The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini merupakan prosiding dari kegiatab Webinar Nasional Kriya dengan tema Peran Kriya dalam Kreativitas dan Inovasi di Era 4.0

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by jejakpustaka, 2021-03-07 04:46:28

Prosiding Webinar Nasional Kriya

Buku ini merupakan prosiding dari kegiatab Webinar Nasional Kriya dengan tema Peran Kriya dalam Kreativitas dan Inovasi di Era 4.0

Keywords: Kriya,Prosiding Kriya,Peran Kriya,Webinar Kriya

keharmonisan terhadap lingkungan. Ilmu perencanaan dan pembangunan serta peraturan-
peraturan yang terkait perlu dijadikan dasar dalam membangun landmark.

II. KAJIAN PUSTAKA

Penulisan ini mengacu pada teori dan kutipan jurnal dari penelitian sebelumnya.
Pertama, teori tentang landmark terkait Tugu Selamat Datang di Gunung Kidul yang dikutip
dari buku Urban Design, Ornament and Decoration. Tipologi landmark terbagi dalam dua
kategori, 1) landmark alami seperti pepohonan, perbukitan dan tebing, 2) landmark yang
dibangun sebagai bagian dari lingkungan yang terstruktur. Kategori landmark yang kedua
terbagi lagi menjadi bangunan atau bagian bangunan dan bukan bangunan atau furnitur sipil.
Kategori kedua terakhir terbagi lagi menjadi bangunan yang dapat dipasang dan dilepas.
Furnitur sipil bisa berupa bentukan tunggal seperti patung , bisa juga bentukan berulang
seperti penerangan jalan yang memiliki keunikan, gaya dan jenis tanda tertentu yang terkait
dengan satu kawasan atau kota (Moughtin, OC and Tiesdell, 1999: 104).

Tugu tersebut berdiri dalam kawasan UNESCO Global Geopark, pembangunan
landmark sebagai penanda kawasan harus mengacu pada perturan seperti pada artikel tentang
geowisata, Ross Dowling sebagai penggiat geowisata berkebangsaan Austalia, menulis buku
pedoman bagaimana mengelola dan memelihara geopark. Salah satu pembahasannya adalah
mengenai sistem papan panel informasi. Agar kenampakan alam terjaga keasliannya, hindari
pembuatan papan-papan panel informasi yang mengganggu keharmonisan kenampakan alam
seperti pembuatan papan panel informasi arah dan papan panel promosi yang terlalu banyak.
Papan panel informasi yang diperbolehkan adalah papan informasi bersifat geohazards dan
mitigasi atau penyelamatan jika terjadi bencana (Brown, 2019: 657).

Sudut pandang lain mengenai fenomena selfie atau swafoto yang tertulis pada Kamus
Besar Bahasa Indonesia berarti potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan kamera
ponsel atau kamera digital, biasanya untuk diunggah ke media sosial (KBBI, 2016). Lebih
mendalam lagi kata selfie adalah objek fotografi yang memulai transmisi perasaan manusia
dalam bentuk hubungan (antara fotografer dan objek yang difoto, antara gambar dan
perangkat lunak, antara yang melihat dan yang dilihat dan lain sebagainya). Selfie juga
merupakan suatu penerapan — isyarat yang dikirim (dan sering kali dimaksudkan untuk
mengirim) pesan yang berbeda ke individu, komunitas, dan khalayak yang berbeda. Isyarat
ini dapat dikurangi, diperkuat, atau diubah oleh sensor media sosial, kecaman sosial, salah
membaca maksud asli pengirim, atau menambahkan isyarat tambahan seperti suka, komentar,
dan gabungannya (Senft and Baym N, 2007: 1589). Gabungan landmark dan selfie juga
ditulis dalam jurnal penelitian tentang respons wisatawan asing dan wisatawan lokal serta
masyarakat setempat atas pembuatan landmark di taman-taman tematik di kota Bandung.
Para peneliti tersebut mengungkapkan ada kecenderungan wisatawan datang kembali untuk
mengayakan koleksi swafoto mereka di taman-taman tematik saat berwisata ke Bandung
(Widyahantari, 2019: 659).

Berikutnya adalah fenomena masyarakat pada kebutuhan yang bersifat psikologis
yaitu kebutuhan eksistensi diri. Buah teknologi digital dalam hal pendokumentasian gambar
melahirkan kebiasaan gemar berswafoto dan kesegeraannya untuk mengunggah (Bij de Vaate

43

et al., 2018: 1402). Gunung Kidul sebagai objek teliti merupakan bagian dari Gunung Sewu
UNESCO Global Geopark, brand atau nama produk berupa landmark Tugu Selamat Datang
di Gunung kidul adalah penanda atau signage yang merupakan salah satu tangan dari tangan-
tangan pengimplemantasian suatu brand (Alina, 2006: 5). Fakta tingkat literasi masyarakat
di Indonesia menjadi hal yang mendasar. Studi tingkat literasi yang dilakukan oleh Central
Connecticut State University di New Britain, Connecticut Amerika Serikat melihat
karakteristik perilaku literasi 61 negara yang sudah memiliki data relevan dari 200 negara
terdata. Mengungkapkan bahwa dalam hal literasi Indonesia berada di peringkat kedua
terendah setelah Botswana seperti dikutip dari harian The Jakarta Post dengan referensi buku
pendamping pola perkembangan data statistik tahun ke tahun dari negara-negara tersebut
(Gunawan S., 2016). Terakhir teori yang mendasari kegemaran berwisata. Ahli sosial dari
Inggris bernama John Urry mengembangkan teori mengapa di saat luang masyarakat
melakukan perjalanan mengunjungi beberapa tempat berbeda. Urry berpendapat dengan
berwisata, masyarakat akan mengalami sendiri pemandangan berbeda dari pemandangan
normal yang sehari-hari ia temui baik di tempat tinggal maupun di tempat bekerja (Dinnie,
2011: 27).

III. METODE PENELITIAN

Penulisan ini menitik beratkan pembahasan pada persepsi geowisatawan terhadap
landmark yang terdapat di gerbang masuk kawasan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark
sisi barat, yaitu sisi Gunung Kidul. Untuk itu metodologi penelitian kualitatif yang diadopsi
adalah deskriptif analitis, mengacu pada interdisiplin aplikasi ilmu desain komunikasi visual,
psikologi, dan city branding. Sumber data dari berasal dari personil pengelola kawasan
geopark, observasi pada fisik objek di lokasi, data digital dan data literatur. Geopark Ciletuh
yang terletak di Sukabumi bagian selatan Provinsi Jawa Barat adalah UGGN lain di Indonesia
yang memiliki landmark, melengkapi sebagai data sekunder.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

UNESCO Global Geopark di Indonesia

Menurut situs resmi Komisi Nasional Indonesia dan UNESCO Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pengertian UNESCO Global Geoparks
adalah area geografis terpadu di mana situs dan lanskap geologi internasional dikelola dengan
konsep perlindungan holistik, pendidikan dan pembangunan berkelanjutan melalui
pendekatan bottom-up. Pada saat membuat tulisan ini sudah diresmikan lima UNESCO
Global Geopark di Indonesia, yaitu di Gunung Batur, Gunung Sewu, Gunung Rinjani, Ciletuh
Palabuhan Ratu dan Danau Toba.

44

Gambar I. Peta persebaran UGGNs dan Nasional Geoparks di Indonesia (sumber: : Materi
Presentasi Dr. Hanang Samodra Webinar Pengembangan Geopark di Indonesia Kementrian
Koordinasi Bidang Kemaritiman dan Investasi Kamis, 18 Juni 2020).

Gunung Kidul sebagai bagian dari Gunung Sewu UNESCO Global Geopark

Resmi menjadi anggota UNESCO Global Geopark Network (UGGN) pada tahun
2015 dan berhasil melewati revalidasi pertama pada tahun 2019 dengan predikat hasil
penilaian di kartu hijau. Hal yang menjadi perhatian utama adalah capaian prestasi dengan
terjadinya peningkatan pendapatan daerah, pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan
wanita. Tercatat pada saat kawasan Gunung Sewu belum menjadi anggota UNESCO Global
Geopark pendapatan daerah berada di angka mendekati 9 Milyar Rupiah dan di tahun 2019
saat revalidasi pencapaian berada di angka mendekati 44 Milyar Rupiah (Budi Martono,
2020: wawancara). Kegiatan dilakukan berbasis masyarakat setempat dengan mengelola dan
menjaga 33 titik-titik geosite, mengembangkan homestay, kuliner belalang goreng, kerajinan
topeng batik, industri makanan dan minuman dari bahan dasar cokelat dan sarana relaksasi
spa cokelat.

Kesungguhan masyarakat setempat dalam mengembangkan potensi daerah mendapat
dukungan dari institusi pemerintah seperti Bank Indonesia dan LIPI Yogyakarta serta entitas
usaha sektor swasta seperti Martha Tilaar. Penghargaan internasional untuk pengelolaan
wisata hijau telah diraih oleh penggiat kelompok sadar wisata Gunung Sewu. Statistik angka
kemiskinan mengalami penurunan dan urbanisasi dapat dicegah. Dilihat dari kecenderungan
pilihan geowisatawan yang datang ke Gunung Sewu ini adalah mereka datang karena
keragaman kenampakan alam. Mulai mendaki puncak Gunung Api Purba Nglanggeran, water
tubing di Gua Pindul, masuk ke gua Luweng Jomblang hingga menikmati deburan ombak di
teluk Pacitan. Gunung Sewu diperhitungkan sebagai situs geowisata berstandar UNESCO
Global Geopark karena warisan bumi ini di dalamnya tersimpan keragaman kenampakan
alam, keragaman hayati dan keragaman budaya. Menyandang predikat UNESCO Global
Geopark membuat kawasan Gunung Sewu ini harus konsisten mengikuti serangkaian
regulasi. Selain untuk menjaga standar kriteria konservasi, tapi juga untuk keberlangsungan
predikat yang disandang dan direvalidasi setiap empat tahun.

Kembali pada fokus pembahasan pembuatan landmark Tugu Selamat Datang di
Gunung Kidul secara fungsional landmark ini memadai sebagai latar belakang para
geowisatawan mengabadikan saat berkunjung. Saat melakukan observasi ke lokasi dan

45

mengacu pada pemberitaan di media masa, didapat informasi bahwa pada waktu-waktu
tertentu seperti saat mudik lebaran sering kali polisi lalu lintas harus mengendalikan antrian
kendaraan dari masyarakat yang ingin berswafoto. Posisi dari Tugu Selamat Datang di
Gunung Kidul ini secara geografis terdapat di sisi jalan yang menikung tajam dengan elevasi
tanjakan yang curam sehingga membahayakan dari segi keselamatan berkendaraan.
Mengulang pada paparan di pendahuluan, tujuan dari pemerintah daerah setempat atas
pembuatan tugu ini adalah sebagai batas wilayah dan identitas kawasan bukan untuk
berswafoto.

Gambar II. Landmark Gunung Kidul (Sumber: Budi Martono, Materi Presentasi Virtual
Geotourism di Gunung Sewu UNESCO Global Geopark, 2020)

Hingga awal tahun 2000 Gunung Kidul identik dengan kawasan gersang dan kering.
Penduduk setempat lebih banyak memilih merantau untuk bekerja sebagai buruh kasar atau
sebagai Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Membuka kembali sejarah, pada pertengahan
abad XIX Gunung Kidul sebagai bagian dari Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta kaya akan
komoditas pohon jati. Penebangan tak terkendali terjadi saat penjajahan oleh VOC tanpa
memikirkan pelestariannya. Agar tidak semakin parah pemerintah Belanda kemudian
berusaha untuk bertanggung jawab Gubernur Jenderal William Daendels 1807 – 1811
membuat rencana kerja dan administrasinya. Singkat kata usaha pengembalian fungsi hutan
jati seperti semula tidak sebanding dengan upaya yang dilakukan. Setidaknya infrastruktur
jalur Daendels yang hingga saat ini masih berfungsi adalah bukti sejarah akan kesungguhan
upaya reboisasi oleh Belanda (Septariska and Ekaputri, 2001: 84). Bukti lain bahwa Gunung
Kidul adalah tanah yang subur terdapat pada lukisan yang dibuat oleh FW Junghuhn pada
tahun 1856 saat melakukan perjalanan ke wilayah Gunung Sewu. Ia adalah seorang
berkebangsaan Jerman yang bekerja pada pemerintah Netherlands Indische. Fakta ini menjadi
dasar beberapa periode pemerintah daerah Gunung Kidul yang berhasil mengembalikan
tempat ini sebagai kawasan hijau.

46

Gambar III. Lukisan yang Membuktikan Bahwa Gunung Kidul Pernah Subur (Sumber:
Budi Martono, Webinar K3 UNILA, 2020)

Ada 2 UNESCO Global Geopark di pulau Jawa, yaitu Gunung Sewu dan Ciletuh
Palabuhan Ratu. Semula Ciletuh hanya dikenal oleh kalangan ahli geologi. Pada tahun 2016
bersama Biofarma sebagai BUMN di bidang farmasi melakukan program pengembangan
masyarakat di Ciletuh dan bersinergi dengan pelaksanaan pembangunan daerah merevitalisasi
infrastruktur serta pembuatan jalan telah mengantarkan kawasan ini lulus penilaian dan resmi
menyandang predikat Ciletuh Palabuhan Ratu UNESCO Global Geopark di tahun 2018.
Peningkatan yang berarti terhadap perkembangan daerah terjadi dari sejak sebelum hingga
saat sesudah pengukuhan. Infrastruktur berupa jalan beraspal yang dibangun pada saat
pemerintahan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan ini mendapat respons positif dari
masyarakat setempat. Ekonomi setempat tumbuh dampak meningkatnya jumlah kunjungan
geowisatawan ke Ciletuh dan Palabuhan Ratu. Pada titik-titik yang memiliki sudut
pemandangan spektakuler, pengelola setempat membuatkan landmark sesuai nama lokasi.
Seperti di Puncak Darma, Puncak Aher, di titik-titik air terjun hingga di bibir pantai dibuatkan
landmark bertuliskan Geopark Ciletuh.

Gambar IV. Landmark Ciletuh Palabuhan Ratu UNESCO Global Geopark (Sumber: A.
Ronny Hendrawan, Dokumentasi Pribadi, 2020)

Perkembangan Teknologi Informasi Membentuk Perilaku Swafoto
Profil sebagian besar masyarakat Indonesia adalah masyarakat penikmat visual.

Produk-produk konsumsi berteknologi digital yang sudah terintegrasi dengan aplikasi media
sosial telah membanjiri dan melekat pada keseharian masyarakat. Saat ini dapat dilihat
beberapa media sosial yang cenderung dipilih oleh masyarakat. Mundur satu dekade lalu

47

media sosial twitter, facebook menjadi pilihan utama kemudian terjadi pergeseran ke media
sosial Instagram dan saat ini media sosial Tiktok sedang menjadi primadona pilihan media
sosial terutama di kalangan wanita serta remaja dilihat dari observasi terbatas dari penulis.
Pergeseran ini teridentifikasi karena porsi teks dari jenis media sosial twitter, facebook,
Instagram hingga Tiktok semakin berkurang dan tampilan visual mendominasi baik yang
menggunakan audio maupun tanpa audio.

Gejala bahwa masyarakat sekarang adalah masyarakat penikmat visual dianalogikan
pada masyarakat zaman peradaban primitif prasejarah. Di zaman prasejarah dokumentasi
yang mewakili peradaban saat itu ditemukan dalam bentuk gambar-gambar seperti hewan dan
telapak tangan di permukaan sisi dalam dinding gua. Penelitian sejarah membuktikan
gambar-gambar sederhana tersebut menyimpan ribuan makna. Perkembangan sejarah
selanjutnya masuk ke zaman peradaban menunjukkan peninggalan dalam hal
pendokumentasian, menggabungkan gambar dengan simbol seperti dapat dilihat pada
Piramid di Mesir. Tulisan mendominasi gambar dapat dilihat pada masa kejayaan
perkembangan budaya di Eropa. Saat itu masyarakat telah mengenal huruf latin ditunjang
dokumentasi menggunakan teknik cetak di atas kertas dalam bentuk buku.

Bukti sejarah ditemukan pula di tanah air seperti prasasti pada lempeng batu
berevolusi ke tulisan di daun lontar hingga teknik cetak pada kertas dikenal pada masa
penjajahan Belanda di Nusantara. Pengabadian suatu peristiwa menggunakan kamera mulai
dikenal saat imperilisme terjadi di tanah air. Setelah beberapa abad hasil foto hanya bernuansa
hitam putih, pada dekade tahun 1970 mulai dikenal hasil foto bernuansa penuh warna. Dari
gambar statik kebutuhan dokumentasi personal berkembang menjadi teknik dokumentasi
gambar bergerak berupa video audio visual. Revolusi pendokumentasian terjadi ketika
teknologi informasi berhasil mengalihkan format konvensional media foto maupun video dari
fisik kertas ataupun film ke format komputasi memori digital.

Pemahaman bahwa gambar mampu bercerita dengan beribu kata maka keterangan
pada foto ataupun teks ulasan menjadi semakin singkat. Ditunjang semakin kecilnya ukuran
keping penyimpan data digital dengan kapasitas menyimpan data lebih besar serta nirkabel
mengakibatkan pilihan menyimpan suatu dokumentasi statik maupun audio visual lebih
menjadi tidak selektif lagi. Kondisi ini menjadi lebih baik ketika tampilan layar telepon
genggam semakin sempurna, kompresi memori untuk menyimpan citra visual semakin kecil
tanpa mengurangi kualitas gambar pada format tertentu. Masyarakat menjadi ketergantungan
untuk menampilkan semua peristiwa pada media sosial tanpa ada kontrol dalam
penayangannya.

Kesadaran Identitas Kawasan

Sejak dunia mengakui temuan mesin uap bisa mempercepat akselerasi industrialisasi,
lahirlah beragam produk kebutuhan dan timbul persaingan untuk produk-produk sejenis yang
dipasarkan secara global. Sebagai upaya memenangkan persaingan, lahirlah kesadaran bahwa
suatu produk perlu memiliki identitas yang kuat agar konsumen terus mengingat dan terjadi
loyalitas terhadap produk tertentu.

48

Keilmuan manajemen identitas atau merek suatu produk dari industri swasta akhirnya
memberi inspirasi kepada para pemangku jabatan di pemerintahan di berbagai negara.
Kesadaran bahwa kota atau wilayah perlu mendapat perlakuan manajerial untuk pengelolaan
identitas kota mulai menjadi area peminatan baru dari ahli permerekan seperti pakar
pemasaran dunia Philip Kotler. Maka selanjutnya sejak dekade 1990 mulai dikenal ahli-ahli
identitas kota seperti Simon Anholt dan Keith Dinnie. Pengaruh kontribusi konsep-konsep
identitas kota dari para ahli tersebut berdampak terhadap berbagai kota di dunia. Pembenahan
identitas kota dilakukan dengan rasional untuk meningkatkan pariwisata, ada juga karena
menjadi tuan rumah penyelenggara acara internasional seperti Olimpiade Dunia.
Bagaimanapun berwisata adalah aktivitas dari kebutuhan berekreasi melepas kejenuhan di
segala musim dan dilakukan berulang-ulang.

Bentukan seperti patung dengan tampilan nama kota atau wilayah dengan ukuran rata-
rata melebihi tinggi manusia bermaksud untuk mengomunikasikan secara visual sebagai
landmark atau identitas suatu kota atau wilayah. Membahas kecenderungan membuat
landmark dalam ukuran besar dalam sepuluh tahun belakangan ini tampaknya sedang
digemari oleh para pengelola kawasan dan pemerintah daerah setempat. Pembuatan landmark
tidak hanya di dalam kota seperti yang dapat ditemukan di taman-taman tematik dalam
kawasan hunian di kota Bandung – Jawa Barat. Tetapi juga di titik-titik wisata alam terbuka
baik di pegunungan maupun di pesisir pantai, dari ujung barat hingga ujung timur wilayah
Indonesia.

Gambar V. Taman Tematik di Kota Bandung (Sumber: https://nyikreuh.com/, 2015)
Cara ini jika merujuk ke keilmuan mengenai merek adalah salah satu tangan media

promosi dari tangan-tangan media promosi lainnya. Cara setiap kota atau wisata dalam
membuat landmark sebagai promosi memiliki kecenderungan kesamaan secara visual.
Langkah taktis dalam menarik minat wisatawan maupun geowisatawan dalam
mengakomodasi kegemaran berswafoto.

49

V. KESIMPULAN

Dari paparan di atas dapat ditarik kesimpulan sesaat dengan mempertemukan data-
data dan teori berkenaan dengan topik yang diteliti. Fakta bahwa tujuan dibuatnya Tugu
tersebut sebatas identitas kawasan telah terjadi pemaknaan menyimpang dari masyarakat
yang berswafoto di area landmark. Daerah Patuk di mana Tugu ini berdiri merupakan jalur
lintasan antara batas wilayah Gunung Kidul dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Posisi
landmark berada di sisi jalan menikung tajam dengan tanjakan curam membuka
kemungkinan terjadinya kepadatan lalu lintas hingga kecelakaan kendaraan jika tidak
disiplin memarkir kendaraan bukan pada tempat yang ditentukan. Hendaknya masyarakat
mampu membaca kondisi dan tidak memaksakan diri berswafoto.

Dengan demikian maka dalam membuat landmark para pemangku jabatan yang
memiliki otoritas mengelola suatu kawasan saatnya melibatkan pihak yang memiliki
kompetensi untuk berencana dan membangun. Aturan - aturan UNESCO Global Geopark
diselaraskan dengan peraturan-peraturan pemerintah setempat secara konsisten menjadi
dasar segala keputusan. Adopsi identitas lokal seperti seni kriya unik agar tampilan
landmark memiliki kekhasan yang mewakili citra kota atau wilayah. Untuk menjawab
kebutuhan promosi dan membangun identitas kawasan perlu dibuatkan pedoman
pembuatan identitas dengan melibatkan tenaga yang ahli di bidangnya. Kemudahan dan
keseketikaan adalah dampak dari teknologi informasi digital yang melahirkan perilaku
selalu ingin menyegera. Perilaku ini secara sadar harus selalu dikendalikan agar dampak
yang tidak perlu terjadi bisa diantisipasi.

VI. DAFTAR PUSTAKA

Alina, W. 2006. Designing Brand Identity, John Wiley & Sons. Canada.

Bij de Vaate, A. J. D. (Nadia., Veldhuis, J., Alleva, J. M., Konijn, E. A., and van Hugten, C.

H. M. 2018. Show your best self(ie): An exploratory study on selfie-related motivations
and behavior in emerging adulthood, Telematics and Informatics. 35(5), 1392–1407.

https://doi.org/10.1016/j.tele.2018.03.010

Brown, E. (2019) ‘Handbook of Geotourism Book Review’, in Proceedings of the Geologists’

Association. Worcester: Elsevier. Available at:

https://doi.org/10.1016/j.pgeola.2019.04.001.

Dinnie, K. 2011. City Branding (1st ed.), Palgrave Macmillan. New York.

Gunawan S., A. (2016) Indonesia second least literate of 61 nations, The Jakarta Post.
Available at: https://www.thejakartapost.com/news/2016/03/12/indonesia-second-
least-literate-61-nations.html (Accessed: 30 October 2020).

KBBI (2016). Available at: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/swafoto (Accessed: 20
November 2020).

Moughtin, C., OC, T. and Tiesdell, S. (1999) Urban Design, Ornament and Decoration. 2nd

50

edn. Massachusetts: Architectural Press.
Senft, T. and Baym N, T. (2007) ‘What Does the Selfie Say? Investing a Global

Phenomenon’, International Journal of Communication, 9(0), pp. 1588–1606.
Available at: http://ijoc.org/index.php/ijoc/article/view/4067/1387.
Septariska, I. P. and Ekaputri, R. A. A. (2001) ‘Pengelolaan Hutan Jati di Afdeliing Gunung
Kidul 1846 -1933’, Lembaran Sejarah.
Widyahantari, R. 2019. Evaluation of Thematic Parks in Bandung City Based on Spatial
Equity Perspective, Knowledge E. https://doi.org/10.18502/kss.v3i21.5002
Narasumber
Budi Martono. General Manager Gunung Sewu UNESCO Global Geopark dan Ketua
Jaringan Geopark Indonesia (JGI ) - Indonesian Geoparks Network. Dalam wawancara
8 Oktober 2020
Referensi Digital
Dr. Hanang Samodra. Materi Presentasi Webinar Pengembangan Geopark di Indonesia
Kementrian Koordinasi Bidang Kemaritiman dan Investasi. 18 Juni 2020.
Budi Martono. Materi Presentasi Virtual Geotourism di Gunung Sewu UNESCO Global
Geopark, 2020
Budi Martono. Materi Presentasi Webinar Fakultas Teknik Universitas Lampung, K3 pada
Geotourism di Gunung Sewu UNESCO Global Geopark, 2020
Sdr. A. Ronny Hendrawan. Dokumentasi pribadi Landmark Ciletuh Palabuhan Ratu
UNESCO Global Geopark. 2020.
Taman Tematik yang Unik di Kota Bandung, data diperoleh melalui situs internet:
https://nyikreuh.com/taman-tematik-yang-unik-di-kota-bandung/. Diunduh pada
tanggal 19 Oktober 2020.

51

52

ORNAMEN FINUGANE PADA ALAT MUSIK TIFA SUKU
ONATE PAPUA

Oleh
1Yanes Koyari, 2Sri Hesti Heriwati, 3Dharsono
1Mahasiswa Program Magister Pasca Sarjana ISI Surakarta

E-mile: [email protected]
2Pengajar Program Magister Pasca Sarjana ISI Surakarta

E-mile: [email protected]
3Pengajar Program Magister Pasca Sarjana ISI Surakarta

E-mile: [email protected]

Abstract
Finugane (Human ornamentation) on the musical instrument Tifa Airafe Tubane in
the Onate tribe of Papua. Finugane is a human statue symbol of belief in the spirits of
people who have died in the Onate tribe. The application of finugane ornaments as
motives on the body of musical instruments Tifa is loaded with philosophy and its
application is very strict. Finugane ornaments include a unique ornament found in the
Onate tribe and not found in other tribes in Papua. This study purposes to gain an
understanding of the ornaments contained in the Tifa Airafe Tubane musical
instruments such as (1) Sinugane (human) as the principal motive (main ornament),
(2) rock (Awawaine) as the filler motive (interlude motive) and (3) wave as Isen
(stuffing motive). This research method uses a qualitative descriptive method with
interpretation analysis (hermeneutics) as a method of obtaining a valid interpretation
of objectivity, regarding the shape and meaning of fineugane ornaments. Techniques
for collecting data related to the focus of the problems are used triangulation, methods
by combining data collection techniques as follows observation, interviews, and
documentation. The results revealed the finugane ornamentation as a characteristic
of the ornaments from the Papuan Onate tribe. The results found that (1) The Main
Motive was inspired by humans who had died he was highly valued, respected and
meritorious in the life of the Onate tribe. Understanding the value of the philosophy of
the Onate tribe, in addition to remembering and reminiscing the person carved man-
made usually put on the front of the house to guard and protect the house from bad
things. (2) Fillers motives (interludes) in the form of coral reef symbolize the courage
and valour of the Onate people, the philosophy for the Onate people, the coral reefs
are always strong even though there are waves and currents of water in the sea. (3)
Isen motive (stuffing) in the form of sea waves symbolizing the character of people's
life.

Abstrak

Ornamen manusia (finugane) pada alat musik Tifa (airafe) di suku Onate Papua.
Finugane adalah sebuah patung manusia simbol kepercayaan kepada arwah manusia
yang telah meninggal di suku Onate. Penerapan ornamen finugane sebagai motif pada
badan alat musik tifa sarat dengan falsafah dan penerapannya sangat ketat. Ornamen
finugane termasuk sebuah ornamen unik yang terdapat di suku Onate dan tidak

53

terdapat di suku-suku lainnya di Papua. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh
pemahaman terhadap ornamen yang terdapat pada alat musik tifa seperti (1) finugane
(manusia) sebagai motif Utama (ornamen utama), (2) batu karang (awawaine) sebagai
motif Pengisi (motif selingan) dan (3) gelombang sebagai Isen (isian). Metode
penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan analisis interpretasi
(hermenuetik) sebagai metode memperoleh interpretasi obyektifitas yang valid,
mengenai bentuk dan makna ornamen fineugane. Teknik untuk pengumpulan data
yang berkaitan dengan fokus permasalahan, digunakan triangulasi, metode dengan
mengombinasikan teknik-teknik pengumpulan data sebagai berikut; observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengungkapkan tentang ornamen
finugane sebagai ciri khas ornamen dari suku Onate Papua. Hasil yang didapatkan
bahwa, (1) Motif Utama terinspirasi dari manusia yang telah meninggal yang sangat
dihargai, dihormati dan berjasa di dalam kehidupan masyarakat suku Onate.
Pemahaman nilai falsafah masyarakat suku Onate, selain untuk mengingat dan
mengenang orang tersebut ukiran manusia yang dibuat biasanya diletakkan pada
bagian depan rumah agar dapat menjaga dan melindungi rumah tersebut dari hal-hal
buruk. (2) Motif Pengisi (selingan) berupa batu karang menyimbolkan keberanian dan
kegagahan orang Onate, filsafat bagi orang Onate, batu karang selalu kokoh sekalipun
terdapat gelombang dan arus air di laut. (3) Motif Isen (isian) berupa gelombang laut
yang menyimbolkan karakter kehidupan masyarakat.

Kata kunci: Ornamen finugane, tifa, suku onate

I. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang

Suku Onate terletak di Provinsi Papua, kabupaten Kepulauan Yapen. Suku
Onate adalah salah satu suku terbesar di kabupaten Kepulauan Yapen. Tempat
aktivitas kehidupan suku ini pada awalnya di daerah pegunungan, namun sekitar abad
ke-15 atau tahun 1526 sebagian suku ini berpindah dari daerah pegunungan ke daerah
lembah bahkan ke daerah pesisir pantai. Suku ini terdapat ± 150an marga. Bahasa
daerahnya disebut bahasa gunung atau sehari-hari biasa disebut bahasa darat.

Mata pencaharian pada zaman purba kala (nenek moyang), yaitu berburuh dan
berkebun. Ketika sebagian suku ini berpindah dari pegunungan ke daerah lembah
bahkan ke pesisir pantai, mata pencaharian mereka adalah berburu, berkebun dan
nelayan. Meskipun aktivitas kehidupan dan tempat tinggal mereka berbeda-beda
namun kebersamaan tetap terjalin. Menurut kepala suku Onate David Barangkea
(2020), “Suku Onate termasuk suku yang mengenal adanya sistem gotong royong dan
kekeluargaan sejak zaman purba kala (Nenek Moyang), hingga saat ini sistem tersebut
masih tetap dipergunakan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi”.
Masyarakat suku Onate juga menggunakan cara barter atau saling tukar menukar
barang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari seperti makanan sagu, keladi
dan pisang yang ditukar dengan ikan ada juga benda-benda keramik seperti piring,
tembikar ditukar dengan parang, kampak, perahu dan lain-lain.

54

Masyarakat suku Onate menggunakan simbol-simbol sebagai bahasa isyarat
untuk menandakan atau menyampaikan sesuatu antara lain yaitu ornamen. Ornamen
finugane dibuat terinspirasi dari manusia (moyang) yang telah meninggal untuk
dihormati. Ornamen finugane sebagai gambaran manusia penguasa yang tidak terlihat
dipercaya mempunyai kekuasaan dan kekuatan. Ornamen finugane diukir pada kayu,
atau dibuat bentuk patung dan ditempatkan di depan atau di dalam rumah agar arwah
dari moyang yang telah meninggal tidak mengembara atau kesasar lalu marah terhadap
anggota keluarga (kerabat) dan menyakiti mereka. Identitas moyang dapat kita ketahui
dari unsur-unsur motif yang terdapat pada ornamen finugane seperti udang, ombak,
dan karang menggambarkan orang tersebut semasa hidupnya adalah seorang nelayan,
simbol buaya menggambarkan seorang satria, simbol ular melambangkan hobatan
(magic), kadal (kafafire) melambangkan orang banyak bicara dan sebagainya.
Ornamen finugane biasanya diukir pada benda atau alat berperang seperti tameng, hulu
parang, hulu tombak dan juga sebagai hiasan badan untuk berperang.

Tifa adalah alat musik dari tanah Papua. Tifa digunakan sejak moyang dan
diwariskan turun-temurun hingga saat ini. Tifa terbuat dari kayu yang tengahnya
dilobangi secara lokal disebut kayu susu dalam bahasa Latin disebut Alstonia
scholaris, kayu yang tumbuh di hutan belantara Papua. Alat musik ini dimasukkan ke
dalam alat musik drum disebut drum berkepala tunggal. Tifa telah diwarisi sejak
zaman kuno di Papua (I Wayan Rai, 2019). Tifa digunakan dalam pesta-pesta adat dan
khusus dimainkan oleh kaum pria/laki-laki tifa sendiri mempunyai aturan-aturan
dalam memainkannya. Alat musik tifa dilarang kaum perempuan memukul atau
memainkannya karena dianggap sebagai penghinaan juga telah melanggar kehormatan
dan wibawa kaum laki-laki. Perempuan yang sengaja memainkan atau memukul tifa
maka dia akan terkena masalah seperti terjadi kemandulan (kandungan kering), kurang
waras (sausi), dan mendatangkan masalah di dalam rumah tangganya.

Ornamen finugane pada alat musik tifa, berbentuk pola garis lengkung, datar,
dan simetris memberikan gambaran bahwa masyarakat suku Onate adalah orang yang
hidup di daerah pantai. Pola bentuk dan warna pada ornamen finugane yang terdapat
pada alat musik tifa memberikan bentuk kesatuan ornamen yang unik dan berbeda
dengan ornamen-ornamen lainnya di Papua. Ornamen finugane pada alat musik tifa
suku Onate tidak sekadar apa yang dilihat sebagai suatu hiasan pada alat musik
tersebut tetapi lebih dari itu ornamen tidak terlepas dari konteksnya sebagai suatu
perangkat kepercayaan berupa makna filosofis religius. Ornamen pada alat musik tifa
termasuk benda peninggalan budaya suku Onate yang berpotensi menyimpan nilai-
nilai leluhur dari nenek moyang masyarakat suku Onate sehingga menarik untuk
diteliti: bentuk ornamen yang terdapat pada alat musik Tifa.

55

b. Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman bentuk dan makna dari
unsur-unsur ornamen antara lain: (1) motif finugane (manusia) sebagai motif utama
(ornamen utama) (2) motif awawaine (karang) sebagai Motif Pengisi (motif selingan)
dan (3) motif anea (gelombang) sebagai motif Isen (isian).

c. Metode

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif untuk mengumpulkan,
memilih dan menganalisis data. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Kaelan 2005, 5)
penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-
kata, catatan-catatan yang berhubungan dengan makna, nilai dan pengertian. Dengan
demikian, segala hal yang berhubungan dengan Ornamen finugane pada alat musik
tifa (airafe) di suku Onate akan dideskripsikan secara kualitatif.

Tahapan penelitian yang akan dilakukan dalam menyelesaikan penelitian
ornamen pada alat musik tifa (airafe) suku Onate adalah yang pertama, menentukan
masalah penelitian, dalam tahapan ini peneliti mengadakan studi pendahuluan tentang
ornamen finugane pada alat musik tifa (airafe). Kedua, tahap pengumpulan data, pada
tahapan ini peneliti akan menentukan sumber data dengan pengumpulan data yang
menggunakan metode observasi, kepustakaan dan wawancara. Tahap ketiga adalah
analisis dan penyajian data, dalam tahapan ini peneliti menganalisis data yang sudah
terkumpul dan terakhir menarik kesimpulan dari hasil penelitian ini. Penelitian ini
difokuskan pada analisis bentuk dan makna dari ornamen finugane. Analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif kualitatif yaitu memberikan
uraian secara deskripsi tentang bentuk dan makna terhadap suatu objek yang dibahas.
Deskriptif Kualitatif menekankan pada penjabaran data yang didapat di lapangan
dikaitkan dengan teori bentuk. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka teori
yang digunakan adalah teori bentuk dan fungsi ornamen dari Aryo Sunaryo, serta teori
semiotika Barthes untuk menjawab makna dari ornamen finugane sehingga didapatkan
hasil yang jelas dari permasalahan-permasalahan yang muncul dari penelitian ini.
Setelah semua data terkumpul dianalisis dan dibahas secara mendalam, selanjutnya
adalah menarik kesimpulan dari apa yang sudah diuraikan dalam bentuk, dan makna
ornamen finugane pada alat musik tifa (airafe) di suku Onate.

d. Kajian Pustaka

Pola terdiri dari motif (1) Motif utama, merupakan unsur pokok pola, berupa
gambar-gambar bentuk tertentu, karena merupakan unsur pokok, maka kita sebut pula
ornamen pokok (utama). (2) Motif pengisi, merupakan pola berupa gambar-gambar
yang dibuat untuk mengisi bidang, bentuknya lebih kecil dan tidak turut membentuk
arti atau jiwa pola tersebut, ini disebut ornamen pengisi (selingan). (3) Isen, untuk
memperindah pola secara keseluruhan, baik ornamen pokok maupun ornamen pengisi

56

diberi isian berupa hiasan; titik-titik, garis-garis, gabungan titik dan garis. Biasanya
isen dalam seni batik mempunyai bentuk dan nama tertentu, dan jumlah banyak
(Dharsono, 2007, 87).

Motif merupakan unsur pokok ornamen, sebab melalui motif, tema atau ide dasar
sebuah ornamen dapat dikenali. “Perwujudan motif biasanya merupakan gubahan atas
bentuk-bentuk di alam atau sebagai representasi alam yang kasat mata seperti; pohon,
awan, binatang dan hal yang lain. Akan tetapi, ada pula yang merupakan hasil khayalan
yang bersifat imajinatif seperti; naga, singa bersayap, dan hal lain yang imajinatif.
Terakhir ada motif abstrak, motif tidak dapat dikenali dengan pasti misalnya garis-
garis zigzag, berkait bidang persegi atau belah ketupat” (Sunaryo, 2009, 45).

Menguraikan ragam hias ke dalam beberapa kelompok seperti: Kelompok I :
merupakan kelompok bentuk geometris. Kelompok II: merupakan kelompok ragam
hias yang tergolong dalam bentuk pengayaan dari tumbuh-tumbuhan. Kelompok III:
merupakan kelompok ragam hias yang menggambarkan makhluk hidup, berupa jenis
hewan dan manusia, Kelompok IV: sedikit uraian tentang kelompok ragam hias
dekoratif dan gabungan dari beberapa jenis-jenis tersebut di atas. Jenis-jenis ragam
hias yang terdapat pada setiap kelompok itu banyak kita jumpai di dalam berbagai
benda pakai atau benda fisik yang tersebar di beberapa daerah di nusantara ini. Hasil
kesenirupaan masa lampau pada hakikatnya diciptakan oleh generasi-generasi yang
dahulu. Semula merupakan usaha pemenuhan kebutuhan yang bertolak dari latar
belakang kehidupannya. Lebih jauh dari itu, selain keperluan memenuhi kebutuhan
akan benda-benda sakral atau upacara adat, dapat pula dikatakan bahwa karya-karya
tersebut juga merupakan media perlengkapan rasa akan estetika. Rasa estetika itu
mereka siratkan ke dalam benda pusaka atau benda pakai sehari-hari tersebut. Selain
itu, Soegeng Toekio M menjelaskan rupa manusia bukan sekadar sebagai pencipta
ragam hias, ia pun tampil dengan bentuk-bentuk yang tidak kurang indah dari bentuk
lain. (Soegeng Toekio M., 1987, 10).

Ornamen merupakan seni hias sebagai produk seni. Ornamen merupakan
ekspresi keindahan yang diaplikasikan di dalam berbagai objek buatan manusia. Selain
itu, ornamen juga merupakan produk kebudayaan yang digunakan oleh pendukung
kebudayaan tersebut dalam kehidupan bersama (Guntur, 2003, 1).

II. PEMBAHASAN

a. Warna
Warna memiliki kegunaan untuk menunjukkan gelap terang, karena ada berbagai

jenis warna yang membuat efek cerah seperti warna kuning, biru muda, dan warna
terang lain. Warna juga bisa melambangkan suasana perasaan, misalnya untuk
menggambarkan suasana hati sedang sedih pemilihan warna bisa menggunakan warna
pekat dan gelap. Warna juga bisa menunjukkan jauh dekat, perspektif dan sifat atau
pun watak sebuah benda. Warna primer merupakan warna dasar yang bukan campuran

57

dari warna-warna lain. Warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah
merah, biru, dan kuning. Dan warna primer bisa juga disebut sebagai warna pokok,
warna dasar ataupun warna pertama. Warna sekunder merupakan hasil pencampuran
warna-warna primer dengan proporsi 1:1. Nama, lain dari warna sekunder adalah
warna kedua. Warna sebagai sesuatu yang dapat memengaruhi kelakuan seseorang.
Warna berperan penting dalam penilaian terhadap estetika seperti dalam hal penentuan
suka atau tidaknya seseorang terhadap suatu benda, (J. Linschoten dan Drs.
Mansyur: https:seputarilmu.com 2020)

Masyarakat Irian Jaya pada umumnya hanya mengenal tiga warna dasar pokok
yaitu merah, putih dan hitam. Kadang-kadang pula terdapat warna kuning dan hijau
(Don A. L. Flassy, 132). Warna merah melambangkan keadaan bahaya, keberanian,
kepahlawanan dan kepemimpinan. Warna putih melambangkan persaudaraan
kekeluargaan yang suci, bersih adil dan damai sejahtera. Warna hitam secara dominan
memang dikaitkan dengan kegelapan dan maut. Warna hijau memang jarang
digunakan namun mempunyai arti tentang harapan. Warna kuning sebagai lambang
kecintaan, kematangan dan kesungguhan.

Suku Onate sendiri menggunakan warna merah, hitam, dan putih sebagai warna
pokok yang digunakan dalam membuat karya seni. Wujud dari warna-warna tersebut
dapat memberikan pengaruh tanda/isyarat dalam kehidupan masyarakat suku Onate.
Seperti warna merah memberikan isyarat tanda bahaya, warna hitam tanda berduka
warna putih kedamaian. Warna merah yang diperoleh dari getah pohon imane
(lenggua), warna putih dari warna kapur yang biasa digunakan untuk makan pinang
dan warna hitam dari arang kayu. Warna-warna alami tersebut juga digunakan sebagai
warna alami untuk memperindah lukisan ornamen pada zaman dulu. Tetapi melalui
perkembangan sekarang ini masyarakat pengrajin di suku Onate banyak menggunakan
warna sintetis atau cat warna dengan bahan-bahan kimia untuk menghias dan
mewarnai motif-motif yang diukir pada media kayu termasuk ornamen pada alat musik
tifa. Seniman asal suku Onate (Yermias Koyari, 2020 wawancara) cat yang digunakan
untuk mewarnai ornamen finugane adalah cat minyak agar tidak mudah luntur dan
bisa bertahan lama.

b. Kayu

Kayu sebagai bahan utama untuk membuat alat musik tifa. Kayu susu dalam
bahasa Latin disebut (Alstonia scholaris). Kayu jenis ini mudah didapat dan banyak
tumbuh liar di hutan-hutan Papua. Dengan serat yang lunak dan sangat ringan mudah
diangkat kalau sudah terbentuk alat musik tifa. Hal tersebut yang membuat masyarakat
pengrajin tifa lebih memilih menggunakan kayu susu dari pada kayu-kayu lainnya.

58

Gambar 01 : Pohon kayu susu
(Sumber internet: https://www.google.com/imgres?imgurl 19-11-2020 : 10:57)

Pohon kayu susu merupakan pohon besar yang hijau sepanjang tahun, tinggi
lebih kurang 15-50 m, bergetah putih seperti susu. Kulit batang tebal, warna cokelat
keabu-abuan, permukaan batang mempunyai lentisel dan banyak bergalur. Daun
memanjang tersusun melingkar 4-7 daun, permukaan halus, umumnya bergerombol
pada ujung cabang. Bunga kecil, berwarna putih kehijauan, mempunyai aroma yang
kuat. Kalik bergerigi, mahkota bunga berbentuk tabung panjang 8-10 mm, bagian
luarnya berambut halus. Mempunyai kantung kelenjar yang panjang dan sempit. Biji
berwarna cokelat berambut pada kedua ujungnya. Musim berbunga pada bulan April.
Pada umumnya merupakan tumbuhan dataran rendah di hutan primer atau sekunder
dan di pegunungan rendah hutan hujan tropis. Terdapat juga di daerah yang tertutup
pohon, savana dan hutan hujan sedang. Tumbuhan ini banyak dijumpai hampir di
seluruh kabupaten di Papua (Jayapura, Merauke, Keerom, Timika), terutama di daerah
dataran rendah. (internet: https://budaya-indonesia.org/Kayu-Susu)
c. Alat Musik Tifa Suku Onate

Tifa suku Onate memiliki ukuran 50-150cm. Ukuran dari alat musik tifa tersebut
dibuat agar dapat memperoleh suara yang bervariasi. Bunyi atau suara tifa yang
pendek 50cm-80cm bunyinya nyaring dan nadanya tinggi, sedangkan tifa yang
panjang 90cm-150cm bunyinya bass dan nada rendah.

59

Gambar 02: Tifa suku Onate Yapen
(Foto: Yanes Koyari, 2020)

Kepala tifa
airafe tubane

(Kuga)

pegangan (Saraka)

Pingang
(artemona)

Kaki (ajo)

Gambar 03: Foto Yanes Koyari 2020: Tifa Suku Onat
Tifa suku Onate ukurannya 50cm-80cm disebut tifa kecil (airafe tubane)
sedangkan ukuran 90cm-150cm disebut tifa besar (airafe andoi). Tifa biasanya terdiri
dari empat bagian penting, yaitu bagian kepala, bagian tengah atau pinggang terdapat
lingkaran yang berbentuk sabuk, bagian bawah disebut kaki dan pegangan atau
gagang. Dalam bahasa Onate, bagian atas Kuga dianalogikan sebagai kepala

60

manusia; tengah artemona dianalogikan sebagai pinggang, bagian bawah ajo
dianalogikan sebagai kaki manusia dan pegangan atau gagang tifa (saraka) di
analogikan sebagai tangan manusia. Menurut tokoh budayawan suku Onate (Daud
Kamarea, S.Sos 2020, wawancara) “Tifa diibaratkan sebagai seorang manusia yang
perlu berpakaian yaitu ornamen sebagai pakaiannya”. Pandangan tersebut bagi
masyarakat suku Onate bahwa tifa tanpa ornamen adalah sebuah simbol ketelanjangan.
d. Teknik pembuatan ornamen pada Tifa

Teknik pembuatan ornamen pada alat musik tifa menggunakan teknik cukil atau
raut. Alat yang digunakan untuk mengukir, yaitu pisau ukir, pisau yang dibuat sendiri
oleh si Pengukir. Teknik cukil atau raut adalah cara yang lazim dilakukan oleh seniman
di suku Onate dalam pembuatan ukiran pada badan alat musik tifa.

(Gambar 04. Foto: Korneles Aisoi 04-11-20 teknik penerapan
ornamen pada alat musik tifa suku Onate)

e. Motif Finugane Sebagai Motif Utama (motif utama)

Gambar 05: ornamen finugane sebagai ornamen utama pada tifa (airafe)
(Sumber: Dok. Yanes Koyari 2020)

61

Ornamen manusia finugane pada alat musik tifa sebagai ornamen utama
menunjukkan bahwa simbol manusia tersebut sangat dihargai dan dihormati. Ornamen
yang tampak berbentuk manusia dekoratif yang dipadukan dengan garis-garis
melingkar simetris menunjukkan bahwa ornamen finugane ini menceritakan sosok
seseorang yang hidupnya selalu berkaitan dengan lautan. Orang tersebut mempunyai
kelebihan di saat melaut mencari ikan, atau bepergian melewati lautan. Untuk itu
ornamen finugane tersebut dibuat sebagai wujud untuk menghormati sekalian diyakini
dapat melindungi masyarakat yang hidupnya di pinggir laut.

Warna merah memberikan pesan bahwa ornamen finugane tersebut memiliki
kesaktian. Keyakinan tersebut seperti dikatakan seniman dan budayawan Suku Onate
(Amos Raweyai 2020, wawancara) “Ornamen finugane diukir pada tifa supaya tifa
tersebut terlihat indah dan mempunyai nyawa warna merah memberikan unsur
semangat”.

f. Motif Awawaine (karang) Sebagai Motif Pengisi (motif selingan)

Gambar 06: Ornamen batu karang (Awawaine) sebagai motif pengisi atau
selingan (sumber: Dok. Yanes Koyari 2020)

Makna ornamen Awawaine pada alat musik Tifa Awawaine atau terumbu karang
adalah rumah bagi hewan laut terutama ikan. Orang dapat mencari dan menangkap
ikan di tempat-tempat yang banyak terumbu karang. Menurut tokoh adat suku Onate
(Nikolas Koyari 2020, wawancara), “Selain memberikan warna yang indah terumbu
karang mempunyai warna yang cantik, dan memberikan kehidupan bagi manusia di
mana terumbu karang tersebut menjadi rumah bagi ikan-ikan di laut”. Agar manusia
tidak susah untuk pergi mencari ikan. Selain itu, terumbu karang memberikan simbol
kekuatan bagi masyarakat suku Onate di mana batu karang akan tetap kokoh walaupun
di tengah gelombang laut.

g. Motif Anea (Gelombang) sebagai Motif Isen (isian)

Gambar 07: Ornamen gelombang (anea) sebagai motif Iseng (isian)
(Sumber: Dok. Yanes Koyari 2020)

62

Makna ornamen anea pada alat musik tifa airafe tubane ornamen/motif
anea ini identik dengan kehidupan masyarakat suku Onate yang berada di
pesisir pantai. Gelombang laut memberikan harapan hidup, seniman dan
budayawan Suku Onate (Amos Raweyai 2020, wawancara) “Dengan
terinspirasi dari laut maka semangat masyarakat suku Onate yang berada di
daerah pesisir pantai mempunyai semangat yang sama seperti gelombang laut”.
Selain itu, ombak sebagai simbol semangat seseorang dalam berbicara atau
melakukan sesuatu.

III. PENUTUP
a. Kesimpulan

Ornamen pada alat musik tifa adalah salah satu produk kesenian dan
aset kekayaan kebudayaan masyarakat suku Onate kabupaten Kepulauan
Yapen Provinsi Papua. Secara morfologis ornamen finugane memiliki
karakteristik yang spesifik, unik dan sederhana. Sesungguhnya ornamen
finugane sebagai motif utama, ornamen awawaine sebagai motif pengisi
(selingan) dan motif anea sebagai motif Isen (isian) pada alat musik tifa
memiliki kaitan yang erat dengan sejumlah gagasan atau ide serta perilaku
masyarakat sehingga eksistensinya diyakini sebagai ekspresi masyarakat suku
Onate dalam merepresentasikan nilai-nilai kebudayaannya.

b. Saran

Sebagai sebuah kreativitas tradisional masyarakat suku Onate, ornamen
finugane sebagai motif utama, ornamen awawaine sebagai motif pengisi
(selingan) dan motif anea sebagai motif Isen (isian) pada alat musik tifa dapat
dijadikan model pengembangan desain pada kerajinan-kerajinan ukir kayu
seperti cendera mata, meubel dan juga disarankan untuk menjadi ikon dalam
pengembangan benda-benda budaya pada daerah kabupaten Kepulauan
Yapen dan tentunya menambah potensi keanekaragaman ornamen Nusantara.

DAFTAR PUSTAKA

Dharsono, Sony Kartika. 2007. Budaya Nusantara. Bandung: Penerbit Rekayasa
Sains.

Dharsono, Sony Kartika. 2016. Kreasi Artistik Perjumpaan Tradisi Modern Dalam
Paradigma Kekaryaan Seni. Karanganyar: Penerbit Citra Sains.

Flassy, Don A.L. 2008. Aspek dan Prospek Seni Budaya Papua. Jakarta: Balai Pustaka.

https://seputarilmu.com/2020/02/pengertian-warna-menurut-para-ahli.html (19-11-
2020 : 10:27)

63

https://www.google.com/search?q=cat+asturo&safe (19-11-2020: 11:28)
https://www.google.com/imgres?imgurl (19-11-2020: 10:57)
https://budaya-indonesia.org/Kayu-Susu (19-11-2020: 11:08)
https://www.google.com/search?q=tifa+suku+asmat&safe (19-11-2020: 11:28)
https://www.google.com/search?q=cat+aries&safe (19-11-2020: 11:28)
Jaya, Taman Budaya Provinsi Irian. 1998. “Kesenian Tradisional Irian Jaya Suku

Ansus, Suku Waropen, dan Suku Onate Di Kabupaten Yapen Waropen”.
Jayapura: Taman Budaya Provinsi Irian Jaya.
Moleong, Lexy. 2001. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
N. Dharsono Soni Kartika. 2004. Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains.
Piliang, Yasraf Amir. 2012. Semiotika dan Hipersemiotika. Bandung: Matahari.
Sunaryo, Aryo. 2009. Ornamen Nusantara Kajian Khusus Tentang Ornamen
Indonesia. Semarang: Dahara Prize.
Wayan Rai S, I. 2019. “Tifa Dari Tanah Papua: Teks dan Konteks”. Filipina: ©
Rushing Water Publishers Ltd.
Narasumber:
Amos Raweyai (61) Serui, 04 Februari. 2020. Seniman.
David Barangkea (67) Serui, 02 Februari. 2020. kepala suku besar Onate.
Daud Kamarea (50) Serui, 14 Februari. Pegawai Negeri Sipil dan tokoh adat suku
Onate.
Nikolas Koyari (65) Serui, 02 Februari. 2020 Pensiunan Pegawai Negeri Sipil dan
Tokoh Adat Suku Onate.
Yermias Koyari (49) Serui, 04 Februari. 2020. Seniman.

64

EKSISTENSI KERAJINAN LOGAM DI TUMANG CEPOGO
BOYOLALI

Adi Wirasta
Pasca Sarjana, Institut Seni Indonesia Surakarta

email: [email protected]

Abstrak
Kerajinan Logam di Tumang, Cepogo, merupakan potensi kebudayaan Nusantara
yang terletak di Boyolali Jawa Tengah. Kerajinan ini bersifat turun-menurun dari
generasi ke generasi, yang hingga kini masih dikembangkan oleh sebagian besar
masyarakat Tumang. Tradisi pembuatan produk kerajinan logam Tumang telah
mengalami transformasi yang signifikan, sejak awal berdirinya hingga sebelum tahun
1960an, hasil produk berorientasi pada benda peralatan rumah tangga, kemudian pada
awal tahun 1980-an hingga kini telah mengalami perubahan industri kerajinan logam
khususnya tembaga di Tumang memiliki peran strategis dalam perekonomian
nasional, 60% lebih produk kerajinan tembaga telah memasuki pasar internasional
produk yang berorientasi pada ekspor kerajinan. Faktor penyebab perubahan budaya
melalui produk baru mencakup: faktor internal dan eksternal, dorongan dan arah
proses perubahan (inovasi), serta berbagai fenomena perubahan sosial kultural. Faktor
internal didorong oleh kreativitas para pembuatan kerajinan logam, sedangkan faktor
eksternal banyak dipacu oleh konsumen, seniman, atau figur inovasi lainnya, dan
permintaan pasar. Perubahan produk kerajinan logam Tumang memiliki implikasi
terhadap masyarakatnya dengan tanda adanya sistem pembagian kerja yang bersifat
profesional. Eksistensi kerajinan logam di Tumang sebagai produk seni dalam
masyarakat masih diterima sesuai dengan perkembangan dan perubahan peradaban
masyarakat.

Keywords: Kerajinan, logam, tumang, eksistensi produk

I. PENDAHULUAN

Desa Tumang Cepogo adalah salah satu desa kerajinan di Kabupaten
Boyolali. Tradisi kerajinan logam khususnya tembaga sudah berabad-abad
diwariskan lintas generasi. Pasang surut industri logam khususnya tembaga dapat
dilalui hingga saat ini. Sampai saat ini kerajinan logam di kawasan ini terus
berkembang dan dapat menjadi tumpuan kehidupan masyarakat setempat, saat ini
saja hampir 60%-an masyarakat desa Cepogo sudah terlibat dalam kegiatan industri
logam. Dari mulai pengadaan bahan baku, pengrajin, desainer, pengusaha,
pemasaran dan kegiatan yang mendukung lainnya. Kerajinan logam dapat
dipandang sebagai objektivitas ide, nilai, norma dan peraturan maupun perilaku
masyarakat (Celia Lury, 1998: 58). Dalam konteks benda budaya, menurut S.T
Alisyabana bahwa ide, norma, nilai dan lain sejenisnya yang diobjektivitaskan ke
dalam bentuk tertentu merupakan refleksi perilaku (Alisyabana, 2000: 1).

65

Oleh karena dengan uraian tersebut bahwa dikatakan suatu produk di satu
daerah akan berbeda dengan jenis logam yang dihasilkan di daerah lain. Perbedaan
bentuk, ornamen, teknologi garap, fungsi, makna, dan lain-lain itu tidak bersifat
kebetulan, tetapi memiliki dasar budaya yang berkarakteristik, dan hal yang sama
juga terjadi di kerajinan logam Tumang, Boyolali. Walaupun keberadaan kerajinan
logam di Tumang sebagai kegiatan berkesenian yang mempertimbangkan nilai
estetik dan artistik, tetapi bertahannya hingga saat ini juga tidak lepas dari tuntutan
ekonomi, artinya ketika seorang perajin melakukan aktivitas produksi tentu tidak
lepas dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena akibatnya memiliki
pengaruh terhadap perkembangan produk kerajinan logam Tumang, yang hingga
kini bahkan telah terjadi perubahan yang secara signifikan terhadap produk yang
dihasilkan, dan dapat memberi pengaruh terhadap peningkatan taraf hidup
masyarakat Tumang, Boyolali.

Perubahan produk kerajinan logam di Tumang diawali sejak tahun 1960an
dan berlangsung hingga kini, perubahan itu dapat diidentifikasi melalui beberapa
hasil produknya, yang sebelum tahun 1960an hasil produksinya masih berorientasi
terhadap peralatan rumah tangga seperti: jun, dandang, kwali, ceret, kenceng,
cowek, dan lain sejenisnya, tetapi setelah tahun 1960-an hasil produknya telah
mengalami perubahan bentuk dan fungsinya, yang berorientasi terhadap benda seni
hias, sehingga jenis produknya cukup bervariasi dan memiliki jangkauan penerapan
fungsional yang luas, produknya antara lain: vas bunga, jambangan, pot bunga,
lampu, tempat lilin, hiasan dinding, patung, pelengkap interior dan eksterior dan
lainnya. Walau telah terjadi perubahan produk, dalam proses perubahan dan
perkembangannya terjadi setiap saat, para perajin kerajinan logam Tumang Boyolali
tetap memproduksi produk-produk lama.

Perubahan produk kerajinan logam Tumang secara konkret telah
mengidentifikasikan bahwa telah terjadi perubahan terhadap bentuk, teknik garap,
bahkan sistem pemasarannya. Keberadaan kerajinan logam Tumang yang tampak
dinamis dapat dilihat dari kreativitas pengelolaan dengan berbagai bentuk garap
yang didukung oleh kemampuan penguasaan teknologi garapnya. Walaupun
sebagian masih ada yang menggunakan teknologi yang sederhana, akan tetapi
kondisi demikian bukan merupakan masalah mendasar bagi berlangsungnya
perkembangan dalam aktivitas produksinya, yang menyangkut antara lain:
pengadaan bahan, penerapan desain, peralatan, teknik garap, ragam hias, sistem
pemasaran dan perajinnya serta kondisi sosial budayanya.

Uraian di atas telah mengindikasikan bahwa terjadi perubahan dalam
aktivitas berkesenian terutama pada aspek teknologi dan sistem pemasarannya, yang
dalam perspektif luas dikatakan bahwa perubahan teknologi dalam kerajinan logam
adalah mencakup suatu sistem aktivitas pemilihan dan persiapan bahan, desain,
pembuatan, distribusi pemasaran dan penggunaan ulang artefak yang telah ada
(Aronson and Fournier, dalam Guntur, 2000:12).

66

Perubahan terhadap produk kesenian berkait erat dengan perubahan sosial
dan kultural masyarakat setempat. Kesenian adalah produk sosial dan produk
budaya, proses sosial dan kultural tercermin pada produk yang dihasilkan (Janiet
Wolf, 1993:1). Alhasil keberadaan kerajinan logam di Tumang Boyolali benar-
benar eksis yang bisa memberi kesejahteraan terhadap para pelaku kriya logam
tersebut, bahkan ketika kondisi ekonomi nasional mengalami gonjang-ganjing yang
tidak menentu, masyarakat Tumang sama sekali tidak terpengaruh secara signifikan.

Industri kerajinan logam khususnya tembaga di Tumang memiliki peran
strategis dalam perekonomian nasional, 60% lebih produk kerajinan tembaga telah
memasuki pasar internasional. Meski demikian saat ini industri logam khususnya
tembaga meskipun terus tumbuh dan berkembang tetapi berbagai persoalan dan
tantangan menghadang di depan mata. Persaingan dengan industri 4.0 menjadikan
ancaman tersendiri terhadap daya saing dari produk yang dihasilkan, di sisi lain
ancaman dari internal pengrajin yaitu proses regenerasi pengrajin tidak berjalan
dengan baik. Meskipun masih banyak generasi muda yang mau menjadi pengrajin,
tetapi jika didasarkan pada kebutuhan sumber daya manusianya, masih jauh dari
mencukupi. Identitas juga menjadi persoalan mendesak yang perlu mendapatkan
perhatian, saat ini produksi kerajinan tembaga dari Tumang sudah menembus pasar
global tetapi sejauh ini tidak ada merek yang menyimbolkan identitas produk
tembaga sehingga banyak konsumen yang tidak tahu bahwa berbagai produk yang
mereka gunakan berasal dari desa Tumang Cepogo.

Sehubungan apa yang telah diuraikan di atas kami tertarik untuk melakukan
kajian ilmiah terhadap keberadaan kerajinan logam Tumang, Boyolali. Tujuannya
untuk mengetahui tentang fenomena terkait dengan kreativitasnya, yang hingga kini
kriya logam menjadi primadona di kehidupan masyarakat Tumang, Boyolali.
Adapun dalam kajian ini kami mencoba mengetahui keberadaan kerajinan logam
Tumang Boyolali itu dengan pendekatan berbagai multi disipliner yakni pendekatan
psikologi terkait dengan apresiasi baik oleh perajin sendiri maupun masyarakat,
kemudian dengan pendekatan antropologi untuk mengetahui lebih lanjut mengenai
terkait adanya aktivitas terkait produk kerajinan logam di Tumang Boyolali dan
yang ketiga adalah dengan pendekatan sosiologi dengan tujuan untuk mendapatkan
gambaran terhadap fungsi kerajinan logam baik masyarakat Tumang maupun
masyarakat luar dari Tumang Boyolali.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kajian Keberadaan Kerajinan Logam di Tumang, Cepogo, Boyolali, untuk
menjelaskan mengenai eksistensi kerajinan logam yang ada di daerah Tumang dan
sekitarnya. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan lebih menekankan pada data
empiris yang diperoleh dari lapangan, di samping data pustaka. Penelitian ini berusaha
memahami eksistensi kerajinan logam di Tumang, yang selalu melekat dalam

67

kehidupan sehari-hari pada masyarakat setempat. Oleh karena itu, penelitian ini
memerlukan data-data lapangan maupun data pustaka yang akan dianalisis secara
ilmiah sehingga diperlukan langkah-langkah metodologinya.

Data yang bersumber dari lokasi penelitian menyangkut serangkaian
aktivitas kerajinan logam di Tumang, Cepogo, Boyolali dan segala aspek yang
menjadi sumber data utama penelitian ini. Upaya mendapatkan data tersebut peneliti
melakukan pengamatan langsung (Sutopo, 1986: 56). Karena dengan melibatkan
diri dalam aktivitas perajin logam di Tumang, dapat memperoleh gambaran yang
jelas mengenai eksistensi kerajinan logam di Tumang, Cepogo, Boyolali secara
komprehensif.

Wawancara dilakukan kepada informan yang dipandang memiliki
kompetensi dan memahami permasalahan, seperti para tokoh masyarakat, perajin
dan budayawan dan lain sebagainya. Wawancara yang dilakukan lebih bersifat
terbuka ini telah memberi peluang keleluasaan terhadap penggalian informasi
dengan fokus-fokus tertentu sehingga diperoleh informasi yang mendalam terkait
dengan unit analisisnya.

Sementara metode dokumentasi yang melaluinya diperoleh dokumen-
dokumen penting baik tertulis maupun data visual yang diupayakan menjadi bahan
analisis dan media penjelasan dalam mengurai fenomena yang hendak ditelaah.
Validatasi data yang diperoleh untuk diuji dengan teknik triangulasi data yang
mengarahkan penelitian untuk menggunakan beberapa data sejenis sebagai
pembanding dengan demikian data yang satu bisa lebih teruji jika dibanding dengan
data sejenis yang diperoleh dari sumber lain, sedangkan teknik triangulasi metode
dilakukan dengan cara membandingkan data sejenis dengan pengumpulan data yang
berbeda (Moleong, 1996: 178).

Analisis data dilakukan secara simultan, berjalan seiring dengan
pengumpulan data-data lapangan, dan menyajikannya dalam bentuk laporan.
Analisis tafsir dalam penelitian ini dirangkum melalui tiga fakta, yaitu pengamatan
di lapangan, studi pustaka, dan hasil wawancara. Model analisis data untuk
menguraikan berbagai macam fakta yang terkumpul dan dari unsur-unsur masalah
yang sangat erat hubungannya dengan pokok bahasan yang dijelaskan, dikaitkan
sehingga menjadi suatu uraian yang lebih menjelaskan pokok persoalan. Model
analisis data tersebut adalah analisis data interaktif (Miles, MB and Huberman, MA,
1984: 20).

III. METODE PENELITIAN

Kajian keberadaan kerajinan logam di Tumang, Cepogo, Boyolali, untuk
menjelaskan mengenai eksistensi kerajinan logam yang ada di daerah Tumang dan
sekitarnya. Oleh karenanya penelitian yang dilakukan lebih menekankan pada data
empiris yang diperoleh dari lapangan, di samping data pustaka. Penelitian ini berusaha
memahami eksistensi kerajinan logam di Tumang, yang selalu melekat dalam

68

kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Oleh karena itu, penelitian ini
memerlukan data-data lapangan maupun data pustaka dan dianalisis secara ilmiah,
untuk itu diperlukan langkah-langkah metodologinya.

Data yang bersumber dari lokasi penelitian menyangkut serangkaian aktivitas
kerajinan logam di Tumang, Cepogo, Boyolali dan segala aspek yang menjadi sumber
data utama penelitian ini. Upaya mendapatkan data tersebut peneliti melakukan
pengamatan langsung (Sutopo, 1986: 56). Karena dengan melibatkan diri dalam
aktivitas pengrajin logam di Tumang, dapat memperoleh gambaran yang jelas
mengenai eksistensi kerajinan logam di Tumang, Cepogo, Boyolali secara
komprehensif.

Wawancara dilakukan kepada informan yang dipandang memiliki
kompetensi dan memahami permasalahan, seperti para tokoh masyarakat, perajin dan
budayawan dan lain sebagainya. Wawancara yang dilakukan lebih bersifat terbuka ini
telah memberi peluang keleluasaan terhadap penggalian informasi dengan fokus-fokus
tertentu sehingga diperoleh informasi yang mendalam terkait dengan unit analisisnya.

Sementara metode dokumentasi yang melaluinya diperoleh dokumen-
dokumen penting baik tertulis maupun data visual yang diupayakan menjadi bahan
analisis dan media penjelasan dalam mengurai fenomena yang hendak ditelaah.
Validasi data yang diperoleh untuk diuji dengan teknik triangulasi data yang
mengarahkan penelitian untuk menggunakan beberapa data sejenis sebagai
pembanding dengan demikian data yang satu bisa lebih teruji jika dibanding dengan
data sejenis yang diperoleh dari sumber lain, sedangkan teknik triangulasi metode
dilakukan dengan cara membandingkan data sejenis dengan pengumpulan data yang
berbeda (Moleong, 1996: 178).

Analisis data dilakukan secara simultan, berjalan seiring dengan
pengumpulan data-data lapangan, dan menyajikannya dalam bentuk laporan. Analisis
tafsir dalam penelitian ini dirangkum melalui tiga fakta yaitu pengamatan di lapangan,
studi pustaka, dan hasil wawancara. Model analisis data untuk menguraikan berbagai
macam fakta yang terkumpul dan dari unsur-unsur masalah yang sangat dikaitkan
sehingga menjadi suatu uraian yang lebih menjelaskan pokok persoalan. Model
analisis data tersebut adalah analisis data interaktif (Miles, MB and Huberman, MA,
1984: 20).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Artikel ini membahas bagaimana apresiasi masyarakat terhadap kehadiran
kerajinan logam di Tumang, Boyolali. Kajian lebih menekankan kepada ikatan batin
(emosional) personal berbagai individu dalam kehidupan masyarakat umum, yang
terdiri dari para perajin sebagai pelaku seni, masyarakat penikmat dan para
stakeholder.

69

Pengrajin Logam di Tumang

Desa Tumang Cepogo adalah salah satu desa kerajinan di Kabupaten
Boyolali, tradisi kerajinan logam khususnya tembaga sudah berabad-abad diwariskan
lintas generasi. Pasang surut industri logam khususnya tembaga dapat dilalui hingga
saat ini. Sampai saat ini kerajinan logam di kawasan ini terus berkembang dan dapat
menjadi tumpuan kehidupan masyarakat setempat. Saat ini hampir 60% masyarakat
desa Cepogo sudah terlibat dalam kegiatan industri logam. Dari mulai pengadaan
bahan baku perajin, desainer, pengusaha, pemasaran dan kegiatan yang mendukung
lainnya.

Industri kerajinan logam khususnya tembaga di Tumang memiliki peran
strategis dalam perekonomian nasional, 60% lebih produk kerajinan tembaga telah
memasuki pasar internasional, meski saat ini industri logam khususnya tembaga terus
tumbuh dan berkembang, tetapi berbagai persoalan dan tantangan menghadang di
depan mata. Persaingan dengan industri 4.0 menjadikan ancaman tersendiri terhadap
daya saing dari produk yang dihasilkan. Di sisi lain ancaman dari internal pengrajin
yaitu proses regenerasi pengrajin tidak berjalan dengan baik. Meskipun masih banyak
generasi muda yang mau menjadi perajin, tetapi jika didasarkan pada kebutuhan
sumber daya manusianya, masih jauh dari mencukupi. Identitas juga menjadi
persoalan mendesak yang perlu mendapatkan perhatian, saat ini produksi kerajinan
tembaga dari Tumang sudah menembus pasar global tetapi sejauh ini tidak ada merek
yang menyimpulkan identitas produk tembaga sehingga banyak konsumen yang tidak
tahu bahwa berbagai produk yang mereka gunakan berasal dari desa Tumang Cepogo.

Tradisi kriya logam di Tumang

Sejarah Tumang tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa.
Semenjak awal berdirinya kerajaan Mataram Islam desa ini telah memainkan
perannya, sebagai sentra kriya logam khususnya tembaga yang memasok hasil
karyanya terutama untuk mendukung kebesaran dan keagungan Keraton Mataram.
Karya-karya yang utama dikaitkan dengan aksesori untuk mendukung keagungan
upacara-upacara kerajaan Jawa. Di samping itu, karya-karya mereka juga dikaitkan
dengan kelengkapan adat perkawinan keraton, seperti bokor dan ubarampe lainnya.
Manik-manik untuk hiasan baju kalangan bangsawan atau keraton juga diproduksi
pada masa itu. Hasil-hasil kriya logam masyarakat Tumang bahkan atas rekomendasi
keraton Mataram, dapat dipamerkan dan dijual di Kotagede, daerah dekat istana
keraton Kartasura; sebagai pusat cermin peradaban Jawa. Sepertinya, hasil kriya logam
dari Tumang telah menjadi alat diplomasi dengan negara-negara Eropa dan Asia,
karena dipakai sebagai cendera mata. Mungkin juga pada saat itu kriya logam Tumang
sudah menjadi produk perdagangan lintas bangsa. Bahkan saat ini, menurut pengakuan
salah seorang perajin sukses hampir 60% produksi kriya logam yang diproduksi
masyarakat Tumang diekspor ke pasar Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Australia,
dan sejumlah negara Asia dan Eropa. Sebagai karya adiluhung layak kiranya jika hasil

70

kriya logam milik masyarakat ini menjadi kebanggaan bangsa yang lahir dari tangan-
tangan kreatif dan sejarah panjang yang diawali oleh seorang tokoh bernama Kyai
Ageng Rogosasi dan Mpu Supandriyo sebagai cikal bakal pendiri desa Tumang putra
keturunan ningrat dari Mataram yang diasingkan dari keraton karena keterbatasan
fisiknya.

Ki Ageng Pemahanan dan Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring Paderesan yang
mendapatkan wahyu dalam rupa degan atau kelapa muda. Siapa yang minum air
dengan itu sekaligus, dia akan menurunkan raja. Sial bagi Giring. Saat berkunjung ke
rumahnya, Pemanahan mendahului meminumnya. Menyadari kekeliruan itu, Giring
minta belas kasihan agar keturunannya kelak dapat menggantikan kedudukan
keturunan Pemanahan sebagai raja. Pemanahan menjawab setelah keturunan
Pemanahan ke-7, ada kemungkinan keturunan Giring menjadi raja. Raja pertama
Mataram adalah Panembahan Senopati, anak Pemanahan. Kedua, Panembahan
Hanyakrawati. Ketiga, Panembahan Martapura. Keempat, Sultan Agung. Kelima,
Amangkurat I. Keenam, Amangkurat II dan ketujuh, Amangkurat III. Dengan
perhitungan itu, maka Poeger menjadi raja setelah keturunan ke-7 dari Pemanahan.
Apalagi Poeger bertakhta setelah mengalahkan Amangkurat III. Dugaan Poeger
merupakan keturunan Giring berasal dari Babad Nitik Sultan Agung. Babad itu
menceritakan Ratu Labuhan, permaisuri Amangkurat I melahirkan bayi yang kurang
sempurna. Bersamaan itu, istri Pangeran Arya Wiramanggala dari Kajoran, di lereng
gunung Merapi yang masih keturunan Giring, Gunungkidul melahirkan seorang bayi
sehat dan tampan. Amangkurat mengenal Panembahan Kajoran sebagai seorang ulama
sepuh dan dapat menyembuhkan orang sakit. Oleh karena itu, putranya yang cacat
dibawa ke Kajoran untuk dimintakan penyembuhannya. Kajoran merasa bahwa inilah
kesempatan yang baik untuk merajakan keturunannya. Dengan cerdiknya bayi anak
Wiramanggalah yang dikembalikan ke Amangkurat I ditukar dengan menyatakan
bahwa upaya penyembuhannya berhasil. Bayi itu kemudian dikenal sebagai Pangeran
Puger, sementara Rogowulan anak dari Amangkurat I tetap diasuh oleh Panembahan
Kajoran sampai dewasa. Dituturkan dengan versi yang berbeda tetapi mengonfirmasi
data di atas, tertulis dalam Buku Sejarah Cikal Bakal Desa Tumang membenarkan
peristiwa tersebut, sil membangun peradaban baru bersama anak buahnya bernama
Mpu Supandriyo. Sebuah pengorbanan yang tidak sia-sia, karena keterampilan
mengelola logam yang diwariskan Kyai Rogosasi dan Empu Supandriyo masih lestari
sampai saat ini dan menjadi sumber penghidupan masyarakat, selain itu juga dapat
mengangkat harkat dan martabat masyarakat Tumang.

Cerita di balik nama desa Tumang dari berbagai informasi yang dikumpulkan,
ada berbagai versi tentang asal muasal desa Tumang Cepogo, salah satu versi yang
berkembang di sana adalah pohon besar yang sampai saat ini tidak diketahui kapan
ditanamnya. Desa Tumang Cepogo konon ceritanya lahir dari cerita rakyat tentang
adanya cahaya yang bersinar terang setiap malamnya, cahaya tersebut bersumber dari
pohon randu alas yang berada di ujung dusun. Saat ini pohon berusia ratusan bahkan
ribuan tahun ini masih kokoh berdiri dan disakralkan oleh masyarakat setempat.

71

Beberapa masyarakat menganggap cahaya yang keluar dari pohon randu alas tersebut
adalah hantu Kemamang. Cerita ini yang kemudian berkembang dan konon ceritanya
kata Tumang itu berasal dari hantu Kemamang. Versi lain juga menyampaikan bahwa
jauh sebelum masa Mataram Islam, daerah ini adalah daerah umat Hindu untuk
melakukan upacara Ngaben (pembakaran mayat). Dalam masyarakat Jawa bibir
tungku itu dinamakan Tumang, karena itu salah satu tempat yang digunakan untuk
membakar mayat adalah Tumang. Karena itu daerah tersebut disebut sebagai Tumang.
Perjalanan hidup Kyai Rogosasi Saat ini ada sebagian masyarakat yang masih tabu
mengungkap silsilah dari Kyai Rogosasi, karena itu cukup sulit mencari informasi
tentang hal tersebut. Konon kabarnya, pendiri dusun Tumang adalah Ki Ageng
Rogowulan adalah seorang Pangeran Kerajaan Mataram Islam, yakni putra pertama
Amangkurat I (1619-1677).

Di sini kemudian Rogosasi diasuh oleh Kyai Wonogoro, setelah beranjak
dewasa dia berniat untuk mencari pengetahuan baru seperti yang diwasiatkan oleh
Kyai Kajor untuk belajar ilmu agama. Perjalanan Kyai Rogosasi, untuk mendapatkan
pengetahuan ilmu agama menarik untuk ditelusuri. Untuk mendapatkan pengetahuan
tentang agama setelah dirasa bekal ilmu dari Kyai Wonogoro telah mencukupi, maka
Kyai Rogosasi kemudian meninggalkan Wonosegoro untuk beberapa saat demi belajar
ilmu agama. Sebuah padepokan santri yang ada di wilayah utara gunung Ungaran
tempat pilihan beliau untuk belajar agama Islam, atas asuhan Kyai Hasan Munadi
Rogosasi belajar ilmu agama, beliau juga yang kelak menjadi mertua dari Kyai
Rogosasi. Setelah menikah kemudian Rogosasi kembali ke Wonosegoro dan
mendirikan pemukiman baru di sebelah timur Wonosegoro. Di tempat ini kemudian
Rogosasi mendirikan Pakuwon, di sini juga Rogosasi tinggal, yang saat ini dikenal
dengan dusun Tumang. Datangnya Mpu Supandriyo dan kerajinan logam di Tumang.
Para keluarga keraton sepertinya tidak berharap Rogosasi kembali ke istana. Aroma
perebutan kekuasaan memang kental jika membaca kisah Kyai Rogosasi, Setelah
diendangkan (dijauhkan dari Istana) Rogosasi kecil belajar ilmu agama sampai
akhirnya berhasil membangun Pakuwon, Padepokan di dusun Tumang. Pakuwon yang
didirikannya ternyata banyak pengikutnya, kesuksesan Kyai Rogosasi ini terdengar
sampai ke istana. Karena itu dalam buku Sejarah Tumang dituliskan bahwa, Sri Agung
Panembahan (belum diketahui siapa beliau) mengutus keponakannya bernama
Supandriyo, ahli keris pewaris trah Supandriyo dituliskan bahwa Siwi Aji Rogosasi
memang benar-benar putra Bangsawan Mataram, namun kelahiran sang Putera ini
memiliki ketidaksempurnaan fisik. Dalam Naskah tersebut dituliskan sebagai berikut:
"Seribu maaf mulai kelahirannya Syang Putra itu Kagungan: Jaroh manik sariro roga,
hingga dalam hukum istana tiada mungkin bisa berdiri menjadi Senopati pemegang
kuasa istana, maka Syang Siwi Aji diendangkan keluar istana mulai timur alit"
Disampaikan bahwa Kyai Rogosasi atau Rogowulan kecil lahir tidak sempurna, karena
itu tidak dapat melanjutkan tampuk kekuasaan sebagai penerus Raja. Karena itu
kemudian Rogowulan kemudian diasingkan dari istana semenjak dia masih bayi,
kemudian untuk menggantikan posisi Rogowulan yang harus meneruskan

72

kepemimpinan kerajaan maka dicari anak yang lahir sama usianya dengan Rogowulan,
kemudian Rogowulan yang kelak kemudian hari berubah menjadi Rogosasi ini
dititipkan kepada Kyai Kajor yang tinggal di lereng Gunung Merapi. Hal ini
dipaparkan dengan jelas dalam buku yang sama, sebagai berikut: “Untuk husada duka
derita Syang Ibu Puri dengan diceritakan: Siwi Brahmana Siddhi yang sebayanya
sehari wijiling Siwi Aji pada kerabat di dalam Puri yang benar-benar ada wahyu yang
winahya oleh Hyang Maha Kuasa mendapat wahyu istana Kuwawa ngasto Projo ing
tembeniro. Setelah mendapatkan baru Syang Siwi Aji diendangkan. Konon dalam
legenda dititipkan kepada Bapa Wiku Kyai Kajor di lereng Gunung Merapi, agar
diasuh semestinya selama-lamanya. Selanjutnya disampaikan dalam naskah tersebut
Kyai Kajor mengasuh Rogosasi dengan sangat baik, semua ilmu yang dimiliki sudah
diajarkan kepada Rogosasi, karena itu Rogosasi kemudian pamit untuk mencari
tambahan ilmu pengetahuan. Melepas Rogosasi Kyai Kajor berpesan bahwa Rogosasi
tidak boleh berjalan ke arah selatan dan ke arah Barat, dan dilarang belajar kepada
Demang Projo atau Punggawa keraton tetapi bergurulah pada Biksu. Di balik pesan
Kyai Kajor ini sebenarnya menyimpan satu pesan bahwa Rogosasi tak boleh lagi pergi
ke istana.

Kriya Logam Tumang Dilihat dari Fungsi dalam Masyarakat

Perlu diketahui bahwa keberadaan produk kerajinan logam yang begitu
menyebar hampir ke seluruh kawasan Asia Tenggara tersebut tidak lepas dari peran
masyarakat pendukungnya. Hal itu mengindikasikan bahwa setiap karya seni sedikit
banyak mencerminkan setting masyarakat tempat seni itu diciptakan. Sebuah karya
seni (termasuk di dalamnya adalah kerajinan logam) ada karena seseorang
menciptakannya, dan seniman itu selalu berasal dan hidup dari masyarakat tertentu.
Kehidupan dalam masyarakat merupakan kenyataan yang langsung dihadapi sebagai
rangsangan atau pemicu kreativitas kesinambungannya. Dalam menghadapi
rangsangan penciptaannya, seniman mungkin sekadar saksi masyarakat, atau bisa juga
sebagai kritikus masyarakat, atau memberikan alternatif dari kehidupan
masyarakatnya atau memberikan pandangan baru yang sama sekali asing dalam
masyarakatnya (Jakob Sumardjo, 2000, hlm. 233).

Karya seni memiliki keterkaitannya dengan pandangan kelompok atau
individu pada suatu periode tertentu dan ditemukan di dalam tipe masyarakat yang
mempunyai pengalaman berbeda tentang tata hubungan dan emosi antar insan, maka
perlu dalam mengukur kedalaman kreasi imajinasinya berakar di dalam masyarakat,
untuk mendefinisikan faktor-faktor baik dalam hubungannya dengan sikap seni yang
tersirat dan tersurat, maupun dalam hubungannya dengan fungsi yang diterapkan oleh
seni pada tipe masyarakat tertentu (Jean Durignand, 2009: 48). Keberadaan seni dalam
masyarakat Jawa di satu sisi, merupakan suatu produk masyarakat (Arnold Hauser,
dalam T. Slamet Suparno, 2008: 2). Menurut Jakob Sumardjo bahwa seni dikatakan
sebagai produk masyarakatnya adalah benar, sepanjang dipahami bahwa karya seni

73

jenis tertentu itu diterima oleh masyarakatnya karena telah memenuhi fungsi seni
dalam masyarakat tersebut (Jakob Sumardjo: 241).

Dalam konteks itu bahwa keberadaan kerajinan logam di Tumang dapat
bertahan hingga sekarang karena didukung oleh kondisi sosial masyarakatnya, yang
sejak dulu produknya berfungsi di samping untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
setempat, juga untuk masyarakat luar dengan melakukan penjualan baik lewat pasar
maupun secara keliling yang dilakukan oleh orang-orang setempat.

Perubahan tradisi pembuatan produk kerajinan logam di Tumang, telah
memberi pengaruh pada orientasi fungsi yang telah berubah, yang apabila semula
hanya merupakan pada fungsi praktis, setelah munculnya perubahan orientasi lebih
cenderung ke arah fungsi seni yang lebih menekankan pada seni hias. Sejak tahun
1980-an dengan munculnya perubahan memberi warna lain terhadap masyarakat
setempat. Terutama mengenai infrastruktur yang berupa fasilitas-fasilitas terkait
kelancaran aktivitas tersebut telah dibangun, munculnya paguyuban perajin,
munculnya badan keuangan, serta munculnya pengusaha-pengusaha baru di bidang
jasa, rongsokan dan penampung hasil produk di masyarakat, menunjukkan dari segi
kondisi sosial masyarakat sangat mendukung sekali terhadap kelangsungan kerajinan
logam tersebut. Berkat kejelian dan keuletan dalam berproduksi, mereka mengalami
kemajuan yang signifikan. Kegiatan produksinya merupakan suatu usaha untuk
menerjemahkan keinginan pasar sehingga dapat didistribusikan untuk konsumsi
masyarakat.

Kriya Logam sebagai Komoditi

Kerajinan logam di Tumang setelah mengalami perubahan sekitar tahun1980-
an, hasil produksinya telah menjadi barang seni yang memiliki nilai komoditas tinggi,
hal ini bisa dilihat pada hasil produknya yang begitu banyak kita jumpai di berbagai
daerah hampir seluruh di Indonesia, bahkan telah merambah ke negara luar. Sehingga
mulai saat itu kerajinan logam di Tumang telah menjadi daya tarik bagi para
pengunjung maupun wisatawan untuk bertandang ke daerah tersebut. Banyak
wisatawan dari domestik maupun asing yang tertarik untuk datang melihat langsung
mengenai proses produksi, dengan demikian muncullah keinginan untuk mengoleksi
atau membeli produk tersebut. Semakin lama, wisatawan semakin bertambah banyak
yang berkunjung di Tumang, maka pada tahun 1990-an oleh pemerintah daerah
Tumang mulai ditangani secara sungguh-sungguh, kemudian Tumang mulai saat itu
dicanangkan sebagai objek daerah wisata oleh Dinas Pariwisata. Dengan atributasinya
“Daerah Tujuan Wisata Sentral Industri Kriya Logam Tumang” seperti terpampang
pada denah lokasi wisata yang berada di wilayah kabupaten Boyolali (Kuntadi Wasi
Darmojo, 2002:86).

74

Dengan lahirnya atributasi tersebut, maka pemerintah mulai berusaha
meningkatkan potensi daerah tersebut dengan berbagai perbaikan fasilitas guna
menarik para wisata untuk berkunjung ke daerah Tumang sebagai tujuan wisata yang
didukung dengan program Wisata Solo-Selo-Borobudur.

Dengan disahkan desa Tumang sebagai daerah tujuan wisata, maka sering kali
terjadi kunjungan wisata secara terjadwal baik melalui instansi pemerintah maupun
swasta, sedikit banyak memberi dorongan untuk melakukan perkembangan yang terus
menerus terhadap produk kriya logam dengan tujuan untuk memenuhi permintaan
pasar. Demikian juga pengaruh budaya-budaya asing telah tersirat memiliki kontribusi
pada penampilan produknya. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil produknya yang
menampilkan berbagai motif mulai dari geometrik, binatang dan manusia, motif Arab,
Cina, Mesir, Eropa dan lain-lain yang mereka tampilkan dengan pengembangan
bentuk baru.

V. KESIMPULAN
Dari berbagai uraian di atas, maka dapat diambil sebuah kesimpulan sebagai

berikut:
Pertama, kerajinan logam sebagai produk seni oleh masyarakat Tumang

merupakan karya seni tradisi, yang di dalamnya tersirat dan tersurat selain memiliki
nilai seni keindahan juga merupakan benda fungsional untuk pemenuhan kebutuhan
sehari-hari.

Kedua, kehadiran kerajinan logam di Tumang begitu melekat dalam aktivitas
kesehariannya, dilihat dari fungsi kriya logam memiliki nilai fungsi yang tinggi
terhadap kehidupan masyarakat setempat, yang memiliki implikasi terhadap
peningkatan taraf hidup masyarakat Tumang, yang secara tradisi telah diwariskan oleh
generasi pendahulunya yang diturunkan ke generasi berikutnya.

Ketiga, eksistensi kerajinan logam sebagai produk seni dalam masyarakat
Tumang selalu mengalami pasang surut sesuai dengan perkembangan dan perubahan
peradaban masyarakat pendukungnya. Artinya dalam hal ini pendapat Arnold Hauser
yang mengatakan seni sebagai produk masyarakat dan masyarakat sebagai produk seni
dalam konteks kerajinan logam selalu berubah, tetapi apabila dicermati, sebenarnya
pendapat tentang seni sebagai produk masyarakat masih ada, karena menurut Jakob
Sumardjo bahwa seni sebagai produk masyarakat benar apabila seni tersebut masih
diterima oleh masyarakat pendukungnya karena fungsi seni tersebut, dan eksistensi
kerajinan logam masih dapat kita saksikan pada segmen pasarnya yang didukung
dengan dicanangkan Tumang sebagai Daerah Tujuan Wisata di wilayah Boyolali.

Rekomendasi konsep branding yang mencerminkan nilai-nilai sejarah, budaya,
dan karakter masyarakatnya dapat diimplementasikan dalam beberapa nilai-nilai
moral seperti berikut ini: keterampilan, ketekunan, kedisiplinan, kebersamaan,
kesabaran dan ketangguhan, dan berdasar pada falsafah Jawa yaitu “mikul dhuwur
mendem jero” dengan makna menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari warisan budaya
nenek moyang. Dalam falsafah Jawa ada peribahasa “uwit kuwi kuat ora amargo

75

kayune tapi amargo oyote” artinya adalah: pohon itu bisa berdiri tegak bukan karena
batangnya tetapi karena akarnya; akarlah yang menopang batang pohon sehingga dia
bisa berdiri tegak. Jika boleh diterjemahkan dalam konteks masyarakat perajin logam
di Tumang adalah kembali ke akar sejarah di mana masyarakat layak menghargai,
menjaga, merawat, dan mengembangkan kerajinan yang sudah diwariskan leluhur
mereka. Karena tanpa penghargaan terhadap warisan keterampilan yang diwariskan
lintas generasi tersebut, bisa jadi mereka tidak menjadi masyarakat yang memiliki
kebanggaan seperti saat ini. Kepustakaan Babad Nitik Sultan Agung. Jakarta,
1991/1992. de Graaf, H. J., Pigeaud, T. G. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa: Peralihan
dari Majapahit ke Mataram. Grafiti Pers, Jakarta, 1985. de Graaf, H. J. Disintegrasi
Mataram di Bawah Mangkurat I. Grafiti Pers, Jakarta, 1987. de Graaf, H. J. Runtuhnya
Istana Mataram. Grafiti Pers, Jakarta, 1987. Inandiak, Elizabeth D. Centhini: Kekasih
yang Tersembunyi. Babad Alas (Yayasan Lokaloka), Yogyakarta, 2008. H.A. M.
Tjipto yang berjudul “Sejarah Cikal Bakal Desa Tumang” Kriswanto, Agung. Gita
Sinangsaya: Edisi Teks dan Terjemahan. Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, 2012.
Noorduyn, J. “Bujangga Manik’s Journeys through Java: Topographical Data From
an Old Sundanese Source”. Bijdragen tot de Taal-, Landen Volkenkunde 138: 413-
442, 1982. Serat Nitik Sultan Agung. Museum Radya Pustaka, Surakarta. Untuk
mencari kebenaran dan keberadaan Kyai Rogosasi, jika ketemu maka Supandriyo
tidak diizinkan untuk kembali kepada Raja tetapi harus mengabdi kepada Rogosasi.
Sepertinya pesan ini mengandung arti bahwa ada ketakutan dari bangsawan istana,
sehingga Empu Supandriyo ditugaskan untuk menjaga Kyai Rogosasi agar tidak
memberontak atau meminta tahta raja yang sebenarnya menjadi haknya. Berikut
petikan dari buku sejarahTumang “Sri Agung Panembahan ngutus Pulunannya
bernama Supandriyo, untuk menyatakan keadannya Siwi Aji, apabila betul agar Kyai
Empu tidak perlu kembali ke Kotagede, baik lestari kumpul dengan sang Wiku
Winandi, menjadi penjawatnya, ruwet reteng sarto kekurangan apa pun, Empu yang
bertanggung jawab; dengan atur uningo ke Kotagede." Pesan tersebut jelas bahwa
Rogosasi tidak diperbolehkan kembali ke keraton, seperti yang sudah dipaparkan di
atas. Karena itu sesuai perintah Panembahan, Mpu Supandriyo diminta membangun
pakuwun selain itu keahliannya membuat senjata kemudian diteruskan oleh Mpu
Supandriyo, di sana murid-murid Kyai Rogosasi dan masyarakat setempat diajari
untuk mengolah logam. Kegiatan ini kemudian menjadi cikal bakal kegiatan
pengolahan logam di Tumang. Penutup pengembangan kriya logam khususnya
tembaga di Desa Tumang, ternyata tidak lepas dari sejarah panjang dan keteguhan
masyarakat dalam melestarikan tradisi tersebut. Perjalanan sejarah membuktikan hal
itu yang akhirnya menjadikan Tumang sebagai salah satu sentra kriya logam di
Indonesia yang tertua. Meskipun persaingan era 4.0 menjadikan ancaman tersendiri
terhadap daya saing dari produk yang dihasilkan, tetapi pengerjaan secara manual
berbagai kerajinan ukir logam di dusun Tumang justru memiliki nilai estetika berbeda
dengan produk kerajinan tembaga yang lain.

76

Setelah dilakukan identifikasi mengenai kerajinan tembaga Tumang, maka
diketahui bahwa dalam sejarah kerajinan Tumang Cepogo terdapat keterkaitan dengan
pemerintahan keraton Yogyakarta sebagai daerah pembuat pernak-pernik keraton dan
peralatan perang yang diasuh oleh Ki Empu Supandriyo yang berkembang sampai
sekarang sebagai sentra industri logam.

VI. DAFTAR PUSTAKA

Surjo, Djoko, Djoko Soekiman, and R.M. Soedarsono. 1985. Gaya Hidup
Masyarakat Jawa di Pedesaan. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek Penelitian dan
Pengkajian Kebudayaan Nusantara.

Durignand, Jean, 2009, Sosiologi Seni, Terj: Yupi Sundari dkk, Bandung: Sunan Ambu
STSI Press.

Garaghan, Gilbert J. 1957. A Guide to Historical Method, New York: Fordham
University Press.

Wierzbicki, Andrzej J. and Yoshiteru Nakamori. 2006. Creative Space: Models of
Creative Processes for the Knowledge Civilization Age. Berlin-Heidelberg-
New York: Springer.

Backhouse, Constance B. 1988. “Married Women’s Property Law in Nineteenth-
Century Canada.” Law and History Review 6, no. 2 (Fall): 211-57.

Warrick, Gary. 2003. “European Infectious Disease and Depopulation of the Wendat-
Tionontate (Huron- Petun).” World Archaeology 35, No. 2: 258-75.
doi:10.1080/0043824032000111416.

Hidayat, Medhy Aginta. 2012. Menggugat Modernisme: Mengenali Rentang
Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard. Yogyakrta: Jalasutra.

Kusnadi. 1983. “Peranan Seni Kerajinan (Tradisional dan Baru) dalam Pembangunan”
Majalah Analisis Kebudayaan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.

Feinstein, Alan H., et al., 1986. Lakon Carangan: Ringkasan Lakon. Surakarta:
Akademi Seni Karawitan Surakarta.

Boldt, Menno. 1993. Surviving as Indians: The Challenge of SelfGovernment.
Toronto: University of Toronto Press. http://site.ebrary.com/lib/okanagan
/docDetail. action?docID=10200930.

77

Sarty, Roger. 1996. “Canada dan the Great Rapprochement, 1902-1914.” in The North
Atlantic Triangle in a Changing World: Anglo-American-Canadian Relations,
1902-1956, edited by B.J.C. McKercher and Lawrence Aronson. Halaman 12-
47. Toronto: University of Toronto Press.

Harnish, David and Anne Rasmussen, ed., 2011. Divine Insipiration: Music and Islam
in Indonesia. Oxford- New York: Oxford University Press.

Lang, Paul. 2006. “When Venice Saved its Grace.” BBC History, Agustus, 32-34.

78

STRUKTUR, FUNGSI DAN GAYA SENI KERAJINAN PERAK
KOTO GADANG SUMATERA BARAT

Rahmad Washinton11)
1Fakultas Seni Rupa dan Desain, ISI Padangpanjang (penulis 1)

email: [email protected]

ABSTRAK
Tulisan yang berjudul Struktur, Fungsi, dan Gaya Seni Kerajinan Perak Koto Gadang
Sumatera Barat, ini bertujuan untuk menemukan berbagai kegiatan yang dilakukan
oleh masyarakat Koto Gadang terkait dengan seni kerajinan perak. Kajiannya
dilakukan dengan cara melihat struktur, fungsi dan gaya seni dari kerajinan perak,
terutama pada produk perlengkapan adat dan perlengkapan sehari-hari seperti gelang,
hiasan meja, bros, cincin, kalung, dan hiasan dinding. Penelitian kerajinan perak ini
dianalisis dengan pendekatan teorinya Edmund Burke Feldman dalam buku Art as
Image and Idea. Secara tekstual dan kontekstual, Feldman dalam Art As Image and
Idea terjemahan Gustami (1991), diantaranya terdapat tiga rumusan yang perlu
dicermati, yaitu: (1) fungsi seni, (2) gaya seni dan (3) struktur seni. Kajian tentang
fungsi seni mencakup fungsi personal, fungsi sosial dan fungsi fisik. Analisis
mengenai gaya seni, dapat diklafisikasikan menurut waktu, daerah, wujud, teknik, dan
subject metter (Felmand terjemahan Gustami, 1991: 1). Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Dalam menata dan menyusun
struktur pemikiran sesuai dengan kaidah ilmiah didasarkan pada pendekatan estetik
sebagai pendekatan utama yang didukung dengan pendekatan sosiologis dan
antropologis. Pendekatan teoritis diperlukan untuk membahas secara keseluruhan
masalah yang mencakup struktur, fungsi dan gaya seni yang dihasilkan serta
keberadaan seni kerajinan perak di tengah kehidupan masyarakat Koto Gadang
Sumatera Barat.
Kata Kunci: Kerajinan perak, struktur, Fungsi dan Gaya Seni

79

STRUCTURE, FUNCTION AND ART STYLE OF SILVER
CRAFT KOTO GADANG WEST SUMATERA

Rahmad Washinton11)

1Fakultas Seni Rupa dan Desain, ISI Padangpanjang (penulis 1)
email: [email protected]

The article entitled "Structure, Function, and Art Style of Silver Craft Koto Gadang,
West Sumatra”, aims to discover various activities carried out by the Koto Gadang
community related to the art of silver crafts. The study is carried out by looking at the
structure, function and art style of silver handicrafts, especially in traditional
equipment and daily supplies such as bracelets, table decorations, brooches, rings,
necklaces, and wall hangings. This silver craft research is analyzed using Edmund
Burke Feldman's theoretical approach in the book Art as Image and Idea. Textually
and contextually, Feldman in Gustami's translation of Art As Image and Idea (1991),
of which there are three formulas that need to be observed, namely: (1) the function of
art, (2) art style and (3) art structure. The study of the function of art includes personal
functions, social functions and physical functions. Analysis of art style can be
classified according to time, area, form, technique, and subject metter (Felmand
translation Gustami, 1991: 1). The method used in this research is qualitative research
methods. In arranging and structuring thoughts according to scientific principles it is
based on the aesthetic approach as the main approach. supported by sociological and
anthropological approaches. A theoretical approach is needed to discuss the whole
problem that includes the structure, function and style of the resulting art and the
existence of silver art in the life of the Koto Gadang people of West Sumatra.

Keywords: Silver craft, structure, function and art style.

I. PENDAHULUAN

Keberadaan kerajianan perak Koto Gadang di kabupaten Agam Sumatera Barat
merupakan salah satu sentra seni tradisi dan berkembang cukup lama, bahkan
kerajinan perak tersebut telah menjadi ciri khas budaya nagari Koto Gadang. Kerajinan
perak merupakan salah satu seni tradisi yang menjadi ciri khas budaya nagari Koto
Gadang. Produk kerajinan perak awalnya dipergunakan sebagai perlengkapan adat
perkawinan, yaitu pada perhiasan wanita Koto Gadang, seperti gelang, kalung, anting,
cincin dan perhiasan lainnya. Namun, pada saat sekarang ini kerajinan perak tidak
hanya dipakai untuk keperluan upacara adat, tetapi juga dipakai untuk keperluan
sehari-hari seperti miniatur, pajangan di meja, cincin, kalung, gelang, bros dan bentuk
perhiasan lainya.

Produk kerajinan perak Koto Gadang di kabupaten Agam memiliki ciri khas
tersendiri dari segi tampilannya. Karena produk tersebut apabila dilihat dari dekat,
penampilannya tidak begitu berkilau warna putih susu. Kesan keseluruhannya menjadi

80

elegan, anggun tetapi tidak menyolok mata. Karena kehalusan pembuatannya,
kerajinan perak ini cocok jika dipadukan dengan songket yang juga terkenal kehalusan
bahan dan desainnya. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengkaji
lebih mendalam tentang bentuk dan fungsi kerajinan perak Koto Gadang. Kemudian
agar tercapai tujuan yang diharapkan maka perlu dirumuskan permasalahannya, yakni
bagaimana bentuk dan fungsi kerajinan perak Koto Gadang Sumatera Barat.

Penelitian ini menggunakan metode analisis interpretasi dengan pendekatan
teori Edmund Burke Feldman (1967) yang didukung dengan pendekatan teori lain
(sosiologis dan antropologis). Secara tekstual dan kontekstual, Feldman dalam Art As
Image and Idea terjemahan Gustami (1991), di antaranya terdapat tiga rumusan yang
perlu dicermati, yaitu: (1) fungsi seni, (2) gaya seni dan (3) struktur seni. Kajian
tentang fungsi penelitian ini bertujuan untuk mencari jawaban dari permasalahan di
atas baik tentang struktur, fungsi dan gaya seni kerajinan perak di Koto Gadang.
Penelitian ini dilakukan dengan cara melihat dan mengamati secara langsung struktur,
fungsi fisik, personal, sosial dan gaya seni kerajinan perak Koto Gadang.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Studi tentang seni kerajinan perak yang ada di Koto Gadang Sumatera Barat
terkait bentuk sudah pernah dilakukan, baik perseorangan maupun instansi yang
berkompeten, antara lain adalah Taman Budaya, Museum, dan Perguruan Tinggi di
bidang seni rupa dan ekonomi. Meski demikian, belum ditemukan penelitian yang
secara khusus mengangkat dan membahas judul penelitian ini yang berjudul“ Bentuk
dan Fungsi Kerajinan Perak Koto Gadang Sumatera Barat”. Berdasarkan hasil tinjauan
tentang kerajinan perak Koto Gadang yang terkait atau berdekatan dengan penelitian
ini dapat diperoleh dari hasil penelitian, jurnal dan buku-buku antara lain:

Penelitian Rahmad Washinton dan Hendra pada tahun (2018) yang berjudul
Eksistensi Kerajinan Perak Koto Gadang, di dalamnya menjelaskan tentang
keberadaan kerajinan perak Koto Gadang di tengah masyarakat, bentuk produk, teknik
dan proses pembuatan kerajinan perak Koto Gadang Sumatera Barat.

Penelitian Irda, Izhana Rrosha dan Wulandari Titipani yang dimuat dalam
jurnal Menara Ekonomi (2019) yang berjudul Pengaruh Kualitas Produk, Desain
Produk Dan Harga Terhadap Keputusan Pembelian Kerajinan Perak Di Nagari Koto
Gadang Kabupaten Agam. Di dalamnya menjelaskan tentang pengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian kerajinan perak di kabupaten Agam. Harga
Produk perak disesuaikan dengan kualitas produk dengan membuat bentuk-bentuk
desain yang baru yang lebih menarik dan memiliki ciri khas daerah Koto Gadang.

Penelitian Elni Sumiarti dan Yosi Suryani yang dimuat dalam Jurnal Ekonomi
dan Bisnis Polibisnis (2015) yang berjudul Gambaran Industri Kecil Dan Menengah
(IKM) Kerajinan Perak Koto Gadang Sebagai Salah Satu Kerajinan Unggulan
Sumatera Barat. Di dalamnya menjelaskan tentang perajin perak Koto Gadang yang
usahanya berbentuk home industry bentuk produk kerajinan perak Koto Gadang,

81

bahan baku yang digunakan dan bagaimana cara pemasaran dari kerajinan perak Koto
Gadang, dan tempat pemasaran dari kerajinan perak Koto Gadang.

Penelitian Rahmad Washinton dan Ranelis yang dimuat dalam jurnal Ekspresi
Seni (2016) yang berjudul Seni Kerajinan Batik Besurek Di Bengkulu. Didalamnya
memuat tentang bentuk kerajinan batik besurek di Bengkulu, motif dan gaya seni
kerajinan batik besurek yang ada di Bengkulu. Jurnal ini penulis gunakan untuk
melihat bagaimana cara melihat gaya seni yang ada pada kerajinan perak Koto Gadang
nantinya.

Penelitian Ranelis dan Desi Trisnawati (2012) yang berjudul Kerajinan Bordir
Hj. RosmaIV Angkek Canduang Kajian Desain, Fungsi Personal dan Fungsi Fisik.
Penelitian ini di dalamnya memuat tentang kajian desain yang meliputi kajian strategi
desain, strategi inovasi, dan strategi pasar. Fungsi produk bordir Hj. Rosma Fungsi
fisik, sosial, dan personal. Penelitian ini dijadikan sebagai acuan dan perbandingan
dalam mengupas fungsi kerajinan perak Koto Gadang.

Sita Dewi Razni dan Mity j. Juni (2011), dalam bukunya yang berjudul
Pakaian Tradisional Sulam, Tenun, & Renda Khas Koto Gadang, di dalamnya
memuat tentang pakaian tradisional daerah Koto Gadang dan kerajinan-kerajinan yang
ada di daerah Koto Gadang. Buku ini menampilkan gambar atau foto-foto yang
berkaitan dengan pakaian tradisional dan bentuk kerajinan yang ada di daerah Koto
Gadang sehingga menimbulkan kesan menarik bagi pembacanya. Buku ini akan
penulis gunakan sebagai referensi tentang kerajinan sulam yang ada di Koto Gadang.

Mengingat kompleksitas permasalahan yang berkaitan langsung dengan
produk budaya masyarakat Koto Gadang Sumatera Barat, maka diangkat salah satu
produk seni kriya, yang perwujudannya mengandung nilai-nilai kehidupan yang
diperjuangkan atau diyakini oleh perajin. Sehubungan dengan itu, pendekatan teori
yang dipakai adalah analisis teori Edmund Burke Feldman (1967) didukung teori lain.
Secara tekstual dan kontekstual, Feldman dalam Art As Image and Idea terjemahan
Gustami (1991), di antaranya terdapat tiga rumusan yang perlu dicermati, yaitu: (1)
fungsi seni, (2) gaya seni dan (3) struktur seni.

III. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian kualitatif. Data yang diperlukan adalah data tentang budaya tradisional Koto
Gadang dan kondisi kerajinan perak Koto Gadang. Data yang diperlukan itu akan
dikumpulkan dengan metode observasi, studi pustaka, dan wawancara. Telaah
terhadap masalah yang berkaitan dengan kerajinan perak Koto Gadang ini
menggunakan metode penelitian kualitatif, karena akan menjawab persoalan tentang
ciri-ciri fenomena dengan tujuan mendeskripsikan dan memahami fenomena dari
sudut pandang tertentu. Untuk mengungkap fenomena kerajinan perak Koto Gadang
ini digunakan pendekatan multidisiplin dengan mengembangkan analisis melalui
perpaduan dua atau lebih disiplin ilmu (Gustami, 2003: 78).

82

Menata dan menyusun struktur pemikiran sesuai dengan kaidah ilmiah
didasarkan pada pendekatan estetik sebagai pendekatan utama yang didukung dengan
pendekatan lain, seperti pendekatan sosiologis dan antropologis. Pendekatan teoritis
diperlukan dalam membahas secara keseluruhan masalah penelitian ini yang
mencakup segi struktur, fungsi dan gaya seni kerajinan perak Koto Gadang di tengah
kehidupan masyarakat Koto Gadang. Sehubungan dengan beberapa pendekatan di
atas, untuk mengkaji keberadaan dan eksistensi seni kerajinan perak Koto Gadang
secara kontekstual diperlukan pendekatan sosio-kultural.

Dalam mengkaji bentuk, struktur seni dan gaya seni kerajinan perak pada
produk yang dihasilkan menggunakan pendekatan estetik. Populasi dalam penelitian
ini adalah seluruh produk kerajinan perak yang dihasilkan perajin Koto Gadang.
Berupa produk untuk acara ritual adat dan bentuk produk praktis lainnya yang dipakai
dalam kehidupan sehari-hari. Data yang berhubungan dengan topik penelitian, baik
yang berkaitan dengan bentuk fungsi, struktur dan gaya seni pada kerajinan perak Koto
Gadang, maka diambil sampel penelitian dengan teknik purposive sampling, yaitu
pengambilan sampel yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. Berdasarkan tujuan
penelitian, akan diambil beberapa produk perak yang berfungsi untuk perlengkapan
adat seperti gelang, dan kalung pengantin perempuan Koto Gadang. Jenis produk
praktis yang berfungsi untuk kebutuhan sehari-hari seperti cincin, bros, hiasan dinding
dan produk perak lainnya.

Analisis data dalam penelitian ini meliputi berbagai tahapan. Pertama
identifikasi data, mengumpulkan data lisan, verbal dan data visual, baik yang diperoleh
melalui studi pustaka, observasi, wawancara maupun rekaman. Setelah identifikasi
data diselesaikan, dilanjutkan dengan tahap kedua, yaitu mengadakan klasifikasi data
dengan cara memilih atau mengelompokkan data penelitian yang telah diidentifikasi
sesuai dengan jenis dan sifat data. Tahap ketiga adalah seleksi data, yaitu menyisihkan
data yang kurang relevan dan tidak berkontribusi dalam analisis yang dikembangkan.
Tahap keempat dilakukan analisis data sesuai dengan teori-teori yang sudah ditetapkan
sebelumnya, baik menggunakan analisis tekstual maupun kontekstual selanjutnya
diungkapkan dalam bentuk karya tulis ilmiah.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Latar Belakang Kerajinan Perak Koto Gadang
Kerajinan perak merupakan keahlian yang diturunkan turun-temurun oleh

kaum laki-laki di Koto Gadang. Kerajinan perak Koto Gadang sudah ada sejak zaman
penjajahan Belanda. Hasil kerajinan perak Koto Gadang ini tidak saja diminati
masyarakat yang tinggal di sekitar Agam, namun juga oleh orang-orang Belanda
terutama wanita Belanda yang tinggal di Koto Gadang Pada waktu itu. Seiring
berjalannya waktu, nama Koto Gadang kabupaten Agam pun semakin dikenal sebagai
pembuat kerajinan perak di Sumatera Barat, bahkan sekitar tahun 1911, kerajinan
perak di desa ini sudah dikenal bangsa-bangsa Eropa. Hampir di setiap rumah
mengerjakan dan memproduksi kerajinan perak.

83

Gambar 1. Wawancara dengan pemilik usaha perak
(Foto: Yandri, 2020)

Bentuk Produk Kerajinan Perak Koto Gadang Sumatera Barat
1. Produk untuk upacara adat perkawinan

Produk kerajinan perak yang digunakan untuk upacara perkawinan antara
lain:
a. Kaluang adalah perhiasan yang dipakai oleh pengantin perempuan Koto Gadang

dalam upacara perkawinan. Kaluang pengantin Koto Gadang terdiri dari kaluang
ampiang, mansora, kaluang gadang, kaluang ketek.

Gambar 2. Kaluang gadang, Kaluang mansora,
Kaluang ampiang dan Kaluang ketek
(Foto: Rahmad, 2020)

84

b. Gelang merupakan perhiasan yang dipakai oleh pengantin perempuan Koto Gadang
dalam pesta perkawinan. Gelang yang dipakai pengantin Koto Gadang terdiri dari
gelang maniek rambai, maniek baganto, gelang ular, gelang maniek batapak,
gelang sawek, dan maniek baranggo.

Gambar 3. Gelang bentuk ular
(Foto: Rahmad, 2020)

c. Subang/giwang yang disebut dengan subang rolia

Gambar 4. Subang
(Foto: Rahmad, 2020)

85

2. Bentuk produk untuk perlengkapan sehari-hari
Berdasarkan hasil penelitian bentuk produk perlengkapan sehari-hari yang

dihasilkan perajin perak Koto Gadang antara lain:
a. Kaluang
Kaluang yang dibuat hampir sama bentuknya dengan gelang, seperti kaluang
maniak rambai, kaluang rantai, kaluang bola-bola, kaluang maniak ganto dan
kaluang maniak ranggo.

Gambar 5. Kaluang maniak rambai, kaluang bola-bola, kaluang maniak ganto
dan kaluang maniak ranggo.
(Foto: Rahmad, 2020)

b. Bentuk cincin yang dibuat dalam berbagai bentuk yakni; cincin belah rotan
polos, cincin batu akik dan cincin belah rotan baragi.

Gambar 9. Cincin
(Foto: Rahmad, 2020)

86

c. Bentuk Gelang yang dibuat dalam berbagai bentuk, seperti gelang terbuat dari
rangkaian beberapa buah bola, rantai dan gelang pengulangan bentuk (pola).

Gambar 11. Gelang bola-bola, Gelang motif bunga melati
(Foto: Rahmad, 2020)

d. Bentuk bros yang dibuat yakni bentuk bunga, burung merak, cicak, dan kupu-
kupu

Gambar 12. Bros bentuk burung , merak, cicak kupu-kupu, dan bunga
(Foto: Rahmad, 2020)

87

e. Giwang/Subang dan anting-anting dibuat dalam berbagai bentuk seperti daun,
spiral, setangkai, anggur dan bulan sabit

Gambar 13. Anting
(Foto: Rahmad, 2020)
f. Liontin dibuat bentuk kala jengking, gajah, hati, bunga, rangkiang dan huruf.

Gambar 14. Liontin
(Foto: Rahmad, 2020)
3. Produk cendera mata berupa bentuk miniature
Bentuk produk miniatur kerajinan perak yang dihasilkan perajin perak Koto
Gadang antara lain:

88

a. Kendaraan tradisional seperti bendi. Bendi merupakan kendaraan tradisional
masyarakat Minangkabau. Bendi digunakan untuk membawa anak daro pai
baarak ka rumah bako, bendi juga digunakan untuk alat transportasi
masyarakat Minangkabau untuk pergi ke pasar, mengelilingi tempat wisata
dan lain sebagainya.

Gambar 15. Bendi/pedati
(Foto: Rahmad, 2020)

b. Jam gadang
Jam gadang merupakan salah satu tempat wisata bagi masyarakat

Minangkabau yang terdapat di Bukittinggi.

Gambar 16. Jam Gadang
(Foto: Rahmad, 2020)

89

c. Rangkiang adalah tempat penyimpanan padi bagi masyarakat Minangkabau
sehabis dipanen.

Gambar 17. Rangkiang
(Foto: Rahmad, 2020)
d. Rumah adat
Rumah Bagonjong merupakan rumah adat orang Minangkabau. Bagi
orang Koto Gadang rumah adat merupakan balai adat bagi masyarakat Koto
Gadang untuk tempat berkumpul dalam rapat sebuah nagari.

Gambar 18. Rangkiang
(Foto: Rahmad, 2020)

90

Fungsi Produk Kerajinan Perak Koto Gadang Sumatera Barat

1. Fungsi Personal

Fungsi personal seni dalam kebutuhan individu adalah tentang ekspresi pribadi.
Seni sebagai alat ekspresi pribadi tidak terbatas pada ilham saja, tidak semata-mata
berhubungan dengan emosi pribadi, tetapi seni juga mengandung pandangan pribadi
tentang peristiwa dan objek umum dalam kehidupan dan situasi kemanusiaan yang
mendasar, misalnya, cinta, perayaan dan sakit, yang terulang secara tetap,
sebagaimana dalam seni, namun tema-tema ini dapat dibebaskan dari kebiasaan oleh
komentar-komentar pribadi yang secara unik ditampilkan oleh seniman Feldman
(terjemahan Gustami, 1991: 4-5).

Seni dipilih oleh seniman untuk mengekspresikan gagasan atau pemecahan
problem tertentu. Seperti yang dikemukakan oleh Sahman (1993: 39) bahwa, setiap
gagasan menyaratkan dipilihnya karya seni yang relevan untuk gagasan tersebut.
Seorang seniman dalam mengekspresikan perasaan dan gagasannya menggunakan
bermacam-macam media. Ekspresi menurut Santayana, yang dikutip oleh Atmodjo
(1988: 52-53), makna ekspresi diartikan sebagai: (a) ekspresi yang direncanakan,
semacam tindakan yang dilakukan seniman dalam mencipta karya seni, (b) ekspresi
dalam arti penampakkan, yaitu gejala, suatu tanda diagnostik, dan (c) ekspresi untuk
membayangkan kapasitas objek, bila dikontemplasikan secara estetis akan
membangkitkan image-image tertentu.

Kerajinan perak sebagai bagian dari seni rupa, bagi perajin adalah salah satu
media tersebut. Seni kerajinan perak sebagai seni tradisional, dan perajin perak Koto
Gadang, ekspresinya dapat dilihat dari ketekunan para perajin dalam menyelesaikan
setiap motif yang terdapat pada produk perak yang dihasilkan. Perajin berusaha
mengeluarkan ide dan kemampuannya dalam membuat bentuk ragam hias yang
ditampilkan dalam sebuah karya seni. Motif pada produk perak dibuat dengan bentuk
yang rapi dan padat sehingga bentuk produk yang dihasilkan kelihatan lebih menarik,
indah, bermanfaat, dan dapat menyampaikan pesan-pesan yang tersimpan dalam
ragam hias yang ditampilkan.

Menciptakan seni kerajinan perak sebagai benda pakai, para perajin perak Koto
Gadang berusaha memahami tentang makna dan tujuan hidup, sebagai titik tolak karya
yang diciptakan. Perajin lebih menekankan pada pencapaian keserasian dan
penyelesaian akhir suatu ekspresi terhadap nilai-nilai falsafah tradisional, sesuai
dengan budaya dan adat Minangkabau sehingga eksistensi karya yang diciptakan dapat
dimengerti dan diterima oleh masyarakat. Salah satu fungsi seni adalah
mengekspresikan perasaan dan memindahkan pengertian kepada khalayak ramai.
Seperti yang dikemukan oleh Feldman (terjemahan Gustami, 1991: 61-62),
menjelaskan bahwa pada seni tradisional, material dibentuk supaya mereka dapat
meniru penampilan-penampilan atau mengekspresikan gagasan-gagasan tentang
kehidupan.

91

Perajin perak sebagai pribadi dalam memenuhi kebutuhan estetisnya berusaha
menciptakan produk perak yang seindah mungkin, menyenangkan, sekaligus
bermanfaat. Pembuatan seni kerajinan perak pada umumnya bersifat fungsional,
menuntut dan membantu perajin di dalam memuaskan keinginan serta kebutuhan
estetis orang yang akan memakai karya seni tersebut, di samping kepuasan estetis
perajin itu sendiri.

2. Fungsi Sosial

Feldman (terjemahan Gustami, 1991: 61-62) menjelaskan bahwa karya seni
memiliki fungsi sosial, yaitu: (1) karya seni itu mencari atau cenderung memengaruhi
perilaku kolektif orang banyak; (2) karya seni itu diciptakan untuk dilihat atau dipakai
(dipergunakan), khususnya dalam situasi-situasi umum; dan (3) karya seni itu
mengekspresikan atau menjelaskan aspek-aspek tentang eksistensi sosial atau
masyarakat kolektif sebagai lawan dari bermacam-macam pengalaman personal
maupun individu.

Seni kerajinan perak yang dihasilkan oleh perajin Koto Gadang memiliki fungsi
sosial, karena karya seni yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau
masyarakat, baik berupa produk untuk perlengkapan acara adat maupun produk untuk
kebutuhan hidup sehari-hari. Produk untuk kepentingan upacara-upacara adat, seperti
upacara perkawinan, fungsi sosialnya dapat dilihat pada perhiasan yang dipakai oleh
pengantin, dan barang fungsional lainnya. Berdasarkan penjelasan di atas terlihat
bahwa seni kerajinan perak dimanfaatkan dalam situasi-situasi umum atau keperluan
sehari-hari untuk keperluan tertentu. Seperti yang dikemukakan oleh Feldman
(terjemahan Gustami, 1991: 61-62) menjelaskan bahwa, salah satu fungsi sosial seni
kerajinan adalah karya seni itu diciptakan untuk dilihat atau dipakai (dipergunakan),
khususnya dalam situasi-situasi umum.

Fungsi sosial produk seni kerajinan perak juga dapat ditunjukkan dengan
mengaitkan sendi kehidupan yang ada hubungannya dengan pemenuhan kebutuhan
barang-barang apa saja yang diperlukan oleh masyarakat. Apabila di lihat dari
pemakaian hasil seni kerajinan untuk kepentingan upacara adat, seperti upacara
perkawinan yaitu sebagai perlengkapan pakaian pengantin wanita dan pria. Fungsi
sosial kerajinan perak pada upacara adat itu, di samping mengandung nilai estetis,
karya tersebut juga memiliki corak tradisi dan unsur simbolik dari ragam hias yang
ditampilkan.

Fungsi sosial seni kerajinan perak yang eksistensinya lebih mendasar pada
pemanfaatan dalam kehidupan sehari-hari itu, maka proses penyelesaiannya lebih
difokuskan untuk menghasilkan karya yang difungsikan bagi pemenuhan kebutuhan
sehari-hari. Selanjutnya, fungsi sosial seni kerajinan perak itu cenderung memengaruhi
perilaku kolektif orang banyak. Seperti yang dikemukakan oleh Feldman (terjemahan
Gustami, 1991: 61-62) menjelaskan bahwa karya seni memiliki fungsi sosial, yaitu
karya seni itu mencari atau cenderung memengaruhi perilaku kolektif orang banyak.

92


Click to View FlipBook Version