The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Esty Prasetyaningrum, 2023-05-30 07:54:06

Sienna;Pembalasan Dendam Sang Putri

Keywords: #Kerajaan #Pembunuhan #Putri

Sienna Kerajaan Asterix Angin berhembus kencang, langit menjadi gelap, dan hewan berlari ketakutan. Didalam istana seorang wanita tengah berjuang demi putrinya yang sebentar lagi akan melihat indahnya dunia. Para tabit berjalan kesana-kesini dengan hati risau melihat suasana di luar sana. “Putri yang beruntung.. Tanda kelahiranmu menandakan suatu hal yang menakjubkan, tapi juga kau akan melewati hal-hal yang sulit, semoga sang dewi selalu menjagamu..” Hujan pun turun dengan lebatnya, membuat seisi kerajaan semakin risau dan khawatir sebab sejak tadi hujan terus turun tanpa tau henti. ── ⋆ ── Tahun-tahunpun terus berlalu, di sebuah ruangan didalam Kerajaan Asterix terlihat seorang gadis dengan darah yang membanjiri hampir seluruh pakaiannya terus menerus menangis dan meraung menatap seorang bocah tak bernyawa yang berada dalam pangkuannya. “THEOOOOO……” gadis itu terus menangis menatap sang adik. Matanya yang indah sampai membengkak sempurna.


2 | S I E N N A ➼ Matanya bergerak menatap tajam laki-laki yang berdiri tegak menghadap dirinya sambil menyeringai kejam. “KEJAMNYA KAU XAV! TEGANYA KAU MEMBUNUH THEO!” teriak gadis itu sambil menatap tajam lelaki itu. “Apa masalahmu Sienna? Bukankan yang mulia kaisar sudah memberitahumu bahwa perebutan tahta sudah dimulai.” balas lelaki itu dengan raut wajah datarnya. “Tapi Theo belum memenuhi persyaratan untuk mengikuti perebutan tahta Xav.. Kau tidak bisa membunuhnya!” bantah Sienna lirih. “Jangan banyak bicara Sienna, tetaplah diam dan tunggu sampai aku membunuhmu.” setelah mengatakan itu Xavierpun pergi dari ruangan itu, dan tersisalah Sienna dan Theo disana. “Theo…, maafkan aku yang terlalu lemah hingga tak bisa melindungimu. Semua adalah salahku! Andai saja aku lebih kuat, kau tak akan pergi secepat ini..” suara Sienna perlahan lahan mulai habis. Sienna hanya bisa menangis dan terus menangis, seolah menangis bisa menyelesaikan segala masalah yang dimilikinya. Sienna tau menangis tidak akan pernah menyelesaikan masalahnya, namun hanya itu yang bisa ia lakukan, setidaknya untuk sekarang. Para pelayan diluarpun hanya bisa mengasihani sang putri dan mendoakan yang terbaik untuk putri mereka. Malam pun tiba, matahari yang tadinya cerah berganti dengan indahnya malam yang berbintang. Di sebuah katedral barat, terlihat Sienna yang sedang berdoa menghadap patung sang dewi keadilan ‘Athea’.


3 | S I E N N A ➼ Tanpa ia sadari terdengar suara petir menyambar dengan suara yang keras, seperti sebuah pertanda. Tak ada satupun orang yang tau pertanda apakah itu, mereka hanya berharap itu adalah sebuah pertanda yang baik…. ── ⋆ ── Saat sedang berjalan mengelilingi taman di dalam istana mawar seorang pria berjubah putih jalan dengan tergesa-gesa dan tanpa sengaja menyenggolnya. Hampir saja Sienna akan tumbang jika saja Sienna tak menopang tubuhnya dengan memegang pilar besar yang ada di sampingnya. “Apa kau baik-baik saja?” tanya pria berjubah itu tanpa memperlihatkan wajahnya sedikitpun. “Y-ya, aku baik-baik sa-” ucapan Sienna terpotong saat ia sudah tidak melihat pria itu dihadapannya. Sienna terheran-heran saat melihat sebuah gelang sudah terpasang rapi di pergelangan tangan kanannya. ‘Apakah pria itu yang memasang gelang ini?’ batin Sienna, ia terus saja menatap gelang safir berwarna ungu yang terpasang dipergelangan tangannya. ── ⋆ ── Tahun berganti, bulan berganti dan hari pun ikut berganti… Selama itu juga Sienna terus menerus belajar berpedang dan sihir secara rahasia, selama itu juga ia terus menghadapi percobaan pembunuhan saudaranya yang terus menghantuinya.


4 | S I E N N A ➼ Hingga di suatu malam yang indah, Sienna tanpa sengaja mendengar percakapan sang kakak pertama dengan para pelayannya. “APA!.. Kau gagal lagi?” teriaknya. “DASAR BODOH, PELAYAN TIDAK BERGUNA!” teriak putri Theria seraya melemparkan vas bunga berukuran besar tepat di kepala pelayan itu hingga pelayan itu kehilangan kesadarannya. “Ma-maafkan kami putri, ampuni hamba..” ucap salah satu pelayan itu seraya bersujud memohon ampun kepada sang putri. Dengan sadis putri Theria menendang kepala pelayan itu hingga sang pelayan terpental ke tembok dengan sadisnya. “Kali ini aku ampuni nyawa kalian.” ucap sang putri datar. “Terimakasih yang mulia putri.” ucap para pelayan yang tersisa seraya terus bersujud dan menciumi kaki putri Theria. “Berikan pil ini kepada Sienna besok, jangan sampai kekuatannya muncul, terus tahan kekuatannya dengan pil ini.” ucap Theria seraya melemparkan pil berwarna merah tersebut tepat ke tangan salah satu pelayannya. “Baik putri, ijin undur diri.” ucap pelayan itu membungkuk hormat kepada putri Theria sambil membawa kedua pelayan yang sudah tak bernyawa tadi keluar dari ruangan sang putri. Sienna yang mendengar hal-hal yang seharusnya tak ia dengar itu pun langsung shock dan hanya bisa diam seraya memproses semua hal yang telah dia lihat seaka tak percaya. ‘Pil penahan kekuatan? Jadi selama ini.. dia yang telah membuatku tak memiliki sihir.’ batin Sienna marah.


5 | S I E N N A ➼ Slama ini dia selalu menjadi bahan ejekan saudara-saudaranya karna tak memiliki kekuatan di umurnya yang sudah menginjak 17 tahun, dan ternyata penyebabnya adalah Theria!?. Baru saja Sienna akan berlari pergi menuju kamarnya, ia dikagetkan dengan kemunculan Theria di hadapannya. Dengan secepat angin Theria menusuk jantung Sienna dengan belati kesayangan sang putri pertama itu, membuat Sienna langsung tak bernyawa di tusukan pertamanya. ── ⋆ ── ‘Dimana aku?!’ batin Sienna seraya menggerakkan matanya untuk memandang ruangan yang sedang ia tempati. ‘Gelap.. Dimana ini?’ ia terus melangkah ke depan, bukannya menemukan titik terang yang ia lihat hanyalah kegelapan yang tak berujung. Sampai di suatu sudut ia melihat seorang wanita dengan cahaya yang mengelilinginya, ia pun tertarik untuk mendekatinya. “Siapa kau?” tanya Sienna penasaran. “Dimana kita berada sekarang?” “Aku Athea dewi keadilan.” ucap wanita cantik itu seraya menatap Sienna. “Di sebuah ruang dalam jiwamu Sienna.” “Dewi?” ucapnya tak percaya. “Ya.. akulah sang dewi.” balasnya ramah. “Apa aku sudah tiada?” tanya Sienna. “Bisa dibilang begitu, tapi dengan kehendakku aku bisa menghidupkan kembali dirimu itu wahai Sienna.” ujarnya.


6 | S I E N N A ➼ “Kenapa aku harus hidup kembali?! Aku ingin bertemu Theo dan ibu!” tegas Sienna menolak untuk dihidupkan kembali. “Sungguh?.. Kau tak ingin membalaskan dendammu? Kau akan membiarkan mereka yang membunuh ibu dan adikmu tenang begitu saja?” tanya sang dewi memprovokasi. “Aku menginginkan itu.” jawab sienna cepat. “Aku bisa membantumu Sienna, aku akan mengembalikanmu diumurmu yang ke 15 tahun, 1 bulan setelah kematian adikmu.” ucap dewi Athea menawarkan. “tidak bisakah aku kembali disaat adikku belum tiada?” Sienna memohon kepada dewi Athea agar bisa kembali saat adiknya belum tiada. “Yang sudah tiada tidak bisa kau hidupkan kembali, meski kau mengulang waktu Sienna. Meski kau menyelamatkannya, dia tetap akan mati.” “Balaskan dendammu dan ambil sesuatu yang kau inginkan, bunuh semua penghalangmu untuk menaiki tahta dan jadilah penguasa. Itu yang sedang kau pikirkan bukan?” ucap sang dewi seraya tersenyum mencurigakan seraya menatap matanya. “Bagai mana kau bisa tau?” ucap Sienna kaget dan menatap tajam sang dewi. “Apa kau lupa?, aku seorang dewi kau tau.” balasnya seraya terkekeh heran, bisa bisanya Sienna lupa bahwa dia adalah seorang dewi “Apa kau terima tawaranku?” ujar sang dewi mengingatkan. “Ya, aku terima!” balas Sienna berucap dengan tegas.


7 | S I E N N A ➼ ── ⋆ ── Dalam suatu ruangan terdapat seorang gadis tengah tertidur nyenyak diatas kasurnya, gadis itu perlahan lahan mulai membuka matanya yang berwarna ungu permata dan mulai mengamati sekitarnya. “Sungguh?!” ucapnya tak percaya. ‘Aku benar-benar hidup kembali!’ batinnya senang, berkali kali dia mengucapkan terimakasih kepada sang dewi Athea karena telah menghidupkannya kembali. Kebahagiaannya pun berhenti sampai disitu, Sienna mulai pergi ke perpustakaan kerajaan dan mengambil buku sihir untuk mengasah sihirnya sedikit demi sedikit. Ia yang dulunya tak peduli dengan tata krama pun mulai mempelajarinya, mempelajari ilmu pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengalahkan para saudara-saudaranya serta terus berusaha mengeluarkan beastmind miliknya. ── ⋆ ── 2 Tahunpun Berlalu Dengan sedikit mengandalkan ingatannya dimasa lalu Sienna berhasi menghindari segala upaya pembunuhan para saudara saudaranya, selama 2 tahun ini Sienna terus bersembunyi di balik topengnya. Ia terus menerus melatih kekuatannya sebelum memulai rencananya menghancurkan kerajaan ini.


8 | S I E N N A ➼ Kini Sienna sudah berubah, disini tidak ada lagi Sienna yang baik hati, lemah lembut, ataupun Sienna yang benci membunuh. Sekarang yang ada hanyalah Sienna yang kejam dan bringgas. Setelah 2 tahun menghadapi para saudaranya secara langusung Sienna sudah terbiasa untuk membunuh, menyiksa, dan tak memiliki belas kasih. Setelah sang pangeran mahkota membantai habis para keluarganya yang tersisa ia menjadi lebih dingin dan kejam. Selama itu pula Sienna sekarang telah menjadi putri Asterix yang terkenal dengan kebenggisannya. Her New Self Dari celah celah jendela kamar yang terbuka terlihat seorang gadis tengah tertidur lelap, walau banyak noda darah dihampir seluruh pakaiannya, namun gadis itu seperti sama sekali tak peduli dengan darah itu dan terus tertidur lelap. “Tuan putri Sienna, sudah waktunya anda bangun.” Ucap pelayan itu seraya mengetuk pintu kamar sang putri berulang kali. “Eugh..” leguh Sienna terganggu dengan suara ketukan yang tak ada hentinya itu. “Berhentilah mengetuk Nina, kupingku sakit mendengarnya!” kesal Sienna seraya meregangkan otot-ototnya yang masih kaku. Ia pun menatap sekelilingnya yang sangat berantakan, banyak mayat serta darah di dalam kamarnya. Ia ingat, tadi malam beberapa pembunuh bayaran datang dan menyerangnya.


9 | S I E N N A ➼ “Sialan, dalam seminggu terakhir mereka sangat mengganggu.” geramnya kesal. ‘Apa perlu kubasmi sampai ke akar-akarnya?’ batin Sienna dengan smirk andalannya. “Astaga, aku hampir melupakannya.” “Pelayan!” teriak sienna memanggil para pelayan itu. Para pelayanpun segera masuk kedalam kamar sang putri dan terkejut dengan banyaknya mayat yang bergletakkan disana. “Astaga tuan putri, ini sudah yang ke lima kalinya mereka terus bermunculan.” ucap Nina, pelayan kepercayaan Sienna terkejut. “Biarlah mereka berulah, dan sekarang, bersihkan sampah kotor ini dari kamarku sekarang juga.” pintanya lalu pergi bergegas membersihkan diri. “Tuan putri, jangan sampai anda lupa jika ada acara perjamuan malam para pangeran putri yang di hadiri langsung oleh kaisar!” teriak Nina supaya Sienna bisa mendengar suaranya. Sienna yang sedang membersihkan diri hanya bisa mengelus dadanya sabar menghadapi tingkah laku pelayannya satu ini. ── ⋆ ── LELAH… Satu kata yang cocok dengan Sienna saat ini, tadi Nina memaksanya untuk berbelanja gaun-gaun baru, katanya supaya Sienna tak tertinggal tren.


10 | S I E N N A ➼ Dan karena itu hampir berjam-jam mereka terus berjalan melihat-lihat banyak gaun di setiap butik yang mereka lewati. Gila bukan! “Cukup! Aku muak.” teriak Sienna. Hingga membuat para pelanggan lain menatapnya aneh, untung saja dirinya memakai tudung jadi tak ada yang tau siapa dia. “Jika kau mau melihat lihat lagi, tetaplah disini sampai besok. Aku akan pergi terserah kau mau ikut atau tidak.” ucap Sienna bergegas meninggalkan tempat yang lebih mirip seperti tempat penyiksaan dari pada tempat belanja. “Baiklah…” balas Nina pasrah mengejar tuan putrinya yang sudah terlebih dulu jalan jauh di depan. Setelah pulang dari tempat penyiksaan itu Sienna langsung bergegas memasuki ruangannya lalu tidur terlelap kealam mimpi. Belum saja ada tiga jam ia tertidur, ada saja pengganggu yang mengganggunya. “Jika saja kau orang lain, maka sudah kuhancurkan kepalanya sampai tak berbentuk.” gumam Sienna kesal. ‘Sungguh hari yang sial.’ batin Sienna seraya mengusap wajahnya kasar. Nina yang mendengar gumaman Sienna pun hanya bisa berdiam kaku. Takut jika ia benar benar akan dibunuh. ‘Untung saja aku nina, jika tidak maka tamatlah riwayatmu nina!’ batinnya meringis. “Sudah lah.. ada apa?” tanyanya kepada Nina. “Perjamuan malam!” ucap Nina mencoba mengingatkan.


11 | S I E N N A ➼ “Hah?!” balas Sienna tak paham. “Bicaralah dengan benar, kau punya mulut kan.” ucap Sienna sedikit menohok Nina. “Perjamuan makan malam yang dihadiri para pangeran putri dan juga sang kaisar juga turut serta dalam jamuan itu.” ucap Nina menjelaskan dengan nada malas yang tak luput dari pendengaran tajam Sienna. “Bagaimana dengan para selir dan permaisuri?” tanyanya kepada Nina. “Kaisar berkata, jika kaisar akan membahas suatu hal penting kepada kalian serta mengumumkan pencapaian bulanan pangeran putri.” jawab Nina malas. Bukannya apa, tapi kemarin ia sudah menjelaskan semuanya secara terperinci kepada sang putri, apa tuan putrinya ini sudah pikun? “Bantu aku bersiap.” pinta Sienna lalu bergegas melakukan persiapan perjamuan malam ini. Beberapa jam kemudian. Sienna sudah siap dengan gaun hitam pres body sepanjang mata kaki dengan model atas berbentuk sabrina yang sengaja Sienna desain khusus untuknya, dan itu sangat cocok ditubuhnya, serasi dengan warna rambutnya yang juga berwarna hitam dan matanya yang berwarna ungu permata. Di sebuah ruangan bernuasa gold yang megah, terlihat sekumpulan manusia sedang duduk mengelilingi meja yang berisi makanan makanan yang terlihat lezat.


12 | S I E N N A ➼ Sekumpulan manusia itu terlihat sedang berbincang membahas suatu hal yang… sepertinya penting. “Bagaimana pendapatmu Sienna?” tanya sang kaisar meminta pendapat sang putri. “Yah.. menurutku, kita harus memukul mundur Kekaisaran Acazar terlebih dahulu supaya mereka tak berani berlagak lagi. Dan itu sepertinya tak mudah ayah.” ucap sienna seraya memandang sang ayah memberi saran “Bunuh saja pria tua itu, dan semua akan selesai.” sahut Jeremy seraya memutar mutar pisau daging yang sedang ia gunakan dan melemparnya hingga hampir terkena lengan pangeran damian. “Sialan kau!” geram Damian kesal, lalu melempar gelas kaca yang berada di depannya hingga pecah tepat disebelah kepala Jeremy. Saat Jeremy akan membalas, Sang kaisar langsung berteriak keras dengan nada marah. “Hentikan.” teriaknya, ia tak tahan lagi dengan keributan ini. “Berhenti atau keluar dari ruangan ini.” ancamnya sambil menatap kedua anaknya tajam. Membuat nyali Jeremy dan Damian menciut. “Keluarkan saja sampah seperti mereka dari ruangan ini.” ucap Theria seraya memotong daging steak yang sedang ia santap. Damian dan Jeremy yang mendengar itu pun hanya bisa menatap tajam Theria, sedangkan sang empu yang ditatap tajam tak memperdulikannya.


13 | S I E N N A ➼ “Kenapa tidak kita ratakan saja kekaisaran itu dengan tanah?” ujar Dion seakan menganggap hal ini sebegitu mudahnya untuk diselesaikan. “Jika kau tak tau apa-apa, diam lah di tempat dudukmu dan jangan berlagak.” ucap Xavier tegas. ‘Swbenarnya mereka memang bodoh atau memang tak punya otak?’ batin Xavier seraya menatap tajam dua manusia tak berotak yang sekarang sedang duduk dihadapannya. “Mungkin kita bisa memngambil sesuatu yang berharga baginya ayah.” “Mungkin seperti….., putra mahkota?” ucap Sienna yang sedari tadi terus memikirkan rencana yang tepat. Ia tak bisa gegabah memikirkan masalah yang mungkin akan berujung dengan peperangan dua kekaisaran besar. “Kenapa tak sekalian membunuhnya kakak?” tanya Leticia pelan. “Terlalu berbahaya jika kita bertindak gegabah seperti itu. Jika peperangan dimulai, maka yang akan rugi juga adalah kita Gabrielle” balas Sienna menjelaskan. “Sungguh rencana yang cerdas Sienna, ayah bangga kepadamu” ucap sang kaisar seraya menyeringai menatap sang putri. Sienna pun hanya membalas dengan smirk andalannya dan menatap balik sang ayah. “Aku akan memerintahkan Arsean nanti untuk mengurus masalah ini.” ucap kaisar.


14 | S I E N N A ➼ Arsean pun tak membalas karena ia tak hadir dijamuan makan malam ini, karna pembasmian iblis di utara. “Tugas kan aku saja ayah.” ujar Xavier menawarkan diri, sungguh tangannya gatal karna sudah lama tak membunuh. Sebenarnya bisa saja ia membunuh sekarang, tapi ia sudah bosan dengan manusia lemah yang ada di istana ini. Dan ia dengar dengar sang pangeran mahkota Acazar lumayan kuat, jadi ia merasa tertaik untuk ikut. “Aku ikut.” ucap Gabrielle. “Aku ingin berjalan jalan di alun-alun Acazar yang katanya indah.” lanjutnya sambil memohon kepada sang ayah. “Tidak! Kalian berdua tak boleh ikut.” Bantah kaisar tegas. Ia tak mau reputasi kekaisarannya rusak jika dua anak pembuat onar itu keluar dan membuat masalah. Sudah cukup selama ini ia terus bersabar dari godaan iblis yang menyuruhnya menebas kepala putra dan putrinya itu hingga tak bernyawa. “Bagaimana dengan ku ayah?” kini giliran Sienna menawarkan diri untuk bergabung. “Untuk apa kau ikut?” tanya kaisar. “Liontin ‘Greysond’.” balas Sienna menyebutkan sesuatu yang membuat senyum di wajah kaisar terbit.


15 | S I E N N A ➼ Gabrielle Pasalnya Liontin ‘Greysond’ adalah liontin yang paling berharga di kekaisaran Acazar, liontin yang disebut-sebut sebagai pelindung Acazar, maka dari itu Sang Kaisar menginginkannya. “Kau boleh ikut.” ucap sang kaisar mengizinkannya. “Itu curang Ayah!” balas Gabrielle marah, ia pun melempar piringnya ke lantai seraya menatap tajam sang kakak.


16 | S I E N N A ➼ ‘Jika kakak boleh kenapa aku tidak!?’ batinnya marah. “Kau terlalu pilih kasih Ayah!” ucap Theria membela Gabrielle. “Cukup! Lanjutkan makan kalian.” sang kaisar pun berucap tegas. “Bawa aku bersamamu kak.” melas Jeremy kepada Sienna. “Baiklah.” jawab Sienna. “Tapi kau harus lakukan satu hal untukku.” lanjut Sienna pelan. Jeremy pun hanya mengangguk setuju. Sienna pun mulai membisikkan suatu hal yang membuat Jeremy menyeringai senang. ── ⋆ ── Di suatu ruangan, terlihat Jeremy sedang berjalan mengendapendap menuju kamar para pelayan. Hingga Jeremy bertemu dengan orang yang dicarinya. Hazel seorang gadis yang menjadi pelayan kepercayaan sang putri Gabrielle. “Akhirnya aku menemukanmu Hazel..” ucap Jeremy dengan tatapan tajamnya. “Pa-pangeran Jeremy.” takut Hazel yang sedang ditatap tajam oleh Pangeran Jeremy. “Aku memiliki sebuah perintah untukmu.” ucap Jeremy kepada Hazel yang terus menunduk takut, tak berani menatap mata tajam sang pangeran.


17 | S I E N N A ➼ “Taruh racun ini kedalam minuman kak Dion.” ucap Jeremy seraya mengulurkan tangannya yang tengah mengenggam racun berwarna ungu yang terlihat mematikan. Racun dari ‘Beast Butterfly’ milik Sienna yang memiliki dosis rendah, dan ia sengaja memberi dosis rendah supaya saat Dion sadar dari pingsannya ia akan membunuh Gabrielle. “Sa-saya tidak berani melakukan itu pangeran.” jawab Hazel seraya mundur menjauh dari sang pangeran yang kini menatapnya dengan tatapan membunuh yang mengerikan, seakan tatapan itu mampu dengan sendirinya membunuh Hazel perlahan. “Lakukan atau keluargamu itu yang akan menanggung akibatnya.” ancam Jeremy. Membuat Hazel langsung melototkan matanya terkejut, mau tak mau ia harus melaksanakan perintahnya agar keluarga satu satunya tak menjadi mangsa selanjutnya untuk sang pangeran. “A-apa yang harus saya lakukan pangeran?” tanya Hazel gugup. “Taruh racun ini ke dalam minumannya dan bilang bahwa ini adalah perintah dari putri Gabrielle.” jelas Jeremy. Hazel yang mendengar itu langsung menegang gugup. Ia tak berani menghianati putri Gabrielle, bisa-bisa putri Gabrielle akan menghabisinya, tapi pangeran yang kini berada di depannya lebih menakutkan dari putri Gabrielle. Dengan terpaksa ia mengambil racun itu dari tangan pangeran. “Baik pangeran, saya akan melaksanakannya sesempurna mungkin.” jawab Hazel pelan.


18 | S I E N N A ➼ “Jika gagal, bukan hanya keluargamu yang terkena imbasnya. Tapi juga kau, ingat itu.” ancam Jeremy lalu pergi meninggalkan Hazel yang menatap takut kearah racun yang berada di tangannya. ‘Jangan sampai gagal Hazel!! Atau kau dan keluargamu akan terkena imbasnya.’ batinnya menyemangati diri. Jeremy yang merasa telah berhasil pun langsung bergegas ke ruangan Putri Sienna, menghampiri sang kakak tercinta, sekaligus memberi kabar gembira mengenai keberhasilannya menghasut sang pelayan. Flashback “Tapi kau harus lakukan satu hal untukku.” lanjut Sienna pelan. Jeremy pun hanya mengangguk setuju. “Buat rencana apapun untuk membunuh Gabrielle.” bisik Sienna pelan “Tapi jangan gunakan tanganmu sendiri untuk membunuh sampah itu.” lanjut Sienna seraya terus berbisik. Sienna merasa bahwa sudah waktunya untuk ia mulai menghabisi satu persatu saudaranya itu, tentu saja bukan dengan menggunakan tangannya sendiri. “Rencana?” gumam Jeremy bingung. ‘Mungkin kita bisa memanfaatkan Dion, kakak kita tercinta. Tanpa harus mengotori tanganku seperti yang Kak Sienna ucapkan.’ batin Jeremy menyeringai senang. ── ⋆ ── Kini Sienna dan juga Jeremy tengah berada dalam kereta kuda biasa yang terus melaju menuju Kekaisaran Azacar.


19 | S I E N N A ➼ Jika bertanya dimana Arsean, maka jawabannya adalah, pangeran mahkota itu telah sampai duluan di ibu kota Kekaisaran Azacar. Karena setelah Arsean mendengar sebuah perintah dari surat yang dikirim oleh kaisar, saat itu juga ia langsung berangkat menuju Azacar. Dan tentang Gabrielle, Sienna tersenyum puas mendengar kabar kematiannya yang telah beredar. ‘Sungguh boneka yang pintar.’ batin Sienna seraya menatap bangga Jeremy, bonekanya yang penurut. Pangeran Azacar Mual, itu yang Sienna rasakan saat ini. Karena demi penyelamatan identitas mereka, sang adik yaitu Jeremy memberi saran untuk menaiki sebuah kereta kuda biasa yang benar-benar memiliki kualitas paling buruk dari semua kereta kuda yang pernah Sienna tumpangi.


20 | S I E N N A ➼ “Sialan kau Je!” teriak Sienna geram. “Gara-gara ide gila bodohmu itu, kita harus menaiki kereta kuda jelek dan usang ini.” bentak Sienna seraya menatap tajam sang adik. “Jangan salahkan aku kakak, salahkan kau juga yang menyetujuinya.” balas Jeremy tak mau kalah. Dan dengan tidak elitnya Sienna mendorong Jeremy keluar dari kereta kuda itu hingga badannya terpental jauh dari kereta dan menghantam pohon dengan keras. “Arghh.. Sialan!” teriak Jeremy seraya memegang kepalanya yang sepertinya terluka cukup parah. “Satu hama sudah hilang.” ucap Sienna tenang. Ia tak khawatir Jeremy tersesat karna ia tau adiknya bisa menyusulnya hanya dengan menggunakan sihir. Jika kalian bertanya kenapa Sienna tak berteleportasi saja ke Kekaisaran Azacar, itu karna kekaisaran ini mampu mendeteksi sihir besar yang masuk ke daerah mereka. Sebab sihir teleportasi termasuk kedalam sihir yang membutuhkan kekuatan besar dan hanya bisa digunakan oleh orang yang mempunyai sihir besar saja. Sebenarnya tujuan ia kesini bukan untuk membantu rencana penculikan pangeran, karna ia tau bahwa Arsean sudah cukup untuk menyelesaikan semuanya sendiri. Ia kesini untuk mendatangi sebuah pelelangan gelap yang menjual sebuah gelang darah merah, yang katanya bisa membuat nya bisa melihat sekilas bayangan masa depan hanya dengan menumbalkan darah dengan jumlah banyak.


21 | S I E N N A ➼ Dan saat ini disanalah Sienna dan Jeremy berada, di pelelangan gelap yang diadakan oleh Duke Dante yang terkenal dengan reputasi buruknya di kekaisaran ini. “Silahkan masuk Yang Mulia Putri Sienna.” ucap seorang yang menjaga di pintu masuk pelelangan gelap tersebut saat mendengar Sienna mengucapkan password mereka. Sienna dan juga Jeremy pun memasuki tempat tersebut dan duduk di kursi VVIP yang dipesan khusus untuknya. Beberapa menit berlalu dan pelelangan tersebut dimulai. “Kali ini saya akan mempersembahkan sebuah gelang menakjubkan yang bisa memperlihatkan kepada tuan dan nyonya semua akan masa depan yang akan terjadi.” Benda itu adalah ‘Gelang Darah Merah’ yang dibuat dengan menggunakan 1000 darah manusia tak bernyawa.” ucap sang pria bertopeng tersebut seraya menuntukkan sebuah gelang safir berwarna merah menyala yang berada dalam kotak kaca tersebut. “Penawaran dimulai dari 3000 emas!” teriak pria tersebut. Para bangsawan pun berebutan menawar gelang tersebut. “4000 emas!” “5000 emas!” “6000 emas!” “7000 emas!” lama kelamaan penawaran semakin tinggi dan para bangsawan biasa hanya bisa diam mendengar harga emas yang ditawarkan oleh seorang gadis dengan harga fantastic.


22 | S I E N N A ➼ “20.000 emas!” teriak gadis itu, hingga membuat Jeremy yang berada di sampingnya melonjak kaget, bukan karna gadis itu berteriak, tapi karna nominal emas yang gadis itu sebutkan. “Kak! Kau gila” bisik Jeremy heran. Sedangkan Sienna hanya diam dan terfokus pada gelang itu. “25.000 emas!” suara pria itu terdengar menawarkan harga yang lebih fantastic, membuat Sienna geram. “25.000 emas, tak ada yang menawar lagi?” tanya pria bertopeng itu hendak memukul palu tanda barang terjual. Sebelum palu itu berbunyi Sienna bergegas menawarkan harga yang membuat orang hampir mengeluarkan jantungnya dari tempat yang seharusnya. “32.000 EMAS!” Deng… Palu itu berbunyi tanda barang itu terjual kepada Sienna. Sienna pun tersenyum senang. Sedangkan Jeremy hanya melongo melihatnya. ‘Lebih baik uang itu kugunakan untuk membeli budak dari pada gelang tak berguna itu.’ batin Jeremy. ── ⋆ ── Dua hari pun berlalu, dan kini saatnya mereka kembali ke habitat asal mereka. Untuk masalah ‘Liontin Greysond’ tenang saja, Sienna berhasil mencurinya dengan mudah berkat Butterly nya yang cantik itu. Perjalanan pulangnya saat ini tak seburuk perjalanannya saat itu, sesaat sebelumia akan kembali ke kekaisaran Asterix Sienna


23 | S I E N N A ➼ mengirim surat kepada Kaisar untuk mengiriminya sebuah kereta kuda yang megah untuk dirinya kembali melakukan perjalanan panjang. Setelah menempuh perjalanan yang panjang akhirnya Sienna dan Jeremy pun telah sampai di kekaisaran Asterix. Para pelayanpun berbaris dan menunduk hormat kepada pangeran Jeremy dan putri sienna. “Selamat datang Pangeran Jeremy Putri Sienna.” sambut para pelayan. “Yang mulia kaisar dan para pangeran putri telah berkumpul di ruang tahta, pangeran dan putri diperintahkan kaisar untuk segera menghadap.” ucap sang pelayan tersebut kepada Sienna dan Jeremy. Mereka berdua pun bergegas menemui sang kaisar di ruang tahta. “Salam yang mulia kaisar.” ucap Sienna dan Jeremy bersamaan seraya membungkuk memberi hormat. “Bangun lah” balas yang mulia kaisar seraya meminta pangeran Jeremy dan putri Sienna bagun dari posenya yang membungkuk. Sienna dan Jeremy pun segera berdiri tegak. “Apa kau berhasil Sienna?” tanya Kaisar to the point membuat Sienna terus menggerutu. ‘Pria tua ini sungguh hanya memikirkan dirinya sendiri.’ kesal Sienna yang merasa tangannya gatal ingin segera menghabisi pria tua yang ada di hadapannya tersebut. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk membunuhnya, ia masih membutuhkan pria tua ini untuk menjalankan rencananya yang menakjubkan…


24 | S I E N N A ➼ “Tentu saja ayah.” jawab Sienna yang langsung membuat sang kaisar menyeringai senang. “Berikan kepadaku.” pinta sang kaisar yang langsung dilaksanakan oleh Sienna. Sienna pun menyuruh Jeremy membawakan sebuah kotak yang ada di tangannya untuk diserahkan kepada sang kaisar. “Ayah bangga kepadamu Sienna.” ucap kaisar seraya terus mengamati liontin itu sesekali tersenyum senang. Para saudaranya yang lain pun hanya bisa terdiam melihat benda apa yang ada di dalam kotak itu. Mereka tau itu, dan mereka juga mengetahui seberapa susahnya untuk dapat mengambil liontin itu dari penjagaan para naga. “Yang mulia, Pangeran Arsean sebentar lagi akan tiba.” ucap salah seorang ksatria menyampaikan. “Suruh Arsean kemari dengan membawa Pangeran Azacar.” ucap sang kaisar kepada ksatria itu. Tak lama setelah itu sang pangeran mahkota Arsean datang memasuki ruangan dengan membawa seorang lelaki yang kira-kira seumuran dengan Sienna. “Kau bercanda?!” ucap Damian tak percaya. “Ayah menyuruhmu menculik pangeran mahkota, bukan menculik seorang gelandangan.” lanjutnya dengan tawa mengejek kearah Arsean. Sedangkan yang ditertawakan hanya diam dan melemparkan belati hingga tertancap tepat di lengan Damian.


25 | S I E N N A ➼ “Arghh..Brengsek!” teriaknya tak terima, dengan cepat Damian mencabut belati itu dari tangannya dan melemparnya kembali kearah kepala Arsean. Dan hap… dengan mudah Arsean menangkapnya. Damian pun hanya bisa diam tak membalas. Sebab ia merasa sekarang ayahnya tengah menatapnya tajam hingga bulu kuduknya berdiri. “Apa dia benar pangeran mahkota Acazar?” tanya kaisar meyakinkan. “Saya tak mungkin salah yang mulia, saya menangkapnya dengan tangan saya sendiri.” balas Arsean dingin dan tegas. “Bawa dia kesini.” pinta kaisar. Arsean pun membawanya mendekat “Tidak salah aku menugaskanmu Arsean, ayah bangga padamu.” pujinya kepada Arsean sedangkan yang dipuji hanya membungkuk hormat. Theria yang penasaran dengan pangeran itu pun mendekat dan mengamati wajahnya. ‘Sungguh tampan, sayang sekali kau berada disini. Mungkin hidupmu sudah tak akan lama lagi.’ batinnya seraya mengusap lembut pipi pangeran Azacar tersebut. “Ayah, aku ingin menjadikannya bonekaku.” ucap Theria lantang. “Biarkan aku saja ayah.” sahut Xavier. “Aku yang terlebih dulu memintanya.” teriak Theria menatap tajam Xavier, dan sang empu yang ditatap tajam hanya diam tak membalas hingga membuat Theria geram.


26 | S I E N N A ➼ Secepat kilat Theria menyerang Xavier dengan pedangnya yang tajam. Hal itu tampaknya tak membuat Xavier menyerah mempertahankan keinginannya memiliki sang pangeran Azacar itu. Xavier dengan cepat membuat sebuah pedang dengan mananya, pedang yang gagah dan tajam berwarna hitam kemerahan. Bunyi dentingan pedang terus bergemma, hingga dengan mudah Xavier berhasil menjatuhkan pedang yang dipakai Sienna. Dan dengan cepat Xavier mencekik leher putih mulus milik Theria hingga darah segar keluar dari mulut Theria. “Uhuk.. Dasar kau Xav!” geram Theria marah, namun ia tak bisa melakukan apapun. Lehernya dicekik kencang, dan itu sungguh menyakitkan. “Berikan itu kepadaku ayah.” ucap Sienna pelan dan langsung diangguki oleh sang kaisar. “Hentikan! Aku memberikan gelandangan itu kepada Sienna.” ucap kaisar lalu pergi dari sana diikuti para saudaranya yang lain. Disana hanya tersisa Xavier dan Sienna. Dengan sekejap mata Xavier sudah berada tepat di hadapan Sienna. “Berikan dia kepadaku.” ucap Xavier pelan namun penuh penekanan, tapi sungguh itu tak membuat nyali Sienna menciut sedikitpun. “Memberikannya? Kepadamu?. Kau bercanda.” remeh Sienna kepada Xavier. “Aku tak bercanda sienna” balas Xavier dengan nada rendahnya.


27 | S I E N N A ➼ “Aku pun tak bercanda bahwa aku tak ingin memberikannya kepadamu!” teriaknya, cukup!. Selama ini Sienna terus menahan hawa nafsunya untuk membunuh Xavier. Setiap melihatnya ia selalu terbayang baying oleh kilatan memori disaat Xavier dengan kejam membunuh adiknya THEODORE.


28 | S I E N N A ➼ Hold On Sekarang Sienna tak bisa menahannya lagi!.. Dengan cepat Sienna membuat Sebuah pedang menggunakan mananya yang terbalut penuh dengan racun Beast Butterlynya. Sienna mengarahkan pedanganya kearah dada Xavier, namun nihil, belum sempat menusuk Xavier dengan cepat menahan pedang itu dengan pedang miliknya. Ctrang.. Ctrang.. Bunyi pedang berdentingan memenuhi ruangan yang hanya berisi dua orang tersebut. Srett.. pedang Sienna dengan cepat mengenai perut Xavier cukup dalam dan berhasil membuatnya cukup lengah. Dengan sekali gerakan Xavier menendang badan Sienna hingga terpental menabrak dinding dan mengarahkan pedangnya tepat ke leher Sienna. “Berikan dia atau kau mati?” ucap Xavier menawarkan. Sayang sekali, Sienna bukan orang yang gampang menyerah. Dengan segenap kekuatan yang tersisa Sienna mengarahkan pedangnya yang masih digenggam erat bergerak maju hingga pedangnya menusuk perut Xavier dengan sempurna. Dan karena itu leher Sienna yang mulus terkena goresan pedang Xavier cukup dalam sebab ia melangkah maju.


29 | S I E N N A ➼ Merasa sudah tak punya kekuatan, Sienna menggunakan sihirnya untuk berteleportasi menuju kamarnya dan langsung pingsan tak sadarkan diri. Xavier memukul dinding yang sedari tadi diam tak bersalah menyaksikan pertarungan hebat mereka berdua, hingga dinding itu hancur dan menghasilkan sebuah lubang. Ia benar-benar menginginkan apa yang dimiliki oleh sang pangeran mahkota Azacar itu di dalam dirinya. Sebenarnya ia bisa saja merebut pangeran gelandangan tersebut dari tangan Sienna, namun ia tak yakin bahwa Sienna dengan mudah akan memberikan pangeran itu kepadanya. Jika itu Sienna, Xavier yakin saat mereka memperebutkan pangeran gelandangan itu, maka salah satu dari mereka akan kehilangan nyawanya. Bukannya Xavier khawatir bahwa Sienna akan kehilangan nyawa pada akhirnya, Bukan!, bukan itu!... Tanpa Xavier sadari tampaknya ia telah ‘sedikit’ tertarik kepada sang adik Sienna. Jangan kira ia tak tau siapa yang telah membunuh Gabrielle sebenarnya, dan siapa yang akan dilenyapkan oleh Sienna selanjutnya… ── ⋆ ── “Bawa glandangan itu kemari!” pinta Sienna. Para pelayan lalu berbondong bondong pergi meninggalkan kamar sang putri, merasa bahwa mood sang putri kurang baik, mereka lebih baik menjauh secepatnya sebelum pergi kealam lain.


30 | S I E N N A ➼ Tok.. Tok.. “Masuklah” jawab Sienna cepat. Pintu terbuka dan terlihat dua orang kesatria tengah merarik paksa seorang laki-laki yang berpenampilan seperti gelandangan itu masuk. Tangan pemuda itu diborgol dengan borgol yang mampu nyerap energy sang pengguna, namun herannya pemuda itu sama sekali tak terlihat kelelahan ataupun lemas, mungkin karna ia pemilik cahaya suci piker sienna tak heran lagi. “Pergilah” para ksatria itu pun lalu pergi meninggalkan Sienna dan gelandangan itu di dalam ruangan. Sienna dengan sigap melepas borgol yang mengikat laki-laki itu dan melepas kain yang diikatkan ke mulutnya. “Siapa namamu?” tanya sienna, sebenarnya itu tak terdengar seperti pertanyaan tapi lebih terdengar seperti pernyataan. “Bryan, Bryan de Azacar.” jawabnya seraya menatap tajam mata indah sienna, seakan mengatakan bahwa ia sama sekali tak percaya pada Sienna. “Sienna von Asterix.” Sienna lalu memperkenalkan dirinya, walau ia tau bahwa pemuda itu sudah mengenalnya. Yah.. secara Sienna von Asterix sudah terkenal dengan pembawaannya yang santai tapi mengerikan. “Jangan memandangiku begitu, aku tak akan membunuhmu. Justru aku ingin mengajakmu berkerja sama pangeran mahkota Bryan


31 | S I E N N A ➼ de Azacar.” ucapnya seraya membenarkan pandangan pangeran itu terhadap dirinya. “Kenap-” belum sempat Bryan melanjutkan pertanyaan yang terlintas diotaknya sienna lebih dulu memotong ucapannya. “Jangan bertanya lagi!” ucapnya mengingatkan. “Keuntungan apa yang kudapat dari kerjasama ini?” tanya Bryan yang tampak tak yakin dengan kerjasama yang melibatkan dirinya dan putri bodoh yang ingin menghancurkan kerajaannya sendiri. “Keuntungan?? Apa kau bercanda?!” teriak Sienna tak habis pikir. “Bukankah dengan menghancurkan Asterix kau dan kerajaanmu akan mendapat keuntungan besar, bahkan sangat besar!” lanjutnya dengan nada tak santai. “Baiklah” jawab Bryan cepat, ia merasakan aura tak enak yang keluar dari manusia di sampingnya, merasakan bahwa gadis itu sebentar lagi akan meledak. “Bagus..” balas Sienna puas. Sekarang Bryan merasa sudah aman, ia sudah menyiramkan air keatas api yang menyala. “Jadi apa rencanamu?” tanya Bryan “Sederhana, rencanaku adalah-”


32 | S I E N N A ➼ Rencana I Para pangeran dan putri mulai berkumpul di ruang keluarga beserta kaisar yang ikut hadir. Kabar kematian Pangeran Azacar membuat mereka kaget dan yang lebih anehnya lagi, kabar bahwa Sienna yang membunuhnya. “Sienna! Apa lagi yang kau lakukan sekarang hah?!!” teriak kaisar marah, membuat para pelayan merinding dengan perasaan kaget sekaligus takut. “Tidak ada, aku hanya merasa kesal gelandangan itu telah merusak liontin yang telah kau berikan ayah.” balas Sienna dengan nada tak bersalahnya. “Hanya karena itu! Sejak kapan kau menjadi sebodoh ini Sienna? Dimana dirimu yang pintar itu?” dengan tajam, mata sang kaisar terus memandang mata indah milik sang putri Sienna. “Jangan tanya kepadaku ayah.” tanya Sienna seraya membalas tatapan sang kaisar kepadanya, yang sejujurnya sedikit membuatnya merinding. “Hahaha, sungguh lucu. Kau yang menyarankan rencana ini dan kau sendirilah yang menghancurkan rencana ini.” sahut Dion mencoba menyulut api untuk berkobar lebih besar. Namun Sienna tetaplah Sienna, ia sungguh tak menanggapi ucapannya sama sekali, baginya itu hanya sebuah omong kosong dari seorang manusia yang tak pernah mengaca.


33 | S I E N N A ➼ “Sudahlah ayah, kau tau sendiri sikap kakaku itu bukan.” ucap Jeremy yang benar-benar sudah tau kelakuan kakanya itu. Sungguh jika Sienna bukanlah sebuah boneka untuk menjalankan rencananya, ia tak akan segan-segan membunuhnya dari dulu, pikir sang kaisar. “Kali ini kau sungguh tidak menggunakan otakmu yang cerdik itu adik kecil.” Sinis Theria memandang tajam sang adik. “Sekali lagi kau berhasi menipu kita semua adik.” ejek Dion seraya menatap tajam Sienna. Pasalnya dulu kejadian ini pernah terjadi. Disaat mereka sedang merencanakan perebutan kekuasaan Duke Roven, mereka sepakat untuk menyiksa terlebih dahulu Duke Roven supaya ia mengatakan sebuah kebenaran yang mereka ingin ketahui. Namun sienna yang kesal karna Duke Roven meninggalkan jejak darah di depan pintu kamarnya pun segera menghabisi Duke Roven dengan kejamnya. “Kemana Siennaku yang pintar pergi?” ejek Damian dengan wajah yang menyebalkan. Sungguh Sienna ingin sekali untuk membunuh para saudara-saudara kesayangannya itu. Ingin sekali untuk memutilasi kulit wajah kakaknya hiduphidup dan ia pajang di kamarnya, bukankah itu suatu kehormatan untuk wajahnya dipajang di kamar seorang sienna yang baik hati ini. “Apakah Sienna versi bodoh telah hadir heh?” lanjut Damian ikut memanas manasi keadaan yang sudah mulai hangat. “Diam! DimAna mayat Pangeran Azacar berada?” tanya Arsean bertanya. Dan semua mata tertuju pada Sienna. Xavier pun mulai menyeringai kecil, ia tau.


34 | S I E N N A ➼ Adik kecilnya ini pasti ingin bermain main dengannya, ia tidak bisa ditipu dengan sebegitu mudahnya. “Di kamarku, aku membekukan mayatnya dan memajangnya di kamarku.” jawab Sienna santai, dengan wajah yakin yang membuat Xavier heran. ‘Tidak mungkin bukan jika dia benar-benar membunuh gelandangan itu?’ batin Arsean tak percaya. Xavier terus berpikir apa tujuan sang adik tersayangnya itu, dan Xavier dengan cepat mengetahui tujuan dan rencana yang telah disusun rapi oleh adiknya itu. Kali ini ia akan membiarkannya bertindak dulu untuk saat ini, membiarkannya bertindak sesukannya sebelum ia sendiri yang akan menggagalkan rencana adiknya itu. Sienna pun benar-benar menunjukkan dimana tempat ia memajang mayat sang Pangeran Azacar berada, yang membuat mereka semua diam. Dan ya!.. Mereka tersenyum lebar. Kecuali Arsean, Xavier dan pastinya kaisar yang selalu memasang wajah datar. Mereka tersenyum bukan karena melihat bahwa Sienna telah benar-benar membunuhnya, namun tersenyum melihat betapa hebatnya seni membunuh Sienna yang menakjubkan. “Wow.. menakjubkan.” ucap Jeremy yang melihat mayat sang Pangeran Azacar yang menggenaskan, dan… terlihat indah. Mayatnya terpotong-potong abstrak menjadi beberapa bagian hingga tak ada yang tau mayat siapa itu. Matanya, organnya, otaknya, telah terpisah dan disatukan di sebuah peti kecil yang berlumur darah.


35 | S I E N N A ➼ Kamar Sienna yang indah pun menjadi seperti lautan darah, yang mereka kira darah itu adalah darah sang pangeran. Tapi bukankah itu memang darah sang pangeran? “Cek dna nya.” pinta Arsean cepat. Ia sejak awal tak pernah memercayai Sienna. Jangan kira ia sebodoh saudaranya yang lain, walau sebenarnya ia tak lebih pintar dari Xavier tapi ia juga tak lebih bodoh dari Xavier, ia hanya lebih kuat dibanding Xavier. Merekapun dengan segera mencairkan es yang menyelimuti badan tak berbentuk milik sang pangeran. Dan kemudian memanggil seorang penyihir untuk mengecek dna yang melekat dalam tubuh sang Pangeran Azacar. “Dna yang kami dapatkan adalah dna Pangeran Azacar.” jawaban itu sukses membuat semuanya bigung, kecuali seseorang yang tengah tersenyum mencurigakan. Flashback “Jadi apa rencanamu?” tanya Bryan “Rencanaku adalah membunuhmu.” jawab Sienna santai, dan itu sanggup membuat Bryan menatapnya tajam, garis bawahi sangat tajam. Sepertinya ia salah telah menyetujui kerjasama yang sangat menjebak ini. “Jangan berpikir yang tidak-tidak dasar bodoh, maksudku adalah membuatmu seolah-olah telah mati di hadapan semuanya.” jelas Sienna setelah melihat wajah dingin Bryan yang menurutnya sangat menjengkelkan.


36 | S I E N N A ➼ “Bagaimana?” jawab Bryan seraya menatap serius kearah sienna. “Bagaimana?” balas Sienna seraya mengulang pertanyaan Bryan. Sepertinya sienna tak paham dengan ucapan Bryan tersebut. “Maksudku, bagaimana rencanamu?” jelas Bryan. “Dengan membunuh seorang pelayan.” balas Sienna dengan smirk jahatnya yang mampu membuat Bryan terpana, yang langsung membuat Bryan sadar bahwa gadis yang sayangnya sangat cantik ini adalah psikopat berdarah anjing. “Biarkan aku ya-” belum sempat Bryan melanjutkan ucapannya sienna lebih dulu membungkam mulutnya dengan sebuah bantal sofa yang membuat bryan diam, ia sungguh kaget dengan serangan sienna yang sangat tiba-tiba. “Diam dan amati caraku menjalankan rencana ini yang mulia pangeran mahkota.” jawab Sienna seraya memberi hormat kepada sang pangeran. Dan Bryan hanya diam mengamati apa yang akan dilakukan gadis iblis berwajah cantik tersebut. “Miguel!” teriak Sienna memanggil ksatria yang sangat ia sayangi.. Saat seorang pemuda masuk dengan cepat sienna pencekiknya hingga ksatria itu kehilangan nafas dan meninggal ditempat. “Lemah…, sunggguh lemahh. Apa kualitas ksatria sekarang memang sudah menurun sedrastis ini?” ejek Sienna seraya melepaskan tangannya yang masih mencekik pelayan yang sudah tak bernyawa itu hingga badannya jatuh membentur lantai. “Lalu kau apakan?” tanya Bryan penasaran.


37 | S I E N N A ➼ “Yang mulia, tolong diam dan amati aku. Jangan banyak berbicara.” ucap Sienna lembut yang malah membuat Bryan merinding. Bukannya takut, lebih tepatnya ia merasa aneh saat Sienna berbicara dengan nada lembutnya, seperti bukan Sienna yang ia kenal. Dengan sekali tebasan pedang, badan ksatria itu terpotongpotong dengan abstraknya menjadi beberapa bagian. Darah mulai mengucur deras keluar dari potongan-potongan tubuh pelayan itu, membuat Sienna tersenyum bangga seraya mengangguk-anggukan kepalanya pelan. “Kau beruntung pangeran, telah melihat seni terindah dalam sejarah hidupmu.” ucap Sienna seraya terus menatap karyanya dengan wajah senang. “Tidak juga” balas Bryan singkat yang membuat Sienna kesal. “Itu artinya kau tak tau apapun tentang seni yang mulia.” balas sienna tak mau kalah “Yah terserah padamu.” Bryan membalas dengan nada malas yang sangat ketara. Sienna tak membalasnya, ia mulai membongkar isi tubuh kesatria itu. Mengeluarkan organnya satu persatu, lalu menaruhnya disebuah peti kecil yang berada tepat di sebelahnya. ‘Jeremy pasti suka bola mata ini haha.’ batinnya seraya memutar mutar bola mata berlumur darah yang berada dalam tangannya. “Untuk apa bola mata itu?” tanya Bryan heran melihat sienna yang tengah menatap fokus sebuah bola mata yang berada dalam genggaman tangannya itu.


38 | S I E N N A ➼ “Untuk Jeremy, dia suka mengkoleksi bola mata. Aneh bukan? hahaha.” jawab Sienna seraya membersihkan darah yang tertinggal di bola mata yang dipegangnya itu. “Aneh, sepertimu.” ucap Bryan pelan bahkan lebih mirip seperti sebuah bisikan. Namun telinga Sienna yang tajam tentu saja dapat menangkap suara itu dengan muda, tapi ia sengaja tak menanggapinya. Setelah itu dengan cepat Sienna memanggil para kupu-kupu cantiknya untuk menikmati makan malam mereka hari ini. Sepertinya sudah berhari-hari bayi bayi cantiknya itu berpuasa. Kupu-kupu yang sangat indah, dengan warna hitam yang mendominasi dan juga corak ungu yang mengkilap. Kupu-kupu itu dengan cepat mengerubungi mayat sang ksatria dan menghisap habis darahnya, lalu tersisalah sebuah kerangka manusia dan juga dagingdaging yang masi tersisa. “Yap, bagus sekali.” ucap Sienna seraya memandang mayat ksatria di depannya itu dengan pandangan puas. “Kau apakan mayat itu?” sekali lagi Bryan bertanya kepada Sienna. “Yang mulia pangeran mahkota Bryan de Azacar yang terhormat.” “Apakah otak pintar anda tidak bisa meringkas semua rencana yang telah hamba jalankan sedari tadi?” ucap Sienna penuh ejekan. “Kau pikir aku bisa membaca pikiran mu tuan putri yang terhormat.” balas Bryan tak mau kalah “Pikir sendiri, kau punya otak.” balas Sienna malas.


39 | S I E N N A ➼ Sebenarnya rencana sienna sangat simple, hanya membunuh seorang ksatria yang memiliki proporsi tubuh seperti Bryan dan membuatnya seolah-olah itu Bryan. Bukankah itu sangat mudah, namun sepertinya otak pangeran tampan itu tak bisa berpikir sejauh itu. “Kau tak ingin pergi?” tanya Sienna yang membuat bryan bingung ‘Apa ia mengusirku?’ batin Bryan kesal sendiri. “Kau mengusirku hah?” kesal Bryan menatap tajam Sienna. memang Sienna pikir siapa dia. “Ya terserah kau, aku hanya ingin membantumu keluar dari kekaisaran bodoh ini sebelum mereka membantai habis dirimu.” jawab Sienna santai yang malah membuat Bryan melotot heran “Baiklah aku pergi!” teriak Bryan kesal lalu pergi melalui jendela kamar sienna yang terbuka. ‘Apa ia tau pintu keluarnya?’ batin Sienna bingung, karna setaunya ia belum pernah memberitahu Bryan dimana pintu keluarnya berada. Ya.. secara kekaisaran Asterix memang sangat besar dan lebih memungkinkan untuk disebut dengan sebutan labirin. Tiba-tiba saja seseorang memasuki kamar Sienna tanpa diundang, seperti hantu. “Dimana?” tanya pemuda itu “HAH?!” teriak Sienna kaget melihat kedatangan pemuda itu yang ternyata adalah sang pangeran mahkota Bryan. “Dimana?” ulang Sienna bingung dengan pertanyaan Bryan


40 | S I E N N A ➼ “Ck, dimana pintu keluar!” geram Bryan seraya menaikkan nada bicaranya beberapa oktaf. “Oh.. di sebelah barat. Oh ya pakai peta ini jika kau seorang pelupa” ucap Sienna dengan sedikit ejekan yang terselip dalam kalimatnya. Bryan tak membalas, ia dengan cepat mengambil peta itu dan melompat lagi melalui jendela kamar sienna yang masih terbuka. Perjamuan


41 | S I E N N A ➼ Tak lama setelah kejadian dimana putra mahkota Bryan de Azacar di lenyapkan oleh sienna, perjamuan antara 4 kekaisaran pun diadakan oleh kekaisaran Grisham. Kekaisaran yang menguasai perhutanan semacam peri dan hewan ajaib lainnya. Diacara perjamuan makan malam yang diadakan kekaisaran Grisham, semua anggota kerajaan diwajibkan untuk hadir dalam perjamuan makan malam itu, dan sepertinya kerajaan Azacar tak akan datang, bukan sepertinya, tapi itu sangat pasti terjadi. Sayangnya Sienna dengan terpaksa harus hadir dalam acara yang ia yakini akan sangat membosankan HUH!!... Perjamuan malam pun akan dilaksanakan dalam beberapa waktu dekat. “Sebuah acara yang memuakkan!” teriak Sienna seraya membanting sebuah vas bunga berukuran besar yang saat itu tengah berada tepat di sebelahnya, namun naasnya kini nasib vas itu sudah hancur berkeping keeping. “Yang mulia!” Nina berteriak khawatir melihat Sienna berdiri diantara pecahan vas. “Apa yang terjadi?” tanya Nina seraya menuntun Sienna menghindari pecahan vas itu. “Tak terjadi apapun.” balas Sienna. “Cepat panggil pelayan untuk bereskan pecahan itu. Dan cepat bantu aku untuk bersiap siap!” lanjut Sienna seraya pergi meninggalkan nina pergi menuju pintu kamar mandinya. Beberapa jam setelahnya, kini sienna telah siap dengan gaun ungu tua nya yang memiliki corak-corak hitam yang membuat aura kecantikannya makin menguar keluar.


42 | S I E N N A ➼ Sienna berjalan pelan menuju pintu dimana acara perjamuan malam ini dilaksanakan dengan iringan dari beberapa pelayan termasuk nina yang juga ikut mendampinginya. Sebenarnya sienna terlambat untuk hadir namun sienna tak terlalu mempermasalahkannya. menurut Sienna, ‘pemeran utama selalu hadir di saat-saat akhir’. Pintu dibuka dan seorang kesatria meneriakkan namanya. “YANG MULIA PUTRI KE DUA SIENNA VON ASTERIX, MEMASUKKI RUANGAN!” teriaknya sehingga membuat para manusia yang berada dalam ruangan menatap lurus kea rah sienna tanpa berkedip. Mungkin karena hari ini sienna terlihat…. sangat cantik? Sienna pun mulai berjalan menuju kursi ke empat kaisar, dan memberi salam hormat kepadanya. “Putri mu cantik sekali Albert.” puji seorang kaisar yang berasal dari kekaisaran Howrel kepada Albert von Asterix. Albert tak menjawab ia hanya membenarkan ucapan kaisar Howrel dengan menganggukkan kepalanya tanda setuju. “Terimakasih atas pujian anda yang mulia.” ucap Sienna seraya membungkukan badannya tanda hormat kepada Kaisar dari kekaisaran Howrel. “Dia benar-benar cantik ayah.” bisik seorang pemuda yang sepertinya adalah seorang pangeran dari kekaisaran Frensco kepada sang ayah, mereka sepertinya tengah merencanakan sesuatu yang tak Sienna kita ketahui. Sienna pun segera bergegas pergi dari area itu menuju balkon yang ada pada sudut ruangan.


43 | S I E N N A ➼ ‘Benar bukan? Kekaisaran Azacar takkan datang, mungkin mereka sedang acting agar terlihat benar-benar berduka atas sepeninggalnya sang pangeran mahkota AHAHAHA’ batin Sienna seraya terkekeh pelan. Tiba-tiba angin berhembus, Sienna merasakan kedatangan seseorang dibelakangnya. Hal itu membuatnya langsung waspada dan bersiap-siap untuk menggerakkan belatinya kepada orang tersebut. “Oh tunggu dulu, kau membuatku terkejut tuan putri!” ucap pemuda itu seraya mengangkat kedua tangannya keatas tanda menyerah yang membuat Sienna langsung menurunkan pedangnya yang tadi berada tepat dileher pemuda itu. “Siapa kau?” tanya Sienna tanpa sedikit pun menurunkan kewaspadaannya kepada pemuda tak dikenalnya itu. “Kau tak mengenalku?” Ucap pemuda itu tak percaya seraya menatap mata violet milik Sienna. Pemuda itu tak menyangka bahwa gadis itu sama sekali mengenal seorang pangeran kedua Louis le Howrel yang terkenal akan ketampanannya. “Untuk apa aku harus mengenal seorang pemuda dengan tampang bodoh seperti dirimu?” tanya Sienna sembari menyelipkan sedikit nada ejekan dalam kalimat yang ia ucapkan. “Oh baiklah jika begitu, aku akan memperkenalkan diriku kepadamu, tuan putri terhormat.” ucap Louis “Perkenalkan yang mulia putri Sienna von Asterix, saya adalah pangeran kedua Louise le Howrel.” ucap pemuda itu yang ternyata adalah sang penyandang gelar playboy cap kadal di kekaisaran Howrel.


44 | S I E N N A ➼ “Ya, kuharap kita tak bertemu lagi yang mulia pangeran louise le howrel yang terhormat! Kau menganggu ketenanganku.” ucap sienna sarkas seraya pergi menghindap dari pemuda itu cepat-cepat. ‘Sienna von asterix ya? Dia menarik’ batin Louise seraya terus menatap punggung Sienna yang perlahan menghilang dari pandangannya. ----------------------------------- Sienna terkejut melihat seseorang yang tengah dicarinya sedari tadi, seorang pemuda tampan dengan setelan berwarna hitam yang membuatnya semakin terlihat tampan. Sienna mulai berjalan dengan langkah pelan nan anggun ke arah pemuda tersebut. “Selamat malam yang mulia pangeran mahkota Darius Le Howrel.” ucap Sienna menyapa pemuda itu seraya menawarkan segelas anggur yang disodorkan oleh seorang pelayan kepadanya beberapa waktu lalu. Pemuda itu menolehkan kepalanya ke arah sienna saat mendengar sienna mengucapkan namanya. Pemuda itu tak membalas, melainkan hanya membalas sapaan Sienna dengan mengangkat satu alisnya ke atas dengan tatapan bertanya. “Perkenalkan yang mulia, saya Sienna von Asterix.” ucap Sienna memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, walau ia kesal melihat ekpresi Darius yang terkesan menghiraukannya. “Ada perlu apa?” tanya Darius to the point, Darius adalah tipe orang yang membenci basa-basi. Dan ia rasa sienna memiliki maksud tersembunyi untuk mengajaknya berbicara, ia tau itu dari tatapan matanya. “Ahahaha.” Sienna tertawa hambar.


45 | S I E N N A ➼ “Bisakah kita kebelakang sebentar yang mulia?” tanya Sienna pelan sedikit berbisik kepada Drius. Darius pun menurutinya dan mengajak sienna ke balkon yang tak jauh dari tempatnya dan Sienna tengah bicara sekarang. “Ada apa?” ucap Darius bertanya. “Saya ingin membuat kesepakatan dengan anda yang mulia.” balasnya. “Darius.” “Maksud anda?” tanya Sienna tak paham. Sungguh menesalkan, pemuda ini sama mengesalkannya dengan Bryan, atau bahkan lebih mengesalkan lagi. “Panggil saja darius” lanjut darius yang membuat sienna hanya bisa mengiyakan ucapannya karna tak mau rebut lagi, ia ingin segera membuat kesepakatan yang bisa mempermudahkan rencananya ini. “Menghancurkan Asterix.” Sienna berucap pelan sehingga hanya Darius yang bisa mendengarnya. Darius melebarkan bola matanya kaget dengan penuturan gadis di depannya ini. Apa ia tak salah dengar? “Apa kau bercanda?” ucap Darius geram lalu tangannya bergerak mendekatkan gelas yang berisi cairan berisi cairan ungu itu ke depan mulutnya dan dengan beberapa teguk ia habiskan semuanya dengan cepat. Gadis didepannya ini benar-benar aneh, gila, dan juga unik… “Apa aku terlihat bercanda yang mu-”


46 | S I E N N A ➼ “Tidak.. Darius” ucap Sienna sinis sembari membenarkan panggilannya kepada pemuda yang bermuka datar itu, bahkan sangat datar. Sedatar triplek! “Tdak” jawab Darius seraya mengamati wajah sienna yang terlihat serius. “Apa keputusanmu darius?” Tanya sienna tak sabra ingin mendengar jawaban yang membahagiakan keluar dari mulut pemuda yang menyandang gelar pangeran mahkota Howrel tersebut. “Ya.” Darius hanya menjawab pertanyaan itu dengan satu kata singkat yang benar-benar bisa membuat sienna tersenyum smirk. ‘Kehancuran kalian semakin dekat kaluarga harmonisku’ batin Sienna seraya terus mempertahankan sebuah senyum di wajah cantiknya itu. “Bisa kau sedikit membantuku Darius?” tanya Sienna dengan evil smilenya yang hanya dibalas dengan alis terangkat oleh Darius. Rencana II


47 | S I E N N A ➼ Setelah perjamuan makan malam tersebut diadakan, pekan selanjutnya kekaisaran Howrel secara khusus menggelar acara pemburuan hewan yang diadakan untuk para keluarga kekaisaran, yang tentunya dihadiri seluruh anggota kekaisaran kecuali arsean dan Xavier yang ijin tak hadir. Kini sienna sudah siap dengan baju khusus untuk berburu, sebuah baju dengan celana berbahan kulit yang pas sekali di badannya. Para putri lainnya memandangnya dengan pandangan sinis seraya membicarakannya dibelakang. “apakah putri sienna benar-benar seorang perempuan?, dia sangat tidak memiliki sopan santun. Bagaimana bisa seorang gadis memakai celana seperti pria seperti itu” ucap seorang putri yang sepertinya berasal dari kekaisaran Frensco, terlihat dari ciri khas yang melekat di tubuhnya. “sungguhh tak beradap” balas putri lainnya Mereka pun terus berbincang yang membuat sienna muak mendengar bisikan-bisikan yang sengaja dikeraskan agar ia bisa mendengarnya. HAHAHA, lucu sekali bukan? Sienna pun menghampiri sekumpulan putri-putri terhormat itu seraya mengucapkan sesuatu yang membuat mereka geram “ingatlah untuk mengaca tuan putri, kau tak semiskin itu kan untuk bisa membeli sebuah kaca” ucap sienna dan secepatnya pergi meninggalkan sekumpulan putri-putri ituu yang sedang berteriak marah. Para pangeran yang sudah siap untuk mengikuti perburuan itu pun berkumpul.


48 | S I E N N A ➼ Para putri tak lupa juga untuk ikut berkumpul, di acara pemburuan para pangeran berhak memilih untuk siapa hasil buruannya diberikan. Dan putri yang mendapat banyak hewan buruan dari para pangeran akan mendapat gelar ‘queen berburu’ Para putri terlihat mulai mengerubungi para pangeran untuk memberi pitanya kepada sang pangeran, bagi pangeran yang menerima pita itu, itu tandanya pangeran itu akan memberikan hasil buruannya kepada putri itu. Namun naasnya, para pangeran itu malah pergi melangkah ke arah sienna dan meminta gadis itu untuk memberi mereka pita, sienna tak menanggapinya dan meminta perhatian kepada sang kaisar agar segera melaksanakan acara ini. ------------------------------------------------ ‘sepertinya semua akan berjalan lancar’ batin sienna bersmirk. Kini sienna tengah berada di tengah hutan, sienna telah berhasil membunuh 6 hewan yang memiliki poin tinggi, 2 buah beruang, 1 harimau, 2 serigala , dan juga 1 ruah putih. Sienna menyimpan hewan hasil buruannya itu dalam tas sihirnya yang dapat menampung banyak barang. Whushh.. Angin berhembus dengan sedikit tak beraturan di belakang sienna, sienna merasakan ada sesuatu yang datang menghampirinya. Dan benar.. dibelakangnya beberapa pria dengan jubah hitamnya mulai mengelilingi sienna. Dengan senjata yang terselip diantara tangan-tangan para pria tersebut.


49 | S I E N N A ➼ ‘siapa yang berani beraninya mengirim pembunuh bayaran untuk membunuhku heh?’ batin sienna sembari tersenyum senang, membuat para pria itu menatap heran sienna yang tersenyum senyum sendiri ‘yah, siapapun itu aku berterimakasih’ lanjut sienna dalam hati Para pria itu yang kira-kira berjumlah 14 orang mulai menyerang sienna dengan gerakan cepat. Sienna terus menghindar dengan gesitnya, ia tak membalas, sienna ingin melihat sampai mana kemampuan para pembunuh bayaran ini. Jleb… Sebuah belati dengan sempurna menancap di perut sienna, sienna menggeram marah dan dengan cepat mengeluarkan pedangnya yang terbuat dari mana. Ia gerakkan pedangnya dengan gerakan cepat, membuat si pria tak bisa menghindarinya, hingga pedang itu tertancap tepat pada jantung pria itu. Yang lainnya pun ikut menyerang, menyerbu sienna dengan berbagai senjata, sienna tak gencar untuk membalas serangannya. Srett.. Srettt.. Kepala demi kepala perlahan lahan mulai terpenggal semua, sienna terus menggerakkan pedangnya dengan lihai disertai senyuman mengerikan di bibir indahnya. Para pembunuh bayaran itu dibuat merinding karnanya, mereka yang tersisa kemudian bergegas pergi, belum sempat pedang yang sienna lempar mengenai jantung pria itu, pria itu lebih dulu menghilang membuat sienna geram sendiri.


50 | S I E N N A ➼ Sienna menatap mayat orang-orang yang telah ia bunuh tadi. ‘sungguh lemah, apakah mereka benar-benar pembunuh bayaran’ batin sienna seraya terus menggeram kesal. Ia belum puas!, ia bahkan belum sempat menyiksa mereka ARGH.. Dengan sisa kekesalannya yang masi tersisa Sienna mencabut sebuah belati yang tertancap di perutnya dengan sekali tarikan kuat yang membuat darah segar mulai bercucuran membasahi bajunya yang indah, tapi ia sepertinya sama sekali tak memperdulikannya. Sienna perlahan mulai melanjutkan langkahnya menuju hutan yang lebih dalam, ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri berkali-kali, seperti tengah mencari seseorang, tapi siapa? Bruk.. Sienna mendengar bunyi sesuatu yang sepertinya jatuh dari pohon yang tak jauh darinya, sienna pun mengikuti suara itu dan menemukan orang yang ia cari sedari tadi. Seorang pemuda tampan dengan rambut biru tuanya yang indah. “apa yang kau lakukan diatas sana Darius?” Tanya sienna kepada pemuda itu yang ternyata adalah Darius Le howrel. “tidak ada” jawab darius seraya bangkit dari posisi jatuhnya yang sangat-sangat tidak elit. Sebenarnya sedari tadi Darius terus Mengawasi sienna dari atas pohon, saat sienna diserang Darius ingin menolongnya namun itu semua tertutup oleh rasa gengsinya yang begitu besar. “yah terserah kau” balas sienna tak peduli “bagaimana dengan ramuan itu?” lanjut sienna seraya menatap Darius dengan smirk di wajahnya.


Click to View FlipBook Version