, khususnya pada bagian mana TPK yang belum tercapai. Untuk memperkuat data yang dikumpulkan maka juga digunakan metode observasi (pengamatan) yang dilakukan oleh teman sejawat untuk mengetahui dan merekam aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. D. Analisis Data Dalam rangka menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka digunakan analisis data kuantitatif dan pada metode observasi digunakan data
34 kualitatif. Cara penghitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam proses belajar mengajar sebagai berikut. 1. Merekapitulasi hasil tes 2. Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya untuk masing-masing siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti yang terdapat dalam buku petunjuk teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika mendapatkan nilai minimal 65, sedangkan secara klasikal dikatakan tuntas belajar jika jumlah siswa yang tuntas secara individu mencapai 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%. 3. Menganalisa hasil observasi yang dilakukan oleh guru sendiri selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
35 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal, data observasi berupa pengamatan pengelolaan metode belajar aktif Two Stay Two Stray dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada akhir pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap siklus. Data hasil uji coba item butir soal digunakan untuk mendapatkan tes yang betulbetul mewakili apa yang diinginkan. Data ini selanjutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. Data lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data pengamatan pengelolaan metode belajar aktif Two Stay Two Stray yang digunakan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode belajar aktif Two Stay Two Stray dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dan data pengamatan aktivitas siswa dan guru. Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkan metode belajar aktif. A. Analisis Item Butir Soal Sebelum melaksanakan pengambilan data melalui instrumen penelitian berupa tes dan mendapatkan tes yang baik, maka data tes tersebut diuji dan dianalisis. Uji coba dilakukan pada siswa di luar sasaran penelitian. Analisis tes yang dilakukan meliputi: 1. Validitas
36 Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes sehingga dapat digunakan sebagai instrument dalam penelitian ini. Dari perhitungan 50 soal diperoleh 20 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini. Tabel 1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa Soal Valid Soal Tidak Valid 5, 6, 7, 9, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 27, 28, 29, 30, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45 1, 2, 3, 4, 8, 10, 11, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 38, 39, , 46, 47, 48, 49, 50 2. Reliabilitas Soal-soal yang telah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 754. Harga ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 27) dengan r (95%) = 0,381. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi syarat reliabilitas. 3. Taraf Kesukaran (P) Taraf kesukaran digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran soal. Hasil analisis menunjukkan dari 50 soal yang diuji terdapat: - 25 soal mudah - 15 soal sedang - 10 soal sukar
37 4. Daya Pembeda Analisis daya pembeda dilakukan untuk mengetahui kemampuan soal dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkteriteria jelek sebanyak 18 soal, berkriteria cukup 22 soal, berkriteria baik 8 soal, dan yang berkriteria tidak baik 2 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. B. Analisis Data Penelitian Persiklus 1. Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 06 Februari 2024 di Kelas VIII dengan jumlah siswa 29 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan.
38 Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. a. Rubrik Aktivitas Siswa dalam proses pembelajaran. No Nama Aspek penilaian Jumlah Nilai Ketepatan jawaban Estetika(nilai seni) paparan 1 Ade Rehhan 3 4 7 2 Ade Yusuf Supriatna 6 5 11 3 Aira Maharani 3 4 7 4 Bang Bang Ardiansyah 6 5 11 5 Bayu Nur Putra 6 5 11 6 Cecep 6 5 11 7 Denis Aditia Nur Pratama 3 4 7 8 Fajar Dewantara 6 4 10 9 M. Galang Nazril Ibrahim 4 4 8 10 Muhamad Restu Maulana 6 5 11 11 Muhamad Rifki 6 5 11 12 Muhammad Gilan Solihin 4 4 8 13 Nani Sri Mulyani 4 4 8 14 Neng Arly Oktaviani 6 4 10 15 Novi Yulianti 6 4 10 16 Raditia Putra Permana 3 4 7 17 Ramdani 6 4 10 18 Rangga Permana 6 4 10 19 Ridha Khoirunnisa 6 5 11 20 Rindiani 3 4 7 21 Sahrul Ali Ramdani 3 4 7 22 Sakila Insani 6 4 10
39 23 Salsabila Nazwa 6 5 11 24 Salwa Sadiah 6 4 10 25 Siti Julianti 6 5 11 26 Sofia Nazwa Lubis 6 4 10 27 Tantan Riyana 6 5 11 28 Zivara Arsiena Khaira Wiffa 6 4 10 29 M. Wahib F 6 4 10 Pedoman Skor No Skor Predikat Kriteria 1 8 Sangat baik Semua jawaban/paparan benar/ tepat, menarik 2 6 Baik Sebagian besar jawaban/paparan benar, menarik 3 4 Cukup Separuh jawaban/paparan benar, menarik 4 2 kurang Sebagian kecil jawaban/paparan benar, menarik Nilai Akhir : Jumlah skor yang diperoleh x 100 16 b. Penilaian sikap No Nama Siswa Aspek perilaku yang dinilai Rata-rata (Nilai Sikap) BS JJ TJ DS 1 Ade Rehhan 4 4 3 3 4 2 Ade Yusuf Supriatna 3 4 3 2 3 3 Aira Maharani 2 3 3 4 3 4 Bang Bang Ardiansyah 2 4 3 3 3
40 5 Bayu Nur Putra 4 4 3 3 4 6 Cecep 2 2 3 3 3 7 Denis Aditia Nur Pratama 4 4 3 3 4 8 Fajar Dewantara 4 2 3 3 3 9 M. Galang Nazril Ibrahim 2 3 3 4 3 10 Muhamad Restu Maulana 4 4 3 3 4 11 Muhamad Rifki 2 4 3 3 3 12 Muhammad Gilan Solihin 4 4 3 3 4 13 Nani Sri Mulyani 2 2 3 3 3 14 Neng Arly Oktaviani 4 4 3 3 4 15 Novi Yulianti 2 2 3 3 3 16 Raditia Putra Permana 2 3 3 4 3 17 Ramdani 3 4 3 3 3 18 Rangga Permana 2 2 2 3 2 19 Ridha Khoirunnisa 4 4 3 3 4 20 Rindiani 2 3 3 3 3 21 Sahrul Ali Ramdani 4 3 3 3 3 22 Sakila Insani 3 4 3 4 4 23 Salsabila Nazwa 2 3 3 4 3 24 Salwa Sadiah 4 4 3 3 4
41 25 Siti Julianti 3 3 2 3 3 26 Sofia Nazwa Lubis 4 3 3 2 3 27 Tantan Riyana 4 4 3 3 4 28 Zivara Arsiena Khaira Wiffa 4 4 3 3 4 29 M. Wahib F 2 2 3 3 3 Ket: BS : Bis abekerjasama JJ : Jujur TJ : Tanggung jawab Ds : Displin Aspek penilaian periku dengan kriteria 4 : sangat baik 3: baik 2 : cukup 1 : kurang Pada siklus I, secaraa garis besar kegiatan belajar mengajar dengan metode pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray sudah dilaksanakan dengan baik, walaupun peran guru masih cukup dominan untuk
42 memberikan penjelasan dan arahan, karena model tersebut masih dirasakan baru oleh siswa. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut: No Nama Siswa Skor Keterangan T TT 1. Ade Rehhan 80 2. Ade Yusuf Supriatna 60 3. Aira Maharani 80 4. Bang Bang Ardiansyah 60 5. Bayu Nur Putra 70 6. Cecep 80 7. Denis Aditia Nur Pratama 70 8. Fajar Dewantara 60 9. M. Galang Nazril Ibrahim 70 10. Muhamad Restu Maulana 60 11. Muhamad Rifki 80 12. Muhammad Gilan Solihin 80 13. Nani Sri Mulyani 60 14. Neng Arly Oktaviani 60 15. Novi Yulianti 80 16. Raditia Putra Permana 80 17. Ramdani 60 18. Rangga Permana 75 19. Ridha Khoirunnisa 85 20. Rindiani 85 21. Sahrul Ali Ramdani 62 22. Sakila Insani 65 23. Salsabila Nazwa 78 24. Salwa Sadiah 72 25. Siti Julianti 76 26. Sofia Nazwa Lubis 80 27. Tantan Riyana 75 28. Zivara Arsiena Khaira Wiffa 82
43 29. M. Wahib F 83 Jumlah 2108 20 9 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak tuntas Jumlah Siswa yang tuntas : 20 Jumlah Siswa yang tidak tuntas : 9 Skor Maksimal Ideal : 2108 Skor Tercapai : 2900 Rata-rata Skor Tercapai : 72 Prosentase Ketuntasan : 68 Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I No Uraian Hasil Siklus I 1 2 3 Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar 72 20 68 Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan pembelajaran dengan Two Stay Two Stray diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 72 dan ketuntasan belajar mencapai 68% atau ada 20 siswa dari 29 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya sebesar 68% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan pembelajaran dengan Two Stay Two Stray . c. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: