APA ITU ANGIOSPERMAE? Angiospermae berasal dari Bahasa Yunani “angeion” berarti wadah dan “spermae” berarti biji, yang memiliki bunga sebagai alat perkembangbiakan secara generatif yaitu kelompok tumbuhan yang bakal bijinya selalu diselubungi oleh suatu badan yang bersal dari daun-daun buah yang dinamakan bakal buah (Fabiana Meijon Fadul, 2019). Kelompok tumbuhan ini adalah yang paling banyak jumlah jenisnya dari semua tumbuhan tinggi, meliputi ±300.000 spesies. Tumbuhan biji tertutup memiliki cadangan makanan yang disebut keping biji (kotiledon), sebagai pertumbuhan awal jika biji tumbuh (Upi, 2018). Kedudukan tertinggi tanaman ini tidak hanya dilihat pada banyaknya jumlah anggota, tetapi juga kompleksnya struktur tubuh serta cakupan sebaran populasinya. Angiospermae menghasilkan buah yang terbentuk dari ovarium yang menutup dan melindungi benih. Adanya bunga inilah yang membedakan Angiospermae dari kelompok tumbuhan lainnya. Organ reproduksinya pada bunga. Waktu antara penyerbukan dan pembuahan relatif pendek dan proses fertilisasinya tidak membutuhkan air sebagai medianya. Bunga pada Angiospermae memiliki bagian steril yaitu mahkota dan kelopak, sedangkan bagian reproduksinya memiliki benang sari (jantan), dan putik (betina) (Bimrew Sendekie Belay, 2022). KELAS ANGIOSPERMAE Berbiji Tertutup E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 49
KENALI CIRI-CIRINYA YUK! Ciri-ciri Keterangan Bakal biji Diselubungi oleh suatu badan yang berasal dari daundaun buah yang dinamakan bakal buah Batang Bermacam-macam, bercabang-cabang atau tidak Daun Kebanyakan berdaun lebar Tunggal atau majemuk dengan komposisi beragam Sistem pertulangan beragam Bunga Bunga ada. Tersusun dari sporofil Makrosporofil (daun buah) membentuk badan yang disebut putik dengan bakal biji di dalamnya Makrosporofil dan mikrosporofil (benang sari) terpisah atau terkumpul pada satu bunga Akar Sistem akar serabut dan akar tunggang Habitus Terna, semak, perdu, atau pohon E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 50
Pembeda Tumbuhan Monokotil Tumbuhan Dikotil Akar Akar serabut Akar tunggang Batang Tidak berkambium Berkambium Daun Daun berbentuk pita dan panjang Bertulang daun sejajar atau melengkung Daun lebar berbentuk beranekaragam Tulang daun menyirip atau menjari Bunga Berjumlah 3 atau kelipatan Berjumlah 2, 4, 5/kelipatan Berkas pengangkut Pembuluh kayu dan pembuluh tapis tersebar Pembuluh kayu dan pembuluh tapis teratur GIMANA CARA BEDAINNYA YAH? E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 51
KLASIFIKASI 1. Jambu Biji KKEEAANNEEKKAARRAAGGAAMMAANN TTUUMMBBUUHHAANN DDIIKKOOTTIILL Gambar 1.2 Akar Jambu Biji Gambar 1.3 Batang Jambu Biji Gambar 1.4 Daun Jambu Biji Gambar 1.1 Bibit Pohon Jambu Biji Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledone Bangsa : Myrtales Suku : Myrtaceae Marga : Psidium Jenis : Psidium guajava L. E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 52
Siapa yang takenal jambu biji? Di Asia, produksi jambu biji terkonsentrasi di Taiwan, China, Filiphina, dan Indonesia. Jambu biji berasal dari Amerika tropis, tumbuh pada tanah yang gembur maupun liat, pada tempat terbuka, dan mengandung air yang cukup banyak. Tanaman jambu biji (P. guajava L.) tumbuh pada ketinggian 1-1.200 m dari permukaan laut. Perdu atau pohon kecil dengan tinggi 2-10 m dengan percabangan banyak. Memiliki batang berkayu, keras, kulit batang licin berwarna coklat kehijauan. Jumlah dan jenisnya diperkirakan 150 spesies di dunia. Lalu, dimana kita bisa menjumpai tanaman Psidium guajava ini? Tanaman jambu biji mudah dijumpai di seluruh daerah tropis dan subtropis, umumnya ditanam di pekarangan rumah. (Rochmasari, 2014) Untuk mempermudah kita mengenali jenis tumbuhan jambu biji, kita harus memahami ciri-cirinya yang dapat mudah diamati. Daun jambu biji tergolong tidak lengkap karena terdiri dari tangkai (Petiolus) dan helaian (Lamina) saja. Bagian terlebar daun berada di tengah-tengah dan memiliki bagian jorong karena perbandingan panjang:lebar adalah 1,5-2 : 1 (13–15 : 5,6–6 cm). Memiliki tulang daun menyirip sehingga susunannya mirip sirip ikan. Jambu biji memiliki ujung daun tumpul, umumnya warna daun bagian atas tampak lebih hijau dibanding sisi bawah daun. Tangkai daun berbentuk silindris. (Rochmasari, 2014). Buah berbentuk bulat tidak sempurna dengan kumpulan biji dalam daging buahnya yang berwarna putih berserat. Bunga jambu berwarna putih yang mekar dengan banyak putik di atas mahkotanya. Jambu biji berbunga sepanjang tahun. DESKRIPSI E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 53
KLASIFIKASI Kerajaan : Plantae Super divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Bangsa : Lamiales Suku : Lamiaceae Marga : Plectranthus Jenis : Plectranthus scutellarioides (L) 2. Tumbuhan Miana Gambar 2.2 Akar Miana Gambar 2.4 Batang Miana Gambar 2.5 Daun Miana Gambar 2.1 Tanaman Miana Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum Gambar 2.3 Bunga Miana E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 54
Menurut de Padua dkk. (1999), habitus tumbuhan iler (Plectranthus scutellarioides (L)) merupakan tanaman herba atau belukar yang tersebar di Myanmar, Indo-Cina, Taiwan, Thailand, India, Thailand, hingga utara Australia. Dapat ditemukan di tempat terbuka seperti di tepi sungai, di pinggir jalan, dan area hutan. Menurut Ridwan (2007), varietas tanaman iler cukup banyak, sehingga cara membedakannya yaitu dilihat dari warna daun yang berbeda dan beragam ditentukan oleh kandungan pigmen dalam daun. Secara umum, tanaman ini dikenal dengan nama tanaman iler atau miana. Tanaman iler merupakan tumbuhan semak, herba tegak dan merayap, tingginya berkisar 30-150 cm, dan kategori tumbuhan basah dengan batang mudah patah. Helai daun berbentuk hati, pangkal membulat atau melekuk menyerupai jantung, daun tunggal, dan tepian daun memiliki lekukan tipis bersambung dan panjang tangkai daun 3-4 cm dengan warna beragam. Tulang daun menyirip berupa sulur dengan ujung meruncing. Warna daun ungu kecoklatan hingga ungu kehitaman dengan permukaan sedikit mengkilap serta berambut halus dan memiliki panjang 7-11 cm dengan lebar 3-6 cm. Batang bersegi empat, berambut, bercabang banyak dan warnanya ungu kemerahan. Bunga bersusun pada pucuk tangkai batang dengan warna beragam yaitu ungu, putih, dan merah, sedangkan buahnya keras berbentuk seperti telur yang licin. Tanaman ini beraroma khas, jika diremas mengeluarkan bau yang harum, bersifat dingin dan memiliki rasa agak pahit. (Christina Laurentia, 2019) Habitatnya dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi pada ketinggian 100-1.600 m diatas permukaan laut, berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Oleh karenanya, tumbuhan ini mudah tumbuh subur dan mudah ditemui di berbagai tempat. Manfaat sudah banyak dilakukan masyarakat Indonesia, antara lain sebagai pelengkap ritual, tanaman hias, dan bahan obat. (Artini, 2018) DESKRIPSI E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 55
Kerajaan : Plantae Sub kerajaan : Tracheobionta Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dycotiledoneae Bangsa : Lamiales Suku : Acanthaceae Marga : Ruellia Jenis : Ruellia tuberosa Linn. KLASIFIKASI 3. Pletekan Gambar 3.2 Akar Pletekan Gambar 3.4 Batang Pletekan Gambar 3.3 Daun Pletekan Gambar 3.1 Pletekan Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum Gambar 3.5 Bunga Pletekan E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 56
Ruellia tuberosa Linn. atau tanaman pletekan termasuk habitus herba tegak dan tumbuhan musiman yang tumbuh mencapai ketinggian 1 m dan memiliki banyak percabangan. Buah muda berwarna hijau, sedang buah masak berwarna coklat yang jika terkena air akan meletus dan terlepas terlempar dari tangkainya (Fabiana Meijon Fadul, 2019b). Terna, berkayu di bagian bawah, tegak, hijau dengan semburat coklat keunguan, berlentisel, nodus batang membengkak, berakar adventisia, internodus panjang 0,5-2,8 cm. Daun tunggal, berhadapan, tangkai daun sangat pendek, panjang 0,5- 1,6 cm, tepi gundul atau bersilia, helaian daun melonjong, melanset atau memita, 2,5-16×0,5-2 cm, pangkal menirus, tepi rata bergerigi. Perbungaan terbatas, aksilar, menggarpu, panjang 2,3-85 cm, hijau gelap, daun memita, 0,6-1,4×0,15-0,3 cm, ujung melancip, gantilan hingga panjang 0,3-1 cm, daun kelopak saling berlekatan di bagian pangkal panjang 1-2 cm, bercuping 5, mahkota berbentuk terompet, saling berlekatan, ungu, jambon pucat, atau putih. (Irsyam et al., 2022) Tersebar di kawasan tropis dan subtropis serta terdiri dari 3.000 jenis yang tercakup 250 marga. Pulau Jawa memiliki sekitar 67 marga dan 162 jenis Acanthaceae. Umumnya memiliki warna daun dan bunga yang menarik sehingga sering dibudidayakan sebagai tanaman hias. Anggota marga ini sangat bervariasi. Ruellia simplex tumbuh di tepi jalan, daerah sekitar aliran sungai, padang rumput, dan lahan marginal. Kemampuan tinggi dalam beradaptasi menyebabkannya dapat tumbuh di berbagai jenis tanah. Jumlah helai bunga akan bertambah pada kondisi cahaya matahari dan akan berkurang ketika tumbuh di tempat yang ternaungi. Berkembang biak secara generative melalui buahnya yang masak sehingga biji akan terlontar keluar dan memencar, perkembangbiakan generatif dilakukan dengan rimpang atau melalui fragmentasi batang (Irsyam et al., 2022). DESKRIPSI E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 57
Kerajaan : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dycotiledoneae Bangsa : Caricales Suku : Caricaceae Marga : Carica Jenis : Carica papaya L. KLASIFIKASI 4. Pepaya Gambar 4.2 Akar pepaya Gambar 4.3 Batang pepaya Gambar 4.4 Daun pepaya Gambar 4.1 Pepaya Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum https://images.app.goo.g l/sMy9f6VZfgQbRGkZA Gambar 4.5 Bunga pepaya Gambar 4.6 Buah pepaya E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 58
Pepaya merupakan tanaman yang berasal dari Meksiko bagian selatan dan bagian utara dari Amerika Selatan. Tanaman ini menyebar ke Benua Afrika dan Asia serta India termasuk Indonesia di abad ke-17. Marga Carica memiliki 24 jenis, salah satunya adalah pepaya (helio duvaizem, 2009). Sistem perakarannya memiliki akar tunggang dan akar-akar cabang yang tumbuh mendatar pada kedalaman 1 meter atau menyebar 60-150 cm dari pusat batang. Batang tanaman berbentuk bulat lurus, tengahnya berongga, dan tidak berkayu. Menurut (Nandasari, 1995), batang mengandung banyak getah dan air pada semua bagian tanaman kecuali akar dan biji. Daun pepaya merupakan daun tunggal, bertulang menjari dengan warna permukaan atas hijau tua dan bawah hijau muda. Pohon biasanya tidak bercabang, terdapat benjolan bekas tangkai daun yang rontok. Buah bulat hingga memanjang, buah muda berwarna hijau dan buah tua kekuningan atau jingga, berongga besar di tengahnya, tangkai buah pendek, biji berwarna hitam diselimuti lapisan tipis (helio duvaizem, 2009). Buah berkulit tipis, daging buah tebal, biji banyak. Ketika sudah masak rasanya manis. Umumnya tanaman pepaya tumbuh di tanah lembab, karena akarnya cepat busuk apabila keadaan tanah tergenang air. Dapat tumbuh di daerah dengan ketinggian 0-1000 m di atas permukaan laut. Pertumbuhannya cepat antara 10-12 bulan setelah ditanam. Biji tumbuh setelah 12-14 hari penanaman. Suhu optimal pertumbuhan berkisar 22-26°C, suhu minimum 15°C, dan suhu maksimum 43°C. Tinggi tanaman mencapai 10 m (Nandasari, 1995). Buah pepaya sangat popular karena banyak manfaatnya yaitu mengandung vitamin A dan C serta rasanya manis. Di Eropa dan negara maju, pepaya dimakan sebagai buah segar atau sari buahnya diminum untuk memperlancar pencernaan. Pepaya dikenal memiliki bunga majemuk bertangkai panjang dan bercabang serta dapat berbunga sepanjang tahun (helio duvaizem, 2009). DESKRIPSI E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 59
Kingdom : Plantae Subkingdom : Viridiplantae Infrakingdom : Streptophyta Superdivisi : Embryophyta Divisi : Tracheophyta Subdivisi : Spermatophyta Kelas : Magnoliopsida Super ordo : Rosanae Ordo : Malpighiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Codiaeum Juss Spesies : Codiaeum variegatum (L.) Rumph KLASIFIKASI 5. Puring Gambar 5.2 Akar puring Gambar 5.4 Batang puring Gambar 5.3 Daun puring Gambar 5.1 Puring Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 60
Tanaman puring adalah tanaman hias popular ditanam di pekarangan rumah karena bentuk dan warna daunnya yang menarik dan bervariasi. Tanaman puring berasal dari kepulauan Indonesia telah menyebar ke daerah beriklim tropis dan subtropis. Banyak varietas tanaman puring telah dikembangkan dengan variasi warna mulai dari hijau, kuning, jingga, merah, ungu, dan campuran warna tersebut. Akar tanaman puring merupakan akar tunggang dan berwarna kuning muda. Termasuk dalam tanaman semak yang tingginya mencapai 4 meter. Batang puring berbentuk bulat, berkayu, keras, dan bercabang banyak serta berwarna cokelat kehijauan. Daun puring memiliki bentuk beragam yaitu bulat oval, lonjong, jorong, atau pita. Tepi daun juga bervariasi, ada yang merata, bergelombang dengan ujung daun runcing atau tumpul. Daun puring tersusun selang seling atau berhadap-hadapan dan duduk di ruas batang utama. Memiliki warna beragam yaitu hijau tua, kombinasi hijau, cokelat, merah, dan kuning. Terdapat corak bintik-bintik, garis-garis, atau belangbelang pada permukaan daun. Daun dan tangkainya mempunyai getah berwarna putih transparan. Puring memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah tandan. Bunga puring adalah bunga telanjang, benang sari berjumlah banyak dan tersusun berangkai pada satu tangkai. Tangkai bunga halus berukuran panjang, daun kelopak berjumlah lima dan melekat pada pangkal. Daun mahkota sangat kecil, kelopak berlekuk lima. Buah puring berbentuk bulat berdiameter 2 mm dan berwarna kehijauan. Bijinya berukuran kecil seperti pasir dan berwarna cokelat di dalam buah. Tanaman ini dikenal dengan nama tarimas, pudieng, karoton, katomas, atau susurite. Sedangkan nama asingnya yaitu Croton atau Garden croton. DESKRIPSI E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 61
KLASIFIKASI Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Super divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Sub kelas : Commelinidae Ordo : Zingiberales Famili : Musaceae Genus : Musa Spesies : Musa paradisiaca 1. Pisang Gambar 1.2 Akar Pisang Gambar 1.4 Batang Pisang Gambar 1.3 Daun Pisang Gambar 1.1 Pohon Pisang Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum KKEEAANNEEKKAARRAAGGAAMMAANN TTUUMMBBUUHHAANN MMOONNOOKKOOTTIILL E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 62
Pisang adalah tanaman buah herba yang berasal dari kawasan Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Merupakan tanaman asli daerah Asia Tenggara dengan pusat wilayah Indo-Malaya. Batang semu pisang merupakan tumpukan pelepah daun yang tersusun rapat dengan ketebalan 20-50 cm. Percabangan simpodial dengan meristem ujung memanjang . Buah pisang umumnya tidak berbiji atau bersifat partenokarpi. Tanaman pisang dapat ditanam dan tumbuh baik pada berbagai macam topografi tanah, baik tanah datar ataupun miring. Produktivitas optimum dihasilkan jika pisang ditanam pada ketinggian di bawah 500 m di atas permukaan laut dan keasaman tanah pada pH 4,5-7,5. Suhu harian berkisar antara 250°C270°C dengan curah hujan 2000-3000 mm/tahun. Lalu, berapa kali pohon pisang dapat berbuah? Pisang berbuah hanya sekali, kemudian mati. Tingginya antara 2-9 m, berakar serabut dengan batang bawah tanah (bonggol) pendek. Daun muda terbentuk di bagian tengah tanaman, keluar menggulung dan tumbuh memanjang, secara progresif membuka. Helaian daun lanset memanjang, mudah koyak, panjang 1,5-3 m, lebar daun 30-70 cm, permukaan bawah daun berlilin, tulang tengah daun sebagai penopang, tersusun sejajar dan menyirip, berwarna hijau. Pisang mempunyai bunga majemuk, setiap kuncup bunga dibungkus seludang berwarna merah kecoklatan yang akan lepas dan jatuh ke tanah jika bunga membuka. Bunga betina berkembang normal, bunga jantan tetap tertutup seludang yang disebut jantung pisang. Jumlah buah antara 5-15 buah. Buahnya buni, bulat memanjang, membengkok, tersusun seperti sisir dua baris dengan kulit berwarna hijau, kuning, atau coklat. Buah berbiji atau tanpa biji bentuk kecil, bulat, warna hitam. Buahnya dapat dipanen setelah 80-90 hari sejak keluarnya jantung pisang. Buah pisang kebanyakan dimakan segar, diolah menjadi kolak, dikukus, atau diolah lebih lanjut menjadi selai pisang, keripik, atau tepung pisang. (Cookson & Stirk, 2019) DESKRIPSI E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 63
Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Hamamelidae Ordo : Fagales Famili : Fagaceae Genus : Fagus Spesies : Fagus sylvatica L. KLASIFIKASI 2. Pohon Beech Gambar 2.2 Akar Beech Gambar 2.4 Batang Beech Gambar 2.3 Daun Beech Gambar 2.1 Pohon Beech Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum (https://images.app.goo.g l/rQUz4sHX8UirTUpg8) E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 64
Fagus sylvatica L., atau beech Eropa, adalah salah satu pohon berdaun lebar dan tersebar luas di Eropa. Pohon gugur besar dapat mempertahankan tingkat pertumbuhan hingga jatuh tempo. Pohon beech membutuhkan suasana lembab dengan curah hujan terdistribusi baik sepanjang tahun dan tanah kering yang baik. Batang kayunya kuat dan ideal untuk berbagai penggunaan, dari furnitur hingga alat musik, untuk pulp dan kayu bakar. Beech Eropa adalah pohon gugur besar mencapai 30-40 m dan mampu mencapai ketinggian 50 m. Mampu mempertahankan tingkat pertumbuhannya hingga usia matang. Pohon bertangkai tunggal dengan kulit kayu perak keabu-abuan. Daun berukuran 10×7 cm, berwarna hijau tua dan mengkilat. Berbentuk oval hingga elips, tepi bergelombang dan gigi pendek di setiap sisi. Bunga jantan dan betina pada cabang sama. Memiliki rentang hidup sekitar 150-300 tahun, dan bereproduksi sangat lambat 40-50 tahun. Berbuah setiap 5-8 tahun. Produksi bijinya dicirikan oleh tahun tiang yang tidak teratur, biasanya mengikuti musim panas. Kacang pahit yang dapat dimakan berbentuk segitiga tajam dan ditanggung sendiri-sendiri atau berpasangan dalam sekam yang berduri lunak. Beech adalah spesies yang kuat mentolerir situasi teduh, sehingga regenerasi alami dimungkinkan karena bibit mampu bertahan dan tumbuh di bawah kanopi pohon yang sudah mapan. Tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan pH dari 3,5-8,5. Beech menunjukkan kemampuan pengasaman tanah sedang dan lebih menyukai tanah subur, peka terhadap embun beku. Tumbuh baik pada tanah lunak yang mudah ditembus oleh sistem perakaran dan pertumbuhan optimalnya adalah pada tanah lembab yang terletak pada batuan induk berkapur atau vulkanis. Sistem perakarannya cenderung dangkal, sehingga rentan terhadap kekeringan jika dibandingkan dengan tegakan jenis konifera. (Rigo et al., 1925) DESKRIPSI E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 65
Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Juglandales Famili : Juglandaceae Genus : Carya Spesies : Carya cordiformis KLASIFIKASI 3. Carya cordiformis Gambar 3.2 Akar Carya cordiformis Gambar 3.4 Batang Carya cordiformis Gambar 3.3 Daun Carya cordiformis Gambar 3.1 Pohon Carya cordiformis Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 66
Amerika Serikat bagian Tenggara adalah pusat keanekaragaman hayati (Carya spp.), dengan 12 dari 18 spesies di seluruh dunia. Keluarga Juglandaceae, diklasifikasikan menjadi dua bagian: dengan sisik kuncup yang berkelopak, sebagian besar 7-17 selebaran, dan sekam buah bersayap di jahitan dengan enam atau lebih tangga nada yang tumpang tindih, 5-7 selebaran, dan sekam tidak bersayap atau bergaris. Carya cordiformis adalah pohon sedang hingga besar, tinggi 40-100 m, diameter 1-3 m, cabang kokoh dan menyebar, batang panjang dan bersih sedikit lancip. Tumbuh cepat dengan akar yang dalam dan luas. Daun berseling, majemuk menyirip ganjil, panjang 10-18 cm, lebar 10 cm, dengan 7-11. Daun ramping, meruncing panjang atau bulat telur lebar, tepian daun bergigi halus, hijau cerah di atas dan lebih pucat di bawah. Ranting cukup kokoh, abu-abu sampai coklat kehijauan, berbulu, dan lentisel pucat dan lonjong. Biji berwarna putih kecoklatan dan homogen. Tunas berwarna kuning belerang, bulat telur, sisik berkerut. Kuncup biasanya memanjang, panjang satu setengah inci, bersudut empat, dan miring di puncak. Kulit kayu berwarna abu-abu terang, tipis, tidak kusut, umumnya halus. Terdapat banyak variasi dan sulit dikenali. Buahnya kacang pahit, panjang 2–3 cm (3⁄4–1+1⁄4 inci) dengan penutup empat katup berwarna hijau yang terbelah, dan cangkang keras. Tumbuh di lembah pegunungan lembab di sepanjang tepian sungai dan di rawa-rawa. Produksi benih dimulai 25-30 tahun maksimum 50-100 tahun. Tanaman besar diproduksi setiap 3-5 tahun. Kacang tetap bertahan di tanah setidaknya selama satu tahun. Masa hidup Carya cordiformis sekitar 200 tahun dan tumbuh ke ukuran yang lebih kecil dengan tinggi 100 kaki. (Suparyanto dan Rosad (2015, 2020) DESKRIPSI E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 67
Kerajaan : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Bangsa : Zingerbales Suku : Marantaceae Marga : Maranta Jenis : Maranta arundinacea Linn. KLASIFIKASI 4. Tanaman Garut Gambar 4.2 Akar Tanaman Garut Gambar 4.5 Batang Tanaman Garut Gambar 4.3 Daun Tanaman Garut Gambar 4.1 Tanaman Garut Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum Gambar 4.4 Bunga Tanaman Garut E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 68
Tanaman garut (Maranta arundinacea Linn.) termasuk tanaman semak semusim dengan tinggi mencapai 75-90 cm. Berasal dari Amerika menyebar ke negara tropik lainnya seperti Indonesia, India, Srilanka, dan Philipina. Jenis tanaman ini tumbuh baik pada tanah lembab dan terlindung. Dimanfaatkan sebagai tanaman hias karena daunnya indah. Tanaman garut banyak dijumpai tumbuh liar di pinggiran jalan. (Ii & Pustaka, 2014) Tanaman Garut tumbuh tegak, berumpun. Tinggi mencapai 1-1,5 m dengan batang berdaun dan memiliki percabangan menggarpu. Tumbuh baik pada ketinggian 0-900 dpl atau 60-90 m. Tanaman ini tidak membutuhkan perawatan khusus dan kasus hama penyakit yang menjangkit relatif sedikit. Batang tanaman memiliki tinggi 75-90 cm, batang semu, bulat, membentuk rimpang, dan berwarna hijau. Daun tunggal, bulat memanjang, ujung runcing, bertulang menyirip, Panjang 10-27 cm, lebar 4,5 cm berpelepah, berbulu, dan berwarna hijau. Bunga majemuk bentuk tandan, kelopak bunga hijau muda, mahkota berwarna putih, buah memiliki garis tengah 1 cm, bentuk kotak dan agak bulat dengan bulu menyelimuti badan buah. Umbi garut berwarna putih ditutupi dengan kulit yang bersisik berwarna coklat muda, berbentuk silinder (Deskripsi & Tanaman, 2000). Perakaran dangkal dan rhizome 20-45 cm, diameternya 2-5 cm. Agar tanaman garut dapat hidup subur dan berproduksi tinggi memerlukan curah hujan minimum 150-200 cm per bulan. Tanah yang digemari adalah tanah lempung berpasir yang mengandung mineral vulkanik. Umbi garut memiliki banyak manfaat, yakni dapat digunakan sebagai pengganti bahan makanan pokok dan sebagai obat-obatan (Ii & Pustaka, 2014). DESKRIPSI E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 69
Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Subkelas : Commelinidae Ordo : Commelinales Famili : Commelinaceae Genus : Tradescantia Spesies : Tradescantia spathacea Sw KLASIFIKASI 5. Nanas Kerang (Rhoeo discolor) Gambar 5.2 Akar Tradescantia spathacea Gambar 5.4 Batang Tradescantia spathacea Gambar 5.3 Daun Tradescantia spathacea Gambar 5.1 Tradescantia spathacea Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 70
Tanaman Tradescantia spathacea berasal dari Meksiko dan Hindia Barat. Tanaman berupa herba dengan tinggi pohon antara 40-60 cm. Batangnya pendek dan kasar, serta tidak mempunyai percabangan. Menurut (Ii & Pustaka, 2008), panjang daun lebih dari 30 cm dengan lebar 2,5-6 cm dan merupakan daun tunggal berbentuk lonjong, permukaan atas berwarna hijau dan permukaan bawah berwarna merah keunguan. Batangnya merupakan bunga majemuk, berbentuk mangkok, muncul di ketiak daun, terbungkus kelopak seperti kerang, mahkota bunga berbentuk segitiga, terdiri atas tiga lembaran berwarna putih. Perbanyakan tumbuhan Tradescantia spathacea ini dengan menggunakan biji. Dirawat dengan disiram air yang cukup, dijaga kelembapan tanahnya, dan di pupuk dengan pupuk organik (Onainor, 2019). Tumbuhan ini juga memiliki bunga yang berwarna putih dan berbentuk bunga kerang. Tumbuh subur pada daerah tanah yang lembab. Daun Tradescantia spathacea merupakan salah satu tumbuhan yang tergolong ke dalam tanaman hias varigata. Tanaman varigata adalah segala tanaman yang menampilkan dua warna atau lebih pada daunnya, yang berbeda dengan induknya. DESKRIPSI E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 71
Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Famili : Lyliaceae Ordo : Lyliales Genus : Dracaena Spesies : Dracaena compacta KLASIFIKASI 6. Dracaena compacta Gambar 6.2 Akar Dracaena compacta Gambar 6.4 Batang Dracaena compacta Gambar 6.3 Daun Dracaena compacta Gambar 6.1 Dracaena compacta Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 72
Dracaena adalah tanaman yang tumbuh tegak dengan bentuk batang bulat dan beruas-ruas. Daun berbentuk tunggal, tidak bertangkai, dan pelepah memeluk batang. Daun bertepi rata, panjang daun 10-20 cm, lebar daun 3-5 cm, pertulangan daun sejajar, permukaan daun licin, dan daun berwarna hijau bercampur merah maroon. Lingkungan ideal untuk pertumbuhan dracaena pada ketinggian 600-1000 m dpl dengan temperatur 24°C-32°C pada intensitas cahaya 55-75% dan pH tanah 5,5-6,5. Tanaman hias dracaena secara umum dapat ditanam pada setiap jenis tanah, terpenting adalah tanah gembur dan berdraenase baik. Perbanyakan tanaman hias dracaena secara vegetatif memiliki tingkat keberhasilan tinggi dan kualitas yang dihasilkan dari perbanyakan secara vegetatif relatif sama. (Ariana, 2016) Dracaena adalah tanaman tropis. Di Indonesia, beberapa varian dracaena dianggap tumbuhan liar yang kondisinya kurang terawat dan keindahannya tidak terlihat. Di Inggris dan AS, dracaena telah popular disebut tanaman hias. Dracaena banyak manfaatnya digunakan untuk mendekorasi rumah kontemporer dan berteknologi tinggi. Dracaena lebih menyukai kondisi hangat dengan suhu minimal 55 Fahrenheit, dinaungi cahaya. Mempertahankan media tanam agar tetap lembab, ganti media sekali dalam 2 tahun, dan melakukan perbanyakan melalui pemotongan batang, atau penanaman mahkota atau kelopak. Varietas ini dapat mencapai tinggi hingga 10 kaki, kecil dan panjang daun-daun. Spesies dasar ini berwarna hijau daun dengan tepi merah. Varietas tiga warna memiliki 3 warna yaitu kuning, hijau dan merah sehingga menghasilkan efek keemasan hijau. (Pengolahan, n.d.) DESKRIPSI E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 73
Kingdom : Plantae Sub kingdom : Tracheophytes Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monocots Bangsa : Asparagales Suku : Hypoxidaceae Marga : Molineria Jenis : Molineria latifolia KLASIFIKASI 7. Tumbuhan Marasi Gambar 7.2 Akar Marasi Gambar 7.3 Batang Marasi Gambar 7.4 Daun Marasi Gambar 7.1 Marasi Dokumentasi Pribadi: Cahyani Rahmadiningrum E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 74
Tumbuhan Molineria latifolia (marasi) berupa tumbuhan herba yang berambut tinggi mencapai 1,5 meter. Daun tersusun dalam roset dengan tangkai panjang, helaian dengan lipatan-lipatan dengan bentuk jorong melebar, berukuran 30-100×5-100 cm dan biasanya tanpa rambut. Bunga muncul dari sela-sela daun dengan bentuk silindris atau bulat telur, ukuran 2-6 cm, bunga tersusun rapat dengan daun pelindung bunga yang berwarna hijau, ukuran 1-6 cm. Bunga hampir duduk dengan warna kuning dan berambut panjang, tabung perhiasan berukuran 8-40 mm dengan cuping panjangnya 8-12 mm. buah berukuran 10-25 mm dengan ujung berparuh, berwarna putih atau hijau. Tanaman ini berasal dari Indonesia, Semenanjung Malaya hingga IndoChina dan kini tersebar di seluruh Kawasan Asia tropis. Pertumbuhannya menyukai tempat lembab dengan minim sinar matahari, di bawah naungan pohon. Marasi banyak ditemukan di daerah lereng gunung dengan ketinggian 1.500 m dpl. Memiliki akar serabut, rimpang berumbi dengan batang bulat. Marasi dapat dimanfaatkan sebagai tanaman hias atau obat. Di daerah kuno, daun marasi digunakan untuk membungkus makanan (cimpa). Di Kalimantan digunakan untuk membuat tali, benang tenun, sarung, karung beras, pakaian, dan pembungkus buah dan sayuran. (Los, n.d.) DESKRIPSI E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 75
Mari membentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa dan berkumpul bersama kelompok. Klasifikasi Makhluk Hidup LKPD E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 76 Tuliskan nama anggota kelompok kalian di bawah ini! Nama Kelompok: ............................................ ............................................ ............................................ ............................................ ............................................ 1. 2. 3. 4. 5. AYO LAKUKAN KEGIATAN BERIKUT INI!
E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 77 Untuk lebih memahaminya, ayuk observasi lapangan! Petunjuk: Ikuti langkah pada E-Book halaman 20-21. Temukan minimal 5 tanaman yang ada di sekitarmu. Amatilah ciri morfologinya. Tuliskan hasil identifikasi pengamatanmu pada tabel di bawah ini! SPERMATOPHYTA SPERMATOPHYTA No. Nama Tanaman Akar Batang Daun Bunga Biji
Dari hasil identifikasi di tabel tersebut, buatlah diagram atau bagan dikotomi dari klasifikasi yang telah kamu lakukan. Diagram dikotomi tersebut buat dalam bentuk pernyataan yang berlawanan sebagai kunci determinasi. E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 78
Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan, nyatakan suatu kesimpulan berdasarkan analisis yang telah kalian lakukan! Apakah hasil kerja kalian bisa diterima? E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 79 Setelah melakukan observasi dan diskusi kelompok, presentasikan hasil diskusi kelompokmu di depan kelas! Kesimpulan
1.Mempermudah pengenalan makhluk hidup adalah tujuan dari ... makhluk hidup 3. Pemberian nama berdasarkan tata nama ganda disebut ... 5. Semakin dekat hubungan kekerabatan makhluk hidup, maka semakin banyak persamaan ... E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 80 Untuk melatih pemahaman kalian, yuk berlatih melalui teka teki berikut ini! Mendatar Menurun 2. Takson paling tinggi adalah ... 4. Padi memiliki nama ilmiah Oryza sativa. Oryza petunjuk nama ... 6. Sistem akar tunggang/serabut, pohon, berkambium adalah ciri ... 1 2 3 4 5 6
BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Seiring perkembangan zaman yang semakin pesat memberikan dampak cukup signifikan bagi lingkungan. Dimana lingkungan, termasuk tumbuhan berperan penting bagi kehidupan makhluk hidup. Sebuah kenyataan bahwa dengan adanya tumbuhan yang rimbun dan hijau dapat membantu lingkungan yang rusak agar hidup dan kembali asri, sehingga memberikan dampak positif. Banyak sekali keanekaragaman tumbuhan yang tumbuh subur di habitat masing-masing. Oleh karena itu, E-Book ini telah sedikit memberikan pemahaman bahwa tumbuhan sangat beranekaragam dan dikelompokkan berdasarkan ciri-cirinya. Dimana tumbuhan Spermatophyta (Tumbuhan berbiji) diklasifikasikan dalam beragam spesies yang memiliki tingkat kemampuan pertumbuhan dan keunikannya terhadap lingkungan. Untuk dapat mengenal dan mengetahui hal tersebut dilengkapi metode yang tepat yaitu klasifikasi. 3.2 SARAN Ditujukan kepada kalangan anak-anak usia sekolah menengah pertama, mari kita meningkatkan kesadaran untuk mencintai dan mengenal lingkungan tempat kita tinggal. Sesuatu hal kecil yang memberi dampak berkepanjangan alangkah baik dilakukan. Dengan mempelajari tumbuhan yang hidup di sekitar kita, akan dengan mudah memberikan pemahaman baru kita untuk edukasi kepada orang di sekeliling supaya banyak yang mempelajarinya. Harapan lain, semoga akan lebih banyak bacaan sebagai bahan edukasi dan penelitian terkait tumbuhan berbiji supaya semua jenis tumbuhan dikelompokkan berdasarkan karakteristiknya. Banyaknya wawasan tentang keragaman tumbuhan tersebut menjadi alternatif untuk menjaga kelestarian populasi tumbuhan tersebut. E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 81
DAFTAR PUSTAKA Akmaliyah, M. (2013). Keanekaragaman Spermatophyta di Kaswasan Cagar Alam Pagerwunung Darupono Kendal sebagai Sumber Belajar Sistematika Tumbuhan Berbentuk Ensiklopedia. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699. Ariana, R. (2016). 済無No Title No Title No Title. 1–23. Artini. (2018). Etnofarmakologi Tumbuhan Miana. Pro-Life, 5(1), 567–578. Batta, K. L. H., & Triyoso, A. (2022). Identifikasi Dryopteris Sp Di Lingkungan Universitas Pendidikan Muhammadiyah ( UNIMUDA ) Sorong. Jurnal Bioleaning, 9(2), 21–25. Bimrew Sendekie Belay. (2022). No Titleמה את לראות קשה הכי 2005–2003 ,8.5.2017 ,הארץ. העינים לנגד שבאמת. Christina Laurentia. (2019). EFEKTIFITAS SEDIAAN SPRAY GEL EKSTRAK DAUN ILER (Plectranthus scutellarioides (L) R. Br) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 1999, 7–30. http://ejournal.uajy.ac.id/id/eprint/20997 Cookson, M. D., & Stirk, P. M. R. (2019). Asal dari tanaman pisang atau asal usul dari tanaman pisang. 6–18. Desiani, A., Firdaus, F., & Maiyanti, S. I. (2016). A Reasoning Technique for Taxonomy Expert System of Living Organisms. Annual Research Seminar 2016, 2(1), 272–276. Deskripsi, A., & Tanaman, M. (2000). No Title. Gambar 1, 8–26. Dr. MARINA SILALAHI, M. S. (2017). Sistematika Tumbuhan Tinggi. Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia September, September, 11–32. Fabiana Meijon Fadul. (2019a). 済無No Title No Title No Title. 16–54. E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 82
Fabiana Meijon Fadul. (2019b). 済無No Title No Title No Title. 6–11. helio duvaizem, J. (2009). No 主観的健康感を中⼼とした在宅⾼齢者 における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title. 12–42. Ii, B. A. B., & Pustaka, K. (2003). No Title. 9–26. Ii, B. A. B., & Pustaka, T. (2008). Abdul Kadir, Tanaman Hias Bernuansa Varigata , Lily Publisher, Yogyakarta, 2008, hal. 1 7. 7– 29. Ii, B. A. B., & Pustaka, T. (2014). No Title. 6–31. Ipa, M. P., Ekosistem, E. D. A. N., Yunus, S. R., Pd, S., & Pd, M. (2016). Mata pelajaran ipa. 1–12. Irningtyas. (2018). Biologi SMA kelas XII. Modul Pembelajaran Sma Biologi, 406. Irsyam, A. S. D., Mountara, A., Dewi, A. P., Hariri, M. R., Peniwidiyanti, P., Irwanto, R. R., & Anshori, Z. Al. (2022). Keberadaan Ruellia simplex (Acanthaceae) Ternaturalisasi di Pulau Jawa. Al-Kauniyah: Jurnal Biologi, 15(1), 140–150. https://doi.org/10.15408/kauniyah.v15i1.18125 Komariyah, S. (n.d.). Bahan Ajar 6 Stt Gymnospermae. Academia, 60–68. Kusumaningtias, A., & Susanto, A. H. (2018). E-Modul Direktorat Pembinaan SMA. E-Modul Biologi Kelas X, 1–52. Los, U. M. D. E. C. D. E. (n.d.). No 主観的健康感を中⼼とした在宅⾼ 齢者における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title. Lukitasari, M. (2018). Mengenal Tumbuhan Lumut (Bryophyta) Deskripsi, Klasifikasi, Potensi, dan Cara Mempelajarinya. In CV. AE Media Grafika (Issue 01). http://pics.unipma.ac.id/ Made Suastikarani, L. (2019). Klasifikasi Mahkluk Hidup. Biologi, 1, 1–70. Materi, I., & Kami, K. (n.d.). Pengertian Jamur. Mu’minin, A. (2018). Identifikasi Tumbuhan Paku (Pteridophyta) di Gunung Sawur Candipuro Lumajang Sebagai Sumber Belajar Biologi. Skripsi Universitas Muhammadiyah Malang, 2007, 7–41. E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 83
Nandasari, resitha mei. (1995). No 主観的健康感を中⼼とした在宅⾼ 齢者における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title. Tetrahedron Letters, 11(3), 296–300. Nugroho, A. A., Cahyanti, F. A., Fitriani, R. D. A., Wahyuni, T., & Oktavianingtyas, D. (2022). Composition of Spermatophyta (Seed Plants) in the Biological Greenhouse Area of Univet Bantara Sukoharjo. Science Education and Application Journal, 4(1), 26. https://doi.org/10.30736/seaj.v4i1.488 Onainor, E. R. (2019). Tinjauan Tanaman Rhoeo discolor. 1, 105– 112. https://eprints.umm.ac.id/49761/3/BAB II.pdf Pengolahan, D. (n.d.). Indonesian Export Profile: Coconut. In Repository.Pertanian.Go.Id. http://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/9224%0Ahttp://re pository.pertanian.go.id/bitstream/handle/123456789/9224/140.pdf? sequence=1 Rigo, D. De, Caudullo, G., & Commission, E. (1925). Fagus sylvatica. Bulletin of Popular Information - Arnold Arboretum, Harvard University., 11(13), 50–52. https://doi.org/10.5962/p.321611 Rochmasari, Y. (2014). Studi Isolasi Dan Penentuan Struktur Molekul Senyawa Kimia Dalam Fraksi Netral Daun Jambu Biji Australia (Psidium Guajava L.). Jurnal Biologi, 1(1), 23–39. Suparyanto dan Rosad (2015. (2020). 済無No Title No Title No Title. Suparyanto Dan Rosad (2015, 5(3), 248–253. Syamwisna. (2011). Dan Jenis-Jenis Tumbuhan Yang Mewakili Famili-Famili Dari Subdivisi. Guru Membangun, 26(2), 8–15. Upi, J. (2018). Tumbuhan Tinggi. E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 84
External Links: https://www.inaturalist.org/taxa/54787-Carya-cordiformis https://fliphtml5.com/kmitn/vzjr/basic https://fliphtml5.com/cbwlm/egbb/basic https://online.fliphtml5.com/gqusa/akar/#p=16 https://online.fliphtml5.com/gqusa/lwrh/#p=16 https://online.flipbuilder.com/nuvn/tgtc/files/basic-html/page58.html https://www.academia.edu/37501313/KARAKTERISTIK_MAKHLUK_ HIDUP_2_docx https://www.academia.edu/40354549/Kingdom_Animalia_Ciri_Ciri_Ki ngdom_Animalia https://www.socfindoconservation.co.id/plant/462 https://id.esdemgarden.com/dryopt-ris-to-ridges-7598 E-Book Klasifikasi Makhluk Hidup: Spermatophyta 85