HAK CIPTA
Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang.
Dilarang memperbanyak seluruh atau sebagian isi buku ini
tanpa izin
dari penulis atau penerbit.
Penulis : Keyla Khairunisa Nurislami, Diana Jesicca
Panchishin, Khania Putri Inaya, Sophia Truly Fadlika,
Fakhri Fasyin Jitender, Fahdan Kazhimi Branti, Fathir
Alhafiz, Muhammad Faris Najmuddin
Editor : Khania Putri Inaya, Diana Jesicca Panchishin
Layout : Diana Jesicca Panchishin, Khania Putri Inaya
Illustrator : Diana Jesicca Panchishin
Kata Pengantar : Diana Jesicca Panchishin
Cetakan pertama, 2022
i
KATA PENGANTAR
Bismillahir rahmanir rahim
Assalamu’alaikum. Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmatnya.
Selawat serta salam kita haturkan kepada baginda Nabi
Muhammad Saw. Alhamdulillah kami sebagai peserta
didik SMPIT Raudhatul Jannah dapat menyelesaikan
antologi cerpen yang berjudul New Normal,
Dalam penyusunan kumpulan antologi cerpen kami
telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan
kemampuan kami walaupun masih banyak kekurangan
karena projek ini dibuat dengan kurun waktu yang
singkat. Terima kasih kepada teman teman kami yang
sudah membantu dari awal sampai akhir untuk
pembuatan antologi cerpen ini. Terima kasih kepada para
guru pembimbing, tanpa arahan dari guru pembimbing
serta masukan-masukan dari berbagai pihak tidak
mungkin dapat terwujud Antologi Cerpen ini.
Antologi cerpen ini ditulis dengan sepenuh hati semata-
mata untuk membangkitkan
kembali minat baca dan sebagai motivasi dalam berkarya
khususnya cerpen. Untuk itu, ucapan terima kasih kepada
para pembina khususnya kelompok kerja guru mata
pelajaran bahasa Indonesia SMPIT Raudhatul Jannah yang
ii
sudah mau memberikan kesempatan kepada kami untuk
membuat Antologi Cerpen ini.
Demikian, Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.
Penyusun
Diana Jesicca Panchishin
iii
DAFTAR ISI
HAK CIPTA ..................................................................... i
KATA PENGANTAR...................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................... iii
NEW NORMAL ............................................................ 1
Keyla Khairunisa Nurislami
MENJAUH & MENDEKAT ............................................. 6
Diana Jesicca Panchishin
EMPAT SERANGKAI ................................................... 10
Khania Putri Inaya
JOURNEY ..................................................................... 14
Sophia Truly Fadlika
KELUARGA HITAM PUTIH ........................................... 18
Fakhri Fasyin Jitender
DIHANTUI EKSENTRIK ................................................. 20
Fahdan Kazhimi Branti
KEBUDAYAAN INDONESIA ........................................... 22
Fathir Alhafiz
iv
DIBANGKU SMP ........................................................ 25
Muhammad Faris Najmuddin 26
TENTANG PENULIS........................................................
v
NEW NORMAL
Keyla Khairunisa Nurislami
Hari ini seorang gadis cantik ingin memulai kehidupan
normalnya kembali setelah hampir 2 tahun lamanya ia
menjalani sebagian aktivitasnya secara online. Pagi ini ia
menyiapkan seragam dan sarapannya sebelum berangkat
ke sekolah barunya.
“Shez, hari ini Ayah yang mengantar kamu sekolah ya.”
ucap bunda
“Siap bun.” jawab Sheza.
Sheza pun bergegas jalan menuju ayah yang sedang
memakai sepatu kerjanya.
“Yuk yah, aku sudah siap.” ucap Sheza.
“Iya tuan putri ayah.” Ayah pun mengiyakan ucapan
Sheza
Sheza pun kembali menghampiri bunda untuk
berpamitan
“Bunda aku berangkat ya.” ucap Sheza sambil
megulurkan tangannya.
“Iya sayang, semangat banget nih sepertinya mau
sekolah offline lagi” kata bunda sambil memberikan
tangannya.
1
“Iya bun aku sudah bosen sekali di rumah” jawab
Sheza.
“Yasudah sana berangkat nanti kesiangan.” ucap bunda
kepada Sheza. Akhirnya Sheza pun berangkat bersama
ayah dan mereka pun saling bertukar cerita sepanjang
jalan.
Sampainya di sekolah, Sheza mengulurkan tangannya
pada ayah
“Makasih ayah…”
“Sama-sama cantik, semangat ya sekolahnya tetap
patuhi protocol Kesehatan.” ucap ayah pada Sheza
“Siap ayah” jawab Sheza.
Sheza pun jalan sambil mencari kelas barunya, terlihat
tulisan 9D pada sebuah kelas yang berada di sekolahnya.
“Nah, akhirnya ketemu cape juga ya nyarinya.” ucap
Sheza dalam hati. ia pun memasuki kelas barunya dan
menduduki salah satu kursi kosong yang berada 3 baris
dari depan. Tak lama kemudian datang seseorang yang
menghampiri Sheza.
“Hai, boleh aku duduk disini?” ucap perempuan yang
menghampirinya.
“Boleh, dengan senang hati.” jawab Sheza padanya.
Perkenalan pun dimulai, seperti biasa Sheza mendapati
absen 28 karena, pasti tau sendiri dong namanya yang
2
berawalan dari huruf s itu membuatnya mendapatkan
absen di belakang.
“Perkenalkan semuanya nama saya Rana Adilla, kalian
bisa panggil Rana.” ucap perempuan yang duduk
disebelah Sheza, selang 1 orang giliran Sheza yang
memperkenalkan dirinya.
“Halo semuanya, aku Shezakiana Alisha Nadhifa
kalian bisa panggil aku Sheza” ucap Sheza
memperkenalkan diri. Perkenalan selesai saatnya jam
istirahat.
“Shez, kita ke kantin yuk sekalian keliling sekolah.” ucap
Rana mengajakku keluar.
“Boleh ran, tapi kita cuci tangan dulu ya” ucap Sheza
pada rana sambil mengingatkan protocol kesehatan yang
masih ada. Setelah mereka mencuci tangannya mereka
pun bergegas menuju kantin dan membeli beberapa
makanan yang terjual disana. 15 menit pun berlalu bel
pun terdengar
“Ran, masuk yuk sudah bel” ucap Sheza pada Rana yang
masih memakan suapan terakhir mie ayamnya.
“Eh iya, sebentar lagi nih” balas Rana dengan terburu
buru menghabiskan sisa makannya tadi.
Setelah Rana menghabiskan makanannya mereka pun
bergegas kembali menuju kelas. agenda setelah ini adalah
rangkaian kegiatan kelas 9 tahun ini. Pak Zidan, Wali
3
kelasku menyampaikan bahwa akan ada study tour ke
Yogyakarta dan akan ada pentas seni besar-besaran
untuk anak kelas 9. Dan saat sekolah selesai bel pun
terdengar, aku pun menuju lapangan parkir tak lupa
menyapa Rana.
“Bye Ran, besok bareng lagi ya!”
“Siap Shez, oiya jangan lupa kabari aku lewat chat ya ”
jawab Rana pada Sheza. Sheza pun menghampiri mobil
dan masuk kedalam. Kali ini bunda yang jemput karena
ayah belum pulang kerja.
“Assalamualaikum bun.” ucap Sheza pada bunda
“Waalaikumsalam anak bunda.” jawab bunda pada
Sheza.
Perjalanan pun dilalui dengan cerita cerita Sheza
tentang Rana dan agenda kegiatan tahun ini yang cukup
menarik.
Hari-hari pun dilalui seperti biasa, Rana dan Sheza
pun semakin akrab bahkan sesekali bergantian menginap
untuk menghabiskan waktu bersama tapi tak hanya
berdua kini mereka memiliki teman yang cukup banyak.
Jumlah nya 6 Rana, Sheza, Lily, Nia, Alma, dan Isha.
Mereka berenam sekelas, bahkan kemana-mana selalu
bareng bisa dibilang sepaket kali ya..
Satu minggu lagi penilaian tengah semester dimulai,
Sheza dan kawan-kawannya pun mulai belajar dari
4
sekarang, mengingat mereka yang sudah kelas 9 dan akan
menuju SMA. Senin ini ada apel pagi di sekolah
“Ran, pulang sekolah belajar dirumah kamu yuk ajak
yang lain juga.” ucap Sheza pada Rana
“Boleh, nanti aku bilang bunda ya.” jawab Rana.
Apel pun selesai mereka pun belajar seperti biasa
dikelas, bel pulang berbunyi mereka pun diberi soal
latihan oleh Pak Zidan untuk belajar dirumah. Rana,
Sheza, Lily, Nia dan Alma pun pulang kerumah Rana untuk
belajar bareng, Isha tidak bisa ikut karena ia harus rapat
OSIS
Sesampai dirumah Rana langsung mengucap salam
“Assalamualaikum.” ucap Sheza dan yang lain.
“Waalaikumsalam, wah rame sekali nih.” ucap ayahnya
Rana.
“Iya om kita mau belajar disini ya buat persiapan PTS
nanti.” ucap Sheza pada ayah Rana sambil bersalaman.
“Wah.. boleh rajin sekali ya kalian, nanti om siapkan
makanan untuk camilan.” ucap ayah Rana
“Iya om makasih banyak.” ucap Sheza dan yang lain.
Mereka pun memasuki kamar Rana yang cukup
luas dan mereka pun memulai mengerjakan latihan
latihan yang diberikan Pak Zidan tadi.
5
“Pertama Matematika, lalu IPS, PPKN dan sisanya
besok” ucap Nia menjelaskan apa saja yang harus
dikerjakan terlebih dahulu.
Akhirnya mereka pun menyelesaikan pekerjaannya
sampai jam 8 malam. Saatnya mereka pulang, Sheza pun
menelfon bunda lewat handphone Rana karena sekolah
tidak diperbolehkan membawa hp.
Tak lama kemudian bunda pun sampai dan Sheza pun
berpamitan dengan ayah bunda Rana juga dengan teman
temannya yang lain
“Om, tante makasih banyak ya maaf merepotkan.” ucap
Sheza
“Iya Shez.. tidak merepotkan kok, kalau ingin belajar
disini lagi bilang ya.” ucap bunda Rana
“Siap tante.” balasnya dengan wajah cengengesan.
Setelah berpamitan dengan ayah dan bundanya Rana
tak lupa berpamitan dengan teman temannya
“Guys aku duluan ya, ibu Negara sudah jemput.” ucap
Sheza sambil berjalan cepat dan mengeluarkan ekspresi
menyebalkannya itu.
“Assalamualaikum bunda” ucap Sheza sambil
memasuki mobilnya
6
“Waalaikumsalam anak bunda, gimana hari ini? Sangat
melelahkan ya?” jawab bunda, seperti biasa Sheza pun
menceritakan kegiatannya hari ini.
***
Minggu ini saatnya ujian dimulai, Sheza
mendatangi kelas dengan perasaan yang cukup tegang,
tapi tenang ia sudah menyiapkan semuanya dari minggu
lalu bismillah saja cukup untuk kali ini, tapi tetap saja
selama 2 tahun lamanya ia ujian menggunakan
Handphone kini ia harus kembali ujian menggunakan
kertas.
“Huh.. Bismillah deh.” ucap Sheza dalam hatinya Sheza
duduk tak jauh dari Rana karena absennya yang
berdekatan sedangkan Lily, Nia, Alma, dan Isha agak
berjauhan dariku dan Rana.
Tak terasa ujian pun selesai kali ini Sheza dan yang lain
tidak belajar bersama, agar lebih fokus mereka
memutuskan belajar dirumah masing-masing. Sepulang
sekolah seperti biasa Sheza dijemput bunda lalu ia
meminta bunda untuk menemaninya belajar malam ini.
“Bun malam ini temani aku belajar ya?” rayu Sheza pada
bunda yang sedang menyetir.
“Boleh.. bagaimana kalau kita belanja camilan dulu biar
malam nanti tidak bosan?” jawab bunda sambil
menawarkan tawarannya pada Sheza.
7
“Boleh dong bun, dengan senang hati” saut Sheza
senang wajah semangatnya itu.
Tak terasa hari-hari dilalui ujian pun telah selesai, Pak
Zidan mengumumkan bahwa 2 minggu lagi anak kelas 9
akan diadakan study tour ke Jogja. Sheza dan
sekumpulan temannya pun heboh untuk mempersiapkan
keberangkatannya itu,
“Guys pokoknya h-2 kita harus belanja bareng.” ucap
Nia pada teman temannya yang sedang berkumpul di
kantin.
“Boleh tuh, kita harus mempersiapkan semuanya biar
kita bisa senang-senang disana” saut Sheza menjawabnya
“Eh guys.. tadi anak OSIS habis rapat, katanya akan
diadakan pentas seni besar-besaran saat study tour nanti
sekalian perpisahan” saut Lily selaku anak OSIS yang
memberikan bocoran tentang rangkaian acara saat study
tour.
“Wah seru sekali pasti kira-kira kelas kita bakal
mengadakan pentas seni apa ya?” tanya Rana.
“Yasudahlah liat nanti aja.” jawab sheza menghentikan
topik terkini.
***
Keesokan harinya saat pelajaran Pak Zidan, Pak Zidan
mengumumkan bahwa dirinya ingin kelasnya
8
mengadakan band untuk acara pentas seni 2 minggu lagi.
Anak anak pun setuju-setuju saja karena lumayan banyak
yang bisa memainkan alat musik dan yang tak terlewat
dikelasnya juga ada penyanyi yang handal, siapa lagi
kalau bukan Sheza dan Rana.
Akhirnya anak-anak kelas 9D pun mengatur
jadwal untuk latihan pentas seninya
“Jadi pada mau latihan dimana nih, terus juga tentuin
siapa yang akan memainkan gitar, drum, dan yang
lainnya.” ucap Kevin selaku ketua kelas 9D.
“Gimana kalau dirumah saya? Kebetulan ada alat band
dirumah, sisanya bawa sendiri saja.” ujar Nauvan
menawarkan kesediaan rumahnya.
Tak lama berfikir teman-teman pun setuju kalau harus
latihan dirumah Nauvan, lagi juga bisa menghemat
daripada harus menyewa tempat band lagi.
“Sekarang kita tentuin siapa yang bisa memainkan
band?” tanya kevin
“saya bisa dan bersedia menjadi pemain drum nya”.
Jawab Nauvan
Kevin pun meminta Nia selaku sekertaris kelas untuk
mencatat.
“Lalu siapa yang bersedia menjadi pemain gitarnya?”
Tanya kevin pada teman temannya.
9
“Gimana kalau Nabil, dia kan bisa.” ucap Sheza
memberikan saran.
“Yasudah boleh tapi saya harus latihan dulu soalnya
sudah lumayan lama tidak bermain gitar.” jawab Nabil
dengan sedikit ragu.
“Rana sama Sheza jadi vokalis ya nanti kalian duet.”
ucap Kevin
“Siap Kev aku sama Rana nanti latihan.” jawab Sheza
“Yang tidak kebagian tampil nanti dibagi tugas ya.”
ucap kevin pada teman-teman yang lain.
***
Keesokan harinya sepulang sekolah Sheza dan
teman-temannya menuju rumah Nauvan untuk berlatih.
Kevin menentukan lagu apa yang ingin dibawakan, Rana
ingin pentas seninya membawakan lagu barat sedangkan
Sheza ingin pentas seninya membawakan lagu Indonesia,
akhirnya Rana dan Sheza pun sedikit berdebat tentang
keputusannya.
“Mending lagu barat lebih asik dan juga bikin ramai”
ucap Rana
“kenapa tidak lagu Indonesia saja, lebih banyak yang tau
kan” jawab Sheza menentang perkataan Rana.
Mereka pun tidak ada yang mau menagalah dan karena
emosinya masing-masing Sheza pun memutuskan untuk
10
pulang meninggalkan temannya dan hari itu pun tidak
jadi latihan, Sheza minta tolong bunda untuk
menjemputnya dan saat Sheza masuk mobil bunda
“Loh katanya mau latihan, kenapa minta dijemput?”
ucap bunda mempertanyakan hal itu
“Tidak apa-apa bun.” jawab Sheza dengan muka
cemberutnya.
“Bunda tau pasti ada yang tidak beres, kenapa cantik?”
tanya bunda lagi memastikan Sheza
“Itu bun.. kelas aku ingi mengadakan pentas seni
ngeband aku inginnya lagu indonesia tapi Rana inginnya
lagu barat, jadinya rebut gini deh.” ucap Sheza
menjelaskan
“Loh kenapa kamu langsung emosi seperti itu sayang,
harusnya kamu menenangkan emosi kamu lalu kamu
musyawarahkan dengan Rana bagaimana baiknya, kalau
ada masalah diselesaikan ya nak.” ucap bunda memberi
saran.
Akhirnya setelah dipikir-pikir Sheza pun mengiyakan
nasehat bunda dan berencana besok akan meminta maaf
pada Rana. Keesokan harinya saat Sheza sampai di
sekolah Sheza pun bergegas mencari Rana.
“Rana…” Sheza memanggil Rana sambil berlari
menghampiri Rana
11
“Iya Shez?” jawab Rana. “Ran aku minta maaf ya soal
kemarin pulang sekolah kita diskusiin lagi ya.”
***
2 minggu pun terlewati dengan latihan setiap
hari agar pentas seninya berjalan dengan lancar, hari ini
tepat H-2 saatnya Sheza dan teman-temannya belanja
untuk persiapan study tour nanti, kali ini titik kumpulnya
di rumah Nia, satu-satu pun pada datang termasuk aku.
saat semuanya kumpul kita pun berangkat ke
supermarket yang ada di mall dekat rumah Nia. Saat
sudah sampai di mall mereka pun bergegas mengambil
keranjang belanjanya masing-masing.
“Guys gimana kita misah saja biar lebih cepat?” usul Nia.
“Boleh, nanti kita kumpul lagi disini ya.” saut Lily.
Akhirnya mereka pun membeli beberapa peralatan
yang akan dibutuhkan dan saat semuanya selesai mereka
pun berkumpul kembali di tempat tadi. Setelah belanja
selesai mereka bermain dulu di mall untuk menghabiskan
waktu bersama. Jam sudah menunjukan 05.00 sore
mereka memutuskan untuk pulang karena mereka juga
harus beristirahat dengan cukup. Akhirnya Sheza pun
pulang dijemput dengan bunda.
Hari ini adalah hari yang ditunggu tunggu yaitu
hari dimana Sheza dan sekolahnya mengadakan study
tour. keberangkatan mereka ada pada pukul 04.30 pagi,
12
Sheza sudah bangun dari jam 03.30 segera bersiap-siap
dan berangkat. Hari ini ayah dan bunda mengantar, saat
sampai Sheza pun menaruh kopernya di bagasi bis dan
duduk di sebelah Rana, tak heran lagi mereka sepaket
yang tak bisa dipisahkan.
Perjalanan dimulai pada pukul 05.00 dan sepanjang
jalan bis kelas 9D bernyanyi dan bermain, setelah kurang
lebih 12 jam perjalanan mereka pun sampai dan langsung
istirahat di hotel. Seperti biasa Sheza sekamar dengan
Rana dan merekapun beristirahat disana.
Esok harinya mereka berwisata ketempat-tempat yang
ada di Jogja sampai jam 04.00 sore dan malamnya adalah
waktu untuk mereka pentas seni.
“Pokoknya semua sesuai latihan ya guys, bismillah”
ucap kevin kepada teman kelasnya yang akan
mementaskan band nya.
“Ran aku deg-degan nih” ucap Sheza pada Rana
“Sama Shez, tapi gapapa kita berdoa aja” jawab Rana
menenangkan Sheza.
Akhirnya pentas pun dimulai dan semua berjalan
dengan lancar
“Alhamdulillah nak bapak bangga sekali kalian
membawakan lagu barat tapi tak lupa dengan lagu-lagu
budaya” ucap Pak Zidan memberi apresiasi.
13
“Alhamdulillah terima kasih pak” ucap anak-anak 9D lalu
saatnya istirahat karena besok akan ada jadwal keliling
lagi dan pulang.
Lalu esoknya, mereka mengunjungi salah satu
museum yang ada di sana dan membeli beberapa oleh-
oleh untuk dibawa pulang.
Pada jam 7 malam mereka harus meninggalkan kota
indah yaitu Jogja dan mereka pun melanjutkan
perjalanannya dan sampai pada tujuan sekitar jam 5
subuh, Sheza pun kembali dijemput ayah dan bunda dan
Sheza pun memberikan oleh-oleh yang dibawanya untuk
ayah dan bunda, salah satunya adalah daster batik buat
bunda haha.
14
MENJAUH & MENDEKAT
Diana Jesicca Panchishin
“Kring.. Kring..”Suara bel istirahat terdengar jelas dari
kelas lantai satu. Ya, itu adalah kelas Justin, seorang anak
yang baru saja memasuki Sekolah Menengah Atas. Ia
lumayan tinggi dan pintar juga berkacamata.
Justin adalah seorang anak yang pendiam, ia tidak
pernah berbicara dengan siapapun di sekolahnya,
terkecuali berbicara dengan Joshua, sahabat baik Justin
sejak kecil. Justin dan Joshua bersekolah di sekolah yang
sama, namun mereka berada di kelas yang berbeda.
Tetapi itu bukan menjadi penghalang untuk mereka
berteman bukan?
Justin duduk di bangku barisan kedua samping jendela,
ia hanya melamun sambil melihat kearah jendela kelas.
“Dorr!! Hai Justin, ngelamun ya? Nih buat lo” ucap
Joshua sambil menyodorkan satu bungkus roti dari
tangan kanannya.
“Makasih.”Ujar Justin.
“Okelah, gue balik ke kelas dulu yaa, dadahh” ucap
Joshua sambil berjalan keluar kelas dengan melambaikan
tangannya ke arah Justin.
Justin hanya menatapnya sambil mengangguk-angguk.
Joshua berjalan ke arah kelasnya dan para murid
perempuan melihatnya dengan penuh rasa kagum. Ya,
15
dia memang lumayan populer di sekolah, Joshua tinggi
dan tampan walaupun bercandaan dia agak sedikit cringe
sih.. tapi dia pintar dan ramah kok.
***
Joshua duduk di kelasnya dan langsung di geromboli
oleh teman – temannya, kemudian ada salah satu
temannya untuk memulai pembicaraan “Joshua, lu
kenapa mau temenan sama Justin sih?” ucap salah satu
temannya.
“Betul tuh.. buat apa coba? Kenapa lu mau temenan
sama dia? Padahal kan dia beda agama sama lu” teman-
teman Joshua yang lain pun mengangguk.
“Ya.. gue berteman sama Justin dari kecil sih, gue juga
gak masalah walaupun gue sama dia beda agama” ucap
Joshua dengan tatapan yang lumayan sinis.
“Ngapain dah.. kan lebih enak kalau temenan sama
agama yang sama, ngapain temenan lagi sama Justin..
berteman aja sama kita, Justin tinggalin aja..
HAHAHAHA..” teman-teman Joshua yang lain pun ikut
tertawa terbahak-bahak.
16
“Lah, Emangnya kenapa kalau gue temenan sama
Justin? Emangnya jadi masalah gitu buat lo semua!?” kata
Joshua dengan nada tinggi dan ia semakin kesal karena
dirinya tidak suka dengan teman-teman kelasnya yang
seperti itu.
“Yaaa, sebenernya ngga ada masalahnya sih sama kita..
cuman kita gak suka aja liat lu akrab sama si Justin,
mendingan lu jauhin Justin daripada Justin kena masalah
gara-gara kita, Haha.. Kita udah nyapin sesuatu buat
Justin” ujar salah satu teman Joshua.
“Terserah lu semua dah..” ucap Joshua dengan ekspresi
muka yang tidak peduli dan sekaligus bertanya-tanya
kenapa teman-temannya menjadi seperti itu.
***
“Kring.. Kring..” jam istirahat sudah selesai, teman-
teman Joshua langsung menjauh dari kursi milik dirinya
dan berjalan menuju kursi nya masing-masing dengan
ekspresi wajah yang tidak menyenangkan. Jam pelajaran
sedang berlangsung.
17
Joshua tidak memperhatikan materi yang disampaikan
oleh guru yang mengajar di jam tersebut, ia hanya
mencoret-coret meja dan melamun apakah benar jika ia
tidak menjauhi teman baiknya, maka teman baiknya akan
mendapatkan masalah dari teman-teman sekelasnya?
Jam pulang sekolah sudah tiba, Joshua bergegas
berjalan menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, ia
beristirahat kemudian ia pergi keluar untuk membeli
suatu barang.
Di perjalanan, Joshua melihat Justin tetapi ia sama sekali
tidak menyapa sahabat baiknya itu. Karena ia mengingat
jika dirinya mendekat dengan Justin, teman teman
sekelasnya akan membuat suatu masalah dan Justin akan
terkena akibatnya.
Justin melihat Joshua tetapi ia bingung mengapa
sahabat baiknya itu tidak menyapa dirinya seperti
biasanya, padahal mereka berpapasan tetapi Joshua diam
saja. Akhirnya Justin mencoba untuk memulai sebuah
pembicaraan.
“Hai Josh, mau beli suatu barang kah? Gue juga mau beli
sesuatu nih.. pulang bareng mau ga? Hehe..” ucap Justin
dengan nada yang lembut.
Joshua hanya diam saja dan langsung menjauh dari
posisi Justin berada dan ia sudah menghilang dari
18
pandangan Justin begitu saja. Hari semakin gelap dan
Justin bergegas untuk membeli barang dan kembali ke
rumah nya.
Sesampainya di rumah, Justin bertanya-tanya kepada
dirinya sendiri. Apakah ia membuat suatu kesalahan
kepada teman baiknya itu sampai sampai Joshua
menjauhi dirinya, ia terlalu memikirkan hal tersebut
hingga dirinya tertidur lelap.
***
Sudah hampir 2 minggu berlalu, Joshua dan dirinya tidak
bertegur sapa sedikitpun. Justin merasa kesepian dan
tiada seorang pun yang mengajaknya berbicara
dengannya di sekolah, sekarang Joshua hanya berteman
dengan teman kelasnya.
Entah apa yang mereka rencanakan, Joshua dan teman
kelasnya menjadi anak yang sombong dan sering
mengejek siswa siswi di sekolah.
Mereka menjelekkan agama, ras, suku, fisik dari para
siswa maupun guru, membuat kelas mereka menjadi
kelas yang paling dibenci oleh seluruh warga di sekolah.
Padahal, guru dan teman kelas yang lain selalu
mengingatkan mereka bahwa mereka tidak boleh seperti
itu, tetapi mereka tetap saja begitu. Justin tidak
menanggapi apa yang Joshua lakukan, ia juga sudah mulai
19
merasa bahwa Joshua bukan teman baiknya lagi dan ia
tidak mempunyai teman sekarang.
Bel istirahat pun akhirnya berbunyi, semua siswa
berkeliaran keluar kelas bergegas untuk membeli dan
menikmati jajanan mereka. Justin membawa bekalnya ke
halaman sekolah, ia duduk sendirian sambil menikmati
bekal yang ia bawa dan melihat beberapa burung
berkicauan diatas langit.
Kemudian ada 3 orang siswa yang tiba tiba menghampiri
Justin, “Hai, kami boleh duduk disini gaa? Kebetulan
tempat yang lain udah penuh semua hehe..” ujar salah
satu murid tersebut dengan nada yang sedikit pelan.
Justin mengangguk-angguk menandakan bahwa mereka
boleh duduk bersama dirinya.
“Wahh.. Makasih yaa.. By the way, nama gua Ehan..
Nama lu siapa?” ucap seorang murid tinggi dan
berkacamata, rambutnya yang berantakan membuat
dirinya terlihat seperti anak yang pemalas.
“Justin.”Ucap Justin dengan nada yang pelan
20
“Saya Ilham, Salam kenal Jus..” seorang murid yang
menggunakan peci berwarna hitam itu diselimuti dengan
senyuman yang manis dan ia agak sedikit pendek.
“Salam kenal.. Gue Dio anak kelas sebelah, Gue tau
soalnya gue suka liat lu ngelamun liatin jendela Just..”
ucap seorang murid yang rambutnya sedikit keriting, agak
tinggi dan berkulit putih.
Mereka pun makan bersama di halaman sekolah sambil
berbincang bincang, mengenalkan diri mereka agar lebih
dekat satu sama lain.
“Woi Just.. Lu dulu dekat kan sama si Joshua?” ucap Dio
“Yaa” Justin menjawabnya dengan singkat
“Sekarang Joshua sama teman kelasnya sering ngejek
siswa lain.. Malahan, guru pun diejek sama mereka. Gue
pun pernah diejek sama mereka gara gara gue pendek,
tapi pas itu Ehan nyuruh mereka pergi dan ngejauh dari
gue.. jadi, sejak saat itu gue ga diganggu lagi haha..” ujar
Ilham dengan canda tawa nya.
21
“Hmmm, Gue gak peduli lagi sama Joshua, entah apa
yang dia lakuin.. Kenapa mereka bersikap kayak begitu
dah? Padahal itu ngga bagus buat dicontoh sama yang
lain. Yaudah, gue balik dulu ya ke kelas, byee..” ucap
Justin sambil menutup tempat bekal milik dirinya dan
segera menuju ke kelasnya.
“Makasih udah mau ngajak gue ngobrol yaa!!” Justin
tiba tiba berteriak dari kejahuan sambil berlari menuju
gedung sekolah.
Bahkan murid lain yang melihatnya pun sempat terkejut
dengan teriakan Justin karena mereka baru mendengar
anak pendiam berteriak seperti itu. Joshua yang sedang
berjalan jalan santai di halaman sekolah bersama teman
kelasnya sambil memalak murid murid lain di jam
istirahat pun ikut terkejut karena mendengar suara Justin.
“Woy, tadi temen lu tuh teriak kenceng amat.. abis
ngobrol sama siapa dia?” ucap salah satu teman kelas
Joshua.
“Entah.. Gue juga gak tau dia ngobrol sama siapa..”
Joshua berkata dengan nada yang pelan serta tampang
22
yang murung, seolah olah dirinya merasa kecewa karena
telah meninggalkan teman baiknya dari kecil itu.
“Justin punya temen baru ya? Gua jadi ngga enak sama
dia. Asal lu tau, gua bersikap seperti ini ke lu karena gua
nggak mau lu kena masalah sama temen kelas gua.
Sebenernya gua juga nggak mau ninggalin lu, tapi ini demi
kebaikan kita. Baguslah, kalau lu udah nemu temen yang
lebih baik dari gua..” Joshua bergumam dalam hati dan
diselimuti dengan penuh rasa kesedihan.
Hari demi hari mereka lewati, Justin dan tiga orang
teman barunya itu semakin akrab dengan dirinya, mereka
sekarang selalu bersama dan berbagi cerita tentang hal
hal yang menarik. Tanpa Justin sadari, ia sudah
mempunyai teman yang mau berbicara kepada dirinya.
Ia menyadari bahwa dirinya sedikit sedih karena
sahabat baiknya dulu sudah pergi meninggalkannya tanpa
alasan yang jelas, tetapi ia bersyukur mendapat tiga
orang teman baru yang lebih baik dan lebih dekat dari
sahabat lamanya. Teman barunya pun walau berbeda
agama tetapi mereka tetap berteman, tidak mengejek
dan saling menghargai satu sama lain.
23
Joshua yang menjauh karena dirinya ingin Justin tidak
terkena masalah yang ditimbulkan oleh teman sekelasnya
dan Ehan, Ilham, Dio yang mendekat hanya karena
sebuah kebetulan.
Dan Joshua, ia hanya diselimuti dengan kebohongan,
membohongi dirinya sendiri padahal dirinya tidak suka
dengan hal yang tidak ia sukai. Dirinya tetap memaksa
melakukan hal tersebut, semua itu ia dilakukan agar
Justin baik baik saja.
24
4 SERANGKAI
Khania Putri Inaya
Bel pulang sekolah berbunyi, seketika koridor sekolah
kini sangat ramai orang berlalu lalang, setelah sekian
lama Alesa menunggu didepan gerbang sekolah akhirnya
yang ditunggu-tunggu datang juga muncul dihadapannya.
Mereka Aje, dan Aslan. Mereka bertemu tanpa Aurie kali
ini dari pagi saat Ale menginjakkan kakinya disekolah
hingga kepulangannya ia tidak melihat batang hidung
Aurie. Mereka dan Ale berteman sejak masih kecil jangan
heran kalau sampe sekarang mereka selalu Bersama.
“Halo Ale, kamu sudah menunggu lama ya?” sorak Aje
sambil berlari kearahnya.
“Iya, tidak apa-apa.” ujar Ale
“Ale pulang bareng ya.” sorak Aslan yang sambil teriak
itu.
“Kali ini apa yang bakal kamu gunakan ke sekolah lan?”
sahut Aje seraya meledek Aslan.
Teman-temannya sudah capek dengan kelakuan Aslan
yang makin hari ada aja kelakuannya, kemarin dia ke
sekolah menggunakan scooter milik adiknya, kali ini dia
menggunakan skateboard. Kira- kira besok apa yang bakal
dia gunakan?.
“Aslan ayo berangkat!” ajak Ale, Aslan mengangguk.
25
“Sampai jumpa nanti malam ya.” kata Aje
“Baik Aje, jangan lupa kabari Aurie kalau malam ini kita
ingin ngumpul Bersama” ucap Alesa.
***
Panas matahari dan suara deruman motor mengiringi
perjalanan pulang Aslan dan Ale, tas berisi buku pelajaran
yang sangat berat sengaja Ale seret karena tidak sanggup
menggendongnya. Sedangkan Aslan dia sibuk
menjalankan skateboardnya dan meninggalkan Ale di
belakangnya, jarak rumah mereka tidak jauh dari sekolah
hanya harus jalan sedikit saja.
Rencananya nanti malam mereka semua ingin
berkumpul untuk saling bertukar cerita kaya seperti
biasanya, namun kondisi saat itu tidak memungkinkan
karena Aje yang sangat sibuk sama acara keluarganya
kemudian Aslan yang selalu sibuk dengan olimpiade. Hari-
harinya diisi dengan jadwal les, lalu yang terakhir ada
Aurie yang selalu bilang kalau ada urusan pribadi.
“Aslan, Ale izin masuk duluan ya.” ucap Ale
“Iya sana masuk, jangan dipegang doang gerbangnya”
kata Aslan. Ale menggeram kesal, Aslan memang selalu
meledek padanya.
“Sebentar Lan!, Ale boleh bareng nanti malam?” tanya
Ale
26
“Boleh, Kata siapa tidak?” Jawab Aslan.
“Kata aku barusan, beneran boleh? Takut merepotkan.”
“Iyaa Ale, biasanya juga selalu bareng.”
“Hehe… yasudah duluan ya, hati-hati ada anjing
disebelah rumahmu keluar.” ujar Ale sambil melangkah
masuk kedalam rumah dan melambaikan tangan.
***
Suara deruman motor Aslan yang khas sudah terdengar
dari kejauhan, Ale segera bergegas keluar rumah untuk
menemuinya. Semilir angin malam menerpa wajah
seorang anak laki-laki dan perempuan yang sedang
melaju dengan motor berwarna hitam klasik.
“Aurie kali ini ikut kumpul tidak ya?” Aslan membuka
pembicaraan setelah beberapa meter melaju tanpa
sepatah katapun.
“Kita liat nanti saja lan, Ale juga kurang tau.”
“Akhir-akhir ini Aurie jarang ingin terbuka soal masalah
dirinya, aku harap dia bisa ikut kumpul bareng.”Aslan
terkekeh, kemudian dibalas acungan jempol oleh Ale.
Sesampainya ditujuan, Ale dan Aslan dibuat kaget oleh
kedatangan orang yang tadi disepanjang jalan mereka
bicarakan. betul, orang itu adalah Aurie. Suasana disana
hanya ada suara musik yang diputar Aje agar tidak terlalu
27
sunyi, dimalam itu pemandangan mereka hanya bintang-
bintang dilangit.
“Sudah lengkap kan yaa? Enak kalau begini sharing
ceritanya jadi lebih seru, kapan lagi coba seperti ini lagi?.”
Aje menuangkan minum untuk ketiga temannya.
“Aya aya wae silaing mah, nya bisa jiga kieu deui atuh”
Aslan tertawa
“Lah saha nu nyaho, kan boga kasibukan masing-
masing” jawab Aje.
Jika dengan Aje kadang-kadang ia selalu menggunakan
Bahasa sunda karena hanya Aje yang mengerti, sebab
mereka berdua merupakan orang sunda.
Salah, Ale juga orang sunda tapi dia kurang paham
dengan bahasanya maka dari itu, yang mengerti hanya
Aje dan Aslan, berbeda dengan Aurie dia berasal dari bali
keluarganya dan dia juga menganut agama hindu. Tapi
walau hanya Aurie yang berbeda mereka semua tetap
menghargainya.
“Sudah-sudah atuh, by the way siapa yang mau sharing
cerita duluan? Kebetulan aku tidak terlalu ada masalah
jadi aku hanya menjadi pendengar kalian kali ini.” Ucap
Ale dengan nada yang pelan sambil menatap mata ketiga
temannya.
“Aku, sepertinya ada banyak yang ingin aku ceritakan
hari ini, maaf sebelumnya kalau aku selalu sibuk sama
28
urusan” ujar Aurie, akhirnya dia mencoba untuk
membuka percakapan.
“Silahkan, lagi pula aku penasaran sesibuk apasih kamu
sampai tidak ada waktu bercerita kepada teman-
temanmu ini, sudah seminggu kamu tidak bertemu kita di
Sekolah bahkan diluar Sekolah” ucap Aje. Dan langsung
dilanjut oleh Aurie
“Kakak ku baru saja meninggal akibat kecelakaan yang
dialaminya, disaat itu juga aku merasa hampa karena
yang kalian tau aku hidup berdua dengan kakak ku sedari
kecil, orang tuaku juga kurang terlalu memperhatikan
kondisi kita berdua. Tapi setelah kejadian yang menimpa
kakak ku mereka langsung selalu jaga-jaga agar tidak ada
kejadian seperti itu lagi, dan bagian yang paling sedih aku
dan keluargaku mengadakan upacara ngaben, jasad kakak
ku harus dibakar dengan tujuan untuk menyucikan roh
orang yang telah meninggal.” Aurie mendongakkan
kepalanya ke langit-langit agar air matanya tidak jatuh.
Setelah mendengar cerita Aurie, Ale langsung
menatapnya karena dia merasa gagal menjadi temannya
karena ia sama sekali tidak tau sama sekali masalah yang
sedang dihadapi Aurie.
“Kenapa, kenapa kamu tidak cerita dari awal Aurie?”
tanya Aslan
“Maaf…”itu saja yang bisa Aurie katakan kepada ketiga
temannya.
29
“Kamu tidak perlu minta maaf Aurie, kita yang
seharusnya minta maaf kepada kamu.”ucap Ale yang
sedang berusaha menenangkan Aurie
“Kenapa harus dibakar? Wajib? Huh untungnya aku
tidak seperti itu.” ucap Aje
“Iya Je didalam agamaku itu ritual wajib bagi orang
Hindu Bali jika keluarga meninggal, tapi ternyata tidak
semua yang seperti ini contohnya di terunyan.” Aurie
yang berusaha menjawab pertanyaan Aje
“Maaf je kalau lancang pertanyaan kamu sangat tidak
mengenakkan ke Aurie, iya aku tau kalau kamu tidak
seperti Aurie yang Ketika meninggal akan dibakar tapi
tidak ada salahnya kan kalau kita menghormatinya?!”
Aslan terkekeh
“Aku hanya berbicara secara fakta juga tidak ada
salahnya kan? Oh iya lagi pula kenapa Aurie tidak
bercerita dari awal, aku mengira kalau kamu memang
sengaja ingin berjauhan dengan teman-temanmu ini.
Kalau kamu berbicara dari awal aku tidak akan berburuk
sangka.”ucap Aje
“Tidak, hanya saja kamu berbicara disaat kondisi sedang
sedih begini jelas salah, kamu jadi tidak menghargai Aurie
yang sedang berusaha tegar itu.” Sahut Aslan
“Sudah cukup, posisi kita disini sebagai pendengar,
pendengar yang baik pasti akan memberikan solusi yang
30
baik juga. Aurie, aku tahu kehilangan orang yang kita
sayangi itu tidak gampang, tapi tuhan tahu yang terbaik
buat kamu, tuhan selalu tahu kamu itu kuat. Pasti dibalik
kematian kakakmu ada hikmah dan maknanya. Aurie.. If
you wanna cry, I will be your shoulders.” ujar Ale yang
sedang mencoba memeluk temannya itu, Aurie.
“Aurie aku turut berduka ya…” ucap Aslan
“It’s okay guys, aku juga sudah mengikhlaskannya
karena tak boleh menujukkan rasa sedih atau duka ketika
prosesi sakral ini berlangsung.” Aurie tersenyum
“Aurie turut berduka, maaf kalau tadi omonganku tidak
mengenakkan dihati, sekali lagi minta maaf.” ujar Aje
yang baru berani mengucapkan kata-kata itu.
‘’Iya Aje tidak masalah, hanya saja kamu perlu ingat
kalau Di Indonesia ada beragam ritual pemakaman, salah
satunya dari agama Hindu yaitu upacara Ngaben. Lalu
umat Hindu juga percaya bahwa upacara ngaben ini akan
membebaskan jiwa dari perbuatan buruk selama hidup di
dunia.
Kemudian tujuannya juga untuk mengantarkan mereka
ke surga dan bereinkarnasi menjadi pribadi yang lebih
baik. Maaf juga Aje, maaf sudah buat kamu jadi berburuk
sangka kepadaku. Aku hanya butuh waktu untuk
menyendiri saat itu, tidak ada fikiran untuk menjauhi
kalian.” Ujar Aurie
31
“Aurie, don’t feel lonely okay?” ucap Ale dan dibalas
anggukan oleh Aurie
“We will be always together!”sorak Aje dan Aslan
mengucapkan kata itu sambil saling merangkul Bersama-
sama menatap pemandangan malam itu.
Malam itu malam yang tidak pernah Ale lupakan
Bersama teman-temannya, sekarang sudah menunjukan
pukul sepuluh lewat tiga puluh. Mereka juga tidak
mengetahui kalau topik cerita kali ini sangat amat
membuatnya sedih dan terharu.
Yang diharapkan Aurie adalah jika ada kehidupan lain ia
ingin dipertemukan dengan kakaknya lagi, layaknya
bagaskara dan bentala Aurie dan kakaknya adalah dua
atma yang tidak diizinkan semesta untuk bersama.
Dan yang mereka berempat harapkan adalah mereka
harus terus bersama tanpa adanya masalah dan
kesalahpahaman seperti ini. Ale selalu bilang kepada
teman-temannya “Please don’t ever become a stranger”
karena setakut itu akan menjadi asing dan takut untuk
kehilangan ketiga temannya itu.
32
JOURNEY
Sophia Truly Fadlika
“Kring.. Kring..” Jam alarm berbunyi, waktu
menunjukkan pukul 04.30 Pagi, itu artinya Amanda harus
bersiap-siap untuk pergi ke Bandara karena ia
mempunyai tugas untuk mengunjungi pusat kota di
daerah pedesaan di Wamena Papua.
*suara dering telfon berbunyi, Amanda pun segera
mengangkat telfon tersebut.
“Halo Amanda kamu sudah siap belum? Aku sebentar
lagi sampai rumah mu” tanya seorang sahabat Amanda
yang sudah berteman selama 8 tahun yang bernama
Angelina, yang juga mendapat tugas untuk berangkat ke
Papua.
“Halo, Iya, Aku mau turun kebawah, aku tunggu depan
pagar ya”, Angelina pun membawa barang bawaannya
kebawah dan menunggu sahabatnya Angelina untuk
menjemputnya pergi ke Bandara Soekarno Hatta.
Angelina tiba di depan rumah Amanda, Amanda dan
Angelina pun berpamitan dengan orang tua Amanda.
“Mah Pah doakan kita yaa” ucap Amanda kepada kedua
orang tuanya,
33
“Iya nak mama dan papa pasti akan selalu doakan yang
terbaik untuk Amanda sayang dan juga Angelina” Ibunya
menjawab dengan nada hangat.
“Semangat Anak, semoga selamat sampai tujuan dan
sukses menjalankan tugasnya” Ayah memberikan doa dan
semangat untuk keluarganya.
Di perjalanan menuju ke Bandara Amanda dan Angelina
bercanda tawa bersama sambil merencanakan apa yang
akan mereka lakukan pertama saat sudah sampai di
Papua nanti.
***
Saat sudah sampai di Bandara, Amanda dan Angelina
menunggu jam keberangkatan, waktu sudah menunjukan
jam keberangkatan, mereka pun duduk di kursi pesawat
sambil menikmati pemandangan dari jendela pesawat,
dan melanjutkan penerbangan transit dari Jayapura
menuju Wamena.
“Akhirnya nyampe juga setelah perjalanan jauh” ucap
Angelina kepada Amanda,
“Iya nih pegal juga lama perjalanan, tapi gapapa
bonusnya kita udah liat pemandangan indah” jawab
Amanda kepada Angelina.
Saat sudah sampai di Wamena mereka sudah ditunggu
oleh Kepala Desa dan beberapa warga desa yang ingin
mereka kunjungi
34
“Selamat Datang di Wamena” Angelina dan Amanda
pun tersenyum lebar saat mendengar kalimat sambutan
dari Kepala Desa tersebut.
“Terimakasih Bapak” jawab Angelina kepada Beliau.
Mereka berdua pun dijemput oleh Kepala Desa dan
Warga menuju desa, mereka sangat menikmati
perjalanan menuju desa.
Setelah sampai di Desa mereka disambut hangat oleh
warga yang tinggal di Desa tersebut dan mulai melakukan
Upacara Adat Bakar Batu untuk menyambut kedatangan
mereka
“Ini kita ngapain ya, Nda?” tanya Angelina kepada
Amanda
“Ini tradisi mereka untuk menyambut tamu yang datang
kesini.” jawab Amanda
“Owhh” ucap Angelina. Mereka berdua sangat puas
dengan tradisi tersebut walaupun mereka sedikit
kebingungan, karena tradisi menyambut itu baru pertama
kali mereka ikuti.
Salah seorang warga mulai menghidangkan makanan
untuk mereka.
“Waaaah..” reaksi Angelina saat makanan dihidangkan
di depan mereka,
35
“Kelihatannya enak..” ujar Amanda, mereka pun makan
bersama.
Selesai makan, mereka berdua mulai memperkenalkan
diri mereka dengan warga-warga desa
“Selamat Sore menjelang malam semuanya,
perkenalkan nama saya Angelina bersama teman saya..”
ujar Angelina
“Nama saya Amanda, kami berdua akan bertugas untuk
mengajar selama beberapa hari disini, sangat senang
berada disini dan terimakasih untuk sambutan yang
bapak ibu lakukan untuk meyambut kami tadi” mereka
memperkenalkan diri mereka dengan senyuman tulus,
Kepala Desa menjelaskan ulang maksud dan tujuan
mereka datang ke Desa kepada warga-warga.
Amanda dan Angelina dipandu oleh beberapa warga
untuk mengelilingi Desa dan memperkenalkan
lingkungannya, mereka terlihat kagum dengan lingkungan
pedesaan, karena mereka berdua sebelumnya terbiasa
melihat jalanan atau lingkungan di Kota Besar.
*Bola terlempar kearah bahu Amanda
“Aduh..” ujar Amanda kesakitan,
“Maaf kakak, kami tidak sengaja” ucap salah seorang
anak yang sedang bermain bola,
36
“Iyaa gapa-“ belum selesai Amanda menjawab anak
tersebut, Angelina yang melihat mereka sedang bermain
bola pun ikut bermain
“Ayooo, lanjutin bermainnya..!!” Ucap Angelina kepada
anak-anak, Amanda yang melihat Angelina sangat
bersemangat untuk bermain bola dengan mereka, hanya
bisa tersenyum.
Sambil mengobrol dengan warga, Amanda teringat
bahwa mereka berdua membawa baju layak pakai untuk
dibagikan, Amanda pun mengambil baju-baju tersebut
dan mengumpulkan anak-anak terlebih dahulu
“Adik-adik disini kakak ingin membagikan baju-baju
lohh, untuk kalian..” banyak anak-anak yang tertarik
dengan ucapan Amanda dan mulai menghapiri nya.
“Capek juga yaa, tapi gapapa ini seru” ucap Angelina
kepada dirinya sendiri
“Adik-adik sudah dulu ya mainnya, kita ke Kak Amanda
yuk..”
Angelina dan anak-anak lainnya menghampiri Amanda
yang sedang membagikan baju. Angelina pun ikut
membantu Amanda yang sedang membagikan baju
“Gimana?? Kalian suka kan dengan bajunya??” tanya
Amanda kepada anak-anak Desa
37
“Suka..!!” anak-anak pun menjawab pertanyaan
Amanda dengan teriakan bahagia.
Malam hari pun tiba, Amanda dan Angelina ikut dengan
warga untuk membantu memasak hidangan makan
malam. Selesai memasak, mereka makan bersama di
salah satu rumah warga dan berbincang untuk apa yang
akan mereka lakukan mulai esok hari.
***
Keesokannya, mereka disambut dengan bunyi ayam
yang membangunkan pagi mereka, dengan udara yang
sejuk, mereka sangat bersemangat untuk memulai hari.
Angelina membuka jendela untuk merasakan udara pagi
yang sangat sejuk, Amanda yang mulai terbangun dari
tidurnya melihat satu sama lain
“Good morning Amanda” ucap Angelina kepada
Amanda yang baru bangun
“Morning Angelina” jawab Amanda kepada Angelina.
Mereka pun bersiap-siap untuk memulai kegiatan hari ini.
Saat membuka pintu kamar, mereka sudah melihat Ibu
yang mereka tinggal bersama di rumah itu sedang
menyiapkan sarapan dan mengajak mereka untuk
sarapan bersama, setelah sarapan bersama, Amanda dan
Angelina berpamitan dengan Ibu dan Bapak yang ada di
rumah itu untuk pergi mengajar di suatu tempat bersama
anaknya yang ikut dengan mereka berdua.
38
“Pak, Bu Sa ingin pamit belajar dulu..” ucap anak
tersebut kepada kedua orang tuanya.
Sudah sampai di tempat mereka mengajar, mereka
melihat sudah banyak anak-anak yang sudah tidak sabar
untuk belajar dengan mereka. Proses belajar mengajar
pun dimulai, Amanda melihat salah satu anak yang tidak
menggunakan pakaian yang biasa mereka gunakan, tetapi
anak itu sedang memakai rok rumbai yang merupakan
pakaian adat di Papua.
***
Selesai mengajar Amanda menghampiri anak terserbut
dan mereka berdua memutuskan untuk mengikutinya
pulang kerumah anak tersebut. Saat sudah sampai di
rumah anak tersebut, mereka melihat rumah nya yang
masih belum terbuat dari semen atau batu bata seperti
yang lainnya, bahkan rumah tersebut adalah rumah adat
papua yang bisa disebut Honai.
Di tengah perjalanan menuju rumah, mereka berdua
melihat banyak anak-anak yang sedang bermain Bersama
“Kakak, ayo bermain bersama kami..!!” kata seorang
anak yang kemarin mereka temui saat sedang
mengelilingi desa,
Amanda dan Angelina pun menghampiri mereka yang
sedang bermain permainan tradisional Kweritop, mereka
pun mulai mengajari Amanda dan Angelina sampai
39