PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 DINAMIKA 49 PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 DINAMIKA 49
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 50 DINAMIKA PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 50 DINAMIKA
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 DINAMIKA 51 PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 DINAMIKA 51
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 52 DINAMIKA PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 52 DINAMIKA
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 DINAMIKA 53 PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 DINAMIKA 53
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 54 DINAMIKA
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 DINAMIKA 55
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 56 DINAMIKA
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 DINAMIKA 57
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 58 DINAMIKA Kensyu HUT ke-34 Vimalakirti Sempidi (Bali, 18-19 Februari 2023) Mau Sayang Kok Nuntut MASA Covid-19 sudah berlalu dan keadaan sudah berubah. Namun, dari hasil evaluasi, ditemukan bahwa masih banyak umat yang merasa susah sayang orang lain, entah itu keluarga, pasangan, teman ataupun sesama umat di Susunan. Sebenarnya, tidak kurang pertemuan yang membahas hal ini. Namun, realitasnya, memunculkan rasa sayang itu tidak mudah. Kecenderungan yang sering muncul adalah menunggu orang lain melakukan action ke diri kita. Tidak mau memulai lebih dulu. Ada perasaan ingin dihargai sehingga jika memulai dahulu kok rasanya tidak pantas. Permasalahan yang sama juga terjadi di keluarga, antara suamiistri dan anak yang sering saling menuntut. Oleh karena itu, kami mengundang Pandita Utama Aiko Senosoenoto dan Pandita Utama Rusdy Rukmarata sebagai narasumber di Kensyu HUT Vihara kami pada 18-19 Februari 2023. Hadir juga Pandita Utama Alim Sudio dan diikuti oleh 320 orang umat dari Nusabali. Adapun tema kali ini adalah “Mau Sayang Kok Nuntut”. Semua permasalahan dibahas
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 DINAMIKA 59 dalam pertemuan fenomena dan pertemuan tanya-jawab. “Dalam agama kita, sayang itu protektif. Maksudnya menjaga diri dari iblis dirinya sendiri. Memproteksi diri dari sifat buruk yang mengundang jodoh buruk, itu yang harus dibina. Proteksi diri kita terhadap iblis dari diri orang yang kita sayang,” kata Mas Rusdy. Sementara, Mbak Aiko menambahkan, “Dengarkan dulu apa yang disampaikan orang, baru kita bisa menuju sayang.” Melalui kensyu HUT ke-34 Vimalakirti ini, kami semua ingin bisa sayang orang lain. Kami mempersiapkan acaranya dengan sepenuh hati karena kami juga kangen suasana kensyu offline. Suasana gembira dengan acara malam kesenian sangatlah menghibur. Melalui kensyu kali ini, banyak hal yang bisa diambil pelajarannya dari jawaban fenomena yang dihadapi umat. Terima kasih kepada Mbak Aiko dan Mas Rusdy atas sharing pengalaman yang begitu maitri karuna. Dalam kesempatan ini, Mas Rusdy mengatakan, ternyata kekuatan Gohonzon ada di Bali dan baru terlihat sekarang. Sebenarnya, umat Bali punya kemampuan untuk membangun vihara tapi kesadarannya tidak muncul. Masih kurang berani membangun Susunan. Kemajuan susunan menjadi tantangan kami untuk menjalankan syakubuku dengan adanya Vihara Vimalakirti Sempidi. (Wahyuni)
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 60 PENDIDIKAN BIKSU Tugas Biksu Pendidikan Di Mieido Mieido dibangun oleh Biksu Tertinggi ke-2, Nikko Shonin. Di sini disemayamkan Gohonzon dan patung replika Nichiren Daishonin. Mieido merupakan bangunan kuil yang utama di Kuil Pusat yang digunakan untuk menyelenggarakan dua upacara agung utama dan beberapa upacara penting lainnya. Pendidikan Biksu di Kuil Pusat (50)
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PENDIDIKAN BIKSU 61 Para biksu pelajar tingkat SMA di Daibo menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka secara bergiliran (tsumeban) di bagian resepsionis dan keamanan. Tugas tsumeban ialah berjaga di resepsionis yang berlokasi di bagian luar tempat duduk Mieido, melayani altar, membersihkan bagian dalam dan luar Mieido, serta membunyikan lonceng besar pada waktu tertentu. Baik pada musim panas maupun musim dingin, ketika melihat umatumat yang mengunjungi Mieido dan menjalankan shodai dengan tulus, para biksu pelajar semakin bersemangat dan membangun hati kepercayaan dengan lebih kuat. Myokyo Juni 2020 (333)
Ikegami Munenaka dan Ikegami Munenaga adalah dua bersaudara penganut ajaran Nichiren Daishonin. Sayangnya, Yasumitsu, ayah mereka, menganut sekte lain dan sangat membenci Nichiren Daishonin. Sang ayah bahkan memutuskan hubungan dengan Munenaka. Ia juga mengancam tidak akan memberikan warisan keluarga pada Munenaga jika tidak berhenti menjadi penganut.
Nichiren Daishonin pun membimbing mereka dengan mengajarkan bahwa balas budi yang sesungguhnya kepada orang tua adalah dengan pencapaian kesadaran Buddha melalui pelaksanaan yang sesungguhnya. Nichiren membimbing mereka untuk bersatu hati, seperti sepasang sayap burung atau sepasang mata manusia, mengatasi segala kesulitan dengan hati kepercayaan yang kuat.
Meski ditentang, Ikegami Bersaudara tetap bersungguh-sungguh berusaha untuk syakubuku ayahnya. Kesungguhan hati mereka akhirnya membuat hati ayahnya luluh. Pada tahun 1278, Munenaka diterima kembali oleh ayahnya. Dan setelah bertahun-tahun menolak, akhirnya ayah mereka menjadi penganut Ajaran Niciren Daisyonin.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 CERMIN KEHIDUPAN 65 Aku Bisa Berkarya Karena berani memilih syinjin, hidupnya berubah total dari seorang gadis kecil di Desa Timokerep hingga menjadi modiste yang ikut berkarya untuk event tingkat dunia. Dedet Ningsih (38 tahun, Jakarta) Mengenal Agama Buddha Aku lahir dalam keluarga dengan orang tua yang berbeda agama. Mungkin karena perbedaan filsafat yang dianut, mereka sering berbeda pendapat dan kerap ribut. Sejak kecil aku melihat Bapak dan Ibu ribut. Kalau mereka ribut, kami, kelima anaknya selalu menjadi sasaran pelampiasan Ibu. Aku kenyang dimarahi Ibu. Kalau sedang kesal, aku sering melarikan diri ke rumah tante dan curhat pada sepupuku. Tante dan keluarganya beragama Buddha Nichiren Shoshu. Sepupuku pernah mencoba syakubuku keluargaku, tapi hanya dua kakak yang ikut dia ke vihara. Sedangkan aku masih kecil, belum mengerti dan belum tertarik. Namun, kedua kakakku juga tidak terlalu lama mengikutinya. Satu Karena Gohonzon
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 66 CERMIN KEHIDUPAN berhenti ke vihara karena dilarang oleh suaminya. Satu lagi karena hamil. Semakin dewasa aku semakin gerah dengan suasana di rumah karena perselisihan Bapak dan Ibu yang tak kunjung henti. Ketika berusia 14 tahun, aku mulai tertarik untuk datang ke vihara. Di situ aku mengenal Pak Wahyu (mendiang). Aku senang ngobrol dengan beliau karena selalu mendapat semangat hidup darinya. Saat lulus SMP, aku pilih melanjutkan SMA di Salatiga karena sekolahnya dekat dengan sentrum, tempat Pak Wahyu dan keluarga tinggal. Tapi, Bapak minta aku pindah ke sekolah yang dekat dengan rumah karena takut aku masuk agama Buddha. Namun, begitu ada kesempatan aku selalu pergi ke vihara. Akhirnya, Bapak mengetahui hal ini dan mengumpulkan seluruh keluarga untuk menyidangkan aku. Seluruh keluarga mendukung Bapak, tidak setuju aku jadi Buddhis. Bapak minta aku pilih, jadi Buddhis atau pindah sekolah dan tidak boleh bertemu dengan orang vihara lagi. Aku memilih Agama Buddha dan berhenti dari sekolah yang dekat sentrum. Akhirnya, pada tahun 2005, aku menerima Gojukai dan tahun 2012 menerima Gohonzon. Mengapa aku memilih syinjin? Karena sejak kecil aku melihat Ibu hidupnya tidak bahagia, meskipun rajin berdoa. Ibu sering tidur dengan aku dan sering menangis di malam hari. Waktu aku berusia enam tahun, Ibu pernah minggat dari rumah hingga Mengikuti Tozan 2019
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 CERMIN KEHIDUPAN 67 untuk menjenguk karena aku sudah menetapkan hati untuk hidup mandiri. Ketika itu, kebetulan ada transito Sekolah Samanthabadra di Boyolali. Aku ingin mendaftar masuk SMA dan mohon izin pada Bapak. Bapak diam saja tidak memberi respons. Aku nekat dan mendaftar sendiri. Ketika hendak pergi mendaftar, bis yang aku tumpangi kecelakaan sehingga akhirnya aku gagal mendaftar. Merantau ke Jakarta Tahun 1999, salah seorang pembina dari pusat datang berkunjung, dan aku ditawari untuk menjadi staf butsugu (kios yang menjual alat sembahyang dan lain-lain) di Kantor Pusat BDI, Jakarta. Tawaran ini sangat didukung oleh Bapak dan Ibu Wahyu. Sebaliknya, ketika minta izin sama Ibu, aku tidak diladeni. Tapi, aku tetap menetapkan hati untuk berangkat ke Jakarta. Tahun 2003, ketika Mbak Aiko (Ketua Umum MNSBDI -red) mengadakan safari di Timokerep, aku ikut untuk sekalian menengok orang tua. Saat di sana, sekretaris pribadi Mbak Aiko menawarkan aku untuk menjadi penari di EKI satu tahun lamanya. Selama itu, akulah yang menjaga adik. Setahun kemudian, Bapak menjemputnya kembali. Setelah kembali ke rumah, mereka ribut lagi. Sejak berhenti sekolah, aku tambah sering ke vihara, apalagi kalau ada kunjungan pembina dari pusat. Aku betah di vihara dan baru pulang hingga jam sebelas malam. Suatu malam, ketika aku pulang, Ibu marah dan mengunci pintu, lalu mengusirku seraya berkata, “Sana minggat saja ikut Ibu Wahyu, kamu bukan anakku lagi!” Aku sakit hati dan menangis. Aku merasa dibuang dan tidak dianggap anak lagi oleh Ibu. Akhirnya, aku pergi menginap di sentrum. Dari cuma menumpang satu malam, akhirnya aku pindah ke sentrum, dan bekerja di sebuah toko di Salatiga. Aku sangat suka pada kegiatan di vihara, tiap hari bisa gongyo daimoku bersama, kunjungan, pertemuan, dan latihan kesenian. Aku merasa tenteram di sini. Tiga bulan kemudian, omku yang sudah syinjin menasehati aku dan akhirnya aku kembali lagi ke rumah. Tapi, aku datang hanya
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 68 CERMIN KEHIDUPAN Dance Company. Kembali dari safari, aku masuk EKI. Ternyata, pendidikan untuk menjadi penari sangat keras. Aku sering dimarahi karena gerakanku sering tidak stabil. Di kemudian hari, saat aku sakit alergi berkepanjangan, hasil diagnosis dokter menemukan bahwa aku punya gejala stroke ringan. Selain itu, ia juga menyatakan ada ketidakseimbangan antara motorik dan sensorik tubuhku. Hal ini menyebabkan otak tidak sepenuhnya bisa menggerakkan badanku, dibandingkan untuk menghitung dan berkreasi. Pantas saja di setiap latihan menari dengan gerakan putaran ke kiri, aku seringkali menemui kesulitan dan gagal melakukannya. Dari Penari Jadi Modiste Tahun 2012, setelah sembilan tahun menjadi penari, akhirnya dengan berat hati aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku tidak lulus sebagai penari karena penyakit itu. Kemudian, aku dimutasi ke bagian kostum. Di sini aku mulai belajar dari mulai membongkar baju sampai menjahit. Aku jadi asisten (alm.) Kak Elly, salah seorang pengajar tari dan penanggung jawab kostum di EKI saat itu. Aku memilih bagian kostum karena terinspirasi dari kegiatan Reach dan Idefest. Karena sering terlibat jadi panitia kelas fashion dan kelas wardrobe, akhirnya aku jadi tertarik. Di bagian kostum EKI aku belajar banyak hal. Bukan hanya menjahit, tapi juga mulai tahu jenis dan karakter kain. Makin lama aku semakin tertarik. Ditambah aku bisa mendapatkan banyak masukan dari Google. Dari bekerja di bagian kostum, aku mendapat banyak sekali pengalaman. Dari Art I Art (Studio seni untuk anakanak yang didirikan oleh EKI), aku belajar bagaimana memanfaatkan bahan bekas dan bahan sisa untuk jadi kostum pemain anak-anak untuk menghemat biaya. Selain itu, aku juga mendapat kesempatan untuk membantu desainerdesainer terkenal Indonesia dalam membuat kostum. Aku juga menambah ilmu dengan masuk sekolah menjahit. Tapi, ilmu terbesar kuperoleh dari pekerjaanku di lapangan. Dari modal pengalaman dan arahan dari mendiang Mas Rusdy (Pandita Utama Rusdy Rukmarata –red), aku mulai
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 CERMIN KEHIDUPAN 69 Senang bisa ikut berkarya di Musikal Ken Dedes Senang bisa mengajak keponakan ikut REACH Bersama Bapak Ibu, kakak adik dan keponakan berani menerima jahitan pakaian dan membuat kostum pertunjukan. Mulai dari bekerja sendiri dan dibantu kru teman-teman dari penari EKI –yang lamalama sudah tidak memadai– aku mulai mempekerjakan penjahit profesional. Ini pun tidak mudah. Tidak semua bisa memenuhi kebutuhan sesuai harapan. Akhirnya, aku menemukan orang yang bisa diandalkan. Tentu saja gajinya juga lumayan tinggi, hampir sepadan dengan pemasukanku. Tapi, aku melakoni karena fokusku bukan di uang tapi di kepuasan berkarya. Dari pengalaman produksi kostum di berbagai pertunjukan EKI, terutama musikal akbar Ken Dedes, aku bisa mendapat kesempatan untuk bekerja pada orangorang dan komunitas kelas dunia. Aku juga pernah terlibat dalam tim kostum World Opera Lab Ine Aya untuk show-nya keliling empat kota, yakni Jakarta, dua kota di
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 70 CERMIN KEHIDUPAN Kalimantan, dan kota Amsterdam di Belanda. Tahun lalu, aku dipercayakan untuk ikut membuat kostum musikal dengan kain recycle atas kerja sama Garin Nugroho (Indonesia) dan Anna Tregloan (Australia). Sayang sekali aku tidak sempat menyaksikan pertunjukannya di Jerman dan Belanda karena menjelang berangkat aku terkena Covid-19. Saat ini, aku sedang mengerjakan kostum untuk penari di acara ASEAN Summit tahun ini di Labuan Bajo. Aku merasa bahwa semua yang aku capai ini bukan karena kepintaranku, melainkan kekuatan Gohonzon dan pendidikan di EKI serta pembinaan yang aku dapat di Susunan. Dulu, aku berangkat dari Timokerep dengan perasaan marah dan sakit hati pada keluarga. Setelah belajar banyak di EKI dan Susunan, lama–lama aku mulai bisa menerima dan mengerti soal karma. Kemudian, timbul rasa sayang dan rindu pada keluarga. Sebelum terjadi pandemi, aku sempat mengajak ibuku untuk kensyu ke Megamendung, dan terakhir ikut WNR di Jakarta. Beliau juga mengikutinya dengan gembira. Bapak dan Ibu sudah tidak anti lagi aku jadi Buddhis. Mas Rusdy sering mengingatkan aku untuk menerima latar belakang hidupku apa adanya, dan membangun akar yang baik di lingkungan yang baru. Dari Mbak Aiko aku belajar bagaimana sayang orang dan memberi harapan kepada orang untuk menggapai impiannya. Aku berusaha menerapkan teladan dari Mbak Aiko dengan membuat suasana, dan memberi kesempatan serta semangat pada kru dan karyawan yang aku rekrut dari luar. Aku berharap, suatu saat mereka bisa percaya Gohonzon dan lebih maju dalam hidupnya. Aku juga punya impian, suatu saat Indonesia memiliki gedung pertunjukan selevel Broadway, dan aku memiliki ruang kostum di dalamnya. Aku sangat berterima kasih pada Gohonzon, Susunan BDI, mendiang Mas Rusdy, dan Mbak Aiko serta teman-teman Tim EKI. Tanpa mereka, kehidupanku tidak mungkin bisa maju seperti sekarang ini. (Aryati)
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PROFESIONAL 71 Duit, Duit, Duit Lagi JIKA ada survei mengenai sesuatu yang dirasakan sebagai kebutuhan tetapi juga sering bikin masalah, maka bisa jadi urutan teratas adalah duit atau uang. Kalau punya banyak, suka bingung bagaimana menggunakannya. Ditaruh pada investasi takut ditipu, tapi kalau dipakai terus, khawatir habis. Dibiarkan saja, bikin gelisah, masa sih punya uang tapi tidak dipakai? Sementara, buat yang tidak punya uang juga bingung karena semua kebutuhan, ya, perlu uang. Bagaimana menyelesaikan urusan uang ini, ya? Dari pertemuan profesional muda di Jakarta dengan narasumber Pandita Utama Aiko Senosoenoto dan Pandita Utama Alim Sudio membahas masalah tersebut. Masalah pertama datang dari Wiwik, seorang manajer di sebuah perusahaan games atau e-sport. Menurutnya, saat ini kantornya terlalu mementingkan uang dan memotong habis anggaran untuk membangun komunitas. Mereka memecat beberapa karyawan, tetapi malah menaruh uang untuk bikin film dan hal lain. “Sekarang, saya hanya mengikuti saja maunya kantor, dan menghentikan kegiatan komunitas yang memang tidak diberikan anggaran untuk berkembang. Tetapi, saya ragu, apakah sikap saya salah?” tanya Wiwik. Pandita Aiko melihat kesesatan Wiwik justru ada pada pandangan mengenai uang. Wiwik percaya bahwa sesuatu hanya akan jalan jika ada uang. Hal ini sama dengan atasan atau pemegang kebijakan yang mengutamakan uang. Samasama menganggap uanglah yang utama. “Kalau divisi kita dipotong anggarannya, bukan berarti kita tidak bisa bergerak. Bikinlah
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 72 PROFESIONAL terobosan bagaimana membuat komunitas bisa hidup walau tidak diberikan anggaran,” kata Aiko. “Buktikan kalau kita tidak terikat uang.” Pandita Alim Sudio menyepakati perkataan Pandita Aiko seraya memberi contoh, “BDI bisa menggerakkan umat tidak dengan uang, tetapi membangun rasa semangat akan tujuan bersama. Umat menjadi pusaka yang ikut membesarkan BDI,” katanya. Dengan menggerakkan umat, walau tanpa tergantung dengan anggaran yang besar atau berlebih, kegiatan komunitas tetap ada. Terobosan bersama umat juga tercipta. “Kita fokus pada tujuan, tidak tergantung pada anggaran,” katanya lagi. Masalah terkait uang juga dihadapi Guritno yang sudah menabung bersama istri. Uang tabungan tersebut diambil dari gaji mereka selama bertahun-tahun. Kini, uang itu ada dalam jumlah yang lumayan. Namun, menurut Guritno, istrinya, sebagai pemegang kuasa uang tersebut, terlalu berpikir masa depan. “Uang tersebut digunakan untuk investasi dan asuransi kesehatan maupun pendidikan anak. Baik sih, tapi kesannya kok seperti tidak menikmati hidup ya?” ujar Guritno. “Kalau saya, ya beli TV, PlayStation, atau motor gede. Barang-barang yang memang saya inginkan dari dulu,” katanya lagi. Kini, Guritno harus minta uang sama istri. Kalau dianggap keperluannya memang penting, maka istri keluarkan uang itu. Kalau nggak, ya nggak keluar uang tersebut. Guritno merasa banyak uang, tapi kok tetap susah, ya? Menjawab Guritno, Mbak Aiko mengajak Guritno untuk menjadi kepala keluarga yang
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 PROFESIONAL 73 sesungguhnya, memikirkan tujuan dan masa depan serta keperluan dari keluarga. “Bukan lagi anak, yang kalau perlu, minta. Tapi, komunikasikan dengan istri, sebagai kepala keluarga, mau bagaimana dan ke mana keluarga ini. Untuk itu, kalian perlu menggunakan anggaran uang. Bukan sekadar mau TV, PlayStation, atau motor gede. Buat apa itu semua?” kata Mbak Aiko lagi. Pandita Alim menduga keinginan punya TV atau motor gede cuma kemauan sesaat yang kalau dipenuhi pun malah akan muncul kemauan lain yang ujungnya pemborosan. “Dendam karena dulu nggak punya, sekarang mau punya itu cuma alasan saja,” katanya. Menurut Alim, keluarga bukan perusahaan bareng, dengan anak sebagai produk. “Keluarga itu bagian dari usaha membangun masyarakat. Jadi, adanya uang adalah untuk membangun tujuan bersama, bukan lalu jadi pemenuhan kebutuhan pribadi,” tambahnya. Terakhir adalah Sasa, yang merasa butuh uang, butuh pekerjaan, tapi kok merasa terlalu dimanfaatkan oleh atasan karena harus kerja hingga tengah malam dan besok pagi kembali masuk kerja. Hal serupa juga dialami ketika masih tinggal di Sumatera. “Kenapa karma saya selalu seperti dimanfaatkan begini ya?” ujarnya. Mbak Aiko mengajak Sasa untuk bersyukur dan berterima kasih karena ada bos yang percaya pada Sasa. “Kadang kita yang merasa dimanfaatkan, padahal buat bos juga memberikan pekerjaan, berarti percaya dan ada hubungan baik. Mungkin kitalah yang canggung,” kata Mbak Aiko. Pandita Alim lebih mengarah pada rasa cinta tanah air. “Kalau tidak cinta pada apa yang kita punya, kita akan merasa selalu ada yang kurang dan bikin nggak puas. Kerja di EKI, tidak ada uangnya. Jadi orang kepercayaan, nggak punya waktu. Begitu juga soal jodoh, selalu ada kurangnya. Kita harus bisa terima dan bersyukur, itu yang utama,” kata Alim lagi. Bisa jadi, kuncinya adalah bagaimana kita bisa terima dan mau bersyukur. Karena, uang dalam jumlah banyak bisa menjadi masalah, tapi jumlah sedikit juga menjadi masalah. Sudahkah kita bersyukur? (Seti)
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 74 GOSYO KUTIPAN GOSYO SURAT BALASAN KEPADA UENO DONO (UENO DONO GOHENJI) Ditulis pada tanggal 20 bulan 4 tahun 1279 (Tahun Koan Kedua), Ketika Nichiren Daishonin berusia 58 tahun. Diceramahkan oleh Biksu Tertinggi Ke-68, Nichinyo Shonin, pada tanggal 22 Juni 2013 Percayalah pada Saddharmapundarika-sutra seperti Anda menginginkan makanan ketika sangat kelaparan, menginginkan air ketika sangat kehausan, merindukan seseorang yang dicintai ketika berpisah, membutuhkan obat ketika sakit, atau seperti wanita cantik menginginkan pewarna bibir dan bedak. Jika Anda tidak bersikap demikian, Anda akan menyesal. (Gosyo hlm. 1361) PENJELASAN KALIMAT ini berasal dari Gosyo yang kita pelajari pada dua sesi sebelum ini. Dua kutipan gosyo sebelumnya diambil dari isi surat, sedangkan kutipan yang kita baca sekarang ini adalah catatan kakinya. Gosyo ini diberikan kepada Nanjo Tokimitsu pada tanggal 20 bulan 4 tahun 1279 (Koan kedua), ketika Nichiren Daishonin berusia 58 tahun. Pada bagian awal gosyo ini, Nichiren Daishonin menulis tentang pemenggalan di Tatsunokuchi dan penganiayaan Tojo-Komatsubara, serta menjelaskan bahwa beliau
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 GOSYO 75 mengalami “penganiayaan pedang dan tongkat”. Di lokasi penganiayaan Tatsunokuchi, Nichiren Daishonin hampir dipenggal dengan pedang. Di Komatsubara, tepatnya di Desa Tojo, Tojo Kagenobu ingin membunuh Nichiren Daishonin dengan pedang. Karena hal itu, Gosyo ini juga diberi judul “Perihal Penganiayaan dengan Pedang dan Tongkat (Tojo Nanji),” atau “Perihal Tongkat Kayu (Jobokusyo)”. Di sini, nama Ueno-Dono menunjuk pada Nanjo Tokimitsu. Sebelumnya saya sudah pernah menjelaskan tentang Nanjo Tokimitsu, namun karena hari ini yang hadir umatnya berbeda, maka saya akan menjelaskannya sekali lagi. Nanjo Tokimitsu adalah umat yang mendirikan Kuil Pusat Taisekiji. Kota Fujinomiya, Perfektur Shizuoka, tempat berdirinya Kuil Pusat Taisekiji, pada masa lampau disebut Desa Ueno, Daerah Fuji. Seperti halnya Anda menggunakan nama daerah tempat tinggal kerabat untuk memanggil mereka, seperti Paman Bogor atau Tante Makassar. Begitu juga, Nanjo Tokimitsu dipanggil berdasarkan tanah tempat tinggalnya, yaitu Ueno-Dono. Sekarang sudah tidak ada lagi nama Ueno dalam alamat. Namun nama Ueno masih digunakan sebagai nama sekolah yaitu Sekolah Dasar Ueno, Sekolah Menengah Pertama Ueno, dan sebagainya. Seiring berlalunya waktu, karena nama tempat berubah, masyarakat sudah tidak mengetahui makna dari Ueno-Dono. Namun pada zaman dahulu, daerah ini disebut Ueno. Karena itu Nichiren Daishonin juga memanggil Nanjo Tokimitsu sebagai Ueno-Dono. Nama aslinya adalah Nanjo Hyo-e Shichiro-jiro Tairano Tokimitsu. Nama Buddhisnya adalah Daigyo. Nama ayahnya adalah Nanjo Hyo-e Shichiro dan nama Buddhisnya adalah Gyozo. Karena Tokimitsu adalah anak laki-laki kedua, maka namanya menjadi Nanjo Hyo-e ShichiroJiro [ji artinya kedua, dan ro digunakan sebagai sebutan untuk anak laki-laki). Demikianlah cara orang zaman dulu memberi nama pada anaknya. Anak pertama adalah Taro, anak kedua Jiro, dan anak ketiga Saburo. Jadi saat kita mendengar nama seseorang, kita sudah mengetahui orang ini anak ke-berapa dalam keluarganya.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 76 GOSYO Jadi singkatnya, Tokimitsu memiliki seorang kakak laki-laki bernama Nanjo Hyo-e Shichirotaro. Namun kakaknya meninggal pada usia 18 tahun karena tenggelam. Setelah kakaknya meninggal, Tokimitsu menjadi anak tertua, dan pewaris jabatan tuan tanah Ueno. Kakak perempuan tertua Nanjo Tokimitsu adalah ibu dari Biksu Tertinggi Ketiga, Nichimoku Shonin. Kakak perempuan lainnya menikah dengan Ishikawa Shinbe Munetada, tuan tanah Omosu, Daerah Fuji (saat ini Kitayama, Kota Fujinomiya). Ia memiliki hubungan yang erat dengan keluarganya. Tokimitsu memeluk hati kepercayaan pada Ajaran Buddha Nichiren Daishonin sejak usia muda. Ia menganggap Nikko Shonin sebagai kakak gurunya, dan ia giat dalam pelaksanaan dengan hati yang tulus. Khususnya ketika Penganiayaan Atsuhara, Tokimitsu mengambil peran penting untuk melindungi sangha dan penganut, serta menuntaskan peran tersebut. Terdapat sebuah gosyo berjudul Surat Balasan kepada Ueno Yang Bijaksana (Ueno Kenjin Dono Gohenji), dan di sebelah nama penerima tertulis sebagai berikut. “Saya menulis surat balasan ini untuk berterima kasih kepada perilaku gagah berani yang Anda tunjukkan pada saat Penganiayaan Atsuhara.” (Gosyo hlm. 1427) Gosyo ini ditulis oleh Nichiren Daishonin. Beliau sangat menghargai tindakan Nanjo Tokimitsu yang menyelamatkan banyak orang saat penganiayaan Atsuhara. Nichiren kemudian memujinya dengan menyebutnya sebagai “Ueno yang bijaksana (Ueno Kenjin)”. Kemudian, nama hukum istri Tokimitsu adalah Myoren. Tokimitsu dan Myoren, keduanya menyumbangkan banyak gokuyo. Bahkan setelah Penganiayaan Atsuhara, mereka terus menyumbang gokuyo kepada Nichiren Daishonin dan Nikko Shonin. Padahal saat itu mereka berada dalam tekanan dari pemerintah yang bertubi-tubi, dan dalam kondisi kehidupan yang sulit untuk membesarkan banyak anak. Saat Nikko Shonin meninggalkan Gunung Minobu, Tokimitsu mempersilakan Nikko Shonin datang ke kediaman pribadinya. Bahkan di kemudian hari
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 GOSYO 77 ia menyumbangkan tanah Oishigahara sebagai fondasi Taisekiji. Seperti yang digambarkan di atas, Nanjo Tokimitsu bukanlah lelaki yang mudah takluk oleh kekuasaan dan penganiayaan. Ia mencurahkan hidupnya pada penyebarluasan Dharma agung. Ia benar-benar merupakan sosok teladan bagi umat. Karena itulah ia menerima lebih dari 30 surat dari Nichiren Daishonin. Khusus untuk memperingati hari meninggalnya Nanjo Tokimitsu, yakni setiap tanggal 1 Mei, di gedung Kyakuden, Kuil Pusat Taisekiji dilaksanakan “Upacara Daigyo-e.” Upacara ini dilanjutkan dengan ziarah ke makam almarhum di Kuil Pusat. Tradisi ini terus dijalankan hingga sekarang. Hal ini memperlihatkan betapa besar jasa Nanjo Tokimitsu. Jika kita melihat kembali Gosyo yang tadi kita baca, pada bagian awal, Nichiren Daishonin mengatakan bahwa di antara semua penganiayaan yang beliau alami, tidak ada yang melebihi pemenggalan Tatsunokuchi, dan penganiayaan Komatsubara yang terjadi di daerah Tojo. Dengan kata lain, meski Nichiren Daishonin menghadapi banyak penganiayaan, namun yang terberat adalah dua penganiayaan tersebut, yang hampir merenggut jiwa beliau. Penganiayaan Tatsunokuchi terjadi pada tanggal 12 bulan 9 tahun 1271 (Bunnei ke-8). Dalam peristiwa itu Nichiren Daishonin hampir saja dipenggal kepalanya di Tatsunokuchi, daerah Kamakura. Peristiwa ini didalangi oleh Ryokan dari Gokurakuji yang merasa dikalahkan Nichiren Daishonin saat berdoa untuk menurunkan hujan. Ia memanfaatkan pejabat pemerintah beserta istri mereka untuk membuat rencana jahat. Hal itu membuat Hei-no-Saemonno-jo Yoritsuna menyerang gubuk Nichiren Daishonin di Matsubagayatsu dengan membawa ratusan prajurit bersenjata, dan menangkap Nichiren Daishonin. Sho-u bo, salah seorang prajurit Hei-noSaemon merampas rol kelima Saddharmapundarika-sutra dari selipan jubah Nichiren Daishonin, dan memukulkannya tiga kali ke kepala Nichiren Daishonin. Dalam rol kelima itu terdapat Bab-13, Bab Anjuran Untuk
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 78 GOSYO Mempertahankan, yang menyatakan bahwa orang yang menyebarluaskan Saddharmapundarika-sutra di masa Akhir Dharma akan bertemu dengan penganiayaan pedang dan tongkat. Seperti Anda ketahui, rol Saddharmapundarika-sutra adalah kitab dalam bentuk gulungan kertas yang disebut Katsu-bon. Saddharmapundarikasutra terbagi menjadi 8 rol. Dan dalam rol kelima, terdapat Bab-13, Bab Anjuran untuk Mempertahankan, yang membabarkan penganiayaan dari tiga musuh kuat. Demikianlah, rol kelima Saddharmapundarikasutra itulah yang dipukulkan ke kepala Nichiren Daishonin. Terjadinya pemukulan dengan menggunakan rol yang menyatakan bahwa orang yang menyebarluaskan Saddharmapundarika-sutra di masa Akhir Dharma akan mengalami penganiayaan pedang dan tongkat, Hal ini berarti Nichiren Daishonin telah membuktikan kalimat dari Saddharmapundarika-sutra dengan mengalaminya melalui badan beliau sendiri. Nichiren Daishonin juga menyatakan bahwa melalui penganiayaan tersebut, beliau telah membaca Saddharmapundarika-sutra dengan badannya. Setelah terjadi peristiwa Matsubagayatsu, Nichiren Daishonin kemudian ditahan sementara di kediaman Hojo Nobutoki. Kemudian tanpa proses pemeriksaan apa pun, di tengah malam diam-diam pemerintah membawa Nichiren Daishonin ke tempat eksekusi di Tatsunokuci untuk melaksanakan hukuman pemenggalan beliau. Di tengah perjalanan ke lokasi pemenggalan, di depan Kuil Tsurugaoka Hachimangu Nichiren Daishonin berhenti, lalu menghardik Bodhisattva Hachiman dan mengingatkan, “Bodhisattva Hachiman! Mengapa engkau tidak melindungi pelaksana Saddharmapundarikasutra?” Setelah itu, Nichiren Daishonin mengirim utusan kepada Shijo Kingo untuk melaporkan situasi mendesak yang sedang dialami beliau. Mendengar itu Shijo Kingo langsung bergegas menemui dan menemani Nichiren Daishonin. Ia siap meninggal sebagai martir. Setibanya di tempat eksekusi, Nichiren Daishonin dengan tenang duduk menyebut Daimoku
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 GOSYO 79 di tempat pemenggalan. Ketika algojo hendak memenggal kepalanya, benda yang sangat menyilaukan mata melesat dari arah Pulau Enoshima. Apakah sebenarnya benda yang sangat menyilaukan ini? Nichiren Daishonin menunjukkan bahwa itu adalah fungsi perlindungan dari Dewa Candra, salah satu di antara Tiga Dewa Pelindung yakni Surya (matahari), Candra (bulan), dan Aruna (bintang). Dewa bulan muncul tepat ketika sang algojo ingin memenggal beliau. Dengan demikian algojo tidak dapat memenggal kepala Nichiren Daishonin. Banyak orang di tempat itu jatuh tersungkur, terlempar dari kuda, dan beberapa di antaranya melarikan diri. Gagalnya pemenggalan ini tidak terlepas dari peristiwa Nichiren Daishonin berhenti di depan Kuil Tsurugaoka Hachiman dan menghardik para dewa pelindung, “Apa yang sedang kalian lakukan! Sekarang ini, pelaksana Saddharmapundarikasutra sedang menghadapi kesulitan!” Karenanya Dewa Candra muncul untuk melindungi beliau. Setelah itu, Nichiren Daishonin diamankan di kediaman Homma Rokuro-Zaemon di Echi (saat ini Atsugi, Kanagawa), lalu diasingkan ke Pulau Sado. Satu hal lagi yang jangan Anda lupakan. Penganiayaan Tatsunokuchi memiliki makna yang penting dari sisi doktrin dan pembelajaran. Dalam “Surat Membuka Mata” dikatakan, “Orang bernama Nichiren telah dipenggal [dalam kedudukannya sebagai manusia biasa], antara waktu tikus dan kerbau (sekitar pukul 23.00- 03.00), tanggal 12, bulan 9, tahun lalu. Hanya jiwanya yang tiba di pulau Sado, di tengah hujan salju yang sangat lebat, tempat ditulisnya surat ini, pada bulan Februari tahun berikutnya. Jika surat ini dikirimkan kepada muridmurid terdekat saya, mungkin mereka akan merasa takut, namun bagi saya hal ini sama sekali tidak menakutkan. [Orang yang hati kepercayaannya lemah] akan sangat ketakutan setelah membaca surat ini.” (Gosyo hlm. 563) Dalam kalimat ini Nichiren Daishonin menjelaskan tentang ‘ditanggalkannya identitas sementara dan diungkapkan identitas sesungguhnya’ beliau. Kata “jiwa” di sini mengacu pada jiwa Tathagata Sambhogakaya dari masa teramat lampau kuon
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 80 GOSYO ganjo. Di tempat pemenggalan Tatsunokuchi tersebut, Nichiren Daishonin mengungkapkan identitas sesungguhnya beliau sebagai Buddha Pokok dari Shambogakaya. Penganiayaan lain yang dimaksud adalah saat Peristiwa Komatsubara. Kejadiannya sebagai berikut. Pada tahun Bunnei pertama (1264), ibu dari Nichiren Daishonin mengalami sakit kritis. Mendengar itu, Nichiren Daishonin pulang ke kampung halamannya di Awa (sekarang adalah Chiba). Saat ibunya sedang dalam keadaan kritis, Nichiren Daishonin pulang untuk mendoakan kesembuhannya. Dalam gosyo perihal Karma Tetap dan Karma Tidak Tetap (Ka’enjogo Gosyo) dikatakan, “Ketika saya mendoakan ibu saya, bukan hanya penyakitnya yang sembuh, namun hidupnya juga diperpanjang selama empat tahun.” (Gosyo hlm. 760) Berkat doa Nichiren Daishonin, ibunya sembuh dan dapat memperpanjang hidupnya selama empat tahun. Setelah itu Nichiren Daishonin menetap di kampung halamannya di Awa, dan menyebarluaskan Myoho di sana. Mendengar kepulangan Nichiren Daishonin, penganut beliau yang bernama Kudo Yoshitaka, tuan tanah di daerah Amatsu mengundang Nichiren Daishonin ke rumahnya. Pada tanggal 11 bulan 11, Nichiren Daishonin didampingi lebih dari 10 orang menuju ke kediaman Kudo Yoshitaka. Tojo Kagenobu mengetahui berita kunjungan ini dan segera melakukan penyerangan. Ketika Nichiren Daishonin untuk pertama kalinya menyebut Nam-Myoho-Renge-Kyo di Kuil Seichoji, Tojo Kagenobu sangat marah, dan ingin menyerang Nichiren Daishonin. Sebagai penganut Nembutsu, Tojo Kagenobu menganggap Nichiren Daishonin adalah musuh Nembutsu, sehingga sudah lama ia memendam rasa benci pada Nichiren Daishonin. Kemudian, ia mendengar Nichiren Daishonin pulang ke Awa dan hendak mengunjungi Kudo Yoshitaka. Karena itulah ia menyerang rombongan Nichiren Daishonin. Saat sore hari, ketika Nichiren Daishonin dan rombongan melewati Komatsubara, Tojo Kagenobu memimpin ratusan
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 GOSYO 81 prajurit bersenjata penganut Nembutsu untuk melakukan penyerangan. Murid-murid Nichiren Daishonin berusaha mempertahankan diri, namun jumlah mereka tidak sebanding. Dalam penyerangan itu murid Nichiren Daishonin, Kyonin-bo dan Kudo Yoshitaka tewas. Nichiren Daishonin sendiri dahi kanannya terluka sangat dalam akibat sabetan pedang Tojo Kagenobu. Dan juga tangan kanan beliau patah. Apa yang terjadi benar-benar penganiayaan berat yang hampir merenggut jiwa beliau. Situasi saat itu digambarkan beliau dalam Surat Kepada Nanjo Hyo-e Shichiro sebagai berikut. “Pada tanggal 11 bulan 11, di jalan utama bernama Matsubara, di Tojo, Propinsi Awa, antara waktu kera dan ayam (sekitar pk. 17.00), beberapa ratus penganut Nembutsu menyerang saya. Pada saat itu, saya, Nichiren, didampingi sekitar sepuluh orang, dan hanya tiga atau empat orang yang menguasai bela diri. Anak panah menghujani kepala kami. Pedang yang dihunuskan ganas bagaikan kilat. Salah seorang murid saya tewas seketika, dan dua penganut lainnya terluka parah. Saya sendiri terluka oleh pedang dan pukulan, sehingga nyaris berakhir.” (Gosyo hlm. 326) Luka Nichiren Daishonin yang didapat dari Tojo Kagenobu tersebut tetap membekas. Kemudian, mengenai Sho-ubo yang menyerang Nichiren Daishonin dengan rol kelima Saddharmapundarika-sutra, dalam Surat Balasan kepada Ueno dibabarkan, “Meskipun demikian, di kemudian hari Sho-u-bo pasti akan kembali bertemu Nichiren, dan pada saat itu ia akan mencapai kesadaran Buddha.” (Gosyo hlm. 1359) Hal ini berarti, orang yang memukul Nichiren Daishonin akan dapat mencapai pelaksanaan ajaran Buddha. Artinya, ia akan mencapai kesadaran Buddha. Hal ini sangatlah penting. Dalam gosyo ini, digambarkan bahwa perempuan yang menginjak-injak Saddharmapundarika-sutra dapat diselamatkan karena adanya jodoh menentang. Artinya, seseorang dapat diselamatkan dengan jodoh karma MyohoRenge-Kyo, baik dengan jodoh mengikuti maupun jodoh menentang. Jodoh mengikuti akan membuat seseorang
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 82 GOSYO mencapai kesadaran Buddha, namun jodoh menentang juga akan membuat seseorang mencapai kesadaran Buddha. Dalam gosyonya sendiri dibabarkan, “Pada suatu masa, di India ada seorang wanita yang pencemburu dan sangat membenci suaminya. Karena dipenuhi kemarahan, ia menghancurkan semua yang ada di dalam rumahnya. Kemurkaan telah mengubah penampilannya. Kemurkaan membuat wajahnya berubah menjadi merah padam, matanya membara bagaikan matahari dan bulan, dan mulutnya tampak menyemburkan bara api. Penampilannya persis seperti iblis merah atau biru. Dalam kondisi itu ia merampas rol kelima Saddharmapundarika sutra yang dibaca oleh suaminya selama bertahun-tahun, dan dengan brutal menginjak-injak sutra tersebut dengan kedua kakinya. Di kemudian hari, wanita itu meninggal dan jatuh ke neraka, kecuali kedua kakinya. Penjaga neraka berusaha memukul kakinya dengan tongkat besi agar jatuh, namun tidak berhasil. Karena kakinya menginjak-injak Saddharmapundarika-sutra, maka membangun jodoh dengan sutra ini. Meskipun ini adalah jodoh menentang, namun tetap menerima karunia kebajikan karenanya.” (Gosyo hlm. 1358) Lebih jelasnya sebagai berikut. Pada suatu masa di India terdapat perempuan pencemburu yang sangat membenci suaminya. Ia menghancurkan apa pun yang ada di rumahnya. Bahkan ia juga membenci Saddharmapundarikasutra yang selalu dibaca suaminya, sehingga ia menginjakinjak dan menendangnya. Ketika perempuan itu meninggal, ia langsung jatuh ke neraka. Akan tetapi, hanya kakinya yang pernah menginjak-injak dan menendang Saddharmapundarika-sutra saja yang tidak dapat jatuh ke neraka. Meski penjaga neraka sudah melakukan segala cara untuk menarik-narik kaki perempuan itu, namun tetap saja tidak jatuh ke neraka. Ini adalah karunia dari jodoh menentang. Dikatakan, “Adalah hal sulit untuk menyelamatkan makhluk hidup yang tidak memiliki jodoh karma.” Di sini ditunjukkan mengenai pentingnya menjalin jodoh dengan Ajaran Buddha. Hal ini juga mengacu pada pelaksanaan syakubuku kita. Dalam melaksanakan syakubuku, kadang-kadang ada orang yang
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 GOSYO 83 mengatakan, “Tidak mungkin orang seperti itu mau menerima syakubuku.” Kemudian menyerah melakukan syakubuku, namun hal ini tidak benar. Meski yang terjadi adalah jodoh menentang, namun juga dapat mengarahkan seseorang pada pencapaian kesadaran Buddha. Karena itu sangat penting bagi kita untuk menanamkan bibit kesadaran Buddha ini, dengan keyakinan bahwa “Ajaran Nichiren Daishonin adalah ajaran Buddha yang sesungguhnya.” Sekalipun seseorang menolak syakubuku yang kita laksanakan, hal tersebut akan menjadi jodoh menentang bagi dirinya. Di kemudian hari menjadi sebab baginya untuk menganut Ajaran Buddha sesungguhnya, sehingga pada akhirnya dapat mencapai kesadaran Buddha. Inilah yang ingin diajarkan dari cerita mengenai kaki perempuan yang menginjak-injak dan menendang Saddharmapundarika-sutra, yang tidak dapat jatuh ke neraka. Oleh karena itu syakubuku adalah menyampaikan kebenaran Ajaran Buddha Nichiren Daishonin kepada banyak orang yang berjodoh dengan kita. Ketika melaksanakan hal tersebut banyak kemungkinan yang akan terjadi. Semua kemungkinkan itu akan menjadi kesempatan terbaik bagi mereka untuk menjalin jodoh dengan hati kepercayaan. Saya sendiri pernah mengetahui hal sebagai berikut. Cerita ini saya dengar ketika saya masih bertugas di Kuil Hodo-in. Ada penganut yang melakukan syakubuku terhadap seseorang, namun hingga 10 tahun tidak pernah ditanggapi. Tiba-tiba suatu hari orang itu datang ke kuil. Hal ini benar-benar terjadi. Karena itu jika ada penganut yang dengan prajna dan penglihatan manusia biasa seperti kita langsung mencap orang lain, “Orang ini tidak mungkin bisa di-syakubuku,” maka merupakan tindakan yang keliru. Oleh karena itu kita harus menyampaikan syakubuku secara terbuka kepada siapapun. Cerita berikut juga sering saya singgung, yakni ketika tahun lalu saya berkunjung ke Taiwan. Suatu saat, seorang umat di sana mengajak saya ke Kantor Kepresidenan Taiwan. Kepala kantornya menyambut saya dan kami berbincangbincang. Saya menyampaikan apresiasi kepadanya dan kemudian berbicara dengan orang lainnya. Tak lama
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 84 GOSYO kemudian, saya melihat ada seorang umat perempuan sedang berbicara dengan penuh semangat dengan salah seorang pemimpin di sana. Lalu saya bertanya pada beberapa orang, “Apa yang sedang dia bicarakan dengan orang tersebut?” Mereka mengatakan bahwa umat perempuan itu sedang melakukan syakubuku padanya. Saya merasakan kuatnya energi syakubuku di Taiwan. Ketika mereka melihat ada kesempatan, di mana pun itu, dan terhadap siapapun yang mereka temui, mereka akan melakukan syakubuku. Saat saya sedang berbincang dengan kepala kantor tersebut, seorang wanita sudah melakukan syakubuku. Saya rasa demikian seharusnya syakubuku dilakukan. Karena itu, yang tidak boleh dilakukan adalah menilai dengan pikiran sendiri, “Orang ini baik, orang itu tidak baik”, kemudian menilai siapa yang bisa disyakubuku. Jika seperti ini, maka tidak akan berhasil melakukan syakubuku. Kepada siapapun, kita harus menanamkan bibit dan menjalinkan jodoh dengan Ajaran Buddha. Seperti yang disampaikan pada cerita di atas, seseorang dapat mencapai kesadaran Buddha karena jodoh [menentang] dengan menginjakinjak Saddharmapundarika-sutra. Ini adalah karunia kebajikan yang tidak terkira dari pencapaian kesadaran Buddha melalui jodoh menentang. Saat melakukan syakubuku, kita semua harus mencamkan poin ini di dalam hati. Setelah pembahasan tadi, selanjutnya dalam Gosyo ini dijelaskan mengenai isi setiap bab yang ada dalam rol kelima tersebut. Pertama dijelaskan mengenai pencapaian kesadaran Buddha Devadatta dan Putri Naga di dalam Bab Devadatta Saddharmapundarika-sutra. “Baik itu jodoh mengikuti maupun menentang, keduaduanya sama-sama akan membuat seseorang mencapai Kebuddhaan. Inilah makna utama Bab ini.” (Gosyo, hlm.1360) Dalam kutipan di atas ditunjukkan mengenai prinsip ajaran bahwa manusia di masa Akhir Dharma yang tercemar dan menjadi bingung karena lima kekeruhan dapat diselamatkan. Dengan kata lain,
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 GOSYO 85 baik yang berjodoh mengikuti maupun menentang, keduanya dapat diselamatkan [dengan Saddharmapundarika-sutra]. Selanjutnya, disinggung mengenai Bab Anjuran untuk Mempertahankan (Bab ke13) Saddharmapundarikasutra. Dengan menjelaskan penganiayaan pedang dan tongkat. Yang dibabarkan dalam bab tersebut serta mengutip contoh pertapaan orang suci di masa lampau, Nichiren Daishonin mengungkapkan bahwa hanya dirinya sendiri yang membaca Bab Anjuran untuk Mempertahankan dari rol kelima dengan tiga kategori tindakan: badan, mulut, dan hati, serta membuktikannya. Selanjutnya Nichiren Daishonin mengutip Bab-15, Bab Muncul dari Bumi. Beliau menjelaskan bahwa hanya beliau satu-satunya orang yang melaksanakan penyebarluasan Myoho yang semestinya dilakukan oleh Bodhisattva Visistakaritra dan lainnya di masa Akhir Dharma. Demikianlah isi dari Gosyo “Surat Balasan kepada Ueno”. Selanjutnya, saya akan menjelaskan kutipan gosyo-nya. Pada paragraf pertama dikatakan, “Percayalah pada Saddharmapundarika-sutra seperti Anda menginginkan makanan ketika sangat kelaparan, menginginkan air ketika sangat kehausan, merindukan seseorang yang dicintai ketika berpisah, membutuhkan obat ketika sakit, atau seperti wanita cantik menginginkan pewarna bibir dan bedak. Jika Anda tidak bersikap demikian, Anda akan menyesal.” Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, ini adalah bagian akhir dari gosyo tersebut, sementara paragraf sebelumnya adalah isi dari suratnya. Dikatakan, “Percayalah pada Saddharmapundarika-sutra seperti Anda menginginkan makanan ketika sangat kelaparan, menginginkan air ketika sangat kehausan, merindukan seseorang yang dicintai ketika berpisah, membutuhkan obat ketika sakit, atau seperti wanita cantik menginginkan pewarna bibir dan bedak. Jika Anda tidak bersikap demikian, Anda akan menyesal.” Perumpamaan ini menjelaskan bagaimana seharusnya sikap hati kepercayaan kita. Dengan kata lain, hati kepercayaan bukanlah sesuatu yang menyebabkan seseorang
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 86 GOSYO percaya karena adanya kekuatan hebat, dan hanya bersifat sementara waktu saja, sehingga seiring berlalunya waktu kemudian berhenti percaya. Hati kepercayaan haruslah dilaksanakan secara terusmenerus hingga kita mencapai keyakinan yang mutlak dalam menganut Gohonzon. Kita akan mencapai kondisi tersebut secara alami jika kita sepenuh hati mengejarnya. Kita sering mengumpamakan hati kepercayaan bagaikan api dan air. Dalam Catatan Pelajaran (Onko Kikigaki) dikatakan, “Beliau mengatakan, secara umum orang yang percaya pada sutra ini tidaklah sama, ada yang percaya seperti air dan ada yang percaya seperti api. Banyak pelaksana yang seperti api, namun sangat jarang yang seperti air. Seperti api maksudnya, setelah mendengar ajaran ini, semangatnya membara seperti kobaran api, percaya terhadap ajaran unggul, namun hati kepercayaannya cepat padam. Meskipun awalnya hati kepercayaannya sangat mantap, namun bara hati kepercayaannya mudah padam. Sedangkan pelaksana yang bagaikan air, maksudnya, aliran air terus mengalir siang dan malam tanpa pernah berbalik, serta tidak pernah berhenti. Demikianlah, pelaksana Saddharmapundarikasutra semestinya seorang pelaksana yang bagaikan air mengalir.” (Gosyo hlm. 1856) Menganut hati kepercayaan haruslah seperti air yang mengalir, tidak pernah mundur. Karena dipicu sesuatu, maka kita berusaha keras menjalankan hati kepercayaan menggebu-gebu bagaikan api yang membara, namun tak lama kemudian semangat tersebut hilang. Pelaksanaan hati kepercayaan seperti ini tidaklah baik. Namun demikian, hati kepercayaan yang tidak bersemangat juga tidak baik. Dengan kata lain, janganlah memiliki hati kepercayaan yang malas seperti tidur, atau bahkan tidak jelas apakah ia melakukan syakubuku atau tidak. Menjalankan pelaksanaan dengan tepat merupakan hal yang penting. Dalam Surat Balasan kepada Myoichi Ama juga dikatakan, “Hati kepercayaan bukanlah sesuatu yang istimewa. Kita harus meletakkan hati kepercayaan pada Saddharmapundarikasutra, Sakyamuni, Tathagata
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 GOSYO 87 Prabhutaratna, seluruh Buddha, bodhisattva, dan para dewa pelindung dari sepuluh penjuru, serta menyebut Nam-MyohoRenge-Kyo seperti halnya seorang istri yang memuja suaminya, seorang pria yang memberikan hidup untuk istrinya, orang tua yang tidak pernah menelantarkan anaknya, dan seorang anak yang tidak pernah meninggalkan ibunya. Inilah yang kita sebut sebagai hati kepercayaan. Selain itu, camkanlah kalimat sutra, ‘Dengan jujur dan tulus menanggalkan jalan upaya,’ dan ‘Tidak menerima satu pun kalimat dari sutra lainnya.’ Janganlah pernah melupakan kalimat ini, seperti seorang perempuan yang tidak pernah membuang cerminnya, dan seorang lakilaki yang selalu membawa pedangnya.” (Gosyo hlm. 1467). Artinya, dalam keseharian hidup kita, pelaksanaan syinjin itu bukanlah hal tertentu yang khusus. Yang paling penting kita harus secara alami menyatukannya dalam keseharian hidup kita. Dengan kata lain, saat kita bangun di pagi hari, bisakah gongyo pagi menjadi kegiatan yang dengan sendirinya kita lakukan secara rutin setiap hari? Atau, setiap kita pulang dari sekolah atau kerja, bisakah kita langsung duduk di depan Gohonzon dan menyapa Gohonzon dengan menyebut Nam-Myoho-RengeKyo, dan menjadikan hal itu sebagai kebiasaan hidup kita? Saat hendak melakukan gongyo pagi-sore, ke luar rumah, atau baru pulang ke rumah, merupakan hal yang penting untuk terbiasa menyapa Gohonzon dengan mengatakan “Saya berangkat,” atau “Saya sudah pulang.” Inilah yang dimaksud dalam kutipan ini. Memiliki hati kepercayaan yang mendambakan Gohonzon secara alami dalam keseharian hidup kita merupakan hal yang luar biasa penting. Tentu saja tidak baik jika kita tidak memiliki syinjin yang menggelora, namun sangat penting untuk memiliki syinjin yang menyatu dengan keseharian hidup kita. Oleh karena itu, Nichiren Daishonin membimbing kita untuk memperhatikan sikap syinjin dengan mengatakan, “Kita harus mengingatnya, seperti seorang perempuan yang tidak pernah membuang cerminnya, dan seorang laki-laki yang selalu membawa pedangnya”. Kita harus terus-menerus menerapkannya di dalam pelaksanaan kita sehari-hari.
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 88 GOSYO CERAMAH MENGENAI TUJUH AKSARA MYOHO AKSARA “HO” (BAGIAN XVI) Diceramahkan oleh Nikken Shonin, Ketika Tozan Penataran Musim Panas Hokkeko, 2 Juni 1996 yang dalam.” Dalam Makashikan Guketsu, Mahaguru Miaole menafsirkan kata “dalam” di sini sebagai prajna. Karena prajna sesungguhnya dimiliki Sang Buddha, maka dapat disamakan sebagai Dharma Buddha. Dengan kata lain, Dharma yang merupakan kesadaran dari Sang Buddha, tidak dapat dibandingkan dengan kebijaksanaan pada umumnya. Karena prajna ini sangat mendalam, maka bagaimanapun seseorang mendengarnya, tidak mungkin dapat memahaminya hanya dengan kebijaksanaannya sendiri. Akan tetapi, jika seseorang takut akan kedalaman Dharma, maka ia tidak akan dapat memasuki jalan yang benar. Ini adalah nasihat agar setiap orang SEKARANG, saya akan menjelaskan makna Ho (Dharma). Ho terbagi menjadi tiga, yakni Dharma makhluk hidup (Syujoho), Dharma Buddha (Bup-po), dan Dharma hati (Syin-po). Secara umum, Dharma mencakup ketiga unsur tersebut. Mengenai tiga Dharma ini, Mahaguru Tiantai menyatakan sebagai berikut. “Jangan menjadi takut ketika mendengar yang dalam. Jangan menjadi ragu ketika mendengar yang luas. Sekalipun yang didengar tidak dalam dan tidak luas, namun seseorang tetap memiliki keberanian. Hal ini disebut keyakinan yang sempurna.” (Shikan, hlm. 60) Pertama, dikatakan, “Jangan menjadi takut ketika mendengar
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 GOSYO 89 jangan takut saat mendengar jalan Buddha yang sangat dalam. Berikutnya dibabarkan, “Jangan menjadi ragu ketika mendengar yang luas.” Dalam Makashikan Guketsu, Mahaguru Miaole menafsirkan kata “luas” di sini sebagai vimukti (gedatsu). Sang Buddha, selalu menginginkan pencapaian kebuddhaan bagi makhluk hidup dalam jangkauan yang luas sepanjang masa. Dalam pemahaman ini, kata “luas” mengacu pada Dharma makhluk hidup. Dharma makhluk hidup mengacu pada seluruh makhluk hidup, sehingga mencakup jangkauan yang luas. Dharma makhluk hidup ini juga memiliki sebab jodoh dengan Dharma Buddha dalam segala aspek. Jangkauan yang disinari oleh Dharma Buddha benar-benar sangat luas. Dengan demikian, “Jangan menjadi ragu ketika mendengar yang luas” menjadi penting. Karena keluasan isinya tidak terbayangkan, ada makhluk hidup yang berpikir “Saya rasa saya tidak akan dapat menjangkaunya, atau memikirkannya dengan kepala saya,” Atau “Hal itu tidak ada hubungannya dengan saya.” Akhirnya, makhluk hidup memendam keragu-raguan, dan berhenti melaksanakan. Karena itu dikatakan, “Jangan menjadi ragu ketika mendengar yang luas.” Bagian terakhir dibabarkan, “Sekalipun yang didengar tidak dalam dan tidak luas, namun seseorang tetap memiliki keberanian.” Dalam Makashikan Guketsu, kata “tidak dalam dan tidak luas” ditafsirkan sebagai entitas Dharma (Dharmakaya). Entitas dharma berisi hati yang merupakan sebuah keberadaan yang meliputi seluruh dunia Dharma. Dengan analogi ini, saya yakin makna dari “tidak dalam dan tidak luas” dapat diterapkan pada seluruh aspek Dharma dari hati. Dengan kata lain, karena hati ada di dalam diri kita, umumnya kita berpikir bahwa itu sangatlah dangkal dan dekat. Demikianlah, hati itu sendiri tidak mendalam karena setiap orang dapat mengetahuinya, dan juga tidak luas karena pikiran yang konstan itu tidak menyeluruh dan dangkal. Namun, hati itu juga sangat kompleks dan beragam, serta dapat merenungkan berbagai hal secara mendalam dan luas, sehingga hati memiliki aspek kedalaman dan keluasan yang tidak terhingga. Kebijaksanaan biasa tidak akan dapat memahami hatinya sendiri secara menyeluruh. Kalimat ini mengajarkan perihal keberanian
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 90 GOSYO dan keinginan untuk secara benar menghadapi hati itu sendiri dengan mendengar ajaran perihal Dharma dari hati. Dari makna ini, maka tiga Dharma dari Dharma makhluk hidup (Syujo-ho), Dharma Buddha (Bup-po), dan Dharma hati (Syinpo) merupakan kunci penting dari pembagian Dharma (Ho) menjadi tiga. Dalam pelaksanaan Ajaran Buddha sangatlah penting untuk secara sempurna percaya dengan benar dan memahaminya berdasarkan Ajaran Buddha. Pertama, saya akan menjelaskan makna dari “Dharma (Ho).” Myoho-Renge-Kyo dalam bahasa Sanskerta adalah Saddharmapundarika-sutra. Dan Ho [dari Myoho-Renge-Kyo] adalah Dharma. Kalimat “sifat dasarnya adalah” bermakna bahwa ketika terdapat suatu hal, di situ pasti ada Dharmanya. Dan juga rupa (so), sifat (syo), dan entitas (tai) antara satu hal berbeda dengan hal lainnya. Contohnya jam tangan itu bukan kipas. Artinya setiap benda memiliki jati diri masing-masing yang berbeda-beda. Jati diri artinya perwujudan seperti yang dinyatakan dalam sepuluh faktor yakni “rupa (nyoze so), sifat (nyoze syo), entitas (nyoze tai), dan sebagainya”. Kipas memiliki wujud bentuk kipas, dan bersamaan dengan wujud tersebut terdapat tenaga dan fungsinya, serta sebab dan akibatnya secara bersamaan. Ini adalah jalan keberadaan yang berdasarkan jati diri. Karena itu dikatakan, “berkesinambungan dan memiliki lintasan”. Hal ini berlaku pada manusia dan makhluk hidup apapun. Oleh karena itu, dalam wujud dari alam bebas juga terdapat Dharma. Selain itu Dharma juga terdapat di dalam hukum, seni, kerajinan, dan semua hal yang menjadi kreasi manusia dalam masyarakat. Dharma juga mencakup seluruh hukum alam yang luas, dan hukum buatan manusia. Dharma mencakup teori universal yang berlaku secara umum pada segala hal. Hal ini disebut “keberadaan nyata”. Setiap hal berbeda satu sama lain, namun terdapat teori yang umum pada semua hal. Itulah keberadaan nyata. Fenomena adalah rupa nyata dari [keberadaan] itu. Contohnya, seorang bayi adalah bayi untuk kurun waktu tertentu. Namun, di kemudian hari bayi ini akan menjadi
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 GOSYO 91 seorang remaja, lalu menjadi seorang pria dewasa, orang tua, dan akhirnya meninggal dunia. Begitupun saat musim semi, pohon akan tumbuh tunas dan muncul daun, namun saat musim gugur daun-daun akan rontok. Kemudian di musim semi selanjutnya akan tumbuh tunas lagi. Segala rupa ini adalah fenomena, dan fenomena selalu berubah. Demikianlah, keberadaan adalah teori (ri), dan fenomena adalah nyata (ji). Makna dari teori (ri) dan nyata (ji) yang dibabarkan di sini adalah Dharma mengenai sepuluh dunia (jikkai), sepuluh faktor (junyo), ajaran sebelum Saddharmapundarika-sutra, Saddharmapundarika-sutra (gonjitsu), dan tiga kebenaran (santai), yang dibabarkan oleh Sang Buddha. Dan dalam Dharma itu sendiri mengandung seluruh keberadaan, fenomena, teori, dan sebab-akibat. Dharma ini, khususnya dari sudut pandang Ajaran Buddha, dapat dirangkaikan dalam tiga jenis Dharma dari makhluk hidup, Buddha, dan hati. Dengan memahami hal ini, maka secara alami kita akan memahami isi Ajaran Buddha sebagai jalan pelaksanaan ajaran Buddha bagi kita sendiri. Dharma Makhluk Hidup. Makhluk hidup adalah jiwa dari Dunia Dharma, yang berada dalam sepuluh jenis dunia yang memiliki kesadaran Buddha, yakni Sepuluh Dunia. Aspek sebab dan akibat yang luas dan dalamnya tak terhingga berlaku untuk semua Dharma. Sepuluh Dunia dikelompokkan menjadi lima jenis, yakni: 1) Keburukan (Neraka, Keserakahan, dan Kebinatangan); 2) Kebaikan (Asura, Manusia, dan Surga); 3) Dwiyana; 4) Bodhisattva; 5) Buddha. Empat kelompok pertama adalah Dharma sementara. Sedangkan yang terakhir adalah Dharma sesungguhnya. Berdasarkan makna gaib dari Saddharmapundarika-sutra, setiap dunia dari Sepuluh Dunia ini mencakup sepuluh dunia lainnya, sehingga menjadi seratus dunia (hyakkai). Masing-masing dari seratus dunia mencakup sepuluh faktor, sehingga menjadi seribu faktor (sen nyoze). Pertama, saya akan menjelaskan tentang Dharma makhluk
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 92 GOSYO Bodhisattva. Bahkan Bodhisattva yang tingkatannya tertinggi pun memiliki perbedaan yang sangat jelas dengan Buddha, dan mereka belum mencapai Dunia Buddha. Karena itu, manusia dan Bodhisattva memiliki makna belum mencapai dan belum menuntaskan [kesadaran Buddha]. Begitupun dunia neraka, keserakahan, dan kebinatangan pemahaman dan nilai keberadaannya juga memiliki makna yang tidak kekal. Dengan kata lain, jika dibandingkan dengan kebenaran Sang Buddha, maka pemahaman makhluk hidup atau makhluk hidup yang belum tercerahkan merupakan Dharma sementara. Hal ini berlaku pada dunia neraka hingga dunia Bodhisattva. Sebaliknya, “Sedangkan yang terakhir adalah Dharma sesungguhnya,” hal ini bermakna dharma yang tercerahkan oleh kesadaran Buddha adalah dharma Sesungguhnya. Perihal “Sepuluh Dunia.” Ada orang yang mengatakan “Memang hati kita berbeda-beda, namun saya tidak percaya tentang sepuluh dunia. Dan kita tidak perlu mempercayai hal ini.” Namun, jika ada orang yang tidak mempercayainya, maka ia menentang kalimat “Jangan hidup. Makhluk hidup bermakna makhluk secara umum. Sebab dan akibat ini berlaku dalam segala hal. Hal ini terbagi dalam lima kategori, yaitu keburukan, kebaikan, dwiyana, Bodhisattva, dan Buddha. Dan semua hal tersebut ada yang sementara, dan yang sesungguhnya. Sementara berarti tidak kekal. Semua perilaku Buddha muncul dari tingkat kesadarannya. Buddha membabarkan berbagai macam Dharma untuk membimbing dan menyelamatkan makhluk hidup, termasuk juga berbagai Dharma yang merupakan upaya. Dari sudut pandang Buddha, Dharma upaya yang dibabarkan kepada makhluk hidup bermakna tidak kekal. Sedangkan makhluk hidup memiliki sudut pandang yang bertolak belakang dengan pandangan sempurna Sang Budha terhadap kehidupan, dunia, dan Dunia Dharma. Semua makhluk hidup belum mencapai tingkat tersebut. Contohnya, ada tingkat Bodhisattva. Dan terdapat berbagai macam ajaran tentang Bodhisattva di dunia ini. Begitupun terdapat tingkatan, ajaran, kondisi pencapaian kesadaran, dan perbedaan tingkat
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 GOSYO 93 menjadi ragu ketika mendengar yang luas.” Jika kita benar-benar merenungkan isi Myoho ini, kita pasti dapat mengetahui bahwa Sepuluh Dunia menjadi ada secara kokoh dalam suasana dunia yang berbeda-beda sesuai Hukum Sebab Akibat. Banyak orang di zaman sekarang yang tidak percaya pada hal seperti itu. Sebagai contoh, ada empat bentuk kelahiran, yaitu lahir dari kelembaban, lahir dari rahim, lahir dari transformasi, dan lahir dari telur. Lahir dari telur misalnya burung dan lainnya. Lahir dari rahim adalah dari rahim seorang ibu. Lahir dari kelembaban adalah seperti mikro organisme atau lumut yang tumbuh di tempat yang basah dan lembab. Sekalipun ada bagian dari kebenaran hal tersebut yang belum sepenuhnya dimengerti manusia, namun keberadaan mereka dapat dipahami. Namun, selain itu, ada juga makhluk hidup yang lahir dari perubahan bentuk. Kelahiran dari perubahan bentuk yang muncul secara kasat mata ini tergantung pada jodoh dan sebab akibat, serta tidak selalu terlihat. Di sini, terdapat jodoh dan sebab-akibat dari Buddha dan Bodhisattva, serta neraka, kelaparan, kebinatangan, dan sebagainya. Pernah terjadi, ada orang yang menemui saya. Orang ini berjodoh dapat melihat penampakan setan. Orang ini dapat melihat wujud yang menyeramkan karena memiliki hubungan sebab-akibat dan jodoh. Makhluk yang lahir dari perubahan bentuk jarang dapat terlihat secara kasat mata. Ketika kita tidak melihatnya, mereka menyelinap, ataupun merasakan penderitaan karena imbalan perbuatan baik dan buruk mereka sendiri di alam lingkungan seperti dunia Buddha, Bodhisattva, tiga jalan buruk, dan sebagainya. Bimbingan perihal menyinari aspek sepuluh dunia yang tidak terhingga dalam jiwa sendiri dibabarkan dalam Gosyo Perihal Pusaka Pemujaan Sesungguhnya, sebagai berikut. “Pengamatan hati berarti memahami sepuluh dunia dengan mengamati hati diri sendiri.” (Gosyo hlm. 646) “Setiap dunia dari Sepuluh Dunia ini mencakup sepuluh dunia lainnya, sehingga menjadi seratus dunia (hyakkai)” bermakna sebagai berikut. Sekalipun seseorang memiliki dunia kebinatangan dalam jiwanya, namun di saat tertentu dan dengan jodoh tertentu, dapat memunculkan apa pun dari sembilan dunia lainnya yang sebelumnya tersembunyi. Pada umumnya, hal ini sulit untuk
PRAJNA PUNDARIKA • MEI 2023 94 GOSYO diketahui karena samar dan tersembunyi, namun sebenarnya, setiap dunia mencakup sepuluh dunia. Doktrin sepuluh dunia saling mencakupi ini hanya dibabarkan dalam Saddharmapundarikasutra, dan tidak ada di dalam pembabaran sepanjang hidup Sakyamuni lainnya. Sang Buddha tidak pernah membabarkan “saling mencakupi” dalam ajaran upaya sebelum Saddharmapundarika-sutra. Memang dapat dikatakan kemarahan adalah dunia neraka, namun di dalam kemarahan pun, ada kemarahan yang dapat menolong orang lain. Sebaliknya, kemarahan juga ada yang menyakiti atau membahayakan orang lain. Dengan demikian, di dalam dunia neraka juga terdapat dunia neraka, kelaparan, kebinatangan, asura, manusia, surga, sravaka, pratyekabuddha, Bodhisattva, dan Buddha. Di dalam jiwa kita terdapat seratus dunia yang terdiri dari sepuluh dunia yang saling mencakupi. Dan setiap dunia memiliki sepuluh faktor (ju nyoze) di dalamnya. Sepuluh faktor mengajarkan bahwa ada hukum sebab-akibat dan imbalan yang pasti dalam rupa (so), sifat (syo), dan entitas (tai) dari segala sesuatu. Oleh karena itu, kita harus merenungkan secara mendalam sebab-akibat dan imbalan dalam hidup kita. Hal ini dibabarkan dalam Bab Upaya Kausalya (Hobenpon) sebagai faktor rupa (Nyoze so), faktor sifat (syo), faktor entitas (tai), faktor kekuatan (riki), faktor pengaruh (sa), faktor sebab dari dalam (in), faktor jodoh (en), faktor akibat laten (ka), faktor akibat imbalan nyata (ho), dan faktor konsistensi dari pertama hingga terakhir (honmatsu kukyoto). Hal ini dengan agung membabarkan jalan sebab-akibat dan imbalan. Bagi mereka yang tidak percaya sebab-akibat akan sulit memahami sepuluh faktor. Memahami sepuluh faktor berarti dengan benar memahami gambaran dari sebab-akibat dan imbalannya. Dengan memahaminya, meski seseorang dalam kondisi tidak bahagia pada saat ini, namun ia dapat mengetahui dengan jelas bahwa wujud ketidakbahagiaan yang dialaminya ini hasil dari sebab buruk dan jodohnya sendiri. Lebih lanjut, jika seseorang ingin bahagia di masa mendatang, ia harus membuat sebab-akibat kebahagiaan dalam keadaannya sekarang. Inilah hukum sebabakibat dan imbalan.
MEI 2023 JADWAL KUIL HOSEIJI & MYOGANJI KELAS TAIKO UNTUK GM MINGGU, 21 MEI 14.00 WIB TIDAK ADA STREAMING DAIMOKU – CERAMAH DASAR-DASAR AJARAN BUDDHA NICHIREN DAISHONIN MINGGU, 28 MEI 10.00 WIB FB FANPAGE & YOUTUBE KUIL HOSEIJI OKO ANAK MINGGU, 14 MEI 13.00 WIB HYBRID & ZOOM UPACARA OKO HOSEIJI (2) MINGGU, 14 MEI 15.00 WIB TIDAK ADA STREAMING UPACARA OKO HOSEIJI (1) MINGGU, 14 MEI 10.30 WIB FB FANPAGE & YOUTUBE KUIL HOSEIJI BUDDHOLOGI UMUM SABTU, 13 MEI 20.00 WIB HYBRID SOTOBA BULANAN MYOGANJI SABTU, 13 MEI GONGYO SORE HYBRID SOTOBA BULANAN HOSEIJI (OKYOBI) RABU, 3 MEI GONGYO SORE FB FANPAGE KUIL HOSEIJI OKO MYOGANJI SABTU, 13 MEI 16.00 WIB HYBRID GOSYO PANJANG SABTU, 13 MEI 14.00 WIB HYBRID GOSYO PENDEK ONLINE JUMAT, 12 MEI 19.30 WIB FB PERTEMUAN UMUM DAIMOKU KOSENRUFU - BIMBINGAN BHIKSU TERTINGGI KUIL HOSEIJI MINGGU, 7 MEI 10.00 WIB .FB FANPAGE KUIL HOSEIJI & YOUTUBE KUIL HOSEIJI