PRAGMATIK (2 SKS)
Dosen:
Dr. Any Budiarti, M.Hum.
Marlia, S.Pd., M.Hum.
Penjelasan Umum
1. Pragmatik ber-sks 2. 6. Perlu komitmen mahasiswa untuk
2. Total pertemuan 14x (tidak tepat waktu dalam pengumpulan
tugas (risiko tertolak sistem jika
termasuk UTS-UAS). Per melebihi deadline)
pertemuan 100 menit.
3. Sistem perkuliahan dilakukan 7. Perlu sarana prasarana yang
secara sinkronus dan asinkronus mendukung, seperti kekuatan
(agenda sinkronus situasional) sinyal, ketersediaan paket data
4. Platform yang digunakan adalah internet, gawai yang memadai.
moodle.
5. Perlu komitmen mahasiswa 8. Tidak ada remedial bagi yang
untuk mengakses e-learning bermasalah persentase
sesuai dengan jadwal yang kehadiran/tidak mengumpulkan
berlaku (tidak diperkenankan tugas.
sign out sebelum jadwal
berakhir). 9. Selalu mengisi daftar hadir di
setiap pertemuan.
10. Perbaikan mata kuliah dilakukan
sebelum perkuliahan berakhir
(kehadiran di atas 60%).
KOMPONEN PENILAIAN
1. Kehadiran
Minimal 80%
2. Tugas
Latihan Soal
3. UTS
Tes Tulis (Teoretikal)
4. UAS
Video Kajian Pragmatik
(PenerapanTeori)
BOBOT NILAI KELULUSAN
1. Kehadiran : 15 %
2. Tugas : 25 %
3. UTS : 25 %
4. UAS : 35 % +
5. Total :100 %
KONVERSI NILAI
Skor 3,50 – 4,00 : A
Skor 2,75 – 3,49 : B
Skor 2,00 – 2,74 : C
Skor 1,00 – 1,99 : D
Skor < 1,00 :E
Nilai Minimal Kelulusan : C
RENCANA PERKULIAHAN
Konsep Dasar Pengertian Pragmatik
Pragmatik
Pragmatik vs Semantik
Area Kajian Pragmatik
Peran Pragmatik dalam
Kehidupan dan
Pembelajaran
Pengertian Pragmatik adalah Sederhananya,
Pragmatik studi tentang makna pragmatik adalah
dalam hubungannya studi tentang
Pragmatik merupakan studi bahasa dengan situasi-situasi maksud penutur
yang mengkaji maksud dari ujar (Leech, 1993: 8) (Yule, 2006: 3)
penggunaan bahasa dalam situasi Pragmatik merupakan studi Pragmatik didefinisikan
tertentu bahasa yang didasarkan sebagai hal yang berkenaan
pada sudut pandang dengan syarat-syarat yang
penggunaannya mengakibatkan serasi
(Bachari&Juansah, 2017: tidaknya pemakaian bahasa
12) dalam komunikasi (KBBI,
2016)
Pragmatik vs
Semantik
Pragmatik vs
Semantik
FOKUS TINDAK TUTUR (LOKUSI, ILOKUSI, PERLOKUSI)
KAJIAN PRAANGGAPAN (PRESUPOSISI) DAN ENTAILMEN
PRAGMATIK
IMPLIKATUR PERCAKAPAN
PRINSIP KERJASAMA DAN KESOPANAN
STRUKTUR PERCAKAPAN DAN STRUKTUR PREFERENSI
PERAN PEMBELAJARAN
PRAGMATIK
FUNGSI
KOMUNIKATIF
MASYARAKAT Pragmatik berperan dalam
mengefektifkan interaksi yang terjadi
dalam suatu komunikasi antara
penutur dan petutur.
Daftar 1. Al-Pansori, M.J. (Desember 2014). Implementasi
Referensi Pendekatan Pragmatik dalam Pembelajaran Keterampilan
Berbicara di Sekolah. Premiere Educandum, Vol. 4 No. 2,
p. 216 –226.
2. Austin, J.L. (1962). How to Do Things with Words. London:
Oxford University Press.
3. Bachari, A.D. dan Juansah, D.E. (2017). Pragmatik: Analisis
Penggunaan Bahasa. Bandung: Prodi Linguistik SPS UPI.
4. Leech, G. (1993). Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: UI
Press.
5. Rialdi, Muchlisin. (05 Juli 2020). Tindak Tutur (Pengertian,
Fungsi dan Jenis-jenis). [Online] Tersedia di:
https://www.kajianpustaka.com/2020/07/tindak-
tutur.html. Diakses 26 Januari 2020.
6. Yule, G. (2006). Pragmatik (Trans.). Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Pragmatik 2
SEPERANGKAT POSTULAT
Dosen:
Dr. Any Budiarti, M.Hum. dan Marlia, S.Pd., M.Hum.
POSTULAT
1 Pengertian Postulat
Prinsip dalam Postulat
2
Pengertian Postulat Postulat (asumsi/aksioma) atau patokan
pikir itu adalah "suatu keterangan yang
Postulat merupakan asumsi benar", yang kebenarannya itu dapat
yang menjadi pangkal dalil diterima tanpa harus diuji atau dibuktikan
yang dianggap benar tanpa lebih lanjut, digunakan untuk menurunkan
keterangan lain sebagai landasan awal untuk
perlu membuktikannya; menarik suatu kesimpulan (Kompasiana,
anggapan dasar; aksioma
2019)
(KBBI, 2016)
Jadi, postulat merupakan prinsip yang dianggap benar tanpa
harus diuji coba atau dibuktikan kembali sebagai langkah awal
untuk menyimpulkan.
PRINSIP DALAM POSTULAT
Leech (1993: 27-55)
Representasi semantik (atau bentuk logikal) suatu kalimat
P1 berbeda dengan interpretasi pragmatikanya.
Semantik diatur oleh kaidah (gramatikal), pragmatik umum
P2 dikendalikan oleh prinsip (retoris).
Kaedah-kaedah tata bahasa pada dasarnya bersifat konvensional;
P3 prinsip-prinsip pragmatik umum pada dasarnya bersifat non konvensional,
yaitu dimotivasi oleh tujuan-tujuan percakapan.
Pragmatik umum mengaitkan makna (atau arti gramatikal) suatu
P4 tuturan dengan daya pragmatik (atau daya ilokusi) tuturan
tersebut.
PRINSIP DALAM POSTULAT
Leech (1993: 27-55)
Padanan-padanan gramatikal ditunjukkan dengan kaedah-kaedah
P5 pemetaan; padanan-padanan pragmatik ditunjukkan dengan
masalah-masalah dan pemecahan-pemecahnnya.
Corak utama penjelasan gramatikal bersifat formal, corak utama
P6 penjelasan pragmatik bersifat fungsional.
Tata bahasa bersifat idesional, pragmatik bersifat interpersonal
P7 dan tekstual.
Pada umumnya, tata bahasa dapat diperikan berdasarkan kategori-
P8 kategori diskret dan pasti. Pragmatik dapat diperikan berdasarkan
nilai-nilai sinambung (kontinus) dan tidak pasti (indeterminate).
Daftar Referensi
1. Badan Pengembangan dan Pembinaan
Bahasa, Kemdikbud RI. (2016). KBBI V 0.1.5
Beta (15). Jakarta: Kemdikbud.
2. Leech, Geofrey. (1993). Prinsip-Prinsip
Pragmatik. Jakarta: UI Press.
3. Kompasiana. (30 Maret 2019). Postulat
Ilmu. [Online]. Tersedia di:
https://www.kompasiana.com/balawadayu/
5c9ee7549715943edb0247f2/postulat-
ilmu. Diakses 26 Januari 2021.
Pragmatik 3
TINDAK TUTUR
DOSEN:
Dr. Any Budiarti, M.Hum. dan Marlia, S.Pd., M.Hum.
Pengertian Tindak Tutur 1
Klasifikasi Tindak Tutur 2
Pengertian Tindak Tutur (Speech Act)
1 Tindak tutur merupakan tindakan-tindakan yang ditampilkan
lewat tuturan (Yule, 2006: 82)
Tindak tutur merupakan tututan performatif, yakni tuturan
yang ditemukan pada kondisi tuturan yang tidak
2 mendeskripsikan atau menjelaskan atau menetapkan sesuatu
dengan ukuran benar-salah. Tuturan performatif menyatakan
sebuah kalimat sebagai sebuah tindakan, bukan sekadar
mengatakan sesuatu (Austin, 1962: 5).
Orang yang telah mengucapkan tuturan performatif
dianggap telah melakukan tindakan tertentu (Bachari dan
3 Juansah, 2017: 29-30) sehingga muncullah istilah tindak tutur
(speech act).
Klasifikasi Tindak Tutur
(Austin dalam Bachari dan Juansah, 2017: 44)
1. Tindakan Lokusi
2. Tindakan Ilokusi
3. Tindakan Perlokusi
TINDAK TINDAK TUTUR CONTOH
TUTUR
LOKUSI PENGERTIAN
ILOKUSI Mengatakan sesuatu adalah Pancasila ada lima.
melakukan sesuatu
PERLOKUSI
Mengatakan sesuatu yang kita Maaf, saya tidak bisa datang
lakukan Kiamat sudah dekat.
Dicapai dengan mengatakan
sesuatu
Tindak 01 Austin (1962: 94) 02 Tuturan lokusi
Lokusi
mendefinisikan tampak dalam
tindak lokusi sebagai percakapan sehari-
“The act of saying hari. Semua jenis
something in this tindakan
normal sense” mengatakan sesuatu
termasuk ke dalam
kategori tindakan
lokusi (Bachari dan
Juansah, 2017: 44).
Dalam tindakan lokusi, pendengar tidak memiliki kewajiban
untuk melakukan apa yang dikatakan oleh pembicara. Lokusi
03 memang memiliki makna, tetapi lokusi tidak memiliki cukup
kekuatan untuk memengaruhi orang. Lokusi sekadar
menyampaikan informasi dan menjadi kalimat yang
bermakna (Bachari dan Juansah, 2017: 45)
Tindakan Ilokusi
1 2
Tindak ilokusi dinyatakan Tindakan ilokusi dapat diketahui
berhasil apabila memiliki dan dipahami pendengar karena
efek dan efek tersebut dapat merupakan bentuk kesepakatan
dan merupakan hal yang lazim
tercapai.
dipahami masyarakat
3
(Bachari dan Juansah, 2017: 46-47)
Austin membuat formula
bahwa dalam tindak ilokusi
“In saying x I was doing y”
(dalam mengatakan x saya
melakukan y)
Klasifikasi Tindakan Ilokusi
(Austin, 1962: 150-163)
Tindakan 1 Verdictive (deklaratif)
Ilokusi 2 Exercitives (direktif)
3 Commissives (komisif)
4 Behabitives (ekspresif)
5 Expositive (representatif)
Klasifikasi Tindakan Ilokusi
(Austin, 1962: 150-163)
Klasifikasi Tindakan Ilokusi
(Austin, 1962: 150-163)
Klasifikasi Tindakan Ilokusi
(Austin, 1962: 150-163)
Klasifikasi Tindakan Ilokusi
(Austin, 1962: 150-163)
Klasifikasi Tindakan Ilokusi
(Austin, 1962: 150-163)
Tindakan Perlokusi
(Bachari dan Juansah, 2017: 49 dan 51)
1 2
Dalam perlokusi, efek atau konsekuensi Ada unsur kesengajaan yang
yang dihasilkan bukan sebuah konvensi, dibuat oleh penutur untuk
mengarahkan isi tuturannya
tetapi telah dirancang dari awal kepada yang mendengarkan
sedemikian rupa sehingga yang
mendengarkan akan terpengaruh dengan 4
apa yang dikatakan penutur, baik secara
Konsekuensi tuturan perlokusi bersifat
aktif maupun pasif. pasti karena memang ada upaya yang
diatur untuk memengaruhi pembaca
3 secara maksimal sehingga menimbulkan
perasaan tertentu. Austin memiliki formula
Ungkapan perlokusi biasanya ditemukan pada jenis untuk jenis tindakan perlokusi yang
tindakan persuasif, propaganda, ajakan, motivasi, dibedakan dengan ilokusi, yaitu “By saying
menggembirakan, melakukan sesuatu, memikirkan
x I did y”
tentang sesuatu, meredakan ketegangan,
mempermalukan, menarik perhatian, dll. kata-kata
tersebut dianggap bisa meyakinkan pendengar
sehingga efek dari tindak perlokusi dapat benar-
benar terjadi
Klasifikasi Tindak Tutur
Yule (2006: 92-94)
1. Deklarasi (verdictive)
2. Representatif (expositive)
3. Ekspresif (behabitives)
4. Direktif (exercitives)
5. Komisif (commissives)
KLASIFIKASI CONTOH
TINDAK TUTUR
Deklarasi Saat ini Anda sah menjadi suami istri. (n =
Penghulu)
Representatif Rokok itu berbahaya karena mengandung….
Dapat mengakibatkan penyakit ….
Ekspresif Wow keren!
Direktif Pergilah!
Komisif Saya akan kembali.
Daftar Referensi
1. Austin, J.L. (1962). How to Do Things with Words. London:
Oxford University Press.
2. Bachari, A.D. dan Juansah, D.E. (2017). Pragmatik: Analisis
Penggunaan Bahasa. Bandung: Prodi Linguistik SPS UPI.
3. Yule, G. (2006). Pragmatik (Trans.). Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Pragmatik 4
PRAANGGAPAN DAN ENTAILMENT
Dosen:
Dr. Any Budiarti, M.Hum. dan Marlia, S.Pd., M.Hum.
Praanggapan dan Entailment
Pengertian Praanggapan
1
2 Jenis-Jenis Praanggapan
3 Ciri Praanggapan
Pengertian Entailment
4
Entailment Tersusun
5
Pengertian Praanggapan
Praanggapan/presuposisi adalah sesuatu yang
01 diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum
menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presuposisi
adalah penutur, bukan kalimat (Yule, 2006: 43).
A. Praanggapan adalah asumsi implisit tentang dunia
atau latar belakang pengetahuan yang digunakan
02 sebagai landasan atau dasar dalam menyampaikan
dan memahami tuturan.
B. Sebuah praanggapan harus saling dipahami atau
diasumsikan oleh penutur dan mitra tutur untuk
memahami tuturan dengan tepat sesuai konteks
yang dihadapi.
(Bachari dan Juansah, 2017: 61)
JENIS-JENIS PRAANGGAPAN
1 (Yule dalam Bachari dan Juansah, 2017: 61-63)
Jenis Praanggapan Penjelasan Contoh
Praanggapan eksistensial 1. Praanggapan yang keberadaannya Rumah Salim Baru
tidak hanya diasumsikan dalam
kalimat-kalimat yang menunjukkan
kepemilikan, tetapi juga mencakup
keberadaan atau eksistensi yang
keberadaannya lebih luas lagi dari
pernyataan dalam tuturan tersebut.
2. Praanggapan eksistensial
menunjukkan bagaimana
keberadaan atas suatu hal dapat
disampaikan melalui sebuah
praanggapan.
JENIS-JENIS PRAANGGAPAN
2 (Yule dalam Bachari dan Juansah, 2017: 61-63)
Jenis Praanggapan Penjelasan Contoh
Praanggapan faktual
1. Praanggapan faktual muncul dari Dia menyadari bahwa di
informasi yang ingin disampaikan luar sedang hujan deras.
dengan kata-kata yang
menunjukkan suatu fakta atau
berita yang diyakini kebenarannya.
2. Kata-kata yang bisa menyatakan
fakta dalam tuturan adalah kata
kerja yang dapat memberikan
makna pasti dalam tuturan
tersebut.
JENIS-JENIS PRAANGGAPAN
3 (Yule dalam Bachari dan Juansah, 2017: 61-63)
Jenis Praanggapan Penjelasan Contoh
Praanggapan leksikal Ia berhenti merokok.
1. Praanggapan leksikal merupakan
praanggapan yang didapat melalui
tuturan yang diinterpretasikan
dengan penegasan dalam tuturan.
2. Hal yang membedakan
praanggapan leksikal dengan
praanggapan faktual, dinyatakan
dengan cara tersirat sehingga
penegasan atas praanggapan
tersebut bisa didapat setelah
pernyataan dari tuturan tersebut.
4 JENIS-JENIS PRAANGGAPAN
Jenis Praanggapan (Yule dalam Bachari dan Juansah, 2017: 61-63)
Praanggapan struktural Penjelasan Contoh
1. Praanggapan struktural adalah Siapa yang mengambil baju?
praanggapan yang dinyatakan melalui
tuturan yang strukturnya jelas dan
langsung dipahami tanpa melihat kata-kata
yang digunakan.
2. Dalam bahasa Inggris, penggunaan
struktur terlihat dalam ‘whquestions’ yang
langsung dapat diketahui maknanya,
sedangkan dalam bahasa Indonesia,
kalimat-kalimat tanya dapat ditandai
melalui penggunaan kata tanya dalam
tuturan.
3. Kata tanya seperti apa, siapa, di mana,
mengapa, dan bagaimana menunjukkan
praanggapan yang muncul dari tuturan
tersebut.
JENIS-JENIS PRAANGGAPAN
5 (Yule dalam Bachari dan Juansah, 2017: 61-63)
Jenis Praanggapan Penjelasan Contoh
Praanggapan Praanggapan nonfaktual adalah Andai aku punya
nonfaktual praanggapan yang masih rumah mewah.
memungkinkan adanya
pemahaman yang salah karena
penggunaan kata-kata yang tidak
pasti dan masih ambigu.
JENIS-JENIS PRAANGGAPAN
6 (Yule dalam Bachari dan Juansah, 2017: 61-63)
Jenis Praanggapan Penjelasan Contoh
Praanggapan 1. Praanggapan kontrafaktual adalah Kalau hari ini hujan,
kontrafaktual praanggapan yang menghasilkan pestanya akan kacau.
pemahaman yang berkebalikan
dengan pernyataannya.
2. Kondisi yang menghasilkan
praanggapan seperti ini, biasanya,
terdapat dalam tuturan yang
mengandung ‘if-clause’ atau
pengandaian.
3. Hasil yang didapat menjadi
kontradiktif dari pernyataan
sebelumnya.
CIRI-CIRI PRAANGGAPAN
(Yule, 2006: 45)
1. Ciri utama praanggapan adalah sifat
keajegan di bawah penyangkalan.
2. Hal ini berarti bahwa praanggapan suatu
pernyataan akan tetap ajeg (yakni: tetap
benar), walaupun kalimat pernyataan itu
dijadikan menyangkal (Yule, 2006: 45).
3. Dengan kata lain, praanggapan suatu
pernyataan akan tetap ajeg (tidak dapat
disangkal keberadaannya) sekalipun
kalimat tersebut diubah ke dalam
konstruksi negatif (penyangkalan). Contoh:
Mobil Tata bagus.
Salim, animator Indonesia kreatif.
PENGERTIAN ENTAILMENT
1. Praanggapan merupakan suatu hal yang
diasumsikan oleh penutur dalam
tuturannya yang pada gilirannya tuturan
tersebut memunculkan keterikutan
(entailment).
2. Entailment adalah makna yang
diasumsikan pada sebuah tuturan (Yule
dalam Bachari dan Juansah, 2017: 61).
3. Dengan kata lain entailment adalah
sesuatu yang secara logis ada atau
mengikuti apa yang ditegaskan di dalam
tuturan. Yang memiliki entailment adalah
kalimat, bukan penutur (Yule, 2006: 43).
ENTAILMENT TERSUSUN
(Bachari dan Juansah, 2017: 27-28)
1. Entailment bermakna bahwa sebuah 6. Jika hal tersebut terjadi, maka kalimat tersebut
pernyataan dapat dikatakan benar jika dikatakan salah karena premis kedua
kalimat kedua mengikuti kalimat pertama menyangkal kebenaran yang terkandung di
atau kalimat pertama terkandung di dalam dalam premis pertama.
kalimat kedua.
7. Hal seperti itu disebut sebagai kontradiksi.
2. Dengan kata lain, kalimat pertama harus 8. Notasi ‘if p entails q’, dapat dibalik menjadi ‘if ~q
didukung oleh kalimat kedua agar menjadi
benar. entails ~p’.
9. Dengan demikian, kalimat Jika manusia mati
3. Secara logis, entailment dinotasikan dengan
kalimat ‘if p entails q’. entails Rio pasti mati dapat menjadi Jika Rio
tidak mati, maka tidak semua manusia mati.
4. Misalnya, kalimat Jika manusia mati entails 10. Tuturan tersebut adalah logis karena
Rio pasti mati. Sebab, Rio adalah manusia. penyangkalan dilakukan setelah verifikasi
terhadap keadaan faktual.
5. Tidak bisa kita menuturkan kalimat ‘Jika 11. Dalam hal ini, ketika ditemukan ada seorang
semua manusia mati, tetapi tidak semua manusia manusia yang tidak mati, maka premis mayor
dapat disangkal kebenarannya.
mati’.
DAFTAR REFERENSI
1. Bachari, A.D. dan Juansah, D.E. (2017). Pragmatik: Analisis Penggunaan
Bahasa. Bandung: Prodi Linguistik SPS UPI.
2. Yule, G. (2006). Pragmatik (Trans.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pragmatik 5
IMPLIKATUR DALAM
PERCAKAPAN
Dosen:
Dr. Any Budiarti, M.Hum. dan Marlia, S.Pd., M.Hum.