MEI 2023 Suasana Tak Nyaman: LARI atau BERTAHAN? Resep Buka Usaha ANTI BANGKRUT Rusdy Rukmarata: Kasih Sayang Bisakah Dibagi Rata? ORANG TUA
33 Pilar Pandita Utama Aiko Senosoenoto Nyaman di Mana-Mana 47 Dinamika Galeri Foto Upacara Kematian Pandita Utama Rusdy Rukmarata (Alm,) 3 Wawasan Pandita Utama Rusdy Rukmarata (Alm.) Peradaban 5 Wawasan Pandita Utama Rusdy Rukmarata (Alm.) Namu COVER “Dusk Settled Over The Village” (2015) Karya Gede Juliantara Lukisan cat minyak di atas kanvas. Ukuran 80x100 cm DAFTAR ISI MEI 2023 47 • Rusdy Rukmarata (Alm,): TENTANG NAMU (5) • Suasana Tak Nyaman: LARI atau BERTAHAN (33) • Kasih Sayang ORANG TUA Bisa Dibagi Rata? (39) • Resep Buka Usaha ANTI BANGKRUT (43) ON THE COVER
DAFTAR ISI PILAR 7 Y.A. Nichinyo Shonin Bimbingan Upacara Shodai Kosenrufu Bulan Maret 10 Y.A. Ryosho Tozawa Tanya Jawab Tentang Menganut Saddharmapundarikasutra 16 Y.A. Ryosho Tozawa Doa dalam Nichiren Shoshu 24 Y.A. Hoseki Tsuchida Pemfitnahan Dharma dalam Kehidupan Seharihari 29 Y.A. Shingyo Kimura Risshu-e KONSULTASI 37 Ritual Mempertahankan Ekayana dalam Keluarga yang Belum Syinjin 39 Mendidik Anak Anak Protes Saya Pilih Kasih 43 Karier Modal Dasar Buka Usaha 45 Gaul Susah Bekerja Sama dengan Orang Tua Sendiri FEATURE 54 Dinamika Tozan Peringatan Kemunculan Pendiri Ajaran Nichiren Daishonin 58 Kensyu HUT ke-34 Vimalakirti Sempidi Mau Sayang Kok Nuntut 71 Profesional Duit, Duit, Duit Lagi PROFIL 65 Cermin Kehidupan Dedet Ningsih (Jakarta) Karena Gohonzon Aku Bisa Berkarya LAIN-LAIN 60 Pendidikan Biksu Tugas Biksu Pendidikan di Mieido 62 Cergam Ikegami Bersaudara 96 Jadwal Kuil Hoseiji & Myoganji Mei 2023 GOSYO 74 Gosyo Pendek Surat Balasan kepada Ueno Dono 88 Gosyo Panjang Ceramah Mengenai Tujuh Aksara Myoho Aksara “Ho” (Bagian XVI) 65 60 7 62
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 2 2 DARI KAMI oleh FIFA. Sebagian investor asing juga ragu untuk membangun industrinya di tanah air kita. Sebagai murid Buddha, tentunya kita tidak serta-merta menyalahkan para pembuat kekacauan tersebut. Kita percaya bahwa mereka pun memiliki jiwa Buddha, sehingga racun dalam jiwa mereka bisa dibersihkan. Oleh karena itu, adalah misi hidup kita agar makin banyak orang yang memiliki jiwa yang maitri karuna. Dengan demikian, tanah air kita bisa menjadi tempat yang tenang dan menyenangkan buat banyak orang. BELUM terlalu lama berlalu, kita dihebohkan dengan tragedi Kanjuruhan di Malang. Pertandingan sepakbola berakhir ricuh sehingga memakan korban jiwa. Baru-baru ini juga terjadi kericuhan di Gelora Bandung Lautan Api, karena klub daerahnya kalah dari klub dari luar daerah. Suasana stadion benar-benar menjadi lautan api merah karena nyala flare. Untungnya tidak sampai memakan korban jiwa. Hal ini sesuai dengan kalimat sutra yang mengatakan bahwa dunia saha ini dipenuhi oleh tiga racun (keserakahan, kemarahan dan kebodohan). Oleh karena itu, ada beberapa pengamat yang menilai wajar pelaksanaan Piala Dunia U20 (sepakbola) dibatalkan “Prajna Pundarika adalah media cetak dan elektronik yang diterbitkan oleh MNSBDI untuk umat Buddha Nichiren Shoshu, khususnya di Indonesia, dan tidak untuk disebarluaskan kepada masyarakat luas di luar umat atau simpatisan Buddha Nichiren Shoshu.” Budi Santoso Dunia Saha Pendiri: Senosoenoto (alm.) dan K.S.Senosoenoto (alm.) Pemimpin Umum: Aiko Senosoenoto Wakil Pemimpin Umum: Irwan Kartasasmita Pemimpin Redaksi: Budi Santoso, Redaktur Pelaksana: Renny Turangga Sekretaris Redaksi: Nining Sulasih, Evi Trirahayu Redaksi: Aryati Wijaya, Betty Burhan, Iwan Setiawan, Risnawan, Rosi Anindiastuti, Rudy Surya, Stephanie Surya, Sukadi, Tina Susanti, Wirya Kartasasmita, Frisca Saputra Editor: Anwari Natari Penerjemah: Rudy Surya, Tina Susanti, Aryati, Agustina, Konsultan Artistik: Reda Gaudiamo Design: Juliany Chandra Tata Letak: F.H. Kalang Ilustrasi: Treehouse Works, Tito Keuangan: Dept. Keuangan BDI Distribusi: Linawati, Marlina Jayadi Alamat Redaksi: Jl. Padang No. 30 Jakarta 12970 Tel. 021 – 83792515 (hunting) Fax. 021 – 8294660 e-mail: [email protected] Penerbit: YPS BDI Percetakan: Mata Graph Surat Izin Terbit: No. 263/P/SD/DITJEN PPG/S/T/1981 ISSN: 0251 – 565 6
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 WAWASAN 3 PADA awalnya, orang membentuk negara adalah untuk keselamatan. Namun, dalam perkembangannya, ada negara-negara yang tujuannya berubah menjadi kekuasaan, sehingga berekspansi ke negara-negara lain. Salah satu bangsa yang paling ditakuti karena ambisi ekspansinya adalah Mongolia. Bahkan, nama Mongolia sampai disebut di dalam gosyo yang ditulis Nichiren Daishonin. Negara-negara yang juga melakukan ekspansi antara lain adalah Kekaisaran Perancis, Romawi, dan Britania. Kekuasaan bisa membutakan penguasa dan akhirnya membawa bencana. Ada kerajaan yang tujuh keturunannya sampai saling membunuh seperti yang terjadi pada keturunan Ken Dedes, Ken Arok, dan Tunggul Ametung. Meski tidak berambisi menjajah wilayah lain, ambisi merebut kekuasaan telah menghancurkan kerajaan itu sendiri. Padahal sebenarnya, keuntungan adanya sebuah negara adalah munculnya sebuah peradaban. Sebuah negara tidak bisa dibangun tanpa adanya kebijakan yang mengatur suatu peradaban, seperti hukum, tata keadilan, serta pembagian pengelolaan air dan tanah yang sesuai kebutuhan. Seluruhnya mempertimbangkan berbagai faktor seperti kebutuhan dan kebersamaan. Inilah yang disebut dengan ‘peradaban’. Hidup dalam peradaban berarti kita hidup dalam perbedaan dan bisa memiliki pengertian akan orang lain yang berbeda dengan kita. Hidup di dalam peradaban akan membawa ketenangan. Manusia bisa hidup bersama dan membangun keluarga yang akan menghasilkan anak-anak yang bisa bekerja sama dalam membangun ‘peradaban baru’. Karena itu, kita harus kembali pada pentingnya peradaban bagi kehidupan manusia. Keluarga adalah elemen terpenting dalam sebuah peradaban. Kalau tujuan sebuah keluarga adalah untuk membangun peradaban, maka Peradaban Pandita Utama Rusdy Rukmarata (Alm.)
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 4 WAWASAN keluarga itu akan bahagia ketika negara atau peradabannya makin maju. Ketika tujuan keluarga bukan untuk peradaban, maka dalam keluarga akan terjadi pertumpahan darah seperti Ken Dedes-Ken Arok yang tujuh turunan saling membunuh. Atau, tujuh turunan saling berebut warisan, antarkeluarga saling menipu dan ‘makan-memakan’ dalam menjalankan usaha. Namun, kalau sebuah keluarga bisa disiplin membangun peradaban, bisa mendorong seluruh anggota keluarganya bergerak dalam pemikiran ‘membangun peradaban’ dengan saling menghormati, saling toleransi dan bekerja sama, maka keturunannya akan tetap hidup dalam negara yang aman, damai, dan makmur. Kalau kata filosofi zaman dahulu: toto tentram karta raharja, gemah ripah loh jinawi. Catatan: Tata tentram karta raharja: Suatu keadaan wilayah yang tertib, tenteram, serta sejahtera dan berkecukupan segala sesuatunya. Gemah ripah loh jinawi: Suatu keadaan atau kondisi daerah yang sangat subur dan sangat makmur, serta perjuangan masyarakat sebagai bagian bangsa Indonesia yang bercitacita menciptakan ketenteraman atau perdamaian, kesuburan, keadilan, kemakmuran, tata raharja, serta mulia abadi. (Sumber: https://www. goodnewsfromindonesia.id)
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 5 KALI ini saya tidak akan berbicara sebagai Wakil Ketua Umum MNSBDI ataupun Pandita Utama, penceramah gosyo, narasumber, atau lainnya. Saya hanya mau sharing pengalaman sebagai umat Nichiren Shoshu tentang kekuatan Gohonzon yang justru saya alami dan rasakan dalam kondisi yang sangat susah, karena saya kena stroke. Saya kena stroke justru dalam kondisi dapat karunia yang sedang besar-besarnya, yaitu pagelaran musikal “Ken Dedes” yang luar biasa sukses. Tetapi, setelah itu, terbukti bahwa ternyata semua kata-kata yang dinyatakan dalam gosyo pendek dan gosyo panjang serta gosyo yang dibacakan setelah gongyo adalah benar adanya. Benar bahwa sepertinya kita yang menjalankan ajaran Nichiren Shoshu, maka kita menjalankan maitri karuna. Karena menjalankan maitri karuna, kita mendapatkan karunia yang begitu luar biasa. Namun, yang bahaya adalah, saat itu kita tidak menjaga diri, apakah kita tetap menjalankan maitri karuna atau tidak. Jadi, tiba-tiba, saya kena stroke. Stroke ini dampaknya dalam kehidupan sehari-hari sangat luar biasa. Sebagian kaki saya lumpuh. Begitu juga dengan sebagian tangan, ikut lumpuh. Ada beberapa hal yang juga tidak bisa saya lakukan. Walaupun di tengah-tengah kondisi itu, saya bertemu dengan dokter yang cocok pengobatannya. Artinya, ada harapan, walaupun yang namanya stroke, lama proses penyembuhannya, sedangkan saya kan orangnya aktif. Tiba-tiba saya nggak bisa ini, nggak bisa itu. Semua ini membuat saya stres. Saking stresnya, ada satu karunia yang saya selalu lupa. Akhirnya, saya dibimbing oleh Ibu Aiko Senosoenoto yang mengatakan, “Kamu itu nggak tahu berterima kasih!” Tiba-tiba saya merasa, “Waduh, ini benar, lho!” Saya merasa, di tengah penderitaan ini, karena percaya Gohonzon, akhirnya saya bisa bertemu dokter yang juga dikenalkan oleh Namu Pandita Utama Rusdy Rukmarata (Alm.)
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 6 PILAR umat. Dokter itu sebenarnya bisa menyembuhkan, tetapi waktunya lama. Cuma, yang saya perlukan adalah rasa terima kasih. Rasa terima kasih itu wujudnya adalah happy. Karena ada happiness, penyakit juga akan lebih cepat sembuh. Selama pengobatan berlangsung, ternyata obatnya bereaksi dengan baik. Dengan cepat, wajah saya lebih stabil, begitu juga dengan berjalan, bisa lebih stabil. Tetapi, saya sempat tetap tidak terima kondisi ini. Akhirnya, Bui (Pandita Aiko Senosoenoto, Red.) mengatakan, “Kamu itu lupa untuk namu!” Saya kaget! Iya, benar juga. Itu rasanya setengah mati, karena saya nggak sadar. Untuk mengingat kembali bahwa kita perlu namu itu perlu perjuangan hati kepercayaan yang luar biasa. Tetapi, begitu bisa, lumayan pelan-pelan mulai bisa happy, dan mulai ada semangat. Salah satunya, saya jadi terpikir untuk membuat tulisan ini. Mudah-mudahan, di masa mendatang kita akan sering bertemu dalam kondisi yang lebih baik. Kalau ada banyak pertanyaan, saya akan dengan sangat senang hati menjawab, sebisa-bisanya saya. Saya berharap agar semuanya tetap semangat. Bagi yang tozan juga tetap semangat. Daerahdaerah, vihara-vihara, cetyacetya, juga tetap semangat menyelenggarakan pertemuan dan kensyu. Terima kasih, sampai bertemu di kensyu! (Jakarta, 16 April 2023)
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 7 Dari dasar hati saya menyampaikan penghargaan atas usaha Anda, yang pada hari ini telah menghadiri Upacara Shodai Kosenrufu bulan Maret di Kuil Pusat, di tengah berbagai kesibukan di masa pandemi COVID-19 ini. Bimbingan Biksu Tertinggi Ke-68, Nichinyo Shonin Shodai Kosenrufu 5 Maret 2023 Kuil Pusat Taisekiji Biksu Tertinggi Ke-68 Yang Arya Nichinyo Shonin Dalam “Surat kepada Tuan Nanjo Hyo-e Shiciro” (Nanjō hyō’e shichirō dono-gosho), dikatakan: Sebesar apa pun kebajikan yang diterima seseorang dengan berbuat baik, bahkan telah menyalin Saddharmapundarikasutra hingga sepuluh juta kali, dan telah mencapai pemahaman sempurna Hukum Icinen Sanzen (tiga ribu gejala dalam satu kejap), jika ia tidak mengecam ajaran yang menentang Saddharmapundarika-sutra, ia tidak akan bisa mencapai kesadaran Buddha. (Gosyo, hlm. 322)
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 8 PILAR Dalam kutipan ini, dengan tegas Nichiren Daishonin memperingatkan bahwa meski seseorang telah menumpuk sebab baik yang sangat besar, seperti menyalin Saddharmapundarika-sutra sebanyak sepuluh juta kali dan menguasai doktrin icinen sanzen yang merupakan prinsip yang sangat penting dalam Saddharmapundarika-sutra, jika ia membiarkan pemfitnahan Dharma berlangsung, gagal memerangi para penentang Saddharmapundarika-sutra, dan tidak mematahkan kesesatan, maka ia tidak akan mencapai kesadaran Buddha. Ada orang-orang yang tahu banyak tentang Ajaran Buddha. Mereka melaksanakan gongyo dan mendalami Ajaran Buddha hingga titik tertentu. Namun, Nichiren Daishonin mengingatkan bahwa sehebat apa pun mereka mendalami Ajaran Buddha, jika membiarkan dan tidak meluruskan kekeliruan orang-orang yang memfitnah Dharma dengan melakukan syakubuku, maka mereka tidak akan dapat mencapai kesadaran Buddha. Hal ini seperti yang dicontohkan dalam kutipan Gosyo berikut ini, Sebagai contoh, orang yang telah mengabdi kepada kerajaan hingga 10 tahun, bahkan 20 tahun. Namun ketika mengenali musuh kaisar ia tidak melaporkannya, atau secara pribadi tidak mengecamnya, maka segala jasa dan pengabdiannya yang panjang akan lenyap, bahkan ia akan dijatuhi hukuman. (Gosyo, hlm. 323) Ini bagaikan seseorang yang telah mengabdi di istana kekaisaran, seperti sepuluh hingga dua puluh tahun. Namun ketika ia mengetahui ada seseorang musuh dari sang raja, ia tidak juga melaporkannya kepada atasannya atau menghadapi musuh itu sendiri, maka segala jasa pengabdiannya yang telah lama ia berikan akan tidak bermakna, prestasinya pun lenyap. Bahkan ia akan dijatuhi hukuman karena mengabaikan tugasnya. Di setiap masyarakat, jika penjahat dibiarkan dan tidak ditangkap, masyarakat akan kacau dan akhirnya hancur dari dalam. Menutup mata terhadap kejahatan yang merajalela juga sebuah dosa besar. Dalam hati kepercayaan Nichiren Shoshu, mengabaikan
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 9 kita untuk membaktikan diri pada pelaksanaan dengan sepenuhnya mengikuti prinsip ‘menegakkan hati kepercayaan dan melaksanakan syakubuku’. Saya mengucapkan doa yang tulus agar Anda dapat mengabdikan diri menyebut Daimoku dengan keyakinan yang kuat lebih dari sebelumnya, juga agar umat di setiap daerah dan Susunan dapat bersatu hati berdasarkan semangat itai dosyin, dan melaksanakan syakubuku. Saya sungguh-sungguh berharap agar Anda dapat berjuang dalam pelaksanaan dalam mencapai penyebarluasan Dharma ke seluruh dunia. pemfitnahan Dharma adalah hal yang tidak patut dilakukan, dari sudut pandang prinsip teguran tegas terhadap pemfitnahan Dharma. Membiarkan pemfitnahan Dharma tanpa berbuat apa-apa tentu akan menimbulkan masalah besar di kemudian hari. Hal yang penting di dalam hati kepercayaan kita adalah pelaksanaan bagi diri sendiri dan orang lain. Hanya dengan mengikuti Jalan Penyadaran Kebuddhaan sesungguhnyalah – yakni melaksanakan untuk diri sendiri dan orang lain (Jigyo Keta)– barulah kita dapat mencapai kesadaran Buddha. Oleh karena itu, penting bagi
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 10 PILAR Yang Arya Ryosho Tozawa JIKA ingin mencapai kesadaran Buddha, turunkanlah panji kesombonganmu, singkirkanlah tongkat kemarahan, dan berpeganglah sepenuhnya hanya pada Saddharmapundarika-sutra: satu-satunya kendaraan menuju Kebuddhaan. Ketenaran dan kehormatan hanyalah hiasan belaka dalam kehidupan kali ini. Kesombongan dan keterikatan pada pandangan yang keliru adalah belenggu yang menghambat pencapaian Kebuddhaanmu di kehidupan yang akan datang. Sungguh hal-hal itu sangatlah memalukan! Takutlah akan semua itu! (Gosyo hlm. 296) Panji kesombongan: Hatahoko (arti harfiah: tombak) adalah senjata berbentuk tiang dengan bendera terpasang di bagian atasnya. Kesombongan yang ekstrim adalah sikap mereka yang menjunjung tinggi ajaran sementara dan mengaku telah mencapai pencerahan sendiri, disamakan dengan panji. Tongkat kemarahan: Kadar kemarahan sangat besar dari mereka yang terikat pada ajaran sementara dan disyakubuku oleh para pelaksana Saddharmapundarika-sutra Tanya Jawab Tentang Menganut Saddharmapundarika-sutra (Jimyo Hokke Mondo-syo)
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 11 diibaratkan tongkat yang digunakan untuk memukul orang. Satu-satunya kendaraan: satu-satunya ajaran yang membimbing manusia pada tingkat kebuddhaan. Ketenaran dan kehormatan: Kehormatan, ketenaran, keuntungan pribadi, dan hasrat manusia untuk mendapatkannya. Kesombongan: Salah satu hawa nafsu yang didasarkan pada sikap egois yang kuat. Kesombongan juga gambaran cara pandang berpusat pada diri sendiri yang meremehkan dan memandang rendah orang lain. Keterikatan pada pandangan yang keliru: Orang yang terikat dan condong pada satu sudut pandang saja, dan tidak mau mempertimbangkan pandangan orang lain. Belenggu: Hal-hal yang menghambat secara fisik maupun mental seseorang, dan membatasinya untuk bertindak. Nichiren Daishonin menulis Gosyo ini di Kamakura, pada tahun 1263 (Kocho ketiga), saat berusia 42 tahun, setelah beliau terbebas dari pembuangan ke Izu. Seperti yang terlihat pada judul, Gosyo ini menggunakan format lima pertanyaan dan jawaban mengenai menganut Saddharmapundarika-sutra. Secara umum, Nichiren Daishonin menjelaskan bahwa di antara semua sutra, Saddharmapundarika-sutra adalah satu-satunya ajaran yang membuat kita dapat menemukan ‘Jalan’ untuk mencapai kesadaran Buddha. Kemudian, beliau mengajarkan bahwa untuk mencapainya, hanya dengan menganut Myoho-Renge-Kyo. Inilah yang paling penting. Kemudian beliau mengungkapkan beratnya pelanggaran memfitnah Saddharmapundarika-sutra dan mereka yang menjalankannya. Akhirnya, beliau mendorong kita untuk melepaskan diri dari keterikatan hal-hal duniawi, dengan sungguh-sungguh menganut Saddharmapundarikasutra, menyebut Daimoku, dan mencapai kesadaran Buddha. Bagian yang menjadi fokus kita hari ini adalah pertanyaan keempat dan jawabannya. Di sini dengan tegas beliau mendorong kita untuk menganut
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 12 PILAR Saddharmapundarika-sutra tanpa terombang-ambing oleh ketenaran dan kekayaan duniawi, serta sentimen/perasaan yang sombong dan tidak adil. Nichiren Daishonin memberikan perbandingan lain pada bagian lain Gosyo ini, Bayangkan jika ada seseorang yang berada di bawah dan tidak mampu memanjat tembok yang tinggi, dan di atas sana ada seseorang yang mengulurkan tali dan berkata, “Kalau kamu memegang tali ini, saya akan menarikmu ke atas.” Namun bila orang yang berada di bawah itu meragukan kekuatan orang yang menawarkan diri untuk menariknya, meragukan
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 13 kekuatan talinya sehingga ia memutuskan untuk tidak memegang tali yang diulurkan, bagaimana mungkin ia dapat naik ke atas tanggul? Jika ia mengikuti petunjuk orang tersebut dan meraih talinya, dia pasti bisa naik ke atas. (Gosyo, hlm. 296, ringkasan) Dengan kata lain, Nichiren Daishonin menjelaskan kepada kita bahwa, jika kita meragukan kekuatan Sang Buddha, menyangsikan Saddharmapundarika-sutra, dan tidak menyebut Myoho, maka kita tidak mungkin menerima kekuatan Buddha atau mencapai kesadaran Buddha, sebagaimana yang diungkapkan dalam Gosyo ini, Hal yang paling penting adalah memiliki hati kepercayaan. (ibid) Jadi kita harus memiliki hati kepercayaan yang kuat kepada Gohonzon dan sungguh-sungguh maju dalam pelaksanaan untuk diri sendiri dan orang lain. Kalimat lain dari Gosyo ini menyatakan: Karena Dharma yang dianut seseorang itu unggul, maka orang yang menganutnya juga pasti unggul. (Gosyo, hlm. 298) Kalimat ini membimbing kita untuk memiliki keyakinan dan kebanggaan terhadap ajaran yang benar-benar unggul ini. Selanjutnya, Nichiren Daishonin menyatakan: Sebutlah Nam-MyohoRenge-Kyo dengan sepenuh hati dan anjurkanlah orang lain untuk menyebutnya. Hal ini akan terukir sebagai satusatunya kenangan dalam kehidupan Anda sebagai manusia pada masa ini. (Gosyo hlm. 300) Ikutilah petuah emas ini, dan kepada siapapun yang kita temui, bangkitkanlah keberanian dan maitri karuna di dalam hati dan janganlah ragu untuk mendorong dan membuat mereka menganut Ajaran Buddha sesungguhnya, sebagaimana kita menjalani kehidupan ini tanpa penyesalan. Dalam kutipan yang kita pelajari hari ini, Nichiren Daishonin menyatakan: Ketenaran dan kehormatan hanyalah hiasan belaka dalam kehidupan kali ini. Kesombongan dan keterikatan pada pandangan yang keliru adalah belenggu yang menghambat
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 14 PILAR pencapaian Kebuddhaanmu di kehidupan yang akan datang. (Gosyo, hlm. 296) Nichiren Daishonin menyatakan bahwa ketenaran dan kekayaan hanyalah hiasan dalam hidup ini. Selain itu, dalam bahasa Jepang, kata kesombongan—gaman—secara umum berarti “bertahan dan menopang”, tetapi di sini, ‘kesombongan’ punya makna berbeda. Kesombongan ini mewakili sikap meremehkan, merasa lebih unggul dari orang lain. Orang-orang yang berpegang teguh pada perasaan seperti itu tidak akan menerima nasihat dan tidak bisa menerima arahan/ bimbingan dengan lugas dan jujur. Yang terus meningkat dalam diri mereka hanya perasaan menentang dan menolak . Dalam Gosyo “Perihal Mencapai Kesadaran Buddha pada Tahap Awal Hati Kepercayaan melalui Saddharmapundarika-sutra” (Hokke Shoshin Jobutsusyo), Nichiren Daishonin mengatakan: Dalam perjalananmu menuju kebuddhaan, sebutlah Nam-Myoho-Renge-Kyo tanpa kesombongan atau prasangka di hatimu. (Gosyo, hlm. 1321) Oleh karena itu, untuk mencapai kesadaran Buddha, tidak ada jalan lain kecuali menanggalkan ketenaran duniawi, kekayaan, kesombongan, pandangan yang keliru, dan dengan sepenuh hati menyebut Nam-MyohoRenge-Kyo dalam pelaksanaan untuk diri sendiri dan orang lain. Justru karena saat ini kita sedang menghadapi segunung masalah sosial, termasuk wabah virus corona, sangatlah penting bagi kita untuk benarbenar membaktikan diri pada pelaksanaan nyata, yakni terusmenerus menyebut daimoku yang tulus dan terlibat dalam syakubuku. Biksu Tertinggi Nichinyo Shonin memberikan bimbingan sebagai berikut: Saya rasa sekarang adalah saatnya bagi kita untuk membaktikan diri menyebut Daimoku, berdasarkan kesatuan hati dalam semangat itai dosyin, terlepas dari rintangan dan kesulitan apa pun yang akan muncul, untuk mewujudkan kebahagiaan seluruh umat manusia dan perdamaian dunia, termasuk kebahagiaan kita sendiri.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 15 Dengan karunia kebajikan dan kegembiraan, kita harus mengerahkan segala upaya untuk melaksanakan syakubuku, menyelamatkan manusia dari penderitaan yang dialami saat ini, dan bertujuan mewujudkan tanah Buddha yang sesungguhnya. (Dainichiren, Desember 2022) Karena tertunda pandemi Covid, peringatan 800 tahun kemunculan Pendiri Ajaran Nichiren Daishonin baru dirayakan tahun ini Pelaksanaan Tozan Umum Peringatan ini dimulai sejak tanggal 4 Maret hingga 19 Desember. Tujuan Tozan Umum ini adalah untuk merayakan peringatan 800 tahun kemunculan Nichiren Daishonin; melaporkan hasil pelaksanaan kita seharihari kepada Dai Gohonzon; dan berprasetya untuk lebih sungguh-sungguh lagi meningkatkan hati kepercayaan kita. Mari kita mengajak orang lain dan mendorong satu sama lain untuk bersama-sama mengikuti acara penting yang luar biasa pada kesempatan yang benar-benar agung ini. Keinginan Nichiren Daishonin adalah membimbing semua makhluk hidup kepada kesadaran Buddha. Oleh karena itu, hendaknya kita menyadari bahwa perayaan dan balas budi yang sebenarnya terletak pada penyebarluasan ajaran Buddha sesungguhnya. Dengan karunia kebajikan yang kita terima dari pelaksanaan Tozan, marilah membuat kemajuan besar dalam usaha shakubuku kita dan mencapai hasil yang sesuai dengan tekad tahun ini— “Tahun Shakubuku dengan Semangat yang Menggolora.” Meskipun ada yang tidak bisa berangkat Tozan, sangatlah penting bagi setiap orang untuk menghadap ke arah yang sama, yang diberikan kepada seluruh sangha dan penganut dan mengungkapkan rasa terima kasih untuk berperan dalam peringatan 800 tahun ini dalam hal apapun. Kita semua telah melewati 3 tahun yang mengerikan, namun kita tetap mempertahankan hati kepercayaan untuk memperingati tahun ini. Tentu kita memiliki pemikiran masingmasing, namun saya berharap di pengujung tahun ini, kita semua dapat berbagi kegembiraan luar biasa yang belum pernah kita alami sebelumnya.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 16 PILAR Yang Arya Ryosho Tozawa Doa dalam Nichiren Shoshu Saya merasa setelah saya menyampaikan tentang doa, muncul banyak pertanyaan. Pada kesempatan ini saya akan membahasnya satu per satu. Pertama yang terkait dengan ritual persembahan, baik itu persembahan air, nasi atau buah-buahan. Persembahan yang paling mendasar adalah air dan nasi. Keduanya kita letakkan di bagian tengah di atas altar. Jika memungkinkan, nasi dipersembahkan setiap hari juga. Tapi di Kuil Hoseiji kita tidak mempersembahkan nasi setiap hari, hanya hari Rabu dan Sabtu, karena memang tidak masak setiap hari. Berbeda dengan di Kuil Pusat yang setiap hari selalu ada persembahan nasi. Setiap pagi, nasi dipersembahkan, kemudian doa dipanjatkan, lalu setelahnya persembahan nasi diturunkan. Ada banyak persembahan nasi di Kuil Pusat. Ada yang untuk Gohonzon, ada yang untuk Nichiren Daishonin, untuk Nikko Shonin, untuk Nichimoku Shonin, dan Biksu Tertinggi turun temurun. Sedangkan di rumah umat pada umumnya, hanya ada
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 17 satu persembahan nasi. Waktu yang paling tepat adalah setelah gongyo pagi, kemudian setelah doa diturunkan kembali. Tetapi ada juga yang mempersembahkannya sebelum gongyo, dan kemudian diturunkan setelahnya. Cara ini juga diperbolehkan. Dulu, ada yang mempersembahkan nasi itu sepanjang hari, dari pagi sampai malam, dan ketika malam diturunkan nasinya sudah keras. Cara ini sudah tidak boleh dilakukan lagi. Mengapa demikian? Karena mempersembahkan nasi seharian bisa menyebabkan altar lembab dan mengundang hewan dan serangga. Selain itu nasi yang dipersembahkan seharian akan kering dan tidak dapat dimakan lagi. Kemudian mengenai persembahan air. Air yang digunakan adalah air putih biasa, bukan air panas, teh, jus atau yang lainnya. Air dipersembahkan sebelum gongyo pagi dimulai dan diturunkan sebelum gongyo sore. Di Jepang, karena selalu ada daun shikimi yang diletakkan di altar, maka setiap kali mempersembahkan air, biasanya sepertiga potongan daun shikimi itu dimasukkan ke dalam air persembahan. Ini adalah bagian dari ritual. Selain itu, shikimi juga adalah daun yang memiliki bau yang cukup kuat, memiliki racun yang sangat lemah yang tujuannya untuk mengusir serangga dan menjaga air tidak cepat rusak. Setelah gongyo sore, air bisa dibuang ke tempat cuci piring atau dituang kembali ke wadah lain. Karena airnya sudah dipersembahkan lebih dari setengah hari di altar, apalagi sudah ditaruh potongan daun, airnya sudah tidak steril lagi untuk diminum. Jadi meski itu adalah air yang dipersembahkan di altar, setelah diturunkan, tidak kita gunakan lagi untuk air minum atau memasak. Tetapi bisa dituangkan ke vas daun hijau. Air yang sudah dipersembahkan jangan diminum lagi karena tidak baik untuk kesehatan. Kemudian, tidak tepat juga bila air persembahan dianggap memiliki kekuatan untuk menyembuhkan
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 18 PILAR penyakit. Kita tidak menjalankan pelaksanaan seperti itu. Mengenai air ini, saat kita berada di Kuil Pusat dan memasuki Uramon yang menghadap Mutsubo, ada satu sumber air yang bergambar naga. Air itu bukanlah untuk diminum. Di sana ada tulisan berhuruf kanji sen shin. Sen artinya mencuci, shin artinya hati atau pikiran. Jadi, air itu untuk mencuci pikiran kita. Di sumber air yang keluar dari mulut naga, ada gayung untuk mengambil air. Gunanya untuk mencuci mulut atau berkumur dan mencuci tangan. Terkadang saya melihat umat membawa botol, lalu mengisinya dengan air tersebut. Itu tidak boleh dilakukan. Ada juga umat yang sampai membawa pulang air tersebut ke Indonesia. Saya tidak kaget bila ada yang melakukannya, karena mungkin tidak tahu. Ada juga umat dari Afrika, mereka juga membawa pulang air itu. Mereka senang dengan air yang begitu segar dan dingin, karena itu mereka mulai mengisi botol kosong dan membawanya. Sekarang Anda sudah paham bahwa hal ini tidak boleh dilakukan, jadi mohon jangan melakukannya. Di sumber air tersebut, Anda boleh saja mencuci tangan dan berkumur di tempat itu. Pertama-tama, gunakan air untuk mencuci tangan, kemudian ambil air dengan gayung untuk berkumur. Buanglah air bekas berkumur itu ke tempat pembuangan, yaitu di bagian yang lebih pendek. Setelah itu, cuci gayung dengan air dan kembalikan ke posisi awal. Tata cara ini tidak berbeda dengan tata cara mencuci tangan dan berkumur pada umumnya. Namun mencuci tangan dan berkumur ini bukanlah sebuah ritual. Jadi bagi yang mau saja, tidak perlu semua peserta tozan melakukan itu. Kalau sampai semua umat mau cuci tangan dan mulut di tempat itu dan menimbulkan antri panjang, saya pasti akan ditelpon oleh kantor Kuil Pusat untuk menanyakan mengapa semua umat Indonesia antri untuk cuci tangan dan cuci mulut di situ. Bagi umat yang baru pertama kali ikut tozan, boleh melakukannya. Tapi kalau yang lain tidak mau, tidak harus mencuci tangan dan mulut di situ, karena zaman sekarang sudah ada hand sanitizer
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 19 dan toilet umum yang bisa dimanfaatkan untuk mencuci tangan. Di Kuil Pusat, seperti yang saya sampaikan tadi, kita ‘memindahkan atau mentransfer’ badan dan jiwa kita ke Altar Sila Agung. Untuk itu, kita membersihkan diri, meskipun tidak menggunakan sabun atau cairan pencuci mulut. Di sini kita ‘membersihkan’ lebih kepada makna ritualnya. Sekarang mengenai shodai. Seperti yang pernah saya jelaskan, ada bimbingan dari Nikken Shonin yang menjelaskan bahwa shodai/ penyebutan daimoku dan doa pribadi itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Namun, banyak umat yang tidak paham dan mencampuradukkan keduanya. Nikken Shonin menjelaskan bahwa Honmon no daimoku atau daimoku dari Altar Sila Ajaran Pokok
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 20 PILAR itu adalah menyebut daimoku dengan dasar percaya kepada Gohonzon. Jadi kita daimoku dengan menghadap kepada Honmon no honzon yaitu Gohonzon dari Altar Sila Ajaran Pokok. Dalam sekejap, ketika melaksanakannya, perasaan yang kita sebut icinen, adalah percaya. Jadi, saat menghadap Gohonzon dari Altar Sila Agung Ajaran Pokok, dan menyebut daimoku dari Altar Sila Agung Ajaran Pokok, Honmon no Daimoku, maka saat itu yang ada adalah icinen percaya. Percaya seperti apa yang harus kita miliki? Percaya bahwa Gohonzon adalah Nichiren Daishonin, Buddha pokok sejak kuon ganjo. Percaya bahwa Gohonzon adalah kesadaran Buddha dari Nichiren Daishonin sendiri dan percaya bahwa Gohonzon adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kesadaran Buddha. Ini adalah icinen yang harus kita miliki. Dengan pemahaman ini, Biksu Tertinggi membimbing bahwa doa pribadi adalah doa yang dipanjatkan berdasarkan hawa nafsu/keinginan pribadi kita yang berada di enam jalan/ dunia buruk. Semua yang kita panjatkan itu adalah berdasarkan hawa nafsu atau keinginan pribadi kita. Ini yang dimaksud dengan ‘pribadi’. Apa tujuan sebenarnya dari penyebutan daimoku di hadapan Gohonzon? Tujuannya adalah untuk memunculkan dunia Buddha kita dengan melebur dengan Gohonzon. Sekitar tahun lalu, kita pernah belajar tentang issin yokken butsu fuji syaku shinmyo. Ada yang masih ingat? Issin yokken butsu fuji shaku shinmyo adalah segenap hati ingin bertemu Buddha. Inilah arti “percaya/ hati kepercayaan”. Fuji syaku shinmyo tidak menyayangi jiwa raga adalah penyebutan daimoku/ pelaksanaan shodai. Jadi untuk bertemu Buddha, kita tidak menyayangi jiwa raga. Di dalam issin yokken butsu fuji syaku shinmyo ini, tidak ada unsur doa pribadi. Yang ada hanya kita sepenuh hati ingin bertemu Buddha. Untuk itulah kita menyebut daimoku kepada Gohonzon. Kalau kita bandingkan doa yang berdasarkan pada keinginan pribadi, dengan
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 21 doa yang benar-benar hanya tulus berdoa, tentu berbeda. Ada bedanya antara orang yang menyebut daimoku selama satu jam sambil memikirkan keinginan pribadinya, dengan orang yang menyebut daimoku satu jam tanpa memikirkan apa yang diinginkannya, hanya tulus daimoku saja. Tidak berpikir macam-macam. Dari luar kelihatannya sama, tetapi sebenarnya orang yang hanya memanjatkan doa pribadi, tidak memiliki icinen hati kepercayaan. Setiap kejapnya atau “icinen-nya” hanya untuk urusan pribadi. Sementara orang yang kedua, setiap kejap perasaan jiwanya adalah percaya. Hati kepercayaan dan keinginan pribadi itu tidak akan sejalan. Kalau yang satu muncul, maka yang satu tidak hadir. Ketika Anda dengan sepenuh hati berdoa kepada Gohonzon, sepenuh hati ingin bertemu Buddha, maka tidak ada lagi keinginan pribadi. Tetapi ketika berdoa kepada Gohonzon agar keinginan Anda tercapai, maka Anda sudah tidak fokus atau melebur lagi dengan Gohonzon. Jadi jiwa Anda sedang berada pada kondisi dunia Anda sendiri yang ada di enam dunia rendah. Ketika biksu tertinggi memimpin pelaksanaan shodai (shodaigyo) selama satu jam setiap hari dalam sebulan, saat kita mengikuti shodaigyo itu, icinen mana yang harus dimiliki? Tentu icinen hati kepercayaan, karena shodaigyo bertujuan untuk kosenrufu, bukan untuk pribadi kita. Berdoa dengan icinen seperti itulah yang akan memunculkan jiwa Buddha, menumpuk karunia kebajikan kita sendiri, dan akan mewujudkan kosenrufu. Ini adalah pelaksanaan shodai berdasarkan icinen hati kepercayaan. Bagaimana jika saat shodaigyo itu, biksu atau umat berdoa untuk pencapaian keinginan pribadi masing-masing? Kalau seperti itu, meski selama satu jam bersama-sama melaksanakan shodai, tetap tidak menyatu. Ketika menyebut Daimoku dari Ajaran pokok, kita harus mengesampingkan doa pribadi, harus berusaha fokus dengan hati kepercayaan, melebur kepada Gohonzon. Inilah yang harus kita usahakan. Tentu Nichiren Daishonin atau pun biksu tertinggi, tidak melarang doa pribadi. Tidak apa-apa memanjatkan doa
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 22 PILAR pribadi. Tetapi jangan sampai kita lupa berdoa kosenrufu. Jika lupa berdoa untuk kosenrufu, artinya kita tidak melaksanakan daimoku dari Altar Sila Agung Ajaran Pokok Gohonzon. Tidak ada artinya, dan maknanya jadi terbalik. Oleh karena itu hal pertama yang harus kita miliki adalah icinen percaya/hati kepercayaan saat berdoa. Di Jepang ada beberapa majalah yang diterbitkan oleh Nichiren Shoshu. Di dalamnya ada pengalaman pribadi umat. Biasanya, umat yang baru menceritakan pengalaman pribadi tentang karunia kebajikan dari doa pribadi. Contohnya, sebelum syinjin hidupnya seperti di dalam neraka, tidak ada tempat tinggal, tidak ada pekerjaan, dan sebagainya. Tetapi setelah mulai sungguh-sungguh syinjin, semua berubah. Lingkungan berubah, punya tempat tinggal, pekerjaan dan lain sebagainya. Ini pengalaman umat yang baru. Tetapi bagi umat yang sudah 30 – 40 tahun syinjin, pengalamannya tidak seperti itu. Bagi umat yang sudah lama syinjin, yang mereka rasakan adalah rasa syukur, karena konsistensi menumpuknya karunia kebajikan sehingga apa yang terjadi pada diri dan lingkungannya, perlahanlahan bisa berubah. Mereka bisa melihat kekuatan Buddha, sehingga bisa syakubuku lagi. Jadi pengalamannya sama sekali berbeda dengan umat yang baru. Dalam masyarakat, biasanya ukuran kebahagiaan atau kesuksesan adalah ketika impian menjadi kenyataan. Tetapi di dalam ajaran Buddha, tidak selalu seperti itu. Misalnya, ada anak yang ingin menjadi pilot, dan ia berdoa setiap hari agar keinginannya itu tercapai. Tetapi akhirnya dia tidak menjadi pilot. Meski kenyataannya seperti itu, pasti ada maknanya. Bisa jadi, misalnya, jika menjadi pilot, pesawatnya mengalami kecelakaan yang mencelakai 200 – 300 jiwa. Jadi tidak menjadi pilot bukan berarti sebuah kegagalan. Bisa jadi itu adalah karunia. Artinya, bukan berarti ketika setiap keinginan kita tercapai itu adalah kesuksesan atau kebahagiaan. Namun yang pasti adalah penyebutan daimoku yang ia sebut setiap hari akan menetap selamanya di dalam jiwa, menjadi pusaka baginya.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 23 Inilah yang dijelaskan oleh Nikken Shonin bahwa doa pribadi dan penyebutan daimoku adalah dua hal yang berbeda. Bukan juga berarti bahwa dalam Nichiren Shoshu kita tidak boleh memanjatkan doa pribadi. Akan tetapi, bila doa pribadi disampaikan tanpa kosenrufu dan tujuan sesungguhnya penyebutan daimoku --yaitu sepenuh hati ingin bertemu Buddha tanpa menyayangi jiwa raga—maka daimoku yang kita panjatkan itu jauh dari makna yang sesungguhnya. Bukan berarti tidak ada karunia kebajikan, tetapi itu jauh dari yang sesungguhnya. Ada umat yang bertanya: Kalau orang tua saya sakit, bagaimana saya berdoa? Saya kehilangan pekerjaan, bagaimana saya harus berdoa? Yang Anda butuhkan justru adalah hati kepercayaan yang tulus kepada Gohonzon, keinginan untuk sungguhsungguh ingin bertemu Buddha. Kalau tidak bisa seperti ini, berarti Anda masih seperti umat yang baru. Ada juga umat yang mengatakan bahwa bimbingan dengan biksu itu, jawabannya pasti disuruh shodai. Sebetulnya, dalam menghadapi apa pun, yang diperlukan adalah icinen hati kepercayaan. Bukan doa pribadi yang meminta untuk mengatasi ini dan itu, atau mencapai keinginan-keinginan kita. Jadi kita menghadap Gohonzon itu bukan untuk meminta solusi. Kalau kita hanya meminta ingin mengatasi permasalahan atau dikabulkannya keinginan, berarti segalanya hanya tentang diri kita sendiri. Tak ada hati kepercayaannya. Oleh karena itu, biksu selalu mendorong umat untuk daimoku dengan hati kepercayaan. Jika Anda meminta bimbingan biksu ketika berdoa untuk kosenrufu, maka doa itu akan tercapai. Bimbingan itu adalah sebuah upaya atau sarana. Yang paling mendasar dan diperlukan adalah icinen percaya. Kalau tidak memiliki atau kurang memiliki icinen percaya, maka jiwa Anda akan terikat pada 6 dunia rendah: neraka, kelaparan, kebinatangan, kemarahan, manusia, surga. Jika Anda termasuk umat yang sudah lama melaksanakan hati kepercayaan, tentu yang harus dimiliki adalah icinen hati kepercayaan, bukan terikat pada keinginan pribadi.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 24 PILAR Saya akan menjelaskan perihal pemfitnahan Dharma dalam kehidupan kita seharihari. Terkadang kita bingung dalam menghadapi mana yang termasuk pemfitnahan Dharma dan mana yang bukan. Penjelasan tentang hal ini akan saya ambil dari bimbingan Biksu tertinggi ke-9 Nichi’u Shonin dalam Kegishō (Surat Perihal Pedoman Pelaksanaan). Dalam poin ke-75 Kegishō disebutkan: “Datang ke kuil lain, memberi hormat dan persembahan adalah pemfitnahan Dharma. Karena menjalankan hal yang dilakukan oleh orang yang memfitnah Dharma, adalah Pada Upacara Oko Kuil Myoganji bulan April ini, dengan setulus hati saya berdoa kepada Gohonzon, untuk kesehatan, kebahagiaan, dan tercapainya doa syakubuku Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian. Yang Arya Hoseki Tsuchida Pembabaran Dharma Upacara Oko Kuil Myoganji April 2023 Pemfitnahan Dharma dalam Kehidupan Sehari-hari Megamendung, 8 April 2023
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 25 pemfitnahan Dharma.… Tidak dilarang jika dilakukan untuk menambah wawasan dan pengetahuan, namun jika muncul rasa percaya, maka itu akan menjadi pemfitnahan Dharma.” (Shoten, hlm. 687) Pada dasarnya, mendatangi tempat ajaran lain dalam rangka belajar, untuk pengetahuan atau pekerjaan, itu bukan pemfitnahan Dharma. Namun ketika Anda membungkukkan badan, memberikan persembahan, sehingga muncul rasa percaya, maka itu menjadi pemfitnahan Dharma. Dalam Surat Balasan kepada Soya (Soya donogohenji), Nichiren Daishonin memperingatkan: Betapa pun seseorang menjunjung tinggi hati kepercayaan kepada Saddharmapundarika-sutra, jika ia melakukan sedikit saja pemfitnahan Dharma, pasti akan terjatuh ke dalam neraka. Ibarat satu kaki kepiting yang bisa merusak kualitas ribuan gentong cat hitam urushi. (Gosyo, hlm. 1040) Demikianlah, sebagai umat Nichiren Shoshu hendaknya kita waspada agar dalam aktivitas kehidupan tidak melakukan pemfitnahan Dharma. Dalam "Wasiat kepada murid Nikko", Biksu Tertinggi kedua Nikko Shonin memberikan peringatan tegas bahwa, “Penganut tidak boleh berkunjung ke kuil lain.” (Gosyo, hlm. 1884) Biksu Tertinggi ke-9 Nichi’u Shonin melonggarkan ketetapan itu, karena pada masa Nichi’u shonin, sudah jelas konsep perbedaan Nichiren Shoshu dan ajaran lain, dan juga hati kepercayaan penganut saat itu sudah tidak mudah goyah karena kunjungan yang bertujuan untuk menambah wawasan. Meski demikian, bagi penganut baru yang belum sepenuhnya memahami ajaran, dan juga anak-anak, sebaiknya menghindari pergi ke tempat ajaran lain karena syinjin-nya bisa terpengaruh. Selanjutnya, dalam Kegishō poin ke-39 disebutkan: Jangan mengikuti pertemuan doa memanjatkan puisi pujian untuk para dewa dan Buddha. Karena dalam kegiatan itu disebut-sebut nama dewa dan Buddha, dan bersujud tiga kali. Ini akan membuat
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 26 PILAR syinjin menjadi bercabang, sehingga tidak syinjin pada ajaran kita yang dapat mencapai kesadaran sempurna Kebuddhaan dalam badan apa adanya. (Gosyo, hlm. 980) Dahulu di Jepang, di kalangan orang terpelajar ada permainan Renga. Setiap orang secara berurutan membuat puisi sambung menyambung, yang bagian awal puisinya adalah sambungan dari bagian akhir puisi dari orang sebelumnya. Sambung-menyambungitu menghasilkan puisi yang panjang. Penganut dilarang terlibat dalam permainan seperti itu, karena mengandung unsur ajaran lain, seperti membungkukkan badan tiga kali kepada Dewa Surga Sugawara Michizane. Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian mungkin juga sering ikut kegiatan di masyarakat seperti kegiatan hobi dan sosial. Jika kegiatan itu mengandung unsur ajaran lain, hendaknya dihindari karena akan membuat syinjin bercabang. Ibarat satu badan dengan pikiran bercabang, tentu akan membingungkan , sehingga syinjin kacau dan tidak bisa mencapai kesadaran sempurna Kebuddhaan dalam badan apa adanya (sokusin jobutsu). Selanjutnya, dalam Kegishō poin ke-40, disebutkan: “Tidak boleh memasang hiasan kaligrafi yang mengandung aksara kimyo (berserah pada ajaran lain), yang bisa membuat syinjin menjadi bercabang. Namun untuk hiasan lukisan seperti Kakinomoto Hitomaru dan Menteri Zongkui masih diperbolehkan.” (Shoten, hlm. 980) Poin ini menyebutkan bahwa hiasan kaligrafi yang mengandung aksara Namu/ Kimyo (berserah pada ajaran lain), tidak boleh dipasang. Yang masih dapat dipasang hanya lukisan Kakinomoto Hitomaru ahli puisi Jepang dan Menteri Zongkui dewa penghalau wabah dalam ajaran Taoisme. Sepertinya dua lukisan yang disinggung ini populer di Jepang pada saat itu.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 27 Meski diperbolehkan, namun untuk masa sekarang lukisan seperti itu jadi mengandung unsur ajaran. Maka sebaiknya kita tidak memasang lukisan semacam itu. Kalau Bapak, Ibu, dan Saudara ingin memasang lukisan, carilah yang tidak mengandung unsur ajaran lain, dan di sekitar altar Gohonzon jangan dipasang hiasan lukisan dan foto. Selanjutnya mengenai syinjin dan urusan pekerjaan, dalam Kegishō poin ke-26 disebutkan: “Pelukis, pematung, tukang besi, tukang kayu dari ajaran lain boleh terlibat untuk pekerjaan kuil selama jasa mereka dibayar.” (Shoten, hlm. 977) Untuk membangun dan memperbaiki Kuil, kita boleh melibatkan orang-orang yang bukan penganut selama kita membayar pekerjaan yang telah mereka berikan. Jika pekerjaan itu diberikan cuma-cuma maka menjadi pemfitnahan Dharma. Bimbingan ini menyatakan bahwa dalam hal yang terkait dengan kemasyarakatan, kita harus membayar untuk pekerjaan yang diberikan. Demikian juga sebaliknya, umat Nichiren Shoshu tidak dilarang melakukan pekerjaan untuk tempat ajaran lain yang tidak berkaitan dengan syinjin. Namun harus lebih dipertimbangkan jika itu memberikan dukungan langsung pada penyebaran ajaran. Dan terakhir saya ingin menjelaskan sikap pada pemakaian buku sutra dan peralatan altar dari ajaran lain. Dalam Kegishō poin ke-109 disebutkan, “Pada prinsipnya, makhluk yang tidak berperasaan adalah ikut pada pengaruh dari makhluk berperasaan. Karena itu, umat tidak boleh membaca Saddharmapundarika-sutra milik ajaran lain, karena mengandung pemfitnahan Dharma.” (Shoten, hlm. 993) Makhluk yang tidak berperasaan artinya semua benda yang tidak memiliki kemampuan untuk merasa, dan makhluk berperasaan adalah semua makhluk hidup pada umumnya. Saat gongyo, kita tidak boleh memakai buku Sutra milik ajaran lain. Karena barang seperti itu membawa pengaruh pemfitnahan Dharma dari pemilik
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 28 PILAR dan pembuatnya. Maka pastikan kita memakai buku gongyo Kuil Pusat atau Yayasan Sangha. Juga dalam Kegishō poin ke-110 disebutkan: “Jubah dan peralatan altar tidak boleh dipinjamkan untuk ajaran lain, juga sebaliknya jangan meminjamnya dari ajaran lain untuk upacara Nichiren Shoshu. Benda yang tidak berperasaan ikut pada pengaruh dari yang menggunakannya. Jika dipakai oleh yang memfitnah Dharma, langsung menjadi peralatan yang mengandung pemfitnahan Dharma. Lain halnya jika barang atau bahan tersebut diperoleh dengan cara dibeli.” Poin ini menyebutkan bahwa kita diperkenankan untuk pinjam-meminjam peralatan altar ajaran lain. Dengan membayar resmi seperti yang umum berlangsung di masyarakat, maka pemfitnahan Dharma pun putus. Sama seperti ketika pelaksanaan Upacara Kematian, umumnya kita meminjam tempat dan peralatan milik ajaran lain. Karena peralatan tersebut digunakan dengan biaya yang resmi, maka boleh digunakan. Jika digunakan tanpa pembayaran maka menjadi pemfitnahan Dharma. Sebagaimana disebutkan di poin sebelumnya (poin 109), buku Sutra bisa digunakan untuk gongyo, tetapi tidak boleh digunakan bila itu milik ajaran lain. Buku sutra sangat penting artinya dalam hati kepercayaan kita. Demikianlah dalam Kegishō, Biksu Tertinggi ke-9 Nichi’u Shonin telah meninggalkan pedoman jelas dan rinci mengenai pemfitnahan Dharma. Artinya dalam Nichiren Shoshu sangatlah penting untuk menjaga agar tidak terjadi pemfitnahan Dharma dalam kehidupan kita. Ini telah dijalankan sungguhsungguh oleh para pendahulu kita yang giat dalam pelaksanaan hati kepercayaan. Saya sangat suka pada budaya toleran di Indonesia. Meski demikian kita harus sangat berhati-hati menerapkannya untuk hal yang bisa mengandung pemfitnahan Dharma. Saya sangat berharap agar Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian bisa sepenuhnya memahami tradisi ajaran Buddha Nichiren Shoshu, sehingga dapat menjalani kehidupan dengan syinjin yang benar.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 29 Sehubungan dengan “permulaan ini”, bulan April juga bulan “permulaan” (awal mula) dalam agama kita, Nichiren Shoshu. Untuk memperingati “permulaan” ini, setiap tahun pada tanggal 28 April diadakan upacara Risshu-e (Upacara memperingati penegakan/pendirian ajaran) di Kuil Pusat Taisekiji, di kuil-kuil utama di seluruh negara, dan kuil cabang di seluruh dunia. Upacara Risshu-e adalah upacara yang memperingati sebuah peristiwa pada tanggal 28 April 1253 (Tahun Kencho kelima), ketika Nichiren Daishonin pertama kali memproklamirkan diri bahwa Beliau akan menyebarkan daimoku Nammyoho-renge-kyo ke seluruh dunia. Upacara peringatan ini bermakna membalas budi dan berterima kasih kepada Nichiren Daishonin. Di bawah bimbingan Biksu Dozenbo, Nichiren Daishonin memasuki kebiksuan di Kuil Seichoji di provinsi Awa (sekarang Prefektur Chiba). Sejak itu, selama lebih dari sepuluh tahun, Nichiren Daishonin terus tekun mempelajari agama Buddha. . Di Jepang, bulan “April” disebut dengan musim “permulaan”. Seluruh masyarakat akan memulai musim dengan suasana dan tekad/tujuan baru. Risshu-e (Upacara Pendirian Dharma Agung yang Sesungguhnya) Yang Arya Shingyo Kimura
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 30 PILAR Setelah mempelajari banyak ajaran Buddha, Nichiren Daishonin yakin bahwa penderitaan semua makhluk hidup adalah akibat percaya pada ajaran yang salah, dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka adalah hanya dengan percaya pada daimoku Nam-myoho-renge-kyo dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ajaran ini. Namun, seperti yang dibabarkan dalam Saddharmapundarikasutra bahwa jika seseorang membabarkan tentang ajaran (Nammyohorengekyo) ini, maka malapetaka yang sangat besar akan menimpanya, dia dan orang-orang di sekitarnya akan menerima penderitaan yang mengancam jiwa. Mengenai hal ini, dalam “Surat Membuka Mata”, Nichiren Daishonin menjelaskan sebagai berikut: “Nichiren adalah satu-satunya yang mengetahui bahwa semua orang Jepang telah jatuh ke jalan yang buruk karena ajaran sesat dan perilaku buruk. Jika kamu menyampaikan satu kata saja tentang (Nammyohorengekyo) ini, kepada orang tua, saudara, dan gurumu, kamu pasti akan diserang oleh penguasa (orang yang berkuasa). Jika tidak menyampaikannya, hidupmu akan baik-baik saja, tetapi cepat atau lambat, kamu pasti akan terjatuh ke dalam neraka. Jika kamu menyampaikannya, maka kesulitan dari tiga rintangan dan empat iblis pasti akan muncul dan menyerangmu. Jika Saya harus memilih salah satu dari keduanya, Saya pasti akan bicara (menyampaikan tentang Nammyohorengekyo).” Inilah mengapa dikatakan bahwa sulit bagi orangorang di Masa Akhir Dharma untuk menganut (percaya) bahkan hanya satu baris saja dari Saddharmapundarikasutra. Namun, kali ini, saya membangkitkan kesadaran Buddha yang kuat dan berprasetya untuk tidak pernah mundur, tidak peduli sebesar apa pun kesulitan yang akan menghadang saya.” (Surat membuka Mata - Gosyo, hlm. 538) Dengan prasetya ini, Nichiren Daishonin memutuskan untuk mendirikan ajaran yang sesungguhnya berdasarkan maitri karuna yang besar
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 31 untuk menyelamatkan semua makhluk hidup dari penderitaan. Penyebab penderitaan itu adalah racun ajaran sesat, tidak peduli apa pun tiga rintangan dan empat iblis yang mungkin timbul. Pada siang hari tanggal 28 April, banyak orang berkumpul di aula Jibutsu-do, Kuil Seicho-ji tempat Nichiren Daishonin mendirikan ajaran yang sesungguhnya dan mendengarkan pembabaran Dharma dari Beliau yang telah mempelajari ajaran Buddha bertahun-tahun. Di aula itu, untuk pertama kalinya Dharma ajaran yang sesungguhnya dibabarkan Daishonin, bergema dengan nyaring. Penjelasan yang tegas dan kewibawaan Nichiren Daishonin memikat hati semua orang yang hadir. Tetapi seiring berlangsungnya pembabaran Dharma, pikiran orang-orang yang hadir mulai berubah: terkejut dan tidak suka dengan ajaran yang dibabarkan. Nichiren Daishonin menjelaskan bahwa sekarang kita telah memasuki masa akhir Dharma, masa yang dibabarkan bahwa ajaran telah hilang kekuatannya dan banyak tindakan memfitnah Dharma yang dilakukan orangorang sehingga menimbulkan penderitaan di dalam masyarakat dan timbulnya malapetaka serta bencana alam besar juga ancaman bencana lain
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 32 PILAR yang belum pernah muncul sebelumnya akan terjadi. Kemudian Nichiren Daishonin melanjutkan pembabarannya bahwa satu-satunya hal yang dapat menyelamatkan semua makhluk hidup di masa akhir Dharma adalah daimoku Nam-myoho-renge-kyo. Oleh karenanya kita harus segera meninggalkan ajaran buruk Zensyu juga Nembutsu dan hanya percaya pada Hukum Gaib (Nammyohorengekyo) ini. Semua yang hadir dan mendengarkan pembabaran sangat terkejut dengan penjelasan Nichiren Daishonin. Kemudian Tojo Kagenobu, seorang penguasa yang sangat percaya pada ajaran yang memfitnah Dharma, langsung marah, membenci dan mulai menyerang Nichiren Daishonin karena tidak memahami penjelasan khotbah yang disampaikan. Dapat dikatakan bahwa tiga rintangan dan empat iblis mulai bersaing sesuai dengan pembabaran dalam kalimat sutra, seperti yang diramalkan dan sudah disiapkan oleh Nichiren Daishonin sendiri. Risshu-e adalah upacara peringatan untuk mengungkapkan rasa terima kasih atas maitri karuna kasih yang besar dari Nichiren Daishonin, pendiri ajaran sesungguhnya. Tahun ini, tanggal 28 April jatuh di hari kerja (bukan hari libur), jadi mungkin sulit bagi banyak orang untuk mengikuti upacara ini. Namun pada saat gongyo di tanggal tersebut, ingatlah peristiwa ini dan sebutlah daimoku dengan perasaan balas budi dan terima kasih yang tulus. Nah, apa tekad yang sudah kalian rencanakan di permulaan bulan April ini? Entah itu olahraga, belajar, atau di bidang-bidang yang lain, biasanya kita mudah mengucapkan tekad di awal tetapi sulit mempertahankannya. Apalagi ketika benar-benar mencoba melakukannya, muncul berbagai kesulitan. Namun, ingatlah selalu bahwa kegembiraan sejati bisa didapatkan dengan mengatasi kesulitan demi kesulitan dan terus berusaha hingga tujuan tercapai. Jadi, marilah kita lakukan yang terbaik tanpa melupakan inti dari “permulaan”.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 33 Nyaman Di Mana-Mana ADA nggak tempat yang paling bikin kamu merasa nyaman? Tempat yang bikin kamu ngerasa diterima apa adanya. Jangan-jangan, di rumah nggak betah, di tempat kerja kayak neraka, bareng teman harus pura-pura. Pandita Utama Aiko Senosoenoto Capek kan rasanya kalau harus pura-pura. Pura-pura bisa terima, padahal marah. Pura-pura happy, padahal sedih. Pura-pura punya duit, padahal utang selangit. Kalau kita bisa apa adanya, apakah orang lain bisa terima? Gimana sih caranya bikin suasana nyaman di mana aja? Atau, kalau memang nggak nyaman, boleh nggak menghindar atau lari? Kenyamanan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan kepada orang lain. Kita bisa merasakan hubungan yang nyaman jika bisa merasa terhubung (connect). Jika perasaan kita bisa bertemu, maka apa pun yang dilakukan orang tersebut akan membuat kita happy. Banyak orang yang mencari pasangan karena kebutuhan memiliki pasangan. Mereka sudah mempunyai kriteria calon pasangan yang diinginkan. Kondisi tersebut membuat orang cenderung memaksakan keinginan pribadi terhadap orang yang ingin dijadikan pasangannya. Oleh karena itu, bagi mereka, rasa terhubung (connect) bukan hal yang penting. Dengan kondisi seperti ini, usaha untuk menyenangkan calon pasangan dengan membelikan makanan maupun memberikan layanan antar-jemput tidak akan membuahkan hasil. Semua orang, baik perempuan maupun laki-laki, pasti senang dilayani, tetapi itu tidak akan membuat orang jatuh cinta. Padahal, untuk mencari pasangan, rasa terhubung
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 34 PILAR ini sangat penting. Meskipun orang lain mempertanyakan hal tersebut, yang terpenting kita merasa nyaman dengan dia. Sekalipun dia bukan termasuk calon yang memiliki kriteria yang kita harapkan. Pasangan bukan sesuatu yang harus kita cari karena akan cenderung memaksa. Sikap yang terpenting adalah terbuka (open). Masalahnya, orang zaman sekarang susah connect karena terlalu banyak jagaan. Kondisi ini membuat orang sekarang bingung pada perasaannya sendiri. Mereka tidak tahu keinginannya, tidak yakin happy tidaknya atau nyaman tidaknya suatu hubungan. Hal ini terjadi karena orang terlalu banyak jagaan dalam bersikap, misalnya jangan sampai orang lain menilai diri mereka buruk. Akibatnya susah connect dan susah mendapat pasangan. Orang yang terbuka akan menunjukkan perasaannya, baik saat senang maupun kesal. Dia akan terlihat senang saat happy dan mudah mengutarakan perasaannya saat tidak senang tanpa harus mengamuk. Orang yang seperti ini akan lebih mudah menemukan pasangan. Problem orang sekarang adalah terlalu sering melihat media sosial seperti Instagram dan Tiktok. Sehingga, ia mempunyai persepsi mengenai cewek atau cowok, bahkan ibu ideal. Akibatnya, mereka tak bisa memiliki kepribadian, tak bisa tampil sesuai karakternya sendiri alias tampil apa adanya. Saya pernah bertemu dengan seorang klien yang minta kami mengajarkan anaknya menari.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PILAR 35 balik ngegas saat bertemu dengan orang yang gampang ngegas. Kita boleh menegur orang yang dirasa suka ngegas tanpa alasan yang jelas. Sikap ini lebih bermanfaat dibandingkan sekadar mengeluh karena merasa tak nyaman. Sikap yang harus dihindari adalah merasa lebih baik dibanding orang lain, khususnya orang yang temperamental alias emosional. Memang ada orang yang kalem, plain, dan lurus saja. Akan tetapi, orang yang kalem belum tentu lebih baik dibandingkan dengan orang yang emosional. Karakter seseorang tidak bisa ditentukan dengan pembawaannya. Umumnya, manusia mempunyai kecenderungan untuk merendahkan atau curiga kepada orang yang berbeda dengan diri mereka. Oleh karena itu, memiliki hati-kepercayaan (syinjin) sangatlah penting. Karena, hanya dengan syinjin kita dapat menerima dan bekerja sama dengan orang yang berbeda. Dengan syinjin, kita bisa menerima bahwa hidup tidaklah selalu menyenangkan dan sesuai dengan keinginan sendiri. Ketika bisa menerima hal tersebut dan berhasil melewatinya, kita bisa merasa nyaman. Ternyata, anaknya yang berusia 5 dan 7 tahun tersebut sudah membuka kelas dan mengajar. Bahkan, anak yang berusia 7 tahun dijadikan sutradara untuk sebuah pertunjukan musikal. Menurut saya, ibu tersebut tidak mendidik anaknya untuk belajar. Padahal, di usia tersebut, seseorang harusnya belajar dulu, bukan menjadi seorang sutradara. Dibutuhkan pengalaman melalui perjalanan makan asam garam kehidupan agar menjadi seorang sutradara yang bisa dihormati. Hal tersebut bisa terjadi karena sang ibu tidak melihat perkembangan anaknya, tapi lebih banyak dikondisikan oleh hal yang dilihatnya di media sosial. Banyak konten di Instagram maupun Tiktok yang membuat orang menjadi merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri, bahkan tak sedikit yang malah tidak bisa menjadi diri sendiri. Saat aktif berkegiatan di Susunan, kita pasti bertemu dengan berbagai macam karakter manusia. Ada yang menyenangkan dan membuat nyaman, tapi ada juga yang temperamental dan membuat tidak nyaman. Oleh karena itu, kita tidak boleh terlalu sensi atau baperan. Lebih baik kita
Konsultasi dengan: Yang Arya Ryozo Tozawa Pandita Utama Aiko Senosoenoto Pandita Utama Rusdy Rukmarata (Alm.) Gaul Karier Anak Ritual
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 RITUAL 37 Saya telah syakubuku ibu saya, dan saat beliau meninggal dimakamkan dengan upacara Nichiren Shoshu di kampung halaman kami. Namun, karena dalam keluarga hanya saya yang syinjin dan tinggal jauh di luar pulau, setiap hari peringatan ibu, kakak saya selalu sembahyang di makam ibu saya dengan cara ajaran lain. Ketika saya berkunjung ke sana, saya sangat susah hati melihatnya. Tapi, saat itu mau tak mau saya juga terpaksa mengikuti cara sembahyang mereka. Bagaimana cara menghadapi keluarga besar yang masih menjalankan filsafat lain, sementara mereka belum bisa di-syakubuku ? Apakah saya salah kalau mengikuti cara sembahyang mereka karena merasa kakak lebih berhak dalam keluarga? A di D PERTANYAAN: dalam Keluarga yang Belum Syinjin Mempertahankan Ekayana JAWABAN YANG ARYA RYOSHO TOZAWA: APA yang Anda alami memang banyak terjadi di kalangan umat. Sebenarnya, jalan terbaik adalah syakubuku seluruh keluarga. Tapi, itu memang perlu waktu dan tidak mungkin bisa dilakukan sekaligus. Yang penting Anda harus sangat yakin dengan ajaran ini. Caranya lewat pelaksanaan Anda dalam kehidupan, yang menunjukkan sikap sebagai pelaksana Nichiren Shoshu. Sebagai seorang pelaksana ajaran Buddha Nichiren Shoshu, sikap kita harus jelas. Ketika menghadiri upacara ritual ajaran lain, kita harus menunjukkan sikap hormat terhadap mereka, tapi tidak mengikuti upacara ritual mereka.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 38 RITUAL Misalnya, ketika ada undangan pernikahan, kita tidak wajib hadir dalam upacara ritual pernikahannya. Cukup menghadiri resepsinya saja. Namun, jika itu adalah keluarga dekat dan harus hadir, maka kita cukup hadir dan duduk saja. Tidak perlu mengikuti tata upacaranya. Kalau hadir dalam upacara kematian, kita cukup berdoa di dalam hati untuk almarhum. Namun, sebelumnya kita perlu mencari kesempatan untuk menjelaskan bahwa karena kita adalah menganut ajaran Buddha Nichiren Shoshu, kita tidak bisa mengikuti ritual ajaran lain. Kita pun akan memberikan hormat dan berdoa dengan tata cara ajaran kita. Dengan demikian, kita juga menunjukkan ketaatan kita dalam menjalankan ajaran tanpa kompromi. Jika kita dapat menjelaskan dengan baik, itu juga termasuk bagian dari syakubuku. Penting bagi kita untuk menunjukkan semangat syakubuku melalui sikap dalam keluarga. Kalau kita bersikap kompromi, maka berarti kita tidak menunjukkan semangat syakubuku. Saya sendiri juga demikian. Ketika kakek saya meninggal, saya berumur sekitar 18 tahun. Saya berangkat dari Kuil Pusat untuk menghadiri upacara kematiannya. Kakek saya adalah salah satu pengurus di Kuil Nembutsu. Sebelum meninggal, beliau pernah menegur dan memarahi saya, mengapa saya menyebut Nammyohorengekyo dan tidak mengikuti beliau. Kemudian, beliau mengatakan, “Saya tidak mau didoakan oleh kamu.” Saya menjawab, “Saya tidak akan berdoa di hadapan Kakek, tapi saya akan mendoakan di depan Gohonzon.” Pada saat beliau meninggal, keluarga besar berpikir saya akan hadir dengan jubah biksu, tapi saya tidak melakukannya. Saya hadir dengan memakai setelan jas. Karena tahu bahwa kakek adalah pengurus Kuil Nembutsu, saya siap datang untuk memberi hormat. Karena itulah saya memakai jas dan hanya duduk di sana. Meskipun Anda hanya seorang diri yang syinjin dalam keluarga besar, yang penting adalah Anda tetap menunjukkan sikap semangat syakubuku. Sikap ini akan menjadi awal dari syakubuku keluarga besar Anda, walau makan waktu untuk melaksanakannya. (Sumber: Pertemuan Wanita DKI, 7 Desember 2022)
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 MENDIDIK ANAK 39 Anak Protes PERTANYAAN: Saya memiliki tiga anak. Anak terbesar, laki-laki berusia 11 tahun, sering bilang bahwa saya tidak sayang padanya. Dia selalu merasa saya lebih sayang pada adik perempuannya yang kecil. Kalau dia mengisengi adiknya dan saya marah, dia selalu bilang saya membela adik dan tidak sayang padanya. Padahal, saya paling sayang padanya. Dia pernah mengatakan, “Alangkah enaknya kalau tidak ada adik, jadi Mama hanya sayang aku.” Saya khawatir nanti kalau sudah dewasa anak itu jadi pendendam. Bagaimana cara menghadapi anak itu supaya dia yakin kalau saya tidak pilih kasih? Saya sering emosi kalau anak-anak sedang berulah dan ingin memukul mereka. Bagaimana agar bisa menghadapi anak dengan sabar? A di D Saya Pilih Kasih JAWABAN PANDITA UTAMA RUSDY RUKMARATA (ALM.): SAYA merasa Ibu terlalu memanjakan anak terbesar itu, sehingga dia tidak biasa untuk berbagi, dan merasa semua harus yang utama buat dia. Ibu harus mengajarkannya untuk berbagi. Kalau tidak, nanti akan jadi problem. Kekurangan Ibu adalah tidak mendidik anak-anak untuk saling menyayangi. Akhirnya, mereka jadi berfokus pada “Mama lebih sayang siapa”. Karena itu, Ibu harus mendidik mereka untuk saling menyayangi. Saya sendiri kurang ada pengalaman karena saya adalah anak tunggal. Tapi, saya lihat istri saya mendidik anak-anak seperti itu, dan saya mendukungnya. Memang, anak cowok suka punya kecenderungan mengisengi adik cewek seperti
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 40 MENDIDIK ANAK mengisengi anak cowok. Hal ini memang problem buat anak cewek. Saya sering mengatakan pada anak saya yang cowok, bahwa cewek itu beda dengan cowok, seperti halnya bapak dan ibu juga beda. Kamu tidak boleh menganggap adik cewek sama seperti cowok. Kita harus membiasakan anakanak menuntaskan masalah, dan jangan menyimpan marah benci dalam hati. Janganlah berhenti kalau masalah belum selesai. Misalnya, dulu anak bungsu saya menangis karena diisengi oleh kakaknya, maka saya mengharuskan kakaknya minta maaf, dan dia juga harus memberi maaf pada kakaknya. Dengan demikian, perselisihan selalu berakhir dengan berpelukan. Kalau tidak tuntas, akibatnya ketika nanti anak sudah besar akan timbul berbagai masalah. Karena itu, setiap masalah harus dituntaskan mumpung masih kecil. Meskipun nanti bisa terjadi lagi secara berulang, itu tidak masalah. Untuk itu, ada orang tua yang selalu mengingatkan. Intinya, jangan membiarkan masalah bertumpuk menjadi dendam. Kalau belum tuntas,
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 MENDIDIK ANAK 41 itu harus terus dibicarakan, sampai akhirnya suasana cair, dan mereka bisa tertawa bersama lagi. Masalah anak sulung Ibu bisa terjadi karena selama ini Ibu yang berinteraksi ke anak, sedangkan di antara anakanak sendiri tidak ada suasana. Inilah yang harus dibangun. Sebagai orang tua, kita sayang anak sesuai kebutuhan anak masing-masing, dan membangun kebersamaan di antara mereka. Ketika anak masih kanakkanak, tidak ada perbedaan cewek-cowok. Tapi, pada umur tertentu, secara fisik mereka akan berbeda. Misalnya, laki-laki mainnya lebih kasar, bisa berantem. Tapi, kalau dilarang dan sedikit-sedikit ditegur bisa membuatnya jadi seperti cewek. Jadi, kadang perlu dibiarkan, kecuali sudah keterlaluan. Hal ini perlu dipahami oleh orang tua. Untuk mendidik anak, Ibu kadang harus mempercayakan masalah pada suami, jangan hanya jalan sendiri. Kadang ada baiknya suami yang bicara pada anak-anak, tapi tentunya harus satu policy dengan Ibu. Pada hal tertentu, lebih baik bapak yang bicara secara laki-laki dengan anak cowok. Misalnya, saya katakan pada anak saya yang cowok bahwa cewek dan cowok itu beda, kamu kadang harus mengalah sama cewek. Ketika lebih dewasa, saya katakan, kamu harus sayang sama adik cewek, kalau tidak nanti susah dapat cewek atau pacar. Kalau saat kecil anak-anak tidak saling menyayangi, nanti sudah besar mudah ribut. Sekarang ribut soal siapa yang paling disayang ibu, bisa jadi nanti besar ribut masalah warisan. Karena itu, mumpung anakanak masih kecil, sekarang bisa diajarkan untuk saling menyayangi, saling support. Anak yang besar bisa diberi tanggung jawab untuk membantu Ibu. Sayang itu bukan berarti selalu dimanja. Diberi tanggung jawab juga bentuk dari sayang. Bagaimana menghadapi anak dengan sabar? Kita bisa sabar dan tidak terpancing emosi kalau kita mengerti bahwa anak itu manusia. Kalau anak disuruh harus menurut, itu sersan dan prajurit. Akhirnya tegang dan tidak ada suasana, kita jadi emosi.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 42 MENDIDIK ANAK JAWABAN PANDITA UTAMA AIKO SENOESOENOTO: ANAK berusia 11 tahun itu termasuk sudah besar dan sudah bisa diajak membantu orang tuanya. Ketika saya kelas 6 SD, ibu saya minta saya menjaga kedua adik saya. Saya mengurus sekolah dan mengambil rapor mereka. Hal ini juga saya terapkan pada anak saya. Perbedaan umur mereka tidak sejauh umur saya dengan adik-adik saya. Tetapi, saya membiasakan anak yang besar membantu manage pekerjaan di rumah agar dia bisa berperan lebih dalam keluarga. Ibu boleh mencoba beri tanggung jawab pada anak. Misalnya, minta dia bantu sesuatu dan katakan, “Kamu sudah besar, adik-adik masih kecil, kamu bantu Mama menjaga adik.” Tapi, yang namanya anak suka lupa. Seperti salah satu anak saya yang laki-laki, bapaknya sudah sering mengingatkan untuk isi form pajak, karena dia sudah punya penghasilan. Dia selalu menjawab oke, dan selalu lupa. Akhirnya, dia mendapat surat teguran dari kantor pajak. Hal itu bisa terjadi setiap tahun. Tapi, kami mengingatkan terus, karena ini memang tugas orang tua. Ibu mengatakan paling sayang anak yang ini. Ibu harus hatihati dengan pembicaraan ini. Kalau sampai anak Ibu yang lain dengar, hal ini akan bisa menimbulkan konflik. Efeknya bisa negatif bagi yang paling disayang atau yang bukan. Sayang anak harus sama rata semua. Sayang bukan berarti memanjakan, tapi kadang jika ada salah juga harus dimarahi. Kalau kita hadapi anak-anak mudah emosi, karena kita ingin mereka menuruti kata-kata kita. Sebaliknya, kita tidak akan emosi kalau kita mengerti bahwa mereka pasti tidak menurut, dan akan sabar menghadapinya. Kadang kalau barang anakanak berantakan, saya minta mereka bereskan, tapi lama banget. Sampai-sampai saya emosi, padahal itu juga untuk kenyamanan mereka. Kadang saya tidak sabar dan lalu merapikannnya. Mereka malah tertawa-tawa meledek, bilang saya rajin amat. (Sumber: Pertemuan Wanita DKI, Juli 2022)
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 KARIER 43 Buka Usaha Belum lama ini, saya buka usaha bakmi ayam. Tapi, usaha ini tidak tahan lama dan gulung tikar karena modalnya habis. Keuntungannya campur aduk terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Lalu, saya coba membuat neraca, kemudian beralih untuk menjual ketupat sayur, tapi sepi. Saya mau balik usaha bakmi, tapi sementara modal belum cukup. Apa yang harus saya lakukan supaya jangan gagal lagi? D di J PERTANYAAN: Modal Dasar
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 44 KARIER JAWABAN PANDITA UTAMA AIKO SENOSOENOTO: KALAU mau buka usaha makanan, pertama-tama harus pastikan dulu bahwa masakannya enak. Kalau gagal, harus ada evaluasi dan cari tahu mengapa dagangannya sepi dan tidak laku. Supaya ada perbaikan dan tidak mengulang kesalahan yang sama. JUAL makanan itu termasuk produksi, bukan dagang. Kalau dagang itu seperti buka warung sembako. Karena ini adalah produksi, maka modal utamanya bukan uang, tapi skill. Karena itu, pertama-tama yang harus dimantapkan itu adalah skill atau kemampuannya membuat makanan enak. Setelah itu baru modal uang. Mengapa kamu mau buka usaha bakmi? Jangan-jangan karena melihat orang lain berhasil. Kalau hanya melihat orang lain berhasil, berarti kamu dasarnya belum tentu suka dan bisa membuat bakmi. Orang yang berhasil itu mungkin dasarnya keluarganya suka makan bakmi dan dari situ dia berkembang untuk menjual bakmi. Kalau dasar hanya suka uang dan bukan makanannya, maka makanan yang dijual pasti kurang menarik. Kita pasti akan lebih berhasil jika melakukan sesuatu yang kita senangi daripada hanya mencari untung. Jangan-jangan di sinilah letak kesalahan Bapak. Ada umat yang buka bengkel dan sangat maju bengkelnya. Saya lihat dia maju karena dasarnya dia memang hobi otomotiif dan suka utak-atik motor, akhirnya jadi buka bengkel. Modal awalnya adalah hobi dan senang. Sekarang bengkelnya semakin lama semakin besar. Sebaliknya, kalau orang yang berpikir, daripada menganggur, lumayan buka bengkel, tahu-tahu bengkelnya sepi. Karena itu, kalau bicara modal untuk produksi, modal utama kita adalah jujur dengan apa yang kita suka dan kuasai, bukan hanya modal uang dan perhitungan keuntungannya saja. (Sumber: Buddhologi umum, Maret 2023) JAWABAN PANDITA UTAMA RUSDY RUKMARATA (ALM.):
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 GAUL 45 Di dalam keluarga, hanya saya sendiri yang umat BDI. Rasanya kalau bekerja sama dengan orang tua yang ada di Vihara jauh lebih gampang. Rasanya bisa satu hati dan bisa saling pengertian karena sama-sama gongyo daimoku dan ikut pertemuan. Kalau dengan orang tua sendiri yang bukan umat, apalagi ada perasaan benci, gimana, ya? C di S PERTANYAAN: Susah Bekerja Sama dengan Orang Tua Sendiri JAWABAN PANDITA UTAMA AIKO SENOSOENOTO: ORANG tua sendiri dan orang tua yang ada di BDI itu sama-sama manusia. Pertama-tama, menurut saya, jangan membenci orang tua sendiri. Kebencian inilah yang membuat kamu sulit bekerja sama dengan orang tua sendiri. JAWABAN PANDITA UTAMA RUSDY RUKMARATA (ALM.): JUSTRU terhadap orang yang bukan umat BDI, kita nggak boleh benci. Tetapi, bukan berarti boleh benci dengan sesama umat, ya. Kita harus melihat semua orang yang non-umat ini calon umat, meski orang tua sendiri. Rasanya ada kesombongan dalam diri kamu. Saat menghadapi masalah dengan orang tua sendiri, kamu merasa persoalannya adalah karena orang tua kamu bukan umat BDI. Artinya, kamu ingin orang tua yang berbeda dari yang sekarang, entah berbeda perilakunya atau sifatnya. Mungkin juga kamu ingin orang tuamu menjadi seperti salah satu orang tua yang ada di Vihara.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 46 GAUL Justru karena kita adalah umat BDI dan kita percaya Gohonzon, kita akan punya kemampuan untuk mencoba mengerti dulu. Coba mengerti bahwa karena memang orang tua kamu belum syinjin, maka pemikirannya berbeda. Kalau kamu mau mencoba mengerti, pelan-pelan kita akan bisa membangun komunikasi dengan orang tua. Mudahmudahan dia bisa menjadi umat juga. Inti dari syakubuku sebenarnya adalah maitri karuna. Maitri karuna itu sayang, lebih dari sayang biasa. Kita mau benar-benar mengerti orang itu. Untuk bisa syakubuku, awalnya dari situ. Jadi, pertama-pertama kita harus membuktikan dulu bahwa karena percaya Gohonzon, kita menjadi orang yang lebih pengertian. Dengan demikian, orang akan melihat bahwa seperti inilah orang yang percaya Gohonzon. Karena, dalam masyarakat secara umum juga seperti itu. Terkadang orang menilai suatu agama dari perilaku umatnya. Kalau bertemu dalam kondisi baik-baik tentu tidak masalah. Tetapi, kalau kamu sering onsyitsu, marah-marah, orang akan melihat, oh seperti ini umat BDI. Karena itu, dengan sungguhsungguh syinjin dan belajar kata-kata Buddha, pelanpelan kita akan bisa menjadi orang yang maitri karuna sehingga bisa membangun kebahagiaan di mana pun kamu berada.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 DINAMIKA 47 DINAMIKA PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 47
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 48 DINAMIKA PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 48 DINAMIKA