The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul ini merupakan selayang pandang terkait pragmatik, yang meliputi konsep dasar pragmatik, seperangkat postulat, tindak tutur, praanggapan & entailmen, implikatur percakapan, prinsip kerjasama, prinsip kesantunan, struktur percakapan, dan struktur preferensi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by marlia, 2022-02-12 02:18:54

Modul Pragmatik Bahasa Indonesia

Modul ini merupakan selayang pandang terkait pragmatik, yang meliputi konsep dasar pragmatik, seperangkat postulat, tindak tutur, praanggapan & entailmen, implikatur percakapan, prinsip kerjasama, prinsip kesantunan, struktur percakapan, dan struktur preferensi

Keywords: Pragmatik

Implikatur Percakapan

1

Pengertian Implikatur 2
Percakapan

Ciri-Ciri Implikatur
Percakapan

3

Jenis Implikatur

(Grice, 1969: 47 dalam Bachari dan Juansah, 2017: 82)

1. Implikatur percakapan, yakni latar belakang pengetahuan yang dibagikan
oleh para partisipan komunikasi untuk menjembatani terjadinya
pemaknaan terhadap ujaran yang disampaikan dalam aktivitas
komunikasi.

2. Implikatur percakapan sebagai suatu proposisi atau pernyataan
implikatif, yaitu tentang hal yang mungkin diartikan, disiratkan, atau
dimaksudkan oleh penutur yang berbeda dari apa yang dikatakannya.

3. Makna tersirat atau implikatur adalah makna atau pesan yang tersirat
dalam ungkapan lisan dan atau wacana tulis.

4. Istilah lain yang sering digunakan sebagai padanan implikatur adalah
ungkapan tidak langsung, yakni makna ungkapan yang tidak tercermin
secara literal dalam kosakata yang diujarkan.

CIRI-CIRI Ciri-Ciri Implikatur Penjelasan Contoh
IMPLIKATUR Percakapan
PERCAKAPAN Ungkapan dengan makna (1a) X: “Antar saya ke
Bergantung konteks
(context dependent) tunggal (diungkapkan kampus, yuk.”

dengan proposisi yang sama) Y: “Saya sakit.”

dapat melahirkan implikatur Bandingkan

percakapan yang berbeda, (1b) X: “Kenapa kemarin

sesuai dengan konteks yang kamu nggak kuliah?”

melatari tuturan tersebut. Y: “Saya sakit.”

Dapat dibatalkan Makna tuturan yang X: “Pak, waktu kemarin, Bu
(cancellability)
mengandung implikatur Ishak jadi nggak

percakapan dapat dibatalkan mengembalikan uang

dengan kehadiran materi pinjamannya?”

atau informasi tambahan. Y1: “Bu Ishak minta waktu

untuk mengembalikan

uang pinjaman itu.”

Y2: “Eh, tapi sebagian uang

pinjaman itu sudah

dibayarkan Bu Ishak

kemarin.”

CIRI-CIRI Ciri-Ciri Implikatur Penjelasan Contoh
IMPLIKATUR Percakapan
PERCAKAPAN Isi proposisi yang sama dengan (3a) X: “Sudahkah kamu
Keterikatan (non- konteks yang sama akan membereskan meja
detachibility) menghasilkan implikatur dan mencuci piring?”
percakapan yang sama, apapun
bentuknya. Hal ini berarti Y1: “Saya sudah
bahwa implikatur percakapan membersihkan meja.”
terikat pada makna dan bukan
pada bentuk. Y2: “Saya sudah
menyimpan semua
barang yang ada di
atas meja.”

Bandingkan

(3b) John tidak berhasil
berjalan sampai ke
persimpangan.

(3c) John berusaha untuk
berjalan sampai ke
persimpangan.

(3d) John tidak berjalan
sampai ke persimpangan.

CIRI-CIRI Ciri-Ciri Implikatur Penjelasan Contoh
IMPLIKATUR Percakapan
PERCAKAPAN 1. Implikatur percakapan (4a) X: “Ibu datang.”
Dapat diperhitungkan
(calcutable) harus dapat Y: “Sembunyikan

dikalkulasikan dengan rokoknya!”

menggunakan prinsip-

prinsip umum yang dapat

dinyatakan dan

didasarkan pada makna

konvensional yang

diiringi oleh informasi

kontekstual.

2. Kebenaran isi implikatur

tidak tergantung pada

apa yang dikatakan,

tetapi dapat

diperhitungkan dari

bagaimana tindakan

mengatakan apa yang

dikatakan.

CIRI-CIRI Ciri-Ciri Penjelasan Contoh
IMPLIKATUR Implikatur
PERCAKAPAN Percakapan 1. Implikatur percakapan (5a) X: “Cobain kue ini, enak
mempersyaratkan makna nggak?”
Nonkonvensional konvensional kalimat yang
(nonconventional) dituturkan (apa yang dikatakan), Y: “Saya lagi puasa.”
tetapi isi implikatur tidak termasuk
dan tidak sesuai dengan makna
konvensional kalimat tersebut.

2. Dalam hal ini, “apa yang dikatakan”
berdimensi makna konvensional
sesuai dengan kata-kata yang
membentuknya, sementara “apa
yang dimaksudkan” yang secara
implisit terkandung dalam kalimat
yang dituturkan, memiliki dimensi
makna nonkonvensional, yaitu
makna yang berbeda dengan
makna konvensional kalimat yang
dituturkannya.

CIRI-CIRI Ciri-Ciri Penjelasan Contoh
IMPLIKATUR Implikatur
PERCAKAPAN Percakapan

Ketidaktentuan 1. Implikatur percakapan (6a) X: “Kamu sudah

(indeterminate) tidak dapat diberi kumpulkan

penjelasan secara persyaratannya?”

spesifik dan pasti karena Y: “Banyak

implikatur bersifat tidak keponakanku di

pasti. rumah.”

2. Ketidakteraturan ini

disebabkan sifat (6b) X: “Saya boleh

implikatur yang terikat menginap di

konteks. rumahmu?”

3. Dalam hal ini, proposisi Y: “Banyak

bentuk yang sama akan keponakanku di

memiliki implikatur yang rumah.”

berbeda.

Makna implisit yang
diperoleh langsung dari
makna kata, bukan karena
1 Implikatur adanya pelanggaran
konvensional
terhadap prinsip
percakapan.

2 Implikatur Implikasi makna tersirat
nonkonvensional dalam suatu percakapan.

DAFTAR REFERENSI

Bachari, A.D. dan Juansah, D.E. (2017).
Pragmatik: Analisis Penggunaan
Bahasa. Bandung: Prodi Linguistik SPS
UPI.

Pragmatik 6

PRINSIP KERJASAMA (PK)
DAN

PRINSIP KESOPANAN (PS)

Dosen:
Dr. Any Budiarti, M.Hum. dan Marlia, S.Pd., M.Hum.

PRINSIP 1. Prinsip kerjasama memberikan petunjuk
KERJASAMA kepada partisipan tentang bagaimana cara
membangun keberlangsungan komunikasi
sehingga dapat berjalan lancar.

2. Mereka yang mematuhi prinsip kerjasama
dalam penggunaan bahasa, mereka akan
memastikan bahwa apa yang mereka
katakan dalam percakapan mengarah pada
tujuan percakapan tersebut.

3. Tentunya persyaratan dari berbagai
percakapan akan berbeda-beda

(Bachari dan Juansah, 2017: 72)

MAKSIM DALAM
PRINSIP

KERJASAMA

1. Maksim Kualitas
2. Maksim Kuantitas
3. Maksim Relevansi/Hubungan
4. Maksim Cara/Pelaksanaan

(Bachari dan Juansah, 2017: 72)

MAKSIM
DALAM
PRINSIP KERJASAMA 1 Maksim kualitas

Supermaksim
Cobalah Anda membuat satu kontribusi yang benar.
Submaksim
a. Jangan katakan apa yang Anda yakini salah.
b. Jangan katakan itu karena Anda kekurangan

bukti yang memadai.
Contoh:
X: “Berapa hari dalam seminggu?”
Y: “Tujuh hari.”

(Grice dalam Bachari dan Juansah, 2017: 73-77)

MAKSIM
DALAM
PRINSIP KERJASAMA 2 Maksim kuantitas

Supermaksim
Berikanlah informasi secukupnya sesuai dengan apa
yang diminta mitra tutur Anda.
Submaksim
a. Jadikan kontribusi Anda seakurat yang

dibutuhkan.
b. Jangan membuat kontribusi Anda lebih informatif

dari yang dibutuhkan.
Contoh:
X: “Tata, kamu mau ke mana?”
Y: “Ke sekolah.”

(Grice dalam Bachari dan Juansah, 2017: 73-77)

MAKSIM
DALAM
PRINSIP KERJASAMA 3 Maksim hubungan (relevansi)

Supermaksim
“Be relevant” (Jadilah relevan).
Submaksim
Berikan kontribusi yang relevan dengan masalah
pembicaraan/topik pembicaraan.
Contoh:
X: “Ada yang mengetuk pintu.”
Y: “Saya lagi mandi.”

(Grice dalam Bachari dan Juansah, 2017: 73-77)

MAKSIM
DALAM
PRINSIP KERJASAMA 4 Maksim cara/pelaksanaan

Supermaksim

Bersikaplah mudah dalam berkomunikasi, tidak
berbelit-belit, dan tidak membingungkan.

Submaksim

a. Hindari ketidakjelasan ekspresi.

b. Hindari ambiguitas.

c. Jadilah singkat (hindari prolixity yang tidak
perlu).

d. Jadilah tertib. X: “Teh, aslinya mana?”
Y: “Cimahi.”
Contoh: bandingkan!

X: “Teh, KTP asli saya mana?” X: “Maksud saya KTP asli saya
Y: “Oh, ini.” mana?”

(Grice dalam Bachari dan Juansah, 2017: 73-77)

PRINSIP KESOPANAN

Prinsip kesantunan memberikan petunjuk kepada
para partisipan tentang bagaimana cara
memelihara kelancaran komunikasi agar dapat
berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan daya
luka (ketersinggungan) kepada masing-masing
pihak yang terlibat di dalam komunikasi tersebut.

(Bachari dan Juansah, 2017: 72)

MAKSIM DALAM
PRINSIP

KESOPANAN

1. Maksim Kearifan/Kebijaksanaan
2. Maksim Kedermawanan
3. Maksim Pujian
4. Maksim Kerendahan Hati
5. Maksim Kesepakatan
6. Maksim Simpati

(Leech, 1993: 206-207)

MAKSIM DALAM PRINSIP KESOPANAN

1 Maksim kearifan/kebijaksanaan (tact maxim)

a. Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin
b. Buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin
Contoh:
X: “Kalau tidak berkeberatan, sudilah mampir ke rumah
saya.”

(Leech, 1993: 206-207)

MAKSIM DALAM PRINSIP KESOPANAN

2 Maksim kedermawanan (generosity maxim)

a. Buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin
b. Buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin
Contoh:
X: “Ibu istirahat saja. Biar saya yang membersihkan
rumah.”

(Leech, 1993: 206-207)

MAKSIM DALAM PRINSIP KESOPANAN

3 Maksim pujian (approbation maxim)

a. Kecamlah orang lain sesedikit mungkin
b. Pujilah orang lain sebanyak mungkin
Contoh:
X: “Masakan ibu enak sekali, saya jadi mau nambah
makan ini.”

(Leech, 1993: 206-207)

MAKSIM DALAM PRINSIP KESOPANAN

4 Maksim kerendahan hati (modesty maxim)

a. Pujilah diri sendiri sesedikit mungkin
b. Kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin
Contoh:
X: “Duh, saya bodoh sekali. Saya tidak dapat mengikuti
kecepatan dosen tadi saat menerangkan?

(Leech, 1993: 206-207)

MAKSIM DALAM PRINSIP KESOPANAN

5 Maksim kesepakatan (agreement maxim)

a. Usahakan agar ketaksepakatan antara diri dan
orang lain terjadi sesedikit mungkin

b. Usahakan agar kesepakatan antara diri dan orang
lain terjadi sebanyak mungkin

Contoh:
X: “Betul, saya setuju.”

(Leech, 1993: 206-207)

MAKSIM DALAM PRINSIP KESOPANAN

6 Maksim simpati (sympathy maxim)

a. Kurangilah rasa antipati antara diri dengan orang
lain hingga sekecil mungkin

b. Tingkatkan rasa simpati sebanyak-banyaknya antara
diri dan orang lain.

Contoh:
X: “Saya turut berduka cita atas musibah yang menimpa
Anda.”

(Leech, 1993: 206-207)

Kaidah yang Harus Dipatuhi
untuk Menerapkan Kesantunan

1. Formalitas berarti jangan terdengar
memaksa atau angkuh.

2. Ketidaktegasan berarti berbuatlah
sedemikian rupa sehingga mitra tutur
dapat menentukan pilihan.

3. Kesamaan atau kesekawanan berarti
bertindaklah seolah-olah Anda dan
mitra tutur menjadi sama.

(Lakoff, 1973)

DAFTAR REFERENSI

1. Bachari, A.D. dan Juansah, D.E. (2017). Pragmatik: Analisis Penggunaan
Bahasa. Bandung: Prodi Linguistik SPS UPI.

2. Lakoff, R. 1973. The logic of Politeness; or minding your p's and q's.
Papers from the 9th Regional Meeting, Chicago Linguistics Society. Chicago:
Chicago Linguistics Society.

3. Leech, G. (1993). Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: UI Press.

Pragmatik 7

Dosen:
Dr. Any Budiarti, M.Hum. Dan Marlia, S.Pd., M.Hum.

(Yule, 2006: 122 & 124)

1. Struktur percakapan ialah apa saja yang sudah kita
asumsikan sebagai suatu yang sudah dikenal baik
melalui diskusi sebelumnya.

2. Pola dasar struktur percakapan adalah ‘Saya bicara-
Anda bicara – Saya bicara – Anda bicara’.

3. Berdasarkan pola dasar ini, dapat diasumsikan
bahwa sebagian besar percakapan melibatkan dua
peserta atau lebih dalam pengambilan giliran dan
hanya satu orang yang berbicara pada saat itu.

1. Jeda (Yule, 2006: 122 & 124)

Jeda terjadi ketika adanya kesenyapan beberapa waktu dalam percakapan. Jeda
ditandai dengan –

2. Overlaps

Overlaps terjadi ketika antara penutur dan mitra tutur bertutur pada waktu yang
sama. Overlaps ditandai dengan //.

3. Backchannel

a. Backchannel sering diartikan sebagai penanda hubungan akhir.

b. Penanda dalam backchannel, seperti ‘uh, oh, mm, yeah’ memberi umpan balik
terhadap penutur yang sedang bicara bahwa pesannya diterima.

c. Penanda itu mestinya menunjukkan bahwa pendengar mengikuti apa yang
dikatakan oleh penutur dan tidak menolaknya.

d. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa backchannel merupakan
penanda hubungan akhir sebagai respon pendengar terhadap pembicaraan
(tanda mitra tutur menyimak).

(Yule, 2006: 136)

1. Struktur preferensi menunjukkan pola struktural
tertentu secara sosial dan tidak mengacu pada
sikap seseorang atau keinginan emosi.

2. Dalam penggunaannya secara teknis, preferensi
merupakan suatu pola yang tampak dalam
percakapan dan bukan suatu kemauan pribadi.

3. Dalam struktur preferensi, terdapat dua tindakan,
yakni tindakan sosial yang disukai dan tindakan
sosial yang tidak disukai.

4. Secara struktural, tindakan yang disukai
diharapkan ada pada tindakan berikutnya dan
tindakan yang tidak disukai diharapkan tidak ada
pada tindakan berikutnya.





Yule, G. (2006). Pragmatik (Trans.). Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.


Click to View FlipBook Version