The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini merupakan prosiding dari kegiatab Webinar Nasional Kriya dengan tema Peran Kriya dalam Kreativitas dan Inovasi di Era 4.0

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by jejakpustaka, 2021-03-07 04:46:28

Prosiding Webinar Nasional Kriya

Buku ini merupakan prosiding dari kegiatab Webinar Nasional Kriya dengan tema Peran Kriya dalam Kreativitas dan Inovasi di Era 4.0

Keywords: Kriya,Prosiding Kriya,Peran Kriya,Webinar Kriya

Semua itu dapat dilihat dari bentuk ragam hias yang terdapat dalam produk sulam,
bahwa ragam hias itu berfungsi untuk mengingatkan masyarakat umum, khususnya
masyarakat Minangkabau akan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Corak
tradisional itu diambil dari bentuk dan kejadian alam sehingga di samping berfungsi
sebagai hiasan, ragam hias itu juga mengandung makna yang berisi pesan-pesan
kepada masyarakat, yang perlu disebarluaskan melalui penampilannya pada berbagai
upacara dan peristiwa adat.

Seni sebagai pengikat solidaritas masyarakat, dilihat dari sudut pandang pelaku
seni yang bersangkutan, atau perajin sebagai penghasil karya seni tersebut. Ditinjau
dari eksistensinya, seni kerajinan perak Koto Gadang, terdiri dari beberapa unit usaha
baik yang bersifat kelompok maupun perorangan, bergerak dalam jenis usaha dan
produk yang sama. Aktivitas berkeseniannya berfungsi sebagai pengikat solidaritas
masyarakat. Apabila dihubungkan dengan pendapat Feldman tersebut di depan, ada
kecenderungan persamaannya, yaitu aktivitas berkesenian cenderung memengaruhi
perilaku kolektif (perajin), dan karya seni yang dihasilkan mencerminkan tentang
eksistensi sosial.

Aktivitas dalam pembuatan barang-barang seni kerajinan dapat di pandang
sebagai kegiatan berekspresi estetik, dan merupakan salah satu kebutuhan manusia
yang tergolong dalam kebutuhan integratif. Kebutuhan integratif ini muncul karena
adanya dorongan dalam diri manusia yang secara hakiki senantiasa ingin direfleksikan
dalam keberadaannya sebagai makhluk yang berakal, bermoral, dan berperasaan.
Kebutuhan estetik secara langsung atau tidak langsung terserap dalam kegiatan
pemenuhan kebutuhan lainnya, baik dalam pemenuhan kebutuhan primer, kebutuhan
sekunder, maupun kebutuhan integratif lainnya.

3. Fungsi Fisik

Fungsi fisik seni adalah suatu ciptaan objek kebendaan yang berfungsi sebagai
wadah dan alat. Wadah dan alat perlu dibentuk dan dikonstruksi secara khusus yang
disesuaikan dengan persyaratan-persyaratan yang dikehendaki. Produk seni kerajinan
dipergunakan sekaligus juga dilihat, sehingga perlu didesain sebaik-baiknya sehingga
dapat berfungsi secara efisien. Fungsi fisik itu, dihubungkan dengan penggunaan
benda-benda yang efektif sesuai dengan kriteria kegunaan dan efisiensi, baik
penampilan maupun tuntutannya (permintaannya). Feldman (terjemahan Gustami,
1991: 128). Seni kerajinan menampilkan fungsi fisik melalui perencanaan dan
pembentukan dari jenis peralatan, perkakas, dan wadah lainnya. Dalam seni kerajinan
ada perbedaan yang signifikan antara benda dan alat yang dibuat dengan tangan
(manual) dan peralatan yang diproduksi dengan menggunakan metode yang bersifat
mekanik industri (mesin).

Fungsi fisik berhubungan dengan pemanfaatan objek fisik atau benda seni. Seni
kerajinan memiliki fungsi fisik karena kegunaannya sehingga antara wujud dan daya
tarik penampilan suatu karya seni sangat diperlukan. Sehubungan dengan ini, proses

93

awal pembuatan karya seni kerajinan perlu mempertimbangkan faktor estetiknya.
Sentuhan estetik dalam karya seni akan berperan sebagai daya tarik penampilan karya
yang dihasilkan. Sentuhan estetik, baik berupa pertimbangan keindahan bentuk
maupun hiasan yang diterapkan dapat memperindah penampilan, sekaligus dapat
mengeliminasi kekurangan atau kelemahan bagian yang difungsikan.

Fungsi fisik produk seni kerajinan, di samping segi estetik dan nilai simbol, nilai
kepraktisan karya yang dihasilkan juga sangat menentukan tingkat keberhasilan karya
tersebut. Seperti pada umumnya produk seni kerajinan memiliki kegunaan praktis,
namun hal itu tidak berarti karya seni kerajinan tidak memiliki nilai estetis, simbol,
dan spiritual. Nilai-nilai tersebut sering kali sudah luluh di dalamnya, bahkan berada
di atas fungsi fisiknya (Gustami, 2000: 267).

Fungsi fisik produk seni kerajinan umumnya ditentukan oleh nilai
kepraktisannya. Selain seni kerajinan dapat memenuhi kebutuhan manusia yang
bersifat spiritual, juga bisa berupa peralatan perlengkapan kehidupan dan peralatan
yang digunakan sebagai sarana untuk memproduksi berbagai kebutuhan hidup. Setiap
hasil karya dan keahlian seni merupakan perpaduan antara sistem alamiah, sebagai
esensi yang mendasari saling ketergantungan dari ketiga fungsi seni tersebut.
Berdasarkan fungsi fisiknya, seni kerajinan perak sebagai kegiatan produktif non-
pertanian, tumbuh atas dorongan naluri manusia untuk memiliki alat dan perlengkapan
yang diperlukan dalam melangsungkan kehidupan. Oleh sebab itu, produk seni
kerajinan perak banyak dipakai untuk acara tertentu, seperti untuk acara adat dan acara
keramaian lainnya.

Fungsi fisik seni kerajinan perak sebagai produk yang mempunyai nilai guna,
dapat dilihat pada setiap upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat
Minangkabau pada umumnya. Produk perak merupakan salah satu perlengkapan adat
yang selalu digunakan pada setiap upacara adat, terutama sekali dalam adat
perkawinan. Produk kerajinan perak yang sering dipakai antara lain gelang, kalung dan
lain-lain yang dipakai oleh pengantin wanita. Dalam hal ini, penggunaan produk perak
merupakan tuntutan adat, karena dalam setiap produk perak yang dipakai terkandung
nilai adat dengan segala falsafahnya.

Struktur dan Gaya Seni Kerajinan Perak Koto Gadang Sumatera Barat

1. Struktur Kerajinan Perak Koto Gadang Sumatera Barat
Membicarakan pengorganisasian dan elemen-elemen visual dalam seni

kerajinan perak Koto Gadang, berarti mendeskripsikan bagaimana perwujudan dari
karya tersebut. Dalam mendeskripsikan suatu karya tidak hanya dari bentuk dasar
bendanya tetapi unsur hiasan yang melengkapi dan melekat pada permukaan juga perlu
dideskripsikan. Seperti yang dijelaskan Marianto (2002: 2) bahwa, deskripsi secara
harfiah berarti tindakan menggambarkan suatu representasi verbal atas suatu karya
seni, sehingga ciri-ciri khusus dari suatu karya seni yang bersangkutan dapat terlihat

94

jelas, atau diketahui yang pada akhirnya dapat diapresiasi. Berdasarkan deskripsi yang
dibuat seseorang dapat menuntun interpretasi dan penilaian karya yang dimaksud.

Secara visual, produk kerajinan perak Koto Gadang dapat dilihat dari
pengorganisasian elemen-elemen seni dalam satu kesatuan. Seperti yang dikemukakan
oleh Djelantik bahwa, sebuah karya seni dapat dinikmati apabila mengandung dua
unsur mendasar, yaitu bentuk (from) dan struktur atau tatanan (structure). Bentuk
dasar dari elemen seni rupa adalah titik, garis, bidang, ruang, dan warna. Struktur
adalah cara menyusun dari elemen-elemen seni rupa di atas, sehingga terjalin
hubungan yang berarti, di antara bagian-bagian dari keseluruhan perwujudan
(Djelantik, 2004: 18).

Barang-barang hasil seni kerajinan (handicraft) dari semua jenis kesenian yang
ditampilkan, dapat dinikmati, serta mengandung dua unsur yang mendasar, yakni:
bentuk (form) dan struktur atau tatanan (susunan). Unsur-unsur yang mendasar dari
seni rupa adalah titik, garis, bidang, ruang dan warna, sedangkan dalam seni kerajinan
bisa berupa motif hias. Struktur atau susunan dimaksudkan bagaimana cara unsur-
unsur dasar itu dapat tersusun hingga menjadi wujud. Para perajin Koto Gadang di
dalam kehidupan sehari-hari mereka terlihat sangat peka terhadap tanda-tanda yang
diuraikan melalui berbagai bentuk ragam hias. Walaupun bentuk ragam hias tersebut
tidak dibuat realistis, tetapi tidak meninggalkan kaidah-kaidah seni rupa. Kesatuan
bentuk produk secara keseluruhan merupakan perpaduan unsur garis yang harmonis,
jika dilihat secara sepintas tidak begitu jelas bentuk apa yang digambarkan, seakan
hanya sebuah relung-relung yang indah, tetapi jika diamati dengan saksama dan
dibandingkan dengan bentuk yang ada di alam, maka akan terlihat kesan yang
digambarkan.

Bentuk yang dijadikan ragam hias bagi orang Minangkabau, di samping
bermanfaat lahiriah untuk keindahan juga harus mengandung arti dan makna, untuk
diterapkan dalam segi kehidupan. Read (2000: 29) menjelaskan bahwa, dalam suatu
karya seni yang sempurna, semua elemen yang ada di dalamnya saling berhubungan
dengan baik. Elemen tersebut menyatu membentuk suatu kesatuan yang memiliki
nilai-nilai yang lebih dari jumlah elemennya. Keindahan seni kerajinan perak yang
ditampilkan dalam bentuk produk yang dihasilkan, berangkat dari bentuk local genius
masyarakat Minangkabau yaitu bentuk jam gadang, rangkiang, rumah adat Sumatera
Barat dan bentuk lainnya. Hal ini sesuai dengan falsafah alam takambang jadi guru,
yang berarti alam sebagai sumber untuk ditiru, tetapi peniruan tersebut tidak harus
realis-naturalis, melainkan dapat berupa bentuk yang mengalami distorsi, deformasi,
bahkan abstraksi. Dengan kata lain bentuk alam pada kain sulam tidak sepenuhnya
salinan alam secara murni, walaupun unsur seperti daun, bunga, maupun benda
lainnya, jelas akan membawa asosiasi kepada alam nyata. Unsur keindahan seni
kerajinan perak terlihat dari bentuk visual yang ditampilkan, tetapi terdapat nilai-nilai
di balik bentuk visual tersebut, yaitu ajaran-ajaran tentang adat. Perajin perak Koto
Gadang dalam menciptakan berbagai macam bentuk produk selalu mengambil dari
bentuk alam, terkait dengan makna kehidupan yang bersumber dari falsafah “adat

95

basandi syarak, syarak basandi kitabullah” sebagai dasar falsafah hidup masyarakat
Koto Gadang. Warna yang terdapat pada kerajinan perak Koto Gadang untuk
perlengkapan pengantin adalah warna perak yang berbentuk putih susu.

2. Gaya Seni Kerajinan Perak Koto Gadang Sumatera Barat
Gaya seni merupakan suatu pengelompokan atau klasifikasi karya-karya seni

melalui waktu, daerah, wujud, teknik, subjek meter dan lain-lain yang membuat
kemungkinan studi dan analisis lebih jauh. Mustopo menyatakan bahwa adanya
bermacam-macam gaya atau corak mempunyai pesona tersendiri, khusus, dan khas.
Setiap corak atau gaya mempunyai tujuan tertentu atau fungsi tertentu. Gaya tampak
pada setiap ciptaan seorang seniman, umumnya berhubungan erat dengan tingkat
budaya si seniman. Jadi biasanya gaya seseorang ditentukan oleh dunia
kebudayaannya (Mustopo, 1988: 110).

Feldman (terjemahan Gustami, 1991: 1) menjelaskan bahwa konsep gaya
merupakan bagian yang tidak dapat dihindari dalam mengaji seni, meskipun begitu ia
dapat menjadi sumber kerancuan, karena gaya memiliki begitu banyak makna yang
berbeda. Kadang kala gaya menunjukkan sebuah karya pada satu periode sejarah
khusus. Gaya dapat pula menunjukkan seni suatu daerah dalam suatu negeri. Sachari
(2002: 127-129) menjelaskan bahwa, gaya seni akan dipengaruhi oleh zamannya.
Secara umum, tumbuhnya keragaman gaya pada dunia desain dan seni rupa dibentuk
oleh pengaruh kebudayaan yang berkembang saat itu. Namun, aspek maknawi tetap
merupakan suatu proses penyadaran, bahwa nilai-nilai estetik menjadi bagian penting
dalam proses transformasi budaya.

Secara umum, Feldman (Terjemahan Gustami, 1991: 1-3) mengelompokkan
atau mengklasifikasi gaya seni melalui waktu, daerah, wujud, teknik, dan subject
matter. Memahami masalah gaya tidak cukup hanya dengan diidentifikasi atau
diklasifikasi, tetapi harus diketahui pula mengenai sifat-sifat atau bentuk karya seperti
apa yang dapat membantu menempatkan suatu gaya. Dengan karya seni akan dapat
memimpin seseorang untuk mencari makna-makna di balik subject matter dan tujuan
yang tampak dari sebuah karya seni. Pengetahuan tentang seniman berpikir, tentang
lingkungannya, tentang masyarakat dan kebudayaan dari makna karyanya berakar.

Bentuk seni kerajinan pada masing-masing daerah memiliki ciri khas dan
dipertahankan secara turun-temurun oleh masyarakat pendukungnya. Seni kerajinan
daerah yang bersifat tradisional berkembang setelah mendapatkan pengaruh dari
masuknya kebudayaan baru. Perkembangan seni kerajinan pada masing-masing
daerah tidak sama, sesuai dengan kondisi kebudayaan daerah masing-masing. Pada
suatu daerah seni kerajinan merupakan seni tradisional dan mencerminkan karya
sambilan dari masyarakat yang pada awalnya bekerja sebagai petani. Salah satu di
antaranya adalah seni kerajinan perak Koto Gadang Sumatera Barat.

Memahami gaya atau corak khas seni kerajinan perak Koto Gadang dapat
diuraikan dari bahan yang digunakan sebagai media, teknik yang dipakai, bentuk
motif, dan warna yang digunakan pada produk kerajinan perak Koto Gadang Sumatera

96

Barat. Keberagaman produk yang dihasilkan, baik dari segi bentuk, gaya, ataupun
corak, terwujud dalam bentuk karya seni, yang mempunyai nilai fungsi praktis maupun
estetis sebagai hiasan. Produk seni kerajinan perak yang kental dengan corak
tradisional, bisa diamati dari bentuk ragam hias yang ditampilkan. Penerapan ragam
hias sebagai perangkat ritual tidak mengalami perubahan ragam hiasnya. Walaupun
sekarang, produk perak Koto Gadang sangat bervariasi dengan bentuk yang
mengalami perkembangan ke bentuk baru, tetapi bentuk produk asli dan makna yang
terkandung di dalamnya tetap dipertahankan sampai sekarang. Produk yang dihasilkan
oleh perajin perak Koto Gadang Sumatera Barat menunjukkan kemampuan perajin
dalam menciptakan produknya.

Bentuk produk yang beragam pada kerajinan perak Koto Gadang, di samping
menampilkan keindahan secara fisik juga mengandung nilai keindahan dari makna
yang ada di dalamnya. Semua itu dijabarkan dalam bentuk falsafah dan ajaran tentang
yang baik dan yang buruk dalam kehidupan, apakah itu berupa ajaran dalam
berhubungan dengan sesama manusia maupun dengan Tuhan. Sesuai dengan yang
diungkapkan oleh filsuf Augustinus, yang membagi keindahan menjadi dua jenis,
yaitu keindahan fisik dan keindahan nilai-nilai spiritual atau asosional, yang erat sekali
hubungannya dengan makna ornamental dan simbolik yang membuat karya tersebut
kelihatan anggun (Sahman, 1993: 111). Ragam hias seni kerajinan perak yang
ditampilkan merupakan ragam hias dengan gaya tradisional yang bersifat turun-
temurun. Bentuk ragam hias dan teknik kerajinan perak yang ditampilkan merupakan
warisan yang diterima oleh perajin dari pendahulunya. Ragam hias dan teknik perak
yang selalu sama tersebut menjadikan bentuk dan jenis ragam hias itu sebagai salah
satu ciri khas seni kerajinan perak Koto Gadang.

Kerajinan perak di daerah Koto Gadang, dalam pembuatan produknya para
perajin mempunyai beberapa motif yang selalu ditampilkan dalam setiap pembuatan
kerajinan perak sebagai perangkat upacara adat, maupun sebagai produk praktis.
Adapun jenis motif tersebut yaitu motif daun cubadak, bunga melati, bunga ros, bunga
dahlia dan bunga matahari dan motif lainnya. Penampilan dari jenis motif ini
merupakan salah satu ciri khas kerajinan perak Koto Gadang. Dengan adanya bentuk-
bentuk motif yang selalu ditampilkan pada setiap kerajinan perak yang dihasilkan akan
dapat membedakan antara kerajinan perak Koto Gadang dengan kerajinan perak
daerah lainnya. Gaya-gaya seni kerajinan perak antara lain:
1. Gaya klasik

Seni kerajinan perak Koto Gadang yang bergaya klasik merupakan motif-motif
klasik dan kental dengan makna simbolik. Seperti motif daun cubadak, mentimun.
2. Gaya Modern
Seni kerajinan perak Koto Gadang dengan gaya modern ini pada umumnya dibuat
dengan bentuk fauna (binatang) berupa burung merak, cicak dan kupu-kupu.
3. Gaya Gabungan
Gaya gabungan dari perak Koto Gadang adalah gabungan dari bentuk motif klasik
dengan motif kreasi/modern. Motif yang dipakai dapat berupa motif geometris,

97

motif bunga melati, bunga ros bentuk motif modern lainnya, yang penyajiannya
dibuat secara bersamaan dalam sebuah karya yang menjadi sebuah kesatuan bentuk
motif. Gaya seni kerajinan perak ini merupakan hasil pengembangan dari motif
yang berunsur tradisi dan motif modern yang mengalami proses kreatif dari tangan-
tangan perajin/seniman. Motif gabungan ini merupakan motif yang dibuat
berdasarkan pesan dari konsumen atau selera pasar. Berdasarkan penjelasan di atas
dapat disimpulkan bahwa kerajinan perak Koto Gadang cenderung bergaya
kedaerahan dan berdasarkan pesanan/ permintaan konsumen.

V. KESIMPULAN
Kerajinan perak merupakan salah satu seni tradisi yang menjadi ciri khas

budaya nagari Koto Gadang. Bentuk kerajinan perak Koto Gadang berbeda dengan
daerah lain terutama dari bentuk dan warna yang ditampilkan. Kerajinan perak Koto
Gadang warnanya seperti warna putih susu. Kerajinan perak Koto Gadang proses
pengerjaannya dimulai dengan peleburan bahan perak sampai menjadi bentuk perak
yang siap dijadikan produk kerajinan perak. Teknik kerajinan perak Koto Gadang ada
bermacam-macam yaitu teknik filgree atau bakarang, teknik terawang, dan teknik
kerajinan perak lainnya. Bentuk Kerajinan perak yang dihasilkan masyarakat Koto
Gadang berupa produk untuk perlengkapan adat perkawinan, yaitu pada perhiasan
wanita Koto Gadang, seperti gelang, kalung, anting, cincin dan perhiasan lainnya.

Produk keperluan sehari-hari seperti miniatur, pajangan meja, cincin, kalung,
gelang, bros dan bentuk perhiasan lainnya. produk cendera mata seperti miniatur,
pajangan meja, cincin, kalung, gelang, bros dan bentuk perhiasan lainnya. Bentuk
motif kerajinan perak Koto Gadang adalah motif daun cubadak, bunga melati, bunga
ros, bunga dahlia dan bunga matahari dan motif lainnya. Proses produksi yang
dilakukan oleh perajin Koto Gadang masih memakai sistem tradisional, tetapi tidak
mengurangi nilai karya seni yang dihasilkan, baik dilihat dari segi bentuk, gaya,
struktur, maupun fungsi karya tersebut dalam kehidupan masyarakat pendukungnya.
Penggunaan kerajinan perak Koto Gadang sebagai perlengkapan upacara adat di
Minangkabau tetap dipakai sampai saat sekarang. Seperti pada upacara perkawinan,
pemakaian kerajinan perak pada pengantin wanita Koto Gadang dimulai semenjak
acara pertunangan dilaksanakan, biasanya wanita Koto Gadang apakah itu pengantin
wanita dan pengiring pengantin akan memakai perhiasan perak Koto Gadang.

98

VI. DAFTAR PUSTAKA
Elni Sumiarti dan Yosi Suryani (2015), Gambaran Industri Kecil Dan Menengah

(IKM) Kerajinan Perak Koto Gadang Sebagai Salah Satu Kerajinan
Unggulan Sumatera Barat. Jurnal Polibisnis Ekonomi dan Bisnis Volume 7
No.2 Oktober 2015, Politeknik Negeri Padang.
Feldman, Edmud Burke. (1967), Seni Sebagai Ujud dan Gagasan, diterjemahkan
oleh Sp. Gustami, (1991), judul asli “Art As Image and Idea”, Fakultas
Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Yogyakarta.
Irda, Izhana Rosha dan Wulandari Titipani (2019), Pengaruh Kualitas Produk,
Desain Produk dan Harga Terhadap Keputusan Pembelian Kerajinan Perak
Di Nagari Koto Gadang Kabupaten Agam. Jurnal Menara Ekonomi
Volume No 2 April 2019, Fakultas Ekonomi UMSB.
Rahmad Washinton, Hendra (2018), “Eksistensi Kerajinan Perak Koto Gadang”,
Laporan Penelitian, ISI Padangpanjang, Padangpanjang.
_________________, Ranelis (2016), Kerajinan Batik Besurek Di Kota Bengkulu,
Jurnal Ekspresi Seni Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Volume 18
No 1 Juni 2016, ISI Padangpanjang, Padangpanjang.
Ranelis & Trisnawati Desi. (2013), “Kerajinan Bordir Hj. Rosma Kajian Desain,
Fungsi Personal dan Fungsi Fisik”, Laporan Penelitian, ISI Padangpanjang,
Padangpanjang.
Razni Sita Dewi dkk. (2005), Pakaian Tradisional Koto Gadang, Dian Rakyat,
Jakarta.
_______& Juni Mity j. (2011), Pakaian Tradisional Sulam, Tenun, & Renda Khas
Koto Gadang, Dian Rakyat, Jakarta.

99



100


Click to View FlipBook Version