The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pelaksanaan Seminar Nasional ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh
Program Studi Seni Tari ISBI Aceh dengan luaran Prosiding. Terlaksananya kegiatan
yang menghasilkan prosiding ini, semoga mampu menjadi terobosan baru bagi
akademisi dan seniman Indonesia serta menjadi referensi dalam riset bagi akademisi.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by jejakpustaka, 2021-07-29 00:51:04

Problematika Penelitian dan Pertunjukan Tari di Era New Normal

Pelaksanaan Seminar Nasional ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh
Program Studi Seni Tari ISBI Aceh dengan luaran Prosiding. Terlaksananya kegiatan
yang menghasilkan prosiding ini, semoga mampu menjadi terobosan baru bagi
akademisi dan seniman Indonesia serta menjadi referensi dalam riset bagi akademisi.

Keywords: Tari seni

i



PROSIDING

SEMINAR NASIONAL TARI

Problematika Penelitian dan Pertunjukan Tari di Era New Normal

Aceh, 29 September 2020

Program Studi Seni Tari
Jurusan Seni Pertunjukan
Institut Seni Budaya Indonesia Aceh

2021

PROSIDING
SEMINAR NASIONAL TARI

Problematika Penelitian dan Pertunjukan Tari di Era New Normal

Organizing Committee

Pengarah : Dr. Ir. Mirza Irwansyah, MBA., MLA (Rektor ISBI Aceh)
Ketua pelaksana : Nadra Akbar Manalu, S.Pd., M.Sn.
Sekretaris : Saifuddin A. Gani, MA.
Anggota : Fitra Airiansyah, S.Sn., M.Sn.

Sabri Gusmail, S.Sn., M.Sn.
Prasika Dewi Nugra, S.Sn., M.Sn.
Maghfira Murni BP, S.Pd., M.Sn.
Mauly Fajri, ST.
Nisa Thaharah
Khairul Anwar, S.Sn.

Editor : Nanik Indarti, S.Sn.
Penyelia Aksara : Ari Prasetyo Nugroho, S.Pd., M.A.
Tata Letak Isi : Kurniaji Satoto, S.Pd.
Desain Sampul : Hendrik Efriyadi, S.Pd., M.Pd.

Steering Committee
Fifie Febryanti Sukman, S.Sn., M.Sn. (Kaprodi Program Studi Seni Tari)

Reviewer : 1. Prof. Dr. Y. Sumandiyo Hadi, S.S.T., S.U (ISI Yogyakarta)
2. Yusnizar Heniwaty, S.S.T., M.Hum., Ph.D (Universitas Negeri Medan)
3. Hendra Nasution, S.Sn., M.Sn (ISI Padangpanjang)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL TARI

Problematika Penelitian dan Pertunjukan Tari di Era New Normal

ISBN:978-623-97492-1-7
Januari 2021

Diterbitkan oleh:
Program Studi Seni Tari ISBI

Jurusan Seni Pertunjukan
Institut Seni Budaya Indonesia Aceh

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan atas ke hadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan
rahmat-Nya atas terbitnya Prosiding Seminar Nasional: Problematika Penelitian dan
Pertunjukan Tari di Era New Normal Institut Seni Budaya Indonesia Aceh pada
tanggal 29 September 2020 dengan tema “Problematika Penelitian dan Pertunjukan
Tari di Era New Normal” yang diselenggarakan oleh Program Studi Seni Tari ISBI
Aceh. Pada Seminar Nasional ini telah mempresentasikan enam judul makalah dan
mendapatkan respons positif dari para peserta yang hadir.

Pelaksanaan Seminar Nasional ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh
Program Studi Seni Tari ISBI Aceh dengan luaran Prosiding. Terlaksananya kegiatan
yang menghasilkan prosiding ini, semoga mampu menjadi terobosan baru bagi
akademisi dan seniman Indonesia serta menjadi referensi dalam riset bagi akademisi.

Akhirnya disampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap
pihak yang telah membantu terselenggara dan terbitnya prosiding ini, serta
disampaikan penghargaan kepada narasumber Dr. Eko Supriyanto, MFA., Institut Seni
Indonesia Surakarta, Dr. Andi Halilintar Lathief, M.Pd., Universitas Negeri Makasar
dan Alfiyanto, S.Sn., M.Sn., Institut Seni Budaya Indonesia Bandung. Ucapan terima
kasih juga disampaikan kepada Rektor ISBI Aceh Dr. Ir. Mirza Irwansyah, MBA.,
MLA., peserta dan pemakalah serta segenap panitia yang tidak dapat kami sebutkan
semuanya.

Harapan kami Prosiding Seminar Nasional ini dapat bermanfaat bagi
masyarakat luas dan seniman serta akademisi pada khususnya. Akhir kata, semoga
prosiding ini menjadi persembahan kami pada dunia yang penuh ilmu pengetahuan ini
khususnya keilmuan seni tari. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih dan selamat
menikmati.

Kota Jantho, November 2020
Ketua Pelaksana,

Nadra Akbar Manalu, S.Pd., M.Sn.

iii



DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................... iii
Daftar Isi.............................................................................................................. v
1. TARI DAN ENERGI BARU MASA PANDEMI COVID-19

Alfiyanto, S.Sn., M.Sn. .................................................................................... 1
2. PERAN SANGGAR TERHADAP PERKEMBANGAN DAN

EKSISTENSI TARI SEUDATI INONG DI DESA CUCUM,
KABUPATEN ACEH BESAR
Fifie Febryanti Sukman dan Nadra Akbar Manalu.......................................... 9
3. PROSES PENCIPTAAN DAN BENTUK TARI KREASI “RASA”
KARYA SMAN 1 BANJARBARU DI ERA NEW NORMAL
Gita Kinanthi Purnama Asri ............................................................................ 19
4. KREATIVITAS DALAM MENJAGA ASET KEARIFAN LOKAL
DAERAH DARI EKSISTENSINYA (Tari Drop Daruet)
Khairul Anwar ................................................................................................. 37
5. EKSISTENSI TARI LAWEUT DI KABUPATEN PIDIE, PROVINSI
ACEH
Nailul Muna ..................................................................................................... 53
6. PERKEMBANGAN TARI RATEB MEUSEKAT DI KECAMATAN
BLANGPIDIE KABUPATEN ACEH BARAT DAYA
Rahmatul Aulia ................................................................................................ 59

v



TARI DAN ENERGI BARU MASA PANDEMI COVID-19

Alfiyanto, S.Sn., M.Sn.
Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

ABSTRAK
Pandemi Covid-19 bukanlah menjadi titik kulminasi untuk sebuah kemandekan
untuk sebuah proses kreatif, akan tetapi merupakan awal untuk beradaptasi dengan
kebiasaan-kebiasaan baru dalam beraktivitas dan berkreativitas seni. Covid-19
belum tentu akan berakhir besok, lusa, bulan depan, ataupun tahun depan. Kalaupun
pada suatu ketika nanti pandemi Covid-19 ini berakhir, kebiasaan baru yang sudah
dijalani selama ini tidak mungkin akan kembali ke asal (sebelum pandemi Covid-
19), seperti aktivitas dan kerja digital, virtual, dan lain-lainnya yang sudah kita
mulai beberapa bulan ini. Mungkin ini batu loncatan terhadap wacana yang sering
disebut-sebut dengan revolusi 4.0. Semuanya itu akan berubah baik yang diawali
dengan keterpaksaan, keikhlasan, dan bahkan tanpa kesengajaan. Masa pandemi
Covid-19 ini mengubah ruang dan waktu sehingga memacu paradigma koreografer
untuk menyikapi dan menyesuaikan dalam berbuat. Perangkat digital dari fungsi
sekunder menjadi fungsi primer bagi koreografer saat ini. Banyak pekerjaan
kreativitas dilakukan menggunakan perangkat atau media digital, mulai dari kamera
foto, kamera video, dan media komputer yang kemudian disambungkan ke jaringan
internet. Hasil kerja kreatif dengan media baru tersebut sering dijadikan untuk
kebutuhan ruang virtual ataupun sistem daring. Relasi-relasi tubuh yang terbangun
menghasilkan jejaring yang mengarah kepada terbentuknya kebiasaan baru.

Kata Kunci: Kreativitas, virtual

LATAR BELAKANG
Situasi pandemi Covid-19 mendorong kita untuk selalu cerdas dalam beraktivitas
dan berkreativitas, tidak menyerah, dan lentur pada keadaan. Masa sulit dan
banyaknya keterbatasan-keterbatasan menuntut setiap orang berperan aktif baik
untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Saat ini bukan lagi merupakan wabah yang menyebabkan manusia sesak
napas hingga meninggal dunia, lebih dari itu, menjadi semacam pintu yang
mengubah segalanya yang ada di bumi ini, tidak hanya culture set (budaya kerja)
bahkan sampai mind set semua orang. Lebih kurang 8 bulan waktu yang sudah
berjalan semenjak virus ini merebak di seluruh penjuru dunia. Dampak yang paling
krusial adalah macetnya sendi-sendi ekonomi, tak terkecuali Indonesia. Situasi ini
memacu semua orang untuk siap berperang melawan makhluk kecil ini. Presiden

1

Indonesia pun seperti panglima perang, menentukan strategi menghadapi lawan
(Covid-19) di medan pertempuran. Strategi tersebut di antaranya membatasi
pergerakan dan interaksi antar manusia, dan yang lebih luas lagi adalah Pembatasan
Sosial Berskala Besar (PSBB).

Tatanan kebiasaan baru ini berbasis pada adaptasi untuk membudayakan
perilaku baru (new normal) yang menuntut kesadaran kolektif, tidak terkecuali
perilaku baru dalam bidang kesenian. Pemerintah telah memastikan masyarakat
dapat beraktivitas dalam new normal ini, akan tetapi tetap mengikuti SOP atau
protokol kesehatan. Kesenian yang identik dengan kerja kolektif, komunal, dan
proses interaksi dengan orang lain dalam situasi saat ini sangat dituntut kepekaan
dan kelenturan dalam menanggapi kondisi.

Kepekaan dan kecerdasan pelaku seni dalam hal ini koreografer sebagai
kreator sangat diuji. Kondisi pandemi Covid-19 yang penuh keterbatasan dan
kesulitan ini bukan menjadi pembenaran untuk pasrah dan tidak bertindak apa-apa.
Keterbatasan-keterbatasan ini justru yang menjadi ladang ide atau gagasan untuk
selalu aktif dan kreatif, baik untuk aspek pragmatik (guna), aspek estetik (indah),
maupun aspek semiotika (simbol).

PEMBAHASAN
Koreografer sebagai kreator sudah terbiasa dengan kegelisahan-kegelisahan dan
keterbatasan-keterbatasan, pada saat inilah diuji seberapa tangguh semangat hidup
dalam memberi kehidupan untuk kepentingan internal dan eksternal, diri sendiri,
orang lain, dan kesenian. Paradigma sebagai kreator diuji, pasif atau produktif,
karena cara berpikir koreografer dalam menyikapi keterbatasan-keterbatasan dalam
masa sulit penuh keterbatasan ini perlu di-upgrade untuk menyesuaikan ruang dan
waktu, supaya aktivitas dan kreativitas tetap dapat berjalan. Potensi-potensi tubuh
yang sudah terbina dari lama tidak harus terhenti, justru relasi tubuh dan ruang harus
dimaksimalkan agar potensi tubuh tersebut dapat berperan aktif dalam persoalan-
persoalan yang dihadapi, pandemi Covid-19. Potensi tubuh tersebut adalah:

a. Potensi afektif, yaitu potensi terhadap sikap, rasa, dan emosi.
b. Potensi kognitif, yaitu potensi ilmu pengetahuan.

2

c. Potensi motorik, yaitu kemampuan fisik.

Ranah kognitif berisi perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti
pengetahuan, dan keterampilan berpikir. Ranah afektif mencakup perilaku terkait
dengan emosi, misalnya perasaan, nilai, minat, motivasi, dan sikap. Sedangkan ranah
Psikomotorik berisi perilaku yang menekankan fungsi manipulatif dan keterampilan
motorik/kemampuan fisik, berenang, dan mengoperasikan mesin. Para trainer
biasanya mengaitkan ketiga ranah ini dengan Knowledge, Skill and Attitude (KSA).
Kognitif menekankan pada Knowledge, Afektif pada Attitude, dan Psikomotorik pada
Skill. Sebenarnya di Indonesia pun, kita memiliki tokoh pendidikan, Ki Hajar
Dewantara yang terkenal dengan doktrinnya Cipta, Rasa dan Karsa atau Penalaran,
Penghayatan, dan Pengamalan. Cipta dapat diidentikkan dengan ranah kognitif, rasa
dengan ranah afektif dan karsa dengan ranah psikomotorik (Wowo Sunaryo Kuswana,
2012)

Pandemi Covid-19 bukanlah menjadi titik kulminasi (puncak) untuk sebuah
kemandekan untuk sebuah proses kreatif , akan tetapi merupakan awal untuk
beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru dalam beraktivitas dan berkreativitas
seni. Covid-19 belum tentu akan berakhir besok, lusa, bulan depan , ataupun tahu
depan. Kalaupun pada suatu ketika nanti pandemi Covid-19 ini berakhir, kebiasaan
baru yang sudah kita jalani selama ini tidak akan mungkin kembali ke asal (sebelum
pandemi Covid-19), seperti aktivitas dan kerja digital, virtual, dan lain-lainnya yang
sudah kita mulai beberapa bulan ini. Mungkin ini batu loncatan terhadap wacana yang
sering disebut-sebut dengan revolusi 4.0. Semuanya itu akan berubah baik yang
diawali dengan keterpaksaan, keikhlasan, dan bahkan tanpa kesengajaan.

Banyak pembelajaran dan pengalaman yang didapatkan dari bencana wabah
virus Covid-19 ini, terutama bagi orang yang tidak diam. Meminjam istilah dari Dr.
Eko Suprianto bahwa koreografer itu harusnya seperti ikan hiu yang selalu merasa
lapar, karena lapar ikan hiu selalu mencari makan. Jadi, semestinya koreografer
sebagai kreator dalam kondisi dan situasi apa saja selalu mempunyai rasa lapar agar
terciptanya tubuh groteks, tubuh yang tidak pernah selesai, tubuh selalu mencari tanpa
henti. Seperti halnya darah yang mengalir dalam nadi tubuh kita, selalu menjalar,
hidup, bergerak tanpa henti.

3

Masa penuh keterbatasan saat ini konsistensi tubuh dalam sebuah kreativitas
sangat dibutuhkan, karena tubuh yang selalu gelisah dengan fenomena-fenomena yang
ada. tubuh membutuhkan wadah untuk menggeliat guna menyampaikan pesan lewat
narasi-narasi ketubuhan itu sendiri, menyampaikan nilai-nilai, kritik, pertanyaan, dan
menggugah empati orang lain.

Pemikiran dan aksi kreatif dituntun dalam kurun waktu dan ruang, bergerak,
hidup, tumbuh, berkembang yang tidak pernah berhenti, karena kreator adalah
manusia yang selalu “gelisah”. Kegelisahan-kegelisahan tersebutlah yang akan
mewujud menjadi sebuah ide kreatif yang segar untuk dijadikan gagasan dalam proses
kreatif.

Pengembaraan tubuh sebagai wadah kreativitas dalam perspektif konseptual
tubuh merupakan gambaran kontekstualitas dan tekstualitas yang terkait dengan
sejarah perjalanan tubuh terus-menerus yang mengalami proses anasir, menyebar dan
berevolusi pada fase-fase kompleksitas yang variatif. Tubuh dalam tari sebagai wadah
ungkapan perasaan tidak terlepas dari fenomena budaya, ruang dan waktu yang selalu
bergerak, sehingga tubuh kreatif itu selalu punya dorongan untuk mengungkapkan
makna-makna, gagasan-gagasan melalui media-media ekspresi, sampai
mengaktualisasikannya sebagai materi pertunjukan. Budaya menjadi alasan utama
keberadaan tubuh manusia, tubuh manusia bagian dari budaya. Tubuh bermakna
bukan karena sifat biologisnya, melainkan karena adanya penanaman nilai-nilai, tanda,
pengetahuan, dan ideologis yang berkembang di baliknya (Ardi Raditya, 2012:20).

Masa pandemi Covid-19 ini mengubah ruang dan waktu sehingga memacu
paradigma koreografer untuk menyikapi dan menyesuaikan dalam berbuat. Perangkat
digital dari fungsi sekunder menjadi fungsi primer bagi koreaografer saat ini. Banyak
pekerjaan kreativitas dilakukan menggunakan perangkat atau media digital, mulai dari
kamera foto, kamera video, dan media komputer yang kemudian disambungkan ke
jaringan internet. Hasil kerja kreatif dengan media baru tersebut sering dijadikan untuk
kebutuhan ruang virtual ataupun sistem daring. Teknologi yang dibentuk oleh
perkembangan pengetahuan dan rasionalitas manusia, pada gilirannya turut berperan
dalam konstruksi dominasi global, yang kini dikenal dengan sebutan globalisasi (Ardi
Raditya, 2012: 27).

4

Tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang kreator, rumah, halaman, kebun,
sawah dan ruang-ruang yang tidak biasa dimanfaatkan sebagai ruang kreatif ataupun
sebagai panggung pada masa sulit dan penuh keterbatasan ini semuanya terjadi.
Kecerdasan-kecerdasan tubuh (potensi afektif dan kognitif) secara refleks keluar tanpa
dipaksa, karena sejarah tubuh itu sendiri tidak akan ingkar terhadap janjinya. Tubuh
yang memiliki kekayaan akan kesejarahan tubuh itu sendiri adalah tubuh yang selalu
proses, tubuh yang melihat, merasakan, dan tubuh yang melakukan.

Media baru yang menjadi pendamping tubuh saat ini sudah mulai menjadi
kebutuhan yang penting dalam mewadahi aktualisasi tubuh itu sendiri, baik tubuh
sebagai subjek ataupun sebagai objek dari media baru tersebut. Seperti tubuh dalam
ruang virtual yang menggunakan media-media baru, di antaranya multimedia.
Multimedia merupakan sebuah perubahan cara berkomunikasi menggunakan berbagai
jenis media, berupa video, suara, animasi, teks, dan grafik serta elemen interaktif yang
kemudian juga dapat dihubungkan dengan jaringan internet (virtual) (Munir, 2012: 7).

Pandemi Covid-19 yang mewabah saat ini mereduksi banyak hal yang
berhubungan dengan seni pertunjukan. Persoalan yang paling dirasakan oleh pelaku
seni adalah hilangnya kesempatan-kesempatan untuk menyelenggarakan pertunjukan
secara luring (tanpa jaringan internet), yang berubah menjadi daring (menggunakan
jaringan internet). Kegagapan dan kegelisahan-kegelisahan tersebut hanya muncul
beberapa saat saja bagi pelaku seni. Potensi tubuh (afektif dan kognitif) mulai mencari
jejaring atau keterhubungan dengan hal-hal yang tidak biasa dilakukan. Tubuh mulai
membentuk relasi-relasi guna mewadahi tubuh itu sendiri, baik untuk aspek pragmatik,
aspek estetik, maupun aspek semiotik, sehingga tubuh-tubuh yang gelisah dan gagap
tersebut menjadi tubuh yang lentur, tubuh yang cerdas.

Terbangunnya relasi tubuh tersebut menghasilkan jejaring yang mengarah
kepada terbentuknya kebiasaan baru (new normal), seperti munculnya ruang-ruang
ekspresi baru sebagai ruang pertunjukan. Ruang pertunjukan, pentas/panggung itu
tercipta pada saat peristiwa kesenian tersebut terjadi, maka pada saat itulah ruang itu
menjadi panggung/pentas. Seperti yang marak terjadi saat ini, relasi tubuh dengan
ruang (seperti ruangan rumah, halaman rumah) dan media internet menjadi sebuah
alternatif seniman termasuk koreografer dalam mengaktualisasikan karyanya.

5

Pertunjukan dapat dilaksanakan kapan dan di mana saja dengan memanfaatkan
jaringan internet. Keliaran-keliaran tubuh dalam berbagai ruang semakin tidak
terbendung, semuanya dapat terlaksna dengan mudah tanpa banyak mengeluarkan
dana. Hal ini sudah tentu ada plus dan minusnya, tetapi semua akan berkembang dan
mengakar seiring sesuai dengan perubahan ruang dan waktu itu sendiri.

KESIMPULAN
Situasi pandemi Covid-19 mendorong semua orang untuk work from home dan be
creative at home. Bagi kebanyakan seniman, termasuk para pelaku tari, situasi ini
justru semakin menyalakan kreativitas. Secara faktual, hanya media virtual yang
menjadi tempat penyaluran kreativitas . Mewadahi gairah kreativitas tersebut agar
tetap selalu produktif dalam berkarya walaupun dalam situasi penuh keterbatasan ini
yaitu pandemi Covid-19. Kreativitas tetap berjalan dengan mengekspresikan seni
dalam berbagai cara. Pandemi Covid-19 bukanlah menjadi puncak kemandekan untuk
sebuah proses kreatif, akan tetapi merupakan awal untuk beradaptasi dengan
kebiasaan-kebiasaan baru dalam beraktivitas dan berkreativitas seni.

Kreativitas dan menggali potensi tubuh merupakan cara terbaik untuk
menemukan solusi baru dalam sebuah kemandekan tersebut. Keterbatasan bagi
seorang seniman bukanlah sebuah pembenaran untuk bersikap pasif dalam
memproduksi, karena kerja seniman dalam proses penciptaan adalah menyelesaikan
keterbatasan-keterbatasan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Adita, Gina Fitri, 2014, Eksplorasi visual dalam Video Mapping Performance, Skripsi

Tingkat Sarjana Bidang Seni Rupa dan Desain Prodi Sarjana Desain Komunikasi
Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB.
Berger, Artur A. 2000, Signs Contemporary Culture, An Introduction Semiotics. M
Dwi Marianto, Sunarto, 2005. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Eagleton, Terry. 2000, The Idea of Culture. Ali Noer Zaman. 2016. INDEeS.
Surabaya, Nusantara Press.
Kuswana, Wowo Sunaryo. 2012. Taksonomi Kognitif, Perkembangan Ragam
Berpikir, Bandung: Rosda.

6

Martinet, Jeane, 1975. Clefs Pour La Semiologie. Stepanus Aswar Herwinarko. 2010.
Yogyakarta. Jalasutra: Interprebook.

Munir, 2012. Multimedia, Konsep dan Aplikasi, Bandung: Alfabeta.
Murgianto, Sal, 2006, Pertunjukan Budaya Dan Akal Sehat, Jakarta: FSP IKJ.
Piliang, Yasraf Amir. 2006. Kreativitas dan Humanitas. Jalasutra. Yogyakarta.
Raditya, Ardi, 2002. Sosiologi Tubuh, Yogyakarta: Kaukaba Dipantara.
R.M. Soedarsono, 2002, Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi, Yogyakarta:

Gadjah Mada University Pers.
Suchari, Agus, 2002, Estetika Makna, Simbol dan Daya. Bandung: Penerbit ITB.

7



PERAN SANGGAR TERHADAP PERKEMBANGAN DAN
EKSISTENSI TARI SEUDATI INONG DI DESA CUCUM,

KABUPATEN ACEH BESAR

Fifie Febryanti Sukman 1, Nadra Akbar Manalu2
1) Institut Seni Budaya Indonesia Aceh

Email: [email protected]
2) Institut Seni Budaya Indonesia Aceh

Email: [email protected]

ABSTRAK

Seudati Inong atau yang lebih dikenal di beberapa daerah di Aceh sebagai Tari Laweut
adalah salah satu tarian di Kabupaten Aceh Besar yang eksistensinya sudah jarang
dipertunjukkan lagi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengeksplorasi mengenai
peran sanggar terhadap perkembangan dan eksistensi Tari Seudati Inong di Kabupaten
Aceh Besar. Dengan menggunakan penelitian kualitatif, penelitian ini mendapatkan
data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian yang didapatkan
adalah Sanggar Seni Atjeh mendapatkan beberapa faktor penghambat dan pendukung
dalam perkembangan Tari Seudati Inong di Desa Cucum, Kabupaten Aceh Besar.
Akan tetapi karena dasar ingin melestarikan Tari Seudati Inong, pihak sanggar tetap
melakukan berbagai upaya seperti tetap melakukan pelatihan tari di sanggar tersebut.
Kata Kunci: Seudati Inong, peran, sanggar, eksistensi

ABSTRACT
Seudati Inong or better known in some areas in Aceh as the Laweut Dance is one of
the dances in Aceh Besar Regency whose existence is rarely performed anymore. This
study aims to explore the role of the studio in the development and existence of Seudati
Inong Dance in Aceh Besar District. By using qualitative research, this study obtains
data through observation, interviews and documentation. The results obtained were
that the Atjeh Art Studio found several inhibiting and supporting factors in the
development of Seudati Inong Dance in Cucum Village, Aceh Besar District. However,
because the basis of wanting to preserve Seudati Inong Dance, the studio continues to
make various efforts such as continuing to carry out dance training at the studio.

Keywords: Seudai Inong, role, studio, existence

9

PENDAHULUAN
Kesenian dan kebudayaan menjadi sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam
sosial hidup masyarakat. Sebuah kesenian tidak akan lahir, tumbuh dan berkembang
apabila tidak ada masyarakat pendukung yang menghidupkannya. Terdapat berbagai
macam ragam kesenian termasuk tari-tarian dengan berbagai latar belakang yang
berbeda juga mulai dari jenis tarian kerakyatan hingga tarian yang berkembang di
lingkungan kerajaan. Keberagaman tari-tarian mulai dari tema tari (lingkungan atau
alam, religious), dan lingkungan sosial (tari rakyat, tari istana) merupakan hasil dari
warisan budaya yang telah diwariskan oleh para seniman pendahulu. Oleh karena itu,
sebagai generasi muda yang paham dengan alur panjang hingga membuahkan
keberagaman yang begitu banyaknya maka sudah menjadi sebuah tugas dan kewajiban
untuk melestarikannya agar tetap bisa dinikmati dan dilihat oleh generasi yang akan
datang.

Agar eksistensi tari-tarian tetap dijaga dan dilestarikan keberlangsungan tetap
terjaga, diperlukan peran dari semua masyarakat pendukungnya seperti penari, dan
masyarakat sekitar. Selain kedua hal tersebut, diperlukan sebuah wadah agar tarian
tersebut dapat dikelola dengan baik. Sumaryono (2006:146) mengatakan bahwa
meskipun pertunjukan sebuah tari dilakukan dengan sederhana, tetapi pertunjukan
tersebut memiliki sebuah pengelolaan atau manajemen, yaitu sebuah wadah
organisasi. Pada umumnya pertunjukan seni tradisional di Indonesia masih menganut
sistem manajemen tradisional. Yang dimaksud dengan manajemen tradisional adalah
segala hal yang berkaitan dengan pengorganisasian masih dikerjakan oleh kepala
sanggar dan menerapkan sistem kerja kekeluargaan. Akan tetapi, pada saat ini di
Indonesia telah menganut manajemen Barat. Seperti yang dikatakan oleh Muhammad
Takari (2008: 90) menjelaskan bahwa beberapa sistem manajemen yang dikelola oleh
beberapa kelompok kesenian Nusantara telah menerapkan sistem manajemen Barat
seperti adanya ketua, wakil ketua, sekretaris bendahara dan beberapa bidang.

Meskipun di era revolusi industri sekarang, sistem manajemen yang digunakan
oleh semua sanggar adalah mengadopsi sistem manajemen Barat, akan tetapi masih
ada sanggar seni yang dalam pengelolaannya menggunakan sistem tradisional, salah
satunya adalah Sanggar Seni Atjeh Meutjehu yang terletak di Desa Cucum, Kabupaten
Aceh Besar, Provinsi Aceh. Meskipun di tengah keterbatasan yang ada, pemilik

10

sanggar tetap melakukan aktivitas kesenian meskipun menjadi seniman bukanlah
pekerjaan utama yang dimilikinya. Berdasarkan fenomena tersebut maka pada
penelitian ini peneliti tertarik untuk meneliti peran sanggar terhadap perkembangan
dan eksistensi Tari Seudati Inong di Desa Cucum, Kabupaten Aceh Besar.

METODE PENELITIAN
Tjetjep Rohendi Rohidi dalam bukunya Metode Penelitian Seni mengatakan bahwa
masalah penelitian timbul dari masalah sehari-hari seperti masalah sosial, pendidikan
maupun dari bidang seni (2011: 77). Berdasarkan dari pendapat di atas bahwa bisa
disimpulkan bahwa tidak hanya dalam kajian ilmu pendidikan atau ilmu sosial atau
yang lainnya akan tetapi dalam bidang seni, masalah juga bisa didapatkan dengan
menyusun atau merumuskan sebuah permasalahan lalu menggunakan teori atau
konsep untuk menjelaskan jawaban nantinya.

Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif agar proses penelitian bisa
digambarkan dengan mudah. Jane Richie dalam Moleong (2015:6) berpendapat
penelitian kualitatif adalah upaya yang dilakukan untuk menyajikan dunia sosial, dan
perspektifnya di dalam dunia, dari segi konsep, perilaku, persepsi ataupun persoalan
tentang manusia yang diteliti. Adapun tahapan penelitian yang dilakukan adalah
menyusun rancangan penelitian, terjun ke lapangan hingga menganalisis data. Adapun
teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melakukan teknik pengamatan atau
observasi, wawancara dan dokumentasi. Imam Gunawan (2013:145) dalam bukunya
Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik membagi pengamatan menjadi 2 jenis,
yaitu pengamatan berperan serta dan pengamatan tidak berperan serta.

Pada penelitian ini, peneliti melakukan observasi sebagai pengamat tidak
berperan serta dan hanya menempatkan diri sebagai peneliti. Lalu dalam penelitian ini,
wawancara yang digunakan adalah wawancara tidak terstruktur. Dalam Imam
Gunawan (2013: 163) mengatakan wawancara tidak terstruktur lebih bersifat fleksibel
dan tidak terikat akan tetapi tidak menyimpang dari tujuan wawancara yang dilakukan.
Wawancara dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang sifatnya lebih
terbuka yang mengarahkan nantinya kepada jawaban yang diinginkan. Dan teknik
pengumpulan data yang terakhir adalah dokumentasi.

11

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kabupaten Aceh Besar merupakan salah satu kabupaten yang letaknya berjarak 45 km
dari ibu kota Provinsi Aceh yaitu Banda Aceh. Batas wilayah Kabupaten Aceh Besar
di bagian utara berbatasan dengan Kota Banda Aceh, di sebelah barat daya berbatasan
dengan Kabupaten Aceh Jaya, dan di bagian selatan dan tenggara berbatasan dengan
Kabupaten Pidie. Secara administrasi Kabupaten Aceh Besar terdiri 23 kecamatan dan
604 Gampong dengan jumlah penduduk sebanyak 350.225 jiwa. Pusat pemerintahan
dan ibu kota kabupaten terletak di Kota Jantho yang memiliki 13 desa atau kelurahan
yang tersebar di daerah yang wilayahnya terkenal dengan perbukitan.

Kabupaten Aceh Besar juga terkenal dengan berbagai macam jenis kesenian
yang tersebar di beberapa wilayah contohnya seperti Tari Likok Pulo, Tari Ratoeh
Taloe dan terdapat beberapa tarian yang tersembunyi dan tidak diketahui
keeksistensiannya oleh masyarakat umum seperti Tari dan Tari Seudati Inong yang
terdapat di Desa Cucum, Kecamatan Kota Jantho. Eksistensi sebuah tarian yang
merupakan bagian dari masyarakat pada sebuah wilayah diakibatkan salah satunya
karena kurangnya minat masyarakat setempat untuk mempelajari tari tersebut dan
peran sanggar yang tidak begitu aktif untuk mengajarkan dan mengenalkan kepada
masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah peran dari sebuah komunitas
masyarakat atau sebuah wadah yang dapat menghidupkan kembali kesenian yang telah
tergerus oleh perkembangan zaman ataupun kesenian lainnya yang terlebih dulu eksis
dan terkenal oleh masyarakat umum.

Sanggar Seni Atjeh Meutjehu merupakan salah satu sanggar yang letaknya di
Desa Cucum yang masih aktif mengajarkan Tari Seudati Inong kepada anak-anak yang
berada di lingkungan sanggar tersebut. Pengelolaan managemen sanggar yang
diterapkan masih menggunakan sistem tradisional. Menurut Muhammad Takari
(2008:64-68) ciri manajemen seni yang dilakukan oleh masyarakat tradisional
nusantara, yaitu berkesenian bukan merupakan profesi utama akan tetapi pekerjaan
sampingan sebagai wujud pelestarian, pimpinan dari sebuah grup atau sanggar
merupakan seniman utama dan juga sebagai sumber dana pertunjukan, pembagian
honor yang hanya diketahui oleh pimpinan sanggar dan biasanya bersifat rahasia.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa Sanggar Seni Atjeh Meutjehu menerapkan sistem
manajemen tradisional, sehingga adapun pembagian honor ataupun sumber dana

12

pertunjukan semuanya dikelola oleh pimpinan sanggar. Sanggar ini bergerak dalam
bidang pelatihan tari tradisional yang mengkhususkan pada Tari Seudati Inong. Sistem
pelatihannya tidak dilakukan secara rutin akan tetapi dilakukan ketika mendapatkan
tawaran untuk mengisi sebuah acara.

Tari Seudati Inong
Menurut wawancara dengan Buniamin selaku pimpinan Sanggar Seni Atjeh Meutjehu
mengatakan asal mula keberadaan Tari Seudati Inong di Desa Cucum, Kecamatan
Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar awalnya dikarenakan ketika para perempuan
melihat pertunjukan Tari Seudati, mereka merasa takjub dengan kegagahan yang
ditunjukkan pada gerakan tari tersebut. Melihat hal tersebut, timbul keinginan dari para
wanita untuk menarikan tari tersebut sehingga muncullah sebuah Tari Seudati dengan
para perempuan sebagai penarinya. Teks dari Tari Seudati Inong pada dasarnya hampir
sama dengan Tari Seudati. Kata Seudati berasal dari kata seulaweut yang artinya
selawat, yaitu doa kepada Allah Swt. untuk Nabi Muhammad Saw. beserta para
keluarga dan sahabatnya. Berbeda dengan Tari Seudati yang memiliki 8 rukun, Tari
Seudati Inong memiliki 5 rukun, yaitu salam syahi, salam rakan, likok, saman dan yang
terakhir lani. Tari Seudati Inong ditarikan oleh perempuan yang berjumlah delapan
orang, dengan menggunakan busana tari Aceh.

Eksistensi Tari Seudati Inong
Tari Seudati Inong yang dilestarikan oleh Sanggar Seni Atjeh Meutjehu merupakan
salah satu bentuk eksistensi Tari Seudati Inong di Desa Cucum, Kecamatan Kota
Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Meskipun perkembangan teknologi di era sekarang
menjadi salah satu ancaman Sanggar Seni Atjeh Meutjehu bagi keberlangsungan Tari
Seudati Inong, tetapi dengan diadakannya pelatihan tari untuk anak-anak di
lingkungan sanggar tersebut bisa membantu agar eksistensi Tari Seudati Inong tidak
tergeser dan punah oleh teknologi terutama ponsel pintar yang saat ini telah menjadi
sebuah kebutuhan primer.

Keberadaan Tari Seudati Inong saat ini bisa dikatakan tidak terlalu mendapatkan
banyak perhatian oleh masyarakat ataupun pemerintah setempat. Peminat tari ini juga
tidak terlalu banyak dikarenakan oleh faktor eksternal dan juga faktor internal. Akan
tetapi, demi menjaga kelangsungan Tari Seudati di Desa Cucum, Buniamin selaku

13

pemilik sanggar terus melakukan pelatihan tari kepada anak remaja di kalangan desa
tersebut. Diharapkan dengan adanya upaya yang terus dilakukan oleh Buniamin
menjadikan eksistensi Tari Seudati Inong bisa tetap terus terjaga.

Peran Sanggar terhadap Perkembangan Tari Seudati Inong
Seni tari merupakan bagian dari kebudayaan dan telah menjadi sebuah sistem dalam
masyarakat yang berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Peran
Sanggar Seni Atjeh Meutjehu terhadap perkembangan Tari Seudati Inong bisa dilihat
dari 2 aspek yaitu konsistensi gerak dan pelatihan dan pementasan Tari Seudati Inong.
Aspek yang pertama yaitu konsistensi gerak yang tetap dipertahankan oleh Sanggar
Seni Atjeh tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun dikarenakan esensi dari
tarian ini adalah Tari Seudati akan tetapi ditarikan oleh perempuan. Tidak hanya dari
segi gerak, tetapi semua teks tari tidak mengalami perubahan sama sekali sehingga
keaslian dari tari tersebut tetap terjaga. Aspek kedua yaitu pelatihan dan pementasan
Tari Seudati Inong yang tetap dilakukan oleh Sanggar Seni Atjeh Meutjehu baik di
dalam kabupaten ataupun luar Kabupaten Aceh Besar.

Meskipun peminat dari Tari Sudati Inong tidak sebanyak dengan tari yang
lainnya akan tetapi Sanggar Seni Atjeh Meutjehu mengembangkan dan melestarikan
Tari Seudati Inong dengan cara mementaskan tari tersebut di beberapa kegiatan atau
undangan. Pementasan-pementasan tersebut dibagi ke dalam dua sifat, yaitu
pementasan intern dan ekstern. Pementasan intern adalah pementasan yang dilakukan
oleh sanggar itu sendiri sebagai evaluasi bagi para penari dan pementasan ekstern yaitu
pementasan yang dilakukan di luar kegiatan sanggar seperti kegiatan acara tertentu
atau undangan. Selain itu, pelatihan-pelatihan juga dilaksanakan meskipun tidak ada
jadwal tetap yang diberlakukan oleh Sanggar Seni Atjeh Meutjehu sehingga pelatihan
yang dilaksanakan akan berlangsung ketika terdapat undangan untuk mengisi sebuah
acara.

Faktor Penghambat dan Pendukung Perkembangan Tari Seudati Inong
Dalam upaya untuk mempertahankan eksistensi Tari Seudati Inong di Desa Cucum
Kabupaten Aceh Besar, ada beberapa faktor penghambat dan pendukung
perkembangan Tari Seudati Inong. Adapun faktor penghambatnya antara lain:

14

1. Kurangnya pendukung dari masyarakat di Desa Cucum untuk mengarahkan anak-
anak mereka untuk melestarikan tarian tersebut.

2. Minimnya anak-anak yang ingin berlatih dikarenakan faktor kemajuan zaman yang
condong ke arah digitalisasi.

3. Jauhnya lokasi Sanggar Seni dari pusat atau kota sehingga kurang tereksposnya tari
tersebut.

4. Minimnya informasi yang dimiliki oleh kepala sanggar dalam upaya melestarikan
ataupun mempertahankan eksistensi Tari Seudati Inong.

5. Sarana dan prasarana yang sangat minim.

Sedangkan adapun faktor pendukung perkembangan Tari Seudati Inong yang
dimiliki oleh Sanggar Seni Atjeh Meutjehu di Desa Cucum, Kabupaten Aceh Besar
yaitu:

1. Kepala sanggar yang begitu sangat bersemangat dalam mengajarkan kepada anak-
anak di Desa Cucum, Kabupaten Aceh Besar.

2. Satu-satunya sanggar yang ada di Kabupaten Aceh Besar yang mengajarkan Tari
Seudati Inong.

3. Respon dari para anak sanggar atau penari yang tetap konsisten mempelajari Tari
Seudati Inong.

Di tengah kondisi dan perkembangan zaman yang sangat maju seperti saat ini
dan terdapat beberapa faktor penghambat yang dirasakan oleh pihak Sanggar Seni
Atjeh tidak menyurutkan semangat dan niat untuk tetap mengajarkannya sebagai
upaya mereka dalam melestarikan satu dari banyaknya tari-tarian di Aceh.

KESIMPULAN
Meskipun di era revolusi industri sekarang, sistem manajemen yang digunakan oleh
semua sanggar adalah mengadopsi sistem manajemen Barat akan tetapi, masih ada
sanggar seni yang dalam pengelolaannya menggunakan sistem tradisional, salah
satunya adalah Sanggar Seni Atjeh Meutjehu yang terletak di Desa Cucum, Kabupaten
Aceh Besar, Provinsi Aceh. Kabupaten Aceh Besar juga terkenal dengan berbagai
macam jenis kesenian yang tersebar di beberapa wilayah contohnya seperti Tari Likok

15

Pulo, Tari Ratoeh Taloe dan terdapat beberapa tarian yang tersembunyi dan tidak
diketahui keeksistensiannya oleh masyarakat umum seperti Tari Seudati Inong yang
terdapat di Desa Cucum, Kecamatan Kota Jantho. Keeksistensian sebuah tarian yang
merupakan bagian dari masyarakat pada sebuah wilayah diakibatkan salah satunya
karena kurangnya minat masyarakat setempat untuk mempelajari tari tersebut dan
peran sanggar yang tidak begitu aktif untuk mengajarkan dan mengenalkan kepada
masyarakat.

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah peran dari sebuah komunitas masyarakat
atau sebuah wadah yang dapat menghidupkan kembali kesenian yang telah tergerus
oleh perkembangan zaman ataupun kesenian lainnya yang terlebih dulu eksis dan
terkenal oleh masyarakat umum. Sanggar Seni Atjeh Meutjehu merupakan salah satu
sanggar yang letaknya di Desa Cucum yang masih aktif mengajarkan Tari Seudati
Inong kepada anak-anak yang berada di lingkungan sanggar tersebut. Menurut
Muhammad Takari (2008:64-68) ciri manajemen seni yang dilakukan oleh masyarakat
tradisional nusantara yaitu berkesenian bukan merupakan profesi utama akan tetapi
pekerjaan sampingan sebagai wujud pelestarian, pimpinan dari sebuah group atau
sanggar merupakan seniman utama dan juga sebagai sumber dana pertunjukan,
pembagian honor yang hanya diketahui oleh pimpinan sanggar dan biasanya bersifat
rahasia.

Tari Seudati Inong menurut wawancara dengan Buniamin selaku pimpinan
Sanggar Seni Atjeh Meutjehu mengatakan asal mula keberadaan Tari Seudati Inong di
Desa Cucum, Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar awalnya dikarenakan
ketika para perempuan melihat pertunjukan Tari Seudati, mereka merasa takjub
dengan kegagahan yang ditunjukkan pada gerakan tari tersebut. Eksistensi Tari
Seudati Inong yang dilestarikan oleh Sanggar Seni Atjeh Meutjehu merupakan salah
satu bentuk eksistensi Tari Seudati Inong di Desa Cucum, Kecamatan Kota Jantho,
Kabupaten Aceh Besar. Akan tetapi dengan diadakannya pelatihan tari untuk anak-
anak di lingkungan sanggar tersebut bisa membantu agar eksistensi Tari Seudati Inong
tidak tergeser dan punah oleh teknologi terutama ponsel pintar yang saat ini telah
menjadi sebuah kebutuhan primer.

16

Peran sanggar terhadap perkembangan Tari Seudati Inong seni tari merupakan
bagian dari kebudayaan dan telah menjadi sebuah sistem dalam masyarakat yang
berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Aspek yang pertama
yaitu konsistensi gerak yang tetap dipertahankan oleh Sanggar Seni Atjeh tidak
mengalami perubahan dari tahun ke tahun dikarenakan esensi dari tarian ini adalah
Tari Seudati akan tetapi ditarikan oleh versi perempuan. Meskipun peminat dari Tari
Seudati Inong tidak sebanyak dengan tari yang lainnya akan tetapi Sanggar Seni Atjeh
Meutjehu mengembangkan dan melestarikan Tari Seudati Inong dengan cara
mementaskan tari tersebut di beberapa kegiatan atau undangan.

Di tengah kondisi dan perkembangan zaman yang sangat maju seperti saat ini
dan terdapat beberapa faktor penghambat yang dirasakan oleh pihak Sanggar Seni
Atjeh tidak menyurutkan semangat dan niat untuk tetap mengajarkan sebagai upaya
mereka dalam melestarikan satu dari banyaknya tari-tarian di Aceh.

UCAPAN TERIMA KASIH
Adapun ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah
memberikan support antara lain:
1. Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Jenderal Riset dan

Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.
2. LPPMPMP Institut Seni Budaya Indonesia Aceh.
3. Sanggar Seni Atjeh Meutjehu sebagai mitra kerja sama kegiatan penelitian ini.
4. Seluruh narasumber yang telah memberikan informasi terkait penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
Sumaryono, Endo Suanda. 2006. Tari Tontonan, Buku Pelajaran Kesenian Nusantara.

Lembaga Pendidikan Nusantara.
Takari, M. 2008. Manajemen Seni. Studia Kultura: Sumatera Utara.
Moleong, Lexy J. 2015. Metode Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya:

Bandung.

17

Gunawan, Imam. 2013. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Bumi
Aksara: Jakarta.

Rohidi, Tjetjep Rohendi. 2011. Metode Penelitian Seni. Cipta Prima Nusantara:
Semarang.

18

PROSES PENCIPTAAN DAN BENTUK TARI KREASI “RASA”
KARYA SMAN 1 BANJARBARU DI ERA NEW NORMAL

Gita Kinanthi Purnama Asri
STKIP PGRI Banjarmasin

Email: [email protected]

ABSTRAK
Tari kreasi “Rasa” merupakan tari tunggal persembahan SMAN 1 Banjarbaru yang
digarap di era new normal untuk mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional
(FLS2N) Tingkat Provinsi Jenjang SMA Tahun 2020 secara daring (online). Temanya
adalah “Melalui tari kreasi yang bersumber pada persoalan sehari-hari di masa
pandemi Covid-19, siswa mampu mengembangkan potensi diri untuk mencapai
prestasi unggul.” Rhony Arifin, S.Pd., selaku penata tari mengangkat ide cerita tentang
seorang anak seniman yang menolak melestarikan warisan leluhurnya. Namun, karena
imbauan pemerintah untuk di rumah saja justru dirinya terpanggil dan mengerti nilai
tari tradisi sehingga di akhir cerita ia pun menarikan tari tradisi Kalimantan Selatan,
yaitu tari Baksa Kambang. Tulisan ini berfokus pada deskripsi proses penciptaan dan
bentuk penyajian, faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian ini menggunakan
metode kualitatif bersifat deskriptif yang dilakukan secara daring dengan teknik
observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data meliputi reduksi data,
penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Proses
penciptaan tari dilalui dalam waktu singkat kurang lebih 2 minggu dengan tahapan
eksplorasi, organisasi, dan kesatuan. (2) Bentuk penyajian dilakukan secara rekaman
dan yang dideskripsikan meliputi tema, gerak, penari, iringan musik, tata cahaya, tata
busana, dan properti tari. (3) Faktor pendukung didapatkan dari pihak SMAN 1
Banjarbaru, orang tua siswa (penari), dan sanggar Kamilau Intan. Sedangkan beberapa
faktor penghambat adalah perubahan sistem kegiatan lomba, waktu proses yang
singkat, dan latar belakang penari.

Kata kunci: Proses, Bentuk, Penciptaan, Tari Kreasi, New Normal

19

COMPOSITIONAL PROCESS AND FORMS OF CREATIVE DANCE

"RASA" BY SMAN 1 BANJARBARU IN THE NEW NORMAL ERA

ABSTRACT
The “Rasa” creation dance is a solo dance offered by SMAN 1 Banjarbaru which was
worked on in the new normal era to participate in the 2020 National Student Art
Festival and Competition (FLS2N) for the 2020 High School level online. The theme
is "Through creative dance that originates in everyday problems during the Covid-19
pandemic, students are able to develop their own potential to achieve superior
achievements." Rhony Arifin, S.Pd., as a dance stylist raised the idea of a story about
an artist's son who refuses to preserve his ancestral heritage. However, due to the
government's appeal to stay home, he was actually called and understood the value of
traditional dance so that at the end of the story he danced the traditional South
Kalimantan dance, namely the Baksa Kambang dance. This paper focuses on a
description of the process of creating and presenting dance forms and their supporting
and inhibiting factors. This research used a descriptive qualitative method which was
conducted online by means of observation, interview and documentation techniques.
Data analysis techniques include data reduction, data presentation, and drawing
conclusions. The results of the research are as follows: (1) The process of creating
dance was passed in a short time of approximately 2 weeks with stages of exploration,
organization, and unity. (2) The form of presentation is recorded and described
includes themes, movements, dancers, musical accompaniment, lighting, fashion, and
dance properties. (3) Supporting factors were obtained from SMAN 1 Banjarbaru,
parents (dancers), and the Kamilau Intan studio. While some of the inhibiting factors
were changes in the competition activity system, short processing time, and the
background of the dancers.

Keywords: Process, Form, Creation, Creative Dance, New Normal

PENDAHULUAN

Istilah new normal saat ini sangat mudah ditemui masyarakat dalam berbagai platform

media. New normal dikatakan sebagai cara hidup baru di tengah pandemi virus Corona

yang angka kesembuhannya makin meningkat. New normal adalah langkah percepatan

penanganan Covid-19 dalam bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. (Rosmha,

2020:1). Akibat pandemi Covid-19, masyarakat dan aktivitasnya di berbagai bidang

mau tidak mau mesti mengikuti pola kebaruan di era new normal, tak terkecuali dalam

bidang tari. Tari memiliki peranan besar bagi masyarakat Indonesia sehingga berbagai

upaya telah dilakukan untuk menjaga eksistensi seni tari walaupun dalam kondisi

memprihatinkan seperti saat ini. Tari adalah salah satu bentuk seni yang sangat erat

hubungannya dengan segi-segi kehidupan manusia, kalau disimak hampir setiap

20

peristiwa yang berhubungan dengan kepentingan hidup manusia seperti pada aktivitas
sosial, budaya, ekonomi, banyak melibatkan kehadiran seni tari, baik sebagai
pertunjukan maupun sebagai hiburan (Ratih, 2001:67).

Salah satu wujudnya adalah lomba tari kreasi yang diselenggarakan oleh Pusat
Prestasi Nasional Sekretariat Jenderal Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu
Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tahun 2020. Kegiatan tersebut
dilaksanakan secara daring (online) pada bulan Agustus 2020. Bagong Kussudiardjo
menyebutkan tari adalah keindahan bentuk dari anggota badan manusia yang bergerak,
berirama dan berjiwa yang harmonis. (Wahyudiyanto, 2008:11). Tari berdasarkan pola
garapannya dibedakan menjadi dua, yaitu tari tradisional dan tari kreasi. Tari
tradisional adalah tari yang lahir, tumbuh, berkembang dalam suatu masyarakat yang
kemudian diturunkan atau diwariskan secara terus menerus dari generasi ke generasi.
Sedangkan pengertian tari kreasi adalah jenis tari yang koreografinya masih bertolak
dari tari tradisional atau pengembangan dari pola-pola tari yang sudah ada.
Terbentuknya tari kreasi karena dipengaruhi oleh gaya tari dari daerah/negara lain
maupun hasil kreativitas penciptanya (Jazuli, 1994:74‒75).

Penelitian ini berfokus untuk menelaah proses penciptaan dan bentuk tari kreasi
berjudul “Rasa” karya SMAN 1 Banjarbaru untuk FLS2N 2020 Tingkat Provinsi
Jenjang SMA Tahun 2020. Temanya adalah “Melalui tari kreasi yang bersumber pada
persoalan sehari-hari di masa pandemi Covid-19, siswa mampu mengembangkan
potensi diri untuk mencapai prestasi unggul.” Proses menata tari merupakan suatu alur
atau runtutan kejadian saat membuat tarian, mulai dari awal hingga terbentuk hasil
garapan tari yang utuh. Dalam penciptaan sebuah karya tari menerapkan
pengembangan aspek ruang, waktu dan tenaga sehingga menghasilkan pengalaman
gerak yang maksimal (Aprilina, 2014:1).

Beberapa hal yang terjadi dalam proses kreatif penataan tari ini dianggap perlu
ditelaah agar menjadi bahan kajian evaluasi baik untuk sekolah maupun masyarakat
umum. Adapun hal ini merupakan suatu pengalaman baru serta kali pertama bagi
sekolah dan penata tari dalam menghadapi FLS2N di masa pandemi.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana proses penataan tari
kreasi “Rasa” karya SMAN 1 Banjarbaru”. Penelitian ini bertujuan untuk (1)

21

mendeskripsikan bentuk penyajian (2) menelaah proses penciptaan tari (3)
mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat tari kreasi “Rasa”karya SMAN 1
Banjarbaru.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, adapun hasilnya meliputi: (1)
Proses penciptaan tari dilalui dalam waktu singkat kurang lebih 2 minggu dengan
tahapan eksplorasi, organisasi, dan kesatuan.(2) Bentuk penyajian dilakukan secara
rekaman dan dideskripsikan meliputi tema, gerak, penari, iringan musik, tata cahaya,
tata busana, dan properti tari. Ide cerita disesuaikan dengan tema lomba dengan
merespons persoalan sehari-hari siswa di era new normal dan melibatkan tradisi lokal.
Terdiri dari 5 adegan dengan durasi 04.59, yang ditarikan oleh siswi kelas XI IPS
bernama Diana Puspa Fitria Reformaningrum. Ragam gerak yang digunakan adalah
gerak tradisi Kalimantan Selatan dan teknik modern, yang kemudian dikembangkan
dan disesuaikan dengan kemampuan penari (3) Faktor pendukung didapatkan dari
pihak SMAN 1 Banjarbaru, orang tua siswa (penari), dan sanggar Kamilau Intan.
Sedangkan beberapa faktor penghambat adalah perubahan sistem kegiatan lomba,
waktu proses yang singkat, dan latar belakang penari.

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat secara praktis bagi sekolah dan
sanggar-sanggar tari yang ada di sekitarnya. Misalnya bagi sekolah, hasil penelitian ini
diharapkan dapat menjadi bekal dan masukan yang konstruktif untuk meningkatkan
minat dan bakat bagi siswa berkesenian. Sedangkan untuk sanggar-sanggar yang ada
di sekitarnya diharapkan dapat menjalin kemitraan untuk meningkatkan kualitas dan
mengasah kreativitasnya dalam berkarya tari.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif bersifat deskriptif dengan pendekatan
naturalistik. Pendekatan tersebut untuk mengetahui fenomena-fenomena yang
berkaitan dengan kegiatan proses penciptaan tari kreasi baru, bentuk penyajian tari,
dan faktor penghambat dan pendukung. Dengan demikian, setiap fenomena diamati
secara cermat sebagai data untuk menentukan suatu kesimpulan. Proses penelitian
dilakukan secara daring dengan memanfaatkan aplikasi WhatsApp. Kegiatan
dilakukan pada bulan September 2020 minggu kedua dan ketiga. Subjek penelitian

22

yang terlibat adalah Kepala Sekolah, guru Pembina/pendamping lomba dari SMAN 1
Banjarbaru, tim koreografi dari sanggar Kamilau Intan, dan penata tari, dan siswa yang
terlibat dalam proses karya tari kreasi tunggal “Rasa”.

Pengumpulan data diperoleh dengan cara wawancara, observasi, dan
dokumentasi. Teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data
meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Karya tari didapatkan
dari unduhan file yang ada di YouTube, berikut linknya https://youtu.be/
HIZSLrUp9gk (TARI KREASI_Diana Puspa Fitria Reformaningroem_SMAN 1
Banjarbaru_Kota Banjarbaru_Kalimatan Selatan). Selain itu, dokumentasi didapat
juga dari foto-foto pribadi penata tari dan guru SMAN 1 Banjarbaru.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan buku pedoman FLS2N Tingkat Provinsi Jenjang SMA Tahun 2020, Tari
kreasi pada FLS2N merupakan tarian hasil kreativitas siswa yang dikembangkan dari
persoalan-persoalan yang dihadapi siswa saat di rumah saja pada saat ini, yaitu
pandemi Covid-19. Memberdayakan perangkat yang ada di lingkungan tempat
tinggal siswa baik indoor ataupun outdoor. Kegiatan diketahui/diizinkan oleh orang
tua siswa. Tari ini dibawakan oleh satu orang penari, bisa dilakukan oleh putra atau
putri. Karya tari adalah video hasil rekaman yang dilakukan oleh peserta lomba
dengan durasi minimal 3 menit dan maksimal 5 menit. Musik pengiring tari
menggunakan MP3 dengan kualitas yang baik. Hal yang dinilai dari karya tari adalah
gagasan 25%,garapan 35%, dan penampilan 40%. Karya tari kreasi “Rasa” telah
berupaya digarap sesuai dengan pedoman yang diterbitkan.

Bentuk Penyajian Tari Kreasi Tunggal “Rasa”
Karya tari kreasi tunggal ini berjudul “RASA” ditarikan oleh siswi kelas XI IPS
bernama Diana Puspa Fitria Reformaningrum. Penata tari yaitu Rhony Arifin, S.Pd.,
menegaskan bahwa ide judul dan ceritanya terinspirasi dari kondisi memprihatinkan
saat ini yang dialami para siswa saat masa pandemi. Penata tari juga melibatkan unsur
warisan seni tari tradisi (klasik) yaitu tari Baksa Kambang dalam karya ini. Hal ini

23

dipilih untuk memenuhi tematik lomba tari kreasi FLS2N 2020. Tari ini berdurasi

04.59 dengan sinopsis sebagai berikut:

Realitas pada masyarakat yang menganggap diri mereka sebagai
kesatuan hidup begitu dekat satu sama lain sehingga hampir tidak
dapat menghindar dari fungsi kesatuan. Rasa merupakan kesadaran
manusia yang menganggap kramadangsa (identitas diri) sebagai
dirinya. Indonesia tanah yang berbudaya. Kewajiban kita
mewarisinya. Warisan yang harus kita jaga. Kalaulah hilang habislah
kita. Dunia sedang berduka Virus corona ada di mana-mana. Membuat
kita tak berdaya. Namun tidak menjadi penghalang tuk berprestasi dan
berkarya. Tari ini menceritakan tentang kehidupan seorang anak yang
mempunyai darah seniman namun ia tidak mau mengikuti jejak orang
tuanya. Namun dengan adanya Pandemi yang mengharuskan berada
di rumah saja, maka terketuklah hati tuk belajar dan mengingat
kembali ragam-ragam gerak dari tari tradisional Kalimantan selatan,
dengan keteguhan hati dan niat yang tulus maka semua yang
dikerjakan berbuah manis dan harapan orang tuanya tuk melestarikan
seni dan budaya daerah menjadi kenyataan.

Sumber gerak dalam tari ini mengambil gerak dasar tradisi tari Kalimantan
Selatan yang terdapat dalam tari tradisi Baksa Kambang. Selain itu, beberapa gerak
dan teknik modern juga digunakan sebagai wujud pengembangan (kreasi) yang
disesuaikan dengan kemampuan penari. Karya tari ini memiliki 5 adegan, berikut tabel
adegan karya tari “Rasa”:

Tabel 1 Adegan Tari

No Waktu Adegan Deskripsi
1 00.00 - 01.28
Adegan 1 Gambaran penolakan untuk meneruskan
2 01.29-01.57
perjuangan dalam pelestarian seni dan
3 01.58-02.31
4 02.32-04.05 budaya

Adegan 2 Penggambaran penari melihat suasana yang

berbeda seperti biasanya dan mendapatkan

kabar tentang virus corona

Adegan 3 Penari berimajinasi dengan keganasan virus

corona yang sangat mematikan

Adegan 4 Penari mulai membuka diri mencari kegiatan

yang positif tuk tetap di rumah, merespons

24

5 04.06-04.59 Adegan 5 benda-benda peninggalan tuk tari tradisi dan
kemudian berlatih sambil mengingatkan
kembali ragam gerak tari tradisi
Penari sudah bisa menari dan berprestasi
untuk membawa seni budaya tradisi berada di
puncak

Sedangkan untuk musik iringan tari, menurut Kharisman selaku penata musik
karya ini menggunakan musik campuran tradisi modern. Irama yg digunakan musik
tradisi gamelan Banjar dengan paduan sedikit musik orkestra Eropa yang
diharmonisasi ke musik tradisi Banjar. Menurut Hadi (2007: 79‒80) tata rias dan
busana sangat penting dalam pertunjukan tari, tidak hanya sekadar perwujudan
pertunjukan menjadi glamour, lengkap, tetapi rias dan busana merupakan kelengkapan
pertunjukan yang mendukung sebuah sajian tari menjadi estetis. Tata rias
menggunakan tata rias natural yang menggambarkan anak remaja. Sedangkan untuk
tata busana terdapat dua macam kostum. Pertama, pakaian rumahan dengan warna
cokelat muda, dan berikutnya adalah pakaian tari tradisi Baksa Kambang. Perubahan
kostum menjadi hal “kejutan” di bagian akhir adegan sebagai hasil kreativitas penata
tari yang berhasil diwujudkan oleh penari.

Tata cahaya yang digunakan dominan berwarna kuning dan merah, berfungsi
sebagai penggambaran suasana dalam cerita. Properti tari yang digunakan cukup unik
dan multifungsi. Digunakan oleh penari untuk membantu menggambarkan tiap
adegannya. Fungsi dan simbol properti diadaptasi dari sebuah trap yang
menggambarkan tempat tidur, pintu rumah, dan simbol prestasi. Ada juga gantungan
baju yang panjang untuk tempat menggantung selendang tari. Plastik, lentera, mahkota
dan bogam tari Baksa Kambang juga menjadi bagian dari properti tari di akhir adegan.
Berikut foto properti dalam karya tari “Rasa”:

25

Gambar 1. Properti tari trap sebagai tempat tidur dan gantungan selendang
(Dokumentasi: Dodi, 2020)

Gambar 2. Properti tari trap sebagai pintu
(Dokumentasi: Dodi, 2020)

Gambar 3. Properti tari trap sebagai Simbol Prestasi dan Bogam Baksa Kambang
(Dokumentasi: Rhony, 2020)
26

Gambar 4. Properti tari Plastik sebagai simbol terkurung karena Covid-19
(Dokumentasi: Dodi, 2020)

Gambar 5. Properti lentera, mahkota Baksa Kambang
(Dokumentasi: Rhony, 2020)

Proses Penciptaan Tari Kreasi Tunggal “Rasa”
Karya tari ini melibatkan beberapa orang untuk mendukung keutuhannya, dengan
susunan tim sebagai berikut:

27

Tabel 1 Struktur Tim Karya Tari “Rasa”

No Nama Jabatan

1. Finna Rahmiati, M.Pd. Penanggung jawab

(Kepala Sekolah SMA Negeri 1

Banjarbaru)

2. Dodi Mazwar, S.Pd. Pembina

3. Rhony Arifin, S.Pd. Penata Tari

4. Kharisman Aulia, S.Pd. Penata musik

5. Achmad Hasan, S.Pd. Penata musik

6. Anggi Pradana Irfansyah, S.Pd. Penata musik

7. Diana Puspa Fitria Penari

Reformaningrum

8. Dimasharyo Dwisaputro Tim sinematografi SMAN 1

Banjarbaru

Masing-masing koreografer memiliki caranya tersendiri untuk menciptakan
sebuah karya tari. Meskipun metode-metode yang dipergunakan hampir sebagian
besar memiliki kesamaan (Diaristha, 2018:57). Proses kreatif adalah cara untuk
memudahkan perwujudan karya yang melalui beberapa tahapan (Dibia, 2003:77).

Proses menggarap tari menjadi bagian penting untuk meninjau hasil karya tari.
Pada karya tari kreasi tunggal “Rasa”, menurut penata tari proses kreatifnya melalui
tiga tahapan yaitu eksplorasi, menata dan menjadikan satu. Di dalam buku Pengantar
Koreografi proses tersebut dituliskan sebagai proses eksplorasi, organisasi, dan
kesatuan.

Eksplorasi
Eksplorasi menjadi sebuah proses awal yang dilalui dalam mencipta tari. Eksplorasi
bisa terkait ide, gerak serta pencarian elemen pendukung tari lainnya. Eksplorasi
adalah bagian dari proses meng-compose atau menyusun tari. Eksplorasi merupakan
proses untuk mencari bentuk gerak dengan menjelajahi semua organ tubuh serta
keruangan (space). Hal yang penting bagi koreografer adalah adanya kesadaran

28

terhadap kemampuan pribadi. Dalam hal ini menyangkut kekuatan dan kelemahan diri
(baik koreografer maupun penari) (Widyastutiningrum & Wahyudiarto, 2014:60).

Kegiatan eksplorasi karya tari “Rasa” meliputi pencarian dan pemilihan ide
cerita, membuat adegan, pemilihan penari, pencarian gerak, tata busana, tata cahaya,
properti dan eksplorasi musik. Kegiatan ini berbentuk diskusi dan praktik, dilakukan
bersama tim di SMAN 1 Banjarbaru dan di sanggar Kamilau Intan. Proses ini
berlangsung kurang lebih 1 minggu yang juga didampingi oleh Pembina atau
pendamping ekstrakurikuler SMAN 1 Banjarbaru.

Gambar 6. Diskusi bersama tim saat eksplorasi
(Dokumentasi: Dodi, 2020)

Ide cerita diambil dari persoalan keseharian remaja masa kini dan kondisi tradisi
di Kalimantan Selatan. Hal ini sebenarnya sebuah kritikan terhadap eksistensi dan
kepedulian remaja zaman now terhadap tari tradisinya. Adegan dibuat sesederhana
mungkin agar mudah dipahami, dan diwujudkan dalam karya. Melibatkan aktivitas
dan perasaan sehari-hari, misalnya tidur, membuka pintu, melihat barang-barang, rasa
senang, sedih, dan kebingungan. Pemilihan penari dalam karya tari ini mengalami
kendala, karena siswa yang memiliki bakat menari tidak diizinkan mengikuti kegiatan
ini karena alasan corona. Sehingga penari yang dipilih tidak memiliki latar belakang
menari atau bakat menari. Namun, diizinkan oleh orang tuanya dan siswanya berminat.

29

Gerak tradisi menjadi bagian yang diolah dan dikembangkan dengan teknik
gerak modern. Gerak yang dijadikan pijakan adalah bintang alih, sasumping, lontang,
tandang, kijik, perbangsa, dan tapung tali. Sedangkan teknik modern yang tampak
adalah berguling, loncat, jatuh dan bangun. Eksplorasi untuk tata rias, tata busana dan
properti dibuat seiring proses yang telah mencapai 30%, karena hal tersebut diperlukan
untuk berlatih. Musik pengiring tari digarap setelah gerak mencapai 50%.

Gambar 7. Eksplorasi Gerak
(Dokumentasi: Dodi, 2020)

Gambar 8. Eksplorasi Properti
(Dokumentasi: Dodi, 2020)

30

Gambar 9 dan 10 Eksplorasi kostum
(Dokumentasi: Dodi, 2020)

Organisasi
Organisasi merupakan bagian dari proses penciptaan tari. Di dalam mengorganisasi
butir-butir gerak, yang harus diperhatikan adalah berorientasi pada tema garapan yang
telah dipilih. Dalam penggabungan gerak perlu disadari adanya alur dramatik atau
adanya klimaks. Ada satu awal, sesuatu perkembangan ke titik puncak, penurunan dan
suatu pengakhiran sebagai keputusan (Widyastutiningrum & Wahyudiarto, 2014:60).

Proses pengorganisasian dimulai setelah proses eksplorasi dilewati. Pada karya
ini, proses organisasi ini tertuju pada penyesuaian dan penggabungan antara hasil
eksplorasi bentuk dengan isi cerita serta unsur tari lainnya. Gerak yang telah dilatih
kepada penari disesuaikan dengan adegan-adegan yang ada.

Prosesnya mengambil waktu kurang lebih 4 hari. Proses yang singkat ini
mengambil waktu siang dan malam, tetapi tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Dalam proses ini seluruh adegan telah terangkai dan latihan dilakukan dengan
pemusik, untuk memulai membentuk kesesuaian dengan gerak. Percobaan pergantian
busana dan perpindahan properti dilakukan agar mencapai target penata tari. Tim
sinematografi juga ikut hadir dalam latihan untuk persiapan pengambilan video karya
tari. Pada tahap ini dapat dilakukan evaluasi dini sebelum dilakukan proses penyatuan.
Evaluasi yang tercatat adalah adanya perbaikan ekspresi dan teknik penari serta
penguasaan ruang.

31

Gambar 11. Latihan Musik
(Dokumentasi: Dodi, 2020)

Gambar 12. Latihan menggabungkan dengan properti
(Dokumentasi: Dodi, 2020)

Kesatuan
Kesatuan merupakan proses koreografi yang penting. Kesatuan dimaksud merupakan
proses di mana seorang koreografer menyatukan bagian-bagian yang merupakan unsur
dari tari menjadi satu keutuhan, seperti aspek gerak, ruang, tempo atau waktu,
dinamika, musik, yang kesemuanya menjadi satu keutuhan yang siap dihayati
(Widyastutiningrum & Wahyudiarto,2014:61).

Pada tahap ini hasil eksplorasi dan pengorganisasian gerak, adegan, dan tata
rias, tata busana, dan properti, dan iringan musik telah disatukan. Bisa dikatakan tahap
ini adalah tahap finishing karya tari. Kemudian menyatukan tata cahaya dan teknis
perekaman video dengan hasil pengorganisasian. Proses perekaman terjadi beberapa

32

kali, guna mendapat hasil yang baik. Video tidak boleh berupa potongan sehingga
memang tampak seperti hasil dokumentasi pementasan karya tari.

Pada tahap akhir ini pun, penata tari masih mencoba memperhalus ekspresi,
teknik, dan penguasaan ruang penari dalam membawakan gerakan di setiap adegan.
Penari dilatih untuk mencoba setiap adegan dengan menggunakan kostum dan tata
cahaya yang telah disesuaikan. Percobaan properti yang mengasah ketepatan waktu
dan teknik gerak juga semakin dimatangkan dalam tahap ini.

Faktor Pendukung dan Penghambat
Di setiap karya tari pasti ada faktor pendukung dan penghambat yang menjadikan
karya tersebut menjadi utuh dan bernilai. Karya tari kreasi tunggal ini mendapatkan
dukungan penuh dari SMAN 1 Banjarbaru baik dari Kepala sekolah dan guru serta
siswanya. Keterbukaan sekolah untuk diajak berdiskusi dan memahami kebutuhan
konsep karya dianggap mempermudah perwujudan karya ini. Pembina sekaligus
pendamping dalam karya tari ini merupakan alumni STKIP PGRI Banjarmasin yang
berlatar program studi Pendidikan Seni Tari, sehingga ia cukup memahami dan
berkompetensi dalam proses serta ikut turun langsung dalam garapan ini.

Dukungan orang tua siswa juga menjadi tombak penting, dibuktikan dengan
diberikannya semangat dan izin untuk melakukan proses latihan setiap hari di sanggar.
Penata tari selaku pimpinan dari sanggar Kamilau Intan memberikan kontribusi yang
vital, antara lain ruang latihan yang dilengkapi cermin, alat musik, sound system,
hingga pembuatan kostum dan properti tari. Selain itu, tim yang solid juga menjadi
bagian penting yang mendukung karya ini selesai dengan baik.

Faktor penghambat yang ditemukan dalam proses penciptaan tari ini antara lain;
adanya kesibukan pendamping dan tim koreografi di waktu yang bersamaan saat
penggarapan, sehingga dirasa kurang maksimal untuk menggarap karya tahun ini,
minimnya waktu persiapan pada penggarapan, yaitu hanya 2 minggu dan tidak rutin
setiap hari latihan karena kesibukan masing-masing. Kendala saat pemilihan penari
juga dialami, penari yang terpilih adalah siswa yang mendapatkan izin dari orang tua
untuk mengikuti FLS2N tapi tidak memiliki latar belakang bakat menari tetapi
berminat untuk ikut serta. Sedangkan penari yang berbakat, tidak diizinkan oleh orang
tuanya karena alasan kondisi Covid-19.

33

Singkatnya waktu dalam proses membuat tidak maksimal terutama
pembentukan karakter penari terhadap isi tarian dan pembentukan tubuh untuk
mencapai teknik tarian. Hal tersebut juga mempengaruhi kreativitas tim koreografer,
semua serba dipercepat untuk mencapai target ketuntasan karya, waktu latihan dan
persiapan baik musik, kostum, dan properti tari cukup diperpadat sehingga menyita
banyak tenaga. Covid-19 memberikan efek dan kendala yang berarti dalam
penggarapan karya tari ini, yang pertama adalah berubahnya sistem pelaksanaan lomba
tari sehingga perlu memahami konsep tema dan ketentuan lomba yang disesuaikan di
masa pandemi ini. Kemudian, perubahan sistem penilaian dan penyajian lomba dari
tatap muka menjadi daring, dan perubahan jenis tari yang biasanya tari berpasangan
menjadi tari tunggal. Secara teknis durasi tari yang ditentukan dirasa terlalu singkat
yaitu maksimal 5 menit, hal ini memengaruhi isi cerita yang berisiko tidak
tersampaikan dengan baik dan tuntas.

PENUTUP
Tari kreasi tunggal “Rasa” menjadi perwakilan dari kota Banjarbaru untuk FLS2N
Tingkat Provinsi Jenjang SMA Tahun 2020 secara daring (online). Tari ini mampu
menjadi salah satu interpretasi kehidupan siswa di masa pandemi dan memunculkan
nilai eksistensi tari tradisi Kalimantan Selatan saat ini. Berbagai perubahan pada sistem
lomba menjadi tantangan dan pembelajaran dalam proses penggarapan. Hal ini tentu
saja ikut mempengaruhi proses dan bentuk yang dihasilkan. Walaupun begitu, pada
kenyataannya tidak mengurangi rangkaian proses penciptaan yang dilalui dengan 3
tahapan mencipta tari yaitu eksplorasi, organisasi, dan kesatuan. Namun, karya ini
tetap memerlukan perbaikan dari segi persiapan agar harapan yang diinginkan
terwujud. Dalam kondisi ini persoalan hasil prestasi bagi SMAN 1 Banjarbaru untuk
FLS2N belum menjadi prioritas tetapi sebagai jembatan untuk berkarya tari dan bekal
untuk meraih prestasi di tahun mendatang.

Ucapan Terima kasih
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh narasumber,
yaitu:

34

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Banjarbaru (Finna Rahmiati, M.Pd.) beserta pembina
ekstrakurikuler tari (Dodi Mazwar, S.Pd.), Sanggar Kamilau Intan dan Rhony Arifin,
S.Pd. sebagai penata tari sekaligus pimpinan sanggar tersebut. Orang tua siswa Diana
Puspa Fitria Reformaningroem (Penari), Penata musik ( Kharisman Aulia, S.Pd.,
Achmad Hasan, S.Pd., dan Anggi Pradana Irfansyah, S.Pd.) dan untuk tim
sinematografi SMAN 1 Banjarbaru (Dimasharyo Dwisaputro).

DAFTAR PUSTAKA
Aprilina, Finta Ayu Dwi. (2014). Rekonstruksi Tari Kuntulan Sebagai Salah Satu

Identitas Kesenian Kabupaten Tegal. Jurnal Seni Tari 3.Universitas Negeri
Semarang.
Dibia. I Wayan. (2003). Bergerak Menurut Kata Hati: Metode Baru Dalam
Menciptakan Tari (terjemahan dari Moving From Within: A New Method for
Dance Making oleh Alma M.Hawkins). Jakarta: Ford Foundation dan
Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
Diaristha, Fenny Putu. Sutiartha, I Wayan, Widnyana Kompiang Gede. (2018). Tari
Ipit: Dari Penyakit Kesajian Artistik. KALANGWAN Jurnal Seni Pertunjukan
Volume 4, Nomor 1.Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia
Denpasar.
Hadi, Sumandiyo. (2011). Koreografi (Bentuk-Teknik-Isi). Yogyakarta: Multi
Grafindo.
Hardi. (2017). Tari Kurenah Berbasis Perilaku Anak. Garai Jo Garik Vol 3.No.2 Jurnal
Pengkajian dan Penciptaan Seni Institut Seni Indonesia Padangpanjang.
Jazuli, M. (1994). Telaah Teoretis Seni Tari. IKIP Semarang Press.
Restiana, Ida. (2019). Proses Penciptaan Tari Patholan di Kabupaten Rembang.
Jurnal Seni Tari 8. Universitas Negeri Semarang.
Rupaniawati, Desak Ayu Desy. Wahyuni, Ni Komang Sri. Sueka, I Gusti Ngurah.
(2018). Bentuk dan Proses Penciptaan Tari Padang Kasna Sebagai Tolak Ukur
Kemampuan Penggarap. KALANGWAN Jurnal Seni Pertunjukan Volume 4,
Nomor 1.Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar.
Widiyani, Rosmha. (2020, 30 Mei).Tentang New Normal di Indonesia: Arti, Fakta dan
Kesiapan Daerah. Detik News.

35

Widyastutiningrum, Sri Rochana dan Wahyudiarto, Dwi. (2014). Pengantar
Koreografi. ISI Press Surakarta.

36

KREATIVITAS DALAM MENJAGA ASET
KEARIFAN LOKAL DAERAH DARI EKSISTENSINYA

(Tari Drop Daruet)

Khairul Anwar
Institut Seni Budaya Indonesia Aceh

Email: [email protected]

ABSTRAK
Kreativitas ialah potensi yang dimiliki oleh setiap manusia dan bukan yang diterima
dari luar individu. Berkemampuan menuangkan ide dalam karya cipta yang nyata patut
disyukuri. Proses perwujudan kreativitas dapat dilakukan seseorang melalui
menempatkan kelebihan berpikir dan berimajinasi. Perwujudan keseniannya mutlak
syarat yang harus dikembangkan. Penelitian ini adalah, untuk mengetahui kreativitas
dalam menjaga aset kearifan lokal daerah dari eksistensi Drop Daruet, untuk
mengetahuinya penelitian ini dilakukan di sanggar Cut Nyak Dhien Meligoe Gubernur
Aceh. Sampai saat ini masih mempertahankan dan melestarikan Drop Daruet sebagai
warisan peristiwa budaya daerah dalam bentuk tari. Penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif, sumber data utama diperoleh dari wawancara dengan informan,
sedangkan sumber data lainnya diperoleh dari observasi dan dokumentasi. Teknik
pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara mendalam dengan
informan yang terdiri dari pengurus, pelatih, penari, pemusik dan masyarakat. Teknik
analisis menggunakan model analisis data interaktif yakni pengumpulan data, reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Tari Drop Daruet dalam penelitian
ini diartikan sebagai bentuk seni yang berakar dan bersumber serta dirasakan sebagai
milik sendiri oleh sanggar Cut Nyak Dhien Meuligoe Gubernur Aceh atau
lingkungannya. Upaya eksistensinya tari tersebut hanya didasarkan pada cita rasa
masyarakat pendukungnya yang dilakukan dari waktu ke waktu dan diwariskan secara
regenerasi.

Kata Kunci: Kreativitas, Tari Drop Daruet, Eksistensi

37

ABSTRACT

Creativity is the potential possessed by every human being and not that which is
received from outside the individual. Being able to put ideas into real creative works
should be grateful. The process of manifesting creativity can be carried out by someone
by placing the excess of thinking and imagination. The manifestation of its art
absolutely a condition that must be developed. This research is, to determine creativity
in maintaining local wisdom assets from the existence of Drop Daruet, to find out this
research was conducted at Cut Nyak Dhien Meligoe studio, Governor of Aceh. Until
now, Drop Daruet still maintains and preserves as a legacy of regional cultural events
in the form of dance. This research is a qualitative research, the main data source is
obtained from interviews with informants, while other data sources are obtained from
observation and documentation. Data collection techniques used observation and in-
depth interviews with informants consisting of administrators, coaches, dancers,
musicians and the community. The analysis technique uses an interactive data analysis
model, namely data collection, data reduction, data presentation, and drawing
conclusions. Drop Daruet dance in this study is defined as an art form that is rooted
and sourced and felt as its own by the Aceh Governor Cut Nyak Dhien Meuligoe studio
or its environment. Efforts to exist of the dance are only based on the taste of the people
who support it which are carried out from time to time and are passed on in a
regenerative manner.

Keywords: Creativity, Daruet Drop Dance, Existence

PENDAHULUAN
Berkemampuan menuangkan ide pada karya cipta yang nyata patut disyukuri. Proses
perwujudan kreativitas dan imajinasi hasil seni budaya sangat penting. Kualitas
perwujudannya dapat dilakukan seseorang melalui menempatkan kelebihan berpikir
dan berimajinasi. Seseorang dalam melakukan perwujudan keseniannya mutlak syarat
yang harus dikembangkan. Konsekuensi logis yang harus ada adalah menjadi
pencerahan hasil budaya manusia untuk difokuskan dalam bentuk kesenian. Guilford,
(1976) mengemukakan kreativitas adalah cara-cara berpikir yang divergen, berpikir
yang produktif, berdaya cipta berpikir heuristik dan berpikir lateral. Kesenian yang
sudah mapan telah mempola membentuk identitas. Dalam perkembangannya
disosialisasikan menjadi hasil budaya nenek moyang atau leluhur yang siap
diwariskan. Pada masa yang akan datang hasil seni diharapkan bisa menjadi panutan,
cahaya hidup, dan sumber inspirasi penciptaan. Sedangkan Woolfook (1984),
memberikan batasan bahwa kreativitas adalah kemampuan individu untuk
menghasilkan sesuatu (hasil) yang baru atau asli atau pemecahan suatu masalah.

38

Tari mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam genesis kesenian tradisional
Aceh, dalam konteks tradisional kesenian tersebut mampu memberikan kontribusi
yang sangat kuat beragam dari segi capaian estetik. Dapat dikatakan, antara satu jenis
dengan jenis lain mempunyai kekhasan yang membentuk suatu pemaknaan masing-
masing, dengan demikian orisinalitas tari-tari tradisional tersebut sangat terjaga, itu
tentunya hasil dari kesempurnaan eksplorasi masa lampau, meski anonim yang sangat
mengagumkan. Berbeda pula dari pendapat Rhodes yang dikutip oleh Munandar
(1987), yang mengemukakan kreativitas sebagai kemampuan dalam 4P, yaitu person,
process, press, dan product. Menurut Rhodes, kreativitas harus ditinjau dari segi
pribadi (person) yang kreatif, proses yang kreatif, pendorong kreatif dan hasil
kreativitas.

Tari tradisi dalam perkembangan perlu diperhatikan agar di masa akan datang
tetap dapat diwariskan pada generasi selanjutnya. Era modernisasi 4.0 dewasa ini yang
menjadi konsumsi sehari-hari anak muda. Modernisasi dengan tuntunan pesatnya
perkembangan teknologi dan informasi yang mengakibatkan tari tradisional terkesan
kuno. Pengaruh budaya kekinian dapat mengubah pola pikir masyarakat terhadap
perkembangan budaya daerah sendiri. Daldjoeni (1977), memberi pengertian tentang
kreativitas tidak hanya kemampuan untuk bersikap kritis pada diri sendiri, tetapi juga
kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dalam hal ini hubungan antara
dirinya dengan lingkungan, baik dalam hal materiil, sosial maupun psikis.

Melihat dari dampak tersebut, sudah sepatutnya diberikan ruang kepada mereka
yang masih peduli akan kelestarian tradisi agar tidak tergerus oleh perkembangan
zaman, karena tari tradisional terus menjadi sumur inspirasi bagi eksplorasi bentuk dan
isi para koreografer yang simpang zaman. Sedangkan Selo Sumarjan (1983),
mengemukakan bahwa kreativitas adalah kemampuan yang efektif dalam menciptakan
sesuatu yang baru, yang berbeda dalam bentuk, susunan, gaya, tanpa atau dengan
mengubah fungsi pokok dari sesuatu yang dibuat itu. Maka, dari sumur tradisi kita
kemudian mengenal istilah kontemporer, post tradisional dan kreasi baru, bagaimana
berlaku untuk semua generasi seni lainnya.

39

TEORI DAN METODOLOGI
Penelitian ini dibagi dalam 3 (tiga) tahapan; 1) pengumpulan data, 2) analisis data dan
3) penjabaran hasil penelitian. Pengumpulan data dilakukan secara langsung di
sanggar Cut Nyak Dhien Meuligoe Gubernur Aceh di mana tempat keberadaan Tari
Drop Daruet berada, yang dihasilkan dari peristiwa budaya Drop Daruet sebagai
kearifan lokal. Menurut Liliweri (2011:4), kebudayaan dapat diartikan sebagai
keseluruhan simbol, pemaknaan, penggambaran (image) struktur aturan, kebiasaan,
nilai, pemrosesan informasi, dan pengalihan pola-pola konvensi pikiran, perkataan dan
perbuatan/tindakan yang dibagikan di antara para anggota suatu sistem sosial dan
kelompok sosial dalam suatu masyarakat.

Data diperoleh melalui studi lapangan dengan melibatkan pengurus, pelatih,
penari, pemusik dan masyarakat yang mengetahui jelas tentang tari yang diteliti ini.
Dalam hal ini, digunakan teknik wawancara untuk memperoleh keterangan tentang
pelaku atau penari yang masih aktif menampilkan tarian tersebut sehingga penelitian
mendapatkan data tentang kreativitas dalam menjaga kearifan lokal dari peristiwa
budaya yang pernah ada. Peristiwa budaya itu hingga kini masih dapat disaksikan
dalam bentuk Tari Drop Daruet dan dokumentasi sebagai bentuk penyajiannya.
Dengan cara tersebut penelitian ingin mengetahui inti yang menjadi jiwa tarian itu
serta dapat dipahami simbol dan maknanya.

Teknik wawancara yang paling tepat dilakukan dengan pihak-pihak yang
memiliki relevansi atau memiliki pengetahuan tentang Tari Drop Daruet seperti
pengurus, pelatih, penari, pemusik dan masyarakat lainnya. Kemudian data tersebut
di-cross check langsung pada pelaku tari dengan teknik observasi. Observasi dapat
dilakukan bersamaan selama interview dilaksanakan untuk meminimalisir kesalahan
interpretasi terhadap objek yang diamati.

Dilihat dari teknik pengolahan data, penelitian ini termasuk penelitian kualitatif.
Oleh karena itu, data yang diperoleh di lapangan merupakan data yang sangat penting.
Adapun proses analisis data dilakukan dengan pendekatan fenomenologi, yaitu
kejadian sebuah peristiwa yang mengesampingkan pemahaman serta pengalaman atau
prasangka penulis sebelumnya demi mendapatkan informasi data dari partisipan secara
gamblang. Selanjutnya diinterpretasikan kepada masyarakat luas. Untuk memudahkan

40

pembaca memahami hasil penelitian ini, dipaparkan dengan metode deskriptif analitik.
Hasil interpretasi dapat dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami.

HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Kreativitas
Kreativitas kemampuan yang berwujud kreativitas sebagai kemampuan untuk
memproduksi komposisi dan juga gagasan-gagasan baru yang bisa berwujud
kreativitas imajinatif atau sintesis yang mungkin melibatkan pembentukan pola-pola
baru dan juga kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan dengan yang
telah ada pada situasi sekarang.

Berdasarkan hasil wawancara bersama pengurus, pelatih, penari dan pemusik
Sanggar Cut Nyak Dhien Meuligoe Gubernur Aceh, upaya yang dilakukan dalam
mempertahankan Tari Drop Daruet yaitu dengan mengikuti selera masyarakat
modernnya. Mereka menganggap dengan upaya tersebut akan tetap menjaga nilai-nilai
budaya yang pernah ada di masyarakat Pidie. Sejalan dengan pendapat Sukman
(2019:308) dalam penelitiannya terhadap Tari Likok Pulo di Pulau Nasi, Aceh Besar
yang mengatakan bahwa “The traditional dance is not only learned or known by the
supporting dance community, but it can be better known by the public. Tradisi Drop
Daruet usai panen padi saat ini tidak lagi untuk dapat disaksikan. Dengan
mempertahankan kearifan lokal kala itu, peristiwa budaya tersebut kini hanya dapat
disaksikan lewat pertunjukan Tari Drop Daruet. Berdasarkan alasan tersebutlah
mereka tetap mempertahankan Tari Drop Daruet di komunitasnya agar tidak tergerus
oleh perkembangan zaman.

Mengingat peran generasi muda sangat besar dalam melestarikan kesenian
tradisional, generasi muda dapat menentukan perkembangan kesenian melalui
kreativitasnya. Dari generasi inilah nantinya semua bentuk kesenian tradisi dapat
dilestarikan atau diwariskan kembali kepada generasi selanjutnya. Sehingga eksistensi
Tari Drop Daruet tetap dapat dipertahankan walau hanya di dalam komunitasnya.

Tari Drop Daruet dalam penelitian ini diartikan sebagai bentuk seni yang
berakar dan bersumber serta dirasakan sebagai milik sendiri oleh sanggar Cut Nyak
Dhien Meuligoe Gubernur Aceh yang pengelolaannya didasarkan pada cita rasa yang

41

pernah mereka dapatkan dari sebelumnya, baik itu gerak, musik dan properti dalam
pertunjukan Tari Drop Daruet yang dilakukan dari waktu ke waktu dan diwariskan
secara regenerasi.

2. Sejarah Tari Drop Daruet
Drop Daruet berasal dari bahasa Aceh, terdiri dari dua kosa kata, yaitu Drop dan
Daruet. Drop berarti menangkap sedangkan Daruet berarti belalang, dengan demikian
Drop Daruet artinya menangkap belalang. Menurut Sofyati (2004: 33) “Tari Drop
Daruet diangkat dari kebiasaan rakyat Pidie menangkap belalang yang biasanya
dilakukan pada malam hari. Dahulu, area persawahan di daerah Pidie setiap habis
panen selalu didatangi kawanan belalang yang berwarna kekuning-kuningan, belalang
ini lah yang dijadikan aneka masakan oleh masyarakatnya. Kegiatan Drop Daruet
dilakukan pada malam hari oleh kaum muda mudi dengan cara beramai-ramai setelah
habis Isya. Situasi seperti ini memberikan peluang yang sangat baik untuk para muda-
mudi dalam menjalin komunikasi untuk mendapatkan calon pasangannya. Jadi, selain
mendapat belalang, mereka mendapatkan pula pasangan hidup.

Selain itu kebiasaan keluarga di suatu desa saling berkirim masakan yang menu
utamanya adalah belalang kepada keluarga yang ada di desa lain. Tradisi masyarakat
daerah Pidie inilah yang kemudian dijadikan sebagai sumber dasar penciptaan ke
dalam bentuk seni tari oleh Ikhsan Ibrahim. Ide tersebut bagi koreografer adalah
bentuk pelestarian dalam mempertahankan kearifan lokal. Tari yang diberi judul Drop
Daruet olehnya (koreografer) diciptakan pada tahun 1982. Koreografer adalah salah
seorang penata tari yang bernaung di sanggar Cut Nyak Dhien Meuligoe Gubernur
Aceh.

3. Bentuk Penyajian Tari Drop Daruet
Tari Drop Daruet sebagai hasil karya seni merupakan sistem komunikasi dari “bentuk”
dan “isi”. Bentuk yang berupa realitas ”gerak, musik, busana, property, dan peralatan”
oleh Strauss ini dinamakan ”struktur lahir”/surface structure. Oleh karena itu tari
sering terkait dengan aktivitas sosial budaya dan religi dari masyarakat pendukungnya.
Di balik bentuk tari terdapat sistem nilai budaya yaitu sejumlah konsep mengenai apa
yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar anggota masyarakat tentang sesuatu

42


Click to View FlipBook Version