yang dianggap bernilai, berharga, berpengaruh dalam hidup mereka, Koentjaraningrat,
(2009: 153).
Substansinya adalah, semua bentuk karya seni didefinisikan sebagai sebuah
sistem simbol yang diinterprestasikan dengan menggunakan bahasa tertentu, serta
sistem struktur dan makna budaya tertentu. Dalam hal ini substansi yang dimaksud
adalah gerak. Gerak menjadi ungkapan personal yang diekspresikan oleh tubuh dari
hasil pengalaman mental dan emosional yang dilalui koreografer. Gerak-gerak yang
ditarikan oleh penari merupakan sebuah perilaku tubuh yang dinamis, artinya pola-
pola gerak yang dihasilkan merupakan seluruh kesatuan rangkaian gerak yang
dihasilkan secara kontinu dari awal hingga akhir pertunjukan, Gusmail dkk (2019:55).
Teori Claude Levi Strause, pengertian struktur dapat merujuk pada Michael Foucault
yang menyatakan bahwa struktur merupakan sesuatu sistem di mana padanya
terkandung keseluruhan relasi yang kait mengait, saling mempertahankan dan saling
mengubah tanpa tergantung pada isinya, Bertens, (1984: 415) dalam Alkaf,
(2012:131).
Bentuk Tari Drop Daruet adalah tari berpasangan yang ditarikan penari putra
dan penari putri yang saling melengkapi satu dengan lainnya. Tari berpasangan ini
diperlukan keterlatihan gerak dengan patner, lawan main, pasangan lawan main dalam
mewujudkan keserasian dan keharmonisan. Sedyawati (1986:12-13) menyatakan
bahwa:
“Bentuk penyajian tari sebagai objek seni tontonan, yaitu gaya tari, dapat dilihat
dari segi tekstual dan kontekstual. Gaya tari secara tekstual adalah berkaitan dengan
apa yang disebut oleh segi-segi teknik yang ditempuh melalui ciri-ciri suatu gaya tari
dan bagi yang menonton memberikan pengalaman yang bersifat kesenirupaan.
Keindahan dan estetiknya suatu gerak dilihat dari ritme geraknya. Gaya secara
kontekstual berkaitan dengan apa yang disebut dengan sikap batin yang bisa dirasakan
sebagai suatu yang pantas dalam kerangka tata nilai kebudayaan yang bersangkutan.
Dengan kata lain sikap batin merupakan segi-segi penghayatan nilai budaya”.
43
3.1 Penari Tari Drop Daruet
Tari Drop Daruet dibawakan secara berkelompok dan berpasangan. Sejak awal
penciptaan tari ini sudah melibatkan penari putra dan penari putri, pasangan campur
ini berdasarkan hasil peristiwa budaya Drop Daruet yang dilakukan oleh masyarakat
Pidie usai panen padi. Koreografer mengambil dasar konsep dari peristiwa tersebut
juga menyesuaikan dengan tingkatan umur penari yang ditarikan oleh kaum muda dan
mudi dengan kisaran umur 19 tahun hingga 23 tahun dan belum menikah. Jumlah
penari empat orang penari putra dan empat orang penari putri.
Gambar 1: Pasangan Penari Putra dan Putri Dalam Tari Drop Daruet.
Dokumentasi (Kaka, 2019)
3.2 Tata Busana Tari Drop Daruet
Tata busana dalam tarian ini tetap menyesuaikan dari perkembangan zaman, dengan
norma dan nilai-nilai kesopanan atau etika berpakaian yang berlaku di daerah Aceh.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Hadi (2007: 92) menyatakan bahwa “tata busana atau
kostum menompang tari, sehingga secara konseptual penggunaan atau pemilihan
kostum dalam suatu tari harus dipertimbangkan sesuai dengan isi dan skenario tari
tersebut”. Maka tata busana yang digunakan oleh penari Tari Drop Daruet adalah:
a. Busana Penari Putra:
1) Baju dan celana kasab Aceh,
2) Tengkulok/ikat kepala dan kain songket kasab emas.
44
Gambar 2: Busana Lengkap Penari Putra Tari Drop Daruet.
Dokumentasi (Kaka, 2019)
b. Busana Penari Putri
1) Anak jilbab atau hijab (penutup kepala),
2) Sanggul Aceh, hiasan kepala bunga tabur, hiasan kepala bunga melati, hiasan
kepala kembang goyang, hiasan baju bross, baju dan celana kasab Aceh, selempang
dan kain songket kasab warna emas.
Gambar 3: Busana Lengkap Penari Putri Tari Drop Daruet.
Dokumentasi (Kaka, 2019)
3.3 Tata Rias Tari Drop Daruet
Tata rias menggunakan rias cantik dan pola pembentukan kelopak mata yang
memberikan kesan mata yang besar dan tajam dengan menggunakan warna yang
terang agar terlihat karakter tegas pada wajah penari. Hal ini dengan pernyataan
Hidayat, (2005:61) menyatakan bahwa: “Tata rias karakter dasar dibagi menjadi 4,
45
yaitu tata rias jenis karakter putri halus, tata rias jenis karakter putri kasar (gagah), tata
rias jenis karakter putra halus, tata rias jenis karakter putra kasar”. Tata rias Tari Drop
Daruet ini adalah rias cantik atau tata rias jenis karakter putra dan putri halus, tata rias
menyesuaikan dengan warna busana yang digunakan.
Adapun perlengkapan tata rias yang digunakan dalam Tari Drop Daruet sebagai
berikut: (1) Facial Foam (pencuci muka), (2) Face tonic (penyegar muka), (3)
Pelembab, (4) Foundation (alas bedak), (5) Bedak tabur dan bedak padat, (6) Eye brow
(pensil alis), (7) Eye shadow (pelumas mata) pemakaian disesuaikan dengan warna
busana penari dengan menggunakan warna hijau memakai eye shadow berwarna hijau,
hitam dan cokelat, (8) Celak (sifat mata), diberi warna hitam dengan sedikit tebal untuk
memberikan kesan mata yang tajam dan besar, (9) Blush on (pemerah pipi), digunakan
yang berwarna orange dan merah untuk membentuk wajah terlihat lebih runcing atau
tirus dan, (10) Lipstick (pemulas bibir), digunakan yang berwarna merah pada
penampilan malam dan merah jambu pada siang.
Gambar 4: Tata Rias Penari Putri Tari Drop Daruet.
Dokumentasi (Kaka, 2019)
3.4 Properti Tari Drop Daruet
Tari Drop Daruet dalam kebutuhannya juga menggunakan properti yang tentu saja
disesuaikan dengan kebutuhan koreografi yang erat hubungannya dengan tema dan
gerak sebagai media ungkap. Properti obor yang digunakan memiliki tabung untuk di
isi minyak Zippo atau Spertus sumbu untuk menyalakan api atau dengan menggunakan
Farafin. Namun, aturan dan peraturan dalam gedung yang kebanyakan tidak
46
membenarkan untuk menggunakan media api, maka untuk properti ini harus
disesuaikan dengan lampu lilin atau pun lampu api.
Gambar 5: Properti yang digunakan Penari Tari Drop Daruet.
Dokumentasi (Kaka, 2019)
3.5 Alat Musik Tari Drop Daruet
Alat Musik Tari Drop Daruet menggunakan musik iringan eksternal. Alat musik yang
digunakan dalam Tari Drop Daruet yaitu Serune kalee, Rapa’i, Geundrang. Sedyawati
(1986:109) menyatakan bahwa “musik adalah partner tari yang tidak diiringi oleh
musik dalam arti sesungguhnya, tetapi ia pasti diiringi oleh salah satu elemen dari
music”. Adapun beberapa tempo musik yang terdapat pada Tari Drop Daruet ini
adalah bertempo lambat, dan sedang. Tahapan iringan musik Tari Drop Daruet ada
dua bagian, yaitu; (1) Intro atau Serune pembuka, (2) Reff atau serune isi (lagu serune
Drop Daruet).
Gambar 6. Alat Musik Serune Kaleedan Rapa’I Aceh
Dokumentasi (Kaka, 2019)
47
Gambar 7: Alat Musik Geundrang Aceh
Dokumentasi (Kaka, 2019)
3.6 Pola Lantai Tari Drop Daruet
Tari Drop Daruet juga memiliki pola lantai yang sangat menarik dalam pertunjukanya.
Hadi (2007:87) menyatakan bahwa “pola lantai adalah konsep ruang dan yang dapat
menjelaskan alasan ruang yang harus dilalui oleh penari, misalnya dengan huruf T,
zig-zag dan sebagainya”. Pola lantai dalam Tari Drop Daruet memberikan gambaran
jelas dari aktivitas Drop Daruet yang dimainkan baik secara berpasangan maupun
kelompok oleh penari putra dan penari putri. Dengan demikian tarian tersebut dapat
diamati dan mudah untuk dipahami oleh siapa saja yang menyaksikan pertunjukannya.
48
Gambar 8: Penari Putri mengawali Gambar 9: Penari Putra mendatangi
masuk pentas sambil menerangi. penari Putri dan menerangi.
Dokumentasi (Kaka, 2019)
Dokumentasi (Kaka, 2019)
Gambar 10: Semua Penari masuk Gambar 11: Empat Pasng penari dengan
dengan formasi berpasangan. dua kelompok, bermain -main .
Dokumentasi (Kaka, 2019) Dokumentai (Kaka, 2019)
Gambar 12: Penari kelompok putra dan Gambar 13: Bergerak di bagi dua
Putri gerak menerangi mencari belalang. kelompok berpasangan dan membentuk
Dokumentasi, (Kaka, 2019) setengah lingkaran.
Dokumentasi (Kaka, 2019)
Gambar 14: Kelompok penari Putra dan Gambar 15: Menangkap belalang
Penari Putri menangkap belalang. bersama -sama.
Dokumentasi (Kaka, 2019)
Dokumentasi (Kaka, 2019)
Gambar 16: mengumpulkan hasil Gambar 17: jalan melingkar dan keluar
tangkapan belalang berpasangan. pentas, akhir dari pertunjukan .
Dokumentasi (Kaka, 2019)
Dokumentasi (Kaka, 2019)
49
3.7 Pentas/ Panggung Tari Drop Daruet
Pentas adalah tempat pertunjukan suatu karya seni yang lantainya agak tinggi agar
mudah dilihat oleh penonton atau pemirsa. Moelyono, (2009:99) menyatakan bahwa
pentas adalah “lantai yang agak tinggi di dalam gedung pertunjukan tempat
memainkan tari”. Di atas pentas inilah pertunjukan tari akan disajikan dengan maksud
agar penonton menangkap maksud karya yang ditampilkan. Pertunjukan Tari Drop
Daruet tidak memiliki tempat atau pentas secara khusus, namun dapat disesuaikan
dengan tempat penyelenggaraan pertunjukan. Pada umumnya pentas yang sering
digunakan untuk penampilan Tari Drop Daruet ialah panggung prosenium dan
panggung tapal kuda, selain di ruang terbuka (lapangan).
Gambar 18 : Panggung/ pentas Procenium.
Dokumentasi (Kaka, 2019)
KESIMPULAN
Tari Drop Daruet merupakan hasil kreativitas koreografer dari peristiwa budaya
masyarakat Aceh Pidie. Pertunjukannya, baik tarian ataupun musik serta properti yang
digunakan masih disesuaikan dengan asal mula penciptaannya, yakni sesuai dengan
tradisinya. Mengingat tidak semua ruang pentas memperbolehkan menggunakan unsur
api. Beberapa penampilan yang pernah dilaksanakan tetap sebagaimana asal muasal
penciptaannya tanpa terpengaruh dengan perubahan penggunaan properti, melainkan
hanya penyesuaian tempat.
Berdasarkan atas berbagai pendapat tentang pengertian kreativitas tersebut, maka
dapat diambil kesimpulan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk
menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang baru dan asli, yang sebelumnya belum
dikenal ataupun memecahkan masalah baru yang dihadapi. Apakah hasil kreativitas
50
itu menunjukkan hal yang baru? Beberapa ahli berpendapat bahwa kreativitas itu tidak
harus seluruhnya baru, tetapi dapat pula sebagai gabungan yang sudah ada dipadukan
sesuatu yang baru.
Eksistensi Tari Drop Daruet di sanggar Cut Nyak Dhien Meuligoe Gubernur
Aceh adalah untuk mempertahankan kearifan lokal dan melestarikan kesenian
tradisional, dan dapat mempertahankan peristiwa budaya yang pernah ada pada
masanya, serta menciptakan pengetahuan bagi warga masyarakat terutama generasi
muda. Selain itu, eksistensi Tari Drop Daruet dalam pengaruh era modernisasi 4.0
justru dapat meningkatkan pengetahuan bagi masyarakat akan keanekaragaman
budaya masa lalu yang pernah ada di masyarakat.
Sanggar Cut Nyak Dhien Meuligoe Gubernur Aceh telah dapat mempertahankan
dan melestarikan seni tradisional. Menjadikan hal tersebut menjadi sumber informasi
penting bagi masyarakat, bahwa Drop Daruet pernah ada dan menjadi fenomena dari
peristiwa budaya yang dilakukan masyarakat Aceh Pidie. Sebagai promosi citra
budaya bersama dengan kearifan lokal. Tari Drop Daruet sebagai bentuk seni yang
berakar dan bersumber serta dirasakan sebagai milik sendiri oleh sanggar Cut Nyak
Dhien Meuligoe Aceh pengolahannya hanya didasarkan pada cita rasa masyarakat
pendukungnya yang dilakukan dari waktu ke waktu dan diwariskan secara regenerasi.
Hal tersebut tentunya menunjang eksistensi Tari Drop Daruet di tengah pengaruh era
modernisasi 4.0.
Kesimpulan di atas semestinya dapat menjadi titik tolak bagi penjelajahan estetik
untuk menjaga keberlangsungan suatu genesis berikutnya yang akan melimpahkan
seni tari Aceh dengan nuansa-nuansa baru. Sederhananya, Tari Aceh berangkat dari
semangat bagi koreografer untuk terus bergairah menciptakan ruang penciptaan yang
lebih menakjubkan.
Dengan sendirinya, akan terjadi upaya menjaga batasan-batasan estetik bagi
penjaga ranah tradisi. Relasi yang demikian tak hanya mengukuhkan sebuah kondisi
intelektualitas berkesenian, tetapi lebih dari itu. Kondisi tanya-jawab ini merupakan
faktor untuk perkembangan dan pengayaan seni tari di Aceh melalui kearifan lokal.
Dengan begitu kita dapat menjaga keberlangsungan suatu genesis berikutnya yang
akan melimpahkan seni tari Aceh dengan nuansa-nuansa baru.
51
DAFTAR PUSTAKA
Daldjoeni, 1977. Almanak Dewi Sri. Kama Jaya, E.P Indonesia, Yogyakarta.
Hadi, Y. Sumandiyo. 2007. Aspek-aspek Dasar Koreografer Kelompok. Jakarta:
Elkapi
Hidayat, Robby. 2005. Wawasan Seni Tari. Malang Jurusan Seni dan Sastra
Universitas Negeri Malang.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Bineka Cipta.
Mulyono, Anton M. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sedyawati, Edy. 1986. Tari Sebagai Salah Satu Pernyataan Budaya dalam
Pengetahuan Elemen Tari dan Beberapa Masalah Tari. Jakarta: Direktorat
Kesenian.
Sofyati, Lailisma. 2004. Tari-Tarian di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Suatu
Dokumentasi, Banda Aceh: Sanggar Tari Cut Nyak Dhien.
Selo Sumarjan, 1983. Dalam Surejono Soekarna dan Taneko. Yogyakarta.
Guilford. 1976, Menunkatuck: Guilford, Connecticut.
Gusmail, Sabri. 2018, April. Properti Tari Waktu Dalam Lipatan: Analisis Semiotika
Melalui Pendekatan Charles Sanders Peirce. Jurnal Puitika: 14 (1), 14-25.
Gusmail, Sabri, dkk. 2019, Juni. Peningkatan Kreativitas Pengelolaan Unsur-Unsur
Gerak Tari di Aceh Besar. DESKOVI: Art and Design Journal: 2 (1), 53-58
Munandar, 1987, Seni Tagel dan Sejarahnya (The Art); London.
Liliweri, A., 2009. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar Offset.
Sukman, Fifie Febryanti, dkk. 2019, Juni. Forms and Functions of Traditional Dance
of Likok Pulo in Pulo Nasi (Nasi Island), Aceh Besar, Indonesia. East African
Scholars Publisher, Kenya: 2 (6), 307-311.
Woolfook, anita. 1984. Educational Psychology for Teachers. Prentice Hall.
52
EKSISTENSI TARI LAWEUT DI KABUPATEN PIDIE,
PROVINSI ACEH
Nailul Muna
Institut Seni Budaya Indonesia Aceh
Email: nailulmunaa09gmail.com
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Eksistensi Tari Laweut di Kabupaten
Pidie, Provinsi Aceh. Objek penelitian ini adalah Tari Laweut di Kabupaten Pidie,
subjek penelitian adalah pihak dinas kebudayaan dan penata tari. Penelitian ini
menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, teknik pengumpulan data dengan
observasi, wawancara, dokumentasi, studi pustaka. Teknik analisis data menggunakan
reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa, (1) bentuk penyajian Tari
Laweut (2) Eksisitensi Tari Laweut. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya tetap
terjaga bentuk, eksistensi atau keberadaan Tari Laweut agar tetap hidup di kalangan
masyarakat, terutama masyarakat di Kabupaten Pidie. Langkah lainnya agar Tari
Laweut tetap terjaga yaitu dengan cara dipertunjukkan di beberapa even-even atau
festival seni. Agar tidak hanya masyarakat setempat yang mengetahui keberadaannya
akan tetapi, masyarakat luar lebih mengetahuinya pula serta Tari Laweut tetap terus
terjaga atau dilestarikan dengan baik.
Kata kunci : Tari Laweut, Eksistensi.
PENDAHULUAN
Aceh tepatnya di Kabupaten Pidie terdapat suatu tari tradisi yaitu Tari Laweut.
Kata Laweut berasal dari kata SeuLaweut (Salawat), yaitu kata-kata pujian untuk Nabi
Muhammad Saw. Tari Laweut ini dahulu hanya dimainkan di kalangan para santriwati
sebagai hiburan sesudah belajar agama di malam hari, dan juga dimainkan di waktu
senggang oleh istri-istri yang suaminya bertugas di medan perang. Pertunjukan Tari
Laweut secara tekstual sama dengan Tari Seudati, dilihat dari komposisi, formasi, serta
jumlah pemainnya. Tari Laweut ini dinamakan juga Seudati Inong (Inong =
Perempuan), nama Seudati Inong hanya istilah penyambutannya saja. Nama Laweut
mulai popular di kalangan masyarakat luas sesudah Pekan Kebudayaan Aceh (PKA)
II, tepatnya pada tahun 1972. Pada masa ini pula sebutan Laweut ditetapkan sebagai
nama lain dari Akoom atau Seudati Inong. Tari Laweut terus berkembang seiring
dengan perkembangan Tari Seudati. Tari Laweut mulai diperkenalkan oleh sanggar
53
Pou Cut Baren di tahun 1968, tempat pertama latihannya di rumah Tengku Burhan.
Setelah latihan dan mulai diperkenalkan kembali, Tari Laweut mengalami
perkembangan yaitu Tari Laweut mulai dipentaskan di event-event besar seperti
pertunjukan di PKA II tanggal 20 Agustus 1972, di PKA III serta pada tahun 1981
dalam acara MTQ juga ikut tampil dalam tari massal.
Tari ini berasal dari daerah Pidie khususnya di Kota Sigli. Perkembangan
selanjutnya tarian ini menyebar hingga ke seluruh wilayah Aceh lainnya, khususnya
pada masyarakat Aceh yang mendiami wilayah pesisir. Berbeda dengan kebanyakan
tarian Aceh pada umumnya yang posisi tariannya duduk, Tari Laweut ini adalah salah
satu tarian yang posisinya tari berdiri. Tarian ini sudah muncul di masyarakat Aceh
sejak penjajahan Kolonial Belanda, dan mulai berkembang pada tahun 50-an bersama
dengan berkembangnya Tari Seudati. Namun, seiring berjalan waktu, Tari Laweut
mulai ditinggalkan dan dapat dikatakan hampir punah di masyarakat Aceh.
Tari Laweut biasanya dilakukan dalam bentuk pertandingan (tunang) sama
halnya dengan tari-tari tradisional Aceh lainnya. Hal semacam ini biasanya dilakukan
dengan menghadirkan dua grup yang saling berhadapan untuk bertanding. Kebolehan
dan keunggulan suatu grup akan dilihat dari kekompakan gerak tari, kekayaan ragam
gerak, penampilan dan kematangan dalam syair lagu pengiring, baik yang berupa syair
tanya jawab (teka-teki). Syair dan lagu pengiring dalam Tari Laweut pada umumnya
mengandung pesan-pesan kehidupan manusia, pendidikan, pujian-pujian, bershalawat
dan penyampaian pesan tentang tatanan kegiatan pemerintahan yang dilantunkan
dalam bentuk bahasa yang bersajak.
1. Penari Tari Laweut
Tari Laweut ini ditarikan oleh perempuan. Tari Laweut secara koreografi termasuk
jenis tari berkelompok yang ditarikan dengan jumlah penari delapan orang
perempuan, di antara delapan penari tersebut terdapat salah satu penari utama yang
diberi gelar sebagai syeh dan dibantu pula oleh dua orang apet syeh. Selain itu, Tari
Laweut ini diisi oleh dua atau satu orang peradat (penyanyi) yang disebut sebagai
aneuk Laweut dengan mengambil posisi pada salah satu sudut di atas pentas. Posisi
Syeh dan apet syeh berdiri di tengah-tengah penari lainnya.
2. Gerak
54
Gerak lemah lembut para penarinya tetap terpancar dan menonjol sesuai dengan
kodrat perempuan. Sebagai kekuatan dalam setiap gerak tari ini, para penari
memukul paha untuk suatu ritme dalam setiap permainan. Selain itu mereka
bertepuk tangan mewujudkan bunyi melodi dalam setiap gerak lagu yang
dinyanyikan. Secara komposisi penari Laweut pada dasarnya sama bentuknya
dengan bentuk Tari Seudati, yaitu: bersaaf (berbanjar), Pha-Rangkang (segi
empat) dan Glong (melingkar). Tari Laweut juga memiliki rukun, rukun yaitu
struktur atau bentuk-bentuk ragam yang terdapat dalam suatu tarian. Adapun rukun
atau bentuk-bentuk dalam Tari Laweut yaitu sebagai berikut:
a. Saleum
b. Saman
c. Likok
d. Kisah
e. Lanie/ekstra
3. Musik
Musik dalam Tari Laweut tidak memakai alat musik untuk iringannya, melainkan
hanya nyanyian berupa syair, serta petikan jari dan tepukan yang timbul sebagai
ganti alat musiknya. Syair tidak kalah penting perannya dalam Tari Laweut.
4. Tata Rias dan Busana
Busana Tari Laweut tetap harus menggunakan pakaian khas Aceh yang terukir
sulam benang emas dan perak, motif bunga-bunga, burung dan motif Aceh lainnya.
Pada awalnya, kostum Tari Laweut ini tidak memakai jilbab hanya memakai
beberapa hiasan kepala yaitu, berupa rangkaian bunga (Bungong Jeumpa) yang
dililit melingkari sanggul. Setelah itu ada tusuk sanggul (culok oek) yang terbuat
dari emas atau berwarna emas. Setelah perkembangan zaman yang semakin maju
ditutuplah kepala dengan kain dan selendang. Warna dasar yang diambil untuk
kostum Tari Laweut adalah merah, kuning, hijau dan hitam, dikarenakan warna
tersebut adalah warna khas Aceh.
5. Tempat Pertunjukan
Tempat pertunjukan adalah tempat yang dipergunakan untuk mempergelarkan
pertunjukan. Tempat pertunjukan tari-tari tradisi dahulu tidak berupa sebuah
gedung atau panggung melainkan hanya di padang rumput atau tanah lapang. Akan
55
tetapi, perkembangan zaman kini adanya jenis beberapa tempat pertunjukan baik
indoor atau outdoor. Tari Laweut yang dulu hanya di tempat seperti padang rumput
kini mulai dipertunjukkan di tempat seperti Indoor yaitu seperti gedung Taman
Budaya, gedung serba guna ataupun aula tertutup.
EKSISTENSI (KEBERADAAN) TARI LAWEUT
Keberadaan atau juga eksistensi adalah suatu kehadiran yang mengandung unsur
bertahan. Keberadaan juga bisa diartikan ada dan benar-benar adanya walaupun tidak
terkenal atau tidak terlalu eksis. Sama halnya dengan keberadaan Tari Laweut yang
sebenarnya ada tetapi tidak memiliki unsur eksistensi. Keberadaan Tari Laweut yang
sebenarnya berasal dari Kabupaten Pidie Kota Sigli. Asal usul tepatnya keberadaan
Tari Laweut di Kota Sigli tidak ada yang mengetahuinya dikarenakan tidak ada data
yang tertulis di zaman dulu.
Penyebab keberadaan Tari Laweut ini mulai pudar dikarenakan kurang
pedulinya masyarakat di Kabupaten Pidie sehingga banyak yang tidak mengetahui
jelas keberadaan Tari Laweut. Keberadaan Tari Laweut ini dahulu lebih berkembang
di luar daerah Kabupaten Pidie seperti di Banda Aceh, sehingga masyarakat di luar
lebih mengetahui keberadaannya bukan di kabupaten itu sendiri melainkan di Banda
Aceh. Penyebab tersebut dikarenakan masyarakat dan pemerintah di Kabupaten tidak
terlalu peduli sehingga keberadaannya ditelan masa dengan berjalannya waktu.
Sedangkan di luar dari Kabupaten Pidie keberadaannya ada karena adanya seniman
yang memperhatikan kesenian Tari Laweut.
Seperti yang dikatakan oleh Abidin Zainal (2007: 16), yang mengatakan bahwa:
“Eksistensi adalah suatu proses yang dinamis, suatu, menjadi atau
mengada. Ini sesuai dengan asal kata eksistensi itu sendiri, yakni exsister,
yang artinya keluar dari, melampaui atau mengatasi. Jadi eksistensi tidak
bersifat kaku dan terhenti, melainkan lentur atau kenyal dan mengalami
perkembangan atau sebaliknya kemunduran, tergantung pada kemampuan
dalam mengaktualisasikan potensi-potensinya”.
Jadi, Keberadaan Tari Laweut yang kini tidak dipedulikan lagi di kalangan
masyarakat Kabupaten Pidie, namun tetap saja keberadaan Tari Laweut tidak memiliki
sifat kaku, melainkan lentur. Lentur yang berarti, jika Tari Laweut keberadaannya
mulai hilang setidaknya Tari Laweut tersebut pernah ada sebelumnya, dan apabila
56
mulai dipertunjukkan lagi maka dia akan tetap ada, seperti itulah yang dikatakan
lentur. Sama halnya jika dikatakan keberadaan Tari Laweut mengalami perkembangan
atau sebaliknya kemunduran Tari Laweut tersebut setidaknya pernah ada di kalangan
masyarakat.
Keadaan sekarang yang mempengaruhi tari-tari tradisi mulai hilang di mata
masyarakat, dikarenakan sudah jarang dipertunjukkan baik secara formal maupun non
formal, sehingga masyarakat di Kabupaten Pidie tidak tergerak untuk melakukan
sebuah pertunjukan, tidak hanya masyarakat juga yang seharusnya bergerak untuk
tetap membuat tari tradisi tetap bertahan. Akan tetapi, dari Dinas Kebudayaan dan
pemerintah juga seharusnya tergerak untuk tetap melestarikan tari tradisi.
Maka dari itu, keberadaan Tari Laweut menjadi suatu masalah, disebabkan
karena tidak terdengar lagi di kalangan masyarakat, sehingga daerah di Kabupaten
Pidie kurang terjangkau peran masyarakatnya terhadap Tari Laweut ini, juga sangat
minim pengetahuan keseniannya, sehingga dikhawatirkan tari tradisi yang dulunya
tumbuh dengan baik kini mulai pudar di kalangan masyarakat. Gerak-gerak tari yang
awalnya masih terbungkus dengan keasliannya sekarang satu per satu mulai hilang.
Oleh karena itu, peneliti memiliki ketertarikan untuk meneliti atau mengangkat
kembali Tari Laweut di Kabupaten Pidie selaku daerah atau tempat awal kemunculan
Tari Laweut di Provinsi Aceh.
57
PERKEMBANGAN TARI RATEB MEUSEKAT DI KECAMATAN
BLANGPIDIE KABUPATEN ACEH BARAT DAYA
Rahmatul Aulia
Institut Seni Budaya Indonesia Aceh
Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan gerak dan syair yang
terdapat pada Tari Rateb Meusekat di Kecamatan Blangpidie Kabupaten Aceh Barat
Daya. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh
Ferdinad de Saussure yang menjelaskan tanda dan pertanda. Penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif. Objek penelitian ini adalah Tari Rateb Meusekat di Kecamatan
Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya dan subjek penelitian ini adalah tokoh
seniman Aceh dan juga penari Rateb Meusekat. Teknik pengumpulan data
menggunakan observasi langsung, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni‒Agustus. Teknik analisis data yang
digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan verifikasi data.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan Tari Rateb Meusekat
tercermin dalam gerak dan syairnya. Perkembangan geraknya yaitu, (1) gerak
pembuka (2) gerak salam (3) gerak menunduk (4) gerak selang-seling mengandung
makna perbedaan dalam kehidupan seseorang (5) gerak ombak atau gelombang.
Kata Kunci: makna simbolik, Rateb Meusekat, Tari Aceh
PENDAHULUAN
Sejarah memberikan petunjuk dalam kehidupan sehari-hari karena semua budaya
merupakan sebuah diagram yang dapat memberikan petunjuk cara hidup masa ini.
Banyak hal yang menarik dari sejarah, yaitu budaya yang disebarkan generasi ke
generasi yang dapat melestarikan pandangan suatu budaya dan cerita-cerita tentang
masa lalu yang memberikan bagian budaya dari identitas, nilai, aturan tingkah laku
dan sebagainya (Samovar, 2010:29).
Kehidupan masyarakat tidak terlepas dari sistem budaya yang beragam serta
bermacam-macam corak dan bentuknya. Kebudayaan adalah segala pikiran dan
perilaku manusia yang secara fungsional ditata dalam masyarakatnya. Manusia
diberikan akal dan perilaku untuk dapat melakukan segala hal yang dapat melengkapi
kegiatan dalam hidupnya. Setiap kebudayaan mempunyai tujuh unsur dasar yaitu
59
kepercayaan, nilai, norma, simbol, teknologi, bahasa dan kesenian. Dari ketujuh unsur
tersebut, salah satu unsur yang sangat penting adalah seni ataupun kesenian (Muttaqin,
2016:1).
Kesenian secara umum terbagi dalam seni tari, seni sastra, seni musik, seni rupa
dan cerita rakyat. Seni dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan manusia yang
mengandung unsur keindahan. Seni dalam berbagai aspeknya merupakan suatu
kebutuhan batin umat manusia, dan keberadaannya dalam kehidupan seseorang
merupakan suatu kelengkapan dan kesempurnaan hidup itu sendiri. Seni juga
merupakan alat komunikasi yang halus, sebab simbolis yang terkandung dalam karya
seni yang bersangkutan sehingga seni dituntut lebih banyak persyaratan untuk dapat
mengungkapkan misi yang akan disampaikan. Salah satunya yaitu seni tari. Seni tari
adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui
gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan oleh
pencipta (Hawkins, 1990:2).
Aceh merupakan salah satu wilayah yang sangat kaya akan ragam kesenian
tradisional. Berbagai bentuk kesenian tradisional tersebut merupakan hasil dari karya
orang Aceh tempo dulu yang hingga kini masih terjaga dan diakui oleh masyarakat
nasional bahkan dunia. Oleh karena itu, keberagaman corak dan bentuk kesenian
tradisional di setiap wilayah Aceh, dari pesisir barat, selatan, utara dan timur sampai
wilayah Aceh Barat Daya masih sangat kental dengan nilai-nilai dan nuansa islami.
Pengaruh nilai-nilai dalam kesenian tradisional Aceh dimulai dari sejak pertama
masuknya agama Islam, awal abad ke-13 M atau akhir abad ke-12 M.
METODE PENELITIAN
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif. Penelitian kualitatif memberikan gambaran sebagus mungkin mengenai
suatu individu atau kelompok tertentu yang menghasilkan data deskriptif. Metode
yang digunakan bersifat kualitatif yakni prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dan penjelasan berdasarkan wawancara
dengan aslinya, dengan melalui proses perencanaan, penyeleksian, dan kemudian
menyajikan ke dalam bentuk laporan.
60
Peneliti memilih lokasi di Kecamatan Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya,
tepatnya di jalan Nyak Makam Dusun Pusaka Desa Ujung Padang. Selain di Desa
Ujung Padang, peneliti juga mencari informasi lain seperti di Desa Kuta Makmur
untuk memperoleh data yang konkret dan akurat dalam mengkaji Perkembangan Tari
Rateb Meusekat.
Subjek dalam penelitian ini adalah informan dan narasumber yang mengetahui
segala sesuatu yang berkaitan dengan Tari Rateb Meusekat di Kecamatan Blangpidie
Kabupaten Aceh Barat Daya, yakni seniman Aceh dan Penari Tari Rateb Meusekat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Seni tari di daerah Aceh merupakan tarian yang di dalamnya terkandung nilai atau
makna ajaran Islam, terdapat sejumlah simbol-simbol konstitutif, yaitu simbol
kepercayaan yang mengandung keagamaan yang mengekspresikan nilai atau makna
tersebut dalam bentuk ucapan merupakan bentuk awal timbulnya sebuah simbol yang
dilihat dari bentuk-bentuk gerakan yang diciptakan oleh masyarakatnya berupa
gerakan maupun pakaian yang terjalin secara harmonis. Sehingga bisa dimanfaatkan
dalam berbagai kegiatan.
Tari Rateb Meusekat merupakan tari tradisional masyarakat Blangpidie yang
mendiami Kabupaten Aceh Barat Daya. Berdasarkan data yang diperoleh dari
beberapa orang seniman kata Rateb Meusekat terdiri dari dua suku kata: Rateb dan
Meusekat. Rateb atau Ratib dalam bahasa Aceh berarti doa kepada Tuhan Yang Maha
Esa. Dengan kata lain disebut dzikir dan Meusekat berasal dari nama seorang ulama
dari filsuf Ibnu Maskawaihi dari Baghdad. Menurut kamus Bahasa Arab Hoesein
Djayadinigrat menuliskan bahwa asal-usul Meusekat dari kata Muscat, yakni Ibukota
Oman di Jazirah Persia. Meusekat dalam bahasa Aceh berasal dari kata sakat yang
berarti diam atau khusyuk. Jadi Rateb Meusekat berarti dzikir dengan khusyuk.
Tari Rateb Meusekat ini diciptakan oleh seorang ulama yang bernama Teuku
Muhammad Thaib sekitar abad ke 13. Beliau memimpin sebuah pendidikan Agama
Islam di Kila, Seunagan. Beliau mengajarkan ilmu agama kepada murid-muridnya
seperti mengaji, berdzikir, akhlak dan Bahasa Arab. Untuk menghindari kejenuhan
dalam belajar mereka menerapkan cara berdzikir bersama-sama yang mereka sebut
dengan Meurateb. Sehingga nama Rateb Meusekat berasal dari dua kata, yaitu : Rateb
61
yang dalam bahasa Aceh berarti doa kepada Tuhan Yang Maha Esa (berdzikir) ataupun
selawat kepada Nabi Muhammad Saw., sedangkan Meusekat diambil dari 4 kata
Maskawaihi seorang Ulama besar yang bernama lengkapnya Ibnu Maskawaihi
seorang filosof bangsa Irak (Bagdhad) yang tergolong sebagai ulama besar.
Tari Rateb Meusekat mulanya khusus diadakan dalam menyongsong hari
kelahiran Nabi Muhammad Saw. atau biasa disebut dengan memperingati hari Maulid
Nabi sejak satu hari bulan Rabiul Awal. Selawat dan pujian terhadap Rasul Allah yang
dikumandangkan oleh para murid yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang
melakukan gerakan-gerakan tangan ke dada, kepala yang digelengkan ke kanan dan
ke kiri serta cara duduknya bersamaan dengan gerak dalam shalat.
Tari Rateb Meusekat memiliki nilai-nilai dan makna yang sudah disepakati oleh
masyarakat kemudian disebarkan dalam bentuk simbol dapat dilihat dari bentuk
penyajiannya, merupakan suatu komponen atau jaringan makna simbol yang
terorganisir dari sistem sosial budaya masyarakat terdapat pada ragam gerak seperti
gerak Pembuka, Bismillah, Nyawoeng Getanyoe, Selamat Ureung Jame, 5 Jannatun,
Oek Sama Hitam, Buraq Meunari, Meubak Meraksa, Doda Idi, dan yang terakhir
adalah Penutup. Bentuk penyajiannya dapat memberi konstribusi dalam berbagai nilai
positif dalam kehidupan budaya seperti motif geraknya yang menggambarkan
kekompakan, kebersamaan, kekuatan, dan keselarasan. Juga dapat dilihat dari
busananya yang mewah dengan bentuk bunga dan pintu Aceh yang merupakan salah
satu motif khas Aceh dan lebih uniknya Tari Rateb Meusekat ini tidak menggunakan
properti dan alat musik melainkan menggunakan suara yang dihasilkan dari tubuh
penari seperti tepukan dada, tangan, paha dan vokal yang dibawakan oleh syahi dan
gerakan-gerakan anggota tubuh sebagai musik pengiring tari ini. Tari Rateb Meusekat
mengandung nilai-nilai agama dengan filosofi yang tinggi serta tetap terpelihara dan
menjadi kebanggaan masyarakat bangsa dan negara sebagai warisan budaya yang patut
dipelihara dan dikembangkan.
62
A. Bentuk Penyajian Tari Rateb Meusekat
1. Penari
Tari Rateb Meusekat ditarikan dalam posisi duduk, di antara dua tumit atau bertumpu
di atas lipatan kaki. Pola barisan penari berbanjar memasuki pentas. Sejak dari awal
perkembangannya, kesenian tari Rateb Meusekat hanya dimainkan oleh kaum wanita
saja karena Tari Rateb Meusekat adalah tari yang dikhususkan untuk wanita. Adapun
jumlah penarinya tidak terbatas dan boleh dimainkan dalam bentuk ganjil maupun
genap, namun minimal 10 orang agar pada saat menari kelihatan geraknya rampak dan
indah. Mereka juga dipimpin oleh seorang syekh.
2. Gerak
Gerak pada kesenian tradisional umumnya hanya gerak-gerak yang sederhana dan
banyak pengulangan. Seperti halnya gerak tari Rateb Meusekat ditarikan dalam posisi
duduk di antara dua tumit atau bertumpu di atas lipatan kaki dan pola lantai berbanjar
membentuk garis lurus, serta rapat bahu membahu. Gerak pada tari Rateb Meusekat,
yaitu gerak-gerak yang terdapat dalam gerakan shalat. Ragam gerak tari Rateb
Meusekat:
a. Gerak Pembuka
b. Gerak Nyawong Geutanyo
c. Gerak Selamat Ureung Jamee
d. Gerak Jannatun
e. Gerak Oek Sama Hitam
f. Gerak Buraq Meunari
g. Gerak Meubak Meuraksa
h. Gerak Doda Idi
i. Gerak Penutup
3. Kostum dan Tata Rias
Kostum pada tari Rateb Meusekat yang digunakan harus sopan dan menutup aurat.
Menurut Pekerti, (dalam Pratiwi, 2016:17) memaparkan bahwa pada awalnya busana
atau pakaian yang digunakan oleh penari adalah pakaian yang dikenakan sehari-hari.
Namun, pada perkembangannya pakaian atau busananya diatur dan ditata sesuai
dengan kebutuhan tari tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Mariana, dari hasil
63
penelitian beliau mengungkapkan dulunya tari Rateb Meusekat menggunakan baju
kebaya lengan panjang, celana panjang dan ditutupi dengan sarung pada bagian
setengah dari pinggang ke lututnya dan tidak memakai selendang tetapi harus
memakai kerudung. Sedangkan pada zaman sekarang beliau mengatakan bahwa
kostum yang digunakan dalam tari Rateb Meusekat ini adalah kostum adat wanita
Aceh dan untuk keterangan warnanya boleh warna apa saja mulai dari warna kuning,
biru merah, hitam, hijau dan lain-lain. Dan untuk celana warnanya boleh disesuaikan
dengan warna baju atau boleh juga celana berwarna hitam, sedangkan kain sarung
yang digunakan biasanya kain songket dengan motif ukirannya bermacam-macam, dan
juga ikat pinggang yang terbuat dari kain songket itu sendiri. Rias yang digunakan
pada tari Rateb Meusekat seperti biasa memakai rias wajah panggung.
4. Musik
Tari Rateb Meusekat tidak menggunakan alat musik, melainkan musik yang dihasilkan
di dalam tari tersebut, seperti vokal atau syair yang dibawakan oleh syekh dan juga
melalui gerakan anggota tubuh yang menghasilkan suara. Sehingga kekompakan dan
semangat penari sangat dibutuhkan dalam tari ini, suara yang dijadikan sebagai musik
pengiring tari Rateb Meusekat dapat memberi semangat kepada penonton yang
melihatnya.
5. Pola Lantai
Pola lantai pada tari Rateb Meusekat berbentuk shaf dan menghadap ke depan. Pola
shaf pada tarian ini dimaksudkan bentuk barisan di dalam shalat dan posisi penari
menghadap ke depan.
6. Tempat Pertunjukan
Tempat pertunjukan adalah sebuah tempat menampilkan suatu karya tari, terdapat
beberapa unsur pendukung lainnya untuk mendukung karya tari secara utuh. Unsur-
unsur tersebut terdapat unsur musik, busana, rias, dan unsur lainnya yang membuat
tari menjadi lebih menarik. Tempat pertunjukan Tari Rateb Meusekat boleh
ditampilkan di mana saja di dalam panggung (area tertutup) atau juga bisa di luar
panggung (area terbuka).
64
B. Perkembangan Tari Rateb Meusekat
Tari Rateb Meusekat adalah tari rakyat yang berkembang di kabupaten Aceh Barat
Daya khususnya dalam lingkungan etnis Aceh. Seperti pada umumnya tarian rakyat
pada perkembangan tari ini seirama dengan perkembangan masyarakatnya, maka
tarian ini tidak luput dari pembaruan sesuai dengan kondisi perubahan masyarakatnya.
Seperti awal mulanya tarian ini tampil dalam bentuk grup dengan disajikan dalam
bentuk kelompok. Sehingga semakin bertambah banyak jumlah penarinya maka tarian
ini akan menjadi lebih baik lagi. Penampilan tari Rateb Meusekat terdiri dari beberapa
gerak.
1. Gerak Pembuka
Gerakan pertama disebut gerak pembuka yang berbentuk shaf. Penanda pada gerak
bagian pertama ini yaitu penari masuk berbentuk sebaris dengan sejajar disebut Rateb
Duek pandangan penari mengarah ke depan, semua penari bersimpuh, seperti orang
shalat duduk sesudah sujud, yaitu pada formasi horizontal penari duduk berbanjar
sebagai shaf dalam shalat berjamaah seperti duduk antara dua sujud dalam shalat.
Pertanda pada gerak ini yaitu bentuk ungkapan berjamaah (bersama-sama), selalu
dimainkan dalam bentuk bersama-sama.
2. Gerak Salam
Gerakan salam yang berarti menghormati. Penanda pada gerakan ini adalah penari
menaikkan kedua tangannya dengan posisi tangan kiri dan tangan kanan ditutup,
gerakannya sama seperti gerak horizontal. Pertanda pada gerakan ini adalah sebagai
bentuk saling menghormati terhadap sesama muslim ketika saling berjumpa. Makna
simbolik gerakan salam adalah ungkapan salam terhadap sesama muslim ketika saling
berjumpa. Gerakan salam selalu diiringi dengan senyuman dan saling menyapa di
antara penari dan penonton. Senyum bermakna keramahan, sapaan, dan keceriaan.
Senyum juga berarti keikhlasan dan juga ibadah.
a) Gerak Menunduk
Gerak menunduk yang berarti penghormatan. Penanda pada gerakan ketiga ini yaitu
kepala melihat ke bawah dan kedua tangan di lantai. Pertanda pada gerakan ini yaitu
penghormatan terhadap sesama manusia.
65
b) Gerak Selang-seling
Gerakan selang-seling yang berarti perbedaan. Penanda pada gerakan ini yaitu penari
berdiri setengah lutut dan penari yang satu dibawa dengan posisi tangan menepuk kiri
dan ke kanan. Pertanda pada gerakan ini yaitu setiap manusia mempunyai perbedaan
di sisinya masing-masing.
c) Gerak ombak atau gelombang
Gerak ombak atau gelombang yang berarti gambaran. Penanda pada gerakan ini kedua
tangan direntangkan ke samping kiri dan kanan. Gerak ini memiliki tiga gerak utama
yang memadukan unsur gerak tangan, tubuh dan kepala. Pada gerakan ini akan
membentuk formasi gelombang yang mana penari mengambil tiga posisi.
Posisi atas yaitu berdiri dengan bertumpu pada lutut, posisi belakang yaitu penari
duduk bersimpuh menarik tubuhnya ke belakang dan posisi ke bawah yaitu penari
menunduk atau bersujud ke bawah. Ketika ketiga formasi tersebut berganti posisi
maka akan berbentuk gambaran sebuah gelombang. Pertanda pada gerakan ini yaitu
sebuah gambaran yang ada dipikiran manusia untuk menghasikan sesuatu.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang perkembangan tari Rateb
Meusekat di Kecamatan Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya, dapat disimpulkan
bahwa berkembangnya tari Rateb Meusekat tercemin dalam gerak dan syair-syairnya.
Gerakan Tari Rateb Meusekat memiliki makna yang merupakan gambaran-gambaran
tentang kehidupan bermasyarakat. Pemaknaan yang ditemukan oleh peneliti melalui
gerak dan juga iringan syair terdiri dari sanjungan dan puji-pujian kepada Allah dan
sanjungan kepada nabi yang diungkapkan melalui lagu di dalamnya.
Makna yang terdapat dalam syair Rateb Meusekat adalah ajakan untuk sering
memuji Allah Swt. sebagai zat yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya
sehingga Allah lah satu-satunya Tuhan yang patut disembah. Selain itu makna yang
terdapat dalam syair tari ini adalah berisikan nasihat-nasihat seperti mengingatkan
manusia tentang kematian, dan tentang perbedaan pikiran yang dimiliki oleh 54
manusia. Terlepas dari perbedaan tersebut, manusia harus tetap satu dalam membela
agama Allah.
66