MAKHLUK HIDUP SPERMATOPHYTA SPERMATOPHYTA POTENSI DESA WISATA AIR TERJUN COBAN BINANGUN CREATED BY CAHYANI RAHMADININGRUM KLASIFIKASI Katalog Digital S M P / M T S V I I
Katalog Digital KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP Fitria Eka Wulandari S.Si., M.Pd i Cahyani Rahmadiningrum Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta TUMBUHAN BERBIJI (SPERMATOPHYTA) Di Lingkungan Air Terjun Coban Binangun, Plintahan, Pandaan, Pasuruan Disusun Oleh: Dosen Pembimbing: PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO 2023
PRAKATA Salam hangat dari penulis, mempersembahkan kepada Anda katalog digital yang menyajikan potensi keberagaman tumbuhan dalam wisata desa berbasis edukasi yang harus dipelajari oleh anak-anak usia sekolah menengah pertama. Dari hierarki klasifikasi makhluk hidup, kingdom plantae, hingga keanekaragaman spermatophyta (tumbuhan berbiji) di lingkungan Coban Binangun. Ditampilkan semuanya dengan sangat menarik dan mudah dipahami. Melalui katalog digital ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Lihat katalog digital ini untuk mengetahui klasifikasi keanekaragaman tumbuhan dari potensi desa wisata Coban Binangun. Kepada Pembaca, Penulis 1 Sidoarjo, 01 November 2022 Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta
23 47 DAFTAR ISI 03 04 DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN 0 HALAMAN SAMPUL 01 02 PRAKATA DAFTAR ISI 05 KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP 07 TINJAUAN PUSTAKA SUB-DIVISI ANGIOSPERMAE SEJARAH KLASIFIKASI 08 12 KINGDOM PLANTAE KUNCI DETERMINASI 16 19 21 25 KOMPETENSI DASAR LATAR BELAKANG AYO BERLATIH! Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 2 DIVISI SPERMATOPHYTA SUB-DIVISI GYMNOSPERMAE BAB II PEMBAHASAN KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN BERBIJI BAB III PENUTUP DAFTAR PUSTAKA BIOGRAFI PENYUSUN 48 49 52
45 COBAN BINANGUN DAFTAR GAMBAR 17 MUSA PARADISIACA 25 PLECTRANTHUS SCUTELLARIOIDE 11 TINGKAT TAKSON 13 SISTEM KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP 17 PSIDIUM GUAJAVA FAGUS SILVATICA 27 29 CARYA CORDIFORMIS RUELLIA TUBEROSA LINN. 31 33 MARANTA ARUNDINACEA LINN. CARICA PAPAYA 35 37 TRADESCANTIA SPATHACEA DRACAENA COMPACTA 39 41 CODIAEUM VARIEGATUM DIAGRAM KUNCI DIKOTOM 43 TABEL PENGAMATAN MORFOLOGI Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 3
KOMPETENSI DASAR INDIKATOR PEMBELAJARAN 3.2 Mengklasifikasikan makhluk hidup dan benda berdasarkan karakteristik yang diamati 3.2.1 Menjelaskan pengertian klasifikasi makhluk hidup 3.2.2 Menjelaskan tujuan dan manfaat klasifikasi makhluk hidup 3.2.3 Menjelaskan macam-macam klasifikasi makhluk hidup 3.2.4 Mengidentifikasi ciri-ciri makhluk hidup yang ada di lingkungan sekitar 3.2.5 Menjelaskan perbedaan ciri-ciri pada makhluk hidup berdasarkan karakteristiknya 3.2.6 Melakukan pengamatan terhadap makhluk hidup yang ada di lingkungan sekitar 3.2.7 Mengelompokkan ciri makhluk hidup berdasarkan prinsip klasifikasi 3.2.8 Menyimpulkan hasil pengamatan makhluk hidup 4.2 Menyajikan hasil pengklasifikasian makhluk hidup dan benda di lingkungan sekitar berdasarkan karakteristik yang diamati 4.2.1 Menyajikan hasil pengamatan melalui laporan hasil percobaan 4.2.2 Mempresentasikan hasil percobaan di depan kelas KOMPETENSI DASAR SMP/MTS KELAS VII MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 4
Plintahan adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Desa Plintahan memiliki sumber mata air yang saat ini dimanfaatkan sebagai sumber pengairan desa. Mata air tersebut berbentuk air terjun yang terletak di dusun Binangun, sehingga dikenal dengan nama Coban Binangun. Pemerintah desa bersinergi mengembangkan ekowisata desa Coban Binangun sebagai alternatif desa wisata dan ikon Desa Plintahan. Plintahan termasuk dalam salah satu desa yang memiliki potensi wisata desa yaitu air terjun Coban Binangun. Wisata air terjun Coban Binangun ini telah banyak dikunjungi oleh wisatawan dan sebagai desa binaan akademisi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) sejak tahun 2020. Tempatnya yang asri dikelilingi oleh perkebunan dan pepohonan rindang menjadikan suasana Coban Binangun ini nyaman sebagai tempat santai sambil bermain air. Lingkungan Coban Binangun ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) tentunya didukung dengan adanya segala jenis tumbuhan yang tumbuh subur pada jenis tanah ini. Oleh karena itu, berpusat pada potensi tersebut, pada katalog digital ini akan di kupas mengenai potensi tumbuhan khususnya Kingdom Plantae Divisi Spermatophyta (Tumbuhan Berbiji) yang ada di lingkungan Coban Binangun, Pandaan, Pasuruan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 5
Indonesia adalah salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia (megabiodiversity countries). Keanekaragaman hayati tersebut meliputi tumbuhan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan keanekaragaman tumbuhan tersebut, perlu adanya sebuah cara untuk mengelompokkan tumbuhan berdasarkan karakteristiknya atau disebut Klasifikasi. Klasifikasi dilakukan berdasarkan perbedaan yang tampak pada ciri atau sifat yang dimiliki oleh setiap organisme, misalnya bentuk, ukuran, struktur, warna, dan habitatnya. (Akmaliyah, 2013) Morfologi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk luar tumbuhan meliputi organ vegetatif (akar, batang, daun) dan organ generatif (bunga, buah, dan biji) pada tumbuhan. Studi morfologi dan taksonomi didasarkan pada bahan riil yang harus ada lazimnya disebut spesimen. Suatu spesimen dapat berupa tubuh tumbuhan yang lengkap yang terdiri atas bagian vegetatif (akar, batang, dan cabang daun) dan bagian generatif (bunga, buah, dan biji) untuk tumbuhan golongan Spermatophyta (Syamwisna, 2011). Jenis tumbuhan di Indonesia yang memiliki tingkat keanekaragaman tinggi adalah tumbuhan berbiji (Spermatophyta), yang terbagi menjadi dua golongan yaitu Angiospermae (berbiji tertutup) dan Gymnospermae (berbiji terbuka) serta persebarannya paling banyak di Indonesia. Air Terjun Coban Binangun adalah salah satu desa wisata populer yang ada di Dusun Binangun, Desa Plintahan, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Coban Binangun ini memiliki beraneka ragam tumbuhan maupun pepohonan, termasuk tumbuhan berbunga yang merupakan ciri utama dari tumbuhan berbiji (spermatophyta). Ditinjau dari keindahan alamnya, Coban Binangun memiliki potensi berlimpah yang bisa digunakan sebagai sumber belajar atau wisata edukasi. Tumbuhan berbiji (spermatophyta) yang ditemukan telah disusun dalam sebuah katalog digital guna mempermudah dalam pengelompokan dan sumber belajar siswa. 1.2 TINJAUAN PUSTAKA Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 6
APA ITU KLASIFIKASI? MENGAPA PERLU DIKELOMPOKKAN? BAGAIMANA DASAR DARI KLASIFIKASI ITU SENDIRI? KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP KKiinnggddoomm PPllaannttaaee Untuk mempermudah mengenali, membandingkan, dan mempelajari makhluk hidup Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri-ciri yang dimiliki Mendeskripsikan ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis yang lain Mengetahui hubungan kekerabatan antar makhluk hidup Memberi nama makhluk hidup yang belum diketahui namanya Makhluk hidup terdiri dari keanekaragaman juta spesies dan masing-masing spesies memiliki ciri-ciri morfologi yang dimiliki. Untuk mempermudah mengenali tumbuhan, digunakan klasifikasi atau pengelompokan yang bertujuan: Klasifikasi (pengelompokan) semua jenis barang berdasarkan karakteristik tertentu. Mengapa hal tersebut dilakukan? Pengelompokan dilakukan guna membedakan anggota satu kelompok dengan kelompok lainnya dan mempermudah dalam mencarinya. Dasar klasifikasi digunakan dalam melakukan klasifikasi berdasarkan ciri-ciri fisik, morfologi, cara bereproduksi, manfaat, ciri-ciri kromosom, kandungan gen di dalam kromosom, dan kandungan zat biokimia. Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 7
Sistem Klasifikasi makhluk hidup telah dikenal sejak zaman Ahli filosof Yunani, Aristoteles (384-322 SM) mengelompokkan makhluk hidup ke dalam dua kelompok besar yaitu kelompok hewan (animalia) dan kelompok tumbuhan (plantae). Namun keberadaan organisme mikroskopis belum dikenal pada saat itu. Sistem klasifikasi makhluk hidup terus mengalami kemajuan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Sistem klasifikasi makhluk hidup dikelompokan dalam satu-satuan kelompok besar yang disebut Kingdom. Sistem kingdom yang pertama diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. Sistem kingdom pun terus mengalami perubahan dan perbaikan hingga sekarang dan sering menjadi pro dan kontra bagi para ilmuwan. Beberapa sistem klasifikasi makhluk hidup yang telah diperkenalkan oleh para ahli adalah : 1) Sistem Dua kingdom 2) Sistem Tiga Kingdom SEJARAH KLASIFIKASI SIAPA SIH PENEMU KLASIFIKASI ITU? Sistem yang dikembangkan oleh ilmuwan Swedia yaitu Carolus Linnaeus tahun 1735. Makhluk hidup dibagi menjadi 2 kingdom yaitu: a) Kingdom Animalia (Dunia Hewan) dengan ciri–ciri: tidak memiliki dinding sel, tidak berklorofil, dan mampu bergerak bebas. b) Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan) dengan ciri–ciri: memiliki dinding sel, berklorofil, dan mampu berfotosintesis. Sistem ini dikembangkan oleh ahli Biologi Jerman (Ernst Haeckel) tahun 1866. Makhluk hidup dibagi menjadi 3 kingdom yaitu: a) Kingdom Animalia (Dunia Hewan) dengan ciri-ciri: heterotrof, eukariot multiseluler, dan dapat bergerak. b) Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan) dengan ciri-ciri: autotrof, eukariot multiseluler, berklorofil, dan mampu berfotosintesis. c) Kingdom Protista berciri: organisme bersel satu atau uniseluler dan organisme multiseluler sederhana. Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 8
3) Sistem Empat kingdom 4) Sistem Lima Kingdom 5) Sistem Enam Kingdom Namun hingga sekarang yang diakui sebagai sistem klasifikasi standar adalah sistem Lima Kingdom yang ditemukan oleh Whittaker. (Made Suastikarani, 2019) Pada tahun 1970-an seorang mikrobiologi bernama Carl Woese dan peneliti lain dari Univercity Of Illinois menemukan suatu kelompok bakteri yang memiliki ciri unik dan berbeda dari anggota kingdom Monera lainnya. Kelompok tersebut dinamakan Archaebacteria. Archaebacteria lebih mendekati makhluk hidup eukariotik dibandingkan bakteri lain yang merupakan prokariot. Hal tersebut menyebabkan terciptanya sistem klasifikasi 6 kingdom pemisah kingdom Archaebacteria dari anggota kingdom Monera lain yang kemudian disebut Eubacteria. Adapun keenam kingdomnya adalah: a) Kingdom Animalia (Dunia Hewan), b) Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan), c) Kingdom Protista, d) Kingdom Mycota (Dunia Jamur), e) Kingdom Eubacteria, f) Kingdom Archaebacteria. Sistem Ini dikembangkan oleh ahli Biologi Amerika (Herbert Copeland) tahun 1956. Makhluk hidup dibagi menjadi 4 kingdom yaitu: a) Kingdom Animalia (Dunia Hewan), b) Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan), c) Kingdom Protista, dan d) Kingdom Monera. Sistem ini dikembangkan oleh ahli Biologi Amerika (Robert H. Whittaker) tahun 1969. Makhluk hidup dibagi menjadi 5 kingdom yaitu: a) Kingdom Monera, b) Kingdom Protista,, c) Kingdom Fungi (Dunia Jamur) dengan ciri-ciri: eukariotik, heterotrof, tidak berklorofil, dinding sel dari zat kitin, d) Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan), dan e) Kingdom Animalia (Dunia Hewan). Dari kelima kingdom yang telah dibahas tersebut. Pada katalog digital ini akan berfokus mengupas tuntas mengenai Kingdom Plantae atau Dunia Tumbuhan. Yuk lanjutkan! Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 9
APA SAJA MACAM-MACAM SISTEM KLASIFIKASI? Pengelompokan makhluk hidup dapat dilakukan dengan berbagai sistem. Sistem pengelompokan tersebut yaitu artifisial, natural, dan filogeni. 1) Klasifikasi Sistem Alami (Natural) 2) Klasifikasi Sistem Buatan (Artifisial) Sistem Artifisial adalah klasifikasi yang menggunakan satu atau dua ciri pada makhluk hidup. Sistem ini disusun dengan menggunakan ciri-ciri atau sifat-sifat yang sesuai dengan kehendak manusia, atau sifat lainnya. Adapun ciri yang digunakan berupa struktur morfologi, anatomi dan fisiologi (terutama alat reproduksi dan habitatnya). Misalnya klasifikasi tumbuhan dapat menggunakan dasar habitat (tempat hidup), habitus atau berdasarkan perawakan (berupa pohon, perdu, semak, ternak dan memanjat). Tokoh sistem Artifisial antara lain Aristoteles yang membagi makhluk hidup menjadi dua kelompok, yaitu tumbuhan (plantae) dan hewan (animalia). Ia pun membagi tumbuhan menjadi kelompok pohon, perdu, semak, terna serta memanjat. Tokoh lainnya adalah Carolus Linnaeus yang mengelompokkan tumbuhan berdasarkan alat reproduksinya. Klasifikasi sistem alami dirintis oleh Michael Adams dan Jean Baptiste de Lamarck. Sistem ini menghendaki terbentuknya kelompok-kelompok takson yang alami. Artinya anggota-anggota yang membentuk unit takson terjadi secara alamiah atau sewajarnya seperti yang dikehendaki oleh alam. Klasifikasi sistem alami menggunakan dasar persamaan dan perbedaan morfologi (bentuk luar tubuh) secara alami atau wajar. Contoh: a. Hewan dikelompokkan berdasarkan: 1). Cara geraknya: hewan berkaki dua, berkaki empat, tidak berkaki, hewan bersayap, hewan bersirip. 2). Penutup tubuh: hewan berbulu, bersisik, berambut, dan bercangkang. b. Tumbuhan dikelompokkan berdasarkan jumlah keping biji: tumbuhan berkeping biji satu dan berkeping biji dua. Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 10
3) Klasifikasi Sistem Filogenetik Dengan kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan, para ahli mengembangkan beberapa sistem klasifikasi makhluk hidup. Para ahli membagi makhluk hidup menjadi beberapa sistem kingdom. (Made Suastikarani, 2019) Klasifikasi sistem filogenetik muncul setelah teori evolusi dikemukakan oleh para ahli biologi. Pertama kali dikemukakan oleh Charles Darwin pada tahun 1859. Menurut Darwin, terdapat hubungan antara klasifikasi dengan evolusi. Sistem filogenetik disusun berdasarkan jauh dekatnya kekerabatan antara takson yang satu dengan yang lainnya. Selain mencerminkan persamaan dan perbedaan sifat morfologi dan anatomi maupun fisiologinya, sistem ini pun menjelaskan mengapa makhluk hidup semuanya memiliki kesamaan molekul dan biokimia, tetapi berbeda-beda dalam bentuk susunan dan fungsinya pada setiap makhluk hidup. Jadi pada dasarnya, klasifikasi sistem filogenetik disusun berdasarkan persamaan fenotip yang mengacu pada sifat-sifat bentuk luar, tingkah laku yang dapat diamati, dan pewarisan keturunan yang mengacu pada hubungan evolusioner sejak jenis nenek moyang hingga cabang-cabang keturunannya. Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 11 Gambar 1.1 Sumber: Blog Ruang Guru
Kingdom plantae terbagi menjadi 3 divisi, yaitu: Tumbuhan Paku (Pterydophyta) Tumbuhan Lumut (Bryophyta) Tumbuhan Berbiji (Spermatophyta) Kingdom Plantae atau dikenal dengan tumbuhan adalah salah satu organisme eukariotik multiseluler dengan dinding sel dan klorofil. Klorofil (zat hijau daun) berfungsi dalam proses fotosintesis, sehingga tumbuhan mampu membuat makanan sendiri (autotrof). Plantae atau kingdom tumbuhan adalah mahkluk hidup bersel banyak yang mempunyai kloroplas. Di dalam kloroplas terkandung klorofil. Oleh karena memiliki klorofil, maka tumbuhan dapat melakukan fotosintesis. Sel tumbuhan termasuk eukariot (memiliki membran inti) dan dinding selnya tersusun dari selulosa. Tumbuhan umumnya memiliki akar, batang, dan daun, kecuali beberapa jenis tumbuhan yang memiliki akar semu (rizoid), seperti pada briophyta (tumbuhan lumut). Perkembangbiakan tumbuhan terjadi secara kawin maupun tak kawin. (Made Suastikarani, 2019) APA ITU KINGDOM PLANTAE? KINGDOM PLANTAE DDuunniiaa TTuummbbuuhhaann ADA BERAPA DIVISI? Divisi (filum) adalah salah satu takson tertinggi tingkatnya membawahi kelas yang berkerabat. Divisi mengacu pada peringkat taksonomi tanaman yang peringkatnya di atas kelas dan di bawah kerajaan. Pada katalog ini, akan berfokus membahas mengenai Divisi Spermatophyta dari potensi ekowisata Coban Binangun. Yuk simak, jangan sampai ketinggalan! Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 12
Ketiga cara ini meskipun mirip tetapi memiliki sedikit perbedaan. Taksonomi istilah kata Yunani. Komponennya taksi dan nomos. Sementara taksi berarti pengaturan, nomos berarti hukum. Jadi taksonomi didefinisikan sebagai "teori dan praktek pada pengklasifikasian organisme. Pengklasifikasian mahluk hidup berdasarkan taksonomi dapat dibagi dalam beberapa bagian pertama adalah kingdom. Setiap kingdomnya dibagi lagi menjadi beberapa filum (untuk hewan) dan divisi (untuk tumbuhan), kemudian setiap filum atau divisi dibagi lagi menjadi beberapa ordo, setiap ordo dibagi lagi menjadi beberapa famili, setiap famili dibagi lagi menjadi beberapa genus, dan setiap genus dibagi lagi menjadi beberapa spesies (jenis). Semakin tingggi tingkatan taksonnya, semakin sedikit persamaan ciri yang akan dijumpai. (Desiani et al., 2016) Tingkatan takson merupakan tingkatan dari suatu unit atau kelompok makhluk hidup yang disusun mulai dari tingkat paling tinggi hingga tingkat paling rendah. Gambar di atas adalah urutan tingkatan takson dalam klasifikasi mulai dari tingkat paling tinggi hingga tingkat paling rendah. Ilmu tentang klasifikasi makhluk hidup disebut taksonomi. MARI KITA MENGENAL TINGKATAN TAKSON MAKHLUK HIDUP Inisiasi taksonomi sistem dikenalkan oleh Aristotle (384-322 BC). Aristotle menekankan bahwa hewan dapat diklasifikasikan menurut cara hidup, perilaku, kebiasan, habitat dan bagian tubuh [18]. Pengelompokan organisme menurut para ahli biologi dapat dilkukan dengan tiga cara yaitu taksonomi, sistematika dan klasifikasi. Gambar 1.2 Takson Klasifikasi Sumber: Jatikom.com Taksonomi adalah ilmu untuk menentukan dan memberi nama kelompok organisme berdasarkan karakteristik dasar yang sama. Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 13
Tau gak sih? Ternyata makhluk hidup itu punya TATA NAMA loh Untuk memudahkan penamaan makhluk hidup, digunakanlah sistem penamaan ilmiah yang disebut tata nama ganda atau Binomial nomenclature. Binomial nomenclature adalah pemberian nama dengan dua nama atau disebut dengan tata nama ganda, yaitu selalu menggunakan dua kata nama genus dan nama spesies. Dengan metode ini, suatu jenis makhluk hidup akan memiliki nama yang berbeda dengan makhluk hidup dari jenis yang lain. Pemberian nama ilmiah pada setiap makhluk hidup bertujuan agar spesies mudah dikenali dan menghindari kesalah pahaman. Sehingga nama ilmiah berlaku secara universal. Sistem tata nama yang terkenal adalah sistem dwi-tata nama (binomial nomenklatur) atau tata nama biner yang dikemukakan oleh Carolus Linnaeus. Berikut ini dijelaskan ketentuan-ketentuan untuk memberi nama takson tingkat jenis, marga dan suku. A. Nama Jenis (Spesies) Menggunakan bahasa latin atau yang dilatinkan Nama jenis untuk hewan maupun tumbuhan harus terdiri atas dua kata tunggal (mufrad). Misalnya, tanaman jagung nama spesiesnya (jenis) Zea mays. Burung merpati nama spesiesnya Columbia livia Kata pertama merupakan nama marga (genus), sedangkan kata kedua, merupakan petunjuk spesies atau petunjuk jenis Dalam penulisan nama marga, huruf pertama dimulai dengan huruf besar, sedangkan nama petunjuk jenis, seluruhnya menggunakan huruf kecil Setiap nama jenis (spesies) makhluk hidup ditulis dengan huruf cetak miring atau digaris-bawahi agar dapat dibedakan dengan nama atau istilah lain. Contoh nama jenis badak jawa adalah Rhinoceros sondaicus atau Rhinoceros sondaicus, nama jenis tanaman karet adalah Hevea brasiliensis atau Hevea brasiliensis Jika nama tersusun dari tiga kata, maka kata ke dua dan tiga digabung penulisannya atau diberi tanda penghubung. Contoh: Nama kembang sepatu adalah Hibiscus rossasinensis, maka ditulis menjadi Hibiscus rosasinensis atau Hibiscus rossa-sinensis. Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 14
Dalam dunia tumbuhan, divisi merupakan tingkatan takson di bawah kingdom. Misalnya, Kingdom Plantae terdiri atas tiga divisi yaitu Bryophyta (lumut), Pteridophyta (paku) dan Spermatophyta (tumbuhan berbiji). Divisi tumbuhan, nama divisi selalu menggunakan akhiran - phyta. Anggota takson pada setiap filum atau divisi dikelompokkan lagi berdasarkan persamaan ciri tertentu menjadi takson kelas. Nama kelas diberi akhiran -opsida. Misalnya, tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) memiliki dua kelas, yaitu Magnoliopsida (dikotil) dan Liliopsida (monokotil). Anggota takson pada setiap kelas dibagi menjadi beberapa ordo (bangsa) berdasarkan persamaan ciri-ciri yang lebih spesifik. Nama ordo biasanya menggunakan akhiran -ales. Contoh, Magnoliopsida (dikotil) memiliki ordo Solanales, Cucurbitales dan Malvales. Anggota takson pada setiap ordo dikelompokkan lagi menjadi beberapa familia berdasarkan persamaan ciri lebih spesifik lagi. Nama akhiran takson familia menggunakan akhiran -aceae misalnya Cucurbitaceae, Asteraceae dan Poaceae. Anggota takson setiap familia dikelompokkan lagi menjadi beberapa genus berdasarkan persamaan ciri yang lebih khusus. Kaidah penulisan nama genus yaitu huruf pertama ditulis kapital dan dicetak miring atau digaris bawah. Contoh jagung (Zea) dan padi (Oryza). (Buku siswa SMP Kelas VII) B. Nama Marga (Genus) Nama marga tumbuhan maupun hewan terdiri atas suku kata yang merupakan kata benda berbentuk tunggal (mufrad) Huruf pertamanya ditulis dengan huruf besar. Contoh, marga tumbuhan Solanum (terong-terongan), marga hewan Felis (kucing), dan sebagainya. C. Nama Suku (Familia) Nama suku diambil dari nama marga yang ditambah akhiran -acceae untuk tumbuhan dan ditambah -idae untuk hewan. Contoh : Nama suku untuk tanaman terung-terungan adalah Solanacceae. Solanacceae berasal dari nama marga Solanum ditambah akhiran acceae Nama suku hewan kucing adalah Felidae. Felidae berasal dari nama marga Felis ditambah akhiran idae. Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 15
Apakah sobat pernah mendengar istilah kunci determinasi atau sering disebut kunci klasifikasi? Lalu, apa sih sebenarnya kunci determinasi itu? Untuk mengidentifikasi makhluk hidup yang baru saja dikenal, kita memerlukan alat pembanding berupa gambar, realia atau spesimen (awetan hewan dan tumbuhan), hewan atau tumbuhan yang sudah diketahui namanya, atau kunci identifikasi. Kunci identifikasi disebut juga kunci determinasi. Penggunaan kunci determinasi pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. Namun, sebenarnya Lammarck (1778) juga pernah menggunakan kunci modern untuk identifikasi. Salah satu kunci identifikasi ada yang disusun dengan menggunakan ciri-ciri taksonomi yang saling berlawanan. Tiap langkah dalam kunci tersebut terdiri atas dua alternatif (dua ciri yang saling berlawanan) sehingga disebut kunci dikotomi. Penggunaan kunci identifikasi merupakan cara yang paling sering digunakan untuk mengidentifikasi tumbuhan maupun hewan, terutama bagi yang tidak memilih spesimen acuan. Identifikasi dengan kunci identifikasi harus dilakukan secara bertahap, karena setiap kunci identifikasi memiliki keterbatasan kemampuan berbeda. Ada kunci yang mengidentifikasi sampai famili, genus atau sampai spesies. Format pada kunci identifikasi biasanya dikotom yang dikenal dengan kunci dikotom. Kunci dikotom merupakan kunci identifikasi dengan menelusuri dua jalur yang ditetapkan oleh keputusan beraturan dengan setiap pilihannya adalah biner (karena hanya ada dua alternatif). Kunci dikotom terdiri dari sederetan bait atau kuplet yang diberi nomor dan setiap bait terdiri dari dua baris disebut penuntun. Penuntun berisi ciri-ciri yang bertentangan antara satu dengan lain dan ditandai dengan huruf. Ciri tersebut disusun sedemikian rupa sehingga pemakaian kunci identifikasi memiliki satu diantara dua dan beberapa sifat yang bertentangan dan seterusnya, yang akhirnya ditemukan satu identitas (Made Suastikarani, 2019). KUNCI DETERMINASI APA ITU KUNCI DETERMINASI? Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 16
Dalam membuat kunci determinasi itu tidak boleh sembarangan yah, ada beberapa aturan yang harus dipatuhi dalam membuat kunci determinasi. Dasar yang dipergunakan kunci determinasi ini adalah identifikasi dari makhluk hidup dengan menggunakan kunci dikotom. Penasaran? Kaidah-kaidah dalam membuat kunci determinasi: Kunci harus dikotom, yang terdiri atas dua ciri yang berlawanan Kata pertama dari setiap kuplet harus identik, contoh : a. Tumbuhan berdaun tunggal........... b. Tumbuhan berdaun majemuk........ Kedua pilihan atau bagian dari kuplet harus berlawanan sehingga satu bagian bisa diterima dan yang lain ditolak Hindari pemakaian kisaran yang tumpang tindih atau relatif Kuplet memuat pernyataan positif (misal: letak daun berhadapan) Gunakan sifat-sifat yang bisa diamati Pernyataan dua kuplet yang brurutan jangan dimulai dengan kata yang sama Setiap kuplet diberi nomor Buat kalimat pertanyaan yang pendek. Hasil Identifikasi Kunci Determinasi Dari hasil identifikasi yang telah di lakukan, maka buatlah diagram klasifikasi biner atau diagram dikotomi seperti di bawah ini ! Selanjutnya diagram tersebut dibuat dalam bentuk pernyataan yang berlawanan sebagai kunci determinasi. (Made Suastikarani, 2019) Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 17 Gambar 1.3 Tabel Pengamatan Morfologi Sumber: Scribd.com Gambar 1.4 Diagram Kunci Dikotom Sumber: usd.ac.id
Kunci Determinasi Tumbuhan: 1 a. Tidak mempunyai batang ........................................ 2b b. Mempunyai batang ......................………………….... 3b 2 a. Tidak mengandung klorofil ...……………….............. Jamur b. Mempunyai klorofil ..........………………………......... Ganggang 3 a. Tidak mempunyai bunga .....…………………............ Lumut dan Paku b. Tumbuhan berbunga .....………………………............ 4 4 a. Berkeping satu/akar serabut …………...................... Monokotil b. Berkeping dua/akar tunggang ……........................... Dikotil Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 18 Contoh lain, Kunci Determinasi Tumbuhan: 1 a. Tumbuhan yang berspora ........................................ 2a b. Tumbuhan yang tidak berspora ......................……... 3a 2 a. Tumbuhan yang berbatang jelas .....……….............. Suplir b. Tumbuhan yang tidak berbatang jelas ..........………. Lumut 3 a. Berbiji tertutup .....................…………………............ 4a b. Berbiji terbuka ...............………………………............ Belinjo 4 a. Biji berkeping dua ..................…………...................... 5a b. Biji berkeping satu ……............................................. Jagung 5 a. Berbunga kupu-kupu .........…………......................... Kedelai b. Berbunga terompet ................................................... Terung Cara Membaca Kunci Determinasi: Baca dengan teliti setiap kunci determin yang digunakan di awal, misalnya nomor 1a Cocokkan ciri pada kunci tersebut dengan ciri makhluk hidup yang sedang diamati Apabila ciri tersebut tidak sesuai dengan ciri makhluk hidup yang diamati, maka alihkan ke nomor selanjutnya. Misalnya ciri makluk hidup tidak sesuai dengan kunci determinasi 1a, maka alihkan ke nomor 1b Apabila ciri yang didapatkan pada kunci tersebut sesuai dengan ciri organisme yang dimiliki, catat nomor tersebut. kemudian lanjutkan dengan membaca kunci nomor yang dipakai sesuai dengan nomor yang tertulis di belakang tiap pernyataan Jika satu pernyataan dipilih, maka pernyataan yang lain dihitung gugur. Misalnya Anda memilih kunci determin 1a, maka kunci determin 1b tidak boleh Anda pilih Lanjutkan terus dengan memilih kunci determin yang memiliki kemiripan sampai mendapatkan jenis spesies yang sesuai dengan kunci tersebut. 1. 2. 3. 4. 5. 6.
Tumbuhan Berbiji Tertutup (Angiospermae) Tumbuhan Berbiji Terbuka (Gymnospermae) Spermatophyta (Tumbuhan berbiji) merupakan kelompok tumbuhan yang memiliki tingkat perkembangan filogenetik. Spermatophyta berasal dari bahasa Yunani yaitu sperm yang berarti biji dan phyta dari kata python yang berarti tumbuhan. Spermatophyta memiliki ciri utama menghasilkan biji sebagai alat perkembangbiakan. Biji dalam Spermatophyta merupakan alat reproduksi generatif karena pembentukan biji dimulai dengan peristiwa seksual. Juga disebut sebagai embriofit siphonogama yang artinya memiliki embrio dan berkembang biak melalui bejana. Spermatophyta tersusun atas akar, batang, daun sejati (cormophyta) dan dilengkapi dengan jaringan xilem dan floem. Spermatophyta berkembang biak secara seksual dengan penyerbukan atau secara vegetatif yang tidak lepas dari peran bunga. Bunga-bunga berperan dalam reproduksi generatif (aseksual) yang ditandai dengan penyerbukan. Oleh karenanya, tumbuhan berbiji juga dicirikan dengan adanya bunga sehingga sering disebut dengan tumbuhan berbunga (Anthophyta). (Nugroho et al., 2022) DIBAGI MENJADI BERAPA SUB-DIVISI? DIVISI SPERMATOPHYTA APA SIH DIVISI SPERMATOPHYTA ITU? Divisi (filum) adalah salah satu takson tertinggi tingkatnya membawahi kelas yang berkerabat. Divisi mengacu pada peringkat taksonomi tanaman yang peringkatnya di atas kelas dan di bawah kerajaan. Kali ini akan dibahas mengenai Divisi Spermatophyta. TAHUKAH KAMU? Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 19 TTuummbbuuhhaann BBeerrbbiijjii
BAGAIMANA CIRI-CIRINYA? Tumbuhan Biji Terbuka Tumbuhan Biji Tertutup Habitus Semak, perdu atau pohon Terna, semak, perdu, pohon Akar Sistem akar tunggang Sistem akar serabut dan akar tunggang Batang Tegak lurus, bercabangcabang Bermacam-macam, bercabangcabang atau tidak Daun Jarang berdaun lebar Jarang bersifat majemuk Sistem pertulangan tidak banyak ragamnya Kebanyakan berdaun lebar Tunggal atau majemuk dengan komposisi beraneka ragam Beraneka ragam sistem pertulangan Bunga Bunga sesungguhnya belum ada, sporofil terpisah-pisah, atau membentuk strobilus jantan dan betina Bunga ada, tersusun dari sporofil plus bagian-bagian lain Tabung sari dibentuk setelah terjadi penyerbukan (jatuhnya serbuk sari di kepala putik) Biji yang dihasilkan pada umumnya mengandung embrio atau calon tumbuhan baru yang masih bersifat dorman Pada saat ini tumbuhan berbiji merupakan kelompok tumbuhan yang paling banyak jumlahnya dalam dunia tumbuhan Sifat utama dari tumbuhan biji terbuka atau Gymnospermae adalah biji yang terbuka atau “telanjang”. Biji tumbuh terbedah ke udara yang keluar dari permukaan strobilus atau sisik runjung muncul di antara daun-daun. Pada tumbuhan berbiji tertutup atau Angiospermae biji tumbuh di atas jaringan bakal buah atau ovarium atau di bagian struktur bunga yang lain. (Dr. MARINA SILALAHI, 2017) Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 20
APA ITU GYMNOSPERMAE? BAGAIMANA CARANYA REPRODUKSI? ADA BERAPA KELAS? Gymnospermae berasal dari Bahasa Yunani yaitu “gymnos” berarti terbuka dan “sperma” berarti biji, yaitu kelompok tumbuhan yang bakal bijinya tidak terlindungi oleh daun buah (karpel) atau bijinya berada pada bilah-bilah strobilus berbentuk sisik (Fabiana Meijon Fadul, 2019). Kelompok tumbuhan ini disebut berbiji terbuka atau telanjang, karena bijinya tidak dilindungi oleh daun buah (Upi, 2018). Pada Gymnospermae, biji terekspos langsung atau terletak diantara daun-daun penyusun strobilus atau runjung. Biji berkembang dengan baik pada permukaan sisik atau daun, sering bermodifikasi membentuk kerucut atau di bagian akhir tangkai yang pendek. Terdapat sekitar 800-900 jenis dan telah dilaporkan bahwa kelompok Conifers mempunyai keanekaragaman yang tertinggi (500-600) jenis diikuti kelompok Cycads (75-80) jenis. (Bimrew Sendekie Belay, 2022) SUB-DIVISI Gymnospermae Berbiji Terbuka Gymnospermae bereproduksi secara generative (seksual) dengan membentuk biji. Alat reproduksi berupa strobilus. Penyerbukan hampir selalu dengan cara anemogami atau dengan bantuan angin. Serbuk sari jatuh (pada tetes penyerbukan) langsung pada bakal biji. Jarak waktu antara penyerbukan sampai pembuahan relatif panjang (Fabiana Meijon Fadul, 2019). Gymnospermae terbagi menjadi 4 kelas, yaitu: Cycads Conifers Ginkgo Gnetales Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 21
CIRI-CIRI TUMBUHAN GYMNOSPERMAE Ciri-ciri Keterangan Bakal biji Hanya mempunyai satu integumen terbuka Batang Tegak lurus, bercabang-cabang Daun Bentuknya bermacam-macam, kaku, dan selalu hijau yang didalamnya terdapat berkas-berkas pengangkutan yang tidak bercabang atau bercabang menggarpu Jarang berdaun lebar, jarang bersifat majemuk Sistem pertulangan tidak banyak ragamnya Bunga Bunga sesungguhnya belum ada. Sporofil jantan dan betina terpisah sehingga dapat dibedakan ciri fisiknya atau membentuk strobilus jantan dan strobilus betina Makrosporofil (daun buah) dengan bakal biji (makrosporangium) yang tampak menempel padanya Akar Sistem akar tunggang Habitus Semak, perdu, atau pohon APA AJA SIH MANFAATNYA? Bahan bangunan Bahan industri Tanaman hias Bahan makanan Obat-obatan Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 22
APA ITU ANGIOSPERMAE? Angiospermae berasal dari Bahasa Yunani “angeion” berarti wadah dan “spermae” berarti biji, yang memiliki bunga sebagai alat perkembangbiakan secara generatif yaitu kelompok tumbuhan yang bakal bijinya selalu diselubungi oleh suatu badan yang bersal dari daun-daun buah yang dinamakan bakal buah (Fabiana Meijon Fadul, 2019). Kelompok tumbuhan ini adalah yang paling banyak jumlah jenisnya dari semua tumbuhan tinggi, meliputi ±300.000 spesies. Tumbuhan biji tertutup sangat penting bagi kehidupan manusia maupun hewan, karena tumbuhan inilah yang menyediakan hampir semua bahan makanan yang berasal dari tumbuhan. Biji pada kelompok tumbuhan ini memiliki cadangan makanan yang disebut keping biji (kotiledon), sebagai pertumbuhan awal jika biji tumbuh (Upi, 2018). Angiospermae merupakan bukti dari garis panjang pengembangan evolusioner pada organ reproduksinya, yang dikenal dengan bunga. Kedudukan tertinggi pada tanaman tidak hanya dilihat pada banyaknya jumlah anggota, tetapi juga oleh kompleksnya tubuh atau strukturnya serta cakupan sebaran populasinya. Angiospermae mengacu pada fakta bahwa tumbuhan pada kelompok ini menghasilkan buah yang terbentuk dari ovarium yang menutup dan melindungi benih. Adanya bunga inilah yang membedakan Angiospermae dari semua kelompok tumbuhan lainnya. Organ reproduksinya terletak pada bunga. Adapun waktu antara penyerbukan dan pembuahan relatif pendek dan proses fertilisasinya tidak membutuhkan air sebagai medianya. Bunga pada Angiospermae memiliki bagian steril yaitu mahkota dan kelopak, sedangkan bagian reproduksinya memiliki benang sari (jantan), dan putik (betina) (Bimrew Sendekie Belay, 2022). SUB-DIVISI Angiospermae Berbiji Tertutup Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 23
CIRI-CIRI TUMBUHAN ANGIOSPERMAE Ciri-ciri Keterangan Bakal biji Diselubungi oleh suatu badan yang bersal dari daun-daun buah yang dinamakan bakal buah Batang Bermacam-macam, bercabang-cabang atau tidak Daun Kebanyakan berdaun lebar Tunggal atau majemuk dengan komposisi beraneka ragam Sistem pertulangannya beraneka ragam Bunga Bunga ada. Tersusun dari sporofil plus bagian-bagian lain Makrosporofil (daun buah) membentuk badan yang disebut putik dengan bakal biji di dalamnya (tidak tampak) Makrosporofil dan mikrosporofil (benang sari) terpisah atau terkumpul pada satu bunga Akar Sistem akar serabut dan akar tunggang Habitus Terna, semak, perdu, atau pohon Pembeda Tumbuhan Monokotil Tumbuhan Dikotil Akar Akar serabut Akar tunggang Batang Tidak berkambium Berkambium Daun Daun berbentuk pita dan panjang Bertulang daun sejajar atau melengkung Daun lebar berbentuk beranekaragam Tulang daun menyirip atau menjari Bunga Berjumlah 3 atau kelipatan Berjumlah 2, 4, 5/kelipatan Berkas pengangkut Pembuluh kayu dan pembuluh tapis tersebar Pembuluh kayu dan pembuluh tapis teratur Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 24
KLASIFIKASI 1. Psidium guajava BAB II PEMBAHASAN 2.1 KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN BERBIJI Gambar 1.2 Akar Jambu Biji Gambar 1.3 Batang Jambu Biji Gambar 1.4 Daun Jambu Biji Gambar 1.1 Bibit Pohon Jambu Biji Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledone Bangsa : Myrtales Suku : Myrtaceae Marga : Psidium Jenis : Psidium guajava L. Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 25
Siapa yang takenal jambu biji? Daya adaptasinya yang sangat luas, perbanyakannya yang mudah, serta dapat dibudidayakan di negara tropis dan subtropis membuat jambu biji menjadi komoditas pertanian yang penting di banyak negara. Di Asia, produksi jambu biji terkonsentrasi di Taiwan, China, Filiphina, dan Indonesia. Jambu biji berasal dari Amerika tropis, tumbuh pada tanah yang gembur maupun liat, pada tempat terbuka, dan mengandung air yang cukup banyak. Tanaman jambu biji (P. guajava L.) ditemukan pada ketinggian 1 m sampai 1.200 m dari permukaan laut. Jambu biji berbunga sepanjang tahun. Perdu atau pohon kecil dengan tinggi 2 m - 10 m dengan percabangan banyak. Memiliki batang berkayu, keras, kulit batang licin berwarna coklat kehijauan. Jumlah dan jenis tanaman ini cukup banyak, diperkirakan sekitar 150 spesies di dunia. Lalu, dimana kita dapat menjumpai tanaman Psidium guajava ini? Tanaman jambu biji (Psidium guajava) mudah dijumpai di seluruh daerah tropis dan subtropis, seringkali ditanam di pekarangan rumah. Tanaman ini sangat adaptif dan dapat tumbuh tanpa pemeliharaan. (Rochmasari, 2014) Untuk mempermudah kita mengenali jenis tumbuhan Psidium guajava, alangkah baiknya kita memahami ciri-ciri dari tumbuhan ini yang dapat mudah diamati. Daun jambu biji tergolong daun tidak lengkap karena hanya terdiri dari tangkai (Petiolus) dan helaian (Lamina) saja yang disebut daun bertangkai. Dilihat dari letak bagian terlebarnya pada daunnya, bagian terlebar daun jambu biji (P. guajava L.) berada di tengahtengah dan memiliki bagian jorong karena perbandingan panjang: lebarnya adalah 1,5 - 2 : 1 (13 – 15 : 5,6 – 6 cm). Memiliki tulang daun menyirip yang mana daun ini memiliki satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung dan merupakan terusan tangkai daun dari ibu tulang ke samping, keluar tulang cabang, sehingga susunannya mirip pada susunan sirip ikan. Jambu biji memiliki ujung daun yang tumpul, umumnya warna daun bagian atas tampak lebih hijau jika dibandingkan sisi bawah daun. Tangkai daun berbentuk silindris dan tidak menebal pada bagian tangkainya. (Rochmasari, 2014). Buahnya berbentuk bulat tidak sempurna dengan kumpulan biji di dalam daging buahnya yang berwarna putih berserat. Bunga jambu berwarna putih yang mekar dengan banyak putik di atas mahkotanya. Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 26 DESKRIPSI
KLASIFIKASI Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Super divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Sub kelas : Commelinidae Ordo : Zingiberales Famili : Musaceae Genus : Musa Spesies : Musa paradisiaca Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman pisang merupakan tanaman asli daerah Asia Tenggara dengan pusat keanekaragaman utama wilayah Indo-Malaya. Tanaman pisang termasuk dalam golongan terna monokotil tahunan berbentuk pohon yang tersusun atas batang semu. 2. Musa paradisiaca Gambar 2.2 Akar Pisang Gambar 2.3 Batang Pisang Gambar 2.4 Daun Pisang Gambar 2.1 Pohon Pisang Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 27 DESKRIPSI
Batang semu ini merupakan tumpukan pelepah daun yang tersusun rapat teratur dengan ketebalan 20-50 cm. Percabangan tanaman bertipe simpodial dengan meristem ujung memanjang dan membentuk bunga lalu buah. Bagian bawah batang pisang menggembung berupa umbi yang disebut bonggol. Pucuk lateral (sucker) muncul dari kuncup pada bonggol yang selanjutnya tumbuh menjadi tanaman pisang. Buah pisang umumnya tidak berbiji atau bersifat partenokarpi. Lantas dimana kita dapat menanam pohon pisang? Tanaman pisang dapat ditanam dan tumbuh dengan baik pada berbagai macam topografi tanah, baik tanah datar ataupun tanah miring. Produktivitas pisang yang optimum akan dihasilkan pisang yang ditanam pada tanah datar pada ketinggian di bawah 500 m di atas permukaan laut dan keasaman tanah pada pH 4,5-7,5. Suhu harian berkisar antara 250°C-270°C dengan curah hujan 2000-3000 mm/tahun. Lalu, berapa kali pohon pisang dapat menghasilkan buah? Pisang merupakan tanaman yang berbuah hanya sekali, kemudian mati. Tingginya antara 2-9 m, berakar serabut dengan batang bawah tanah (bonggol) pendek. Dari mata tunas pada bonggol inilah bisa tumbuh tanaman baru. Daun paling muda terbentuk di bagian tengah tanaman, keluarnya menggulung dan terus tumbuh memanjang, kemudian secara progresif membuka. Helaian daun bentuknya lanset memanjang, mudah koyak, panjang 1,5-3 m, lebar daun 30-70 cm, permukaan bawah daun berlilin, tulang tengah daun sebagai penopang jelas disertai tulang daun yang nyata, tersusun sejajar dan menyirip, berwarna hijau. Pisang mempunyai bunga majemuk, dimana setiap kuncup bunga dibungkus oleh seludang berwarna merah kecoklatan. Seludang akan lepas dan jatuh ke tanah jika bunga telah membuka. Bunga betina akan berkembang secara normal, sedang bunga jantan di ujung tandan tidak berkembang dan tetap tertutup oleh seludang yang disebut sebagai jantung pisang. Setiap kelompok bunga disebut sisir, tersusun dalam tandan. Jumlah sisir betina antara 5-15 buah. buahnya buah buni, bulat memanjang, membengkok, tersusun seperti sisir dua baris dengan kulit berwarna hijau, kuning, atau coklat. Setiap kelompok buah atau sisir terdiri dari beberapa buah pisang, berbiji atau tanpa biji dengan bentuk kecil, bulat, warna hitam. Buahnya dapat dipanen setelah 80-90 hari sejak keluarnya jantung pisang. Karena bukan buah musiman, buah pisang selalu ada setiap saat. Buah pisang kebanyakan dimakan segar, diolah menjadi kolak, dikukus, atau diolah lebih lanjut menjadi selai pisang, keripik, atau tepung pisang. (Cookson & Stirk, 2019) Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 28
KLASIFIKASI Kerajaan : Plantae Super divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Bangsa : Lamiales Suku : Lamiaceae Marga : Plectranthus Jenis : Plectranthus scutellarioides (L) 3. Plectranthus scutellarioide Gambar 3.2 Akar Miana Gambar 3.3 Batang Miana Gambar 3.4 Daun Miana Gambar 3.1 Tanaman Miana Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum Gambar 3.5 Bunga Miana Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 29
Menurut de Padua dkk. (1999), habitus tumbuhan iler (Plectranthus scutellarioides (L)) merupakan tanaman herba atau belukar yang biasanya bersifat aromatik. Tanaman ini tersebar di Myanmar, Indo-Cina, Taiwan, Thailand, India, Thailand, hingga utara Australia. Jenis tanaman ini dapat ditemukan di tempat terbuka seperti di tepi sungai, di pinggir jalan, dan area hutan. Menurut Heyne (1987), tanaman iler saat ini menjadi tumbuhan hias yang telah dikembangkan dengan berbagai variasi warna yang indah. Menurut Ridwan (2007), varietas tanaman iler cukup banyak, sehingga cara untuk membedakan antara satu dengan yang lain yaitu dilihat dari warna daun yang berbeda dan beragam yang ditentukan oleh kandungan pigmen di dalam daun. Secara umum, tanaman ini dikenal dengan nama tanaman iler atau miana. Jika dilihat dari morfologinya, tanaman iler merupakan tumbuhan semak, herba tegak dan merayap, tingginya berkisar 30-150 cm, dan masuk dalam kategori tumbuhan basah dengan kondisi batang yang mudah patah. Helai daun berbentuk hati, pangkal membulat atau melekuk menyerupai jantung, merupakan daun tunggal, dan tepian daunnya memiliki lekukan tipis yang bersambung dan panjang tangkai daun 3-4 cm dengan warna yang beranekaragam. Mempunyai tulang daun dengan tipe menyirip yaitu berupa sulur dengan ujung daunnya meruncing. Warna daun ungu kecoklatan hingga ungu kehitaman dengan permukaan daun sedikit mengkilap serta berambut halus dan memiliki panjang 7-11 cm dengan lebar 3-6 cm. Batang bersegi empat, berambut, bercabang banyak dan warnanya ungu kemerahan. Untaian bunga bersusun pada pucuk tangkai batang dengan warna beragam yaitu ungu, putih, dan merah, sedangkan buahnya keras berbentuk seperti telur serta licin. Tanaman ini beraroma khas, jika diremas mengeluarkan bau yang harum, bersifat dingin dan memiliki rasa agak pahit. (Christina Laurentia, 2019) Pada habitat aslinya, dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi pada ketinggian 100-1.600 m diatas permukaan laut, tempatnya berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Oleh karena itu, tumbuhan iler sangat mudah tumbuh subur dan mudah ditemui di berbagai tempat. Pemanfaatannya sudah banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia, antara lain sebagai pelengkap ritual, tanaman hias, dan bahan obat. (Artini, 2018) Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 30 DESKRIPSI
Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Hamamelidae Ordo : Fagales Famili : Fagaceae Genus : Fagus Spesies : Fagus sylvatica L. Fagus sylvatica L., atau beech Eropa, adalah salah satu pohon berdaun lebar terpenting dan tersebar luas di Eropa. Pohon gugur besar dapat mempertahankan tingkat pertumbuhannya yang tinggi hingga jatuh tempo. Meskipun tidak menuntut jenis tanah, pohon beech membutuhkan suasana lembab dengan curah hujan yang terdistribusi baik sepanjang tahun dan tanah yang dikeringkan dengan baik. KLASIFIKASI 4. Fagus silvatica Gambar 4.2 Akar Beech Gambar 4.3 Batang Beech Gambar 4.4 Daun Beech Gambar 4.1 Pohon Beech Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum (http s://im a g e s.a p p.g o o.gl/r Q Uz 4 s HX8 UirT Up g 8) Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 31 DESKRIPSI
Ini mentolerir musim dingin yang keras, tetapi sensitif terhadap embun beku musim semi. Kapasitas sistem akarnya membantu sirkulasi udara di seluruh tanah, dan jumlah kalium dalam daunnya guna menghemat kapasitas produktif tanah lebih baik. Batang kayunya kuat dan dapat dipakai dengan baik sehingga ideal untuk berbagai penggunaan, mulai dari furnitur hingga alat musik, serta untuk pulp dan kayu bakar. Beech Eropa (Fagus sylvatica L.) adalah pohon gugur besar yang biasanya mencapai 30- 40 m dan mampu mencapai ketinggian hingga 50 m di beberapa lokasi. Berbeda dengan banyak spesies pohon lainnya, ia mampu mempertahankan tingkat pertumbuhan yang tinggi hingga usia yang relatif matang. Pohon ini bertangkai tunggal dengan kulit kayu perak keabu-abuan. Daun berukuran 10×7 cm, berwarna hijau tua dan mengkilat. Mereka memiliki bentuk oval hingga elips, dengan tepi bergelombang dan gigi pendek di ujung urat paralel di setiap sisi. Beech berumah satu: bunga jantan dan betina ditanggung pada cabang yang sama. Ia memiliki rentang hidup yang khas sekitar 150-300 tahun, dan bereproduksi sangat terlambat 40-50 tahun. Berbuah biasanya setiap 5-8 tahun. Produksi bijinya dicirikan oleh tahun tiang yang tidak teratur (ketika tanaman yang sangat lebat dihasilkan), biasanya mengikuti musim panas yang terik di tahun sebelumnya. Kacang pahit yang dapat dimakan berbentuk segitiga tajam dan ditanggung sendirisendiri atau berpasangan dalam sekam yang berduri lunak. Beech adalah spesies yang kuat. Ini mentolerir situasi yang sangat teduh (itu adalah pohon berdaun lebar yang paling toleran terhadap naungan dalam jangkauannya), sehingga regenerasi alami dimungkinkan dalam sistem silvikultur dengan tutupan tajuk yang terus menerus karena bibit mampu bertahan dan tumbuh di bawah kanopi pohon yang sudah mapan. Ia tidak terlalu peka terhadap tanah dan tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan kisaran pH dari 3,5-8,5, meskipun tidak dapat mentolerir kondisi yang paling asam. Beech menunjukkan kemampuan pengasaman tanah sedang. Ini lebih menyukai tanah yang cukup subur, terklasifikasi atau sedikit asam dan juga peka terhadap embun beku. Oleh karena itu, lebih sering ditemukan di sisi bukit daripada di dasar cekungan tanah liat. Tumbuh baik pada tanah lunak yang mudah ditembus oleh sistem perakaran dan pertumbuhan optimalnya adalah pada tanah lembab yang terletak pada batuan induk berkapur atau vulkanis. Sistem perakarannya cenderung dangkal, sehingga rentan terhadap kekeringan jika dibandingkan dengan tegakan jenis konifera. (Rigo et al., 1925) Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 32
Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Juglandales Famili : Juglandaceae Genus : Carya Spesies : Carya cordiformis Amerika Serikat Bagian Tenggara adalah pusat keanekaragaman hayati (Carya spp.), dengan 12 dari 18 spesies di seluruh dunia. Keluarga Juglandaceae, diklasifikasikan menjadi dua bagian: dengan sisik kuncup yang berkelopak, sebagian besar 7-17 selebaran, dan sekam buah bersayap di jahitan dengan enam atau lebih tangga nada yang tumpang tindih, 5-7 selebaran, dan sekam tidak bersayap atau bergaris. KLASIFIKASI 5. Carya cordiformis Gambar 5.2 Akar Carya cordiformis Gambar 5.3 Batang Carya cordiformis Gambar 5.4 Daun Carya cordiformis Gambar 5.1 Pohon Carya cordiformis Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 33 DESKRIPSI
Carya cordiformis adalah pohon sedang hingga besar, tinggi 40-100 m, diameter 1-3 m pada saat dewasa, dengan cabang yang kokoh dan menyebar, batang yang panjang dan bersih dengan sedikit lancip. Pohon yang tumbuh cepat dengan akar yang dalam dan tersebar luas. Daun berseling, majemuk menyirip ganjil, panjang 10-18 cm, lebar 10 cm, dengan 7-11 (kebanyakan 9) selebaran. Daun ramping, meruncing panjang atau bulat telur lebar, tepian daun bergigi halus, hijau cerah di atas dan lebih pucat di bawah. Ranting cukup kokoh, abu-abu sampai coklat kehijauan, berbulu sampai awal musim panas, dan dengan lentisel pucat dan lonjong. Bijinya berwarna putih kecoklatan dan homogen. Tunas berwarna kuning belerang, bulat telur, dengan sisik berkerut. Kuncup biasanya memanjang, panjang satu setengah inci, bersudut empat, dan miring di puncak. Menyamping kuncup lebih kecil dan sering miring menjauh dari ranting (terutama di dekat puncak). Bekas daun berbentuk tiga lobus hingga hati, dengan bekas luka bundel dalam tiga kelompok, atau tersebar. Kulit kayu berwarna abu-abu, tipis dan berwarna terang, tidak kusut, terkadang sedikit diwarnai kuning atau merah, umumnya halus, kecuali berkerut dangkal pada batang besar. Terdapat banyak variasi dan mereka sulit dikenali dari kulit kayunya, bentuk, dan jumlah anak daun, karena pohon yang tinggi memiliki sedikit daun. Buahnya adalah kacang pahit, panjang 2–3 cm (3⁄4–1+1⁄4 inci) dengan penutup empat katup berwarna hijau yang terbelah saat jatuh di musim gugur, dan cangkang keras bertulang. Beraroma harum, terutama saat hijau. Tumbuh di lembah pegunungan lembab di sepanjang tepian sungai dan di rawa-rawa. Meskipun biasanya ditemukan di tanah dasar yang basah, ia tumbuh di tempat kering dan juga tumbuh dengan baik di tanah miskin nutrisi rendah. Produksi benih dimulai sekitar 25-30 tahun, dengan tanaman maksimum pada 50-100 tahun. Tanaman besar diproduksi setiap 3-5 tahun, dengan lebih sedikit di antaranya. Kacang tetap bertahan di tanah setidaknya selama satu tahun. Masa hidup Carya cordiformis sekitar 200 tahun dan tumbuh ke ukuran yang lebih kecil dengan tinggi 100 kaki. Carya cordiformis mudah bertunas dari tunggal dan akar setelah cedera dan dari mahkota. Carya cordiformis memiliki jangkauan geografis terbesar, lebih sedikit rentan terhadap kerusakan akibat embun beku. (Suparyanto dan Rosad (2015, 2020) Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 34
Kerajaan : Plantae Sub kerajaan : Tracheobionta Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dycotiledoneae Bangsa : Lamiales Suku : Acanthaceae Marga : Ruellia Jenis : Ruellia tuberosa Linn. Ruellia tuberosa Linn. atau tanaman pletekan termasuk famili Acantacheae. Habitus Rubellia tuberosa Linn. berupa herba tegak dan merupakan tumbuhan musiman yang dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 1 m dan memiliki banyak percabangan. Batang tumbuhan berdiri tegak dengan pangkal sedikit berbaring, bersegi, massif, berbentuk segiempat tumpul, berwarna hijau keunguan serta permukaannya tertutup rambut-rambut halus dan pendek. KLASIFIKASI 6. Ruellia tuberosa Linn. Gambar 6.2 Akar Ruellia tuberosa Linn. Gambar 6.3 Batang Ruellia tuberosa Linn. Gambar 6.4 Daun Ruellia tuberosa Linn. Gambar 6.1 Ruellia tuberosa Linn. Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum Gambar 6.5 Bunga Ruellia tuberosa Linn. Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 35 DESKRIPSI
Buah yang masih muda berwarna hijau, sedang buah yang sudah masak berwarna coklat yang jika terkena air akan meletus dan terlepas serta terlempar dari tangkainya (Fabiana Meijon Fadul, 2019b). Terna, berkayu di bagian bawah, tegak, hijau dengan semburat coklat keunguan, berlentisel, nodus batang membengkak, berakar adventisia, internodus panjang 0,5-2,8 cm. Daun tunggal, berhadapan, tangkai daun sangat pendek, panjang 0,5- 1,6 cm, tepi gundul atau bersilia, helaian daun melonjong, melanset atau memita, 2,5-16×0,5-2 cm, pangkal menirus, tepi rata bergerigi, ujung melancip, permukaan adaksial, daun hijau hingga hijau tua, permukaan abaksial daun pucat. Perbungaan terbatas, aksilar, menggarpu, gagang perbungaan berkanal, panjang 2,3-85 cm, hijau gelap, daun gagang memita, 0,6-1,4×0,15-0,3 cm, ujung melancip, gantilan hingga panjang 0,3-1 cm, daun kelopak saling berlekatan di bagian pangkal panjang 1-2 cm, bercuping 5, cuping menyetiga sempit memita, daun mahkota berbentuk terompet, saling berlekatan, ungu, jambon pucat, atau putih. (Irsyam et al., 2022) Acanthaceae merupakan salah satu suku yang dikelompokkan dalam bangsa Lamiales. Suku ini tersebar di Kawasan tropis dan subtropis serta terdiri dari 3.000 jenis yang tercakup ke dalam 250 marga. Berdasarkan catatan Backer dan Bakhuizen van den Brink (2965), pulau Jawa memiliki sekitar 67 marga dan 162 jenis Acanthaceae. Jenis-jenis tumbuhan dari suku Acanthaceae pada umumnya memiliki warna daun dan bunga yang menarik sehingga sering dibudidayakan sebagai tanaman hias. Ruellia merupakan marga terbesar kedua dalam suku Acanthaceae karena mencakup sebanyak 300 jenis yang tersebar di Kawasan tropis dan subtropis. Anggota marga ini memiliki bentuk perawakan yang sangat bervariasi, mulai dari terna, perdu, hingga pohon. Ruellia simplex tumbuh di tepi jalan, daerah sekitar aliran sungai, padang rumput, dan lahan-lahan marginal. Mampu tumbuh dalam berbagai kondisi lingkungan, mulai dari lahan berair hingga habitat yang hampir kering. Kemampuan yang tinggi dalam beradaptasi menyebabkannya dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, seperti tanah liat, masam, berpasir, lempung, dan tanah yang basah. Jenis ini toleran terhadap kondisi terdedah sinar matahari maupun kurang mendapatkan sinar matahari. Jumlah helai bunga akan bertambah pada kondisi terdedah cahaya matahari dan akan berkurang ketika tumbuh di tempat yang ternaungi. Berkembang biak secara generative melalui buahnya yang masak dan kering akan membengang, sehingga biji akan terlontar keluar dan memencar dan perkembangbiakan generative dilakukan dengan rimpang atau melalui fragmentasi batang (Irsyam et al., 2022). Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 36
Kerajaan : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Bangsa : Zingerbales Suku : Marantaceae Marga : Maranta Jenis : Maranta arundinacea Linn. KLASIFIKASI Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 7. Maranta arundinacea Linn Gambar 7.2 Akar Maranta arundinacea Linn. Gambar 7.3 Batang Maranta arundinacea Linn. Gambar 7.4 Daun Maranta arundinacea Linn. Gambar 7.1 Maranta arundinacea Linn Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum Gambar 7.5 Bunga Maranta arundinacea Linn. 37
Tanaman garut (Maranta arundinacea Linn.) termasuk dalam familia Manantaceae, termasuk tanaman semak semusim dengan tinggi mencapai 75-90 cm. Garut adalah salah satu tanaman ubi-ubian yang strategis sebagai sumber karbohidrat untuk mengurangi ketergantungan pangan pada beras dan gandum. Tanaman ini berasal dari Amerika khususnya daerah tropik, kemudian menyebar ke negara-negara tropik lainnya seperti Indonesia, India, Srilanka, dan Philipina. Jenis tanaman ini tumbuh baik pada tanah lembab dan di tepat-tempat yang terlindung. Umbinya banyak mengandung tepung pati yang sangat halus dan mudah dicerna. Tanaman ini juga dimanfaatkan sebagai tanaman hias karena daunnya indah. Tanaman garut banyak dijumpai tumbuh liar di pinggiran jalan, tegalan yang tidak diusahakan petani, di bawah naungan pohon buah-buahan. (Ii & Pustaka, 2014) Tanaman Garut (Maranta arundinacea Linn.) yaitu tegak, berumpun, dan merupakan tanaman tahunan. Tinggi tanaman mencapai 1-1,5 m dengan batang berdaun dan memiliki percabangan menggarpu. Tumbuh baik pada lahan dengan ketinggian 0-900 dpl dan paling baik pada ketinggian 60-90 m. Masa panen tanaman ini berlangsung dari bulan Mei-Agustus. Tanaman ini tidak membutuhkan perawatan khusus dan kasus hama penyakit yang menjangkit relatif sedikit. Batang tanaman memiliki tinggi 75-90 cm, batang semu, bulat, membentuk rimpang, dan berwarna hijau. Daun tunggal, bulat memanjang, ujung runcing, bertulang menyirip, Panjang 10-27 cm, lebar 4,5 cm berpelepah, berbulu, dan berwarna hijau. Bunga majemuk bentuk tandan, kelopak bunga hijau muda, mahkota berwarna putih, buah memiliki garis tengah 1 cm, bentuk kotak dan agak bulat dengan bulu menyelimuti badan buah. Umbi garut berwarna putih ditutupi dengan kulit yang bersisik berwarna coklat muda, berbentuk silinder (Deskripsi & Tanaman, 2000). Bentuk tanaman ini adalah herba yang merumpun, tingginya 1-1,5 m dengan perakaran dengkal dan rhizome 20-45 cm, sedang diameternya 2-5 cm. Agar tanaman garut dapat hidup subur dan berproduksi tinggi, diperlukan syarat untuk hidupnya yaitu memerlukan curah hujan minimum 150-200 cm per bulan. Tanah yang digemari adalah tanah lempung berpasir yang banyak mengandung mineral vulkanik. Umbi garut memiliki banyak manfaat, yakni dapat digunakan sebagai pengganti bahan makanan pokok dan sebagai obat-obatan (Ii & Pustaka, 2014). Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 38 DESKRIPSI
Kerajaan : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dycotiledoneae Bangsa : Caricales Suku : Caricaceae Marga : Carica Jenis : Carica papaya L. Pepaya merupakan tanaman yang berasal dari Meksiko bagian selatan dan bagian utara dari Amerika Selatan. Tanaman ini menyebar ke Benua Afrika dan Asia serta India. Dari India, tanaman ini menyebar ke berbagai negara tropis, termasuk Indonesia di abad ke-17. suku Caricaceae memiliki empat marga yaitu Carica, Jarilla, Jacaranta, dan Cylicomorpha. Ketiga marga pertama merupakan tanaman asli Meksiko bagian selatan serta bagian utara dari Amerika Selatan, sedangkan marga keempat merupakan tanaman yang berasal dari Afrika. KLASIFIKASI 8. Carica papaya Gambar 8.2 Akar Carica papaya Gambar 8.3 Batang Carica papaya Gambar 8.4 Daun Carica papaya Gambar 8.1 Carica papaya Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum http s://im a g e s.a p p.g o o.gl/s My9f6 VZfg Q b R G kZA Gambar 8.5 Bunga Carica papaya Gambar 8.6 Buah Carica papaya Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 39 DESKRIPSI
Marga Carica memiliki 24 jenis, salah satu diantaranya adalah papaya (helio duvaizem, 2009). Bentuk dan susunan tubuh bagian luar tanaman pepaya termasuk tumbuhan yang umur sampai berbunganya dikelompokkan sebagai tanaman buah-buahan semusim, namun dapat tumbuh setahun lebih. Sistem perakarannya memiliki akar tunggang dan akar-akar cabang yang tumbuh mendatar ke semua arah pada kedalaman 1 meter atau lebih menyebar 60-150 cm dari pusat batang tanaman. Batang tanaman berbentuk bulat lurus, bagian tengahnya berongga, dan tidak berkayu. Ruas-ruas batang tempat melekatnya tangkai daun yang panjang, berbentuk bulat, dan berlubang. Menurut (Nandasari, 1995), batang mengandung banyak getah dan air pada semua bagian tanaman kecuali akar dan biji. Daun pepaya merupakan daun tunggal dan bertulang menjari dengan warna permukaan atas hijau tua dan bawah hijau muda. Pohon ini biasanya tidak bercabang, terdapat benjolan bekas tangkai daun yang sudah rontok. Daun terkumpul di ujung batang menjari. Buah berbentuk bulat hingga memanjang tergantung jenisnya, buah muda berwarna hijau dan buah tua kekuningan atau jingga, berongga besar di tengahnya, tangkai buah pendek, biji berwarna hitam diselimuti lapisan tipis (helio duvaizem, 2009). Buah berkulit tipis, tidak mudah dilepas dari daging buah, daging buah tebal, biji banyak. Ketika sudah masak rasanya sedikit manis sampai manis sekali. Umumnya tanaman pepaya tumbuh pada tanah lembab subur dan tidak tergenang air, karena akarnya cepat busuk apabila keadaan tanah tergenang air. Dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 0-1000 m di atas permukaan laut. Pertumbuhannya termasuk cepat antara 10-12 bulan setelah ditanam. Biji akan tumbuh setelah 12-14 hari penanaman. Suhu optimal pertumbuhan berkisar 22-26°C, suhu minimum 15°C, dan suhu maksimum 43°C. Tinggi tanaman mencapai 10 m (Nandasari, 1995). Buah pepaya sangat popular karena banyak manfaatnya yaitu mengandung vitamin A dan C serta rasanya manis. Di Eropa dan negara maju lainnya, pepaya dimakan sebagai buah segar atau sari buahnya diminum pada pagi hari sebelum sarapan untuk memperlancar pencernaan. Pepaya dikenal memiliki bunga majemuk bertangkai panjang dan bercabang serta dapat berbunga sepanjang tahun (helio duvaizem, 2009). Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 40
Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Subkelas : Commelinidae Ordo : Commelinales Famili : Commelinaceae Genus : Tradescantia Spesies : Tradescantia spathacea Sw KLASIFIKASI 9. Tradescantia spathacea Gambar 9.2 Akar Tradescantia spathacea Gambar 9.3 Batang Tradescantia spathacea Gambar 9.4 Daun Tradescantia spathacea Gambar 9.1 Tradescantia spathacea Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 41
Tanaman Tradescantia spathacea berasal dari Meksiko dan Hindia Barat. Tanaman berupa herba dengan tinggi pohon antara 40-60 cm. Batangnya pendek dan kasar, serta tidak mempunyai percabangan. Menurut (Ii & Pustaka, 2008), panjang daun lebih dari 30 cm dengan lebar 2,5-6 cm dan merupakan daun tunggal berbentuk lonjong, permukaan atas berwarna hijau dan permukaan bawah berwarna merah keunguan. Batangnya merupakan bunga majemuk, berbentuk mangkok, muncul di ketiak daun, terbungkus kelopak seperti kerang, mahkota bunga berbentuk segitiga, terdiri atas tiga lembaran berwarna putih. Perbanyakan tumbuhan Tradescantia spathacea ini dengan menggunakan biji. Dirawat dengan disiram air yang cukup, dijaga kelembapan tanahnya, dan di pupuk dengan pupuk organik (Onainor, 2019). Tumbuhan ini juga memiliki bunga yang berwarna putih dan berbentuk bunga kerang. Tumbuh subur pada daerah tanah yang lembab. Daun Tradescantia spathacea merupakan salah satu tumbuhan yang tergolong ke dalam tanaman hias varigata. Tanaman varigata adalah segala tanaman yang menampilkan dua warna atau lebih pada daunnya, yang berbeda dengan induknya. Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 42 DESKRIPSI
Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Famili : Lyliaceae Ordo : Lyliales Genus : Dracaena Spesies : Dracaena compacta KLASIFIKASI 10. Dracaena compacta Gambar 10.2 Akar Dracaena compacta Gambar 10.3 Batang Dracaena compacta Gambar 10.4 Daun Dracaena compacta Gambar 10.1 Dracaena compacta Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 43
Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan beruas-ruas. Daun dracaena berbentuk tunggal, tidak bertangkai, dan pelepah memeluk batang. Selain itu, daun dracaena bertepi rata, panjang daun 10-20 cm, lebar daun 3-5 cm, pertulangan daun sejajar, permukaan daun licin, dan daun berwarna hijau bercampur merah maroon. Lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan dracaena adalah pada ketinggian 600-1000 m dpl dengan temperatur 24°C-32°C pada intensitas cahaya 55- 75% dan pH tanah 5,5-6,5. Tanaman hias dracaena secara umum dapat ditanam pada setiap jenis tanah. Faktor terpenting adalah tanah tersebut gembur dan berdraenase baik. Perbanyakan tanaman hias dracaena secara vegetative memiliki tingkat keberhasilan tinggi dan kualitas yang dihasilkan dari perbanyakan secara vegetative relatif sama. (Ariana, 2016) Dracaena adalah tanaman tropis. Di Indonesia, beberapa varian dracaena dianggap tumbuhan liar atau tanaman kebun yang kondisinya kurang terawat dan keindahannya tidak terlihat. Di Inggris dan AS, dracaena telah popular disebut tanaman hias. Dracaena banyak manfaatnya digunakan untuk mendekorasi rumah kontemporer dan berteknologi tinggi. Tanaman ini sebenarnya sudah dikenal sejak zaman Victoria. Dracaena lebih menyukai kondisi hangat dengan suhu minimal 55 Fahrenheit, dinaungi cahaya. Mempertahankan media tanam agar tetap lembab, dilakukan pengasapan secara teratur, ganti media sekali dalam 2 tahun, dan melakukan perbanyakan melalui pemotongan batang, atau penanaman mahkota atau kelopak. Varietas ini dapat mencapai tinggi hingga 10 kaki, kecil dan panjang daun-daun. Spesies dasar ini berwarna hijau daun dengan tepi merah. Varietas tiga warna memiliki 3 warna yaitu kuning, hijau dan merah sehingga menghasilkan efek keemasan hijau. (Pengolahan, n.d.) Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 44 DESKRIPSI
Kingdom : Plantae Subkingdom : Viridiplantae Infrakingdom : Streptophyta Superdivisi : Embryophyta Divisi : Tracheophyta Subdivisi : Spermatophyta Kelas : Magnoliopsida Super ordo : Rosanae Ordo : Malpighiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Codiaeum Juss Spesies : Codiaeum variegatum (L.) Rumph KLASIFIKASI 11. Codiaeum variegatum (L.) Rumph Gambar 11.2 Akar Codiaeum variegatum Gambar 11.3 Batang Codiaeum variegatum Gambar 11.4 Daun Codiaeum variegatum Gambar 11.1 Codiaeum variegatum Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 45
Tanaman puring adalah tanaman hias yang popular ditanam di pekarangan rumah karena bentuk dan warna daunnya yang menarik dan bervariasi. Tanaman puring berasal dari kepulauan Indonesia dan telah menyebar ke daerah beriklim tropis dan subtropis. Banyak varietas tanaman puring telah dikembangkan dengan variasi warna mulai dari hijau, kuning, jingga, merah, ungu, dan campuran warna tersebut. Akar tanaman puring merupakan akar tunggang dan berwarna kuning muda. Termasuk dalam tanaman semak atau pohon kecil yang tingginya mencapai 4 meter. Batang puring berbentuk bulat, berkayu, keras, dan bercabang banyak serta berwarna cokelat kehijauan. Daun puring memiliki bentuk bermacam-macam yaitu bulat oval, lonjong, jorong, atau pita. Tepi daun puring juga bervariasi, ada yang merata, bergelombang dengan ujung daun runcing atau tumpul. Daun puring tersusun selang seling atau berhadap-hadapan dan duduk di ruas batang utama. Memiliki warna yang bermacam-macam yaitu hijau tua, kombinasi hijau, cokelat, merah, dan kuning. Terdapat corak bintik-bintik, garis-garis, atau belang-belang pada permukaan daun. Daun dan tangkainya mempunyai getah berwarna putih transparan. Puring memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah pada tandan yang berbeda. Bunga puring adalah bunga telanjang, benang sari berjumlah banyak dan tersusun berangkai pada satu tangkai. Tangkai bunga halus berukuran panjang, daun kelopak berjumlah lima dan melekat pada pangkal. Daun mahkota sangat kecil, kelopak berlekuk lima. Buah puring berbentuk bulat berdiameter 2 mm dan berwarna kehijauan. Bijinya berukuran kecil seperti pasir dan berwarna cokelat di dalam buah. Tanaman ini dikenal dengan nama tarimas, pudieng, karoton, katomas, atau susurite. Sedangkan nama asingnya yaitu Croton atau Garden croton. DESKRIPSI Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 46
Diagram dikotomi tersebut buat dalam bentuk pernyataan yang berlawanan sebagai kunci determinasi Dari hasil identifikasi di tabel tersebut, buatlah diagram atau bagan dikotomi dari klasifikasi yang telah kamu lakukan. AYO BERLATIH! Mari membuat kunci klasifikasi! Bagaimana caranya? Amati tanaman yang ada di sekitar sekolah atau rumahmu (minimal 5 tanaman). Amatilah ciri morfologinya (bagian akar, batang, daun, bunga, dan buah). Tuliskan hasil identifikasi pengamatanmu dalam bentuk tabel! (Ingat! Berdasarkan karakteristiknya yah, jangan sampai salah) Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 47
BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Saat ini, seiring perkembangan zaman yang semakin pesat memberikan dampak yang cukup signifikan bagi lingkungan. Yang mana lingkungan termasuk tumbuhan sangat berperan penting bagi kehidupan makhluk hidup. Sebuah kenyataan bahwa dengan adanya tumbuhan yang rimbun dan hijau dapat membantu lingkungan yang rusak agar hidup dan kembali asri, sehingga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, dari problematika lingkungan yang ada saat ini, tumbuhan tidak dapat hidup dan memperbaikinya sendiri. Banyak sekali keanekaragaman tumbuhan yang tumbuh subur dengan jenisnya masing-masing. Oleh karena itu, katalog digital ini telah sedikit memberikan pemahaman bahwa tumbuhan sangat beranekaragam dan dikelompokkan berdasarkan ciri-cirinya masing-masing. Dimana tumbuhan Spermatophyta (Tumbuhan berbiji) diklasifikasikan dalam beragam spesies. Beragam spesies yang memiliki tingkat kemampuan pertumbuhan dan keunikannya terhadap lingkungan. Untuk dapat mengenal dan mengetahui hal tersebut dilengkapi dengan metode yang tepat yaitu klasifikasi. 3.2 SARAN Katalog Digital Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 48 Ditujukan kepada kalangan anak-anak usia sekolah menengah pertama, mari kita meningkatkan kesadaran untuk mencintai dan mengenal lingkungan tempat kita tinggal. Manusia hidup memerlukan adanya penyesuaian terhadap lingkungan. Sesuatu hal kecil yang memberi dampak berkepanjangan alangkah baik untuk dilakukan. Dengan kita mempelajari tumbuhan yang hidup di sekitar kita, akan dengan mudah memberikan pemahaman baru bagi kita untuk wawasan dan edukasi kepada orang di sekeliling supaya banyak yang mempelajarinya. Harapan yang lain, semoga akan lebih banyak bacaan sebagai bahan edukasi dan penelitian terkait tumbuhan berbiji supaya semua jenis tumbuhan dapat dikelompokkan berdasarkan karakteristiknya. Banyaknya wawasan tentang keragaman tumbuhan tersebut menjadi alternatif untuk menjaga kelestarian populasi tumbuhan tersebut.